Tag Archives: opini

Nyepi Datang Lebih Awal

Gerhana matahari yang bersamaan dengan Nyepi di Bali pada 9 Maret 2016. Foto Anton Muhajir.

Rasanya campur aduk menghadapi dunia saat ini. Kami disarankan untuk diam di rumah jika bisa, daripada ikut menularkan suatu virus bernama Covid-19.

Berasa di film kiamat, zombie, maupun film yang tidak mendengar temuan ilmuwan yang mungkin membahayakan manusia selamanya. Dan menariknya, saat seperti ini malah datang sebelum Tahun Baru Nyepi akan berlangsung.

Maka, “Nyepi datang lebih awal,” tulis beberapa teman Bali yang tinggal di Jawa dalam Instagram story mereka. Mereka sebagai pekerja juga disarankan untuk bekerja dari rumah atau istilahnya “work from home”.

Dan dengan tidak diperbolehkan keluar, seperti sudah menjalankan salah satu Catur Brata Penyepian – Amati Lelungan. Iya, seperti berjenjang ke 25 Maret 2020. Atau, malah rasanya diperpanjang, karena saran ini akan berlangsung setidaknya sampai 31 Maret 2020, dan mungkin akan lebih. Kalau Nyepi yang terjadi satu hari saja bisa tidak menyenangkan bagi seseorang yang tinggal di Bali dan tidak merayakannya, bagaimana dengan keadaan sekarang?

Dari artikel yang ditulis tahun lalu “Nyepi di Bali Kok Promosi Hotel untuk Hiburan?” (https://balebengong.id/nyepi-kok-promosi/), paket liburan Nyepi itu ada lagi di tahun ini. Sudah dikumandangkan dari bulan Februari 2020 lalu di radio dan di internet serta banner-banner hotel masing-masing. Dengan catatan, sepertinya promo ini jauh lebih marak dari tahun lalu yang mungkin dikarenakan Bali sudah sepi wisatawan dari akhir Januari karena Covid-19.

Salah satu angka terbesar wisatawan ke Bali datang dari Tiongkok dan mereka sudah tidak bisa datang ke Bali sejak itu. Jika boleh berasumsi, hotel-hotel ini ingin sekali berpenghasilan dari wisatawan domestik maupun lokal untuk menikmati Nyepi di hotel mereka masing-masing.

Namun, sejak tanggal 16 Maret 2020, bahkan anak sekolah di Bali pun tidak boleh ke sekolahnya dan melanjutkan ujian sekolahnya dari rumah yang awalnya dijadwalkan sebelum libur Nyepi. Selain murid, mahasiswa pun mulai ditiadakan kelas-kelas perkuliahannya di kampus.

Semua kegiatan bersekolah dilaksanakan di rumah dan untuk yang berkuliah dosen-dosennya memantau lewat internet atas pekerjaan mereka. Berdasarkan surat-surat edaran pemerintah, dianjurkan kepada seluruh masyarakat untuk tidak keluar jika tidak diperlukan, bekerja dan belajar dari rumah sangat disarankan. Maka jenjang Amati Lelungan juga mulai seperti dilakukan di Bali sendiri. Berarti, untuk Hari Raya Nyepi, baiknya di rumah masing-masing saja kan?

Ternyata Covid-19 yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari artikel saya tahun lalu:

“Jadi, sebenarnya kalau [Nyepi] niat dijalankan, bisa saja kan dijalankan dengan sendirinya? Sekarang kalau internet dimatikan, kalau ada masalah darurat atau emergency dari keluarga jauh, lalu bagaimana? Dan bagi yang tidak menjalankan Nyepi, apakah mereka harus dipaksa ikut blackout juga? Apa salah mereka? Mereka kan tidak menjalankan Catur Brata Penyepian?”

Dengan begitu juga, sepertinya ke-was-was-an penduduk non-Hindu Bali yang tidak merayakan Nyepi bisa melaksanakan social distancing dengan tenang di Bali juga. Yang biasanya mereka bisa saja keluar Bali disaat Nyepi, apalagi jika dibarengi dengan libur sekolah, sepertinya tidak perlu melakukan hal tersebut. Namun, kembali ke paket-paket Nyepi di hotel itu, akankah hiburan itu tetap dicari dengan kondisi yang tidak menentu seperti ini?

Lalu bagaimana dengan kegiatan-kegiatan pra-Nyepi yang identik beramai-ramai? Seperti Ngerupuk dan Melasti?

Di beberapa tempat, Ngerupuk yang identik dengan pengarakan ogoh-ogoh sudah ditiadakan. Yang pasti kegiatan persembahyangan Pengerupukan masih bisa dilaksanakan di rumah masing-masing nantinya. Sedangkan untuk Melasti, sudah ada surat edaran yang menyatakan Melasti tetap dilakukan namun dengan jumlah orang yang lebih sedikit. Memang, secara ritual persembahyangan menuju Nyepi, Melasti merupakan bagian esensial dibanding Parade Ogoh-ogoh itu sendiri.

Selengkapnya, artikel Balebengong “Perbedaan Nyepi dan Parade Ogoh-Ogoh Tahun ini” (https://balebengong.id/perbedaan-nyepi-dan-parade-ogoh-ogoh-tahun-ini/) memberi penjelasan yang lebih lengkap.

Memang, kata teman itu benar, Nyepi berasa datang lebih awal, dan lebih berhati-hati juga. Nyepi pada dasarnya memang ingin memberi alam dan diri kita sendiri untuk berdiam serta tidak saling mengganggu, sama-sama beristirahat, sehari saja. Dengan himbauan mengurangi kegiatan seperti ini, Nyepi bisa jadi lebih panjang dari satu hari saja walaupun tidak keempat Catur Brata Penyepian dilakukan secara total setiap harinya.

Tetapi, dengan mengingat alam dan diri kita sendiri, keadaan dunia yang seperti ini memang sepertinya merupakan peringatan keras akan tindakan-tindakan kita manusia secara keseluruhan. Tetap jaga kesehatan, tetap memantau keadaan, semoga badai Covid-19 akan cepat berlalu. Selamat menjalankan Catur Brata Penyepian.

Pertama Kali Ikut Klub Menulis Balebengong

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian – Pram,” ungkap admin Balebengong pada caption infografis yang ditulisnya di instagram. “Kelas menulis tatap muka dan jarak jauh, Jumat jam 19.00 WITA, untuk yang berminat langsung DM admin.”

Hmm oke, ini menarik. Jumat malam adalah awal waktu yang tepat untuk beristirahat dan ‘me time’, dan sudah lama aku selalu gundah dengan kemampuan menulisku, barangkali dengan ikut kelas menulis, aku jadi ada teman untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Dan kelas jarak jauh membuatku lega karena belajar menulis tidak harus datang ke kelas Balebengong, ke Bali, tapi aku bisa dari rumah kost, di Jogja.

Tanpa ragu langsung ku DM Instagram @Balebengong, menanyakan cara gabung, dan akhirnya aku menerima chat whatsApp untuk join WA grup. Di dalam WA grup telah bergabung sejumlah nomor yang aku belum simpan sama sekali. Tidak tau mereka siapa, dari mana. Aku langsung menyapa, aku menyampaikan terima kasih sudah boleh join, memperkenalkan namaku, belum ada yang respon.

Lalu admin WA grup, mbak Valentine nama akunnya dan baru ke ketahui nama panggilannya “mbak Iin” setelah mbak Valentine memperkenalkan diri bagi link masuk ke google hangout untuk kelas ini. Aku coba tes dengan mengklik sebuah link. Tersambung, agak kaget ketika ternyata tersambungnya langsung video call. Hehe.

Agak gak siap, tapi terkondisi. Gak siap karena begitu tersambung langsung terlihat penampilan kamarku yang berantakan dan jemuran bajuku di sekitar kost yang masih tergantung dan belum kering berhari-hari karena mendung hujan. So sorry.. hehe. Ku sapa mbak Iin, dan kita ngobrol apakah sudah clear, suara dan videonya, aku jawab clear dan aman. Lalu aku minta izin untuk nyusul karena kalau kelas dimulai jam 19.00 WITA di Bali, itu berarti pas magrib di Jogja, jam 17.55 WIB.

Aku lanjut sholat margrib, lalu merapikan sedikit kamarku, dan berganti baju yang pas untuk video call. Lalu ku pasang headset untuk menyusul video call grup di hangout, tapi pas cek WA grup, ternyata video call dah selesai, dan akan dimulai lagi jam 20.10 kata salah satu anggota grup. Oke deh. Senang juga ternyata yang “LDR” atau yang ikut kelas jarak jauh, malah lebih banyak orangnya, bukan aku satu-satunya, hehe.

Kemudian pengelola grup WA memberi kesempatan menulis 1 jam, selesai enggak selesai. “Menulis apa,? tanyaku. Tidak ada yang menjawab. Tapi ada peserta lain yang mengaku awam dan juga menanyakan apakah boleh mengarang bebas. Boleh, kata salah satu peserta lainnya. Oke, aku coba nulis sebisaku.

Ku buka laptopku dan mulai menulis apa yang sedang ku pikirkan. Hmm sayangnya aku agak lemas dan lapar, karena seharian belum makan, pulang dari kampus masih sore, sedangkan tempe terong penyet sambel bawang langgananku baru buka pas magrib.

Sumber: Cookpad

Jadi aku memutuskan untuk mengakhiri tulisan ini dulu, akan ku kirim di WA grup kelas menulis sesuai format yang diminta (word atau PDF), dan mau ku tinggal pergi beli makan dulu, soalnya tempe penyetnya laris dan kalau di atas jam 7 malam khawatir kehabisan. Hehe. Iya kalau menu penyetan saya tim penyetan tempe terong sambel, kalau teman-teman tim penyetan apa? 😀

Oke ini sedikit ceritaku yang bisa kutuliskan. Senang jika tulisan ini bisa dikomentarin, dikritik, dan diberi saran. Makasih Balebengong dan teman-teman yang udah menyempatkan baca. Sampai ketemu lagi di sesi Q n A atau baca komen-komen.

Salam hangat dari Jogja, Farah 🙂