Tag Archives: Lingkungan

Burung Hantu Bantu Petani Kendalikan Tikus

Kadek Jonita atau Dek Joy menggagas penangkaran burung hantu di Dusun Pagi, Desa Senganan, Tabanan. Foto Anton Muhajir.

Deretan burung hantu terlihat di pinggir jalan dusun di kaki Gunung Batukaru.

Mereka hinggap di depan rumah warga Dusun Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan. Saat malam, burung-burung itu mengeluarkan pendar cahaya dari lampu di dalamnya.

Deretan burung itu memang sekadar lampu. Mereka inisiatif untuk mengenalkan kembali pada generasi kini. Burung hantu adalah predator alami hama tikus yang membuat hasil panen sengkarut.

Beberapa tahun ini, petani di Dusun Pagi resah. Hama tikus merajelala. Panen padi berkurang. Padahal warga sedang semangat menanam padi lokal jenis beras merah yang ditanam enam bulan sekali. Dusun ini juga baru memulai meninggalkan asupan kimiawi.

Anak-anak dan remaja kini makin akrab dengan rupa si Tyto Alba, nama latin burung hantu pemburu tikus sawah ini. Ada yang membuat rupa burung terkenal di kisah Harry Potter ini dalam bentuk patung, tanah liat, dan lainnya.

Selain bertengger sebagai hiasan depan rumah warga, burung-burung ini juga dibudidayakan. Dari empat anakan, kini sudah beranak pinak lagi hampir 10 ekor dalam dua tahun terakhir ini.

Misalnya saja, satu anakan kini berusia setahun dan punya lima anak. Tiap malam, rata-rata satu ekor burung hantu perlu dua ekor tikus yang diburu untuk menu pokok mereka. Dari empat ekor anakan pertama, tiga ekor sudah beranak pinak. Seekor tak bisa produktif karena kakinya patah kena benang layangan yang tajam.

Pergerakan para burung hantu bisa sampai radius 20 km, artinya ia bisa mengurangi tikus tak hanya sawah sekitar kandangnya juga desa lain. Tyto Alba dewasa mulai dilepas akhir 2015 sebanyak 4 ekor.

Adanya burung hantu di Dusun pagi bisa mengendalikan hama tikus di dusun tersebut. Foto Anton Muhajir.

Panen Berkurang

Kisah pelestarian burung hantu sebagai predator alami hama tikus ini dimulai karena hasil panen terus berkurang. “Ada petani, jerami saja tak dapat,” ingat Kadek Jonita, salah seorang penggerak dusun ini. Pria yang dipanggil Dek Enjoy ini berdiskusi dengan warga lain.

Hingga mereka memutuskan harus belajar dulu ke Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Demak, Jawa Tengah yang berhasil membudidayakan burung hantu. Mereka berhasil membuat unit rumah-rumah burung hantu menjulang di tengah sawah dan hama tikus lebih terkendali.

Pulang dari Demak, warga Dusun Pagi kemudian memburu anakan Tyto Alba di Tabanan. Mereka berkeliling sekitar sebulan ke sejumlah lokasi yang disebut pernah terlihat kandang burung hantu. Sebagai binatang nocturnal, mereka mencari lokasi sepi, agak tinggi tak terjangkau warga.

“Mereka bersarang di atap rumah-rumah karena sudah sulit buat kandang di pohon-pohon tinggi dan tanpa sumber air,” tutur Dek Enjoy.

Dengan dana swadaya, warga mulai menangkar burung hantu ini di dusun Pagi. Sebagai awalan, Dek Enjoy yang juga petani ini mencarikan makanan bagi anak-anak burung hantu ini. Di rumahnya terlihat deretan senapan angin untuk memburu tikus yang merusak sawahnya. Dalam seminggu ia harus mendapatkan setidaknya 200 tikus yang diburu malam hari, dibantu senter. Sebelum diringankan oleh para preadator ini, senapan angin lah senjatanya memerangi hama.

Warga juga membuat rumah burung hantu di sawah dan tempat penangkaran. Di dalam kandang, terlihat empat ekor dewasa. Satu ekor yang sudah dilepasliarkan malah memilih sebuah atap bangunan tua untuk rumahnya.

Sekitar kandang berbau tajam. Tulang belulang dan kepala tikus terihat di sana-sini. Para burung hantu ini memang melepehkan sisa yang tak disukainya. Bau sisa organ tikus dan air ludah ini juga yang menjadi jejaknya untuk kembali pulang ke kandang, menuntunnya memastikan itu rumahnya.

Untuk memperbanyak burung hantu, petani di Dusun Pagi membuatkan rumah di sawah. Foto Anton Muhajir.

Burung Hantu sang Pengendali

Dusun ini sudah lebih tiga tahun bergerak untuk kembali mempraktikkan tradisi pertaniannya yang alami di masa lalu sebelum revolusi hijau terjadi. Mereka beberapa kali membuat event pertanian bersama kelompok subak (organisasi pertanian di Bali). Namanya UmaWali. Sebuah perayaan alam dengan kesenian dan pendidikan. Warga diajak mengunjungi pertanian yang selaras alam dan mengenalkan anak-anak setempat tentang potensi alamnya.

Sebuah komunitas warga Tabanan bernama Tabanan Lover (Talov) mencoba mendorong pertanian organik dan menjawab keresahan petani Bali hingga kini yakni pemasaran beras langsung ke konsumen. Mereka membuat sistem pemasaran beras petani langsung ke konsumen. Caranya dengan program beras indent.

Tiap konsumen yang terdaftar sebagai pelanggan melakukan indent atau menyetorkan uang 10% pembelian dahulu ke kelompok petani Subak Ganggangan, di Desa Pagi, Tabanan. Ini adalah kelompok subak yang didorong Talov untuk tetap lestari dengan menjaga tradisi dan lahannya.

Pada awalnya ada petani yang ragu karena mereka terlalu sering dapat janji-janji dari berbagai pihak tetapi tidak terlaksana. “Saya sendiri sudah melakukan pola tanam organik ini sekitar 3 tahun. Meskipun lahan yang saya kelola sekitar 30 are tidak luput dari serangan hama tikus namun hasil yang saya capai masih sangat lumayan yaitu 1,8 ton Padi Bali,” tutur Dek Enjoy. Jika tidak diserang tikus hasilnya lebih dari 2,5 ton.

Tetapi yang paling mempengaruhi kesadaran petani adalah faktor biaya produksi. Walau hasil padi sama antara organik dan anorganik, setelah diselip hasil berasnya berbeda. Gabah anorganik kering giling umumnya menghasilkan maksimal 60kg beras/100kg gabah kering giling. Sementara yang organik mampu menghasilkan hampir 80kg beras/100 kg gabah kering giling.

Para pelanggan beras indent yang terdaftar disebut Sahabat Umawali. Mereka memberikan deposit di awal sebesar 10% dari total paket yang disepakati. Deposit dibayar di awal musim tanam. Tujuan dari deposit ini adalah menjalin ikatan pertemanan anatar petani dan calon pembelinya. Sehingga diharapkan ada gairah dan semangat lebih bagi petani mengolah lahannya.

Dengan jalinan yang erat, kedua pihak akan diyakini muncul ikatan emosional antara pemroduksi beras dan pengkonsumsi beras. Petani tidak lagi merasa sebagai profesi rendahan, dan konsumen menyadari ketergantungan mereka akan pangan.

Kesadaran ini diharap mampu memperbaiki sudut pandang masyarakat umum terhadap sistem Subak di Bali. “Karena Subak bukan hanya urusan produksi beras, tetapi adalah tempat hidup. Banyak filosofi hidup dan kehidupan ditanam di Subak. Utamanya adalah menjaga keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan sang pencipta,” jelas Dek Enjoy.

Warga dari dusun lain di Tabanan mulai banyak mengapresiasi inisiatif komunitas ini. Misalnya ada gerakan Sahabat Peduli Celepuk dari Nang Oman untuk menggalang dana bagi pengembangan Tyto Alba. Celepuk adalah bahasa Bali untuk burung hantu. “Kecil-kecilan, sisihkan Rp 500 per hari untuk penangkaran celepuk,” katanya.

Ada penelitian untuk tesis di Program Pascasarjana Universitas Diponegoro oleh Johan Setiabudi (2014). Judulnya Strategi Pengembangan Pengendalian Populasi Tikus Sawah (Rattus Argentiventer) menggunakan Predator Burung Hantu (Tyto Alba) pada Lahan Pertanian Sawah Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang.

Salah satu simpulannya, petani masih pasif dalam kampanye preadtor alami ini. Barangkali inilah yang coba digiatkan Talov dengan membuat sejumlah pernak-pernik burung hantu agar lebih banyak yang terlibat, termasuk anak-anak.

Laman Undip menyebutkan di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang pengendalian populasi hama tikus sawah telah dilakukan dengan cara fisik (gropyokan) atau kimia (emposan, racun) namun kedua cara tersebut memiliki dampak lingkungan yaitu cara fisik akan merusak padi, lahan pertanian dan cara kimia akan mencemari lingkungan baik padi, lahan pertanian maupun bagi kesehatan petani sendiri.

Pengendalian ramah lingkungan dengan cara hayati saat ini sedang dilakukan. Salah satunya dengan pemanfaatan musuh alami tikus sawah yaitu predator burung hantu yang dapat mengendalikan hama tikus sawah tanpa merusak padi, lahan dan tidak menimbulkan pencemaran. Pengembangan pemanfaatan burung hantu antara lain pembuatan karantina burung hantu, pembuatan rumah burung hantu (rubuha) secara kontinyu dan pembuatan peraturan desa mengenai perlindungan, pemanfaatan dan kelestarian burung hantu.

Tujuan penelitian di Kecamatan Banyubiru ini adalah untuk mengetahui berapa nilai kerugian yang dialami petani. Selain itu persepsi dan perilaku petani yang memanfaatkan burung hantu, pelaksanaan pengendalian hama tikus sawah, dan prioritas kebijakan yang dapat diambil dalam mengembangkan pemanfaatan burung hantu.

Metode yang digunakan untuk penentuan prioritas adalah menggunakan AHP (Analytical Hierarchy Process). Pengambilan data dengan menggunakan kuisioner ke berbagai pihak antara lain Bappeda, BLH, Bakorluh, akademisi, Kecamatan, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan serta pihak karantina burung hantu.

Hasil penelitian menunjukan, pertama, kerusakan padi di Kecamatan Banyubiru pada tahun 2013 mencapai 98 ha dengan kerugian petani lebih 1 milyar. Kedua, persepsi petani dalam memanfaatan burung hantu di Kecamatan Banyubiru dirasa cukup efektif, efisien dan ramah lingkungan namun tidak dilakukan sebagian besar petani yang belum tergerak mengikuti langkah pemanfaatan tersebut karena ingin melihat hasil dan bukti dahulu.

Perilaku petani yang pasif ditunjukan dengan kurang aktifnya petani terlibat dalam pengendalian hama tikus sawah melalui pemanfaatan burung hantu.

Ketiga, pelaksanaan pengendalian hama tikus sawah dilakukan dengan sanitasi lingkungan, gropyokan dengan emposan, umpan beracun dan burung hantu secara berkesinambungan. Pemanfaatan burung hantu telah berjalan 1,5 tahun sudah mulai tampak hasilnya dan diperkirakan dalam 5 tahun ke depan akan terasa hasil dan manfaatnya.

Keempat, prioritas kebijakan dalam pengembangan pemanfaatan burung hantu adalah pembuatan karantina burung hantu, pembuatan peraturan desa mengenai perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan burung hantu dan pembuatan rumah burung hantu secara kontinyu. [b]

Tulisan ini pernah dimuat media lingkungan Mongabay Indonesia.

The post Burung Hantu Bantu Petani Kendalikan Tikus appeared first on BaleBengong.

Malu Dong Festival, Spuit Besar Penyebar Formula

Keluarga berkunjung ke Malu Dong Festival 2017 untuk menikmati dan berkampanye.

Jika bumi adalah ibu, kita manusia memperkosa ibunya.
Setiap hari, setiap jam, setiap detik.

Bebal – Sisir Tanah

Apa yang kawan-kawan lakukan dalam memperingati Hari Bumi? Apa yang kawan-kawan lakukan untuk menjaga lingkungan sekitar?

Dua pertanyaan di atas amat sederhana. Namun, kadang bingung menjawabnya.

Atau kawan-kawan lupa Hari Bumi karena euforianya tidak seperti Hari Raya Galungan dan Kuningan. Juga lupa lingkungan perlu diperhatikan. Tidak hanya diri sendiri, pacar, atau selingkuhan.. Eh!

Kita sama tahu, bumi makin rungkuh. Tiap hari kondisinya makin memprihatinkan. Setiap jam gairahnya memudar. Setiap menit denyutnya memelan. Setiap detik termakan oleh merah karat.

Ulah siapa? Manusia, seperti kalimat Mas Daton-Sisir Tanah di atas. Bumi, ibu kita ini perlu bantuan anak-anaknya.

Informasi ini sering didengungkan di mana-mana. Lewat seminar, radio, iklan media masa, media sosial. Toh nyatanya urusan perut lebih genting dibanding hal kontekstual lainnya. Maka dari itu Komunitas Malu Dong pimpinan Om Bemo berupaya berkampanye untuk menjaga lingkungan, dengan cara paling sederhana, jangan buang sampah sembarangan.

Kampanye ini berevolusi menjadi gerakan bersama. Kemudian lahirlah Malu Dong Festival 2017 yang berlangsung di Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung, pada 22-23 April 2017.

Bendera warna-warni bertulis Malu Dong Buang Sampah Sembarangan cukup terkenal di Denpasar. Kita sering menjumpai di beberapa titik di Kota Denpasar, di banjar-banjar, di tempat pembuangan sampah, dan tempat strategis lainnya.

Komunitas ini juga sering ikut serta dalam festival. Misalnya di PICA Fest 2017. Malu Dong tidak hanya hadir untuk memperkenalkan visi misi komunitasnya tapi melakukan aksi nyata. Mereka memungut puntung rokok dan sampah plastik yang dibuang sembarang oleh pengunjung.

Mereka hadir untuk mengusik kebiasaan orang-orang yang sulit dihilangkan, buang sampah sekenanya. Tidak hanya itu, komunitas ini juga memiliki kegiatan reguler setiap hari minggu sore, yakni bersih-bersih pantai Mertasari, Sanur.

Tak lupa, mereka mengunggahnya di media sosial untuk menggugah rasa kepedulian masyarakat luas.

Kehadiran Malu Dong Festival 2017 ini menyadarkan bahwa rumah kita (bumi) sedang tidak baik-baik saja, atapnya bocor, tanahnya tidak stabil, jendelanya kusam, temboknya mulai retak dan penghuni di dalamnya perlu diperingati.

Anak-anak menggambar bertema lingkungan di Malu Dong Festival 2017.

Formula Malu Dong

Coba kita berandai Malu Dong Buang Sampah Sembarang adalah formula yang harus disuntik kepada masyarakat agar sembuh dari kebiasaan buruknya. Sementara Malu Dong Festival 2017 adalah alat suntiknya atau spuit untuk menyebarkan formula agar tepat sasaran. Maka alatnya harus super besar, super dasyat, super mutakhir, ini untuk mengobati satu kota, bahkan satu pulau.

Jadi tidak salah Malu Dong Festival dirancang bermegah-megahan bahkan dengungnya terasa sejak beberapa bulan sebelumnya. Penyebarannya harus dipikirkan mendetail perlu perhitungan tepat.

Pilihan tempat di pusat kota serta pelaksanaan festival di hari Sabtu dan Minggu menjadi tonggak tajam dalam penyeberan formula ini. Panitia sadar betul Lapangan Puputan adalah pusat keramaian di akhir pekan. Pengunjung tidak hanya sepasang anak muda yang mencari tempat pacaran murah meriah, juga komunitas hobi. Dan, paling penting adalah pengunjung keluarga.

Formula ini harus disuntik dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Banyak pengunjung yang membawa sanak keluarga, serta anak-anaknya ikut serta. Tidak hanya menonton band yang disajikan panitia, tapi juga berpartisipasi seperti melukis di atas kain putih yang disediakan.

Formula ini tentu memerlukan racikan, kadar komponen yang ciamik. Racikan ini diwakilkan oleh komunitas, penggiat seni, sekaa, siswa-siswi yang ikut berpartisipasi dalam Malu Dong Festival 2017.

Racikan ini pun mempersembahkan sajian hidangan yang enak “disantap”. Misalnya paduan seni mural dari komunitas mural Denpasar yang menghiasi sisi samping Main Stage dan Youth Corner Garden Stage. Seluruh mural menghadirkan gambar kritik dan kampanye peduli lingkungan.

Satu diantaranya racikan Pena Hitam Bali, yang menceritakan buang sampah sembarangan saja tidak cukup dewasa ini. Masyarakat harus kritis dan peduli juga terhadap kebijakan-kebijkan pemerintah mengenai lingkungan, khususnya di Bali.

Dalam mural itu tertuliskan kalimat “Tidak cukup jika hanya memungut sampah, karena industri rakus masih merajalela merusak bumi-rumah kita.” Ini menegaskan bahwa manusia Bali sudah semestinya melek akan hal yang terjadi sekitarnya. Jangan terlena atau malah apatis hanya sebagai penonton yang tertib.

“Kami ingin pengunjung kritis bahwa peduli lingkungan tidak hanya cukup, tidak membuang sampah sembarangan, tapi perlu kesadaran akan kebijakan pemerintah,” ujar Gilang Pratama anggota Pena Hitam Bali.

Terdapat pula pameran lampion dan seni instalasi di arena terbuka. Jejeran lampion ini menarik antusias banyak pengunjung, untuk berswafoto atau mengabadikan momen bersama keluarga mereka. Lampion-lampion itumerupakan buah kerja keras sekaa teruna teruni serta komunitas anak muda di Denpasar.

Lampion-pun bervariasi bentuknya tidak hanya lampion konvensional seperti biasa. Ada berbentuk bumi berputar, bentuk monyet, bentuk spongebob.

Satu lampion cukup nyelekit bagi saya adalah lampion berbentuk penyu yang isi perutnya penuh sampah. Lampion ini hasil karya S.T.T Yowana Dharma berjudul Save Our Turtle. Karya ini terinspirasi dari sekelompok ilmuan di Costa Rica yang menemukan seekor penyu dengan sedotan plastik tersangkut di hidungnya.

Penyu juga memiliki arti tersendiri dalam ajaran agama Hindu. Seekor penyu raksasa dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Tugasnya menahan Gunung Mandara dengan tempurungnya agar tidak tenggelam.

Jika pernah melihat videonya di Internet, Anda akan merasakan keprihatinan yang sangat mendalam. Suasana itu langsung terasa saat pertama kali melihat lampion tersebut.

Sederetan band asal Bali pun turut berdendang memeriahkan festival. Di sela bermusik mereka berkampanye tentang sampah untuk menjaga bumi. Band itu di antaranya Dromme, Lily Of the Valley, Zat Kimia, Jangar, Sucidal Sinatra, Rollfast, Mort, Lorong Natterjack, Parau, Trojan, SOB, Navicula dan sebagainya.

Lampion berbentuk kura-kura makan plastik di Malu Dong Festival 2017.

Ranger Unyu-unyu  

Satu hal berbeda, Malu Dong Festival membentuk tim Ranger Malu Dong. Ranger bertugas mengimbau para perokok agar tidak melakukan ritualnya di arena hijau. Sebab banyak anak-anak kecil ikut serta di dalamnya.

Tim ranger menggunakan rompi berwarna orange stabilo ini berkeluyuran ke sana kemari, demi menjaga kenyamanan pengunjung. Bahkan ada yang tak sungkan untuk mematikan rokok dengan air. Menarik sekali. Festival ini ramah lingkungan dan anak-anak.

Kendati demikian, panitia tidak saklek kok. Panitia telah menyiapkan titik khusus bagi kaum masinis ini untuk menyalakan corong asap mereka.

“Tim rangernya muda-muda, unyu-unyu. Kawan saya banyak yang ikut jadi volunteer. Bagus kan, jadi ramah sama anak-anak yang pengen ikut nonton,” ujar Reni Layon salah seorang pengunjung yang saat ini sedang menempuh studi di Denpasar.

Lebih jauh ia berharap metode dan pendekatan seperti ini dapat ditiru oleh festival-festival lain di Bali. Entah itu pengolahan sampah, bebas asap rokok, ataupun no plastic bag. Dengan begitu festival tidak sekadar euforia namun tersisip pesan moral di dalamnya.

Saya jadi menduga-duga, di Malu Dong Festival pengunjung terkesan dipaksa. Dipaksa menonton, dipaksa melihat, dipaksa membaca, dipaksa ikut berpartisipasi, dipaksa ikut mendengar yang semuanya berkaitan tentang kampanye peduli lingkungan.

Paksaan itu penting lo untuk mengubah pola. Dalam hal ini mental manusia Indonesia khususnya manusia Bali, agar peduli sekitarnya. Yah paling banter setelah melakukan upacara adat yang menghasilkan limpahan sampah itu, manusia Bali tahu membijakkan sampahnya, bukan seutuhnya menyerahkan kepada pasukan hijau pemerintah.

Tapi sayang, seribu sayang. Gerakan Bali Tolak Reklamasi (BTR) tak tampak ikut memeriahkan festival ini. Padahal saya membayangkan BTR akan mengkapling satu tenan, untuk menjelaskan segala visi misi gerakannya.

Kendati banyak aksi turun kejalan yang telah berlangsung selama ini, namum apa salahnya jika membuat stan di acara festival. Apa lagi jika ada alat-alat rekayasanya, pasti sangat menarik. Menjaga Bali, ya bersama, ngiring nyarengin. [b]

The post Malu Dong Festival, Spuit Besar Penyebar Formula appeared first on BaleBengong.

Siswa SD Tanam Mangrove di Pantai Putri Menjangan

Sejumlah siswa SD menanam bibit mangrove di Pantai Putri Menjangan, Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng.

Sekitar 80 siswa sekolah dasar (SD) itu terlihat bersemangat.

Mereka ikut menanam bibit mangrove di Pantai Putri Menjangan, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Selasa dua hari lalu. Dengan bimbingan guru-gurunya, menanam bibit mangrove di pantai.

Mereka tidak hirau bahkan senang meski harus berkubang dengan lumpur.

Aksi tanam mangrove ini digagas Natural Concervation Forum (NCF) Putri Menjangan selaku pengelola pantai itu sebagai rangkaian aksi peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April.

Mereka sengaja melibatkan siswa-siswa SD untuk memberikan edukasi tentang pentingnya tanaman mangroves untuk menjaga keseimbangan lingkungan alam.

Selain itu, pada Rabu kemarin, aktivis NCF Putri Menjangan juga memberikan materi pendidikan lingkungan dengan mendatangi sekolah-sekolah dasar di Desa Pejarakan. Selanjutnya pada 22 April mendatang, mereka juga akan kembali melibatkan siswa SD dalam aksi bersih-bersih lingkungan di Labuan Lalang, pelabuhan menuju Pulau Menjangan di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak.

“Kami melibatkan siswa SD ini untuk memberikan pendidikan dan pengenalan lingkungan sejak dini,” kata anggota badan pendiri, NCF Putri Menjangan, Abdul Hari.

Dia melanjutkan materi pendidikan terutama tentang pentingnya mangrove bagi lingkungan, seperti dapat mencegah abrasi, tempat bertelurnya ikan dan lainnya.

NCF Putri Menjangan adalah sebuah komunitas aktivis lingkungan yang mengelola Pantai Putri Menjangan. Di pantai itu mereka berupaya membudidayakan sejumlah jenis mangrove, yang sebelumnya mangrove di pantai itu sudah banyak dibabat warga yang belum paham tentang fungsinya. S

elain rutin menanam bibit mangrove, mereka juga sudah melakukan pembibitan mangrove. [b]

The post Siswa SD Tanam Mangrove di Pantai Putri Menjangan appeared first on BaleBengong.

Reklamasi Teluk Benoa: Apa yang Ditunggu Jokowi?

Semeton Jokowi dan ForBali menyerahkan dokumen reklamasi kepada presiden Jokowi.

Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya saksikan. 

Saya tertegun melihat Jokowi sebagai presiden menangani persoalan PT Semen Indonesia vs Rakyat Kendeng. Itu karena dulu, ketika Pemilihan Presiden 2014, saya memilihnya. Sungguh berat buat saya saat itu.

Saya selalu sinis terhadap politik, bidang yang sesungguhnya saya pelajari dan secara profesional menjadi keahlian saya.

Ketika itu, saya tidak percaya Jokowi. Saya yakin seyakin-yakinnya, di balik penampilannya yang menyerupai rakyat kebanyakan itu, dia adalah tawanan kepentingan.

Namun untuk saya yang punya pengalaman berurusan langsung dengan Orde Baru dan jendral-jendralnya, memilih kandidat sebelah sama artinya dengan mengembalikan semua hal yang semula saya tolak. Saya tahu persis wataknya.

Jadi memilih Jokowi adalah ‘de duobus malis minus’ atau ‘the lesser of two evils.’

Pertimbangan saya sederhana. Jika dia mencitrakan dirinya sebagai rakyat kebanyakan dan tahu persis menyelami rakyat kecil (hallo! masih inget blusukan?) maka dia bisa diminta pertanggungjawaban oleh rakyat kecil. Paling tidak, rakyat kecil adalah hati nuraninya.

Namun, itu tidak terjadi!

Peristiwa dengan para petani Kendeng yang merendahkan diri mereka sedemikian rupa dengan menyemen kakinya, tidak diindahkannya. Seorang kawan mengingatkan aksi Kamisan yang sudah berlangsung bertahun-tahun juga tidak menarik perhatiannya. Dia sudah berada di dalam istana.

Yang terjadi adalah para serdadu medianya menyerbu sana-sini dan menciptakan opini. Presiden ini tidak bisa ditekan dengan cara-cara begini, kata mereka.

Ah, ada LSM bayaran yang menggerakkan, kata yang lain — yang ironisnya perutnya kekenyangan karena bayaran membikin opini. Awas Orde Baru akan bangkit karena Cendana memakai isu ini untuk menjatuhkan Jokowi, demikian seru yang lain terutama kepada sesama aktivis.

Ada juga yang melontarkan pertanyaan seolah-olah tampak kritis. Apakah kita tidak berhak punya pabrik semen? Apakah kita tidak berhak maju dan modern, seperti Amerika, Rusia, atau Cina? Pertanyaan yang sahih dan enak dilontarkan terutama kalau bukan Sodara yang harus mati tercekik debu dan kehilangan mata air!

Mengorbankan yang Kecil

Saya tahu, Jokowi menjadikan infrastruktur sebagai agenda utamanya. Saya juga mengakui program itu penting. Pada tahun 80an dan 90an, pemerintah Soeharto juga melakukan yang sama. Ketika itu, Soeharto dan antek-anteknya juga berperilaku yang sama: mengorbankan yang kecil.

Ingatkah Sodara akan Waduk Kedungombo?

Waduk yang dibangun dengan utang itu harus menenggelamkan beberapa desa. Petani-petani sederhana ketika itu melawan dan dihadapi oleh Soeharto seperti menghadapi invasi dari luar, yakni dengan mengerahkan pasukan bersenjata lengkap.

Jokowi tidak perlu melakukan itu. Cukup yang dia lakukan adalah mengabaikan protes-protes ini dan menganggapnya tiada. Dia tahu persis bahwa dia tidak berkuasa dengan senjata. Dia bertarung di tataran persepsi. Itulah sebabnya dia perlu orang yang membentuk persepsi.

Kalau orang mengatakan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden yang paling narsistik yang dimiliki Indonesia, orang tidak sadar bahwa Jokowi adalah presiden yang paling sadar media. Lihatlah Vlog yang dia ciptakan. Dia sangat luwes dan alamiah berperan dalam media itu.

Saya pantas gemetar karena ngeri dan cemas. Terutama karena saya sangat menaruh perhatian dengan reklamasi Teluk Benoa.

Sodara tahu, proyek reklamasi ini akan menghasilkan tanah seluas 800 hektar di wilayah kelas 1 pariwisata Bali. Dia yang mendapat proyek ini akan mendapat keuntungan ratusan kali lipat dari yang diinvestasikan.

Proyek ini dimungkinkan oleh Presiden Yudhoyono yang pada saat-saat terakhir masa kekuasaannya mengeluarkan Perpres No. 51/2014. Yudhoyono mengubah peruntukan kawasan itu sehingga pengurukan laut itu dimungkinkan.

Sodara tahu, protes dan penolakan terhadap proyek ini berlangsung terus menerus tanpa putus dan bahkan bertambah besar. Anak-anak muda Bali bergerak menolaknya. Demikian pula dengan masyarakat adat di sekitarnya. Gerakan Tolak Reklamasi barangkali menjadi gerakan sosial yang paling besar di Indonesia saat ini.

Dan, yang mengagumkan gerakan ini bernapas panjang.

Penguasa yang sedikit pintar akan segera tahu bahwa ini gerakan seperti ini sulit dikalahkan. Jika ini adalah gerakan yang dibayar oleh elite, misalnya, mustahil akan bertahan sedemikian lama.

Hampir empat tahun dan dengan keras kepala terus melawan. Hari ini baliho mereka dirobohkan, esok paginya dibangun kembali. Demikian bandel!

Lalu apa yang dibikin Jokowi? Kosong! Nol! Tak ada!

Di satu sisi ada gerakan penolakan yang sangat persisten. Di sisi lain, sebagai presiden, tidak terlalu sulit untuk dia membatalkan Perpres 51/2014 ini. Namun presiden ini tidak melakukan apa-apa.

Mengapa? Inilah yang menjadi teka-teki saya.

Ongkos politik untuk mencabut Perpres ini boleh dikatakan tidak ada. Malah, kalau Jokowi mencabutnya, popularitasnya akan melambung. Jadi, apa yang sesungguhnya membuat dia tidak melakukan apa-apa? Sudah dua setengah tahun dia berkuasa.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita bahwa tim media sosial presiden menghubungi Superman Is Dead (SID). Mereka meminta izin kepada SID agar diperbolehkan untuk memakai lagu SID “Jadilah Legenda” untuk soundtrack untuk program #JokowiMenjawab.

SID menolak permintaan itu. Jerinx berbicara mewakili SID. Dia berkata, “Saya sebagai penulis lagu ‘Jadilah Legenda’ merasa kurang sreg saja lagu saya dipakai alat ‘kampanye’ Jokowi (atau politisi manapun) terlebih setelah melihat sikap Jokowi terhadap kasus Kendeng. Saya 100% mendukung perjuangan warga Kendeng.”

“Saya khawatirkan solidaritas saya terhadap Kendeng terdistorsi jika lagu yang saya tulis dipakai alat kampanye beliau. Saya juga menolak tawaran tersebut sebagai peringatan pada beliau jika saya/SID tidak akan selalu setuju atas kebijakan beliau. Contohnya, sikap ‘diam’ beliau terhadap penolakan reklamasi Teluk Benoa yang diperjuangkan selama 4 tahun oleh puluhan desa-desa Adat di Bali. Saya merasa beliau sudah saatnya untuk diingatkan.”

Pemungkasnya pun sangat menohok, “Saya bukan musisi istana.”

Orang mungkin tidak tahu betapa hebat tekanan yang dialami SID karena sikap solidaritasnya terhadap Teluk Benoa dan banyak kasus menyangkut rakyat kecil.

Pentasnya secara diam-diam tidak diberikan izin. Mereka tidak diundang ke festival-festival musik. Banyak bisnis yang diam-diam menarik kontrak. Bahkan anak-anak SMA diintimidasi ketika mengundang SID pentas di sekolah mereka!

Melihat semua ini, mau tidak mau saya bertanya: Siapakah yang ditakuti Jokowi? Presiden yang tampaknya teguh dan punya ketetapan hati ini, tidak berani melawan pemodal? Mau tidak mau ke sanalah saya berpikir. Bukankah ini persis seperti Soeharto yang luar biasa kejam dengan rakyat sendiri tapi tunduk dan bahkan mengembik pun tidak berani kepada para kreditor?

Sodara-sodara, saya masih punya niat berprasangka baik. Presiden Jokowi, cabutlah Perpres 51/2014 itu. Ongkos politiknya untuk Anda hampir tidak ada. Sebaliknya Anda dan partai Anda akan dihormati. Apa yang sesungguhnya Anda takutkan, bapak Presiden? [b]

Tulisan disalin tempel dari Facebook.

The post Reklamasi Teluk Benoa: Apa yang Ditunggu Jokowi? appeared first on BaleBengong.

Switch Off 2017 Ajak Warga Bali Hemat Energi

Kampanye Switch Off untuk mengampanyekan hemat energi. Foto Herdian Armandhani.

Komunitas Earth Hour mengadakan kembali Kampanye Switch Off. 

Kegiatan tahunan ini dipusatkan di Lippo Mall Kuta Jalan Kartika Plaza, Kuta, Kabupaten Badung pada Sabtu (25/3) 2017. Switch Off merupakan kegiatan mematikan lampu selama satu jam.

Waktunya dari pukul 20.30 WITA hingga 21.30 WITA.

Kegiatan Swich Off serentak dilakukan di 35 Kota di Indonesia dan Kota-Kota lainnya di seluruh dunia. Kegiatan Switch off di Lippo Mall Kuta dihadiri ratusan masyarakat yang berdomisili di Denpasar dan Badung.

Tak ketinggalan berbagai Komunitas turut meramaikan kegiatan ini mulai dari Komunitas One Piece Dewata Bali, Komunitas Rotaract Club Bali Area, Komunitas Kawan Kita, Komunitas Receh Indonesia Regional Bali, Komunitas Leo Club Bali Shanti, Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara, WWF Bali, Marine Buddies Denpasar, Teman Edukasi, dan Komunitas Sobat Bumi.

Para tamu undangan beberapa jam sebelum perayaan Switch Off 2017 dihibur dengan aksi atraktif Marching Band Universitas Udayana, Tarian Tradisional dari Penari Ikatan Mahasiwa Sumatera Utara, Fire Dance, dan Zumba bertema Glow in the Dark.

Tamu undangan tampak begitu menikmati sajian hiburan yang dikemas dengan menarik. Turis asing pun banyak yang mengabadikan sajian hiburan pihak penyelenggara kegiatan Switch Off 2017 bahkan sampai berselfie ria.

Koordinator Earth Hour Kota Denpasar, Andri Purba dalam sambutannya mengatakan ucapan terimakasih kepada seluruh Masyarakat Bali dan Komunitas yang turut andil untuk melakukan kegiatan Switch Off 2017.

Kegiatan Switch Off 2017 bukan saja kegiatan mematikan kegiatan mematikan lampu selama satu jam saja tetapi bisa mengubah gaya hidup kita untuk hemat energi 1 jam setelahnya seperti menyalakan listrik seperlunya saja, tidak menggunakan air secara berlebihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengurangi penggunaan kantung plastik saat berbelanja.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakata Bali dan Komunitas yang turut andil datang dalam perayaan Switch Off 2017. Kegiatan ini tidak hanya mematikan lampu selama satu jam, namun bisa mengubah gaya hidup kita untuk hemat energi seperti menyalakan listrik seperlunya saja, tidak menggunakan air secara berlebihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengurangi penggunaan kantung plastik,” ungkapnya.

Sementara itu, Muhammad Erdi Lazuardi selaku Project Lead Leser Sunda WWF mengatakan bahwa satu jam mematikan lampu adalah simbol bijak menggunakan energi listrik, BBM , dan sumber energi lainnya. Satu jam tidak akan berarti bila tidak ada aksi. WWF turut serta ikut mendukung dalam gerakan Switch 0ff 2017. WWF memberikan ucapan terimakasih setinggi-tingginya bagi Masyarakat Bali di Bali dalam perayaan Hari Nyepi karena ikut andil besar dalam hemat energi.

Banyak saudara-saudara di luar Indonesia yang pasokan listriknya terbatas bahkan ada yang belum teraliri energi listrik.

“Mematikan lampu adalah simbol bijak menggunakan bijak energi, WWF sangat mendukung kegiatan Switch Off 2017, Kami ucapkan terimakasih unuk masyarakat Bali yang merayakan Nyepi karena Nyepi ikut andil dalam kegiatan hemat energi. Banyaka saudara kita di Indonesia yang krisis energi listrik bahkan ada yang belum teraliri listrik,” tuturnya

Erdi menambahkan bahwa kegiatan Switch Off 2017 adalah momentum masyarakat Indonesia khususnya di Bali untuk bisa bijaksana dalam penggunaan energi listrik.

Detik-detik jelang kegiatan Switch Off pihak panitia sudah membentuk kartus putih berbentuk 60+ di tengah panggung utama. Para tamu undangan diberikan lilin yang nantinya saat Switch Off akan dipasang di titik-titik gambar 60+ yang telah ditandai.

Saat MC menghitung mundur lampu di Mall Lippo Kuta serentak dimatikan. Undangan berduyun-duyun membentuk lingkaran besar dan meletakkan lilin simbol 60+. Ini Aksiku, Mana Aksimu? [b]

The post Switch Off 2017 Ajak Warga Bali Hemat Energi appeared first on BaleBengong.