Tag Archives: musik

Pelayaran Terakhir Made Indra di “Earthship”

Sehari sebelum meninggal, Made Indra menyelesaikan rekamannya.

Mendiang Made Indra, pemain bass Navicula selama 12 tahun ini, mendapat penghormatan dalam album ke-9 band ini. Made meninggal dalam kecelakaan mobil bersama teman dekatnya sehari setelah merampungkan mengisi gitar bass album ini.

Sebelum kehilangan Made, Navicula juga melepas drummer lawasnya yang bergabung sejak 1996, Gembull. Tahun yang cukup melelahkan bagi personel tersisa, Gede Robi (vokal, gitar) dan Dadang Pranoto (gitar). Pengganti Gembull adalah Palel Atmoko (drum), dan Krishna Adipurba (additional bassist).

Kelelahan secara psikis coba dilawan dengan berkarya. Inilah 9 judul lagu album Earthship, secara berurutan adalah Di Depan Layar, Biarlah Malaikat, Nusa Khatulistiwa, Ibu, Dagelan Penipu Rakyat, Tentang Harga Diri, Serahkan Dirimu pada Cinta, Emily, Lagu Sampah, dan Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti.

Dua lagu sudah familiar di telinga pendengar Navicula karena sudah dirilis sebelumnya, keduanya tentang ibu. Pertama lagu Ibu, penghormatan bagi pejuang lingkungan petani Kendeng dan lagu penghormatan pada tradisi Nyepi sebagai salah satu kearifan lokal merehatkan ibu bumi.

Bagaimana rasanya menikmati Earthship yang sudah bisa disimak di platform etalase musik digital? Beberapa orang menyebut belum ada yang “nempel”. Namun jika disimak lebih dari sekali, ada banyak warna dan eksplorasi. Robi ng-rap, alat musik tradisional di Nusa Khatulistiwa, dan misi aktivisme khas Robi.

Navicula akan merilis album ini pada peringatan hari Pahlawan, 10 November di sebuah mall baru di tengah Kota Denpasar. Pilihan yang mengejutkan, karena di seberang venue ada bioskop. Apakah distorsi grunge dan rock akan menarik pengunjung ke lantai paling atas mall ini?

Dalam siaran persnya disebut album ini adalah karya terakhir yang selesai direkam oleh almarhum Made Indra tepat sehari sebelum kecelaakan yang menimpanya pada 24 Maret 2018. “Album ini spesial. Made mengisi seluruh bagian bass dalam album Earthship. Album ini kami dedikasikan untuk Made,” kata Gede Robi, vokalis dan gitaris Navicula.

Album Earthship yang diproduseri oleh Yayasan Manik Bumi berisi 10 lagu mengenai lingkungan, kritik sosial, pluralisme, dan situasi politik di Indonesia. Album ini masih bernapaskan semangat yang terus ditiupkan Navicula yaitu perdamaian, cinta, dan kebebasan.

Untuk peluncuran album Earthship, Navicula ingin menyajikan konser yang intim. Tiket yang dijual tak lebih dari 200 lembar. Konser ini juga menampilkan Zat Kimia dan Made Mawut.

Pada konser ini Navicula akan merilis video klip single kedua dari album Earthship berjudul “Di Depan Layar“ yang disutradarai oleh Erick EST. Sebagian gambar video klip “Di Depan Layar” diambil  pada perjalanan tour di Australia, November 2017.

Sebelumnya Navicula telah merilis video klip lagu “Ibu” pada Juni 2018 dan lagu “Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti” pada Hari Raya Nyepi tahun 2016.

Di konser spesial ini, Navicula juga akan membagi video perjalanan selama tur di Eropa pada 3-17 Oktober lalu. Navicula menyambangi beberapa kota di enam negara, yaitu Jerman, Austria, Slovakia, Hungaria, Polandia dan Republik Ceko.

“Awalnya karena ada undangan dari Pasar Hamburg. Lalu Navicula mengambil kesempatan ini dengan menambahkan durasi tour dengan bermain di lima negara di Eropa lainnya,” kata Robi.

Pasar Hamburg adalah event tahunan di Hamburg, Jerman dan untuk lanjutan tur di kota lain Navicula bekerja sama dengan komunitas kreatif Siasat Partikelir.

Penampilan Navicula di acara Kopernik Day 2018: Perayaan 8 Tahun Kolaborasi dan Inovasi. (Photo credit: Fauzan Adinugraha/Kopernik)

Film Pulau Plastik

Selama tur Eropa, Navicula memutar video promo film Pulau Plastik, serial dokumenter tentang carut marut masalah sampah plastik di Bali. Pulau Plastik yang rencananya akan dibuat sebanyak 8 episode membahas masalah sampah plastik secara mendetail, terkait manajemen, inisiatif lokal, data dan statistik, peran pemerintah, itikad pengusaha, kesadaran publik, dan kebijakan lokal.

Sampah plastik kini menjadi isu penting di nasional dan internasional karena buruknya pengelolaan sampah membuat massifnya plastik yang berakhir di lautan. Ancaman seriusnya kemudian adalah mikroplastik yang terkandung pada ikan yang dikonsumsi manusia.

Pada Pulau Plastik, Robi menelusuri persoalan sampah plastik dari pola konsumsi masyarakat yang kemudian berakhir menjadi masalah yang kemudian dikonsumsi kembali oleh masyarakat. Film ini adalah kolaborasi antara Akarumput, Kopernik, ASA Film, Ford Foundation, National Geographic, dan The Body Shop.

Film ini dimaksudkan untuk mendukung kolaborasi berbasis solusi antara masyarakat, pemerintah, dan korporasi. “Semua pihak diharapkan duduk bersama dan berkomitmen mencari solusi mengenai pengurangan pemakaian plastik terutama konsumsi plastik sekali pakai,” kata Robi. [b]

The post Pelayaran Terakhir Made Indra di “Earthship” appeared first on BaleBengong.

Navicula Unjuk Gigi di Enam Negara Eropa

Usai meluncurkan album baru, Navicula langsung terbang ke Eropa.

Band grunge rock asal Bali ini kembali akan melangsungkan tur. Kali ini mereka akan unjuk gigi di enam negara di benua Eropa yaitu Jerman, Austria, Slovakia, Hungaria, Polandia dan Republik Ceko.

Navicula beranggotakan vokalis dan gitaris Gede Robi, gitaris Dadang Pranoto, penabuh drum Palel Atmoko, dan basis tambahan Krishna Adipurba.

Dalam tur ini Navicula akan berkolaborasi dengan seorang visual artist dari Bali, Kuncir Sathya Viku. Kuncir akan menuangkan lagu-lagu Navicula ke dalam karya visual.

Tur berlangsung mulai 4-17 Oktober 2018.

Jerman menjadi persinggahan pertama. Di negara ini Navicula menjadi pengisi acara utama Festival Budaya Indonesia terbesar di Eropa, Pasar Hamburg. Ini adalah festival budaya Indonesia yang lahir dari kerinduan akan tanah air, membakar semangat hingga dapat mewujudkan visi dan misi untuk menjadikan Pasar Hamburg sebagai simbol Indonesia di Eropa.

Pasar Hamburg memperkenalkan budaya Indonesia dengan menyajikan beragam program kesenian yang menarik minat masyarakat Eropa: seni klasik, tradisional hingga modern. Ada pula konser musik, pentas tari, beragam diskusi sastra, pameran seni rupa hingga pemutaran film dan pameran fotografi.

“Suatu kehormatan Navicula bisa memiliki andil mengenalkan Indonesia lewat musik yang kami bawa,” kata Robi, vokalis Navicula.

Selepas Pasar Hamburg, Navicula melanjutkan perjalanan ke lima negara lain. Mereka bersama Siasat Trafficking, program milik Siasat Partikelir, kolektif kreatif yang fokus mengangkat cerita gerakan dan perubahan oleh anak muda dengan menggunakan berbagai platform media. Perjalanan ke Eropa ini juga tidak lepas dari dukungan Eiger, Akarumput dan Kopernik.

Tur ini layaknya sebuah bara yang membakar semangat untuk mengabarkan pada dunia album Navicula ke-9 “Earthship” telah rilis pada 1 Oktober 2018. Lahirnya album baru dan pencapaian menjejakkan kembali kaki ke dunia luar dengan membawa wajah Indonesia, mengumandangkan karya dan akan meninggalkan jejak.

“Sudah selayaknya dan inilah saatnya kita menunjukkan citra Indonesia ke “luar” bukan melulu hanya pencitraan ke dalam,” Jelas Gede Robi, pentolan Navicula. [b]

Berikut jadwal tur Navicula selama di Eropa.

Oct 4th 2018 Duncker Club, Berlin, German
Oct 6th 2018 Pasar Hamburg, German
Oct 7th 2018 Pasar Hamburg, German
Oct 9th 2018 Arena Beisl, Vienna, Austria
Oct 10th 2018 Music a Café, Nitra, Slovakia
Oct 11th 2018 S8 Underground, Budapest, Hungaria
Oct 12th 2018 Miesjsce, Warsaw, Polandia
Oct 13th 2018 Ada Pulawska, Warsaw, Polandia
Oct 14th 2018 Rock Café, Praha, Republik Ceko

The post Navicula Unjuk Gigi di Enam Negara Eropa appeared first on BaleBengong.

Menanti Kolaborasi Okokan dan Drum Perkusi di Soundrenaline

Bali Ekstreme Drummer dan Tim Okokan yang berlatih di Kediri, Tabanan. Foto Mario Lourdi.

Tersebutlah babad tentang asal muasal gunung-gunung di Bali.

Sebuah cerita lama (Babad Batudewa) menyebut tentang beliau, Bhatara Hyang Pasupati, yang beristana di Giri Mahameru. Beliau sangat kasihan melihat Pulau Bali dan Selaparang yang bergoyang bagaikan perahu.

Kemudian, Hyang Pasupati memenggal lereng Gunung Mahameru yang diturunkan di Pulau Bali dan di Selaparang, Ki Badawangnala ada di dasar gunung, Sang Naga Basukih yang mengikat gunung, Sang Naga Taksaka yang menerbangkan gunung. Sang Naga ini kemudian memunculkan empat gunung (Catur Lokapala) yaitu di timur Gunung Lempuyang, di selatan Gunung Andakasa, di barat gunung Batukaru dan sebelah utara gunung Mangu, dekat dengan gunung Tulukbiyu.

Pada saat itu hujan lebat. Gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara gemuruh. Pulau Bali pun bergetar. Dengan lamanya hujan, meletuslah Gunung Agung (Hyang Tohlangkir) yang mengeluarkan lahar panas.

Selayaknya kisah tersebut, beberapa bulan belakangan aktivitas Gunung Agung pun kembali aktif. Peristiwa ini pula yang menjadi inspirasi garapan bernama Giri Tohlangkir. Giri Tohlangkir dalam beberapa lontar Bali adalah sebutan untuk Gunung Agung itu sendiri.

“Tantangannya adalah bagaimana mempresentasikan Gunung Agung dengan segenap spirit dan magisnya ke dalam bebunyian dalam bentuk garapan kolaborasi,” ujar Putu Hendra Brawijaya Putra selaku produser garapan ini.

Berangkat dari latar belakang tersebut, kemudian tercetuslah ide untuk menggabungkan okokan dan drum perkusi ke sebuah kolaborasi yang disebut “Bali Project”. Kolaborasi ini akan ditampilkan dalam gelaran Soundrenaline 2018 pada 8 & 9 September 2018 pukul 18.30 WITA.

Okokan adalah instrumen bebunyian berbentuk lonceng kayu yang biasanya digantungkan di leher sapi. Hanya saja dengan ukuran lebih besar. Munculnya instrumen ini tentunya tidak lepas dari Bali yang memiliki kelompok masyarakat agraris dengan tradisi bercocok tanam. Okakan dimainkan dengan cara menggantungkannya pada sebuah pikulan yang kemudian digoyang-goyangkan.

Kolaborasi Menggetarkan

Kali ini para pemain okokan akan berkolaborasi dengan kelompok perkusi Bali Extreme Drummer (BXD) untuk Bali Project. Tentunya hal ini sangat membanggakan apalagi bisa menjadi bagian dari keberagaman ekspresidi Soundrenaline 2018.

“Harapannya kolaborasi ini dapat menginspirasi para penikmat musik dan seni kreatif tanah air terutama Pulau Dewata,” ujar I Gusti Putu Adnyana, Koordinator Okokan Brahma Diva Kencana, Delod Puri, Kediri, Tabanan.

Sekaha (kelompok) penabuh okokan terdiri dari 60 orang dan pemain perkusi recycle dari Bali Extreme Drummer terdiri dari 11 orang. Memadukan okokan dengan drum dan perkusi adalah pilihan tepat. Selain melengkapi lapisan bunyi garapan ini, latar belakang gamelan Bali yang didominasi oleh instrumen musik pukul juga menjadi pertimbangan.

Sekeha (Kelompok) Okokan Brahma Diva Kencana sendiri merupakan salah satu komunitas seni okokan paling berpengaruh di Bali saat ini. Penampilan mereka di beberapa festival besar selalu membuat penonton terpukau dengan vibrasi suara yang seolah-olah membawa kita ke dimensi berbeda.

Di sisi lain, BXD menjadi inspirasi bagi penggiat seni di Bali karena kiprah para anggotanya sebagian besar adalah drummer dari band-band yang sedang emerging di Bali. Komunitas ini juga pernah menggetarkan panggung Soundrenaline di tahun 2017 bersama Navicula.

Gede Putra Budi Noviyana selaku arranger mengatakan cara paling masuk akal membuat aransemen garapan ini adalah dengan memecah gamelan okokan menjadi beberapa potongan, kemudian menyisipkan bagian perkusi BXD lalu menggabungkannya. Nova juga dikenal sebagai drummer dari band Scared Of Bums, di mana band tersebut akan berbagi panggung dengan “Bali Project” di Soundrenaline 2018.

Sejatinya kedua kelompok ini, yaitu Sekaha Okokan Brahma Diva Kencana dan Bali Extreme Drum belum pernah bertemu apalagi berkolaborasi. Karena itu proyek ini menjadi tantangan bagi kedua belah pihak untuk dapat menggabungkan ekspresi berbeda menjadi sebuah karya yang dapat menginspirasi.

Untuk itu mereka beberapa kali latihan setelah susunan musikal (aransemen) dibuat dan disepakati. Latihan kolaborasi ini dilaksanakan beberapa kali di Banjar Delod Puri, Kediri, Tabanan, Bali. Tantangan terbesar yaitu ketika bagaimana membuat sebuah harmoni melibatkan lebih dari 75 orang dengan karakter instrumen berbeda-beda. [b]

The post Menanti Kolaborasi Okokan dan Drum Perkusi di Soundrenaline appeared first on BaleBengong.

Tur Band Solo dan Jogja di Pulau Dewata

Havinhell salah satu band dari Jogja yang akan melakukan tur di Bali pada 27-31 Agustus 2018.

Bali menjadi pilihan karena kedekatan kultur dengan kota asal empat band ini.

Tiga band Yogyakarta dan satu band Solo akan menggelar tur di beberapa titik di Bali sepanjang 27-31 Agustus 2018. Empat band itu Havinhell, Rokester, dan Roket dari Yogyakarta dan Fun As Thirty dari Solo.

Selain untuk menghibur anak muda dan penggemar musik, tur mandiri empat band ini juga untuk lebih memperkenalkan dan dan mendekatkan di ke para pecinta musik di Pulau Dewata ini.

Kiki Pea, vokalis Roket sekaligus tour manager HAVIN FUN TOUR X FUN AS TOUR ini mengatakan memilih Bali karena kedekatan dengan Jogja, terutama secara kultur anak muda. “Seringkali band-band Bali melakukan tur secara mandiri di Jogja. Kini saatnya kami membalas kunjungan mereka,” kata Kiki Pea.

Benang merah yang menghubungkan empat band dalam HAVIN FUN TOUR X FUN AS TOUR ini adalah kesamaan genre yang mereka mainkan, yang tidak lepas dari kultur punk/garage rock.

Tiga band asal Yogyakarta sepakat menggelar tur bersama usai melakukan gabungan formasi di acara charity “Lombok Calling” di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Pada acara itu, tiga band ini berkolaborasi menjadi satu formasi bertajuk Roket X Havinhell X Rokester.

Tidak Utuh

Salah satu personel Havinhell, Ika, saat ini sedang menyiapkan kelahiran anak kedua, jadi sementara tidak memungkinkan ikut manggung.

Ajeng, gitaris dan vokalis Havinhell yang kerap berkolaborasi dengan Superman Is Dead mengatakan meski tanpa personel utuh, atas kesepakatan bersama, Havinhell tetap melakukan tur untuk mempopulerkan karya mereka di Pulau Dewata.

Masing-masing band di HAVIN FUN TOUR X FUN AS TOUR ini bisa dibilang memiliki keunikan yang menjadi ciri dan karakternya masing-masing. Seperti Havinhell, band punk yang eksis sejak 2009, selain produktif berkarya mereka juga terus bereksplorasi musik melalui apa yang mereka istilahkan “Sweet Punk”, ini tercermin di album mereka “Super Fighter” yang rilis 2012 lalu.

Lalu ada ROKESTER, sebuah band grunge/garage rock yang dibentuk 2016 lalu. Manifestasi ide-ide liar dari ketiga personil band ini bisa dicicipi di album LI(F)E yang rilis 27 Juli 2018 lalu. Pada penampilannya nanti di tour ini, mereka akan melakukan promo album baru tersebut.

Lain lagi dengan ROKET, band yang masing-masing personelnya juga memiliki band lain di luar Roket ini. Meskipun berusia paling muda di antara band-band di HAVIN FUN TOUR X FUN AS TOUR, tetapi dari sisi perjalanan bermusiknya tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam beberapa bulan terakhir, band ini sukses memporak-porandakan skena musik Yogyakarta dan sekitarnya.

Tak ketinggalan FUN AS THIRTY, band asal Solo yang meskipun berusia muda namun memiliki personel yang sudah malang melintang di dunia musik. Mereka juga telah meluncurkan album debut mereka berjudul F.A.T di tahun 2017. Di Bali mereka akan menyapa para penikmat musik dengan hentakan musik khas melodic punk.

“Bagi kami hajatan ini adalah agenda yang sudah ditunggu, karena melalui tur ini kami dapat lebih memperkenalkan potensi anak muda kreatif yang berasal dari kota Yogyakarta dan Solo,” kata Ari Hamzah, drummer Fun As Thirty, pernah menjadi drummer Endank Soekamti hingga pertengahan 2016 lalu, di sela kesibukannya mempersiapkan tur ini.

Selama di Bali, HAVIN FUN TOUR X FUN AS TOUR mengawali konsernya di St. John Cafe pada 27 Agustus, dilanjutkan di Sanur Garage Bar pada 28 Agustus, kemudian Gimme Shelter pada 29 Agustus, dan esoknya Broadcast Space pada 30 Agustus 2018. Akhirnya, Twice Bar menjadi lokasi penutup rangkaian tour ini pada 31 Agustus 2018.

Khusus untuk konser di St. John Cafe dan Sanur Garage Bar, akan dimeriahkan oleh Nietzsche Doctrine, seorang DJ asal Yogyakarta. [b]

The post Tur Band Solo dan Jogja di Pulau Dewata appeared first on BaleBengong.

Ubud Village Jazz Festival yang Menghangatkan Hati

Angin berhembus cukup kencang sepanjang malam. Pepohonan besar di Agung Rai Art Museum (ARMA) bergoyang, dahan-dahannya melengkung, dedaunan berjatuhan. Rintik hujan mulai membasuh kulit.

Namun interaksi musisi di atas panggung terus berjalan, penonton malah makin menghangat. Memberikan tepukan, bercuit-cuit memberi apresiasi, dan menyoraki tiap musisi usai bermain solo. Sepasang penonton yang duduk paling depan merapatkan diri, saling menghangatkan.

Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2018 ini adalah yang ke-6, setangah lusin tahun bertahan dan dinikmati beragam penonton, aneka umur, dalam suasana intim dan nyaman.

Sepasang laki-laki tengah baya nampak selalu beriring-iringan, duduk lalu berdiri, dan pindah dari satu panggung ke panggung lain yang jaraknya berdekatan.Salah satu dari mereka nampaknya tuna netra. Ia dituntun rekannya tanpa banyak menarik perhatian orang lain. Mereka bergerak dengan leluasa dan tenang saat harus pindah menonton. Ada 3 panggung indah yang dibuat panitia, Padi, Giri, dan Subak. Backgroundnya adalah material alam seperti daun kelapa tua, bambu, dan ada yang beratap ilalang.

Mild Jazz Project Season 3 menutup pertunjukan dengan lagu ceria mengajak berdansa. Sebelumnya, Windy Hariyadi, vokalisnya mengalunkan salah satu lagu legenda, Di Dadaku dari biduan Vina Panduwinata. Sekilas, warna vokal Windy mirip dengan Vina. Bening dan menentramkan. Band ini diawaki musisi-musisi muda yang berhasil menarik perhatian penonton.

Gegap gempita tepuk tangan juga diberikan untuk trio Triple Ace-Colours in Jazz. Oliver Kent (piano), Uli Langthaler (bass), dan Dusan Novakov (drum) saling menunggu, lalu bersahutan menghasilkan melodi dan interaksi. Mereka jarang memulai main bersamaan, menunggu Oliver dulu berimprovisasi lalu merespon dengan betotan bass atau ketukan drum. Selanjutnya memberikan waktu tiap musisi tampil solo, untuk kembali bersama saling berinteraksi. Berkomunikasi melalui alat musiknya masing-masing.

Suasana diam saat memberikan rekannya berimprovisasi ini lah kekuatan jazz. Kebebasan berekspresi yang dimatangkan oleh talenta. Merayakan pasang surut, seperti memandang laut. Kadang tenang, kemudian tiba-tiba menghentak seperti tamparan ombak.

Seorang penonton meneriakkan nama “Yuri, Yuri, come on Yuri,” untuk mendapuknya berimprovisasi bersama Triple Ace. Yuri Mahatma dan Anak Agung Anom Wijaya Darsana adalah perintis perhelatan UVJF ini. Yuri bermain gitar sementara Anom ahli di bidang tata suara dan panggung. Duet yang saling melengkapi.

Keduanya memberi konteks tema kali ini, Freedom of Expression sebagai sebuah nilai abadi dalam pertunjukkan. Kebebasan berekspresi dalam jazz bukan sekadar bebas menyiptakan bunyi dan improvisasi seenak perut, tapi penuh tanggung jawab. “Kebebasan berekspresi tanpa pengetahuan yang memadai dan kerendahan hati untuk memahami keindahan akan mengakibatkan chaos,” ingat mereka dalam catatan festival ini.

Dalam pidato pembukaan, Heru Jatmiko mewakili UVJF meminta penonton tak ragu mengekspresikan diri merespon musisi. “Kita merayakan cinta dan persaudaraan di sini,” serunya. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace yang baru saja terpilih sebagai Wakil Gubernur mendampingi I Wayan Koster juga menyambut perhelatan jazz ini di Ubud, menambah kekayaan budaya dan keragaman kesenian yang sudah ada.

Keragaman musisi ini nampak dalam line-up UVJF selama 2 hari pada 10-11 Agustus 2018. Tampil untuk pertama kalinya di Bali sebuah group fusion jazz dari Korea Selatan yang beranggotakan 4 wanita, A-FUZZ. Dari Autralia Emilia Schnall, seorang vocalis, pianist dan composer. Gerard Kleijn, salah seorang trumpeter andal dari Belanda, Judith Nijland, vocalist jazz kenamaan Belanda, berkolaborasi dengan Astrid Sulaiman Trio, tampil membawakan beberapa aransemen dari album larisnya ”Jazz Tribute to ABBA”.

Ada juga Insula, sebuah group world-jazz-fusion yang unik yang didatangkan khusus oleh lembaga kebudayaan perancis (Institut Francais). Sebastian Gramms, pemain kontra bass legendaris di Jerman yang akan membawa projectnya yang dinamakan FOSSILE 3. Salah satu yang ditunggu, musisi jazz kenamaan dari Amrika Serikat, Benny Green Trio.

Untuk pertama kalinya UVJF menyelenggarakan kompetisi jazz band untuk para musisi muda pada tanggal 29 April 2018 bertempat di Colony Creative Hub, Plaza Renon Denpasar. Acara ini diselenggarakan sekaligus sebagai acara memperigati hari jazz internasional yang telah ditetapkan oleh UNESCO (PBB) pada 30 April. Pemanangnya, Joda Band, yang digawangi musisi berusia 12-17 tahun.

UVJF bisa dibilang dirintis sejak 2010 dari perhelatan Underground Jazz Movement. Kemudian pada 2013, perhelatan perdana dengan jumlah musisi tak sebanyak saat ini. Musik yang sulit ditebak alurnya, kehangatan tahun ini bertambah dengan free flow bir dan juga wine pada jam tertentu. Ditambah suasana intim dari desain panggung dan penataan ruang, kolaborasi arsitek Klipz, Diana Surya, dan Gede Suanda, dan lainnya.

 

 

The post Ubud Village Jazz Festival yang Menghangatkan Hati appeared first on BaleBengong.