Tag Archives: opini

Butuh Udara Segar

Usai menuntaskan proses verifikasi usulan bedah rumah tempo hari, rasanya perjalanan saya kali ini sudah mulai menemukan jalan buntu. Segala kejenuhan dalam rentang nyaris setahun ini, benar-benar menghilangkan semua kreatifitas dan pola pikir pembaharuan yang saya punya. Mentok tanpa daya. Ini memang penyakit rutin dalam gaya saya dalam bekerja. Ketika merasa semua berjalan stagnan tanpa […]

Masyarakat Bhinneka Ide, Tunggal Indonesia

Bhinneka Tunggal Ika
@ Tropico Festival 2016

Rayakan Perbedaan. Demikian slogan salah satu media massa di Indonesia.

Idealnya di Indonesia memang terkandung dalam dua huruf tersebut. Perbedaan di Indonesia sangat banyak dan perlu untuk dirayakan. Tetapi perayaan tersebut haruslah dalam batas yang wajar dan sesuai norma serta hukum sebab Indonesia memiliki batasan itu juga, konstitusi dan hukum.

Indonesia saat ini memang sangat merayakan perbedaan namun sangat liar. Kemudahan teknologi dan konsep “citizen journalism” memudahkan penulisan serta penyebaran ide tanpa banyak filter. Juga kebebasan berpendapat dijamin oleh UUD 1945. Masyarakat dengan bhinneka latar belakang membuat banyak ide. Hal ini seharusnya tidak menjadi perdebatan. Yang menjadi perdebatan adalah tentang ragam ide tersebut apakah mendukung Indonesia yang tunggal, seperti sumpah para pemuda 1928, yang baru saja kita peringati. Dan media massa harus menjadi wasit dalam ragam ide tersebut.

Namun dalam kondisi saat ini, kenetralan media massa juga mulai diragukan. Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa tidak ada satu pun media massa yang netral di mana pun. Menurut beliau, dulu media massa memang dianggap bisa obyektif. Namun kehadiran media massa berbasis jurnalisme warga seperti BaleBengong dan jejaringnya bisa menjadi alternatif wasit. Keberpihakan media massa idealnya ditujukan kepada warga dan Indonesia.

Ide masyarakat beragam seharusnya menjadi ajang uji dan saling mempertajam ide untuk memajukan Indonesia. Ibarat lukisan, warna-warna yang digunakan saling memperindah gambar dasarnya. Lukisan dihidupkan dan diperkaya oleh warna-warni goresan cat yang terkecil sekalipun. Gambar dasar inilah Indonesia dan hidup karena keberagaman. Dan media menjadi wasit yang menimbang dan menyebarkan ide dengan kemampuan yang dimiliki sebagai wadah yang tahu uji tulisan serta ide yang berimbang.

Keaktifan masyarakat dalam mengabarkan ide-ide beragam tidak lagi susah dalam perkembangan teknologi sekarang. Namun dibutuhkan kearifan dalam menimbang kepatutan ide tersebut. Ibarat mata pedang, keterbukaan teknologi sekarang juga memungkinan masyarakat menyebarkan hoax maupun ide yang bisa merusak harmonis masyarakat maupun Indonesia. Peran media massa khususnya yang berbasis warga memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam membangun opini masyarakat.

Media massa harus diarahkan membawa kenetralan dan memelihara kebhinnekaan ide masyarakat. Setiap ide diuji apakah mendukung serta memperkuat Indonesia atau malah mengganggu proses yang sudah dibangun sejak lama. Media massa harus menjadi wasit dalam setiap perdebatan ide yang bergulir dari masyarakat. Media tidak bisa hanya sekedar menulis dan menyebarkan ide yang laris saja, namun tetap memiliki daya kritis. Media tidak saja harus mencari pembaca sebanyak-banyak namun harus tetap bisa mengedukasi pembaca dengan tulisan yang benar dan netral.

Media massa memiliki peran yang penting dalam mendukung konsep demokrasi di Indonesia dan keberagaman memiliki peranan penting bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Media yang netral akan menjadi bagian masyarakat untuk menyampaikan pendapat serta menjadi media edukasi mengenai kebangsaan dan kebaragaman. Seperti pendapat Marshall McLuhan, seorang sosiolog asal Kanada yang mengatakan ”media is the extension of men”. Media massa menjadi citra masyarakat.

Media massa menjadi alat untuk merayakan perbedaan serta menjadi wasit dalam perayaan tersebut. Media massa menjadi unsur yang tetap melihat kebhinnekaan dalam mendukung ke-ika-an Indonesia, khususnya dalam masa makin banyaknya berita hoax. Media massa harus menjadi unsur yang memegang teguh semangat bhinneka tunggal ika.

Jika kita lihat kembali peristiwa Sumpah Pemuda 1928, pemuda merayakan perbedaan mereka tetapi terbingkai dalam satu semangat. Komposisi peserta kongres dari Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb sangat merepresentasikan keberagaman di Indonesia. Tetapi kita tahu hasil sumpah mereka, yaitu bersumpah untuk satu tanah air, bangsa dan bahasa. Bhinneka tidak menjadi sebuah hambatan untuk merealisasikan sebuah ide tunggal tentang Indonesia.

Presiden Jokowi dalam masa kebebasan ide ini menjadi teladan yang baik dalam merayakan perbedaan. Mulai dari pidato kemenangan beliau di atas kapal Phinisi sampai acara kenegaraan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2017 yang menggunakan baju daerah yang sangat indah.

Ide keberagaman ini sebisanya mewarnai setiap ide dari masyarakat namun tidak lepas dari koridor kebangsaan. Menulis Indonesia berarti menuliskan keberagamannya, sebab cerita tentang Indonesia tidak bisa dilepas dari kata keberagaman. [b]

The post Masyarakat Bhinneka Ide, Tunggal Indonesia appeared first on BaleBengong.

Bahu Membahu Merawat Kebhinnekaan (Sebuah Refleksi)

Indonesia Berbhineka, Indonesia yang Ceria. Foto Made Argawa.

Patut kita (anak-anak Indonesia) berterima kasih karena atas perjuangan pendiri bangsa dan negara kita, (the founding father and mother), sehingga bangsa dan negara Indonesia berhasil dibangun berdasarkan semangat persatuan dan perjuangan dari berbagai elemen masyarakat yang heterogen.

Berterima kasih merupakan salah satu wujud dari penghormatan anak-anak Indonesia terhadap setiap perjuangan pendiri bangsa dan negara. Hal ini sekaligus sebagai komitmen untuk merawat bangsa dan negara menjadi lebih baik. Kemerdekaan Indonesia sejak 17 Agustus 1945 kiranya tidak  dipandang sebagai perjuangan yang telah selesai. Sebab kemerdekaan adalah perjuangan yang belum selesai.

Maka dari itu, kemerdekaan harus dipandang sebagai jembatan untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Perjuangan belum selesai

Kemerdekaan Indonesia sebagai perjuangan yang belum selesai, kiranya dapat dibuktikan dengan masih banyaknya persolan yang terjadi dan belum bisa diselesaikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satunya adalah polemik kebhinekaan.

Mengapa harus kebhinekaan? Sebab, kebhinekaan itu sendiri dapat menciptakan 2 (dua) potensi peristiwa. Pertama, kebhinekaan dapat menciptakan semangat persatuan, sehingga integrasi bangsa dan negara tetap terawat. Potensi ini hanya akan terjadi, apabila setiap elemen masyarakat yang berbeda suku, agama, ras, budaya, dan pilihan politik dapat saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya.

Kedua, kebhinekaan dapat menciptakan konflik sosial kemasyarakatan maupun konflik vertikal dalam pemerintahan, sehingga dapat mengancam integrasi bangsa dan negara Indonesia. Potensi ini akan terjadi, apabila setiap elemen masyarakat yang heterogen tersebut, tidak saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada.

Jika kita menilik ke belakang maka sejarah akan menyadarkan kita, bahwa kebhinnekaan itulah yang merupakan fondasi, sehingga bangsa dan negara Indonesia dapat berdiri sampai saat ini. Oleh karena itu lahirlah semboyan, bhinneka tunggal ika.

Dalam negara heterogen diperlukan tujuan dan ideologi yang sama. Jika kita tidak memiliki hal itu, maka akan sulit menjaga keberagaman di bumi pertiwi. Perlu kita pahami bahwa seluruh nusantara bersatu karena ada kesamaan tujuan dan kesepakatan ideologi bangsa yang merangkul keberagaman yang ada.

Kebhinnekaan: Jantung Indonesia

Penulis mengibaratkan kebhinnekaan Indonesia seperti jantung yang bekerja memompa darah ke seluruh bagian tubuh agar subyeknya (Indonesia) dapat hidup sehat dan kuat. Oleh sebab itu, apabila jantung Indonesia terserang penyakit (intoleran, rasisme, diskriminasi dll) maka Indonesia akan menjadi bangsa dan negara yang hidupnya tidak sehat dan tidak kuat. Oleh sebab itu, sewaktu-waktu akan “sakit” (terjadi perpecahan) jika tidak dirawat dengan baik. Maka dari itu, untuk mencegah hal tersebut maka perlu mengkonsumsi “makanan-makanan” yang sehat pula, yakni saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada.

Pemilu, Pendidikan dan Penjaga Kebhinnekaan

Bukan menjadi hal baru lagi bagi rakyat Indonesia untuk mengetahui, bahwa pemilu sering dimanfaatkan untuk memunculkan isu-isu intoleran. Maka politik Machiavelisme (menghalalkan segala cara) sangat mungkin terjadi dalam kontestasi pemilu. Apalagi di era melek teknologi saat ini, tentu isu-isu tersebut akan sangat mudah disebar. Oleh sebab itu, tidak heran kalau Indonesia saat ini diserang oleh banyaknya berita hoax.

Melihat peristiwa-peristiwa tersebut maka masyarakat membutuhkan pengetahuan dan pola pikir yang baik untuk dapat mencegah hal tersebut bisa terjadi. Hal itu tentu dapat kita peroleh melalui pendidikan, baik formal maupun informal.

Pendidikan merupakan senjata untuk melawan anti-toleransi. Peran pendidikan bukan hanya untuk sekedar tahu dan memahami suatu materi atau persoalan. Tan Malaka pernah berkata, “tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”. Pendidikan tentu sangat berpengaruh terhadap setiap pembentukan karakter maupun tindakan yang akan diambil oleh setiap individu maupun kelompok masyarakat.

Selain itu, pendidikan juga diperlukan untuk mencegah tercemarnya pola pikir individu atau kelompok masyarakat dari paham-paham yang menyesatkan. Di mana, sewaktu-waktu bisa melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengancam keberangaman.

Eksistensi dan keterlibatan para pendidik, yakni keluarga, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh bangsa, guru, dan organisasi keagamaan, serta kepala negara sebagai penjaga kebhinnekaan (guard of diversity) sangat diperlukan untuk menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mengapa demikian? Karena dalam fenomena polemik kebhinnekaan yang hangat terjadi saat ini maka bangsa Indonesia membutuhkan panutan.

Harapannya dapat menjadi magnet yang kuat, sehingga jarum kompas dapat mengarah ke arah bhinneka tunggal ika yang lebih baik. Penulis mengatakan bhinneka tunggal ika yang lebih baik karena berdasarkan kesadaran akan realita yang ada, bahwa polemik kebhinnekaan memang tidak dapat dipulihkan secara total tetapi dapat diminimalisir. Ketika polemik kebhinnekaan dapat diminimalisir maka kelompok-kelompok yang mengancam kebhinnekaan akan tenggelam dalam lautan mayoritas masyarakat yang bhinneka tunggal ika. [b]

The post Bahu Membahu Merawat Kebhinnekaan (Sebuah Refleksi) appeared first on BaleBengong.

Revolusi Mental Generasi Zaman Now Demi Menjaga Pluralisme

Urgensi generasi zaman now adalah untuk merajut asa keberagaman itu.

Fakta tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang plural, rumah bagi semua kalangan, tempat berpijak 250 juta lebih penduduk, 1.300 suku bangsa,  6 agama dan berpuluh aliran kepercayaan, dan sekitar 2.500 jenis bahasa daerah berdasarkan data BPS tahun 2010 adalah keniscayaan yang tidak bisa dielakkan. Inilah kesepakatan founding fathers and mothers bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945.

Namun, mengapa belakangan ini kita seperti tersayat pisau tajam isu-isu yang meragukan komitmen awali ini? Ada kabar yang menafikkan konsensus kebangsaan ini. Sama sekali bukan untuk membuka luka lama atau mengungkit persoalan di dalam masyarakat.

Tak perlu mundur jauh untuk melihat ada kerapuhan dalam praktik menjaga asa perbedaan dalam satu bingkai kenusantaraan ini. Masih sangat segar dalam ingatan kita isu sentimen suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) di pilkada DKI kemarin atau mungkin di daerah lain. Ada Saracen yang melancarkan serangan ujaran kebencian dan hoax yang masif. Eggi Sudjana yang keseleo lidahnya mengatakan hanya agamanya yang sesuai Pancasila atau Gubernur Anies Baswedan yang salah konteks mengeluarkan kata “pribumi.”

Di era serba digital di mana internet dan media sosial semakin mewabah dan informasi online dapat diproduksi dengan sangat mudah dan cepat ke pemirsanya maka kekacauan, kegaduhan semakin membesar dan membludak di samping kecemasan dan keprihatinan berbagai elemen masyarakat. Internet dan media sosial bak primadona dalam mencapai apapun termasuk mengoyakan pluralisme dan melakukan kejahatan atau pelanggaran lainnya.

Jadi, tidak mengherankan bila isu-isu seperti yang diutarakan di atas akan diperalat untuk kepentingan dan dengan modus apapun yang berujung pada perpecahan dalam masyarakat. Pertanyaan penting yang kiranya perlu dijawab ialah seberapa besarkah peran generasi muda terutama dalam konteks kekinian dan bagaimana cara menjaga tali kesatuan dalam keberagaman Indonesia?

Muda Revolusi Mental Bangsa

Generasi muda dalam tulisan ini didefinisikan sebagai generasi yang bergantung pada internet dan peran media sosial sebagaimana dikemukakan dalam teori generasi Karl Manheim. Karl Manheim dalam esai berjudul The Problem of Generation (1923) membagi manusia ke dalam beberapa generasi. Inti teori generasi tersebut mengatakan manusia di dunia ini mempunyai karakter yang berbeda dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya karena melewati masa sosio-sejarah. Berkat teori itu, para sosiolog membagi manusia menjadi beberapa generasi.

Pertama, The Greatest Generation (lahir sebelum tahun 1928). Alasan mereka adalah generasi terbaik karena berhasil melewati dua masa berat yaitu Great Deprresion dan Perang Dunia II. Kedua, Silent Generation (1928-1945) yaitu generasi diam terjadi pada zaman dimana situasi menghendaki banyak pembatasan seperti angka kelahiran. Ketiga, Baby Boomers (1946-1964) zaman di mana terjadi lonjakan angka kelahiran.  Keempat, Gen-X (1965-1980), kelima, Gen-Y atau akrab disapa Millenial (1981-2000), keenam, Gen-Z (2001-2010) dan ketujuh Gen-Alpha (2010-sekarang).

Dari konfigurasi pembagian generasi di atas, generasi muda pada tulisan ini merujuk pada Gen-Y, Gen-Z, dan Gen-Alpha. Ketiga generasi ini ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kebutuhan utama adalah internet. Generasi ini menyukai komputer, smartphone, videogames, media sosial dan aplikasi-aplikasi berbasis internet lainnya.

Tom Brokow yang dikutip Tirto (2016) menyebutkan ada 5 (lima) karakteristik generasi millenial yaitu, (1) melek teknologi; (2) bergantung pada mesin pencari, (3) learning by doing, (4) tertarik pada Multimedia, dan (5) membuat konten internet.

Sekali lagi, generasi muda dalam konteks ini adalah generasi yang bergantung pada peran internet dan media sosial. Lihat saja survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Oktober 2016 lalu, pengguna internet di Indonesia dari kalangan anak muda sebesar 80 persen atau sekitar 25 juta orang. Dari survei diketahui  perilaku jenis konten yang diaksesnya 97 persen adalah media sosial.

Dalam perkembangan di masyarakat istilah kekinian yang dipakai misalnya generasi zaman now. Generasi zaman now sama menurut penulis mencakup ketiga generasi di atas. Digitalisasi menciptakan masyarakat zaman now yang punya karakteristik atau kepribadian yang khas, sehingga persoalan yang dihadapi berbeda dari zaman atau generasi sebelumnya yakni yang bersentuhan atau berlangsung di dunia digital. Tak peduli itu sesuatu yang konvensional atau modern sepanjang dapat dikonversikan ke digital sah dan diterima.

Sebagaimana telah disinggung di atas maraknya berbagai kasus sentimen SARA, ujaran kebencian, hoax, ditambahkan kejahatan konvensional maupun modern antara lain, pemalsuan, penipuan, pornografi, terorisme, human trafficking, perselingkuhan, atau jenis kejahatan cyber crime lain menjadi perbincangan yang tidak selesai saat ini.

Yang menggundahkan ialah peran generasi muda atau generasi zaman now yang sangat besar yang turut membuat konten (memproduksi) dan menyebarluaskannya. Untuk membuktikan hal semacam ini, mengikuti jejak generasi ini cukup mencarinya di mbak Google maka beragam informasi terkait dapat dengan mudah diperoleh. Tidak seperti pelaku yang lempar batu sembunyi tangan, Google akan menampilkan yang sebenarnya paling tidak riwayat memproduksi atau menyebarkan isu tersebut.

Kekhawatiran terhadap situasi di atas belakangan perlahan menuju ke arah yang mencengangkan yaitu mulai munculnya politik identitas. Singkatnya, politik identitas adalah sistem politik yang menandai bangkitnya kelompok politik identitas yang menentukan pandangan politik berdasarkan pada identitas yang sama dengannya baik berdasarkan suku, ras, agama, golongan dan lain sebagainya.

Sebenarnya hal ini lumrah terjadi dalam sistem politik di negara manapun. Akan tetapi, sebagian besar yang terjadi justru terjadinya pelanggaran hukum karena adanya diskriminasi rasial dan sebagainya. Dalam konteks ke-Indonesia-an perbuatan ini bertentangan dengan Pancasila sebagai ideologi negara, dan UUD 1945 sebagai hukum dasar negara yang tertinggi, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara yang final serta Bhineka Tunggal Ikka sebagai semboyan pengerat yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Urgensi kehadiran generasi zaman now tidak lain adalah untuk merajut asa keberagaman itu. Presiden pertama kita, Ir. Soekarno  atau yang akrab di sapa Bung Karno pernah berkata, “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Ungkapan ini tentu bukan sebuah isapan jempol atau pemanis bibir semata. Mengingat urgensi peran kaum muda yang utamanya dalam pergerakan menuju negara Indonesia yang merdeka sangat penting seperti Budi Utomo (1908), Indische Partij (1912) dan Sumpah Pemuda (1928). Pemuda menempati pucuk pengambilan keputusan dan gerakan massa yang menentukan arah bangsa kala itu.

Peran yang sama harapannya dapat dimainkan generasi sekarang. Paling tidak melalui bermedia sosial yang bermartabat. Karena kita bertanggungjawab secara moral dan sosial untuk menjaga keutuhan dan persatuan, keharmonisan dan keberagaman bangsa ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Sejauh konteks penulisan ini penulis melihat bahwa revolusi mental masih sangat relevan untuk diterapkan bahkan harus digalakan atau dibumikan agar dapat dibatinkan dan dilaksanakan siapapun.

Konsep revolusi mental pertama kali muncul dalam visi dan misi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika bertarung di Pilpres 2014 lalu. Dalam Nawacita sebagai grand design arah kebijakan pemerintahan ini begitu terang berderang memaparkan merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa sebagai masalah utama sampai saat ini. Untuk itu cara untuk membawa kembali bangsa ini ke ruh awal negara bangsa (nation state) Indonesia ialah melalui pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti.

Seharusnya revolusi mental ini tidak hanya dialami dalam dunia pendidikan formal misalnya. Tetapi keseharian masyarakat terutama generasi muda atau generasi zaman now sendiri berevolusi. Berarti dunia digital (internet dan/atau media sosial) juga berevolusi dengan mengedepankan nilai-nilai yang baik. Tidak menyebarkan atau melakukan serangkaian kejahatan dan tipu daya. Yang diutamakan adalah kecerdasan dalam menggunakan media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan keberagaman dan perdamaian.

Keberagaman dan perdamaian tercermin dari perlakuan kita menghargai dan memberi ruang bagi orang lain yang secara identitas apapun mementaskan setiap ekspresinya yang bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan. Bila dipahami dengan baik maka posting, like, repost, retweet atau komentar yang dapat mengkampanyekan kejahatan maupun memperkeruh keadaan bisa diminimalisir. Sampailah pada titik dimana penulis meyakini kasus Pilkada DKI, Saracen, Eggi Sudjana atau Anies tidak perlulah dijadikan polemik di dalam masyarakat karena mereka pun tidak akan melakukan itu hanya bila ada revolusi mental. [b]

 

The post Revolusi Mental Generasi Zaman Now Demi Menjaga Pluralisme appeared first on BaleBengong.

Segi Tiga Emas Sebuah Harapan Anak Pulau

Penari lintas generasi menarikan tari jangkang di Nusa Penida.

Ibarat seorang gadis desa yang memikat para lelaki.

Begitulah kemolekan sebuah pulau di sebelah tenggara Bali yang menyimpan “kemegahan” potensi. Memang pulau ini terlihat tandus tatkala musim kemarau. Sepanjang mata memandang dari laut, warna kecoklatan yang mencolok mata.

Namun, jika kita menelisik ke dalam, kemegahan alamnya tak bisa diragukan. Lukisan semesta sedemikian rupa membentang dari ujung barat dan timur. Salah satunya adalah tempat yang sekarang menjadi incaran para Instragammer untuk berswafoto dengan atar belakang kalaborasi laut, bukit dan karang.

Tempat tersebut adalah Angel Billabong, Pasih Uug, Crystalbay, Atuh serta tempat lainnya yang masih menunggu untuk dilirik. Penorama alam bawah laut lebih dulu dikenal, ikan mola-mola ikonnya di samping terumbu karang yang siap diajak bercengkrama.

Warga ramah menyambut siap saja yang datang menikmati sebuah keagungan lukisan alam. Rasa penasaran akan sebuah pulau kecil berkecamuk dan penasaran bagi penikmatnya silih berganti datang.

Metamorfosis pulau yang cadas dan keras ini mengubah tatanan hidup warganya. Alam membentuk manusia yang berdiam melakukan perubahan sesuai dengan kondisi saat ini, di mana pariwisata sekarang menggeliat ditanah Dukuh Jumpungan.

Guratan alam adalah pasarnya. Tatanan hidup sedikit ada kemajuan dalam hal ekonomi walaupun yang belum bisa menangkap peluang kue pariwisata tetap saja masih setia dengan profesinya baik petani ladang, buruh dan lainnya.

Kesiapan mental menjadi masalah prinsip di tengah pergolakan pariwisata yang sedang hangat. Kepribadian masalah pokok dalam hal memberikan yang terbaik dan melayani sepenuh hati untuk mereka yang datang.

Begitu banyak yang datang tidak merta mereka dengan hati yang lembut. Dinamika inilah bumbu kita menyikapi sebuah perkembangan pariwisata.

Setiap perkembangan selau berdampingan dengan dampak yang ditimbulkan. Tinggal sejauh mana kita menyimaknya. Perubahan mungkin saat masih belum terjadi dalam hal kepribadian anak pulau. Larut boleh, tetap sesuai tatanan sosial anak pulau yang penuh senyum.

Dampak lainya mungkin lebih jelas terlihat tatanan bukit atau lokal menyebutnya bataran mulai merasakan kecewa. Bataran yang rapi membentuk barisan benteng berundak diratakan disambut sebuah hunian. Warisan tersebut tetap berdiri dengan gagah di tengah kepungan hutan rumah. Itupun kalau bisa dikalaborasikan.

Segi Tiga Emas

Ketiga pulau yakni Nusa Lembongan, Ceningan dan Nusa Penida secara administrarif masuk wilayah Kabupaten Klungkung. Satunya kabupaten di Bali yang mempunyai daerah kepulauan dan satu kecamatan mewilayahi tiga pulau.

Pintu masuk menuju Nusa Penida tersebar di beberap titik. Inilah sumber permasalahannya nanti. Lambat laun, pergolakan pasti timbul baik dari segi kriminalisasi, kerusakan alam serta lainnya.

Pemerintah Kabupaten Klungkung sendiri sudah menyadari hal itu. Perencanaan pelabuhan segi tiga emas sebuah jawaban. Sesuai progres dua titik berada di Nusa Penida: satu untuk Nusa Gede, satu di Lembongan dan Ceningan, serta satu titik Klungkung daratan berpusat di Pesinggahan.

Konektivitas Klungkung dan Bali akan melancarakan pemerataan pembangunan, memecah “telur emas Bali” sebutan lama yang dilontarkan oleh mantan Gubernur Bali Dewa Beratha. Sebutan tersebut sudah lama menggema, sekarang perlahan tapi pasti telus emas Bali pecah.

Membahas segi tiga sangat seksi baik ranah spiritual, mistologi kehidupan sosial masyarakat serta lainya. Seperti hal segi tiga emas yang bisa dibilang segara hadir. Begitu juga mitologi segi tiga yang sering menjadi panduan hidup manusia Bali yaitu Tri Hita Karana.

Keharmonisasi alam “palemahan” adalah tatanan alam yang sudah terbentuk sedemikian rupa. Jangan diusik. Tatkala perkembangan terjadi, maka alamlah yang menopang sendi kehidupan.

Kita diajarkan dibentuk hapalan saja tentang konsep itu, tetapi implementasi masih di bibir. Berseteru saling menyalahkan dan posisi paling benar atas konsep-konsep kehidupan. Dampaknya, kita sibuk berdebat kusir tanpa melerai.

Apa korelasinya segi tiga emas dengan konsep Tri Hita Karana?

Berhubungan sangat dekat sedekat semesta dan isinya. Pembangunan sebuah daerah bertujuan untuk kesejukan masyarakat. Keberpihakan kepada masyarakat adalah ujung tombak. Penting sekali masalah ini. [b]

The post Segi Tiga Emas Sebuah Harapan Anak Pulau appeared first on BaleBengong.