Tag Archives: musik

Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari

Tahun 2017 ini, seolah tidak ingin berhenti. Ada satu momen pencatatan lagi yang tidak bisa dilewatkan begitu saja; Pohon Tua –juga dikenal sebagai— Dadang Pranoto, salah satu personil Navicula dan Dialog Dini Hari, resmi meluncurkan debut album solonya yang berjudul Kubu Carik.

Kubu Carik, merupakan sebuah album berisi delapan lagu yang merupakan tabungan lama dalam sebuah fase musikal yang ia jalani bersama Eko Prabowo. Di tahun 2015, proyek ini dimulai dan respon antar dua manusia seni beda disiplin ini berlarian ke arah masing-masing.

“Awalnya dulu Eko membuat buku prosa tentang Pohon Tua. Saya iseng merespon dengan satu skesta lagu. Ternyata responsnya menarik dan jadi keterusan. Akhirnya dari satu sketsa itu berkembanglah menjadi delapan materi di Kubu Carik ini,” tuturnya.

Dua cabang kreativitas ini kemudian terus menulis kisahnya masing-masing hingga kemudian idenya dikembangkan menjadi perilisan buku dan sebuah album musik. Untuk perkara musik, Pohon Tua berbicara dengan dua orang kompatriotnya di Dialog Dini Hari, Deny Surya dan Zio.

“Mereka malah menjadi co-producer untuk album ini,” lanjutnya. Dukungan yang memberi ruang untuk cerita supaya bisa bersinergi dengan baik itu, terbukti membawa kesolidan pada materi rekaman yang dikandung oleh Kubu Carik.

“Ada hubungan juga dengan periode dua bulan lalu ketika Zio merilis album solonya. Itu jadi semacam pemicu untuk diselesaikannya proyek ini. Saya merilis Kubu Carik saat ini bersama Rain Dogs Records sekaligus supaya bisa konsentrasi ke proyek selanjutnya. Setelah ini, kami akan fokus menggarap materi baru Dialog Dini Hari,” terangnya.

Tanpa bermaksud membuat cerita sendiri, buncahan-buncahan kreativitas model begini difasilitasi dengan baik oleh masing-masing orang di dalam tubuh Dialog Dini Hari.

“Tidak ada alasan khusus kenapa album solo ini dibuat. Titik berat Kubu Carik lebih pada kolaborasi saya dengan Eko Prabowo. Lagu-lagunya harus menemukan jalannya sendiri kepada pendengar. Itu yang ingin dicapai oleh album ini,” paparnya.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, album berisi delapan lagu ini, dirilis oleh Rain Dogs Records. Album ini dirilis secara digital di sejumlah kanal musik seperti iTunes, Apple Music, Spotify dan sejumlah tempat lainnya.

Rain Dogs Records juga merupakan rumah dari Dialog Dini Hari.

Pohon Tua – Kubu Carik
Tahun produksi: 2015
Tahun Rilis: 2017
Produser: Dialog Dini Hari

Tersedia dalam bentuk digital. iTunes, Apple Music, Spotify, Amazon dan digital stores lainnya.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang Kubu Carik, silakan langsung menghubungi [email protected]

The post Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari appeared first on BaleBengong.

Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari

Tahun 2017 ini, seolah tidak ingin berhenti. Ada satu momen pencatatan lagi yang tidak bisa dilewatkan begitu saja; Pohon Tua –juga dikenal sebagai— Dadang Pranoto, salah satu personil Navicula dan Dialog Dini Hari, resmi meluncurkan debut album solonya yang berjudul Kubu Carik.

Kubu Carik, merupakan sebuah album berisi delapan lagu yang merupakan tabungan lama dalam sebuah fase musikal yang ia jalani bersama Eko Prabowo. Di tahun 2015, proyek ini dimulai dan respon antar dua manusia seni beda disiplin ini berlarian ke arah masing-masing.

“Awalnya dulu Eko membuat buku prosa tentang Pohon Tua. Saya iseng merespon dengan satu skesta lagu. Ternyata responsnya menarik dan jadi keterusan. Akhirnya dari satu sketsa itu berkembanglah menjadi delapan materi di Kubu Carik ini,” tuturnya.

Dua cabang kreativitas ini kemudian terus menulis kisahnya masing-masing hingga kemudian idenya dikembangkan menjadi perilisan buku dan sebuah album musik. Untuk perkara musik, Pohon Tua berbicara dengan dua orang kompatriotnya di Dialog Dini Hari, Deny Surya dan Zio.

“Mereka malah menjadi co-producer untuk album ini,” lanjutnya. Dukungan yang memberi ruang untuk cerita supaya bisa bersinergi dengan baik itu, terbukti membawa kesolidan pada materi rekaman yang dikandung oleh Kubu Carik.

“Ada hubungan juga dengan periode dua bulan lalu ketika Zio merilis album solonya. Itu jadi semacam pemicu untuk diselesaikannya proyek ini. Saya merilis Kubu Carik saat ini bersama Rain Dogs Records sekaligus supaya bisa konsentrasi ke proyek selanjutnya. Setelah ini, kami akan fokus menggarap materi baru Dialog Dini Hari,” terangnya.

Tanpa bermaksud membuat cerita sendiri, buncahan-buncahan kreativitas model begini difasilitasi dengan baik oleh masing-masing orang di dalam tubuh Dialog Dini Hari.

“Tidak ada alasan khusus kenapa album solo ini dibuat. Titik berat Kubu Carik lebih pada kolaborasi saya dengan Eko Prabowo. Lagu-lagunya harus menemukan jalannya sendiri kepada pendengar. Itu yang ingin dicapai oleh album ini,” paparnya.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, album berisi delapan lagu ini, dirilis oleh Rain Dogs Records. Album ini dirilis secara digital di sejumlah kanal musik seperti iTunes, Apple Music, Spotify dan sejumlah tempat lainnya.

Rain Dogs Records juga merupakan rumah dari Dialog Dini Hari.

Pohon Tua – Kubu Carik
Tahun produksi: 2015
Tahun Rilis: 2017
Produser: Dialog Dini Hari

Tersedia dalam bentuk digital. iTunes, Apple Music, Spotify, Amazon dan digital stores lainnya.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang Kubu Carik, silakan langsung menghubungi [email protected]

The post Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari appeared first on BaleBengong.

Kenapa Ini Bukan Nosstress?

Ketika Masing-masing Zat Bekerja Sendiri Sebelum Kembali Bersenyawa

Usai menelurkan dua album penuhnya, Perspektif Bodoh I (2011) Perspektif Bodoh II (2014), serta album kolaborasi bareng Mitra Bali Fair Trade berjudul “Viva Fair Trade” (2015), trio folk Bali, Nosstress, membagi sesuatu yang baru di tahun ini. Adalah Perspektif Bodoh III,sebuah album yang bahkan menjadi wacana, sejak tahun 2016. Namun ternyata lanjutan dari dua album sebelumnya ini kembali tertunda di tahun ini. Ketidaksiapan akan merampungkan trilogy ini dituturkan secara gamblang oleh Nosstress.

Tertundanya Perspektif Bodoh III ini, justru mendorong mereka melahirkan karya yang lain tepatnya di kuartal keempat tahun 2017 ini. Ini Bukan Nosstress, menjadi hasil rilisan album penuh yang akhirnya mampu terealisasi. Walaupun terselip di antara trilogi yang belum kunjung rampung, di album ini, baik Man Angga, Kupit dan Cok sepakat, tidak ingin menyebut karya satu ini sebagai album Nosstress. Walau mencoba menghadirkan konsep lain, kehadiran mereka yang notabene adalah personel Nosstress sehingga sulit untuk tidak menafsirkan bahwa album ini adalah bagian Nosstress.

Secara materi, lagu-lagu mereka kali ini memang hadir secara personalnya masing-masing. Masing-masing lagu, diciptakan hingga kemudian dilantunkan langsung oleh sang empunya, tidak lagi bertiga. Itulah mengapa mereka tak ingin menyebut album ini sebagai bagian dari album Nosstress.

“Seharusnya tahun ini atau tahun lalu, adalah waktu bagi Perspektif Bodoh menjadi trilogi. Tapi sepertinya kami belum siap untuk membuat lagu bersama. Kami sebagai musisi, setidaknya harus tetap siap membuat lagu masing-masing, bagi diri sendiri,” kata Angga.

Total 9 lagu yang disuguhkan Angga, Kupit dan Cok yang masing-masing dari mereka menelurkan 3 buah lagu. Namun tak murni hadir sendiri-sendiri sebagai personal. Di album ini juga menghadirkan beberapa sahabat musisi yang ikut menuangkan kebolehannya. Adalah Dadang SH. Pranoto (Dialog Dini Hari, Navicula) yang juga berperan sebagai produser album ini, Deny Surya (Dialog Dini Hari), Sony Bono, WayanSanjaya, Windu Estianto, FendyRizk dan Dony Saxo.

Oh, Ini Bukan Nosstress?

Secara lirik dan konsep, lagu-lagu di album Ini Bukan Nosstress memang tak bisa dikatakan senada dengan lagu-lagu di dua album Perspektif Bodoh yang cenderung lebih kritis terhadap persoalan social dan lingkungan di sekitar mereka. Sembilan lagu di album ini terasa sekali nuansa personal masing-masing empunya lagu. Namun dalam hal aransemen musik, khususnya karena kolaborasi dengan para musisi tersebut, justru terdengar lebih berwarna dibandingkan music mereka, yang biasanya cenderung lebih minimalis dengan konsep folk akustik-nya.

“Kami mencoba memberi kebebasan pada individu pembentuk Nosstress untuk bebas berkarya, mengembangkan pikirannya sendiri. Untuk suatu saat kembali berkarya sebagai Nosstress,” tambahnya.

Setelah dirilis lewat iTunes, Spotify, Deezer, Joox, dan format digital lainnya, pada 3 Oktober 2017 yang lalu, Ini Bukan Album Nosstress juga akan dirilis secara fisik. Saat ini fisik album tersebut pun tengah dalam proses produksi. Begitu juga dengan launching concert yang masih dalam tahap perenungan, kapan, di mana dan bagaimana akan terjadi.

Yang pasti, mereka tetap menegaskan bahwa album ini adalah Ini Bukan Nosstress. Ini adalah album di mana ketika para zat pembentuk Nosstress tengah bekerja sendiri, sebelum siap kembali bersenyawa satu dengan yang lainnya.

“Tidak. Meskipun banyak yang menyarankan ini untuk tetap sebagai album Nosstresss aja, kami tetap pada Ini Bukan Nosstress,” tutup Angga.

 

 

The post Kenapa Ini Bukan Nosstress? appeared first on BaleBengong.

Workshop pertunjukan kelanjutan Project 23.

Pada tanggal 2 September 2017 Project 23 telah sukses memproduksi acara pertamanya. Pesan-pesan dukungan dan apresiasi yang terima kemudian mendorong Project 23 untuk mengembangkan hal-hal yang akan dilakukan selanjutnya.

Beberapa rintangan besar sempat menghadang pertunjukan Project 23, seperti misalnya pergantian lokasi acara, tepat tiga minggu sebelum tanggal pertunjukan, serta beberapa hari libur nasiana| dan upacara keagamaan di lokasi pertunjukan pada saat persiapan tahap akhir harus segera diselesaikan.
Penyelengara justru banyak belajar dari penga|aman-penga|aman tersebut untuk dan akan terus berbenah, dan memproduksi acara-acara yang berbeda, dan menampilkan musik-musík kontemporer dan karya-karya artistik terbaik di lndonesia.


Penyelengara Project 23 sangat sadar bahwa harga tiket darí acara ini cukup mahal untuk beberapa orang, khususnya bagi kamunitas-kamunitas lokal. Namun demíkian, disaat bersamaan penyelengara merasa bahwa harga tiket acara sangat masuk akal, terutama mengingat besarnya biaya yang dibutuhan untuk memproduksi acara tersebut.
Untuk menunjukan apresiasi atas dukungan komunitas lokal, penyelengara memutuskan untuk acara berikutnya tidak akan dipungut biaya, alias Gratis.


Selanjutnya dari Project 23

Setelah acara pertama Project 23, berkat bantuan yang luar biasa dari para sponsor-sponsor penyelengara memutuskan untuk membuat sebuah pertunjukan gratis (Part 2) dan beberapa seri
workshop untuk memberikan gambaran kepada komunitas lokal apa itu Project 23 dan apa saja yang sudah dilakukan. Hal ini juga akan memberikan peluang untuk peserta ikut menjadi bagian dari Project 23 yang terus berkembang.


Chapter One Part Two” akan menjadi versi mini dari pertunjukan pertama Project 23, yang akan menampilkan 8 DJ, 4 Live PA, 2 insta|asi seni, dan video mapping.

Pengisi Acara Part 2

Live PA: Cntrol – Project 23(Jakarta), The Hands – ESP/Project 23(Bali ), Latex – (Jogja), Electrofux (Denpasar). DJ: Ones – Casua| Dance (Jogja), Noza 82B King Horror (Project ..lll), Riddim Killa (Bali), Kai-Tantra (Bali), Mistral B2B, Kas – D’n’B (Bali). Perkusi: Cosmic Ornament (Bali)
Instalasi Seni dan Video Mapping: JNS & Bimo – Prehistoric Soul Gentur Suria – Jogja Sawda Muzlama – Project ..lll

Workshop

Akan ada dua workshop seminggu sebelum pertunjukan. Workshop-workshop ini, seperti juga halnya semua workshop yang akan |akukan di kemudian hari, akan dibagi menjadi dua kategori: Kreatif dan Karir. Kategori kreatif akan berfokus pada kegiatan musik dan seni, dengan tujuan memberikan kesempatan kepada komunitas lokal untuk belajar membuat musik, DJ, video mapping, dan membuat instalasi seni. Kategori Karir akan berfokus pada aspek-aspek produksi dari event kami, seperti artist liaison, produksi, manajemen panggung, don |ain-lain.|

Pada hari Sabtu tanggal 21 Oktober 2017, akon diadakan dua workshop:
– Video Mapping menggunakan teknik Analog + Digita|
– Pengenalan dasar manajemen panggung dan artist liaison.

Mereka yang menghadiri workshop-workshop tersebut nantinya akan diberikan kesempatan untuk bersama pada tuthornya bekerja saat pengerjaan acara tanggal 26 Oktober, untuk melihat praktek |angsung atas apa yang diajarkan di kelas-kelas workshop sebelumnya.

Bila anda tertarik silahkan layangkan email ke: [email protected]

The post Workshop pertunjukan kelanjutan Project 23. appeared first on BaleBengong.