Tag Archives: Literasi

Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca

Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik dan plastik.

Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis.

Tiga puluh April 2019 lalu, Taman Baca Kesiman (TBK), memperingati hari kelahirannya, lima tahun hadir di serambi kiri kota Denpasar. Peringatan diisi dengan menggelar acara unik, Pesta Baca. Sebuah pesta yang ‘menjamu’ para penyuka baca, melalui saling-silang pendapat, tentang buku yang dibaca, disukai, diapresiasi, dan secara literasi menginspirasi si pembaca menjadi sebuah aksi. Paling tidak untuk dirinya sendiri.

Barangkali Pesta Baca ini pesta perdana yang pernah digelar di tanah Bali. Tujuannya semacam memberi penghargaan kepada kaum pembaca secara adil merata dan setara. Karena selama ini yang banyak diberikan penghargaan kebanyakan penulisnya. Bukankah setiap karya buku yang ditulis, pasti menghendaki adanya sang pembaca?

Melalui Pesta Baca, Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca memang layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis. Membaca adalah sebentuk upaya aktif seseorang ‘bergaul’ atau berdialog dengan pikiran penulis, berkesinambungan, menguras tenaga dan pikiran untuk mencerna bacaan. Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik, dan plastik.

Asal usul Pesta Baca

Acara Pesta Baca di TBK ini bermula dari obrolan di meja makan, di rumah Batan Buah Kesiman, bersama keluarga saat merayakan hari Nyepi. Nyepi kita jadikan tradisi guyub keluarga karena satu-satunya momen terindah yang mampu ‘mendiamkan’ kita yang tinggal di Bali dari hiruk-pikuk kehidupan global yang kian menjauhkan anggota keluarga satu dengan lainnya. Hanya Nyepi kita bisa ngobrol intim tidak terinterupsi oleh internet dan handphone.

Ketika itu saya lontarkan pertanyaan, punya ide nggak, untuk Ultah ke-5 Taman Baca Kesiman? Semuanya semangat sambil meraba-raba ide yang baik dan pas. Lalu, Termana mengusulkan ide PESTA BACA. Semua yang hadir menyambut baik ide tersebut, dan minta Termana menggambarkan wujud kongkrit ide pesta baca itu. Termana menjelaskan, bahwa pada Pesta Baca itu para penyuka Baca dihadirkan pada sebuah panggung kontestasi. Dua pembaca laki dan perempuan tampil, ini penting, agar tidak dominan laki-laki aja. Hal ini sejalan dengan moto TBK, bhineka dan setara.

Penjelasan Termana ini menjadikan curah pendapat Nyepi semakin hangat, dan langsung bentuk panitia kecil yang tediri dari saya, Bu Hani, Carlos, Termana, Ika, Jung Hadhi, dan Fenti. Kemudian diskusi lanjut dengan ide-ide acara tambahan selama Pesta Baca berlangsung seperti Kaos Keos Art, lapak buku, dongeng, musik, dan kuliner lokal.

Disepakati Pesta Baca digelar tiga hari, mulai dari t30 April 2019 hingga 2 Mei 2019. Ini momentum yang baik untuk melangsungkan Pesta Baca, karena pada tanggal itu ada hari-hari bersejarah. Pada 30 April adalah tanggal wafatnya pengarang besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Sementara 1 Mei hari Buruh, dan 2 Mei Hari Pendidikan Nasional, pas lah sudah. Dan hal ini semakin menambah semangat mengeksekusi ide Pesta Baca. Saking semangatnya, diskusi pun sampai pada perihal bagi tugas, siapa melakukan apa, terkait Pesta Baca. Ada yang mendapat tugas menghubungi narasumber, pengisi acara selingan Pesta Baca, konsumsi, kemudian pengisi pidato Kebudayaan, dan lainnya.

Nah ketika pembicaraan terkait rencana acara Pidato Budayaan, saya usulkan untuk tidak menggunakan istilah Pidato Kebudayaan. Saya usulkan pakai istilah lokal: Sobyah Budaya. Saya pikir istilah Pidato Kebudayaan terlalu formal, elitis, serius, resmi, dan serem, kurang pas dengan suasana Taman Baca Kesiman (TBK). Bercermin dari pengalaman sehari hari, kehadiran pengunjung TBK, hampir semuanya kelihatan informal dan santai, tidak terkait dengan tetek bengek aneka formalitas.

Kemudian setelah hari Nyepi, pertemuan panitia kecil berlanjut, dan tampaknya kepanitiaan harus diperbesar, karena kita ingin mendapat masukan dari berbagai kalangan dan persepektif agar acara menjadi lebih beragam, lancar dan sukses. Panitia kecil kemudian membuat group WA Pesta Baca dengan tambahan tambahan personel antara lain Bang Roberto, Luhde, Anton, Made Mawut, Ini Timpal Kopi, Daivii ditambah beberapa tenaga relawan seperti Riang, Teja, Bayu, Gilang. Kehadiran group WA Pesta Baca, semakin menjadikan komunikasi dan koordinasi tugas serta informasi semakin lancar, cepat dan mantap.

Lewat grup ini pula acara Pesta Baca semakin mengerucut dan pasti, antara lain Sobyah Budaya, Baca Adalah Nyawa, Lapak Baca, Kaos Keos Art, Dongeng dan Musik.

Sebagai langkah awal, kita merancang desain banner dan poster untuk dimunculkan di media sosial. Untuk desain banner, ada usulan dari Carlos untuk minta bantuan designer perempuan yang sudah banyak melahirkan karya- karya cantik dan menarik perhatian publik, namanya Ivana Kurniawati. Astungkara, Ivana Kurniawati putri Kalimantan yang bermukim di Thailand, dengan senang hati siap support desain untuk Pesta Baca.

Sobyah Budaya

Rencana awal Pesta Baca, untuk Sobyah Budaya diisi tokoh lokal, namun dalam perkembangannya, ada usulan agar Sobyah Budaya diisi tokoh nasional. Pertimbangannya karena kita ingin Pesta Baca tidak hanya untuk masyarakat lokal saja, kita ingin Pesta Baca menyeberang ke wilayah nasional dan bila perlu internasional. Karena kami berkeyakinan Pesta Baca ini ide dan acara baik, segala yang baik untuk kehidupan mesti menyebar ke segala penjuru. Sekalian mengenalkan TBK sebagai tempat paling asyik untuk bertegursapanya aneka perbedaan di Nusantara. Dan ini sesuatu yang nyata, tidak sekadar wacana saja.

Awal April saya dan Bu Hani melakukan perjalanan bisnis ke Blora Jawa Tengah. Nah, disini pula muncul keinginan mengunjungi rumah pujangga besar Indonesia yang disingkirkan Orde Baru Pramoedya Ananta Toer (alm). Kami mampir ke Pataba (Perpustakaan Anak Semua Bangsa) milik keluarga Pram di Jln. Pramoedya Ananta Toer, Blora.

Syukur alhamdulilah, kami bertemu dengan Ibu Soesilo Toer, kami dipersilakan duduk dan disajikan segelas air putih. Selang beberapa menit muncul Pak Soesilo Toer yang dengan ramah dan hangat menyambut kehadiran kami. Setelah ngobrol panjang, kami sampaikan pada beliau bahwa kami bermaksud mengundang beliau hadir pada perayaan Lima Tahun TBK. Dan kami ingin beliau mengisi acara Sobyah Budaya. Syukur alhamdullilah, Astungkare, beliau menyatakan bersedia hadir. Woooo bukan main senangnya hati kami berdua, bak merasa mendapat dua truk durian runtuh. Beliau juga senang, karena cita-cita beliau sejak lama ingin tahu Pulau Bali dan kebetulan tanggal 30 April adalah tanggal wafatnya Pramoedya. Saya pikir Bpk. Soesilo Toer adalah sosok yang paling pantas mengisi Sobyah Budaya, karena beliau salah seorang putra terbaik bangsa yang lolos seleksi masuk universitas di Russia di era Presiden RI Bung Karno. Setelah tamat beliau pulang ke Indonesia dan ingin menyumbang keahliannya untuk Indonesia. Beliau juga seorang pejuang dan cinta Indonesia, dan sadar betul setelah tamat harus kembali mengabdikan ilmunya untuk bangsa dan negara.

Namun apa lacur, begitu tiba di tanah air, beliau ditangkap dan dipenjarakan oleh kepala suku rezim Orde Baru, Soeharto. Beliau penulis yang produktif, hidup sederhana, dan banyak menterjemahkan karya-karya berbahasa Russia. Dan inilah sosok pribadi yang tepat dan pantas kita dengar dan kita simak bersama lewat Sobyah Budaya.

Baca adalah Nyawa

Dua-tiga tahun terakhir di bali sempat populer lagu Bali berjudul: Tuak Adalah Nyawa. Lagu ini banyak dinyanyikan anak-anak, remaja dan orang dewasa, baik di desa maupun di kota. Jujur saya katakan lagu ini bagus, karena nadanya gembira, namun kurang pas di hati karena judul dan liriknya tidak mendidik, terutama untuk anak-anak dan remaja. Saya khawatir lagu ini bisabisa menjadi alat pembenar untuk anak- anak mengonsumsi alkohol.

Sebagaimana kita ketahui Bali tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Banyak hal mesti dibenahi, apalagi Bali dengan industri pariwisatanya, yang kurang senang dengan pemikiran kritis. Pariwisata membangun zone nyaman yang dalam banyak hal sering diterjemahkan apolitis atau “sing demen ruwet”. Dengan istilah Baca adalah Nyawa, akan bisa menggiring opini publik beralih dari tuak ke bacaan.

Dari menyukai tuak menjadi minat baca, begitulah idealnya. Melalui Pesta Baca dan Baca adalah Nyawa, berharap langkah kecil ini bisa menjadi alat tepat untuk mengusir picik serta fanatisme sempit warga dalam merawat kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejuk di Bali dan Indonesia.

Acara Baca adalah Nyawa, berdurasi 2.5 jam, terdiri dari dua sesi, sesi pertama dan kedua. Setiap sesi ada pemandunya, dan pemandu adalah orang-orang yang diseleksi dan dianggap mampu membangkitkan suasana cair sambil memberi highlight pada pesan-pesan dari buku yang dipestakan. Masing masing sesi diisi penyuka baca laki, perempuan dan transgender.

Masing- masing menceritakan buku apa yang dibaca, dan yang berpengaruh atau berkesan bagi dirinya. Kenapa buku itu begitu menginspirasi? Barangkali mendorong si pembaca untuk melakukan perubahan? Setelah itu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama audiens yang hadir. Nah disinilah arti Pesta Baca yang diharapkan terjadi proses pembelajaran sekaligus merangsang minat baca warga. Apalagi sang pembaca adalah orang- orang yang cukup mumpuni di bidangnya sehingga Baca adalah Nyawa memang benar- benar bernyawa dalam membangun semangat baca warga.

Lapak Baca

Ini acara tambahan yang saya pikir penting dan masih dalam satu paket acara Pesta Baca. Lapak Baca ini memberi ruang kepada para pelapak buku dan perpustakaan keliling untuk menampilkan, baik karya buku yang komersial maupun buku yang sekedar dipajang untuk dibaca gratis. Ini penting karena lewat Lapak Baca ini mendorong orang2 yang hadir pada pesta baca untuk lihat- lihat buku yang sedang hangat dan banyak dibaca orang. Barangkali ada yang tertarik membeli buku baik dari buku yang sedang dibicarakan maupun buku diluar dari yang sedang dipestakan aau buku-buku lain yang punya daya tarik tersendiri.

Kaos Keos Art

Saya menyebutnya Kaos Keos Art. Saya mengkoleksi banyak baju kaos yang sarat dengan pesan pesan perlawanan atau ketidakpuasan dengan kebijakan penguasa. Pada kaos itu kita bisa lihat bentuk perlawanan rakyat sehari- hari bergelut dengan ketidakadilan. Saya berfikir jika kaos ini dipajang dalam jumlah banyak pasti kelihatan seni dan orang bisa belajar dari pesan- pesan yang tertera pada baju kaos.

Sering kita baca di media massa ada orang ditangkap aparat karena pakai kaos bertuliskan Bali Tolak Reklamasi, ada bule yang pakai kaos palu arit terpaksa harus berurusan dengan apparat. Ternyata baju kaos bukan sekedar penutup tubuh saja, tapi baju seni baik desain maupun pesannya dikemas artistik dan mampu bikin penguasa “keos”. Kaos Keos Art ini ingin menyampaikan pesan kepada publik. Inilah ekspressi jujur dari rakyat, jujur karena benar, dan benar menjadikan dia indah. Ini pula realita yang mesti disimak dan ditindaklanjuti penguasa.

Dongeng

Bali punya tradisi mendongeng. Saat ini kegiatan mendongeng semakin jarang, karena dunia saat ini dijejali hiburan modern, dan juga manusia semakin sibuk, hubungan kekerabatan yang dulunya guyub kini mulai menjauh dan cenderung lepas dari ikatan komunal atau guyub. Acara mendongeng disediakan untuk menghibur pengunjung yang bawa anak-anak. Harapannya kegiatan mendongeng ini bisa menarik pengunjung dan tradisi mendongeng bisa bangkit kembali tentunya dengan kemasan yang lebih memikat pengunjung.

Musik

Acara musik ini ditangani oleh Made Maut dan Carlos. Para musisi ini hampir semuanya adalah musisi yang punya sikap dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat. Dan hampir semuanya apresiatif dengan keberadaan TBK sebagai melting pot budaya dan gerakan sosial di Bali. Mereka semua mau berkontribusi tampil gratis sambil ikut mendukung dan menyimak opini-opini yang mengalir pada sesi Baca adalah Nyawa. Musisi hadir dengan musik dan lirik ciptaannya yang dipentaskan pada saat jeda acara untuk merelaksasi otak dalam berpesta baca.

Pada acara musik ini juga terjadi dialog seni antara musik dan puisi. Selagi musik dimainkan diisi dengan pembacaan puisi oleh penyair yang hadir dengan spontanitas.

Yang jelas dan tak kalah pentingnya, bahwa acara Pesta Baca adalah acara swadaya dan swakelola dari inisiatif lokal, memaksimalkan produk lokal, untuk lokal, nasional dan internasional, tanpa harus sibuk mengorbankan alam dan budaya Bali untuk Pariwisata.

Terima kasih kepada seluruh tim TBK, tim Pesta Baca, para pengisi acara, pembaca, moderator, pencatat, musisi, pendokumentasi, pelapak buku, dan lainnya. Peminjaman baju kaos, pengunjung dan semua pihak yang mendukung acara Pesta Baca TBK April lalu. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan selama acara. Sampai ketemu pada acara Pesta Baca, April 2020.

The post Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca appeared first on BaleBengong.

Sparkling dan Momen Spiritual Hari Pertama

Diskusi Sekelebat Festival di Folk Music Festival 2018. Foto Andy Putera.

Festival dengan esensi yang tepat itu sangat sulit.

Alek Kowalski dengan santun dan rendah hati menyapa kami. Sapaan itu meneduhkan hati yang sempat cemas karena kelas literasi molor 30 menitan lebih dari jadwal. Doi mewakili Tim Folk Music Festival 2018 menjawab kesilapan teknis acara.

Panel pertama menghadirkan topik soal Sekelebat Festival menghadirkan Direktur Eksekutif Jogja NETPAC Asian Film Festival Ifa Isfansyah, Project Director Rock In Celebes Herdinansyah Putra Siji dan Kurator Makasar International Writers Festival Shinta Febriany.

Shinta datang terlambat lantaran jadwal pesawat yang tertunda. Mereka bertiga bicara soal cikal festival yang mereka bangun, jatuh bangun, soal-soal teknis mempertahankan dan mengembangkan festival itu, branding hingga relevansi dan nilai festival dengan sebuah kota tempat festival itu dihelat.

Di sesi diskusi, Alex Kowalski kemudian diundang Nuran Wibisono – penulis di Tirto.id untuk menjawab pertanyaan soal Folk Music Festival 2018 ini. FMF ini dimulai di tahun 2014 di satu mall besar di Surabaya di mana saat itu sedang berlangsung gelaran Piala Dunia. Lalu di tahun berikutnya diadakan di Lembah Dieng dan sejak tahun 2017 hingga di 2018 ini diadakan di Kusuma Agrowisata Batu Malang.

“Membuat festival dengan esensi yang tepat itu sulit,” katanya.

Dengan datang, bertemu banyak orang ketemu banyak hal esensinya bukan sekadar huru hara euforia, enggak kayak gitu. Seperti hal yang sparkling. Kita pulang diam dan memikirkan, bisa jadi sparkling itu adalah hal kecil semisal jadi puisi, jadi lagu bareng.

Itu yang kurang lebih saya sarikan dari penjelasan Alex.

Kusuma Agrowisata yang dinginnya 17 derajat di sore ini serasa hangat di dada. Hehe. Dan obrolan selanjutnya semakin hangat dengan kehadiran idola M Istiqomah alias Is (Pusakata) dan Fuad Abdulgani (Antropolog).

Doi berdua bicara macam dua orang pemain badminton yang enggak pernah missed satu bola pun – berkesinambungan, mengalir, ditunggu dan asyik banget! Doi berdua bicara soal Folk Indonesia Timur. Bincang topik itu terinspirasi dari tugas akhir Fuad, begitu sang moderator – Ivan Makshara penulis di pophariini, membawa nama Pulang Aleyo di awal obrolan.

Pulang Aleyo ini adalah sebuah judul lagu yang bercerita tentang seruan pulang ke Ambon. Lalu disambung soal ketertarikan Fuad mendengarkan lagu-lagu lawas bertema nostalgia, penyesalan dan aspirasi kampung halaman.

Doi dulu suka dengerin lagu-lagu Ambon yang dinyanyiin Yoppie Latul. Is lalu dapat kesempatan dan langsung nyeroscos soal akulturasi budaya mulai dari pendudukan kaum Mestizo – orang orang berdarah campuran salah satunya ia sebut di Maluku, jejak alat musik Mandolin dan khasanah musik folk.

Ketika Ivan bertanya soal tema kerinduan yang banyak ditulis Is dalam lirik-lirik lagunya, Is pun mengafirmasi. Is kemudian menjawab seperti yang kurang lebih saya simpulkan begini.

Yang membuat folk itu adalah lirik-liriknya yang mengandung nilai-nilai tradisional, yang bertemu kerinduan-kerinduan. Musik yang bercerita tentang hal-hal sekitar. Misalnya kita yang negara maritim ini, tentang ikannya yang kaya, tentang pengetahuan nelayannya.

“Nelayan itu tahu kapan angin timur bertiup, melihat pertanda dari langit. Memang sih ada teknologi, tapi romantisme kurang”, katanya.

Fuad lalu menambahkan, folk yang besar di kota pun mereka menyerap tema tema yang lebih global. Ivan kemudian mengambil contoh duo folk Silampukau yang lirik-lirik lagunya bercerita hal-hal sekitar.

Selain panel kedua di atas, favorit saya lainnya adalah panel ketiga. Managing Editor Vice Indonesia Ardyan M Erlangga, CEO Tirto.Id Sapto Anggoro dan admin BaleBengong Putu Hendra Brawijaya alias Saylow bicara soal Semesta Online Media. Malam boleh semakin dingin, tapi topik panas jadi makin panas karena dimoderasi penulis idaman Felix Dass.

Saya ingin sarikan topik ini dalam beberapa kalimat yang saya kutip dari narsum. Jurnalisme itu adalah disiplin verifikasi. Di tengah banjir informasi yang bikin media bukan lagi sebagai gatekeeper, Trust adalah sesuatu yang mahal di lanskap media. Pentingnya fact checking. Sesi yang berjalan hampir sejam ditutup Felix dengan: enggak ada media yang netral jaman sekarang.

Panel keempat menghadirkan Mafmud Ikhwan dan Aan Mansyur yang bicara tentang proses, kerja-kerja menulis mereka, dan lingkungan mereka. Obrolan yang menarik, tapi kami meninggalkan venue duluan karena gigil yang tak tertahankan.

Dalam perjalanan turun dari Batu menuju Malang, saya mengkhidmatkan bincang pertemuan tadi. Meminjam kata Is, momen tadi barangkali adalah momen spiritual saya. Saya yang penikmat ini duduk diam mendengarkan perihal-perihal yang bermutu. Lalu setelahnya sparkling-sparkling itu barangkali akan jadi ya semacam puisi pendek atau remah seperti catatan ini.

Pagi ini, di tempat tidur kami bercakap-cakap dan mendengarkan lagu-lagu dari line up yang akan main di hari pertama. Tigapagi, Aray Daulay, dll. Akan ada Secret Guest. “Mungkin itu Banda Naira,” kata seorang teman. Semoga ada sparkling lainnya di hari kedua, ya. :)) [b]

The post Sparkling dan Momen Spiritual Hari Pertama appeared first on BaleBengong.

Bermusik dan Diskusi Asyik di Folk Music Festival

Folk Music Festival memadukan musik, literasi, dan kesenian. Foto folkmusicfestival.id

Kapan lagi bisa ketemu agend asyik begini?

Folk Music Festival keempat tahun ini akan diadakan selama tiga hari di Kusuma Agrowisata Batu, Jawa Timur pada Jumat-Sabtu, 3-5 Agustus 2018. Folk Music Festival adalah festival alternatif tahunan untuk para penggemar kebudayaan (kesenian, musik dan literasi).

Suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah akan mengajak para penonton dari seluruh penjuru negeri untuk terhanyut dalam lantunan hangat setiap musisi dari Bali, Malang, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Palembang dan kota-kota Indonesia lainnya.

Tahun ini Folk Music Festival mengusung tema “Musik dan Literasi”, di mana selain menghadirkan serangkaian sajian musik berkualitas juga akan menggelar diskusi dan lokakarya terkait prosa, puisi, dan pertunjukan teater. Dalam kesempatan ini BalaBengong juga mendapat undangan dari SATSCo, panitia acara.

SATSCo adalah salah satu dari departemen Soledad and The Sisters Company, yang fokus pada pengembangan dan pemberdayaan komunitas dari berbagai disiplin ilmu dan bidang. SATSCo adalah Community Based Agency dengan jaringan di seluruh Indonesia.

BaleBengong diundang untuk mengisi program literasi dalam sebuah program bincang bertajuk “Semesta Online Media” bersama Ardyan M. Erlangga (Managing Editor VICE Indonesia), Sapto Anggoro, (CEO Tirto.id), dan Putu Hendra Brawijaya Putra (admin BaleBengong).

Program bincang-bincang ini di moderatori Felix Dass, seorang jurnalis musik dan penggagas sejumlah gig.

Diskusi tentang media daring hanya salah satu bagian dalam agenda asyik selama tiga hari di Batu. Topik literasi lain adalah Makassar International Writers Festival (MIWF), Jogja-NETPAC Asian Film Festival, dan Rock In Celebes.

Ada pula obrolan santai tentang Literasi Indonesia Timur bersama Aan Mansyur dan Mahfud Ikhwan. Aan satu dari sedikit penyair berdarah Bugis yang karyanya sedemikian bergaungnya di Tanah Air. Tak Ada New York Hari Ini laku ratusan ribu eksemplar dalam hitungan bulan, kejadian yang sama langkanya di Indonesia.

Buku-buku Aan sebelumnya, antara lain Kukila (2012) dan Melihat Api Bekerja (2015) juga merupakan karya sastra yang unik—nikmat dibaca baik oleh penikmat sastra maupun oleh orang-orang yang baru memulai mencoba menikmati puisi.

Adapun Mahfud Ikhwan penulis kelahiran Lamongan, Jawa Timur. Karya bukunya antara lain novel Kambing dan Hujan (2015), kumpulan cerpen Belajar Mencintai Kambing (2016), dan kumpulan esai film Aku dan Film India Melawan Dunia jilid 1 & 2. Pada 2017 novel Mahfud berjudul Dawuk berhasil membuatnya meraih gelar sebagai penulis prosa terbaik di Kusala Sastra Khatulistiwa.

Bersama Aan dan Ikhwan, hadir pula berbagai musisi selama tiga hari festival. Dari Bali akan hadir Pohon Tua dan Sandrayati Fay.

Pohon Tua adalah proyek solo Dadang Pranoto, gitaris band grunge Navicula dan vokalis/gitaris band folk Dialog Dini Hari. Setelah sekian lama menjalani proyek solonya ini akhirnya di tahun 2017 lalu album solo perdana berjudul Kubu Carik lahir juga.

Dalam bermusik di bawah bendera Pohon Tua, Dadang mengambil jalur minimalis dengan hanya ditemani ukulele untuk mengiringi proses bertuturnya.

Penyanyi dari Bali lainnya adalah Sandra, yang berdarah campuran Filipina da Irlandia-Amerika yang lahir dan besar di Jawa-Bali. Sandra baru saja merilis EP perdananya berjudul Bahasa Hati, sebundel karya yang direkam secara live nyaris dalam 1 hari saja di Rumah Topeng, Bali.

Di Folk Music Festival nanti, Sandra juga tampil bersama gang musisi perempuannya, Dara Muda. Selain Sandra, musisi perempuan muda lain dalam grup ini adalah Danilla dan Rara Sekar.

Ketiganya membuat proyek woles mereka dalam wujud video karya-karya mereka, sendiri-sendiri, di lokasi yang terpisah–Danilla di Jogja, Rara di Madura, dan Sandra di Bali. Ketiganya mengawal proses bercerita dengan hanya ditemani gitar.

Karena semuanya direkam secara live di alam terbuka maka suara-suara macam suara hembusan angin, air mengalir, kicau burung, atau gesekan rumput pun akan ikut terdengar.

Tunggu apa lagi, mari ke Batu akhir pekan depan menikmati lembut suara mereka bersama jaringan kolektif dari dua negara, yaitu Indonesia & Malaysia. [b]

The post Bermusik dan Diskusi Asyik di Folk Music Festival appeared first on BaleBengong.