Tag Archives: Lingkungan

Diskusi dan Konser Hari HAM “Semakin Dibungkam Semakin Melawan”

Dokumentasi konser Semakin Dibungkam Semakin Melawan, 10 Desember 2017 di TBK.

Amnesty Internasional Indonesia dan ForBALI rayakan peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) dengan diskusi dan konser musik “Semakin Dibungkam Semakin Melawan”

Minggu, 10 Desember 2017 dalam rangka merayakan Hari HAM Internasional, Amnesty International Indonesia dan ForBALI menggelar acara bincang santai yang mengangkat tema Tantangan HAM hari ini, melawan pembungkaman terhadap gerakan Bali tolak reklamasi Teluk Benoa.

Narasumber berasal basis gerakan di Kepaon yang selama perjuangan menolak reklamasi telah mengalami pengerusakan baliho sebanyak 13 kali. Juga dari Klungkung yang mengalami intimidasi dari aparat saat mengunjungi festival rakyat berupa perampasan bendera dan kaos sehingga harus pulang tanpa mengenakan baju.

Sedangkan Jerinx SID membeberkan bagaimana band Superman Is Dead mengalami banyak pembatalan kontrak manggung akibat terlalu vokal menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

I Wayan ‘Gendo’ Suardana, Koordinator Umum ForBALI menyampaikan setelah selama 4 tahun pelarangan-pelarangan penggunaan atribut BTR dilakukan oleh aparat, maka belakangan terjadi perubahan pola dengan cara membenturkan sipil dengan sipil. Yang melakukan pelarangan adalah panitia acara ataupun petugas keamanan event.

Dokumentasi diskusi Amnesty Internasional Indonesia dan ForBALI

Usman Hamid dari Amnesty International Indonesia menjelaskan, maraknya pembangunan infrastruktur di daerah, termasuk di Bali melahirkan kasus-kasus pelanggaran HAM baru seperti penggusuran, perampasan tanah petani atas nama pembangunan tanpa memperhatikan aspek HAM warga. Para aktivis di Bali juga dikriminalisasi karena menyuarakan penolakan atas proyek reklamasi Teluk Benoa. Untuk menangkal dan melawan gerakan politik demonisasi, Amnesty International meluncurkan inisiatif “#JoinForces” untuk bersatu bersama gerakan-gerakan HAM lokal dan nasional di Indonesia saat melemahnya niat negara untuk fokus pada masalah HAM.

“Amnesty International memilih Bali sebagai salah satu tempat launching daerah menjadi salah satu tempat dimana pelanggaran HAM baru terjadi atas nama pembangunan. Pembangunan yang tidak menghargai HAM harus ditolak,” ujar Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia tersebut. Acara bincang santai tersebut ditutup oleh penampilan duokustik Jerink SID dan Sonny Bono.

Setelah usai acara bincang terkait tantangan HAM pada sore harinya menggelar acara musik yang dimeriahkan oleh musisi-musisi Bali dan band asal Jakarta, Marjinal.

Setelah sore harinya mengadakan acara bincang santai mengenai kondisi HAM di Bali, Amnesty International Indonesia dan ForBALI menggelar konser musik “Semakin Dibungkam Semakin Melawan” yang dipadati ratusan orang sampai TBK penuh sesak.

Beberapa band tampil malam itu, di antaranya Jangar, The Eastbay, Patrick The Bastard, Geekssmile, Punk Reformasi, Rastafara Cetamol dan juga seni bondres Temuyuk Mekuris dan Marjinal mengakhiri konser musik ini.

Roy Djihard dari kelompok Punk Reformasi gabungan dari beberapa band punk di Bali menyampaikan bahwa mereka sangat mendukung acara yang diselenggarakan untuk merayakan Hari HAM International tersebut. Menurutnya pelanggaran HAM banyak terjadi di Bali utamanya terhadap gerakan masyarakat Bali menolak reklamasi. “Kami akan selalu berada dibarisan depan dalam melawan kerakusan yang ingin merusak tanah Bali,” ungkap Roy yang juga diamini Jayak, anggota Punk Reformasi lainnya. “Kita harus bangkit melawan terhadap usaha-usaha pembungkaman suara rakyat,” tandas Jayak.

Sementara Mike dari Marjinal menyampaikan mereka sangat salut terhadap perjuangan masyarakat Bali dalam  menolak reklamasi Teluk Benoa yang dikoordinir oleh ForBALI. Selama berada di Bali pasti menyempatkan waktu untuk ikut menyuarakan perlawanan utamanya kepada para pemuda agar jangan pernah takut menyuarakan kebenaran. “Semakin ditekan kita akan semakin melawan tindakan-tindakan pembungkaman,” ujar Mike.

Wayan Gendo Suardana menyampaikan bahwa ForBALI dalam melakukan perjuangan jauh dari tindakan-tindakan kekerasan, perjuangan dilakukan dengan damai dalam mencapai tujuan seperti yang ditunjukkan malam itu. “Ribuan orang hadir malam ini untuk bersolidaritas demi tegaknya HAM di Indonesia dan jauh dari insiden apapun, ini menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang mengedepankan perdamaian dalam mencapai tujuan,” tandas Gendo.

Pada konser musik tersebut juga dibuka kotak donasi untuk membantu pengungsi erupsi Gunung Agung yang disalurkan melalui posko peduli yang dibentuk ForBALI bersama Walhi Bali.

The post Diskusi dan Konser Hari HAM “Semakin Dibungkam Semakin Melawan” appeared first on BaleBengong.

Posko WALHI Bali dan ForBALI Salurkan Bantuan ke Pengungsi

Pendisitribusian Bantuan di Desa Pasedahan

Berdasarkan info Posko WALHI Bali-ForBALI  di Klungkung dan Karangasem, lokasi pengungsian yang sudah ditinggal beberapa waktu lalu saat ini kembali ditempati oleh pengungsi. Hal tersebut terjadi sebagai akibat dari peningkatan status menjadi awas dan erupsi Gunung Agung.

Melihat kondisi itu, Posko WALHI Bali – ForBALI segera mendistribusikan bantuan ke titik-titik pengungsian tersebut. Menurut Direktur WALHI Bali Suriadi Darmoko, bantuan yang disalurkan tersebut merupakan bantuan yang mereka kumpulkan pada saat Gunung Agung berstatus siaga.

Suriadi juga menjelaskan bahwa tim mereka terus bergerak menyalurkan bantuan ke titik pengungsian. Seperti yang dilakukan pada 28 November 2017, Ketua Pemuda STT. Satya Dharma, Br Lebih Beten Kelod, Wayan Agus Muliana bersama Kelian Dinas Br.Lebih Beten Kelod I Wayan Wirta Saputra dan Kepala Desa Lebih I Wayan Gede Pradnyana menyerahkan bantuan yang diterima oleh Koordinator ForBALI, Wayan Gendo Suardana. “Oleh Koordinator ForBALI, bantuan tersebut langsung diserahkan kepada masyarakat dari Desa Geriana Kauh yang saat ini mengungsi di Banjar Sinduwati, Sidemen. Bantuan langsung diterima oleh Klian Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata.” ujar Suriadi.

Kelian Adat Geriana Kauh usai menerima bantuan tersebut menyampaikan ucapakan terima kasih kepada WALHI dan ForBALI. “Terima kasih atas kunjungan dan sumbangan dari WALHI dan ForBALI. Kami menyampaikan apresiasi karena sedari awal posko WALHI ForBALI merespon kami yang mengungsi secara mandiri karena tidak ada instruksi apapun dari pemerintah” ujar Nyoman Subrata.

Sementara itu, sore harinya sore harinya Komunitas Nak Bali Tolak Reklamasi dari Leak Sanur/ForBALI, salah satu basis tolak reklamasi Teluk Benoa di Desa Adat Intaran juga menyalurkan bantuan kepada para pengungsi melalui Posko WALHI Bali – ForBALI di Pasedahan. “kami mendampingi Komunitas Nak Bali Tolak Reklamasi dan Leak Sanur ke titik pengungsian. Bantuan tersebut secara langsung diserahkan mereka kepada pengungsi yang mengungsi di Desa Pasedahan Karangsem”, ujar Komang Subagiarta dari Posko WALHI Bali – ForBALI di Desa Pasedahan.

Banjar Sinduwati, Sidemen

WALHI Bali – ForBALI saat ini membuka 3 posko yakni di Denpasar, Klungkung dan Karangasem. Di Denpasar posko bertempat di Kantor WALHI Bali, Jalan Dewi Madri IV Nomor 2, Denpasar. Posko Klungkung bertempat di Drublick Store, Jalan Flamboyan No. 36 (Utara Rumah Sakit Klungkung) sedangkan Posko Karangasem terletak di Balai Sekertariat Sekaa Truna Truni Bhuana Jaya Asri, Desa Pasedahan. “Posko Peduli Pengungsi Gunung Agung ini kami buka sejak tanggal 22 dan 23 September 2017 sampai waktu yang tidak ditentukan untuk penyaluran bantuan kepada para pengungsi yang terdampak aktivitas Gunung Agung. Bagi siapapun yang mempunyai kendala atau bingung untuk menyalurkan bantuan kemanusiaannya dapat melalui posko kami”, ungkapnya.

Suriadi menjelaskan, dengan adanya hujan abu sebagai akibat dari erupsi Gunung Agung, kebutuhan pokok bagi para pengungsi semakin bertambah. “Jika sebelumnya kebutuhan pokok adalah bahan makanan dan perlengkapan MCK dan perlengkapan tidur, kini masker juga dibutuhkan. Kami menyarankan kepada semua pihak yang akan menyalurkan bantuan ke pengungsi, dapat menyalurkan banuan berupa sembako, perlengkapan lansia, perempuan dan bayi termasuk masker”, jelasnya.

The post Posko WALHI Bali dan ForBALI Salurkan Bantuan ke Pengungsi appeared first on BaleBengong.

Kolaborasi untuk Reforestasi Bentang Alam Gunung Agung

Reforestasi bentang alam Bali sangat mendesak dilakukan.

Kamis kemarin (23 November 2017), Conservation International (CI) Indonesia dan Nissan Global mengukuhkan kerja sama jangka panjang program reforestasi bentang alam Gunung Agung, Bali.

Program ini merupakan bagian integral dari program CI di Bali yang memfokuskan pelestarian alam secara “Nyegara Gunung” (ridge to reef conservation). Program sudah dimulai dengan pembangunan jejaring kawasan konservasi laut seluruh Bali sejak 10 tahun terakhir.

Reforestasi bertujuan memperbaiki dan menjaga kelestarian ekosistem darat yang penting bagi masyarakat serta kelestarian ekosistem pesisir di Kawasan Konservasi Perairan Karangasem, termasuk menjaga kelestarian salah satu situs tujuan pariwisata di Desa Tulamben: Kapal Karam USAT Liberty Wreck.

Program konservasi Nyegara Gunung adalah penerjemahan filosofi masyarakat Bali dalam melestarikan alam dan budaya, yang pada hakekatnya mencerminkan model tata kelola darat dan laut pulau Bali yang terintegrasi.

Pulau Bali dikelilingi laut dan memiliki hutan seluas 130.686,01 hektar (BPS, 2017). Sekitar 12,5 persen (16.323.68 hektar) luas lahan kritis di Bali pada tahun 2013 (BPDASHL Unda Anyar, 2017) yang berada dalam kawasan hutan sangat membutuhkan pendekatan hulu ke hilir dalam memelihara kelestarian alam, dan sekalian mendukung kehidupan masyarakat lokal.

Pelaksanaan program saat ini berfokus di Kabupaten Karangasem di mana bentang alam gunung dan laut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, dan berharap diperluas ke seluruh Bali.

Vice President CI Indonesia, Ketut Sarjana Putra menyampaikan bahwa reforestasi bentang alam Bali sangat mendesak dilakukan untuk mengurangi dampak sedimentasi yang lebih parah terhadap ekosistem terumbu karang, aset pariwisata Bali, serta menjaga ketersediaan air pulau Bali.

Sebagai satu ekosistem pulau kecil, Bali memerlukan pendekatan pengelolaan pembangunan yang memperhatikan keterhubungan ekologi darat-laut. Bali membutuhkan hutan yang lestari untuk menjamin laut yang sehat dan produktif.

“Sebagai tujuan pariwisata internasional, alam dan budaya Bali merupakan dua aset penting yang perlu dilestarikan,” kata Ketut.

Ketut mengatakan melalui inisiatif reforestasi bentang alam ini CI mengajak sektor swasta untuk berinvestasi merestorasi alam sebagai aset pariwisata di Bali, yang pada akhirnya akan memberi nilai tambah bagi Bali itu sendiri.

“Kami harapkan program reforestasi ini menjadi pendekatan kelola ekosistem darat yang melengkapi dukungan inisiatif pembentukan jejaring KKP Bali sebagai dasar pengelolaan ekosistem laut,” Ketut menjelaskan.

Penyerahan kunci mobil operasional program reforestasi bentang alam Gunung Agung oleh Presiden Direktur Nissan Motor Indonesia, Eiichi Koito sebagai perwakilan Nissan Global kepada Vice President CI Indonesia, Ketut Sarjana Putra disaksikan oleh A.A Gde Rama Putra, SE, Asisten II Bupati Karangasem

Penyeimbangan Kelestarian

Selanjutnya beliau menjelaskan konsep one island management yang menekankan pada penyeimbangan kelestarian sumber daya laut dan darat sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam upaya konservasi perairan, pembentukan kawasan konservasi perairan mendapat sambutan penuh dari Pemerintah dengan pencadangan 3 KKP di Kabupaten Jembrana, Buleleng dan Karangasem dengan total luas 23.429,66 hektar.

Khusus KKP Nusa Penida, telah mendapatkan penetapan Menteri (Surat Keputusan Kementerian Kelautan dan Perikanan No. 24 tahun 2014) dengan luas area 20.057,2 hektar.

Selama lima dekade turisme telah menjadi salah satu sumber ekonomi utama Provinsi Bali yang memiliki potensi pariwisata yang sangat tinggi. Namun, potensi ini tidak diimbangi dengan kondisi lingkungan yang kondusif. Sampai saat ini permasalahan sampah, kekurangan air, dan perubahan fungsi lahan menjadi masalah lingkungan yang perlu diatasi segera untuk kelestarian wilayah ini.

Dalam upaya mengatasi kompleksitas tersebut, CI Indonesia melaksanakan inisiatif program konservasi lingkungan dengan fokus program reforestasi melalui pendanaan Nissan Global di lokasi seluas 100 hektar meliputi kawasan hutan lindung dan lahan masyarakat di Tulamben serta Desa Dukuh yang merupakan wilayah cukup penting karena merupakan wilayah tangkapan air. Nissan juga memberikan satu unit mobil project untuk menunjang kegiatan reforestasi di Bali.

Eiichi Koito, President Director Nissan Motor Indonesia menyatakan kita selalu bertanya, bagaimana cara membantu membangun masa depan yang cerah untuk lingkungan yang kita tinggali. “Hari ini, kita sadar akan komitmen kita dengan mendukung Conservation International Indonesia sebagai mitra Nissan Global, melalui donasi mobil Navara, untuk memelihara dan melestarikan kawasan Gunung Agung yang merupakan kawasan penting penyediaan air bersih untuk banyak area di Bali,” ucap Koito.

Dalam memastikan tercapainya tujuan program, kerja sama dari awal dibangun dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan kelompok Tani. “Dukungan dari semua pihak sangat penting dalam membantu kelompok masyarakat untuk mengelola lahan kritis di Desa Dukuh agar hutan lestari,” ungkap I Nengah Arka Ketua Kelompok Tani Hutan Legundi Lestari Indah.

Penanaman pohon dewandaru di lokasi penanaman yang terletak di Desa Dukuh oleh Ketut Sarjana Putra bersama perwakilan Kelompok Tani Ternak Darma Kerti dan Kelompok Tani Hutan Legundi Lestari Indah yang menjadi mitra lokal dalam program reforestasi

Dampak Ekologi

Program reforestasi di kawasan hulu Desa Dukuh dan Tulamben, selain meningkatkan ekonomi masyarakat juga memberi dampak positif secara ekologi. “Kegiatan kami sekaligus menjaga DAS (Daerah Aliran Sungai) di Desa Dukuh dan Tulamben dalam menurunkan run-off yang membawa sedimentasi lumpur dari daerah hulu ke laut (red – KKP Tulamben),” ujar I Made Iwan Dewantama, Bali Program Manager, CI Indonesia.

Baik CI Indonesia maupun Nissan Global memegang prinsip bahwa konservasi yang berhasil adalah yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka pendekatan yang holistik, salah satunya melalui budaya lokal, adalah aset ekonomi yang memiliki peranan penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Suyatno Sukandar, Direktur Kawasan Konservasi, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan apresiasi atas inisiatif reforestasi hutan di bentang alam Gunung Agung, sebagai sistem penopang kehidupan yang perlu dilestarikan dan dikelola secara berwawasan lingkungan dan seimbang antara konservasi dan ekonomi.

Beliau mengapresiasi aktivitas perhutanan sosial yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, serta mengapresiasi atas model kelola darat-laut terintegrasi pada program CI Indonesia di Bali.

“Wawasan lingkungan atas keterkaitan ekologi darat-laut perlu menjadi perhatian semua pihak dalam tata kelola pembangunan,” kata Sukandar.

Sukandar juga mengajak CI, Nissan, dan mitra serta swasta lainnya terlibat dalam kegiatan Pemulihan Ekosistem Kawasan Konservasi di seluruh Indonesia untuk memenuhi target pemulihan ekosistem kawasan konservasi yang tercantum di dalam Renstra Ditjen KSDAE, seluas 100.000 ha sampai 2019. [b]

The post Kolaborasi untuk Reforestasi Bentang Alam Gunung Agung appeared first on BaleBengong.

Gunung Agung Meletus Tipe Freatik, Ini Rekomendasi untuk Warga

Laporan warga di twitter @Balebengong

Letusan freatik bukan sesuatu yang aneh jika status gunungapi dalam kondisi siaga.

Gunung Agung yang meletus pada Selasa (21/11/2017) pukul 17:05 WITA, termasuk letusan jenis freatik. Tinggi asap kelabu tebal dengan tekanan sedang maksimum 700 meter.

Letusan freatik terjadi akibat adanya uap air bertekanan tinggi. Uap air tersebut terbentuk seiring dengan pemanasan air bawah tanah atau air hujan yang meresap ke dalam tanah di dalam kawah kemudian kontak langsung dengan magma. Letusan freatik disertai dengan asap, abu dan material yang ada di dalam kawah. 

Letusan freatik sulit diprediksi. Bisa terjadi tiba-tiba dan seringkali tidak ada tanda-tanda adanya peningkatan kegempaan. Beberapa kali gunungapi di Indonesia meletus freatik saat status gunungapi tersebut Waspada (level 2) seperti letusan Gunung Dempo, Gunung Dieng, Gunung Marapi, Gunung Gamalama, Gunung Merapi dan lainnya. Tinggi letusan freaktik juga bervariasi, bahkan bisa mencapai 3.000 meter tergantuk dari kekuatan uap airnya.

Jadi letusan freatik gunungapi bukan sesuatu yang aneh jika status gunungapi tersebut di atas normal. Biasanya dampak letusan adalah hujan abu, pasir atau kerikil di sekitar gunung.

Memang letusan freatik tidak terlalu membahayakan dibandingkan letusan magmatik. Letusan freatik dapat berdiri sendiri tanpa erupsi magmatik. Namun letusan freatik bisa juga menjadi peristiwa yang mengawali episode letusan sebuah gunungapi. Misalnya Gunung Sinabung, letusan freatik yang berlangsung dari tahun 2010 hingga awal 2013 adalah menjadi pendahulu dari letusan magmatik. Letusan freatik Gunung Sinabung berlangsung lama sebelum diikuti letusan magmatik yang berlangsung akhir 2013 hingga sekarang.

Letusan magmatik adalah letusan yang disebabkan oleh magma dalam gunungapi. Letusan magmatik ada tanda-tandanya, terukur dan bisa dipelajari ketika akan meletus.

Memang pemahaman masyarakat masih cukup terbatas mengenai gunungapi. Kita memiliki 127 gunungapi aktif yang masing-masing gunung memiliki watak berbeda-beda. Yang penting masyarakat mematuhi rekomendasi dari PVMBG. Iptek dikombinasikan dengan kearifan lokal setempat dapat efektif menyelamatkan masyarakat sekitar.

Status Gunung Agung hingga saat ini tetap Siaga (level 3). Tidak ada peningkatan status. PVMBG terus melakukan pemantauan dan analisis aktivitas vulkanik. Tremor menerus mulai terdeteksi. Rekomendasi juga tetap radius 6-7,5 km dari puncak kawah tidak boleh ada aktivitas masyarakat. Data pengungsi pada Selasa siang tadi sebanyak 29.245 jiwa yang tersebar di 278 titik pengungsian.

Pengungsi ini akan bertambah mengingat warga Dusun Bantas Desa Abaturinggit sudah turun menjauh dari radius 7.5 km ke Kantor Camat Kubu. Warga Dusun Juntal Kaje rencana malam ini juga turun ke balai-balai banjar yang ada di Desa Kubu. Begitu juga warga dukuh juga sudah bersiap-siap untuk mencari tempat yang lebih aman.

Masyarakat dihimbau tetap tenang. Jangan panik dan terpancing isu-isu menyesatkan. PVMBG akan terus memberikan informasi terkini. BNPB, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, SKPD, relawan dan semua unsur terkait akan memberikan penanganan pengungsi.

Kondisi Bali tetap aman. Bandara Internasional Ngurah Rai masih aman dan normal. Pariwisata di Bali juga masih aman, selain di radius berbahaya di sekitar Gunung Agung yang ditetapkan PVMBG yang memang tidak boleh ada aktivitas masyarakat. (Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB)

Rekomendasi dari BPVMB:

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan- Baratdaya sejauh 7.5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru. Daerah yang terdampak antara lain Dusun Br. Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban); Dusun Br. Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi); Dusun Br. Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih); Dusun Br. Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri); Dusun Br. Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan); dan sebagian wilayah Desa Dukuh.
  2. Jika erupsi terjadi maka potensi bahaya lain yang dapat terjadi adalah terjadinya hujan abu lebat yang melanda seluruh Zona Perkiraan Bahaya. Hujan abu lebat juga dapat meluas dampaknya ke luar Zona Perkiraan Bahaya bergantung pada arah dan kecepatan angin. Pada saat rekomendasi ini diturunkan, angin bertiup dominan ke arah Selatan-Tenggara. Oleh karena itu, diharapkan agar hal ini dapat diantisipasi sejak dini terutama dalam menentukan lokasi pengungsian.
  3. Mengingat adanya potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung maupun di Pulau Bali, segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi bahaya abu vulkanik.
  4. Pemerintah Daerah beserta jajarannya maupun BNPB agar segera membantu dalam membangun jaringan komunikasi melalui telepon seluler (Grup WhatsApp) maupun komunikasi melalui radio terintegrasi untuk mengatasi keterbatasan sinyal telepon seluler di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana letusan G. Agung. Diharapkan agar proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terselenggara dengan baik.
  5. Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan agar terus mengikuti perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara dapat dilakukan.
  6. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  7. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Agung.
  8. Masyarakat di sekitar G. Agungdan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta aparatur terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.
  9. Seluruh masyarakat maupun Pemerintah Oaerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan tingkat aktivitas maupun rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Partisipasi masyarakat juga sangat diharapkan dengan melaporkan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan aktivitas G. Agung melalui fitur Lapor Bencana. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation. (Sumber Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

 

The post Gunung Agung Meletus Tipe Freatik, Ini Rekomendasi untuk Warga appeared first on BaleBengong.

Krisis Air dan Sampah Bali di Festival Sastra UWRF

Sesi Stressing the Source di UWRF17

Forum Sastra Ubud Writers and Readers 2017 juga mendiskusikan isu lingkungan di Bali.

Hujan gerimis mengiringi perjalanan saya ke Ubud. Rencananya ingin mengikuti salah satu sesi di Ubud Writers and Readers Festival 2017 (UWRF17) yang baru mulai hari ini, Kamis, 26 Oktober 2017.

Saya agak kesal, malas hujan-hujanan. Tapi kini sudah setengah jalan. Jika kembali ke Denpasar, waktu 30 menit ini terbuang sia-sia. Kalaupun melanjutkan perjalanan, rasanya kok malas.

Setelah perdebatan dalam hati beberapa menit, akhirnya saya memutuskan berhenti sejenak dan memakai jas hujan. Saya pun melanjutkan perjalanan ke Ubud, sambil berharap hujan reda sesampainya di lokasi acara.

Saya tidak memiliki rencana akan hadir pada sesi yang mana di UWRF17. Bukannya saya tak tertarik. Tapi, justru karena saking banyaknya sesi menarik yang jadwalnya bersamaan. Akhirnya saya memilih sesi Stressing the Source di Museum Neka.

Sesi ini menekankan pada isu penyelamatan sumber daya alam yang semakin berkurang akibat perubahan iklim. Para pembicara yang hadir ialah Asana Viebeke Lengkong (pendiri komunitas filantropi I’m an Angel) dan Robert Crocker (sejarawan yang tertarik pada bidang lingkungan). Dene Mullen, Editor in Chief of Southeast Asia Globe magazine menjadi pemandu diskusi ini.

Jika berbicara tentang sumber daya alam, tentu tidak akan pernah habis. Tapi, sesi ini sejak awal telah mengerucut pada penyelamatan air dan pengelolaan plastik. Sebuah video dokumenter bertajuk Water, I’m With You menjadi pembuka. Video berdurasi sekitar tiga menit ini menampilkan pandangan seniman, aktivis dan warga tentang krisis air bersih di Bali.

“Bali sedang menghadapi krisis air, salah satunya karena gempuran pariwisata massal,” ungkap Viebeke.

Viebeke menyebutkan hotel dan sarana pariwisata yang banyak mengonsumsi air secara besar-besaran. Pernyataan Viebeke ini didukung oleh hasil penelitian Stroma Cole, peneliti dari University of the West of England. Pada hotel dengan harga kamar 400 USD, turis mengonsumsi rata-rata 2000 liter perhari.

Foto oleh Wirasathya Darmaja

Viebeke menambahkan, pariwisata pula yang mengenalkan plastik kepada masyarakat Bali. Sebelumnya, hanya daun pisang sebagai sarana pembungkus sesuatu, terutama makanan. Semenjak masyarakat Bali mengenal plastik, apapun terbungkus plastik.

Penyebabnya beragam. Plastik bukanlah barang mahal, bahkan mudah didapatkan secara gratis ketika berbelanja di warung hingga supermarket. Plastik dapat melindungi barang atau makanan dari kotoran atau air hujan. Plastik makin digemari karena menjadi suatu barang terlihat baru. Plastik adalah penemuan terbesar yang pernah ada.

“Saya sedang tidak mengajak Anda menghentikan penggunaan plastik. Kita harus mengelola penggunaannya,” jelas Viebeke.

Penggunaan plastik secara masif di Bali belum diimbangi dengan pengelolaan yang baik. Sampah plastik masih menjadi masalah umum yang terjadi di mana-mana. Bahkan di desa terpencil pun ada plastik. Bagaimana cara terbaik untuk mengatasi masalah ini?

Viebeke menceritakan proyek perdana pengelolaan plastik yang pernah ia lakukan di sebuah desa, di Tabanan. Ia memberdayakan anak-anak untuk mengumpulkan plastik. Setiap 1 kilogram plastik, maka akan dibayar Rp 1.000 oleh perangkat desa dan ditambah lagi Rp 1.000 oleh I’m an Angel. Pada awalnya, semua anak bersemangat. Namun, energi mereka tak selamanya berkobar. Lalu, apa lagi caranya?

“Saya belajar dari pengalaman ini bahwa yang mereka butuhkan adalah edukasi (tentang plastik),” tutur Viebeke.

Edukasi yang dimaksud bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa. Robert Crocker menanggapi cerita Viebeke sembari menawarkan solusi. Robert mengungkapkan bahwa barang gratisan memang tidak memiliki nilai. Begitu pula dengan plastik. Menurutnya, masalah plastik harus diselesaikan bersama.

“Ada tiga komponen, pemerintah, regulasi dan ekonomi atau perusahaan. Ketiganya perlu bekerja sama untuk mengelola penggunaan plastik,” kata Robert.

Pernyataan Robert ini pun langsung ditanggapi Viebeke dengan sinis. Baginya, menggabungkan ketiga komponen itu masih sulit dilakukan. Berdasarkan pengamatannya selama ini, ada sebelas institusi yang terkait dengan bidang lingkungan tapi tak sekalipun pernah duduk bersama.

“Izin AMDAL (baca: Analisis mengenai dampak lingkungan) saja bisa dibeli,” tandas Viebeke.

Meski sulit menemukan solusi, selalu ada upaya dari mereka yang peduli. Inilah yang disampaikan oleh Robert sambil mengakhiri diskusi ini.

“Harus ada orang-orang yang tepat seperti Anda (sambil menunjuk Viebeke), untuk turut andil dalam menyelesaikan masalah ini,” tutur Robert.

Robert pun menyebutnya dengan istilah waste system atau sistem pengelolaan sampah. Jika memang ketiga komponen itu sulit bekerja sama, maka sistem ini boleh jadi solusi alternatif. Dalam sistem yang digagas Robert, dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu anggaran dan ahli yang mengelola sampah plastik. Solusi ini masih dapat dilakukan secara mandiri, maupun melibatkan pemerintah. Kini, persoalan berikutnya: mau atau tidak?

Sesi ini akhirnya mengingatkan saya pada krisis air, juga masalah plastik di Bali. Saya justru bersyukur atas hujan yang mengguyur Bali hari ini. Saya pun masih menggunakan jas hujan berbahan dasar plastik.

 

The post Krisis Air dan Sampah Bali di Festival Sastra UWRF appeared first on BaleBengong.