Tag Archives: Lingkungan

Warga Nusa Penida dan Praktik Hidup Ekologis di Tengah Pandemi Corona

Pesisir Nusa Penida/Foto-foto: Anton Muhajir

Sudah lebih satu bulan jenis virus corona baru (Covid-29) menyebar sampai diputuskan sebagai pandemi global. Pengusaha wisata dan pekerjanya di Nusa Penida pun terdampak. Usaha speedboat tak seramai sebelumnya, penyewaan kendaraan berkurang, dan banyak hal lainnya karena kepulauan ini makin fokus menarik kunjungan turis.

Di tengah masa menegangkan ini, sejumlah kelompok warga belajar dan mempraktikkan cara hidup ekologis melalui berbagai cara. Salah satunya untuk mengenalkan kembali potensi pertanian dan cara hidup selaras alam di Pulau Nusa Penida.

Gede Agustinus Darmawan atau yang akrab dipanggil Timbool adalah salah satu anak muda penekun pewarna alami yang sedang berkegiatan di Dusun Tanglad bersama warga penenun. Mereka mendukung produksi pewarna alami dari aneka tumbuhan untuk kain tenun dan kini berusaha menanam kembali sejumlah tanaman bahan baku pewarna yang makin hilang. Kegiatan ini bagian dari program Ekologis Nusa Penida GEF-SGP yang dikoordinir Yayasan Wisnu.

Selain menanam bibit secara konvensional di lahan-lahan milik penenun, kelompok tenun Alam Mesari ini juga mencoba menanam dengan model seeds bomb atau seeds bombing. Melempar “bom” benih untuk menjangkau area yang sulit dijangkau seperti tebing dan perbukitan di sekitar dusun mereka.

Nusa Penida adalah wilayah kepulauan yang masuk Kabupaten Klungkung. Tiga pulau ini, terbesar Nusa Penida, kemudian Lembongan, dan Ceningan, makin terkenal sebagai tujuan wisata di Bali. Untuk menyeberang ke ketiga pulau itu, perlu waktu sekitar 20-45 menit tergantung lokasi penyeberangan speedboat. Misal dari Pantai Sanur, Denpasar, sekitar 45 menit speedboat menuju Pulau Nusa Penida. Sedangkan menuju Lembongan dan Ceningan lebih cepat.

Benih-benih dalam bentuk “bom” ini pada 14 Februari 2020 lalu sudah terlihat tumbuh seperti tunas kacang ijo, dibuat pada hari berbeda. Ada yang sudah berusia satu bulan dan satu minggu.

Ratusan telur tanah itu memang tak sama, ada yang sudah bertunas, ada yang belum. Ada juga yang lebih cepat tubuh tunasnya karena tersiram air hujan setelah dibuat bulatan-bulatan.

“Saat musim penghujan baru disebar. Kemungkin hidup 50%,” kata Timbool. Metode bom benih ini digunakan untuk menghijaukan lahan yang sulit dijangkau, sehingga lebih spekulatif. Sudah 8000 benih yang dimasukkan bom benih. Dalam satu “bom” diisi 10-15 biji benih dan isinya benih tanaman perintis seperti turi, orok-orok, dan gereng-gereng. Sementara untuk bibit tanaman pewarna adalah tarum. Benih-benih dalam “bom” ini difokuskan terlebih dulu untuk menyuburkan tanah. “Pohon-pohon itu pembuat lapisan tanah, daunnya cepat gugur,” ujarnya.

Dalam satu “bom” yang dilempar diharapkan akan ada beberapa benih yang berhasil bertahan dan mengisi lahan pulau Nusa Penida yang kurang produktif. Karena dominan bebatuan karang, “bom” benih ini diperkirakan akan terpecah setelah dilempar. Karena itu satu bulatan diisi belasan benih agar menyebar.

Lahan-lahan kelompok penenun kain menjadi prioritas di antaranya tebing yang sulit dijangkau, daerah terjal, dan area dengan banyak hama monyet. Selain metode “seeds bombing”, penghijauan juga dilakukan dengan menanam bibit terutama tanaman bahan baku pewarna alami seperti mengkudu, secang, indigo, dan tarum.

Cara pembuatan “bom” benih ada beragam, Timbool dan rekannya melakukannya dengan membasahkan adonan tanah subur, dicampur pupuk kompos, dan sedikit tanah liat untuk pengikat. Komposisinya sekitar 5:1 antara tanah subur-kompos dengan tanah liat.

Di Desa Batumadeg, Yayasan Idep mengembangkan permakultur pekarangan rumah tangga, dengan menanam aneka jenis sayuran seperti timun dan sawi hijau. Yayasan Idep memperkenalkan juga banana pit, yaitu lubang dengan diameter sekitar 1 meter dengan kedalaman 1 meter.

Lubang berfungsi sebagai tempat pengolahan limbah, pembuatan kompos, dan kebun. Lubang diberi kerikil/batu sedalam 50 cm, bagian bawah untuk tempat pengolahan air limbah, di atasnya untuk sampah organik. Di sekitar lubang ditanam pohon pisang, dan di antara pohon pisang bisa ditanam sayuran. Fungsi pohon pisang adalah untuk menyimpan air ketika musim hujan dan melepas air di musim kering.

Sementara itu Yayasan Taksu Tridatu memperkenalkan pembuatan pakan kering untuk ternak sapi. Pakan kering dibuat dari rerumputan dan daun-daun yang sudah kering, kemudian difermentasi, dan ditambahkan untuk memberikan nutrisi. Salah satu tempat pengembangan ternak sapi dengan pakan kering bisa dilihat di Rumah Belajar Bukit Keker, Banjar Nyuh Kukuh, Ped. Di area ini bisa dilihat juga teknik pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pemanfaatan cahaya matahari jadi listrik dengan panel surya.

Ada juga model kebun untuk memasok kebutuhan sebuah komplek pura Khayangan Jagat, Pura Puser Sahab di Desa Batumadeg. Kelompok Wisanggeni mengajak warga pengempon (pengelola) pura untuk kembali menghijaukan lahan sekitarnya dengan aneka pohon umur panjang sebagai peneduh dan juga memasok kebutuhan ritual upacara.

Meningkatnya turis artinya beban limbah pun bertambah. Bagaimana strategi pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil?

Program pemilahan sampah sudah dilakukan sekitar setahun oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, salah satu mitra program kerja Program Ekologis Nusa Penida. Bahkan Desa Adat Nyuh Kukuh Ped mendapat penghargaan dari Bupati Klungkung sebagai penggagas TPST/Bank Sampah.

Selain mengajak rumah tangga memilah sampah, juga menyediakan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang berlokasi di Rumah Belajar (learning center) Bukit Keker di Banjar Nyuh Kukuh. Sebuah moci, kendaraan roda tiga dengan bak terparkir di sana.

Hasil survey timbulan sampah rumah tangga di Banjar Nyuh oleh PPLH sekitar 550 kg per hari, ini bisa memenuhi 5 moci. Sebagian besar berupa sampah organik sekitar 60%. PPLH juga membentuk tim relawan Nyuh Kedas dalam mengelola sampah. Diawali dengan pelatihan pengelolaan sampah (kompos, mol, daur ulang kertas). Saat ini ada 7 orang anak yang aktif mengelola sampah di Banjar Nyuh, terutama untuk mengajak warga memilah sampahnya.

Objek wisata di Pulau Bali yang mengandalkan alam dan budaya, demikian pula Nusa Penida. Bagaimana menyinergikan wisata dan pertanian sebagai bagian kehidupan sehari-hari warga?

Jaringan Ekowisata Desa (JED), sebuah kerjasama antara Yayasan Wisnu dan sejumlah desa menawarkan dan mengembangkan wisata alternatif. Jaringan yang sudah berjalan saat ini adalah Desa Kiadan, Plaga (Badung), Dukuh, Sibetan (Karangasem), Tenganan Pegringsingan (Karangasem), Perancak (Jembrana), dan Nyambu (Tabanan).

Saat ini sedang dirintis di Nusa Penida melalui Program Ekologis Nusa Penida. Konsepnya adalah pariwisata berbasis potensi diri (alam, manusia, sosial budaya, infrastruktur) yang dikelola oleh masyarakat setempat. Prinsipnya kepemilikan (masyarakat sebagai pemilik mengetahui dan mengenal potensi yang dimiliki), pengelolaan (pengelolaan sumber daya berdasar pada prinsip kebersamaan dan keadilan), dan keberlanjutan (dengan menjaga kesakralan melalui dokumentasi dan media pembelajaran).

Paket wisata yang sedang dirancang berfokus pada pola hidup masyarakat Nusa Penida yang meliputi sistem pertanian lahan kering dan olahan pangan, sumber ekonomi (rumput laut dan tenun), serta seni dan budaya. Rumah Belajar Bukit Keker di Desa Ped, akan dijadikan sebagai tempat penerimaan tamu sekaligus percontohan adaptasi lingkungan melalui praktik produksi biogas, kebun permakultur, dan pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi.

Gede Sugiarta, Koordinator Program Ekologis ini mengatakan Nusa Penida bisa menjadi contoh pengelolaan wisata alam dan pulau kecil yang berkelanjutan jika warga kembali menyadari kekayaan pengetahuan dan kearifan lokal seperti pertanian lahan kering.

“Melalui Program Ekologis Nusa Penida kami berharap secara perlahan pulau kecil ini mampu mengembalikan dan meningkatkan ketahanan sosial budaya-ekologis sebagai upaya menghadapi desakan globalisasi,” ujarnya.

Lebih Mudah Menemukan Hotel Dibanding Ladang di Nusa Penida

Perjalanan naik motor mengelilingi sebagian Nusa Penida saat ini adalah akomodasi tiap kilometernya. Salah satunya Desa Sakti. Jangan takut tersesat di belantara pulau batu kapur ini karena jika tersesat pasti menemukan papan nama bertuliskan nama hotel, guest house, atau villa.

Terutama di daerah di radius lima kilometer dari objek-objek wisata populer seperti Pantai Chrystal Beach dan Pantai Atuh. Masuk ke area dengan jalan-jalan makin kecil, tiap pertigaan dipenuhi papan-papan kumpulan akomodasi ini. Makin dekat ke arah pantai, jarak akomodasi satu dengan lainnya makin dekat.

Pembangunan unit baru pun tak henti. Ladang-ladang yang dulu jadi rumah para sapi kini dihuni alat berat seperti ekskavator. Mereka berusaha menggali batu kapur atau meratakannya. Membuat petak-petak lokasi bungalow atau kubu-kubu beraneka bentuk dan model arsitektur.

Dari hasil observasi dengan mengelilingi pulau selama 3 hari, akomodasi terbanyak berbentuk lumbung, tempat penyimpanan hasil panen atau benih. Terbuat dari kayu, bambu, beratap jerami dan genteng, atau kombinasi baja ringan.

Tak hanya di tengah kebun yang sudah tak digarap, lumbung-lumbung ini terlihat di bebukitan. Terutama jika hendak memanfaatkan pemandangan laut dari kejauhan. Lumbung padi dan jagung kini jadi tempat tidur turis.

Komang Kamartina, warga Nusa Penida yang memiliki keahlian membuat website kini jadi operator sejumlah akun pemasaran akomodasi di bawah 5 kamar. Saat ini, setidaknya ia mengelola promosi dan booking-an 20 merk akomodasi. Pria yang mukim di Nyuh Kukuh, Ped ini melihat peluang kerja lebih luas ketika pariwisata booming lalu balik ke Nusa Penida setelah merantau di Denpasar bekerja sebagai web developer.

Selain itu, Kamartina juga memanfaatkan peluang distribusi sarana perlengkapan hotel, juga kadang jadi pemandu wisata. “Kalau sedang ramai dalam satu hari bisa dapat Rp 400 ribu,” ujarnya soal jadi guide dan menjual tiket speedboat ke turis asing saja. Jika sepi, seperti saat ini ketika sejumlah negara siaga karena penyebaran virus Corona Baru, penghasilannya sudah turun 50%.

Sebagai operator beberapa akomodasi ia harus kreatif mengelola akun penjualan misalnya dengan membuat promo dan mengubah deskripsi. Misalnya menambah paket perjalanan ke sejumlah objek wisata dan diskon spesial di event-event khusus seperti Nusa Penida Festival.

Semua akun usaha akomodasi yang dikelolanya dimiliki warga lokal Nusa Penida, mulai daerah barat Banjar Nyuh, Sebunibus, dan Sakti. Menurutnya jasa operator ini bisa dipelajari otodidak, namun harus terus mempelajari strategi pihak lain apalagi manajemen besar mulai masuk dan mengambil alih operator kecil.

“Ada kemungkinan pekerjaan saya hilang karena merk manajemen besar masuk,” ujarnya. Karena itu ia juga mengusahakan pekerjaan lain, distribusi sarana hotel seperti tisu, sampo, sabun, dan lainnya. Namun ini juga sangat tergantung situasi turisme di Nusa Penida.

Kamartina nampak siaga dengan ponselnya. Seseorang menelpon utuk konsultasi mengenai pengembalian (refund) biaya sewa. “Hotel makin banyak, jumlah kamar jauh lebih banyak. Dulu harga kamar tidak isi kolam renang Rp 400 ribu, sekarang jadi Rp 200 ribu,” ia prihatin dampak virus COVID-19 ini.

“Pariwisata pasti bisa turun, apalagi Lombok sudah dipersiapkan pemerintah,” lanjut Kamartina. Ia menyadari Nusa Penida sangat tergantung pada pariwisata karena warga sudah berinvestasi dengan mengorbankan sejumlah hal. Misalnya tanah dan lahan pertanian dijual untuk beli mobil dan disewakan sebagai kendaraan tur.

Masalahnya, lanjut Kamartina, bidang pendidikan tinggi juga terabaikan. “Dulu zaman saya banyak yang kuliah S1, sekarang turun jadi D1 atau tamat SMK pariwisata, tak mau sekolah lagi,” keluhnya. Ia sendiri bersyukur punya keterampilan lain yakni teknologi informasi jika industri pariwisata tak bisa diandalkan.

Lalu apa yang perlu dipersiapkan warga Nusa dalam kondisi saat ini? Jika industri pariwisata terlalu rapuh, ia sendiri bisa jadi akan merantau lagi atau warga lain yang pernah jadi petani kembali menekuni rumput laut. “Sekarang belum banyak yang percaya pariwisata itu rapuh,” yakinnya.

Hotel dan ladang

Tak hanya pantai dan tebing, Nusa Penida juga menarik dijelajahi jika masuk ke desa-desa. Terutama perbukitan yang hijau saat musim hujan, dan para petani mulai bertanam jagung, ketela, dan lainnya di ladang-ladangnya yang berundag-undag.

Salah satu hotel dengan 3 kamar, Echo Alam Nusa di Desa Sakti dibangun di tengah ladang. Sebuah papan kecil bertajuk Vegan Soul Kitchen, nama restorannya, dipsang di pertigaan jalan raya utama desa. Sebagai penunjuk bagi pengunjung yang akan mencari lokasi ini. Jalan beton terlihat baru dibangun, pengendara motor melalui ladang-ladang jagung sampai menemukan pura dan rumah penduduk. Sekitar 5 menit berkendara, tibalah di pertigaan dengan papan penunjuk tambahan, namun tertutup pepohonan.

Penginapan ini tertutup ladang, yang nampak paling depan adalah kubu sederhana dari kayu dan bambu. Inilah restorannya sekaligus resepsionis. Sejumlah pelanggan restoran duduk menunggu pesanan, atau bermain dengan anak-anak anjing lucu yang berkeliaran di seluruh areal resto.

Di sekitarnya terlihat tanaman yang umum di kebun-kebun Nusa. Pisang, pepaya, gamal, ketela, dan jagung. Di kejauhan, terlihat sedikit lekuk pulau dan lautnya. Kamar-kamarnya juga dibuat dari dominan bambu. Materia lainnya adalah kayu jati, albesia, seseh atau kayu pohon kelapa, dan kayu pohon Kembang Kuning. “Saya pakai bambu dan kayu sekitar sini, masih ada sedikit rumpun bambu, “ Ketut Merta, salah satu yang ikut membangun dan mengonsep Echo Alam Nusa pada 2016. Ia adik dari Nyoman Suweta, pemiliknya yang mukim di Ubud.

Dari sejumlah aplikasi pengulas akomodasi, restorannya nampak yang lebih mendapat apresiasi. Fokus di menu-menu vegan. Misalnya BBQ Tempe Sandwich seharga Rp 45 ribu. Isinya setumpuk roti berisi tempe goreng dan aneka sayuran tomat, timun, dan kentang goreng homemade. Belasan ragam menu dominan sayur, biji-bijian, dan buah tanpa telur dan susu hewani.

Namun, sebagian besar bahan menu belum bisa dipasok dari pulau sendiri terutama sayuran. Hanya labu dan ketela yang menjadi bagian dari menu. Melihat ketertarikan pelanggan pada konsep vegan hingga mau menemukan resto di pelosok ini, pertanian Nusa Penida sangat potensial dikembangkan dan diramu sebagai menu vegan dengan bahan baku lokal.

Dua perempuan beda usia, Putu Purwa dan Luh Sri adalah warga setempat, tukang masak resto yang sudah familiar menyiapkan aneka menu vegan. Keduanya bisa bekerja di dekat rumah karena pelanggannya yang mendatangi. “Belum tahu bagaimana menanam sayuran, mau belajar, lebih bagus dari kebun sendiri,” ujar Sri, lulusan SMK perhotelan ini terkait kebutuhan sayuran seperti kol, selada, kentang, dan lainnya yang masih perlu dipasok.

Hotel lain di Desa Ped, Arsa Santhi sudah beberapa bulan ini berhasil memanen aneka sayuran untuk dan restonya dari atap hotelnya. Sebuah kebun di atap seluas 200 meter persegi terbangun dengan atap serupa green house. Di dalamnya tumbuh subur sayurna kangkung, terong cabai, selada, dan lainnya. Tiap hari, para staf bisa memanen sesuai kebutuhan, bahkan berlebihan.

Ari Setyawati, pemilik hotel mengaku mencoba hidroponik untuk memastikan pasokan sayur sehat dan berkualitas segar. Ia berani investasi untuk sistem hidroponik karena merasa bisa memberikan nilai lebih untuk akomodasinya. “Beberapa warga juga beli sayur di sini,” sebutnya. Hal menarik, ia memanfaatkan air AC untuk bahan baku utama pertanian tanpa tanah ini. Air AC dari 25 kamar ditampung di bak yang ditaruh di atas atap, dekat kebun hodroponik untuk dialirkan ke pipa-pipa media hidroponik.

Ari yang juga pegiat PHRI Klungkung ini menyebut pembangunan akomodasi di Nusa Penida terus melejit, sementara turis tiap hari tak sebanyak jumlah kamar. “Harus proteksi investasi lokal, meningkatkan kapasitas pekerja,” usulnya. Terlebih saat ini, banyak turis yang hanya oneday trip, tidak menginap.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung I Nengah Sukasta yang dikonfirmasi mengatakan pihaknya belum memiliki data analisis daya tampung karena melihat potensial masih bisa dikembangkan. ‘Secara umum, kalau normal ketersediaan huniannya 60-70% kalau tak ada isu seperti Corona. Nusa Penida tak kekurangan kamar,” lanjutnya.

Sejak Corona merebak, jumlah kunjungan menurun, antara Januari-Februari, retribusi yang diterima hampir berkurang 60%. Padahal biasanya kunjungan 2000-2500 per hari. Target pasti belum dipasang, termasuk target kunjungan wisatawan.

Ia mengatakan sudah ada program pengembangan 2020, misalnya akan melakukan pembenahan 9 destinasi. Pada Oktober akan dihelat Festival Nusa Penida, juga ada festival surfing, layang-layang, dan lainnya. “Orientasinya Nusa Penida karena 80% retribusi wisata dari Nusa,” katanya. Namun di Klungkung daratan juga dilakukan promosi untuk mengajak turis berkeliling Semarapura dan desa sekitarnya.

Masalah-masalah saat ini dan di masa datang menurutnya persoalan sampah. Nengah Sukasta menyebut sejumlah rencana pengembangan wisata misalnya agrowisata, peningkatan jaringan jalan, dan akses air. Pemerintah pusat sudah membantu biaya pembangunan pelabuhan segitiga emas untuk memperlancar transportasi laut.

Wisata alternatif

Jaringan Ekowisata Desa (JED), sebuah kerjasama antara Yayasan Wisnu dan sejumlah desa menawarkan dan mengembangkan wisata alternatif. Di antaranya Desa Kiadan, Plaga (Badung), Dukuh, Sibetan (Karangasem), Tenganan Pegringsingan (Karangasem), Perancak (Jembrana), dan Nyambu (Tabanan).

Saat ini sedang dirintis di Nusa Penida melalui Program Ekologis Nusa Penida yang dikelola oleh Yayasan Wisnu.

Konsepnya adalah pariwisata berbasis potensi diri (alam, manusia, sosial budaya, infrastruktur) yang dikelola oleh masyarakat setempat. Prinsipnya kepemilikan (masyarakat sebagai pemilik mengetahui dan mengenal potensi yang dimiliki), pengelolaan (pengelolaan sumber daya berdasar pada prinsip kebersamaan dan keadilan), dan keberlanjutan (dengan menjaga kesakralan melalui dokumentasi dan media pembelajaran),

Paket wisata yang sedang dirancang berfokus pada pola hidup masyarakat Nusa Penida yang meliputi sistem pertanian lahan kering dan olahan pangan, sumber ekonomi (rumput laut dan tenun), serta seni dan budaya. Rumah Belajar Bukit Keker di Desa Ped, akan dijadikan sebagai tempat penerimaan tamu sekaligus percontohan adaptasi lingkungan melalui praktik produksi biogas, kebun permakultur, dan pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi.

Pulau dengan Ketergantungan Sandang Pangan Hampir 100%

Berkualitas adalah ingatan warga yang mengenal kualitas pangan dari tanah karang dan berkapur Nusa Penida. Seiring membeludaknya pebangunan sarana wisata, ingatan itu kini memudar.

Pasar Toyapakeh, Desa Ped, Pulau Nusa Penida, pada pukul 9 pagi sudah lengang. Pedagang sayur dan buah-buahan sudah santai membersihkan dagangannya.

Namun salah satu kios yang tak sepi pengunjung adalah milik Hajah Bariah. Ia sedang melayani para pembeli yang datang silih berganti membeli beras, jagung, air galon, dan lainnya.

Dalam warungnya paling banyak tersedia aneka merk beras putih, jagung butiran dan remuk yang sudah dibungkus, telur, gula pasir, minyak sawit, dan air galon. Seorang nenek, Meme Putu membeli satu kilogram beras dan jagung.

Harga beras hampir sama dengan di Pulau Bali, merk Supermama dijual Rp 12 ribu/kg. “Biaya transport ke Nusa lebih mahal, untungnya lebih banyak untuk pedagang di Pulau Bali,” kata Bariah, perempuan tengah baya yang lahir di Nusa Penida ini. Bapak dan ibunya juga sudah mukim lama di kepulauan yang kini makin ramai wisatawan ini.

Kiosnya memasok beras sekitar satu ton per bulan untuk memenuhi permintaan pelanggannya. Ia mengatakan dari seluruh sembako yang dijual, sembako dari Nusa hanya jagung, itu pun tak rutin yang bisa didapatkan dari Nusa. Lainnya, harus dibeli grosir dari Klungkung. Baru kemudian dilayarkan ke Nusa dari Kusamba menuju Pelabuhan Toyapakeh.

Kebutuhan minyak juga tak bisa dipenuhi walau di Nusa Penida ada pohon kelapa. Menurutnya selain lebih mahal, orang yang buat juga langka. “Lebih banyak dijual kelapa mudanya,” tambahnya. Masuk akal, karena di sejumlah lokasi objek wisata, kelapa muda bisa dijual sampai Rp 20 ribu per biji. Buah kelapa tak menunggu tua, karena habis dipetik saat menghasilkan kuud, daging kelapa muda. Tak sedikit ladang kelapa hilang berganti jadi villa atau hotel.

Ketika bersua Bariah, pada 12 Februari 2020, sudah lebih seminggu ini Nusa Penida terdampak penutupan penerbangan dari dan menuju Cina daratan karena penyebaran virus Corona Baru (COVID-19). Suasana di sejumlah pelabuhan lebih sepi dibanding biasanya, karena turis Cina datang dalam rombongan.

“Dagang sayur yang kena, kalau saya sih tidak, orang kan perlu beli tiap hari,” ujarnya sambil menunjuk rekannya sesama pedagang di dalam pasar.

Sebuah pick-up berisi tumpukan kardus air mineral dan air galon tiba depan warungnya. Ia segera mengambil uang pembayaran. Para pekerja distributor air ini dengan sigap memindahkan belasan kardus ke gudang.

Pasokan air kemasan dan air galon dari Pulau Bali menjadi komoditas makin penting saat ini. Harganya dua kali lipat lebih mahal, sekitar Rp 34 ribu per galon. “Apalagi pas Pelabuhan Padangbai perbaikan, harga naik, barang susah,” seru salah seorang pekerjanya.

Bariah mengatakan Desa Ped cukup beruntung ada PDAM, namun warga sudah terbiasa konsumsi air untuk minum dengan membeli galon atau kemasan. Beda dengan masa kecilnya, masih memasak air sumur. Air PDAM juga kadang mati, sama dengan listrik.

Memasok sembako untuk kebutuhan warga Nusa Penida adalah sebuah kisah perjalanan untuk Bariah. Lima tahun lalu, Bariah masih harus menginap di Klungkung daratan untuk menunggu jukung bermesin yang membawa dagangannya. Setelah Nusa Penida mendadak ramai turis, perjalanan sembako dengan sampan bermesin atau speedboat makin mudah diakses, tiap hari dari pagi sampai sore. Titik pelabuhan juga terus bertambah.

Pertumbuhan hotel, villa, rumah makan, dan jumlah penduduk melipatgandakan kebutuhan sembako dan logistik lainnya. Termasuk semen, pasir, dan bahan bangunan yang terus dikapalkan, tanpa henti.

Pelabuhan Kusamba di Klungkung daratan adalah lokasi pengiriman material bangunan. Di areal pantai ada gunungan pasir dan koral, pasir dalam karung-karung siap diangkut ke kapal, tumpukan semen, kayu, besi, dan lainnya. Saat gelombang tinggi, dipastikan kapal-kapal ini tak bisa berlayar ke Nusa Penida. Saat itulah, warga Nusa mulai kesulitan mencari kebutuhannya.

Wahyudi, salah satu koordinator pengangkutan barang terlihat sibuk mencatat order. Sebanyak 27 orang tergabung dalam kelompoknya sebagai buruh angkut. Para pekerja harus fit karena barang yang akan diangkut ke sampan bermesin sudah menunggu, dan hampir tiap saat bekerja dalam kondisi pakaian dan tubuh basah terendam air laut.

Tak heran harga logistik dan barang di Nusa Penida bisa dua kali lipat karena biaya angkut terbagi di jasa buruh di pelabuhan asal dan tujuan, serta biaya transportasi. Misalnya untuk beras per 100 kg, biaya angkut saja sekitar Rp 31 ribu. Artinya tiap karung beras 25 kg, tambahan biaya di satu pelabuhan saja Rp 8000.

Sementara biaya angkut semen Rp 3500 per sak, dan air galon Rp 2000. Biaya transportasi dengan sampan bermesin bisa lebih tinggi tergantung cuaca, karena risiko lebih tinggi.

Sembako tanah Nusa

Lalu apa hasil tanah Nusa yang bisa dikonsumsi penduduknya? Hal ini bisa dilihat di pasar-pasar tradisional. Dua pasar terbesar Toyapakeh di Desa Ped dan Mentigi di Batununggul contohnya.

Pagi jelang matahari menyembul di kaki langit adalah saat paling ramai di Pasar Mentigi atau yang lebih populer dengan peken (pasar) Sampalan, nama pelabuhan yang berdampingan dengan pasar. Di dalam maupun luar pasar, para pedagang menyemut, dan pembeli bersesakan melewati lorong-lorongnya. Salah satu keramaian adalah di pedagang emperan dekat pantai.

Menariknya, para pedagang hasil tanah Nusa ada di sini. Termasuk pedagang ayam kampung. Mereka bediri di pinggiran jalan, menunjukkan wadah-wadah anyaman bambu berisi ayam kampung dan ayam jantan. Sementara ayam broiler memiliki tempat tersendiri dengan los khusus.

Sementara pedagang ayam kampung dan ayam jantan tanpa tempat khusus, hanya mencari celah kosong di pinggir jalan, bersisian dengan laut. Salah satunya adalah peternak muda dari Desa Suana. Sekitar pukul 6 pagi, ia baru mendapat garus di hari pasar jelang Hari Raya Galungan ini.

Harga satu ekor ayam kampung hasil ternaknya dijual antara Rp 50-75 ribu per ekor tergantung beratnya. Ia mengaku memiliki 5 ekor indukan atau pengina.

“Beternak ayam kampung tak mudah, menunggu cukup lama karena tidak dikurung,” ujarnya. Untungnya ia memiliki kebun untuk bertanam jagung, salah satu pakan ternaknya.

Satu jam berlalu, ia baru menjual satu ekor ayam. Ada sejumlah pedagang ayam kampung lain juga sehingga pembeli bisa membandingkan harga dan kualitas ayam.

Ada juga Men yang tekun duduk lesehan di trotoar pinggir jalan areal Pasar Mentigi. Bersama rekannya, di satu deret dagang yang berjualan tanpa sarana meja dan los ini, hasil pertanian tanah Nusa harus bersaing keras dengan produk-produk lain yang kuantitasnya lebih banyak dan berwarna cerah.

Perempuan lanjut usia ini menjual pisang gedang saba, pandan wangi untuk sarana canang, dan janur. Jumlahnay sedikit, hanya beberapa sisir pisang yang bisa dipanennya hari itu atau dapat dibeli dari tetangga. Namun semangatnya untuk menunjukkan hasil pertanian sendiri terus menyala.

Di deretan pedagang emperan ini ada juga yang menjajakan jagung yang terlihat baru dipetik dengan daun dan rambutnya masih segar, sayur kacang, dan pisang raja. Sayur kacang ini khas Nusa dan digunakan dalam sejumlah pangan tradisional seperti bubuh (bubur) Ledok.

Dilihat dari penampilannya, hasil pertanian Nusa ini cukup menggugah karena segar. Bahkan banyak orang meyakini, kualitas tani dari tanah berkapur dan berbatu lebih enak.

Lansekap pertanian

Jika menjelajah Nusa Penida di bagian pebukitan, masih nampak banyak lahan hijau yang saat musim penghujan ini ditanami jagung, singkong, daun kacang, dan ketela rambat.

Batu putih terlihat jelas di terasering pertanian untuk menyesuaikan kontur lahannya yang berbukit. Pemandangan ini tak bisa dinikmati jika di Nusa hanya mengunjungi daerah pantai dan tebing-tebingnya.

Misalnya jika menjelajah Nusa Penida dari arah Selatan kemudian menuju Desa Sakti, Batumadeg, sampai Tanglad. Jalan raya jauh lebih sunyi dibanding area pesisir. Kehidupan pertanian lahan kering tak seramai lahan basah seperti sawah dan sayur usia pendek yang harus dirawat rutin tiap hari. Namun para petani terlihat merawat lahannya sehingga nampak rapi, dibuat undakan, dan campur sari. Setidaknya dalam satu petak ladang, ada pohon kelapa, jagung, dan ketela.

Jika menelusuri program pertanian di Nusa Penida, tak banyak informasi yang ada. Terbanyak adalah untuk ternak. Misalnya dikutip dari laman Litbang Pertanian, http://bali.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita/51-info-aktual/850-bptp-bali-perkenalkan-teknologi-flushing-sapi-di-kepulauan-nusa-penida

Pemerintah memperkenalkan teknologi pakan tambahan pada induk sapi bunting dua bulan sebelum dan sesudah melahirkan, dalam dunia peternakan dikenal dengan nama teknologi Flushing. Kepulauan Nusa Penida sebagai salah satu kawasan penghasil bibit sapi Bali unggul di Bali, tahun 2018 ini menjadi sasaran pengembangan teknologi Flushing oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP Bali).

Untuk memperkenalkan teknologi Flushing kepada petani, pada 10 April 2018, BPTP Bali melaksanakan sosialisasi kajian teknologi Flushing dan penggunaan hormon PGF2@ dalam penanganan gangguan reproduksi (berahi) pada sapi Bali, pada kelompok ternak di Desa Batumadeg, Kecamatan Nusa Penida. Sosialisasi dihadiri oleh Kabid Produksi Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung, Kepala UPT DPPK Nusa Penida, Kepala Desa Batumadeg, Petugas IB se-Nusa Penida, dokter hewan UPT DPPK Kecamatan Nusa Penida dan petani kooperator.

Menurut drh. I Putu Agus Kertawirawan (Peneliti BPTP Bali), dari kajian tersebut diharapkan nantinya dapat memberikan kontribusi kepada pemangku kebijakan, terkait upaya peningkatan produktivitas sapi Bali khususnya di kepulauan Nusa Penida. “Harapan kami dengan kajian ini penetapan Nusa Penida sebagai salah satu kawasan penghasil bibit sapi Bali unggul di Bali dapat terwujud,” jelasnya.

Sementara itu pertanian terintegrasi tak banyak yang bertahan. Di beberapa desa ada jejak instalasi biogas dari kotoran ternak yang sudah terbengkalai. Dari buku hasil pemetaan partisipatif yang dibuat Yayasan Wisnu dan mitranya dengan dukungan GEF/SGP tercatat, untuk pengembangan energi alternatif tahun 2012, kelompok Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di dusun Mawan, Batumadeg mendapatkan bantuan 2 unit biogas. Di awal kegiatan program, biogas sempat digunakan sebentar sekitar 3 bulan namun saat ini sudah tidak berfungsi. Kondisi tersebut dipengaruhi faktor sulitnya air bersih sehingga kotoran menjadi kering dan gas tidak dapat terbentuk banyak.

Mitos yang dipercaya oleh warga Mawan yaitu apabila burung Gagak mengeluarkan suara maka dipercaya akan ada kejadian aneh maupun kematian hewan ternak. Mitos lainnya yaitu jika menyakiti atau membunuh kera, dipercaya akan terjadi malapetaka.

Menemukan strategi bertani

Lalu apa model pertanian yang sesuai dan bermanfaat bagi warga Nusa? Sejumlah lembaga dan komunitas yang bekerja di bidang pertanian sedang berkolaborasi dengan warga melalui Program Ekologis Nusa Penida – GEF/SGP yang dikelola Yayasan Wisnu.

Yayasan Idep mengembangkan permakultur pekarangan rumah tangga, dengan menanam aneka jenis sayuran seperti timun dan sawi hijau. Yayasan Idep memperkenalkan juga banana pit, yaitu lubang dengan diameter sekitar 1 meter dengan kedalaman 1 meter.

Lubang berfungsi sebagai tempat pengolahan limbah, pembuatan kompos, dan kebun. Lubang diberi kerikil/batu sedalam 50 cm, bagian bawah untuk tempat pengolahan air limbah, di atasnya untuk sampah organik. Di sekitar lubang ditanam pohon pisang, dan di antara pohon pisang bisa ditanam sayuran. Fungsi pohon pisang adalah untuk menyimpan air ketika musim hujan dan melepas air di musim kering.

Sementara itu Yayasan Taksu Tridatu memperkenalkan pembuatan pakan kering untuk ternak sapi. Pakan kering dibuat dari rerumputan dan daun-daun yang sudah kering, kemudian difermentasi, dan ditambahkan untuk memberikan nutrisi. Salah satu tempat pengembangan ternak sapi dengan pakan kering bisa dilihat di Rumah Belajar Bukit Keker, Banjar Nyuh Kukuh, Ped. Di area ini bisa dilihat juga teknik pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pemanfaatan cahaya matahari jadi listrik dengan panel surya.

I Made Silip, petani di Banjar Pulagan, Desa Kutampi menanam sorgum di satu area cutak (petak terasering) dari sekitar 1,5 hektar lahan yang dimilikinya. Sisanya bertanam jagung. Pada Maret 2020, rumpun sorgum sudah berbiji. Tanaman pangan ini dulu biasa ditanam warga, namun perlahan menghilang. Komoditas lahan kering ini kini kembali dilirik untuk dibudidayakan.

Para petani mengandalkan air dari cubang (sumur penampung air hujan) sebagai sumber air pertaniannya dan kebutuhan sehari-hari. Walau PDAM sudah mengaliri beberapa desa di Nusa Penida, warga masih memanfaatkan cubang, sebuah siasat hidup berkelanjutan.

Pertanian di Nusa yang potensial dikembangkan agar mandiri pangan adalah jagung, singkong, daun kayu manis, daun kemangi, kelor, dan lainnya. Ini terlihat dari ledok-ledok, makanan khas warga yang ngangenin dan memperlihatkan ragam hasil tani Nusa dalam satu mangkok. Jagung ketan direbus bersama kacang merah, bayam, kayu manis, kelor, dibumbui base genep. Gurih, sehat, dan organik.

Ada juga model kebun untuk memasok kebutuhan sebuah komplek pura Khayangan Jagat, Pura Puser Sahab di Desa Batumadeg. Kelompok Wisanggeni mengajak warga pengempon (pengelola) pura untuk kembali menghijaukan lahan sekitarnya dengan aneka pohon umur panjang sebagai peneduh dan juga memasok kebutuhan ritual upacara.

Bowo, salah satu pegiat Wisanggeni yang sedang bekerja di pura tersenyum lebar ketika melihat sayuran okra tumbuh subur, bergelantungan di sepetak lahan halaman pura. Ada juga sayur kangkung, dan hijau, dan lainnya. “Pernah dibilang nak jawa medagang sayur,” ia tertawa. Warga saat itu datang membeli aneka hasil kebun ke pura, dan hasilnya dijadikan dana punia (donasi) untuk pura. Warga yang biasanya ke pura untuk sembahyang atau nunas kelapa gading, kini bisa panen hasil tanaman umur panjang seperti sayuran dan bunga, dari menghijaukan sepetak halaman.

Sementara di sekeliling pura, hutan yang dulunya lebat kini sebagian dibabat untuk perluasan. Hutan ini dihijaukan kembali dengan menambah pepohonan yang bermanfaat bagi pura dan sekitarnya.

Ketut Sutama, Ketua Kelompok Tani Saren II yang juga Kelihan Pura Sahab mengatakan, penebangan dilakukan karena sebelumnya sebuah pohon menimpa salah satu tugu pelinggih karena hutan dinilai terlalu mepet dengan bangunan pura. Pada 2017, pihaknya mengajukan program pergantian pohon ke pemerintah dan berhasil mendapat 200 pohon nyuh gading dan jenis lainnya. Ratusan bibit tambahan juga datang.

Sampai pada 2018 ada bantuan bibit lagi dari Yayasan Wisnu untuk menghijaukan pelaba pura. Direncanakan membuat hutan gumi banten dengan pendampingan Wisanggeni. Dari Program Ekologis Nusa Penida GEF/SGP yang dikelola Yayasan Wisnu ini, warga diberi pengetahuan tambahan untuk memastikan daya hidup bibit. Misalnya saat tanam bibit, semak jangan dicabut dulu agar tak terilhat dan dicabut monyet yang banyak mukim di area ini. Penanaman juga dilakukan sebelum musim hujan, jadi ketika hujan datang, bibit sudah tertanam.

Warga juga menanam aneka pohon buah untuk monyet untuk mengurangi pengerusakan kebun. Misalnya juwet, sirsak, sawo kecik, dan lainnya. Melengkapi tanaman untuk kebutuhan upakara seperti intaran, gaharu, cendana, dan lainya. Tanaman asli dan terlihat paling meneduhi adalah genitri yang juga diyakini bisa mengobati aneka penyakit. Buah yang jatuh direbus kemudian diminum untuk demam, mengurangi sesak naafas, dan lainnya.

Buah-buah yang jatuh memenuhi dasar tanah ini diolah jadi gelang dan kalung rudraksha. Pengelola pura melubangi tengahnya dan meronce untuk tambahan penghasilan dana punia. Sutama berencana akan mengelola area pohon genitri ini karena secara filosofis memiliki makna mendalam misalnya membuatkan taman untuk semedi atau kunjungan ekowisata.

Melalui strategi bertani yang baru dikenalkan ini diharapkan pertanian Nusa Penida akan semakin menjanjikan dan berkelanjutan.

Bagaimana Kelola Sampah di Pulau Kecil?

Sampah menjadi tambahan masalah bagi Nusa Penida.

Papan dengan gantungan beberapa karung terlihat di depan sejumlah rumah Banjar Nyuh Kukuh, Desa Ped, Nusa Penida. Tiap papan berisi 4 titik gantungan dengan tulisan, organik, anorganik bernilai, anorganik tidak bernilai, dan B3. Di pengaitnya tergantung karung berwarna putih.

Gantungan karung ini terasa mencolok karena sejauh mata memandang, sampah nampak dikumpulkan di sebuah ladang atau ruang hijau dalam sebuah lubang. Sisa-sisa pembakaran sampah anorganik masih terlihat di sana.

Program pemilahan sampah ini pada Februari 2020 ini baru setahun dilaksanakan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, salah satu mitra program kerja Program Ekologis Nusa Penida GEF/SGP yang dikelola oleh Yayasan Wisnu.

Selain mengajak rumah tangga memilah sampah, juga menyediakan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang berlokasi di Rumah Belajar (learning center) Bukit Keker di Banjar Nyuh Kukuh. Sebuah moci, kendaraan roda tiga dengan bak terparkir di sana.

Kadek Warta dan Warcika adalah warga yang mendapatkan papan dengan pengait sampah itu. Dua papan dipasang berjajar di tembok depan rumahnya. Satu papan dengan empat pengait karung untuk satu KK. Menurutnya karung terlalu kecil dan papannya kurang kuat menempel di temboknya. Ditemui 12 Februari lalu, papan terlihat nyaris lepas, bisa jadi karena terlalu berat digantungi karung sampah.

Warta mengakui baru belajar memilah sampah. Namun belum sepenuhnya bisa mengikuti. Sementara Warcika sejauh ini masih membuang sampah ke TPA karena merasa lebih cepat.

Kebiasaan memilah sampah memang tak mudah langsung terjadi sekejap mata. Tantangan ini juga dialami sekolah sekitar yang kini berupaya tak lagi membakar sampah. Agus Gede Mudita, Kepala Sekolah SDN 3 Ped mengatakan dulu ada pengepul yang mengambil sampah anorganik namun kemudian tak datang lagi. Jadilah sampah yang menumpuk dibakar saat siswa sudah pulang sekolah untuk menghindari asap. “Anak-anak sudah belajar pilah sampah, tapi ini tak mudah,” urainya.

Bak sampah sekolah diletakkan di dekat tembok di areal kantin sekolah. Melihat aneka jajanan anak-anak yang masih didominasi kemasan plastik, jumlah sampahnya pasti jadi persoalan. Hal yang sama terjadi di sekolah-sekolah lain di Bali, mungkin juga Indonesia.

Dwita dan Nova dari PPLH Bali yang sedang mengunjungi SDN 3 Ped bahkan sedang menyiapkan tandon air bersih untuk memasok air ke kamar mandi dan lokasi cuci tangan siswa. Bak pembuangan sampah direncanakan terpisah antara organik dan anorganik.

Hasil survei timbulan sampah rumah tangga di Banjar Nyuh oleh PPLH sekitar 550 kg per hari, ini bisa memenuhi 5 moci. Sebagian besar berupa sampah organik sekitar 60%.

PPLH juga membentuk tim relawan Nyuh Kedas dalam mengelola sampah. Diawali dengan pelatihan pengelolaan sampah (kompos, mol, daur ulang kertas). Saat ini ada 7 orang anak yang aktif mengelola sampah di Banjar Nyuh, terutama untuk mengajak warga memilah sampahnya.

Di Bali, mulai ada beberapa sekolah yang menerapkan minim sampah plastik pada kantin-kantinnya sebagai upaya pengurangan sampah sekali pakai. Misalnya SMP PGRI 3 Denpasar yang menerapkan nol plastik di sekolahnya pada awal 2019. Pemicunya adalah Peraturan Walikota Denpasar No.36/2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dan Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.

Sebagai kawasan pengembangan pariwisata, sampah adalah masalah tambahan bagi pulau-pulau kecil seperti gugusan Pulau Nusa Penida, Lembongan, dan Ceningan ini. Saat ini kebun kosong masih tersedia terutama di Nusa Penida yang berukuran paling besar sehingga disebut nusa gede ini.

Kebun kosong atau teba dalam bahasa Bali digunakan sebagai halaman belakang dan tempat menumpuk serta bakar sampah. Terutama untuk rumah tangga yang tak terakses jasa pengangkutan sampah. Bagaimana jika teba habis? Ini masuk akal karena pembangunan sarana wisata seperti hotel, penginapan, dan restoran tak pernah berhenti di sini. Sementara sampah bukannya habis, malah berlipat karena aktivitas warga bertambah akibat industri pariwisata.

Pusat tumpukan sampah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Biaung untuk Desa Ped. Di area ini ada papan bertuliskan jadwal buang sampah, pukul 8-12 siang. Di luar jam itu, gerbang TPA ditutup. Nampak gundukan sampah setinggi pohon pisang di sejumlah titik penimbunan. Penampungan air lindi nampak kering petanda jalurnya tersumbat atau masalah lain di bawah tumpukan sampah itu.

Di beberapa sudut ada tumpukan kardus dan botol plastik yang dikumpulkan pemulung. Salah satu cara mengurangi beban sampah TPA yang menaungi 4 desa ini adalah dengan kehadiran pemulung. “Kami menggaet pemulung agar beban TPA berkurang, saya suruh ajak teman-temannya mengambil sampah yang bisa dijual,” ujar Ketut Mudra, staf UPT Persampahan Kecamatan Nusa Penida yang ditemui saat itu.

Ia berharap segera ada program pengelolaan sampah seperti program TOSS yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Klungkung. Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) diyakini sebagai strategi pengelolaan sampah yang tepat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Agung Kirana mengatakan TOSS Center sudah beroperasi sejak akhir Januari 2020. Demikian kutipan dari web Kabupaten Klungkung.

Lokasi TOSS Center di Karang Dadi, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan. TOSS Center ini disebut akan menjadi Learning Center semua teknik pengolahan sampah. Mulai dari pemilahan sampah organik dan plastik, pencacahan sampah plastik, pengolahan sampah plastik menjadi paving block dan aspal serta mengolah sampah plastik menjadi minyak. Selain diolah, sampah plastik juga ada yang akan dijual. Sementara itu sampah organik akan diolah menjadi pupuk osaki, diolah dengan proses penyeumisasi serta diolah menjadi pelet sebagai bakan bakar pembangkit listrik.

Sampah yang ditangani TOSS Center berasal dari sampah Kota Klungkung dan sampah dari Desa Kusamba. Per hari TOSS Center menerima 3 mobil pick up sampah dan mampu mengolah sampah sebanyak 6 meter kubik atau satu truk sampah.

Namun menumbuhkan perilaku memilah sampah dari sumbernya seperti rumah adalah akar perubahan. Bagaimana menumbuhkan akar ini? Kabupaten Klungkung perlu menganalisis sejumlah kasus dan masalah di beberapa TPA di Bali.

TPA overload

Sejumlah TPA di Bali sudah kelebihan (overload) sampah karena volumenya tak terbendung, semua sampah bercampur termasuk organik, dan pengelolaannya jadi makin sulit ketika sudah tercampur jadi gunung sampah. TPA Suwung di samping perairan Teluk Benoa terakhir kali ditutup warga sekitar karena baunya makin menyengat dan truk pengangkut sampah antre sampai jalan raya.

Demikian juga TPA Temesi di Kabupaten Gianyar yang beberapa kali terbakar karena gunungan sampah terus muncul dan gas buangnya memicu api dalam tumpukan sampah. Padahal di area ini ada UPT khusus yang mengelolanya dengan cara mengupah pemulung untuk memilah. Kemudian organik diolah jadi kompos, sementara anorganik dikelola bank sampah. Ketika volume sampah masih bisa dipilah, Temesi terlihat rapi dan menyisakan sedikit gundukan sampah.

Masalahnya penduduk makin banyak termasuk aktivitas dengan timbulan sampah anorganik. TPA kekurangan lahan dan terus memperluas sanitary landfill-nya ke area persawahan. Saat musim angin kencang, Temesi pun dengan mudah terbakar dan memicu protes warga sekitarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Klungkung, Anak Agung Kirana yang diwawancara pada 9 Maret 2020 mengatakan pihaknya sudah merencanakan sejumlah proram untuk pengelolaan sampah di Klungkung. Di Nusa Penida, pihaknya akan merevitalisasi dua TPA yang ada saat ini.

Selain itu, mulai 2020, persyaratan izin seperti UKL-UPL tak akan dikeluarkan bagi pengusaha wisata jika tak mematuhi syarat pengelolaan sampah.

Revitaliasasi ini bekerjasama dengan Kementrian PU, TPA akan dibuat ulang sel-selnya untuk merapikan blok penimbunan sampah. Juga akan ditaruh alat berat sampah agar lebih rapi. Ia juga berharap peran serta desa adat seperti membuat peraturan adat seperti perarem. Kirana merujuk Peraturan Gubernur Bali No 47/2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di mana desa adat bertanggungjawab pada sampah yang dihasilkan masayarakat.

Selain TOSS, ada juga imbauan membuat lubang daur ulang sampah (Bang Daus) untuk sampah organik. Sementara non organik akan ada kerjasama dengan asosiasi pengusaha sampah Indonesia. Kendalanya masih belum ada MoU, tingginya biaya pengangkutan sampah plastik ke Klungkung daratan sehingga perlu subsidi.

Ia mengakui saat ini belum banyak pengusaha wisata mengelola sampahnya, karena itu menurutnya perarem oleh desa adat penting untuk memanggil mereka. “Di Klungkung ada istilah sampahku tanggungjawabku. Perlu edukasi tak mudah seperti membalikkan telapak tangan,” sebutnya.

Data DLHK Klungkung menyebutkan, jumlah sampah di Kecamatan Nusa Penida hampir 34 ribu kg per hari ( 250 m3) dari jumlah penduduknya lebih dari 67 ribu orang. Artinya tiap warga memproduksi sampah 0,5 kg per hari. Terbesar adalah volume sampah di Kecamatan Klungkung sebanyak 34.141 kg per hari (255 m3) dari jumlah penduduk lebih dari 68 ribu orang.

Komposisi sampah terbanyak adalah organik sebanyak 68%, disusul debu, batu, dan sejenisnya 8%, gelas dan botol plastik 7%, disusul plastik lembaran 5%, dan kresek 4%.

Bom Benih, Sebuah Gerilya di Tengah Ledakan Pariwisata Nusa Penida

Hari beranjak gelap, sebuah perempatan jalan dengan tugu yang berdiri di tengahnya ramai oleh warga, mereka berkumpul. Tua, muda, anak-anak, laki-perempuan, semua menjadi satu.

Sebagian berdiri, sebagian lain duduk atau jongkok, membentuk sebuah lingkaran, perhatian mereka tertuju pada area lapang di tengah lingkaran. Dua sosok penari topeng sedang mementaskan naskahnya, disusul barok lalu dilanjutkan dengan rangda. Pecalang-pemangku siaga, beberapa warga kerauhan.

Warga Banjar Tangglad malam itu sedang menggelar sebuah prosesi upacara yang mereka namakan “nanggluk merana.” Belakangan, serangkaian peristiwa terjadi di tengah-tengah warga. Hujan yang sempat turun tia-tiba hilang tanpa jejak, cuaca kembali panas menyengat. Ulat menyerbu dan dengan rakus menggilas daun-daun jagung yang baru tumbuh dan berusaha bertahan dari cuaca yang kembali panas menyengat. Ulat-ulat yang tak juga pergi walau serangkaian usaha telah dilakukan.

Dan peristiwa-peristiwa lain yang tampaknya tidak wajar yang kemudian menjadi pertanda. Dari peristiwa-peristiwa yang saling kait tak biasa tersebut, warga bersepakat menggelar sebuah prosesi upacara yang digelar tepat saat purnama kaulu.


Ketika semua warga terpusat di perempatan jalan, mengikuti prosesi dengan penuh harap, sekelompok pemuda di sebuah halaman kecil tak jauh dari perempatan, sedang khusuk dengan niat mereka. Alunan gamelan yang masih jelas terdengar seolah tak membuat mereka berpaling dan ikut larut bersama warga.

Mereka larut dengan niat mereka untuk berhasil membuat “bom”. Mereka membuat “bom” berbentuk seperti telur seukuran genggaman tangan. Tepat ketika warga larut dengan doa dan prosesinya, para pemuda tersebut fokus merealisasikan rencana mereka, membuat “bom” yang akan mereka ledakkan ketika hujan tiba.

Tepatnya di balik gerbang terali hitam, di depan bangunan Artshop Bu Luh, segerombolan pemuda yang dikomandani Gede “timbool” Agustinus meracik material. Buliran biji-biji berukuran kecil dicampurkan ke dalam tanah dan humus yang telah basah. Lalu dikepal dibentuk bulat. Ukurannya dibuat sedemukian rupa sehingga cukup pas digenggaman tangan, memudahkan untuk dilempar.

Timbool dan kawan-kawannya berencana mengajak warga sekitar untuk gerilya menggunakan bom benih yang berhasil mereka buat. Melemparkannya ke lokasi-lokasi strategis hingga nanti “bom-bom” tersebut akan meledak dengan sendirinya ketika waktu tiba.

Biji kecil tersebut merupakan benih Orok-Orok, Kaliandra, Turi, dan Tarum, yang kemudian menjadi empat jenis bom. Upaya gerilya pemboman ini dilakukan untuk mendukung upaya perjuangan kelompok Alam Mesari memperoleh kemerdekaannya atas pewarna alam. Pewarna alam merupakan pewarna yang sebelumnya telah digunakan oleh tetua-tetua mereka ketika membuat tenun cepuk. Kain khas nusa penida yang hingga kini masih diproduksi oleh warga Desa Tanglad.

Kondisi geografis Nusa Penida yang didominasi dengan batuan kapur, lapisan tanah yang relative tipis, iklim kering dengan curah hujan yang sedikit tentu membuat penanaman langsung tanaman pewarna alam memiliki resiko kegagalan yang tinggi. Bom benih (seed bom) orok-orok, kaliandara, turi, dan tarum menjadi sebuah usaha untuk mengimbangi situasi lingkungan yang ada. Pemboman ini menjadi penting karena berpotensi besar akan menjadi humus dan menambah lapisan tanah di atas batuan kapur. Sehinga akan menyuburkan tanaman-tanaman lain yang menjadi sumber pewarna alam.

Teknik pembuatan “bom benih” dipelajari Timbool dan rekan-rekannya merupakan hasil dari hasutan Bang Berto (Roberto Hutabarat) seorang gerilyawan “Bertani karena Benar.” Diaplikasikan oleh gerombolan Timbul setelah mendapat informasi beberapa kali hujan mulai turun di Nusa Penida.

Biji benih yang sudah bercampur dalam kombinasi tanah liat dan humus dengan sedikit air yang kemudian dikeringkan dalam kerat-kerat (bekas telor). Setelah siap, “bom-bom benih” akan dilempar warga ke tempat-tempat yang area ladang warga.

Bom benih sangat tergantung pada cuaca, hujan sekali lalu kemudian panas kembali menyengat seperti apa yang terjadi di awal Januari 2020. Ini bukan momentum yang tepat untuk melakukan eksekusi pemboman. Dibutuhkan curah hjan yang lebih rutin untuk memastikan pemboman berhasil. Hal tersebut membuat penting bagi Timbool untuk mencari tahu dan mendapatkan informasi tentang curah hujan di Desa Tanglad dari warga lokal.

Tidak seperti granat yang langsung meledak sesaat setelah dilemparkan, bom benih akan meledak setelah bereaksi dengan air hujan yang mengguyur.

Ketika hujan sudah mulai rutin turun, bom-bom akan dilemparkan dan “bom” berisi benih ini pecah. Ledakan pertama terjadi.

Seed bomb itu kalau kena air hujan akan pecah tanahnya, dan di dalam tanah tersebut sudah mengandung nutrisi untuk makanan si benih tadi ketika tumbuh,” Timbool menjelaskan bagaimana proses seed bom tersebut ketika bertemu air hujan.

Bongkahan tanah pecah, benih yang terkandung di dalamnya tersebar mengikuti aliran air. Benih yang hanyut mengikuti aliran air akan tertahan oleh semak, pematang atau batuan, lalu perlahan tumbuh menjadi tunas, mencipta akar-batang-daun hingga kemudian kembali meledak menjadi rimbunan semak belukar. Semak belukar yang nantinya akan menghasilkan humus dan nutrisi bagi tanah.

“Itu adalah tanaman perintis,” Timbool menjelaskan tipe tanaman yang dikandung dalam seed bomb yang dibuatnya. “Di sini kan tanahnya berbatu, untuk merintis tanah berbatu, jadi tanahnya tipis sekali. Supaya guguran daunnya itu nanti bisa menjadi tanah yang lebih banyak untuk tegalan di Tanglad ini,” lanjutnya menjelaskan maksud aksi mereka bergerilya melemparkan seed bomb.

Bom Benih telah dilemparkan oleh ibu-ibu dari kelompok Alam Mesari ke ladang-ladang mereka, sebuah usaha kecil ketika hujan mulai rajin turun di Tanglad dan sekitarnya. Sebuah upaya kecil yang nantinya akan menunjang usaha yang lebih besar, menjaga keberlangsungan tradisi kain tenun cepuk. Menjaga agar ladang-ladang mereka cukup subur untuk ditumbuhi tanaman-tanaman yang akan menjadi sumber warna dari tenun-tenun yang mereka buat. Usaha untuk memintal kembali hubungan antara ruang hidup dengan kerajinan dan dampak ekonomi yang ingin dihasilkan.

Usaha pemboman dengan bom benih kaliandra, taru, orok-orok dan turi tentu jauh lebih kecil dan sangat tidak sebanding dibandingkan dengan Bom Pariwisata yang kini melanda Nusa Penida. Limpahan wisatawan yang berlalu lalang, pasir, dan kerikil yang meunggu untuk didistribusikan membangun villa atau akomodasi wisata lainnya yang cenderung seragam. Diikuti bom sampah sesuai jumlah kunjungan dan konsumsi orang-orang ke pulau Nusa Penida.

Link video: https://youtu.be/QoMtQ10PUaU

Sebuah usaha kecil oleh Alam Mesari bekerjasama dengan Timbool dan rekan-rekannya untuk menjaga keberlangsungan ekosistem di tengah iklim yang telah berubah dan semakin sulit diprediksi. Menjaga keberlangsungan tradisi tetua Nusa Penida dalam mencipta kain tenun tradisional. Tak kalah penting, menjaga tradisi kemandirian Nusa Penida. Tradisi kemandirian telah dilakoni para tetua terdahulu, yang telah membuktikan bagaimana cara bertahan hidup di sebuah pulau kecil dengan bentang alam yang keras.