Tag Archives: Media Sosial

Kamu Mau Data Pribadimu Dijual Tanpa Kamu Tahu?

Arus seolah sedang berbalik ke Facebook. Setelah selama ini menikmati kekayaan melimpah ruah dari data yang dibuat penggunanya, raksasa digital itu sekarang digugat di mana-mana. Pemicu terakhir adalah penjualan data pribadi pengguna Facebook oleh pihak ketiga yaitu Cambridge Analytica, konsultan politik yang bekerja untuk Donald Dtrump. Di dalamnya termasuk sekitar 1 juta pengguna dari Indonesia. Continue Reading

Beratnya Perjuangan Mengelola Media Sosial Komunitas

Kini era globalisasi, semuanya harus serba cepat dan pasti.

Terlebih saat ingin menyebarluaskan kegiatan komunitas. Bukankah orang menjadi lebih peka saat diberikan fakta. Beri mereka contoh dahulu, lalu mereka mulai bertanya kemudian meniru. Setuju tidak kalau ini dapat terjadi melalui media sosial?

Dicky Hartono, dulu koordinator gerakan menanam pohon mangrove di Mangrove for Love ini merasakan begitu susahnya mengelola media sosial. Ia memikirkan konten, desain, admin hingga jadwal posting sendiri. “Biasanya aku mentok pada materi yang mau diposting, terus ngurus sendiri itu ribet karena semuanya serba sendiri,” ungkap Dicky, Kamis (21/12).

Gerakan Mangrove for Love ini sudah vakum lebih dari enam bulan. Ya karena masih vakum, belum ada kegiatan yang diposting. Saat ditanya hal apa yang ingin diwujudkan Dicky soal media sosial komunitas, ia berkata “Pengennya akun media sosial komunitas lebih aktif dari akun milik pribadi. Lebih sering posting, kontennya lebih beragam dan informatif. Kalau ga kayak gitu, buat apa komunitas bikin media sosial kan?”

Hal senada juga disampaikan oleh Wulan Romianingsih, dulu menjabat koordinator sosial media Earth Hour Denpasar. Wulan mengalami kesulitan menyiapkan konten, terutama yang berhubungan langsung dengan hari peringatan lingkungan. Ia juga mengalami kesulitan dalam membuat pesan dari komunitas agar tersebar luas. Apakah kontennya itu tidak menarik, netizen yang tidak peduli atau lainnya.

Kesulitan yang juga dialami Wulan seperti membedakan konten yang diposting untuk Facebook, Twitter, dan Instagram. Sedikitnya orang yang tertarik seperti komentar, suka dan membagi kegiatan menjadi pekerjaan rumah yang perlu dievaluasi. “Aku lihat lembaga swadaya masyarakat itu pakai jasa berbayar untuk menginformasikan kegiatan mereka, Sedangkan komunitasku tidak ada anggaran untuk itu,” ungkapnya.

Heather Mansfield, Nonprofit Tech for Good menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus dipupuk perlahan dalam komunitas. Itu disampaikan dalam presentasinya di sesi How to inspire donors and supporters worldwide to give and take action di International Civil Society Week 2017 di Fiji.

Eksperimen yang dilakukan Technology for Good, apabila bisa posting setiap hari maka dapat menumbuhkan jangkauan pembaca secara alami (organic reach) sekitar 1-8%. Namun, berapa banyak lembaga swadaya masyarakat telah posting kegiatannya di Facebook setiap hari? Itu hanya berkisar 25%.

Empat hal yang perlu dipupuk saat mengelola media sosial agar produktif yaitu pertama, tambah list daftar alamat email lalu kirimkan buletin tentang kegiatan komunitas secara berkala; kedua, buatlah tantangan kampanye online bulanan, ketiga, buat grafik di media sosial untuk mempermudah netizen membaca kegiatan komunitas; keempat, terapkan jaringan sosial media best practices yang tutorialnya dapat dipelajari melalui internet; kelima, bangun penggalangan dana online dan sosial media strategi. Hanya 32% LSM di seluruh dunia telah menulis sosial media strategi. Begitupula untuk website, disarankan desain website yang moderen dan cocok dibuka melalui gawai.

Orang yang memiliki komitmen dalam pengelolaan media massa diperlukan di sini. Begitu banyak hal harus dipersiapkan dalam menyampaikan pesan kampanye agar diketahui oleh masyarakat luas.

Dicky Hartono mengatakan, menjadi admin media sosial itu sama seperti tugas hubungan masyarakat. “Nah namanya humas itu kan mempublikasikan kegiatan komunitas. Karena komunitas non-profit yang butuh komitmen bersama, sama kayak pacaran,” ulasnya. [b]

The post Beratnya Perjuangan Mengelola Media Sosial Komunitas appeared first on BaleBengong.

Beratnya Perjuangan Mengelola Media Sosial Komunitas

Kini era globalisasi, semuanya harus serba cepat dan pasti.

Terlebih saat ingin menyebarluaskan kegiatan komunitas. Bukankah orang menjadi lebih peka saat diberikan fakta. Beri mereka contoh dahulu, lalu mereka mulai bertanya kemudian meniru. Setuju tidak kalau ini dapat terjadi melalui media sosial?

Dicky Hartono, dulu koordinator gerakan menanam pohon mangrove di Mangrove for Love ini merasakan begitu susahnya mengelola media sosial. Ia memikirkan konten, desain, admin hingga jadwal posting sendiri. “Biasanya aku mentok pada materi yang mau diposting, terus ngurus sendiri itu ribet karena semuanya serba sendiri,” ungkap Dicky, Kamis (21/12).

Gerakan Mangrove for Love ini sudah vakum lebih dari enam bulan. Ya karena masih vakum, belum ada kegiatan yang diposting. Saat ditanya hal apa yang ingin diwujudkan Dicky soal media sosial komunitas, ia berkata “Pengennya akun media sosial komunitas lebih aktif dari akun milik pribadi. Lebih sering posting, kontennya lebih beragam dan informatif. Kalau ga kayak gitu, buat apa komunitas bikin media sosial kan?”

Hal senada juga disampaikan oleh Wulan Romianingsih, dulu menjabat koordinator sosial media Earth Hour Denpasar. Wulan mengalami kesulitan menyiapkan konten, terutama yang berhubungan langsung dengan hari peringatan lingkungan. Ia juga mengalami kesulitan dalam membuat pesan dari komunitas agar tersebar luas. Apakah kontennya itu tidak menarik, netizen yang tidak peduli atau lainnya.

Kesulitan yang juga dialami Wulan seperti membedakan konten yang diposting untuk Facebook, Twitter, dan Instagram. Sedikitnya orang yang tertarik seperti komentar, suka dan membagi kegiatan menjadi pekerjaan rumah yang perlu dievaluasi. “Aku lihat lembaga swadaya masyarakat itu pakai jasa berbayar untuk menginformasikan kegiatan mereka, Sedangkan komunitasku tidak ada anggaran untuk itu,” ungkapnya.

Heather Mansfield, Nonprofit Tech for Good menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus dipupuk perlahan dalam komunitas. Itu disampaikan dalam presentasinya di sesi How to inspire donors and supporters worldwide to give and take action di International Civil Society Week 2017 di Fiji.

Eksperimen yang dilakukan Technology for Good, apabila bisa posting setiap hari maka dapat menumbuhkan jangkauan pembaca secara alami (organic reach) sekitar 1-8%. Namun, berapa banyak lembaga swadaya masyarakat telah posting kegiatannya di Facebook setiap hari? Itu hanya berkisar 25%.

Empat hal yang perlu dipupuk saat mengelola media sosial agar produktif yaitu pertama, tambah list daftar alamat email lalu kirimkan buletin tentang kegiatan komunitas secara berkala; kedua, buatlah tantangan kampanye online bulanan, ketiga, buat grafik di media sosial untuk mempermudah netizen membaca kegiatan komunitas; keempat, terapkan jaringan sosial media best practices yang tutorialnya dapat dipelajari melalui internet; kelima, bangun penggalangan dana online dan sosial media strategi. Hanya 32% LSM di seluruh dunia telah menulis sosial media strategi. Begitupula untuk website, disarankan desain website yang moderen dan cocok dibuka melalui gawai.

Orang yang memiliki komitmen dalam pengelolaan media massa diperlukan di sini. Begitu banyak hal harus dipersiapkan dalam menyampaikan pesan kampanye agar diketahui oleh masyarakat luas.

Dicky Hartono mengatakan, menjadi admin media sosial itu sama seperti tugas hubungan masyarakat. “Nah namanya humas itu kan mempublikasikan kegiatan komunitas. Karena komunitas non-profit yang butuh komitmen bersama, sama kayak pacaran,” ulasnya. [b]

The post Beratnya Perjuangan Mengelola Media Sosial Komunitas appeared first on BaleBengong.

Menjadi Gadungan di Dunia Maya

https://sirian-starseed.deviantart.com

 

Media sosial adalah tempat kita menjadi gadungan.

Koran Kompas edisi 13 November 2016 memuat tulisan Bre Redana yang menyebut Media digital menciptakan delusi: kaburnya batas antara yang nyata dan tidak nyata, bahkan boleh jadi kenyataan itu tidak pernah ada sama sekali alias gadungan.

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Bre, media sosial adalah tempat kita menjadi gadungan. Setelah menjadi orang lain kita merasa bebas melakukan hal yang kita senangi, bahkan sadar atau tidak itu menyakiti orang lain hingga melanggar hukum.

Ada aplikasi kamera pada telepon genggam yang bisa memanipulasi wajah sehingga tampak makin putih. Dengan makin putih kita mengharap tampil cantik atau menarik, walaupun itu hanya dalam dunia maya. Sadar atau tidak batas antara nyata dan fantasi terkisis secara perlahan dan pasti.

Saya pengguna aktif Facebook dan tujuh tahun menggunakan jejaring sosial yang didirikan oleh Mark Elliot Zuckerberg. Saya amati, ada satu sifat yang muncul dari beberapa orang-orang yang aktif di dalamnya, yakni berusaha berkamuflase, menyamar, bertopeng atau tidak sesuai dengan bentuknya di dunia nyata.

Ada seorang teman yang saya kenal di dunia nyata dan di Facebook, kesehariannya adalah sosok yang biasa di dunia nyata. Orangnya sangat baik. Teman saya ini tidak senang berbicara politik. Diskusi masalah sosial atau obrolaan berat nyerempet filsafat hanya sekedar saja.

Tapi, kalau sudah di Facebook dia jadi sosok berbeda.

Saat mengunggah sesuatu, banyak yang memberikan tanda like. Saya mendengar ada yang menyebut dia adalah sosok kritis menanggapi isu. Hingga ada yang menyebutnya sebagai aktivis.

Sekian lama saya amati hal yang diunggah teman tersebut di dunia maya tidak ada yang terlalu spesial, foto biasa, bahkan kadang statusnya di Facebook menanggapi sebuah persoalan cenderung lebih seperti umpatan atau cacian. Namun, tetap banyak yang memberikan tanda like.

Jujur, saya sempat iri dengan hal tersebut dan ingin seperti itu. Tapi, hingga saat ini tidak berhasil.

Saya sempat berpikir yang memberi like apakah akun asli? apa mungkin dia membeli atau sengaja membuat akun yang memberikannya like tersebut?

Hal serupa saya lihat dalam kasus First Travel yang merupakan salah satu agen perjalanan umroh. Seorang pemiliknya, Anniesa Hasibuan tampak wah dalam instagram. Dengan tiga ribu lebih postingan foto dan 163 ribu followers, sosialita yang sempat mengadakan fashion show di New York, Amerika Serikat itu luar biasa dengan baju keren dan mahal.

Namun, akhirnya ada dugaan dan diusut oleh pihak berwajib, segala kemewahan yang tampak bersumber dari penyalahgunaan dana umat.

Kemudahan dalam mengakses teknologi dan tsunami informasi juga membuat seseorang begitu cepat meluapkan sesuatu di dunia maya. Alih-alih memberikan sesuatu yang berguna, kadang status yang penuh emosi sering tersaji di wall-wall Facebook.

Pengalaman itu pernah menimpa saya. Ada yang menghujat di Facebook dengan menyebut saya wartawan ngaku-ngaku. Saya tidak kenal dengan akun atau orang yang tersebut. Bahkan kami tidak berteman di Facebook atau dunia nyata.

Persoalanya adalah, saya mendapatkan sebuah foto dari rekan sesama wartawan tentang sebuah kejadian. Celakanya, foto tersebut diambil dari halaman facebook orang yang menghujat saya. Saya tidak mengetahui hal itu. Hingga adanya hujatan. Akhirnya saya minta teman untuk mengklarifikasi hingga postingan menghujat itu dihapus.

Harusnya, orang yang menghujat saya berusaha mengkonfirmasi langsung ke saya. Apalagi dia mengaku banyak kenal dengan wartawan. Atau konfirmasi kepada redaksi tempat saya bekerja. Hal itu tidak dilakukan, pilihannya buat status di media sosial.

Begitu juga adanya portal-portal berita menyuguhkan informasi yang kurang akurat, menyebarkan isu sara, berita bohong hingga hoax.

Terakhir terbongkarnya sindikat penyedian kebencian di media sosial yang disebut Saracen. Kelompok yang memang menjadikan berita hoax atau fake news sebagai ladang untuk mencari makan. Harganya ditaksir hingga puluhan juta rupiah untuk sebuah proyek.

Apakah kita sudah bijak menggunakan media sosial? Bisakah kita menyaring informasi yang tersedia?

Harus diakui, Facebook atau media sosial lainnya juga memberikan dampak positif bagi perkembangan hidup manusia. Adanya jual-beli secara online adalah satu di antara sekian keuntungan nyata dengan adanya media sosial. Perbuatan baik lain yang berguna adalah mengabarkan adanya seseorang yang sedang kesusahan di sekitar kita sehingga bantuan bisa mengalir.

Saya harap itu tetap lestari.

Mubazir

Teman saya yang tiba-tiba dikenal sebagai orang yang memiliki pemikiran kritis, tanpa sim sala bim langsung dicap sebagai aktivis, semakin menunjukkan kinerja dunia maya dalam memberikan citra berbeda 180 derajat kepada penghuninya.

Yasraf (2004) menyebutkan, hipermodernitas adalah totalitas kehidupan ketika setiap peristiwa dan obyek mengikuti garis edarnya sendiri dalam proses produksi dan reproduksi yang tanpa henti dan tiada interupsi. Kecepatan produksi telah menciptakan dunia banalitas atau kehidupan yang dangkal dan mubazir.

Harus kita sadari semuanya butuh proses.

Produksi wacana hingga menampilkan jati diri lain amatlah gampang di dunia maya, ambil gadget anda, nyalakan, sentuh layar dan mulai berlompatan di dalamnya.

Selanjutnya tinggal pilih anda mau menjadi seperti apa? Manusia berbeda yang menebarkan sampah digital, atau menjadi sosok faham dengan alat di tangan sehingga bisa berguna untuk banyak orang. [b]

The post Menjadi Gadungan di Dunia Maya appeared first on BaleBengong.

Kuis lucu-lucuan di facebook.

Belakangan lagi ramai pertemanan saya di facebook membagikan hasil kuis yang dibuat menggunakan www.testony.com. Terutama teman-teman di Bali yang menjawab kuis dengan soal Bahasa Bali. Pertanyaan yang serta jawabannya memang dibuat lucu agar menarik banyak orang mengikuti kuis yang dibuat. Oya, www.testony.com adalah layanan yang dikenal dengan user generated content atau konten diproduksi oleh pengguna tentu saja dibuat gratis dengan konsekuensi pertukaran.

Apa yang ditukarkan? yang didapat pembuat aplikasi/layanan adalah data profil publik facebook dan email si pengguna aplikasi. Untuk apa data tersebut, ya merekalah yang tahu. Penggunanya dapat apa? Ya layanan untuk membuat kuis dong ahh. :p Semoga yang menggunakan aplikasi sadar dan paham dengan pertukaran ini.

Saya tergelitik membuat tulisan ini karena membaca sebuah posting SOMASI terkait kuis-kuis berbahasa Bali yang dinilai porno dan kasar. posting itu saya baca dari postingan FB @ikads alias I Kadek Didi Suprapta. Berikut skrinsutnya:

somasi testony bahasa bali

Saya menangkap maksud baik dari pembuat SOMASI tersebut tapi saya tidak setuju dengan yang bersangkutan. Jika berfokus pada bahasa Bali yang PORNO dan KASAR tentu hal itu menyangkut rasa bahasa.

Sepengatahuan saya, (silahkan koreksi di kolom komentar jika salah) rasa bahasa ini sangat dipengaruhi oleh budaya, kedekatan personal, dan pengetahuan. Karena bahasa merupakan alat komunikasi tentu sangat tergantung konteks dan pelakunya.

“Ais be dadi bos cicingene jani” Kasar? Eits coba melali ke Buleleng.

“Kleng, jaen sajan lawarne” Porno? Bagi saya absurd aja klo itu dibilang porno meskipun mengadung kata kleng.

Trus gimana dong? Ya mohon diingat kembali lagi, layanan testony adalah user generate content. Dimana dalam situsnya sudah dijelaskan tujuan dan panduan dalam menggunakan layanan tersebut.

TestOny Selamat datang

Nah kalau masih ada yang nakal atau jahat menggunakan layanan tersebut dengan membuat kuis gak sopan, bejat, dan lainnya yang menurut kalian menggangu. Ya gunakan mekanisme yang disediakan layanan tersebut. Klik kuis yang kalian tidak suka, lalu klik Laporkan sebagai tes yang tidak pantas. Ah masa gitu doang??

Biar lebih joss jangan lupa ajak kawan-kawan yang kira-kira sepemahaman dengan anda untuk melakukan hal yang sama. Semakin ramai yang melaporkan biasanya akan semakin cepat dilakukan tindakan selanjutnya mulai dari suspen kuis sampai penutupan akun. *ini sih berlaku umum untuk layanan sejenis. Detailnya bisa dibaca di Persyaratan Layanan di menu bawah.

 

lapor test jahat

Udah, segitu aja dulu. Ini merupakan pemanasan ngeblog lagi. Hihihi…