Tag Archives: Men Coblong

Catatan Mingguan Men Coblong: Indonesia

Jokowi dan Prabowo memeluk peraih medali emas di Asian Games. Foto breakingnews.co.id

SIAPA KITA? INDONESIA!

Kata-kata itu seperti imunisasi yang paling “marem” dan ampuh di dalam hidup Men Coblong. Tak ada kata sesakti dan seindah itu bahkan para penyair pun kalah sakti.

Kata-kata menjadi “Indonesia” seperti hawa sejuk yang ditabur dan ditemukan para “pecinta” yang mabuk dan “rindu” tentang pentingnya merawat “kebangsaan”, pentingnya menjaga “Indonesia”, dan pentingnya menjaga hati dan pikiran. Juga pentingnya mengelola beragam huruf-huruf dan kata-kata agar tidak “merusak” ataupun membuat “patah hati” dan muncul virus-virus “curiga” berlebihan yang merusak tatanan dan “table manner” kemanusiaan.

Men Coblong sudah agak lama merasa ada “sesuatu” yang selalu mengganjal perasaannya. Saat ini sulit merasakan kedamaian sesungguhnya.

“Maksudmu apa? Damai itu datangnya dari diri sendiri!” Jawab sahabat Men Coblong ketus. Menurut sahabatnya itu, untuk saat ini dengan kondisi cuaca dan perasaan penuh anomali, hal yang harus dijaga adalah “mulut”.

“Aku tidak mau berbagi apa pun saat ini. Takut menyinggung perasaan,” papar sahabat Men Coblong serius.

Apa yang diurai sahabatnya itu memang benar juga. Saat ini orang-orang mudah sekali merasa “curiga”. Hal yang membuat Men Coblong makin melilit seperti diserang sembelit adalah orang-orang saat ini mudah sekali tersinggung. Tersinggungnya serius lagi.

Bahkan dengan tetangga pun tega menyeretnya ke “ranah hukum” semua dianggap hal yang berbau “melecehkan”, “menghina”. Ya, Hyang Jagat — Penguasa dan Penjaga seluruh kehidupan ini. Apakah sesungguhnya yang terjadi di negeri ini?

“Aku memilih diam! Aku memilih menyimpan “amarah” dengan meditasi dari pada membeberkan masalahku pada tetangga, atau membuat status di media sosial. Bagaimana kalau nasibku seperti Meilana? Jujur kondisi ini sesungguhnya membuatku khawatir, takut. Tetapi apa yang aku bisa lakukan? Menjadi pemeluk agama yang minoritas, aku harus banyak menahan diri.”

Sahabat Men Coblong berbisik. Matanya yang bulat melirik kanan-kiri. Dahinya berkerut. Terlihat paparan “luka” meleleh dari raut wajah cantiknya. Kulitnya yang putih dengan matanya yang sipit terlihat kontras dengan bulu matanya yang panjang dan melengkung. Dengan alis tebalnya yang terlalu rapi. Men Coblong terdiam sambil membayangkan kembali wajah sahabatnya secara detail. Rasa takut dan rasa tidak nyaman rasanya hanya itu yang bisa ditebar para “petinggi” di negeri ini.

“Kita mau minta tolong pada siapa? Mengadu ke mana? Lihat saja! Para koruptor juga bisa dengan pilinan kata-katanya tetap bisa melaju dengan gagah berani mewakili rakyat? Apa yang kita dapat dari orang-orang seperti ini?” Bisik suara sahabatnya lagi pelan-pelan, sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Men Coblong dan berkata: aku takut dihajar dengan pasal merusak nama baik.

Men Coblong tersenyum kecut!

Teringat beberapa teman dan beberapa sahabat Men Coblong sejak merebak kasus Ahok, berubah menjadi teman dan sahabat yang tidak menarik lagi. Banyak teman-sahabat saat ini merasa dirinya lebih religius, lebih beradab, lebih paham menjadi manusia yang diinginkan bumi ini. Merasa paling benar, paling suci, paling tahu membaca dosa-dosa orang lain. Beberapa teman semasa SMP-SMA juga terasa menjelma “orang lain”. Orang-orang yang tidak pernah tumbuh di masa lalu Men Coblong.

Ke mana mereka pergi? Di mana mereka mendapatkan “pencerahan” sehingga berubah jadi mahluk asing?

Begitulah cuaca kehidupan di negeri ini. Dan di tengah “luka” Men Coblong minimal masih memiliki harapan.

Semua karut-marut psikis “menjadi” Indonesia terasa lahir kembali sebagai sebuah bangsa — disatukan kembali dengan olahraga Asian Games. Setelah menggelar 465 nomor pertandingan 40 cabang olahraga selama lebih dari dua pekan, diikuti lebih dari 11.000 atlet, hampir 6.000 ofisial, dan 11.000 pekerja media dari 45 negara, Asian Games selesai, hari ini.

Bagi kita acara ini mendulang harapan dengan timbulnya perilaku sejuk dan membawa hawa baru berupa kesejukan. Hujan di tengah kemarau panjang.

Menjelang penutupan Asian Games 2018, posisi Indonesia kian mantap di peringkat keempat perolehan medali. Di atas Indonesia, bercokol tiga raksasa olahraga Asia: Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Secara peringkat, ini pencapaian terbaik tim Merah Putih sejak 44 tahun silam.

Dengan perolehan 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu, Indonesia sulit digoyang Iran, yang baru meraih 19 medali emas. Sedangkan untuk menggeser Korea Selatan di peringkat ketiga, Indonesia memerlukan tambahan tujuh medali emas. Itu pun tidak mudah.

Namun, peristiwa ini membawa hati dan pikiran Men Coblong dengan penuh harapan. Menjadi Indonesia itu adalah kebutuhan penting. Wahai para politisi, berhentilah membawa-bawa nama rakyat. Jika ingin membawa nama rakyat, jadilah wakil rakyat yang beradab. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Indonesia appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Toa

Foto https://islamreformis.wordpress.com

MEN COBLONG saat ini mulai agak malas membuka beberapa akun media sosialnya.

Bahkan sepuluh lebih grup WA di ponsel miliknya sering tidak dibaca, langsung dihapus. Beragam caci-maki dan permusuhan makin membuat Men Coblong merasa tidak nyaman, terlebih dengan munculnya kasus Meliana.

Hyang Jagat, hanya karena masalah toa? Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai kasus Meliana, yang divonis 18 bulan penjara karena kasus penistaan agama perlu dilihat saksama. Meliana divonis bersalah setelah meminta masjid di dekat rumahnya mengecilkan suara azan.

“Apa yang diprotes Ibu Meiliana saya tidak paham, apakah pengajiannya atau azannya, tapi tentu apabila ada masyarakat yang meminta begitu tidak seharusnya dipidana,” kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu, 23 Agustus 2018.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu akan melihat lebih rinci masalah tersebut. Ia menilai tak ada yang salah jika Meiliana hanya meminta pengeras suara yang digunakan masjid dikecilkan volumenya.
DMI pun telah berulang kali meminta masjid di seluruh Indonesia menyesuaikan volume pengeras suara. Suara dari pelantang yang digunakan di masjid tak boleh melampui masjid lain.

Apalagi, rata-rata jarak antar-masjid di daerah padat penduduk sekitar 500 meter. Masjid pun tak diperkenankan menggunakan rekaman suara pengajian.

“Harus mengaji langsung, karena kalau pakai tape (pemutar suara) yang mengaji nanti amalnya orang Jepang saja, yang bikin tape itu kan (orang Jepang), jadi harus langsung,” jelas Kalla.

Meiliana divonis penjara 18 bulan oleh Pengadilan Negeri Sumatera Utara pada Selasa, 21 Agustus 2018. Perempuan asal Tanjungbalai, Sumatera Utara, itu dinilai terbukti melanggar Pasal 156 KUHP tentang penghinaan suatu golongan di Indonesia terkait ras, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan, atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Men Coblong terperangah. Masa kanak-kanaknya berloncatan ketika dia masih seorang bocah lugu duduk di bangku SD. Guru di sekolah olahraga selalu menggunakan toa jika mengatur murid-muridnya lomba lari, atau beragam lomba di hari HUT Kemerdekaan RI.

Semua riang, semua bisa tersenyum girang.

Suara toa waktu itu seperti semangat yang membakar. Men Coblong pun sering diperkenankan guru untuk mencoba toa milik sekolah jika latihan upacara, tujuannya agar terbiasa bersuara lantang jika menjadi petugas upacara setiap hari Senin.

Tiba-tiba saja saat ini suara-suara dari toa saat ini justru menimbulkan masalah. Banyak yang memberi saran ini-itu. Kita baru saja merayakan “kemerdekaan” kita juga baru saja merasakan gemilangnya anak negeri bertarung di ajang Asian Games 2018. Lalu muncul si Toa yang melukai “kebersamaan”, “kemajemukan”, “keberagaman”, “toleransi”.

Yang ada di otak Men Coblong kenapa kasus-kasus seperti ini tidak dicarikan solusi oleh pemerintah. Padahal, kasus-kasus seperti inilah embrio retaknya tenun kebangsaan. Harus segera dicarikan obatnya. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Toa appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Agustus

MEN COBLONG terdiam.

Setiap memasuki bulan Agustus selalu merasa ada hal-hal mistis berenang di palung hatinya. Sesuatu yang sulit diuraikan. Sudah otomatis, setiap tanggal 1 Agustus di perumahan miliknya yang diisi para pensiunan “TNI” dan “Polri” Men Coblong selalu memasang bendera merah-putih.

Sejak kecil Men Coblong dibesarkan di lingkungan “tentara” yang selalu memasang bendera setiap memasuki bulan Agustus. Sejak kecil pula Men Coblong sangat menikmati upacara bendera di sekolah, dan selalu ingin berada di depan. Menyaksikan beragam “ritual” peran yang dimainkan teman-temannya.

Ada penggerek bendera, pembaca teks, pemimpin upacara yang bersuara lantang, juga pembacaan doa untuk para pahlawan dan orang-orang yang berjasa membangun negeri ini.

Men Coblong paling menikmati sekuel menaikkan bendera merah-putih, biasanya dada Men Coblong juga ikut bergetar. Kadang-kadang Men Coblong juga berdoa, begini isi doanya: Hyang Jagat, semoga bendera tidak terpasang terbalik atau Hyang Jagat semoga bendera sampai di atas bersamaan dengan habisnya lagu “Indonesia Raya” yang dinyanyikan anak-anak paduan suara.

Doa sederhana, tetapi Men Coblong sangat menyukainya dan menikmati doa yang dibuatnya sendiri, doa yang tentunya tidak dibagikan untuk orang lain. Men Coblong terbiasa berdoa dengan kalimat-kalimat yang dibuatnya sendiri.

Makanya belakangan ini Men Coblong justru “bingung” dan sedikit “linglung” karena saat ini banyak sekali hafalan-hafalan doa yang justru harus dihafal dengan kalimat-kalimat yang dirasakan Men Coblong bukan miliknya. Doa yang diatur dan ditata, kata beberapa orang harus dihafal, karena itulah doa yang sesungguhnya, doa yang lebih dikenal olehNya.

Hyang Jagat? Men Coblong terdiam, 73 tahun sudah negeri ini, jika doa dan baju saja masih diatur, apakah kita masih bisa mengatakan diri kita merdeka?

“Kalau dibiarkan merdeka dengan cara berpikirmu, negeri ini tentu kacau. Harus ada aturan main juga,” sahut sahabatnya, ketika Men Coblong merasa beragam kehidupannya saat ini benar-benar terasa “absurd”. Di Twitter bahkan banyak orang-orang membahas Mr Toa yang seringkali membuat orang-orang merasa tidak “nyaman” dilarang salah, dibiarkan juga salah.

Suara-suara dari Mr Toa yang diributkan orang-orang memang harus dipertimbangkan, karena faktanya seringkali suara-suara yang dibagikan Mr Toa ke kuping warga memiliki interpretasi berbeda. Seorang Ibu yang anaknya baru belajar melafalkan doa tentu “girang” suara anaknya dibagikan ke seluruh kuping warga di lingkungannya, walapun suaranya cempreng dan menganggu.

Masalah-masalah kecil di usia Indonesia ini memang harus segera dituntaskan. Jika tidak? Hal-hal yang kecil inilah yang bisa membuat Indonesia makin terpuruk dengan hal-hal kecil yang tidak tundas. Bahkan salah seorang umat Twitter memposting kalimat seperti ini : agama justru jadi candu yang lebih berbahaya dari ciu.

Di tengah kegusaran yang mengalir deras, di tengah gaung nasionalisme yang masih tertinggal di ujung bibir, Men Coblong justru merasa terhibur dan terharu dengan ulah Yohanes Ande Kala alias Joni, siswa kelas kelas VII SMP 1 Silawan, Atambua, Flores, hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk menyaksikan upacara pembukaan Asian Games 2018, Sabtu, 18 Agustus 2018.

Joni sempat mencuri perhatian lewat aksinya memanjat tiang bendera saat upacara peringatan HUT RI ke-73 di Desa Silawan, karena talinya tersangkut. Joni tiba di GBK pukul 17.13 WIB. Ia datang mengenakan jaket Asian Games berwarna merah pemberian Kementerian Pemuda dan Olahraga. Joni dan keluarga masuk ke GBK melalui Gate 2 atau pintu khusus tamu VIP.

Aksi Joni yang menjadi viral itu membuatnya menjadi terkenal. Sejumlah penonton pembukaan Asian Games 2018 yang ada di sekitar pintu masuk pun langsung memanggil namanya begitu melihat Joni melintas. “Joni… Joni…,” kata mereka. Joni membalas dengan melambaikan tangan sambil tersenyum.

Aksi heroiknya mendapat pujian dari berbagai kalangan termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Karena aksinya itu, Menpora mengundang Joni dan kedua orang tuanya menyaksikan pembukaan Asian Games 2018. Menurut Menpora, aksi Joni menunjukkan tekad siap berkorban demi Merah Putih.

Semoga para petinggi negeri juga belajar menghargai dan memaknai “nasionalisme” dengan tulus seperti Joni. Merdeka! [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Agustus appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Penonton

Bukannya malu, tahanan KPK malah tersenyum manis dan sedikit bergaya. Foto Tirto.

MEN COBLONG terdiam dan syok.

Dia mendengar pembicaraan lima orang anak lelaki kelas dua belas yang sedang mengerjakan tugas kelompok di rumahnya. Anak-anak tujuh belas tahun itu sesekali terdengar bercanda dan saling menggoda. Sayup-sayup suara-suara itu menghajar pikiran Men Coblong.

“Aku besok kalu sudah besar ingin jadi koruptor saja. Tidak perlu kuliah dengan IP tinggi, kayaknya menjadi kaya dan populis itu gampang,” suara seorang anak lelaki meluncur ringan dan riang dari kamar anak Men Coblong.

Tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan. Tidak ada juga “wagu” dari kalimat yang meluncur dari salah seorang anak itu. Teman-temannya yang lain ikut menimpali dengan gurauan-gurauan yang bagi men Coblong sesungguhnya “miris”, bahkan ada yang menimpali.

“Aku ingin jadi polisi,” sahut suara yang lain. Men Coblong hafal dengan suara anak yang bicara ingin jadi polisi, karena sudah sejak kelas sebelas anak lelaki bertubuh atletis itu mempersiapkan fisiknya untuk bisa lolos menjadi polisi.

“Akademiknya sih tidak bagus, tapi dia baik, Mi. Seluruh anak-anak di sekolah takut padanya. Tapi dengan teman-teman selelasnya dia baik sekali. Jadi kita semua merasa aman. Anak-anak perempuan juga dilindungi. Tidak ada yang berani menganggu anak-anak perempuan di kelas. Pokoknya kelas kita kan terkenal “tukang belajar” adanya si Z ini, kelas jadi terlindungi. Mau ke kantin kalau bersama si Z, kita dilayani terlebih dulu, anak-anak lain menghindar. Jadi kita tidak pernah kehabisan makanan. Dulu sebelum si Z, masuk kelas kita, kelas kita suka dibully. Makanya anak-anak di kelasku jarang keluar, bawa bekal dari rumah,” suatu hari anak Men Coblong bercerita tentang seorang anak lelaki bernama Z (sebut saja demikian), pindahan dari sebuah sekolah menengah swasta di Denpasar.

Aslinya Men Coblong kaget juga dengan informasi dari anak semata wayangnya tentang murid baru di kelasnya, pindahan dari sekolah swasta. Bagaimana caranya? Kok dari sekolah swasta bisa pindah ke sekolah negeri?

Men Coblong tahu persis sekolah anaknya biasanya tidak jadi pilihan siswa menengah pertama. Karena sekolah yang dipilih anak Men Coblong isinya dari pagi-menjelang sore belajar. Dan masuk sekolah menengah atas itu minimal rata-rata nilai hasil ujian sembilan.

Dalam waktu sekejap di kelas sebelas, isi cerita anak Men Coblong. Terus si Z, menurut anak Men Coblong, teman-teman sekelas juga hormat padanya walaupun gaya dan lagak si Z masih bergaya semaunya. Dia masih sering bolos. Bisa dibayangkan nilai akademiknya? Solidaritas yang tinggi di kelas, membuat si Z, minimal bisa mengikuti pelajaran.

“Si Z itu baik, kadang mau juga kok belajar. Tapi fokusnya ingin jadi polisi,” papar anak Men Coblong berkali-kali.

Di tengah suasana serius mengerjakan tugas Fisika pembicaraan anak-anak itu terus berlanjut. Ringan, santai tanpa beban. Seolah negara tidak ada. Seolah “drama” Pilpres yang seperti sinetron dan telenovela itu tidak jadi pembicaraan, juga tidak jadi minat mereka.

Padahal, bagi Men Coblong “drama” menjelang Pilpres justru menarik karena tarik-ulur Cawapres yang kadang buat geli juga. Sebetulnya sadar mereka para pemain “drama” itu sadar tidak ya? Hal penting yang harus mereka sudahi adalah solusi untuk menggerus korupsi.

Men Coblong sesungguhnya salut dengan langkah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendiskualifikasi bakal calon legislator mantan narapidana korupsi. Kebijakan ini semakin terbuka setelah Mahkamah Agung menghentikan sementara sidang perkara gugatan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 20 Tahun 2018. PKPU tersebut melarang mantan narapidana korupsi menjadi bakal calon legislator.

Kekerasan hati KPU sungguh membuat Men Coblong takjub, minimal ada harapan di tengah “drama-drama” yang dipentaskan partai dan petinggi negeri.

“Komunitas nasionalis dan religius. Kau jangan terpeleset lidah, nanti kau diperkarakan,” kata sahabat Men Coblong dingin dan prihatin.

Men Coblong terdiam. Tercenung lama dan sesungguhnya tidak tahu lagi harus berkata apa. Kontestasi Pilpres sebentar lagi akan berjalan. Pasti membuat panas-dingin. Cuaca pasti tidak enak, belum lagi jika ada yang “menjual dagangan” agama.

“Huss, jangan berisik. Nanti kau bisa dibui.” Berkali-kali sahabat Men Coblong berbisik sangat pelan dan lirih. Seringkali telinga Men Coblong tidak bisa menangkap suara sahabatnya itu. Maklum usia sesungguhnya tidak bisa menipu. Dan Men Coblong sering marah dengan suara sahabatnya itu yang terlalu lirih.

Men Coblong tidak mengerti, kenapa dia yang tadinya begitu berisik jadi berubah karakter, lebih santun jika bicara tentang beragam kebobrokan negeri. Juga tokoh-tokoh politik yang berseliweran dan sering membuat Men Coblong pegal dan lelah melihat beragam gaya dan peran yang mereka mainkan.

“Diamlah kau. Rakyat sesungguhnya tidak bodoh. Kau ingat, bukankah kotak kosong bisa menang dalam Pilkada, itu artinya sekarang ini rakyat juga bisa main-main. Sabarlah sedikit, jangan grasa-grusu. Makanya sering-seringlah kau nonton sinetron Indonesia. Biar kau belajar sabar dengan alur cerita yang melilit dan membelit. Jika rating naik, makin panjanglah adegan-adegan yang tidak masuk akal. Begitulah kondisi negeri kita saat ini. Sabar. Mbok sabar,” kata sahabat Men Coblong dengan dialek yang dibuat-buat.

Sebagai penonton setia, Men Coblong harus sabar. Biarkan KPU memasuki lembar kerja baru. Mulai akhir pekan lalu sampai Jumat, 10 Agustus 2018, KPU akan menerima pendaftaran calon presiden dan wakil presiden.

Mari menjadi penonton yang “sopan” dan memiliki mimpi. Semoga siapa pun yang terpilih “ingat” tugas penting dan di depan mata adalah perangi korupsi. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Penonton appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Gawai

Anak-anak main gawai di salah satu SD di Denpasar. Foto Men Coblong.

MEN COBLONG belakangan ini sungguh prihatin dan jujur saja nelangsa. Juga migren akut.

Masalah di negeri ini makin hari bukannya makin berkurang tapi justru makin bertambah dan makin tidak masuk akal. Padahal di setiap acara berisi pidato-pidato suara-suara para petinggi negeri terdengar begitu indah dan membuai.

Seolah semua kata-kata indah itu mampu membuat para “umat” di negara ini akan ketiban kesejahteraan yang berlimpah. Gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.

Mimpi menjadi sejahtera di Indonesia memang harapan yang paling dalam tumbuh dan menjalar di tubuh Men Coblong. Rasanya impian-impian semasa muda ketika berumur 20-an mengambang setelah usia Men Coblong menginjak setengah abad.

“Kau bermimpi apa lagi tentang negeri ini?” suara sahabatnya membuat Men Coblong merengut. Mimpi? Apakah layak memiliki mimpi lagi di tengah beragam onak yang makin hari makin aneh.

Salah satunya adalah persoalan gawai yang menyita fokus dan perhatian generasi muda Indonesia. Masalah gawai yang terhubung dengan sistem daring dengan berbagai fitur, menurut sebuah harian pagi ternama di Indonesia, ibarat pisau bermata dua, yang bisa bermanfaat, tetapi juga bisa membahayakan kehidupan anak-anak. Sejumlah anak mengalami “gangguan jiwa” akibat kecanduan gawai.

Men Coblong jujur saja prihatin, tetapi apakah cukup prihatin saja? Pengalaman Men Coblong yang memiliki anak dari generasi Z, justru memiliki beragam pengalaman menarik. Ketika Men Coblong berkunjung ke SDN 21 Desa Dauh Puri Kauh Denpasar, yang diisi anak-anak dengan ekonomi terbatas dengan fasilitas terbatas juga. Banyak anak di sekolah yang terletak di pinggir kali Badung ini sehabis pulang sekolah justru membantu orangtua mereka mempersiapkan dagangan. Mereka membantu menyokong ekonomi keluarga.

Di SD yang tentu saja tidak terjamah pers ini, guru-guru dengan segala keterbatasan dan ruang kelas yang juga tidak begitu lengkap harus memiliki ide-ide gemilang untuk mengejar beragam trik dan teknik untuk membuat anak-anak di siini memiliki mimpi tinggi dan merasa nyaman di sekolah.

“Dengan segala keterbatasan secara ekonomi yang dimiliki anak-anak di SD ini, para guru justru merasa ilmu yang selama ini hanya dipelajari dalam teks-teks baku di bangku sekolah guru justru teruji. Jadi ilmu mereka berguna di sekolah ini, karena guru-guru di sini harus memiliki beragam ide-ide untuk membuat anak-anak di selah ini betah berlama-lama berada di sekolah. Sekolah kan bukan hanya tempat belajar saja tetapi juga bermain. Bermain sambil belajar.”

Kesadaran para guru di SD ini memang teruji, karena guru-guru di SD ini sadar betul, banyak anak-anak yang ikut bekerja membantu orangtua mereka. Karena banyak orangtua di sekolah ini bekerja di sektor informal.

Dengan ekonomi yang serba terbatas itu, para guru juga tidak bisa mengharapkan sumbangan dana yang agak lebih untuk fasilitas sekolah. Boro-boro mau jadi donatur, untuk hidup sehari-hari saja mereka harus lintang pukang memiikirkan beragam cara untuk menghidupi keluarga mereka.

Kelelahan, fasilitas yang minim kondisi seperti ini ada di sekolah-sekolah yang berada di kota besar. Sekolah-sekolah yang jarang dilirik, jarang dibidik. Karena memang sekolah dasar seperti ini tidak memiliki “dana” untuk ongkos para “pengunjung” yang datang.

Yang membuat Men Coblong takjub, ada saja ide-ide cemerlang para guru.

“Di SD ini jarang anak memiliki gawai. Bisa dihitung dengan jari,” papar seorang guru. Makanya para guru pun harus ikhlas dipinjam gawainya untuk menelpon orangtua jika anak-anak belum dijemput, atau ada insiden yang tidak diinginkan seperti, anak sakit.

Pengalaman mengunjungi sebuah SD di pinggir kali Badung itu membuat Men Coblong berpikir dan mendapat ide. “Bagaimana kalau pemerintah memasukkan pelajaran IT di sekolah-sekolah.” Men Coblong berkata pada sahabatnya.

“Dulu juga sekolah menengah di pusat kota Denpasar ada laboratorium komputer. Hasilnya? Tidak efektif juga, wong kurikulum selalu berubah, selalu menyesatkan. Ada-ada saja aturan-aturan baru,” Sahut sahabat Men Coblong gemas.

Ya, Men Coblong ingat dulu di sekolah menengah di pusat kota Denpasar ada ekstrakulikuler komputer. Begitu anak Men Coblong masuk sekolah menengah top ini, beragam ekskul raib. Masalahnya bukan pada guru — karena di sekolah ini para orangtua mau menyumbangkan uang berapa saja asal fasilitas mumpuni. Yang menghajar beragam kebijakan yang telah dibuat sekolah ini jadi berantakan adalah usulan-usulan “maha cerdas” — kurikulum selalu diotak-atik. Padahal sederhana saja, masukkan pelajaran informasi teknologi dalam kurikulum — dijamin anak-anak di tingkat dasar dan menengah akan paham dan khatam.

“Itu ‘kan maumu? Memangnya kamu menterinya?” suara sahabat Men Coblong terdengar sinis. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Gawai appeared first on BaleBengong.