Tag Archives: Lingkungan

Gerilya Investor Reklamasi saat Bali Siaga Erupsi

Selama hampir sebulan ini Bali sedang siaga bencana.

Hal itu karena meningkatnya status Gunung Agung menjadi level 4 atau Awas. Mayoritas dari kita sedang berfokus untuk membantu sesama karena peningkatan aktivitas Gunung Agung tersebut.

Ironisnya, ketika sebagian besar warga Bali sedang siaga karena status Awas Gunung Agung itu, investor PT. Tirta Wahana Bali Internasional (PT. TWBI) justru terus bergerilya dan ambil untung dari situasi ini. Mereka terus berupaya meloloskan izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Kabar terbaru, PT TWBI mengajukan permohonan rekomendasi kepada Gubernur Bali yang akan dijadikan dasar untuk mengajukan permohonan izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa kepada Menteri Kelautan dan Perikanan.

Untuk mengajukan izin pelaksanaan reklamasi di Teluk Benoa, selain harus menyertakan izin lokasi dan izin lingkungan (AMDAL), investor juga harus mendapatkan rekomendasi dari Gubernur Bali. Dalam kasus reklamasi Teluk Benoa, maka PT. TWBI harus mendapatkan rekomendasi terlebih dahulu dari Gubernur Bali (Permen KKP No. 28/2014 pasal 14 ayat (3) huruf j) agar dapat mengajukan izin pelaksanaan reklamasi di Teluk Benoa.

Jika berdasarkan surat tersebut, lokasi reklamasi yang diajukan oleh PT. TWBI di adalah Desa Kuta, Tuban, Kedonganan, Jimbaran, Benoa, Tanjung Benoa, Pemogan dan Pedungan. Dari keseluruhan desa tersebut tidak ada satupun desa adat yang mendukung rencana reklamasi yang direncanakan oleh TWBI.

Artinya sampai hari ini, desa-desa adat di Bali masih dan terus konsisten untuk menolak. Lantas kenapa TWBI mengabaikan penolakan dari desa adat dan terus memaksakan reklamasi Teluk Benoa ?

Ngototnya PT. TWBI untuk mereklamasi Teluk Benoa jelas mengabaikan rakyat Bali dan mengabaikan desa adat di Bali yang selama ini tegas bersikap menolak reklamasi Teluk Benoa.

Selain kita melihat fakta ngototnya PT TWBI untuk mereklamasi Teluk Benoa, fakta tersebut di atas jelas menunjukkan bahwa Gubernur Bali juga memiliki kewenangan dalam reklamasi Teluk Benoa. Artinya kita berada pada jalan yang sangat tepat untuk terus bergerak menolak reklamasi Teluk Benoa termasuk pula menggelar aksi-aksi di depan kantor Gubernur Bali.

Sebab, Gubernur Bali dalam rencana reklamasi Teluk Benoa memiliki kewenangan setidak-tidaknya kewenangan untuk menerbitkan rekomendasi.

Hal tersebut berarti pula bahwa tuntutan rakyat Bali yang meminta Gubernur Bali untuk menolak reklamasi Teluk Benoa serta meminta Gubernur Bali untuk bersurat kepada pemerintah pusat untuk mebatalkan Perpres No. 51 Tahun 2014 juga adalah tindakan yang sangat tepat.

Mari kita kuatkan hati, pikiran dan tenaga. Satu tangan untuk membantu sesama, satu tangan lagi tetap awas untuk kemungkinan terburuk dari drama reklamasi Teluk Benoa ini. [b]

The post Gerilya Investor Reklamasi saat Bali Siaga Erupsi appeared first on BaleBengong.

Setelah Gunung Agung Mengeluarkan Asap 1.500 m

Pada Sabtu malam, Gunung Agung sempat mengeluarkan asap putih setinggi 1.500 m. Foto Rio Helmi

Tadi malam, Gunung Agung mengeluarkan asap putih hingga 1.500 m. Apa artinya?

Selama krisis Gunung Agung dari Waspada hingga Awas, inilah asap putih keluar yang paling tinggi. Tadi pagi saya mewawancarai Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gede Suantika.

Berikut ringkasannya.

Rio Helmi (RH): Selamat Pagi, Pak. Kemarin sudah terekam asap setinggi 1.500 m dari kawah. Terus ada berbagai tanggapan di kalangan masyarakat. Kira-kira itu gejala apa?

Gede Suantika (GS): Secara visual, ini kondisi tetap Awas. Sampai saat ini kegempaan dari kemarin sampai saat ini masih tetap kritis. Untuk tektonik lokal di atas 300, terasa sekali; tektonik dalam diatas 500; dan tektonik dangkal diatas 300. Terus terjadi perubahan aktivitas kawah dengan adanya kepulan asao solfarada lebih dari 1500 meter dari atas puncak, awan putih dan tebal.

Dari segi kegempaan tidak ada perubahan, belum signifikan di bawah kawah. Kami menduga bahwa kepulan asap solfarada dipicu oleh curah hujan yang instensif selama tiga hari belakangan ini.

RH: Tapi tidak berdampak pada aktivitas di dalam?

GS: Sampai saat ini belum berdampak. Jadi begini, ada kasus-kasus tertentu pada gunung api yang tidak stabil bila kena air hujan bisa memicu letusan “Freatik” yang bisa menghasilkan awan panas.

Letusan itu ada dua: letusan magmatik yang dipicu oleh pergerakan magma, gas-gas magma yang mendobrak dasar kawah; kemudian yang kedua letusan freatik yang dipicu oleh uap air, adanya air yang masuk ke zona panas di bawah kawah.

Ini ada beberapa kasus di Jepang di mana letusan freatik dapat memicu awan panas. Untuk Gunung Agung curah hujan tidak akan mempengaruhi erupsi, sampai ini erupsi belum terpengaruh.

Artinya curah hujan selama tiga hari ini belum cukup untuk membuat aktivitas lebih besar. Masih terbatas di kawah saja. Hanya air yang masuk zona panas dan menguap.

RH: Apakah fenomena seperti itu memicu aktivitas lebih dalam?

GS: Umumnya suatu letusan itu didahului oleh letusan freatik. Kemudian letusan berikutnya adalah magmatic. Kalau unsur air sudah bekerja maka unsur gas magmatik yang bekerja.

RH: Apakah curah hujan bisa memicu letusan Gunung Agung?

GS: Bahwa itu terjadi tipis kemungkinannya. Ada kasus di Jepang di mana itu terjadi, tapi kecil sekali kemungkinan itu bisa terjadi di Gunung Agung.

RH: Jadi dengan adanya fenomena itu kemarin apakah tetap statusnya atau ada peningkatan?

GS: Masih tetap karena indikasi dari seismogram belum menunjukkan hal yang mengkhawatirkan ke arah magmatik.

RH: Maaf, saya yakin ini pertanyaan yang sudah Bapak dapatkan seribu kali. Status seperti ini bisa berlangsung berapa bulan?

GS: Sementara ini mindset kami adalah Gunung Agung ini akan meletus karena aktivitas magmatik. Jadi kami belum mempertimbangkan curah hujan yang sedikit ini akan mempengaruhi erupsi yang besar, baru ya ‘clearance’ kawah saja.

Ya mungkin kalau agak lama ada sedikit pengaruhnya. Tapi yang sebenarnya main di sini adalah gas-gas vulkanik yang di dalam. Jadi kita belum menemukan petunjuk erupsi dekat-dekat ini dari kegempaan yang ada. Tapi kegempaan tetap diatas kritis.

RH: Apakah (kegempaan) naik terus?

GS: Naik tetap naik, tapi fluktuatif.

RH: Terima kasih, Pak Gede Suantika. [b]

The post Setelah Gunung Agung Mengeluarkan Asap 1.500 m appeared first on BaleBengong.

Tujuh Langkah Mitigasi Jika Gunung Agung Erupsi

Petugas menunjukkan Peta Rawan Bencana Gunung Agung kepada pengunjung di Pos Pengamatan di Rendang. Foto Anton Muhajir.

Mari berdoa untuk yang terbaik, tetapi bersiaplah untuk yang terburuk.

Mitigasi artinya mengurangi dampak buruk. Bisa dari bencana alam dan peristiwa lain. Sejumlah peristiwa bencana alam besar memperlihatkan semakin berdaya warga melakukan mitigasi, risikonya bisa jauh berkurang.

Nah, saat ini Bali menghadapi kesiapsiagaan karena Gunung Agung sudah dinyatakan di level tertinggi untuk harus waspada. Level IV, awas, alert. Apakah warga di daerah rawan bencana atau di luar itu sudah mengetahui. Apa sistem peringatan dini yang harus direspon?

Berikut hal yang dirangkum dari perjalanan pembelajaran beberapa hari ini. Silakan tambah atau koreksi di kolom komentar, ya.

Pertama, peringatan evakuasi di kawasan rawan bencana (KRB).

Warga sudah diminta meninggalkan tempat tinggal jika berada dalam radius 9-12 km dari kawah. Otoritas perlu memasang tanda-tanda di area masuk radius kawasan rawan bencana.

Sudah adakah? Apa yang dilakukan untuk yang bolak balik menengok rumah?

Kedua, peringatan dini.

Kongres Badan Meteorologi Dunia memberikan kesimpulan, sistem peringatan dini tak cukup lagi menyelamatkan semua. Harus didukung tanggap di hilir, meningkatkan respon masyarakat.

Dalam konteks mitigasi apa peringatan dini berbasis teknologi dan tradisional yang disiapkan? Bagaimana antisipasi jika listrik terputus?

Bagaimana sosialisasinya? Warning Receiver System (WRS)? Sistem alarm/sirene seperti apa? Kita harus memastikan jalur evakuasi bencana tidak terhambat kendaraan pribadi.

Ketiga, sumber informasi.

Pastikan semua informasi yang kita peroleh berasal dari sumber-sumber resmi. Biar tidak termakan hoax.

Karena itu perlu pastikan apakah sudah punya referensi sumber informasi yang kredibel soal situasi terkini. Apa akun media sosial pemerintah/BPBD? Radio frekuensi berapa? No telepon darurat? Jika sistem komunikasi online terputus, bagaimana informasi ini digemakan?

Pos pengungsian mandiri oleh warga di Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem. Foto Anton Muhajir.

Empat, siapkan tas darurat.

Walau tak masuk dalam kawasan rawan bencana, tidak ada salahnya menyiapkan satu tas darurat berisi hal paling penting seperti surat-surat, uang tunai, baju, dan sedikit makanan.

Pastikan tas darurat selalu siap kapan saja.

Kelima, solidaritas warga.

Dalam situasi apa pun, solidaritas warga untuk korban adalah kunci. Gelombang bantuan sangat penting, tapi bagaimana ini didistribusikan? Bagaimana alur pemerataan logistik ke tiap pos, apa yang bisa dilakukan untuk pengawasan penggunaannya?

Keenam, database.

Warga bisa merangkum serpihan data seperti pengungsi dan sumbangan jika belum ada database yang membantu mengarahkan penyaluran donasi. Juga mencatat dan merangkum data yang ditemukan di lapangan, jadi bisa menjadi cek ricek data lain. Di masa depan, data-data ini amat berguna untuk dianalisis.

Ketujuh, jangan panik.

Bicara gampang tapi pelaksanaan susah. 🙂

Banyak fakta yang membuktikan kepanikan lebih sering jadi sumber musibah dibanding bencana itu sendiri. Misalnya kecelakaan di jalan, kehilangan keluarga, dan lainnya.

Demikian. Mari terus siapkan diri jika akhirnya Gunung Agung erupsi sambil tetap berdoa agar dia segera kalem kembali. [b]

The post Tujuh Langkah Mitigasi Jika Gunung Agung Erupsi appeared first on BaleBengong.

TrashStock Festival 2017 untuk Pariwisata Berkelanjutan

Kegiatan TrashStcok Festival kembali diadakan tahun ini dengan tema Pariwisata Berkelanjutan.

TrashStock Festival 2017 tahun ini mengambil tema Pariwisata Berkelanjutan.

Tema itu selaras dengan tujuan International Year of Sustainable Tourism for Development dari United Nation World Tourism Organization (UNWTO) tahun 2017. Tema ini membawa pesan bahwa anak muda Bali harus melindungi pulaunya dari polusi plastik untuk menjaga pariwisatanya.

Sebagian besar masyarakat Bali mengandalkan pekerjaan di industri pariwisata, tetapi tak menjaga kebersihannya. Akibatnya, wisatawan tidak nyaman menikmati Bali kalau banyak sampah.

TrashStock Festival 2017 akan diadakan pada 26-27 Agustus di Kulidan Kitchen & Space, Desa Guwang, Gianyar.

Keunikan TrashStock ada pada kemampuan untuk memadukan komponen musik, artistik dan plastik. Karena itu, festival ini juga akan mengadakan diskusi tentang sampah plastik, seniman dan pariwisata pada acara Meet the Creator yang akan mendatangkan beberapa pemangku kepentingan. Ngobrol santai ini bekerja sama dengan Kulidan Kitchen & Space.

“Dalam acara ini kita bisa memperdalam pengetahuan tentang kondisi sampah di Bali serta pengaruhnya terhadap pariwisata di Bali,” ujar Hendra Arimbawa, Co-Founder TrashStock.

Tahun ini TrashStock Festival 2017 kembali menghadirkan acara edukatif dan ramah lingkungan. Hendra mengatakan para seniman mempersembahkan bentuk kesenian dan pergelaran musik yang dipadukan dengan kreativitas seperti lukisan, instalasi, fotografi, musik yang dibalut tema lingkungan. “Salah satunya ada Vesplasticology, vespa hias karya Sadie Paulus yang menggunakan teknik las,” ujarnya. Vespa ini akan dipajang di TrashStock Festival 2017.

Selain itu juga ada workshop membuat lukisan dari sampah plastik untuk anak-anak. Uniknya, mentornya berumur 13 tahun bernama Komang Arya Prabawangsa asal Desa Batubulan, Kabupaten Gianyar. Arya merupakan siswa kelas 2 SMP Sila Candra yang memulai wirasusaha menjual kerajinan tas, dompet, taplak meja dari sampah plastik.

Kegiatan edukatif namun menyenangkan juga disajikan dalam acara melayangan ramah lingkungan di sawah belakang lokasi acara, membuat batu bata dari sampah plastik serta photography hunting Recycled Fashion Show.

Nah, sesuai dengan khasnya TrashStock yaitu musik, artistik, plastik pada acara dua hari satu malam ini juga menampilkan pagelaran musik berjudul ‘Senandung Senja di Tepi Sawah’ dari Sanggar Anak Tangguh. TrashStock Festival juga akan diramaikan oleh belasan musisi akustik dan band yaitu Navicula, ZIO, Bayow, Mercy Band, Mata Jendela, Supersoda, Matilda, Matajiwa, Nuansa Hijau, Okky Ade Candra, Sandra Fay,  Rastafara Cetamol dan White Swan

“Melalui TrashStock 2017 Festival ini, semoga dapat membuka mata masyarakat Bali tentang krisis sampah yang dapat mengurangi daya tarik wisata. Karena ketika masyarakat Bali tidak peduli dengan sampahnya, sama artinya tidak peduli tentang kesejahteraan mereka sendiri,” tutup Hendra. [b]

The post TrashStock Festival 2017 untuk Pariwisata Berkelanjutan appeared first on BaleBengong.

Inilah Pusat Konservasi Laut Pertama di Indonesia

Pembukaan Pusat Konservasi Kelautan Coral Triangle Center Sanur. Foto CTC.

Bali menjadi tempat lahirnya pusat konservasi laut.

Minggu sore kemarin, pusat pendidikan dan pelatihan bagi upaya pelestarian laut itu dibuka di Sanur, Bali. Ambisinya menjangkau lebih dari 1,5 juta masyarakat hingga tahun 2020. Harapannya mereka akan akan lebih peduli terhadap laut dan seluruh pihak yang bergantung pada sektor bahari.

Pusat Konservasi Laut ini merupakan pertama dan satu-satunya di Indonesia. Fasilitas unik, berupa ruang pembelajaran terpadu bagi para pegiat profesional dan pengelola wilayah kelautan, pelajar, kelompok muda, keluarga, wisatawan dan pelaku usaha, menjadi tempat mempelajari cara melindungi laut kita.

Indonesia adalah rumah bagi sekitar 60 persen spesies terumbu karang dan ikan-ikan karang beraneka ragam di bumi ini. Lebih dari 70 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir, sehingga kepastian dan keberlanjutan ekosistem perairan laut ini menjadi penting sebagai sumber pangan, penghidupan, dan perlindungan dari dampak cuaca buruk.

Di sisi lain, ekosistem ini mulai terancam oleh kegiatan penangkapan ikan secara berlebihan dan merusak, pariwisata yang tidak bertanggung jawab, pembangunan wilayah pesisir yang tidak terkendali, serta polusi.

Penyadartahuan, pendidikan, dan pelatihan menjadi kunci efektif dalam melanggengkan perubahan jangka panjang. Melalui pameran yang inovatif dan partisipatif, para pengunjung Pusat Konservasi Laut akan dapat belajar mengenai keterkaitan antara laut, kesejahteraan manusia dan penghidupan, serta pentingnya perlindungan laut.

Pusat kegiatan ini dijalankan oleh Yayasan Indonesia bernama Coral Triangle Center (CTC), organisasi nirlaba yang berpusat di Bali dengan cakupan regional dan dampak global. Berdiri pada 2010, CTC memberikan pendidikan, pelatihan, dan memastikan bahwa Kawasan Konservasi Perairan di pusat keanekaragaman hayati laut ini terkelola dengan baik dan efektif.

“Dengan selesainya fase pertama dari pembangunan pusat kegiatan ini, kita telah memulai bab baru mengenai konservasi laut di Indonesia. Kami berharap pusat kegiatan ini dapat menjadi sumber dari kegiatan pendidikan, pelatihan informasi, dan tentu saja inspirasi,” kata George Tahija, Ketua Dewan Pengawas CTC dalam acara pembukaan fasilitas pelatihan.

CTC juga merupakan pusat pelatihan bersertifikasi dari Pemerintah Indonesia dan mitra resmi dari Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (Inisiatif Segitiga Karang untuk Terumbu Karang, Perikanan dan Ketahanan Pangan). CTC mendukung kegiatan pelestarian laut di lapangan melalui situs-situs pembelajaran di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida di Bali dan jaringan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Banda di Maluku.

CTC berencana memperluas jangkauan dan pengaruhnya dengan membangun Pusat Konservasi Laut di Bali yang akan menjadi pusat percontohan bagi kegiatan pelatihan konservasi dan penjangkauan, serta lokasi pertunjukan seni budaya, serta untuk mengajak lebih banyak lagi masyarakat untuk peduli terhadap laut Indonesia dan lengkungan kelautan di kawasan segitiga karang.

“Kita perlu meningkatkan penyadartahuan, terutama di kalangan generasi muda yang akan mewarisi masa depan dan keanekaragaman hayati yang kita miliki. Oleh karena itu, kita memiliki tujuan utama agar pusat kegiatan yang baru ini dapat menjadi wahana pendidikan dan inspirasi bagi generasi mendatang untuk melindungi sumber daya laut kita,” Tahija menambahkan.

CTC juga telah mendorong aksi bersama dengan memimpin jejaring pemimpin perempuan, pemerintah daerah, dan pelaku dunia usaha, yang telah turut serta melaksanakan konservasi sumber daya laut di kawasan Segitiga Karang – termasuk Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste. Pusat Konservasi Laut ini akan memegang peranan kunci dalam menjangkau para pemangku kepentingan di seluruh enam negara tersebut.

Suseno Sukoyo, Penasihat Khusus bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia dalam acara pembukaan pusat kegiatan mengatakan fasilitas semacam Pusat Konservasi Laut CTC ini adalah yang pertama di Indonesia dan sangat inovatif. Ini merupakan salah satu bukti bahwa CTC adalah lembaga yang memposisikan dirinya di depan dalam upaya pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di Indonesia.

“Hal ini bahkan menunjukkan bahwa CTC adalah contoh kepemimpinan dalam pembangunan konservasi kelautan dan perikanan di dunia,” lanjutnya.

Pusat Konservasi Kelautan dilengkapi dengan kolam berlatih selam. Foto CTC.

Kawasan Segitiga Karang merupakan pusat bagi keanekaragaman hayati laut dunia. Kawasan ini menjadi hunian bagi 76 persen spesies karang dan 37 persen dari seluruh spesies ikan karang yang telah dikenali. Wilayah ini juga penting sebagai kawasan pemijahan bagi spesies ikan bernilai ekonomis penting seperti tuna, serta hewan laut yang mempesona dan dilindungi, seperti paus, penyu, pari manta, ikan mola-mola, dan masih banyak lagi.

Kekayaan sumber daya laut dan pesisir yang tak terkira ini memberi manfaat besar bagi lebih dari 363 juta masyarakat dari enam negara tersebut, termasuk juga manfaat bagi jutaan masyarakat lain di luar kawasan itu. Ikan dan sumber daya laut lainnya merupakan sumber pendapatan, makanan, penghidupan, dan komoditas ekspor di seluruh negara Segitiga Karang.

Selain menyajikan fasilitas pelatihan terkemuka dan kolam pelatihan selam, Pusat Konservasi Laut juga akan menjadi wahana inovatif dan interaktif dalam menyebarluaskan pesan konservasi laut kepada masyarakat luas.

Salah satu wahana bertema laut, yakni Escape Room SOS from the Deep (Permainan Tantangan Penyelamatan dari Kedalaman), menjadi sarana interaktif yang menyenangkan untuk memberi informasi kepada masyarakat mengenai lingkungan laut dan segala ancaman yang terjadi saat ini bersamaan dengan usaha dalam memecahkan tantangan permainan.

Pengunjung akan mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai situasi laut terkini, apa saja yang dapat mereka lakukan, serta tentu saja senyum kepuasan di wajah mereka.

Lokasi pameran yang masih terus dikembangkan adalah Tembok Karang, sebuah instalasi seni keramik yang monumental dalam mengemas keindahan kehidupan bawah laut. Desain dari karya seni komunitas ini diperoleh dari keindahan dan keberagaman ekosistem terumbu karang.

Dia akan menjadi sarana peningkatan kesadartahuan masyarakat akan pentingnya peran laut yang sehat terhadap Kawasan Segitiga Karang, jantung dari keanekaragaman hayati laut. [b]

The post Inilah Pusat Konservasi Laut Pertama di Indonesia appeared first on BaleBengong.