Tag Archives: musik

Pajeromon, Umpatan ROLLFAST pada Ajik Berbadan Kekar

Dua merek khas pria dalam satu lagu untuk mengkritik ajik-ajik.

Digimon Adventure merupakan serial anime Jepang yang diproduksi sekitar akhir 1990-an dan awal 2000-an. Seingat saya hadir di layar kaca tiap Minggu.

Anime ini mengisahkan petualangan tokoh-tokohnya di dunia digital. Tentu saja sekaligus persahabatannya dengan Digimon (Digital monster). Agomon, Gatamon, Gabumon hanya tiga dari sekian banyak Digimon yang muncul diserial anime ini.

Sejujurnya, Pikachu dan anime Pokemon jauh lebih membekas dalam ingatan saya dibandingkan dengan anime Digimon. Namun, kemunculan secara resmi ““Pajeromon”” pada 14 Februari 2020, memunculkan kembali ingatan pada Digimon.

Pertama kali membaca kata ini pikiran langsung mengonotasikannya dengan sebuah hormon, seperti testoteron dan progesterone. Mungkin karena akhiran “on” di belakang “pajerom”. Namun, ternyata konotasi yang berhasil ditarik itu salah. Deskripsi di unggahan video menyatakan bahwa ““Pajeromon”” merupakan figur Digimon (Digital Monster), sesosok monster imajiner yang dilahirkan ROLLFAST.

“Pajeromon”, figur digimon yang dihadirkan dalam bentuk sebuah single.

Baiklah. Daripada panjang kali lebar membahas digimon, yang berpotensi dianggap sebagai nostalgia manis anak 90-an yang enggan move on, maka lebih baik sedikit berbincang tentang “Pajeromon”, Digimon yang baru saja dilahirkan oleh ROLLFAST, sebuah band psychedelic rock yang awalnya beranggotakan 5 orang pemuda Denpasar.

Berawal dari Ajik

“Ajik datang… Ajik datang… Ajak datang…” disebut berulang-ulang. Seolah begitu kegirangan menyambut kedatangan sosok yang ditunggu, sang Ajik.

Ajik adalah panggilan untuk sosok berpengaruh dalam struktur kuasa. Pangilan ayah dalam keluarga darah biru. Bisa juga digunakan untuk menjilat para pembesar secara kedudukan, kekayaan atau kekuatan.

Bukankah seseorang suka dipuji? Dan, panggilan ini tentu saja efektif digunakan untuk menggerogoti orang-orang belog ajum (sombong dengan kebodohannya).

Pembukaan ini menggambarkan bentuk awal dari makhluk imajiner Pajeromon sekaligus menjawab dari mana asal komentar “ajik datang” yang sering meuncul di kolom komentar unggahan Instagram band ROLLFAST.

“Dini hari di simpang enam yang kini dipensiunkan.”

Setelah mendengar teriakan kegirangan menyambut kedatangan Ajik, kita diajak ke sebuah sudut ikonik kota Denpasar. Simpang enam. Sebuah persimpangan dengan bilangan prima terbanyak yang saya tahu. Karena simpang siur bukanlah sebuah bilangan, tetapi lebih pada sebuah keadaan kusut.

Dan, bagi saya yang jarang ke Bali Selatan, kehadiran Underpass Simpang Siur membuat Simpang Siur semakin kusut, karena salah jalur berarti salah arah. Hidup sudah simpang siur, jadi tidak usahlah semakin dibuat kusut dengan melintasi Simpang Siur (kini Simpang Dewa Ruci). Namun, di sisi yang lain hidup terlalu beragam untuk diseragamkan hanya dengan dipermudah mengikuti nasehat berada “satu jalur”.

Persoalannya, tempat apa di Simpang Enam yang kini dipensiunkan? Kalimat dipensiunkan merujuk pada paksaan, dipaksa pensiun. Tebak-tebak buah manggis, apakah tempat di simpang enam yang dipaksa pensiun?

Jawabannya tentu mudah, tinggal Googling saja. Mengetauhi tempat tersebut sebenarnya penting-tidak penting. Tidak penting karena Pajeromon tetap akan lahir dengan atau tidak mengetahui tempat tersebut. Penting, karena dengan mengetahui tempat tersebut kita bisa memahami secara detail latar evolusi Ajik sekaligus mengetahui sekelumit sejarah kota Denpasar. Bahwasannya kota ini pernah memiliki sebuah pusat hiburan malam dengan dunia yang bertautan di dalamnya.

Diiringi dentuman drum, (mungkin) suara burung gagak, gitar, bass dan bebunyian lain yang begitu padat, ROLLFAST mengajak bertemu sosok ajik yang sebenanrya.

“Komandan bagi-bagi bantuan langsung berupa cinta merah muda.”

Komandan, sosok yang memegang komando, memiliki kuasa banyak orang dan yang hobi pamer. Tentu bukan perasaan yang dipamerkan. Lebih nyata dari itu, kekuatan meteri, lebih konkret.

Dini hari membagikan bantuan langsung cinta merah muda, hanya karena 14 Februari merupakan hari Valentine jangan kemudian berimajinasi yang dibagikan itu adalah perasaan cinta yang romantik. Bisa jadi itu hanya selembar uang Rp 100 ribuan yang dihamburkan.

Untuk apa? Untuk menunjukkan kuasa sebagai usaha pemenuhan rasa berkuasa. Bukankah pengakuan merupakan sebuah bentuk kebutuhan yang dibutuhkan manusia?

Itulah sekelumit petikan lirik dari lagu “Pajeromon” milik ROLLFAST, sebuah band yang dimotori oleh Agha Praditya (vocal), AAN Triandana (Bass) dan Bayu Krisna (Gitar). Sebuah single yang baru saja dilepas ke Youtube dalam bentuk video lirik. Seolah ingin ikut merayakan hari Valentine.

Jika membaca lebih detail keterangan tentang Pajeromon yang mengantarkan unggahan video, hal pertama yang terlintas tentu sebuah teori cocoklogi.

Bayangkan saja, Pajeromon ternyata berasal dari tiga kata; Pajero, Jero, dan Romon. Tiga kata yang kemudian digabungkan dan menjadi sebuah kata Pajeromon yang kemudian dipilih sebagai nama dari anak mereka yang ternyata sosok monster digital. Kurang cocoklogi apa lagi?

Bagaimana mungkin, sebuah varian mobil (Pajero) digabung dengan kata yang selain berarti panggilan untuk orang yang mendapat wewenang (tanggung jawab) juga bisa merujuk pada rumah keluarga berkasta (Jero). Dua kata itu kemudian ditambah lagi dengan sebuah kata sifat romon yang berarti kotor (Romon). Lalu menjadi sebuah kata yang mewakili sifat maskulin yang diumbar.

Ahhh, apa yang sebenarnya ada dalam kepala mereka?

Mari tinggalkan saja teori cocoklogi ala ROLLFAST dalam hal membuat kata “Pajeromon”. Kita kembali masuk ke sebuah tempat yang dipensiunkan di Simpang Enam, di mana komandan sedang membagikan bantuan langsung cinta merah muda.

“Jika tak sungkan, sembunyikan homofob, demi ikan tercinta”

Perlahan ajik berevolusi (bukan Revolusi Bung), menjadi sosok komandan yang berlaku begitu licik. Menyembunyikan prilaku antipati terhadap orientasi di luar apa yang diyakininya hanya untuk bisa berbaur. Semakin menancapkan kuasanya dan tentu saja memastikan dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Menjelma binatang di lantai mangsa, mengkristalkan hasrat kuasa.”

“Ereksi maskulinnya, sang bonobo berkedok dansa.”

Keriuhan lantai dansa menstimulasi. Di tengah kerumunan mangsa, Ajik sang komandan berevolusi sempurna, menjadi binatang. Sifat aslinya muncul, cara pikir kerdil disembunyikan di balik setiap laku maskulin yang diumbar. Kuasa kekuatan yang diperagakan untuk semakin menancapkan kuku kuasa dan melanggengkan kekuasaan.

Apa akibatnya?

“Hukum rimba lantai dansa, kuku bima haus mangsa
Hukum rimba lantai dansa, kuku bima raja rasa
Hukum rimba lantai dansa, kuku bima merasa raja
Hukum rimba lantai dansa, kuku bima haus mangsa”

Kemunculan Pajeromon menjadi sosok yang tak bisa dihindarkan terutama ketika orang-orang licik, homofobia, tetapi memiliki kekuatan dan kuasa seperti misalnya Ajik si komandan diberi ruang.

Maskulin menjadi sifat yang begitu dekat di kesaharian, seperti halnya kasih yang begitu mudah berubah menjadi kasihan, sifat begitu cepat mewujud. Hadir dalam bentuk nyata prilaku-prilaku yang berorientasi pada pamer kekuatan dan kekuasaan.

Penggunaan kata “kuku bima” sebagai sebuah frasa yang mewakili sifat maskulin menjadi kejutan tersendiri. Sebuah klimaks dari perilaku si ajik yang berevolusi menjadi “Pajeromon”. Bagaimana tidak, kuku bima begitu familiar di telinga karena menjadi varian sebuah minuman instan yang memamerkan kekekaran, kekuatan, vitalitas, keberanian, hal-hal yang begitu diidentikkan dengan kata maskulin.

Dua Jenama

Pajeromon ternyata sebuah lagu yang menghadirkan 2 merek. Merk pertama “Pajero” merupakan varian mobil model SUV yang siap melibas segala medan sebagai simbol kekar dan bertenaga. Dia dipilih mewakili penggambaran sosok ajik si komandan aka Pajeromon. Merek kedua “Kuku Bima” yang dipilih untuk menggambarkan kekuatan dan perilaku Si Pajeromon.

Jangan lupa Bima adalah simbol kekuatan dalam mitologi Panca Pendawa. Bahkan pis Bima (keping uang logam yang menggambarkan sosok Bima) seringkali dicari karena dipercaya tuahnya akan memberi kekuatan pada penggunanya.

Dua merek yang memang menyematkan kesan maskulin dan menggunakannya sebagai media jualan. Yang tanpa disadari tentu saja menjadi media untuk semakin menguatkan paham maskulin di tengah-tengah kita. Sebuah cara halus yang begitu romon, yang tanpa disadari memupuk mentalitas yang tidak kalah romon-nya (romon=kotor, Bahasa Bali).

Melalui Pajeromon, ROLLFAST menghadirkan dan menggunakan dua merek yang begitu jelas menggunakan maskulin sebagai strategi branding penjualan mereka untuk kemudian mengkritisi bagaimana perilaku sosial yang lahir dari sifat maskulin tersebut. Sifat yang oleh khalayak ramai biasa dilihat dan kita anggap biasa.

Bagaimana pemujaan berlebih atas kuasa kekuatan yang tengah berlangsung di tengah-tengah kita dan diumbar sedemikian rupa. Bagaimana orang-orang dengan “kuku bima” bisa seenaknya mengekspresikan hasratnya, bagaimana hukum rimba lantai dansa ternyata bekerja keluar dari lantai dansa dan terjadi di sekitar kita.

Buat yang berpikir ROLLFAST akan menghadirkan komposisi musik sama dengan di album pertama mereka, kalian harus kecewa. Di single Pajeromon, ROLLFAST menghadirkan bentuk baru, baik secara lirik, cara sang vokalis menghadirkan lirik ke dalam lagu, bahkan aneka bebunyian yang muncul dalam lagu.

Pajeromon adalah sebuah penggambaran imajiner. Menyusuri lekukan tubuh monster digital melalui lirik kasar tanpa pengulangan (jangan berharap menemukan reff). Lirik kasar dan cenderung vulgar, tak butuh usaha berat untuk mencernanya. Namun, kekasaran lirik yang jauh dari kata puitis membuat laku sosok “ajik” bisa tergambarkan dengan jelas.

Iringan komposisi instrumen yang tak kalah kasar, dengan serangkaian bebunyian yang entah dari mana, berhasil menyusuri derap adrenalin yang ikut melata di lantai dansa sebuah tempat di Simpang Enam. Sedikit akses mistis (gagak dan suara seperti seruling ular) menghadirkan kemuakan pada sosok kekekaran Si Pajeromon dan tradisi maskulin yang diumbarnya.

Jika bagi ROLLFAST Pajeromon merupakan sosok Digimon imajiner, maka dengan subjektivitas pendengar, saya tetap berada pada pendirian bahwasannya Pajeromon adalah sebuah hormon. Alasannya sederhana, sebagai Digimon, “Pajeromon” akan menjadi sosok di luar diri yang bisa dengan mudah ditinggalkan.

Namun, sebagai hormon “Pajeromon” adalah sesuatu yang ada dalam diri, yang oleh kekusaan dan kekuatan dalam genggaman tangan bisa mengubah siapapun menjadi sosok binatang yang menyembunyikan kekerdilan cara berpikirnya dengan berperilaku penuh penggunaan kekuatan dan kekuasaan. Itu artinya siapapun bisa berubah menjadi “Pajeromon” ketika menggenggam kuasa.

Ape gaene jleme-jleme ne?” (apa sih yang orang-orang ini buat?)

Mungkin saja muncul ketika pikiran terpaku pada komposisi music psychedelic rock ala ROLLFAST di album “Lanes Oil, Dream Is Pry”. Pemikirian yang mungkin harus dikoreksi karena apa yang dihadirkan lewat Pajeromon tentu bukan sesuatu yang sama dengan ROLLFAST di album pertama. Bukan pula komposisi musik yang biasa menyusup ke telinga. Di sanalah letak keunikan Pajeromon, sesuatu yang segar yang tak biasa didengar telinga.

Sebagai pendengar ada imajinasi nakal yang tiba-tiba muncul. Bagaimana jika single ini diputar di mobil Ferosa Jumawa, sebuah mobil yang dimodifikasi sehingga bagian depan terlihat menengadah. Kendaraan yang biasanya mengangkut orang-orang kekar, dengan potongan rambut komando dan dada membusung, seragam. Lalu bagaimana sosok-sosok seperti itu larut dalam beat Pajeromon, bergoyang minimalis, dengan tetap membusungkan dada, seragam.

Atau jika ROLLFAST menggunakan Ferosa ini sebagai simbol sifat maskulin (menggantikan Pajero), mungkin judulnya jadi “Feromon” hormon ferosa. :P.

Tulisan ini hanya sebuah tanggapan subjektif bagi Pajeromon, satu lagu dengan judul cocoklogi memuat dua merk yang mengumbar kekuatan-kekekaran otot-dan sifat pamer kekuatan dan kuasa. Seperti halnya ajik yang bisa jadi siapa saja dan muncul di mana saja, demikian juga Pajeromon tidak melulu kekar, berotot dan hadir di Simpang Enam.

Dalam bentuk kolektif “Pajeromon” bisa menjelma penguasa yang mengunakan pendekatan kekerasan dalam setiap persoalan, bisa menjelma masyarakat yang tidak toleran terhadap minoritas. Dalam individu bisa menjadi kaum fanatik dan homofobia yang anti pada perbedaan di luar keyakinannya.

Bahkan dalam bentuk nyata bisa menjelma sosok raja rupawan yang gila disembah, memamerkan kuasa di hadapan ibu-ibu yang sebelumnya gigih berjuang mempertahankan ruang hidupnya. Sialnya kehadirannya alih-alih membela perjuangan gigih warga malah memperkeruh situasi dan semakin menjauhkan warga dari hak dan akses tanah yang secara turun temurun telah menjadi ruang hidup mereka.

Single “Pajeromon” bisa menjadi sebuah single reflektif untuk melihat diri dengan potensi kerentanan yang sama bagi setiap orang untuk berevolusi menjadi ajik sebelum kemudian menjadi Pajeromon.

Sebuah single yang bisa digunakan untuk menghidupkan alarm tanda bahaya ketika mendengar “Ajik datang… Ajik datang… Ajik datang… Ajik datang…”, agar kita tidak mejadi korban “Pajeromon” yang sedang mencari mangsa. [b]

“Pang Ci Nawang”, Kejujuran tentang Kontrasnya Kehidupan Musisi Bali

Marco Punk Bali segera luncurkan single dan video klip terbaru mereka, “Pang Ci Nawang”.

Marco Punk Bali, band indie berbahasa Bali yang mengusung aliran alternative punk, terbentuk pada tahun 2008, awalnya, merupakan sebuah projek sampingan dari Komar, bersama gitaris lolot Doni Lesmana, Lelut (Bass), serta Hendra (drum).

Seiring waktu, karena kesibukan masing-masing, akhinya Doni Lesmana mengundurkan diri sebagai gitaris dan hanya ingin fokus memproduseri Marco Punx Bali. Keluarnya Doni diikuti oleh Lelut dan Hendra. Tak lama, formasi barupun dibentuk.

Marco Punx Bali aktif menciptakan lagu-lagu dengan formasi baru ini yang terdiri dari I Komang Eka Darma Usadha (37) alias Komar pada vokal; I Made Gede Adi Kusuma (30) alias Adi pada gitar; I Komang Dedy Suryawan (33) alias Marlyn pada bass; dan I Made Ade Ananta Saputra (30) alias Ade di drum.

“Pang Ci Nawang” merupakan single keempat. Penggarapan single ini menghabiskan sekitar setahun lamanya, karena kesibukan pekerjaan masing-masing personil.

Dia digadang-gadang mampu memberikan alternatif musik berbahasa Bali melanjutkan single-single sebelumnya. Pada 2015, band ini mengawali dengan merilis “Tresna Setonden Mati”, lalu dilanjutkan dengan “De Ngutang Lulu Ngawag-Ngawang” (2016), dan “Jelema Serakah” (2017).

Pang Ci Nawang merupakan lagu yang sangat berarti bagi saya. Lagu ini adalah cerminan dari kehidupan saya di mana saya bisa menjadi figur ayah, suami, dan juga penulis lagu serta vokalis band seperti saat ini dalam sekali waktu. Saya menyadari pilihan saya untuk menjalani itu semua dengan sangat sederhana,” ujar Komar, pentolan Marco Punx Bali.

Marlyn (Gitaris) menambahkan lagu ini mewakili kesadaran mereka akan kesetaraan terhadap kaum perempuan. “Di mana laki-laki juga pada imbang berbagi peran dengan perempuan untuk menjalankan tugas-tugas dan keputusan dalam lingkup keluarga di Bali,” ujarnya saat konferensi pers di Kubu Kopi, Denpasar pada Selasa, 28 Januari 2020.

Marco Punk Bali rilis Single Pang Ci Nawang

Ungkapan Kejujuran

Pang Ci Nawang adalah bentuk ungkapan kejujuran Marco Punk Bali dalam bermusik dan berkehidupan. Image di panggung bisa saja dibentuk tapi keputusan untuk berani jujur menunjukan kehidupan keseharian adalah pilihan yang diambil oleh band ini. Marco Punk Bali merasa ketika mereka bermusik secara jujur akan mempermudah mereka dalam berkarya.

Tak tanggung-tanggung, bukan hanya lagu terbaru yang akan diluncurkan oleh Marco Punx Bali, acara yang akan diadakan meriah di Antida SoundGarden, Jl. Waribang No. 32 Kesiman, Denpasar ini juga akan dihiasi oleh Video Klip yang diambil dari lagu Pang Ci Nawang tersebut.

Ayyiek Falgunadi, sutradara yang mengkonsepkan dan membuat video klip ini mengatakan bahwa video klip ini sangat sederhana dibuat dengan waktu yang tidak lama, yaitu tiga hari dengan berdurasi kurang dari tiga menit.

“Konsepnya diambil dari kehidupan Komar. Intinya, perbedaan kehidupan dia di rumah, sebagai suami dan bapak dengan kehidupan dia sebagai personel band,” ungkapnya.

Selain itu, acara yang akan berlangsung pada Kamis, 30 Januari 2020 ini akan dimeriahkan musisi berbahasa Bali lain. Mereka akan akan tampil di panggung yang terkonsep tersendiri. Sebut saja Bayu KW, penyanyi Bali yang bangkit kembali dengan Supir Kapal 2 pada tahun 2019 ini. Bayu KW akan turut mengambil bagian pada acara ini akan tampil di “Panggung Ci“.

Kemudian ada juga Made Bawa “Lolot” yang akan membawakan lagu-lagunya secara akustik di panggung di “Panggung Cang“. Panggung utama “Panggung Nawang Ci” akan menampilkan penampilan utama Marco Punk Bali.

Acara ini dikemas sengaja dikemas secara spesial dengan menghadirkan tiga musisi di tiga panggung yang berbeda. Sebagai penutup, akan tampil DJ Saylow yang akan mengisi seluruh telinga pengunjung dengan irama koplo yang akan menutup perayaan rilis ini.

Acara pesta rilis ini akan digelar tanpa memungut biasa dari penonton dan diharapkan penggemar Marco Punx Bali dapan ikut berpesta malam itu.

Video klip “Pang Ci Nawang” nantinya dapat di tonton melalui kanal youtube Marco Punk Bali: https://www.youtube.com/channel/UCL9UfyoKYb4xZeWeHZ0PnSw

Lirik lagu “PANG CI NAWANG”

Sing ade ne nawang. tiang sube ngeleh kurenan
Sing ade percaye tiang sube ngelah nak cerik

Reff

Di jumah tiang manting
Di jumah tiang ngempu
Di jumah tiang nyampat
Apang pade imbang
Sing ade ne nawang di jumah tiang bise nerik
Sing ade percaye di jumah tiang bise ngepel


back to reff

Tertunda Empat Tahun, SOB pun Merilis Videoklip “Rise To The End”

Suhu ekstrem di Bali hingga mencapai 35 derajat Celcius.

Menurut Balai Meteorolgi, Geofisika dan Klimatologi (BMKG) Bali inilah suhu terpanas tertinggi dalam 30 tahun belakangan di Bali. Secara ilmiah suhu tinggi ini disebabkan oleh Bali memasuki peralihan musim kemarau ke musim hujan.

Video Klip “Rise To The End” disutradarai oleh: Erick Est

Faktor lain adalah posisi matahari saat ini berada di selatan garis Khatulistiwa. Akibatnya, intensitas cahaya matahari lebih banyak sampai ke permukaan bumi. Perubahan Iklim juga menjadi faktor utama kondisi ini. Ada pergeseran umur cuaca yang sangat ekstrem terjadi.

Scared Of Bums berpikir bahwa kondisi sekarang ini adalah kondisi yang tepat untuk meluncurkan video klip “Rise To The End”. Album ini secara visual menampilkan kondisi-kondisi alam yang sudah semakin berubah.

Taman Nasional Baluran dan Gunung Bromo adalah lokasi menjadi pilihan Erick Est untuk shooting video klip “Rise To The End”. Keduanya bercerita secara surealis menghadirkan kontradiksi antara mimpi dan realita menjadi nyata dalam visual yang memperlihatkan objek nyata dalam keadaan yang tidak mungkin terjadi, seperti dalam mimpi atau alam bawah sadar manusia.

Lagu “Rise To The End” adalah single dari album kedua “Let’s Turn On Fire” yang dirilis pada tahun 2013. “Rise To The End sendiri mengandung arti untuk tidak pernah menyerah, mempertahankan apa yg kita yakini sampai akhir,” ujar Gede Putra Budi Noviyana, drummer Scared Of Bums yang lebih akrab dipanggil Nova.

Banyak pengalaman menarik ketika pengambilan gambar video klip ini. Semisal di Taman Nasional Baluran kamera drone sempat jatuh dan kemudian diperingati penjaga pos Taman Nasional Baluran untuk menjaga ketenangan banteng liar penghuni Taman Nasional.

Tidak Turun Pamor

Putu Eka Janantha atau sering dipanggil Bocare vokalis Scared Of Bums mengatakan dia dikerjain Erick Est, ketika adegan badan dikubur sampai leher di gurun pasir Gunung Bromo. Proses shooting sempat tertunda satu hari karena hujan angin di lokasi sampai menerbangkan tenda crew di lokasi. Tim produksi dan personil benar-benar diuji secara fisik dan mental ketika proses pembuatan video.

Rilis video klip “Rise To The End” di kanal YouTube ini adalah sebagai jembatan penghubung antara album kedua dan dan album terbaru Scared Of Bums berikutnya yang bertajuk “Delay” yang akan segera dirilis akhir tahun ini.

Album “Delay” akan diawali dengan perilisan single pertama yang berjudul sama dengan album yaitu “Delay” yang rencananya dirilis dalam dua pekan kedepan. Single ini nantinya akan dapat dinikmati di semua kanal musik digital terpopuler.

Jarak enam tahun dari album terakhir Scared Of Bums tidak membuat band ini turun pamor. Penggemar Scare Of Bums yang sering disebut “5013mc” (Scared Of Bums Mos Pit Crew) selalu membludak memenuhi festival-festival musik dengan kapasitas penonton ribuan.

Penampilan terakhir Scared Of Bums di acara Carnival Of Rock yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Bali di Panggung Terbuka Ardha Candra, 06 November 2019 silam memberikan kesempatan band ini untuk menyuarakan perjuangan “Bali Tolak Reklamasi” di hadapan Pemerintah Provinsi Bali dengan membawakan lagu “Kepalkan Tangan Kiri”.

Momen ini juga direspon oleh penonton dari Desa Adat/Pakraman Sumerta dengan membawa atribut ForBali ke atas panggung. Ini menunjukan kalau band ini berada di koridor mendukung Pemerintah Provinsi Bali ketika bicara tentang memajukan industri kreatif generasi milenial akan tetapi tetap konsisten mengawal isu-isu sosial di Bali. [b]

The post Tertunda Empat Tahun, SOB pun Merilis Videoklip “Rise To The End” appeared first on BaleBengong.

“Istirahat Sejenak” dari Lapastik Bangli

Istirahat Sejenak. Karyanya mengajak rehat dan merefleksikan.

Sebuah petikan gitar mengawali alunan kalimat “can u see how’s beautiful u are,” dengan suara berat milik sosok bertopi. Ia duduk dengan sebuah gitar akustik di depan panel surya yang terpasang rapi di hadapan baliho yang berjejer.

Sebuah ingatan akan perjumpaan pertama dengan lagu ini menyusup ke telinga. Perpaduan suara berat dan petikan akustik membuat kata-kata yang diucapkan Yogi seolah tidak ditujukan untuk mereka yang sedang duduk dihadapannya, melainkan untuk dirinya sendiri.

Pukulan Ajik pada kajon hadir setelah kalimat “… couse that’s how you look like”, disusul melodi Indra yang menyayat. Yogi, vokalisnya melanjutkan dendangannya.

Lantunan lirik sederhana, para pendengar bisa dengan mudah menerima dan menerjemahkannya. Formasi band ini menyebut diri mereka Istirahat Sejenak.

Suara berat Yogi membawa masuk lebih jauh, tempo pelan dan melodi yang mengiringi menghanyutkan. “I want to be with you when the sun rise up/ I want to be with you when the sun goes down/ And I want to be with u all night long/Couse I want u to know I need u in my life.”

Ingatan dengan penampilan mereka secara live di Pra Bali yang Binal 8 di Taman Baca Kesiman hadir kembali melalui rekaman dokumentasi ala kadarnya. Ingatan yang membawa getaran yang sama seperti hadir dan melihat mereka bermain secara langsung. Ingatan yang membawa sensasi kerinduan mendalam, hadir dengan intensitas yang sama.

https://www.youtube.com/watch?time_continue=17&v=phE0zrO-VoQ

Kerinduan yang hadir akibat waktu dan ruang yang tak berpihak. Kerinduan yang terpendam dan tak mampu diobati dengan layanan telekomunikasi 4.0 yang katanya telah melampaui jarak dan waktu. Kerinduan yang kemudian semakin terekspresikan lewat permainan rima rap Ayi, “lady… now I should tell you that I was fallin at the first time, I rest my eyes on you…”

Lirik itu menjelasakan bagaimana perasaaan sesuangguhnya yang tak sanggup diucapkan. Kemudian pertemuan hadir untuk mejadi oase kerinduan.

Istirahat Sejenak merupakan band Lapas Narkotik Klas IIA Bangli. Para personelnya merupakan warga binaan Lapas yang berlokasi di Br. Buungan, Jl. Purasti, Tiga, Susut, Kabupaten Bangli. Istirahan Sejenak digawangi oleh Yogi pada gitar akustik dan vocal, Ayi sebagai rap, Mahesa pada bass, Indra dengan melody gitar, Adut pada perkusi, dan Ajik pada kajon.

Status yang disandang sebagai warga Lapas menguatkan karkter lagu yang diberi judul Is Real itu. Sebuah lagu yang mengungkangkan bagaimana perasaan terhadap orang-orang yang mereka cintai dan mereka rindukan. Sebuah ungkapan perasaan sederhana yang mereka utarakan lewat lagu. Baru bisa dirasakan ketika melihat penampilan panggung mereka secara langsung.

Lagu yang membawa saya secara personal masuk ke dalam kenyataan selalu ada saja perasaaan yang tak bisa terucap. Diasumsikan telah diwakilkan lewat tatapan mata yang beradu namun pada kenyataannya itu tak cukup. Perasaan tersebut tetap saja mengganjal, bertemu dengan dominasi gengsi sifat maskulin dengan segala citra kuat dan perkasa yang sebenarnya menjadi boomerang basi sosok laki-laki itu sendiri.

Is Real tidak menghadirkan peraasaan rindu tersebut dengan sajian cengeng, mereka menghadirkannya dengan tetap menjadi lelaki dan segala citra yang menempel pada label laki-laki. Pengakuan bahwa lelaki memiliki perasaan yang rapuh dan rentan.

Sebuah peristiwa pada akhirnya akan membawa si lelaki dengan kelelakiannya terjerembab pada satu titik. Mengakui sosok yang ada di sebelahnya begitu berarti dan tak ada satu pun yang berhasil dilakukan selama ini bisa mewakili perasaan tersebut.

Menjadi warga binaan tentu bukan sebuah peristiwa yang diinginkan, direncanakan, atau bahkan diimpikan. Ada jalinan sebab akibat yang membuat para personel berada di titik sebagai warga binaan. Membuat mereka tidak lagi bisa bebas mengakses ruang, jarak, dan waktu seleluasa kita.

Titik yang membawa mereka pada kesadaran memaknai kerinduan lebih dari sekedar I Miss U yang dikirimkan lewat pesan whatssap. Dengan emoticon kecupan berlogo jantung yang memerah. Mereka harus memendam kerinduan mereka, menyimpannya di balik ruang-ruang dingin kesendirian, kesunyian, dan kemudian ditumpahkan dalam dalam lagu Is Real.

Mendengarkan lagu ini mengantarkan ingatan pada sebuah quote lama, “engkau akan mengerti arti memiliki ketika kehilangan.” Sebuah kutipan yang selama ini timbul tenggelam akibat persinggungan yang terjadi karena pertemuan-pertemuan baru. Kutipan yang bisa diperdebatkan ketika tahu untuk memaknai kata memiliki tidak perlu sampai pada titik kehilangan.

Bahkan ketika seseorang terlempar pada titik paling nadir bisa memicu kesadaran sederhana untuk memaknai keberadaan seseorang. Keberadaan yang menjadi begitu berarti ketika tak bisa disentuh tetapi terasa begitu kuat kehadirannya.

For me more than enough to having u in my life.” Apa yang lebih menguatkan selain perasaaan akan kehadiran seseorang di saat berada dititik paling rendah.

Walau hanya berasal dari video penampilan yang diputar ulang, apa yang ingin disampaikan band Istirahat Sejenak melalui “Is Real” tetap bisa sampai, mengungkapkan bagaimana kerinduan akan seseorang yang selama ini telah hadir. Pemaknaan kehadiran setelah kehadiran fisik tak lagi hadir seperti biasanya.

Is real belum beredar di pasaran. “Tunggu saja, kawan-kawan sedang proses rekaman album di Rockness,” bocoran dari Krisna, sosok yang menghadirkan Istirahat Sejenak malam itu. Membuat Is Real melekat di kepala dengan mudah.

Is real” hanya sebuah lagu sederhana, dibawakan secara sederhana, untuk menyampaikan sebuah perasan yang tidak kalah sederhana namun sering kali menjadi begitu sulit diuangkapkan karena kesederhanaan tersebut. Kesederhanaan, rasa yang sering kali luput dan takut untuk disampaikan dan sering kali kalah bersaing oleh kerumitan yang lebih mundah dilontarkan.

The post “Istirahat Sejenak” dari Lapastik Bangli appeared first on BaleBengong.