Tag Archives: opini

Menyoal Tantangan Intelektual Muda Bali ala Ngurah Suryawan

Ngurah Suryawan saat peluncuran bukunya, Menyoal Bali yang Berubah. Foto Bentara Budaya Bali.

Tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan.

Saya sudah lama sekali tidak menulis opini ataupun esai ringan. Apalagi yang menanggapi tulisan dari Ngurah Suryawan: kawan lama di kolektif Etnohistori di Jogja. Alasannya sederhana, kualitas tulisan Ngurah jarang yang ada perlu ditanggapi.

Namun, beberapa minggu lalu Ngurah menulis esai bagus sekali di harian Kompas tentang Papua. Jadi mungkin, saya membatin, kawan Ngurah masih bisa diajak berpikir serius.

Tulisan ini ingin menanggapi corat-coret Ngurah di website Tatkala, soal apa yang Ngurah sebut sebagai tantangan bagi intelektual muda Hindu Bali.

Hindu atau Bali?

Inti dari corat-coret kawan Ngurah sebenarnya penting. Namun, ketika digores oleh pena Ngurah jadi terkesan kabur dan bertele-tele. Intinya kira-kira begini. Ngurah berangkat dari observasi kalau intelektual Bali tidak terdengar kiprahnya di kancah pemikiran nasional dan global. Saru gremeng, ujar Ngurah.

Menurut Ngurah, kemungkinan besar karena intelektual muda Hindu Bali berperilaku seperti katak dalam tempurung: hanya melihat Bali sebagai jagat pentas satu-satunya. Akibatnya, intelektual Bali dan Hindu terancam terjerumus dalam fenomena inward looking dan berpikir picik. Yang dibahas hanya Bali, dan sayangnya lagi, pembahasannya dominan soal membela kebudayaan Bali.

Saran kawan Ngurah, intelektual Bali dan Hindu perlu bergerak melampaui keBalian sendiri: melampaui romantisme pada kebudayaan dan masa lalu.

Ada beberapa catatan untuk kawan Ngurah dan poin penting yang berusaha ia bahas. Catatan pertama tentu saja: apa betul demikian sebagaimana yang disampaikan kawan Ngurah?

Bali dan Hindu dihela dalam satu hentakan napas dalam tulisan Ngurah, seakan-akan dua kategori itu simetris, kongruen, dan identik. Sebagai seorang antropolog yang pernah menulis Bali, Ngurah tentu harusnya tahu ini keliru. Bali tidak selalu identik dengan Hindu, apalagi Hindu modern ala Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang kita kenal sekarang.

Orang Bali ada yang Kristen dan Katolik, bahkan orang Bali ada yang Muslim. Mungkin lebih banyak lagi orang Bali yang tidak beragama Hindu modern ala PHDI dengan tri sandya tiga kali dan sebagainya. Mereka yang belajar studi agama memahami betul kalau kategori Hindu (yang di India dan bahkan yang dilekatkan di kebudayaan Bali) tersebut adalah konstruksi sosial.

Ketidakpahaman kawan Ngurah akan ketidaksimetrisan kategori Bali dan Hindu itu sendiri terlihat jelas ketika ia abai akan beberapa intelektual Bali yang sebenarnya kiprahnya sangat terdengar dan dominan di kancah pemikiran nasional. Tidak usah jauh jauh, kawan Ngurah sebenarnya bisa melihat rekan kita sendiri yang bernama Made “Tony” Supriatma.

Made adalah ahli studi politik militer di Indonesia, dan juga ahli studi Papua, studi yang belakangan kawan Ngurah coba geluti. Ia dididik di Cornell dibawah Ben Anderson dan diakui di level nasional sebagai salah seorang pemikir studi militer Indonesia. Made bahkan pentas jauh lebih dahulu di level nasional dibandingkan beberapa peneliti muda terdepan terkini di studi militer Indonesia—yang kebetulan saya kenal baik—seperti Evan Laksmana di Center for Strategic and International Studies (CSIS) atau Muhamad Haripin di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Saya rasa kawan Ngurah abai melihat Made persis karena di analisis kawan Ngurah, intelektual Hindu dan intelektual Bali itu adalah dua istilah yang dapat dipertukarkan. Made Tony kebetulan tidak dapat diringkus dengan pas oleh dua kategori Hindu dan Bali tadi. Namun, justru disitulah letak pentingnya Made Tony: ia telah berhasil melampaui penjara kategori Hindu, Bali, dan bahkan mungkin Katolik itu sendiri.

Saya tahu masih banyak intelektual Bali lain yang pentas di level nasional dan gaung kiprahnya sangat terdengar. Ada dua orang Bali yang kini jadi jurnalis terdepan di Tempo. Ada satu orang Bali yang kini jadi ahli batas maritim di level nasional. Jika tidak terdengar oleh Ngurah, mungkin karena kawan Ngurah masih terjebak dalam penjara kategori Bali dan Hindu.

Intelektual Bali yang berkiprah di pentas nasional tersebut mungkin sekali sudah melampai penjara dua kategori tersebut dan telah menjadi, simply, orang Indonesia saja.

Tidak Berhenti Belajar

Catatan kedua. Jika memang kiprah intelektual Bali gaungnya tidak sekencang kiprah pemikir non-Bali, seperti yang Ngurah tuduhkan, mungkin sekali bukan karena mereka selalu berpikir inward looking dan jadi “jago-jago penjaga kebudayaan” untuk mengutip istilah lawas favorit kawan Ngurah. Mungkin sekali karena mereka telah berusaha berkiprah di pentas nasional, tetapi karena keterbatasan mereka masing-masing, tidak mampu menjadi salah satu pemikir yang terbaik.

Ngurah saya rasa adalah salah satu contoh yang bagus. Selepas berkutat dengan studinya tentang Bali, Ngurah kini mencoba berkiprah di pentas nasional dengan menjadi pemikir tentang Papua. Sejauh mana kiprah kawan Ngurah berhasil, masih kita nantikan.

Beberapa resep menjadi pemikir dan intelektual yang berhasil saya rasa kawan Ngurah sudah mafhum. Sebagai misal, jadilah pemikir merdeka dan bukan pemikir minder tukang kutip sarjana lain, menulis dengan logika yang runtut dan bahasa yang jernih, dan yang paling penting, proses belajar tidak berhenti seusai meraih gelar doktor. Justru gelar doktor itu menambah beban harapan pembaca pada sang intelektual.

Saya rasa tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan pada peran menjadi jago kebudayaan. Tantangan mereka kini adalah keluar dari zona nyaman repetisi tema pemikiran, dan tentu saja kemalasan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Tulisan ini ingin saya tutup dengan dengan ucapan penyemangat pada kawan Ngurah: mungkin sekali kawan Ngurah nanti jadi intelektual Bali berikutnya yang kiprahnya terdengar di pentas nasional dan tidak hanya membahas soal budaya Bali. Dengan catatan, tentu saja, kawan Ngurah tidak berhenti belajar. [b]

The post Menyoal Tantangan Intelektual Muda Bali ala Ngurah Suryawan appeared first on BaleBengong.

Merasakan Cerita Anak-Anak Bebandem tentang Bencana

dok. Balebengong.id

Bebandem adalah salah satu desa yang ditetapkan menjadi kawasan rawan bencana erupsi Gunung Agung.

Gunung Agung mulai menunjukan aktivitasnya sebagai salah satu gunung api yang aktif di Bali. Terhitung sejak September tahun 2017, gejala dan tanda-tanda erupsi Gunung Agung sempat menyebabkan kepanikan warga di sekitar Gunung Agung khususnya Kabupaten Karangasem.

Secara keseluruhan dampaknya sekitar 40.000 orang harus dievakuasi dari 22 desa. Proses evakuasi sempat pikuk akibat simpang siurnya berita melalui pesan singkat dan media sosial menyebabkan terjadinya “shock” semisal warga dengan paniknya menjual hewan ternak dengan harga murah, terjadinya kemacetan di jalan ruas utama kota, dan mengungsinya secara acak hingga mereka harus berpindah-pindah.

Inilah yang menjadi cerita yang dikenang oleh anak-anak SMPN 3 Babandem saat membagikan pengalaman mereka di acara Edukasi Kesiapsiagaan Bencana Kegunungapian yang dilaksanakan oleh tim Institut Teknologi Bandung (ITB), didukung sejumlah lembaga lain. Media jurnalisme warga Balebengong.id juga terlibat pada 13-14 Agustus 2019.

Ni Luh Cahyani (murid kelas VII c) menuliskan pengalamannya saat berpindah-pindah saat Gunung Agung dalam status Siaga 1. “Di saat terjadi erupsi Gunung Agung pada tahun 2017 yang lalu, saya mengungsi di Kabupaten Gianyar. Saya mengungsi di sana selama kurang lebih 5 bulan dan saya bersekolah di SDN 1 Blahbatuh. Di sana saya punya banyak sekali teman. Setelah saya mengungsi di Gianyar, saya pindah ke Desa Pertima Kabupaten Karangasem. Di sana saya mengungsi bersama paman, kakek, dan nenek saya. Saya tidak bersekolah tetapi saya punya banyak teman. Setelah itu barulah saya pindah ke tempat pengungsian terakhir saya yaitu di Desa Bungaya Kangin Kabupaten Karangasem. Saya bersekolah di SDN 3 Bungaya Kangin. Setelah sekian lama saya tinggal di Bungaya barulah saya dijemput dan diajak pulang oleh kedua orang tua saya” tulisnya dalam sesi membuat kording sekolah. Hal serupa juga dituliskan oleh murid-murid lain.

Cerita lain tentang perasaan anak-anak menghadapi bencana alam tersebut seperti “Pada tanggal 22 September 2017, Gunung Agung mengeluarkan asap yang sangat tebal dan juga mengeluarkan abu yang lebat. Pada hari itu juga pas kami ulangan pertama dan akhirnya kami tidak jadi ulangan pertama. Akhirnya kami disuruh pulang dan segera mengungsi oleh kepala Dusun Banjar Gula. Dan akhirnya kami pulang lalu kami diajak mengungsi oleh orang tua kami ke Singaraja, Buleleng untuk mencari tempat yang lebih aman. Orang tua kami menjual ternak kami dengan harga yang sangat murah. Hati kami sangat sedih dan kami tidak mau meninggalkan halaman kami yang sangat indah.” Tulis Ni Nengah Susanti (murid VIII b).

Hati kami sangat sedih dan kami tidak mau meninggalkan halaman kami yang sangat indah

Ni Nengah Susanti (murid VIII b SMPN 3 Bebandem)

Selain menjadi kenangan tentu ada hikmah dan hal yang dapat dipetik dari hal ini seperti pengalaman yang dibagikan oleh Ni Kadek Ayu Fitriani (murid VII c) yakni “Pada tanggal 22 September 2017, saya diungsikan oleh pemerintah di Desa Ulakan tetapi masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan ingin masyarakat saya mengungsi di Desa Tengangan Pegringsingan. Saya sangat sedih karena harus meninggalkan rumah dan berpisah dengan kawan-kawan saya. Pada saat saya diungsikan saya baru kelas 5 SD. Sudah seminggu saya di pengungsian saya pun mulai masuk sekolah SD 1 Tenganan. Saya merasa senang karena bisa masuk sekolah lagi walaupun tidak bisa bersama-sama dengan kawan-kawan semua. Hari pun berlalu dan saya dan teman-teman saya kedatangan tim PMI dan saya dan teman-teman diajarkan untuk membuat tas dari bahan plastik (mendaur ulang sampah plastik bekas minuman). Dan akhirnya saya bisa membuat tas dari sampah plastik. Lima bulan sudah lamanya saya mengungsi dan akhirnya pulang ke rumah. Saya sangat senang karena bisa sekolah lagi dan bisa kembali ke rumah. Dan saya sangat senang karena saya bisa pulang ke rumah membawa ketrampilan kerajinan dari sampah plastik. Demikian pengalaman saya saat di pengungsian.”

Dan akhirnya saya bisa membuat tas dari sampah plastik

Ni Kadek Ayu Fitriani (murid VII c SMPN 3 Bebandem)

Inilah cerita-cerita mereka yang nantinya menjadi pengalaman dan refrensi mereka saat menghadapi bencana yang serupa di kemudian hari. Hal tersebut yang diharapkan dari Balebengong.id, bagaimana mereka dapat mengabadikan momen dan cerita mereka sehingga mereka tidak panik lagi saat menghadapi bencana. Kesiapsiagaan tentang bencana sangat perlu mereka ketahui sejak dini sebab desa dan lokasi sekolah mereka dekat dengan Gunung Agung yang kini masih beraktivitas.

The post Merasakan Cerita Anak-Anak Bebandem tentang Bencana appeared first on BaleBengong.

(Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata”

Demi pariwisata, kita biarkan investor memakan apa saja yang ada di Bali. Kartun Gus Dark.

Pelan tetapi pasti, muncul “agama pariwisata” dan para pengikutnya.

Sontak kita terkejut setelah sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa Pulau Bali sedang menuju kepada krisis air. Seolah kita tidak percaya, bahwa pulau dengan agama tirta, pemujaan terhadap air, justru kini bersiap akan kekurangan air.

Bentang persawahan melahirkan kebudayaan pertanian sekaligus sumber penghidupan pada masanya. Tatanan kebudayaan juga tercipta melalui pertanian, yang salah satu unsur pentingnya adalah pemujaan terhadap air dalam rangkaian ritual-ritual.

Namun, itu dulu.

Pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dan sarana pariwisata tidak terelakkan. Mungkin sebuah keniscayaan, kebudayaan air tergerus oleh modernitas bernama pembangunan dan pariwisata.

Kita seolah terpapar kepada kondisi yang menuntut untuk semuanya mengabdi kepada pariwisata. Kerusakan lingkungan dengan demikian hanya menunggu waktu.

Sudah lama saya mendengar ungkapan tentang budaya air dan budaya jalan yang bertubrukan dalam realitas kontemporer Bali. Saya rasa tidak hanya di Bali. Pengalaman saya dalam memahami kondisi di Papua beberapa tahun belakangan ini mungkin lebih dramatis. Kita terpaksa berhadapan dengan ironi-ironi antara cerita kejayaan (dongeng) masa lalu dan kenyataannya kini.

Budaya air tumbuh dari keseluruhan kehidupan manusia Bali, terutama dalam ritual agama. Foto Anton Muhajir.

Agama (Kebudayaan) Tirta

Teks-teks tradisi tidak menemukan konteksnya dalam realitas kontemporer Bali. Perubahan melaju kencang menerabas semuanya, tanpa kecuali. Tersedia berbagai macam pilihan yang harus dipilih. Pilihan-pilihan sulit dan tantangan yang harus dihadapi itulah yang menandai perubahan Bali.

Teks-teks sejatinya berguna sebagai pondasi dan suluh untuk mengenali posisi dan identitas kita. Selebihnya, kita sepatutnya mengisi teks tersebut dengan semangat zaman (baca: konteks) kita hidup saat ini. Dengan demikian teks akan berubah menjadi spirit. Spirit teks tersebut adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian pulalah kita akan menjadi eling dalam dunia yang berlari kencang ini.

Bagaimana mengkontekstualisasikan teks dalam kehidupan rakyat Bali yang berubah? Bagaimana memaknai sumber-sumber air penghidupan terancam pencemaran dan kekeringan? Kisah peradaban air yang perlahan-lahan tergerus peradaban jalan (infrastruktur secara luas)?

Perubahan-perubahan itulah yang melanda Bali dan daerah-daerah lain di negeri ini. Dongeng peradaban air perlahan tergantikan dengan peradaban pembangunan pariwisata. Yang tidak ikut serta seolah-olah akan terlindas tewas peradaban yang melaju kencang tanpa henti. Infrastruktur seolah menjadi ideologi yang menandai kemajuan.

Budaya air tumbuh dari kesuluruhan kehidupan manusia Bali. Filsafat keagamaan manusia Bali memandang laut dengan pantainya sebagai kawasan suci. Maka, bukanlah kebetulan jika kawasan pantai yang mengitari tanah Bali “dipagari” dengan pura. Dari beragam pura inilah diharapkan vibrasi kesucian dan kemurnian itu mengalir, menyusup ke puncak pikir, ke kedalaman hati, hingga ke relung batin umat manusia.

Siklus air dalam kebudayaan Bali bermula dari pegunungan, lantas menembus ke dalam bumi, menyembul lagi menjadi mata air, yang kemudian mengalirkan air ke sungai-sungai, menyejahterakan umat manusia dengan segenap mahluk seisi semestaraya, hingga akhirnya semua bermuara ke laut (Sumarta, 2015: 103-105).

Penelitian awal saya di Batur memberikan potret bahwa air begitu pentingnya dalam tataran religius juga budaya kemasyarakatan. Tidak salah yang menyebut bahwa Danau Batur, salah satunya, adalah sumber air di Balidwipa.

Dari Danau Batur lah air terbagi ke seluruh pelosok Bali. Air mengairi sawah-sawah, lahan pertanian, disedot industri pariwisata, hingga detak kehidupan rumah tangga manusia Bali. Pondasi kehidupan pertanian yang menjadi asal-muasal kehidupan manusia Bali tidak bisa dilepaskan dari peradaban air ini.

Sekaa Subak menjadi institusi penting yang memastikan berjalannya peradaban air pada lahan-lahan pertanian masyarakat. Selain sebagai jantung kehidupan, air menciptakan filosofinya sendiri. Totalitas kehidupan keagamaan manusia Bali dinapasi salah satunya oleh air. Dan Batur, dengan Gunung Batur, Danau Batur, dan Pura Ulun Danu Batur menjalani ritual penyembahan utama, salah satunya terhadap air.

Denyut peradaban air yang berorientasi ke Danau Batur dan Pura Ulun Danu Batur itulah yang menciptakan Pasihan, aliansi jejaring Subak-Subak yang memohon kesuburan lahan pertanian mereka melalui tirta dari Batur. Jaringan Pasihan inilah yang menghubungkan Pura Ulun Danu Batur dengan 45 subak bahkan kini mungkin lebih di Balidwipa.

Pasihan inilah yang merupakan penyokong dari pelaksanaan Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Dan bukan hanya di Danau Batur, danau-danau lainnya di Bali—Tamblingan dan Buyan—juga mempunyai jaringan subak tersendiri.

Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, menjadi ekspresi ritual dari para penyungsung Subak yang menyembah Ida Bhatari Dewi Danu di Pura Ulun Danu Batur. Sebagai bentuk rasa syukur, penyungsung Subak mempersembahkan hasil buminya (ngaturang sawinih atau sarin tahun) sebelum pelaksanaan Ngusaba Kadasa. Persembahan inilah yang digunakan sebagai bahan ritual Ngusaba Kadasa.

Pasihan adalah jaringan sosial budaya dengan orientasi ritual ke Pura Ulun Danu Batur, sebagai pura penting dalam pemujaan air. Pusat orientasi ritual memiliki legitimasi yang menjadi panduan bagi masyarakat pengikutnya (Majalah Batur, Pasihan: Aliran Peradaban Air Batur, Edisi 2 Maret 2019).

Sebuah proyek hotel sedang mangkrak di Bukit Timbis, Desa Kutuh, Badung, Bali. Foto Anton Muhajir.

Tubrukan

Transformasi global berimplikasi dengan semakin memuncaknya pengaruh pembangunan yang menenggelamkan kebudayaan air. Salah satu rekayasa sosial terpenting Bali pasca kolonial adalah hasrat kuasa pariwisata yang sejatinya sudah terbentuk sejak rezim kolonial Belanda menduduki Indonesia.

Hasrat baru “ideologi kenikmatan” ini berlangsung “berkelanjutan” di berbagai wilayah di Indonesia, terutama juga di Bali. Seluruh energi dikerahkan untuk sektor yang kemudian perlahan-lahan menyingkirkan bidang pertanian.

Pembangunan pascakolonial menitikberatkan kepada pariwisata yang menyulap segala macam kerikil-kerikil tajam menjadi properti-properti pentas pariwisata. Pondasi yang membangunnya adalah otentisitas (keaslian atau keeksotisan) budaya. Orientasi dan distribusi sosial ekonomi dengan demikian juga ikut berubah.

Sumarta (2015: 106) dengan detail menarasikan bahwa dalam budaya air, pusat distribusi sosial ekonomi berorientasi pada gunung dengan ulun danu sebagai pusat.

Saat budaya jalan menerjang, pusat perputaran sosial ekonomi berubah menjadi Bandara I Gusti Ngurah Rai di Tuban yang berada di kaki Pulau Bali. Dari kaki Bali inilah para wisatawan didistribusikan menuju ke berbagai daerah di Bali. Dan mereka juga dipulangkan kembali melalui kaki Pulau Bali.

Rakyat Bali yang menjadi serdadunya dibuat tanpa jeda memikirkan pariwisata. Adakah yang kritis terhadap pariwisata?

Palguna (2007:28) mengungkapkan dengan tepat sekali. “Memang satu dua orang pernah mencoba berperan kritis. Yang dikiritik bukan pariwisata, tapi investor atau pelaku-pelaku di tingkat bawah. Tapi jarang sekali kami mengetahui bagaimana cara investor mendiamkan orang-orang kritis. Karena investor itu bekerja seperti mahluk halus. Ia ada di mana-mana tapi tidak kelihatan. Tiba-tiba sebuah kawasan telah dikuasainya.”

Pelan namun pasti, muncullah “agama pariwisata” yang memiliki banyak pengikutnya. Mereka adalah para serdadu yang siap mati demi pariwisata, yang memang menggantungkan hidupnya dari pariwisata. Dari mulai manajer hotel berbintang, pegawainya, tukang kebun, dosen dan profesor pariwisata di perguruan tinggi, hingga bendesa adat dan perempuan front office di sebuah villa mewah di Ubud.

“Agama pariwisata” telah menerjemahkan dirinya begitu cair dan menjadi saudara, rekan kerja bahkan tetangga dan krama di banjar. Oleh sebab itulah, “agama pariwisata” telah mewariskan cara berpikir dan (seolah-oleh) ketergantungan terhadap kehadirannya yang merasuk dalam setiap tempat dan waktu.

Kita menyaksikan arus padat pariwisata dimulai di kaki Pulau Bali. Di kaki Pulau Bali jugalah kawasan ekslusif pariwisata hadir di Nusa Dua dengan berbagai hotel bintang lima dan fasilitas pariwisata mewah yang mengelilinginya. Di kaki Pulau Bali telah menjadi simbol terikatnya manusia Bali dengan pariwisata dan pernak-pernik di dalamnya.

Terikatnya kaki Bali menjadi cerminan penting bahwa kita masih kehilangan siasat untuk memikirkan satu hal penting: apa daya kita (selain) setelah pariwisata? [b]

The post (Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata” appeared first on BaleBengong.

Kisah di Balik Sepiring Nasi Goreng

Politik nasi goreng ala Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto. Foto Breakingnews.co.id
Politik nasi goreng ala Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto. Foto Breakingnews.co.id

Ternyata soal nasi goreng tidak sederhana belakangan ini.

Konon, ceritanya nasi goreng dahulu kala dibuat oleh orang Tiongkok untuk mengolah sisa nasi yang tidak habis dimakan. Hal ini dilakukan untuk menghemat bahan makanan.

Nasi goreng sampai di Nusantara dibawa para imigran Tiongkok. Saat ini nasi goreng jadi menu sehari-hari pribumi. Bahkan, ternyata, nasi goreng bukan hanya santapan para inlander.

Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort atau Tante Lien, seorang keturunan Belanda yang lahir dan besar di Surabaya juga menyukai nasi goreng.

Ceritanya mundur pada 1957. Saat itu konflik Irian (Papua) membuat hubungan antara Indonesia dengan Belanda memanas.

Pemerintah Indonesia mengeluarkan sentimen anti-orang Barat sehingga Wieteke yang saat itu berusia 14 tahun bersama dengan keluarganya mengungsi ke Belanda.

Wieteke tidak menyukai iklim Belanda yang dingin serta makanan khas di sana. Dari sanalah, Wieteke akhirnya menulis lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng untuk mengekspresikan kerinduannya kepada Indonesia.

Geef mij maar nasi goreng artinya “Beri saja aku nasi goreng.”

Kisah Romantis

Cerita nasi goreng ternyata tidak berakhir di sana. Majalah Tempo edisi 2 Agustus 2019 memuat gambar pertemuan antara Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Pertemuan tersebut mengambarkan kisah “romantis” keduanya dengan hidangan nasi goreng. Jumpa ini terjadi di rumah Megawati, Jalan Tengku Umar, Menteng, Jakarta pada 24 Juli 2019.

Pertemuan dua elite partai di Indonesia pasca-Pemilu Presiden 2019 sontak membuat beragam spekulasi. Namun, makan siang dua kawan lama ini memberikan angin segar untuk tensi politik di Indonesia.

Sebab, dua calon presiden saat itu, Prabowo dan jagoan PDI Perjuangan, Joko Widodo, bertarungan lumayan sengit ketika Pemilu.

Setali tiga uang dengan jamuan di Menteng, Ketua Partai Nasdem Surya Paloh yang merupakan koalisi Joko Widodo malah mengadakan tatap muka dengan Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Pertemuan yang tidak biasa ini terjadi di kantor DPP Partai Nasdem di Gondangdia, Jakarta, Rabu, 24 Juli 2019. Pertemuan berlangsung selama 30 menit yang diawali makan siang dengan menu utama nasi kebuli. Bukan nasi goreng.

Lucu

Dalam karikatur Tempo soal nasi goreng yang memuat pertemuan Mega dan Prabowo, tertulis sepenggal lirik lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng.

Lucunya, pada bagian bawah gambar ini, tampak Surya Paloh memeluk Anis Baswedan dan berkomentar soal lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng. “Ah. Itu lagu lama. Kita makan di luar, yuk,” ajakan Surya pada Anies.

Ternyata kisah nasi goreng tidak sederhana belakangan ini. Mungkin publik dan para elit partai lainnya sedang menunggu, apakah nasi goreng atau nasi kebuli yang akan muncul jelang Pemilu 2024.

Paling terbaru terjadi pada Minggu, 11 Agustus 2019. Soal nasi goreng lagi. Kali ini berasal dari dapur saya. Entah kenapa, di saat belum makan siang, Istri tercinta menawari nasi goreng.

Spekulasi pun bermunculan di otak saya. Oh, kali ini sederhana. Perut yang lapar ternyata bisa dikenyangkan oleh nasi goreng.

Dalam hati saya berucap, Geef Mij Maar Nasi Goreng. [b]

The post Kisah di Balik Sepiring Nasi Goreng appeared first on BaleBengong.

Di balik megahnya bangunan berlantai, ada peluh pekerja berjibaku dengan debu semen dan tajamnya paku

Mengambil keputusan untuk merenovasi dan membangun rumah berlantai, bisa dikatakan cukup berat bagi kami berdua. Selain berupaya lebih keras dalam

The post Di balik megahnya bangunan berlantai, ada peluh pekerja berjibaku dengan debu semen dan tajamnya paku appeared first on PanDe Baik.