Tag Archives: minikino

Minikino Lanjutkan Perjalanan Layar Tancap di Lombok

Dari Bali, kegembiraan MFW5 berlanjut ke pulau tetangga, Lombok.

Kegembiraan festival film pendek selama sepekan penuh di pulau Bali, Minikino Film Week 5, baru saja usai. Kini, kegembiraan berlanjut dengan Pop Up Cinema Roadshow kembali ke pulau Lombok pada 31 Oktober – 5 November 2019.

Minikino kembali mengadakan POST FESTIVAL POP-UP CINEMA ke Lombok. Kegiatan ini bekerja sama dengan Rotary Disaster Relief (RDR) D3420 dan Rotary Club Mataram, didukung oleh PICTURES PURIN, Yayasan KINO MEDIA dan Program Anak-Anak Festival Film Pendek Clermont-Ferrand.

Roadshow Minikino Film Week 5 di Lombok dimulai pada hari Jumat, 1 November 2019. Para relawan berjumlah tujuh orang berangkat sehari sebelumnya dan menempuh perjalanan selama hampir tujuh jam dengan dua kendaraan membawa berbagai perlengkapan pemutaran layar tancap atau yang disebut pop-up cinema.

Pagi hari dibuka melakukan workshop visual story telling bersama remaja di Desa Karang Bajo, Lombok Utara. Peserta workshop sejumlah 8 orang dengan beragam profil. Ada dua orang peserta yang masih kuliah sambil menjadi guru TK, ada yang sekolah tingkat SMU, bahkan ada yang masih bersekolah dan memutuskan untuk menjadi Youtuber.

Rata-rata para peserta workshop sudah kenal produksi video. Pengambilan gambar dilakukan dengan HP, mengedit, serta menyebarkan hasil videonya ke sosial media dan platform seperti Youtube.

Fasilitator workshop I Made Suarbawa dan Edo Wulia memulai pelatihan dengan perkenalan diri, mulai dari seluruh tim kerja Minikino sampai peserta; dengan teknik visual storytelling.

Keseluruhan peserta yang hadir diminta untuk melakukan visualisasi dirinya masing-masing ke dalam gambar. Ada yang membuat 3 gambar pada sehelai kertas, ada juga yang 4. Dari situlah mereka bercerita siapa mereka, apa yang mereka lakukan dan apa harapan mereka ke depan.

Sesi kedua workshop adalah membaca gambar. Ada dua teknik yang diterapkan pada lokakarya, yaitu Deskripsi dan Narasi. Teknik Deskripsi mengungkap apa yang ada dalam gambar. Sementara teknik Narasi diarahkan membuat cerita apa yang mungkin terjadi di balik gambar. Langkah berikutnya adalah membangun narasi dari beberapa gambar.

Sebenarnya bagian ini adalah pengenalan teknik editing. Dalam artian, susunan gambar ketika 3 buah gambar disusun menghasilkan cerita. Kemudian semua peserta diajak mencoba salah satu gambar digantikan dengan gambar lain. Para peserta menemukan cerita serta efek yang berbeda dari susunan gambar yang baru itu.

Sesi ketiga adalah bagian di mana para fasilitator workshop memancing teman-teman remaja untuk menceritakan sesuatu tentang desa mereka. Ada beberapa usulan di sana; menceritakan Desa Adat Bayan, yang merupakan desa asal-usul dari masyarakat Karang Bajo. Para remaja menganggap desa tersebut sebagai asal-usul mereka. Mereka masih mengikuti upacara dan kegiatan di rumah adat serta masjid tua yang ada di sana.

Ide lain saat workshop adalah menceritakan tentang kondisi desa mereka; tentang masjid, lapangan, ruang publik dan rumah mereka.

Antusias

Keseluruhan workshop seharusnya selesai pada pukul 12, tapi karena para peserta masih antusias maka seluruh ide cerita tadi dicatat. Sesi workshop tetap dibubarkan sementara karena para peserta harus pergi ke masjid untuk sholat Jumat. Seusai sholat jumat, kami berkumpul lagi, dan akhirnya diputuskan untuk mengangkat ide cerita tentang masjid.

Masijd desa saat gempa Lombok 2018 rusak dan banyak retak sehingga tak ada yang berani menggunakan. Akhirnya Masjid tersebut diratakan dengan tanah dan rencananya akan dibangun. Saat ini mereka menggunakan Masjid sementara, sebuah Masjid darurat yang dibangun di atas lapangan yang semula merupakan lapangan voli.

Pada sesi setelah sholat Jumat, para remaja peserta workshop menceritakan masjid sebagai subjek ide cerita. Mereka bercerita bagaimana kondisi Masjid sebelum gempa, setelah gempa, dan apa rencana untuk masjid itu ke depannya. Cerita mereka lengkap tentang renovasi sampai rencana pembangunan yang tahan gempa. Di sana tercermin harapan mereka dan desanya. Mereka juga menceritakan tentang trauma yang masih ada, dan bagaimana caranya mengatasi trauma tersebut.

Setelah para peserta workshop merekam suara dan cerita, mereka melanjutkan pengambilan gambar. Ada yang mengambil gambar puing-puing Masjid, kemudian saat Masjid darurat digunakan, serta lingkungan lapangan yang menjadi pasar sekaligus Masjid juga. Saat gempa Lombok 2018, lapangan luas bernama Ancak tersebut menjadi titik pusat pengungsian, baik warga dari Karang Bajo sendiri, maupun luar Desa Karang Bajo.

Ada para peserta yang sangat aktif sekali selama workshop. Mereka bercerita dengan artikulatif dan memiliki pengetahuan yang baik tentang desa mereka. Baihaqi dan Febi, merupakan beberapa peserta yang memiliki channel Youtube dengan followers 20 ribuan.

Mereka menciptakan karakter; seorang ibu yang mereka sebut sebagai ibu terkuat di Lombok. Uniknya, yang memerankan karakter Ibu adalah Febi, seorang laki-laki remaja. Genrenya adalah komedi, kerap meliput berbagai kegiatan di seputaran Lombok, termasuk isu-isu yang berkaitan dengan isu-isu kebersihan dan sampah.

Tak terasa sore mulai menjelang dan sudah saatnya membangun layar untuk memutar film di pop-up cinema alias layar tancap malam pertama ini di Desa Karang Bajo. Pemutaran film malam ini diadakan di Lapangan Ancak, tepat di sebelah Masjid darurat merupakan tempat pemutaran layar tancap malam ini.

Hasilnya diputar pada akhir sesi layar tancap. Pemutaran baru bisa dilakukan setelah sholat Isha sekitar pukul 8 malam atau lewat 15 malam ini.

Film-film pendek yang diputar malam ini ialah program film pendek untuk semua umur, termasuk program film pendek untuk usia 7-10 tahun yang dipilih khusus oleh Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand untuk Minikino Film Week 5. Mereka adalah SNEJINKA karya sutradara Natalia Chernysheva dari Rusia, PANIEK! karya Joost Lieuwma & Daan Velsink dari Netherland, LE LION ET LE SINGE karya Benoit Feroumont dari Belgia, DVA TRAMVAYA karya Svetlana Andrianova dari Rusia, dan THE BIRD & THE WHALE karya Carol Freeman dari Irlandia.

Ada pula VIVAT MUSKETEERS! karya Anton Dyakov dari Russia, LE RENARD MINUSCULE karya Aline Quertain & Sylwia Szkiladz dari Prancis, Belgia dan Switzerland serta HORS PISTE karya sutradara Léo Brunel, Loris Cavalier, Camille Jalabert, Oscar Malet dari Prancis.

Selain itu juga diputar empat film pendek dari Indonesia yaitu ARA NGIDAANG NAANANG karya sutradara Putu Yuli Supriyandana, SALAH TAMPI karya I Made Suisen, FADE OUT karya Achmad Rezi Fahlevie, dan PENDEKAR TAFSIR MIMPI karya sutradara Kevin Muhammad yang juga merupakan pemenang kompetisi pembuatan film pendek 34 Jam Begadang Filmmaking Competition 2019. [b]

Keterangan: Artikel dibuat bersama dengan I Made Suarbawa dan Rickdy Vanduwin S.

The post Minikino Lanjutkan Perjalanan Layar Tancap di Lombok appeared first on BaleBengong.

Minikino di Pasar Film Pendek Terbesar Dunia

Teater Utama di CFISFF 2019
Suasana teater utama di Clermont-Ferrand International Short Film Festival 2019 (dok.minikino)

Di awal tahun 2019 Minikino berkesempatan ke Short Film Market terbesar di dunia.

Short Film market adalah bagian dari festival film pendek, Clermont Ferrand International Short Film Festival (CFISFF) di Perancis. Festival film pendek ini termasuk yang terbesar dan tertua di dunia, berlangsung sejak 1979.

Di Perancis sendiri festival ini merupakan festival film terbesar kedua setelah Cannes Film Festival. Ini dilihat dari perbandingan jumlah penonton dan kehadiran para profesional di bidang terkait.

CFISFF secara resmi menyatakan bahwa setiap tahunnya festival mereka dihadiri lebih dari 160 ribu pengunjung ditambah 3.500 profesional, termasuk para filmmaker dan produser. Selain aktivitas pemutaran film dan diskusi, festival ini juga terkenal dengan program short film market yang telah dijalankan sejak 1986.

Di dalam masa kunjungannya pada 1-8 Februari 2019 di Clermont-Ferrand, Edo Wulia yang mewakili Minikino mengonfirmasi langsung, tercatat bahkan lebih dari 4.000 profesional hadir tahun ini.

Short Film Market atau Pasar Film Pendek di CFISFF memiliki definisi lebih lanjut daripada sekadar kata “pasar” yang kita kenal sehari-hari. Film Market yang dimaksudkan di sini adalah sebuah ajang pameran (showcase) diikuti berbagai badan terkait festival film dari berbagai belahan dunia.

Badan-badan pemerintah yang berhubungan dengan pengembangan film pendek untuk pengembangan budaya dan industri pariwisata juga melibatkan diri dalam acara ini. Ajang film market CFISFF secara efektif digunakan untuk berbagai pertemuan dan pembentukan jaringan kerja sama, serta pertukaran informasi global di bidang seni, budaya dan pariwisata.

Short Film Market pada dasarnya diadakan untuk mendorong nilai ekonomi dari sebuah film pendek. Namun, pergerakan ekonomi yang terjadi dalam kegiatan pasar film pendek di CFISFF tercipta setelah terbentuknya jaringan kerja global antar filmmaker, festival, distributor, serta badan-badan kenegaraan yang terkait.

Di sinilah seluruh pekerja yang terkait dalam ekosistem film pendek berkesempatan bertemu, berdialog dan mengadakan rapat formal maupun informal. Nilai ekonomi yang dibangun sifatnya jangka panjang dan dengan pemahaman yang lebih mendalam daripada sekedar sebuah kegiatan jual dan beli retail yang kita kenal sehari-hari.

Menurut Edo, sisi komersil film pendek dalam Short Film Market memang disinggung sebagai salah satu tujuan ketika beberapa perusahan distribusi dan stasiun televisi di beberapa negara, terutama yang berada di region Eropa memang memiliki kemampuan untuk membeli hak tayang dan distribusi. Namun, sisi ini relatif merupakan aktivitas khusus (segmented) dan bukan menjadi tujuan pertama dari kebanyakan instansi yang hadir.

Katalog Minikino Film Week 4 di antara berbagai selebaran di Clermont-Ferrand International Short Film Festival 2019
Katalog Minikino Film Week 4 di antara berbagai selebaran di Clermont-Ferrand International Short Film Festival 2019 (dok.minikino)

Poin Penting

Edo Wulia melakukan perjalanannya dari Bandara Ngurah Rai Airport, Bali pada 1 Februari 2019 malam, langsung menuju ke Perancis, tanpa melalui Jakarta terlebih dahulu. Kunjungan kerja ini dilakukan selaku posisinya sebagai direktur festival Minikino Film Week. Pendanaan perjalanan didukung sepenuhnya oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Republik Indonesia.

Di dalam laporan tertulis kepada BEKRAF RI, Edo menyampaikan beberapa poin penting. Edo melihat langsung bagaimana penyikapan negara-negara Eropa dan juga berbagai negara dari region lain yang hadir di Clermont-Ferrand, termasuk Asia yang pada tahun 2019 ini terwakili oleh Korea, Jepang dan Taiwan.

“Saya langsung tergelitik membandingkannya dengan pencapaian Indonesia dalam bidang produksi dan eksibisi film pendek,” katanya.

Menurut Edo, walaupun belum ada yang meraih penghargaan utama di Clermont-Ferrand, tetapi beberapa film pendek produksi Indonesia sudah beberapa kali masuk dalam sesi kompetisi. “Begitu bergengsinya festival ini, sehingga untuk ikut dipertimbangkan dalam sesi kompetisi festival ini saja sudah merupakan sebuah kebanggaan,” ujarnya.

Edo menekankan kembali ketatnya seleksi dan standard film-film pendek yang tampil, dia menyaksikan bagaimana festival besar ini menyikapi dan menghormati karya-karya film yang berhasil lolos ke sesi kompetisi. “Demikian juga antusiasme penonton merayakannya sebagai sebuah pencapaian membanggakan ketika layar-layar raksasa tersebut kemudian memproyeksikan film-film pendek luar biasa ini,” lanjutnya.

Giulio Vita (Director & Animation Programmer)& Sara Fratini (Co-Director, Animation Programmer & Curator of the Illustration Exhibition “Artists For La Guarimba”)

Pekerjaan Rumah

Dalam kunjungan ini Edo Wulia juga semakin menyadari bagaimana Indonesia masih memiliki “pekerjaan rumah” yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Untuk ikut berlaga pada ajang Short Film Market di Clermont-Ferrand, tentu saja lebih jauh daripada sekedar kemampuan menyewa stan.

Dalam kondisi sosial politik di Indonesia yang masih menempatkan karya film-film pendek atau karya film pada umumnya terbatas hanya sebagai komoditas politik dan ekonomi, kondisi ini sedikit banyak mempengaruhi karya-karya yang dihasilkan. Aturan-aturan perfilman yang seharusnya fleksibel dan bergerak dinamis, tidak berhasil disosialisasikan dengan baik.

Hegemoni lembaga sensor yang lebih dari sekadar mengklasifikasi, namun sampai pada pengguntingan karya. Ditambah tindakan persekusi oknum-oknum di masyarakat kepada penyelenggaraan pemutaran masih sering terdengar. Diperburuk lagi oleh pembiaran-pembiaran oleh aparat negara, bahkan seringkali malah berpihak pada pelaku persekusi.

Karya-karya film di Indonesia secara umum bereaksi pada situasi ini. Perkembangan produksinya dari tahun-ke-tahun yang umumnya berhenti pada hiburan ringan yang berharap mengejar sukses komersil, atau sekedar selesai pada pameran teknis semata.

Walaupun relatif belum terlalu diperhatikan oleh pemangku kebijakan ataupun lembaga sensor,  situasi ini juga berdampak pada karya-karya film pendek. Dampak yang terjadi lebih parah, karena dengan nilai ekonominya yang minim akhirnya juga dengan konteks sosial budaya yang dangkal, tanpa benefit yang jelas.

Secara perlahan kondisi ini akan mematikan ekosistem film pendek Indonesia, baik di dalam masyarakat Indonesia sendiri dan juga di dunia Internasional.

Kondisi memprihatinkan ini sangat kontras dengan penyikapan pada karya film pendek yang diusung dan dipromosikan dalam Short Film Market Global di Clermont-Ferrand. Karya-karya film pendek dipahami sebagai karya seni, sosial dan budaya dengan penghormatan setinggi-tingginya.

Film pendek berkualitas yang mengejar kekuatannya untuk memberi dampak pada nilai-nilai sosial dan budaya dirayakan, dan secara implisit menjadi cerminan cara berpikir dan wawasan masyarakat di mana karya tersebut dibuat. Karya film pendek yang tetap memiliki kepentingan untuk merangkul penontonnya, bukan untuk hasil penjualan tiket, namun untuk mengajak penonton memikirkan kembali tayangan yang baru saja mereka tonton.

Di sinilah esensi dari kekuatan film pendek yang sebenarnya. Sebuah karya yang sejak tahap produksi seharusnya berfokus pada kualitas daripada mimpi-mimpi tentang sukses finansial.

Kemampuan sebar film pendek yang khas, menjadikannya sebuah bentuk kesenian yang bisa menyentuh  berbagai lapisan masyarakat. Menjadikannya perangkat yang jitu untuk membangun kembali budaya sinema di Indonesia. Tentu negara perlu bijaksana untuk mengarahkan, melindungi dan menempatkannya dalam konteks seni dan budaya.

Mengarahkan pemahaman masyarakat untuk menerima sebuah karya film pendek dan karya seni lainnya dalam arti yang lebih luas, sebagai produk budaya, selanjutnya sebagai kekayaan pustaka yang bisa digunakan sebagai materi diskusi, penelitian dan wacana yang bisa digali terus untuk pemahaman yang lebih luas dan mendalam.

Secara bersamaan, membentuk kekuatan penonton dan masyarakat Indonesia yang lebih berani dan kritis pada tontonannya, dan ini adalah lawan kata dari sikap ketakutan dan ketidak-pedulian.

Clermont-Ferrand International Short Film Festival ini telah membuktikan bahwa film pendek merupakan perangkat ampuh untuk menjalin hubungan kebudayaan, sosial, pendidikan lintas disiplin dan lebih jauh lagi adalah pendidikan lintas budaya.

Pada sisi tertentu hal ini juga berpengaruh pada posisi sebuah bangsa di mata dunia. Nilai ekonomi dan terbentuknya pondasi untuk pembangunan industri hanyalah hasil dari sebuah proses. Didukung oleh kemampuan berpikir panjang ke depan dan sikap yang terbuka untuk ikut berdialog dan berdebat. Serta terlepas dari kepentingan untuk menebar rasa takut dan ancaman. [b]

The post Minikino di Pasar Film Pendek Terbesar Dunia appeared first on BaleBengong.

Selepas Live Dubbing, Terbitlah “Anak-anak Kangen”

(Beberapa pemeran saat live dubbing berlangsung. Foto Vifick Bolang)

Sore itu matahari yang sudah condong ke barat menyilaukan mata saya.

Di salah satu sudut Veranda Café, saya dan dua orang teman mengobrol sembari menunggu kedatangan rombongan Sanggar Anak Tangguh. Kami yang kompak mengenakan dress code merah akhirnya duduk membelakangi matahari karena sudah tidak kuat menahan silau.

Tepat saat saya menyantap potongan garlic bread terakhir, sebuah bis berwarna putih dengan ukuran besar, berhenti di depan kafé. Bis itulah yang mengantarkan Anak Tangguh dari Guwang, Sukawati menuju Denpasar.

Satu per satu mereka turun. Seketika suasana jadi ramai karena mereka tak sendiri. Para orang tua juga mendampingi. Bahkan guru sekolahnya pun tak ketinggalan memboyong istri dan anaknya yang masih balita untuk ikut menyaksikan pertunjukan live dubbing film Be the Reds besutan sutradara asal Korea, Kim Yoongi, dalam acara pembukaan Minikino Film Week 4, 6 Oktober lalu.

“Di sini ya tempat pentasnya?”

“Wiiih, di sini ya? Di sini ya?”

“Di mana yang lain?”

Begitu pertanyaan yang meluncur ketika mereka menghampiri kami di dalam kafé. Melihat raut yang sangat antusias itu, kami langsung mengarahkan agar mereka menuju venue acara di Danes Art Veranda.

Para panitia yang tersebar di sekeliling terlihat sibuk memastikan apakah semua sudah siap atau belum. Malam itu kami duduk di deretan bangku depan. Mengikuti arahan dari Jong, kami mengambil posisi masing-masing. Sesekali mereka bertanya juga.

“Jam berapa kita tampil?”

“Masih lama ya?”

“Kita tampil setelah acara apa?”

Rupanya mereka sudah tidak sabar.

(Pemeran live dubbing berpose bersama sutradara Kim Yoongi sebelum pertunjukan dimulai. Foto @krisnamahay)

MFW4 sendiri telah diawali dengan beberapa pre-event, seperti Youth Jury Camp 2018, yang mengundang remaja berusia 13-17 tahun dari berbagai kota di Indonesia untuk menjalani pelatihan intensif selama 3 hari. Mereka terpilih untuk menonton dan menilai program-program internasional kategori anak dan remaja, lalu menentukan nominasi sebagai peraih penghargaan International Youth Jury Award 2018.

Selain itu ada pula Begadang Filmmaking Competition 2018 juga kembali diadakan. Kompetisi berskala nasional ini menantang peserta memproduksi sebuah film pendek dalam waktu hanya 34 jam.

Pada malam pembukaan, MFW4 juga memutarkan beberapa film yang mewakili masing-masing program di dalamnya. Beberapa filmmaker juga tampak hadir malam itu. Termasuk Kim Yoongi, sutradara film Be the Reds yang ditemani produsernya.

Layar lebar kembali padam. Beberapa film pendek yang mengantarkan pada acara puncak, telah usai. Itu tandanya giliran kami tiba. Kami kembali memastikan semua perlengkapan sudah siap tanpa ada yang kurang. Sambil memastikan pula anak-anak mengingat dialog masing-masing. Beberapa kali saya dan teman-teman membisikkan kata-kata penyemangat untuk mereka. Rasanya seperti akan menghadapi sidang. Nervous.

Bersama Teater Kalangan, proses ini dilakukan kira-kira satu atau hampir dua bulan. Devy Gita sebagai Pimpinan Produksi, menjadi jembatan koordinasi antara Minikino dan Kalangan. Sementara saya, Jong, dan Desi, fokus untuk melatih anak-anak yang terlibat. Aguk dan Tress akan fokus di properti dan tambahan lainnya. Begitu rencananya.

Namun, dalam perjalanannnya, ternyata tidak semudah di bayangan. Jadwal kakak-kakak ini ternyata cukup padat, sehingga harus menambah personel agar bias saling menopang. Muncullah Dedek, Bebe, dan Jacko yang membantu menjadi mentor (meskipun kata ini terdengar agak kejam, tapi dipakai saja) bagi Anak Tangguh.

Tidak dipungkiri pula, bagi saya pribadi ini adalah sebuah tantangan. Selain harus menyocokkan jadwal, tentu juga karena menghadapi anak-anak, benar-benar perlu pendekatan khusus. Saya sempat hampir putus asa ketika beberapa kali jadwal latihan, tetapi mereka sama sekali tidak datang. Atau ketika kami terlambat beberapa menit karena macet, mereka sudah membubarkan diri tak mau menunggu. Bahkan ketika harusnya latihan dengan serius, mereka masih asyik bermain dan ribut.

Ah, rasanya ingin menghilang seketika. Apalagi saat itu mengetahui bahwa sang sutradara dan produser film akan hadir di MFW4. Rasanya semakin tidak karuan.

Melihat tim yang tidak menyerah, berusaha menyesuaikan dengan situasi dan menyadari bahwa mereka masih anak-anak pun, membuat saya memaklumi sikap dan keinginan mereka untuk bermain. Jadi, memang kakaknyalah yang harus mengalah dan menurunkan egonya untuk selalu dituruti. Bias jadi pula saat itu saya yang tidak menikmati momen, sehingga muncul perasaan berlebihan. Akhirnya setelah damai dengan diri sendiri, saya tidak jadi putus asa dan menyesuaikan kembali agar menemukan ritme.

Tapi syukurnya, anak-anak ini luar biasa. Mereka mampu membawa suasana di dalam film menjadi hidup dengan dubbing mereka. Usia antara mereka dengan tokoh yang ada di film itu kami perkirakan sepantaran, apalagi masing-masingnya memiliki karakteristik khas yang dibawa pula ke dunia live dubbing itu.

Dengan menggunakan bahasa Bali dan Indonesia, cerita ini menjadi sangat dekat dengan audiens (terutama yang memakai atau mengerti kedua bahasa tersebut), sebab celetukan-celetukan khas Bali dan Guwang pun termasuk di dalamnya. Jadi benar-benar terasa seperti sedang melihat sekelompok anak banjar sedang bermain di lapangan bola.

Terlepas dari itu, film Be the Reds sendiri memang film yang menarik. Tak hanya memperlihatkan bahwa pertandingan sepak bola adalah sebuah momen perayaan dan keriangan, tetapi juga nilai-nilai dalam keluarga yang diselipkan dengan halus.

“Saya sangat bahagia. Saya tidak menyangka akan ada yang merespon filmnya dalam format live dubbing seperti itu,” jelas Kim Yoongi dalam bahasa Inggris yang terbata-bata.

Selepas 26 menit pertunjukan itu, saya benar-benar merasa bersyukur dan banyak belajar. Bersyukur telah menjadi bagian dari proses yang membutuhkan perjuangan, belajar untuk tidak memaksakan sesuatu, dan dari proses ini juga saya kembali diingatkan bahwa untuk bekerjasama dengan siapa pun, proses saling mengenal itu sangat penting. Jangan sampai terkalahkan oleh ego masing-masing.

Beberapa waktu selepas pertunjukan, tiba-tiba muncul sebuah grup WhatsApp bernama “Anak-Anak Kangen”, yang ternyata dibuat oleh Pagar, salah satu pemeran live dubbing. Anggotanya adalah seluruh pemeran dan para mentor. Ternyata ada janji yang saat itu belum kami tepati: membagikan es krim pada mereka. Janji ini muncul semasa latihan, sebagai “sogokan” agar prosesnya bisa lebih lancar.

(Keceriaan saat janji es krim ditepati. Foto arsip Anak-Anak Kangen)

Akhirnya janji ini ditepati 13 November 2018 di Kulidan Kitchen & Space yang kembali menjadi titik temu. Meski tidak bisa hadir dengan lengkap, kami harap bisa mengobati kangen mereka.

Sampai jumpa lagi ya, Dik.. [b]

The post Selepas Live Dubbing, Terbitlah “Anak-anak Kangen” appeared first on BaleBengong.

Teh Nia, Membela yang Berbeda Lewat Sinema

Nia Dinata saat diskusi di Minikino Film Week 4. Foto Anton Muhajir.

Catatan (lebih dari) sebulan kemudian setelah Minikino Film Week 4.

Kok ulasannya telat banget, sih? Begitulah. Pertama karena pas pelaksanaan Minikino Film Week (MFW) 4 waktu itu sedang menduda. Tiga minggu jadi orangtua tunggal dan kepala keluarga.

Dan, ternyata, jadi orangtua tunggal itu merepotkan dan melelahkan juga. Urusan domestik rumah tangga lebih pelik dari mengurus negara. Hehehe..

Kedua, seperti biasa, karena banyak pekerjaan. MFW4 itu barengan dengan hajatan besar Pertemuan Tahunan International Mother Fucker, eh, International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Bali pada 8-14 Oktober 2018.

Kemudian susul menyusul agenda-agenda lain setelahnya. Intinya, sibuklah. Karena pengecer karya memang harus selalu kelihatan sibuk. Biar lebih meyakinkan dan tidak terlihat sebagai pengangguran.

Alasan terakhir, pemalas memang selalu punya alasan untuk menunda pekerjaan. Jadi ya, dimaklumi saja. Tidak usah dipahami.

Tabrakan Jadwal

Oke, cukup basa-basi dan omong kosongnya. Mari kembali ke MFW tahun ini.

Pada MFW keempat ini, saya mendapat kehormatan untuk menjadi juri kompetisi film pendek. Karena itu pada Juli 2018, tiga bulan sebelum pelaksanaan festival, saya sudah mendapatkan kesempatan nonton film-film pendek yang masuk nominasi pemenang.

Ini kegiatan menyenangkan karena bisa menikmati dan menilai 18 film pendek dari 11 negara. Filmnya berdurasi antara 3 – 20 menit dengan genre beragam: anak-anak, fiksi, dokumenter, animasi, dan eksperimental.

Selain sebagai juri, saya juga ditodong memandu salah satu diskusi MFW 4. Pembatalan kesediaan memandu diskusi lain karena tabrakan jadwal dengan pekerjaan ternyata justru jadi berkah. Sesi yang justru saya moderatori adalah diskusi bareng nama terkemuka dalam sinema Indonesia, Nurkurniati Aisyah Dewi.

HEH!! Who the hell is Nurkurniati Aisyah Dewi!? Kenal saja tidak kok bilang nama terkemuka!

Oke. Nurkurniati Aisyah Dewi adalah nama asli Nia Dinata. Ini juga saya baru tahu dari Wikipedia saat membuat tulisan ini. Nama Nia Dinata tentu lebih terkenal dibandingkan nama aslinya. Dia jelas nama terkemuka di antara para sineas Indonesia.

Sebagai produser, perempuan yang juga lebih akrab dipanggil Teh Nia ini, membuat film-film terkenal, seperti Cau-ba-kan (2002), Arisan (2003) dan Berbagi Suami (2006). Ketiga film itu menyajikan cerita-cerita tentang topik tak biasa, misalnya perempuan China di Indonesia, homoseksualitas, dan kontroversi poligami.

Film Keluarga

MFW4 kali ini juga memutar film-film Nia Dinata dengan tema Keluarga ala Indonesia. Namun, ini bukan keluarga-keluarga biasa.

Ada tujuh film pendek berdurasi antara 15-20 menit diputar pada awal Oktober lalu itu. Di antaranya Elinah, Har, Perfect P, Sleep Tight Maria, dan Kebaya Pengantin. Hampir semua film itu diproduksi Kalyana Shira Film, rumah produksi yang didirikan Teh Nia.

Salah satu lokasi pemutarannya di Rumah Sanur, tempat kumpul beragam komunitas di Sanur. Sekitar 30 orang menonton tujuh film pendek itu lalu dilanjut ngobrol santai dengan Teh Nia. Penonton duduk di kursi menyimak dengan manis layaknya mahasiswa baru pertama kali kuliah sementara pembicara dan moderatornya duduk di bean bag, santai kayak di pantai.

Aku sendiri kelewat satu film pertama, Elinah. Namun, masih ada enam film lain yang menarik untuk disimak.

Film-film pendek ini bercerita tentang keluarga-keluarga tak biasa.

Film Har, misalnya, menggunakan masa cerita 1997, tahun terakhir Orde Baru. Orang-orang duduk di beranda rumah ngobrol dalam bahasa Jawa perihal apakah Soeharto akan bersedia diganti atau tidak.

Salah satu di antara bapak-bapak yang ngobrol itu adalah bapaknya si Har, anak SD yang ditinggal ibunya menjadi buruh migran. Film ini membongkar paradigma kuno bahwa bapak adalah kepala keluarga dan harus menjadi penanggung jawab sumber dana.

Sebaliknya, film Har menegaskan bapak juga bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, termasuk memasak, mengantar anak sekolah, dan semacamnya.

Teh Nia memang senang dengan narasi melawan kemapanan pandangan arus utama. Itu pula yang dia sampaikan Teh Nia lewat Perfect P. Film ini menceritakan definisi keluarga di mata seorang remaja pria. Dalam pandangan arus utama ala Indonesia, keluarga adalah ibu, bapak, dan anak-anak. Namun, dalam film ini, keluarga bagi Putra, si tokoh utama adalah bapak dan bapak. Dia memang anak (angkat?) dari pasangan gay.

Hal tak biasa, tetapi harus mulai dibiasakan. Bahwa keluarga bisa punya banyak rupa. Bisa punya banyak cara.

Timur Tengah

Film lain yang menarik adalah Kebaya Pengantin, kisah asmara laki-laki dengan waria. Si waria adalah penata busana yang mengantarkan pacarnya pulang kampung untuk kawin dengan perempuan lain. Kebaya buatan si waria dipakai perempuan itu.

Ada tragedi. Ada ironi. Semacam pesan bahwa budaya kita masih terikat pada nilai-nilai biner, laki-laki vs perempuan. Tidak mungkin ada pernikahan antara laki-laki dan waria.

Melalui film-filmnya, Teh Nia menggugat kemapanan budaya itu. Seolah menegaskan, ada lho nilai-nilai berbeda. Ada lho cerita-cerita “tabu” diungkap meskipun praktiknya itu terjadi sehari-hari di dunia nyata.

Dia memang melakukannya dengan sengaja.

Niatan semacam itu justru muncul berdasarkan pengalaman pribadinya. Saat remaja, dia pernah tinggal di Timur Tengah. Kalau tak salah sih di Saudi Arabia.

[Mmmm, maaf ya, Mbak jika salah. Saya tidak mencatat detail diskusi kita karena lebih khusyuk mendengar]

Selama di sana, dia merasakan hal sangat berbeda dibandingkan pengalaman di Indonesia. Salah satunya karena sebagai perempuan, dia sangat dibatasi aktivitasnya. Tidak bebas pergi sendiri.

Namun, pembatasan berlebihan justru melahirkan pemberontakan. “Pengalaman hidup selama di Timur Tengah justru membuat saya ingin membuat film-film yang melawan pembatasan semacam itu,” kata Teh Nia saat itu.

Menurut Teh Nia, melalui film-film semacam itu, dia berharap pemirsa filmnya akan makin terbuka pada mereka-mereka yang dianggap berbeda, terutama kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Mereka yang dianggap liyan oleh arus utama.

Maka, lahirlah film-film bertema keluarga tak biasa dari Teh Nia. Cerita-cerita tentang mereka yang selama ini sering mendapatkan stigma dan diskrminasi hanya karena mereka berbeda.

Di tangan Teh Nia, film tak sekadar media untuk bercerita dan menghibur semata, tetapi alat untuk membela mereka yang selama ini kurang mendapat tempat untuk bersuara.

The post Teh Nia, Membela yang Berbeda Lewat Sinema appeared first on BaleBengong.

Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama

Akhir pekan lalu, Minikino melanjutkan perjalanan menebar layar tancap.

Pada Sabtu (3/11) Minikino menuju ke lokasi pemutaran selanjutnya di Lapangan Terbuka RT 02, Dusun Kopang, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Jaraknya sekitar 56 km dari pelabuhan Lembar, Lombok.

Sebelumnya, Minikino sudah mengadakan Pop Up Cinema (Layar Tancap) di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Dusun Kopang yang terletak di daerah perbukitan menjadi lokasi pemutaran hari ketiga roadshow Minikino Film Week 4. Di sekeliling dusun banyak ditumbuhi pohon kelapa dan pohon kakao. Di Dusun Kopang, hampir sebagian warganya sudah mulai
membangun kembali bangunan yang roboh akibat gempa.

Mayoritas penduduk Dusun Kopang adalah pedagang warung sembako. Bagi yang muda, mereka lebih memilih bekerja di sektor pariwisata khususnya di tiga pulau seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Pasca gempa, beberapa warga bergotong royong
membangun kembali rumah dengan bantuan yang ada.

Warga secara swadaya juga melakukan berbagai kegiatan untuk anak-anak. Kebetulan pada hari sama, ibu Ayu dari RT02 Dusun Kopang mengadakan kegiatan menggambar dan mewarnai.

Sama seperti desa sebelumnya, kegiatan seperti ini sangat disambut dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Kegiatan menonton film dipandang sebagai kegiatan yang menghibur dan membuat rasa kebersamaan warga setempat meningkat. Anak-anak di lokasi pemutaran sangat antusias sekali untuk bisa ikut menonton film. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana semangat dan sabarnya mereka menunggu dari sore hari.

Selain itu bagi sebagian anak-anak, menonton film yang belum pernah mereka tonton di tv adalah sesuatu hal yang menyenangkan karena selain bisa menonton film baru, bisa juga menonton film bersama tema-teman. Ahmadi sebagai Kepala Dusun setempat juga menyebutnya kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.

“Senang saya, Mas. Ya warga jadi bisa bareng-bareng nonton film. Biasanya ya hanya diam di tenda, tidur, tapi sekarang bisa keluar dan bareng-bareng di sini,” katanya.

Sehari sebelum pemutaran, anak-anak juga menyambut Minikino dengan riang gembira. Meskipun di awal pertemuan mereka tampak begitu malu-malu, saat diberi kesempatan untuk memegang handycam dan merekam temannya, mereka sangat senang dan semangat untuk melakukannya. Melihat semangat mereka, crew roadshow Minikino pun tambah bersemangat dalam memasang layar tancap dan mempersiapkan semua peralatan.

Warga Dusun Kopang begitu ramah kepada crew Minikino. Keramahan mereka tercermin ketika pertama kali crew Minikino melakukan pengecekan lokasi. Mereka menyambut crew Minikino dengan riang gembira layaknya kawan lama yang lama berpisah.

Selain itu, mereka juga menyediakan makanan dan minuman yang crew Minikino nikmati bersama warga. Walaupun masih dalam situasi sulit sekali pun mereka tetap mencoba sabar dan menjalani hari-hari dengan semangat. Sebuah tangan terbuka yang membuka isolasi. Warga Dusun Kopang sadar betul bahwa jejaring yang baik bisa membuat mereka makin kuat dan menerima dengan lapang apa yang sudah terjadi.

Bertepatan dengan kegiatan nonton bareng, satu anak bernama Ica berulang tahun. Bersama warga crew Minikino mencoba menghibur dengan menyanyikan lagu dan memberinya selamat. Ica senang, warga senang, dan crew Minikino pun senang.

Hingga pemutaran film selesai, warga tidak langsung saja pulang ke rumah masing-masing. Mereka ikut bersama membongkar layar dan merapikan peralatan yang digunakan tanpa diminta. Sebuah kebersamaan yang begitu hangat dari awal sampai akhir kegiatan.

Saat acara nonton bareng, ada 250 orang yang datang untuk bersama-sama menonton film pendek. Tak hanya warga RT02, menurut penuturan bapak kepala desa, warga dari RT05 yang jaraknya setengah kilometer dari lokasi juga ikut bersama-sama berbaur dan menonton film bersama-sama.

Kadang, kebersamaan bisa diciptakan dengan cara-cara yang sederhana, tak harus mewah, menonton film salah satunya. Film mempertemukan, film menguatkan, dan dengan film kita sejenak melupakan apa yang sudah terjadi. [b]

The post Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama appeared first on BaleBengong.