Tag Archives: Lingkungan

Bom Benih, Sebuah Gerilya di Tengah Ledakan Pariwisata Nusa Penida

Hari beranjak gelap, sebuah perempatan jalan dengan tugu yang berdiri di tengahnya ramai oleh warga, mereka berkumpul. Tua, muda, anak-anak, laki-perempuan, semua menjadi satu.

Sebagian berdiri, sebagian lain duduk atau jongkok, membentuk sebuah lingkaran, perhatian mereka tertuju pada area lapang di tengah lingkaran. Dua sosok penari topeng sedang mementaskan naskahnya, disusul barok lalu dilanjutkan dengan rangda. Pecalang-pemangku siaga, beberapa warga kerauhan.

Warga Banjar Tangglad malam itu sedang menggelar sebuah prosesi upacara yang mereka namakan “nanggluk merana.” Belakangan, serangkaian peristiwa terjadi di tengah-tengah warga. Hujan yang sempat turun tia-tiba hilang tanpa jejak, cuaca kembali panas menyengat. Ulat menyerbu dan dengan rakus menggilas daun-daun jagung yang baru tumbuh dan berusaha bertahan dari cuaca yang kembali panas menyengat. Ulat-ulat yang tak juga pergi walau serangkaian usaha telah dilakukan.

Dan peristiwa-peristiwa lain yang tampaknya tidak wajar yang kemudian menjadi pertanda. Dari peristiwa-peristiwa yang saling kait tak biasa tersebut, warga bersepakat menggelar sebuah prosesi upacara yang digelar tepat saat purnama kaulu.


Ketika semua warga terpusat di perempatan jalan, mengikuti prosesi dengan penuh harap, sekelompok pemuda di sebuah halaman kecil tak jauh dari perempatan, sedang khusuk dengan niat mereka. Alunan gamelan yang masih jelas terdengar seolah tak membuat mereka berpaling dan ikut larut bersama warga.

Mereka larut dengan niat mereka untuk berhasil membuat “bom”. Mereka membuat “bom” berbentuk seperti telur seukuran genggaman tangan. Tepat ketika warga larut dengan doa dan prosesinya, para pemuda tersebut fokus merealisasikan rencana mereka, membuat “bom” yang akan mereka ledakkan ketika hujan tiba.

Tepatnya di balik gerbang terali hitam, di depan bangunan Artshop Bu Luh, segerombolan pemuda yang dikomandani Gede “timbool” Agustinus meracik material. Buliran biji-biji berukuran kecil dicampurkan ke dalam tanah dan humus yang telah basah. Lalu dikepal dibentuk bulat. Ukurannya dibuat sedemukian rupa sehingga cukup pas digenggaman tangan, memudahkan untuk dilempar.

Timbool dan kawan-kawannya berencana mengajak warga sekitar untuk gerilya menggunakan bom benih yang berhasil mereka buat. Melemparkannya ke lokasi-lokasi strategis hingga nanti “bom-bom” tersebut akan meledak dengan sendirinya ketika waktu tiba.

Biji kecil tersebut merupakan benih Orok-Orok, Kaliandra, Turi, dan Tarum, yang kemudian menjadi empat jenis bom. Upaya gerilya pemboman ini dilakukan untuk mendukung upaya perjuangan kelompok Alam Mesari memperoleh kemerdekaannya atas pewarna alam. Pewarna alam merupakan pewarna yang sebelumnya telah digunakan oleh tetua-tetua mereka ketika membuat tenun cepuk. Kain khas nusa penida yang hingga kini masih diproduksi oleh warga Desa Tanglad.

Kondisi geografis Nusa Penida yang didominasi dengan batuan kapur, lapisan tanah yang relative tipis, iklim kering dengan curah hujan yang sedikit tentu membuat penanaman langsung tanaman pewarna alam memiliki resiko kegagalan yang tinggi. Bom benih (seed bom) orok-orok, kaliandara, turi, dan tarum menjadi sebuah usaha untuk mengimbangi situasi lingkungan yang ada. Pemboman ini menjadi penting karena berpotensi besar akan menjadi humus dan menambah lapisan tanah di atas batuan kapur. Sehinga akan menyuburkan tanaman-tanaman lain yang menjadi sumber pewarna alam.

Teknik pembuatan “bom benih” dipelajari Timbool dan rekan-rekannya merupakan hasil dari hasutan Bang Berto (Roberto Hutabarat) seorang gerilyawan “Bertani karena Benar.” Diaplikasikan oleh gerombolan Timbul setelah mendapat informasi beberapa kali hujan mulai turun di Nusa Penida.

Biji benih yang sudah bercampur dalam kombinasi tanah liat dan humus dengan sedikit air yang kemudian dikeringkan dalam kerat-kerat (bekas telor). Setelah siap, “bom-bom benih” akan dilempar warga ke tempat-tempat yang area ladang warga.

Bom benih sangat tergantung pada cuaca, hujan sekali lalu kemudian panas kembali menyengat seperti apa yang terjadi di awal Januari 2020. Ini bukan momentum yang tepat untuk melakukan eksekusi pemboman. Dibutuhkan curah hjan yang lebih rutin untuk memastikan pemboman berhasil. Hal tersebut membuat penting bagi Timbool untuk mencari tahu dan mendapatkan informasi tentang curah hujan di Desa Tanglad dari warga lokal.

Tidak seperti granat yang langsung meledak sesaat setelah dilemparkan, bom benih akan meledak setelah bereaksi dengan air hujan yang mengguyur.

Ketika hujan sudah mulai rutin turun, bom-bom akan dilemparkan dan “bom” berisi benih ini pecah. Ledakan pertama terjadi.

Seed bomb itu kalau kena air hujan akan pecah tanahnya, dan di dalam tanah tersebut sudah mengandung nutrisi untuk makanan si benih tadi ketika tumbuh,” Timbool menjelaskan bagaimana proses seed bom tersebut ketika bertemu air hujan.

Bongkahan tanah pecah, benih yang terkandung di dalamnya tersebar mengikuti aliran air. Benih yang hanyut mengikuti aliran air akan tertahan oleh semak, pematang atau batuan, lalu perlahan tumbuh menjadi tunas, mencipta akar-batang-daun hingga kemudian kembali meledak menjadi rimbunan semak belukar. Semak belukar yang nantinya akan menghasilkan humus dan nutrisi bagi tanah.

“Itu adalah tanaman perintis,” Timbool menjelaskan tipe tanaman yang dikandung dalam seed bomb yang dibuatnya. “Di sini kan tanahnya berbatu, untuk merintis tanah berbatu, jadi tanahnya tipis sekali. Supaya guguran daunnya itu nanti bisa menjadi tanah yang lebih banyak untuk tegalan di Tanglad ini,” lanjutnya menjelaskan maksud aksi mereka bergerilya melemparkan seed bomb.

Bom Benih telah dilemparkan oleh ibu-ibu dari kelompok Alam Mesari ke ladang-ladang mereka, sebuah usaha kecil ketika hujan mulai rajin turun di Tanglad dan sekitarnya. Sebuah upaya kecil yang nantinya akan menunjang usaha yang lebih besar, menjaga keberlangsungan tradisi kain tenun cepuk. Menjaga agar ladang-ladang mereka cukup subur untuk ditumbuhi tanaman-tanaman yang akan menjadi sumber warna dari tenun-tenun yang mereka buat. Usaha untuk memintal kembali hubungan antara ruang hidup dengan kerajinan dan dampak ekonomi yang ingin dihasilkan.

Usaha pemboman dengan bom benih kaliandra, taru, orok-orok dan turi tentu jauh lebih kecil dan sangat tidak sebanding dibandingkan dengan Bom Pariwisata yang kini melanda Nusa Penida. Limpahan wisatawan yang berlalu lalang, pasir, dan kerikil yang meunggu untuk didistribusikan membangun villa atau akomodasi wisata lainnya yang cenderung seragam. Diikuti bom sampah sesuai jumlah kunjungan dan konsumsi orang-orang ke pulau Nusa Penida.

Link video: https://youtu.be/QoMtQ10PUaU

Sebuah usaha kecil oleh Alam Mesari bekerjasama dengan Timbool dan rekan-rekannya untuk menjaga keberlangsungan ekosistem di tengah iklim yang telah berubah dan semakin sulit diprediksi. Menjaga keberlangsungan tradisi tetua Nusa Penida dalam mencipta kain tenun tradisional. Tak kalah penting, menjaga tradisi kemandirian Nusa Penida. Tradisi kemandirian telah dilakoni para tetua terdahulu, yang telah membuktikan bagaimana cara bertahan hidup di sebuah pulau kecil dengan bentang alam yang keras.

Ruang Hijau yang Kian Berkurang di Bali Selatan

Permakultur Taman Baca Kesiman. Terong merupakan tanaman bernutrisi kaya serat yang cocok ditanam di Denpasar. Foto Doni S. Wijaya.

Misinya menata lingkungan hijau. Nyatanya, ruang hijau terus menyusut.

Kawasan Denpasar Timur dan Desa Guwang di Gianyar berada di dataran rendah, kurang dari 100 meter di atas permukaan laut. Karena itu udaranya tergolong panas sepanjang tahun dengan suhu rata rata di atas 26 derajat C.

Pemanasan global membuat suhu udara di seluruh dunia termasuk Bali meningkat. Pada Januari dan Februari ini, udara panas dan gerah dirasakan warga Denpasar dan orang yang bermukim di dataran rendah. Konsumsi energi untuk mengurangi kegerahan meningkatkan pemanasan. Sebab, sebagian besar listrik yang dikonsumsi masyarakat Bali bersumber dari bahan bakar fosil.

Namun, ada perbedaan tingkat kegerahan tersebut karena penggunaan lahan yang terjadi. Luas ruang hijau menentukan perbedaan ini.

Jika ingin kota hemat energi, perbanyaklah ruang hijau yang kaya keragaman hayati dan rancanglah bangunan hemat energi yang disesuaikan dengan seni Bali. Ini tantangan bagi arsitektur Bali di masa kini dan di masa depan. Kota yang hemat energi dan ramah keragaman hayati adalah perwujudan nyata dari aspek Tri Hita Karana.

Di Denpasar, Kuta, Seminyak dan Nusa Dua luas lahan hijau kurang dari 20 persen total luas wilayah itu. Ini tidak termasuk sawah. Bila sawah diikutsertakan, luas lahan kurang dari dua pertiganya.

Di Desa Guwang, ada perbedaan menarik dengan kota Denpasar dari segi udaranya. Ini karena sebagian besar desa itu masih sebagai sawah. Mungkin 80 persen dari luas desa itu berupa sawah meskipun bukan yang sepenuhnya ramah lingkungan karena masih menggunakan pestisida dan pupuk kimia.

Ruang hijau dan sawah memberikan oksigen dan menyerap uap air serta gas rumah kaca. Penyerapan gas rumah kaca oleh tanaman hijau dan keluarnya oksigen ini yang menghasilkan udara sejuk saat menyentuh badan manusia.

Saat ruang hijau dan sawah diubah menjadi beton dan aspal, udara gerah menyelimuti karena gas rumah kaca dan uap air tidak diserap tapi mengambang di udara. Panas yang diserap dan tersimpan di situ. Inilah yang membuat udara jadi gerah dan saat malam hari suhu di Denpasar lebih terasa panas daripada di Guwang. Udara gerah membuat manusia lebih mudah stress dan ini berujung pada penyakit yang berpotensi muncul.

Dengan pemanasan global yang membuat ruang hidup terasa menyesakkan, seharusnya penataan lahan diperhatikan kembali berdasarkan aspek ekologinya untuk menghasilkan udara sejuk. Di Indonesia, meski menurut hukum yang berlaku sawah bukan termasuk ruang hijau, dia memberikan kesejukan udara.

Dengan pertanian ramah lingkungan, sawah dapat berperan dalam menahan pemanasan global. Sawah bisa bebas dari bahan bakar minyak bumi untuk pestisida dan gas alam untuk pupuk buatan. Dua bahan kimia itu menyebabkan timbulnya gas nitrous oxide (N2O) yang ratusan kali lebih kuat memerangkap panas di bumi daripada karbon dioksida

Burung, ikan, reptil, amfibi, serangga dan invertebrata serta tanaman tanaman di tepi sawah merupakan merupakan kekayaan biologi pulau ini. Karbohidrat, mineral, vitamin, dan protein diperoleh dari sini. Nilai keindahan mahluk mahluk itu dapat dinikmati kembali setelah luntur karena kesalahan revolusi hijau dan peralihan lahan. Masyarakat kota semakin dekat pada alam yaitu bersentuhan dengan kehidupan liar di sawah.

Hutan kota dan kebun permakultur perlu dikaji untuk perluasan. Luas kedua lahan hijau tersebut kurang dari 20 persen kota Denpasar. Hutan kota berfungsi untuk paru-paru kota dan daerah resapan air agar air tanah terus diperbaharui untuk menanggulangi krisis air di Bali Selatan. Luas hutan kota minimal 15 persen.

Di Denpasar, kita dapat melihat contoh dari Taman Baca Kesiman bagaimana kebun permakultur di Banjar Kesiman menjadi oase di tengah himpitan gedung. Permakultur di situ mencakup tanaman yang dapat dimakan dan tanaman hias yang cocok ditanam di iklim dan tanah yang sesuai dengan kondisi kota Denpasar tanpa bahan kimia.

Gambar Permakultur Taman Baca Kesiman. Terong merupakan tanaman bernutrisi kaya serat yang cocok ditanam di Denpasar.

Lahan-lahan permakultur dan sawah ramah keragaman hayati seharusnya dibebaskan dari pajak. Pemilik lahan tersebut didorong untuk mengelolanya dengan asas keadilan sosial di mana para pekerja dapat hidup layak dan pemilik lahan meperoleh keuntungan.

Peran pemerintah kota, kabupaten bahkan provinsi menjadi penting dalam penataan kawasan hijau yang mampu memberikan manfaat ekonomi, pangan dan kesehatan. Dengan demikian, Bali benar-benar akan bisa mewujudkan kemandirian pangan, meningkatkan nilai tambah, dan daya saing pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani serta menata wilayah dan lingkungan yang hijau, indah dan bersih. [b]

WALHI Bali Protes Draf Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional

Konsultasi publik terkait penyusunan Perpres Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional (RZ KSN) kembali dilaksanakan pada Selasa, 25 Februari 2020 yang bertempat di Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Denpasar. Konsultasi publik ini merupakan lanjutan dari konsultasi yang sebelumnya diadakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di Dinas Kelautan Provinsi Bali pada Rabu 20 November 2019 lalu.

Dalam forum diskusi ini hadir Tini Martini, SH, M.Soc. Sci selaku Sekretaris Jendral Biro Hukum dan Organisasi yang membuka acara. Selain itu ada tiga narasumber pada konsultasi publik kali ini yakni Moh. Husni Mubarak, SH. Selaku Kepala Bagian Biro Perundang-undangan II, Ir. Suharyanto, M.sc selaku Direktur Perencanaan Ruang Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut KKP, dan I Made Sudarsana Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali.

Dalam pertemuan ini pada bangku paling depan tampak hadir Wayan Gendo Suardana Selaku Koordinator ForBALI dan Dewan Nasional WALHI serta Made Juli Untung Pratama Direktur WALHI Bali. Pada sesi diskusi Gendo Protes dan mempertanyakan mengapa WALHI Bali tidak diundang pada pertemuan hari ini. “Hari ini kami kesini sebagai tamu yang tidak diundang, padahal keesokan harinya juga ada pertemuan yang dilakukan oleh lembaga yang sama dan WALHI Bali diundang, namun karena kami berkepentingan terkait dengan Kawasan Konservasi Maritim Teluk Benoa, maka dari itu kami hadir disini,” pungkasnya.

Selanjutnya Gendo protes keras perihal pasal pada draft Ranperres yang baru disinyalir bisa meloloskan reklamasi Teluk Benoa. Dalam draft sebelumnya kawasan Teluk Benoa masuk dalam kawasan G5 yang berarti konservasi, namun dalam draft yang baru pada Pasal 33 ayat (1) Ranperpres RZ KSN Sarbagita Kedua menyatakan bahwa G4 merupakan kawasan yang berfungsi sebagai penyangga pesisir serta pemanfaatan lainnya. “Itu artinya apa? memang benar KKM itu terbentuk karena ditetapkan oleh Keputusan Menteri namun secara hirarki dia akan kalah dengan Perpres, apabila Perpres ini jadi dan disahkan dan di dalamnya Teluk Benoa sebagai KKM ada di Zona Penyangga maka yang ilindungi hanya kawasan sucinya saja yang radiusnya hanya 50 cm dan ada 15 titik di Teluk Benoa. Selebihnya dapat diurug atau direklamasi. Kan begitu logikanya?” tanyanya.

Lebih lanjut Gendo juga mengomentari bahwasannya draft Ranperpres ini sangat buruk. “Berbeda dengan draft yang sebelumnya yang dengan tegas menempatkan kawasan Teluk Benoa pada kawasan G5 dengan kode C2 atau konservasi namun pada draft kali ini G5 dihilangkan dan dimasukan ke G4 atau kawasan Penyangga. Ia juga menjelaskan dalam PP 33 terkait RTRL tidak ada frasa kawasan penyangga. Frasa Kawasan penyangga hanya ada di Perpres 51 tahun 2014 dimana Perpres tersebut adalah Perpres yang mengakomodir reklamasi Teluk Benoa.

Direktur WALHI Bali I Made Juli Untung Pratama juga angkat bicara pada acara konsultasi publik kali ini. Ia kembali mempertanyakan mengapa dalam Ranperpres ini masih mengakomodir proyek-proyek yang bisa menghancurkan alam Bali seperti tambang pasir laut yang akan dilakukan di sepanjang pantai Kuta hingga Canggu. Untung Pratama menjelaskan tambang pasir laut yang akan dilakukan di sepanjang pantai Kuta hingga Canggu dapat merusak pantai dan mempercepat terjadinya abrasi di seputaran wilayah tersebut . Disamping itu draft Ranperpres RZ KSN ini masih mengakomodir reklamasi Bandara Ngurah Rai yang melabrak kawasan konservasi dan dalam draft ini juga mengakomodir perluasan pelabuhan seluas 1300 ha. “Padahal perluasan yang sekarang dilakukan oleh Pelindo saat ini sudah menyebabkan 17 ha Mangrove mati, apa mau mangrove yang mati jadi bertambah?” tanya Untung.

Pada pertemuan sebelumnya pihak Pelindo diminta menjelaskan terkait tujuan dilakukannya perluasan pelabuhan untuk kepentingan apa, namun pihak Pelindo tidak bisa menjawab. “Tidak ada kejelasan dalam hal aktivitas reklamasi yang dilakukan Pelindo untuk perluasan pelabuhan selain menyebabkan mangrove mati,” tegasnya.

Alhasil atas protes yang dilakukan Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana, Suhartoyo mengakui kesalahan Ranperpres tersebut dan mengembalikan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi, yang sebelumnya dialokasikan ke pemanfaatan. Selanjutnya Suhartoyo memindahkan KKM Teluk Benoa yang semula berada di Pasal 33 Ranperpres sebagai bagian dari Pemanfaatan Umum dipindahkan ke pasal 34 untuk ditetapkan alokasi ruang sebagai Kawasan Konservasi.

Di akhir acara untung Pratama menyerahkan Surat Protes yang ditunjukan kepada Tini Martini selaku Sekretaris Jendral Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Kelautan dan Perikanan dan diterima oleh Moh. Husni Mubarak, Kepala Bagian Biro Perundang-undangan II. Husni mengatakan semua masukan tadi akan dijadikan bahan untuk menyenpurnakan draft Ranperpes ini lalu kemudian akan dikirimkan ke Kemenkumham.

Pendidikan Ekologi yang Relevan untuk Bali

Gubernur Bali Wayan Koster telah mengemukakan 22 misi Provinsi Bali.

Misi nomor 4 pembangunan Bali tahun 2018-2028 adalah tersediannya pendidikan yang adil, merata, terjangkau, dan berkualitas serta melaksanakan wajib belajar 12 tahun. Misi tersebut menyenangkan untuk dilihat saat dipampang di depan tembok atau didengar oleh siaran media.

Bagaimana pelaksanaannya hari ini dan di masa depan? Marilah lihat situasi di lapangan.

Di Bali masih ada sekolah yang tidak layak fasilitasnya. Di Karangasem, ada sekolah yang atapnya rawan runtuh. Ini membahayakan guru dan siswa saat sedang belajar. Kasus serupa juga terjadi di Jawa Timur hingga menyebabkan murid dan guru meninggal dunia.

Sekolah negeri unggulan di Bali fasilitasnya di atas kelayakan, sementara sekolah bukan unggulan sarana dan prasarana boleh jadi tidak memadai. Itu yang terjadi kota. Belum lagi bila membandingkan kondisi infrastruktur fisik pendidikan di dalam kota dengan di pinggir kota hingga pelosok desa.

Dari fasilitas fisik yang belum memadai, sekarang kita akan melihat praktik pendidikan yang ada. Murid-murid SD hingga SMA mempelajari ilmu pengetahuan alam. Proses pembelajaran tidak hanya melalui buku teks khusus pelajaran sekolah.

Di hampir semua perpustakaan sekolah, amat sedikit buku yang bertema ekologi pulau Bali tersedia. Seharusnya pemerintah mencetak buku tersebut dan didistribusikan ke sekolah sekolah di Bali agar guru dan siswa memahami ekologi pulau ini.

Guru selayaknya mengajak siswa menonton film bersama mengenai flora dan fauna Bali, ekosistem pulau Bali dan masalah lingkungan yang terjadi di Bali saart ini. Film Kala Benoa yang menjelaskan akibat kerusakan lingkungan karena reklamasi Teluk Benoa dapat diputar di seluruh sekolah pulau Bali. Sekolah perlu mengadakan kerja sama dengan para pembuat film yang bertema ekologi pulau Bali sebagai media pendidikan siswa.

Murid-murid yang belajar ilmu alam di sekolah tidak banyak yang mengetahui macam-macam spesies tanaman budidaya dan liar yang hidup di Bali beserta kondisi tanah yang cocok untuk tanaman tersebut. Bila dibaca secara dangkal mungkin ini dianggap tidak penting. Namun, pendidikan ilmu alam harus sesuai dengan kondisi nyata di tempat di mana sekolah itu berdiri. Siswa perlu mengetahui hal tersebut supaya dapat meneliti manfaat tanaman tersebut bagi manusia dan lingkungannya dan dapat mengembangkan perekonomian desa dari sumber alam yang ada.

Murid-murid tidak tahu persis jumlah spesies burung, ikan dan hewan lainnya yang ada di Bali apalagi statusnya dalam konservasi. Mungkin hanya jalak bali yang paling diketahui. Sekolah sampai saat ini tidak mengajarkan kepada muridnya tragedi lingkungan yang telah terjadi di Bali mulai dari punahnya harimau Bali hingga hutan yang kurang dari sepertiga luas pulau.

Saat siswa diajak ke sawah, hutan dan padang penggembalaan, guru perlu membimbing siswa untuk mengidentifikasi spesies burung yang ada di situ dan memahami hubungan antara burung dengan hewan lain dan tanaman lain di sawah sehingga siswa belajar ekologi melalui pengalaman.

Bagi siswa yang tinggal tak jauh dari taman nasional Bali Barat sekolah perlu mengadakan perjalanan ilmiah ke sana lebih dari sekali. Dengan demikian siswa semakin mengapresiasi fauna dan flora liar Bali. Sekolah dapat memfasilitasi siswa yang menimba ilmu di Tabanan untuk melihat praktik pemeliharaan burung hantu untuk mewujudkan sawah organik di tempat yang dijuluki desa burung hantu.

Guru perlu mengajak siswa untuk membandingkan kondisi sawah di Jatiluwih dan Ubud sepuluh tahun yang lalu dengan sekarang saat sawah semakin digusur dengan akomodasi pariwisata.

Belum Reflektif

Pendidikan alam yang diajarkan di sekolah belum reflektif dalam arti menghubungkannya dengan keadaan di lapangan. Di sekolah murid diajari pentingnya hutan di pegunungan dan perbukitan. Mereka mengetahui peran amat berharga hutan bakau bagi pesisir dan nelayan.

Murid-murid tidak diberi kesempatan untuk berpikir kritis penyebab hutan terdegradasi yang terhubung dengan kebijakan pembangunan. Murid-murid amat jarang diajak melakukan belajar lapangan melihat langsung kondisi hutan bakau, sawah dan hutan pegunungan yang tersisa. Siswa mempelajari dampak pestisida dan pupuk kimia bagi ekosistem sawah dan sekitarnya tapi tidak pernah berdialog langsung dengan petani yang menggunakkannya tersebut untuk memberikan pendidikan kecil agar mengurangi pemakaiannya demi kesehatan lingkungan.

Bali termasuk kawasan Segitiga Koral (Coral Triangle). Ini berarti terdapat terumbu karang dan padang lamun yang merupakan eksositem laut terkaya di dunia. Murid memang mendapatkan informasi mengenai fungsi terumbu karang dan padang lamun serta kegiatan manusia yang dapat merusak terumbu karang dan lamun hingga akibat yang ditimbulkan.

Namun, pada pelajaran di sekolah guru jarang menginformasikan jenis jenis koral dan lamun yang ada di Bali kepada siswanya. Akibatnya kesadaran untuk peduli laut masih belum cukup. Di tepi pantai, sering terdapat sampah yang akan mencapai padang lamun dan terumbu karang sehingga mengakibatkan biota laut terancam.

Pendidikan alam bagi siswa di Bali tidak hanya untuk mengenal kondisi ekosistem dan jenis jenis mahluk hidup yang ada di dalamnya. Siswa perlu diberi pendidikan untuk mengolah hasil alam dari tanah Bali. Tidak hanya mengolah daun kelapa, tetapi mengolah bagian pelepah kelapa, nira kelapa, kulit kelapa dan batang kelapa.

Siswa perlu melihat langsung penggilingan padi menjadi beras. Mereka dapat berkesempatan mempelajari pengolahan sisa sisa tanaman padi seperti pembuatan minyak dari bekatul dan pengolahan jerami padi menjadi tikar. Saat mempelajari pengolahan hasil laut, murid murid memperoleh peluang untuk mengolah limbah ikan menjadi tepung atau sesuatu yang memiliki nilai guna.

Pendidikan alam seperti betujuan agar siswa peka bahkan peduli terhadap keragaman hayati dan keberadaan spesies di ekosistem terpenting bagi orang Bali yaitu sawah. Harapannya, mereka bisa bersama-sama menahan laju alih fungsi sawah serta menggalakkan pertanian ekologi yang ramah lingkungan. Dalam mempelajari ekologi, guru mengajarkan kepada siswa untuk menghubungkannya dengan aspek keadilan sosial dimana setiap orang berhak atas air bersih, udara segar, makanan sehat dan lingkungan yang layak huni.

Yang terpenting siswa perlu diberi kesempatan berpikir kritis melihat dampak lingkungan dari pembangunan Bali yang mengabaikan lingkungan. Kurikulum pendidikan ilmu alam untuk Bali hendaknya tidak sekedar menjiplak saja apa yang dipraktikkan dari Jakarta. Dinas Pendidikan Bali perlu menyesuaikannya dengan kondisi alam dan budaya yang ada. [b]

Seniman Unjuk Karya Seni untuk Bumi

Trash for Art di kegiatan pameran Yayasan Manik Bumi.

Merayakan Hari Kasih Sayang dengan seni untuk bumi.

Yayasan Manik Bumi tidak pernah kehabisan energi untuk memberikan ruang bagi seniman berkarya dan selaras dengan penyelamatan lingkungan hidup. Kali ini Manik Bumi menggelar acara bertajuk “Gumi Lascarya” (satu cinta merawat Bumi) di areal kantornya di jalan Pantai Indah Singaraja, Buleleng.

Acara digelar selama empat hari pada 10-14 Februari. Menurut Pembina Yayasan Manik Bumi, Luh Gede Juli Wirahmini, akrab dipanggil Juli, pemilihan puncak acara disengaja untuk membuat hari kasih sayang tidak hanya tentang cinta sepasang manusia tapi juga bisa dimaknai cinta bumi.

“Valentine tidak hanya tentang mawar dan cokelat. Valentine juga bisa tentang merawat bumi dengan mengurangi bebannya walaupun sedikit,” ujar Juli.

Menurut Juli, ide itu dituangkan dalam konsep kegiatan dengan memadukan pameran seni dari sampah bertajuk “Trash to Art”. Sampah diolah menjadi seni berkualitas tinggi. Apa yang selama ini dipandang sebelah mata, ternyata bisa diolah menjadi sebuah karya seni.

“Sampah kalau diolah, bisa jadi media baru dalam berkesenian. Kami harap ini bisa jadi media alternatif bagi seniman-seniman dalam berkarya,” lanjutnya.

Puluhan karya menggunakan media sampah pun dipamerkan di Sekretariat Yayasan Manik Bumi. Ada 23 karya seni yang dihadirkan. Puluhan karya itu diciptakan oleh 16 orang seniman, 15 di antaranya berasal dari Buleleng.

Mereka yang terlibat dalam pameran yakni Made Bayak, I Putu Wilasa, Kadke Dwi Jayanta, Kadek Surya Dwipa, Angga Heri, Juning, I Wayan Trisnayana, I Made Santika Putra, Ngakan Nyoman Ardi, I Komang Wikrama, I Ketut Andi Palwika, Gede Sukradana, Yohanes Soubirius de Santo, I Gede Pasek, Made Wijana, dan Mizan Torek.

Para perupa mengolah sampah menjadi media baru untuk berkarya. Ada yang menggunakan sampah plastik, ban dalam, kardus, kaleng, maupun kertas. Hampir seluruh karya dihadirkan dalam bentuk tiga dimensi.

Patung “I am Ayam” karya I Made Santika Putra misalnya. Patung yang menghadirkan kisah pertarungan dua ekor ayam jantan itu, dibuat dari ban dalam bekas.

Sementara patung “Bangkai Ikan” karya Putu Wilasa, menggunakan media sampah plastik kemasan. Sampah-sampah itu dilelehkan dan dirangkai sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk ikan. Di salah satu sisi, Wilasa menghadirkan perut ikan yang berisi sampah-sampah plastik.

“Ini terinspirasi dari berita soal ikan yang terdampar dan ditemukan dalam kondisi mati. Kemudian setelah dibedah di perutnya ada banyak sampah plastik. Ini menjadi persoalan serius bagi ekosistem kita,” kata Wilasa yang juga seorang musisi itu.

Salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran Trash for Art.

Parade Mural

Selain menggelar pameran dari sampah, dalam rangkaian kegiatan ini juga digelar parade mural. Media yang digunakan adalah tembok di sekitar kawasan sekretariat manik bumi.

Para seniman mural dari beberapa kota di Indonesia, melangsungkan aksi live mural. Mereka menuangkan kritik dan kegelisahan terkait pengelolaan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Aksi live mural itu dilangsungkan di Sekretariat Yayasan Manik Bumi.

Total ada 27 orang seniman dari 12 kelompok mural yang terlibat dalam aksi tersebut. Para seniman itu datang dari sejumlah kota di Indonesia.

Seperti Bogor, Magelang, Bandung, Padang, serta tuan rumah Bali. Mereka menuangkan ide dan kreatifitasnya pada sebidang tembok berukuran 3×4 meter.

Para seniman akan menggarap media tembok itu, hingga puncak acara Jumat (14/2) . Para seniman yang terlibat dalam aksi live mural itu sebelumnya sudah melalui proses kuratorial yang cukup ketat.

“Sebelum mereka melakukan live mural, sebenarnya mereka sudah mengirimkan konsep ide dan karya sejak Oktober 2019 lalu.

Kemudian kami pilih 12 karya terbaik dan kami undang untuk melakukan live mural,” kata Juli.

Menurut Juli, karya-karya yang ditampilkan dalam mural, lebih banyak mengangkat tema kesetiakawanan dalam merawat bumi. Tema itu sengaja dipilih, sebab merawat bumi tidak bisa dilakukan orang per orang. Melainkan harus melibatkan seluruh komponen masyarakat yang ada.

“Kami ingin lewat mural ini ada pesan yang tersampaikan. Bahwa merawat bumi itu harus dikerjakan bersama dan dilakukan secara ikhlas. Kami berharap ini bisa membuka wawasan, minimal bagi relawan kami sendiri,” ungkap Juli.

Selain melibatkan komunitas mural dari beberapa kota di Indonesia, aksi live mural itu juga melibatkan Komunitas Mural Taring Babi sebagai peserta kehormatan.

Hasil live mural ini dinilai Dewan Juri yaitu Jango Pramarta, Mike Marjinal dan Bobi Marjinal. Juri menentukan jura 1 hingga 3. Adapun juara favorit ditentukan oleh pengunjung yang melakukan penilaian sesaat setelah memasuki kawasan acara.

Pengumuman dilakukan di puncak acara pada panggung hiburan. Ada bondres Rarekual, standup comedy dari Inguh dan penampilan band. Di antaranya Rastafara Cetamol band reggae dari Buleleng, Dialog Dini Hari dan Band Marjinal dari Jakarta.

Acara terlihat ramai dan pengunjung terlihat antusias melihat pameran “Trash to Art” dan juga antusias melakukan penilaian karya mural dari 22 finalis.

Acara yang ramai pengunjung ini terlihat bersih dari sampah. Di samping itu tidak terlihat banyak botol plastik karena panitia menyediakan gelas dan air di beberapa area acara. Menurut Juli, panitia memang menganjurkan pengunjung agar membawa tumbler dan tidak membawa minuman kemasan sekali pakai. “Kami fasilitasi air minumnya,” katanya.

Demikian pula, terkait sampah kami fasilitasi dengan banyak tempah sampah. “Kami patut bangga karena acara ini bebas dari perilaku buang sampah sembarangan. Setidaknya acara ini berhasil mengajak warga pengunjung untuk bijak menyampah,” pungkas Juli.