Tag Archives: minikino

Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama

Akhir pekan lalu, Minikino melanjutkan perjalanan menebar layar tancap.

Pada Sabtu (3/11) Minikino menuju ke lokasi pemutaran selanjutnya di Lapangan Terbuka RT 02, Dusun Kopang, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Jaraknya sekitar 56 km dari pelabuhan Lembar, Lombok.

Sebelumnya, Minikino sudah mengadakan Pop Up Cinema (Layar Tancap) di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Dusun Kopang yang terletak di daerah perbukitan menjadi lokasi pemutaran hari ketiga roadshow Minikino Film Week 4. Di sekeliling dusun banyak ditumbuhi pohon kelapa dan pohon kakao. Di Dusun Kopang, hampir sebagian warganya sudah mulai
membangun kembali bangunan yang roboh akibat gempa.

Mayoritas penduduk Dusun Kopang adalah pedagang warung sembako. Bagi yang muda, mereka lebih memilih bekerja di sektor pariwisata khususnya di tiga pulau seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Pasca gempa, beberapa warga bergotong royong
membangun kembali rumah dengan bantuan yang ada.

Warga secara swadaya juga melakukan berbagai kegiatan untuk anak-anak. Kebetulan pada hari sama, ibu Ayu dari RT02 Dusun Kopang mengadakan kegiatan menggambar dan mewarnai.

Sama seperti desa sebelumnya, kegiatan seperti ini sangat disambut dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Kegiatan menonton film dipandang sebagai kegiatan yang menghibur dan membuat rasa kebersamaan warga setempat meningkat. Anak-anak di lokasi pemutaran sangat antusias sekali untuk bisa ikut menonton film. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana semangat dan sabarnya mereka menunggu dari sore hari.

Selain itu bagi sebagian anak-anak, menonton film yang belum pernah mereka tonton di tv adalah sesuatu hal yang menyenangkan karena selain bisa menonton film baru, bisa juga menonton film bersama tema-teman. Ahmadi sebagai Kepala Dusun setempat juga menyebutnya kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.

“Senang saya, Mas. Ya warga jadi bisa bareng-bareng nonton film. Biasanya ya hanya diam di tenda, tidur, tapi sekarang bisa keluar dan bareng-bareng di sini,” katanya.

Sehari sebelum pemutaran, anak-anak juga menyambut Minikino dengan riang gembira. Meskipun di awal pertemuan mereka tampak begitu malu-malu, saat diberi kesempatan untuk memegang handycam dan merekam temannya, mereka sangat senang dan semangat untuk melakukannya. Melihat semangat mereka, crew roadshow Minikino pun tambah bersemangat dalam memasang layar tancap dan mempersiapkan semua peralatan.

Warga Dusun Kopang begitu ramah kepada crew Minikino. Keramahan mereka tercermin ketika pertama kali crew Minikino melakukan pengecekan lokasi. Mereka menyambut crew Minikino dengan riang gembira layaknya kawan lama yang lama berpisah.

Selain itu, mereka juga menyediakan makanan dan minuman yang crew Minikino nikmati bersama warga. Walaupun masih dalam situasi sulit sekali pun mereka tetap mencoba sabar dan menjalani hari-hari dengan semangat. Sebuah tangan terbuka yang membuka isolasi. Warga Dusun Kopang sadar betul bahwa jejaring yang baik bisa membuat mereka makin kuat dan menerima dengan lapang apa yang sudah terjadi.

Bertepatan dengan kegiatan nonton bareng, satu anak bernama Ica berulang tahun. Bersama warga crew Minikino mencoba menghibur dengan menyanyikan lagu dan memberinya selamat. Ica senang, warga senang, dan crew Minikino pun senang.

Hingga pemutaran film selesai, warga tidak langsung saja pulang ke rumah masing-masing. Mereka ikut bersama membongkar layar dan merapikan peralatan yang digunakan tanpa diminta. Sebuah kebersamaan yang begitu hangat dari awal sampai akhir kegiatan.

Saat acara nonton bareng, ada 250 orang yang datang untuk bersama-sama menonton film pendek. Tak hanya warga RT02, menurut penuturan bapak kepala desa, warga dari RT05 yang jaraknya setengah kilometer dari lokasi juga ikut bersama-sama berbaur dan menonton film bersama-sama.

Kadang, kebersamaan bisa diciptakan dengan cara-cara yang sederhana, tak harus mewah, menonton film salah satunya. Film mempertemukan, film menguatkan, dan dengan film kita sejenak melupakan apa yang sudah terjadi. [b]

The post Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama appeared first on BaleBengong.

Setelah Bali, Minikino Bikin Layar Tancap di Lombok

Mengobati trauma setelah gempa dengan nonton bersama.

Setelah melewati keseruan seminggu penuh festival dan melaksanakan Pop Up Cinema (Layar Tancap) di Bali, Minikino Film Week 4 melanjutkannya dengan melakukan Road Show Pop Up Cinema ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Satu bulan sebelumnya, pada 7 – 9 Oktober 2018, Minikino telah melaksanakan tiga layar tancap di tiga tempat berbeda yaitu di Bale Banjar Kebayan Desa Nyambu Tabanan bekerja sama dengan Nyambu Eco Tourism, di Puri Klungkung bekerja sama dengan Cineclue, dan di Wantilan Desa Pedawa, Buleleng bekerja sama dengan Kayonan Pedawa; Pecinta Alam Pedawa.

November ini, Minikino mengawali bulan dengan melakukan Road Show ke Lombok bekerja sama dengan Rotary RDR (Rotary Disaster Relief). Ada tiga lokasi yang menjadi tempat Road Show Minikino di Lombok kali ini.

Dalam waktu empat hari Road Show, Minikino membawa sembilan film-film pendek pilihannya, yaitu; Mogu and Perol. Be The Reds, Schoolyard Blues, Air Untuk Wasa, Life of Death, Belly Flop, Caronte, Almari, dan peraih Best Short Film of The Year Minikino Film Week 4, Kimchi.
Pop Up Cinema hari pertama akan dilaksanakan pada 2 November 2018, pukul 18:30 WITA, bertempat di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Desa Medana adalah salah satu desa di Lombok Utara yang mengalami kerusakan yang cukup parah di Lombok Utara akibat gempa yang mengguncangnya bulan Agustus lalu. Di lokasi ini dihuni oleh 60 kepala keluarga. Untuk menambah penghasilan pasca gempa, warga di lokasi membuat kelompok yang disebut Kelompok Harapan Bunda.

Kelompok Harapan Bunda adalah kelompok usaha kecil menengah yang menjual kopi robusta yang disebut Kopi Lindur. Lindur dalam bahasa Lombok berarti gempa. Kopi ini disebut dengan Kopi Lindur karena anggota dari kelompok ibu-ibu ini dipertemukan karena gempa, oleh karena itu kopi ini disebut Kopi Lindur.

Menurut penuturan Ari, pemuda Kopang, kegiatan yang dilakukan Minikino sangat bagus dan menguntungkan warga setempat. Dia mengaku ada kegiatan seperti ini di desa. Warga jadi ada hiburan dan tidak suntuk di rumah. Warga juga bisa jualan kopi dan lain-lain sebelum acara dimulai, jadi warga dapat menambah penghasilan setelah gempa waktu ini.

“Apalagi belum pernah ada kegiatan nonton bareng film, ya bagus lah jadi ada hiburan,” jelas Ari.

Saat Pop Up Cinema hari pertama, 150 jumlah penonton mulai dari anak-anak, anak muda bahkan hingga usia senja hadir untuk menonton film.

Putra, salah satu penonton sangat senang karena sekarang bisa nonton film rame-rame. Saat ditanya dia menjelaskan kalau kegiatan seperti ini membuatnya senang karena pengungsian yang jadi tempat tinggalnya sementara kembali rame, selain itu bisa main rame-rame dan bisa main dengan lebih banyak teman lagi.

Budi Utomo, selaku Kepala Kewilayahan Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Lombok Utara juga menyampaikan rasa senangnya dan terima kasih untuk Minikino dan Rotary Disaster Relief (RDR) sudah membawa hiburan ke desanya untuk menghibur masyarakat yang terkena dampak gempa. Dengan diadakannya kegiatan semacam ini, dia juga berharap semakin tumbuhnya rasa kebersamaan antar sesama warga. [b]

The post Setelah Bali, Minikino Bikin Layar Tancap di Lombok appeared first on BaleBengong.

Bersiaplah untuk 200 Film Pendek, 41 Program, 9 Lokasi

Suasana registrasi jumpa pers Minikino Film Week 4. Foto Wayan Martino

Festival film pendek internasional di Bali Minikino Film Week (MFW) kembali terselenggara pada 6 – 13 Oktober 2018 mendatang. Festival yang diinisiasi Minikino ini telah memasuki tahun keempat dan semakin berkembang dengan ragam inovasi serta perluasan jaringan kerja internasional.

Direktur Festival Minikino Film Week 4 Edo Wulia mengungkapkan, tahun ini tampil lebih dari 200 film pendek dari seluruh dunia yang dikemas dalam 41 program. Di dalamnya termasuk program tahunan Indonesia Raja 2018 serta seleksi istimewa dari jaringan kerja S-Express 2018.

Lokasi acara festival bekerja sama dengan sembilan titik yang tersebar di berbagai penjuru Pulau Bali. Jenis lokasi terbagi menjadi dua, yaitu Micro Cinema di enam lokasi dan Pop Up Cinema di tiga lokasi.

Tahun ini, festival lounge bertempat di Rumah Sanur Creative Hub, Jalan Danau Poso no. 51A, Sanur, Denpasar, di mana meja informasi serta perpustakaan film pendek diaktifkan. Lokasi lainnya adalah Irama Indah, Uma Seminyak, Omah Apik di Pejeng, Rompyok Kopi Kertas Budaya di Jembrana, Rumah Film Sang Karsa di Lovina, Buleleng; dan Danes Art Veranda sebagai venue pameran poster, opening dan closing night. Adapun Pop Up Cinema diadakan di Bale Banjar Kebayan Desa Nyambu, Tabanan; Puri Klungkung; dan Wantilan Desa Pedawa, Buleleng.

Direktur Eksekutif Minikino Film Week I Made Suarbawa. Foto Wayan Martino

Program Khusus

Direktur Program Minikino Film Week 4 Fransiska Prihadi menerangkan beberapa program khusus yang akan ditampilkan di MFW 4 adalah hasil dari hubungan langsung antara Minikino dengan badan-badan perfilman, baik nasional maupun internasional. Tahun ini, Minikino Film Week 4 dengan bangga mempersembahkan Austin Film Festival: Reality Check, Image Forum Festival Selected Works: Multi-Modes of Independent Filmmaking in Japan, serta Made in Indonesia: Nia Dinata, dalam seleksi film pendek “Keluarga Ala Indonesia”.

Selain pemutaran program film pendek, MFW4 juga menghadirkan MFW4 Talks, acara talk show dengan pembicara-pembicara dari dalam negeri mau pun mancanegara, seperti Paul Agusta, Putri Ayudya, Nia Dinata, Marlowe Bandem, Seruni Audio, dan Dread Team Bali. Dari mancanegara hadir Liew Seng Tat, seorang sutradara terkemuka dari Malaysia; Koyo Yamashita dari Image Forum Jepang; Aurelian Michon dari Institut Francais Indonesia; serta programmer S-Express 2018, Helene Ouvrard yang akan terbang langsung dari Laos.

Pertunjukan yang juga menarik perhatian tahun ini adalah live dubbing film pendek Korea Selatan berjudul Be the Reds ke dalam Bahasa Bali. Live dubbing ini akan diperagakan oleh Teater Kalangan bersama Sanggar Anak Tangguh. Selain pada malam pembukaan festival, Sabtu 6 Oktober 2018 di Danes Art Veranda, Live Dubbing juga akan ditampilkan pada Pop Up Cinema di lokasi Bale Banjar Kebayan, Desa Nyambu, Tabanan, Minggu, 7 Oktober 2018. Acara ini akan dihadiri langsung oleh sutradara film tersebut, Kim Yoongi.

MFW4 telah diawali dengan beberapa pra-event, antara lain Youth Jury Camp 2018, sebuah terobosan kreatif MFW4 yang mengundang remaja berusia 13-17 tahun dari berbagai kota di Indonesia untuk berkumpul di Bali. Mereka menjalani pelatihan intensif selama tiga hari dan dinobatkan sebagai 2018 Youth Jury Board.

Para remaja terpilih ini mendapat kesempatan bergengsi, menonton dan menilai program-program internasional dalam kategori anak-anak dan remaja, kemudian menentukan nominasi internasional untuk dipertimbangkan sebagai peraih penghargaan International Youth Jury Award 2018.

Selain itu, Begadang Filmmaking Competition 2018 juga telah menjadi bagian tetap sejak tahun lalu, sebuah kompetisi skala nasional yang menantang pesertanya memproduksi film pendek hanya dalam waktu 34 jam.

Tahun ini terdaftar 17 tim produksi dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun, hanya 10 tim yang berhasil masuk penjurian. Terpilih 4 nominasi yang akan memperebutkan juara utama Begadang Filmmaking Award 2018. Pemenang akan diumumkan di International Awarding Night, Sabtu, 13 Oktober 2018 di Danes Art Veranda.

Dari kiri ke kanan Edo Wulia, Roufy Nasution (sutradara film pendek Barakabut), Winner Wijaya (sutradara film pendek Ojek Lusi), I Gede Gandhi Bramayusa (sutradara film pendek Trunyan (Beyond the Lake). Foto Wayan Martino.

Direktur Eksekutif Minikino Film Week 4 I Made Suarbawa memaparkan, Minikino Film Week sejak awal dirancang sebagai yang masuk ke dalam keseharian masyarakat, di mana layar-layar film dikembangkan membangun kembali suasana menonton film bersama, tempat bertemu untuk membicarakan pengalamannya, dan merangsang sikap kritis terhadap apa yang baru saja mereka tonton.

Memasuki tahun keempat ini, MFW juga mulai memberlakukan festival pass yang dapat dibeli melalui website mfwpass.minikino.org. Festival pass terbagi menjadi tiga jenis yaitu Supreme Pass, Mezzo Pass dan Daily Pass, masing-masing dengan cakupan akses dan harga berbeda-beda. Bagi para pelajar dan mahasiswa yang memiliki kartu pelajar sebagai bukti, bisa mendapatkan bebas biaya sepenuhnya, tetapi tetap harus mendaftarkan dirinya pada tautan yang tersedia.

MFW 4 juga bekerja sama dengan RDR-Rotary Disaster Relief, Bali School Kids dan Rotary Club Bali Denpasar untuk roadshow pascafestival ke Lombok selama tiga malam (2-4 November 2018) untuk menyelenggarakan acara layar tancap bersama para pengungsi korban bencana di pulau Lombok. [b]

Publikasi MFW4:
Nurafida pr@minikino.org 085770224226
Fransiska Prihadi, Program Director of Minikino cika@minikino.org
Website minikino.org/filmweek
Instagram, Facebook, Twitter @minikinoevents

The post Bersiaplah untuk 200 Film Pendek, 41 Program, 9 Lokasi appeared first on BaleBengong.

Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional

Remaja berusia 13 sampai 16 tahun dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek ini.

Youth Jury Board Minikino Film Week 4

Minikino Film Week (MFW) di bawah naungan yayasan Kino Media tahun ini masuk usia keempat. Sejak awal festival film pendek internasional ini dirancang sebagai festival yang masuk dalam keseharian masyarakat, membuka kesempatan pada semua orang mengalami suasana menonton bersama dan sekaligus mengajak untuk bersikap lebih kritis terhadap apa yang ditonton.

Tahun ini Minikino mengawali rangkaian kegiatan pra-festival dengan mengadakan pelatihan selama tiga hari penuh di Omah Apik, Pejeng, Gianyar. Pelatihan bertajuk ‘MFW 4 Youth Jury Camp 2018’ telah dilangsungkan pada tanggal 6-8 Juli 2018. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi remaja berusia 13 sampai 16 tahun untuk dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek berskala internasional ini.

Jalur pendaftaran MFW4 Youth Jury Camp 2018 dibagi dua yaitu, jalur pendaftaran umum dan jalur beasiswa. Untuk jalur umum, pendaftaran dipromosikan di Indonesia dan Asia Tenggara melalui website dan media sosial, dengan persyaratan biaya pendaftaran. Sedangkan jalur beasiswa hanya dibatasi untuk 2 (dua) remaja yang memiliki Nomor Induk Siswa Nasional dari wilayah Bali. Penerima beasiswa mendapatkan fasilitas bebas biaya sepenuhnya, namun melalui proses wawancara dan proses seleksi yang ketat.

“Ini merupakan kesempatan yang istimewa dan bergengsi untuk para remaja. Mereka mendapat pelatihan khusus dan diberikan peran yang penting secara aktif menilai film-film pendek kategori anak, remaja dan keluarga. Film-film pendek yang dinilai oleh para juri remaja adalah yang sudah lolos resmi dari tim seleksi Minikino. Di dalam pelatihan ini mereka menentukan 5 nominasi internasional untuk Youth Jury Award 2018,” kata direktur festival Minikino Film Week 4, Edo Wulia.

Sebanyak 6 (enam) remaja dari Bali, Jakarta, dan Tangerang berhasil menyelesaikan rangkaian pelatihan intensif tersebut dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari festival sebagai MFW 4 Youth Jury Board. Mereka adalah Sophie Louisa (15) dan Keane Levia Koenathallah (16) dari Tangerang Selatan, Natasya Arya Pusparani (15) dari Jakarta Selatan, Seika Cintanya Sanger (15) dari Tabanan, serta Ni Ketut Manis (15) dan I Putu Purnama Putra (15) dari Karangasem.

Di hari pertama MFW4 Youth Jury Camp 2018, peserta dibekali dengan sejumlah materi tentang sejarah film dunia termasuk pengaruhnya di Indonesia, tata-cara mendengarkan dan mengemukakan pendapat, mengenal elemen gambar dan suara dalam film, serta kreatifitas tutur visual. Pelatihan ini langsung disampaikan oleh dewan komite Minikino Film Week 2018, yaitu Direktur Festival Edo Wulia, Direktur Program Fransiska Prihadi, Direktur Eksekutif I Made Suarbawa, serta fotografer resmi untuk festival, Syafiudin Vifick ‘Bolang’ yang secara profesional telah dikenal luas di Indonesia.

Modul-modul yang disiapkan dan diberikan para pengajar dalam pelatihan ini memiliki peran besar. Membantu para juri remaja menyaring puluhan film pendek internasional yang ditonton dan dibahas secara mendalam menjadi 5 (lima) nominasi 2018 Youth Jury Award. Keputusan ini dihasilkan melalui metode diskusi yang serius, proses mempertanggungjawabkan pendapat dan berujung pada mufakat.

Proses ini menciptakan tidak hanya sebuah proses penjurian yang kritis, namun juga generasi muda yang memiliki kualitas kepemimpinan yang sekaligus memiliki kepekaan untuk melihat, mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan kemampuan mencari titik temu untuk kepentingan bersama.

I Putu Purnama Putra, salah satu peserta dari Karangasem yang mengikuti MFW4 Youth Jury Camp lewat jalur beasiswa berkata bahwa ia digembleng banyak hal selama 3 hari tersebut. “Awalnya saya kaget, ternyata lolos seleksi beasiswa. Saya agak jarang nonton film, dan kalau pun menonton hanya menikmati saja. Tapi sekarang saya juga ikut menilai apakah tontonan itu bagus atau tidak.”

Natasya Arya Pusparani yang berasal dari Jakarta Selatan juga menyatakan bahwa MFW4 Youth Jury Camp ini merupakan sebuah pengalaman baru baginya. “Sebenarnya saya tipe orang yang lebih suka mendengarkan (pendapat orang lain). Tapi di MFW4 Youth Jury Camp ini saya dibimbing para mentor untuk berani mengemukakan pendapat. Pengalaman yang sangat bagus buat saya. Suasananya juga sangat bersahabat.” Ungkapnya.

Proses penjurian dalam Youth Jury Camp 2018 berlangsung lancar dan mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun semuanya masih akan berlanjut. Pada saat festival MFW 4 di Bali, tanggal 6 sampai 13 Oktober 2018 mendatang, para juri remaja tingkat internasional ini akan melanjutkan kembali diskusi mereka untuk menentukan 1(satu) peraih penghargaan prestisius 2018 MFW Youth Jury Award. Bahkan seluruh komite festival ikut penasaran menunggu keputusan mereka. Untuk info lebih lanjut bisa diikuti di tautan link minikino.org/filmweek

Levia (16) dalam sesi review MFW4 Youth Jury Camp 2018
Levia (16) mengemukakan pendapatnya tentang film yang baru saja ditonton.(foto: Vifick Bolang)
Hari kedua MFW4 Youth Jury Camp 2018
Para peserta menonton film pendek calon nominasi Youth Jury Award Minikino Film Week 4. (foto: Vifick Bolang)
Edo Wulia (Direktur Festival Minikino Film Week) menjelaskan materi sejarah film dunia. (foto: Vifick Bolang)
Diskusi bersama, saling mendengarkan dan berpendapat untuk mencapai mufakat.(foto: minikino)

The post Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional appeared first on BaleBengong.

Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia

Catat tenggat pengiriman karyanya: 21 April 2018.

Indonesia Raja, kolaborasi antar-wilayah di Indonesia dalam bentuk pertukaran program film pendek yang diinisiasi Minikino, siap digelar kembali menyongsong tahun 2018 ini.

Setelah melalui proses seleksi programmer sejak 4 Maret 2018 lalu, akhirnya telah dilantik 9 programmer mewakili 9 daerah di Indonesia. Saat ini para programmer telah mulai bertugas untuk mengumpulkan dan nantinya akan melakukan kurasi atas film-film pendek dari daerahnya masing-masing. Hasilnya akan disusun menjadi sebuah program film pendek utuh, lengkap dengan tema dan tulisan pengantar.

Mereka yang terpilih, antara lain: Rickdy Vanduwin S untuk wilayah Bali, Aldino Kamaruddin Santoso (Balikpapan), Gerry Fairus Irsan (Bandung), Arlinka Larissa (Jabodetabek), Kemala Astika (Jawa Barat), Canggih Setyawan (Jawa Tengah), Nofita Sari (Jember), Mohammad Ifdhal (Palu), dan Nur Ulfati (Surabaya).

Selanjutnya, para filmmaker Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam Indonesia Raja 2018 sudah bisa menyerahkan karyanya ke para programmer sesuai daerah masing-masing. Penyerahan karya film pendek dibuka sejak 1 April hingga 21 April 2018. Proses kurasi dan programming film pendek di masing-masing wilayah akan dimulai 22 April 2018.

Untuk itu, diimbau agar para filmmaker Indonesia tidak melewatkan tanggal submisi film pendek untuk Indonesia Raja 2018.

Proses mengundang dan memilih programmer di tahun ke-4 ini Minikino berusaha semakin selektif. Pengalaman dalam mengatasi berbagai kendala di tahun-tahun sebelumnya membuahkan berbagai catatan penting untuk diuji kembali tahun ini.

Selain menegaskan kesamaan visi, Minikino juga berusaha mencari calon programmer yang memiliki wawasan serta pemahaman teknis, serta mampu berkomunikasi dengan baik. Yang juga berbeda pada edisi kali ini adalah persyaratan rentang usia produksi cukup panjang, yaitu semua film pendek yang diproduksi sejak 2010 bisa diikutsertakan.

Sembilan programmer mewakili 9 daerah di Indonesia yang akan mengkurasi karya-karya dalam Indonesia Raja 2018. Foto Minikino.

Sekadar informasi, proses programming film pendek diperlukan untuk menyusun suatu tema yang dapat menghubungkan film-film pendek itu agar lebih nyaman ditonton. Selanjutnya diharapkan dapat merangsang diskusi produktif di antara penonton. Untuk tujuan ini, programmer juga perlu memikirkan urutan filmnya, mana yang lebih tepat sebagai pembuka, dan mana yang lebih tepat untuk mengakhiri.

Demikianlah tugas kesembilan programmer Indonesia Raja 2018 yang terpilih.

Para programmer dapat dihubungi langsung melalui informasi resmi Minikino untuk Indonesia Raja, juga berbagai persyaratan untuk mendaftarkan film pendeknya.

Pengumuman final untuk program Indonesia Raja 2018 akan diumumkan secara terbuka kepada masyarakat pada 3 Juni 2018 mendatang melalui berbagai kanal pemberitaan. Setelah itu, program-program tersebut siap untuk disebar pada acara-acara screening di seluruh wilayah di Indonesia. [b]

The post Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia appeared first on BaleBengong.