Tag Archives: musik

Dadang Pohon Tua, Akarnya Menancap di Poros Bumi

Dadang SH Pranoto, vocalist band Dialog Dini Hari

Sebuah akar menjelajah ke inti bumi dan sumber air. Inilah sebaran akar Pohon Tua.

Dadang S.H. Pranoto. Musisi band grunge Navicula dan trio folk Dialog Dini Hari ini mempunyai arti istimewa di hati penggemarnya. Tak hanya ngband, ia juga bermain solo dengan nama panggung Pohon Tua.

Akarnya menyebar di proyek musik lain, seperti duo Conscius Coup dan duo Electric Gipsy berkolaborasi dengan musisi lain. Memberi warna lain seorang Dadang. Di hampir semua band tersebut, Dadang berperan juga sebagai vokalis cum gitaris.

Lalu kenapa akarnya menancap kokoh di benak pendengarnya? Seorang penulis yang suka merekam remah pikiran dan catatannya dalam sebuah blog: wustuk.com. Selancar dunia maya membawa ke halaman blognya ketika mengetik nama Pohon Tua atau Dadang SH Pranoto. Ada sekitar 15 bahkan lebih tulisan yang berkenan dengannya.

Awalnya adalah kekaguman seorang penggemar lalu menjadi penulis buku yang isinya menaksir lirik-lirik lagu gubahan sang idola. Bukunya ini berjudul Dua Senja Pohon Tua.

Ada yang menyimpul ketika membaca tulisan-tulisan tentang Pohon Tua:  Spiritualisme. Circa 2011, di satu sesi Bali Emerging Writers Festival, Juniartha wartawan senior yang memoderasi diskusi dengan Dadang, juga membagi kekagumannya. Pohon Tua, jiwanya tua.

Spiritualisme Dadang barangkali adalah keyakinannya yang penuh pada musik dan perenungannya tentang hidup dan sekitar. Terdengar dari lirik-lirik lagu yang ia nyanyikan: liris, sederhana, dan mengena. Perlu jeda ketika mendengarkan lagunya dan menelisik lebih jauh ke samudera makna.

Dadang baik dalam Dialog Dini Hari atau Pohon Tua seperti hidup dalam lirik-lirik yang ia gubah. Barangkali ada serpihan jiwanya yang turut hidup di lirik itu.

Dusun Pagi, Desa Senganan, Penebel, Tabanan, Bali. Foto: Martino Wayan

Minggu besok, 16 Juni 2019, ia akan menemani Melali ke Dusun Pagi Tabanan. Mari berdendang bersama Dadang, dan membincangkan spiritualisme dalam lirik-liriknya.

Semisal dalam lagu Kancil di album solonya Kubu Carik. “Oh kancil, kau di mana. Pak tani entah ke mana, tak ada ladang, hutan tak lagi rindang. Pohon-pohon siap ditebang…”

Atau bersiul bersama Matahari Terbit. “Kurenungi wajahnya, kuselami indahnya. Kukabarkan pada pagi sang fajar kan terbit dari matanya…”

The post Dadang Pohon Tua, Akarnya Menancap di Poros Bumi appeared first on BaleBengong.

Delusi Eksistensi dalam Cotard, Singel Terbaru Dromme

Tidak semua orang secara sadar merasakan pengalaman berada di titik nihilis setelah tragedi menyakitkan.

Dromme meluncurkan singel ketiga, Cotard, setelah sebelumnya merilis “Kabut Rasa” dan “Take Me”. Single Cotard berwal dari keinginan untuk membuat lagu tentang rasa sakit. Altschimere, sakit yang dikubur dan meninggalkan sakit yang baru.

Perbincangan Jey (Synthesiser) pada Desember 2018 lalu di home studionya bersama Rika (Vocal) melahirkan simpul-simpul nada menjadi sebuah lagu yang utuh. Sebelumnya ada beberapa sketsa yang dihasilkan untuk digarap lebih lanjut. Awalnya cuma satu bar, tetapi kemudian dikembangkan lagi.

Di awal single ini terasa sekali suasana mistis yang dihasilkan oleh suara gemericik air diikuti lirih suara denting-denting bilah gamelan. Kemudian masuk tiupan sungu (terompet kerang) yang menjembatani alunan instrumen dengan gumaman vocal.

Jika dicari artinya, Kotart adalah keadaan di mana seseorang menganggap dirinya telah mati. Sebuah bentuk delusi ekstrem atau bentuk penolakan atas eksistensi. Sebagai salah satu bentuk sakit.

Lagu ini berawal dari pertanyaan-pertanyaan atas esensi dan eksistensi. Sampai di titik belum ada jawaban, bahkan eksistensi yang nyata seperti sekumpulan dimensi berbeda. Ketakutan-ketakutan akan rasa sakit, membuat seseorang merasakan hal-hal traumatik.

Hitam putih dunia
Berangsur pekat jiwa
Menari bersama bayang bayang
Menarikan luka
Tertawakan duka
Gugur sukma
Hilang

Demikian sepotong lirik Cotard.

Dromme selalu berusaha menghidupkan penampilan musikal mereka saat live dengan gestur teatrikal mereka yang khas. Droome yang dibentuk pada pertengahan 2016 ini masih digawangi Jey pada Synthesiser & Programer, Yuniorika pada vokal dan Kharisma mengisi divisi bass.

Pada Maret 2019 lalu Dromme tampil di acara Black Market Bali yang mengambil tempat di Joshua District, Tabanan. Panggung ini sangat berkesan untuk Dromme karena desain set panggung dan detail produksi memenuhi tema teatrikal yang dibawakan.

Single Cotard ini baru saja dirilis secara digital dan sudah dapat dinikmati di beberapa kanal distribusi digital.

Apple Music: https://itun.es/id/au6njb
Spotify: http://bit.ly/cotard

Dromme di Instagram:
https://www.instagram.com/drommemusic/
Dromme di Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCEnzDrHzAOitoVlc-OTmyhg

The post Delusi Eksistensi dalam Cotard, Singel Terbaru Dromme appeared first on BaleBengong.

Zio Luncurkan Video Lirik “See The Sun” untuk Hati yang Tersenyum.

Zio mengajak menyumbu matahari lewat “See The Sun”, dirilis hari ini.

Dirilis Agustus 2017, album perdana Zio bertajuk “See The Sun” masih menjadi daftar putar wajib bagi pendengarnya di kanal-kanal musik digital. Single “See The Sun” seperti yang diprediksi menjadi single terkuat di album ini, terlihat dari jumlah putar di Spotify saja sudah didengarkan hampir selama 161.980 jam.

Untuk mengawali album “See The Sun” sebelumnya Zio sudah meluncurkan sebuah video klip dari single “Tak Tersisa” kemudian klip kedua untuk lagu “Laguku” diluncurkan pada bulan Januari 2018.

Dua tahun belakangan selain disibukan dengan jadwal manggung bersama bandnya Dialog Dini Hari, Zio juga tidak kalah disibukan dengan jadwal manggungnya sendiri. Dari panggung-panggung komunitas sampai panggung festival seperti salah satunya di Java Jazz Festival di tahun 2018 silam.

Pada Maret 2017 Zio juga berkesempatan manggung di Jepang tepatnya di Substore, Koenji, Tokyo. Untuk bekalnya ke Tokyo Zio dalam kesempatan itu merilis sebuah mini-album bertajuk “Japan Edition”. EP Japan Edition yang memuat 3 lagu yaitu “Laguku”, “Tak Tersisa”, dan tentunya “See The Sun”.

“Cruisin’ the day, Find the way to get to you, Wind through my face, The sun smiling all day.” Melanjutkan perjalanan dan animo pendengar terhadap album “See The Sun” tahun ini Zio akan meluncurkan sebuah video lirik untuk single “See The Sun” .

Video ini melibatkan “Andri Nur Oesman” seorang illustrator yang juga banyak berkecimpung di komunitas urban sketch untuk mendesain artwork dari video ini. Sedangkan untuk video lirik digarap oleh Muhammad Indra Gunawan (Igun).

Video lirik ini akan diluncurkan dengan sebuah perayaan intim, 5 april 2019, di Lingkara Space. Jl. Merdeka IV No.2, Denpasar. Penampilan Zio akan diiringi oleh Bam George (Guitar), Kevin Suwandhi (Keyboard), Fendy Rizk (Contra Bass) dan Micah Johnston (Drum).

“Video lirik ini sebagi ungkapan Terima kasih kepada teman-teman penikmat musik saya, karena sampai saat ini masih ada yang mendengarkan lagu ini. Semoga setelah video lirik
akan menjadi video klip,” ungkap Zio di sela-sela kesibukannya.

Untuk memulai malam perayaan peluncuran video lirik ini Zio juga mengajak “Sendawa”. Sebuah project band anyar yang digawangi oleh Bayu (guitar), Edi (bass), Glenda (vocal) dan
Kiki (drum). Sampai jumpa nanti untuk hati-hati yang tersenyum. Silakan simak album See The Sun di sini.

The post Zio Luncurkan Video Lirik “See The Sun” untuk Hati yang Tersenyum. appeared first on BaleBengong.

Chaos Non Musica X Maternal Disaster Menguji Skena Musik Eksperimental di Bali

Oleh Aditya Surya Taruna & Tyara Pradini

Chaos Non Musica kali ini berusaha menyajikan pengalaman lintas budaya antara skena musik eksperimental Bangkok (Thailand) dan Denpasar (Indonesia).

Inilah gerilya Pisitakun dan Wuttipong (Thailand), dan lainnya di Chaos Non Musica X Maternal Disaster.

Meskipun terus berjalan paralel dengan aliran arus utama, musik eksperimental di Asia terutama Asia Tenggara selalu mempunyai tawaran menarik: akar budaya, ketidak-mapanan teknologi, dan kondisi politik. Juga sempitnya pandangan tentang apa itu musik antara definisi dan masifnya konsumsi gempita pop di sekitarnya.

Bergerilya di antara sekian banyak talenta dan sedikitnya venue yang menerima. Kolektif-kolektif musik eksperimental Asia Tenggara memakai strategi primal ala Punk atau Hardcore; berjejaring, mengambil semua kesempatan, dan mencoba terus merangkul lewat semua improvisasi. Secara ketersediaan piranti bunyi, instrumen, tema, serta konsep yang ditawarkan.

Uniknya, secara organik, penggiat eksperimental di Bali merayap masuk melalui tawaran bebunyian analog dan digitalnya elektronik musik. Terinspirasi oleh awamnya musik klub dan dansa dan konteks pariwisata, Bali memberikan warna tersendiri di khazanah eksperimental musik indonesia. Berangkat dari lingkaran musik cadas seperti metal dan punk yang banyak terjadi tanah jawa, ataupun improvisasi bebas di ranah Jazz atau proyek-proyek kesenian berbasis bunyi di provinsi lainnya.

Ohoi Records, Grintabachan & Sooncrazy adalah penggiat utama Noise/Harsh Noise, Glibly Ninja menawarkan kegelapan analog Post-punk EBM, Diwagraya & Gumatat-gumitit Gospel menawarkan suasana ambient dan Jagajaga & Gabber Modus Operandi memberikan oktan tinggi dan definisi lain musik dansa lewat BPM cepat brutalitas bunyi mereka. Angkatan baru ini yang kemudian menjadi pengisi rutin malam experimental Chaos Non Musica paling tidak di 3 tahun terakhir.

Juga afiliasi antara kota semisal acara Tur Thailand-nya Grintabachan, Jagajaga di Jogja Noise Bombing dan juga Gabber Modus Operandi di CTM Festival Berlin 2019. Boleh dikata, Denpasar Selatan sudah punya taring sehingga penggiat garda depan seperti Yes No Klub Yogjakarta, afiliasi praktis dari Yesnowave sebagai salah satu dapur rekaman pemicu. Musisi yang juga berpengaruh di ranah eksperimental musik Indonesia sedari awal tahun 2000 melakukan kolaborasi mewadahi kerabat Asia Tenggara kami adalah:

Pisitakun (Thailand)

Seniman seni rupa yang berevolusi menjadi musisi experimental ini sarat akan makna. Antara afiliasi politik dan simbol-simbol budaya, komposisi elektroniknya merepresentasikan kengerian, curiga dan agresi primal. Dengan balutan alat tiup tradisional Thailand yang dirangkum menarik di Black Country dirilis dapur rekaman Chinabot, salah satu label Elektronik Pan-Asia yang paling diperhitungkan saat ini.

Sebagai aktivis, Pisitakun mencoba menarik garis abu antara manifesto politik dan budaya yang menjadi satu kesatuan akrobat bunyi. Tanpa semantik-semantik yang bias, dan presentasi menarik untuk definisi lanjut dari apa itu aksi politik.

Wuttipong (Thailand)

Projek pribadi dari gitaris legendaris ranah Indie Thailand; Desktop Error ini akan menawarkan soundscape dan Post Rock enigmatik. Sesuai kualitasnya sebagai salah komposer musik untuk film dan advertising Thailand yang berkualitas tinggi, Wuttipong akan mempresentasikan jeda dan spasi antara bunyi.

Bekerjasama dengan Maternal Disaster, merek produk lokal Indonesia yang sudah lebih dari satu dekade malang melintang dalam mendukung pergerakan mandiri musik-musik lokal dan internasional. Chaos Non Musica kali ini berusaha menyajikan pengalaman lintas budaya antara skena musik eksperimental Bangkok dan Denpasar. Acara ini akan diadakan di Grandpa Kitchen and Bar, Canggu, pada Selasa, 9 April 2019.

Dengan diadakannya acara seperti ini, harapannya publik akan semakin terbuka dengan berbagai macam musik yang dianggap kurang konvensional. Yang nantinya mudah-mudahan akan menjadi penyemangat untuk penggiat-penggiat industri kreatif. Khususnya di ranah musik lokal agar semakin beragam dalam menyajikan acara dan akan menjadi tongkat penyambung untuk regenerasi talenta-talenta baru.

The post Chaos Non Musica X Maternal Disaster Menguji Skena Musik Eksperimental di Bali appeared first on BaleBengong.

Shankar: Album Eksklusif tentang Kemanusiaan


Album dari Shankar berjudul Under the Human State hanya diproduksi dalam bentuk CD.

Kemanusiaan selalu menarik untuk diperbincangkan.

Begitu pula, ketika diramu menjadi karya, ia memiliki keunikan tersendiri. Namun, sayangnya, berbicara kemanusiaan hanya terlintas begitu saja. Hal inilah yang menggugah Shankar, band rock di Denpasar untuk berkarya mengisi dunia permusikan.

Band yang terbentuk dari perkumpulan di masa putih abu-abu ini akhirnya menetaskan sebuah album mini berjudul “Under The Human State” pada 13 Maret 2019 lalu. Terdiri dari empat lagu, band ini mengangkat topik bernuansa kemanusiaan. Melalui EP ini, Shankar menceritakan kondisi manusia yang berada di bawah batas normal.

“Di EP ini juga menceritakan tentang di bawah kondisi manusia, ada hal-hal buruk manusia yang justru mempengaruhi setan untuk mengontrol menjadi lebih liar lagi,” jelas Aditya, pemain bas.

Dalam EP pertamanya, Shankar menyelipkan “Last Stand” sebagai lagu pembuka. Menceritakan tentang sikap serakah dan dominasi yang ada dalam diri manusia untuk menjadi puncak manusia. Lagu kedua berjudul “Darkest Hant”, menceritakan mengenai perang tanpa akhir yang dapat menghantui manusia.

Selanjutnya, disisipkan pula single yang telah dirilis akhir Februari 2019 bertajuk “Savior of The Death”. Lagu ini mengisahkan seseorang yang berhasil lepas dan bangkit dari kegagalan yang akan menghancurkan hidupnya. EP ini ditutup dengan lagu yang mengisahkan seseorang bekerja keras untuk mengubah roda kehidupannya. Kisah ini dibalut dalam judul lagu “Beyond The Light”.

Era 1970-an

Shankar terdiri dari empat personel, yaitu Adit (vocal & gitar), Gus Adi (gitar), Aditya (Bass) dan Yoga (drum). Band ini memiliki ciri khas pada aliran musiknya memadukan musik doom di dalam materi-materinya. Dengan mengusung genre stoner rock, band ini mengadopsi karakteristik musik tahun 70-an dan 80-an.

Tak hanya mengalir pada genrenya, pada rilis EP pertamanya ini, Shankar juga menerapkan gaya era 70-an dalam produksinya. Ya, Shankar memproduksi karyanya dalam bentuk album fisik.

Di tengah era serba online, Shankar masih mendistribusikan karyanya secara eksklusif melalui CD. Mereka mengaku sadar akan hanya ada sedikit peminatnya, bahkan sekarang CD player pun sangat susah ditemukan.

“Namun, justru itulah yang akan menjadi rasa penasaran para pendengar untuk mencoba CD player lama mereka kembali. Jadi memang eksklusif bagi pendengar yang membeli CD saja yang bisa mendengarkan,” ungkap Aditya ketika dihubungi via WhatsApps.

Di balik keberhasilannya merilis album ini, Shankar telah terbentuk sejak tahun 2016. Pemilihan nama band Shankar juga dipercaya memiliki arti sebagai pembawa kebahagiaan dalam bahasa Sansekerta.

Shankar sendiri mendapatkan panggung pertama kalinya pada tahun 2017, yang sekaligus disahkan secara resmi. Adapun yang menjadi ciri khas Shankar sejak terbentuk yaitu mengusung nilai-nilai kemanusiaan yang dituangkan dalam lirik-lirik karyanya.

“Kami memilih ini karena ingin menyampaikan hal yang terdekat dari kita, yaitu diri kita, manusia dan hal ini banyak yang tidak disadari oleh kita sendiri,” ungkap Aditya. [b]

The post Shankar: Album Eksklusif tentang Kemanusiaan appeared first on BaleBengong.