Tag Archives: nosstress

Kupit Guna Warma, Merdunya Kesahajaan

foto: nosstress.com

Kupit ialah Komang Guna Warma yang ingin menjadi sesuatu, yang kita tau itu dia.

Di dunia kapitalistik ini banyak hal sering berhenti pada ukuran angka-angka, misalnya dibentuk tendensi berpikir makanan yang paling mahal seakan sah menjadi makanan yang paling lezat.

Tapi di dunia manusia juga ada hal-hal magis tidak boleh mati. Misalnya, bagaimana kita sepakat kalau makanan juara ialah makanan yang dimasak oleh orang tercinta, apalagi bahannya dipetik tidak jauh dari meja makan kita.

Setidaknya bagi saya, dan mungkin juga bagi ribuan fans guna warma yang kandas di dunia kapitalisme ini, mengganggap ia (Kupit dan karya-karyanya) ialah kesatuan masakan yang dimasak oleh orang yang kita cinta dan bahan-bahannya dari kebun sendiri. Sesuatu yang sederhana jika kita tulis di kertas. Tapi ketika itu sudah melantun menjadi sebuah kesatuan, kemudian menyentuh indera kita, meresap pada darah kita dan relung- paling sunyi di tubuh kita. Saat itu Tuhan seperti sengaja belum menciptakan kata-kata untuk menggambarkan perjalanan itu. Mungkin agar kita bisa jeda untuk mengingat bisa merasa, atau agar kapitalisme tidak bisa mencatat dan menaruh perjalanan itu di list menu-nya.

Dunia banyak mulai mengenal Kupit Nosstress melalui lagunya yang berjudul Tanam Saja, lagu dengan kumpulan kalimat sederhana, gampang meresap dan tumbuh di mana-mana. Lagu itu tercipta karena buah kegundahan Kupit melihat kebun di depan rumahnya luluh lantak pasca upacara adat.

Tapi ketika kegundahan di kebunnya dipetik untuk kemudian diolah. Kupit berhasil memasaknya menjadi lagu. Lagu itu seakan bisa memposisikan manusia ialah Kupit dan kebun di depan rumah ialah seluruh dunia dengan kenyataan yang tak seindah dulu.

Selain jago meracik lagu dan memanen kegundahan, memiliki suara yang begitu magis ialah kunci. Bagaimana lulusan komputer ini bisa ada di atas pijakannya hari ini. Suara magis ini bukan sekedar karunia yang esa, bukan juga karena karma baiknya hingga memiliki pasangan mba Sandrayati Fey, tapi lebih dalam dari itu.

Salah satu komponen rahasia suara magis Kupit ialah adanya flu dalam hidungnya yang terus hinggap. Pernah ia ingin mengobati flu itu secara tuntas, tapi orang yang memahami kedalaman suara Kupit ketika itu sangat takut, dan melarang ia menyembuhkan flu itu. Karena takut itu akan mengubah suara magisnya.

Sekiranya Kupit pernah hadir di dalam doa kalian, tolong jangan sekali mendoakan agar Kupit benar-benar sehat, tapi doakan-lah kupit sehat dengan flu yang terus ada itu.

Sebuah hymne, lagu kebangsaan yang heroik bersahaja juga lahir dari Kupit dan Agung Alit. Dari anak-anak sampai orang tua fasih menyanyikan refrain lagu ini, “Sayang Bali… Tolak Reklamasi… Bangun Bali kita dibohongi. Rusak Bumi dan anak negeri..”

Aksi corat-coret di kertas lusuh siaran pers tolak reklamasi pada 2013, menjadi jejak duet biduan dan aktivis yang mendirikan Taman Baca Kesiman itu. Kini, anthem BTR dinyanyikan dalam aneka bahasa oleh aktivis Asia Tenggara.

Suara flu Kupit juga membuat lagu Dekon karya Ketut Putu di album Prison Songs besutan Taman 65 ini hidup kembali. “Dekon nike tuhu wejangane becik. Margi kesaratan mangda ical je sayahe. De je uyut mesogsag mengajak timpal. Bersatu pang teguh, rakyat buruh tani musuhe nu galak tikus tikus ekonomi…”

Kupit akan Melali Bareng Musisi pada Sabtu, 22 Juni ke Karangasem, tanah kelahiran bapaknya. Melihat tegalan aneka jenis kelapa madan (bernama), olahannya, dan konser di Bukit Pekarangan, Ngis.

Tata, adik Kupit membagi kedekatannya dengan kakaknya.

Sejak umur 4 tahun, Kupit sudah senang bernyanyi. Awalnya ia hanya ikut-ikutan kakaknya dan kerap memegang peran backing vocal semasa ia kecil.

Seiring ia tumbuh, kesenangan bernyanyi sempat redup, terutuma selama SD. Mungkin karena dia sibuk belajar sampai selalu menjadi juara kelas dan pemimpin regu pramuka se-kelurahan Tonja.

Namun saat ia beranjak ke bangku SMP, ketertarikannya akan musik kembali. Diawali kesukaannya pada majalah, di antaranya majalah Gadis, Aneka, dan Gaul, ia bertemu dengan seorang dagang majalah yang mempunyai sebuah gitar butut. Tapi gitar ialah gitar. Bagi anak seumur kupit dengan bekal sekolah yang ngepas, gitar ini termasuk barang langka.

Singkat cerita, gitar ini dibeli oleh kupit, seharga beberapa puluh ribu. Inilah gitar pertama Kupit, yang kini keberadaannya entah di mana. Bukan karena kupit teledor, tetapi ada teman yang suka pinjam dan tidak kembalikan.

Nah, seiring waktu berjalan, Kupit pun SMA. Sudah lebih ganteng karena pakai behel. Di SMA ia bertemu banyak teman lain yang suka main musik. Pada awalnya, ia punya band yang namanya Crocourt Acoustic. Dengan personil sekitar satu tim sepakbola. Semacam band Eagles dari negeri Paman Samuel. Di masa-masa inilah Kupit mulai punya idola-idola dalam bermusik, yang sampai kini masih ia kagumi. Yang paling ia senangi adalah Jack Johnson.

Kupit menemukan sesuatu yang keren dari Jack Johnson, tak hanya musinya. Tapi dari kisah-kisah hidup, keseharian Jack yang sederhana, dan kepeduliannya terhadap isu sosial dan lingkungan yang tercermin dalam lagu-lagunya juga. Kupit memiliki pemikiran yang mirip seperti ini, dan bisa dibilang memiliki gaya hidup yang sangat sederhana. Sama seperti idolanya, namun dalam skala yang lebih kecil.

Oh iya, saat SMA, Kupit juga bagian dari tim basket SMA 7 yang dilatih oleh si Macan dari timur Chong Wei (terkenal sebagai pelatih galak). Ia lumayan lihai dalam freestyle basket, dan hingga kini masih sering bermain basket di lapangan basket di seberang Kertalangu.

Nah akhirnya, band Crocourt Acoustic yang dibentuk bersama teman-temannya ini kian berkurang personilnya. Dari satu tim sepakbola, mengecil jadi sebesar satu tim basket, dan akhirnya jadi tersisa 3 orang dan tidak bisa dibuat tim olahraga lain lagi. Maka jadilah Nosstress, yang hingga kini menjadi band kecintaan Kupit.

The post Kupit Guna Warma, Merdunya Kesahajaan appeared first on BaleBengong.

“Istirahat” untuk Bumi dan Manusia yang Sehat


Nyepi menjadi hari istimewa bagi umat Hindu.

Dalam sehari, semua aktivitas, hiruk pikuk manusia dan mesin produksi terhenti. Sarat makna dan laksana terkandung dalam Nyepi. Bukan semata rutinitas ritus pergantian tahun baru caka, tetapi lebih dari itu.

Nyepi memiliki filosofi penyucian Buana Alit (manusia) dan Buana Agung (alam dan seluruh isinya). Tujuannya adalah agar tercipta suasana sepi, sepi dari hiruk pikuknya kehidupan. Pula, sepi dari semua nafsu atau keserakahan sifat manusia untuk menyucikan alam semesta dan manusia.

Berbicara tentang alam semesta, laiknya manusia, Bumi pun butuh istirahat meski hanya sehari.

Keistimewaan pelaksanaan Nyepi, menjadi inspirasi bagi trio folk blues, Nosstress untuk melahirkan komposisi anyar berjudul “Istirahat”. Tunggalan baru ini dirilis dalam format video live, dan telah tayang di kanal Youtube Nosstress, sehari pasca Nyepi 1941. Tepatnya Ngembak Geni, Jumat (8/3).

“Setelah kita semua istirahat sehari, Bumi akan segar kembali dan layak dihadiahi sebuah tembang baru. Lagu “Istirahat” ini adalah kenikmatan Nyepi untuk kami,” papar vokalis juga gitaris nosstress, Man Angga.

Bagi para personel Nosstress, Nyepi adalah hari ternikmat sejagat raya. Hari di mana semua kerja manusia mesti berhenti. Mengendalikan diri, dan memberi kesempatan bagi bumi untuk bernafas lega. Lega dari hiruk pikuk manusia yang menjejaki setiap waktu.

“Nyepi hari yang kami tunggu, dan menurut kami hari paling nikmat, mungkin juga banyak orang. Setiap waktu kita disibukan dengan aktivitas, dan dalam sehari kita memberikan kesempatan untuk bumi beristirahat,” saut vokalis juga gitaris Guna Warma.

Lagu “Istirahat”, kata Man Angga, lahir dari kenikmatan Nyepi. Juga, keresahan akan derasnya laju kerja manusia di tengah dunia yang dikuasai kapitalisme. Membuat manusia harus bekerja keras, mengkonsumsi segala isu dan produk yang dilempar oleh kapitalis kecil hingga raksasa. Ini adalah satu-satunya cara bertahan hidup manusia masa kini.

“Kita gila kerja dan gila konsumsi, bumi semakin tak sehat, kemudian produksi besar-besaran isu dan produk penyelamat hidup oleh kapitalis berjalan lancar,” tuturnya.

Nyepi berdampak pula pada berkurangnya puluhan ribu ton karbon dioksida yang dihasilkan manusia dan produksi. Hingga semua makhluk mendapat suplai oksigen yang baik agar dapat menyegarkan fungsi raga. “Nyepi mengajarkan, bahwa harta yang paling berharga bagi manusia, adalah alam yang sehat. Alam yang sehat, akan menaungi manusia yang sehat pula,” terang Man Angga.

“Nyepi menyadarkan, bahwa bumi manusia yang berputar begitu cepat kini, tak kan pernah mampu membuat bumi semakin sehat. Ia hanya akan semakin ringkih dihajar oleh kejamnya manusia,” imbuhnya.

Menurutnya, meski hanya sehari rehat dari segala hiruk pikuk, Nyepi mengajarkan manusia perlu lebih banyak istirahat, untuk Bumi yang sehat. “Jika sehari saja manusia mau beristirahat dan memberikan kesempatan untuk meregangkan otot. Maka ia, sang bumi, akan membalasnya dengan hari-hari yang menyegarkan, langit yang bersih. Senyum-senyum manusia baru dengan otak yang berjalan dengan lebih baik akibat suplai oksigen yang memadai,” cetus Man Angga.

Video live “Istirahat” mengambil lokasi di bagian timur pulau Bali. Tepatnya di bukit, yang disebut Bukit Pekarangan, Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

“Lokasinya di dekat rumah kerabat Nosstress. Awalnya keinginan kami kemah sembari merekam video. Ini merupakan kesepakatan mendadak. Seperti halnya banyak keputusan-keputusan di Nosstress,” ucapnya.

Komposisi lagu dibuat oleh Man Angga. Penulisan lirik hasil kerja sama dirinya dan Guna Warma. Aransemen dikerjakan nosstress (Man Angga, Guna Warma dan Cok Gus), dibantu oleh Fendy Rizk pada Cello. Sementara video direkam dan disunting oleh Baskara Putra.

“Untuk video live lagu “Istirahat” dari sisi musikalitas tetap sederhana. Yang kami tekankan adalah pesan di lagu ini. Semoga kebaikan Nyepi bisa dirasakan oleh makhluk hidup di seluruh dunia,” tutup Man Angga. [b]

The post “Istirahat” untuk Bumi dan Manusia yang Sehat appeared first on BaleBengong.

Kebun Baru tanpa Aroma Khas Nosstress

Merawat sebuah band serupa merawat hubungan dengan kekasih.

Saya teringat sekira dua tahun lalu setelah saya menikah, seorang teman berkata kepada saya. “Dalam perjalanan pasca menikah banyak hal akan berubah atau dirasa berubah. Kemudian dari banyak hal yang perlu dijaga, antusias ialah salah satu hal yang tidak boleh hilang,“ katanya.

Sampai saat ini saya masih sepakat dengan pendapat teman itu. Bagi saya menjaga antusiasme bukan perkara mudah, apalagi menjaga antusias dalam satu ruang bergerak. Selain mengandung cinta juga ikatan-ikatan. Ruang yang memberikan kita identitas, hak dan tanggung jawab.

Setelah album kedua, sebelum para personil Nosstress mengeluarkan album Ini Bukan Nosstress.

Sebagai Nosstress mereka terlebih dahulu mengeluarkan tunggalan (single) berjudul Tahun Baru Lagi. Lagu ciamik ini masih sangat kental dengan napas Nosstress. Melalui nada dan lirik yang gampang didengar, mereka mampu berbicara tentang hal-hal keseharian yang menjadi kegelisahan banyak orang. Dalam tempo beberapa menit mereka mampu menghadirkan kritik yang gurih dan memperlihatkan keberpihakan mereka.

Namun, sebagai penggemar ada sesuatu yang saya sayangkan dari tunggalan tersebut. Judulnya Tahun Baru Lagi tapi lagu itu baru muncul di Februari, ketika tahun baru sudah berlalu dua bulan dan baru akan datang sepuluh bulan lagi.

Mungkin energi tunggalan itu akan jauh lebih dahsyat seandainya ia hadir di Desember 2016, ketika banyak dari kita sedang antusias menyambut tahun baru 2017.

Jadi, dengan pikiran yang mungkin kurang adil, walaupun tidak sepenuhnya, saya merasa tunggalan itu seperti kehilangan momentum. Seperti janur di Bali yang lahir ke bumi dua hari setelah hari raya Galungan. Tunggalan itu secara tidak langsung seperti memberi pesan bahwa ada antusiasme yang mulai meredup dalam Nosstress. Apalagi aroma album ketiga Nosstress sedikit pun belum tercium.

Sisi Lain

Sebagai pendengar yang kurang mengerti musik, hal pertama yang saya tangkap setelah mendengar album Ini Bukan Nosstress, ialah karya ini diadakan untuk memberikan ruang bagi sisi lain yang tersisa dari mereka, para personel Nostress sebagai pribadi, tanpa merusak tatanan Nosstress.

Album ini sekaligus untuk mengumpulkan, mencari dan mendaur ulang segala sesuatu untuk membangkitkan anatusiasme yang pudar dari para personel Nossstress. Sebagai suatu energi untuk mereka pulang ke ruang Nosstress lalu melanjutkan perjalanan sebagai sebuah kesatuan. Entah perjalanan maju, mundur atau jalan di tempat.

Tentang album Ini Bukan Nosstress sebagai sebuah ruang di luar Nosstress, saya ingat dulu pernah hadir di dua diskusi berbeda, di mana Kupit dan Angga tampil menjadi salah satu pembicara.

Kebetulan di dua acara berbeda itu, Kupit dan Angga mendapatkan pertanyaan yang memiliki pijakan poin sama, tentang kenapa mereka memilih alam dan lingkungan sebagai tema lagu-lagu Nosstress. Bagaimana tanggapan mereka dengan label Nosstress sebagai “band lingkungan”?

Sebagai penggemar pertanyaan itu tentu terdengar wajar. Seperti kita ketahui di album Perspektif Bodoh 1 dan 2, lagu-lagu Nosstress memang banyak berbicara seputar kalimat terkait dengan lingkungan, alam, kelestarian dan kritik akan kesadaran.

Mungkin karena sudah terlalu sering mendapat pertanyaan semacam itu dan jawaban pertanyaan serupa sudah sering dibahas di ruang domestik Nosstress, atau karena mereka berjalan digerakkan oleh naluri dalam frekuensi sama, dengan gaya berbahasa berbeda, di waktu dan tempat berbeda juga, Kupit dan Angga menjawab pertanyaan itu dengan poin sama.

Kurang lebih Kupit dan Angga sama sama mengatakan Nosstress tidak pernah melabelkan diri sebagai band lingkungan. Sebagai sebuah wadah, Nosstress tidak memiliki batas pagar kaku.

Tentang lagu Nosstress banyak terdengar bicara lingkungan, itu sebenarnya hal yang berjalan alami saja. Sepertinya hampir semua lagu Nosstress semua melalui proses yang mengalir secara alami, di mana hal-hal sekitar dan kegelisahan coba mereka bahasakan melalui lagu.

Sayangnya saya belum pernah memiliki kesempatan menghadiri acara di mana Cokorda Bagus menjadi pembicara dan berbicara tentang Nosstress. Namun, dari bagaimana mengalirnya dan akhir dari lawar marlin ngigelin layahnya, saya bisa rasakan Cok memiliki jawaban sama dengan kedua temannya.

Ruang dengan Batas

Hadirnya album Ini Bukan Nosstress telah menunjukan kepada kita, sekalipun Nosstress menurut mereka ialah ruang tanpa batas dan pagar kaku, di mana biasa diisi dengan hal-hal mengalir secara alami dari tiga kepala mereka, Nosstress sebenarnya tetaplah sebuah ruang dengan batas.

Nostress ialah sesuatu yang hidup memiliki jiwanya sendiri. Di mana 100 persen emosi, pikiran, ukuran ideal, maupun gaya Angga, Kupit dan Cok tidaklah bisa ada sepenuhnya di ruang tersebut. Sebaliknya, 100 persen dari mereka bertiga sebagai pribadi tidak bisa mentah-mentah dijadikan representasi dari Nosstress.

Nostress hidup dan tumbuh memiliki syarat-sayarat. Seperti cinta sejati saja yang tidaklah cukup untuk kita melangkah ke sebuah jenjang jenjang berikutnya. Atau Jika Nosstress ialah kebun, dalam perjalanannya tidak semua buah yang disukai Kupit, pohon bunga yang dikagumi Angga dan interior yang sesuai dengan selera Cok bisa masuk di dalamnya.

Kebun yang mungkin dulu mereka mulai bentuk dengan sederhana dan penuh antusias, kini dengan usaha-usaha mereka telah tumbuh menjadi sesuatu yang memiliki bentuk dan daya tarik. Menumbuhkan banyak hal yang perlu di rawat, menghasilkan karya-karya yang mampu memberi nilai kepada banyak orang, dan kemudian juga menerima dari banyak orang.

Atau lebih dari itu, kini Nosstress terasa telah menjadi milik banyak orang. Sebut saja nama mereka “para bunga” penggemar nosstress.

Sesederhana apapun kesan yang sering mereka hadirkan dalam merawat kebun itu, saya rasa hubungan memberi dan menerima itu telah menjadi salah satu daya apung penting untuk Nosstress. Seperti kebanyakan seniman, daya apung dalam hal ini bagi saya ialah sari-sari dari karya.

Tanpa karya berkelanjutan, lama-lama Nostress akan kehabisan daya apung dan tenggelam. Karya menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi dalam sebuah tempo waktu kalau tidak mau Nosstress terlalu dini untuk menjadi legenda.

Tiga tahun sudah waktu telah berlalu setelah Nosstress merilis album kedua. Tiga tahun ialah jarak rilis album pertama ke album kedua mereka. Namun, album ketiga tak kunjung hadir tahun ini.

Oh, Ini Bukan Nosstress? Foto: Dok Nosstress

Langkah Makin Pelan

Jika Nosstress sebuah perjalanan ini bisa dinilai bagaimana langkah mereka sebagai Nosstress pasca album kedua semakin pelan. Entah ini karena mereka mulai kehabisan napas, kehilangan antusiasme, sedang ingin menikmati filosofinya Paul Lafargue yaitu hak untuk malas, atau mereka sedang ingin menjaga komunikasi yang susah dilakukan sambil berjalan cepat.

Jika kemudian melihat hadirnya Ini Bukan Nosstress sebagai usaha menjawab atau sekadar pesan dari mereka, maka ini mengingatkan saya kepada jawaban almarhum Ida Bagus Dharma Palguna dalam sebuah diskusi.

Kurang lebih beliau mengatakan, untuk bisa melihat bentuk sesuatu yang menjadi bagian dari kita dengn lebih utuh, kemudian lebih adil dalam melihat persoalannya dan mengkritik, ada kalanya kita harus keluar sejenak dan memberi jarak yang tepat dari sesuatu tersebut. Begitu jawaban almarhum ketika ditanya tentang pilihannya keluar dari Bali dan menetap di Lombok.

Jadi album Ini Bukan Nosstress saya lihat sebagai sebuah kebun baru yang sengaja dibuat para personel Nosstress. Kebun di luar Nosstress tetapi tidak begitu jauh. Mereka tetap bersama sebagai teman dalam mengisinya.

Bedanya di kebun baru ini mereka lebih bebas untuk menampilkan diri sebagai pribadi. Lebih leluasa berbicara mengkitik dan melihat Nosstress sebagai pribadi tanpa embel-embel. Di kebun ini juga sekiranya mereka bisa menanam hal-hal yang mereka simpan karena sebelumnya tidak bisa ditanam di kebun Nosstress.

Mugkin album Ini Bukan Nosstress tidak bisa memuaskan dahaga penggemar akan album baru Nosstress, tetapi paling tidak hal yang menyenangkan di kebun baru ini kita bisa melihat bagaimana Angga, Kupit dan Cok dengan lebih intim, sesuatu yang selama ini sangat sulit dipisahkan dari identitas Nosstress.

Antusiasme yang Redup

Aroma album Ini Bukan Nosstress bisa saya rasakan memang jauh dari bau Nosstress yang sudah saya nikmati beberapa tahun. Di daftar lagu pertama album ini bukan Nosstress yang saya jumpai di aplikasi online.

Aroma album ini langsung dibuat hangat khas oleh lagu Angga. Tanpa haha hihi dan berkulit-kulit, dia langsung berbicara tentang keluhan kepada kedua temannya, tentang ada porsi yang dirasanya tidak seimbang membuat hal biasa menjadi nampak berlebihan. Porsi yang menurutnya bisa diseimbangkan oleh kemauan dan usaha mencoba kedua temannya.

Selain itu di lagunya yang berjudul Sampai Kapan, Angga seperti memposisikan album Ini Bukan Nosstress sebagai sebuah alarm bersama untuk bagaimana Nosstress selanjutnya, akan diusahakan berlanjut atau sekadar bertahan. Sebagai pribadi Angga juga memanfaatkan ruang Ini Bukan Nosstress untuk memperkenalkan salah satu sisi pribadinya, tentang bagaimana seleranya selama ini dalam berkarya dan memposisikan cinta dalam urusan pribadinya.

Sementara dari tiga lagu Kupit di album Ini Bukan Nosstress, saya merasakan dalam kaitannya sebagi bagian dari Nosstress dan musisi. Dalam ruang ini Kupit seperti mengiyakan kalau ada antusiasme yang sedang redup pada dirinya.

Selain pesan itu saya tangkap dari lagunya yang berjudul Semoga Ya. Juga dalam lagu kandas yang bercerita tentang kehilangan sosok cinta yang begitu pribadi. Dari kedalaman yang tersirat ini rasanya ialah tentang kisah pribadi.

Namun, jika melihat aktivitas Kupit di permukaan dan medsosnya yang sedang sedang hangat-hangatnya dengan sang pacar, jadi sangat layak dicurigai ini ialah lagu lama yang dia simpan. Bukan lagu baru yang dibuat untuk album ini.

Seperti hujan lebat dari pagi yang berhenti ketika senja di mana Nosstress akan manggung di ruang terbuka, saya rasa hal yang mampu membuat Kupit membuat Ini Bukan Nosstress menjadi hal spesial, setidaknya untuk saya, ialah kebijaksanaannya sebagai orang paling berumur di antara kedua temannya.

Kebijaksanaan yang seperti telur mata sapi pada nasi goreng spesial, di mana kritikan dari Angga dijawabnya dengan lagu. Dengan dialog dan pengakuan, seperti kritik Angga tidak menjadi duri tapi malah menjadi panggung di mana dia menari sebagai dirinya sendiri.

Dari ketiga personel Nosstress, bagi saya, orang yang nampak paling stabil datang ke kebun baru ini ialah Cokorda Bagus. Tiga lagunya di album Ini Bukan Nosstress saya menilai antusias Cok yang paling terjaga. Seperti salah satu judul lagunya yaitu Tumbuh, ialah hal mendasar yang saya tangkap persis dari pesan lagu-lagu Cok. Tidak banyak persoalan persoalan yang saya tangkap dari ketiga lagunya.

Sebagaimana sesuatu yang tumbuh lagu-lagunya begitu mengalir. Dalam pertumbuhan sesuatu menurutnya tidak bisa dipaksakan seperti bagaimana dia mampu menganalogikan hujan pada lagunya yang berjudul Seperti Dia.

Cok bagus seperti menikmati berbicara dengan dirinya sendiri. Dia menikmati dan mengambil pesan dari hal-hal yang terjadi di sekitar. Di ruang Ini Bukan Nosstress, dia juga dengan baik menceritakan bagaimana dia berproses sebagi pribadi dan pandangan-pandangan hidupnya yang begitu teduh.

Melepas Identitas

Sekalipun karya mereka sebagai bukan Nosstress kali ini tidak banyak pesan-pesan sosial dan ajakan untuk membangkitkan kesadaran akan lingkungan, tetapi ada nilai yang tidak kalah penting saya tangkap di album ini. Dalam ruang hidup bersama sangat penting cara-cara seperti menciptakan ruang seperti Ini Bukan Nosstress dilakukan. Ruang di mana kita bisa melepaskan sejenak identitas kita dan menempatkan nalar kemanusiaan di atas segala-galanya.

Seperti sebagai orang Bali misalnya, saya rasa kadang kita harus bisa keluar dari identitas kebalian kita sejenak, terlebih lagi kebanyakan identitas-identitas itu banyak diciptkan untuk kepentingan brosur wisata. Dengan keluar kita bisa melihat dan menilai identitas itu dengan lebih adil dan utuh. Agar kita tidak terkungkung dalam label-label identitas tersebut bak pusaka dalam museum.

Setelah itu kita lebih siap mendengar kritik atau memberi kritik. Paling tidak berhenti menggangap kritik sebagai sebuah konflik, sehingga kita lebih siap menciptakan tradisi berdialog atau berdebat. Dengan terciptanya tradisi itu, saya rasa kita akan bisa berlaku lebih jujur dan berani sebagai manusia. Untuk kembali ke identitas masing-masing guna menciptakan ruang bersama yang lebih baik.

Setelah hiruk pikuk di ruang Ini Bukan Nosstress reda, apa yang akan terjadi selanjutnya pada perjalanan Nosstress tidak satu orang pun tahu. Jika bicara kemungkinan, tentu ada ribuan kemungkinan yang tersedia dan bisa hidup di kepala kita masing masing.

Namun, setelah mendengar rencana Is vokalis Payung Teduh keluar dari band setelah 31 Desember ini, bagi saya sekalipun setelah album Ini Bukan Nosstress mereka tak mampu juga kembali menghidupkan Nosstress atau mungkin Nosstress bubar, paling tidak saya merasa kita sebagai fans Nosstress tetap ialah fans yang lebih beruntung.

Karena paling tidak kita sudah pernah melihat mereka bersuara, berdialog dan mengkritik satu sama lain dengan komposisi porsi yang sama. Mereka telah menghibur kita dengan karya. Bagi saya mereka telah melakukan cara yang lebih memanusiakan daripada satu orang dari mereka tiba-tiba memutuskan keluar dan hanya sendiri menceritakan kekacauan kondisi band dengan panjang lebar di media.

Dan, ulasan saya tentang lagu-lagu dan album Ini Bukan Nosstress memang sangat jauh dari objektivitas, atau tentu tidak bisa mewakili apa-apa, tapi saya harap doa saya untung panjang umurnya Nosstress bisa diterima juga sebagai doa banyak dari kalian. [b]

The post Kebun Baru tanpa Aroma Khas Nosstress appeared first on BaleBengong.

Kenapa Ini Bukan Nosstress?

Ketika Masing-masing Zat Bekerja Sendiri Sebelum Kembali Bersenyawa

Usai menelurkan dua album penuhnya, Perspektif Bodoh I (2011) Perspektif Bodoh II (2014), serta album kolaborasi bareng Mitra Bali Fair Trade berjudul “Viva Fair Trade” (2015), trio folk Bali, Nosstress, membagi sesuatu yang baru di tahun ini. Adalah Perspektif Bodoh III,sebuah album yang bahkan menjadi wacana, sejak tahun 2016. Namun ternyata lanjutan dari dua album sebelumnya ini kembali tertunda di tahun ini. Ketidaksiapan akan merampungkan trilogy ini dituturkan secara gamblang oleh Nosstress.

Tertundanya Perspektif Bodoh III ini, justru mendorong mereka melahirkan karya yang lain tepatnya di kuartal keempat tahun 2017 ini. Ini Bukan Nosstress, menjadi hasil rilisan album penuh yang akhirnya mampu terealisasi. Walaupun terselip di antara trilogi yang belum kunjung rampung, di album ini, baik Man Angga, Kupit dan Cok sepakat, tidak ingin menyebut karya satu ini sebagai album Nosstress. Walau mencoba menghadirkan konsep lain, kehadiran mereka yang notabene adalah personel Nosstress sehingga sulit untuk tidak menafsirkan bahwa album ini adalah bagian Nosstress.

Secara materi, lagu-lagu mereka kali ini memang hadir secara personalnya masing-masing. Masing-masing lagu, diciptakan hingga kemudian dilantunkan langsung oleh sang empunya, tidak lagi bertiga. Itulah mengapa mereka tak ingin menyebut album ini sebagai bagian dari album Nosstress.

“Seharusnya tahun ini atau tahun lalu, adalah waktu bagi Perspektif Bodoh menjadi trilogi. Tapi sepertinya kami belum siap untuk membuat lagu bersama. Kami sebagai musisi, setidaknya harus tetap siap membuat lagu masing-masing, bagi diri sendiri,” kata Angga.

Total 9 lagu yang disuguhkan Angga, Kupit dan Cok yang masing-masing dari mereka menelurkan 3 buah lagu. Namun tak murni hadir sendiri-sendiri sebagai personal. Di album ini juga menghadirkan beberapa sahabat musisi yang ikut menuangkan kebolehannya. Adalah Dadang SH. Pranoto (Dialog Dini Hari, Navicula) yang juga berperan sebagai produser album ini, Deny Surya (Dialog Dini Hari), Sony Bono, WayanSanjaya, Windu Estianto, FendyRizk dan Dony Saxo.

Oh, Ini Bukan Nosstress?

Secara lirik dan konsep, lagu-lagu di album Ini Bukan Nosstress memang tak bisa dikatakan senada dengan lagu-lagu di dua album Perspektif Bodoh yang cenderung lebih kritis terhadap persoalan social dan lingkungan di sekitar mereka. Sembilan lagu di album ini terasa sekali nuansa personal masing-masing empunya lagu. Namun dalam hal aransemen musik, khususnya karena kolaborasi dengan para musisi tersebut, justru terdengar lebih berwarna dibandingkan music mereka, yang biasanya cenderung lebih minimalis dengan konsep folk akustik-nya.

“Kami mencoba memberi kebebasan pada individu pembentuk Nosstress untuk bebas berkarya, mengembangkan pikirannya sendiri. Untuk suatu saat kembali berkarya sebagai Nosstress,” tambahnya.

Setelah dirilis lewat iTunes, Spotify, Deezer, Joox, dan format digital lainnya, pada 3 Oktober 2017 yang lalu, Ini Bukan Album Nosstress juga akan dirilis secara fisik. Saat ini fisik album tersebut pun tengah dalam proses produksi. Begitu juga dengan launching concert yang masih dalam tahap perenungan, kapan, di mana dan bagaimana akan terjadi.

Yang pasti, mereka tetap menegaskan bahwa album ini adalah Ini Bukan Nosstress. Ini adalah album di mana ketika para zat pembentuk Nosstress tengah bekerja sendiri, sebelum siap kembali bersenyawa satu dengan yang lainnya.

“Tidak. Meskipun banyak yang menyarankan ini untuk tetap sebagai album Nosstresss aja, kami tetap pada Ini Bukan Nosstress,” tutup Angga.

 

 

The post Kenapa Ini Bukan Nosstress? appeared first on BaleBengong.

Nosstress Rilis Single dan Album Digital

Selain single baru, Nosstress juga meluncurkan versi digital album-album sebelumnya. Foto Nosstress.

“Tahun Baru Lagi”, beraksi atau sekadar beresolusi?

Dua tahun berselang sejak Nosstress meliris album kedua bertajuk “Perspektif Bodoh II”. Kini trio folk Bali itu meluncurkan single terbaru “Tahun Baru Lagi”. Menariknya, band ini juga merilis versi digital album-album sebelumnya.

Pun di tahun 2017 menjadi momentum tersendiri bagi band yang digawangi Man Angga (gitar/vokal), Guna Kupit (gitar/vokal), dan Cok Gus (kajon/harmonika/pianika/vokal) ini. Selain merilis single terbaru, band yang terbentuk pada 2008 ini sekaligus merilis digital album penuh “Perspektif Bodoh”, “Perspektif Bodoh II” serta mini album kolaborasi bersama Mitra Bali Fair Trade berjudul “Viva Fair Trade”.

Secara resmi Nosstress telah merilis single terbaru versi digital akhir Januari 2017 kemarin. Selain single, mereka juga merilis album Nosstress versi digital. “Single dan album kami sudah bisa diunduh melalui Apple Music dan beberapa gerai musik digital seperti Spotify, dan lainnya,” jelas Man Angga.

Mengenai single terbaru ini berawal dari ide Man Angga, di mana sebelumnya dia telah mempunyai sketsa lagu yang kemudian dirasa cocok untuk digarap dan dikeluarkan tahun ini. “Mumpung jadwal masih santai, jadi momentum untuk menggarap lagu ini,” ujarnya.

Secara aransemen musik, tidak banyak berubah jika dibandingkan karya-karya Nosstress sebelumnya. Masih dengan sentuhan musik yang easy listening, tidak mengilangkan kesan kesederhanaan. Dan tentunya diimbangi dengan lirik yang tak muluk-muluk.

Mengangkat tema keseharian sekitar, persoalan personal dan yang dirasa kebanyakan orang. Pun tetap menyelipkan semangat perlawanan menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Banyak hal atau persoalan yang kami rangkum dalam lagu baru ini. Misalnya melawan ketakutan akan hal yang tak perlu. Ketakutan karena kita tidak mau mencari tahu. Hoax dan berita bohong lainnya subur, kan karena ketidaktahuan dan tidak mau mencari tahu yang sebenarnya,” tutur Man Angga.

“Lagu ini juga menunjukkan keresahan kami, mungkin juga orang banyak. Apalagi jelang menghadapi pilkada. Rakyat disuguhkan janji-janji manis politikus, entah ditepati atau hanya bualan untuk menarik simpati,” imbuh Man Angga.

Menurut Man Angga, dari proses pengerjaan lirik masing-masing personel mempunyai perannya. Jika disimak lirik yang dilantunkan, Cok Gus dengan keresahan angan yang kian tinggi hingga pusing karena tak kunjung terpenuhi. Kupit dibayangi dengan pertanyaan standar namun berulang dari tahun sebelumnya. Misalnya kapan menikah, karena umur sudah kian bertambah (tua).

“Persoalan standar yang dialami banyak orang. Kami juga mengangkat perjuangan menolak reklamasi yang kini sudah menginjak tahun keempat. Dengan harapan di tahun ini, semakin banyak yang tergerak dan beraksi,” paparnya.

Untuk proses rekaman, Nosstress mengerjakan single terbarunya di Antida Music. Sedangkan foto dan cover artwork digarap oleh Ida Bagus G Wibawa atau akrab disapa Gus Wib dan Esha Satrya.

Dengan dirilisnya single ini apakah menjadi sinyal di tahun 2017 Nosstress akan beraksi mengeluarkan kembali karya baru dan album terbarunya, atau sekadar beresolusi?

“Apalagi aksi utama dari seorang musisi kalo bukan berkarya? Semoga di tahun 2017 Nosstress banyak aksi, menelorkan karya yang banyak dan berguna bagi banyak orang,” ujar Man Angga. [b]

The post Nosstress Rilis Single dan Album Digital appeared first on BaleBengong.