Tag Archives: minikino

Selepas Live Dubbing, Terbitlah “Anak-anak Kangen”

(Beberapa pemeran saat live dubbing berlangsung. Foto Vifick Bolang)

Sore itu matahari yang sudah condong ke barat menyilaukan mata saya.

Di salah satu sudut Veranda Café, saya dan dua orang teman mengobrol sembari menunggu kedatangan rombongan Sanggar Anak Tangguh. Kami yang kompak mengenakan dress code merah akhirnya duduk membelakangi matahari karena sudah tidak kuat menahan silau.

Tepat saat saya menyantap potongan garlic bread terakhir, sebuah bis berwarna putih dengan ukuran besar, berhenti di depan kafé. Bis itulah yang mengantarkan Anak Tangguh dari Guwang, Sukawati menuju Denpasar.

Satu per satu mereka turun. Seketika suasana jadi ramai karena mereka tak sendiri. Para orang tua juga mendampingi. Bahkan guru sekolahnya pun tak ketinggalan memboyong istri dan anaknya yang masih balita untuk ikut menyaksikan pertunjukan live dubbing film Be the Reds besutan sutradara asal Korea, Kim Yoongi, dalam acara pembukaan Minikino Film Week 4, 6 Oktober lalu.

“Di sini ya tempat pentasnya?”

“Wiiih, di sini ya? Di sini ya?”

“Di mana yang lain?”

Begitu pertanyaan yang meluncur ketika mereka menghampiri kami di dalam kafé. Melihat raut yang sangat antusias itu, kami langsung mengarahkan agar mereka menuju venue acara di Danes Art Veranda.

Para panitia yang tersebar di sekeliling terlihat sibuk memastikan apakah semua sudah siap atau belum. Malam itu kami duduk di deretan bangku depan. Mengikuti arahan dari Jong, kami mengambil posisi masing-masing. Sesekali mereka bertanya juga.

“Jam berapa kita tampil?”

“Masih lama ya?”

“Kita tampil setelah acara apa?”

Rupanya mereka sudah tidak sabar.

(Pemeran live dubbing berpose bersama sutradara Kim Yoongi sebelum pertunjukan dimulai. Foto @krisnamahay)

MFW4 sendiri telah diawali dengan beberapa pre-event, seperti Youth Jury Camp 2018, yang mengundang remaja berusia 13-17 tahun dari berbagai kota di Indonesia untuk menjalani pelatihan intensif selama 3 hari. Mereka terpilih untuk menonton dan menilai program-program internasional kategori anak dan remaja, lalu menentukan nominasi sebagai peraih penghargaan International Youth Jury Award 2018.

Selain itu ada pula Begadang Filmmaking Competition 2018 juga kembali diadakan. Kompetisi berskala nasional ini menantang peserta memproduksi sebuah film pendek dalam waktu hanya 34 jam.

Pada malam pembukaan, MFW4 juga memutarkan beberapa film yang mewakili masing-masing program di dalamnya. Beberapa filmmaker juga tampak hadir malam itu. Termasuk Kim Yoongi, sutradara film Be the Reds yang ditemani produsernya.

Layar lebar kembali padam. Beberapa film pendek yang mengantarkan pada acara puncak, telah usai. Itu tandanya giliran kami tiba. Kami kembali memastikan semua perlengkapan sudah siap tanpa ada yang kurang. Sambil memastikan pula anak-anak mengingat dialog masing-masing. Beberapa kali saya dan teman-teman membisikkan kata-kata penyemangat untuk mereka. Rasanya seperti akan menghadapi sidang. Nervous.

Bersama Teater Kalangan, proses ini dilakukan kira-kira satu atau hampir dua bulan. Devy Gita sebagai Pimpinan Produksi, menjadi jembatan koordinasi antara Minikino dan Kalangan. Sementara saya, Jong, dan Desi, fokus untuk melatih anak-anak yang terlibat. Aguk dan Tress akan fokus di properti dan tambahan lainnya. Begitu rencananya.

Namun, dalam perjalanannnya, ternyata tidak semudah di bayangan. Jadwal kakak-kakak ini ternyata cukup padat, sehingga harus menambah personel agar bias saling menopang. Muncullah Dedek, Bebe, dan Jacko yang membantu menjadi mentor (meskipun kata ini terdengar agak kejam, tapi dipakai saja) bagi Anak Tangguh.

Tidak dipungkiri pula, bagi saya pribadi ini adalah sebuah tantangan. Selain harus menyocokkan jadwal, tentu juga karena menghadapi anak-anak, benar-benar perlu pendekatan khusus. Saya sempat hampir putus asa ketika beberapa kali jadwal latihan, tetapi mereka sama sekali tidak datang. Atau ketika kami terlambat beberapa menit karena macet, mereka sudah membubarkan diri tak mau menunggu. Bahkan ketika harusnya latihan dengan serius, mereka masih asyik bermain dan ribut.

Ah, rasanya ingin menghilang seketika. Apalagi saat itu mengetahui bahwa sang sutradara dan produser film akan hadir di MFW4. Rasanya semakin tidak karuan.

Melihat tim yang tidak menyerah, berusaha menyesuaikan dengan situasi dan menyadari bahwa mereka masih anak-anak pun, membuat saya memaklumi sikap dan keinginan mereka untuk bermain. Jadi, memang kakaknyalah yang harus mengalah dan menurunkan egonya untuk selalu dituruti. Bias jadi pula saat itu saya yang tidak menikmati momen, sehingga muncul perasaan berlebihan. Akhirnya setelah damai dengan diri sendiri, saya tidak jadi putus asa dan menyesuaikan kembali agar menemukan ritme.

Tapi syukurnya, anak-anak ini luar biasa. Mereka mampu membawa suasana di dalam film menjadi hidup dengan dubbing mereka. Usia antara mereka dengan tokoh yang ada di film itu kami perkirakan sepantaran, apalagi masing-masingnya memiliki karakteristik khas yang dibawa pula ke dunia live dubbing itu.

Dengan menggunakan bahasa Bali dan Indonesia, cerita ini menjadi sangat dekat dengan audiens (terutama yang memakai atau mengerti kedua bahasa tersebut), sebab celetukan-celetukan khas Bali dan Guwang pun termasuk di dalamnya. Jadi benar-benar terasa seperti sedang melihat sekelompok anak banjar sedang bermain di lapangan bola.

Terlepas dari itu, film Be the Reds sendiri memang film yang menarik. Tak hanya memperlihatkan bahwa pertandingan sepak bola adalah sebuah momen perayaan dan keriangan, tetapi juga nilai-nilai dalam keluarga yang diselipkan dengan halus.

“Saya sangat bahagia. Saya tidak menyangka akan ada yang merespon filmnya dalam format live dubbing seperti itu,” jelas Kim Yoongi dalam bahasa Inggris yang terbata-bata.

Selepas 26 menit pertunjukan itu, saya benar-benar merasa bersyukur dan banyak belajar. Bersyukur telah menjadi bagian dari proses yang membutuhkan perjuangan, belajar untuk tidak memaksakan sesuatu, dan dari proses ini juga saya kembali diingatkan bahwa untuk bekerjasama dengan siapa pun, proses saling mengenal itu sangat penting. Jangan sampai terkalahkan oleh ego masing-masing.

Beberapa waktu selepas pertunjukan, tiba-tiba muncul sebuah grup WhatsApp bernama “Anak-Anak Kangen”, yang ternyata dibuat oleh Pagar, salah satu pemeran live dubbing. Anggotanya adalah seluruh pemeran dan para mentor. Ternyata ada janji yang saat itu belum kami tepati: membagikan es krim pada mereka. Janji ini muncul semasa latihan, sebagai “sogokan” agar prosesnya bisa lebih lancar.

(Keceriaan saat janji es krim ditepati. Foto arsip Anak-Anak Kangen)

Akhirnya janji ini ditepati 13 November 2018 di Kulidan Kitchen & Space yang kembali menjadi titik temu. Meski tidak bisa hadir dengan lengkap, kami harap bisa mengobati kangen mereka.

Sampai jumpa lagi ya, Dik.. [b]

The post Selepas Live Dubbing, Terbitlah “Anak-anak Kangen” appeared first on BaleBengong.

Teh Nia, Membela yang Berbeda Lewat Sinema

Nia Dinata saat diskusi di Minikino Film Week 4. Foto Anton Muhajir.

Catatan (lebih dari) sebulan kemudian setelah Minikino Film Week 4.

Kok ulasannya telat banget, sih? Begitulah. Pertama karena pas pelaksanaan Minikino Film Week (MFW) 4 waktu itu sedang menduda. Tiga minggu jadi orangtua tunggal dan kepala keluarga.

Dan, ternyata, jadi orangtua tunggal itu merepotkan dan melelahkan juga. Urusan domestik rumah tangga lebih pelik dari mengurus negara. Hehehe..

Kedua, seperti biasa, karena banyak pekerjaan. MFW4 itu barengan dengan hajatan besar Pertemuan Tahunan International Mother Fucker, eh, International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Bali pada 8-14 Oktober 2018.

Kemudian susul menyusul agenda-agenda lain setelahnya. Intinya, sibuklah. Karena pengecer karya memang harus selalu kelihatan sibuk. Biar lebih meyakinkan dan tidak terlihat sebagai pengangguran.

Alasan terakhir, pemalas memang selalu punya alasan untuk menunda pekerjaan. Jadi ya, dimaklumi saja. Tidak usah dipahami.

Tabrakan Jadwal

Oke, cukup basa-basi dan omong kosongnya. Mari kembali ke MFW tahun ini.

Pada MFW keempat ini, saya mendapat kehormatan untuk menjadi juri kompetisi film pendek. Karena itu pada Juli 2018, tiga bulan sebelum pelaksanaan festival, saya sudah mendapatkan kesempatan nonton film-film pendek yang masuk nominasi pemenang.

Ini kegiatan menyenangkan karena bisa menikmati dan menilai 18 film pendek dari 11 negara. Filmnya berdurasi antara 3 – 20 menit dengan genre beragam: anak-anak, fiksi, dokumenter, animasi, dan eksperimental.

Selain sebagai juri, saya juga ditodong memandu salah satu diskusi MFW 4. Pembatalan kesediaan memandu diskusi lain karena tabrakan jadwal dengan pekerjaan ternyata justru jadi berkah. Sesi yang justru saya moderatori adalah diskusi bareng nama terkemuka dalam sinema Indonesia, Nurkurniati Aisyah Dewi.

HEH!! Who the hell is Nurkurniati Aisyah Dewi!? Kenal saja tidak kok bilang nama terkemuka!

Oke. Nurkurniati Aisyah Dewi adalah nama asli Nia Dinata. Ini juga saya baru tahu dari Wikipedia saat membuat tulisan ini. Nama Nia Dinata tentu lebih terkenal dibandingkan nama aslinya. Dia jelas nama terkemuka di antara para sineas Indonesia.

Sebagai produser, perempuan yang juga lebih akrab dipanggil Teh Nia ini, membuat film-film terkenal, seperti Cau-ba-kan (2002), Arisan (2003) dan Berbagi Suami (2006). Ketiga film itu menyajikan cerita-cerita tentang topik tak biasa, misalnya perempuan China di Indonesia, homoseksualitas, dan kontroversi poligami.

Film Keluarga

MFW4 kali ini juga memutar film-film Nia Dinata dengan tema Keluarga ala Indonesia. Namun, ini bukan keluarga-keluarga biasa.

Ada tujuh film pendek berdurasi antara 15-20 menit diputar pada awal Oktober lalu itu. Di antaranya Elinah, Har, Perfect P, Sleep Tight Maria, dan Kebaya Pengantin. Hampir semua film itu diproduksi Kalyana Shira Film, rumah produksi yang didirikan Teh Nia.

Salah satu lokasi pemutarannya di Rumah Sanur, tempat kumpul beragam komunitas di Sanur. Sekitar 30 orang menonton tujuh film pendek itu lalu dilanjut ngobrol santai dengan Teh Nia. Penonton duduk di kursi menyimak dengan manis layaknya mahasiswa baru pertama kali kuliah sementara pembicara dan moderatornya duduk di bean bag, santai kayak di pantai.

Aku sendiri kelewat satu film pertama, Elinah. Namun, masih ada enam film lain yang menarik untuk disimak.

Film-film pendek ini bercerita tentang keluarga-keluarga tak biasa.

Film Har, misalnya, menggunakan masa cerita 1997, tahun terakhir Orde Baru. Orang-orang duduk di beranda rumah ngobrol dalam bahasa Jawa perihal apakah Soeharto akan bersedia diganti atau tidak.

Salah satu di antara bapak-bapak yang ngobrol itu adalah bapaknya si Har, anak SD yang ditinggal ibunya menjadi buruh migran. Film ini membongkar paradigma kuno bahwa bapak adalah kepala keluarga dan harus menjadi penanggung jawab sumber dana.

Sebaliknya, film Har menegaskan bapak juga bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, termasuk memasak, mengantar anak sekolah, dan semacamnya.

Teh Nia memang senang dengan narasi melawan kemapanan pandangan arus utama. Itu pula yang dia sampaikan Teh Nia lewat Perfect P. Film ini menceritakan definisi keluarga di mata seorang remaja pria. Dalam pandangan arus utama ala Indonesia, keluarga adalah ibu, bapak, dan anak-anak. Namun, dalam film ini, keluarga bagi Putra, si tokoh utama adalah bapak dan bapak. Dia memang anak (angkat?) dari pasangan gay.

Hal tak biasa, tetapi harus mulai dibiasakan. Bahwa keluarga bisa punya banyak rupa. Bisa punya banyak cara.

Timur Tengah

Film lain yang menarik adalah Kebaya Pengantin, kisah asmara laki-laki dengan waria. Si waria adalah penata busana yang mengantarkan pacarnya pulang kampung untuk kawin dengan perempuan lain. Kebaya buatan si waria dipakai perempuan itu.

Ada tragedi. Ada ironi. Semacam pesan bahwa budaya kita masih terikat pada nilai-nilai biner, laki-laki vs perempuan. Tidak mungkin ada pernikahan antara laki-laki dan waria.

Melalui film-filmnya, Teh Nia menggugat kemapanan budaya itu. Seolah menegaskan, ada lho nilai-nilai berbeda. Ada lho cerita-cerita “tabu” diungkap meskipun praktiknya itu terjadi sehari-hari di dunia nyata.

Dia memang melakukannya dengan sengaja.

Niatan semacam itu justru muncul berdasarkan pengalaman pribadinya. Saat remaja, dia pernah tinggal di Timur Tengah. Kalau tak salah sih di Saudi Arabia.

[Mmmm, maaf ya, Mbak jika salah. Saya tidak mencatat detail diskusi kita karena lebih khusyuk mendengar]

Selama di sana, dia merasakan hal sangat berbeda dibandingkan pengalaman di Indonesia. Salah satunya karena sebagai perempuan, dia sangat dibatasi aktivitasnya. Tidak bebas pergi sendiri.

Namun, pembatasan berlebihan justru melahirkan pemberontakan. “Pengalaman hidup selama di Timur Tengah justru membuat saya ingin membuat film-film yang melawan pembatasan semacam itu,” kata Teh Nia saat itu.

Menurut Teh Nia, melalui film-film semacam itu, dia berharap pemirsa filmnya akan makin terbuka pada mereka-mereka yang dianggap berbeda, terutama kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Mereka yang dianggap liyan oleh arus utama.

Maka, lahirlah film-film bertema keluarga tak biasa dari Teh Nia. Cerita-cerita tentang mereka yang selama ini sering mendapatkan stigma dan diskrminasi hanya karena mereka berbeda.

Di tangan Teh Nia, film tak sekadar media untuk bercerita dan menghibur semata, tetapi alat untuk membela mereka yang selama ini kurang mendapat tempat untuk bersuara.

The post Teh Nia, Membela yang Berbeda Lewat Sinema appeared first on BaleBengong.

Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama

Akhir pekan lalu, Minikino melanjutkan perjalanan menebar layar tancap.

Pada Sabtu (3/11) Minikino menuju ke lokasi pemutaran selanjutnya di Lapangan Terbuka RT 02, Dusun Kopang, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Jaraknya sekitar 56 km dari pelabuhan Lembar, Lombok.

Sebelumnya, Minikino sudah mengadakan Pop Up Cinema (Layar Tancap) di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Dusun Kopang yang terletak di daerah perbukitan menjadi lokasi pemutaran hari ketiga roadshow Minikino Film Week 4. Di sekeliling dusun banyak ditumbuhi pohon kelapa dan pohon kakao. Di Dusun Kopang, hampir sebagian warganya sudah mulai
membangun kembali bangunan yang roboh akibat gempa.

Mayoritas penduduk Dusun Kopang adalah pedagang warung sembako. Bagi yang muda, mereka lebih memilih bekerja di sektor pariwisata khususnya di tiga pulau seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Pasca gempa, beberapa warga bergotong royong
membangun kembali rumah dengan bantuan yang ada.

Warga secara swadaya juga melakukan berbagai kegiatan untuk anak-anak. Kebetulan pada hari sama, ibu Ayu dari RT02 Dusun Kopang mengadakan kegiatan menggambar dan mewarnai.

Sama seperti desa sebelumnya, kegiatan seperti ini sangat disambut dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Kegiatan menonton film dipandang sebagai kegiatan yang menghibur dan membuat rasa kebersamaan warga setempat meningkat. Anak-anak di lokasi pemutaran sangat antusias sekali untuk bisa ikut menonton film. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana semangat dan sabarnya mereka menunggu dari sore hari.

Selain itu bagi sebagian anak-anak, menonton film yang belum pernah mereka tonton di tv adalah sesuatu hal yang menyenangkan karena selain bisa menonton film baru, bisa juga menonton film bersama tema-teman. Ahmadi sebagai Kepala Dusun setempat juga menyebutnya kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.

“Senang saya, Mas. Ya warga jadi bisa bareng-bareng nonton film. Biasanya ya hanya diam di tenda, tidur, tapi sekarang bisa keluar dan bareng-bareng di sini,” katanya.

Sehari sebelum pemutaran, anak-anak juga menyambut Minikino dengan riang gembira. Meskipun di awal pertemuan mereka tampak begitu malu-malu, saat diberi kesempatan untuk memegang handycam dan merekam temannya, mereka sangat senang dan semangat untuk melakukannya. Melihat semangat mereka, crew roadshow Minikino pun tambah bersemangat dalam memasang layar tancap dan mempersiapkan semua peralatan.

Warga Dusun Kopang begitu ramah kepada crew Minikino. Keramahan mereka tercermin ketika pertama kali crew Minikino melakukan pengecekan lokasi. Mereka menyambut crew Minikino dengan riang gembira layaknya kawan lama yang lama berpisah.

Selain itu, mereka juga menyediakan makanan dan minuman yang crew Minikino nikmati bersama warga. Walaupun masih dalam situasi sulit sekali pun mereka tetap mencoba sabar dan menjalani hari-hari dengan semangat. Sebuah tangan terbuka yang membuka isolasi. Warga Dusun Kopang sadar betul bahwa jejaring yang baik bisa membuat mereka makin kuat dan menerima dengan lapang apa yang sudah terjadi.

Bertepatan dengan kegiatan nonton bareng, satu anak bernama Ica berulang tahun. Bersama warga crew Minikino mencoba menghibur dengan menyanyikan lagu dan memberinya selamat. Ica senang, warga senang, dan crew Minikino pun senang.

Hingga pemutaran film selesai, warga tidak langsung saja pulang ke rumah masing-masing. Mereka ikut bersama membongkar layar dan merapikan peralatan yang digunakan tanpa diminta. Sebuah kebersamaan yang begitu hangat dari awal sampai akhir kegiatan.

Saat acara nonton bareng, ada 250 orang yang datang untuk bersama-sama menonton film pendek. Tak hanya warga RT02, menurut penuturan bapak kepala desa, warga dari RT05 yang jaraknya setengah kilometer dari lokasi juga ikut bersama-sama berbaur dan menonton film bersama-sama.

Kadang, kebersamaan bisa diciptakan dengan cara-cara yang sederhana, tak harus mewah, menonton film salah satunya. Film mempertemukan, film menguatkan, dan dengan film kita sejenak melupakan apa yang sudah terjadi. [b]

The post Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama appeared first on BaleBengong.

Setelah Bali, Minikino Bikin Layar Tancap di Lombok

Mengobati trauma setelah gempa dengan nonton bersama.

Setelah melewati keseruan seminggu penuh festival dan melaksanakan Pop Up Cinema (Layar Tancap) di Bali, Minikino Film Week 4 melanjutkannya dengan melakukan Road Show Pop Up Cinema ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Satu bulan sebelumnya, pada 7 – 9 Oktober 2018, Minikino telah melaksanakan tiga layar tancap di tiga tempat berbeda yaitu di Bale Banjar Kebayan Desa Nyambu Tabanan bekerja sama dengan Nyambu Eco Tourism, di Puri Klungkung bekerja sama dengan Cineclue, dan di Wantilan Desa Pedawa, Buleleng bekerja sama dengan Kayonan Pedawa; Pecinta Alam Pedawa.

November ini, Minikino mengawali bulan dengan melakukan Road Show ke Lombok bekerja sama dengan Rotary RDR (Rotary Disaster Relief). Ada tiga lokasi yang menjadi tempat Road Show Minikino di Lombok kali ini.

Dalam waktu empat hari Road Show, Minikino membawa sembilan film-film pendek pilihannya, yaitu; Mogu and Perol. Be The Reds, Schoolyard Blues, Air Untuk Wasa, Life of Death, Belly Flop, Caronte, Almari, dan peraih Best Short Film of The Year Minikino Film Week 4, Kimchi.
Pop Up Cinema hari pertama akan dilaksanakan pada 2 November 2018, pukul 18:30 WITA, bertempat di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Desa Medana adalah salah satu desa di Lombok Utara yang mengalami kerusakan yang cukup parah di Lombok Utara akibat gempa yang mengguncangnya bulan Agustus lalu. Di lokasi ini dihuni oleh 60 kepala keluarga. Untuk menambah penghasilan pasca gempa, warga di lokasi membuat kelompok yang disebut Kelompok Harapan Bunda.

Kelompok Harapan Bunda adalah kelompok usaha kecil menengah yang menjual kopi robusta yang disebut Kopi Lindur. Lindur dalam bahasa Lombok berarti gempa. Kopi ini disebut dengan Kopi Lindur karena anggota dari kelompok ibu-ibu ini dipertemukan karena gempa, oleh karena itu kopi ini disebut Kopi Lindur.

Menurut penuturan Ari, pemuda Kopang, kegiatan yang dilakukan Minikino sangat bagus dan menguntungkan warga setempat. Dia mengaku ada kegiatan seperti ini di desa. Warga jadi ada hiburan dan tidak suntuk di rumah. Warga juga bisa jualan kopi dan lain-lain sebelum acara dimulai, jadi warga dapat menambah penghasilan setelah gempa waktu ini.

“Apalagi belum pernah ada kegiatan nonton bareng film, ya bagus lah jadi ada hiburan,” jelas Ari.

Saat Pop Up Cinema hari pertama, 150 jumlah penonton mulai dari anak-anak, anak muda bahkan hingga usia senja hadir untuk menonton film.

Putra, salah satu penonton sangat senang karena sekarang bisa nonton film rame-rame. Saat ditanya dia menjelaskan kalau kegiatan seperti ini membuatnya senang karena pengungsian yang jadi tempat tinggalnya sementara kembali rame, selain itu bisa main rame-rame dan bisa main dengan lebih banyak teman lagi.

Budi Utomo, selaku Kepala Kewilayahan Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Lombok Utara juga menyampaikan rasa senangnya dan terima kasih untuk Minikino dan Rotary Disaster Relief (RDR) sudah membawa hiburan ke desanya untuk menghibur masyarakat yang terkena dampak gempa. Dengan diadakannya kegiatan semacam ini, dia juga berharap semakin tumbuhnya rasa kebersamaan antar sesama warga. [b]

The post Setelah Bali, Minikino Bikin Layar Tancap di Lombok appeared first on BaleBengong.

Bersiaplah untuk 200 Film Pendek, 41 Program, 9 Lokasi

Suasana registrasi jumpa pers Minikino Film Week 4. Foto Wayan Martino

Festival film pendek internasional di Bali Minikino Film Week (MFW) kembali terselenggara pada 6 – 13 Oktober 2018 mendatang. Festival yang diinisiasi Minikino ini telah memasuki tahun keempat dan semakin berkembang dengan ragam inovasi serta perluasan jaringan kerja internasional.

Direktur Festival Minikino Film Week 4 Edo Wulia mengungkapkan, tahun ini tampil lebih dari 200 film pendek dari seluruh dunia yang dikemas dalam 41 program. Di dalamnya termasuk program tahunan Indonesia Raja 2018 serta seleksi istimewa dari jaringan kerja S-Express 2018.

Lokasi acara festival bekerja sama dengan sembilan titik yang tersebar di berbagai penjuru Pulau Bali. Jenis lokasi terbagi menjadi dua, yaitu Micro Cinema di enam lokasi dan Pop Up Cinema di tiga lokasi.

Tahun ini, festival lounge bertempat di Rumah Sanur Creative Hub, Jalan Danau Poso no. 51A, Sanur, Denpasar, di mana meja informasi serta perpustakaan film pendek diaktifkan. Lokasi lainnya adalah Irama Indah, Uma Seminyak, Omah Apik di Pejeng, Rompyok Kopi Kertas Budaya di Jembrana, Rumah Film Sang Karsa di Lovina, Buleleng; dan Danes Art Veranda sebagai venue pameran poster, opening dan closing night. Adapun Pop Up Cinema diadakan di Bale Banjar Kebayan Desa Nyambu, Tabanan; Puri Klungkung; dan Wantilan Desa Pedawa, Buleleng.

Direktur Eksekutif Minikino Film Week I Made Suarbawa. Foto Wayan Martino

Program Khusus

Direktur Program Minikino Film Week 4 Fransiska Prihadi menerangkan beberapa program khusus yang akan ditampilkan di MFW 4 adalah hasil dari hubungan langsung antara Minikino dengan badan-badan perfilman, baik nasional maupun internasional. Tahun ini, Minikino Film Week 4 dengan bangga mempersembahkan Austin Film Festival: Reality Check, Image Forum Festival Selected Works: Multi-Modes of Independent Filmmaking in Japan, serta Made in Indonesia: Nia Dinata, dalam seleksi film pendek “Keluarga Ala Indonesia”.

Selain pemutaran program film pendek, MFW4 juga menghadirkan MFW4 Talks, acara talk show dengan pembicara-pembicara dari dalam negeri mau pun mancanegara, seperti Paul Agusta, Putri Ayudya, Nia Dinata, Marlowe Bandem, Seruni Audio, dan Dread Team Bali. Dari mancanegara hadir Liew Seng Tat, seorang sutradara terkemuka dari Malaysia; Koyo Yamashita dari Image Forum Jepang; Aurelian Michon dari Institut Francais Indonesia; serta programmer S-Express 2018, Helene Ouvrard yang akan terbang langsung dari Laos.

Pertunjukan yang juga menarik perhatian tahun ini adalah live dubbing film pendek Korea Selatan berjudul Be the Reds ke dalam Bahasa Bali. Live dubbing ini akan diperagakan oleh Teater Kalangan bersama Sanggar Anak Tangguh. Selain pada malam pembukaan festival, Sabtu 6 Oktober 2018 di Danes Art Veranda, Live Dubbing juga akan ditampilkan pada Pop Up Cinema di lokasi Bale Banjar Kebayan, Desa Nyambu, Tabanan, Minggu, 7 Oktober 2018. Acara ini akan dihadiri langsung oleh sutradara film tersebut, Kim Yoongi.

MFW4 telah diawali dengan beberapa pra-event, antara lain Youth Jury Camp 2018, sebuah terobosan kreatif MFW4 yang mengundang remaja berusia 13-17 tahun dari berbagai kota di Indonesia untuk berkumpul di Bali. Mereka menjalani pelatihan intensif selama tiga hari dan dinobatkan sebagai 2018 Youth Jury Board.

Para remaja terpilih ini mendapat kesempatan bergengsi, menonton dan menilai program-program internasional dalam kategori anak-anak dan remaja, kemudian menentukan nominasi internasional untuk dipertimbangkan sebagai peraih penghargaan International Youth Jury Award 2018.

Selain itu, Begadang Filmmaking Competition 2018 juga telah menjadi bagian tetap sejak tahun lalu, sebuah kompetisi skala nasional yang menantang pesertanya memproduksi film pendek hanya dalam waktu 34 jam.

Tahun ini terdaftar 17 tim produksi dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun, hanya 10 tim yang berhasil masuk penjurian. Terpilih 4 nominasi yang akan memperebutkan juara utama Begadang Filmmaking Award 2018. Pemenang akan diumumkan di International Awarding Night, Sabtu, 13 Oktober 2018 di Danes Art Veranda.

Dari kiri ke kanan Edo Wulia, Roufy Nasution (sutradara film pendek Barakabut), Winner Wijaya (sutradara film pendek Ojek Lusi), I Gede Gandhi Bramayusa (sutradara film pendek Trunyan (Beyond the Lake). Foto Wayan Martino.

Direktur Eksekutif Minikino Film Week 4 I Made Suarbawa memaparkan, Minikino Film Week sejak awal dirancang sebagai yang masuk ke dalam keseharian masyarakat, di mana layar-layar film dikembangkan membangun kembali suasana menonton film bersama, tempat bertemu untuk membicarakan pengalamannya, dan merangsang sikap kritis terhadap apa yang baru saja mereka tonton.

Memasuki tahun keempat ini, MFW juga mulai memberlakukan festival pass yang dapat dibeli melalui website mfwpass.minikino.org. Festival pass terbagi menjadi tiga jenis yaitu Supreme Pass, Mezzo Pass dan Daily Pass, masing-masing dengan cakupan akses dan harga berbeda-beda. Bagi para pelajar dan mahasiswa yang memiliki kartu pelajar sebagai bukti, bisa mendapatkan bebas biaya sepenuhnya, tetapi tetap harus mendaftarkan dirinya pada tautan yang tersedia.

MFW 4 juga bekerja sama dengan RDR-Rotary Disaster Relief, Bali School Kids dan Rotary Club Bali Denpasar untuk roadshow pascafestival ke Lombok selama tiga malam (2-4 November 2018) untuk menyelenggarakan acara layar tancap bersama para pengungsi korban bencana di pulau Lombok. [b]

Publikasi MFW4:
Nurafida pr@minikino.org 085770224226
Fransiska Prihadi, Program Director of Minikino cika@minikino.org
Website minikino.org/filmweek
Instagram, Facebook, Twitter @minikinoevents

The post Bersiaplah untuk 200 Film Pendek, 41 Program, 9 Lokasi appeared first on BaleBengong.