Tag Archives: Pangan

Belanja Pangan secara Daring. Berikut Pilihannya.

Perlu belanja pangan dari rumah? Santai saja.

Ketika terpaksa lebih banyak di rumah untuk menghindari pandemi COVID-19, kita tetap memerlukan pasokan pangan sehari-hari. Untunglah teknologi memungkinkan kita untuk memesan aneka pangan itu bermodal jari jemari. Berikut sebagian pilihan untuk belanja pangan sebagaimana dikumpulkan oleh Diana Pramesti di akun Twitternya.

Nusa Penida Kian Alami Ketergantungan Pangan

Pengiriman pisang ke Nusa Penida melalui pelabuhan di Kusamba, Klungkung. Foto Anton Muhajir.

Pengiriman pisang ke Nusa Penida melalui pelabuhan di Kusamba, Klungkung. Pisang menjadi salah satu bahan pangan di Nusa Penida. Foto Anton Muhajir.

Hari ini dunia memperingati Hari Pangan Sedunia. 

Peringatan tersebut dilakukan tiap 16 Oktober, sesuai hari lahir Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Tujuannya untuk mengingatkan masih banyak kelaparan dan kemiskinan di dunia.

Lalu, bagaimana kedaulatan pangan di Nusa Penida, salah satu pulau kering di Kabupaten Klungkung, Bali?

Nusa Penida memiliki curah hujan minim. Tanahnya berbatu kapur. Maka, tanaman yang bisa tumbuh adalah tanaman-tanaman di lahan kering. Misalnya jagung, ketela pohon, kacang-kacangan dan palawija lainnya.

Mulanya masyarakat Nusa Penida sebelum tahun 2000-an sebagian besar adalah petani. Selebihnya di pesisir laut masyarakat membudidayakan rumput laut dan sebagai nelayan tradisional.

Untuk bahan pangan mereka membudidayakan ketela pohon (gayot), jagung, kacang-kacangan. Itu sebagai tanaman musiman menurut siklus datangnya air hujan.

Namun belakangan seiring perkembangan, masyarakat beralih ke sektor jasa. Ada yang masih bertani dan beternak jumlahnya jauh berkurang.

Masyarakat Nusa Penida Memilih menjadi pekerja bangunan, membuat ukiran dari batu kapur, bekerja dengan urbanisasi ke kota Denpasar dan sekitarnya.

Lahan yang semula ditanami jagung, ketela pohon dan kacang-kacangan kini ditumbuhi semak-semak, walaupun ada sebagian warga yang memanfaatkannnya dengan menanami pohon jati yang serentak tahun 2004 dengan program Gerhan.

Kondisi ini membuat Nusa Penida secara ketahanan pangan lemah. Beras, telur dan kebutuhan pokok lainnya didatangkan dari daratan Bali.

Kita bisa lihat di pelabuhan tradisional Kusamba dan Dermaga Padang Bay barang-barang yang didistribusikan ke Nusa Penida jumlahnya banyak menumpuk.

Situasi inilah menyebabkan masyarakat Nusa Penida harus menerima harga pangan yang lebih mahal dibandingkan Bali daratan. Karena harus ditambah ongkos penyeberangan laut.

Makan Singkong

Beberapa masyarakat memilih opsi lain. Walaupun tidak membudidayakan singkong atau jagung mereka membeli singkong dari desa lain untuk menekan harga pangan yang mahal.

Alasan lainnya yang membeli singkong adalah mengonsumsi beras yang terus menerus menyebabkan jenuh, mereka ingin menikmati karbohidrat dari ketela pohon Nusa Penida yang rasanya legit . Adapula yang menanak beras dan ketela pohon di campur.

I Made Artawan dari Br. Gepuh membawa satu pickup penuh ketela pohon di dalam kampil. “Biasanya setiap tiga hari sekali saya bawa satu piap gayot. Habis, harganya per kampil Rp. 35.000,-“, ujat Artawan.

Sementara itu warga sekitar ditanya alasan membeli singkong selain untuk berhemat juga akan ditanak dengan beras, rasanya enak. Mereka mengaku bosan mengkonsumsi beras. [b]

The post Nusa Penida Kian Alami Ketergantungan Pangan appeared first on BaleBengong.

NTT, Kenalkan Pangan Lokalmu

Nulis tentang periboga Lombok mengingatkanku pada NTT.

Setiap kali ke Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Sumba, Flores ataupun Timor, aku selalu kecewa untuk urusan lidah.

Aku tak menemukan warung makan dengan menu lokal yang enak di pulau-pulau tersebut. Tiap kali makan, teman-teman di sana akan mengajak ke warung jawa atau warung padang.

Kalau hanya warung jawa atau padang, aku tak perlu jauh-jauh ke NTT. Di Bali pun banyak. Sebagai penggemar makanan lokal, aku ingin makan menu khas setempat, seperti di Sumba, Flores, ataupun Timor. Nyatanya, aku hampir tak pernah menemukannya.

Kekecewaan itu mungkin merefleksikan kurangnya kepedulian warga lokal pada potensi pangan khasnya sendiri. Padahal, setelah aku ikut perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) NTT di Bajawa Oktober 2011 lalu, aku makin yakin bahwa NTT juga punya makanan khas sendiri. Tak harus bergantung pada beras.

Di Ende, salah satu dari tiga kota di Ende dengan pelabuhan udara yang berfungsi baik selain Maumere dan Labuhan Bajo, ada makanan khas ubi cincang. Sayangnya, selama tiga kali ke sini aku pun gagal menikmatinya karena tidak bisa menemukan warung yang menjual. Di Bajawa pun ada makanan lokal, seperti wata, jali, kewa, dan suza. Tapi sama tak jauh beda, aku tak menemukannya di warung-warung tepi jalan.

Untuk itu, sudah saatnya warga setempat di NTT juga peduli pada pangan lokalnya sendiri. Warga setempat harus ada yang mengolah dan menjual pangan lokal ini kepada kami, orang yang berkunjung ke NTT. Upaya ini sekaligus sebagai pelestarian dan pengenalan pangan lokal.

Ketika warga sendiri bisa mengolah dan menjual pangan lokal, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, serta biji-bijian, maka warga jadi punya pilihan. Tak lagi hanya tergantung pada beras yang sebagian besar didatangkan dari Jawa.

Upaya ini perlu didukung pemerintah setempat. Kebijakan seperti Gubernur NTT yang tiap Selasa dan Kamis menyediakan pangan lokal perlu diperluas dengan melibatkan warga. Tak hanya mengaja tapi juga meningkatkan kapasitas petani dalam produksi komoditi lokal serta pengolahan. Dukungan modal dan pendampingan usaha juga penting.

Kampanye kepada konsumen, antara lain melalui pameran pada HPS atau NTT Food Summit juga berperan penting. Dengan begitu, konsumen akan sadar bahwa pangan lokal itu penting dan juga bergengsi. Sebab, selama ini toh ada anggapan pada warga setempat sendiri bahwa pangan lokal itu murahan.

Padahal, dengan terus bangga mengonsumsi di warung jawa atau padang, tanpa sadar orang NTT sendiri terus melanjutkan ketergantungan. Itu harus dihentikan. Budidayakan pangan lokal. Olah dan jual dengan kemasan yang bagus. Dengan begitu, warga lokal akan bangga mengonsumsi pangan lokal.

Dan, aku juga akan menemukan keragaman pangan ketika ke NTT. Itu menyenangkan.