Tag Archives: kuliner jembrana

Bulung Buni dan Lawar Gedang di Lidah Pengisah Kuliner

Misshotrodqueen merekam kuliner Jembrana. Apa kejutan dari kabupaten Bali Barat ini?

Oleh Wendra Wijaya

Dunia kuliner selalu menghadirkan pengalaman menarik. Apalagi, Indonesia kaya akan sumber makanan yang bisa diolah menjadi apa saja. Kekayaan kuliner Indonesia, dengan berbagai rasa dan keunikannya menunjukkan betapa dunia kuliner adalah dunia yang begitu luas, imaji rasa yang tak terbatas.

Membincang kuliner Indonesia, tentu tak bisa lepas dari sosok Ade Putri Paramadita. Lahir dan besar di keluarga pecinta makanan, pemilik Kedai Aput ini juga tercatat sebagai host web serial Akarasa di VICE Indonesia serta pembawa acara di radio dan web serial YouTube FoodieS berjudul 6×6.

Sepanjang pengalamannya sebagai “pencerita kuliner”, Ade Putri banyak menjumpai keunikan. Berkali-kali ia menyempatkan diri mengunjungi pasar-pasar tradisional wilayah yang dikunjunginya, berburu panganan dengan cita rasa “asing” yang nantinya akan dikisahkannya kembali.

“Yang paling berkesan justru ketika saya mencicipi bulung buni kuah pindang di Bali. Bayangkan, sudah aromanya menyengat, warna kuahnya tak menarik dan nyaris tak terdefinisikan, tapi justru memiliki cita rasa yang unik. Dan kalau kita sadari, sesungguhnya bulung buni itu sangat mahal di Eropa. Nah, di sini saya malah menemukannya di warung kecil tanpa nama,” kisahya, saat menjadi narasumber Jah Megesah Vol. 02: Commercial Photography – The Magic of Storytelling, Sabtu (17/11) di Mendopo Ksari, Negara, Jembrana.

Di Jembrana, juri Aqua Reflection’s Jakarta’s Best Eats 2018 dan Iron Chef Indonesia ini juga menyempatkan diri blusukan di pasar dan beberapa kedai makanan seputaran kota. Salah satu tempat yang sempat dikunjungi food stylist ini adalah pedagang Lawar Gedang (lawar papaya) di Pasar Dauh Waru. Dalam akun instagram @misshotrodqueen, ia membagikan pengalamannya dengan bahasa yang menyenangkan. “Sebagian pasti ingat dengan julukan lawarwati yang menempel di saya. Kegilaan saya pada lawar memang berlebihan. Tapi gimana dong… Enak sih! Awalnya dulu saya pikir lawar itu hanya terbuat dari nangka. Ternyata macam-macam variasinya… ,” tulisnya, yang ditutup dengan ucapan, “Matur suksma, Mbok. Jaen niki.”

Selain mengunjungi pasar, Ade yang juga merupakan bagian dari Aku Cinta Makanan Indonesia –sebuah gerakan yang mempromosikan pelestarian makanan tradisional Indonesia, tersebut sempat mencicipi Warung Bu Agung (Beten Ketapang), Warung Beten Poh, dan beberapa tempat lainnya. Bahkan ia juga tak segan menghentikan kendaraan ketika menemukan nama makanan yang terdengar asing baginya. Seperti pelasan tawonI, yang dijumpainya di daerah Lelateng, Negara.

Kebiasaan blusukan ini bukan kali pertama dilakukannya. Pernah di sebuah acara di kota yang berbeda, ia meminta panitia mengantarkannya ke pasar tradisional. “Saat itu kami baru tiba dini hari. Ketika saya bertanya siapa yang bersedia menemani saya ke pasar waktu pagi, mereka hanya bengong. Akhirnya saya diberi kunci mobil. Jadilah saya ke pasar sendiri, hahaa… ,” kisahnya.

Kecintaan pada kuliner berimbas pula pada keinginan Ade untuk meningkatkan “derajat” makanan tradisional ke posisi yang lebih terhormat. Salah satunya, dengan upaya penyajian yang lebih kreatif, dengan tetap memertahankan originalitas rasa makanan Indonesia. Pada titik ini, komersialisasi berlaku aktif. Pertambahan nilai suatu makanan tentu memerlukan upaya yang lebih serius dalam penyampaian gagasan. Misal melalui media foto, yang menarik secara angle dan komposisi. Kondisi ini tidak hanya berlaku di dunia kuliner saja, namun dapat pula diaplikaskan pada produk apa pun.

Melalui storytelling, Ade beranggapan metode ini lebih mampu menarik minat calon konsumen pada produk yang dipromosikan. Sebab dengan storytelling, produsen tidak memberikan hard information, namun lebih pada penekanan nilai yang terkandung dalam produk yang dijual.

“Dengan bahasa yang ringan, sesuai gaya bahasa kita dalam keseharian, akan lebih mudah memancing ketertarikan. Ini lebih sebagai upaya menarik minat semata. Jika calon konsumen sudah tertarik, besar kemungkinannya produk kita akan dibeli,” tukas Ade yang sering diminta menyusun menu makanan bagi beberapa restaurant dan hotel di Indonesia.

The post Bulung Buni dan Lawar Gedang di Lidah Pengisah Kuliner appeared first on BaleBengong.

Ada Foto Bertutur di Jah Magesah Vol 2 oleh Komunitas Kreatif Jembrana

Bagaimana mengisahkan foto dengan menarik? Masukkan kisah dan perjalanannya.

Oleh Wendra Wijaya

Sebuah foto menyimpan seribu kata. Sementara teks memberi penekanan pada pemaknaannya. Segalanya bersinergi untuk menciptakan sesuatu yang lebih memiliki nilai.

Hal-hal yang selama ini dipandang sederhana sesungguhnya memiliki nilainya sendiri. Taruhlah itu nasi putih. Barangkali tanpa teknik pengisahan yang menarik, makanan pokok ini hanyalah menjadi sesuatu yang biasa karena begitu akrab dengan keseharian. Melalui storytelling, didukung oleh kreasi sebuah foto, seseorang bisa saja dengan ringan menceritakan tentang kisah perjalanan padi menjadi nasi, termasuk juga informasi mengenai di mana padi itu ditanam, bagaimana kultur petani hingga metode penanamannya.

“Dasarnya, sudah tentu adalah literasi dan wawancara. Dari sanalah penggalian informasi bisa dilakukan lebih mendalam. Dengan mengetahui proses hingga terciptanya, diharapkan kita bisa lebih menghargai makanan,” ungkap Culinary Story Teller dan Food Stylist, Ade Putri Paramadita, dalam Jah Megesah Vol. 02: Commercial Photography – The Magic of Story Telling, Sabtu (17/11) di Gedung Mendopo Ksari, Negara.

Kisah-kisah yang muncul dalam karya fotografi adalah media untuk berbagi. Berbagi di sini tentu tidak hanya berada dalam wilayah idealisme semata, namun bergerak cepat menuju komersialisasi. Setiap saat, standar ideal juga berlaku dinamis, berubah sesuai pergerakan jamannya. Dan hari ini, mengemas informasi dengan teknik storytelling dipandang efektif untuk mempromosikan sebuah produk. “Ini tidak hanya berlaku untuk kuliner saja. Fashion, handycraft, apa saja bisa diceritakan agar lebih menarik,” katanya.

Saat ini, tambah moderator Wena Wahyudi sekaligus penggagas Jah Megesah, sudah tidak jaman lagi mempromosikan produk dengan informasi yang “padat”. Justru teknik pengisahan dengan mengambil sudut pandang yang berbeda dari suatu produk, hari ini, jauh lebih berhasil mendekatkan produk tersebut dengan calon konsumennya. Segalanya tergantung kreativitas dan kemampuan untuk menemukan keunikan produk yang akan dipromosikan.

Dalam Jah Megesah Vol. 02 yang digagas Jimbarwana Creative Movement, Ade tidaklah sendiri. Ia ditemani Dibal Ranuh, seorang fotografer profesional yang dikenal dengan karya-karyanya unik dan menarik secara komposisi. Kreativitas adalah dasar dari segalanya yang menjadi pondasi sebuah karya. Kejelian memandang objek dan kemampuan mewujudkannya menjadi sesuatu yang menarik mutlak mesti dimiliki seorang fotografer.

“Sama halnya dengan storytelling, kita mesti jeli mengambil angle suatu objek. Jika sudah peka, kita bisa lebih mudah memilah sisi mana yang akan kita gunakan untuk menghasilkan karya yang kuat, baik secara visual maupun pesan,” ucap Dibal.

Di tengah kemajuan teknologi, Dibal berupaya memberikan pemahaman bahwa terkadang keberadaan alat tak penting lagi. Dengan catatan, seseorang mesti mengetahui peruntukan foto tersebut. “Jika untuk pribadi atau sifatnya personal branding, tak masalah memakai kamera handphone. Tapi jika digunakan untuk tujuan komersil yang lebih luas, menghadapi client, setidaknya gunakan device yang benar-benar layak untuk menghasilkan karya hires. Karena nantinya, hasil foto tidak hanya berhenti sebatas informasi online semata,” ucapnya.

Selain membahas tuntas mengenai fotografi, Dibal juga mengajak peserta Jah Megesah untuk mengikuti workshop mengenai teknik menghasilkan foto komersial, utamanya pengambilan angle dan pencahayaan. “Dalam food photography, misalnya, fotografer tidak bekerja sendiri. Tapi mesti bekerja sama dengan food stylist untuk menghasilkan komposisi yang menarik dan masuk akal. Nah, kebetulan Mbak Ade (Ade Putri Paramadita) adalah seorang food stylist, kita minta bantuannya untuk menata makanan secara artistik,” ucapnya.

Terik di luar berimbas juga pada bangunan Mendopo Ksari yang semi terbuka. Namun gerah itu tak menyurutkan minat peserta Jah Megesah untuk mengikuti workshop yang diadakan. Selain mengangkat food photography, Dibal juga memberikan workshop tentang fashion photography, utamanya mengenai pengambilan angle yang menarik untuk materi promosi.

Budayawan DS Putra mengapresiasi Jah Megesah Vol 02 sebagai upaya edukasi bagi masyarakat Jembrana. Ia hanya menyayangkan masyarakat, utamanya pemuda Jembrana yang kurang peka dengan adanya peristiwa budaya tersebut. “Kalau ada yang harus disayangkan, anak muda Jembrana kurang tanggap, atau Jimbarwana Creative (Movement) yang kurang berkoar?” katanya.

Dalam sesi diskusi, ia juga menekankan pentingnya mengelola cultural shock menjadi sesuatu yang lebih kreatif sebagai wujud apresiasi terhadap apa pun juga. Rasa takjub inilah yang mesti harus dimiliki untuk menumbuhkan apresiasi terhadap apa pun itu. “Terima kasih kepada narasumber yang berkenan mampir ke Gumi Wayah Tanah Mekepung Jimbarwana yang selama ini menjadi peta buta Bali,” demikian DS Putra.

The post Ada Foto Bertutur di Jah Magesah Vol 2 oleh Komunitas Kreatif Jembrana appeared first on BaleBengong.