Tag Archives: Musisi

Negri Surga Bencana dan Parau Mengerang

Negri Surga Bencana dan Parau Mengerang*
Oleh: I Wayan Gendo Suardana

Parau, suaranya serak berat, musiknyapun berat buat saya. Menghentak-hentak, menghujam adrenalin, robek lalu menyikat syaraf kepala, membuatnya seperti kesurupan. Tak peduli rambut gondrong-panjang atau cepak sekalipun, semua orang headbang.

Saya harus jujur. Saya adalah salah satu orang penggemar metal yang jarang hafal lirik. Hanya saja saya sangat senang “mengumbar” kepala, bila perlu sampai rambut panjang menyentuh lantai venue. Dari semester awal kuliah posisi saya selalu berdiri sigap jika alunan metal sudah dapat giliran di atas Panggung. Berbaris di depan panggung lalu berangkulan melemparkan kepala ke segala arah hingga esok harinya butuh waktu beberapa saat untuk menoleh jika disapa orang.

Perkenalan saya dengan Parau secara detail sekitar tahun 2004-an awal (agak lupa tahunnya). Agak lucu, saat itu saya masih di aktif di organisasi kampus yang sedang menggagas Music On the Truck untuk tahun ke 2. Sayup-sayup saya mendengar nama band Parau dimasukan sebagai salah satu nominasi aliran metal –saat itu konsepnya adalah memainkan semua aliran dalam satu panggung-. Saya beserta tim berupaya mendalami usulan ini, sampai akhirnya secara tak sengaja kami –saya dan Ghigox sang vokalis- bertemu di sebuah acara musik di kampus Udayana. Saat itu saya kaget, ternyata yang diperkenalkan adalah orang yang notabene cukup lama di perhelatan metal. Saya terkaget –kaget dan akhirnya kami cekikikan sesaat. Parau main di acara Music On the Truck, tentu setelah melalui rapat secara obyektif di kepanitiaan.

Itulah pertautan pertamakali dengan Parau. Sebagai teman lama tentu saja saya cepat akrab dengan Band ini, terlebih dengan Onche -pembetot bass- yang menurut saya berpenampilan sangar tapi berprilaku kocak plus kawan lama. Belum lagi orang-orang di balik layar yang ramah renyah. Ah lagi-lagi, saya bukan pengulas musik yang baik sehingga saya tak sanggup menulis sisi karya mereka kecuali mengulas hal-hal yang menarik dari pengamatan sederhana. Yang jelas bersama Parau, saya melewati beragam acara charity yang memberikan rasa nikmat dalam tautan nafas saya.

Seperti beberapa band yang pernah saya tulis, testimoni ini tak berbeda jauh. Parau adalah salah satu Band yang bersama-sama merintis gerakan sosial yang asik di Bali, mungkin di Indonesia. Bersama merekalah saya dkk kerap mendirikan panggung seni untuk sosial. Tiada uang sepeserpun yang keluar dari kepanitiaan. Jangankan uang untuk penampilan mereka, bahkan sekedar pengganti senar gitar yang putus ataupun pengganti stick drum yang patah tak pernah mereka minta. Semua menjadi tanggungan setiap band yang tampil termasuk Parau.

Selain Music On the Truck yang turut saya gagas, Parau sangat sigap diajak bersinergi dalam berbagai acara sosial, seperti panggung musik dari Bali untuk Jogja yang diselenggarakan di Lapangan Pegok Sesetan -acara solidaritas Jogja-. Acara yang menyatukan juga 3 manager cum organizer saat itu (Rahman, Gus Mantra dan Rudolf Dethu). Masih banyak acara lain, sayangnya batok kepala saya tidak cukup mengingatnya. Namun demikian ada beberapa cerita khusus yang lekat di kepala saya terutama dalam advokasi Menolak Reklamasi Teluk Benoa.

 

Berjuang tiada henti

Parau adalah band yang sedari awal juga terlibat penuh dalam advokasi ini. Tidak hanya di panggung musik yang kami gelar tetapi juga di jalanan, bersama-sama berteriak agar kuping Penguasa tidak bebal lagi.

Akhir tahun 2014, ForBALI bersama Rakyat Tanjung Benoa melakukan aksi massa di tengah Teluk Benoa dan dilanjutkan dengan acara musik di pinggir pantai. Parau juga turut hadir dan mendedikasikan diri dalam acara tersebut. Uniknya, walaupun saat itu Ghigox –sang vokalis- berhalangan hadir karena ada acara yang tidak bisa ditinggalkan, Parau tetap datang dan manggung. Saya dalam hati tak kuasa menahan haru, mereka main dengan additional vokal. Hasilnya, tetap keren, greget dan dahsyat. Selesai main saya segera ke belakang panggung. Dalam suasana pantai yang gelap, saya berkali-kali mengucapkan terimakasih. Totalitas mereka yang membuat saya begitu haru.

Tak hanya selesai sampai disitu. Saat ForBALI bersama kelompok pegiat musik dan seniman bahu-membahu membuat acara di Padanggalak bertajuk “Tolak Reklamasi Teluk Benoa Art Event” -satu acara yang dilakukan untuk mengkampanyekan gerakan rakyat Bali menolak reklamasi Teluk Benoa yang sampai detik ini dipaksakan oleh kekuasaan dan pemodal dengan berbagai cara-. Acara yang minim dana namun berhasil membuat gebrakan dan bahkan dihadiri kurang lebih 50 ribu orang. Dahsyat!

Parau  dijadwalkan main sebagai penampil puncak –setelah Superman Is Dead dan Nymphea-. Namun apa daya, banyaknya kawan-kawan seniman yang mau main membuat waktu yang dijadwalkan tidak cukup. Padahal acara tersebut digelar dari pagi -12 jam-. Jam 23.00 wita pihak kepolisian sudah memperingati agar acara selesai, sementara 3 band belum manggung termasuk Parau. Negosiasi tidak behasil penuh, pihak kepolisian hanya memberi toleransi 1 band saja, akhirnya Nymphea dan Parau tidak bisa main.

Duh! Saya dan Gung Anom Antida sudah kehabisan akal. Kami berdiskusi termasuk dengan STT. Yowana Dharma Kretih Kedaton Kesiman -panitia bersama-. Negosiasi kami tak tercapai penuh dan dengan terpaksa kami menyampaikan kepada Nymphea dan Parau yang sedang “pemanasan” di belakang panggung. Gung Anom sebagai sesepuh acara yang berbicara kepada teman-teman ini. Sementara saya sudah terduduk lemas di kursi yang ada di belakang panggung. Perasaan saya waktu itu sudah campur aduk.

Tak diduga, Ghigox mendekati saya yang sedang duduk menundukan kepala – rasanya berat 2 ton- hehe, dia memegang saya sambil berkata: “bro, santai jangan kayak gitu, Kami santai kok”. Wah saya kaget luar biasa, saya meminta maaf atas keadaan itu. Tapi lagi-lagi Ghigox membesarkan hati saya: “Bro, kan acara kita gak berhenti sampai di sini aja, ayolah semangat, jangan sedih. Santai kamu harus fokus menyelesaikan acara ini. Ini acara kita bersama.” Kata-kata itu terekam di kepala syaa sampai detik ini. Belum lagi Onche dan manager Band menghampiri dan menyemangati saya. “Ok, mari kita tuntaskan kerja ini,” demikian semangat Saya terlecut.

Mungkin yang membaca cerita ini, bisa beranggapan ini sandiwara atau kepura-puraan dari Parau. Jika ada yang berpendapat begitu maka saya pastikan itu anggapan itu salah. Mereka benar-benar tulus, karena setelahnya Parau tetap hadir dalam aksi-aksi yang kami gelar di renon dengan semangat yang sama, dengan teriakan yang masih sama, Lawan! Demikian juga Parau tetap bersedia tampil dalam acara lanjutan dengan panggung di atas Laut Padang galak “pagelaran yang tertunda”. Parau tetap hadir, formasi lengkap dengan kegarangan yang sama dengan semangat bermusik yang tetap cadas.

Ah, kalian memang hebat. Parau namamu bukan keparauan idealismemu. Lirik lagumu tak sumbang jadi nada garang di atas panggung. Lagumu adalah manifestasi suara hatimu dan tindakan perlawananmu. Melawan kekuasaan yang tak punya hati, andalkan teori rekayasa yang terbukti cacat. Mereka kaum “terorema cacat empiris”

Lidah berbisa
Lahirkan rekayasa
Pandai bicara
Singkirkan fakta
Tak mau mengalah
Benarpun kau tak pernah
Andalkan gengsi
Cacat berikan bukti…

 

Suaramu Parau, setidaknya mencoba menghajar kuping dan nurani Penguasa sebelum Bali ini menjadi “Surga Bencana” dan Pralaya menghapus cerita perjuangan semesta melawan pengkhianat alam.

 

Denpasar, 19 Maret 2015
*Kudedikasikan tulisan ini bagi Parau. Tulisan yang seharusnya sudah kubuat sejak 2010. Maju terus Kawans

NOSSTRESS DENDANG PROTESS

NOSSTRESS DENDANG PROTESS

Oleh: I Wayan Gendo Suardana

Entah apa yang membuat saya ingin menuliskan tentang 3 sosok pemuda ini. mungkin sedikit pengaruh Guan-Guan Ho yang disajikan di resepsi pernikahan sahabat saya (Bobi dan Arum). Bisa juga karena lagu merekalah yang kerap diputar oleh Sang Gerwani di pagi hari. Entahlah yang jelas saya tiba-tiba sangat ingin menuliskan sosok-sosok ini.

Tampilan mereka kadang terlihat tidak meyakinkan, jauh dari kesan musisi yang punya kualitas handal. Bayangkan saja, setiap manggung mereka hanya berkaos oblong, bercelana pendek , dan bersandal jepit. kesan itu selalu terngiang di kepala karena tampilan seperti itu yang  pertamakali saya lihat sewaktu mereka bermain di serambi antida (almarhum). Hanya wajah-wajah ganteng dan imut saja yang menopang dan menyelamatkan mereka dari asumsi itu.

Ah..sejak kapan kualitas bermusik ditentukan oleh penampilan, bukankah itu tidak ada relevansinya sama sekali? Atau kepala saya yang terlalu koservatif? Tapi faktanya memang demikian. Lelucon yang kadang garing sering menipu kita. Saya benar-benar tertipu karena semua asumsi itu pupus kala mereka memainkan lagu.  cukup 2 gitar akustik dan cajoon ditimpali vocal nan yahud mampu membuat kita tak beranjak. Itulah mereka Nosstress!

 

Memupus Stres

Seperti terlihat, nama itu bermakna lagu mereka akan memupus stress bagi yang mendengarkan. Laksana angin sepoi dikala udara panas, Nosstress memberikan kenyamanan. Tingkah polah saat mereka manggungpun serasa pijatan therapist ala Komang Tole (therapis cum aktifis WALHI Bali). Mampu melemaskan otot terkaku sekalipun. Ehm, tulisan ini seperti memuji mereka bahkan cenderung hiperbolik, namun itulah adanya.

Siapa sangka, serombongan pengunjung berbadan diatas rata-rata (meminjam istilah Alfred) yang menyambangi konser mini ForBALI di Mangsi Cofee  “takluk” oleh mereka. Suasana tegang karena kedatangan pria-pria yang terkesan tak bersahabat menjadi cair. Otot fitness langsung  rileks seperti habis dipijat therapisht, membuat pria –pria tersebut terhipnotis “menyetorkan” botolan bir dingin ke mereka. Alhasil konser mini berhasil ditutup dengan heroik. Keadaan tegang pegiat ForBALI dipupus oleh Nosstress, semua menjadi mengharu biru lalu berubah menjadi ceria. Hilang stress!

Mereka seolah mahluk yang diciptakan untuk menghibur, membuat orang-orang disekitarnya tertawa. Tak ada satupun bagian tubuh mereka yang tersisa. Selain digunakan untuk bernyanyi dan memainkan alat musik, mulut Angga berceloteh ala stand up comedy, demikian juga Guna Kupit dan Cok yang kerap menjadi tandem “debat”.  Gerak tubuh merekapun terbilang gila. Lihatlah foto-foto atau rekaman videonya, sangat susah menemui pose-pose serius atau acting yang kalem. Mulai dari menari, bergaya orang gila bahkan kadang bergaya seksis dan masih banyak lagi. Jika kita tidak mengontrol urat tertawa, mulut akan terasa capek dan perut akan mulas karena over tertawa. Untunglah setiap mereka manggung toilet tidak terlalu jauh.

Diluar perilaku mereka yang norak bin buduh itu, hal yang menampar kepala kita pastilah lagu-lagunya. Penuh dengan pesan-pesan kemanusiaan, lingkungan dan kritik sosial. Lirik yang sederhana dan lugas, membelah hati kita untuk meresapi. Sebut saja lagu berjudul “tanam saja”. Lagu yang mampu membuat saya terbangun setiap pagi tanpa merasa terganggu  walaupun dinyanyikan keras-keras oleh keponakan saya. Atau lagu “kita” yang membuat sedang di atas “jamur tahi sapi” di musim hujan. Tentu saja yang saat ini paling fenomenal adalah lagu Bali Tolak Reklamasi. Lagu yang membuat seorang JRX-SID tidak kuasa menahan hasrat untuk merekam lagu ini kala pertamakali dia dengar di acara hearing dalam gedung DPRD Bali. “Lagunya bagus nok, kita rekam aja yuk. Segera!”, ujar JRX kepada saya. Lalu dimulailah proses itu sehingga menjadi anthem gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Alhasil, saat ini hampir disemua lapisan mengenal lagu ini dan menyanyikanya dengan fasih. Nada yang asik, lirik yang lugas ditambah dengan spririt perjuangan menjadikan lagu ini begitu gampang merasuki relung-relung hati masyarakat.

Ah, saya tak hendak membahas lagu-lagu mereka. Teknologi sudah cukup memberikan akses setiap orang untuk mencari lagu mereka, mengunduhnya lalu menghafal kemudian meresapi. Tentu saja saya kalah jauh jika berbicara soal lagu-lagu Nosstress. Yang hanya tahu beberapa lagu saja, kadang hanya pada bagian reff-nya itupun kadang lupa.

 

Ber”lagu” dalam praksis

Saya hendak mengurai, sisi lain dari personil Nosstress yang mungkin jarang diketahui public. Mungkin banyak pihak yang menganggap bahwa lagu-lagu dengan tema-tema kritik social dari mereka hanyalah sebatas pencitraan. Bisa jadi ada tudingan sok ngaktifis. Terlebih lagi semenjak lagu Bali Tolak Reklamasi dan  keterlibatan mereka dalam gerakan bali tolak reklamasi teluk Benoa. Mengingat cukup sering tudingan-tudingan sinis ini muncul dan menganggap musisi yang terlibat hanya sekedar agar dianggap peduli social.

Semenjak terlibat bareng dalam gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa, intensitas pertautan kami cukup tinggi. Tidak hanya dalam kegaitan-kegiatan yang terkait advokasi ini namun kerap kami bertemu dalam ruang-ruang informal.dari komnikasi intens ini saya tahu bahwa mereka adalah pemuda yang tidak hanya idealis dalam lagu tapi juga mempunyai idealism dalam praksis.

Tidak berjarak dan selalu mengambil peran dalam kerja kolektif adalah tipikal pemuda-pemuda ini.   Bukan hal yang aneh jika dalam persiapan kegiatan-kegiatan ForBALI seperti kegiatan konser mini anda akan menyaksikan mereka bergulat peluh, membawa alat-alat ke venue konser mini, memasang banner, mengatur soundsistem, mengatur meja-meja pengunjung, menyapu lantai sampai melakukan check sound.

Semisal pada saat pasar mini I, selain memasang banner acara, Angga terlihat mengangkat berkrat-krat Bir untuk dijual di venue, mengatur dan memasukan ke pendingin. Lalu mengatur sound sebentar. Setelah usai, pulang sebentar untuk mandi dan segera kembali ke venue dengan menenteng gitang untuk main nantinya. Tak banyak istirahat dia langsung didaulat menjadi MC acara bersama Vio. Sepanjang acara dia cuap-cuap. Dan dipertengahan acara Angga rehat dari profesi MC , mengambil gitar dan memainkan lagu bersama Guna KUpit (Cok saat itu sedang sakit).

Kadang disela lagu Angga harus kembali menjadi MC untuk melelang karya para seniman yang didedikasikan bagi pergerakan ForBALI. Tak pelak sepanjang acara waktu tidak ada waktu bagi angga termasuk Guna Kupit untuk istirahat. Pun selesai acara mereka kembali harus bersama-sama merapikan venue. Menurunkan banner, merapikan meja kursi, membersihkan venue serta mengembalikan sound system. Sungguh melelahkan.

Aktifitas yang kerap mereka lakukan sepanjang  mengadvokasi kebijakan reklamasi Teluk Benoa. Semangat membara senada dengan spirit lagunya. Beraksi di panggung, menghujam telinga dan hati pendengarnya. Disaat yang sama meneduhkan hati sembari membasuh nurani agar lebih bersih melihat dunia. Lebih arif dalam menyikapi kehidupan.

Bagi  pendengar dan penyaksi Nosstress, band ini benar-benar memberikan kesejukan, kenikmatan dan refleksi kehidupan. Stress menjadi hilang persis kegembiraan para  perempuan dan anak-anak Suku Tubu yang menemukan sumber air  setelah berminggu-minggu menavigasi bukit tak berujung di Gurun Sahara.

Namun hal yang berbeda akan dirasakan oleh penguasa. Lagu Nosstress mungkin tidak menghilangkan stressnya. Hujaman kritik niscaya membuat Penguasa tidak bisa tidur. Ibarat kuping yang setiap saat “dikelitikin” dengan bulu ayam. Tidak sakit tapi membuat geli dan jika intensitas tinggi akan berubah menjadi gangguan. Terlebih jika lagu anthem Bali Tolak Reklamasi bergema tak kenal umur, maka penguasa akan bertambah stress.

Nosstress bagi Rakyat, Yesstress bagi Penguasa! Itulah sekiranya yang tepat menggambarkan keadaan ini.

“…Esok ku kembali semoga
esok ku kembali semoga pemimpin menambah prestasi
bukannya menambah BALIHO… (reff dari lagu “ini judulnya belakangan” by nosstress)

 

Denpasar 24/11/2013 pukul 3.59 Wita

 

 

NAVICULA; GREEN MUSICIAN (Saatnya taklukan London)

NAVICULA; GREEN MUSICIAN

(Saatnya taklukan London)*

by: Wayan Gendo Suardana

Penguasa, jagalah dunia

Bumi kita, rumah kita bersama

Amerika, kurangi emisi gasmu

Jerman juga, hentikan agro-kimia

Jepang Cina, harusnya jaga Asia

Kita semua, telah over konsumsi…

(kutipan lyric “over konsumsi ” dari album Salto, by Navicula)

Merinding, bila mendengar lagu ini dikumandangkan oleh mereka sekumpulan musisi yang selalu mengispirasi setiap orang untuk menjadi humanis dan mencintai lingkungan.  Susah mencari tema lagu cinta cengeng nan melankolis ala melayunesia (meminjam istilah dari Rudolf dethu)  dalam album-album mereka karena cinta telah menjadi sangat universal dalam setiap denting nada dan kuasa lirik mereka.

Ya, itulah Navicula! Band dari tanah dewata yang sepertinya ingin menjadikan Bali sebagai pulau Dewata sejati bukan hanya lips service. Mengembalikan setiap jengkal tanah kepada hakikat aslinya, mengembalikan pantai mimpi (dreamland-red) yang telah berubah akibat serakah manusia, tiada henti mengingatkan setiap manusia untuk segera berubah perilaku sebelum dipaksa menghitung mundur oleh alam karena kita terlalu over konsumsi. Dan semuanya perlahan telah membuat manusia menjadi Alien di habitatnya sendiri, karena bumi bukan lagi surga.

Navicula dalam pandangan saya sering terlihat sebagai kumpulan seniman pemberontak, yang setiap waktu mendedikasikan karyanya untuk melawan sistem yang rakus. Sama dengan kompatriotnya -Superman Is Dead-, Navicula tidak hanya menempatkan musiknya sebatas untuk musik namun musik. Mereka telah menjadi bahasa penyadaran bagi kemanusiaan terutama lingkungan. Bahkan beberapa kalangan telah menempatkan mereka sebagai green musician atau enviromentalis band.

Julukan itu sepertinya tidak berlebihan, karena suara Navicula tidak hanya berhenti dalam aksi panggung semata, lalu turun panggung menyapa para fans lalu kembali keperaduan dengan satu kepuasan; “tampilan tadi cadas.”

Navicula telah melampau semua itu, mereka akan selalu kelihatan dalam setiap kampanye-kampanye lingkungan dan  kemanusian. Dalam ingatan penulis, Navicula akan segera menganggukan kepala bila didaulat untuk tampil dalam acara-acara charity bahkan tidak pernah absen dalam penggalangan dana bagi solidaritas korban bencana dinegeri ini,   juga diatas panggung kampanye-kampanye sosial. Bahkan Navicula pernah didaulat menjadi pengkampanye “Aware Bencana” oleh LIPI keberbagai daerah termasuk sampai ke Papua.

Dengan kualitas musikalitas yang yahud, penampilan Navicula sangat mengispirasi setiap orang yang melihat mereka.  Kemampuan Danky -sang gitaris- tidak perlu diragukan, lalu Made Indra pembetot Bass yang cool, gebukan drum Gembul yang mampu menggetarkan nyali setiap orang; sungguh kombinasi yang membuat Navicula begitu garang.  Belum lagi Robby vokalis band ini yang tidak hanya jago dalam membawakan lagu namun sekaligus pula adalah orator ulung. Setiap kata membius dan mendoktrin kepala merasuk ke hati. Semuanya selaras dengan lirik lagu mereka.

Kualitas musical mereka pula kemungkinan menyebabkan Sony music pernah menggaet mereka dari jalur indie. Walaupun pada akhirnya Navicula memilih untuk tidak meneruskan jalur mayor label nya dan kembali ke indie bergulat dengan komunitas-komunitas yang sebelumnya telah membesarkan mereka. Komunitas adalah laboratorium bagi Navicula.

Lirik lagu navicula sarat makna bahkan lirik mereka ibarat alunan pesan para filsuf di era moderan. Filsafat yang terkemas music grunge mereka. Entah berapa buku yang dibaca, atau berapa diskusi yang  dilalui untuk membuat lirik seperti itu atau mungkin saja mereka tidak perlu melewati banyak diskusi karena lirik mereka muncul sebagai curahan jiwa setelah ter-fermentasi kegundahan cairan otaknya.

Saat ini Navicula sedang mengikuti hardrock battle of bands dan saat ini Navicula berhasil masuk 40 besar. Apabila event ini dimenangkan oleh Navicula, maka mereka akan mewakili Indonesia untuk tampil di London bersama musisi-musisi legend macam Bon Jovi dll.

Melihat kiprah Navicula, maka paparan diatas menjadi cukup beralasan untuk mendukung mereka agar bisa memenangi event tersebut. Sudah saatnya band seperti Navicula didukung agar menang dan mewakili Indonesia. Band yang secara jelas punya integritas dan dedikasi kemanusiaan.

Sudah waktunya band seperti Navicula hadir diajang internasional dan mengkampanyekan gagasan-gagasan kemanusiaan. Momentum ini harus menjadi meomentum bagi seluruh pegiat music, pegiat kemanusiaan  pegiat lingkungan untuk menjadikan music sebagai bahasa universal, sebagai bahasa kemanusiaan  dan penyadaran lingkungan.

Pilihan memang ada disetiap pribadi masing-masing. Tapi bukankah lebih baik sesekali kita memberikan ruang berekspresi kepada band-band yang memang selama ini mendedikasikan karyanya untuk kemanusiaan dan lingkungan daripada kepada mereka yang hanya menempatkan karyanya untuk kepentingan timbal-balik industry?

Navicula adalah salah satu band yang cukup alasan untuk didukung dengan klik: www.hardrockbattleofbands.com/navicula/. vote terakhir kalian buat Navicula akan berarti bila dilakukan paling lambat tanggal 24 April 2011, karena sehari setelah itu  (25 April 2011) akan dilakukan penghitungan suara untuk penetuan pemenangnya.

Jika ingin kampanye lingkungan dan kemanusiaan menggetarkan London; Bila ingin melihat Band komunitas menembus dominasi maka lakukan segera tindakan: VOTE NAVICULA!

———————————-

Denpasar, 17 April 2011

*tulisan ini didedikasikan untuk Navicula atas segala bentuk perjuangannya selama ini bagi kemanusiaan dan lingkungan.