Tag Archives: Lombok

Rakor PTNP Kemenpar di Lombok

Perjalanan dinas kali ini adalah mengikuti Rakor PTNP di Lombok. Awalnya saya agak ragu untuk perjalanan dinas ini karena saya mendapat disposisi tanpa ada info lain sebelunya, entah kenapa merasa kurang yakin saja, apalagi saya ditugaskan tanpa Kabag Adak yang biasanya saya ikuti. Melihat acara sepertinya saya ditugaskan karena kaitan dengan hal-hal yang berbau digital […]

Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama

Akhir pekan lalu, Minikino melanjutkan perjalanan menebar layar tancap.

Pada Sabtu (3/11) Minikino menuju ke lokasi pemutaran selanjutnya di Lapangan Terbuka RT 02, Dusun Kopang, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Jaraknya sekitar 56 km dari pelabuhan Lembar, Lombok.

Sebelumnya, Minikino sudah mengadakan Pop Up Cinema (Layar Tancap) di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Dusun Kopang yang terletak di daerah perbukitan menjadi lokasi pemutaran hari ketiga roadshow Minikino Film Week 4. Di sekeliling dusun banyak ditumbuhi pohon kelapa dan pohon kakao. Di Dusun Kopang, hampir sebagian warganya sudah mulai
membangun kembali bangunan yang roboh akibat gempa.

Mayoritas penduduk Dusun Kopang adalah pedagang warung sembako. Bagi yang muda, mereka lebih memilih bekerja di sektor pariwisata khususnya di tiga pulau seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Pasca gempa, beberapa warga bergotong royong
membangun kembali rumah dengan bantuan yang ada.

Warga secara swadaya juga melakukan berbagai kegiatan untuk anak-anak. Kebetulan pada hari sama, ibu Ayu dari RT02 Dusun Kopang mengadakan kegiatan menggambar dan mewarnai.

Sama seperti desa sebelumnya, kegiatan seperti ini sangat disambut dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Kegiatan menonton film dipandang sebagai kegiatan yang menghibur dan membuat rasa kebersamaan warga setempat meningkat. Anak-anak di lokasi pemutaran sangat antusias sekali untuk bisa ikut menonton film. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana semangat dan sabarnya mereka menunggu dari sore hari.

Selain itu bagi sebagian anak-anak, menonton film yang belum pernah mereka tonton di tv adalah sesuatu hal yang menyenangkan karena selain bisa menonton film baru, bisa juga menonton film bersama tema-teman. Ahmadi sebagai Kepala Dusun setempat juga menyebutnya kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.

“Senang saya, Mas. Ya warga jadi bisa bareng-bareng nonton film. Biasanya ya hanya diam di tenda, tidur, tapi sekarang bisa keluar dan bareng-bareng di sini,” katanya.

Sehari sebelum pemutaran, anak-anak juga menyambut Minikino dengan riang gembira. Meskipun di awal pertemuan mereka tampak begitu malu-malu, saat diberi kesempatan untuk memegang handycam dan merekam temannya, mereka sangat senang dan semangat untuk melakukannya. Melihat semangat mereka, crew roadshow Minikino pun tambah bersemangat dalam memasang layar tancap dan mempersiapkan semua peralatan.

Warga Dusun Kopang begitu ramah kepada crew Minikino. Keramahan mereka tercermin ketika pertama kali crew Minikino melakukan pengecekan lokasi. Mereka menyambut crew Minikino dengan riang gembira layaknya kawan lama yang lama berpisah.

Selain itu, mereka juga menyediakan makanan dan minuman yang crew Minikino nikmati bersama warga. Walaupun masih dalam situasi sulit sekali pun mereka tetap mencoba sabar dan menjalani hari-hari dengan semangat. Sebuah tangan terbuka yang membuka isolasi. Warga Dusun Kopang sadar betul bahwa jejaring yang baik bisa membuat mereka makin kuat dan menerima dengan lapang apa yang sudah terjadi.

Bertepatan dengan kegiatan nonton bareng, satu anak bernama Ica berulang tahun. Bersama warga crew Minikino mencoba menghibur dengan menyanyikan lagu dan memberinya selamat. Ica senang, warga senang, dan crew Minikino pun senang.

Hingga pemutaran film selesai, warga tidak langsung saja pulang ke rumah masing-masing. Mereka ikut bersama membongkar layar dan merapikan peralatan yang digunakan tanpa diminta. Sebuah kebersamaan yang begitu hangat dari awal sampai akhir kegiatan.

Saat acara nonton bareng, ada 250 orang yang datang untuk bersama-sama menonton film pendek. Tak hanya warga RT02, menurut penuturan bapak kepala desa, warga dari RT05 yang jaraknya setengah kilometer dari lokasi juga ikut bersama-sama berbaur dan menonton film bersama-sama.

Kadang, kebersamaan bisa diciptakan dengan cara-cara yang sederhana, tak harus mewah, menonton film salah satunya. Film mempertemukan, film menguatkan, dan dengan film kita sejenak melupakan apa yang sudah terjadi. [b]

The post Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama appeared first on BaleBengong.

Setelah Bali, Minikino Bikin Layar Tancap di Lombok

Mengobati trauma setelah gempa dengan nonton bersama.

Setelah melewati keseruan seminggu penuh festival dan melaksanakan Pop Up Cinema (Layar Tancap) di Bali, Minikino Film Week 4 melanjutkannya dengan melakukan Road Show Pop Up Cinema ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Satu bulan sebelumnya, pada 7 – 9 Oktober 2018, Minikino telah melaksanakan tiga layar tancap di tiga tempat berbeda yaitu di Bale Banjar Kebayan Desa Nyambu Tabanan bekerja sama dengan Nyambu Eco Tourism, di Puri Klungkung bekerja sama dengan Cineclue, dan di Wantilan Desa Pedawa, Buleleng bekerja sama dengan Kayonan Pedawa; Pecinta Alam Pedawa.

November ini, Minikino mengawali bulan dengan melakukan Road Show ke Lombok bekerja sama dengan Rotary RDR (Rotary Disaster Relief). Ada tiga lokasi yang menjadi tempat Road Show Minikino di Lombok kali ini.

Dalam waktu empat hari Road Show, Minikino membawa sembilan film-film pendek pilihannya, yaitu; Mogu and Perol. Be The Reds, Schoolyard Blues, Air Untuk Wasa, Life of Death, Belly Flop, Caronte, Almari, dan peraih Best Short Film of The Year Minikino Film Week 4, Kimchi.
Pop Up Cinema hari pertama akan dilaksanakan pada 2 November 2018, pukul 18:30 WITA, bertempat di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Desa Medana adalah salah satu desa di Lombok Utara yang mengalami kerusakan yang cukup parah di Lombok Utara akibat gempa yang mengguncangnya bulan Agustus lalu. Di lokasi ini dihuni oleh 60 kepala keluarga. Untuk menambah penghasilan pasca gempa, warga di lokasi membuat kelompok yang disebut Kelompok Harapan Bunda.

Kelompok Harapan Bunda adalah kelompok usaha kecil menengah yang menjual kopi robusta yang disebut Kopi Lindur. Lindur dalam bahasa Lombok berarti gempa. Kopi ini disebut dengan Kopi Lindur karena anggota dari kelompok ibu-ibu ini dipertemukan karena gempa, oleh karena itu kopi ini disebut Kopi Lindur.

Menurut penuturan Ari, pemuda Kopang, kegiatan yang dilakukan Minikino sangat bagus dan menguntungkan warga setempat. Dia mengaku ada kegiatan seperti ini di desa. Warga jadi ada hiburan dan tidak suntuk di rumah. Warga juga bisa jualan kopi dan lain-lain sebelum acara dimulai, jadi warga dapat menambah penghasilan setelah gempa waktu ini.

“Apalagi belum pernah ada kegiatan nonton bareng film, ya bagus lah jadi ada hiburan,” jelas Ari.

Saat Pop Up Cinema hari pertama, 150 jumlah penonton mulai dari anak-anak, anak muda bahkan hingga usia senja hadir untuk menonton film.

Putra, salah satu penonton sangat senang karena sekarang bisa nonton film rame-rame. Saat ditanya dia menjelaskan kalau kegiatan seperti ini membuatnya senang karena pengungsian yang jadi tempat tinggalnya sementara kembali rame, selain itu bisa main rame-rame dan bisa main dengan lebih banyak teman lagi.

Budi Utomo, selaku Kepala Kewilayahan Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Lombok Utara juga menyampaikan rasa senangnya dan terima kasih untuk Minikino dan Rotary Disaster Relief (RDR) sudah membawa hiburan ke desanya untuk menghibur masyarakat yang terkena dampak gempa. Dengan diadakannya kegiatan semacam ini, dia juga berharap semakin tumbuhnya rasa kebersamaan antar sesama warga. [b]

The post Setelah Bali, Minikino Bikin Layar Tancap di Lombok appeared first on BaleBengong.

Dilema Meliput Bencana, antara Gagah-gagahan dan Kemanusiaan

“Benarkah nanti akan ada gempa lebih besar lagi?” Lalu Najamuddin Abdul Latif segera balik bertanya begitu ketika kami selesai wawancara awal Agustus 2018 lalu. Lima laki-laki lain menimpali dengan pertanyaan dan gumaman serupa. Abdul Latif adalah koordinator pengungsi Desa Teluk Nara, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Di lapangan tempat mereka mengungsi saat itu Continue Reading

Perjalanan Pertama menuju Lombok

Tepat jam 7 pagi, saya menginjakkan kaki di terminal keberangkatan domestik. Masih ada jeda dua jam hingga jadwal keberangkatan pesawat penerbangan Lion Air menuju Lombok. Saya memilih berjalan kaki sebentar di seputaran mencari segelas kopi cokelat dan cemilan Roti’O di dekat terminal kedatangan. Lalu berjalan santai sambil melihat lihat pemandangan sekitar. Ini perjalanan pertama saya […]