Tag Archives: Nusa Penida

Pandemi Corona, Momentum Memperbaiki Pariwisata Nusa Penida

Sejak 2014, pariwisata makin menggeliat di Nusa Penida. Foto Anton Muhajir.

Pariwisata seperti candu memabukkan.

Bila kenikmatannya merasuki jiwa dan seketika dihentikan, maka dia membuat sang penikmatnya menggelepar ketagihan. Persis seperti itu yang terjadi pada pariwisata Bali termasuk Nusa Penida yang berkembang dengan pesat sejak tahun 2014.

Perkembangan Nusa Penida, gugusan pulau di Kabupaten Klungkung, Bali banyak dikunjungi karena memiliki objek wisata alam yang indah. Pariwisata Nusa Penida berkembang dengan pesat membuat masyarakat kecanduan mendapat uang dengan mudah. Seketika semua beralih profesi menjadi pengusaha dan pelaku pariwisata.

Kebun yang tadinya ditanami singkong dialih fungsikan menjadi penginapan. Warga yang tadinya menjadi buruh bangunan kemudian belajar menyopir menjadi pengantar wisatawan. Ada juga yang tadinya punya pengalaman minim di bidang memasak ditambah belajar di YouTube lalu membuka restoran.

Yang punya modal dan keberanian lebih membeli kapal cepat (speed boat) dan membuat beach club. Celakanya para pengusaha lokal itu hampir semuanya akses dana ke bank. Ketika terjadi virus corona yang menyebabkan tak ada wisatawan sama sekali, semuanya “menggelepar”.

Perkembangan pariwisata di Nusa Penida menyisakan sejumlah masalah. Perkembangan begitu pesat membuat pembangunan infrastruktur kalah cepat. Misalnya saja jalan raya baru belakangan diperbaiki. Air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sering mati. Pelabuhan yang representatif pun belum ada.

Begitu pula daya dukung lingkungan. Pengelolaan sampah masih belum memadai. Sampah sering terlihat menumpuk di beberapa lokasi dan ladang masyarakat. Selain masalah itu, tak kalah pelik tentang sumber daya manusia yang masih minim. Tentang bagaiamana keterampilan (skill), sikap (attitude), dan pengetahuan (knowledge) yang masih minim. Bila dibiarkan akan menurunkan citra baik suatu destinasi.

Pemandu dan sopir pariwisata menyambut turis di Nusa Penida, Maret 2020. Foto Anton Muhajir.

Tawaran

COVID-19 yang mewabah ke seluruh dunia menyebabkan semua perekonomian lumpuh termasuk sektor pariwisata. Demikian pula pariwisata Nusa Penida yang baru enam tahun menggeliat. Bila tidak dilakukan pembenahan keberlanjutan, pariwisata Nusa Penida dikhawatirkan keberadaannya. Untuk itu wabah COVID-19 ini bisa menjadi momentum untuk introspeksi bersama.

Secara sadar kita harus akui ada kesalahan pengelolaan pariwisata Nusa Penida. Setelah adanya kesadaran bersama, baru kita benahi bersama-sama. Konsep pengelolaan tiga pulau satu manajemen perlu dilakukan dengan momentum matinya pariwisata akibat virus corona.

Caranya adalaha dengan membentuk satu Badan Pengelola Pariwasata Nusa Penida. Tugasnya mengelola objek wisata, sumber daya manusia, infrasruktur dan sosial budaya masyarakat.

Sedangkan para penginapan yang terbelit utang tak bisa membayar utang di bank bisa melakukan negoisasi dengan bank. Mereka bisa membentuk holding atau perusahan induk yang menaungi seluruh penginapan di Nusa Penida dengan penjamin investor yang pro pemberdayaan masyarakat dan pariwisata berkelanjutan. Mungkin bisa koperasi atau atau apalah istilahnya yang menyuntikan dana segar agar bisa bayar utang dan perbaikan manajemen secara keseluruhan.

Tentunya pemilik tetap pemilik penginapan saham senilai akurasi tim penilai. Kemudian ada pengelola yang profesional sehingga melatih sumber daya manusia (SDM), memperbaiki standar properti dari pendanaan baru dan terutama karena perusahaan induk yang mengelolanya satu, maka perang harga tidak terjadi.

Demikian pula jumlah kamar di Nusa Penida diatur oleh holding sehingga tidak ada lagi istilah kelebihan kamar. Bila ada wabah seperti virus corona ini terjadi pun semua akan siap. Tak ada kelabakan lagi

Begitupula speed boat dan pemilik kendaraan pengantar tamu. Bisa masing-masing menyatukan diri membuat perusahaaan bersama. Istilahnya membuat perusahaan induk berdasarkan bisnis utamanya. Sehingga tak ada istilah kebanyakan boat yang menyebabkan kekurangan penumpang. Perang harga juga bisa dihindari. Demikian pula sopir. Tak ada saling membanting harga dan standar mobil. SDM juga bisa disamakan dan diperbaiki.

Bila tawaran itu bisa dilakukan, masalah manajemen pulau telah diatur Badan Pengelola Pariwisata, sedangkan perusahaan-perusahaan akomodasi sejenis bisa menggabungkan diri untuk menghindari kejadian gagal bayar bank. Selain itu perang harga dan standardisasi kualitas pelayanan pun akan bisa dibenahi sehingga kualitas pariwisata Nusa Penida akan lebih baik lagi setelah pandemi. [b]

Bagaimana Kelola Sampah di Pulau Kecil?

Sampah menjadi tambahan masalah bagi Nusa Penida.

Papan dengan gantungan beberapa karung terlihat di depan sejumlah rumah Banjar Nyuh Kukuh, Desa Ped, Nusa Penida. Tiap papan berisi 4 titik gantungan dengan tulisan, organik, anorganik bernilai, anorganik tidak bernilai, dan B3. Di pengaitnya tergantung karung berwarna putih.

Gantungan karung ini terasa mencolok karena sejauh mata memandang, sampah nampak dikumpulkan di sebuah ladang atau ruang hijau dalam sebuah lubang. Sisa-sisa pembakaran sampah anorganik masih terlihat di sana.

Program pemilahan sampah ini pada Februari 2020 ini baru setahun dilaksanakan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, salah satu mitra program kerja Program Ekologis Nusa Penida GEF/SGP yang dikelola oleh Yayasan Wisnu.

Selain mengajak rumah tangga memilah sampah, juga menyediakan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang berlokasi di Rumah Belajar (learning center) Bukit Keker di Banjar Nyuh Kukuh. Sebuah moci, kendaraan roda tiga dengan bak terparkir di sana.

Kadek Warta dan Warcika adalah warga yang mendapatkan papan dengan pengait sampah itu. Dua papan dipasang berjajar di tembok depan rumahnya. Satu papan dengan empat pengait karung untuk satu KK. Menurutnya karung terlalu kecil dan papannya kurang kuat menempel di temboknya. Ditemui 12 Februari lalu, papan terlihat nyaris lepas, bisa jadi karena terlalu berat digantungi karung sampah.

Warta mengakui baru belajar memilah sampah. Namun belum sepenuhnya bisa mengikuti. Sementara Warcika sejauh ini masih membuang sampah ke TPA karena merasa lebih cepat.

Kebiasaan memilah sampah memang tak mudah langsung terjadi sekejap mata. Tantangan ini juga dialami sekolah sekitar yang kini berupaya tak lagi membakar sampah. Agus Gede Mudita, Kepala Sekolah SDN 3 Ped mengatakan dulu ada pengepul yang mengambil sampah anorganik namun kemudian tak datang lagi. Jadilah sampah yang menumpuk dibakar saat siswa sudah pulang sekolah untuk menghindari asap. “Anak-anak sudah belajar pilah sampah, tapi ini tak mudah,” urainya.

Bak sampah sekolah diletakkan di dekat tembok di areal kantin sekolah. Melihat aneka jajanan anak-anak yang masih didominasi kemasan plastik, jumlah sampahnya pasti jadi persoalan. Hal yang sama terjadi di sekolah-sekolah lain di Bali, mungkin juga Indonesia.

Dwita dan Nova dari PPLH Bali yang sedang mengunjungi SDN 3 Ped bahkan sedang menyiapkan tandon air bersih untuk memasok air ke kamar mandi dan lokasi cuci tangan siswa. Bak pembuangan sampah direncanakan terpisah antara organik dan anorganik.

Hasil survei timbulan sampah rumah tangga di Banjar Nyuh oleh PPLH sekitar 550 kg per hari, ini bisa memenuhi 5 moci. Sebagian besar berupa sampah organik sekitar 60%.

PPLH juga membentuk tim relawan Nyuh Kedas dalam mengelola sampah. Diawali dengan pelatihan pengelolaan sampah (kompos, mol, daur ulang kertas). Saat ini ada 7 orang anak yang aktif mengelola sampah di Banjar Nyuh, terutama untuk mengajak warga memilah sampahnya.

Di Bali, mulai ada beberapa sekolah yang menerapkan minim sampah plastik pada kantin-kantinnya sebagai upaya pengurangan sampah sekali pakai. Misalnya SMP PGRI 3 Denpasar yang menerapkan nol plastik di sekolahnya pada awal 2019. Pemicunya adalah Peraturan Walikota Denpasar No.36/2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dan Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.

Sebagai kawasan pengembangan pariwisata, sampah adalah masalah tambahan bagi pulau-pulau kecil seperti gugusan Pulau Nusa Penida, Lembongan, dan Ceningan ini. Saat ini kebun kosong masih tersedia terutama di Nusa Penida yang berukuran paling besar sehingga disebut nusa gede ini.

Kebun kosong atau teba dalam bahasa Bali digunakan sebagai halaman belakang dan tempat menumpuk serta bakar sampah. Terutama untuk rumah tangga yang tak terakses jasa pengangkutan sampah. Bagaimana jika teba habis? Ini masuk akal karena pembangunan sarana wisata seperti hotel, penginapan, dan restoran tak pernah berhenti di sini. Sementara sampah bukannya habis, malah berlipat karena aktivitas warga bertambah akibat industri pariwisata.

Pusat tumpukan sampah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Biaung untuk Desa Ped. Di area ini ada papan bertuliskan jadwal buang sampah, pukul 8-12 siang. Di luar jam itu, gerbang TPA ditutup. Nampak gundukan sampah setinggi pohon pisang di sejumlah titik penimbunan. Penampungan air lindi nampak kering petanda jalurnya tersumbat atau masalah lain di bawah tumpukan sampah itu.

Di beberapa sudut ada tumpukan kardus dan botol plastik yang dikumpulkan pemulung. Salah satu cara mengurangi beban sampah TPA yang menaungi 4 desa ini adalah dengan kehadiran pemulung. “Kami menggaet pemulung agar beban TPA berkurang, saya suruh ajak teman-temannya mengambil sampah yang bisa dijual,” ujar Ketut Mudra, staf UPT Persampahan Kecamatan Nusa Penida yang ditemui saat itu.

Ia berharap segera ada program pengelolaan sampah seperti program TOSS yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Klungkung. Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) diyakini sebagai strategi pengelolaan sampah yang tepat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Agung Kirana mengatakan TOSS Center sudah beroperasi sejak akhir Januari 2020. Demikian kutipan dari web Kabupaten Klungkung.

Lokasi TOSS Center di Karang Dadi, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan. TOSS Center ini disebut akan menjadi Learning Center semua teknik pengolahan sampah. Mulai dari pemilahan sampah organik dan plastik, pencacahan sampah plastik, pengolahan sampah plastik menjadi paving block dan aspal serta mengolah sampah plastik menjadi minyak. Selain diolah, sampah plastik juga ada yang akan dijual. Sementara itu sampah organik akan diolah menjadi pupuk osaki, diolah dengan proses penyeumisasi serta diolah menjadi pelet sebagai bakan bakar pembangkit listrik.

Sampah yang ditangani TOSS Center berasal dari sampah Kota Klungkung dan sampah dari Desa Kusamba. Per hari TOSS Center menerima 3 mobil pick up sampah dan mampu mengolah sampah sebanyak 6 meter kubik atau satu truk sampah.

Namun menumbuhkan perilaku memilah sampah dari sumbernya seperti rumah adalah akar perubahan. Bagaimana menumbuhkan akar ini? Kabupaten Klungkung perlu menganalisis sejumlah kasus dan masalah di beberapa TPA di Bali.

TPA overload

Sejumlah TPA di Bali sudah kelebihan (overload) sampah karena volumenya tak terbendung, semua sampah bercampur termasuk organik, dan pengelolaannya jadi makin sulit ketika sudah tercampur jadi gunung sampah. TPA Suwung di samping perairan Teluk Benoa terakhir kali ditutup warga sekitar karena baunya makin menyengat dan truk pengangkut sampah antre sampai jalan raya.

Demikian juga TPA Temesi di Kabupaten Gianyar yang beberapa kali terbakar karena gunungan sampah terus muncul dan gas buangnya memicu api dalam tumpukan sampah. Padahal di area ini ada UPT khusus yang mengelolanya dengan cara mengupah pemulung untuk memilah. Kemudian organik diolah jadi kompos, sementara anorganik dikelola bank sampah. Ketika volume sampah masih bisa dipilah, Temesi terlihat rapi dan menyisakan sedikit gundukan sampah.

Masalahnya penduduk makin banyak termasuk aktivitas dengan timbulan sampah anorganik. TPA kekurangan lahan dan terus memperluas sanitary landfill-nya ke area persawahan. Saat musim angin kencang, Temesi pun dengan mudah terbakar dan memicu protes warga sekitarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Klungkung, Anak Agung Kirana yang diwawancara pada 9 Maret 2020 mengatakan pihaknya sudah merencanakan sejumlah proram untuk pengelolaan sampah di Klungkung. Di Nusa Penida, pihaknya akan merevitalisasi dua TPA yang ada saat ini.

Selain itu, mulai 2020, persyaratan izin seperti UKL-UPL tak akan dikeluarkan bagi pengusaha wisata jika tak mematuhi syarat pengelolaan sampah.

Revitaliasasi ini bekerjasama dengan Kementrian PU, TPA akan dibuat ulang sel-selnya untuk merapikan blok penimbunan sampah. Juga akan ditaruh alat berat sampah agar lebih rapi. Ia juga berharap peran serta desa adat seperti membuat peraturan adat seperti perarem. Kirana merujuk Peraturan Gubernur Bali No 47/2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di mana desa adat bertanggungjawab pada sampah yang dihasilkan masayarakat.

Selain TOSS, ada juga imbauan membuat lubang daur ulang sampah (Bang Daus) untuk sampah organik. Sementara non organik akan ada kerjasama dengan asosiasi pengusaha sampah Indonesia. Kendalanya masih belum ada MoU, tingginya biaya pengangkutan sampah plastik ke Klungkung daratan sehingga perlu subsidi.

Ia mengakui saat ini belum banyak pengusaha wisata mengelola sampahnya, karena itu menurutnya perarem oleh desa adat penting untuk memanggil mereka. “Di Klungkung ada istilah sampahku tanggungjawabku. Perlu edukasi tak mudah seperti membalikkan telapak tangan,” sebutnya.

Data DLHK Klungkung menyebutkan, jumlah sampah di Kecamatan Nusa Penida hampir 34 ribu kg per hari ( 250 m3) dari jumlah penduduknya lebih dari 67 ribu orang. Artinya tiap warga memproduksi sampah 0,5 kg per hari. Terbesar adalah volume sampah di Kecamatan Klungkung sebanyak 34.141 kg per hari (255 m3) dari jumlah penduduk lebih dari 68 ribu orang.

Komposisi sampah terbanyak adalah organik sebanyak 68%, disusul debu, batu, dan sejenisnya 8%, gelas dan botol plastik 7%, disusul plastik lembaran 5%, dan kresek 4%.

Nusa Penida, Keindahan Bawah Laut yang Kian Rentan

Broken Beach Nusa Penida. Foto : CTC

Nusa Penida sedang naik daun bagi warga maupun pecinta jalan-jalan.

Bagi masyarakat Bali, nama Nusa Penida sudah sangat sering terdengar maupun dilafalkan dalam kehidupan sehari-harinya. Gugusan pulau di sisi tenggara Pulau Bali ini tengah ramai diperbincangkan. Apalagi setelah merebaknya konten-konten estetik di media sosial menampilkan keindahan alam Nusa Penida. 

Sekilas Nusa Penida

Nusa Penida di Kabupaten Klungkung dapat dijangkau dalam waktu 30 menit menggunakan speed boat dari Sanur, Denpasar. Dia merupakan gugusan tiga pula, termasuk Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Tiga pulau ini jadi satu kecamatan.

Seperti hampir semua tempat di Bali, Nusa Penida juga istimewa dan memiliki ciri khas. Nusa Penida pun menyimpan keindahan alam bawah laut yang memukau mata para penyelam dan snorkeler. Pada tahun 2017 terdapat kurang lebih 300,000 wisatawan yang berkunjung ke Nusa Penida.

Namun, di sisi lain, tingginya angka kunjungan sedemikian ini dapat memberikan dampak kurang menyenangkan bagi lautan termasuk terumbu karang.

Warna-Warni Kehidupan

Perairan Nusa Penida menyimpan kekayaan alam sangat beragam. Mulai dari terumbu karang hingga ikan-ikan. Ditemukan  296 jenis karang dan 576 jenis ikan di Perairan Nusa Penida. Ia juga dihuni hewan-hewan laut berukuran besar seperti Ikan Mola dan Pari Manta yang banyak menarik perhatian para penyelam.

Guna menjaga keanekaragaman hayati laut di wilayah ini, berbagai upaya konservasi dilakukan. Mulai dari pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKP), patroli rutin, hingga dilakukan pemantauan terhadap kesehatan karang. Terumbu karang dan ikan di Nusa Penida dipantau kondisinya setiap tahunnya melalui kegiatan survei di bawah air yang disebut Reef Health Monitoring (RHM).

Mengumpulkan Data

Layaknya kegiatan survei lapangan pada umumnya, pemantauan kondisi alam bawah laut juga bagian dari sains dan seni.  Namun, kedua survei tersebut memiliki tantangannya masing-masing. Cuaca, arus, kondisi geografis, pengalaman dan dinamika tim membuat setiap kegiatan ini menjadi unik untuk dilakukan.

Tim penyelam sedang melakukan pendataan. Foto: CTC

Menyelam untuk mengumpulkan data memiliki beberapa kesamaan dengan aktivitas menyelam pada umumnya. Penyelam harus memantau aliran oksigen dan daya apungnya, serta menjauhkan peralatan dan tubuhnya dari terumbu karang dan tetap mengamati keadaan sekeliling.

Saat melakukan pemantauan kesehatan karang, beberapa alat-alat khusus juga digunakan seperti kertas tahan air, papan, pensil, pakaian dan perlengkapan selam, alat ukur gulung (roll meter), tali pengikat pensil, dive computer. Akibat pergolakan arus di bawah air, alat tulis berupa pensil yang digunakan bisa saja pecah, sehingga tidak ada salahnya jika penyelam membawa cadangan pensil di lengan bajunya.

Pemantauan Kesehatan Karang

RHM merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan Coral Triangle Center (CTC) bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali-UPTD KKP Bali serta para mitra lainnya.  Umumnya RHM memakan waktu sekitar 1 sampai 2 minggu dan telah dimulai sejak tahun 2010.

Dari hasil survei ini, diperoleh informasi tentang kondisi sumber daya alam di wilayah perairan Nusa Penida. Misalnya biomasa ikan dan tutupan karang. Pada lingkup Pulau Bali, CTC bersama DKP Provinsi Bali  dan mitra LSM The Nature Conservancy pernah melakukan pendataan pada tahun 2015.

Penyelam melakukan pendataan menggunakan kertas tahan air dan roll meter.
Foto : Brooke/CTC

Berdasarkan penuturan Wira Sanjaya, penyelam yang juga Nusa Penida Project Leader di Coral Triangle Center (CTC), salah satu tantangan dari kegiatan RHM adalah cuaca yang mempengaruhi arus dan gelombang serta tantangan dari segi kesiapan tim dan  pendanaan. Menurut Jaya, panggilan akrabnya, perkiraan cuaca dan kondisi di lapangan terkadang berbeda.

“Kita harus membuat perencanaan penyelaman dengan baik berdasarkan pasang surut serta membuat plan A, B, C untuk setiap lokasi apabila pada saat penyelaman kondisi A tidak memungkinkan maka dilanjutkan ke plan B,” ujarnya.

Melibatkan Berbagai Kalangan

Reva, salah satu penyelam perempuan dari CTC yang juga turut serta dalam kegiatan RHM, juga menyampaikan pengalamannya saat mengikuti RHM di Nusa Penida. Tantangan terberat selama menyelam, menurut Reva, adalah mengontrol ketenangan saat menghadapi situasi sulit,  seperti terbawa arus.

“Kunci dari penyelaman adalah tenang dan membuat perencanaan yang baik. , kalau kita tidak tenang, semuanya kacau dan dapat menyebabkan kecelakaan,” ujar Nusa Penida Field Officer ini.  

Reva juga menyampaikan pengalamannya sebagai salah satu penyelam perempuan yang turut serta dalam kegiatan RHM. Bagi Reva, menyelam di antara kebanyakan laki-laki untuk mengambil data ikan cukup mengesankan. Menyelam di bawah laut, lanjutnya, tidak ada perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Semua yang dirasakan sama oleh para penyelam laki-laki dan perempuan, seperti kedinginan, pusing saat di kapal terguncang dan terayun saat gelombang cukup besar. 

“Penting untuk selalu diingat adalah bekerja sama dan mengingatkan antar penyelam jika ada kesulitan dalam persiapan maupun pengambilan data,” ujarnya.

Pemantauan Kondisi Karang. Foto: CTC

Reva juga membagikan pengalamannya sebagai penyelam perempuan di Nusa Penida. Kegiatan menyelam bagi para perempuan belum menjadi suatu hal yang lazim dilakukan. Kegiatan penyelaman oleh perempuan masih dianggap jarang dan berbahaya seperti di Nusa Penida ini.

Warga di sekitar tempat tinggalnya di Nusa Penida ini masih terheran-heran setiap kali melihat Reva membawa peralatan selam (scuba gear) karena biasanya peralatan ini dibawa oleh para penyelam laki-laki. “Suatu kebanggaan untuk saya sebagai penyelam perempuan. Penyelaman menantang diri saya untuk terus mengasah keterampilan diri agar dapat terus menyelami keindahan bawah laut di Indonesia secara bertanggung-jawab,” ujarnya.

Kabar Terkini

Pada Juli silam,  kegiatan RHM di Nusa Penida melibatkan 11 orang yang dari berbagai organisasi yaitu Unit Pelaksana Teknis Kawasan Konservasi Perairan (UPT KKP) Bali, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Universitas Brawijaya, Universitas Udayana dan CTC serta dengan dukungan dari  para penyelam dari Nomads Diving. Saat itu, tim RHM berhasil melakukan pemantauan di 8 titik penyelaman selama 4 hari.

Karang dan ikan di Nusa Penida. Foto : CTC

Tidak berhenti sampai di sana, kegiatan Pemantauan Kesehatan Karang masih berlanjut pada 24-25 September 2019 di 4 titik yang terbilang cukup menantang. Tim dari UPT KKP, BPSPL Denpasar, Mambo Dive Resort, Siren Diving, Livingseas dan CTC melakukan pengumpulan data pada zona inti di Batu Abah yang memiliki kondisi gelombang yang cukup kuat.

Selain itu, dilakukan pula penyelaman di Suwehan, Sakenan dan Lembongan Bay sehingga lengkap pada Pemantauan kesehatan terumbu karang tahun ini dilakukan di 12 titik di Nusa Penida dan Nusa Lembongan

Menurut Jaya, hasil RHM 2019, secara rata-rata menunjukkan bahwa beberapa lokasi mengalami peningkatan tutupan terumbu karang apabila dibandingkan sebelumnya. Tahun 2017-2018 terjadi penurunan tutupan karang hidup di beberapa lokasi di Nusa Penida akibat gelombang besar atau badai pada Juni-Juli di tahun sebelumnya. “Juga karena terjadinya fenomena pemutihan karang atau coral bleaching pada tahun 2015,” lanjut Jaya.

Menulis di atas karang dapat merusak karang. Foto: CTC

Namun, beberapa karang juga menunjukan tanda-tanda kerusakan. Misalnya pemutihan karang akibat perubahan iklim. Praktik-praktik wisata kurang bertanggung jawab juga berdampak pada kerusakan karang. Misalnya sebuah karang lunak (soft coral) bertuliskan sebuah nama yang ditemukan di Gamat Bay, Nusa Penida.

Ancaman -ancaman inilah yang harus disadari oleh masyarakat luas sehingga praktik-praktik wisata yang kurang bertanggung jawab dapat dikendalikan demi masa depan laut dan terumbu karang. [b]

The post Nusa Penida, Keindahan Bawah Laut yang Kian Rentan appeared first on BaleBengong.

Napak Pertiwi, dari Nusa Penida untuk Sang Inspirasi

Pemutaran film Napak Pertiwi di Denpasar. Foto Santana Ja Dewa.

Cerita lokal yang diangkat ke film tergolong masih minim.

Jika cerita itu digarap dengan maksimal, secara tidak langsung memberikan nuansa lebih pada daerah. Cerita-cerita lokal bisa terangkat. Harapannya akan muncul pula rasa penasaran terhadap daerah yang dipresentasikan. Napak Pertiwi termasuk salah satunya.

Pada umumnya mendengar kata tersebut akan mengarahkan pada ritus atau ritual tertentu. Ida Bagus Hari Kayana Putra merespon nilai-nilai filosofi lokal dan natural itu ke ranah sinema. Film seperti ini menggambarkan bagiamana menghadapai situasi ketidaknyamanan melawan keterbatasan dengan mimpi yang besar.

Proses berlanjut. Dia terus memelihara semangat karena film ini sejatinya bagian dari ujian akhir pascsarjana.

Napak Pertiwi merupakan adopsi puisi karya I Wayan Jengki Sunarta yang sebetulnya diberikan kepada sahabatnya I Putu Bonuz saat dirinya ulang tahun.

Putu Bonuz sempat merespon karya puisi itu dengan seni dokumenter. Merujuk pada karya itu, Kayana Putra berupaya menghadirkan hal baru kepada penikmat seni dan masyarakat umum dengan nuansa sinema.

Napak Pertiwi mengisahkan perjalanan seorang perupa di masa anak-anak hingga tenar sebagai perupa yang diperhitungkan di Bali bahkan nasional. Di balik keterbatasan perupa yang lahir di pulau cadas dan tandus, terpompa semangatnya mengwujudkan cita-cita.

Lebih lagi, setelah melanjutkan sekolah seni rupa guncangan keras kehidupan tanah rantuan membentuk kepribadian yang mandiri jauh dari sanak keluarga.

Melawan keras kehidupan, dia tetap bertahan di tengah kerinduan pada tanah kelahirannya. Dia memanfaatkan apa yang ada. Berkreasi dan berkarya menjadi jawaban dari keinginan yang memanggilnya.

Semangatnya sempat terhenti sejenak, tetapi sosok perempuan kembali membakar semangat dan mendatangkan imajinasi. Dia terus berkesenian termasuk berpameran sehingga hasilnya pun tidak menghianati.

Di sisi lain, tetesan rindu pulau yang membesarkannya memanggil dia untuk kembali.

Menjadi Inspirasi

Kayana Putra menggarap film ini berlatar belakang pulau Nusa Penida ini. Film ditayangkan perdana kepada publik luas mulai pada 22-24 Agustus di Cineplex Denpasar.

Sutradara film berjudul Napak Pertiwi (A Land To Remember) ini selain megadaptasi kisah dan nilai-nilai yang terkadung di dalam karya Sastra puisi ‘Napak Pertiwi’ juga melakukan wawancara dengan I Putu Sudiana ‘Bonuz’, tokoh yang menjadi inspirasi.

Tujuannya menggali pengalaman hidup dan nilai-nilai semangat perjuangannya guna dituangkan ke dalam Film Fiksi Napak Pertiwi. Film ‘Napak Pertiwi’ tidak hanya mengeksplorasi kisah kehidupan manusia, tetapi juga mengaitkannya dengan kearifan lokal Bali, Tri Hita Karana.

Bagaimana membuat hubungan yang harmonis antar manusia, manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Secara filosofi, Napak Pertiwi artinya melangkah di bumi. Dalam hal ini mengisahkan tentang langkah-langkah perjalanan hidup seorang pemuda asal Nusa Penida yang hidup di bawah keindahan alam tetapi belum mendapat pemerataan kehidupan yang layak.

Dia pun merantau ke negeri seberang dan dengan melukis sambil bersekolah memberikan inspirasi semangat juang seorang anak dalam mengadu nasib. Napak Pertiwi dari masa lalu hingga masa sekarang khususnya bagi masyarakat Nusa Penida serta masyarakat lainnya. [b]

The post Napak Pertiwi, dari Nusa Penida untuk Sang Inspirasi appeared first on BaleBengong.