Tag Archives: Lingkungan

Ruang Hijau yang Kian Berkurang di Bali Selatan

Permakultur Taman Baca Kesiman. Terong merupakan tanaman bernutrisi kaya serat yang cocok ditanam di Denpasar. Foto Doni S. Wijaya.

Misinya menata lingkungan hijau. Nyatanya, ruang hijau terus menyusut.

Kawasan Denpasar Timur dan Desa Guwang di Gianyar berada di dataran rendah, kurang dari 100 meter di atas permukaan laut. Karena itu udaranya tergolong panas sepanjang tahun dengan suhu rata rata di atas 26 derajat C.

Pemanasan global membuat suhu udara di seluruh dunia termasuk Bali meningkat. Pada Januari dan Februari ini, udara panas dan gerah dirasakan warga Denpasar dan orang yang bermukim di dataran rendah. Konsumsi energi untuk mengurangi kegerahan meningkatkan pemanasan. Sebab, sebagian besar listrik yang dikonsumsi masyarakat Bali bersumber dari bahan bakar fosil.

Namun, ada perbedaan tingkat kegerahan tersebut karena penggunaan lahan yang terjadi. Luas ruang hijau menentukan perbedaan ini.

Jika ingin kota hemat energi, perbanyaklah ruang hijau yang kaya keragaman hayati dan rancanglah bangunan hemat energi yang disesuaikan dengan seni Bali. Ini tantangan bagi arsitektur Bali di masa kini dan di masa depan. Kota yang hemat energi dan ramah keragaman hayati adalah perwujudan nyata dari aspek Tri Hita Karana.

Di Denpasar, Kuta, Seminyak dan Nusa Dua luas lahan hijau kurang dari 20 persen total luas wilayah itu. Ini tidak termasuk sawah. Bila sawah diikutsertakan, luas lahan kurang dari dua pertiganya.

Di Desa Guwang, ada perbedaan menarik dengan kota Denpasar dari segi udaranya. Ini karena sebagian besar desa itu masih sebagai sawah. Mungkin 80 persen dari luas desa itu berupa sawah meskipun bukan yang sepenuhnya ramah lingkungan karena masih menggunakan pestisida dan pupuk kimia.

Ruang hijau dan sawah memberikan oksigen dan menyerap uap air serta gas rumah kaca. Penyerapan gas rumah kaca oleh tanaman hijau dan keluarnya oksigen ini yang menghasilkan udara sejuk saat menyentuh badan manusia.

Saat ruang hijau dan sawah diubah menjadi beton dan aspal, udara gerah menyelimuti karena gas rumah kaca dan uap air tidak diserap tapi mengambang di udara. Panas yang diserap dan tersimpan di situ. Inilah yang membuat udara jadi gerah dan saat malam hari suhu di Denpasar lebih terasa panas daripada di Guwang. Udara gerah membuat manusia lebih mudah stress dan ini berujung pada penyakit yang berpotensi muncul.

Dengan pemanasan global yang membuat ruang hidup terasa menyesakkan, seharusnya penataan lahan diperhatikan kembali berdasarkan aspek ekologinya untuk menghasilkan udara sejuk. Di Indonesia, meski menurut hukum yang berlaku sawah bukan termasuk ruang hijau, dia memberikan kesejukan udara.

Dengan pertanian ramah lingkungan, sawah dapat berperan dalam menahan pemanasan global. Sawah bisa bebas dari bahan bakar minyak bumi untuk pestisida dan gas alam untuk pupuk buatan. Dua bahan kimia itu menyebabkan timbulnya gas nitrous oxide (N2O) yang ratusan kali lebih kuat memerangkap panas di bumi daripada karbon dioksida

Burung, ikan, reptil, amfibi, serangga dan invertebrata serta tanaman tanaman di tepi sawah merupakan merupakan kekayaan biologi pulau ini. Karbohidrat, mineral, vitamin, dan protein diperoleh dari sini. Nilai keindahan mahluk mahluk itu dapat dinikmati kembali setelah luntur karena kesalahan revolusi hijau dan peralihan lahan. Masyarakat kota semakin dekat pada alam yaitu bersentuhan dengan kehidupan liar di sawah.

Hutan kota dan kebun permakultur perlu dikaji untuk perluasan. Luas kedua lahan hijau tersebut kurang dari 20 persen kota Denpasar. Hutan kota berfungsi untuk paru-paru kota dan daerah resapan air agar air tanah terus diperbaharui untuk menanggulangi krisis air di Bali Selatan. Luas hutan kota minimal 15 persen.

Di Denpasar, kita dapat melihat contoh dari Taman Baca Kesiman bagaimana kebun permakultur di Banjar Kesiman menjadi oase di tengah himpitan gedung. Permakultur di situ mencakup tanaman yang dapat dimakan dan tanaman hias yang cocok ditanam di iklim dan tanah yang sesuai dengan kondisi kota Denpasar tanpa bahan kimia.

Gambar Permakultur Taman Baca Kesiman. Terong merupakan tanaman bernutrisi kaya serat yang cocok ditanam di Denpasar.

Lahan-lahan permakultur dan sawah ramah keragaman hayati seharusnya dibebaskan dari pajak. Pemilik lahan tersebut didorong untuk mengelolanya dengan asas keadilan sosial di mana para pekerja dapat hidup layak dan pemilik lahan meperoleh keuntungan.

Peran pemerintah kota, kabupaten bahkan provinsi menjadi penting dalam penataan kawasan hijau yang mampu memberikan manfaat ekonomi, pangan dan kesehatan. Dengan demikian, Bali benar-benar akan bisa mewujudkan kemandirian pangan, meningkatkan nilai tambah, dan daya saing pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani serta menata wilayah dan lingkungan yang hijau, indah dan bersih. [b]

WALHI Bali Protes Draf Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional

Konsultasi publik terkait penyusunan Perpres Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional (RZ KSN) kembali dilaksanakan pada Selasa, 25 Februari 2020 yang bertempat di Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Denpasar. Konsultasi publik ini merupakan lanjutan dari konsultasi yang sebelumnya diadakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di Dinas Kelautan Provinsi Bali pada Rabu 20 November 2019 lalu.

Dalam forum diskusi ini hadir Tini Martini, SH, M.Soc. Sci selaku Sekretaris Jendral Biro Hukum dan Organisasi yang membuka acara. Selain itu ada tiga narasumber pada konsultasi publik kali ini yakni Moh. Husni Mubarak, SH. Selaku Kepala Bagian Biro Perundang-undangan II, Ir. Suharyanto, M.sc selaku Direktur Perencanaan Ruang Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut KKP, dan I Made Sudarsana Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali.

Dalam pertemuan ini pada bangku paling depan tampak hadir Wayan Gendo Suardana Selaku Koordinator ForBALI dan Dewan Nasional WALHI serta Made Juli Untung Pratama Direktur WALHI Bali. Pada sesi diskusi Gendo Protes dan mempertanyakan mengapa WALHI Bali tidak diundang pada pertemuan hari ini. “Hari ini kami kesini sebagai tamu yang tidak diundang, padahal keesokan harinya juga ada pertemuan yang dilakukan oleh lembaga yang sama dan WALHI Bali diundang, namun karena kami berkepentingan terkait dengan Kawasan Konservasi Maritim Teluk Benoa, maka dari itu kami hadir disini,” pungkasnya.

Selanjutnya Gendo protes keras perihal pasal pada draft Ranperres yang baru disinyalir bisa meloloskan reklamasi Teluk Benoa. Dalam draft sebelumnya kawasan Teluk Benoa masuk dalam kawasan G5 yang berarti konservasi, namun dalam draft yang baru pada Pasal 33 ayat (1) Ranperpres RZ KSN Sarbagita Kedua menyatakan bahwa G4 merupakan kawasan yang berfungsi sebagai penyangga pesisir serta pemanfaatan lainnya. “Itu artinya apa? memang benar KKM itu terbentuk karena ditetapkan oleh Keputusan Menteri namun secara hirarki dia akan kalah dengan Perpres, apabila Perpres ini jadi dan disahkan dan di dalamnya Teluk Benoa sebagai KKM ada di Zona Penyangga maka yang ilindungi hanya kawasan sucinya saja yang radiusnya hanya 50 cm dan ada 15 titik di Teluk Benoa. Selebihnya dapat diurug atau direklamasi. Kan begitu logikanya?” tanyanya.

Lebih lanjut Gendo juga mengomentari bahwasannya draft Ranperpres ini sangat buruk. “Berbeda dengan draft yang sebelumnya yang dengan tegas menempatkan kawasan Teluk Benoa pada kawasan G5 dengan kode C2 atau konservasi namun pada draft kali ini G5 dihilangkan dan dimasukan ke G4 atau kawasan Penyangga. Ia juga menjelaskan dalam PP 33 terkait RTRL tidak ada frasa kawasan penyangga. Frasa Kawasan penyangga hanya ada di Perpres 51 tahun 2014 dimana Perpres tersebut adalah Perpres yang mengakomodir reklamasi Teluk Benoa.

Direktur WALHI Bali I Made Juli Untung Pratama juga angkat bicara pada acara konsultasi publik kali ini. Ia kembali mempertanyakan mengapa dalam Ranperpres ini masih mengakomodir proyek-proyek yang bisa menghancurkan alam Bali seperti tambang pasir laut yang akan dilakukan di sepanjang pantai Kuta hingga Canggu. Untung Pratama menjelaskan tambang pasir laut yang akan dilakukan di sepanjang pantai Kuta hingga Canggu dapat merusak pantai dan mempercepat terjadinya abrasi di seputaran wilayah tersebut . Disamping itu draft Ranperpres RZ KSN ini masih mengakomodir reklamasi Bandara Ngurah Rai yang melabrak kawasan konservasi dan dalam draft ini juga mengakomodir perluasan pelabuhan seluas 1300 ha. “Padahal perluasan yang sekarang dilakukan oleh Pelindo saat ini sudah menyebabkan 17 ha Mangrove mati, apa mau mangrove yang mati jadi bertambah?” tanya Untung.

Pada pertemuan sebelumnya pihak Pelindo diminta menjelaskan terkait tujuan dilakukannya perluasan pelabuhan untuk kepentingan apa, namun pihak Pelindo tidak bisa menjawab. “Tidak ada kejelasan dalam hal aktivitas reklamasi yang dilakukan Pelindo untuk perluasan pelabuhan selain menyebabkan mangrove mati,” tegasnya.

Alhasil atas protes yang dilakukan Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana, Suhartoyo mengakui kesalahan Ranperpres tersebut dan mengembalikan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi, yang sebelumnya dialokasikan ke pemanfaatan. Selanjutnya Suhartoyo memindahkan KKM Teluk Benoa yang semula berada di Pasal 33 Ranperpres sebagai bagian dari Pemanfaatan Umum dipindahkan ke pasal 34 untuk ditetapkan alokasi ruang sebagai Kawasan Konservasi.

Di akhir acara untung Pratama menyerahkan Surat Protes yang ditunjukan kepada Tini Martini selaku Sekretaris Jendral Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Kelautan dan Perikanan dan diterima oleh Moh. Husni Mubarak, Kepala Bagian Biro Perundang-undangan II. Husni mengatakan semua masukan tadi akan dijadikan bahan untuk menyenpurnakan draft Ranperpes ini lalu kemudian akan dikirimkan ke Kemenkumham.

Pendidikan Ekologi yang Relevan untuk Bali

Gubernur Bali Wayan Koster telah mengemukakan 22 misi Provinsi Bali.

Misi nomor 4 pembangunan Bali tahun 2018-2028 adalah tersediannya pendidikan yang adil, merata, terjangkau, dan berkualitas serta melaksanakan wajib belajar 12 tahun. Misi tersebut menyenangkan untuk dilihat saat dipampang di depan tembok atau didengar oleh siaran media.

Bagaimana pelaksanaannya hari ini dan di masa depan? Marilah lihat situasi di lapangan.

Di Bali masih ada sekolah yang tidak layak fasilitasnya. Di Karangasem, ada sekolah yang atapnya rawan runtuh. Ini membahayakan guru dan siswa saat sedang belajar. Kasus serupa juga terjadi di Jawa Timur hingga menyebabkan murid dan guru meninggal dunia.

Sekolah negeri unggulan di Bali fasilitasnya di atas kelayakan, sementara sekolah bukan unggulan sarana dan prasarana boleh jadi tidak memadai. Itu yang terjadi kota. Belum lagi bila membandingkan kondisi infrastruktur fisik pendidikan di dalam kota dengan di pinggir kota hingga pelosok desa.

Dari fasilitas fisik yang belum memadai, sekarang kita akan melihat praktik pendidikan yang ada. Murid-murid SD hingga SMA mempelajari ilmu pengetahuan alam. Proses pembelajaran tidak hanya melalui buku teks khusus pelajaran sekolah.

Di hampir semua perpustakaan sekolah, amat sedikit buku yang bertema ekologi pulau Bali tersedia. Seharusnya pemerintah mencetak buku tersebut dan didistribusikan ke sekolah sekolah di Bali agar guru dan siswa memahami ekologi pulau ini.

Guru selayaknya mengajak siswa menonton film bersama mengenai flora dan fauna Bali, ekosistem pulau Bali dan masalah lingkungan yang terjadi di Bali saart ini. Film Kala Benoa yang menjelaskan akibat kerusakan lingkungan karena reklamasi Teluk Benoa dapat diputar di seluruh sekolah pulau Bali. Sekolah perlu mengadakan kerja sama dengan para pembuat film yang bertema ekologi pulau Bali sebagai media pendidikan siswa.

Murid-murid yang belajar ilmu alam di sekolah tidak banyak yang mengetahui macam-macam spesies tanaman budidaya dan liar yang hidup di Bali beserta kondisi tanah yang cocok untuk tanaman tersebut. Bila dibaca secara dangkal mungkin ini dianggap tidak penting. Namun, pendidikan ilmu alam harus sesuai dengan kondisi nyata di tempat di mana sekolah itu berdiri. Siswa perlu mengetahui hal tersebut supaya dapat meneliti manfaat tanaman tersebut bagi manusia dan lingkungannya dan dapat mengembangkan perekonomian desa dari sumber alam yang ada.

Murid-murid tidak tahu persis jumlah spesies burung, ikan dan hewan lainnya yang ada di Bali apalagi statusnya dalam konservasi. Mungkin hanya jalak bali yang paling diketahui. Sekolah sampai saat ini tidak mengajarkan kepada muridnya tragedi lingkungan yang telah terjadi di Bali mulai dari punahnya harimau Bali hingga hutan yang kurang dari sepertiga luas pulau.

Saat siswa diajak ke sawah, hutan dan padang penggembalaan, guru perlu membimbing siswa untuk mengidentifikasi spesies burung yang ada di situ dan memahami hubungan antara burung dengan hewan lain dan tanaman lain di sawah sehingga siswa belajar ekologi melalui pengalaman.

Bagi siswa yang tinggal tak jauh dari taman nasional Bali Barat sekolah perlu mengadakan perjalanan ilmiah ke sana lebih dari sekali. Dengan demikian siswa semakin mengapresiasi fauna dan flora liar Bali. Sekolah dapat memfasilitasi siswa yang menimba ilmu di Tabanan untuk melihat praktik pemeliharaan burung hantu untuk mewujudkan sawah organik di tempat yang dijuluki desa burung hantu.

Guru perlu mengajak siswa untuk membandingkan kondisi sawah di Jatiluwih dan Ubud sepuluh tahun yang lalu dengan sekarang saat sawah semakin digusur dengan akomodasi pariwisata.

Belum Reflektif

Pendidikan alam yang diajarkan di sekolah belum reflektif dalam arti menghubungkannya dengan keadaan di lapangan. Di sekolah murid diajari pentingnya hutan di pegunungan dan perbukitan. Mereka mengetahui peran amat berharga hutan bakau bagi pesisir dan nelayan.

Murid-murid tidak diberi kesempatan untuk berpikir kritis penyebab hutan terdegradasi yang terhubung dengan kebijakan pembangunan. Murid-murid amat jarang diajak melakukan belajar lapangan melihat langsung kondisi hutan bakau, sawah dan hutan pegunungan yang tersisa. Siswa mempelajari dampak pestisida dan pupuk kimia bagi ekosistem sawah dan sekitarnya tapi tidak pernah berdialog langsung dengan petani yang menggunakkannya tersebut untuk memberikan pendidikan kecil agar mengurangi pemakaiannya demi kesehatan lingkungan.

Bali termasuk kawasan Segitiga Koral (Coral Triangle). Ini berarti terdapat terumbu karang dan padang lamun yang merupakan eksositem laut terkaya di dunia. Murid memang mendapatkan informasi mengenai fungsi terumbu karang dan padang lamun serta kegiatan manusia yang dapat merusak terumbu karang dan lamun hingga akibat yang ditimbulkan.

Namun, pada pelajaran di sekolah guru jarang menginformasikan jenis jenis koral dan lamun yang ada di Bali kepada siswanya. Akibatnya kesadaran untuk peduli laut masih belum cukup. Di tepi pantai, sering terdapat sampah yang akan mencapai padang lamun dan terumbu karang sehingga mengakibatkan biota laut terancam.

Pendidikan alam bagi siswa di Bali tidak hanya untuk mengenal kondisi ekosistem dan jenis jenis mahluk hidup yang ada di dalamnya. Siswa perlu diberi pendidikan untuk mengolah hasil alam dari tanah Bali. Tidak hanya mengolah daun kelapa, tetapi mengolah bagian pelepah kelapa, nira kelapa, kulit kelapa dan batang kelapa.

Siswa perlu melihat langsung penggilingan padi menjadi beras. Mereka dapat berkesempatan mempelajari pengolahan sisa sisa tanaman padi seperti pembuatan minyak dari bekatul dan pengolahan jerami padi menjadi tikar. Saat mempelajari pengolahan hasil laut, murid murid memperoleh peluang untuk mengolah limbah ikan menjadi tepung atau sesuatu yang memiliki nilai guna.

Pendidikan alam seperti betujuan agar siswa peka bahkan peduli terhadap keragaman hayati dan keberadaan spesies di ekosistem terpenting bagi orang Bali yaitu sawah. Harapannya, mereka bisa bersama-sama menahan laju alih fungsi sawah serta menggalakkan pertanian ekologi yang ramah lingkungan. Dalam mempelajari ekologi, guru mengajarkan kepada siswa untuk menghubungkannya dengan aspek keadilan sosial dimana setiap orang berhak atas air bersih, udara segar, makanan sehat dan lingkungan yang layak huni.

Yang terpenting siswa perlu diberi kesempatan berpikir kritis melihat dampak lingkungan dari pembangunan Bali yang mengabaikan lingkungan. Kurikulum pendidikan ilmu alam untuk Bali hendaknya tidak sekedar menjiplak saja apa yang dipraktikkan dari Jakarta. Dinas Pendidikan Bali perlu menyesuaikannya dengan kondisi alam dan budaya yang ada. [b]

Seniman Unjuk Karya Seni untuk Bumi

Trash for Art di kegiatan pameran Yayasan Manik Bumi.

Merayakan Hari Kasih Sayang dengan seni untuk bumi.

Yayasan Manik Bumi tidak pernah kehabisan energi untuk memberikan ruang bagi seniman berkarya dan selaras dengan penyelamatan lingkungan hidup. Kali ini Manik Bumi menggelar acara bertajuk “Gumi Lascarya” (satu cinta merawat Bumi) di areal kantornya di jalan Pantai Indah Singaraja, Buleleng.

Acara digelar selama empat hari pada 10-14 Februari. Menurut Pembina Yayasan Manik Bumi, Luh Gede Juli Wirahmini, akrab dipanggil Juli, pemilihan puncak acara disengaja untuk membuat hari kasih sayang tidak hanya tentang cinta sepasang manusia tapi juga bisa dimaknai cinta bumi.

“Valentine tidak hanya tentang mawar dan cokelat. Valentine juga bisa tentang merawat bumi dengan mengurangi bebannya walaupun sedikit,” ujar Juli.

Menurut Juli, ide itu dituangkan dalam konsep kegiatan dengan memadukan pameran seni dari sampah bertajuk “Trash to Art”. Sampah diolah menjadi seni berkualitas tinggi. Apa yang selama ini dipandang sebelah mata, ternyata bisa diolah menjadi sebuah karya seni.

“Sampah kalau diolah, bisa jadi media baru dalam berkesenian. Kami harap ini bisa jadi media alternatif bagi seniman-seniman dalam berkarya,” lanjutnya.

Puluhan karya menggunakan media sampah pun dipamerkan di Sekretariat Yayasan Manik Bumi. Ada 23 karya seni yang dihadirkan. Puluhan karya itu diciptakan oleh 16 orang seniman, 15 di antaranya berasal dari Buleleng.

Mereka yang terlibat dalam pameran yakni Made Bayak, I Putu Wilasa, Kadke Dwi Jayanta, Kadek Surya Dwipa, Angga Heri, Juning, I Wayan Trisnayana, I Made Santika Putra, Ngakan Nyoman Ardi, I Komang Wikrama, I Ketut Andi Palwika, Gede Sukradana, Yohanes Soubirius de Santo, I Gede Pasek, Made Wijana, dan Mizan Torek.

Para perupa mengolah sampah menjadi media baru untuk berkarya. Ada yang menggunakan sampah plastik, ban dalam, kardus, kaleng, maupun kertas. Hampir seluruh karya dihadirkan dalam bentuk tiga dimensi.

Patung “I am Ayam” karya I Made Santika Putra misalnya. Patung yang menghadirkan kisah pertarungan dua ekor ayam jantan itu, dibuat dari ban dalam bekas.

Sementara patung “Bangkai Ikan” karya Putu Wilasa, menggunakan media sampah plastik kemasan. Sampah-sampah itu dilelehkan dan dirangkai sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk ikan. Di salah satu sisi, Wilasa menghadirkan perut ikan yang berisi sampah-sampah plastik.

“Ini terinspirasi dari berita soal ikan yang terdampar dan ditemukan dalam kondisi mati. Kemudian setelah dibedah di perutnya ada banyak sampah plastik. Ini menjadi persoalan serius bagi ekosistem kita,” kata Wilasa yang juga seorang musisi itu.

Salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran Trash for Art.

Parade Mural

Selain menggelar pameran dari sampah, dalam rangkaian kegiatan ini juga digelar parade mural. Media yang digunakan adalah tembok di sekitar kawasan sekretariat manik bumi.

Para seniman mural dari beberapa kota di Indonesia, melangsungkan aksi live mural. Mereka menuangkan kritik dan kegelisahan terkait pengelolaan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Aksi live mural itu dilangsungkan di Sekretariat Yayasan Manik Bumi.

Total ada 27 orang seniman dari 12 kelompok mural yang terlibat dalam aksi tersebut. Para seniman itu datang dari sejumlah kota di Indonesia.

Seperti Bogor, Magelang, Bandung, Padang, serta tuan rumah Bali. Mereka menuangkan ide dan kreatifitasnya pada sebidang tembok berukuran 3×4 meter.

Para seniman akan menggarap media tembok itu, hingga puncak acara Jumat (14/2) . Para seniman yang terlibat dalam aksi live mural itu sebelumnya sudah melalui proses kuratorial yang cukup ketat.

“Sebelum mereka melakukan live mural, sebenarnya mereka sudah mengirimkan konsep ide dan karya sejak Oktober 2019 lalu.

Kemudian kami pilih 12 karya terbaik dan kami undang untuk melakukan live mural,” kata Juli.

Menurut Juli, karya-karya yang ditampilkan dalam mural, lebih banyak mengangkat tema kesetiakawanan dalam merawat bumi. Tema itu sengaja dipilih, sebab merawat bumi tidak bisa dilakukan orang per orang. Melainkan harus melibatkan seluruh komponen masyarakat yang ada.

“Kami ingin lewat mural ini ada pesan yang tersampaikan. Bahwa merawat bumi itu harus dikerjakan bersama dan dilakukan secara ikhlas. Kami berharap ini bisa membuka wawasan, minimal bagi relawan kami sendiri,” ungkap Juli.

Selain melibatkan komunitas mural dari beberapa kota di Indonesia, aksi live mural itu juga melibatkan Komunitas Mural Taring Babi sebagai peserta kehormatan.

Hasil live mural ini dinilai Dewan Juri yaitu Jango Pramarta, Mike Marjinal dan Bobi Marjinal. Juri menentukan jura 1 hingga 3. Adapun juara favorit ditentukan oleh pengunjung yang melakukan penilaian sesaat setelah memasuki kawasan acara.

Pengumuman dilakukan di puncak acara pada panggung hiburan. Ada bondres Rarekual, standup comedy dari Inguh dan penampilan band. Di antaranya Rastafara Cetamol band reggae dari Buleleng, Dialog Dini Hari dan Band Marjinal dari Jakarta.

Acara terlihat ramai dan pengunjung terlihat antusias melihat pameran “Trash to Art” dan juga antusias melakukan penilaian karya mural dari 22 finalis.

Acara yang ramai pengunjung ini terlihat bersih dari sampah. Di samping itu tidak terlihat banyak botol plastik karena panitia menyediakan gelas dan air di beberapa area acara. Menurut Juli, panitia memang menganjurkan pengunjung agar membawa tumbler dan tidak membawa minuman kemasan sekali pakai. “Kami fasilitasi air minumnya,” katanya.

Demikian pula, terkait sampah kami fasilitasi dengan banyak tempah sampah. “Kami patut bangga karena acara ini bebas dari perilaku buang sampah sembarangan. Setidaknya acara ini berhasil mengajak warga pengunjung untuk bijak menyampah,” pungkas Juli.

Koster Gundah, Walhi Kirim Surat Terbuka

Katanya gundah, tapi kok memfasilitasi perusakan lingkungan Bali?

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali kembali mengirimkan surat terkait Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) kepada Gubernur Bali, Wayan Koster pada Rabu, 29 Januari 2020.

Sebelumnya Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan bahwa kualitas tanah, air dan alam Bali ini belakangan terus menurun. Indikasinya banyak biota yang mati. Kunang-kunang, kakul, belut, sudah susah ditemui sekarang.

“Untuk itu perlu diperbaiki agar sehat kembali alam Bali,” ujar Koster seperti ditulis Radar Bali edisi 21 Januari 2020.

Sebagai respon atas pertanyaan tersebut, WALHI Bali mengirimkan surat terbuka kepada Gubernur I Wayan Koster. Surat terbuka ini dikirim pada Rabu, 29 Januari 2020 dan diterima oleh staf persuratan Adhi Suarjana.

Dalam konferensi pers di kantor Walhi Bali, Direktur Eksekutif WALHI Bali I Made Juli Untung Pratama menjelaskan bahwa dalam pernyataannya, Koster memiliki kegundahan yang sama terkait keadaan lingkungan alam Bali yang kian menurun. “Namun, faktanya, Gubernur Bali lupa di mana berbagai proyek perusak lingkungan hidup sampai saat ini masih terakomodir dalam rencana peraturan daerah rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (Ranperda RZW3PK),” ujar Made Juli Untung Pratama.

Untung Pratama menyebutkan beberapa proyek yang berpotensi merusak kelestarian alam Bali. Misalnya alokasi ruang untuk proyek tambang pasir laut di lepas pantai Kuta hingga Tabanan dan perairan kecamatan Kuta Selatan. Ada juga alokasi ruang untuk reklamasi perluasan Bandara Ngurah Rai dan proyek reklamasi untuk perluasan Pelabuhan Benoa yang diakomodir melalui DLKr DLKp.

Oleh karena hal tersebut, WALHI Bali melalui surat terbuka kepada Gubernur Bali menuntut agar Gubernur Bali I Wayan Koster selaku pemangku kebijakan segera melakukan tindakan serius. Pertama, menghapus alokasi ruang untuk tambang pasir laut yang diakomodir dalam RZWP3K. Kedua, menghapus alokasi ruang perluasan Bandara Ngurah Rai dengan cara reklamasi di RZWP3K.

Terakhir, mengimbau agar Gubernur Bali menghapus alokasi ruang perluasan Pelabuhan Benoa dengan cara reklamasi yang diakomodir melalui DLKr KLDp yang diduga sebagai alas untuk melakukan perluasan Pelabuhan Benoa dengan cara reklamasi. [b]