Tag Archives: musisi bali

Parahidup, Bekal Menghadapi Keruwetan Manusia

Intro Dalam Kedangkalan memecah hiruk pikuk Pasar Kumbasari senja itu dari pinggir Tukad Badung. Sekonyong-konyong saya segera menyelesaikan pembayaran di sebuah kios buah.

Betapa dekat jarak kita tuju, semua hati telah membuka pintu. Batapa banyak yang kita raih. Kita terbangun saat mereka baru bermimpi.”

Dari atas jembatan yang menghubungkan Pasar (modern) Badung dengan Pasar Seni Kumbasari, trio folkies Dadang-Zio-Deny Surya sudah diterpa cahaya lighting warna warni, pada senja 16 Oktober 2019.

Lagu ini pas sekali untuk Parahidup yang memacu detak jantung pasar Kumbasari yang baru menggeliat sore itu. Pasar ini makin pikuk jelang dini hari. Pedagang merapikan sayur, buah, dan aneka bumbunya. Buruh pasar masih hilir mudik mengangkut dagangan dari pick-up ke los-los pelanggan mereka.

Ngonser di dekat pasar juga membantu panitia, penonton, dan pedagang. Beli makan dan minum tinggal pilih, ndak perlu buat stan-stan tambahan.

Warga memenuhi jembatan untuk menonton keriuhan di tepi sungai. Penonton dipisahkan aliran sungai. Wah, penataan yang ciamik, lebih baik dibanding konser-konser sebelumnya di Tukad Badung ini. Sebelumnya panggung besar dibangun di atas aliran sungai, di bawah jembatan. Perlu sumberdaya cukup besar. Sementara tim kreatif DDH memanfaatkan panggung tepi sungai, tempat nongkrong yang sudah ada. Kerja kerasnya di menggotong alat-alat naik turun jembatan.

Dari jumpa pers, DDH memberi kredit pada salah satu tim kreatif mereka, Bintang, pria muda tapi terlihat tua 🙂 yang sukses menghelat Pica Fest. Bintang konon salah satu bintang di kehidupan Dadang yang terlihat introvert.

Ada juga om Saylow. Om juga bintang dalam orbit Dadang. Sebelum konser dihelat, ia sempat merangkum usulan-usulan lokasi konser DDH. Syaratnya, ruang publik di mana warga biasa berkegiatan, dan biaya sewa terjangkau. Karena ini konser gratis untuk rilis album.

Jadi, ini tercium seperti konser dari orang-orang terkasih mereka. Uhm, apakah luapan sayang ini kan meruap ke udara, memenuhi bongkol hidung kita, menyusup ke sel-sel otak? Sayangnya tidak bisa mengalahkan bau limbah di Tukad Badung petang itu.

Setelah Dalam Kedangkalan, menyusul Kawanku, Hyena, Peran Terakhir, Sediakala, dan Tikus. Sound-nya enak sekali, pas, tidak berlebihan. Lagu-lagu ini mengalir, menghidupkan suasana sungai dan pasar. Saya beberapa kali menatap ke jalan raya Gajah Mada di atas jembatan dan lampu-lampu kios pedagang makin terang. Derap hidup ini mendampingi musik Dialog Dini Hari.

Ibarat sedang mandi di bawah pancuran, eh mendadak alirannya tersumbat. DDH menyudahi konser singkat ini. Penonton protes, lalu ditambah dua lagu dari track album lama. Mereka buru-buru harus pindah ke Hard Rock Cafe, panggung marathon berikutnya. Yahhhh….. parahidup tua nan ambisius.

Tentang ambisi, eh, produktivitas, Dadang punya alasan kenapa album ini dibuat dengan jarak 5 tahun dari album sebelumnya. Ia laris konser bersama Navicula. Ia menyebut sketsa Parahidup sudah ada 2018, lalu ditinggal konser bersama Navicula ke Eropa.

“Parahidup itu yang semua yang hidup,” Dadang menjawab pertanyaan di talkshow jumpa media, 15 Oktober di Hari Ini Coffee, Denpasar. Warung kopi dan distro gengnya Bintang. Pisang gorengnya enak sekali, empuk dan nyangluh.

Kata “Parahidup” tak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menyimak 11 lagu yang dilansir 17 Juli lewat laman-laman musik digital ini, menemukan apa yang dimaknai Parahidup tak sulit. Bahkan, saya bisa menyebut album ini parade biodiversitas, secara verbal ada kehidupan tikus, hyena, laba-laba, anjing, belalang sembah, dan lainnya. Satwa dalam personifikasinya yang paling mengakar di benak manusia.

Karena Dadang tak bisa bahasa hewan, dia hanya menekuni bahasa kalbu manusia. Evolusi lanjutan setelah Tentang Rumahku, album DDH lima tahun lalu.

Jika aku laba-laba Kan kubiarkan tubuhku kau lahap
Setelah bercinta
Agar aku tak pernah bercinta lagi
Tak bisa bercinta lagi

Jika aku seekor anjing
Kan ku kencingi kau
Agar anjing lain tahu kau milikku

Jika aku belalang sembah
Kan kubiarkan kepalaku kau penggal
Seusai membuahimu
Agar aku tak bisa membuahi perempuan lain

Tapi aku cuma manusia
Cinta dan rindu yang sederhana
Tapi aku cuma manusia
Cinta dan rindu yang sederhana

Jerit Sisa yang meruntuhkan ego dan serakah manusia. Inilah Dialog Dini Hari, lagu Tikus pun diorkestrasi menjadi ajakan bersih-bersih. Aransemennya asyik.

Setelah becermin, mereka memberi tanda peringatan atau hitung mundur sebelum pralaya. Setelah ini mungkin albumnya Moksa. Jangan ya, langsung melampui saja, Reinkarnasi.

Deny Surya membagi cerita jika proses rekaman album ini berbeda. Jika sebelumnya merespon bunyi, sekarang sekaligus ketika bunyi diciptakan ketiganya. Saking intensnya, mereka melarang manajemen nimbrung ke studio selama dua minggu proses produksi. Risikonya, mereka tak memiliki dokumentasi layak saat rekaman di studio. “Ketika saya menyodorkan konsep, Deny dan Dadang wasitnya,” tambah Zio menjelaskan “battle” dalam mencipta Parahidup.

Zio barangkali menang banyak karena piano dan syntesizer cukup menyentak di album ini. Sebelum Parahidup rilis, Zio menumpahkan energinya di solo album See The Sun.

Pertempuran nada ini diramaikan musisi pendukung seperti Aik Krisnayanti sebagai vokal latar di lagu “Tikus” dan “Jerit Sisa”, Celtic Room di biola & whistle di lagu “Pralaya”, serta Fendy Rizk yang memainkan Cello di lagu “Kuingin Lihat Wajahmu”.

Proses rekaman dilakukan sepanjang September-Oktober 2018 di Antida Studio dan Straw Sound Studio, Denpasar, oleh Deny Surya dan Arul. Kecuali vokal di lagu Dalam Kedangkalan, Pralaya, Peran Terakhir, dan Hyena direkam di Amplify Recording Studio, Nitra Slovakia, oleh Ondrej Vydaren. Seluruh lirik ditulis Dadang, kecuali Jerit Sisa oleh Dadang dan Ulan Sabit.

Walau kurang bersyukur dengan kerendahan hati tim konser di Tukad Badung ini, saya berterima kasih pada Dadang Pranoto (vokal dan gitar), Brozio Orah (bas, piano, synthesizer, dan vokal latar), serta Deny Surya (drum dan perkusi), dan musisi lain yang mewujudkan Parahidup. Karena hidup sederhana itu adalah merayakan keruwetannya.

Sang Pejuang dari MR HIT

Arsip MR HIT

Lagu baru MR HIT ini berjudul Sang Pejuang. Lirik lagu dengan musik orkestra ini hanya tercipta dua jam.

“Ketika saat itu banyak sekali ada orang orang yang ingin memaksakan adab mereka pada orang lainnya. Mereka memaksakan kesamaan konsep pada hal yang jelas-jelas puspawarna dalam payung kebhinekaan,” tutur Agung Yudha, vokalisnya.

Mendefinisikan diri sebagai Band Rock, MR HIT yang beranggotakan Agung Yudha (Vokal, Gitar) , Indra Permana (Drum), Anantha Prasetya (Bass) dan Indra Dananjaya (Gitar) kerap membawa pesan-pesan dalam lagu mereka yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Melangkah dari Bali, MR HIT menelurkan album pertama di tahun 2017 dengan tajuk Rockolosal. Kini akan kembali merilis lagu teranyar yang akan dirilis tepat pada hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2019.

Band ini berharap lagu ini juga mampu menggawangi setiap aspek positif dari Indonesia. Dalam proses pembuatannya, para personil memutuskan memakai konsep orkestra yang digabung dengan sound rock modern. “Semata mata ingin menyebarkan dengan masif dan gagah bahwa Indonesia itu kuat dan kebhinekaan adalah kunci pemersatunya,” lanjut Yudha.

Ia meminjam sebuah kalimat dari sastrawan dan aktivis hak asasi manusia, Wiji Thukul dalam Sajak Kepada Bung Dadi. “Ini tanah airmu, di sini kita bukan turis” dikutip sebagai pesan utama dalam lagu berjudul Sang Pejuang ini.

“Semua adalah pejuang. Baik bagi diri sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan sekitar. Lagu ini kami dedikasikan untuk semua, Sang Pejuang yang akan terus hidup dan memperjuangankan yang terbaik di tanah air kita sendiri. Karena kemerdekaan akan didapatkan saat perjuangan telah dilakukan dengan maksimal,” tuturnya.

Band rock Bali, MR HIT

Topik nasionalisme berhubungan dengan ketertarikan mereka pada sejarah dan isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Namun bukan berarti lagu MR HIT hanya bercerita tentang hal tersebut. “Apapun yang terangkum dari pemikiran setiap personil juga kami jadikan lagu. Kadang ada juga lagu tentang cinta secara umum tepatnya. Bukan cinta cintaan egosentris yang memaksakan kehendak pada satu individu,” elaknya.

Selain itu ada lagu tentang kawan yang menderita skizofrenia. Lagu tentang pandangan hidup ke depan, dan lainnya. Benang merahnya satu, lagu lagu ini terlahir dari kisah terdekat yang dialami pada setiap personil untuk kemudian dikemas dengan konsep bermusik MR HIT.

Sejumlah nama diakui menjadi patron mereka dalam berkarya. Yudha menyebut deretan nama dari Indonesia yakni Ibu Robin Lim, Tan Malaka, I Gusti Ngurah Rai, Wiji Thukul, Jenderal Ahmad Yani, Mohammad Hatta, Dewa Agung Istri Kanya, Made Taro, Oeamar Said Tjokroaminoto, W.R Supratman, Ida Bagus Mantra, dan AA Made Djelantik. Sementara dari luar Indonesia ada Benazir Bhutto.

MR HIT akan mempersembahkan Sang Pejuang melalui laman Instagram mereka di instagram.com/mrhitofficial. Mengingat kemudahan akses dan persebaran informasi yang cukup signifikan, moda media sosial ini pun dipilih seiring kebiasaan MR HIT yang mengupdate kegiatan bermusik mereka melalui kanal https://www.youtube.com/mrhitband

Menuju tanggal 17 Agustus 2019, MR HIT mempersembahkan sebuah video perjalanan dari penciptaan Sang Pejuang https://www.instagram.com/tv/B01bmfkg7vs/?igshid=ousi5tncix3u

MR HIT terbentuk di tahun 2014. Pada Agustus, karena itulah bulan ini selalu jadi momentum mereka. Sebelumnya band ini hanya terdiri dari dua orang. Setelah bertemu teman lain yang sevisi, akhirnya konsep band MR HIT menjadi 4 orang.

Perkenalan mereka dari sebuah organisasi musik kemahasiswaan lintas angkatan di sebuah universitas negeri di Bali. Berangkat dari hobi yang sama dan bertemu di waktu yang tepat, MR HIT pun muncul ke publik.

Setelah album Rockolosal pada 2017, band ini seolah rehat. “Vakum? Mungkin tepatnya teralihkan sementara karena kesibukan masing masing personilnya. Hahaha. Tapi sekarang we are coming back, yeah!” semangat Yudha yang pernah bekerja di perusahaan koran harian ini.

The post Sang Pejuang dari MR HIT appeared first on BaleBengong.

Kupit Guna Warma, Merdunya Kesahajaan

foto: nosstress.com

Kupit ialah Komang Guna Warma yang ingin menjadi sesuatu, yang kita tau itu dia.

Di dunia kapitalistik ini banyak hal sering berhenti pada ukuran angka-angka, misalnya dibentuk tendensi berpikir makanan yang paling mahal seakan sah menjadi makanan yang paling lezat.

Tapi di dunia manusia juga ada hal-hal magis tidak boleh mati. Misalnya, bagaimana kita sepakat kalau makanan juara ialah makanan yang dimasak oleh orang tercinta, apalagi bahannya dipetik tidak jauh dari meja makan kita.

Setidaknya bagi saya, dan mungkin juga bagi ribuan fans guna warma yang kandas di dunia kapitalisme ini, mengganggap ia (Kupit dan karya-karyanya) ialah kesatuan masakan yang dimasak oleh orang yang kita cinta dan bahan-bahannya dari kebun sendiri. Sesuatu yang sederhana jika kita tulis di kertas. Tapi ketika itu sudah melantun menjadi sebuah kesatuan, kemudian menyentuh indera kita, meresap pada darah kita dan relung- paling sunyi di tubuh kita. Saat itu Tuhan seperti sengaja belum menciptakan kata-kata untuk menggambarkan perjalanan itu. Mungkin agar kita bisa jeda untuk mengingat bisa merasa, atau agar kapitalisme tidak bisa mencatat dan menaruh perjalanan itu di list menu-nya.

Dunia banyak mulai mengenal Kupit Nosstress melalui lagunya yang berjudul Tanam Saja, lagu dengan kumpulan kalimat sederhana, gampang meresap dan tumbuh di mana-mana. Lagu itu tercipta karena buah kegundahan Kupit melihat kebun di depan rumahnya luluh lantak pasca upacara adat.

Tapi ketika kegundahan di kebunnya dipetik untuk kemudian diolah. Kupit berhasil memasaknya menjadi lagu. Lagu itu seakan bisa memposisikan manusia ialah Kupit dan kebun di depan rumah ialah seluruh dunia dengan kenyataan yang tak seindah dulu.

Selain jago meracik lagu dan memanen kegundahan, memiliki suara yang begitu magis ialah kunci. Bagaimana lulusan komputer ini bisa ada di atas pijakannya hari ini. Suara magis ini bukan sekedar karunia yang esa, bukan juga karena karma baiknya hingga memiliki pasangan mba Sandrayati Fey, tapi lebih dalam dari itu.

Salah satu komponen rahasia suara magis Kupit ialah adanya flu dalam hidungnya yang terus hinggap. Pernah ia ingin mengobati flu itu secara tuntas, tapi orang yang memahami kedalaman suara Kupit ketika itu sangat takut, dan melarang ia menyembuhkan flu itu. Karena takut itu akan mengubah suara magisnya.

Sekiranya Kupit pernah hadir di dalam doa kalian, tolong jangan sekali mendoakan agar Kupit benar-benar sehat, tapi doakan-lah kupit sehat dengan flu yang terus ada itu.

Sebuah hymne, lagu kebangsaan yang heroik bersahaja juga lahir dari Kupit dan Agung Alit. Dari anak-anak sampai orang tua fasih menyanyikan refrain lagu ini, “Sayang Bali… Tolak Reklamasi… Bangun Bali kita dibohongi. Rusak Bumi dan anak negeri..”

Aksi corat-coret di kertas lusuh siaran pers tolak reklamasi pada 2013, menjadi jejak duet biduan dan aktivis yang mendirikan Taman Baca Kesiman itu. Kini, anthem BTR dinyanyikan dalam aneka bahasa oleh aktivis Asia Tenggara.

Suara flu Kupit juga membuat lagu Dekon karya Ketut Putu di album Prison Songs besutan Taman 65 ini hidup kembali. “Dekon nike tuhu wejangane becik. Margi kesaratan mangda ical je sayahe. De je uyut mesogsag mengajak timpal. Bersatu pang teguh, rakyat buruh tani musuhe nu galak tikus tikus ekonomi…”

Kupit akan Melali Bareng Musisi pada Sabtu, 22 Juni ke Karangasem, tanah kelahiran bapaknya. Melihat tegalan aneka jenis kelapa madan (bernama), olahannya, dan konser di Bukit Pekarangan, Ngis.

Tata, adik Kupit membagi kedekatannya dengan kakaknya.

Sejak umur 4 tahun, Kupit sudah senang bernyanyi. Awalnya ia hanya ikut-ikutan kakaknya dan kerap memegang peran backing vocal semasa ia kecil.

Seiring ia tumbuh, kesenangan bernyanyi sempat redup, terutuma selama SD. Mungkin karena dia sibuk belajar sampai selalu menjadi juara kelas dan pemimpin regu pramuka se-kelurahan Tonja.

Namun saat ia beranjak ke bangku SMP, ketertarikannya akan musik kembali. Diawali kesukaannya pada majalah, di antaranya majalah Gadis, Aneka, dan Gaul, ia bertemu dengan seorang dagang majalah yang mempunyai sebuah gitar butut. Tapi gitar ialah gitar. Bagi anak seumur kupit dengan bekal sekolah yang ngepas, gitar ini termasuk barang langka.

Singkat cerita, gitar ini dibeli oleh kupit, seharga beberapa puluh ribu. Inilah gitar pertama Kupit, yang kini keberadaannya entah di mana. Bukan karena kupit teledor, tetapi ada teman yang suka pinjam dan tidak kembalikan.

Nah, seiring waktu berjalan, Kupit pun SMA. Sudah lebih ganteng karena pakai behel. Di SMA ia bertemu banyak teman lain yang suka main musik. Pada awalnya, ia punya band yang namanya Crocourt Acoustic. Dengan personil sekitar satu tim sepakbola. Semacam band Eagles dari negeri Paman Samuel. Di masa-masa inilah Kupit mulai punya idola-idola dalam bermusik, yang sampai kini masih ia kagumi. Yang paling ia senangi adalah Jack Johnson.

Kupit menemukan sesuatu yang keren dari Jack Johnson, tak hanya musinya. Tapi dari kisah-kisah hidup, keseharian Jack yang sederhana, dan kepeduliannya terhadap isu sosial dan lingkungan yang tercermin dalam lagu-lagunya juga. Kupit memiliki pemikiran yang mirip seperti ini, dan bisa dibilang memiliki gaya hidup yang sangat sederhana. Sama seperti idolanya, namun dalam skala yang lebih kecil.

Oh iya, saat SMA, Kupit juga bagian dari tim basket SMA 7 yang dilatih oleh si Macan dari timur Chong Wei (terkenal sebagai pelatih galak). Ia lumayan lihai dalam freestyle basket, dan hingga kini masih sering bermain basket di lapangan basket di seberang Kertalangu.

Nah akhirnya, band Crocourt Acoustic yang dibentuk bersama teman-temannya ini kian berkurang personilnya. Dari satu tim sepakbola, mengecil jadi sebesar satu tim basket, dan akhirnya jadi tersisa 3 orang dan tidak bisa dibuat tim olahraga lain lagi. Maka jadilah Nosstress, yang hingga kini menjadi band kecintaan Kupit.

The post Kupit Guna Warma, Merdunya Kesahajaan appeared first on BaleBengong.

Dadang Pohon Tua, Akarnya Menancap di Poros Bumi

Dadang SH Pranoto, vocalist band Dialog Dini Hari

Sebuah akar menjelajah ke inti bumi dan sumber air. Inilah sebaran akar Pohon Tua.

Dadang S.H. Pranoto. Musisi band grunge Navicula dan trio folk Dialog Dini Hari ini mempunyai arti istimewa di hati penggemarnya. Tak hanya ngband, ia juga bermain solo dengan nama panggung Pohon Tua.

Akarnya menyebar di proyek musik lain, seperti duo Conscius Coup dan duo Electric Gipsy berkolaborasi dengan musisi lain. Memberi warna lain seorang Dadang. Di hampir semua band tersebut, Dadang berperan juga sebagai vokalis cum gitaris.

Lalu kenapa akarnya menancap kokoh di benak pendengarnya? Seorang penulis yang suka merekam remah pikiran dan catatannya dalam sebuah blog: wustuk.com. Selancar dunia maya membawa ke halaman blognya ketika mengetik nama Pohon Tua atau Dadang SH Pranoto. Ada sekitar 15 bahkan lebih tulisan yang berkenan dengannya.

Awalnya adalah kekaguman seorang penggemar lalu menjadi penulis buku yang isinya menaksir lirik-lirik lagu gubahan sang idola. Bukunya ini berjudul Dua Senja Pohon Tua.

Ada yang menyimpul ketika membaca tulisan-tulisan tentang Pohon Tua:  Spiritualisme. Circa 2011, di satu sesi Bali Emerging Writers Festival, Juniartha wartawan senior yang memoderasi diskusi dengan Dadang, juga membagi kekagumannya. Pohon Tua, jiwanya tua.

Spiritualisme Dadang barangkali adalah keyakinannya yang penuh pada musik dan perenungannya tentang hidup dan sekitar. Terdengar dari lirik-lirik lagu yang ia nyanyikan: liris, sederhana, dan mengena. Perlu jeda ketika mendengarkan lagunya dan menelisik lebih jauh ke samudera makna.

Dadang baik dalam Dialog Dini Hari atau Pohon Tua seperti hidup dalam lirik-lirik yang ia gubah. Barangkali ada serpihan jiwanya yang turut hidup di lirik itu.

Dusun Pagi, Desa Senganan, Penebel, Tabanan, Bali. Foto: Martino Wayan

Minggu besok, 16 Juni 2019, ia akan menemani Melali ke Dusun Pagi Tabanan. Mari berdendang bersama Dadang, dan membincangkan spiritualisme dalam lirik-liriknya.

Semisal dalam lagu Kancil di album solonya Kubu Carik. “Oh kancil, kau di mana. Pak tani entah ke mana, tak ada ladang, hutan tak lagi rindang. Pohon-pohon siap ditebang…”

Atau bersiul bersama Matahari Terbit. “Kurenungi wajahnya, kuselami indahnya. Kukabarkan pada pagi sang fajar kan terbit dari matanya…”

The post Dadang Pohon Tua, Akarnya Menancap di Poros Bumi appeared first on BaleBengong.

Memasuki Dunia Alien Child

Pernah dengar nama duo Aya-Laras BTMDG? Singkatan terakhir adalah kampung halaman mereka di Nusa Penida, Batumadeg. Mungkin agar ada ikatan kultural, mengingat keluarga seniman ini lama mukim di Kanada.

Aya dan Laras pun tumbuh di sana, sampai sekarang mereka lebih fasih berbahasa Inggris. Dunia baru mereka adalah Alien Child. Begini penjelasan mereka. Alien Child bukanlah merujuk sosok tertentu dan bukan pula Aya dan Laras.

Alien Child merupakan cerminan tentang “rumah” bagi semua orang yang pernah “terasing”, “ditinggalkan”, dan “terlupakan”.

Aya dan Laras melalui lagu ciptaannya, ingin menghadirkan sebuah “rumah teduh” menentramkan bagi siapa saja, terutama remaja yang tengah berupaya menemukan jati dirinya; bukan sosok “molek” tiruan, tetapi diri hakiki mereka yang paling murni dan alami, tidak jadi soal itu “buruk rupa” atau “mengganggu pandang”. Ya, “Alien Child” adalah rumah kebersamaan bagi siapa saja untuk diterima dan dicintai apa adanya.

“Kami yakin masa remaja terbang dari sarang, momen takeoff,” ujar Aya, 18 tahun yang baru lulus SMA. Takeoff adalah album baru mereka berisi 8 lagu berbahasa Inggris dengan musik dan aransemen mengejutkan. Kakak-adik ini tak hanya menyanyi, mereka membuat lagu, mengaransemen, dan mewujudkan elektro-pop versi mereka.

Menjadi Alien Child adalah keberanian untuk mengundang apresiasi, kritik atau pujian. Aya dan Laras yang dengan dukungan kuat orangtuaya meluncurkan single dan video klip terbarunya “Your Love” pada 3 Juni 2018 melalui akun Youtube mereka: Alien Child. Berbeda dari lagu-lagu yang diciptakan sebelumnya, bumbu ramuan musiknya lebih pekat.

“Your Love boleh jadi adalah tentang cinta yang murni, cinta yang jujur. Melalui metafor yang berlapis makna dalam syairnya, kami mengajak pendengar untuk bebas berimajinasi,” ujar Aya dan Laras.

Your Love yang video klipnya disutradarai oleh M. Rizky, merupakan salah satu dari 8 lagu terkini yang ditulis dan diaransemen sendiri. Aya (17) merupakan musisi multitalenta yang piawai memainkan biola, keyboard, dan gitar serta bernyanyi. Sedangkan Laras (16) sebagai vokal utama juga menulis sendiri lirik dan melodi lagunya. Kedelapan karya ini terangkum dalam album berjudul “TAKEOFF”.

“Ini merupakan bahasa ekspresi yang paling dekat dengan kami, mengingat kami tumbuh besar selama 11 tahun di Kanada.” Ini juga bagian dari upaya agar lagu kami dapat diapresiasi oleh publik yang lebih luas/ internasional. Namun tidak menutup kemungkinan menciptakan lagu-lagu berbahasa Indonesia bahkan mungkin memadukan dengan bahasa daerah.

Sebelumnya mereka merilis banyak lagu tentang pesan-pesan sosial yang mengkritisi aneka peristiwa di berbagai belahan dunia, sebagaimana lagu “Happy Place”, “Thousand Candles for Peace” dan “Hanya Sementara”. Mereka juga pernah tampil dalam sejumlah acara kesenian dan festival, di antaranya: Nusa Penida Festival (2015), Pentas Musik “Kembali ke Ibu” di Bentara Budaya Bali (2016), Semarapura Festival (2017), Sanur Village Festival (2017), dan Ubud Writers and Readers Festival (2017).

Selain melalui media Youtube, dalam waktu dekat lagu ini juga akan dapat dinikmati melalui platform digital lainnya seperti: Spotify, iTunes, Apple Music, Deezer, JOOX, dan lain-lain.

Dalam album ini, beberapa musisi Bali lain terlibat.  “Alien Child musisi berbakat yang diusia sedini muda sudah bisa mengaransemen, produce, dan menulis lirik secanggih itu. Luar biasanya, semua lagunya enak untuk didengar; smart, catchy, all in the right ingredients,” Ian J. Stevenson, Musisi, Lead Vocals Zat Kimia.

“Musik Sehat. Begitulah saya mengibaratkan musik Alien Child saat mendengarkan materi lagu-lagu mereka. Saya beruntung bisa terlibat dalam proses mendesign sound arangement hingga proses mixing mastering,” papar Deny Surya. Personil Dialog Dini Hari ini meraih nominasi AMI Award 2015 Kategori Mixing. Beberapa karya mixingnya adalah album Navicula “Love Bomb”, Zat Kimia, Nostress, Dialog Dini Hari, DDHEAR, Rara Sekar & Nanda (Bandaneira).

 

 

 

 

The post Memasuki Dunia Alien Child appeared first on BaleBengong.