Tag Archives: Lingkungan

Pemilahan Sampah di Rumah, Solusi Krisis Sampah di Bali

 

Keindahan Pulau Bali terancam oleh kerusakan yang sulit dihindari karena masalah sampah yang menjadi berita keseharian media massa. Saat ini saluran air yang  ada di seluruh pulau dibanjiri oleh sampah terutama sampah plastik. Hal ini mengundang perhatian dan keprihatinan banyak pihak, termasuk Yayasan Bumi Samaya yang concern terhadap permasalahan sampah di Bali.

Sean Nino, peneliti Yayasan Bumi Samaya mengatakan, salah satu solusi mengatasi masalah sampah di Bali adalah pemilahan sampah yang dimulai dari rumah. Masing-masih rumah tangga mesti ikut peduli terhadap sampah dengan cara memilah sampah antara sampah organik dan non-organik.

Cara yang kelihatannya sepele ini mampu mengurangi masalah, karena sampah yang telah dipilah akan dibawa petugas sampah untuk dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di mana sampah organik bisa diolah menjadi pupuk dan sampah non-organik seperti botol plastik dapat dijual dan didaur ulang.

Nino menjelaskan, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah kini telah diatur undang-undang di mana telah ada kerangka kebijakan sehingga provinsi dan desa di Indonesia memiliki kewenangan untuk membangun dan mengoperasikan infrastruktur mereka sendiri.

Contohnya, Bank sampah dan sistem pengumpulan sampah terdesentralisasi skala kecil kini telah banyak ada di desa-desa di Bali dan terbukti telah berhasil mengurai permasalahan sampah yang ada.

Hal tersebut juga dilakukan oleh Yayasan Bali Sasmaya dengan menggandeng pemerintah desa untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan sampah yang dilakukan salah satunya di Desa Pererenan, Badung dengan membangun TPST yang dikelola secara mandiri yang sejauh ini mendapat respon positif dari masyarakat.

Hasil dari pengolahan sampah sebenarnya cukup besar dan ini bisa menjadi pemasukan desa dan bisa dijadikan badan usaha milik desa. Hanya saja, belum banyak desa yang mau melakukan hal ini. Untuk itu, Yayasan Bali Sasmaya terus melakukan sosialisasi agar banyak desa di Bali membuat TPST termasuk kepada siswa sekolah dasar guna memberi pengetahuan betapa penting kesadaran dan kepedulian terhadap sampah dan lingkungan sekitar.

Program yang dilakukan Yayasan Bali Sasmaya adalah program ‘Merah Putih Hijau’ bertujuan menyelesaikan masalah sampah dengan mendesentralisasi pemilahan dan memastikan terjadinya pengolahan sampah terpadu dengan memberdayakan masyarakat lokal untuk mengelola dan mengolah sampah yang mereka hasilkan di wilayah mereka sendiri.

Dalam program ini proyek pengolahan sampah dilakukan Yayasan Bumi Sasmaya salah satunya di desa Pererenan, Badung yang telah berjalan. Caranya dengan mengajak masyarakat untuk memilah sampah antara sampah organik dan non-organik mulai dari masing-masing rumah dan untuk yayasan ini mengajak kepala desa untuk membuat peraturan desa, bagi yang tidak memilah sampah tidak diambil oleh petugas sampah. Cara itu mampu menggugah kesadaran warga desa untuk memilah sampah dan meningkatkan kepedulian terhadap sampah dari rumah masing-masing.

Dalam sebuah diskusi yang dilakukan Yayasan Bumi Sasmaya baru-baru ini di Denpasar dijelakan, sampah di Bali 65% berupa sampah organik. Sisanya sampah non-organik seperti logam, kaca, dan plastik serta kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di beberapa kabupaten di Bali yang penuh dan menimbulkan masalah baru.

Yayasan ini mengajak kepala desa untuk membuat peraturan desa terkait sampah. Peraturan ini terbukti sangat efektif membuat masyarakat sadar dan bertanggung jawab terhadap sampah. Setelah sampah dipilah kemudian dibawa ke tempat pengolahan dan diolah menjadi pupuk kompos. Cara ini mampu mengatasi permasalahan sampah di desa Pererenan, Badung.

Selain di desa Pererenan, Badung lokasi lain tempat dilakukannya program pengolahan sampah yakni di desa Baturiti Tabanan dan desa Penestenan, Ubud. Rencananya, program akan dilakukan di desa-desa lain di berbagai kabupaten/kota di Bali.

Seperti diketahui, TPST bisa dikelola oleh desa dan menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang di Bali tersebar di berbagai kabupaten. Sayangnya, banyak TPST tidak berjalan atau mangkrak karena kurangnya dana dan SDM. Yayasan Bumi Sasmaya siap melakukan kerja sama untuk mengelola TPST secara terarah dan profesional.

 

 

The post Pemilahan Sampah di Rumah, Solusi Krisis Sampah di Bali appeared first on BaleBengong.

BTR ADALAH KUNCI KEMENANGAN KANDIDAT PILGUB 2018

BTR ADALAH KUNCI KEMENANGAN KANDIDAT PILGUB 2018[*]

I Wayan Gendo Suardana**

Menarik memperhatikan hasil survey oleh Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) beberapa waktu lalu. Survey yang dilakukan 30 April hingga 6 Mei 2018 pada pokoknya menyatakan; “kalau pilkada Bali dilakukan pada saat survei awal Mei lalu, maka pasangan Wayan Koster-Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati mendapat dukungan 48,3 persen, sementara unggul atas IB Rai Dharmawijaya Mantra-I Ketut Sudikerta yang mendapat dukungan 26,9 persen, dan yang masih belum tahu itu jumlahnya 24,8 persen”

Namun demikian, yang membuat Penulis tergelitik justru jumlah suara 24,8% yang dinyatakan sebagai suara masyarakat yang baru akan memastikan pilihannya pada hari H. Artinya ini adalah suara mengambang yang akan cukup signifikan mementukan siapa yang terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Bali nanti. Siapa saja dari pasangan calon ini mampu secara maksimal meraih suara 24,8% ini secara dominan maka peta kekuatan pilgub Bali 2018 akan berubah.

Menurut Penulis fakta inilah yang sepertinya membuat kedua belah pihak baik dari kubu KBS-ACE maupun Mantrakerta terlihat all out terutama dalam kampanye terakhir hingga jelang minggu tenang. Kubu KBS ACE yang di dinyatakan menangpun tidak bisa sepenuhnya tenang, kendati di media massa hasil survey ini kerap didengungkan-dengungkan, namun menurut Penulis hal itu lebih sebagai penjaga “mental bertarung” simpatisannya saja. Di sisi lain, Penulis melihat bahwa kubu Mantra Kerta, justru semakin terpantik dengan hasil survey ini. Setidaknya survey ini menunjukan mereka masih berpeluang menang, dengan syarat bisa meraup maksimal suara mengambang sebesar 24,8% suara ini.

Asumsi penulis tersebut kiranya dapat diuji dengan ketatnya kampanye dari kedua kubu yang saling mengimbangi di minggu-minggu akhir. Saat kubu MantraKerta menggelar road show konser musik sebagai sebuah metode kampanye, kubu KBS ACE juga mengimbanginya. Perang isu di social media pun makin kuat. Menurut penulis situasi ini menunjukan kubu KBS ACE sendiri menyadari bahwa kemenangan mereka belum aman.

Siapakah 24,8 persen itu?

Penulis tertarik untuk menelisik dan melakukan penafsiran, siapa sesungguhnya yang dinyatakan sebagai masyarakat yang baru akan menentukan sikap pilihnya pada hari H? Hal ini menggelitik karena pihak SMRC tidak membuka, siapakah mereka ini atau setidak-tidaknya apa alasan dan motif mereka menentukan sikap pas hari H pemilihan? Apa ukuran mereka akan memilih atau tidak menggunakan hal pilihnya? Dalam konfrensi pers yang dimuat di media massa entah kenapa hal itu tidak terungkap.

Untuk menjawab hal ini Penulis akan mendasarkan pada aktifitas kampanye serta isu yang dimainkan kedua belah pihak dalam minggu-minggu terakhir termasuk isu dalam debat kandidat III. Ada beberapa perubahan mendasar yang dilakukan oleh Kubu KBS ACE. Perubahan ini Penulis cermati mengingat perubahan tersebut cenderung mendekati pola serta isu yang dimainkan oleh kubu Mantra Kerta

Pertama, pola kampanye; KBS ACE melakukan perubahan cukup signifikan dari pola mobilisasi massa ( pada akhir-akhir masa kampanye) mereka berubah dan intensif menggelar konser musik yang bertajuk “generasi millennial.” Nampaknya konser ini digunakan menandingi pola yang dimainkan Mantra Kerta (mereka sedari awal mencitrakan dirinya sebagai pemimpin dengan taste millennial). Secara sadar paslon Mantra Kerta menggunakan citra “generasi jaman now; baik dengan menggunakan isu economy orange maupun tampilan busana semi jeans yang sangat casual dan kekinian.

 

Paket KBS ACE terlihat agresif dalam formulasi barunya. Di setiap acara konser bertajuk “generasi millennial”, baik Wayan Kosrer maupun Tjok Ace pun berubah membalut dirinya dengan tampilan casual. Demikian pula poster-poster kampanyenya diisi dengan model anak-anak muda. Kesan yang sungguh berbeda dengan awal-awal kampanye mereka yang mengandalkan mobilisasi massa. Dari hal ini terlihat bahwa target mereka adalah meraih suara generai millennial.

 

Kedua, isu tolak reklamasi Teluk Benoa; Ini sejatinya adalah isu panas bagi kedua paslon. Namun kubu Mantra Kerta sedari awal fokus menkapitalisasi isu ini dengan berbagai cara. Sedangkan di pihak KBS ACE, pasca terjadinya blunder“tragedi nasbedag” yang sempat membuat mereka “limbung” secara politik, nampaknya lebih berhati-hati memainkan isu BTR. Mereka cenderung “menjauhi”isu BTR, supaya situasi bisa tetap kondusif setelah mereka sedikit berhasil mengatasi situasi blunder “Nas bedag” tersebut.

 

Namun tidak disangka pada debat terbuka III, di sesi tanya jawab antar kandidat, kubu KBS ACE menyodok dengan materi isu reklamasi Teluk Benoa. Terlihat target pertanyaan merontokan citra kubu Mantra Kerta yang terus memainkan isu BTR, dengan cara menunjukan ke publik bahwa Sudikerta adalah insiator reklamasi Teluk Benoa. Di satu sisi, menurut penulis, pertanyaan itu bisa merontokan kepercayaan pubik pada Mantra Kerta tapi di sisi lain hal itu bisa menjadi boomerang bagi KBS ACE, karena secara tidak langsung mereka kembali mengingatkan publik pada tragedi “nas bedag” yang secara politik sudah bisa diatasi.

 

Pertanyaanya mengapa kubu KBS ACE nekat memainkan isu BTR yang sdah susah payah mereka jauhkan dari pusaran air mereka? Karena logikanya, seharusnya mereka justru menajuhkan isu BTR dari pusaran mereka agar publik tidak lagi dingatkan dengan bluder politik “nasbedag”agar tidak mejadi bumerang politik. Jika dihubungkan dengan hasil survey SMRC, Kubu KBS ACE adalah pemenang, sehingga mereka tidak harus mengambil resiko menaikan isu BTR dalam debat kandidat. Tentu ada target yang lebih besar yang hendak diraih di banding dengan resiko yang harus ditanggung.

 

Berdasrkan paparan tersebutlah Penulis berpendapat bahwa 24,8% suara yang mengambang tersebut terindikasi adalah oraag-orang (setidaknya sebagian besar) adalah orang-orang yang akan menentukan pilihannya setelah mencermati sikap para kandidat terhadap isu reklamasi Teluk Benoa sampai hari H dan di dalammya banyak terdiri dari generasi millennial sebagai pemilih pemula. Tentu saja pendapat ini perlu dijaki lebih jauh dan mendalam serta dapat didasarkan pada survey SMRC.

 

BTR Adalah Kunci kemenangan

Keadaan-keadaan inilah yang menurut Penulis menajdi latar belakang kenekatan kubu KBS ACE memainkan isu BTR dalam masa kampanye terakhir. Jika tidak dapat meraih, setidaknya menahan suara mengambang sebesar 24,8% agar tidak direbut kubu Mantra Kerta menjadi keniscayaan bagi mereka. Jika benar pendapat penulis bahwa suara mengambang sebesar 24,8% adalah dominan suara yang sarat dengan isu BTR dan di dalamnya pemilih pemula maka tindakan KBS ACE dapat dipahami sebagai upaya menjaga kemenangan yang dinyatakan berdasarkan Survey SMRC, sebagai berikut:

  1. Memainkan isu sebagai paslon yang pro generasi millennial secara tidak langsung dapat menggerus citra Kubu Mantra Kerta sehingga kelompok generasi millennial yang ada di dalam 24,8% suara megambang itu dapat diraih atau setidak-tidaknya tidak beralih ke Kubu Mntra Kerta. Jika taktik kampaye mereka berhasil tidak hanya sekedar mendapatkan limpahan suara “generasi millennial” dari suara mengambang numgkin juga data mempengaruhi generasi millennial yang sudah terkonsolidasi di Kubu Mantra Kerta.
  2. Demikian pula dengan isu reklamasi Teluk Benoa. Dengan mengangkat polemik ini dan menujukan surat yang ditandatangani Sudikerta maka targetnya tentu saja adalah merontokkan citra kubu Mantra Kerta sebagai penolak reklamasi. Dengan cara ini maka seleuruh taktik Kubu Mantra Kerta sebagai penolak reklamasi akan terdelegetimasi. Target politiknya tentu saja besaran suara mengambang 24,8% tidak akan ke Mantra Kerta karena ketidakpercayaan sudah berhasil dibangun oleh mereka. Setidaknya dengan cara ini, jika suara BTR dalam 24,8% ini tidak bisa diraih maka menahan agar suara ini menjadi suara mengambang adalah target yang sangat realistis.

 

Tentu pendapat penulis ini menimbulkan pertanyaan , mengapa mempertahankan suara 24,8% itu menjadi suara mengambang alias golput menjadi target. Asumsinya sangat sederhana, jika suara 24,8 persen tersebut tidak dapat diraih oleh KBS ACE secara maksimal maka suara tersebut tidak boleh berpindah ke kubu Mantra Kerta. Jika suara tersebut pindah secara signifikan ke Mantra Kerta, maka berdasrkan survey SMRC, peluang Mantra Kerta menang tipis atas kubu KBS ACE sangat besar. Namun jika kubu KBS ACE berhasil membuat suara 24,8% tersebut tidak berpindah daja (dengan sumsi suara terssebut tidak bisa diraup mereka) maka dengan modal kemenangan sebagaimana survey SRMC sebesar 48,3% akan tetap menjadi milik mereka dan pesta kemanangan yang dinantikan dari lama siap dirayakan.

 

Berdasarkan pendapat Penulis ini maka dapat disimpulkan bahwa kunci kemenangan kedua kandidat sangat ditentukan oleh isu penolakan reklamasi Teluk Benoa yang selama bertahun-tahun tidak mendapat perhatian yang cukup dari kekuasaan dan lembaga-lembaga politik di Bali. Jadi para pejuang Teluk Benoa yang sudah bertahun-tahun di jalanan, inilah momentum yang instimewa karena saat ini kita menjadi penting di hadapat penguasa. Gunakan hak pilih kalian dengan baik, dan mari jaga martabat serta harga diri perjuangan kita. Selamat memilih!

 

 

 

 

 

[*] Tulisan dibuat pada 26 Juni 2018

** penulis adalah Koordinator ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa)

Kolaborasi Seni dan Gerakan Sosial untuk Perubahan

Penampilan Navicula di acara Kopernik Day 2018: Perayaan 8 Tahun Kolaborasi dan Inovasi. Foto Fauzan Adinugraha/Kopernik.

Ratusan anak muda berkerumun di depan panggung.

Mengikuti aba-aba gitar dan drum, mereka mulai loncat sambil menganggukkan kepala. Sang vokalis berambut panjang memimpin: “Penguasa jagalah dunia Bumi kita, rumah kita bersama.”

Sebuah lagu yang mengingatkan penonton atas bahaya pembangunan tanpa memikirkan dampak terhadap lingkungan sekitar. Penonton pun serempak ikut bernyanyi, meneguhkan pesan sang vokalis.

Perpaduan antara musik dan pergerakan sosial telah berjalan lama. Lagu-lagu musisi folk seperti Iwan Fals, sang ‘wakil rakyat’, pada tahun 1990-2000an menjadi yel-yel perjuangan hak masyarakat miskin dan marjinal hingga saat ini.

Pada tahun 2007, band asal Jakarta, Efek Rumah Kaca, mempersembahkan lagunya ‘Di Udara’ kepada aktivis HAM Munir Said Thalib. Ada pula alunan lagu band Nosstress yang mengiringi isu tata pembangunan dan menyempitnya ruang kota di Bali.

Pendekatan seni dan budaya guna menyuarakan tantangan lingkungan dan sosial masa kini menjadi sarana efektif untuk menarik hati dan memulai dialog dengan masyarakat, terutama anak-anak muda.

Sebagai organisasi yang berupaya menemukan solusi efektif dalam upaya penanggulangan kemiskinan, Kopernik menyadari bahwa dampak dari kegiatan suatu organisasi seringkali terbatas pada komunitas yang menerima dukungan tersebut secara langsung. Padahal mungkin saja ada daerah lain yang juga membutuhkan atau bahkan ada organisasi lain yang dapat meningkatkan efektifitas solusi tersebut.

Atas dasar itu, setahun terakhir ini Kopernik telah giat menjalin kerja sama dengan berbagai tokoh industri kreatif Indonesia untuk menyebarkan temuan dan mendorong dialog dalam rangka mengembangkan solusi-solusi efektif yang dapat memberikan perubahan sosial yang berkelanjutan. Beragam mitra kerja Kopernik — mulai dari musisi, sutradara sampai seniman — merupakan tokoh masyarakat yang berpengaruh dan memiliki posisi yang unik dalam mengangkat isu sosial dan meningkatkan partisipasi publik.

Salah satu mitra Kopernik, Navicula, dikenal sebagai band yang aktif terlibat dalam gerakan sosial dan lingkungan. Band asli Bali ini dijuluki sebagai Green Grunge Gentlemen karena pesan-pesan dalam musik mereka sarat dengan tema lingkungan seperti lagu “Metropolutan”, “Orangutan”, “Over Konsumsi”, atau “Di Rimba”.

Navicula, Erick EST dan Kopernik bersama pengguna lampu tenaga surya di Sumba saat proses produksi video klip Terus Berjuang. (Photo credit: Erick EST)

Bersama dengan Navicula dan sutradara Erick EST, Kopernik memproduksi video klip untuk lagu “Terus Berjuang” milik Navicula yang didedikasikan untuk para aktivis sosial dan lingkungan yang tengah berjuang mendorong perubahan sosial.

Video klip ini menyoroti isu kesenjangan akses listrik di daerah timur Indonesia dan menampilkan kegiatan beberapa Ibu Inspirasi Kopernik yang membantu memperluas akses energi di daerah terpencil melalui penjualan teknologi tepat guna, seperti lampu tenaga surya dan saringan air tanpa listrik.

Bukan hanya musik, seni audio-visual dan pertunjukan juga merupakan media yang efektif dalam meningkatkan wawasan masyarakat yang dapat mendorong perubahan sosial suatu kelompok masyarakat.

Mural dari seniman Sautel Chago di kantor Kopernik tentang pemilahan sampah anorganik dan organik. (Photo credit: Reza Muharram Harahap/Kopernik)

Prinsip itu juga yang menjadi dasar Kopernik untuk memulai proyek Pulau Plastik bekerja sama dengan Akarumput, sebuah rumah produksi asal Bali dengan misi meningkatkan wawasan masyarakat mengenai isu lingkungan dan sosial melalui seni visual, musik dan kampanye media.

Pulau Plastik merupakan serial video edukasi yang memadukan pendekatan budaya populer dan antropologi dengan media visual guna menjangkau masyarakat lokal dan mendorong kesadaran untuk mengelola sampah dengan lebih baik.

Komponen seni dan budaya dalam proyek Pulau Plastik diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi produk plastik sekali pakai di Pulau Bali.

Berdasarkan hasil penelitian Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Pulau Bali menghasilkan hingga 268 ton sampah plastik setiap harinya dan 44 persen tidak diolah sehingga mencemari lingkungan (Gatra, 24 April 2018). Sampah plastik tersebut terbuang di sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut dan membahayakan kehidupan biota laut. Masalah ini tidak dapat diatasi hanya dengan lembaga sosial atau pemerintah saja, namun butuh partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

Kopernik terus berkomitmen untuk menjalin kerja sama dengan industri kreatif dan lembaga sosial yang memperjuangkan isu sosial dan lingkungan, serta mendorong komunitas masyarakat untuk aktif berekspresi dan beraksi melalui medium masing-masing demi perjuangan mencapai pembangunan yang setara dan berkelanjutan. [b]

The post Kolaborasi Seni dan Gerakan Sosial untuk Perubahan appeared first on BaleBengong.

Navicula Rilis Lagu Ibu, Penghormatan untuk Bumi

Tak akan ada Ibu Bumi kedua, bila Ibu Bumi telah tiada.

Begitulah salah satu pesan Navicula, band grunge rock asal Bali, dalam lagu terbaru mereka, Ibu. Navicula merilis singel sekaligus klip lagu tentang lingkungan tersebut di Hard Rock Café Bali, Jumat kemarin.

Lagu Ibu ini merupakan salah satu lagu dari sederet lagu baru yang rencananya akan dijadikan satu album baru utuh, yang akan dirilis pada tahun ini. Album baru, yang rencananya akan berjudul Earthship ini, nantinya akan menjadi album ke-9 dari band Navicula.

Lagu Ibu bercerita tentang janji seorang manusia kepada alam, bumi, tempat dia tinggal, bahwa dia akan lebih peduli dan meluangkan waktu serta tenaga untuk menjaga, mencintai, dan melestarikannya.

“Kata Ibu (Ibu Pertiwi) bermakna Bumi, dan lagu ini adalah persembahan dan penghormatan kami kepada Bumi serta isinya,” jelas Gede Robi, frontman Navicula.

Bertepatan dengan hari kelahiran Pancasila, single ini dirilis berbarengan dengan peluncuran video klipnya. Video Klip Ibu disutradarai direktur muda, Ayu Pamungkas, bekerja sama dengan Komunitas Silur Barong, komunitas video maker yang bermarkas di Ubud, yang sebelumnya sempat membuat beberapa film pendek dan video iklan komersial.

Penggarapan rekaman lagu Ibu telah dimulai tahun lalu, sekitar bulan Oktober, direkam di studio rumah Navicula di Ubud, dan dimixing-mastering oleh Deny Surya.

Sementara video klipnya digarap awal April tahun ini. Mengambil lokasi syuting di Bali dan beberapa di perairan Papua, saat Robi, vokalis Navicula, turut berlayar bersama kapal legendaris Greenpeace, Rainbow Warrior, di kepulauan Raja Ampat.

Beberapa gambar lain adalah footage-footage kerusakan alam koleksi dari Greenpeace yang diberikan kepada Navicula khusus untuk pembuatan video klip ini.

Navicula juga menggaet biduan jelita asal California, Leanna Rachel, sebagai model di video klip ini.

Lagu Ibu ini masih kental rasa Navicula-nya, yang sejak berdiri 1996 silam, tetap konsisten menyuarakan isu sosial dan lingkungan hingga saat ini. Musik pada lagu Ibu bernuansa riff-riff berat khas Grunge atau Seattle-sound, aliran rock alternatif yang awalnya booming di era 90-an, sementara bagian reff-nya tetap pop, catchy, sekaligus anthemic, sehingga masih tetap asyik untuk ber- sing-a-long; sebuah format musik yang sudah menjadi ciri khas Navicula. Sementara soal pesan, bisa didengar dan dirasakan dengan jelas pada lirik-nya:

“… Kini aku berikrar, ku kan selalu menjagamu…Ku basuh kakimu… Karena ku tahu di sana ada surga …Tak akan ada Ibu Bumi kedua, bila Ibu Bumi telah tiada… Ku jaga dia, ku jaga selamanya, karena ku tahu dia pun jaga kita.” [b]

The post Navicula Rilis Lagu Ibu, Penghormatan untuk Bumi appeared first on BaleBengong.

Tidak Terpengaruh Pilkada, ForBALI Siap Menangkan Teluk Benoa

Aksi Parade Budaya menolak rencana reklamasi pada 26 Mei 2018. Foto ForBALI.

Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali turun ke jalan.

Tiga bulan menjelang izin lokasi reklamasi PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) berakhir pada 25 Agustus nanti, ribuan aktivis ForBALI kembali menggelar aksi depan kantor Gubernur Bali. Aksi tolak reklamasi dimulai dengan pawai dari parkir timur lapangan Renon, mengitari lapangan Niti Madala, menuju Bajra Sandhi, lalu sampai di kantor Gubernur Bali.

Di tengah situasi menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Bali Juni nanti, antusias massa untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa tidak surut. Hal itu terlihat dari ribuan massa aksi yang ikut dalam parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa.

Selama parade budaya, massa aksi kembali membawa lelancingan bertuliskan “Tolak Reklamasi Teluk Benoa – On Fire” yang diusung di atas kepala saat melakukan pawai. Orasi-orasi dalam parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa juga diramaikan perwakilan dari Sukawati, Ubud, Tabanan, Sumerta, Kesiman, dan Renon.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana menjelaskan bahwa jika pada 25 Agustus 2018 rencana reklamasi Teluk Benoa batal, maka itu bukan karena Gubernur Bali yang terpilih, batalnya rencana reklamasi Teluk Benoa adalah karena gerakan rakyat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

“Kalau suatu saat ada Gubernur yang menang dan habis menang bersurat kepada presiden, lalu 25 Agustus 2018 proyek ini batal, jangan berpikir bahwa itu gara-gara Gubernur yang baru. Kalau 25 Agustus 2018 izin lokasi berakhir, maka tidak ada urusan siapapun yang menghentikan kecuali adalah gerakan rakyat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.

Gendo melanjutkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) rencana reklamasi Teluk Benoa PT. TWBI tidak lolos di Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) karena rakyat Bali terus menolak rencana tersebut dengan melakukan demo, diskusi, menggelar konser mini, mendirikan baliho, mengibarkan bendera, memakai baju tolak reklamasi Teluk Benoa hingga dikriminalisasi karena menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

Untuk itu Gendo mengajak untuk terus menggelar aksi-aksi tolak reklamasi Teluk Benoa karena perjuangan ini sudah benar dan agar Pemerintah Pusat tahu bahwa rakyat Bali Terus bergerak untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. “Kita berjuang untuk komitmen menyelamatkan Teluk Benoa. Kita sudah berbicara puputan, maka lakukanlah seperti orang yang siap puputan, kita harus tetap kuat,” tegasnya.

Parade Budaya tolak reklamasi Teluk Benoa kali ini dimeriahkan oleh penampilan Band The Bullhead. Massa aksi menikmati alunan lagu dari band tersebut dengan riang gembira, setelah penampilan band The Bullhead usai, massa aksi kembali menuju parkir timur lapangan Renon dengan tertib sembari memungut sampah.

Aksi bersih-bersih pantai Sanur oleh Komunitas Leak Sanur 22 Mei 2018. Foto ForBALI.

Tak Hanya Aksi

Tak hanya aksi parade budaya, penolakan oleh ForBALI yang sudah berjalan sekitar lima tahun ini juga dilakukan dalam bentuk aksi bersih-bersih lingkungan ataupun pantai.

Empat hari sebelumnya, pada Selasa, 22 Mei 2018, Leak Sanur, basis gerakan Bali Tolak Reklamasi di wilayah Sanur menggelar kegiatan bersih-bersih pantai atau beach clean up.

I Wayan Hendrawan, Koordinator Leak Sanur menyatakkan bahwa kegiatan beach clean up memang rutin mereka lakukan hampir setiap minggu. Selain menjaga kebersihan pantai, kegiatan itu juga untuk menggugah kesadaran masyarakat dan pengunjung pantai agar senantiasa menjaga kebersihan.

Lebih lanjut Apel, panggilan akrabnya, menjelaskan upaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan bergotong royong bersih-bersih lingkungan tapi juga berani melakukan perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan rakus yang dapat merusak lingkungan kita.

Tak hanya warga Sanur, beberapa turis asing juga ikut memungut sampah saat aksi bersih-bersih pantai tersebut.

I Ketut Ariawan, salah seorang peserta mengatakan pemuda Sanur memiliki beberapa komunitas yang rutin melakukan kegiatan beach clean up untuk menjaga pantai.

“Kami juga turut aktif dalam aksi-aksi demo menolak reklamasi Teluk Benoa,” jelasnya.

Pendirian Baliho oleh Forum Pemuda Karangasem dan Pemuda Geriana Kauh, 20 Mei 2018. Foto ForBALI.

Bangkit Melawan

Sebelumnya, pada 20 Mei lalu, ketika Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional, aktivis ForBALI di Renon dan Karangasem juga melakukan aksi menolak reklamasi.

Pemuda Desa Adat Renon mengibarkan bendera ForBALI berukuran 8 x 6m pada tengah malam sekitar pukul 23.00 WITA. Mereka memasang bendera raksasa itu di Jl. Raya Puputan tepat di seberang Plaza Renon, jalur masuk menuju kawasan kantor pemerintahan Provinsi Bali.

I Gede Eka Suputra, koordinator kegiatan malam itu menjelaskan sebuah perjuangan membutuhkan semangat persatuan dan kesatuan. “Semangat itu harus terus dibangkitkan dalam perjuangan panjang ini,” ujar Eka panggilan akrabnya.

Di tempat berbeda pada hari yang sama, Forum Pemuda Karangasem (FPK) bersama pemuda Banjar Geriana Kauh, Desa Duda Utara juga kembali mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa. Baliho 3 x 2 meter itu didirikan di pertigaan Banjar Bangbang Biaung, Desa Duda, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Kabupaten Karangasem merupakan daerah jauh dari Teluk Benoa dan tidak terdampak apabila Teluk Benoa direklamasi. Namun, semangat pemuda Karangasem yang tergabung dalam FPK ini menandakan bahwa solidaritas penyelamatan lingkungan sangatlah tinggi.

Koordinator FPK I Komang Subagiarta mengatakan walaupun berada di pegunungan dan jauh dari Teluk Benoa tetapi sebagai bentuk solidaritas dan tanggung jawab sebagai pemuda Bali, mereka akan tetap konsisten menyatakan dengan tegas menolak reklamasi Teluk Benoa. “Sesuai konsep Nyegara Gunung, kami memahami bahwa antara laut dan gunung adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Setiap tindakan di gunung akan berdampak pada laut, dan sebaliknya,” ujarnya.

Subagiarta menambahkan tahun 2018 merupakan tahun penentuan bagi habisnya masa berlaku dari izin lokasi milik investor yang ingin mereklamasi Teluk Benoa. Karena itu, menurutnya, mereka akan terus bergerak dan bertahan. “Teluk Benoa harus menang,” imbuhnya.

Sebelumnya pada hari yang sama FPK bersama WALHI Bali, ForBALI dan Frontier Bali melakukan aksi solidaritas terhadap pengungsi Gunung Agung. Mereka mendistribusikan sejumlah bahan logistik berupa obat-obatan, sembako, pakaian balita, dan keperluan MCK kepada pengungsi di Posko Pengungsi Banjar Tegeh, Desa Amertha Buana, Kabupaten Karangasem. [b]

The post Tidak Terpengaruh Pilkada, ForBALI Siap Menangkan Teluk Benoa appeared first on BaleBengong.