Tag Archives: Lingkungan

Inilah Pusat Konservasi Laut Pertama di Indonesia

Pembukaan Pusat Konservasi Kelautan Coral Triangle Center Sanur. Foto CTC.

Bali menjadi tempat lahirnya pusat konservasi laut.

Minggu sore kemarin, pusat pendidikan dan pelatihan bagi upaya pelestarian laut itu dibuka di Sanur, Bali. Ambisinya menjangkau lebih dari 1,5 juta masyarakat hingga tahun 2020. Harapannya mereka akan akan lebih peduli terhadap laut dan seluruh pihak yang bergantung pada sektor bahari.

Pusat Konservasi Laut ini merupakan pertama dan satu-satunya di Indonesia. Fasilitas unik, berupa ruang pembelajaran terpadu bagi para pegiat profesional dan pengelola wilayah kelautan, pelajar, kelompok muda, keluarga, wisatawan dan pelaku usaha, menjadi tempat mempelajari cara melindungi laut kita.

Indonesia adalah rumah bagi sekitar 60 persen spesies terumbu karang dan ikan-ikan karang beraneka ragam di bumi ini. Lebih dari 70 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir, sehingga kepastian dan keberlanjutan ekosistem perairan laut ini menjadi penting sebagai sumber pangan, penghidupan, dan perlindungan dari dampak cuaca buruk.

Di sisi lain, ekosistem ini mulai terancam oleh kegiatan penangkapan ikan secara berlebihan dan merusak, pariwisata yang tidak bertanggung jawab, pembangunan wilayah pesisir yang tidak terkendali, serta polusi.

Penyadartahuan, pendidikan, dan pelatihan menjadi kunci efektif dalam melanggengkan perubahan jangka panjang. Melalui pameran yang inovatif dan partisipatif, para pengunjung Pusat Konservasi Laut akan dapat belajar mengenai keterkaitan antara laut, kesejahteraan manusia dan penghidupan, serta pentingnya perlindungan laut.

Pusat kegiatan ini dijalankan oleh Yayasan Indonesia bernama Coral Triangle Center (CTC), organisasi nirlaba yang berpusat di Bali dengan cakupan regional dan dampak global. Berdiri pada 2010, CTC memberikan pendidikan, pelatihan, dan memastikan bahwa Kawasan Konservasi Perairan di pusat keanekaragaman hayati laut ini terkelola dengan baik dan efektif.

“Dengan selesainya fase pertama dari pembangunan pusat kegiatan ini, kita telah memulai bab baru mengenai konservasi laut di Indonesia. Kami berharap pusat kegiatan ini dapat menjadi sumber dari kegiatan pendidikan, pelatihan informasi, dan tentu saja inspirasi,” kata George Tahija, Ketua Dewan Pengawas CTC dalam acara pembukaan fasilitas pelatihan.

CTC juga merupakan pusat pelatihan bersertifikasi dari Pemerintah Indonesia dan mitra resmi dari Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (Inisiatif Segitiga Karang untuk Terumbu Karang, Perikanan dan Ketahanan Pangan). CTC mendukung kegiatan pelestarian laut di lapangan melalui situs-situs pembelajaran di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida di Bali dan jaringan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Banda di Maluku.

CTC berencana memperluas jangkauan dan pengaruhnya dengan membangun Pusat Konservasi Laut di Bali yang akan menjadi pusat percontohan bagi kegiatan pelatihan konservasi dan penjangkauan, serta lokasi pertunjukan seni budaya, serta untuk mengajak lebih banyak lagi masyarakat untuk peduli terhadap laut Indonesia dan lengkungan kelautan di kawasan segitiga karang.

“Kita perlu meningkatkan penyadartahuan, terutama di kalangan generasi muda yang akan mewarisi masa depan dan keanekaragaman hayati yang kita miliki. Oleh karena itu, kita memiliki tujuan utama agar pusat kegiatan yang baru ini dapat menjadi wahana pendidikan dan inspirasi bagi generasi mendatang untuk melindungi sumber daya laut kita,” Tahija menambahkan.

CTC juga telah mendorong aksi bersama dengan memimpin jejaring pemimpin perempuan, pemerintah daerah, dan pelaku dunia usaha, yang telah turut serta melaksanakan konservasi sumber daya laut di kawasan Segitiga Karang – termasuk Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste. Pusat Konservasi Laut ini akan memegang peranan kunci dalam menjangkau para pemangku kepentingan di seluruh enam negara tersebut.

Suseno Sukoyo, Penasihat Khusus bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia dalam acara pembukaan pusat kegiatan mengatakan fasilitas semacam Pusat Konservasi Laut CTC ini adalah yang pertama di Indonesia dan sangat inovatif. Ini merupakan salah satu bukti bahwa CTC adalah lembaga yang memposisikan dirinya di depan dalam upaya pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di Indonesia.

“Hal ini bahkan menunjukkan bahwa CTC adalah contoh kepemimpinan dalam pembangunan konservasi kelautan dan perikanan di dunia,” lanjutnya.

Pusat Konservasi Kelautan dilengkapi dengan kolam berlatih selam. Foto CTC.

Kawasan Segitiga Karang merupakan pusat bagi keanekaragaman hayati laut dunia. Kawasan ini menjadi hunian bagi 76 persen spesies karang dan 37 persen dari seluruh spesies ikan karang yang telah dikenali. Wilayah ini juga penting sebagai kawasan pemijahan bagi spesies ikan bernilai ekonomis penting seperti tuna, serta hewan laut yang mempesona dan dilindungi, seperti paus, penyu, pari manta, ikan mola-mola, dan masih banyak lagi.

Kekayaan sumber daya laut dan pesisir yang tak terkira ini memberi manfaat besar bagi lebih dari 363 juta masyarakat dari enam negara tersebut, termasuk juga manfaat bagi jutaan masyarakat lain di luar kawasan itu. Ikan dan sumber daya laut lainnya merupakan sumber pendapatan, makanan, penghidupan, dan komoditas ekspor di seluruh negara Segitiga Karang.

Selain menyajikan fasilitas pelatihan terkemuka dan kolam pelatihan selam, Pusat Konservasi Laut juga akan menjadi wahana inovatif dan interaktif dalam menyebarluaskan pesan konservasi laut kepada masyarakat luas.

Salah satu wahana bertema laut, yakni Escape Room SOS from the Deep (Permainan Tantangan Penyelamatan dari Kedalaman), menjadi sarana interaktif yang menyenangkan untuk memberi informasi kepada masyarakat mengenai lingkungan laut dan segala ancaman yang terjadi saat ini bersamaan dengan usaha dalam memecahkan tantangan permainan.

Pengunjung akan mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai situasi laut terkini, apa saja yang dapat mereka lakukan, serta tentu saja senyum kepuasan di wajah mereka.

Lokasi pameran yang masih terus dikembangkan adalah Tembok Karang, sebuah instalasi seni keramik yang monumental dalam mengemas keindahan kehidupan bawah laut. Desain dari karya seni komunitas ini diperoleh dari keindahan dan keberagaman ekosistem terumbu karang.

Dia akan menjadi sarana peningkatan kesadartahuan masyarakat akan pentingnya peran laut yang sehat terhadap Kawasan Segitiga Karang, jantung dari keanekaragaman hayati laut. [b]

The post Inilah Pusat Konservasi Laut Pertama di Indonesia appeared first on BaleBengong.

Rakyat Bali Tantang Politisi yang Mengaku Tolak Reklamasi

Aksi Bali Tolak Reklamasi di depan kantor Gubernur Bali Juli 2017. Foto Anton Muhajir.

Menjelang Pilgub Bali, mendadak banyak politisi mengaku menolak reklamasi.

Tantangan kepada para bakal calon Gubernur Bali itu disampaikan secara terbuka di depan kantor Gubernur Bali pada Rabu, 26/7. Siang tadi Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) bersama Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa kembali melakukan aksi tolak reklamasi Teluk Benoa.

Massa berasal dari Desa Adat dan Komunitas terlibat dalam aksi yang dimulai sekitar pukul 14.30 Wita. Mereka berkumpul di parkir timur lapangan Renon dan melakukan pawai menuju Kantor Gubernur Bali.

Kendati bersamaan dengan banyaknya upacara pernikahan maupun pengabenan, massa aksi tetap tumpah ruah. Ribuan orang terlibat ikut aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa sudah beranjak meninggalkan tahun keempat dan memasuki tahun kelima. Sampai saat ini baik pihak Gubernur Bali maupun DPRD Bali tidak mengambil tindakan apapun untuk memperjuangkan aspirasi rakyatnya yang terus berjuang menuntut penghentian rencana reklamasi Teluk Benoa.

Di tengah ketidakjelasan sikap pemerintah daerah tersebut, tiba-tiba jelang pemilihan Gubernur Bali pada 2018 nanti, sejumlah politisi yang berambisi berkuasa tiba-tiba menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa.

Sikap dadakan para politisi yang mendadak tolak reklamasi tersebut oleh ForBALI dipandang sebagai sikap pragmatis para politisi. Mereka mengikuti nalar publik hanya untuk menaikkan elektabilitas mereka jelang pemilihan Gubernur Bali pada tahun 2018.

Wayan Gendo Suardana, Koordinator ForBALI, saat orasi di depan kantor Gubernur mengatakan politisi-politisi yang ikut dalam pemilihan politik kekuasaan, mau tidak mau, suka tidak suka harus ikut nalar publik menolak reklamasi Teluk Benoa untuk mendongkrak elektabilitasnya.

“Itulah yang menyebabkan beberapa politisi termasuk Wakil Gubernur Bali harus melempar isu bahwa mereka menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.

Tuntutan salah satu peserta aksi Bali Tolak Reklamasi di depan kantor Gubernur Bali. Foto Anton Muhajir.

Gendo mengatakan bahwa Wakil Gubernur Bali, Bupati Tabanan dan para politisi yang menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa harus dipercaya karena itu fakta. Tetapi ia lebih percaya bahwa mereka benar-benar menolak reklamasi Teluk Benoa bukan hanya untuk kepentingan politik pragmatis jika mereka menggunakan kewenangannya untuk membantu rakyat menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Kalau hanya ngomong tolak reklamasi, kita tidak butuh omongan merek,” kata Gendo.

Menurutnya, yang kita butuhkan mereka sebagai pimpinan-pimpinan daerah adalah menggunakan kewenangannya untuk membantu rakyat menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka memegang kewenangan untuk bersurat kepada pemerintah pusat untuk membatalkan reklamasi Teluk Benoa termasuk mencabut Perpres Nomor 51 Tahun 2014.

Bendesa Adat Kuta I Wayan Swarsa juga mengatakan bahwa calon-calon pemimpin Bali yang menolak reklamasi Teluk Benoa adalah klaim semata. Koordinator Pasubayan tersebut mengatakan Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa tidak menggadaikan perjuangan penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa kepada pihak-pihak yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin bali.

“Sampai saat ini pasubayan tidak ada indikasi untuk berpihak kepada pihak-pihak yang mengklaim menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.

Desakan agar para politisi yang mendadak menolak reklamasi Teluk Benoa melakukan tindakan nyata dalam menolak reklamasi Teluk Benoa juga disampaikan Ida Bagus Ketut Purbanegara.

Sebagai Bendesa Adat Buduk tersebut dalam orasinya, mengatakan perjuangan Pasubayan hanya satu dan tidak ingin dibawa ke ranah politik kekuasaan. Terhadap orang-orang yang tiba-tiba menolak rencana reklamasi Teluk Benoa, Purbanegara meminta kepada massa aksi untuk berikan senyum kepada pihak-pihak tersebut.

“Jangan ganggu gerakan kami, jangan tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan, jika benar menolak reklamasi Teluk Benoa gunakan kewenangannya dan lakukan sesuatu,” tantangnya.

Aksi menolak rencana reklamasi Teluk Benoa kali ini oleh grup musik beraliran rap, Madness On Tha Block. Setelah penampilan dari Madness On Tha Block, massa berbaris menuju parkir timur lapangan Renon, dan membubarkan diri dengan tertib. [b]

The post Rakyat Bali Tantang Politisi yang Mengaku Tolak Reklamasi appeared first on BaleBengong.

Kumbang 2017, Lebih Dekat dengan Konservasi Lingkungan

Kumbang adalah kegiatan Komunitas 60+ Earth Hour Denpasar untuk belajar lingkungan. Foto Herdian Armandhani.

Kumbang yang ini bukan si serangga terbang.

Kumpul belajar bareng (Kumbang) adalah kegiatan Komunitas 60+ Earth Hour Denpasar (EH). Tahun ini, Kumbang Komunitas EH Denpasar diadakan pada 8-9 Juli 2017 di D’Abode Villa Jalan Pengembak No 42, Sanur, Denpasar.

Kegiatan ini dihadiri 20 peserta yang terdiri dari pengurus dan para relawan Komunitas 60+ EH Denpasar. Acaranya diisi dengan berbagai materi yang berkaitan dengan Konservasi Lingkungan.

Sutan Tantowi Dermawan, Ketua Kegiatan acara Kumbang 2017, memaparkan materi tentang organisasi WWF dan kegiatan konservasi yang dilakukan selama ini. Materi yang dibawakan Sutan merupakan materi agenda Kumbang Nasional di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sutan juga menjelaskan creative campaign WWF dalam mengangkat isu-isu lingkungan yang hangat di masyarakat.

Koordinator EH Denpasar Andri Purba membawakan dua buah materi yakni Konservasi Spesies Hiu Paus beserta tantangannya dan Kampanye Beli yang Baik. Dalam materi tentang paus, Andri secara detail menjelaskan mengenai satwa hius paus (nama lokal gurano bintang) patut untuk dilindungi.

Hiu Paus dilindungi karena spesiesnya saat ini mulai terancam. Satwa yang sangat jinak dan bersahabat dengan manusia ternyata tidak memiliki taring seperti hiu pada umunya. Hiu paus mengambil makanan dengan cara membuka dan menutup mulutnya layaknya mesin penghisap.

Hanya saja karena tidak bisa membedakan antara sampah dan plankton maka cepat sekali satwa ini mati. Secara tidak langsung manusia membunuh satwa betotol ini karena sampah plastik yang dibuang dan mengalir begitu saja ke laut.

Secara tidak langsung manusia telah membunuh hiu paus karena sampah plastik yang dibuang mengalir begitu saja ke laut.

“Untuk itulah melalui kegiatan Kumbang 2017 ini kami mengajak teman-teman sekalian untuk mengedukasi masyarakat di lingkungannya masing-masing agar mengurangi sampah plastik yang secara tidak langsung mempengaruhi kepunahan hiu paus,” pungkasnya.

Sementara itu, untuk materi Kampanye Beli yang baik, Andri mengajak para pengurus dan relawan EH Denpasar untuk menjadi green consumer dengan cara membawa botol minuman (tumbler) ketika bepergian, menggunakan alat transportasi publik, beralih ke makanan yang cara pengolahannya tidak merusak lingkungan, menghemat pemakaian listrik, membawa tas belanja dari kain saat pergi belanja ke pasar tradisional atau Supermarket, dan masih banyak lagi.

Kegiatan Kumbang 2017 juga diisi dengan rapat evaluasi kegiatan EH yang telah berjalan dan akan dilakukan. Hal paling seru adalah kegiatan bermain di kolam renang yang diikuti oleh semua anggota Komunitas EH. Semua peserta nampak begitu gembira dan menikmati sesi games ini.

Teddy C Putra salah satu relawan EH mengaku kegiatan Kumbang 2017 sangat bermanfaat bagi para relawan. Peserta bisa lebih menambah wawasan mengenai konservasi lingkungan dan cara melakukan aksi nyata untuk mendukung pelestarian lingkungan.

“Sangat bermanfaat bagi saya dan lebih paham mengenai konservasi lingkungan dan aksi nyata dalam pelestariannya,” tuturnya. [b]

The post Kumbang 2017, Lebih Dekat dengan Konservasi Lingkungan appeared first on BaleBengong.

Bali Sebenarnya Bisa Mandiri Energi. Tapi…

Pembangkit Listrik Tenaga Surya dibangun untuk mewujudkan Bali mandiri energi. Namun, saat ini justru tidak berfungsi. Foto Anton Muhajir.

Saat ini, Bali masih mengalami ketergantungan energi.

Hampir semua energi di pulau dengan jumlah penduduk sekitar 4,2 juta ini menggantungkan pasokan energinya dari luar pulau. Karena itu, Bali harus mulai menggunakan sumber energi terbarukan yang melimpah, seperti mikrohidro dan panas matahari.

Demikian benang merah diskusi lingkungan yang diadakan Mongabay Indonesia bekerja sama dengan media jurnalisme warga BaleBengong dan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali di Denpasar pertengahan Juni lalu. Pembicara dalam diskusi menjelang buka puasa itu adalah Kepala Bidang Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Bali, Putu Budiana, Direktur PPLH Bali Catur Yudha Hariani, dan penggerak energi surya I Gusti Agung Putradhyana.

I Putu Budiana mengatakan dari sisi ketersediaan energi, Bali relatif baik. Energi listrik, gas, maupun bahan bakar di pulau ini hampir selalu tersedia meskipun Bali tidak memiliki sumber energi tersebut sama sekali. Budiana membandingkan Bali dengan pulau lain seperti Kalimantan.

“Jika listrik di Bali (menunggu) giliran mati, di Kalimantan (menunggu) giliran hidup,” katanya berseloroh.

Kebutuhan listrik di Bali diperkirakan mencapai sekitar 735 megawatt (MW) pada saat beban puncak. Adapun sumber energi listriknya diperoleh dari pembangkit listrik di Gilimanuk sebesar 130 MW, Pemaron 90 MW, dan Pesanggaran 321 MW. Ada pula pasokan listrik dari Jawa melalui kabel bawah laut sebesar 320 MW.

Meskipun demikian, sumber energi pembangkit listrik itu tetap berasal dari luar Bali, seperti batubara dan bahan bakar minyak. Padahal, kondisi itu membuat Bali tergantung pasokan dari luar pulau. “Bali dininabobokan oleh ketersediaan energi yang relatif stabil,” ujar Budiana.

Dia memberikan contoh di desa kelahirannya, Banyuatis, Buleleng. Pada tahun 1960-an, desa di pegunungan Bali bagian tengah ini memproduksi listrik sendiri menggunakan pembangkit mikrohidro. Namun, setelah PLN masuk, pembangkit mikrohidro justru terabaikan.

Upaya lain untuk membangun pembangkit listrik terbarukan pun tak berhasil. Di antaranya adalah rencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Bedugul, Tabanan yang ditolak dengan alasan mengancam kawasan suci umat Hindu Bali. Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya seperti di Kubu, Karangasem maupun pembangkit listrik tenaga angin di Nusa Penida, Klungkung pun tidak berjalan dengan baik.

Dari perspektif energi terbarukan, menurut Budiana, kondisi itu tidak bagus. Bali pun tidak serius dengan upaya mewujudkan kemandirian energi, sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan di pulau ini.

Pada tahun 1960-an, beberapa desa di Bali telahmemproduksi listrik sendiri dengan pembangkit mikrohidro. Namun, setelah PLN masuk, mereka justru terabaikan.

Mandiri Energi

Budiana menambahkan, setidaknya ada dua alasan kenapa percepatan energi terbarukan perlu segera dilakukan di Bali. Pertama, karena pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim sebagai dampak penggunaan sumber energi tidak ramah lingkungan.

Pada tahun 2007 Bali pernah menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim. Bali pun membangun beberapa pembangkit listrik terbarukan termasuk di Karangasem, Bangli, dan Klungkung yang saat ini tak berfungsi.

Kedua, karena dunia mengalami krisis energi selain krisis air dan pangan. “Krisis ini harus kita atasi bersama,” ujarnya.

Negara-negara maju, dia mencontohkan, sudah mengembangkan energi-energi terbarukan seperti angin dan matahari sehingga Indonesia, termasuk Bali, pun harus lebih serius mengembangkannya.

Salah satu warga Bali yang sudah mengembangkan energi terbarukan tersebut adalah I Gusti Agung Putradhyana, akrab dipanggil Gung Kayon. Arsitek ini menggunakan panel surya di rumahnya di Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Tabanan. Gung Kayon juga menggunakan tenaga matahari untuk alat-alat sederhana termasuk pengisi daya telepon, pemotong rumput, atau pemanen padi yang dijual dalam skala terbatas.

Memanen Cahaya Mentari Mengubah jadi Energi

Gung Kayon mengatakan Bali berada di daerah tropis sehingga memiliki potensi energi surya sangat besar. Pada saat cerah, matahari bisa menghasilkan energi listrik sekitar 150 – 200 watt per meter persegi per jam. Dengan perkiraan dalam sehari setidaknya matahari bersinar penuh selama 4 jam, maka bisa diperoleh setidaknya 600 – 800 watt per hari dari 1 meter persegi panel surya.

Saat ini, kebutuhan listrik di Bali pada beban puncak mencapai 734,8 MW. Dengan total luas pulau 5.780 km persegi, Bali hanya perlu 1 persen luas pulaunya untuk tempat pembangkit listrik tenaga surya atau 57,8 km persegi. Tak sampai setengah Kota Denpasar.

“Luasan Itu hanya ilustrasi. Lokasi pembangunannya sendiri bisa menyebar di beberapa tempat, bukan hanya satu lokasi,” ujarnya.

Dari surya panel seluas 1 persen dari total luas pulaunya, Bali bisa menghasilkan setidaknya 8.670 MW. Lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan di Bali.

Terkait dengan pemasangan, menurut Gung Kayon, sudah ada sistem Grid Tied Inverter, di mana daya dari panel surya bisa digandengkan dengan jaringan PLN. Pemasang panel surya pun tidak lagi memerlukan aki atau baterei kecuali jika ingin terus menggunakan siang malam dengan tenaga surya penuh.

Gung Kayon menambahkan, pemasangan panel surya untuk listrik sebenarnya tidak terlalu susah. Untuk lokasi di rumah misalnya tidak hanya di atap rumah tapi juga bisa disebar di mana saja. Pengerjaannya pun bisa bertahap.

“Kita bisa memulai dari sekecil apapun. Skema pembiayaannya pun bisa menggunakan banyak model,” tambahnya.

Menurut Gung Kayon, pemakaian listrik tenaga surya di Bali sebenarnya bisa dimulai dari sektor usaha, kantor-kantor yang beroperasi siang hari, dan bisnis akomodasi pariwisata. Adapun di rumah warga, bisa dimulai dengan memasang lampu-lampu dan peralatan elektronik daya rendah.

“Sambil ke depan menunggu hadirnya piranti-piranti listrik dengan daya makin rendah dan hasil optimal,” katanya.

Sampah rumah tangga di Denpasar potensial diolah menjadi biogas agar mandiri energi. Foto Anton Muhajir.

Mulai dari Rumah

Penggunaan energi terbarukan mulai dari rumah tersebut tidak hanya untuk listrik. Menurut Catur Yudha Hariani, Direktur PPLH Bali, warga juga bisa mulai mengolah sampahnya menjadi biogas. “Denpasar punya potensi mendapatkan energi bersih dari biogas,” ujarnya.

Catur mengatakan, pada April hingga Mei 2017, PPLH Bali dengan dukungan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengadakan survei perihal perilaku warga Kota Denpasar tentang energi bersih dengan 50 responden. Menurut survei itu, jenis sampah yang paling banyak diproduksi warga Denpasar adalah organik. Sebanyak 88 persen sampah rumah tangga itu berupa daun, sisa canang (sarana sembahyang umat Hindu), sayuran, daging, dan buah.

Peluang mengembangkan biogas di Denpasar dengan metode sederhana sebenarnya sangat mungkin dilakukan.

Daripada dibuang, sampah jenis tersebut bisa diolah menjadi kompos ataupun biogas. Sebanyak 62 persen responden mengaku tertarik untuk memproduksi gas dari sampah organik rumah tangga mereka sendiri. Alasan mereka antara lain untuk menghemat biaya rumah tangga, peduli terhadap lingkungan, agar tidak lagi beli gas konvensional, memanfaatkan sampah dapur dan biogas mudah tidak berbahaya.

PPLH Bali sendiri saat ini sedang mengembangkan peralatan sederhana untuk mengolah sampah organik rumah tangga itu menjadi biogas, sesuatu yang sudah diterapkan di beberapa kota, termasuk Bandung, Jawa Barat.

“Peluang mengembangkan biogas di perkotaan khususnya di Kota Denpasar dengan metode sederhana sangat mungkin dilakukan,” kata Catur.

Persoalannya tinggal pada kemauan, mau menerapkan atau tidak. [b]

Catatan: Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Mongabay Indonesia.

The post Bali Sebenarnya Bisa Mandiri Energi. Tapi… appeared first on BaleBengong.

Momok itu Ternyata Berupa Baju Kaos BTR

Atribut Bali Tolak Reklamasi seperti kaos menjadi alat perekat para aktivis yang bergabung dalam gerakan.

 

Kaos Bali Tolak Reklamasi (BTR) kembali jadi korban.

Kali ini pelarangan kaos BTR terjadi di Youth Festival Gianyar akhir pekan lalu. Akibat pelarangan tersebut Youth Festival bahkan dibatalkan pada hari kedua dan ketiga dari rencana semula tiga hari.

Pelarangan ini semakin memperkuat anggapan bahwa sebuah atribut (simbul) bisa menjadi sesuatu yang ‘ditakuti’, terutama ketika dianggap dapat mengganggu kenyamanan mereka yang berkuasa atau yang merasa terhalangi tujuannya. Sudah umum terjadi, ketika sebuah ‘simbul perlawanan’ muncul dan dianggap dapat mengganggu kenyamanan penguasa, maka berbagai cara akan dilakukan untuk membungkam simbul bersangkutan.

Menariknya, serangkaian pembungkaman terhadap atribut BTR itu tidak lantas menyurutkan ‘perlawanan’ rakyat Bali yang tergabung dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali) untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Hal itu tersebut justru menjadi semacam vitamin yang tetap merawat semangat mereka.

Atribut atau simbul sebagai sebuah representasi kesadaran bersama semakin menemukan rohnya ketika kesadaran itu lebih bersifat partisipatif (bukan mobilisasi), yang memang lahir dari dalam dan kemudian diwujudkan dalam tindakan atas kemauan sendiri.

Semakin tergerusnya ruang-ruang publik di Bali, terutama pantai semakin mempersempit ruang gerak orang-orang Bali secara umum. Pendirian sebuah fasilitas pariwisata di pantai, apakah itu hotel, restauran, ataupun fasilitas lain, secara otomatis akan ‘mencaplok’ pantai di depannya. Klaim areal pantai di depan hotel oleh pemiliknya sangat membatasi ruang gerak orang-orang lokal yang berwujud pelarangan bagi orang-orang lokal berada di areal pantai bersangkutan.

Makin tergerusnya ruang-ruang publik di Bali makin mempersempit ruang gerak orang-orang Bali secara umum.

Ngancan nelahan pantai ne. Bendan tongos melasti bisa sing ada ne” (Pantai sudah semakin habis, lama-lama tempat kita untuk melasti bakalan tidak ada). Begitu salah satu ungkapan hati yang sering terdengar.

“Sing bin kudang jahan, tongos raga ne medagang, lakar kena gusur.” (Sebentar lagi tempat jualan kita akan kena gusur).

Ratapan itu saya dengar langsung ketika saya berada di sebuah pantai di Bali yang saat ini berbenah dan menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan domestik tiga atau empat tahun terakhir.

“Jangan mandi di sana, Pak. Di sana arus nya deras!” ujar seorang saptam, ketika saya dan keluarga mandi di bibir pantai. Padahal, ombaknya jauh di tengah dari tempat saya mandi dan hanya berupa riak-riak kecil. Tempat kami mandi memang berada tepat di depan sebuah restoran pinggir pantai.

Instagram Photo

Kegundahan Ketidakberdayaan

Realita-realita seperti di atas sangat umum terjadi, kemudian menimbulkan semacam ‘kegundahan’ dan hanya sayup-sayup terdengar dalam sejumlah keluhan ‘ketidakberdayaan’. Namun, karena fasilitas-fasilitas tersebut dibangun di atas wilayah privat (kepemilikan pribadi), ketidakberdayaan itu pun tidak kemudian berubah menjadi kesadaran kolektif.

Keadaan menjadi lain ketika wilayah yang bukan wilayah privat mulai diusik investor. Wilayah yang saya maksud adalah Teluk Benoa. Semenjak didengungkannya rencana reklamasi Teluk Benoa, sejak itu pula ‘kegundahan’ mulai muncul terhadap dampak yang ditimbulkan. Apalagi setelah melihat apa yang terjadi dengan Pulau Serangan.

Kegundahan ini kemudian menjadi semacam ‘perlawanan’ yang bukan hanya sebatas kata-kata.

Rakyat Bali, terutama yang ‘ngeh’ dengan niat culas di balik rencana reklamasi Teluk Benoa mulai bangkit. Dari jumlah yang hanya puluhan ketika mulai terbentuk, hingga sekarang mencapai puluhan ribu, membuktikan bahwa gerakan ini tumbuh atas dasar kesadaran yang bersifat partisipatif.

Kesadaran partisipatif ini kemudian direkatkan oleh sebuah atribut BTR yang kemudian menjadi momok menakutkan pihak-pihak yang berada di balik rencana reklamasi Teluk Benoa. Ketakutan itu sangat beralasan, karena pengalaman mereka dalam melarang atau memberangus sebuah atribut/komunitas/gerakan selalu berhasil, namun kali ini justru menemui jalan buntu.

Bali Tolak Reklamasi dibangun atas dasar kesadaran partisipatif yang berakar dari ‘ketidakberdayaan’ orang-orang Bali.

Sepertinya mereka lupa bahwa gerakan BTR dibangun atas dasar kesadaran partisipatif yang salah satunya berakar dari ‘ketidakberdayaan’ orang-orang Bali terhadap gempuran kapital dari investor atas nama pariwisata selama ini. Dan, ketika rakyat Bali menemukan harga diri serta kebanggaan mereka kembali pada usaha perlawanan menolak reklamasi Teluk Benoa, maka segala bentuk larangan atribut, ancaman, intimidasi, kriminalisasi, sudah tidak mempan lagi dan malah menjadi bumerang bagi penguasa/aparat itu sendiri.

Semangat perjuangan rakyat Bali semakin kental ketika mereka menemukan cara melawan yang sangat ‘nyambung’ dengan jiwa mereka, yakni lewat ‘seni’. Sudah diakui bahwa ‘seni’ merupakan bagian penting dalam aliran darah orang Bali. Sehingga ketika mereka menemukan cara ‘melawan’ lewat seni (kreativitas), maka jiwa mereka menyatu dengan ‘simbul perlawanan’ yang menjadi wadah ‘kegundahan’ mereka selama ini.

Dengan demikian segala upaya untuk membendung gerakan BTR ini akan sia-sia saja, kecuali memang sudah ada kepastian bahwa Teluk Benoa tidak jadi direklamasi. [b]

The post Momok itu Ternyata Berupa Baju Kaos BTR appeared first on BaleBengong.