Tag Archives: Media Sosial

Pelatihan Terkait Respon Terhadap Keadaan Krisis: Media Sosial dan Layanan KESPRO

  Gempa Bumi, Tsunami, Gunung Meletus, Erupsi. Istilah-istilah itulah yang menjadi pembicaraan di media-media baik di televisi, radio, media cetak dan bahkan media sosial. Sahabat Kisara, pernahkah kalian berpikir bahwa setiap orang bisa ikut dan memiliki andil dalam respon bencana-bencana tersebut? Pastinya iya dong sahabat Kisara, kita sebagai relawan di Kisara juga punya peran tersendiri...

Catatan Mingguan Men Coblong: Sampah

MEN COBLONG mengatur napasnya dalam-dalam.

Sejak terserang hipertensi di usia 45 tahun, dunia terasa runtuh. Bayangan kerepotan dan penyakit-penyakit cabang-cabannya menggerayangi sulur-sulur urat yang saling terkait di otaknya.

Untuk menenangkan diri Men Coblong terpaksa memutus seluruh media sosial yang dimilikinya. Sesekali puasa medsos juga penting untuk mengatur ritme hidupnya yang terasa sedikit goyah.

Sejak aktif di media sosial Men Coblong jadi merasa tidak lagi menjadi diri sendiri. Klik Facebook, terhampar beragam kesuksesan orang-orang di dalamnya. Ada teman semasa SD yang jahatnya minta ampun, ternyata jadi seorang desainer sukses. Ada teman SMP yang “geblek” akut jadi pejabat tinggi yang mengatur seluruh kehidupan orang banyak. Dan, yang paling menyebalkan, banyak orang-orang yang “menyebalkan” justru jadi orang.

“Jadi selama ini kamu tidak menganggap dirimu orang?” Tanya sahabat Men Coblong tersinggung. Matanya yang kecil karena disapu eyeshadow dengan benar agar hasilnya terlihat flawless. Membuat Men Coblong harus membesarkan bola matanya, sungguh menjelma jadi cantik, tepatnya mirip artis film dan TV. Salah!

Sahabatnya menjelma seperti perempuan-perempuan di majalah perempuan, yang biasanya memamerkan beragam produk-produk kecantikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Majalah yang tanpa sadar membius dan “mewajibkan” perempuan-perempuan untuk belanja, belanja, dan belanja.

Serius, teman satu bangku di SMP ini terlihat justru makin tua makin cantik.

“Kamu itu kebanyakan iri dan dengki. Melihat orang sukses berpikir. Dan merasa orang itu tidak pantas menduduki jabatan yang mampu diraihnya.”

“Bukan begitu, aku hanya heran. Kadang hidup itu kok tidak adil. Yang kerja keras sejak bayi nasibnya biasa-biasa saja.” Men Coblong bersikeras menunjukkan pada sahabatnya itu, tidak memiliki rasa iri dan dengki. Padahal jauh di lubuk hati Men Coblong pertanyaan-pertanyaan di hati dan pikirannya itulah yang membuatnya selalu ingin marah. Marah yang sesungguhnya.

Padahal jika sering marah-marah dan menyimpannya di kotak hatinya, bisa dibayangkan jika tumpukan “sampah” itu bisa meletus, luber bak tsunami apa jadinya tubuh Men Coblong yang tidak lagi muda seperti dulu.

“Kemarahan itu bisa diajag dialog, diatur, dan ditata,” sahut sahabatnya lagi. Kemarahan kok ditata? Men Coblong terdiam, membayangkan ketika dunia runtuh karena vonis hipertensi, padahal hidup toh tidak harus diisi dengan rasa iri dan dengki yang terus dipupuk dan membuat tubuh makin demam dengki, sehingga setiap melihat orang berhasil rasanya selalu ingin didepak dari hidup Men Coblong.

Namun, bagi Men Coblong kemarahahannya saat ini sudah terkikis , sedikit demi sedikit. Usia yang terus beranjak mendekati 53 bukan usia yang harus dihabiskan dengan perasaan-perasaan tidak penting. Terlebih iri dan dengki dengan kecantikan, kekayaan, keberhasilan, dan beragam pencapaian-pencapaian yang didapat orang-orang yang dikenal Men Coblong.

Belakangan ini Men Coblong sadar, beragam onak dan ruang-ruang tidak penting itu harus dikikis, karena itu semacam hibah yang akan membuat Men Coblong melewati masa tua dijamin nelangsa. Karena kesehatan yang baik itu dimulai dari pikiran-pikiran. Men Coblong mencoba paham, tubuhnya sudah tidak lagi bisa menampung beragam hal-hal berat, ekterior dan interior yang tidak penting harus dikikis dari sulur-sulur lubang otaknya. Tentu Men Coblong tidak mau sakit, sekali pun sudah memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Badan Pemeriksa Keuangan BPK tengah memeriksa pengendapan dana Kapitasi untuk program JKN sebesar Rp 2,4 triliun. Bayangkan dana sebesar itu tidak terserap sejak tiga tahun lalu. Dana Kapitasi itu dibayarkan setiap bulan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) serta klinik. Padahal satu kabupaten atau kota memiliki saldo dana Rp 30 miliar.

Dana kesehatan saja diperlakukan seperti itu, bagaimana Men Coblong tega membiarkan tubuhnya sakit? Terus tidak percaya dengan fasilitas kesehatan pemerintah? Kalau tidak percaya mau berobat ke mana? Ke luar negeri? Pakai duit siapa?

Sudah diberi solusi untuk memudahkan berobat hasilnya seperti ini? Coba siapa yang mesti disalahkan? Rakyat lagi yang sudah pontang-panting menyisihkan dana untuk tertib bayar iuran kesehatan mereka?

Men Coblong menarik napas, menggelindingkan bola amarahnya
keluar melalui hidung kiri dan hidung kanan.

N melaporkan pihak puskesmas ke Polsek Penjaringan pada 15 Agustus 2019. Dalam laporan bernomor 940/K/VIII/2019/SEK.PENJ, pihak puskesmas dilaporkan atas tuduhan Pasal 8 UU RI No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Seorang ibu hamil berinisial N (24) mengalami muntah-muntah hingga perutnya kesakitan setelah diduga mengonsumsi vitamin kedaluwarsa yang diberikan oleh puskesmas di Jakarta Utara. Atas kejadian ini, N melaporkan pihak puskesmas ke polisi.

Kali ini bukan otak Men Coblong yang sakit, kali ini perutnya melilit seperti ingin melahirkan. Kalau sudah seperti ini apa Men Coblong tidak boleh marah? Atau sedikit saja: memaki! [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Sampah appeared first on BaleBengong.

Hidup pun Lebih Tenang Tanpa Facebook

cliqz.com Apa perubahan paling besar dalam hidupmu tahun ini? Pertanyaan itu aku ajukan kepada petani peserta pelatihan menulis cerita perubahan pada Maret lalu. Kami memulai pelatihan dengan refleksi tentang diri kami sendiri. Jawaban petani-petani muda di Jembrana, kabupaten paling barat di Bali itu beragam. Ada yang panen kakaonya bertambah. Ada yang mulai bisa Bahasa Inggris. Continue Reading

Rasa Malas

Hari ini saya merasa sangat malas. Melihat daftar pekerjaan yang harus diselesaikan serta hal-hal yang perlu dipikirkan dan diputuskan tindaklanjutnya tidak membuat otak dan badan bereaksi sesuai harapan. Badan terasa lemas dan otak mengirimkan perintah untuk duduk dan mengalihkan perhatian dengan membuka sosial media.

Mulai dari facebook yang ramai dengan status teman-teman yang sibuk dengan aktivitas, pemikiran, dan persoalannya yang beragam. Mau komentar dibeberapa status teman dekat, saya malas mengetik. Akhirnya hanya menekan icon jempol untuk mengirimkan tanda untuk menunjukan bahwa saya membaca status itu. Bentuk perhatian yang paling mudah dan cepat.

Lima belas menitan berlalu, beralih ke instagram, menonton instastory beberapa kawan. Muncul hal-hal acak yang kadang tidak penting dan kadang saya tidak mengerti konteksnya. Tapi otak saya menikmatinya, sebagai pengalih perhatian dari daftar pekerjaan yang menumpuk. Melihat beberapa foto feed, menekan ikon hati tanpa meninggalkan komentar. Paling tidak mereka tahu, saya melihat fotonya dan “menyukainya”. Mungkin mereka akan lebih bersemangat untuk memposting foto dan cerita selanjutnya karena banyak mendapat tanda hati.

Mulai bosan, lalu membuat secangkir kopi. Cangkir kecil, sedikit gula dan tiga perempat air agar rasa kopi lebih kuat dan kental. Menggerus kopi perlahan di depan kantor berusaha mengalihkan pandangan dari layar laptop dan henpon. Berharap hembusan angin panas, hijau dedaunan dan sebatang rokok bisa memunculkan semangat untuk mulai mengerjakan yang seharusnya saya kerjakan hari ini. Ternyata tidak, malah timbul rasa ngantuk dan ingin rebahan sejenak. Sejenak saja, mungkin tidur singkat bisa menyegarkan badan dan otak.

Ahh, malah waktu berlalu lebih cepat tanpa daftar pekerjaan yang selesai. Mungkin saya butuh camilan, beli rujak pedas sepertinya pas. Rasa pedas bisa mengusir ngantuk,membuat badan sedikit berkeringat dan mengusir rasa malas. Baiklah, titip beli rujak. Kebetulan teman-teman dikantor juga sedang ingin makan rujak.

Sambil menunggu pesanan rujak datang, secara cepat dan sadar tangan meroggoh henpon. Otak memberi sinyal untuk melakukan kesibukan lainya sambil menunggu. Yah agar teralih dari daftar pekerjaan yang masih menjadi pikiran. Mulai membuka youtube, kemudian mengetikan “Laziness Motivation”. Muncul berderet video tentang motivasi dan tips yang terbaca sepintas dari judulnya akan bisa menghilangkan kemalasan.

Melihat jumlah tayang video-video tersebut, banyak yang mencapai ratusan ribu dan yang tertinggi 8,5 juta. Video berjudul “RETRAIN YOUR MIND – NEW Motivational Video (very powerful)” diunggah setahun lalu. Tapi tidak saya mainkan, saya sedang malas menonton video 😐 . Hmmm… saya tidak sendirian malas. Banyak orang lain yang merasakan kemalasan lalu berusaha menghilangkan rasa malasnya dengan mencari petunjuk di Youtube. Otak saya mengirimkan sinya, kamu manusia normal. Tuh orang lain juga banyak yang gitu. Tidak apa-apa, nikmati momen malasmu. Begitu kurang lebih nasehat pembenaran otak saya kepada diri saya sendiri.

Eh tunggu, ini bukan pertama kali saya merasakan malas yang teramat sangat. Sebelumnya saya sudah pernah begini. Otak saya berusaha memutar, mencari memori situasi yang sama dengan saat ini. Aha, saya ingat. Saya pernah membaca artkel di medium tentang kemalasan. Buka search bar google di hape, ketik medium laz, muncul history tautan artikel di google yang pernah saya buka. Terima kasih google yang telah memfasilitasi kemalasan saya (dan pengguna lainnya) untuk menyelesaikan mengetik kata kunci pencarian dengan memunculkan riwayat jelajah saya di masa lampau.

Artikel di medium itu “Laziness Does Not Exist, But unseen barriers do. Saya baca cepat sekadar mengingat kembali poin-poin tulisan yang sebelumnya sudah pernah saya baca. Wohoo.. kemalasan itu tidak ada, yang ada hanyalan halangan yang tak tampak. Sebuah perspektif lain tentang rasa malas, memahaminya, dan menemukan solusinya.

Entah mengapa selesai membaca artikel tersebut, otak saya kemudian memerintahkan untuk membuat tulisan tentang rasa malas ini di blog yang sudah lama tidak dijamah ini. Sekitar lima belas menit mengetik sampailah saya pada paragraf ini. Eh, apakah ini sebuah bentuk pengalihan perhatian otak lagi agar tidak mengintip daftar pekerjaan hari ini? Entahlah, saya hanya ingin menyibukan otak dan jari sambil menunggu rujak datang.

 

Aha rujaknya sudah datang. Saya makan rujak dulu ya.

Tulisan tentang rasa malas di Medium :Laziness Does Not Exist, But unseen barriers do. oleh Devon Price