Tag Archives: Life Experience

Meratapi Kristus di Noemuti



Sore itu, awan hitam menggantung di atas langit Bijeli, nama tempat di mana rumah kami menginap. Pukul 15.00, kami berangkat menuju Gereja Satu Hati, Satu Cinta, Satu Keluarga, Noemuti untuk mengikuti Ibadat Cium Salib dan Perayaan Ekaristi Jumat Agung.

 (Hah? Kenapa? Nama Gerejanya panjang? hahaha Ember, tetapi itu beneran. Serius).

Tiba di gereja, misa baru saja dimulai. Beruntung, kami masih mendapat tempat di dalam gereja, meskipun di bangku paling jauh dari altar. Saya dan salah satu teman saya, menempati satu bangku bersama dua orang bapak dan seorang wanita paruh baya, mungkin dia seumuran saya. Hm…

Beberapa menit sebelum Passio Injil Tuhan dimulai pada Perayaan Jumat Agung yang muram, terdengar guntur yang menggelegar dengan dahsyatnya. Ini terjadi sepanjang bacaan injil yang dinyanyikan tersebut berlangsung di atas altar.

Demikian, supaya genaplah isi Kitab Suci, “ketika Yesus mati di kayu salib, langit seketika menjadi gelap gulita, terjadi gempa bumi yang hebat, Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.” (Matius, 27: 51-52)


Yah tidak sehoror isi Kitab Suci juga. Masih dalam taraf yang bisa diterima dan dihadapi.

Hal yang sama terjadi, terdengar dentuman keras dari langit, tepat di atas gereja, hanya sepersekian detik ketika barisan wanita dan Patung Yesus tiba di pintu masuk gereja menuju altar untuk memulai RATAPAN. Setelah Passio selesai, upacara dilanjutkan dengan RATAPAN. Tradisi meratapi kematian Kristus di Hari Jumat Agung setelah Kisah Sengsara selesai dinyanyikan ini, terdapat di beberapa Paroki di Keuskupan Atambua maupun juga Keuskupan Agung Kupang.

Disebut ratapan, sebab syair yang dinyanyikan dalam bahasa Dawan ini berisi tentang kesedihan dan duka yang mendalam akan kematian Kristus. Orang Dawan, sebagaimana juga beberapa suku lain di Nusa Tenggara Timur, memiliki kebiasaan menangis di samping jenazah yang telah meninggal dunia. Tangisan tersebut memiliki nada dan akan terdengar seperti nyanyian yang sedih menyayat hati. Saat menangis itu, kenangan-kenangan yang sudah terjadi di masa hidup Almarhum akan diungkapkan melalui ratapan tersebut.

Ketimbang panik dengan bunyi-bunyi alam dari langit, umat di dalam gereja memilih tetap khusyuk dan tenang. Sepertinya ini fenomena alam yang sudah lumrah terjadi setiap tahunnya di sini.

Ketika ratapan dimulai, seluruh gereja hening, masing-masing sibuk dengan isi di dalam hatinya (bukan kepala, saya yakin begitu). Di luar dugaan, pada ratapan yang memilukan ini, terdapat satu bagian yang dinyanyikan bersama-sama dengan UMAT.

Tidak ada bahasa yang tepat untuk menjelaskan suasana serta perasaan untuk kejadian ini. Jika kau mungkin ingin tahu, apa yang saya lakukan saat itu; saya menutup Novel Cannery Row yang tengah saya baca sejak Passio mencapai pertengahan tadi (karena saya sungguh mulai bosan dengan Kisah Sengsara yang diulang-ulang sejak saya belum mengerti hingga khatam Kitab Suci).

Saya kemudian terdiam, tenggelam bersama ratapan. Tanpa sadar, mata saya basah. Biasanya, untuk hal-hal semacam ini, saya tidak pernah punya cukup alasan untuk hal-hal yang terjadi dengan tubuh saya, apalagi ini berada di luar kendali saya. Menalarnya dengan cara apa pun, saya tak mampu. Maka, saya memilih diam sembari membiarkan pipi, rambut hingga bahu saya kebanjiran.

Saya teringat anjuran Yesus yang dahulu, waktu saya masih kanak-kanak, yang saya nilai sungguh angkuh sekali: “Jang ko menangis saya. Menangis untuk ko, ko pu suami dan ko pu anak-anak.”

(yang single, dikondisikan aja yah :D)

Hingga saat ini, saya masih kepo, sungguhkah Tuhan ada? Benarkah Yesus, PuteraNya?

(24 Jam kemudian, saya tetap menyatakan Percaya bahwa Ia sungguh ada dan Yesus sungguh Puteranya pada Pembaharuan Janji Baptis di Perayaan Ekaristi Sabtu Alleluya).

Saya kadang dijuluki sangat kekanak-kanakan di usia yang sebegini ini, masih saja meragukan Tuhan dan semua sepak terjang Beliau.

Kisahnya tak lekang oleh waktu, meski sampai detik ini, tidak ada satu pun yang bisa memastikan “Apa agama Yesus?”

Yesus hanya menyebarkan sebuah ajaran yang kadang sangat menguras tenaga, waktu dan perasaan: “CINTA KASIH.”

Dan saya, masih terduduk di antara ratusan umat di gereja ini, meratapi kematian laki-laki seksi berambut sebahu, sebab siang kemarin Ia dibiarkan telanjang di tiang gantungan. Ia dengan tegas membalikkan makna tiang penyiksaan tersebut dari simbol keterpurukan, penyiksaan yang hina dina menjadi sebuah tanda kemenangan, yang entah mengapa, hingga saat ini, masih menjadi gerakan sekaligus mantra utama dalam setiap kondisi.


Nikiniki, 31 Maret 2018
Dari sebuah Perayaan Malam Paskah yang melelahkan
Saya memilih untuk belum move on dan mencatat ini pada Jurnal
*Akhir bulan ini, saya cerewet sekali.


Barisan Wanita yang Meratap. Foto: Eko Ninu







Jumat Agung di Noemuti


(*sebuah refleksi)

Ketika kau semakin tua, kau menjadi kurang antusias terhadap apa pun. Kau juga akan terlalu peka akibat pengalaman dan keinginan untuk selalu terlihat sempurna. Kau akan sangat berbeda dengan kau yang dahulu, saat masih muda. - Sangat berenergi, selalu termotivasi oleh ungkapan-ungkapan yang inspiratif dan tentu saja senang melakukan penemuan-penemuan baru meski sederhana. Satu lagi, kau tentu saja paling tidak pusing kepala dengan segala bentuk nasehat yang hanya membatasimu. Kau terlalu berbahaya!-

Di masa ini, kau akan selalu mengeluhkan kaum muda yang terlalu keras kepala, sok tahu, juga cenderung memulai hal-hal baru di luar dugaanmu. Tentu saja, hal tersebut tidak sesuai dengan harapanmu.

- kenapa Yesus harus pakai rambut palsu? Sebenarnya, tidak harus seperti itu.
- kenapa kalian harus menyeret Pick Up yang memikul sound sepanjang Jalan Salib? Seperti mau demo saja.
- sudah perhentian Ke-IX, kenapa erangan Yesus masih kencang saja? Apakah Yesus tidak merasa lelah kehabisan tenaga setelah dicambuk berkali-kali? Seolah-olah ini masih pada perhentian ke-III

de es be nya

Sementara yang muda, akan melihatmu sebagai generasi orang tua yang suka mengatur, kaku konservatif dan menyebalkan. Mereka akan merutuki sikapmu, membicarakan hal buruk tentangmu di dalam pertemuan-pertemuan tak formal yang diselingi sopi dan cacian kotor. Atau yang lebih mengerikan, kau adalah pribadi yang ketinggalan zaman. Kau tidak pantas berada di lingkaran produktif zaman now, kau, sebaiknya dijauhi!

Setelah itu, kau hanya akan menjadi bagian dari sekian penonton yang suka menggerutu. Tidak ada yang peduli ocehanmu. Setelah kerjamu yang kau anggap luar biasa dan patut dikenang serta diteladani, hanya tinggal nostalgia. Mereka memilih membiarkanmu, sebab itulah sisa-sisa kegagahanmu. Selebihnya, kau hanya pantas untuk dilupakan!

Begitulah hidup mengajarkan manusia, kebijaksanaan akan terpancar dari kemampuanmu menyesuaikan diri, menerima arus perubahan yang terus-menerus, yang tak pernah ada tepat di bawah kendalimu.


Noemuti, 30 Maret 2018
Dari sebuah percakapan di bawah ranting-ranting Pohon Ara



Menghidupi Literasi: Susah-Susah Gampang



Dalam rangka kegiatan hari ketiga Gathering Nasional Buku Bagi NTT – 15 April 2018 nanti, kami mengadakan survei ke lokasi Taman Baca Masyarakat (TBM) yang akan menjadi tujuan kunjungan para Relawan Komunitas Buku Bagi NTT.

TBM tersebut bernama Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, berlokasi di Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang.

Dari Kupang, kami berangkat berempat, saya, dua Relawan BBNTT Regional Kupang, Tri dan Neno serta salah satu teman kantor Tri, Mesakh. Kami menggunakan dua motor dan membawa serta satu dos buku untuk adik-adik di Lopo Belajar. Berangkat pukul 11.00 WITA dan sempat nyasar selama kurang lebih lima belas menit karena salah arah hohoho, untung insting bekerja baik sehingga bertanya ulang-ulang pada warga yang lewat. Jalanan menuju Fatule’u barat ini beragam, seperti pulau-pulau di Indonesia. Ada pulau besar, lalu menyusul teluk dan lautan kemudian pulau kecil lalu pulau besar lagi hahaha…






Sekitar tiga puluh menit sebelum tiba ke tempat tujuan, kami bertemu dengan KALI YANG PERTAMA (Kali BUKAN sungai). Kami belum tahu, ada berapa KALI yang harus kami lewati untuk tiba di Desa Poto, berdasarkan info dari kakaknya Neno, ada kurang lebih SEPULUH dengan volume arus yang berbeda-beda. Pada perjalanan berangkat ini, hari masih cerah, memang terlihat awan hitam di kejauhan tetapi kami pikir hujan masih akan tiba nanti malam.

Memasuki Desa setelah KALI yang pertama, kami kehilangan sinyal dan sudah tidak nampak tiang-tiang listrik di sepanjang jalan. Kami mengambil kesimpulan, memang tidak ada sinyal dan listrik di sini, maka kami berjalan sembari tetap bertanya karena kami sendiri belum tahu tujuan kami di mana. Ternyata ada DUA LAGI KALI yang harus kami lewati. KALI YANG KETIGA, airnya mengalir deras di atas jembatan beton yang entah kapan dibangun. Setelah KALI yang ketiga ini, kami bertemu seorang ibu dan pemuda yang sedang mengaso di pinggir kali, kami bertanya lagi. Tempat tujuan kami sudah dekat.

Kali yang KEDUA


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, kami sudah menemukan Kantor Desa Poto dan Lopo Belajar tujuan kami yang berada tepat di sebelahnya. Ada mama-mama yang sedang duduk di situ, kami bertanya lagi. Dari mama-mama ini, kami diarahkan ke rumah Bapak Simon Seffi yang mengelola Lopo Belajar tersebut. Rumahnya tidak jauh, tepat di jalan masuk samping Kantor Desa, berhadapan dengan Puskemas Desa Poto.


Kantor Desa Poto


Tiba di rumah Bapak Simon, beliau ternyata sedang keluar. Kami menunggu sembari melemaskan tubuh dan pikiran dari medan perjalanan yang luar biasa hasoy. Saya mencuri lihat koleksi buku Bapak Guru Simon yang kebetulan sedang berbaris rapi pada rak di depan kamar kosnya. Canggih! Tidak lama kemudian, Pak Simon muncul. Kami saling berjabat tangan, memperkenalkan diri lalu mulai ngobrol. Perlahan keluar, pisang goreng, pisang rebus, ikan goreng hasil pancingan Pak Simon dari laut terdekat dan tentu saja sambal kemangi serta kopi.




Koleksi buku Bapak Simon Seffi


Bapak Guru Simon adalah seorang Guru Matematika asal Amfoang yang ditugaskan di Desa Poto sejak tahun 2015. Jarak Amfoang ke Poto sendiri, kurang lebih masih 80 KM lagi. Bermula dari beliau menemukan fakta bahwa banyak sekali siswa/I di Sekolah Menengah Atas di Desa Poto belum bisa membaca, menulis dan menghitung dengan baik. Beliau kemudian mengadakan riset kecil-kecilan dengan instrumen yang sederhana dan menemukan kenyataan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan Guru-Guru hampir di seluruh sekolah di Kecamatan Fatule’u Barat, baik SD, SMP maupun juga SMA , semuanya sama. Menggunakan kekerasan dan hukuman. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapat ilmu. Belum lagi, tidak ada kegiatan belajar pendukung setelah waktu di sekolah telah selesai, mereka harus membantu orang tuanya bekerja di ladang atau di sawah.



Bapak Guru Simon bekerja sama dengan salah satu tetua adat setempat, membuka sebuah Lopo Belajar yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama suku besar setempat. Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomane yang berlokasi di halaman rumah Bapak Tetua Adat. Kurang lebih ada 20 anak yang diasuh oleh Bapak Guru Simon, sebagian besar sudah duduk di kelas lima dan enam. Saat pertama bergabung, anak-anak ini samasekali masih kesulitan membaca. Melalui metode belajar kreatif, anak-anak perlahan termotivasi dan bisa lancar membaca. Kami tidak sempat bertemu anak-anak tersebut, karena di hari Minggu, Lopo Belajar tutup.

Meskipun tutup di hari Minggu, kami tetap mampir melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar sebagai dokumentasi. Selain itu, sangat nikmat berjalan kaki dari rumah Bapak Guru Simon ke Lopo Belajar di siang hari tanpa ada suara bising di sana-sini.


Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana




Salah satu hal menggembirakan pada cerita perjalanan ini adalah, mendapat sebuah suguhan menarik dari Bapak Guru Simon Seffi yang ternyata sudah sempat membukukan hasil penelitian beliau tentang kekeliruan metode pembelajaran serta solusi yang bisa beliau tawarkan. Buku tersebut telah dicetak sebanyak dua kali, saat ini beliau tengah berusaha mencari donatur yang mau membantu mencetaknya lagi karena sudah tidak ada stok yang tersisa. Masih ada satu buku saja yang menjadi arsip beliau. Saya sudah sempat membacanya, luar biasa bermanfaat. Harapan saya, Komunitas Buku Bagi NTT bisa membantu memperbanyak buku ini dan membaginya secara gratis ke seluruh Taman Baca di Nusa Tenggara Timur. Judul bukunya: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD.

Buku Hasil Penelitian Bapak Guru Simon Seffi

Dalam perjalanan mengasuh anak-anak di Lopo Belajar serta mensosialisasikan metode belajar yang sudah beliau kembangkan dalam bentuk buku, Bapak Guru Simon Seffi tentu juga menghadapi berbagai penolakan dan kecurigaan yang terkadang melemahkan posisi beliau. Beliau pernah mengadakan audiensi dengan Dinas terkait bahkan Bupati Kabupaten Kupang, akan tetapi hingga saat ini, belum ada langkah konkrit yang diambil demi mengatasi permasalahan ini. Para Guru Senior, melihat sepak terjang beliau sebagai bentuk mempermalukan mereka atau sok pintar yang sebaiknya diabaikan saja. Sangat khas NTT!

Jika tidak mengingat waktu dan perjalanan pulang yang masih panjang serta awan hitam yang berarak di langit, kami mungkin tidak beranjak sedikitpun dari kediaman Bapak Guru Simon. Sebagaimana perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, ini adalah perjumpaan luar biasa yang kesekian. Di sebuah Desa di tengah belantara dan pegunungan, ada sosok gemilang yang bertahan dan mencoba peruntungan hidupnya dengan cara yang begitu mulia. Saya seperti di-charge penuh kembali batereinya.



Nasib pakai timer :D




Pukul 16.00 WITA lewat sedikit, kami mohon pamit kembali ke Kupang. Kami sungguh tidak tahu apa yang menanti kami di perjalalan pulang ini hahaha.. Jika pada perjalanan berangkat, kami selalu berhati-hati dan baik-baik saja, maka di perjalanan pulang ini, kami agak ceroboh dan menyedihkan wkwkwkw.

Motor yang ditumpangi saya dan Neno, nyungsep di KALI YANG PERTAMA harus kami lewati, sebelumnya adalah KALI YANG KETIGA pada saat kami datang, yang di mana saya harus turun jika tidak ingin basah kuyup. Kali ini, saking nekatnya dan keasikan ngobrol, Neno menerjang air begitu saja dan alhasil, kami terjebak.

Di tengah perjalanan menuju KALI YANG KEDUA, gerimis mulai turun perlahan yang kemudian menjadi sangat deras. Kami berhasil melewati KALI YANG KEDUA tanpa ada rintangan yang berarti. Dan beberapa meter sebelum mencapai KALI YANG KETIGA, saya melihat ada aliran cokelat yang begitu pekat dari kejauhan. Banjir besar datang dari hulu, jalan terputus dan kami tidak bisa lewat, rupanya sudah ada beberapa orang yang duduk lemas lebih dulu di pinggiran kali bersama kendaraan mereka. Waktu menunjukkan pukul 16.45, pupus sudah harapan kami untuk tiba lebih cepat di Kupang, sementara besok ada audiensi berkaitan dengan Gathering Nasional BBNTT juga yang harus saya hadiri.



Alternatif pertama adalah, menunggu air surut dan kami menyebrang. Sekitar dua jam kami harus menunggu, bisa jadi lebih dari itu. Alternatif kedua, kembali ke rumah Bapak Guru Simon dan menginap, tetapi bagaimana dengan Tri dan Mesakh yang besok pagi-pagi harus bekerja. Lalu, tanpa kami duga, alternatif ketiga itu muncul. Pasukan Profesional Pemuda Fatule’u, Para Pengangkut Motor tangguh dengan biaya yang tidak disangka-sangka, sangat murah. 30.000/motor. Motor diangkut dan kami boleh memilih nyebrang sendiri atau digendong ke sebelah. Alamak! Yang laki-laki memilih yang kedua, saya dan Tri meskipun kami perempuan, kami juga tetap memilih yang kedua. Masih ada sisi lain dari KALI yang cukup dangkal dan bisa kami sebrangi.





Saya menikmati proses memindahkan motor ini dengan hikmat. Sejak awal, ketika mereka mulai turun ke sungai satu per satu untuk mengecek kedalaman air dan deras arus. Lalu, mencari alat bantu berupa kayu yang cukup keras untuk menopang motor sehingga motor tetap stabil saat dipikul dan tidak terasa terlalu berat saat melintasi arus air yang deras. Tips agar kayu tidak ikut berputar dengan roda motor saat dipikul adalah, gigi motor dimasukkan dulu agar roda tetap diam dan kayu bisa menopang kuat, tidak bergerak. Sebuah pengalaman yang cukup ekstrim dan fenomenal tentu saja. Ketika kami berjalan ke sisi lain sungai untuk menyebrang ke sebelah sementara motor telah tiba lebih dulu, kami sungguh tidak menyangka bahwa akhirnya kami bisa kembali ke Kupang hari itu juga.

Video lengkap tentang aksi heroik ini, bisa dilihat di Instagram saya: @maria_pankratia

Setelah selebrasi yang cukup heboh dan alay, hahaha ditonton oleh warga masyarakat yang sedang nongkrong di pinggiran sungai -rupanya ini menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di kala senja hahahaa- kami melanjutkan perjalanan ke Kupang. Di tengah perjalanan, kami diterpa hujan yang lumayan deras sehingga harus dua kali berhenti dan berteduh. Pukul 20.00 WITA lebih atau kurang sedikit, saya lupa, kami akhirnya tiba di Kupang dengan kondisi masih utuh.



Di akhir cerita perjalanan ini, saya hanya mau bilang, Tempat yang kami kunjungi ini hanya dua jam dari Kota Kupang. Tak ada jembatan, tak ada listrik, tak ada sinyal hape kecuali tenaga surya yang tentu saja mengandalkan matahari –belakangan kami dikasitahu oleh isteri Bapak Guru Simon tentang TS ini- Di musim penghujan, mustahil ada nyala lampu neon berpendar. Tetapi orang-orang di tempat ini tetap hidup dan bertahan bahkan sangat kuat dan tegar. Mereka dapat dibilang menjadi sangat profesional saat dibutuhkan seperti di situasi sore kemarin. Lalu, orang-orang seperti saya, kau dan dia masih saja mengeluh ketika siang terlalu panas atau hujan terlampau sering, cemas karena telkomsel terus kirim sms kuota data anda tersisa 498KB saja, kesal karena ditanya kapan kawin #eh nikah #HapaSih hahaha...

Jika demikian, pantas saja kalau banyak orang mudah mati saat ini.

Demikian laporan #BBNTTGATHERINGPREPARATION dari kunjungan ke Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang di hari Minggu, 11 Maret 2018.


Salam Literasi,
Maria Pankratia – Relawan Buku Bagi NTT

PS. Semua dokumentasi dalam perjalanan ini berasal dari Handphone saya dan Tri. ^^






Surga Tersembunyi Lakolat di Maidang



"Lakolat"
Sudah pernah ke Sumba? Atau paling tidak, pernah mendengar tentang SUMBA? Sebuah pulau dengan bentangan Padang Sabana yang maha luas di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang gencar wisatawan, baik lokal maupun internasional yang mengatur perjalanan ke SUMBA. Sebagian besar pengunjung tertarik akan bukit-bukit sabananya, juga pantai-pantai di Sumba yang luar biasa eksotis, sebagiannya lagi ingin berburu tenun ikat Sumba yang memang terkenal unik.

Padahal selain padang rumput yang luas, pantai dan tenun ikat, ada banyak surga tersembunyi lain yang bisa kita temukan di Sumba, yang belum diketahui banyak orang dan sama sekali belum terjamah. Tentu saja dibutuhkan kesabaran dan tenaga yang mumpuni serta waktu yang memadahi, sebab jika kita ingin pergi ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi orang lain, atau masih jarang diketahui banyak orang, ada banyak tantangan dan hal baru yang akan kita temukan. Selain itu, jika ke Sumba, tak cukup waktu tiga atau empat hari saja. Minimal satu minggu dan maksimal satu bulan untuk berkeliling mendatangi semua tempat indah tersebut.

Pada tulisan saya kali ini, saya akan merekomendasikan sebuah tempat yang menentramkan hati, sangat jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Masih begitu alami dan cocok untuk kalian yang gemar bermain air sembari berkhayal, berendam sampai lama untuk mencari inspirasi atau mencoba hal menantang seperti terjun ke dalam air dari ketinggian. Nama tempat tersebut adalah “Air Terjun Lakolat”

Keheningan di Lakolat

Air Terjun Lakolat terletak di Desa Maidang, Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang, Kabupaten Sumba Timur. Apabila kalian datang dari luar Pulau Sumba, kalian dapat menggunakan Penerbangan menuju Bandara Umbu Mehang Kunda di Kota Waingapu. Sudah ada beberapa penerbangan yang melayani rute menuju Ibu Kota Sumba Timur tersebut. Nah, zaman sekarang tidak perlu susah-susah kalau mau cek jadwal penerbangan atau maskapai apa yang memiliki rute ke Indonesia bagian Timur, Khususnya Kupang atau Waingapu. Kalian bisa gunakan layanan aplikasi online tiket.com yang selengkapnya bisa kalian klik di sini: @tiket.com (Twitter: @tiket dan Instagram: @tiket.com ).


Jalan menuju Lakolat
dua gambar atas, dari Rumah Kepala Desa Maidang || dua gambar bawah, dari SDN Lumbung

Jarak dari Waingapu menuju Desa Maidang, tempat Air Terjun Lakolat berada, dapat ditempuh selama kurang lebih dua (2) jam menggunakan mobil atau sepeda motor. Sebagaimana jalanan di Nusa Tenggara yang selalu membelah bukit, mengulari lembah, begitu pula perjalanan ke Pelosok Utara Sumba Timur ini. Kita akan melalui jalan yang berkelok-kelok tetapi menjadi puas sebab sepanjang jalan terpampang pemandangan yang menakjubkan.

Tiba di Desa Maidang, kita bisa memulai rute trackingyang cukup menantang. Yah, belum ada jalan yang bisa dilalui kendaraan langsung menuju Air Terjun Lakolat. Kita akan melewati turunan tangga tanah, menyebrangi aliran sungai yang cukup deras, hutan dan juga ladang masyarakat setempat. Semua itu akan setimpal dengan Pemandangan yang disuguhkan setelah tiba di tempat tujuan.

Hutan menuju Lakolat

Pemandangan dalam perjalanan menuju Lakolat
Saat tiba di pintu masuk, kita akan disambut barisan pepohonan bambu dan lagi-lagi tangga menurun dari tanah. Terus ke bawah , menuju areal sungai, di sisi kiri, ada sebidang tanah yang cukup lapang yang dapat digunakan untuk berkemah atau piknik bersama keluarga dan teman-teman.

Sisi Kiri Lakolat, tempat kita bisa duduk bersantai dan bercengkrama

Suasana Lakolat pada sore hari ketika matahari beranjak turun
Berada di sini, kita seolah-olah terlempar ke Negeri para peri atau dunia dongeng anak-anak. Di mana hanya terdengar gemericik air yang mengalir, ceruk-ceruk batu alam yang membentuk kolam pemandian alami, suara kicau burung dan desau angin di pucuk pepohonan.

Ketika sore tiba, pantulan sinar matahari di atas bebatuan dan air, akan menambah kesan indah lainnya dari Air Terjun Lakolat. Kenangan tersebut masih membekas di kepala saya hingga saat ini.

Ceruk Batu Lakolat

Pemandangan dari atas bebatuan di Lakolat

Pada akhir bulan Agustus 2016 yang lalu, saya bersama teman-teman Gabungan Mahasiswa Sumba Timur (GAMASTIM) di Bali, melakukan sebuah kegiatan sosial yang kami beri judul “1000 Buku Untuk Sumba”. Kegiatan tersebut di laksanakan di SD Negeri Lumbung. Salah satu Sekolah Dasar yang menampung para Siswa/I dari tiga desa di Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang. Sekolah ini masih bertahan tanpa Listrik, para siswa/inya pun kadang tidak bersepatu dan berseragam lengkap saat ke sekolah. Selain membagikan Buku dan Alat tulis, kami menyempatkan diri mengadakan kelas inspirasi bersama 73 Siswa/I di SDN Lumbung saat itu. Selengkapnya tentang kegiatan ini bisa dibaca di: Maiwa La Humba Setelah kegiatan tersebut, kami menyempatkan diri, menghabiskan sisa waktu di Air Terjun Lakolat, sebelum malam tiba dan membawa kami kembali ke Waingapu. Foto-foto yang diunggah di tulisan ini merupakan dokumentasi perjalanan tahun lalu yang sebagian belum sempat saya unggah karena menunggu waktu yang tepat.

Kegiatan bersama GAMASTIM BALI di SDN Lumbung (Agustus 2016)
Foto Bersama GAMASTIM BALI di Lakolat

Adalah pengalaman yang luar biasa menyenangkan dan jelas tidak terlupakan. Saya berharap dapat kembali lagi ke SDN Lumbung dan Air Terjun Lakolat, untuk sekedar bernostalgia maupun juga menikmati kebesaran Tuhan melalui Alam Raya yang indah ini. Satu hal, jika kalian ke sini, JANGAN MENINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK DAN KENANGAN! Sesungguhnya, Wisata Dunia, semuanya ada di Indonesia.

***

PS. Ada satu pertanyaan penting yang masih saya simpan hingga saat ini, apa sebenarnya makna harafiah dari Lakolat dan mengapa air terjun tersebut diberi nama Lakolat?

Saya tidak sempat menanyakan pada penduduk setempat saat itu. Mungkin ini akan menjadi agenda pada perjalanan saya selanjutnya. Terima Kasih sudah membaca sampai selesai ^^


Saya :)




#BreakTheSilence Seminar; How to Use Your Voice Wisely



Have you ever heard of Facebook Global Digital Challenge (FGDC)?

The great campaign from the largest social media platform, Facebook

This social networking platform invites students around the world to show the public that social media can be a positive media that provides many advantages if used wisely.

One of Indonesia College is selected to participate in this joint venture program with EdVenture Partners is Undiknas University, Denpasar. Five of Undiknas students who passed the selection at the registration stage are selected as program participant , the participants are; Sean Conti from Business Management Study, Deviyanti Putri and Upayana Wiguna from Accounting Study, Faculty of Economics and Business. There is Pipin Carolina from the Law Science Study, Faculty of Law and Maria Pankratia from the Communication Science Study, Faculty of Social and Political Sciences.

This activity begins with a selection phase since January 2017 and will end with submission of activity reports by June 2017. Participants are required to submit essays explaining their motivation to engage in this activity.

All five were selected after going through a tight selection process from the EdVenture Partners. In February 2017, this team began to work. Together, with Luh Putu Mahyuni, Ph. D., CA, as the Director of Academic/Dean of Economics and Business Faculty and Ida Nyoman Basmantra, MPD as the Team Manager who is also the Head of International Office, Undiknas Denpasar. The team discussed the major themes, what should be raised in this campaign.

Seeing the situation of the Nation and the State of Indonesia which began to be attacked various kinds of radicalism issues, in the end an idea about #BreakTheSilence emerged. A campaign targeting the silence majority, people who have had enough insight and understand the situation but prefer to be silence.

As there is a phrase that says, "In a war situation, when you are impartial to anyone, you are actually supporting the ruling party." This campaign seeks to invite more people to care and determine the attitude so that no more narrow-minded people that take this opportunity to destroy everything that has been painfully built by the predecessors.
Following up on this idea, several concept activities are designed. There are visits to the orphanage, photo competition and video storytelling, making video testimonials and social experiment and film production.

There is also a Seminar titled "Pluralism in Relation to Social Media." The seminar was held on May 29, 2017, attended by 234 Students of Undiknas Denpasar and involving 30 people as committee to working together and organize the activities.

The #BreakTheSilence seminar discusses "How to interpret Diversity and speak wisely through the existing Social Media so that it has a great impact on the whole world."
Present as Speakers, there is Dea Rangga, celebgram; Yoga Arsana and Sugi Suartanaya , the Youtubers; And Anton Muhajir, Editor, Journalist and Blogger. the four speakers and the Facebook Team Global Digital Challenge share experiences and suggestions about how to use social media in the midst of the current excessive information flow.

Through this seminar, it is expected that more and more students are inspired to use the internet and social media wisely; also not negligent to forward this good message to the people they meet in their neighborhood. It's time to be, care and use your opinion wisely! More details about this campaign, #BreakTheSilence Team, Undiknas Denpasar, can be seen at:

Facebook Page: Break The Silence
Instagram: @undiknasfgdc_
Twitter: @BreakUrSilence
Channel Youtube: Undiknas FGDC


Do not forget to Follow and Subscribe the above accounts. Thanks. Regards, Bhineka Tunggal Ika. Break The Silence by Breaking Your Silence!