Tag Archives: Lagu

Ketika Tuak menjadi Pelarian Manusia Bali

Lagu “Tuak adalah Nyawa”membuat saya mengernyitkan dahi. 

Lagu berbahasa Bali itu dinyanyikan Masekepung, kelompok musil asal Sukawati, Gianyar. Saat ini sedang ngetren di Bali. Saya heran karena dua alasan. Pertama soal tema lagu yang mengangkat tentang tuak. Sesuatu yang sebenarnya berada dalam wilayah abu-abu dalam konteks moralitas, tapi justru dikaitkan dengan sesuatu yang sangat penting yakni: nyawa.

Tuak bagi kaum moralis adalah minuman yang sangat dihindari. Lalu bagaimana bisa sesuatu yang dihindari, kini telah ditasbihkan sebagai nyawa, yang menentukan hidup dan mati manusia?

Saya menjadi berpikir, apakah ini wujud dari demikian permisifnya masyarakat Bali dalam era kontemporer di mana batas moralitas dan non-moralitas telah menjadi semakin samar?

Kedua, karena lagu ini demikian populernya di Bali. Buktinya, lagu yang memiliki video klip dan dapat disaksikan di Youtube ini telah ditonton lebih dari 125 ribu viewer padahal baru diunggah pada 24 April 2017.

Ini berarti dalam waktu kurang dari 2 minggu, ratusan ribu pengguna youtube telah menyaksikannya. Belum termasuk sejumlah video cover version yang dibuat masyarakat. Kemungkinan penyebab popularitas lagu ini karena minuman tuak sendiri saat ini sedang popular di Bali.

Tuak adalah jenis minuman keras (miras) khas Bali. Terbuat dari fermentasi air pohon enau atau juga bisa dari kelapa. Adapula yang dibuat dari buah siwalan atau disebut juga dengan pohon ental.

Kandungan alkohol dalam tuak biasanya berbeda-beda. Orang Bali misalnya membedakan tuak wayah dan tuak manis. Tuak wayah kadar alkoholnya tentu lebih banyak dibandingkan dengan tuak manis. Saat ini, di Bali tuak sedang menjadi minuman favorit di beberapa kalangan terutama yang memiliki kebiasaan atau terbiasa dengan minuman beralkohol.

Karena tuak adalah minuman berkalkohol, mereka yang terbiasa (dibiasakan) meminum tuak bisa jadi jatuh ke tingkat kecanduan yang parah atau disebut juga alkoholik. Dan menjadi alkoholik bukanlah sebuah kondisi ideal manusia mengingat faktor kecanduan berarti adanya ketergantungan.

Manusia yang memiliki ketergantungan apalagi tidak hanya sebatas kesadaran melainkan secara fisik (mengenai syaraf otak), tentu akan menjadi beban bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Mereka yang kecanduan, dapat melakukan tindakan apapun untuk memuaskan hasrat kecanduannya.

Membahayakan
Gangguan kesehatan berupa timbulnya penyakit, bisa dialami mereka yang kecandungan alhkohol. Ini belum termasuk dampak tindakan kejahatan atau hal yang bisa merugikan orang lain akibat mabuk. Mabuk adalah kondisi di mana kesadaran hilang dan kontrol atas prilaku menjadi lenyap. Mereka yang mabuk sangat mungkin membahayakan orang lain.

Sungguh tidak ada pembenaran argumentatif untuk mendukung kalimat sederhana dari judul lagu Band Masekepung ini “Tuak adalah Nyawa”. Apalagi dalam lirik lagunya dinyatakan bahwa “tuak adalah nyawa, jika sehari tidak mendapatkan (meminum) tuak, hidup terasa ada yang kurang” (Tuak adalah nyawa Yening awai sing maan tuak Hidupe serasa ada kuanga).

Pun dengan lirik yang mengatakan bahwa “minum tuak teryata tidak membuat orang suka menyumpah dan tidak membuat rusuh. Minum tuak hanyalah untuk ngibur sambil mencari keringat”. (Liu nak ngorang Demen minum demen ngae rusuh Buktine jani iraga tusing taen memisuh Dini iraga ngibur sambilang ya ngalih peluh).

Lirik ini tidak bisa menjadi pembenar bahwa meminum tuak menjadi adab kebiasaan yang dikatagorikan normal. Lagu Tuak adalah Nyawa yang massif, menjadi proses normalisasi kebiasaan yang sangat rentan diperdebatkan dampak buruknya. Sungguh mengerikan jika anak-anak muda menganggap bahwa meminum tuak adalah hal yang umum karena masyarakat telah menganggapnya sesuatu yang biasa.

Di sisi lain, menurut saya lagu Tuak adalah Nyawa ini, bentuk dari gambaran realitas manusia Bali kini. Di tengah tekanan hidup yang semakin hebat dengan kekalahannya dalam bidang ekonomi dan terbebani dengan tradisinya Manusia Bali mencari semacam bentuk penghindaran atau yang dikenal dengan istilah Ekskapisme.

Eskapisme adalah sikap hidup yang bertujuan untuk menghindarkan diri dari segala kesulitan, terutama dalam menghadapi masalah yang seharusnya diselesaikan secara wajar. Eskapisme juga berarti cara memusatkan perhatian pada hal-hal menyenangkan yang bertentangan dengan realitas keras dari kehidupan sehari-hari. Dalam bentuknya yang ekstrem eskapisme dianggap sebagai bentuk gangguan jiwa.

Kita tetap perlu menyimak syair sederhana di bawah ini yang sepertinya hidup di tanah Batak Sumatera utara di mana Tuak juga menjadi minuman favorit masyarakat disejumlah daerah. Syair ini mengingatkan bahaya minum tuak.

Nikmatnya Tuak

Satu gelas tuak, penambah darah
Dua gelas tuak, lancar bicara
Tiga gelas tuak, mulai tertawa-tawa
Empat gelas tuak, mencari gara-gara
Lima gelas tuak, hati membara
Enam gelas tuak, membuat perkara
Tujuh gelas tuak, semakin menggila
Delapan gelas tuak, membuat sengsara
Sembilan gelas tuak, masuk penjara
Sepuluh gelas tuak, masuk neraka

The post Ketika Tuak menjadi Pelarian Manusia Bali appeared first on BaleBengong.

Berkenalan dengan Soullast Bali Band

Soullast Bali Band adalah sebuah band dari pulau Bali yang membawakan lagu-lagu dalam bahasa Bali. Berikut ini adalah salah satu lagunya yang berjudul Lau :

Nah untuk lebih lebih jauh berkenalan dengan Soullast Bali Band, berikut hasil wawancara saya via whatsapp dengan salah satu personilnya.

Bagaimana awal cerita terbentuknya Soullast Bali Band?

Awal mulanya Dede dan Rijek ingin membuat project grup band terakhir, yaitu grup band akustik yang rencananya juga membawa lagu mebasa (berbahasa) Bali yang cuma diarensemen gitar, bass dan cajon. Rencana ini sudah ada sejak akhir Desember 2016. Namun dikarenakan belum ada vokalis akhirnya kami berdua memutuskan jamming dengan Mang Edix untuk menggarap sebuah lagu reggae Bali ciptaan kami yang berjudul Lau. Nah singkat kata akhirnya kami mengajak Atha a.k.a Gulem untuk menjadi Vokalis di grup band kami yang masih tanpa nama.

Akhirnya karena ini proyek terakhir, kami beri nama Soul Last yang diplesetkan dari Last Soul yang artinya jiwa terakhir, nah penjiwaan musik kita yang terakhir adalah Musik Reggae. Soul Last akhirnya digabung menjadi Soullast supaya mudah dilafalkan dan bisa dibaca solas yang artinya 11, sebuah bilangan istimewa.

Siapa saja anggota Soullast Bali Band?

Keyboard/rhytem : Detu, Drum : Mang Edik, Bass : Brink, Gitar : Dede, Vokal : Gulem.

Ada berapa lagu yang sudah diluncurkan Soullast?

Baru satu lagu yaitu single “Lau”

Mengapa memilih “bahasa  Bali” dan “Reggae”?

Bahasa Bali karena kita tertarik pada pasar dan audience lokal, dan meramaikan musik Bali. Kita memilih reggae karna musiknya lebih relax, dan sebelumnya kita pernah punya grup rock masing masing, jadi kita memilih musik yang bernuansa berbeda.

Lagu “Lau” menceritakan tentang apa?

Lagu “Lau” sebenarnya pengalaman orang banyak, dimana kita sedang kesepian, tidak ada teman, pacar, yang menemani. Karena “lau” minuman murah yang bisa dinikmati tanpa harus mengeluarkan uang banyak.

Bagaimana rencana Soullast ke depan, apakah ada rencana ada bikin lagu lagi atau rencana lainnya?

Rencana lain kita ingin menambah istri hehhehehehe. Rencana lain kita ingin merekam beberapa lagi, mudah-mudahan bisa menjadi mini album yang bisa diterima masyarakat luas khususnya di Bali.

Apakah ada target khusus/tertentu yang ingin dicapai oleh Soullast? Atau berkarya apa adanya saja?

Target khusus kita tidak ada, target cuma bisa lebih menikati musik kita sehingga bisa juga dinikmati oleh orang lain.

Ada pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca?

Ada donk. Tunggu karya Soullast Bali Band berikutnya, dan dukung hasil karya musisi Bali serta tunggu mini album dari kami.

Demikianlah wawancara saya dengan Soullast Bali Band, semoga bisa terus berkarya meramaikan musik di Bali.

Baca Juga:

Kisah Asmara Jatuh Bangun Justin Bieber

Dalam dunia musik, kita sering dikenalkan dengan para musisi berbakat, yang terkadang membuat kita terpesona dengan penampilannya. Yang sehingga menjadi fans berat terhadap seseorang yang kita sukai, walaupun tak mungkin untuk memiliki. Terutama dengan artis terkenal yang satu ini, yakni

The Journey, Percaya Diri dengan “Inspirasi Semesta”

13023178_10201609881164896_1185185784_nKabarportal.com – Memilih jalur Indie Music, band dengan format duo asli Denpasar Bali “Ther Journey” sepertinya memerlukan waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Bagaimana tidak album yang sejatinya sudah rampung ditahun 2015 lalu, kemudian baru percaya diri di tahun 2016 ini untuk Go Public (27/4) dengan mengadakan presskon di Taman Jepun, Jl. Hayam Wuruk – Denpasar.

 

Dimana dalam kurum waktu setahun juga, The Journey sendiri wara-wiri dan promo lagu-lagu mereka lewat media online serta door to door. Gede Pradnya selaku pentolan dali band ini mengatakan, “ sebenarnya ini merupakan re-lounch, atau rilis kembali dari album Inspirasi Semesta”.

Terdapat Sembilan lagu yang mewarnai album ini, dan salah satunya Ngelawan Sepi  yang merupakan lagu berbahasa Bali, sedangkan untuk penciptaan lagu di album ini hampir semuanya merupakan ciptaan dari Deprad yang merupakan pemain keyboard sekaligus basist, plus satu lagu ciptaan dari Ian Joshua Stevenson ( personel Zat Kimia ).

Ketika di tanya kenapa memilih kata “Inspirasi Semesta” tak terlepas dari ide dasar lagu-lagu, yang ditampilkan The Journey yang banyak diolah dari inspirasi semesta dan kehidupan sekitar. Band yang beranggotakan Gede Surya Prahadi ( Surya ) Vocal dan Gede Pradnyana ( Keyboard/ Bass ), resmi terbentuk pada 9 November 2014 ini mengaku lebih nyaman dengan Gendre Pop  dengan berbahasa Indonesia.

Saat ditanya seputar penjualan album, mereka mejawab dengan kompak hanya di jual dalam bentuk pesan paket ( soft box) yang berisi CD sekaligus T-Shirt The Journey. Sedangkan untuk produksi secara missal masaih sebatas difikiran saja, karena dengan melihat kondisi industry music saat ini masih tergolong lesu. KP-GAP

 

Saya Penggemar Lagu Bali

seniman-musik-lagu-bali
Saya bukanlah seseorang yang mengerti musik, jangankan mengerti, memainkan alat musik pun saya tidak bisa. Tapi walaupun begitu bukan berarti saya tidak bisa mendengarkan dan menikmati sebuah karya musik. Musik atau lagu-lagu yang paling saya sukai selama ini adalah musik atau lagu berbahasa Bali. Maklum sejak kecil di lingkungan keluarga saya lebih banyak mendengarkan lagu-lagu Bali. Bukannya tidak suka lagu berbahasa Indonesia maupun Inggris, tapi lagu Bali terasa lebih spesial di telinga saya.

Jaman SMP sampai SMA ketika masih rutin mendengarkan radio, yang banyak saya dengarkan adalah radio yang memutar lagu-lagu Bali seperti radio Gema Merdeka dan lainnya. Perkembangan lagu Bali pun saya ikuti, mulai masih jamannya Ketut Bimbo, Yong Sagita, lalu gaya lagu Bali berubah sejak jamannya Widi Widiana dan Panji Kuning yang kalau tidak salah gayanya seperti lagu-lagu Melayu. Hingga saat itu (tahun 90-an) lagu Bali rasanya masih dianggap kampungan, kuno dan tidak gaul oleh sebagian orang khususnya ABG di perkotaan. Dan saya pun mungkin dianggap seperti itu juga sampai jaman SMA tapi saya tidak terlalu peduli.

Dan muncullah jamannya Lolot n Band yang membuat lagu Bali dengan musik yang jauh berbeda dari yang sebelumnya. Musik Rock atau Rock Alternative atau apapun itu namanya, saya tidak terlalu paham soal aliran atau jenis musik, tapi kehadiran band-band Bali dengan lagu berbahasa Bali membuat pandangan orang (khususnya yang berjiwa muda) akan lagu Bali menjadi berbeda.

Hampir tidak ada lagi kesan lagu Bali itu kampungan, kuno dan tidak gaul, justru kini lagu Bali menjadi raja di daerah sendiri. Buktinya, tidak sedikit penggemar dan fans dari penyanyi atau pun band Bali. Lihat saya penggemar Nanoe Biroe, XXX, Lolot, 4WD, Bintang dan masih banyak yang lainnya, sebagai bukti bagaimana lagu berbahasa Bali sangat digemari di Bali sendiri. Kini lagu Bali (berbahasa Bali) sudah tidak dicap kampungan lagi, saya pun menjadi semakin menyukai lagu Bali, apapun alirannya, entah itu pop, keroncong, rock, reggae, apapun itu, maaf sekali lagi saya tidak mengerti tentang aliran musik ini, asalkan enak didengar saya pun senang.

Saya ingat dulu ketika masih jaman kos di Surabaya, lagu Bali adalah salah pengobat rindu saya akan kampung halaman. Mendengarkan lagu Bali membuat saya tetap merasa dekat dengan Bali, atau bahkan merasa sedang berada di Bali. Terkadang ketika rindu rumah, maka lagu Bali bisa menjadi penawarnya.

Sebagai penggemar lagu Bali, saya sangat senang dengan perkembangan lagu Bali hingga saat ini. Saya berterima kasih kepada para seniman musik yang mau terus menciptakan lagu berbahasa Bali sehingga saya bisa terus menikmati lagu Bali. Nanoe Biroe, Lolot, 4WD, XXX, Bintang Dek Ulik, AA Raka Sidan dan semuanya. Dan secara nyata juga para seniman lagu Bali itu telah melestarikan budaya Bali khususnya bahasa Bali itu sendiri. Bahkan lagu Bali membuat Bali semakin dikenal diluar Bali. Juga pesan yang disampaikan dalam lagu Bali yang tidak jarang mengangkat tema tentang budaya Bali, sungguh luar biasa menurut saya. Saya tidak tahu apakah di daerah lain ada yang seperti di Bali ini.

Baca Juga: