Tag Archives: Men Coblong

Catatan Mingguan Men Coblong: Teror

Poster oleh @Nobodycorp.

Belakangan ini hati dan perasaan Men Coblong terasa “rusuh”.

Sepertinya hari-hari yang dijalani terasa berat dan “wagu”. Seolah ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang sangat mengganggu tetapi sulit diurai. Sesuatu yang mengusik tetapi tidak bisa diusik.

Setiap membaca berita-berita daring Men coblong tercekat. Peristiwa teror di Surabaya, kota yang sangat dikenal Men Coblong. Seluruh liuk dan liku jalannya, juga harum pohon-pohon yang disebar Tri Rismaharini, wali kota yang membuat wajah Surabaya kering dan gersang berubah lebih “manusiawi” dan memikat. Taman-taman ditata, beragam masalah-masalah “kebangsawanan” yang selama ini dikuasai para pejabat tumbang di tangan seorang perempuan bernama Tri Rismaharini.

Namun, di suatu pagi yang redup, kota itu berubah jadi kota “teror”. Begitu mengejutkan dan melukai perasaan siapa saja, terutama perasaan seorang ibu. Bagaimana mungkin ibu itu tega menggiring anak-anak mereka menuju jalan kematian yang belum tentu menjadi pilihan si anak.

Bagaimana kita bisa tahu kalau anak-anak itu ikhlas menuju “jalan surga” ala pemikiran orang tuanya?

Sebagai seorang anak, Men Coblong juga merasakannya sulitnya menebang dan memangkas beragam argumen kebenaran yang disodorkan orang tua jika kita berdebat dengan mereka. Budaya Timur memang mendidik anak sejak Balita bahwa hormat pada orang tua berarti jalan menuju surga. Juga bisa meramu hidup lebih gemilang. Membangkang orang tua berarti jalan menuju neraka. Juga mitos nasib buruk terbentang luas di depan mata.

Men Coblong paham, menjadi anak itu sulit. Men Coblong juga paham, menjadi orang tua di saat ini juga tidak mudah. Jika Men Coblong disodorkan pilihan, lebih baik menulis novel, terasa mudah dibanding menjadi orang tua, apalagi anak-anak saat ini terasa sulit diatur.

Mungkin “rasa hormat” yang tinggi pada orang tua itulah yang membuat anak-anak pelaku bom itu tidak memiliki pilihan jalan sendiri. Bahkan cara berpikir pun sudah ditata. Konsep mati yang benar pun sudah dirumuskan, tanpa memberi kesempatan untuk mempertimbangkan kembali. Surga apa sesungguhnya yang diciptakan para orang tua yang tega menyematkan bom di tubuh anak-anak mereka?

Kasus Surabaya benar-benar membuat Men Coblong terkapar dan luka parah. Terutama pikiran, rasa dan hati. Apalagi menyaksikan peristiwa ini: prosesi Misa Penutupan Peti dua anak korban peledakan bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, yang dilakukan di rumah duka Adi Jasa yang dipimpin langsung oleh sejumlah Pastor, Rabu sore (16/5).

Perasaan duka mendalam dari keluarga dan sahabat, tidak dapat disembunyikan selama berlangsungnya misa tersebut. Ratusan orang melantunkan doa-doa dipandu sejumlah pastor yang memimpin jalannya Misa Penutupan Peti jenazah Nathan dan Evan, dua anak korban peledakan bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Minggu lalu (13/5).

Tidak sedikit para jemaat yang hadir tidak kuasa menahan kesedihan dan duka mendalam atas tragedi kemanusiaan ini. Terutama ketika Weni, ibu kedua anak yang meninggal itu, hadir untuk melihat wajah kedua buah hatinya untuk terakhir kali. Weni, yang juga menjadi korban luka-luka dalam serangan bom bunuh diri itu, memaksakan diri datang ke rumah persemayaman jenazah Adi Jasa dengan menggunakan kursi roda dan selang infus di tangan.

Sehari sebelumnya (15/5) Weni, yang masih menggunakan tempat tidur darurat, juga datang melihat jenazah kedua anaknya, membelai wajah mereka dan membisikkan kata-kata ke telinga mereka. Apakah yang dibisikkan perempuan itu kepada dua orang anaknnya? Mampukah perempuan itu memilih huruf-huruf yang dironce jadi kalung-kalung indah untuk dibisikkan ke telinga dua orang anaknya?

Men Coblong tersekat, membayangkan pikiran perempuan yang tubuhnya juga terluka berat. Tubuh yang masih bisa dilihat beragam goresan dan luka-luka yang akan abadi dibawanya sepanjang hidupnya. Lalu siapa yang bisa mengeja dan merangkai luka hatinya? Kehilangan dua orang anak lelaki yang dikandung dan dibesarkannya dengan susah payah.

Dua orang anak lelaki yang diajarkannya untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Diajarkannya tata krama beragama ala konsepnya sebagai ibu. Agar kelak dua orang anak lelakinya memahami bahwa jika hidup makin sulit, datanglah ke rumah Tuhan. Di rumah Tuhan juga dua orang anak lelakinya direngggut oleh sebuah keluarga yang sama persis dengan tujuan Weni, mencari Tuhan. Mencari surga.

Men Coblong menatik napas. Bagai mana mungkin sebuah keluarga di negeri ini menggiring anak-anaknya menuju kematian dengan cara meledakkan diri? Dengan cari merakit benda-benda yang membahayakan di rumah sendiri.

Hidup saat ini terasa sangat tidak masuk akal. Rumah sebagai tempat berteduh berubah jadi tempat merakit bom. Bagai mana mungkin keluarga dibentuk untuk melahirkan serdadu? Perang apakah sesungguhnya yang sedang dihadapi keluarga-keluarga pengebom itu? Perang kehidupan mereka sendiri? Atau perang yang lain. Perang yang tidak diketahui dan tidak terdeteksi pemikiran Men Coblong.

Langit terasa selalu gelap dan muram di bulan Mei ini. Semoga di bulan Juni, matahari dan hujan mungkin bisa menghapus beragam gundah yang menyebar di dalam pikiran Men Coblong. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Teror appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Awas

Ungkapan duka cita dan dukungan untuk polisi korban serangan teroris. Foto Anton Muhajir.

MEN COBLONG terdiam begitu lama.

Kerusuhan di Rumah Tahanan Markas Komando Brigade Mobil (Rutan Mako Brimob) yang terjadi pada Selasa (8/5) sore masih mengepung dan menusuk pikirannya sampai ke palung ujung akar-akar otaknya. Rasa sedih yang begitu dalam mengepung pikirannya merembes ke hati dan jantungnya. Menimbulkan rasa luka yang begitu dalam.

Bagaimana mungkin peristiwa itu bisa terjadi? Seperti kolase film-film yang bertebaran terus mencengkram dan melumat pikiran. Operasi penanggulangan kerusuhan itu baru dinyatakan selesai pada Kamis (10/5) pukul 07.15.

Para napi teroris itu menyandera sejumlah polisi. Polisi terakhir yang bisa dibebaskan dalam penyanderaan adalah Bripka Iwan Sarjana. Tiga polisi, termasuk Sulastri, mengalami luka dalam peristiwa itu. Sedangkan lima polisi gugur, yaitu Briptu Luar Biasa Anumerta Fandy Nugroho, Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.

Iptu Sulastri merupakan satu-satunya polwan yang selamat dari kerusuhan napi teroris di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Sulastri mengalami luka cukup parah di bagian wajah akibat dianiaya para napi teroris. Sulastri dirawat di RS Bhayangkara Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang baru tiba di Tanah Air dari Yordania, menyempatkan diri membesuk Sulastri di RS Bhayangkara. Kepada Tito, Sulastri menceritakan detik-detik kekejaman para napi teroris. Sulastri dianiaya menggunakan tabung pemadam kebakaran.

“Ributnya bukan di ruang pemeriksaan?” tanya Tito dalam sebuah video yang tersebar di media sosial. Sulastri melanjutkan, dia bersama sejumlah petugas yang berjaga lainnya dikejar para napi teroris itu. Para napi teroris menyerang dengan peralatan yang ada.

“Setelah itu kita keluar, anggota semua (keluar). Anggota yang turun itu yang saya lihat Iwan (Bripka Iwan Sarjana) juga. Saya turun, mereka ke bawah bawa kayu, pakai helm,” kata Sulastri.

Begitu berita yang dibagikan di media sosial, di beragam pesan singkat. Pokoknya hiruk-pikuk. Simpang-siur, juga memiliki banyak penafsiran. Kita bisa saja melihat peristiwa ini dengan cara berpikir masing-masing yang berbeda-beda. Pikiran dengan beragam wasangka dan beragam cara. Begitulah adab dan prilaku masyarakat modern saat ini.

Lalu di mana sesungguhnya hati dan pikiran kita bermuara?

Men Coblong hanya bisa diam, sambil membayangkan bagaimana rasanya menjadi Iptu Sulastri, seorang perempuan muda terjebak di tengah suasana yang tentu saja dibayangkan pun tidak memungkinkan. Seperti apa perasaannya pada saat itu? Apa yang dipikirkannya? Apakah dia membayangkan maut? Atau tangan-tangan asing yang merenggutnya tiba-tiba tanpa bisa dikendalikan.

Peristiwa itu bagi Men Coblong harusnya segera diselesaikan. Kuncinya adalah tindakan tegas. Stop berwacana, stop berjanji. Stop mengurai ide-ide mengawang-awangan dengan realisasi yang cenderung minus.

Sudah menjadi kebiasan bagi pengempu negeri ini, jika terjadi peristiwa besar yang mendapat sorotan tajam dari masyarakat luas juga pers, sesungguhnya banyak juga orang-orang yang tidak memiliki hati “mencuri panggung” untuk kepentingannya sendiri. Ini yang harus diawasi, harus dikritik dan dijauhi.

Publik juga harus mulai ikut menyuarakan pemikiran-pemikiran yang bisa mengingatkan kembali pada beragam janji, beragam wacana yang sering “dihibahkan” para pejabat untuk membangun negeri ini, bangsa ini ke arah kemajuan sesuai dengan kebutuhan pasar dunia. Manusia-manusia yang memiliki karakter kuat. manusia-manusia yang menguasai Iptek. Manusia-manusia yang bisa menuntun bangsa ini ke arah kemajuan yang lebih baik.

Aslinya Men Coblong sebagai rakyat kecil hanya menginginkan semua aturan main di negeri ini ditata ulang kembali. Bukankah masalah padatnya penjara sesungguhnya sudah jadi isu yang membosankan, padahal kita tahu penjara kita sudah tidak layak huni. Tahanan sudah seperti pindang yang dimasukkan terus menerus sehingga kelebihan beban. Bayangkan saja jika itu kita yang dicekoki dan direcoki beragam masalah, otak kita dan jiwa kita pasti terteror. Tinggal menunggu meledaknya saja.

Sungguh memprihatinkan jika bangsa ini tidak awas. Men Coblong juga menghormati pernyataan Kepala Negara yang mengapresiasi proses penanganan bisa dilakukan dengan cara yang baik. Jokowi juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas lima polisi yang gugur dalam peristiwa ini. Dia menekankan negara dan seluruh rakyat tak akan takut terhadap terorisme. “Negara dan seluruh rakyat tidak pernah takut dan tidak akan pernah memberi ruang kepada terorisme dan upaya-upaya yang mengganggu keamanan negara,” kata Jokowi.

Tetapi cukupkah dengan apresiasi? Atau rasa duka? Yang harus kita lakukan sesungguhnya adalah segera memperbaiki semua sistem dengan cepat. Terorisme memang ancaman seluruh dunia, bukan berarti kita harus leyeh-leyeh menghadapinya. Apalagi pagi ini kita mendapat “breaking news”, sebuah ledakan terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Ngangel, Surabaya, Jawa Timur, Minggu pagi ini, 13 Mei 2018. Mari berhenti berwacana. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Awas appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Hamba

Calon Pasangan Gubernur Bali secara serentak membuka gulungan nomor urut yang mereka ambil saat Rapat Pleno Terbuka di Gedung Wiswa Sabha – areal Kantor Gubernur Bali, Selasa, 13 Februari 2018. Pasangan nomor urut 1 : Wayan Koster dan Cok Ace – nomor urut 2 : Rai Mantra dan Ketut Sudikerta. JP/ Anggara Mahendra

MEN COBLONG sesungguhnya selalu merasa prihatin dengan negeri ini. Namun, prihatin saja apa sudah cukup?

“Aku sudah malas sekarang membaca berita-berita politik. Isinya tidak ada yang mendidik. Beritanya juga basi. Masalah yang diangkat juga muter-muter, seperti tidak ada ide baru. apa sekarang ini wartawan seperti kamu kehabisan berita ya?” tanya sahabat Men Coblong serius.

Men Coblong terdiam. Kalau sahabat yang dosen universitas ternama di Bali ini emoh baca berita politik, terus apa yang dia baca? Bagaimana perempuan hampir setengah baya itu mampu menguji kepekaannya sebagai “guru” yang kerjanya memberi wawasan dan pencerahan untuk murid-muridnya.

Men Coblong menarik napas menatap mata sahabatnya itu serius. “Terus, sekarang ini kamu tertarik pada masalah apa?”

“Kesehatan.”

“Kesehatan? Kamu mau buat disertasi tentang kesehatan di Indonesia? Ilmumu kan politik?” tanya Men Coblong serius.

“Memangnya kenapa dengan disiplin ilmuku?”

“Aneh jika kamu justru update masalah kesehatan.”

“Kok aneh, biasa saja. Ilmu kesehatan minimal untukku sendiri. Cara mengatur pola makan. Tidur yang ideal. Aku lebih suka membaca hal-hal ringan seperti itu. Kupikir itu justru mencerdaskan dibanding membaca berita politik. “

“Apa kamu tidak takut jika di kelas mahasiswamu justru bertanya hal-hal kritis tentang negeri ini.”

“Tidak.”

“Apa kau tidak takut terlihat bodoh di depan mahasiswamu. Atau di depan kolega lelaki?”

“Tidak. Mengikuti beragam hiruk-pikuk politik itulah yang justru membuat aku makin bodoh! Merasa terhina, seolah aku ini idiot. Seolah para perempuan itu tidak punya andil di dalam memelihara table manner kehidupan sosial di negeri ini. Kau lihat saja perseteruan para politisi yang memendam syahwat kekuasaan? Adakah progam-program yang ditawarkan mereka memikatmu? Adakah ide-ide cemerlang dan baru yang bisa membuat kita sebagai warga negara bersemangat? Minimal sebagai rakyat kita disodori menu rasa nyaman dan mimpi yang indah untuk melanjutkan hidup yang makin hari terasa berat. Beras sudah impor, toh harga beras di pasar tetap tinggi. Garam juga impor, eh malah para petingginya ribut.”

Sahabt Men Coblong terus nyerocos. “Yang tidak jelas. Mereka semua tidak mau disalahkan dengan beragam kebijakan yang mereka buat sendiri. Masak sih mereka tidak tahu beragam kondisi negeri ini. Mereka kan pemegang kekuasaan. Minimal mereka punya staf ahli yang kita bayar untuk mendeteksi beragam persoalan yang ada di institusi-institusi yang mereka pimpin.”

Sahabat Men Coblong itu berkata serius. Lalu menurunkan letak kacamata plus tiganya di depan Men Coblong.

“Kau lihat sendiri kondisi negeri ini setiap hari? Kau pikir anak-anak muda itu tertarik dengan politik? Mereka kebanyakan merasa bahwa jadi koruptor itu menyenangkan. Karena bisa masuk TV dan koran. Makin heboh dan tidak masuk akal makin viral mereka jadi bintang. Kau pikir mereka malu dengan dana korupsi yang mereka isap dari kita. Aku tidak habis pikir, bagaimana para kepala daerah itu tega mengisap dana pendidikan. Kemana hati nurani mereka? Tidakkah mereka iba dengan anak-anak SD yang bergelantungan di jembatan penyeberangan menuju ke sekolah. Atau ada gambar anak-anak sekolah yang harus naik rakit, atau berenang melintasi sungai hanya untuk mempersiapkan dan bermimpi untuk memiliki masa depan yang lebih baik di negeri ini? Apakah anak-anak seperti itu tega kita biarkan berjuang sendiri untuk hidupnya hanya untuk bersekolah? Apakah cukup dengan selfie ke daerah-daerah tertinggal saja? Aku sudah tidak bisa berpikiran jernih saat ini. Aku juga tidak tahu akan memilih kepala daerah yang bagaimana? Aku belum mendengar sepotong pun ide-ide cerdas yang terucap dari diri mereka yang ingin berkuasa itu? Kau tahu apa yang kudapat dari calon-calon pemimpin yang ingin jadi kepala daerah?” tanya sahabat Men Coblong sambil membelalakkan matanya.

“Kau tidak bisa apatis begitu. Sebagai pemikir yang memelihara hutan-hutan hijau intelektual di negeri ini kau harus memiliki kekuatan untuk bertarung. Minimal mengajak mahasiswamu berpikir kritis untuk negeri ini.”

“Kritis? Di negeri ini kita sudah tidak bisa berpikir kritis dan keras. Apalagi menyinggung Tuhan? Kau lihat saja, ketika dana sumbangan Pilkada diwajibkan untuk dilaporkan. Kau tahu apa jawabannya? Mereka yang disumbangkan mengatakan: yang menyumbang itu hamba Tuhan. Tuhan saja mereka perkusi untuk menutupi beragam kebobrokan mereka. Apalagi aku? Perempuan biasa, yang sibuk mengurus beragam administrasi untuk meningkatkan kredibilitasku sebagai guru di perguruan tinggi. Kau mungkin tidak memerlukan beragam kewajiban-kewajiban mengikuti beragam seminar-seminar yang kadang tidak ada manfaatnya juga tidak membuat kita cerdas. Kau lihat saja, kondisi negeri ini. Para tokoh sudah bergenit-genit merasa paling unggul dari yang lain. Apa program mereka? Yang bisa membuatmu sedikit nyaman? Rata-rata berisik, ribut. Seperti kanak-kanak yang rebutan mainan baru. Dana Pilkada mau diakses publik saja mereka menuliskan para penyumbang itu NN — No Nama — alias hamba Tuhan. Bukan hamba rakyat, lho,” sahabat Men Coblong berkata serius.

Men Coblong terdiam. Alangkah sulitnya sesungguhnya jadi rakyat di negeri ini. Benar juga kata-kata sahabatnya itu. Men Coblong menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau tuhan saja sudah berani dilecehkan, apalagi Men coblong, perempuan nyinyir yang selalu merasa kena bisul ganas melihat ulah para pemikat yang bertarung di ranah kekuasaan.

Terus siapa pemimpin yang memikatmu? Yang bersedia dan ikhlas memberimu kata-kata menyejukkan, bukan marah-marah dan memaki. Sudahkah kau temukan pemimpin yang menyodorkanmu “hidangan” untuk menata Indonesia lebih cantik? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Hamba appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Kartini

MEN COBLONG memajukan kursinya. Wajahnya tepat berada di depan sahabatnya yang sejak pagi uring-uringan.

Tidak jelas ke mana arah pembicaraannya. Kelihatan sekali perempuan yang usianya sebaya dengan Men Coblong itu dilumuri bau stres akut. Terasa sekali hawa kesedihan dan luka hati terlacak mengguyur seluruh tubuh sahabat Men Coblong. Di usia yang tidak lagi muda apakah yang sesungguhnya dicari seorang perempuan di dalam rumah perkawinannya?

Perkawinan itu bagi Men Coblong adalah tumpukan tangga-tangga yang harus dilewati oleh pasangan. Setiap tangga memiliki kisah-kisahnya sendiri. Ada urutan tangga yang terasa nyaman untuk dikenang dan ditimbang. Ada urutan tangga yang selalu ingin dijebol dan dirusak karena memiliki kesan dan justru membuat hidup yang rumit jadi bertambah rumit.

Tangga yang mengandung beragam masalah-masalah tidak enak dan “menyakitkan” itu tentu tidak bisa ditinggal, tidak bisa dipotong. Juga tidak bisa dihilangkan. Kalau dihilangkan tentu ornamen rumah jadi terlihat “aneh”.

“Aku sudah membesarkan anak-anak dengan seluruh kemampuan yang kumiliki,” kata sahabat Men Coblong terdengar getir. Sebentar-sebentar perempuan itu menark napas. Matanya yang bulat terlihat cekung dan penuh warna merah.

Men Coblong melirik kaca di sampingnya. Terpantul wajahnya yang terlihat agak berubah. Tubuh dan wajah dalam pantulan kaca di samping kirinya terlihat berbeda. Tubuh di pantulan kaca itu terlihat lebih besar dan tambun.

Men Coblong memonyongkan mulutnya. Di usianya yang setengah abad, dia merasa makin tertimbun lemak. Berat tubuhnya 52 kg, 10 kg lebih berat dari biasanya. Tetapi Men Coblong kok merasa sehat-sehat saja. Di usianya yang setengah abad ini, dia merasa tidak lagi memiliki banyak target di kepalanya. Target-target yang bertumpuk dan selalu menghantui setiap langkahnya menuju tangga-tangga berikutnya.

Sejak muda Men Coblong dikenal teman-temannya sebagai perempuan ambisius.

“Masa muda itu harus dinikmati. Jika kau tua, kau tidak akan bisa melakukan apa pun dengan bebas,” itu kata-kata teman-teman Men Coblong ketika masih berumur 20-an. Bagi mereka hidup itu harus diisi dengan hal-hal yang mengasyikkan. Puaskan hidup dengan beragam kesenangan selagi tubuh masih bisa diajak kompromi.

“Benarkah hidupku terasa aneh bagi orang-orang di sekitarku?” gumam Men Coblong dingin pada diri sendiri.

Men Coblong terus memainkan bibirnya. Secangkir cokelat panas belum tersentuh. Men Coblong masih asyik dengan pantulan wajahnya di dinding kaca yang agak gelap. “Ah, aku kok merasa baik-baik saja, aku juga sudah mengisi masa mudanya dengan hal-hal gila.”

Ada arogansi yang berlebihan juga, terutama jika bersama para sahabatnya semasa kuliah dulu. Men Coblong juga merasa hidupnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang direkayasa.

“Ah, kamu itu sewaktu mahasiswa sok angkuh. Kamu itu lebih terlihat rileks justru setelah usia saat ini. Kulihat tubuhmu juga lebih berisi. Sorot matamu juga lebih ramah dan bersahabat,” kata teman yang lain.

Sorot mata bersahabat?

“Iya, dulu matamu penuh perhitungan,” jawab sahabat yang lain.

Mata penuh perhitungan? Ada-ada saja istilah para perempuan menilai perempuan-perempuan lain.

“Jangan menganggap negatif para perempuan? Tanpa perempuan dunia ini ambruk. Siapa yang akan mengurus anak? Siapa yang memasak? Siapa yang bisa membuat rumah bersih dan nyaman? Siapa yang mengatur kebun? Mengantar jemput anak? Memilihkan mereka sekolah itu juga bagian dari tanggungjawab kita. Makanya jadi perempuan itu hebat,” suatu hari Men Coblong mendengar seorang teman berkata sedikit ketus dengannya ketika Men Coblong berada di ruang tunggu menunggu anak semata wayangnya keluar dari kelas.

“Lelaki itu bisanya apa, sih?” jawab ibu teman anak Men Coblong itu getir.

Men Coblong menarik napas. Perempuan-perempuan atau ibu-ibu yang berderet menjemput anaknya di sebuah sekolah di bilangan jalan Hayam Wuruk itu terus berkata-kata dan yang satu memperkuat yang lain. Bahwa tanpa seorang perempuan di Bumi ini, mungkin matahari tidak akan pernah terbit dari Timur.

Sebagai perempuan pada saat itu Men Coblong memang merasa bahwa perkawinannya dibanding para ibu-ibu itu baru saja beranjak hitungan satu tangan. Belum memahami beragam “cuaca” buruk dan “cuaca” baik. Juga belum paham “arah angin”. Men Coblong baru menikmati saat-sat memiliki seorang anak yang terasa ganjil dan aneh. Seorang manusia yang selalu memerintah dirinya. Terasa lucu peran “jadi ibu” itu jika dihayati.

Sekarang di usia setengah abad, Men Coblong harus berhadapan kembali dengan seorang temannya, perempuan 60 tahun yang merasa “dibuang” oleh lima anak perempuannya. Lima anak perempuan yang telah dibesarkannya dengan susah payah. Perempuan itu menanggalkan pekerjaannya di sebuah bank besar demi membesarkan lima anak perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah tingkat dasar dan memilih bekerja di rumah dengan membuat usaha kuliner. Syukurnya usahanya maju, lima anak perempuannya bisa sekolah di luar Bali di universitas-universitas ternama di dalam negeri.

Kemana lelakinya? Menikah lagi karena teman Men Coblong itu tidak memiliki anak lelaki. Menyedihkan juga, sih. Dan saat ini Men Coblong berhadapan dengan perempuan “hebat” itu, wajahnya kuyu dan terlihat tidak bahagia. Dia merasa ditinggalkan oleh lima anak perempuannya yang memilih hidup terpisah satu sama lain.

Men Coblong terdiam. Tidak menemukan solusi. Menjadi perempuan saat ini adalah sebuah pilihan yang cukup rumit juga. Hanya perempuan yang bisa mengurai kerumitan itu, bukan orang lain, tidak juga “kekasih”.

Masalahnya, kok di tengah kerumitan-kerumitan menjadi ibu dan beragam masalah perempuan lainnya. Masih ada saja perempuan yang “tega” mengambil kebahagiaan perempuan lainnya. Perempuan tega melukai hati perempuan. Kok masih ada saja yang mau jadi istri kesekian. Di mana sesungguhnya arti perjuangan Kartini bagi mereka? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Kartini appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Filter

MEN COBLONG membelalakkan matanya.

Pikirannya tiba-tiba saja jadi terasa lemah dan Men Coblong merasa menjelma menjadi “umat” manusia yang makin hari makin bodoh. Bukannya makin hari makin cerdas.

“Harusnya, makin tua usia, makin memudahkan kita untuk memiliki pikiran-pikiran lebih sublim. Pikiran-pikiran yang menuai kebijakan. Bukan pikiran-pikiran yang menampung beragam hawa busuk. Hawa yang tidak terlihat tetapi tercium begitu dekat di lingkungan kita. Sangat menganggu tetapi wujudnya tidak terlihat,” kata sahabat Men Coblong serius sambil mengiris potongan bistik vegetarian yang dipesannya di sebuah kafe baru di Denpasar.

Men Coblong terdiam sambil melirik kafe baru. Kata sahabatnya, kafe itu membuat pikiran lapuk dan haus seperti disuntik zat yang membuat pengunjung ingin kembali lagi. Menikmati beragam mural lucu-lucu di setiap dinding-dinding tembok yang mengepung kursi-kursi.

Belakangan ini Men Coblong memang hobi berat mengelilingi beragam kafe kecil di kota Denpasar. Kafe-kafe itu mengingatkan Men Coblong pada “aroma” dan suasana khas dari negara-negara tetangga.

“Haloooo, kau dengar aku bicara?” tanya sahabat Men Coblong mengusik pikiran Men Coblong. Suaranya yang cukup keras dan setengah berteriak membuat mata beberapa pengunjung kafe mengarah ke meja Men Coblong. Men Coblong mendelik kepada sahabatnya.

“Mereka yang datang itu kebanyakan anak muda. Kau tidak usah takut. Harga diri dan eksistensimu sebagai perempuan “dewasa” tidak akan tercemar. Mereka generasi yang sibuk dan hiruk-pikuk dengan gawai mereka. Bukan generasi kita yang hobi ribut dan berisik,” suara sahabat Men coblong terdengar santai dan ringan.

Dia ngomong sambil melirik kepada segerombolan anak muda yang asyik dengan gawai mereka. Sesekali mereka juga melirik ke arah kursi Men Coblong. Mungkin mereka berpikir, gaul juga ibu-ibu ini, gumam Men Coblong dalam hati.

Men Coblong kembali asik menatap beragam mural-mural besar yang dilukis di dinding.

“Sebetulnya apa yang menjadi fokus perhatianmu? Kau suka suasana kafe ini kan?” tanya sahabat Men Coblong terdengar semakin nyinyir.

“Ya.”

“Kupikir aku memilih tempat yang pas untukmu. Agar pikiranmu tidak cupet dan mampet,” kata sahabat Men Coblong makin menohok.

“Ah, kau ini… Justru berada di dalam kafe ini aku mulai berpikir,” jawab Men Coblong serius.

“Tidak bisakah kau berhenti berpikir dan bersantai menikmati beragam menu sehat di kafe ini?”

“Maksudmu?”

“Menikmati dengan rileks dan tanpa beban,” jawab sahabat Men Coblong tanpa ekspresi.

“Menu organik ini?”

“Iya.” Jawab sahabat Men Coblong tegas.

“Dari mana kau tahu beragam bahan yang diolah di kafe ini organik?”

“Dari rasa, teknik pengolahan. Cobalah! Ayo… Kau harus mencicipinya. Rasakan bedanya dengan beragam menu-menu yang telah kau santap.”

“Aku tidak percaya dengan cap organik itu. Kau tahu dari mana?”

“Dari iklan.”

“Sudah ada bukti yang menyakinkanmu bahwa menu yang ditawarkan di kafe ini betul-betul organik? Aku tidak melihat cara memasaknya.”

“Ngapain kamu ingin melihat cara memasaknya!” Suara sahabat Men Coblong meninggi.

Men Coblong terdiam. Sebetulnya tidak enak juga berdebat dengan sahabatnya itu. Tetapi sebagai sahabat tentu harus paham karakter dan beragam tindak-tanduk Men Coblong yang kata orang-orang sering tidak masuk akal.

Kata para sahabatnya, aneh juga dirimu itu tidak sadar betul pertambahan usia. Harusnya di usia makin tinggi harus mulai hati-hati membuat filter pikiran-pikiran yang harus tetap ditimbun di otak, dan pikiran-pikiran yang mana saja harus segera disingkirkan dalam otak.

Sebetulnya ucapan-ucapan dari para sahabatnya itu ada benarnya juga sih. Namun, apakah di usia lima puluh ke atas harus menyerah dengan beragam kerentaan yang datang silih berganti? Apakah di usia yang makin bertambah kita tidak lagi memiliki tanggung jawab kepada lingkungan sosial, politik, budaya, dan agama? Tetapi fokus menyerahkan diri dengan pasrah pada Hyang Kosmis untuk mulai menghadap padaNya dengan rapalan-rapalan doa?

Men Coblong menarik napas. Baginya di usia yang makin matang seharusnya kita semua wajib jadi “filter” hidup yang kritis dengan beragam persoalan di negeri ini. Mural-mural dalam kafe itu justru mengganggu Men Coblong, kenapa tidak memiliki memori tentang budaya Bali dalam mural-mural itu?

Kenapa mural-mural dalam beragam cafe-cafe itu justru mengingatkan Men Coblong pada kafe-kafe di Amsterdam, Denhaag? Juga di Hamburg dan Frankfurt? Kenapa mural-mural itu tidak mengingatkan Men Coblong tentang keindonesiaan? Di Seoul, Korea Selatan, justru Men Coblong menemukan cafe-cafe yang berbau sangat Korea dengan ilustrasi cafe busana khas Korea Hanbok?

Mana wajah Indonesia dalam ilustrasi kafe-kafe di Bali?

Soal menu, bagaimana Men Coblong bisa yakin, menu yang ditawarkan benar-benar organik? Siapa yang bisa menjamin? Sarden, makanan khas yang lezat dan digemari Men Coblong pun mengandung cacing. Bahkan aparat yang berwenang mengatakan, cacing dalam sarden tidak berbahaya. Siapa yang ikhlas ada cacing sebagai menu di atas meja? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Filter appeared first on BaleBengong.