Tag Archives: Lingkungan

Kegelisahan Saras Dewi pada Rusaknya Lingkungan Bali


Secara akademis, Luh Gede Saraswati Putri sebenarnya filsuf tulen.

Perempuan kelahiran Denpasar 35 tahun lalu ini menyelesaikan studi strata satu hingga doktor di Program Studi Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Saat ini, dia mengajar di almamaternya.

Perempuan yang akrab dipanggil Saras atau Yayas itu bahkan pernah menjadi ketua jurusan pada 2011-2017.

Toh, Saras tak hanya dikenal sebagai dosen, pekerjaan utamanya saat ini. Sebelumnya dia lebih dulu dikenal sebagai penyanyi. Selain mengajar sehari-hari, Saras juga terlibat dalam gerakan sosial lingkungan baik di Bali, tanah kelahirannya, ataupun di Jakarta, tempat tinggalnya saat ini.

Dalam isu lingkungan, misalnya, dia aktif dalam gerakan menolak reklamasi baik di Teluk Jakarta maupun Teluk Benoa.

Istri personel NTRL Christopher Bollemeyer itu juga menulis buku Ekofenomenologi (2015) yang menguraikan ketimpangan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Dalam situs ulasan buku Goodreads, salah satu pembaca menyebut buku ini menawarkan perspektif lain dalam memahami alam.

Ada pula yang menyebut buku Saras ini sebagai bahan perenungan untuk kita yang acap kali masih melupakan bumi dan seluruh elemen semesta lain yang menyertainya.

Pada saat Nyepi awal Maret lalu, Saras mudik ke tanah kelahirannya, Desa Sumerta di Denpasar. Seperti kebiasaannya empat tahun terakhir, dia mengaku selalu pulang ke Bali saat ini. Dia menghabiskan Pengrupukan, hari sebelum Nyepi, di Desa Geriana Kauh, Karangasem tempat di mana dia meneliti tarian sakral Sang Hyang Dedari yang dihidupkan kembali setelah lama mati.

Usai Nyepi di Denpasar, dia akan sembahyang saat Ngembak Geni di Tanjung Benoa, di mana dia juga terlibat dalam gerakan menolak rencana reklamasi di kawasan ini.

Mumpung Saras sedang mudik, saya tertarik untuk mewawancarainya seputar pandangannya pada isu lingkungan di Bali. Juga apa relevansi Nyepi bagi upaya pelestarian lingkungan saat ini.

Wawancara ini pernah dimuat di Mongabay dan diterbitkan kembali di sini.

Apa pentingnya Nyepi ketika Bali menghadapi banyak isu kerusakan lingkungan?

Penting sekali karena ini menunjukkan bahwa Bali masih menjadi simbol harapan. Ada perubahan berorientasi lingkungan oleh publik luas secara luas dan sadar. Saat Nyepi, kekuatan partisipasi publiknya besar. Ini jadi oase di antara karut marutnya lingkungan.

Di sisi lain ada terobosan-terobosan seperti kebijakan Wali Kota (Denpasar) untuk mengeluarkan instrumen hukum yang mengatur sampah plastik sekali pakai. Itu menunjukkan bahwa bila kita punya keterwakilan yang bisa diajak bertukar pikiran megenai lingkungan hidup, maka bisa ada keselarasan antara kebutuhan lingkungan hidup, manusia, ekonomi, dan penyelenggaraan pemerintahan.

Ketika begitu banyak masalah (lingkungan di Bali), ada kemauan untuk memperbaiki. Dengan kecerdasan lokal yang digunakan, saya lihat keinginan masyarakat untuk memperbaiki lingkungan hidupnya itu puncaknya ada di Nyepi.

Apa tantangan utama lingkungan Bali saat ini?

Kalau saya lihat, tantangan masyarakat di Bali bermacam-macam: perkotaan, pegunungan, dan pesisir. Tiga wilayah itu diserang pembangunan infrastruktur yang tidak berkelanjutan secara lingkungan.

Saya rasa Bali terkepung sekali dengan kepentingan pembangunan yang mengurangi roh Bali. Tapi, saya melihat ada upaya perlahan-perlahan meskipun tertatih-tatih untuk memperbaiki. Generasi ke depan masih punya hati nurani untuk memperbaiki.

Cuma problemnya klasik, hati-hati ada kesenjangan antara pemerintah dan publik. Karena banyak pembangunan yang menindih masyarakat. Nyepi bisa jadi momentum untuk memperbaiki. Saya merasa Bali mulai punya harapan.

Saya lihat kejeniusan lokal itu ada upaya sporadis untuk memperbaiki. Misalnya di pertanian ada upaya menghidupkan kembali benih lokal seperti di Karangasem. Di pesisir warga terlibat tolak reklamasi dan menyehatkan mangrove. Di kota, saya tidak membayangkan di Denpasar akan ada ogoh-ogoh tanpa styrofoam. Ada kesadaran anak muda bahwa kalau mau membunuh hawa nafsu, harus dengan memerhatikan lingkungan. Hal-hal yang tadinya simbolik, sekarang mulai menjadi harapan. Itu keren banget.

Nyepi dianggap ideal, tetapi setelah itu apa yang perlu dilakukan agar tidak lewat begitu saja?

Saya rasa kalau menghayati Nyepi secara romantis saja bawaannya jadi terlalu mengkhayal Bali yang eksotis saja. Bagaimana membuatnya menjadi nyata, itu yang jadi tantangan. Saya belajar dari warga desa. Awalnya saya tidak tahu apa-apa tetapi setelah ke desa saya jadi tahu. Oh, ada kekuatan besar yang masuk, seperti rencana reklamasi di Tanjung Benoa, tetapi mereka bertahan meskipun dengan begitu banyak persoalan.

Begitu juga di Geriana Kauh (Karangasem). Mereka sempat mengalami kerusakan lahan pertanian akibat Revolusi Hijau, tetapi mereka bangkit lagi. Dengan kesabaran dan tanpa bantuan siapapun kecuali dengan tekad. Saya jadi belajar bahwa gerakan sosial bermula dari kesadaran masyarakat.

Di Bali, ciri khasnya komunitas mendahului individu meskipun saya sempat menanyakan di mana individu jika tidak dibiarkan jadi kritis. Tetapi, sekarang saya paham konteks individu di komunitas Bali itu tidak sama dengan Jakarta. Di Jakarta pun kita coba bangun sosialisasi apapun, mengenai gerakan perempuan atau reklamasi Jakarta, memang khas adatnya beda. Kalau di sini sudah ada perangkat yang mudah untuk diterapkan. Jadi buat saya itu keunggulan juga.

Saya sendiri tidak tahu kalau tidak belajar sama warga bagaimana mengubah itu jadi realis, gerakan sosial yang masif. Tadinya saya juga tidak terbayang bahwa perubahan bisa antara lain dari budaya. Ternyata budaya tidak berdiri sendiri dari spiritualitas. Ternyata budaya, spritiualitas, dan ekonomi itu satu.

Tadinya banyak keheranan dan pertanyaan, kecerdikan masyarakat untuk nertahan itu luar biasa. Tinggal bagaimana pemerintah melihat itu. Masyarakat sudah berjuangnya itu sudah maksimal.

Komunalisme ketika dipraktikkan dalam keseharian yang tidak hanya ritual itu apa?

Kalau saya belajar dari Geriana Kauh itu bahwa mulanya ada ritual lalu ritual itu punah dan kini dihidupkan kembali. Kerja-kerja rekonstruksi itu kan butuh kerja kolektif. Apa yang saya lihat saat kerja kolektif adalah bagaimana pengetahuan itu dijaga. Saat membahas fungsi berkesenian, kita abai sama prosesnya. Bahwa kerja kesenian itu sebenarnya mengikat satu sama lain. Tapi orang-orang sekarang mulai berpikir apakah ini ada daya jualnya? Apakah bisa jadi komoditas? Orang Bali keburu melihatnya sebagai hal tangible dan atraksi wisata.

Saya tidak bilang jangan memiliki dorongan ekonomi. Namun, ekonomi yang memiliki orientasi pada masyarakat itu juga penting. Itu belum dihayati. Makanya program pemerintah cenderung eksploitatif. Saya sempat kritik Kemenpar (Kementerian Pariwisata) soal rencana membuat “10 Bali baru”. Itu menghilangkan ciri khas masyarakat setempat. Itu tindakan yang membunuh pengetahuan masyarakat yang dijaga secara kolektif.

Apa contoh kerja kolektif di Bali untuk menjaga lingkungan?

Contoh kerja-kerja kolektif di Bali itu subak. Saat rapat subak itu mau raja ataupun petani, semua setara. Itu demokrasi paling radikal. Petani di Geriana Kauh bercerita bahwa ada pembagian subak itu peninggalan kuno, tetapi karena sudah ada alih fungsi, maka terancam. Jika begitu, di manakah kenangan kita pada demokrasi?

Subak itu fungsi komunal yang sudah tergerus. Secara inheren, subak itu kerja. Menurut filsafat, dia itu indah, baik, dan benar. Ciri khas Tri Hita Karana (konsep keseimbangan manusia dengan alam, manusia, dan Tuhan menurut Bali) itu kan mencari keselarasan, mengakomodir hal-hal tersebut. Itu juga bagian dari upaya yang dihidupkan kembali di Geriana Kauh dan berhasil.

Pemerintah seharusnya melihat itu. Kalau membuat kebijakan, mereka melihat dulu ke bawah, ke desa. Bukan sebaliknya. Akibatnya ya seperti di Bali saat ini. Bali sejak zaman moi indie sudah jadi produk. Mau dibilang bahwa Bali itu diampuni pada masa penjajahan, dia tetap produk. Pada masa kolonial, Soekarno, sampai Wisata Halal juga produk. Bali versi Eat Pray Love juga produk.

Tidak ada orang datang ke Bali lalu bertanya Bali mau jadi apa. Kegiatan wisata di Bali itu dikomoditaskan. Mereka mau dapat untung cepat saja terlepas dari dampak sosial lingkungannya.

Siapa pelaku komodifikasi itu?

Dari masa kolonial sampai sekarang, hierarki itu masih ada. Bahwa bentuk-bentuk, eksotisme Bali, kemudian Bali yang digambarkan sebagai wisata apapun, menurut saya itu masih tempaannya dari sesuatu yang di atas. Tidak pernah dari kebutuhan masyarakat.

Bentuk-bentuk (pariwisata berbasis kemauan warga lokal) yang menurut saya cukup berhasil ada di Tenganan (Karangasem) dan Penglipuran (Bangli). Banyak pihak di sana yang terlibat. Bayangan saya, pariwisata akan begitu jika datang dari bawah. Langsung dinikmati masyarakat setempat. Di homestay, bukan hotel.

Kalau saya melihat pemerintah pusat itu desperate banget. Reklamasi oleh Pelindo di Teluk Benoa, misalnya. Ada warga setempat yang terhimpit tetapi di sisi lain Kementerian Koordinator Maritim bilang nanti Tanjung Benoa dijadikan tempat bersandar kapal bersandar, merek-merek global. Ada kesenjangan antara yang dibutuhkan masyarakat setempat dengan apa yang dilakukan pemerintah.

Contoh lain Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang. Masyarakat Hindu dan Islam di sana berusaha mempertahankan desa, tetapi ada kebijakan yang dilakukan tanpa bertanya apakah mereka butuh atau tidak. Dan, warga kalah ketika menggugat di pengadilan.

Bali punya jati diri. Bali sedang menjaganya, tetapi terhimpit. Masalah lingkungan hidup paling nyata. Perubahan Bali telah merusak lingkungan hidup. Bali kalau tidak ada palemahan (alam) ya tidak nyata lagi.

Saras Dewi saat sembahyang di Teluk Benoa. Foto Twitter Saras Dewi.

Apa bukti paling nyata dari kerusakan lingkungan Bali?

Banyak sekali. Tentu hilangnya wilayah-wilayah alam yang bagi orang Bali adalah juga titik sakral. Juga dampak limbah yang tidak bisa ditanggulangi. Kalau wisata masif begini, gimana kita pertanggungjawabkan limbahnya? Karena masyarakat yang terkena dampak justru diabaikan.

Pencemaran laut juga jadi perhatian publik dunia. Karena di satu sisi Bali identik dengan keindahan alam dan pantainya, tetapi bukan ubur-ubur yang dijumpai turis melainkan plastik. Masyarakat Bali harus bertindak, tidak hanya mengeluh. Saya lihat makin banyak inisiatif karena masalahnya sudah akut.

Apakah inisiatif-inisiatif ini termasuk baru?

Menurut saya sih hal baru. Salah satu contohnya ogoh-ogoh itu. Dari tahun lalu sudah ada yang tidak pakai bahan berbahaya. Tahun ini bahkan ada yang 100 persen daur ulang. Itu contoh yang tadi saya sebut, ritual dan lingkungan itu satu. Tema lingkungan itu kental sekali dalam seni orang Bali.

Terkadang orang Bali itu, mereka merasa bentuk kritik itu lewa karya seni. Lihat seperti Navicula, SID (Superman is Dead), Nosstress. Di seni rupa ada Citrasasmita. Mereka generasi 90an. Mereka gelisah pada ruang hidupnya yang makin tidak nyaman.

Termasuk ogoh-ogoh itu hal baru. Mereka proyeksikan (kritik) lewat karya seni. Itu kesadaran yang direstorasi kembali. Kita punya kesadaran nenek moyang yang diwariskan turun temurun. Dalam perjalanan kita lupa dan harus direkonstruksi lagi. Jadi buat saya kayak karya ogoh-ogoh di Ubung (tentang paus terdampar di lautan sampah plastik), itu emosinya benar-benar tersampaikan.

Begitu melihat, saya langsung berpikir ogoh-ogoh di Ubung itu mewakili perasaan banyak orang. Sedih, tetapi ada harapan bahwa anak-anak muda coba mengingat kembali pelestarian lingkungan. Pada saat pawai juga sudah ada kesadaran tidak pakai plastik dan bawa tumbler.

Bagaimana membawa perubahan dari skala mikro itu ke makro?

Itu juga yang saya pikir. Bagaimana agar dampak itu terasa lebih massal. Namun, saya percaya hal-hal kecil begini cepat menyebar. Ini bukti bahwa Nyepi jadi milik semua orang. Di satu sisi dia lebih mengakar, radikal, tetapi juga dinikmati secara horisontal. Kadang-kadang memang paradoks. Bagaimana dari tindakan kecil sederhana sehari-hari, ternyata bisa berdampak besar.

Proses perubahan itu lama dan seringkali butuh kerja untuk pengobatan. Sementara pemerintah masih sibuk sama pileg, pilpres. Sibuk sama yang seksi-seksi dalam politik praktis. Krisisnya nyata tetapi yang dipersoalkan soal-soal yang tidak substansial.

Bagaimana mengubahnya di Bali?

Pilihlah wakil rakyat yang punya visi misi nyata pada lingkungan. Sayangnya, itu belum jadi program. Politik identitasnya masih sangat kuat. Di Jakarta juga begitu. Problem lingkungan hidup itu bukan hayalan. Sedang berlangsung. Tetapi, persepsi manusia belum berubah. Masih banyak penyangkalan.

Meskipun demikian, saya lihat melalui Nyepi bahwa bagi orang Bali, alam itu perlu diprioritaskan.

Tetapi sebelum itu juga banyak sumber daya dikorbankan, misalnya dengan membakar ogoh-ogoh?

Buat saya itu kritik yang penting untuk diingat. Pada sifatnya semua ritual seharusnya menyasar pada kesederhanaan. Tetapi banyak pihak yang melupakan itu karena dia jadi komoditas. Misalnya wisata pada saat Nyepi. Kedua, saya lihat Tapa Brata Penyepian kalau di kota mungkin kental, tetapi di desa jauh lebih sederhana. Lebih khusyuk.

Menurut saya itu kritik penting. Apalagi Nyepi kali ini berdempetan dengan begitu banyak rainan (hari raya umat Hindu Bali). Sibuk sekali orang Bali.

Dulu itu pada zaman setelah bom Bali, ada krisis ekonomi, saya lihat ada upaya menyederhanakan banten. Saya percaya pada prinsipnya, banten itu perangkat yang diberikan secara ikhlas pada dewa. Namun dalam praktiknya itu terabaikan bahwa ada kesukarelaan dan bersahaja.

Mengapa orang Bali terikat atau butuh ekspresi dalam ritual? Menurut saya itu sebenarnya, seperti kata (Miguel) Covarubias, tiap orang di Bali itu seniman. Mereka butuh ekspresi itu. Bebersamaan. Guyubnya. Itu kenapa ada struktur sosial begitu. Bahwa itu punya ongkos, betul. Tetapi memang ada kebutuhan sosial terhadap itu.

Tentunya Hindu tidak hanya di Bali. Di Jawa berbeda. Penghayatan terhadap kolektif juga berbeda. Di Bali saya lihat ada kebutuhan guyub. Seperti kata Martin Heidegger, well being-nya di sana. Dia butuh kebersamaan. Kental banget. [b]

The post Kegelisahan Saras Dewi pada Rusaknya Lingkungan Bali appeared first on BaleBengong.

Anjing Ras Kintamani, Jangan ‘Dipoligami’


Anjing ras kintamani Bangli menunjukkan eksistensinya.

Ya, nama ras anjing yang tidak asing lagi di dengar ini kini mulai menggaet perhatian pecinta anjing. Sayangnya, ras yang berasal dari Kintamani, Bangli ini mengalami berbagai ancaman. Salah satunya mempertahankan kemurnian ras aslinya.

I Made Kardena, Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Universitas Udayana mengatakan kedatangan ras luar yang dikawinkan dengan ras kintamani diduga menjadi salah satu faktor yang bisa mengancam kemurnian anjing kintamani.

“Jika tidak mendapat dukungan dari semua pihak dan terus seperti ini, takutnya akan berpengaruh terhadap fenotipe anjing ras itu sendiri dan bisa saja ada perubahan pada ras itu,” tuturnya.

Adanya virus rabies turut menyumbang ancaman untuk anjing kintamani. Menurut Kardena virus ini tidak bisa dikendalikan seperti faktor ancaman lainnya. Adapun jalan satu-satunya yang bisa meminimalisir ancaman ini adalah melalui vaksin.

“Jangan hanya memelihara karena suka. Tapi berikanlah perhatian, seperti menjaga kesehatan anjing dengan memberikan vaksin, minimal setahun sekali,” tandasnya.

Ternyata di balik bulu lebatnya, anjing ras kintamani memiliki perbedaan jenis anatomi yaitu memiliki perawakan lebih kecil dari anjing ras lokal lainnya. Namun, meski perawakannya lebih kecil, ras ini tergolong aktif beraktivitas.

Kardena menyatakan anjing ras kintamani termasuk anjing yang pintar karena cepat mengerti kalau dilatih.

Kurang Kesadaran

Sayangnya, kesadaran pemilik anjing ras kintamani masih kurang, sehingga sering kali meremehkan pemeliharaannya. Padahal ras ini akan dicanangkan ke kancah dunia agar mendapat pengakuan.

“Hanya saja, masih melalui tahap seleksi karena jenis anatomi anjing ini unik,” tuturnya.

Tak hanya menggaet perhatian pecinta anjing untuk melestarikan ras ini, pihak fakultas kedokteran hewan kini sudah memasukkan ajing ras kintamani sebagai program unggulan. Sehingga semua pihak bisa semakin sadar bahwa anjing ras kintamani adalah salah satu ikon bali yang mesti dilestarikan.

Tak berhenti sampai program unggulan, anjing ras ini juga mulai mendapat perhatian dari Pet Learning Organization (PLO). Menurut Ketua PLO I Gede Erik Juliarta pecinta anjing yang meluas kini menyebabkan ras ini semakin meningkat.

Bahkan anjing ras kintamani sendiri terlibat dalam festival anjing yang diadakan setiap bulan Oktober. Maka tidak diherankan lagi, anjing ras kintamani mendapat pelatihan khusus di PLO.

“Menurut Federal Kinologi Internasional sendiri, anjing kintamani itu digolongkan dalam grup lima yaitu tipe speed dan primitive. Artinya anjing ras ini bisa dikembangbiakkan semaksimal mungkin secara alami. Jadi dibiarkan saja lepas,” tutur Erik.

Erik menuturkan, tipe anjing ini jika dikembangbiakkan di luar asal aslinya sebenarnya bisa saja. Asalkan pemeliharaannya harus disesuaikan. Tidak terlalu dikekang dan sering diajak bermain menjadi salah satu tips yang dipaparkan oleh Erik.

Apalagi ras ini memiliki keunikan yang menarik yaitu tipe anjing yang cerdas dan peka. Inilah alasannya mengapa anjing ras ini sering dilatih untuk anjing pelacak di dunia kepolisian. [b]

The post Anjing Ras Kintamani, Jangan ‘Dipoligami’ appeared first on BaleBengong.

Belajar dari Bali agar Plastik Terkendali

Senin 1 April 2019. Setengah jam sebelum jam keberangkatan, kami sudan tiba di stasiun Wonokromo.

Di sekitar saya dan ibu terdengar orang-orang sedang berbincang. Ada yang menggunakan logat Jawa. Ada pula yang menggunakan logat gue elo khas Jakarta.

Suasana libur kampus masih terasa. Sekumpulan anak muda membawa tas Carrier, tas punggung besar yang secara khususnya didesain untuk membawa barang banyak dan berat. Dari sekilas perbincangan mereka, tampak bahwa mereka akan mendaki gunung Semeru.

Kami menanti kereta Mutiara Selatan kelas bisnis. Keberangkatan pukul 07.29 WIB dari Stasiun Wonokromo Surabaya. Tujuan akhir Stasiun Malang Kota yang diperkirakan tiba pukul 9.38 WIB.

Pukul 7.25 WIB tersiar melalui pengeras suara stasiun. Kereta Mutiara Selatan akan tiba dan memasuki jalur 4. Para penumpang yang sedang duduk di area tunggu langsung berbondong menuju tepi rel kereta jalur 4.

Seragam serta topi dikenakan oleh masinis dan petugas. Kereta berangkat tepat pada waktunya. Saya berada pada kursi tempat duduk no 5A.

Ketika kereta mulai bergerak, saya membuka obrolan agar perjalanan tidak sepi. Sandaran yang nyaman, kursi yang empuk, dinginnya mesin pendingin, serta suara roda kereta terdengar jelas mengawali April ini.

Sesampainya di Stasiun Kota Bangil, sekitar pukul 8.40 WIB, terlihat dari jauh ada petugas kereta dengan seragam bertuliskan “On Trip Cleaning”. Diak membagikan sesuatu untuk para penumpang.

Sampah Plastik

Beberapa saat kemudian petugas itupun semakin mendekati bangku yang saya duduki. Ternyata ia membawa banyak kantong plastik berukuran kecil, lalu membagikannya kepada setiap penumpang sambil mengatakan, “Untuk tempat sampah”.

Satu gerbong kereta bisnis memiliki 17 baris kursi penumpang. Dalam satu baris tersebut ada 4 bagian A, B, C, dan D. Dalam perjalanan saya terdapat 4 gerbong bisnis dan mungkin 2 gerbong eksekutif.

Sejenak membayangkan. Berapa kantong plastik dibagikan petugas kepada penumpang?

Dua bulan pada awal tahun 2019, Februari dan Maret, saya menetap di Bali. Segala kegiatan di pulau ini sedang giat menyuarakan untuk mengurangi dan melarang penggunaan sampah plastik.

Sering kali ketika saya ingin berbelanja di minimarket ataupun toko kelontong, saya masih lupa untuk membawa tote bag, tas jinjing yang biasa digunakan sebagai pengganti kantong plastik. Saat hal ini terjadi ada beberapa minimarket yang menawarkan tote bag sebagai kantong plastik. Harganya sekitar Rp 5.000 sampai dengan Rp 10.000 per tote bag.

Karena di dua bulan ini saya belum terbiasa membawa tote bag ketika berpergian, maka hampir setiap saat belanja saya membeli tote bag. Mungkin sudah mempunyai 5 tote bag berbeda.

Pengalaman lain perihal mengurangi penggunaan plastik juga saya temukan pada penggunaan sedotan plastik di tempat makan atau kafe yang menyajikan minuman di menunya.

Ada beberapa tempat mengganti sedotan plastik dengan menggunakan sedotan terbuat dari stainless steel, yaitu sedotan yang terbuat dari besi yang sifatnya susah berkarat meski dipakai berulang kali.

Ada pula yang menggunakan sedotan bambu dan sedotan kertas. Namun, seringkali ada beberapa tempat yang tidak menyajikan sedotan sehingga memaksa saya untuk membeli serta membawa sedotan stainless ke manapun saya melangkah.

Ketika Bali sudah mengurangi penggunaan kantong plastik di setiap kegiatannya, ketika cake dan tempat nongkrong sejenisnya sudah menggunakan sedotan stainless steel, sedotan kertas, dan sedotan bambu.

Saya sedikit terkejut ketika melangkah ke Pulau Jawa penggunaan plastik masih sangat bebas. [b]

The post Belajar dari Bali agar Plastik Terkendali appeared first on BaleBengong.

Sexy Killers, Ketika Sumber Energi menjadi Pembunuh Keji


Sumber: WatchDoc

Semua berawal dari ledakan dari dalam tanah. Bum!!

Layar memerlihatkan ledakan di lokasi tambang. Tanah membubung tinggi lalu meninggalkan debu beterbangan. Kendaraan pengeruk dan truk-truk besar hilir mudik mengangkut hasil ledakan: batu bara.

Dari Kalimantan, puluhan ribu ton batu bara mengalir terutama ke Jawa dan Bali, dua pulau paling rakus mengonsumsi energi. Mereka melewati jalur sungai, laut, sebelum tiba di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan batu bara sebagai sumber energi.

Sepanjang itulah, sumber energi bumi bernama batu bara itu membawa bencana. Dari hulu hingga hilir. Sexy Killers, film dokumenter terbaru rumah produksi WatchDoc dengan apik menarasikan bagaimana sumber energi itu menjadi pembunuh bagi warganya sendiri, terutama kelompok miskin dan pedesaan.

WatchDoc meluncurkan dokumenter sepanjang 88 menit ini pada Jumat (5/4/2019) lalu. Pada hari itu juga, berbagai komunitas di lebih dari 10 kota menggelar nonton bareng: Semarang, Samarinda, Surabaya, Kupang, Makassar, dan seterusnya.

Hampir seminggu berlalu, setidaknya sudah 252 lokasi menggelar nobar dokumenter Sexy Killers. Mereka terutama dari kalangan mahasiswa, komunitas, lembaga swadaya masyarakat, dan karang taruna.

Komunitas Perpustakaan Jalanan di Denpasar termasuk salah satu lokasi yang menggelar nobar itu pada Sabtu (6/4/2019) malam di Kampus Sudirman Universitas Udayana, Bali. Sekitar 50 penonton hadir di tempat parkir kampus negeri terbesar di Bali itu.

“Setelah nonton film ini saya jadi tahu bagaimana permainan para oligarki dalam industri batu bara di negeri ini,” kata I Made Wipra Prasita, salah satu penonton.

Nobar di Denpasar berlanjut dengan diskusi bertema energi bersih dan terbarukan. Praktisi energi matahari Agung Putradhyana, lebih akrab dipanggil Gung Kayon, hadir sebagai pembicara bersama Aam Wijaya dari Greenpeace Indonesia.

Gung Kayon termasuk narasumber dalam dokumenter Sexy Killers. Adapun Greenpeace Indonesia termasuk produser bersama Jaringan Advokasi Advokasi Tambang (JATAM).

Bagian Terakhir

Sexy Killers merupakan bagian terakhir dari rangkaian dokumenter hasil Ekspedisi Indonesia Biru. Dua jurnalis videografer, Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Suparta, melakukan perjalanan keliling Indonesia pada 2015. Selama sekitar setahun mereka menempuh perjalanan bersepeda motor dari Jakarta ke Bali, Sumba, Papua, Kalimantan, Sulawesi, lalu kembali ke Jawa.

Dari perjalanan itu mereka menghasilkan 12 film dokumenter tentang isu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dua di antaranya adalah Kala Benoa, tentang gerakan Bali tolak reklamasi Teluk Benoa dan (A)simetris, tentang industri kelapa sawit.

Menurut sutradara Dandhy D Laksono bagian inti dari Sexy Killers dikerjakan selama Ekspedisi Indonesia Biru dengan mengambil lokasi Kalimantan Timur. Pengembangan cerita lalu dilakukan di beberapa daerah seperti Jawa, Bali, dan Sulawesi dengan melibatkan videografer lain di daerah-daerah itu.

Sebagaimana dokumenter khas Ekspedisi Indonesia Biru lainnya, Sexy Killers juga menghadirkan sisi lain dari pembangunan infrastrukur yang begitu masif di zaman Joko Widodo – Jusuf Kalla. Di balik banyak pembangunan PLTU Batubara, terdapat korban-korban dari kalangan petani, nelayan, dan kelompok rentan lain.

Sexy Killers menunjukkan para korban “pembunuhan” batu bara itu terentang dari hulu hingga hilir. Dari lokasi penambangan sampai di mana batu bara itu digunakan.

Di lokasi penambangan di Kalimantan Timur, misalnya, petani dari Jawa dan Bali yang melakukan transmigrasi pada zaman Orde Baru, kini harus berhadapan dengan industri penambangan batu bara. Mereka tergusur atau tercemar.

“Dulu sebelum ada bangunan batubara, sawah tidak rusak. Tidak amburadul. Sekarang sejak ada tambang, rakyat kecil malah sengsara. Yang enak, rakyat yang besar. Ongkang-ongkang kaki terima uang. Kalau kita terima apa? Terima imbasnya. Lumpur..” kata salah satu petani.

Lubang-lubang bekas tambang yang ditinggalkan, kini juga meminta tumbal. Menurut Sexy Killers, sejak 2011 – 2018, sebanyak 32 orang mati tenggelam di bekas lubang tambang di Kalimantan Timur. Secara nasional dalam kurun waktu 2014-2018 terdapat 115 orang mati.

PLTU Celukan Bawang yang sudah berdiri sejak 2015. Foto Anton Muhajir.

Banyak Tumbal

Dari lokasi penambangan, pengangkutan batu bara itu terus memakan lebih banyak tumbal ketika diangkut menuju lokasi PLTU di Jawa dan Bali. Di Batang, Jawa Tengah, petani tergusur dan tidak bisa leluasa memasuki sawahnya. Nelayan juga terkepung PLTU sehingga sumber penghidupannya terancam. Terumbu karang hancur karena tumpahan batu bara atau jangkar kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara.

Nek PLTU berdiri, anakku arep digowo mrindi? Wis ora ono maneh tempat Indonesia, Pak. Gara-gara wong sing pinter kuwi, gununge didol. Segoro arep ditanduri wesi,” seorang nelayan bersuara dengan agak berteriak lalu menepuk dada menahan amarahnya.

Artinya, “Jika ada PLTU, anak kami mau dibawa ke mana? Sudah tidak ada tempat lagi di Indonesia. Gara-gara orang pinter itu, gunung dijual. Laut ditanami besi.”

Di tempat lain, asap PLTU batu bara itu bahkan telah merenggut nyawa warga sekitar, seperti di Palu, Sulawesi Tengah. Sexy Killers menghadirkan getir tangis para korban di balik gemerlap lampu yang dinikmati warga sehari-hari.

Di Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, hadirnya PLTU juga membawa banyak masalah bagi warga setempat. Laporan Greenpeace Indonesia pada April 2018 menyebutkan PLTU Celukan Bawang yang beroperasi sejak 2015 itu menimbulkan empat dampak.

Pertama, ganti rugi tanah yang belum selesai, antara lain karena nilai ganti rugi yang tidak layak dan proses yang tidak transparan. Kedua, hancurnya mata pencaharian, terutama untuk petani dan nelayan tangkap. Ketiga, kerusakan lingkungan di darat dan di laut akibat limbah sisa pembakaran. Keempat, terganggunya kesehatan warga terutama sakit pernapasan yang diperburuk tidak adanya pemantauan mengenai dampak kesehatan.

Ironisnya, PLTU Celukan Bawang sebenarnya tidak pernah masuk dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) di Bali. Menurut RUPTL Nasional, Bali termasuk provinsi dengan rasio elektrifikasi tertinggi di Indonesia, 100 persen, bersama DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Bandingkan dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) 70 persen atau Papua, 65 persen.

Saat ini, beban puncak kebutuhan listri Bali mencapai 825 megawatt. Adapun total pasokan listrik sudah melebihi, yaitu 1.248 megawatt.

Ketika pasokan listrik Bali sudah berlebih dan PLTU Celukan Bawang sudah menimbulkan banyak dampak buruk bagi warga setempat, di tempat yang sama justru akan dibangun PLTU tahap II.

Menjelang Pilpres

Toh, Sexy Killers tak semata menghadirkan para korban di lapangan, tetapi juga pat gulipat para pemilik industri penambagan batu bara maupun listrik yang dihasilkannya. Dokumenter ini dengan jeli mengungkap bagaimana perseteruan politik saat ini tak berarti apa-apa ketika melihat mesranya hubungan bisnis para calon di industri batu bara.

Luhut Binsar Panjaitan, Sandiaga Uno, Erick Tohir, Joko Widodo, bahkan Ma’ruf Amien memiliki hubungan dengan makin maraknya bisnis batu bara meskipun membunuh warganya sendiri itu. Tak sekadar narasi, Sexy Killers layak disebut sebagai dokumenter investigasi.

Pengungkapan data-data kepemilikan perusahaan tambang batu bara maupun PLTU itu merupakan hasil kerja kolaborasi. Menurut Dandhy, ada tim riset khusus yang menekuni dokumen seperti akta perusahaan sampai mencocokkannya dengan kondisi lapangan. Setidaknya ada lima produser yang juga periset lapangan dan seorang periset khusus untuk dokumen perusahaan.

“Lalu kami di WatchDoc mensinkronkan ulang semua kepingan, sebelum akhirnya kami konfirmasi lagi kepada tim riset untuk presisinya. Jadi ada tiga tahap pemeriksaan,” ujarnya.

Dandhy melanjutkan mungkin ada saja nanti yang bolong atau kurang akurat, tapi risiko itu sudah diperkecil. “Itu menunjukkan tidak ada iktikad buruk dalam pengungkapan ini semua, kecuali untuk kepentingan dan pengetahuan publik,” tegasnya.

Karena itu pula, WatchDoc memiliki alasan tersendiri kenapa meluncurkan Sexy Killers menjelang Pilpres.

Pertama, ini isu berdekade-dekade yang tidak terlalu dipedulikan banyak pihak. “Siapa yang peduli dengan isu batu bara, energi bersih, reklamasi, penggusuran, kelapa sawit, jika tidak sedang euforia politik?” tanya Dandhy.

“Inilah saat tepat untuk membicarakan kebijakan publik dalam substansi lebih relevan daripada sentimen agama, nasionalisme semu, atau gimmick-gimmick personal, seperti keluarga,” lanjutnya.

Kedua, Dandhy melanjutkan, Ekspedisi Indonesia Biru sudah ada empat tahun lebih awal dari Pemilu Legislatif dan Pilpres 2019. “Ketiga, agar publik tahu siapa sesungguhnya yang mereka pilih dan tidak pilih,” kata Dandhy yang dalam beberapa sikapnya menunjukkan akan golput itu. [b]

Catatan: Versi lain artikel ini terbit di Beritagar.

The post Sexy Killers, Ketika Sumber Energi menjadi Pembunuh Keji appeared first on BaleBengong.

ForBALI Segel Kantor DPRD dan Gubernur Bali


ForBALI dan Pasubayan Tolak Reklamasi saat aksi di DPRD Bali Sabtu (23-03-19). Foto Risky Darmawan.

ForBali dan Pasubayan kembali menggelar aksi tolak reklamasi.

Aksi Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) dan Pasubayan Tolak Reklamasi pada Sabtu (23/03/2019) dimulai dengan pawai dari parkir timur Renon dilanjutkan dengan mengitari jalan raya Puputan dan menuju kantor DPRD Bali.

Di depan kantor DPRD Bali massa aksi membentangkan spanduk besar 10 x 3 meter persegi. Tulisannya “Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Batalkan Perpres 51 tahun 2014″.

Hal tersebut sebagai sinyal kepada para anggota DPRD Bali agar serius bersikap dan melakukan tindakan konkret atas janji-janji politik yang sebelumnya pernah dikatakan saat kampanye.

Koordinator ForBali Wayan Gendo Suardana menjelaskan bahwa aksi ini merupakan aksi perdana penolakan reklamasi Teluk Benoa di tahun 2019. Aksi ini juga merupakan respon terhadap izin lokasi yang diterbitkan Menteri Susi Pudjiastuti pada 25 Desember 2018 lalu pada PT Tirta Wahana Bali International (PT TWBI).

“Izin lokasi baru merupakan cerminan sikap pemerintah yang tidak berpihak terhadap gerakan rakyat. Terlebih kita tidak tahu bahwa izin lokasi ini prosesnya dari nol atau tidak,” ujarnya.

Menurut Gendo jika izin lokasi itu baru mesti melalui proses dari nol sesuai dengan logika hukumnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan pembelaan sangat normatif. Ia acapkali mengatakan bahwa izin lokasi merupakan hal prosedural yang harus ia lakukan.

Namun, dalam konteks ini Genodo mengatakan bahwa rakyat Bali membutuhkan menteri sebagai pemegang kebijakan. Bukan sebagai administratur semata yang hanya mengecek kesesuian tata ruang lalu memberi stempel.

“Seharusnya Susi Pudjiastuti melakukan pengujian saat akan menerbitkan izin lokasi dan melakukan tindakan diskresi terhadap kewenangannya apakah reklamasi Teluk Benoa itu urgen atau tidak,” kata Gendo.

Teguran

Jerinx Superman Is Dead yang juga hadir pada aksi kali ini juga mengatakan bahwa aksi ini merupakan teguran terhada Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti terhadap izin lokasi yang terbitkan 25 Desember lalu. Jerinx juga mengkritik sikap Gubernur Bali Wayan Koster yang sampai detik ini tidak mau membuka surat yang sempat ia kirimkan kepada Presiden Joko widodo.

“Apabila memang benar Gubernu Bali Wayan Koster serius menolak reklamasi, seharusnya ia berani membuka isi suratnya kepada publik,” tandasnya.

Terkait izin lokasi reklamasi yang diterbitkan Susi Pudjiastuti Gendo Suardana juga menambahkan bahwa jika izin itu merupakan perpanjangan dan tidak melalui proses dari awal atau dari nol, maka hal ini merupakan preseden hukum yang buruk.

Di samping itu Gendo juga menjelaskan bahwa dalam skala lokal pada pilkada sebelumnya hampir semua partai menyatakan diri menolak reklamasi Teluk Benoa. Aksi ini merupakan pelajaran agar tidak menjadi kebiasaan saat pilkada partai-partai menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa, bahkan ada juga yang membuat pakta integritas atau ada juga politisi yang sampai turun aksi.

Apabila dibiarkan maka ini juga merupakan preseden buruk sebab rakyat hanya diberi janji-janji saja seolah-olah mereka menolak reklamasi tanpa ada sikap nyata.

Karena itu dalam aksi ini juga massa menekan agar partai-partai yang pernah membuat pakta integritas penolakan reklamasi atau yang menyatakan tolak reklamasi agar melakukan tindakan politik nyata. Misalnya dengan mendorong upaya-upaya politik entah dengan mekanisme rapat paripurna atau membentuk pansus yang sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya.

Aksi Parade Budaya dimeriahkan oleh orasi para basis penolak reklamasi Teluk Benoa, tarian barong dari Banjar Tatasan Kaja serta penampilan jamming dari musisi Jangkar Kuta.

Setelah itu ditutup dengan penampilan terakhir dari The Dissland yang memainkan lagu-lagu membakar semangat agar terus berjuang sampai Teluk Benoa Menang. Seusai itu massa kembali ke parkir timur dan membubarkan diri dengan tetib dan rapi. [b]

The post ForBALI Segel Kantor DPRD dan Gubernur Bali appeared first on BaleBengong.