Tag Archives: Merokok

Rokok Elektronik Dapat Membantu Perokok Berhenti Merokok

Dibalik segala efek buruknya, rokok elektronik atau vape ternyata dapat digunakan untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan merokoknya. Demikian kesimpulan dari studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ.

Selama ini, para perokok menggunakan tambalan nikotin, permen karet dan obat obatan untuk membantu menghentikan kebiasaan merokok. Belum ada konsesus yang mengamini penggunaan vape untuk membantu perokok berhenti merokok. Studi ini menjadi salah satu studi terbesar yang memberi jawaban atas manfaat vape untuk membantu menghentikan kebiasaan merokok.

Menurut Peter Hajek, direktur kesehatan dan gaya hidup Universitas Queen Mary, London, rokok elektronik selama ini memang digunakan sebagai pengganti rokok tembakau.

Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah perokok tembakau mengalami penurunan yang cukup signifikan. Upaya yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat dengan menaikan cukai rokok dan maraknya iklan anti rokok, cukup memiliki andil dalam penurunan jumlah perokok di negara tersebut.

Rokok elektronik sendiri mulai dijual di Amerika Serikat sejak tahun 2007. Sebagian besar perokok mengaku beralih ke rokok elektronik untuk menghindari dampak buruk dari rokok tembakau.

Penelitian ini menggunakan data sensus penduduk Amerika Serikat dalam kurun waktu 15 tahun antara tahun 2001 sampai 2015. Data tersebut kemudian dianalisa dan dilihat jumlah penduduk dewasa yang menjadi pemakai vape.

Sekitar dua pertiga dari pengguna vape mengaku berusaha untuk menghentikan kebiasaan merokok, sedangkan 40% bukan merupakan pengguna vape. Studi ini kemudian menemukan, pengguna vape memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi saat berusaha berhenti merokok.

Meskipun vape memiliki manfaat membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok, vape sendiri sejatinya juga mengandung zat kimia yang efeknya juga buruk bagi tubuh. Untuk menghindari efek buruk lain dari vape maka upaya menghentikan kebiasaan merokok dengan alami berdasarkan niat yang kuat akan jauh lebih bagus.

IQ Tinggi Di Masa Kanak Kanak Berhubungan Dengan Panjang Umur

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam BMJ today mengungkap hubungan antara IQ tinggi pada anak anak dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit serius seperti penyakit jantung, stroke, kanker yang berhubungan dengan rokok, penyakit pernafasan dan demensia.

Studi yang relatif besar ini berupaya mencari hubungan antara gaya hidup dengan penyebab kematian akibat beberapa penyakit berbahaya. Salah satu hubungan yang ditemukan adalah adanya pengaruh kecerdasan (IQ) dengan penurunan risiko penyakit yang menyebabkan kematian dini.

Studi sebelumnya menyebutkan, mereka yang ber-IQ tinggi memiliki umur yang sedikit lebih panjang bila dibandingkan dengan mereka yang IQ-nya rendah, namun studi ini hanya mengamati mereka yang usianya menginjak dewasa.

Dari hasil tersebut, para peneliti dari Universitas Edinburgh kemudian mencari hubungan antara hasil tes IQ yang dilakukan saat seseorang berusia 11 tahun dengan penyebab kematian yang terjadi sampai dengan usia mereka 79 tahun.

Data penelitian diambil dari sampel sebanyak 33.536 pria dan 32.229 wanita yang lahir di Skotlandia tahun 1936. Sampel tersebut dipilih karena memiliki data hasil tes IQ saat mereka berusia 11 tahun. Data hasil tes IQ tersebut selanjutnya dihubungkan dengan penyebab kematian sampai dengan Desember 2015.

Data penyebab kematian tersebut diantaranya penyakit jantung koroner, stroke, beberapa jenis kanker tertentu, penyakit saluran nafas, penyakit saluran pencernaan, penyebab kematian eksternal seperti bunuh diri dan kecelakaan, serta demensia.

Setelah mempertimbangkan berbagai macam faktor, peneliti tiba pada satu kesimpulan, tingginya kecerdasan di masa kanak kanak berhubungan dengan penurunan risiko kematian sampai usia 79 tahun.

Lebih spesifik lagi, anak anak yang memiliki nilai IQ yang tinggi, risiko kematian akibat penyakit saluran nafas menurun sebesar 28%, risiko kematian akibat penyakit jantung koroner menurun sampai 25%, risiko kematian akibat stroke menurun sampai 24%.

Peneliti mengakui, studi ini bisa saja mengalami bias karena masih banyak faktor penyebab kematian yang luput dalam data penelitian. Studi ini juga tidak berhasil menemukan hubungan sebab akibat dari antara penyebab kematian dengan tingkat kecerdasan di masa kanak kanak.

Lebih Dari 10% Remaja Dunia Adalah Perokok

Sebuah studi global terbaru menyimpulkan bahwa lebih dari 10% penduduk dunia yang berusia antara 13 sampai 15 tahun adalah perokok.

Sebagaimana kita ketahui bersama, rokok tembakau menjadi penyebab utama gangguan kesehatan serius yang dialami penduduk dunia. Setiap tahun, sekitar 6 juta penduduk dunia harus kehilangan nyawa akibat dari penyakit serius yang berhubungan dengan rokok tembakau. Sebagian besar perokok memulai kebiasaan merokok di usia remaja.

Studi kali ini, peneliti mengambil data survei remaja dari tahun 2012 sampai 2015 di 61 negara. Hasilnya, setengah dari negara negara tersebut memiliki angka perokok remaja laki laki sebesar 15% sedangkan perokok remaja perempuan sebesar 8%.

Menurut kepala peneliti, Rene Arrazola dari CDC, merokok telah terbukti sangat berbahaya bagi seluruh organ tubuh dan kebiasaan merokok saat dewasa sudah dimulai dari usia remaja.

Mereka yang memulai kebiasaan merokok di usia muda memiliki angka ketergantungan terhadap nikotine yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mereka yang mulai merokok di usia dewasa. Sehingga upaya untuk mencegah kebiasaan merokok di usia remaja menjadi sangat penting untuk mengurangi angka kematian yang disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan rokok.

Negara dengan angka perokok remaja yang paling kecil adalah Sri Lanka (1,7%) sedangkan negara dengan angka perokok remaja yang paling tinggi adalah Timor Leste (35%).

Berdasarkan jenis kelamin, negara dengan angka perokok remaja laki laki terkecil adalah Tajikistan (2,9%), sedangkan negara dengan angka perokok remaja laki laki tertinggi adalah Timor Leste (61,4%). Sedangkan untuk perokok perempuan, negara dengan angka perokok perempuan terendah adalah Tajikistan (1,6%) sedangkan negara dengan angka perokok perempuan tertinggi adalah Bulgaria (29%).

Secara umum, setengah dari perokok remaja yang disurvei mengatakan mereka ingin berhenti merokok. Keinginan berhenti merokok paling rendah terjadi di Uruguay (32%) sedangkan keinginan berhenti merokok yang paling tinggi di Filipina (90%).

Kelemahan dari studi ini adalah hanya berdasarkan pengakuan dari remaja yang bersangkutan sehingga tidak menggambarkan perilaku remaja itu secara nyata. Studi juga menyasar remaja yang bersekolah sehingga tidak menggambarkan secara utuh kebiasaan merokok di negara yang bersangkutan.

8 Fakta Kanker Paru Yang Wajib Kamu Ketahui

kanker paru

Pernah dengar atau membaca tentang kanker paru? Bila belum, coba baca dulu tulisan saya disini sebelum membaca 8 fakta kanker paru yang wajib kamu ketahui.

Baca juga: #TwitKes Kanker Paru

Setelah membaca tulisan saya yang lumayan panjang itu, berikut 8 fakta kanker paru yang wajib kamu ketahui:

  • Kanker paru adalah kanker penyebab kematian utama baik pada pria maupun wanita di seluruh dunia.

  • Merokok adalah faktor risiko utama terjadinya kanker paru.

  • Perokok pasif juga berisiko menderita kanker paru.

  • Terdapat dua tipe kanker paru yang pertumbuhan dan penyebarannya berbeda. Dua tipe kanker paru tersebut adalah kanker paru small cell dan kanker paru non small cell.

  • Stadium kanker paru ditentukan dari seberapa jauh kanker telah menyebar ke organ tubuh yang lain.

  • Pengobatan kanker paru terdiri dari pembedahan, kemoterapi, terapi target, immunoterapi dan terapi radiasi. Kombinasi terapi terapi tersebut kerap dilakukan.

  • Secara umum, prognosis atau harapan kesembuhan kanker paru sangat buruk karena kebanyakan kasus kanker paru baru diketahui setelah memasuki stadium lanjut. Angka harapan bertahan lima tahun untuk kanker paru stadium dini adalah 54% sedangkan untuk stadium lanjut turun menjadi 4%.

  • Berhenti merokok adalah salah satu upaya penting untuk mencegah terjadinya kanker paru.

Stop Merokok Dapat Redakan Gejala Depresi

Sebuah studi terbaru di Inggris menyebutkan, berhenti merokok dapat membantu meredakan gejala depresi yang dialami seseorang.

Studi yang merupakan kerjasama antara Kings College London dengan Universitas Charles Praha ini menggunakan sampel sebanyak 3775 orang pasien yang mendatangi klinik stop merokok yang ada di Republik Ceko.

Dari 3775 orang pasien yang diteliti, 835 pasien berhasil menghentikan kebiasaan merokoknya saat kunjungan ulang setahun kemudian.

Selain berhasil menghentikan kebiasaan merokoknya, sebanyak 66,3% pasien yang sebelumnya menderita depresi berat mengaku gejala depresinya mereda setelah berhenti merokok selama setahun.

Sebagaimana diketahui, jumlah perokok dikalangan mereka yang mengalami masalah mental sangatlah tinggi. Data di Inggris, 3 juta dari 9,6 juta perokok di negara tersebut adalah mereka yang mengalami masalah mental.

Merokok juga menjadi faktor risiko tunggal yang memperpendek harapan hidup mereka yang mengalami masalah mental. Harapan hidup perokok yang mengalami masalah mental, 10 – 20 tahun lebih rendah bila dibandingkan dengan populasi.

Peneliti juga mencatat, mereka yang depresi lebih susah berhenti merokok bila dibandingkan dengan mereka yang tidak depresi.

Studi ini dipublikasikan dalam journal Annals of Behavioural Medicine.