Tag Archives: Life Experience

Setiap Hari adalah Perayaan



Kemarin, saya akhirnya diingatkan kembali. Terkadang dalam 365 hari, ada hari-hari tertentu yang memang harus dilalui dengan hal-hal yang kurang beruntung atau gagal sepenuhnya, atau tidak sesuai harapan sebab waktunya belum tepat. Atau memang hari tersebut dikhususkan untuk belajar bersabar dan mengikhlaskan semua yang tertunda. Beristirahat sajalah.

Maka dari itu, sudah sepantasnya, setiap hari memiliki perayaannya masing-masing.

Termasuk, Perayaan Kesedihan. Perayaan Kegagalan. Perayaan Tak Tepat Waktu.

Sepanjang hari kemarin, hujan tak kunjung reda. Cuaca yang melankolis ini sejalan dengan –tidak biasanya- hari yang tanpa rencana, dan segala urusan yang asal muncul di kepala tetapi seperti tak sesuai pada tempatnya.

Hari masih pagi, ketika mendapat pesan yang kurang menyenangkan akbiat peristiwa di hari sebelumnya. Dilanjutkan obrolan di telfon yang juga cukup mengintimidasi. Tarik nafas, hembuskan.

Laundry yang sudah tiba waktunya diambil, akan tetapi belum selesai disetrika sebab sehari sebelumnya listrik padam hampir di seluruh kota Ruteng sepanjang hari.

Paket yang katanya dalam perjalanan diantar ke alamat, tetapi rupanya dibawa pulang kembali ke kantor sebab kurirnya kehujanan.

Belanja yang terpaksa ditunda karena lupa membawa kartu anggota -kan sayang poinnya-

Gorengan bakwan favorit plus cabe ijo –yang dipikir bisa mengurangi gundah gulana- yang kebetulan sekali tidak dibuat adonannya, hanya ada kawan-kawannya seperti tahu, tempe dan pisang goreng. Damn.

Kehujanan sepanjang perjalanan pulang, dan karena sudah habis stok baju bersih, terpaksa mengenakan baju hari sebelumnya.

Cat kamar yang belum kering sempurna oleh karena dinding yang lembab diakibatkan cuaca yang yah gini-gini aja, mau tak mau harus mengungsi dulu.

Untungnya, ada pelipur lara, penemuan baru salome di depan SD Ruteng 5, yang entah mengapa "enak benar dimakan hujan-hujan tetapi gak boleh banyak-banyak daripada penyakit."

Itu kejadian seharian kemarin.

***
Dan hari ini, semua seperti sempurna –meskipun ada beberapa yang menjanjikan hal-hal tetapi tidak ditepati, wew-

Sederet list to do yang dibuat sejak semalam berjalan lancar, termasuk laundry yang sudah selesai, dua paket yang telah tiba dan semuanya diambil ke kantor jasa pengiriman, pekerjaan yang bisa diselesaikan tepat waktu dan peminjam buku yang antusias. 

Bahkan ada waktu lebih untuk melakukan tugas tambahan, lalu bersantai.

Dan tanpa sengaja bertemu manusia asal spanyol yang –mungkin- belum paham bahwa #ValentineBukanBudayaKita budaya kita di Flores, tak akan ada yang datang dan menanyaimu “mau makan apa” di warung-warung tertentu. Kau harus teriak, dan kasitahu apa yang kau mau makan, meskipun nanti kau bayar."

Wkwkwkw kami menertawakan “hal ini” bersama-sama.

Yang terakhir, termasuk menerobos masuk gerbang kompiang 5 jaya demi buah tangan bagi orang rumah yang jaraknya ratusan kilometer harus ditempuh besok, seharian.

Demikian. semuanya hanya harus dijalani dengan iklhas, lalu disyukuri.

Selamat Hari Kasih Sayang, Kripik Pisang Idolak!


Ruteng, 14 Februari 2019


Perantau asal Manggarai yang berangkat kerja pada pagi hari. (14/02/19) dok. pribadi


Berkenalan dengan ASUS Zenbook S UX391UA di Jakarta





Bundaran HI Jakarta. Dok. Pribadi

JAKARTA!

Di mana gedung tinggi bertaburan bagai ketombe, dan deru mesin kendaraan adalah musik latar paling asoy yang menemani aktivitas sepanjang hari.

Zaman masih berstatus murid dari para guru yang ca’em-ca’em dan tampan dobel, momen kembali ke sekolah setelah liburan panjang adalah kesempatan pamer yang paling paripurna.
“Kemarin liburan sekolah ke mana?”

Salah satu pertanyaan basi yang selalu muncul begitu saja, atau kalau ketemu kekawan yang kecanduan songong, yang meskipun tak ditanya, bunyi aja persis iklan tahu bulat di sepanjang jalanan Menteng.

“Sa kemarin libur di Jakarta, ko libur pi mana?”

Kalau sudah begini, saya suka pura-pura budeg atau sibuk catat lirik lagu Jamrud di halaman paling belakang buku catatan pelajaran. Biarkan saja si kawan nyerocos sesukanya.

Demikian, dulu sekali, Jakarta pernah menjadi tempat menakar gengsi sebab tak sembarang manusia bisa menginjakkan kaki di Ibu Kota Negara.

Beberapa tahun kemudian, rasa cemburu dan putus asa itu mulai berdebu dan diterbangkan angin begitu saja. Gara-garanya sekali waktu, zaman ikut kegiatan mewakili sekolah, Jakarta pernah menjadi kota transit. Momen itu benar-benar bak nila setitik yang merusak susu sebelanga. Jakarta terlalu mengerikan untuk anak kampung seperti saya. Membikin sakit kepala dan perasaan heran bersemi membabi buta.

Berbeda dengan harapan banyak orang, liburan atau menetap di Jakarta tidak pernah menjadi impian saya. Setiap kali mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan dengan tiket gratis di Jakarta, perasaan saya selalu tak karuan. Sebagian senang, sebagian lagi sibuk menciptakan kalimat dan semangat positif untuk membentengi diri.

“Hanya beberapa hari, Mar. Nanti juga ketemu kawan-kawan yang asik, bakal lupa kalau lagi di Jakarta.”

Tidak pernah saya sangka, akhir tahun kemarin, saya menghabiskan seluruh hari di bulan Desember di JAKARTA. Plus lima hari malah dari tahun yang baru. Bagaimana perasaan dari seseorang, yang dulunya sangat membenci Jakarta, lalu bertemu kemungkinan akan tinggal di Jakarta, kemudian memutuskan untuk bertahan selama sebulan lebih di Jakarta sebagai pengalaman liburan, sembari menanti kepastian masa depan? Bagaimana?

Setelah hampir satu bulan, pantengin website resmi Kementrian BUMN dan Instagram Period Workshop di laptop Asus A450C saya yang mulai kumal (tetapi selalu menjadi kawan setia nan mesra, cieh), akhirnya saya mendapatkan kabar baik dari Jakarta. Nama saya muncul di antara sembilan (9) peserta yang lolos ke tahapan seleksi kompetensi bidang tes cpns kementrian BUMN, juga ada di antara sebelas (11) peserta yang boleh mengikuti workshop kritik sastra Period bersama Melanie Budianta. Seperti sekali dayung, kapal agak oleng tetapi fokus tak terganggu, hahahaha pepatah macam apapulak. Mari liburan sembari menenun masa depan di Ibu Kota. YEAH!

Saya mendarat di Jakarta (lagi) tepat tanggal 01 Desember 2018. Sebelumnya, di akhir bulan Oktober hingga awal November 2018, saya menghabiskan waktu dua minggu di Jakarta. Mengikuti tes seleksi kompetensi dasar. Total Passing Grade 330, menghantarkan saya kembali ke Jakarta sebulan kemudian.

Satu setengah bulan jika ditotal keseluruhannya, saya menetap di Jakarta. Ternyata Jakarta tidak seburuk yang saya pikir. Di saat-saat tertentu, saya menyadari bahwa, saya akan sangat merindukan Ibu Kota jika nantinya nasib tidak mengizinkan saya tinggal di Jakarta.

Saya akan merindukan gedung-gedung pencakar langitnya, yang megah dan selalu menimbulkan pertanyaan, “sungguhkah semua ruangan di gedung-gedung tersebut terisi oleh manusia?” *Pertanyaan bodoh hahahaha…

Merindukan kilau matahari sore yang memantul di antara gedung-gedung tinggi tersebut. Cah Melankolis bah...

Stasiun Kereta Api Manggarai. Dok. Pribadi

Juga, tentu saja merindukan transportasi umumnya yang beragam, dan selalu mudah dijangkau. Terjangkau tempat perhentiannya/penjemputannya, maupun juga harganya. Dari kereta api, transportasi berbasis online, bus transjakarta, sampai kopaja, bajaj, dan angkotan umum.

Merindukan berbagai kuliner enak dari yang paling mahal di pusat-pusat perbelanjaan, ketika diajak jalan sama teman baik, yang sekaligus mentraktir makan siang/makan malam. Sampai jajanan kaki lima, yang boleh jadi menguras isi dompet tanpa disadari. Saking murahnya, main nunjuk aja, yang ini yang itu, ini juga itu juga.

Kedai Jamu Bukti Mentjos Salemba. Dok. Pribadi

Nah, ini yang paling unik di tengah hiruk-pikuk Jakarta, saya akan sangat merindukan salah satu tempat nongkrong asik dan sehat, seperti Jamu Bukti Mentjos di Salemba.

Merindukan orang-orang hebat yang bisa bertemu secara tak sengaja pada kegiatan-kegiatan menyenangkan, seperti yang saya alami selama berada di Jakarta. Dari Pembawa acara televisi yang selalu ditonton sejuta umat, Penulis Idola, Sastrawan/I Indonesia, Penggiat dan Penikmat Seni, juga kawan-kawan Blogger.

Salah satu Diskusi Sastra di Taman Ismail Marzuki. Dok. Pribadi

Terakhir, ini yang benar-benar bikin susah move on, merindukan kehadiran laptop baru seperti Asus Zenbook S UX391UA #eh untuk menggantikan posisi Asus A450C yang selama ini selalu dengan tabah menerima perlakuan saya. Bagaimana ceritanya bisa rindu Asus Zenbook ini?

Saya berkenalan dengan Asus Zenbook S UX391UA tanpa sengaja di salah satu gerai Asus, di sebuah Pusat Perbelanjaan di Jakarta.

Sebelumnya, saya mau cerita dulu, kenapa saya jadi gandrung sama Asus? Bahkan untuk rencana laptop pengganti yang belum pasti ke depannya. Bagi saya, laptop adalah perangkat penting dan utama untuk bekerja, apa lagi untuk manusia yang hampir setiap hari bekerja dengan tulisan seperti saya. Asus A450C berhasil saya bawa pulang dari sebuah etalase tokoh elektronik tiga tahun lalu, setelah mendapatkan honor bekerja yang lumayan di Lampung. Sebelumnya, saya selalu mengandalkan laptop teman atau kabur ke warnet/rental komputer demi menghasilkan tulisan atau mengerjakan tugas kuliah. Sedih yah.

Laptop Asus A450C gueh waktu diajak pulang ke Ende, Juli 2018. Dok. Pribadi

Saya memilih laptop Asus saat itu tanpa alasan, saya suka lempengan langsingnya dan tampilan keyboardnya yang menyembul ke permukaan. Sangat nyaman ketika digunakan mengetik berjam-jam. Sudah tiga tahun saya gunakan, laptop biru kesayangan ini sudah berjalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia menemani saya, dikala ingin menulis banyak hal maupun juga sekadar menonton drama korea favorit yang sedang tayang. Tak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda menyebalkan, kecuali beberapa kali onar yang disebabkan keteledoran saya sendiri. Seperti charger yang tak pernah dilepas sepanjang minggu, padahal baterai sudah full 100%, sementara laptop tidak digunakan untuk mengerjakan apa pun. Walhasil, baru dua hari yang lalu, baterai pamit mundur. Saya terpaksa bekerja sembari charger menempel pada sumber arus. Hiks. Seperti sekarang, saat saya mengetik artikel ini.

Sepulang dari cuci mata tersebut, saya iseng mencari tahu tentang produk Asus terbaru itu, Si Zenbook S UX391UA. Saya mah gitu, suka kepo anaknya. Seperti produk Asus lainnya, ZenBook S UX391UA dirancang dengan penampilan elegan nan cantik, bodi tipis sekaligus ringan, tetapi tanpa kompromi di sektor performa. Bodi ZenBook UX391 hanya setebal 1,29 mm saja saat layar ditutup, dengan bobot tidak lebih dari 1,05 kg. Layar 13,3 inci Full HD laptop ini pun dirancang dengan ukuran bingkai yang ramping hanya 5,9 mm yang memberikan FootPrint layaknya laptop 12 inci. ZenBook S UX391UA telah lolos uji ketahanan militer MIL-STD 810G, sehingga menjamin penggunanya merasa aman saat menggunakannya di segala kondisi. Cocok betul untuk manusia yang suka ngukur jalan, gandrung nonton, dan grasak-grusuk seperti saya ini. ugh..

Performa Asus Zenbook S UX391UA. Dok. Mira Sahid

Salah satu daya pikat ZenBook S UX391UA adalah desain engsel terbaru dengan julukan ErgoLift. Fitur ini membuat bodi bawah laptop akan mengangkat dan membentuk sudut 5,5° saat layar dibuka. Sudut kemiringan seperti ini diklaim membuat kenyamanan mengetik menjadi lebih baik, membuat pendinginan lebih optimal, dan keluaran suara Harman Kardon di laptop ini lebih maksimal. Wah…

Untuk konektivitas, ZenBook S UX391UA menyuguhkan 2X Type-C USB 3.1 Gen 2/Thunderbolt 3 (40 Gbps) pada sisi kanan dan 1X Type-C USB 3.1 Gen 1 (5 Gbps) pada sisi kiri. Terdapat pula konektor audio 3,5 mm di kaki layar. Sayang sekali dengan jenis konektor seperti ini, dibutuhkan konverter atau kabel khusus jika ingin menghubungkan laptop ke display tambahan atau menggunakan perangkat USB konvensional. Yeah tak ada yang sempurna di dunia ini yah kan Gaes….hohohoho…

Dapur pacu ZenBook S UX391UA untuk pasar Indonesia tidak dapat dianggap remeh dengan penggunaan prosesor Octa-Thread Core i7 8550U yang menawarkan performa tinggi tetapi tetap hemat daya dengan klaim daya tahan baterai hingga 13,5 jam. Kapasitas RAM DDR3L 2133 MHz pun tidak kalah istimewanya dengan 16 GB Dual Channel dengan Storage super kencang yang masif SSD PCIe 3.0 x4 sebesar 512 GB. Demi dewa…. Asli ngiler….

Performa Asus Zenbook S UX391UA. Sumber. Asus Channel

Untuk semua kualitas dan kapasitas kerja seperti yang diuraikan diatas, dan dengan masa garansi selama dua tahun, kita harus mengalokasikan dana sekitar dua puluh enam juta rupiah (26jt+) untuk membawa pulang ASUS ZenBook S UX391UA ini. Sampai di sini, tarik nafas panjang, hembuskan , ulangi beberapa kali, dan berdoa. Hahahahaha... Duh, sepertinya saya harus jual tanah di kampung dulu nih, demi bisa bawa pulang Asus Zenbook canggih seperti UX931U. Lalalalalala.....

Begitulah….

Beberapa hari yang lalu, pada perjalanan pulang ke Flores, saya mengenang Jakarta dalam senyuman. Saya akhirnya gagal pada seleksi rekruitmen Analis Publikasi PNS Kementrian BUMN, yang juga artinya gagal jadi Warga Ibu Kota Jakarta. Anggap saja liburan akhir tahun yang menyenangkan, karena toh Jakarta akhirnya memberikan banyak alasan untuk dirindukan. Salah satunya, mimpi bisa bawa pulang Asus Zenbook S UX391UA bersama saya. Cihui...

Wah sepertinya sudah siang, mari bekerja lagi! Mana ni Asus A450 saya, yuk nguli! Hahahahaha….

Lebih lengkap tentang Asus Zenbook UX391UA, bisa mampir ke sini: ASUS ZENBOOK S UX391UA Slim, Stunning, Supreme. Bukan hanya menawarkan kecanggihan serta desain yang elegan, Zenbook UX391UA adalah perangkat praktis dalam menunjang kinerja manusia yang belakangan ini lebih senang mobile ke mana-mana, bahkan saat bekerja.  Sungguh paripurna.

Jangan lupa jalan pulang yah! dan AWAS NAKSIR kaya saya! (^_^)

#LiburanASikDenganLaptopASUS #2019PakaiZenbook #AsusxMiraSahid


Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. III. habis]





Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Ende. Dok. Pribadi

*Catatan cukup penting: Jika tampilan gambar di artikel ini kurang jelas, silakan klik dua kali.

Akhir tahun ini, saya menghabiskan waktu di Ibu Kota, Jakarta. Sebut saja, ini perjalanan menguji kemampuan diri, menakar kualitas, baik secara akademis maupun juga sebagai manusia yang tak pernah luput dari kekurangan.

Saya bertemu banyak orang, yang entah mengapa, mereka adalah orang-orang baik dan memberi kesan dengan caranya masing-masing.

Perjalanan ini berawal dari sebuah antusiasme yang percayalah, saya sendiri tidak tahu datang dari mana sebenarnya.

Pagi itu, saya sedang bermalas-malasan di kasur kos Nana Haibara sebab tak punya kesibukan apa pun. Pengangguran total. Mengecek beberapa notifikasi di Grup What’s App, saya akhirnya menemukan pengumuman Tes CPNS pada beberapa Kementrian di Republik Indonesia tercinta ini dari Grup Bali Blogger Community. Pengumuman itu dibagikan oleh seorang teman Blog yang cukup tersohor di kancah nasional, maka saya pastikan bukan hoax.

Ada pada daftar teratas, lowongan CPNS dari Kementrian BUMN. Saya iseng membuka dan menelusuri kebutuhan formasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, Sarjana Ilmu Komunikasi. Mereka membutuhkan (3) Tiga Analis Publikasi. Cukup menyesakkan tetapi kesempatan ini perlu dicoba. 

Alasan lain, yang membuat saya akhirnya memutuskan mengikuti seluruh proses tes cpns ini, selain untuk mencoba peruntungan dan menakar diri seperti yang saya sebutkan di paragraf awal, saya percaya sistem perekrutan CPNS di rezim ini, tak lagi dibumbui hal-hal berbau Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme sebagaimana di tahun-tahun lawas. Ketika, tidak semua orang bisa memiliki mimpi dan harapan yang sama jika bukan berasal dari keluarga mampu atau memiliki garis keturunan orang penting alias pejabat. Lagipula, syaratnya tak ribet seperti yang sudah-sudah dan yang pernah saya bayangkan. Semuanya bisa dilakukan secara online dari bilik bambu nan sendu.

Saat itu, saya masih berada di Kupang, saya harus ke Ende untuk mengurus kembali KTP dan Kartu Keluarga yang blunder sebelumnya. Jika kamu ingin tahu cerita mirisnya, bisa baca bagian I di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian I] dan lanjutan bagian II di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian II]

Dari Kupang ke Ende, saya berhutang kebaikan pada beberapa kawan, sebab isi rekening sangat memprihatinkan. Beberapa hal yang patut saya syukuri dan masih membuat saya tercengang hingga saat ini adalah, semuanya berjalan sangat lancar dan tanpa hambatan, bantuan seperti datang dari berbagai penjuru.

E-KTP yang saya nanti-nantikan selama enam tahun, ternyata sudah lama menginap di Kantor Lurah Paupire bersama kartu tanda penduduk milik warga kelurahan yang lain, yang mungkin ketika ke Kantor Dispenduk untuk memeriksa, tidak mendapatkan informasi yang memadai atau dikatakan belum jadi, lalu memutuskan menunggu lagi dan tidak mau membuang-buang waktu mencari yang belum tentu ada di Kantor Kelurahan. Saya dibantu Bibi saya, istri dari Om, adik Ibu saya, yang kebetulan bekerja di Kantor Lurah Paupire (saya tidak menduganya, pernah mendapatkan cerita ini dari Ibu, tetapi kemudian saya lupa). 

KTP AKOHHH...

Kami mencarinya bersama-sama, satu demi satu di antara tumpukan ktp-ktp lain yang sebagian kondisinya mulai mengenaskan, seperti sebagian plastiknya terkelupas, saking lamanya dibiarkan di sana. Beberapa nama di ktp-ktp tersebut saya kenal baik, mereka adalah tetangga, kakak kelas dan adik kandung, anak ketiga dari ibu dan bapak saya. Yassss… hahahahahaha… 

KTP dengan foto dekil saya di zaman semester awal di Undiknas Denpasar tersebut, masih menampilkan status saya sebagai Mahasiswa dengan masa berlaku hanya sampai pada hari ulang tahun saya di tahun ini. HellTheWhat. (Di kemudian hari, ketika saya mengurus Kartu Keluarga di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, saya mengkonsultasikan hal ini. Petugas kemudian meminta saya membaca poin Undang-Undang yang ditempelkan di pintu masuk ruangan, isinya seperti pada gambar di bawah ini).


Lihat Poin 02

Selanjutnya mengurus Kartu Keluarga.

Kartu Keluarga saya, di awal tahun 2018 kemarin, direvisi oleh adik saya demi beberapa urusan. Ketika Kartu Baru tersebut tercetak, nama saya sebagai anak pertama telah hilang. Setelah saya mendatangi lagi Kantor Dispenduk Kabupaten Ende beberapa waktu lalu, ternyata terjadi pendobelan NIK akibat perekaman yang saya lakukan sebanyak dua kali sejak tahun 2012. Maka, mau tak mau, status masih menjadi anak pertama dari kedua orang tua saya harus segera dikembalikan kepada tempatnya.

Nah, pertemuan tak sengaja dengan Bibi saya yang bekerja di Kantor Lurah Paupire tadi, sebenarnya berawal dari kedatangan saya ke kantor untuk meminta tanda tangan Lurah pada formulir pengajuan kartu keluarga yang telah saya lengkapi. Pada akhirnya formulir tersebut tidak digunakan oleh petugas, sebab itu hanya digunakan saat mengurus Kartu Keluarga baru, bukan untuk revisi. Perbincangan tentang KTP muncul secara tidak sengaja, yang kemudian berakhir pada penemuan kartu tanda penduduk saya dan adik saya yang telah lama mendekam di sana.

Saya ingat, saya memasang alarm pukul 05.30 pada pagi hari Jumat 28 September 2018. Bangun lalu berangkat ke Kantor Dispenduk untuk mencatat nama demi mendapatkan nomor antrian teratas, supaya bisa mendapatkan kesempatan tercepat mengubah kartu keluarga tersebut. Saya mendapat nomor antrian (5) Lima. 




Setelah mencatat nama, saya kembali ke rumah untuk tidur lagi, sejam, lalu bangun dan bersiap-siap berangkat lagi ke Kantor Dispenduk. Operasional dimulai Pukul 08.00 pagi, yang yeah birokrasi di mana-mana, hanya judulnya saja jam delapan. Pukul 09 lewat 15 menit baru nomor antrian pertama masuk. Belum lagi, hanya antrian 1-5 yang boleh masuk dan menunggu di dalam ruangan, sisanya silakan menadah panas atau meminta belas kasihan dari ranting dan dedauan pohon mangga di depan ruangan. Saat tiba di dalam ruangan, pendingin ruangan seolah tak berfungsi, hampir semua petugas memasang wajah seperti ingin membunuh. Ha-da-pi dengan senyuman. Demikian.

Sekalian rujakan, enak kali yakh..hihihi

Sialnya, saya tidak memeriksa sebelumnya, bahwa selain nama saya yang harus dimunculkan kembali, status pendidikan akhir saya juga harus diperbaharui. Saya bukan lagi mahasiswi. Saya lupa membawa fotokopi Ijazah. Duh berabe! Petugas Dispenduk yang saat itu membantu, menanyakan kepada saya, apakah akan tetap dicetak tanpa mengubah status pendidikan? Saya tidak diperbolehkan mencetak ulang kartu keluarga hingga tahun depan (2019). Ia menatap saya dengan tajam dan memastikan bahwa saya tidak boleh mengubah pendirian lagi. Dengan sedikit gugup, saya berpikir cepat, karena untuk tes CPNS hanya dibutuhkan nomor kartu keluarga/NIK kepala keluarga, maka saya menjawab dengan tidak masalah, silakan dicetak saja sesuai keterangan yang ada.

Nomor Antrean akohhhh

 Saya pulang ke rumah dengan isi kepala yang penuh, penuh dengan kemungkinan ini dan itu. Saya tidak ingin hanya karena kesalahan yang sepele, tujuan yang cukup besar dan langka untuk terjadi pada saya ini, malah jadi berantakan.

Sore hari, setelah mengajukan cetak ulang kartu keluarga tersebut, saya ke sekolah. Maksud saya, Almamater. SMAK Syuradikara Ende menyelenggarakan Reuni Akbar dalam rangka Ulang Tahun Sekolah yang ke-65. Di tengah keramaian dan basa-basi antara para alumni, saya bertemu dengan K Norman Soludale, salah satu anggota Syuradikara Bali Community. Saat itu, K Norman tengah asik ngobrol bersama kawan-kawan angkatannya.

Saya kemudian dikenalkan kepada dua orang yang paling dekat, salah satunya sungguh tidak asing di ingatan saya. Namanya K Detty Paul. Rupanya, kaka nona adalah Petugas di Kantor Dispenduk yang pagi tadi membantu saya mengurus cetak ulang Kartu Keluarga. Awalnya, kaka nona sempat berkelit bahwa mungkin saya salah orang, barangkali kakaknya ingin mengerjai saya atau bisa jadi tak ingin terbebani (sensitif kan gue hihi). Akan tetapi, saya sulit melupakan wajah orang. Lupa nama, sering. Pada akhirnya kaka nona mengakui dan kami terlibat obrolan panjang.

Pulang dari acara reuni tersebut, saya mengecek isi kertas keterangan pengambilan cetak ulang kartu keluarga yang diberikan petugas siang tadi. Masih tujuh hari lagi, saya baru boleh mengambil hasil cetak ulang. Masih banyak waktu. Karena hari itu, hari Jumat, saya harus menunggu hingga hari Senin, jika ingin membawa fotokopi ijazah untuk mengajukan tambahan perubahan.

Saya menanti Senin dengan berdebar-debar, saya bukan tipe yang bisa memanfaatkan relasi dengan mudahnya, apa lagi baru pernah bertemu dua kali. Tetapi, saya ingin tetap mencobanya, dengan asumsi proses pencetakan ulang belum berlangsung karena setelah hari jumat, dua hari berikutnya bukan hari kerja efektif. Berkas saya pasti masih dalam antrian. Jika pun permohonan tambahan perubahan ini tidak diterima, hal terburuk yang akan saya hadapi adalah amukan petugas dan diusir keluar ruangan. Gak sampai bikin mampus, malu dikit ajah. Gak papalah.

Senin pagi 01 Oktober 2018, pukul 08.00 wita, saya kembali ke kantor Dispenduk. Setelah mengumpulkan keberanian, saya nekat masuk ke dalam ruangan sembari membawa fotokopi ijazah di tangan. Saya mengamati situasi dari bangku depan, mencoba memperhitungkan beberapa hal, menunggu peluang untuk langsung ke meja K Detty. Saya sempat ditanyakan oleh petugas lain yang ada di situ, apakah sudah mengambil nomor antrian? Jika belum, silakan datang lagi besok dengan prosedur yang sama yang telah saya lalui pada hari Jumat kemarin. Tentu saja, itu akan memakan waktu yang sangat lama, padahal urusan saya tersisa menyerahkan fotokopi ijazah terakhir ini.

Suasana pagi hari nan cerah ceria di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, yeah...

Peluang tersebut muncul sekitar lima belas menit kemudian, setelah giliran konsultasi seorang ibu, saya melangkah cepat ke depan meja K Detty. Kami tidak sempat berbasa-basi, entahlah barangkali sudah demikian karakter beliau. Masih tetap profesional, kaka nona menanyakan apa keperluan saya. Saya menjelaskan secara singkat padat dan jelas, sempat K Detty menanyakan berkas-berkas saya yang lain, yang saya jawab dengan menunjukkan kertas keterangan pengambilan yang ia berikan pada hari Jumat yang lalu. Tak butuh waktu lama, ia mengecek beberapa hal, meminta fotokopi ijazah terakhir saya dan selesai. Saya dipersilakan datang mengambil kartu keluarga yang telah direvisi, sesuai jadwal pengambilan yang telah diinformasikan sebelumnya. 

Dengan demikian proses melamar PNS Kementrian BUMN sesuai rencana saya, bisa dimulai.

Berat bukan jadi orang Ende, yang di tahun 2018-2019 ini, kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipilnya masih memakai gaya konvensional dalam melayani masyarakat banyak. Padahal, boleh dikatakan, lembaga ini adalah jantung dari kehidupan masyarakat sipil. Hari-hari ini, bagaimana kau bisa hidup tanpa indentitas dan dokumen-dokumen pendukung? Bagaimana eksistensi dan kelancaran urusanmu dapat terjamin dari kantor dengan ruang tunggunya seperti LAPAK PASAR INPRES MBONGAWANI?! S E R I U S !!!

***

Ikuti terus cerita perjalanan akhir tahun saya di Blog ini! Saya berniat menyicil cerita-cerita saya, pelan-pelan dari sekarang….

Doakan yah~

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. II]


Su macam detektif siang itu. 

Berikut kelanjutan kisah KTP saya yang sejauh angan-angan. Kisah sebelumnya bisa cek di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag.I]

Saya ke kantor Dispenduk lagi hari Jumat 29 Juni lalu, bertemu seorang Ibu yang sangat ramah dan kemudian mengarahkan saya ke Ruang 7 untuk urusan E-KTP. Wah nomor keberuntungan saya ini, semoga yah alamat baiks.

Tiba di sana, saya lalu menyerahkan kertas bukti pengambilan yang lecek lumutan itu dan Kartu Keluarga versi lama. 

Wih saya diomelin, karena itu kartu keluarga zaman bahula, sudah tidak terpakai lagi. Ya iyalah, 2009 hahaha. Oke, saya kasih Kartu Keluarga baru, yang tidak ada nama saya, Petugasnya bingung dan mulai lihat saya atas bawah. 

Oh Come on saya bukan buronan. 

Lalu saya  ditanya lagi, pernah urus surat pindah domisili? Saya merasa tidak pernah mengurus itu, jadi saya jawab tidak. 

Sang Ibu di Ruangan 7 itu, yang demi tuhan, saya kenapa bisa lupa namanya padahal saya sudah sempat bertanya dan saling berjabat tangan, beliau mengajak saya ke ruangan lain, yang di depannya ada tulisan Kartu Keluarga itu (sebelumnya, sempat saya ceritakan di tulisan bagian I). Oh yah Ibu ini berkacamata.

Kami masuk, menuju pojok ruangan dan bertemu dua orang wanita berkerudung, yang satu masih muda, sedang serius di hadapan layar monitor sambil sesekali menimpali obrolan seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.

Wanita kedua ini, tengah asik meliuk-liukkan badannya mengikuti irama dari pemutar musik handphone dan terus nyerocos tentang hasil Pilkada Kabupaten Ende yang katanya sangat fenomenal, pas dengan lagu yang sedang mengiringinya bergoyang.

Kamu mau tahu lagu apa yang sedang ia dengarkan? 

GOYANG DUA JARI! YANG BIASA DI APLIKASI SAKTI TIKTOK ITU. 

Makin lama, jarinya ikutan naik, membentuk angka dua sambil tubuhnya tetap bergerak. 

Saya tiba-tiba pusing. Ugh ada apa dengan masya-raqat Ende ini? Mereka suka punya euforia yang sia-sia, mungkin saya dulu juga begitu kah? Duduk nganga di jalan hanya mau ikut rame, gegi mau ikut pawai keliling sampai goyang tidak jelas, sementara Pasangan yang menang tidak kenal kita sama sekali. #Eh Huft…

Sebelum saya, sudah ada seorang laki-laki duduk di depan meja wanita muda itu, tetapi sepertinya dia sedang berusaha menelpon seseorang untuk urusan yang sama, Kartu Keluarga. 

Urusan saya didahulukan, Sang Ibu dari Ruangan 7 menyerahkan dua lembar Kartu Keluarga milik saya untuk diperiksa. 

Ada lima atau enam kali, saya tak sempat menghitung karena mulai pening, wanita muda berkerudung merah muda itu bolak-balik dari komputer yang ada di hadapannya ke komputer yang ada di seberang mejanya. 

Usut punya usut, voila: karena saya pernah melakukan perekaman sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2012 di Denpasar dan 2016 di Ende, maka Nomor Induk Kependudukan (NIK) saya terdeteksi ada dua. 

Oleh karena itu, nama saya tidak masuk di Kartu Keluarga baru. Ugh. 

Sabar dulu, ada yang lebih menakjubkan lagi, ternyata oh ternyata, berdasarkan keterangan di sistem, E-KTP saya statusnya sudah “SIAP CETAK” sejak tahun 2012, beberapa bulan setelah perekaman di Gedung Rektorat Unud itu. Oh Anakku…… ENAM TAHUN lamanya pencarian ini. Hadeh kok bisa yah?

Mendadak saya ingin ke Jakarta, bawa serta peralatan lengkap, mungkin mutilasi saja Setya Novanto dan antek-anteknya kah?! SipalomasekiyaBarzulBollock!

Sedangkan perekaman yang saya lakukan pada tahun 2016 di Kantor Camat Ende Tengah, tidak dijelaskan nasibnya bagaimana, saya juga bingung bagaimana analisanya, tetapi karena alasan itu, NIK saya menjadi GANDA, yang berbuntut pada nama saya tidak ada di Kartu Keluarga dan sampai sekarang E-KTP saya belum ada. FIX BLUNDER!

Solusi yang akhirnya berlaku: Sang Ibu dari Ruangan 7 akan mengajukan permohonan Print E-KTP atas nama saya ke “bagian entah,” beliau tidak menjawab pertanyaan saya. 

Ketika saya menanyakan, berapa lama proses pencetakan ini? Jawabannya sungguh menyedihkan: “Ade, saya tidak bisa janji e, kapan ini jadi. Nanti, satu bulan lagi, datang cek ke sini. Datang saja dan cek, siapa tahu sudah ada.” 

OmowahaiGad. Adakah yang bisa menjamin bahwa ketika saya datang sebulan lagi, E-KTP itu minimal bisa di-cek alias jelas juntrungannya, udah sampai di mana dia? Duh!

Ternyata angka 7 di depan ruangan tersebut, tidak mempan sama sekali. T.T

Alhasil, yep, kertas baru lagi wkwkwkw… dengan sebagian kolom yang dikosongkan. Ya Tuhan, butuh kerja keras dan loyalitas benar yah, menguras segala-galanya.


Oh yah, untuk Kartu Keluarganya, saya hanya perlu membawa KK asli yang versi baru untuk selanjutnya dikeluarkan KK pengganti, yang jelas tertera nama saya nantinya di sana. 

Masalah berikutnya adalah: lembar asli Kartu Keluarga dimaksud, masih ada di Denpasar sekarang, dibawa serta adik saya sejak bulan Januari lalu untuk urusannya itu.

Kembali lagi, yah mungkin sudah nasib saya, bahwa ketika saya memutuskan pulang ke NTT, saya sudah harus siap jika SEBAGIAN BESAR WAKTU SAYA DIHABISKAN UNTUK MENUNGGU.

Menunggu di tengah ketidakpastian, kapan E-KTP jadi?

Menunggu lembar asli KK dikirim dari Denpasar.

Sementara saya harus segera kembali ke Kupang. Arghhhhh.

Trus, trus… ini aku kudu ngera emba lagi?! Akan ada berapa bagian lagi untuk curhat panjang lebar kali tinggi bagi luas ini?

Njlimet Kabeh!


Tenang, Nanti Tuhan Tolong!


TRIAL & ERROR



*Bingung mau kasih judul apa ini tah!


Di tahun 2004 di sebuah kelas IPA di SMAK Syuradikara, saat itu, saya adalah salah satu siswi yang kurang beruntung. Demikian saya mengklaim diri saya sendiri. Saya masih ingat, pagi itu Jam Pertama Pelajaran kelas kami adalah Fisika yang dibawakan oleh seorang Guru Wanita. Sebelumnya, suami Ibu Guru ini, yang adalah seorang Dosen di satu-satunya Universitas di Kota kami, sempat beradu pendapat dengan saya pada sebuah diskusi budaya tentang Asal Usul Seorang Pahlawan Daerah Ende. Jikalau saya salah berpikir, maka maafkanlah, akan tetapi tak pernah intuisi saya mengkhianati saya, mereka tak pernah muncul sia-sia. Hasil kebawelan saya di acara ini juga, yang membuat saya kemudian terpilih sebagai satu-satunya Perwakilan Nusa Tenggara Timur untuk Lawatan sejarah Nasional I di Nangroeh Aceh Darussalam, yang kegiatannya diselenggarakan berkat program terbaru Kementrian Pariwisata dan Budaya Republik Indonesia saat itu.

Kejadian yang akan saya ceritakan ini, berlangsung hanya beberapa hari setelah saya kembali dari Nangroeh Aceh Darussalam, pada bulan Agustus yang mataharinya bersinar sangat cerah bersamaan dengan angin dingin yang bertiup dari arah selatan. Seringkali membikin saya menggigil kedinginan. Persis dengan kejadian ini, yang masih mampu menimbulkan rasa dingin yang tiba-tiba apabila mengingatnya. Dua apa tiga hari sebelumnya (saya lupa tepatnya), kami melaksanakan Tes/Ulangan terhadap salah satu bab yang telah selesai dibahas pada buku mata pelajaran Fisika yang saat itu lazim dipakai. Hasil ulangannya telah dibagikan, dan sebagaimana biasanya, saya yang tak sungguh-sungguh dalam semua mata pelajaran penting pada jurusan saya ini, mendapatkan angka yang bagi saya sudah pas, entah bagi mentor saya atau kawan-kawan saya lainnya.

Pagi itu, Sang Ibu Guru muncul, memberi salam dan berbasa-basi sebentar lalu dengan pongahnya berkata: “oke, jadi hasil ulangan kemarin sudah terima semua toh? Nah sekarang, saya mau, masing-masing duduk sesuai hasil ulangannya, supaya kita tahu, mereka-mereka ini masalahnya di mana?! Ikuti arahan saya, yang lima ke bawah, silakan duduk di deretan kursi sebelah kanan saya (sembari menggerakan tangan beliau, membentuk batasan). Kemudian, yang nilainya enam ke atas, silakan duduk di sebelah kiri saya.” Saat itu, duduk satu deretan ke belakang, (sepertinya tidak ada yang menempati kursi paling depan, kau tahulah kenapa) ada Stivan Agustinus Wungubelen, Euginius Pasely Surya Kandar, Maria Pankratia Mete Seda, Sunartin Abdullah Wahid, Kenisia Natalia Rohy, dua orangnya lagi saya lupa siapa. Jika kalian, penghuni kelas 3Ipa2 ada yang mengingat peristiwa ini, mungkin bisa membantu menyebut dua nama yang kurang. Ruangan kelas yang kita pakai saat itu adalah Ruang A2, deretan ruang kelas di Gedung Induk yang berada pada bangunan yang sama dengan Pendopo Syuradikara yang berlangit-langit tinggi itu.

Saat itu, saya menjadi sangat malu dan terpukul. Seperti dibanting dari udara sahaja rasanya. Yah kau bayangkan, belum selesai bayang-bayang asmara Aceh I’m in Love-ku itu, lalu bertemu pula aku dengan hal memalukan seperti ini. Nol Kilometer Indonesia sudah kucapai, angka enam di atas kertas ulangan saja, tak bisa kujangkau?! What The Fuck kan?
Lebih lanjut, Sang Ibu Guru berkata: “Saya hanya mau kasitahu, kenapa saya pisah-pisahkan kalian begini, supaya kalian tahu diri, ada di posisi yang mana kalian sekarang? masih proses belajar, yang nilainya bagus, jangan cepat puas! Apalagi sombong. Yang nilainya masih hopang, coba dengan sadar. Jangan terlalu sibu-ribu dengan yang tidak ada guna-gana tuh, coba dengan sadar. Tuhan tidak turun tolong kamu supaya nilai mendadak jadi bagus. BELAJAR!” -------- OKE FINE!

Satu hal yang membuat saya sungguh sangat putus asa saat itu dan, merasa yakin bahwa saya tidak akan keluar dari Syuradikara hidup-hidup, bahwa Sang Ibu Guru adalah salah satu yang merekomendasikan saya untuk memilih Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dari beberapa Guru yang menakar kehebatan siswa/inya dari Nilai Rapor saat kenaikan kelas. Beliau juga yang mati-matian memaksa saya bertahan di kelas yang bukan saya pilih ini, yang begitu sangat horror terdengar di awal Masa Orientasi Sekolah (MOS). Beliau yang menasihati selalu, pun setia menghantam saya dan kawan-kawan dengan sindiran yang mematikan di tengah pelajaran berlangsung; “Kalian-kalian ini, sama sekali tidak merasa bersyukur e, sudah dikasih kemampuan seperti itu, bukannya dimanfaatkan dengan baik.” Kira-kira senada dengan ungkapan Kepala Sekolah Bertugas saat itu: “Tidak punya hasrat menaklukan dunia, mau jadi apa kau?”

Sejak awal pemilihan jurusan, saya sangat ingin bergabung di kelas Bahasa, karena ketertarikan saya pada sastra dan dunia menulis. Akan tetapi, sebagaimana nasib remaja berusia 16 tahun di NTT pada umumnya, jalan hidupmu ditentukan oleh Orang tua, Para Guru, Kepala Sekolah dan Nilai di atas kertasmu. Mereka adalah penentu mutlak yang lebih memahami kemampuanmu daripada dirimu sendiri. Kau siapa? Keci ana kemarin sore, macam jago-jago saja. Well!!! Orang tua saya tentu saja bangga setengah mati, anak saya Jurusan IPA, tidak kalah dengan anak-anak tetangga, rekan kerja, pejabat, de es be-nya.

Mereka tidak akan peduli, seberapa pusingnya kau melihat angka-angka tersebut berseliweran entah dari mana datangnya. Bagaimana kau gugup karena takut akan ulangan umum dan dipermalukan di seantero kelas. Bagaimana kau berusaha tetap mengimbangi bakatmu, yang hanya mendapatkan presentasi terkecil dari perhatianmu. Saya bahkan harus mencuri-curi kesempatan, untuk menuliskan puisi atau cerita ketika mood puitis saya tengah indah-indahnya, saat Guru Kimia sedang mencampurkan bahan-bahan di depan kelas hingga berasap dan menggelegak. Euw. Saya tidak peduli.

Hingga saat ini, saya masih merasa sakit hati jika mengingat kejadian di atas. Saya dibuat merasa sebagai manusia paling bodok, goblok, sial, tidak bisa diharapkan dan kawanannya, jika diketik entah sepanjang apa nanti ini. Kawan-kawan kelas saya harus tahu, bahwa saya pernah begitu benci bangun pagi dan harus berangkat ke sekolah karena mesti bergabung dengan mereka, mengikuti pelajaran sembari mengutuki diri sendiri yang adzubilah min zalik apa isi otak saya ini, sampah?!

Ketika merefleksi ini, saya kemudian paham bahwa saya marah karena tidak bisa menerima cara Sang Ibu Guru memperlakukan siswa/inya dengan bijak. Yang membuat saya merasa begitu sangat tertekan dan putus asa, hingga membencinya. Apakah tidak ada cara lain lagi, dari sekian juta kemungkinan cara di dunia ini, saat itu sudah Milenium, Abad 21. Apakah tidak ada cara lain, untuk membuat kami yang BODOK ini menjadi LEBIH BAIK atau PINTAR sebagaimana lazimnya harapan bangsa yang terpatri sejak dahulu kala? Apakah hanya dengan cara membuat kami malu, maka kami otomatis berubah?

Tiga belas tahun kemudian, saya dipertemukan dengan seorang Guru, bernama Simon Seffi. Yang menuliskan buku berjudul: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD yang di dalamnya juga menjelaskan bagaimana selama ini siswa/i di NTT sejak tingkat dasar sudah diajar menggunakan metode kekerasan dan hukuman yang pada akhirnya menimbulkan efek jera karena malu dan takut. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapatkan ilmu.

Pada akhir tahun ajaran, di tahun 2005, saat Pengumuman Kelulusan, saya sengaja datang terlambat. Saya begitu ketakutan bahwa saya tidak akan lulus dan mempermalukan kedua orang tua saya. Keluarga saya, tetangga saya dan tentu saja diri saya sendiri. Saya datang mengenakan baju putih dan rok putih, perpaduan seragam osis dan yayasan, demi menegaskan (lebih kepada diri saya sendiri) bahwa saya tidak akan mencoret-coret seragam saya, sebab ini dibeli dengan jerih susah kedua orang tua yang setiap hari mengomeli saya dan menjelaskan daftar panjang finansial yang telah dihabiskan untuk anak sulung tak tahu diuntung seperti saya. Saya tiba ketika Pendopo Syuradikara sudah lengang, dan sialnya saya berpapasan lagi dengan Sang Ibu Guru yang tetap saja ketus di detik-detik terakhir: “Mete Seda, kau lulus juga e?”

DEMI DEWA!

Saya memiliki, hm entahlah apakah ini anugerah atau kesialan, bahwa saya mampu merekam kejadian yang telah lewat dengan sangat sempurna termasuk percakapan, raut wajah dan tatapan mata, apa lagi jika kejadian tersebut menimbulkan rasa yang seperti klimaks di hati dan pikiran saya (semacam orgasme: ada harubiru, senang, sedih, marah, sakit hati, campur aduk). Entahlah apa namanya, tidak berlebihan jika kadang saya sangat berapi-api ketika bertemu kawan lama atau orang dari masa lalu, belum lagi jika dia memberi kesan mendalam, saya akan mengupas tuntas segala kejadian yang pernah kami lewati bersama. Nostalgia yang kadang cukup menimbulkan ambigu, bisa senang atau bisa jadi membuat risih apabila bertemu teman yang tak suka mengungkit-ungkit masa silam.

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya berdarah-darah dan berusaha menerima, memahami dan memaklumi DIRI SENDIRI, belajar dari banyak hal, syukur kepada Tuhan, saya doyan membaca, bahkan mungkin nanti hingga masuk liang lahat, bahwasannya SEMUA MANUSIA DILAHIRKAN JENIUS, tergantung di mana dia berada, bagaimana dia dididik, dengan apa dan siapa dia bergaul serta bagaimana dia mengolah semuanya, itu yang akan menentukan MANUSIA SEPERTI APA KITA. Saya belajar untuk tidak hidup berdasarkan pilihan dan omongan orang lain, saya hidup atas apa yang saya yakini!

Sampai di sini, saya mengetik sembari tersenyum. Sok sekali rupanya. Ahai.
---------------------------------

Setelah hampir sebulan saya tidak mengupdate blog pribadi ini, di sebuah misa sore yang sama sekali tidak bisa mengintervensi suasana hati saya yang kalut, entah mengapa di tengah konsekrasi, saya malah mengingat peristiwa ini. Dan setelah Komuni, saya begitu sengit dengan kertas dan spidol yang berwarna senada dengan rok yang sedang saya pakai. Orange. Entah apa pulak maknanya. Tetapi saya mengamininya sebagai sebuah jalan perubahan. Saya menulis kembali semua kejadian ini dengan sangat lancar dan penuh haru. Lalu menyalinnya di laptop saat pulang, dan memostingnya di sini. Saya tidak tahu, apa manfaat saya menuliskan ini kembali, dan apa pentingnya kau harus membaca ini? Itu terserah kalian.

Tulisan ini, rencananya, ingin saya ikutsertakan pada Kumpulan Cerita Alumni Syuradikara Edisi kedua, yang sampai saat ini juga masih rencana. Sebelumnya, telah ada Kumpulan Cerita Alumni yang terbit di tahun 2012 berjudul 5900 Langkah. Ada 30 Kisah dari 28 Alumni Syuradikara, dari yang Preman dulunya di Sekolah sampai yang Unggulan dan selalu diperhitungkan Para Guru, bergabung untuk menulis di situ. 5900 Langkah, menyimpan banyak cerita, juga ilmu yang tidak akan kau dapatkan di kelas-kelas Sekolah Menengah Atas dengan banyak mata pelajaran yang pada akhirnya sebagian besar hanya sia-sia bagi kehidupanmu di masa depan. Ini serius!


Panjangnya! Tidak ada gambar lagi. Yang kuat yah….hihi…BYE.

Catatan lain saya, tentang masa-masa labil di SMA, bisa dilihat di sini: AKHIRNYA (*Sebuah Refleksi)


Untuk yang punya foto, saya pinjam. saya temukan di google dan ini bagus. Simo Gemi :)