Tag Archives: Men Coblong

Catatan Mingguan Men Coblong: Perawan

Men Coblong terdiam dan marah besar membaca berita itu.

ATLET senam artistik dari Jawa Timur, Shalfa Avrila Siani, gagal masuk Skuat Merah Putih di SEA Games karena dugaan tidak perawan. Posisinya digantikan oleh pesenam lainnya, Yogi Novia Ramadhani.

Berita itu membuat Men Coblong marah. Sebagai perempuan dan pernah mengalami masa-masa “pecicilan”. Sebagai anak perempuan yang tumbuh dengan penuh kesadaran mencintai tubuh dan pertumbuhannya sebagai perempuan. Merasa paling cantik, merasa paling indah.

Kesadaran dan kebanggaan menjadi anak perempuan telah dipupuk ketika usia Men Coblong lima tahun. Guru Taman Kanak-Kanak (TK) selalu menjelaskan dengan tegas bahwa menjadi anak perempuan itu harus bangga, karena bisa bersolek dan tampil cantik jika menari.

Makanya pada masa itu, sekitar tahun 70-an, para orang tua terutama ibu-ibu yang memiliki anak perempuan biasanya selalu memasukkan anak-anak perempuannya kursus menari. Seolah menari adalah cara dan tempat satu-satunya untuk membuat anak perempuan benar-benar jadi anak perempuan seutuhnya, dalam arti cantik, luwes, anggun dan memiliki tubuh ideal bak seorang putri dari negeri dongeng.

Jarang sekali orang tua pada masa itu mengajukan pilihan untuk menekuni olah raga. Apalagi senam, olah raga yang benar-benar menuntut konsentrasi dan keseimbangan.

Tumbuh sebagai anak perempuan yang mandiri dan memiliki kesadaran mencintai tubuh tidak mudah, karena di luar tubuh perempuan ada beragam aturan-aturan sosial yang berat diikuti anak perempuan. Terlebih jika perempuan kecil sudah menjelma jadi gadis minimal sudah ditandai dengan tumbuhnya payudara dan menstruasi.

Menjelma menjadi seorang gadis bukan persoalan mudah, karena biasanya orang tua (baca: Ibu) — mulai mengajar doktrin, untuk waspada dengan lawan jenis (baca: Lelaki). Bisa dibayangkan alangkah sulitnya tumbuh dan besar sebagai anak perempuan.

Makanya Men Coblong merasa miris dengan kasus Shalfa, yang sudah masuk long list atau daftar atlet ke SEA Games, tetapi belum mendapatkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan. Shalfa dan Yogi merupakan atlet cadangan. Mereka bisa menjadi tim inti andai ada atlet dengan urutan di atasnya mengalami cedera.

Shalfa menyadari dirinya mungkin melakukan kesalahan yang dianggap tindakan indisipliner sebagai seorang atlet. Namun, ia tidak terima jika harus dihukum, bahkan dikeluarkan dari tim dengan isu tidak lagi perawan. Pesenam putri asal Kota Kediri, Shalfa Avrila Siani, tak kuasa menahan tangis ketika mencurahkan isi hatinya.

Siswi kelas 12 SMU Kebomas Gresik ini bisa menerima jika sang pelatih menilainya indisipliner, karena pernah keluar malam. Namun, Shalfa Avrila Siani sangat keberatan bila pencoretan saat Pelatnas Senam di Gresik lalu, karena alasan keperawanan.

Pihak keluarga Shalfa langsung memeriksakan anaknya ke Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Hasil tes menyimpulkan selaput dara Shalfa masih utuh. “Namun, pelatih meragukan hasil itu. Katanya harus dites lagi di Rumah Sakit Petro,” katanya.

Sebagai Ibu, sebagai anak perempuan apa yang Anda bayangkan jika Anda mengalami kasus seperti Shalfa ini? Apakah cukup menangis?

Tugas kementerian Pemberdayaan Perempuan harusnya mulai menelisik kasus ini dengan tuntas. Marwah menjadi perempuan itu harus dijaga. Semoga ada jalan keluar dari beragam institusi perempuan untuk membongkar kasus ini sejelas-jelasnya. Kita tunggu. Tapi jangan kelamaan ya? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Perawan appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Lokomotif

Nadiem Makarim. Foto Antara.

Menarik juga nama kabinet Presiden saat ini, “Kabinet Indonesia Maju”.

MEN COBLONG senang sekali jika anak-anak muda bangsa ini yang nyata-nyata sudah mampu memberi wujud nyata dan mampu menerjemahkn hasil kerjanya untuk bangsa dan negara ini masuk di dalam kabinet.

Susunan kabinet ini berasal dari kalangan profesional, usulan partai politik pengusung pasangan Jokowi-Amin pada Pilpres 2019 yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja ditambah Partai Gerindra yang bergabung setelahnya, serta tim sukses pasangan Jokowi-Amin pada Pilpres 2019.

Susunan kabinet diumumkan oleh Presiden Jokowi pada 23 Oktober 2019 dan resmi dilantik pada hari yang sama. Presiden Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin membacakan susunan kabinetnya di pelataran tangga Istana Negara. Dalam kesempatan itu, Jokowi menghadirkan para menterinya yang mengenakan kemeja batik. Kabinet Indonesia Maju terdiri dari 4 menteri koordinator dan 30 menteri.

Melihat kondisi para menteri yang rata-rata memiliki pemikiran untuk memajukan Indonesia memang membuat hati dan perasaan Men Coblong bungah. Maklum sebagai seorang ibu dari seorang anak lelaki Men Coblong tentu memiliki harapan yang besar pada kabinet ini. Selain namanya yang bagi Men Coblong seperti fakta yang sesungguhnya, Indonesia Maju.

“Memangnya selama ini Indonesia belum maju?” Suatu hari sahabat Men Coblong bertanya dengan pandangan serius ke arah mata Men Coblong.

Pertanyaan yang sangat mengusik. Sudahkah Indonesia maju?

“Menurutku belum!” jawab sahabat Men Coblong yang lain.

“Ya, aku pikir Indonesia belum maju, karena negara yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi ini selalu memiliki problem dengan kondisi pangannya. Harga beras yang tidak stabil. Kebutuhan pokok juga belum tertata dengan baik. Bawang putih bisa raib di pasar. Memangnya kita tidak memiliki petani? Padahal sudah ada menteri yang mengurus pertanian. Sayangnya dari tahun ke tahun, problemnya tetap sama. Masih ingat ketika cabe juga harganya menggila?” tanya sahabat Men Coblong serius.

“Aku setuju dengan nama kabinet Indonesia Maju, kita ini kan orang Indonesia. Jika memberi nama anak kita menitipkan berlembar-lembar doa untuk anak kita. Jadi menurutku nama itu sangat kekinian. Aslinya Indonesia memang belum maju,” jawab sahabat yang satu lagi dan menatap mata Men Coblong serius.

Sudahkah Indonesia maju?

Men Coblong setuju juga dengan pikiran-pikiran sahabat-sahabatnya. Perempuan-perempuan yang rajin berkumpul di sebuah cafe kecil untuk mendiskusikan segala sesuatu yang sedang hangat dan jadi beban di seluruh pundak Men Coblong sebagai Ibu.

Semakin desawa anak semata wayang Men Coblong semakin banyak beban menggelayut di sulur-sulur otaknya. Kadang-kadang beban itu melaburi seluruh tulang-tulang di dalam tubuhnya, menimbulkan efek nyeri dan tidak nyaman.

Memang Men Coblong sering dinasehati teman-temannya, karena Men Coblong selalu menganggap seluruh hidupnya itu serius. Setelah melangkah ke tangga nomer seratus, harus dipikirkan juga trik untuk melangkah ke tangga nomer seratus satu.

Begitulah Men Coblong menjalani hidup. Bagi orang mungkin sangat serius, bagi Men Coblong, tidak. Karena hidup itu harus ditata, harus disusun, juga diukur skala prioritasnya.

Men Coblong tidak suka dengan istilah, biarkan saja hidup itu mengalir. Bagaimana mau mengalir kalau kita tidak memiliki mimpi untuk meraih hidup yang lebih baik. Bagaimana mau mengalir kalau kita kerjanya hanya duduk-duduk manis dan ngobrol dari pagi sampai malam membicarakan masa depan hanya dengan berdiskusi. Tanpa pernah menemukan jalan keluar, juga tidak menemukan cara eksekusi yang tepat.

Bagaimana bisa hidup seperti air mengalir? Kadang-kadang Men Coblong juga melihat air mengalir itu tidak tenang karena ada sampah yang menghambatnya. Atau racun dari pabrik yang mencemari air.

Hidup orang satu berbeda dengan orang yang lain, karena bagi Men Coblong kabinet Indonesia Maju ini benar-benar semacam doa. Apalagi ada anak-anak muda yang dipercaya untuk mengelola dunia pendidikan, Nadiem Makarim. Men Coblong sangat percaya kelak anak-anak mudalah yang akan menentukan kemana sesungguhnya arah Indonesia. Ibarat angin di tangan anak-anak muda inilah Indonesia memutar takdir dan nasibnya.

Kenapa masih saja ada orang-orang tua yang bergenit-genit ria, kerja belum dilaksanakan sudah bermanuver politik. Katanya anak mudalah api bagi kelanjutan masa depan Indonesia. Kenapa masih ada-ada saja orang-orang tua yang lapar kekuasaan dan haus diperhatikan. Kenapa tidak sabar untuk menunggu sekian bulan untuk melihat kerja kabinet Indonesia maju ini.

Anak-anak muda itulah harapan Men Coblong, kelak menjadi lokomotif yang bisa membangun Inonesia, seperti sebuah nama Indonesia Maju. Di tengah gempuran persaingan dan beban berat yang ditinggalkan orang-orang tua itu harusnya sabar sedikit saja dan membiarkan anak-anak muda ini menciptakan dunianya. Dunia dengan cara-cara yang mereka ciptakan sendiri.

Biarkan Nadiem bekerja, karena tidak mudah mengelola dunia pendidikan di Indonesia. Waktunya para tetua itu ihklas membuka jalan lebar untuk anak muda, mulailah berkaca di dalam cermin jiwa sendiri seperti apa sesungguhnya jejak yang telah mereka tinggalkan.

“Cocok namanya kabinet Indonesia maju. Kita memang belum maju.” Sahut sahabat Men Coblong lagi sambil tertawa. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Lokomotif appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas

Pengguna lalulintas di Kerobokan, Bali menerobos trotoar merampas hak pejalan kaki. Foto Anton Muhajir.

MEN COBLONG selalu harus fokus berlebihan jika memasuki tikungan menuju rumah.

Tikungan yang harusnya bisa dilalui ketika penghuni perumahan hendak masuk ke perumahan. Sayangnya hampir seluruh penghuni memilih jalan tikungan itu untuk keluar perumahan. Jadi seolah-olah tikungan bisa dilalui untuk dua arah.

Rambu-rambu sudah dipasang. Berkali-kali diubah dari gambar tikungan dengan tanpa silang yang kecil. Sampai hari ini rambu dipasang juga bergambar tikungan yang disilang, berisi penjelasan dengan huruf besar-besar dilarang belok. Bahkan ada tambahan rambu arah menuju keluar yang juga besar.

Hanya seminggu Men Coblong bisa merasa sedikit sejahtera warga perumahan tidak melalui tikungan masuk perumahan untuk keluar. Selanjutnya beragam rambu yang dipasang itu pun jadi tidak memiliki arti lagi.

Bahkan adik perempuan Men Coblong pun ikut berkata dengan wajah sedikit nelangsa.

“Berapa liter sih bensin harus habis jika kita tertib dan tidak menganggu orang lain. Apa mereka tidak bisa membaca?” katanya.

“Aku paling sebal melihat motor-motor seenaknya naik di trotoar jika kondisi jalan macet. Bayangin, bagaimana trotoar bisa menanggung berat motor? Trotoar dibuat kan untuk pejalan kaki. Makanya sekarang banyak trotoar yang bolong-bolong. Hancur,” dia terus nyerocos.

“Kenapa orang-orang senang sekali melakukan hal-hal seperti itu, ya? Apa mereka merasa hebat? Aku nggak pernah bisa mengerti jalan pikiran mereka?”

Belum selesai kalimat adik Men Coblong, mobil Men Coblong berhadapan dengan sebuah sepeda motor berisi seorang bapak dengan dua orang anak balita. Satu di depan, satu di belakang. Men Coblong pun menginjak rem mendadak, sehingga membuat bamper Men Coblong pun ditabrak motor dari belakang.

Serunya lagi motor itu pun langsung meliuk-liuk. Hilang di tengah kemacetan. Sementara Bapak yang salah jalan itu hanya senyum-senyum simpul dan menganggung-angguk tanpa ada rasa bersalah langsung kabur juga. Men Coblong terdiam.

“Hyang Jagat!” Adik Men Coblong hanya bisa berkata seperti itu sambil membelalakkan mata.

Bagi Men Coblong, bapak dan dua anak balita pengendara motor itu tidak jatuh, sudah bersyukur. Bayangkan kalau mereka jatuh. Yang disalahkan pasti si Pemilik Mobil. Bayangkan dengan dua anak TK di atas motor.

Semua memang ingin cepat sampai. Semua orang juga benci kelambatan termasuk Men Coblong. Membawa mobil di jalan-jalan kota di Denpasar memang menggelisahkan. Tidak nyaman. Kita bisa berlama-lama berada di dalam mobil. Bagi Men Coblong itu tidak menyenangkan. Itu merepotkan. Itu membuat stres!

“Naik mobil kan enak, tidak kepanasan. Macet nggak masalah,” suatu hari teman Men Coblong berkata dengan ringan pada Men Coblong. Men Coblong terdiam. Percuma juga membantah atau beragumentasi dengan teman satu itu. Selain teman itu tidak punya mobil, dia juga tidak bisa menyetir. Jadi tidak tahu “cuaca” lalu lintas di kota Denpasar yang selalu bikin naik darah.

“Mungkinkah Denpasar memiliki transportasi publik seperti di Seoul?” tanya sahabat Men Coblong, seorang guru besar di sebuh universitas ternama di Seoul, Korea Selatan.

Men Coblong terdiam, ketika diundang seminar di kota Seoul, Men Coblong memang merasakan betapa kota kosmopolit itu benar-benar memiliki transportasi publik rapi. Bahkan anak-anak muda dengan dandanan bak majalah-majalah mode berjalan dengan santai menaiki bus-bus di seputar kota Seoul.

Men Coblong hanya bisa mengkhayal. Andaikata di jalan Tangkuban Perahu Denpasar ada bus nyaman, tentu Men Coblong memilih naik bus itu. Bus-bus milik umum yang bisa mengantar Men Coblong ke kantor tempatnya bekerja. Atau nongkrong di mal-mal terkemuka di kota Denpasar tanpa harus memikirkan parkir.

Namun, adakah orang-orang yang memiliki tangan untuk memutuskan kebijakan itu berpikir untuk serius menata kota Denpasar? Menata jalan-jalan utama jadi lebih menarik lagi? Bukankah kalau jalan-jalan ke kota ditata, kita jadi tidak lagi memerlukan kendaraan pribadi.

Biasanya di jalan banyak sekali mobil-mobil besar yang parkir serampangan. Memang duluuu, pernah ada aturan jika mobil parkir sembarangan maka kendaraan akan dikunci. Faktanya aturan itu hanya sebatas aturan tertulis tanpa eksekusi yang jelas dan tegas.

Cobalah Anda keluar rumah pasti banyak orang-orang yang bisa membeli mobil tetapi tidak bisa menyiapkan garasi. Walaupun banyak ada penyewaan garasi, biasanya orang-orang lebih memilih parkir di jalan, tanpa memiliki rasa malu. Tanpa merasa membuat tetangga terganggu.

Jangankan di jalan umum, di perumahan juga banyak kita temui orang-orang yang memiliki mobil-mobil bagus tentu mampu membelinya tanpa memikirkan garasi. Mereka tetap merasa nyaman, karena ya itu hanya himbauan. Begini bunyinya; dilarang parkir di jalan raya. Titik.

Makanya jangan heran, makin hari lalu lintas di kota Denpasar makin krodit. Padat dan menyesakkan. Bahkan saking padatnya, membuat beberapa orang jadi mager, malas bergerak.

“Kalau ke Bali itu repot ya cari kendaraan umum model bus-bus atau kereta, harus pesan kendaraan daring. Padahal jika ada bus-bus makin keren juga. Ke Kuta tidak perlu macet, karena kendaraan jadi sedikit,” suatu hari sahabat Men Coblong berkata dengan nelangsa.

Walaupun kendaraan daring mudah didapat, percuma saja. Toh tetap terjebak macet parah jika berada di jam-jam sibuk. Kapan ya Denpasar punya transportasi publik sehingga tidak perlu lagi ada pemandangan motor-motor yang naik ke trotoar. Motor-motor yang bak laron. Juga klakson mobil yang berteriak-teriak tidak sabar.

“Nggak mungkin. Masyarakat kita ini masih “barbar”. Baca aturan rambu di perumahan saja tidak bisa mau buat bus untuk umum yang nyaman. Masih belum terpikir itu. Sudah jangan terlalu banyak bermimpi. Saat ini yang benar itu pikirkan urusanmu, beres! Orang lain mau terganggu juga nggak peduli. Yang penting urusan kita beres,” sahut adik Men Coblong dengan tegangan tinggi.

Men Coblong terdiam, sulit sekali mengajak orang-orang tertib.

“Sudah jangan salahkan masyarakat, para penguasa saja tingkahnya tidak ada yang bisa dicontoh. Mereka hanya bisa buat aturan lalu dilanggar sendiri. Pelanggarannya justru lebih ganas daripada pelanggaran rakyat kecil seperti kita!” lanjut adik Men Coblong lebih keras.

Men Coblong terdiam. Sambil tetap berharap Denpasar kelak memiliki transportasi publik yang nyaman, minimal seperti Singapura. Masyarakat tertib, pejabat juga kudu wajib bercermin.

“Ah, kamu itu seperti punguk merindukan bulan,” sahabat Men Coblong tertawa. Sambil menepuk bahu Men Coblong. Men Coblong memonyongkan bibir, sambil meneguk kopi yang sudah pahit terasa makin pahit. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Jemawa

Pengambilan sumpah Ketua dan Wakil Ketua DPR Periode 2019-2024 di Senayan (1/10/19). Foto DPR RI.

MEN COBLONG tergagap-gagap menyaksikan pelantikan anggota DPR.

Sebanyak 575 orang anggota DPR, wakil rakyat, suara rakyat periode 2019-2024 itu dilantik pada Selasa (1/10/2019) lalu di Senayan. Bahkan yang didapuk jadi ketua DPR juga perempuan.

Sebagai rakyat biasa yang hanya diingat para penguasa menjelang pemilihan, Men Coblong hanya bisa bermimpi dan berharap. Sesekali bolehlah rakyat jemawa dan berharap menjadi pemenang karena suara rakyat untuk kali ini diharapkan Men Coblong didengar oleh para anggota DPR periode 2019-2024.

Di layar TV Men Coblong berkali-kali mengerutkan kening melihat eforia pelantikan itu. Begitu mewah, megah, bahkan ibarat catwalk. Semua anggota semringah. Semua anggota juga selalu mesem-mesem centil ke arah wartawan senyum mereka ibarat mau dipotret untuk cover majalah. Hawa baru, suasana baru, semoga mimpi-mimpi Men Coblong dan rakyat yang lain juga mau di dengar.

Men Coblong juga mencoba berpikiran positif, bahwa DPR baru ini mampu memperbaiki citra dan kepercayaan publik yang sangat rendah terhadap mereka. Komitemen kerja yang kurang pada masa lalu semoga tidak terjadi pada masa ini.

DPR terdahulu juga dinilai masyarakat minim produktivitas. Kali ini semoga produktifitas mereka sedikit menggelembung. Minimal ada hal-hal positif bisa dinikmati rakyat yang sudah bersusah payah memilih mereka.

Men Coblong juga berharap komunikasi para anggota DPR baru ini transparan. Terbuka selebar-lebarnya dan wajib diketahui publik. Karena seluruh anggota DPR ini adalah wakil rakyat. Jika jadi wakil rakyat, ya, minimal mereka juga wajib dan harus mematuhi suara-suara rakyat yang memilih mereka. Apalagi sudah terlacak para pimpinan DPR baru ini banyak memiliki pelbagai perusahaan, entah bergerak dibidang apa, Men Coblong hanya mendengar sama-samar.

Memang sih punya anggota DPR kaya tentu membuat rakyat nyaman, karena mereka duduk sebagai anggota DPR benar-benar mengabdi, itu idealnya. Karena mereka sudah bersumpah, pengambilan sumpah pada 575 Anggota DPR RI periode 2019-2024 telah dilakukan.

Salah satunya, mereka berjanji akan mengedepankan kepentingan bangsa di atas pribadinya. Pengambilan sumpah itu dipimpin Ketua Mahkamah Agung (MA) Muhammad Hatta Ali di Gedung DPR RI, Selasa (1/10/2019). Sebelum pengambilan sumpah, Hatta Ali mengingatkan kepada sumpah atau janji ini harus ditepati dengan segala keikhlasan dan kejujuran.

Mau tahu isi sumpahnya? Begini:

Bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945.

Bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh, demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang, dan golongan.

Bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Men Coblong manggut-manggut. Sebagai perempuan dia juga bangga yang terpilih jadi ketua DPR perempuan, minimal Men Coblong masih boleh bermimpi untuk nasib perempuan lebih baik lagi. Dengan kebaya merah yang diisi pernik-pernik keemasan menghias kebayanya, baru kali ini Men Coblong melihat Puan Maharani terlihat sedikit berwibawa.

Puan Maharani resmi menjabat sebagai Ketua DPR periode 2019-2024 bersama empat wakil ketua melalui rapat paripurna. Mereka resmi dilantik setelah diambil sumpah ooleh Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali. Dalam pidato perdananya, Puan mengatakan ingin menghadirkan kepemimpinan yang bersifat kolektif dengan semangat gotong royong dalam memimpin parlemen lima tahun ke depan.Puan menilai semangat itu dapat mengoptimalkan kinerja DPR, dengan menerima masukan hingga dukungan dari seluruh anggota yang telah dilantik.

“Hanya dengan semangat gotong royong dan niat pengabdian yang tulus dari semua anggota DPR, maka kita akan dapat menjalankan amanah sebagai wakil rakyat. Tugas ini merupakan sebuah amanah mulia yang menuntut tanggung jawab yang harus kita tunaikan bersama,” kata Puan di Gedung DPR.

Terlihat menyakinkan juga.

“Mau berharap apalagi?” tanya sahabat Men Coblong serius.

”Mimpi boleh tetapi jangan berlebihan. Lelaki dan perempuan itu tidak ada bedanya saat ini. Lihat saja koruptor juga banyak yang perempuan, padahal mereka menjabat sebagai Bupati. Jangan jemawa, nanti kau sendiri yang kecemplung got stres.”

Suara sahabat Men Coblong membuat Men Coblong beringsut dan menciut. Apalagi ada info banyak anggota DPR ternyata tidak datang pada sidang pertama. Bahkan ada anggota yang tertidur! Men Coblong menarik napas dalam-dalam. Sambil mengambil kipas tiba-tiba saja tubuhnya berkeringat sampai membuatnya harus ganti baju, padahal cuaca tidak terlalu panas.

Lalu sebagai rakyat Men Coblong harus bagaimana? Kalau berharap saja tidak memiliki tempat. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Jemawa appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Jerubung

Aksi mahasiswa di Bali.

MEN COBLONG menarik napasnya dalam-dalam.

Sungguh hanya itu yang dia bisa lakukan. Mata Men Coblong sedikit sembap. Entah mengapa tak ada air mata berenang bebas di pinggir-pinggir matanya yang mulai sedikit rabun. Kalau pun ada air mata itu karena mata kirinya belangan ini agak sedikit bermasalah.

Sudah berkali-kali di bawa ke rumah sakit Bali Mandara belum juga menunjukkan hasil memuaskan. Masih saja mengeluarkan air jika mata kiri dipaksa kerja rodi untuk menulis buku, atau membaca buku-buku tebal. Jika mata kiri harus berjibaku dengan beragam kesibukan menyangkut menata huruf-huruf untuk dimasukkan ke dalam kepala, reaksi mata kiri itu benar-benar menjengkelkan.

Si Mata Kiri selalu menolk kerja sama dengan si Mata Kanan. Si Mata Kiri baru mau bekerja sama jika diberi upah satu tetes hialid 0,1 mg. Si Mata Kiri pun baru mau bekerja. Begitulah kondisi saat ini, semua baru bergerak jika diberi upah.

“Hidup ini tidak ada yang gratis, Men Coblong. Jangan mau enaknya saja hidup. Tidak enaknya juga harus dinikmati dengan rasa syukur,” begitu kata-kata bijak yang selalu didengar Men Coblong jika dia sedikit saja mengeluh. Benar juga kalau dipikir-pikir, bicara itu lebih mudah daripada mendengar.

Lalu kalau tidak ada orang yang mau mendengar, masak semua orang harus bicara? Men Coblong menarik napas. Sulit menemukan orang-orang yang mau mendengar dengan khusyuk saat ini. Karena orang-orang ingin selalu dilihat tanpa ingin melihat. Kalau tidak ada orang-orang yang mau mengingatkan alangkah tidak menariknya hidup ini.

Namun, begitulah hidup saat ini, hidup terasa melelahkan. Makanya tidak heran jika banyak mahasiswa dan pelajar baru-baru ini melakukan demo besar-besaran dan serentak di seluruh Indonesia. Demo yang membuat Men Coblong terharu.

Dulu Men Coblong berpikir Generasi Z saat ini bisanya hanya eksis di media sosial. Saat ini di depan layar TV Men Coblong terpaku. Mereka berdemo dengan cara yang simpatik. Demo untuk belajar bicara dan menyuarakan isi hati mereka berusaha untuk membuat para “tetua” yang berusaha mengatur hidup dan masa depan untuk anak-anak ini sadar. Bahwa apa pun keputusan yang diambil harus menjadi bagian kehidupan dari anak-anak muda milenial ini.

Aturan yang sedang digodok untuk masa depan Indonesia, harus dikoreksi. Diperbaiki.

“Kenapa para orang tua-orang tua itu sulit sekali mengerti bahwa kebutuhan aturan hidup generasiku berbeda dengan generasi Mami, juga generasi Kakiang, kakek,” sahut anak semata wayang Men Coblong ketika mengomentari beragam demo yang terjadi di seluruh negeri ini.

Demo mahasiswa menuntut beragam isu dalam 7 tuntutan. Terkait Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), mahasiswa mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang. Sebab, pasal-pasal dalam RKUP dinilai masih bermasalah.

Pemerintah juga didesak membatalkan revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru saja disahkan. Revisi UU KPK dinilai membuat lembaga anti korupsi tersebut lemah dalam memberantas aksi para koruptor.

Selain itu mahasiswa menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elite-elite yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di wilayah Indonesia. Terkait RUU Ketenagakerjaan, mahasiswa menilai aturan tersebut tidak berpihak kepada para pekerja.

Perihal RUU Pertanahan, mahasiswa menilai aturan itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat reforma agraria. Mahasiswa juga meminta agar pemerintah dan DPR segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). terakhir, mahasiswa menolak kriminalisasi aktivis dan mendorong proses demokrasi di Indonesia. Selama ini, negara dianggap melakukan kriminalisasi terhadap aktivis.

“Mahasiswa itu hanya menuntut 7 tuntutan untuk membuat masa depan generasiku lebih bagus, lebih damai, tidak korup. Tidak semaunya,” tutur anak semata wayang Men Coblong serius, sambil berbicara dengan beberapa temannya yang ada di luar Bali untuk berhati-hati. Men Coblong terdiam, ketika pesan dan sedikit gambar masuk melalui pesan WhatsApp.

Mata kiri Men Coblong semakin berulah. Tidak mau diajak bekerja sama, kaku, kukuh, dan sok merasa paling penting dan paling berjasa. Kali ini air mata Men Coblong benar-benar muncrat dan mengalir deras, tak ada isak. Tetapi ada rasa sakit di seluruh tubuh.

Seorang mahasiswa dari Universitas Halu Oleo bernama Randi tewas tertembak saat ikut berdemonstrasi di DPRD Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra).

Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menginvestigasi peristiwa ini. “Jadi ini akan ada investigasi lebih lanjut,” kata Jokowi usai salat Jumat di Masjid Baiturrahim, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (27/9/2019).

Jokowi mengaku sudah mendapat laporan Tito sebelumnya bila jajaran kepolisian diperintahkan tidak menggunakan senjata api. Jokowi pun meminta siapa pun tidak berspekulasi tentang siapa yang menembak Randi.

Men Coblong terdiam. Seluruh pori-porinya dalam tubuhnya mengeluarkan air. Seorang anak lelaki telah direnggut ketika menyuarakan pikirannya, suara hatinya, rasa solidaritas untuk ikut peduli dengan negeri ini. Negeri yang diharapkan bisa menolongnya untuk menjangkau masa depan dan mimpi agar Indonesia lebih baik lagi.

Anak-anak muda itu sudah terlalu lelah. Ibarat perahu, nakhoda yang membawa kapal mereka selalu berubah arah. Ke arah yang tidak mereka mau. Bukan mimpi mereka, bukan gagasan mereka.

Men Coblong menutup mata kirinya yang bandel. Seperti kekuasaan yang membuat seluruh orang-orang tua itu buta. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Jerubung appeared first on BaleBengong.