Tag Archives: opini

Mematikan Pandemi Covid-19 di Bali

Imbauan terkait virus corona di Denpasar. Foto Anton Muhajir.

Oleh Gusti Ngurah Mahardika

Sebelum terlampat, Bali seharusnya segera melakukan PSBB.

Pemahaman virus yang baik diperlukan untuk keluar dari cekaman pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Jika obat dan fasilitas rumah sakit untuk kasus infeksi yang berat dapat diadakan, kita bisa keluar dari cekaman pandemi ini. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebaiknya disiagakan untuk Jawa dan Bali serta kota-kota besar yang padat penduduk.

Pandemi Covid-19 masih dalam fase logaritmik. Namun, guncangannya sudah terasa luar biasa. Tingkat kematian (fatalitas) kasus sebenarnya tidak tinggi sekali. Hingga 11 April 2020 lalu, porsi fatalitas di seluruh dunia adalah 6 persen.

Akan tetapi, pandemi lebih mematikan sosial-ekonomi negara dan masyarakat. Pekerja dirumahkan. Banyak pabrik tutup karena ketiadaan bahan baku atau pasar. Bursa saham anjlok. Ekspor-impor berhenti. Pariwisata menyepi.

Pandemi Covid-19 kini memasuki gelombang kedua di seluruh dunia, apabila kasus awal di Tiongkok dianggap sebagai gelombang pertama. Episentrum sekarang ada di Eropa dan Amerika Serikat. Indonesia terdampak saat gelombang kedua ini.

Pandemi ini menunjukkan satu hal bahwa tidak ada negara yang siap menghadapi Covid-19. Pola wabah dalam tiga gelombang sudah terjadi saat pandemi Flu Spanyol 1918. Gelombang kedua saat itu tercatat lebih dahsyat. Itulah yang terjadi sekarang di seluruh dunia.

Wabah Ketiga

Wabah oleh Covid-19 adalah wabah ketiga oleh virus dari keluarga Coronaviridae. Wabah pertama adalah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) tahun 2003. Yang kedua adalah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) tahun 2012. Gejala yang ditimbulkan oleh ketiga virus ini mirip, yaitu gangguan pernafasan akut dan berat.

Yang membedakan ketiganya adalah daya sebar, lingkungan penularan, dan fatalitas kasus. Daya sebar Covid-19 luar biasa cepat dibandingkan dua pendahulunya. Diketahui sejak akhir 2019, virus ini sudah dikonfirmasi pada 750.890 orang di berbagai penjuru dunia sampai 31 Maret 2020. SARS dalam waktu 8 bulan hanya terkonfirmasi pada 8.000 orang. MERS lebih lambat. Dalam kurun waktu 2012-2017, jumlah kasus hanya sekitar 2.000.

Lingkungan penularan tiga serangkai korona virus itu juga berbeda. Covid-19 membentuk pola transmisi antar-orang lebih banyak di komunitas (community transmission), sementara SARS dan MERS lebih dominan penularan antar orang di rumah sakit (hospital setting).

Kefatalan kasus Covid-19 masih harus ditunggu. Wu, Z. and J. M. McGoogan (2020) di Journal of American Medical Association menyebut SARS dan MERS mempunyai tingkat kefatalan sekitar 9 persen dan 35 persen.

Kenapa virus Covid-19 ini menyebar demikian cepat dan bagaimana kemungkinan keganasannya? Dari pengamatan saya dalam makalah yang sedang direview di jurnal internasional, Covid-19 mempunyai ciri molekuler unik. Sebagian ciri molekuler mirip SARS, sebagian mirip MERS. Dalam keganasan, saya memprediksikan Covid-19 bisa mendekati keganasan SARS atau MERS. Namun, angka itu baru kita akan tahu setelah pandemi berakhir.

Kecepatan penyebaran yang luar biasa dari Covid-19 pasti dipengaruhi oleh sifat genetik virusnya. Transportasi udara, yang meningkat 130% tahun 2019 dibandingkan 2003-2004 (www.statista.com), seharusnya tidak menyebabkan peningkatan yang meroket dari penyebaran Covid-19 dibandingkan SARS. Jumlah penduduk kemungkinan mempunyai peran yang kecil juga. Data Bank Dunia 2018 menunjukkan penduduk dunia meningkat antara 2003-2018 sebesar 37 persen.

Sabuk Covid-19

Artinya kita menghadapi virus yang punya daya penularan antar manusia yang demikian efisien. Walau demikian, Covid-19 tampaknya ringkih suhu dan kelembaban yang tinggi. Jika dilihat peta pusat-pusat kasus terkonfirmasi dari Johns Hopkins University, virus Covid-19 ini terutama terjadi di daerah suhu sedang sampai dingin. Pusat wabah seperti membentuk “Sabuk Covid-19” sebagaimana terlihat di ilustrasi.

Sabuk itu dimulai dari Tiongkok ke barat melintasi Iran, Turki, sedikit bergeser ke utara di Eropa, dan kemudian menyeberangi Atlantik sampai Amerika Serikat. Daya tahan yang rendah pada suhu panas dan kelembaban tinggi sudah diungkap pada SARS dan MERS.

Kasus di selatan sabuk seperti limpahan (spill-over). Di wilayah yang selalu panas dan lembab itu, atau sedang musim panas, virus tidak tahan lama. Di utara sabuk, kasus masih relatif sedikit, karena suhu yang amat dingin yang memaksa penduduk tinggal di rumah. Kasus di sana dapat meningkat sejalan dengan peningkatan suhu jika apabila tidak ada intervensi yang memadai. 

Walau limpahan, risiko negara-negara di sebelah selatan sabuk Covid-19 imajiner itu juga tak rendah. Beberapa negara, seperti Indonesia, Filipina, dan India mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi sehingga virus dapat mempunyai peluang besar untuk menyebar. Pembatasan sosial yang diberlakukan di negara-negara tropis, termasuk Indonesia, akan sangat efektif asalkan penduduknya disiplin mematuhi.

Untuk mendesain rencana jangka panjang keluar dari cekaman pandemi, kita mesti memahami bagaimana virus ini membuat sakit dan bahkan fatal. Para ahli membagi fase infeksi Covid-19 dalam tiga stadium. Stadium I adalah masa inkubasi asimtomatik. Stadium II adalah periode simtomatik ringan. Stadium III adalah fase gejala pernapasan berat.

Strategi untuk memicu respon imun pada Stadium I dan Stadium II akan sangat membantu. Termasuk di dalamnya pemberian serum hiperimun. Virus Covid-19 juga mengandalkan protease pasien untuk memperbanyak diri. Karena itu, obat antiprotease bisa membantu kesembuhan penderita.

Akan tetapi, beberapa bagian dari pasien dapat mengalami gangguan respon imun. Ini pemicu Stadium III. Saya memperkirakan itu terjadi akibat gabungan antara faktor genetik dan patogenesis Covid-19. Pada kelompok pasien ini, gangguan kekebalan memicu badai sitokin sebagai awal mula sindroma penekanan pernafasan akut.

Kondisi kesehatan prima dapat tidak menguntungkan pada pasien itu. Obat penekan radang dan obat simtomatik lain dapat dipertimbangkan. Dalam beberapa kasus, pasien perlu dirawat di intensive care units (ICU) dengan ventilator mekanik. Alat paru-paru buatan dapat menyelamatkan nyawa mereka.

Paru-paru pasien Stadium III akibat Covid-19 dilaporkan penuh cairan seperti jeli atau fibrin seperti orang meninggal karena tenggelam. Beberapa peneliti menyebut komponen utama adalah hyaluron. Bahan ini konon mempunyai daya serap air yang luar biasa tinggi. Obat-obat yang menekan hyaluron dan produksinya dapat menyelamatkan, termasuk obat-obatan herbal dan vitamin tertentu.

Data respon imunitas pasien Covid-19 sampai sekarang belum dipublikasi. Apakah antibodi berperan dalam kesembuhan belum kita ketahui. Pengalaman pada SARS telah dipublikasi bahwa hanya sekitar 10 persen pasien yang sembuh mempunyai antibodi. Pengembangan vaksin akan menemui rintangan di sini. Vaksin yang memicu antibodi justru bisa menjadi penginduksi badai sitokin jikalau terinfeksi virus, seperti diungkapkan sebelumnya.

Prioritas

Bagaimana mematikan pandemi Covid-19 dengan latar belakang yang kompleks itu?

Pada hemat saya, obat dan fasilitas kesehatan yang mengancam kehidupan pasien Stadium III mesti diprioritaskan terlebih dahulu. Data menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang terpapar tidak menjadi sakit. Yang mengembangkan gejala klinis pun lebih banyak klinis ringan.

Informasi dari WHO, 80 persen pasien yang sakit dapat sembuh tanpa pengobatan khusus. Data dari karantina kapal pesiar Diamond Princess di Jepang yang dimuat pada Journal Eurosurveillance bisa kita jadikan patokan. Persentase orang terpapar tapi tak terinfeksi sekitar 75 persen. Proporsi yang positif tanpa gejala adalah 8 persen dan yang simptomatik adalah 17 persen.

Karena itu, porsi pasien yang memerlukan perawatan rumah sakit juga tidak besar. Pasien dengan katagori Stadium II kemungkinan dapat sembuh dengan intervensi serum hiperimun dan obat-obatan simtomatik. Pasien yang memerlukan perawatan ICU dengan ventilator lebih kecil lagi.

Apabila informasi dari WHO pengalaman kapal pesiar itu kita pakai, pasien yang perlu pengobatan khusus hanya 3,4 persen dari populasi. Pasien yang memerlukan ventilator sekitar 10 persen dari pasien dengan penanganan khusus, atau 0,34 persen dari populasi.

Dalam kondisi riil, angka itu dapat menjadi jauh lebih kecil. Keperluannya dapat sekitar 25 persen lebih rendah dibandingkan dengan kondisi ekstrim kapal pesiar. Angkanya menjadi 0,1 persen dari populasi.

Jikalau digunakan rata-rata per pasien 15 hari, satu ventilator dapat digunakan untuk 24 orang dalam setahun. Artinya, keperluan ICU dengan ventilator 0,004 persen dari populasi. Untuk Indonesia dengan 280 juta penduduk, itu jumlahnya 11.200 unit. Bali dengan 4 juta penduduk, misalnya, memerlukan 160 unit. Jika negara atau daerah mampu 50 persen saja, itu sudah memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Stretegi non-farmasetik berupa PSBB disiagakan di seluruh Jawa dan Bali. Dua pulau ini mempunyai kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Ini menyediakan peluang penularan antar orang yang tinggi. Di luar pulau itu, PSBB dapat disiagakan di kota-kota yang padat penduduk saja.

Jika obat dan sistem rumah sakit sudah siap, kita bisa keluar dari cekaman pandemi COVID-19. [b]

Keterangan: tulisan ini pertama kali terbit di Kompas cetak edisi Sabtu, 18 April 2020. Dimuat di sini, dengan edit seperlunya, seizin penulis untuk menyebarluaskan pengetahuan.

Saatnya Bali Kembali ke Jati Dirinya, Bertani

Petani mengerjakan lahannya di Jatiluwih, Tabanan. Foto Anton Muhajir.

Pandemi ini mengingatkan kembali pada pertanian yang sudah terlupakan.

Pada mulanya masyarakat Bali mata pencahariannya adalah petani. Itu kita masih bisa lihat dengan jelas dari video, foto dan sejarah Bali tempo dulu.

Selain sejarah itu, kebudayaan agraris sampai sekarang kita lihat dari sarana banten. Hampir semua banten upacara agama Hindu menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan dari pertanian dan perkebunan. Contoh kecil saja pada bahan penjor, semua menggunakan bahan pertanian dan perkebunan.

Keindahan alam Bali, kebudayaan masyarakat Bali dengan keseharian warganya sebagai petani membuat wisatawan mancanegara tertarik ke Bali. Awal mulanya wisatawan ke Bali mencari tempat nyaman untuk berkesenian. Misalnya melukis, menari dan berinteraksi dengan seniman lokal. Hal ini misalnya dilakukan Walter Spies.

Kemudian para seniman itu mengajak temannya ke Bali. Demikian seterusnya sampai ada video mengulas tentang keindahan Bali yang membuat wisatawan mancanegara ke Bali.

Pelan tapi pasti masyarakat Bali mulai menjadi pelaku pariwisata. Yang semula petani kini menjadi dagang acung, sopir travel dan bekerja di hotel. Akhirnya kita lihat dengan jelas, semula pertanian pekerjaan utama masyarakat, sekarang didominasi pelaku pariwisata. Alasan utamanya, pariwisata membuat orang lebih mudah mendapat uang. Di sisi lain, pekerjaan sebagai petani makin kehilangan gengsinya.

Kemudian Bom Bali meledak 2002. Pariwisata Bali terpuruk.

Banyak pakar dan praktisi mengatakan kembali ke jati diri Bali yaitu bertani. Menurut mereka selain karena pariwisata itu rapuh, pariwisata juga boros terhadap air dan membuat berkurangnya daya dukung lingkungan.

Setahun setelah Bom Bali, pariwisata mulai pulih. Suara yang meneriakkan kembali ke jati diri Bali berangsur menguap tak terdengar. Malah 15 tahun setelah bom Bali, pariwisata lahir kembali (reborn). Jumlah kunjungan wisatawan lebih banyak 2 kali lipat dibandingkan sebelum bom. Itu karena baiknya ekonomi dunia dan promosi pariwisata.

Pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholder) terbuai akan kenikmatan pariwisata. Seperti ”kecanduan”, pertumbuhan akomodasi tak terkendali. Membuat banyak daerah yang tadinya air tanahnya belum intrusi, kini malah intrusi.

Pantai Kuta ditutup untuk mencegah meluasnya COVID-19. Foto Anton Muhajir.

Kemudian muncullah virus corona baru penyebab COVID-19 di tahun 2020. Semua terenyak karena sektor pariwisata yang diandalkan Bali paling terpukul dengan penyakit ini. Hotel, restoran, objek wisata dan travel semua lumpuh total. Demikian juga efek multipliernya sudah jelas baik sekarang maupun ke depan.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai dilakukan. Badai krisis membayangi. Suara lantang tentang pertanian kembali bergema di media sosial masyarakat Bali. Sejumlah tokoh pun kembali menyuarakan itu.

Agar tak kembali mengulang kesalahan kita saat tak mengambil momen kembali ke jati diri yakni pertanian. Sambil bekerja dari rumah, pemerintah bisa mulai merumuskan itu kembali. Tentu dengan para tim ahlinya, sehingga ada peta jalan tentang pertanian Bali. Misalnya dengan mengadakan moratorium perizinan akomodasi pariwisata, pengetatan rencana tata ruang wilayah yang berpihak ke pertanian dan stimulus pertanian kepada masyarakat.

Kalau bisa demikian, kita akan bisa menjadi Bali ke jati diri yakni pertanian. Pariwisata adalah bonusnya. Sehingga ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi lingkungan dan budaya selalu terjaga. [b]

Pandemi Corona, Momentum Memperbaiki Pariwisata Nusa Penida

Sejak 2014, pariwisata makin menggeliat di Nusa Penida. Foto Anton Muhajir.

Pariwisata seperti candu memabukkan.

Bila kenikmatannya merasuki jiwa dan seketika dihentikan, maka dia membuat sang penikmatnya menggelepar ketagihan. Persis seperti itu yang terjadi pada pariwisata Bali termasuk Nusa Penida yang berkembang dengan pesat sejak tahun 2014.

Perkembangan Nusa Penida, gugusan pulau di Kabupaten Klungkung, Bali banyak dikunjungi karena memiliki objek wisata alam yang indah. Pariwisata Nusa Penida berkembang dengan pesat membuat masyarakat kecanduan mendapat uang dengan mudah. Seketika semua beralih profesi menjadi pengusaha dan pelaku pariwisata.

Kebun yang tadinya ditanami singkong dialih fungsikan menjadi penginapan. Warga yang tadinya menjadi buruh bangunan kemudian belajar menyopir menjadi pengantar wisatawan. Ada juga yang tadinya punya pengalaman minim di bidang memasak ditambah belajar di YouTube lalu membuka restoran.

Yang punya modal dan keberanian lebih membeli kapal cepat (speed boat) dan membuat beach club. Celakanya para pengusaha lokal itu hampir semuanya akses dana ke bank. Ketika terjadi virus corona yang menyebabkan tak ada wisatawan sama sekali, semuanya “menggelepar”.

Perkembangan pariwisata di Nusa Penida menyisakan sejumlah masalah. Perkembangan begitu pesat membuat pembangunan infrastruktur kalah cepat. Misalnya saja jalan raya baru belakangan diperbaiki. Air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sering mati. Pelabuhan yang representatif pun belum ada.

Begitu pula daya dukung lingkungan. Pengelolaan sampah masih belum memadai. Sampah sering terlihat menumpuk di beberapa lokasi dan ladang masyarakat. Selain masalah itu, tak kalah pelik tentang sumber daya manusia yang masih minim. Tentang bagaiamana keterampilan (skill), sikap (attitude), dan pengetahuan (knowledge) yang masih minim. Bila dibiarkan akan menurunkan citra baik suatu destinasi.

Pemandu dan sopir pariwisata menyambut turis di Nusa Penida, Maret 2020. Foto Anton Muhajir.

Tawaran

COVID-19 yang mewabah ke seluruh dunia menyebabkan semua perekonomian lumpuh termasuk sektor pariwisata. Demikian pula pariwisata Nusa Penida yang baru enam tahun menggeliat. Bila tidak dilakukan pembenahan keberlanjutan, pariwisata Nusa Penida dikhawatirkan keberadaannya. Untuk itu wabah COVID-19 ini bisa menjadi momentum untuk introspeksi bersama.

Secara sadar kita harus akui ada kesalahan pengelolaan pariwisata Nusa Penida. Setelah adanya kesadaran bersama, baru kita benahi bersama-sama. Konsep pengelolaan tiga pulau satu manajemen perlu dilakukan dengan momentum matinya pariwisata akibat virus corona.

Caranya adalaha dengan membentuk satu Badan Pengelola Pariwasata Nusa Penida. Tugasnya mengelola objek wisata, sumber daya manusia, infrasruktur dan sosial budaya masyarakat.

Sedangkan para penginapan yang terbelit utang tak bisa membayar utang di bank bisa melakukan negoisasi dengan bank. Mereka bisa membentuk holding atau perusahan induk yang menaungi seluruh penginapan di Nusa Penida dengan penjamin investor yang pro pemberdayaan masyarakat dan pariwisata berkelanjutan. Mungkin bisa koperasi atau atau apalah istilahnya yang menyuntikan dana segar agar bisa bayar utang dan perbaikan manajemen secara keseluruhan.

Tentunya pemilik tetap pemilik penginapan saham senilai akurasi tim penilai. Kemudian ada pengelola yang profesional sehingga melatih sumber daya manusia (SDM), memperbaiki standar properti dari pendanaan baru dan terutama karena perusahaan induk yang mengelolanya satu, maka perang harga tidak terjadi.

Demikian pula jumlah kamar di Nusa Penida diatur oleh holding sehingga tidak ada lagi istilah kelebihan kamar. Bila ada wabah seperti virus corona ini terjadi pun semua akan siap. Tak ada kelabakan lagi

Begitupula speed boat dan pemilik kendaraan pengantar tamu. Bisa masing-masing menyatukan diri membuat perusahaaan bersama. Istilahnya membuat perusahaan induk berdasarkan bisnis utamanya. Sehingga tak ada istilah kebanyakan boat yang menyebabkan kekurangan penumpang. Perang harga juga bisa dihindari. Demikian pula sopir. Tak ada saling membanting harga dan standar mobil. SDM juga bisa disamakan dan diperbaiki.

Bila tawaran itu bisa dilakukan, masalah manajemen pulau telah diatur Badan Pengelola Pariwisata, sedangkan perusahaan-perusahaan akomodasi sejenis bisa menggabungkan diri untuk menghindari kejadian gagal bayar bank. Selain itu perang harga dan standardisasi kualitas pelayanan pun akan bisa dibenahi sehingga kualitas pariwisata Nusa Penida akan lebih baik lagi setelah pandemi. [b]

Nyepi Datang Lebih Awal

Gerhana matahari yang bersamaan dengan Nyepi di Bali pada 9 Maret 2016. Foto Anton Muhajir.

Rasanya campur aduk menghadapi dunia saat ini. Kami disarankan untuk diam di rumah jika bisa, daripada ikut menularkan suatu virus bernama Covid-19.

Berasa di film kiamat, zombie, maupun film yang tidak mendengar temuan ilmuwan yang mungkin membahayakan manusia selamanya. Dan menariknya, saat seperti ini malah datang sebelum Tahun Baru Nyepi akan berlangsung.

Maka, “Nyepi datang lebih awal,” tulis beberapa teman Bali yang tinggal di Jawa dalam Instagram story mereka. Mereka sebagai pekerja juga disarankan untuk bekerja dari rumah atau istilahnya “work from home”.

Dan dengan tidak diperbolehkan keluar, seperti sudah menjalankan salah satu Catur Brata Penyepian – Amati Lelungan. Iya, seperti berjenjang ke 25 Maret 2020. Atau, malah rasanya diperpanjang, karena saran ini akan berlangsung setidaknya sampai 31 Maret 2020, dan mungkin akan lebih. Kalau Nyepi yang terjadi satu hari saja bisa tidak menyenangkan bagi seseorang yang tinggal di Bali dan tidak merayakannya, bagaimana dengan keadaan sekarang?

Dari artikel yang ditulis tahun lalu “Nyepi di Bali Kok Promosi Hotel untuk Hiburan?” (https://balebengong.id/nyepi-kok-promosi/), paket liburan Nyepi itu ada lagi di tahun ini. Sudah dikumandangkan dari bulan Februari 2020 lalu di radio dan di internet serta banner-banner hotel masing-masing. Dengan catatan, sepertinya promo ini jauh lebih marak dari tahun lalu yang mungkin dikarenakan Bali sudah sepi wisatawan dari akhir Januari karena Covid-19.

Salah satu angka terbesar wisatawan ke Bali datang dari Tiongkok dan mereka sudah tidak bisa datang ke Bali sejak itu. Jika boleh berasumsi, hotel-hotel ini ingin sekali berpenghasilan dari wisatawan domestik maupun lokal untuk menikmati Nyepi di hotel mereka masing-masing.

Namun, sejak tanggal 16 Maret 2020, bahkan anak sekolah di Bali pun tidak boleh ke sekolahnya dan melanjutkan ujian sekolahnya dari rumah yang awalnya dijadwalkan sebelum libur Nyepi. Selain murid, mahasiswa pun mulai ditiadakan kelas-kelas perkuliahannya di kampus.

Semua kegiatan bersekolah dilaksanakan di rumah dan untuk yang berkuliah dosen-dosennya memantau lewat internet atas pekerjaan mereka. Berdasarkan surat-surat edaran pemerintah, dianjurkan kepada seluruh masyarakat untuk tidak keluar jika tidak diperlukan, bekerja dan belajar dari rumah sangat disarankan. Maka jenjang Amati Lelungan juga mulai seperti dilakukan di Bali sendiri. Berarti, untuk Hari Raya Nyepi, baiknya di rumah masing-masing saja kan?

Ternyata Covid-19 yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari artikel saya tahun lalu:

“Jadi, sebenarnya kalau [Nyepi] niat dijalankan, bisa saja kan dijalankan dengan sendirinya? Sekarang kalau internet dimatikan, kalau ada masalah darurat atau emergency dari keluarga jauh, lalu bagaimana? Dan bagi yang tidak menjalankan Nyepi, apakah mereka harus dipaksa ikut blackout juga? Apa salah mereka? Mereka kan tidak menjalankan Catur Brata Penyepian?”

Dengan begitu juga, sepertinya ke-was-was-an penduduk non-Hindu Bali yang tidak merayakan Nyepi bisa melaksanakan social distancing dengan tenang di Bali juga. Yang biasanya mereka bisa saja keluar Bali disaat Nyepi, apalagi jika dibarengi dengan libur sekolah, sepertinya tidak perlu melakukan hal tersebut. Namun, kembali ke paket-paket Nyepi di hotel itu, akankah hiburan itu tetap dicari dengan kondisi yang tidak menentu seperti ini?

Lalu bagaimana dengan kegiatan-kegiatan pra-Nyepi yang identik beramai-ramai? Seperti Ngerupuk dan Melasti?

Di beberapa tempat, Ngerupuk yang identik dengan pengarakan ogoh-ogoh sudah ditiadakan. Yang pasti kegiatan persembahyangan Pengerupukan masih bisa dilaksanakan di rumah masing-masing nantinya. Sedangkan untuk Melasti, sudah ada surat edaran yang menyatakan Melasti tetap dilakukan namun dengan jumlah orang yang lebih sedikit. Memang, secara ritual persembahyangan menuju Nyepi, Melasti merupakan bagian esensial dibanding Parade Ogoh-ogoh itu sendiri.

Selengkapnya, artikel Balebengong “Perbedaan Nyepi dan Parade Ogoh-Ogoh Tahun ini” (https://balebengong.id/perbedaan-nyepi-dan-parade-ogoh-ogoh-tahun-ini/) memberi penjelasan yang lebih lengkap.

Memang, kata teman itu benar, Nyepi berasa datang lebih awal, dan lebih berhati-hati juga. Nyepi pada dasarnya memang ingin memberi alam dan diri kita sendiri untuk berdiam serta tidak saling mengganggu, sama-sama beristirahat, sehari saja. Dengan himbauan mengurangi kegiatan seperti ini, Nyepi bisa jadi lebih panjang dari satu hari saja walaupun tidak keempat Catur Brata Penyepian dilakukan secara total setiap harinya.

Tetapi, dengan mengingat alam dan diri kita sendiri, keadaan dunia yang seperti ini memang sepertinya merupakan peringatan keras akan tindakan-tindakan kita manusia secara keseluruhan. Tetap jaga kesehatan, tetap memantau keadaan, semoga badai Covid-19 akan cepat berlalu. Selamat menjalankan Catur Brata Penyepian.