Tag Archives: musik

Tertunda Empat Tahun, SOB pun Merilis Videoklip “Rise To The End”

Suhu ekstrem di Bali hingga mencapai 35 derajat Celcius.

Menurut Balai Meteorolgi, Geofisika dan Klimatologi (BMKG) Bali inilah suhu terpanas tertinggi dalam 30 tahun belakangan di Bali. Secara ilmiah suhu tinggi ini disebabkan oleh Bali memasuki peralihan musim kemarau ke musim hujan.

Video Klip “Rise To The End” disutradarai oleh: Erick Est

Faktor lain adalah posisi matahari saat ini berada di selatan garis Khatulistiwa. Akibatnya, intensitas cahaya matahari lebih banyak sampai ke permukaan bumi. Perubahan Iklim juga menjadi faktor utama kondisi ini. Ada pergeseran umur cuaca yang sangat ekstrem terjadi.

Scared Of Bums berpikir bahwa kondisi sekarang ini adalah kondisi yang tepat untuk meluncurkan video klip “Rise To The End”. Album ini secara visual menampilkan kondisi-kondisi alam yang sudah semakin berubah.

Taman Nasional Baluran dan Gunung Bromo adalah lokasi menjadi pilihan Erick Est untuk shooting video klip “Rise To The End”. Keduanya bercerita secara surealis menghadirkan kontradiksi antara mimpi dan realita menjadi nyata dalam visual yang memperlihatkan objek nyata dalam keadaan yang tidak mungkin terjadi, seperti dalam mimpi atau alam bawah sadar manusia.

Lagu “Rise To The End” adalah single dari album kedua “Let’s Turn On Fire” yang dirilis pada tahun 2013. “Rise To The End sendiri mengandung arti untuk tidak pernah menyerah, mempertahankan apa yg kita yakini sampai akhir,” ujar Gede Putra Budi Noviyana, drummer Scared Of Bums yang lebih akrab dipanggil Nova.

Banyak pengalaman menarik ketika pengambilan gambar video klip ini. Semisal di Taman Nasional Baluran kamera drone sempat jatuh dan kemudian diperingati penjaga pos Taman Nasional Baluran untuk menjaga ketenangan banteng liar penghuni Taman Nasional.

Tidak Turun Pamor

Putu Eka Janantha atau sering dipanggil Bocare vokalis Scared Of Bums mengatakan dia dikerjain Erick Est, ketika adegan badan dikubur sampai leher di gurun pasir Gunung Bromo. Proses shooting sempat tertunda satu hari karena hujan angin di lokasi sampai menerbangkan tenda crew di lokasi. Tim produksi dan personil benar-benar diuji secara fisik dan mental ketika proses pembuatan video.

Rilis video klip “Rise To The End” di kanal YouTube ini adalah sebagai jembatan penghubung antara album kedua dan dan album terbaru Scared Of Bums berikutnya yang bertajuk “Delay” yang akan segera dirilis akhir tahun ini.

Album “Delay” akan diawali dengan perilisan single pertama yang berjudul sama dengan album yaitu “Delay” yang rencananya dirilis dalam dua pekan kedepan. Single ini nantinya akan dapat dinikmati di semua kanal musik digital terpopuler.

Jarak enam tahun dari album terakhir Scared Of Bums tidak membuat band ini turun pamor. Penggemar Scare Of Bums yang sering disebut “5013mc” (Scared Of Bums Mos Pit Crew) selalu membludak memenuhi festival-festival musik dengan kapasitas penonton ribuan.

Penampilan terakhir Scared Of Bums di acara Carnival Of Rock yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Bali di Panggung Terbuka Ardha Candra, 06 November 2019 silam memberikan kesempatan band ini untuk menyuarakan perjuangan “Bali Tolak Reklamasi” di hadapan Pemerintah Provinsi Bali dengan membawakan lagu “Kepalkan Tangan Kiri”.

Momen ini juga direspon oleh penonton dari Desa Adat/Pakraman Sumerta dengan membawa atribut ForBali ke atas panggung. Ini menunjukan kalau band ini berada di koridor mendukung Pemerintah Provinsi Bali ketika bicara tentang memajukan industri kreatif generasi milenial akan tetapi tetap konsisten mengawal isu-isu sosial di Bali. [b]

The post Tertunda Empat Tahun, SOB pun Merilis Videoklip “Rise To The End” appeared first on BaleBengong.

“Istirahat Sejenak” dari Lapastik Bangli

Istirahat Sejenak. Karyanya mengajak rehat dan merefleksikan.

Sebuah petikan gitar mengawali alunan kalimat “can u see how’s beautiful u are,” dengan suara berat milik sosok bertopi. Ia duduk dengan sebuah gitar akustik di depan panel surya yang terpasang rapi di hadapan baliho yang berjejer.

Sebuah ingatan akan perjumpaan pertama dengan lagu ini menyusup ke telinga. Perpaduan suara berat dan petikan akustik membuat kata-kata yang diucapkan Yogi seolah tidak ditujukan untuk mereka yang sedang duduk dihadapannya, melainkan untuk dirinya sendiri.

Pukulan Ajik pada kajon hadir setelah kalimat “… couse that’s how you look like”, disusul melodi Indra yang menyayat. Yogi, vokalisnya melanjutkan dendangannya.

Lantunan lirik sederhana, para pendengar bisa dengan mudah menerima dan menerjemahkannya. Formasi band ini menyebut diri mereka Istirahat Sejenak.

Suara berat Yogi membawa masuk lebih jauh, tempo pelan dan melodi yang mengiringi menghanyutkan. “I want to be with you when the sun rise up/ I want to be with you when the sun goes down/ And I want to be with u all night long/Couse I want u to know I need u in my life.”

Ingatan dengan penampilan mereka secara live di Pra Bali yang Binal 8 di Taman Baca Kesiman hadir kembali melalui rekaman dokumentasi ala kadarnya. Ingatan yang membawa getaran yang sama seperti hadir dan melihat mereka bermain secara langsung. Ingatan yang membawa sensasi kerinduan mendalam, hadir dengan intensitas yang sama.

https://www.youtube.com/watch?time_continue=17&v=phE0zrO-VoQ

Kerinduan yang hadir akibat waktu dan ruang yang tak berpihak. Kerinduan yang terpendam dan tak mampu diobati dengan layanan telekomunikasi 4.0 yang katanya telah melampaui jarak dan waktu. Kerinduan yang kemudian semakin terekspresikan lewat permainan rima rap Ayi, “lady… now I should tell you that I was fallin at the first time, I rest my eyes on you…”

Lirik itu menjelasakan bagaimana perasaaan sesuangguhnya yang tak sanggup diucapkan. Kemudian pertemuan hadir untuk mejadi oase kerinduan.

Istirahat Sejenak merupakan band Lapas Narkotik Klas IIA Bangli. Para personelnya merupakan warga binaan Lapas yang berlokasi di Br. Buungan, Jl. Purasti, Tiga, Susut, Kabupaten Bangli. Istirahan Sejenak digawangi oleh Yogi pada gitar akustik dan vocal, Ayi sebagai rap, Mahesa pada bass, Indra dengan melody gitar, Adut pada perkusi, dan Ajik pada kajon.

Status yang disandang sebagai warga Lapas menguatkan karkter lagu yang diberi judul Is Real itu. Sebuah lagu yang mengungkangkan bagaimana perasaan terhadap orang-orang yang mereka cintai dan mereka rindukan. Sebuah ungkapan perasaan sederhana yang mereka utarakan lewat lagu. Baru bisa dirasakan ketika melihat penampilan panggung mereka secara langsung.

Lagu yang membawa saya secara personal masuk ke dalam kenyataan selalu ada saja perasaaan yang tak bisa terucap. Diasumsikan telah diwakilkan lewat tatapan mata yang beradu namun pada kenyataannya itu tak cukup. Perasaan tersebut tetap saja mengganjal, bertemu dengan dominasi gengsi sifat maskulin dengan segala citra kuat dan perkasa yang sebenarnya menjadi boomerang basi sosok laki-laki itu sendiri.

Is Real tidak menghadirkan peraasaan rindu tersebut dengan sajian cengeng, mereka menghadirkannya dengan tetap menjadi lelaki dan segala citra yang menempel pada label laki-laki. Pengakuan bahwa lelaki memiliki perasaan yang rapuh dan rentan.

Sebuah peristiwa pada akhirnya akan membawa si lelaki dengan kelelakiannya terjerembab pada satu titik. Mengakui sosok yang ada di sebelahnya begitu berarti dan tak ada satu pun yang berhasil dilakukan selama ini bisa mewakili perasaan tersebut.

Menjadi warga binaan tentu bukan sebuah peristiwa yang diinginkan, direncanakan, atau bahkan diimpikan. Ada jalinan sebab akibat yang membuat para personel berada di titik sebagai warga binaan. Membuat mereka tidak lagi bisa bebas mengakses ruang, jarak, dan waktu seleluasa kita.

Titik yang membawa mereka pada kesadaran memaknai kerinduan lebih dari sekedar I Miss U yang dikirimkan lewat pesan whatssap. Dengan emoticon kecupan berlogo jantung yang memerah. Mereka harus memendam kerinduan mereka, menyimpannya di balik ruang-ruang dingin kesendirian, kesunyian, dan kemudian ditumpahkan dalam dalam lagu Is Real.

Mendengarkan lagu ini mengantarkan ingatan pada sebuah quote lama, “engkau akan mengerti arti memiliki ketika kehilangan.” Sebuah kutipan yang selama ini timbul tenggelam akibat persinggungan yang terjadi karena pertemuan-pertemuan baru. Kutipan yang bisa diperdebatkan ketika tahu untuk memaknai kata memiliki tidak perlu sampai pada titik kehilangan.

Bahkan ketika seseorang terlempar pada titik paling nadir bisa memicu kesadaran sederhana untuk memaknai keberadaan seseorang. Keberadaan yang menjadi begitu berarti ketika tak bisa disentuh tetapi terasa begitu kuat kehadirannya.

For me more than enough to having u in my life.” Apa yang lebih menguatkan selain perasaaan akan kehadiran seseorang di saat berada dititik paling rendah.

Walau hanya berasal dari video penampilan yang diputar ulang, apa yang ingin disampaikan band Istirahat Sejenak melalui “Is Real” tetap bisa sampai, mengungkapkan bagaimana kerinduan akan seseorang yang selama ini telah hadir. Pemaknaan kehadiran setelah kehadiran fisik tak lagi hadir seperti biasanya.

Is real belum beredar di pasaran. “Tunggu saja, kawan-kawan sedang proses rekaman album di Rockness,” bocoran dari Krisna, sosok yang menghadirkan Istirahat Sejenak malam itu. Membuat Is Real melekat di kepala dengan mudah.

Is real” hanya sebuah lagu sederhana, dibawakan secara sederhana, untuk menyampaikan sebuah perasan yang tidak kalah sederhana namun sering kali menjadi begitu sulit diuangkapkan karena kesederhanaan tersebut. Kesederhanaan, rasa yang sering kali luput dan takut untuk disampaikan dan sering kali kalah bersaing oleh kerumitan yang lebih mundah dilontarkan.

The post “Istirahat Sejenak” dari Lapastik Bangli appeared first on BaleBengong.

Ubud Village Jazz Fest 2019: Harmoni Musik, Arsitektur, dan Penonton

panggung dengan video mapping merah putih di panggung UVJF 2019

Arsitektur bambu unik menghiasi lanskap Arma Museum & Resort Ubud, tempat perhelatan Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2019. Di tahun ketujuh penyelenggaraannya, seperti tahun sebelumnya, penamaan panggung masih sama: Giri, Pagi, dan Subak.

Ketiganya memiliki perannya masing-masing dalam membangun sebuah suasana yang membuat nyaman setiap musisi yang bermain di atasnya. Ada sebelas group musisi kenamaan luar negeri, dan dalam negeri yang mampu menghidupkan ketiga panggung secara bergiliran.

Sebut saja beberapa nama yang tertera di panggung Giri yakni Aram Rustamyants “New Centropezn Quartet” musisi asal Rusia yang telah terkenal juga di Jerman, Belgia, dan Spanyol. Ilugdin Trio, musisi asal Russia yang mengusung jazz modern, dan Sri Hanuraga Trio Feat Dira Sugandi, musisi kebanggaan Indonesia. Ia tampil mempesona dan hangat di tengah-tengah pengunjung yang menjaga degupnya dalam setiap permainan instrumen yang mereka tampilkan.

Tak jauh dari sana, panggung Padi menjadi panggung yang asyik masyuk menyajikan beberapa musisi pilihan seperti Arcing Wires, musisi yang berkolaborasi memainkan original komposisi yang mereka ciptakan. Arching Wires berasal dari Sydney, Australia. MLD Spot Jazz Season 4, sebuah band yang terbentuk dari kompetisi pencarian bakat MLDARE2PERFORM, Harry Mitchell Trio, musisi asal Australia yang pada tahun 2017 meraih penghargaan “Young Australian Jazz Musician of the year”, dan Michaela Rabitsch & Robert Pawlik Quartet, musisi kenamaan Austria.

Kecil tetapi intim, beberapa musisi juga tampil di panggung Subak, di antaranya adalah Yvon Thibeault “perspectives”, drummer Jazz asal Kanada yang saat ini tinggal di Bali. Erik Verwey Trio, musisi yang berasal dari negeri Kincir Angin, Belanda, Pete Jung Quartet, Musisi Korea yang mengusung genre Jazz progressive, serta ada Anggi Harahap Quintet, seorang pemain saxofon muda berasal dari Sumatera.

Tak kalah menarik adalah opening ceremony pada hari pertama UVJF ini. Dibuka oleh sederetan sambutan mulai dari panitia UVJF, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten Gianyar, tenaga ahli sekretaris Kementerian Bidang Manajemen Krisis Kepariwisataan, dan Perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“UVJF memberikan makna tersendiri untuk kemerdekaan Indonesia. Event ini merupakan salah satu upaya melestarikan seni budaya yang memiliki nilai jual yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan,” Ujar I Gusti Ngurah Putra selaku Tenaga Ahli Sekretaris Kementerian Bidang Manajemen Krisis Kepariwisataan.

Tak kalah seru, semua pihak yang memberikan sambutan berkumpul dan sama-sama membunyikan Okokan, salah satu alat musik bunyi-bunyian yang pada umumnya terbuat dari bahan kayu yang dilobangi hampir menyerupai kentungan. Setelah kemudian beberapa menitnya berdatangan pasukan tari Okokan yang mengisi penuh seluruh pangung Giri ini. Tepuk tangan pengunjung, dan cuaca yang cerah berangin menjadi pertanda baik dibukanya acara ini. Sekitar 2.000 pengunjung menunjukan antusiasme mereka dengan mengikuti irama jazz dari panggung satu ke panggung lainnya, seperti mata seorang pembaca ingin melahap banyak buku.

Hari ke-2 Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2019 diadakan tepat pada Hari Kemerdekaan RI (17/08). Merangkum seluruh gambaran keindahan esensi, yang sejatinya, dapat dirasakan setiap pendengar musik: menenteramkan, menenangkan, menggembirakan, mengharukan, dan memanjakan telinga. Pagelaran hari kedua yang sekaligus merupakan penutupan acara UVJF ini dipenuhi oleh sederet nama-nama musisi yang tampil memukau di setiap panggungnya.

Dimulai pada pukul 15.30 Wita, ada sekitar dua belas band yang mengisi tiga panggung UVJF kali ini. Subak menjadi panggung pertama sebagai saksi di mana aksi pianis muda berbakat Jacob Jayasena Trio (14) Feat Nadine Adriana (15) boleh menunjukan kelihaiannya. Setelahnya, musik mengaliri panggung padi, panggung di mana terdapat penampilan yang apik dari Kopi Jazz Kediri Feat Cendana Singers, sebuah band jazz yang berasal dari komunitas pecinta jazz di Kediri (Kediri Jazz Coffee).

Beralih ke panggung utama, Giri, penonton disuguhkan oleh penampilan menarik dari Voyager 4, band asal Perancis yang mengusung genre musik modern jazz. Penampilan berlanjut dari panggung ke panggung. Sebut saja setelahnya di panggung Giri ada sederet musisi yang tampil di atasnya dengan format band: Otti Jamalus Trio feat Yance Manusama, Hajar Bleh Big Band, dan line up utama berasal dari New York, USA, yang paling ditunggu-tunggu penikmat jazz. Aaron Goldberg Trio mampu membuat semua penonton bangkit berdiri dengan tepuk tangan setelah penampilannya.

Tak mau kalah, panggung Padi-pun menampilkan musisi yang menambah semarak pergelaran ini. Di antaranya Daniel Gorgone yang merupakan seorang pianis enerjik dan brilian yang sangat peduli terhadap persoalan rasa tradisi jazz Amerika dan kebudayaan di Itali, Eurasian Quintet Feat Dian Pratiwi, dan Nancy Ponto “Tribute to Ismail Marzuki”.

Sedangkan di panggung Subak diramaikan oleh permainan Caleb Fortuin & Bali Friends, Reza Askari, Trio “Roar”, dan Yuri Mahatma “Straight and Stretch”. Penampilan demi penampilan mempesona dibalut dengan video mapping yang mampu menambah elok suasana.

Di tengah-tengah pertunjukan tersebut, ada hal yang istimewa yaitu pemberian penghargaan Lifetime Achievement kepada pemain bass ternama yang lahir di Bandung, 64 tahun lalu, Yance Manusama. Ketika naik di atas panggung, Yance menuturkan pandangannya mengenai penghargaan dan ajang UVJF ini, “Speechless. Bangga sekali rasanya mendapatkan apresiasi ini , dan Ubud Village Jazz Festival memang selalu menjadi event yang istimewa, yang terbaik yang pernah ada di Indonesia,” tuturnya.

Berlokasi di Arma Museum & Resort, hari terakhir dari pergelaran utama UVJF 2019 ini pun mampu menggaet sekitar 2.000 penonton.

Sebelum berpuncak di Arma, ada sejumlah perhelatan Pre-Event Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2019. Di antaranya di Movenpick Resort & Spa menjadi pembuka pertama bagi rangkaian agenda roadshow UVJF.

Dihiasi dengan dua band jazz kenamaan dari Indonesia dan Rusia, lebih dari seratus pasang mata terpukau melihat dan mendengar masing-masing line up beraksi di panggungnya. Dua band tersebut adalah Aram Rustamyants’ New Centropezn Quartet yang berasal dari Rusia dan juga Eurasian Quintet feat Dian Pratiwi yang berasal dari Indonesia. “Ini menarik untuk mempererat hubungan kedua Negara melalui musik,” ujar Astrid Sulaiman, Vice Chairman UVJF.

Mengambil tempat di Movenpick Resort and Spa membuat gelaran Pre Event UVJF semakin hangat dalam balutan suasana yang elegan. Yuri Mahatma, Co-founder UVJF mengungkapkan bahwa penempatan musisi dalam Pre Event UVJF ini tak terlepas dari market pada venue itu sendiri. “Kami selalu melihat dari market dan venue. Kalau di Movenpick itu segmen marketnya adalah mix antara Asia dan Eropa, sehingga untuk musisi yang tampil pun kami menghadirkan dari Rusia dan dari Indonesia,” tambah Yuri.

Acara yang ramai digelar pada Jumat (9/8) dimulai pada pukul 19.30 WITA. Dibagi dua sesi, masing-masing musisi menunjukan kehilaiannya dalam mengalunkan lantunan irama Jazz dengan durasi penampilan masing-masing satu jam. Publik berhasil dibuai penampilan demi penampilan, lantunan irama jazz yang memerdekakan jiwa dan pikiran.

The post Ubud Village Jazz Fest 2019: Harmoni Musik, Arsitektur, dan Penonton appeared first on BaleBengong.

Sang Pejuang dari MR HIT

Arsip MR HIT

Lagu baru MR HIT ini berjudul Sang Pejuang. Lirik lagu dengan musik orkestra ini hanya tercipta dua jam.

“Ketika saat itu banyak sekali ada orang orang yang ingin memaksakan adab mereka pada orang lainnya. Mereka memaksakan kesamaan konsep pada hal yang jelas-jelas puspawarna dalam payung kebhinekaan,” tutur Agung Yudha, vokalisnya.

Mendefinisikan diri sebagai Band Rock, MR HIT yang beranggotakan Agung Yudha (Vokal, Gitar) , Indra Permana (Drum), Anantha Prasetya (Bass) dan Indra Dananjaya (Gitar) kerap membawa pesan-pesan dalam lagu mereka yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Melangkah dari Bali, MR HIT menelurkan album pertama di tahun 2017 dengan tajuk Rockolosal. Kini akan kembali merilis lagu teranyar yang akan dirilis tepat pada hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2019.

Band ini berharap lagu ini juga mampu menggawangi setiap aspek positif dari Indonesia. Dalam proses pembuatannya, para personil memutuskan memakai konsep orkestra yang digabung dengan sound rock modern. “Semata mata ingin menyebarkan dengan masif dan gagah bahwa Indonesia itu kuat dan kebhinekaan adalah kunci pemersatunya,” lanjut Yudha.

Ia meminjam sebuah kalimat dari sastrawan dan aktivis hak asasi manusia, Wiji Thukul dalam Sajak Kepada Bung Dadi. “Ini tanah airmu, di sini kita bukan turis” dikutip sebagai pesan utama dalam lagu berjudul Sang Pejuang ini.

“Semua adalah pejuang. Baik bagi diri sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan sekitar. Lagu ini kami dedikasikan untuk semua, Sang Pejuang yang akan terus hidup dan memperjuangankan yang terbaik di tanah air kita sendiri. Karena kemerdekaan akan didapatkan saat perjuangan telah dilakukan dengan maksimal,” tuturnya.

Band rock Bali, MR HIT

Topik nasionalisme berhubungan dengan ketertarikan mereka pada sejarah dan isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Namun bukan berarti lagu MR HIT hanya bercerita tentang hal tersebut. “Apapun yang terangkum dari pemikiran setiap personil juga kami jadikan lagu. Kadang ada juga lagu tentang cinta secara umum tepatnya. Bukan cinta cintaan egosentris yang memaksakan kehendak pada satu individu,” elaknya.

Selain itu ada lagu tentang kawan yang menderita skizofrenia. Lagu tentang pandangan hidup ke depan, dan lainnya. Benang merahnya satu, lagu lagu ini terlahir dari kisah terdekat yang dialami pada setiap personil untuk kemudian dikemas dengan konsep bermusik MR HIT.

Sejumlah nama diakui menjadi patron mereka dalam berkarya. Yudha menyebut deretan nama dari Indonesia yakni Ibu Robin Lim, Tan Malaka, I Gusti Ngurah Rai, Wiji Thukul, Jenderal Ahmad Yani, Mohammad Hatta, Dewa Agung Istri Kanya, Made Taro, Oeamar Said Tjokroaminoto, W.R Supratman, Ida Bagus Mantra, dan AA Made Djelantik. Sementara dari luar Indonesia ada Benazir Bhutto.

MR HIT akan mempersembahkan Sang Pejuang melalui laman Instagram mereka di instagram.com/mrhitofficial. Mengingat kemudahan akses dan persebaran informasi yang cukup signifikan, moda media sosial ini pun dipilih seiring kebiasaan MR HIT yang mengupdate kegiatan bermusik mereka melalui kanal https://www.youtube.com/mrhitband

Menuju tanggal 17 Agustus 2019, MR HIT mempersembahkan sebuah video perjalanan dari penciptaan Sang Pejuang https://www.instagram.com/tv/B01bmfkg7vs/?igshid=ousi5tncix3u

MR HIT terbentuk di tahun 2014. Pada Agustus, karena itulah bulan ini selalu jadi momentum mereka. Sebelumnya band ini hanya terdiri dari dua orang. Setelah bertemu teman lain yang sevisi, akhirnya konsep band MR HIT menjadi 4 orang.

Perkenalan mereka dari sebuah organisasi musik kemahasiswaan lintas angkatan di sebuah universitas negeri di Bali. Berangkat dari hobi yang sama dan bertemu di waktu yang tepat, MR HIT pun muncul ke publik.

Setelah album Rockolosal pada 2017, band ini seolah rehat. “Vakum? Mungkin tepatnya teralihkan sementara karena kesibukan masing masing personilnya. Hahaha. Tapi sekarang we are coming back, yeah!” semangat Yudha yang pernah bekerja di perusahaan koran harian ini.

The post Sang Pejuang dari MR HIT appeared first on BaleBengong.