Tag Archives: Kuliner bali

Menikmati BBQ Level Mantan? Cobaan Macam Apa Ini

Menikmati kelezatan BBQ Pork Ribs di The Groovy Bali menjadi sensasi tersendiri apalagi kalau yang kita santap itu level mantan. Bagaimana keseruan dan kenikmatannya? selengkapnya chek di video berikut ini ya… jangan lupa Like, Share, Subcribe dan Komentarnya.  

The post Menikmati BBQ Level Mantan? Cobaan Macam Apa Ini appeared first on kabarportal.

Warung Tulen Ubud, Komucha Itu Alkohol?

Siang ini penulis berkeliling diwilayah Ubud untuk merefresh pikiran dan sedikit menjauh dari riuh kota. Sekitar pukul 11.00 wita tiba di Pasar Ubud, penulis mulai merasakan lapar padahal belum sepenuhnya selesai perjalanan namun merasa bosan ketika melihat menu yang terlalu mindstream. Baca Juga : Warung Kitte D’Uma, Coba Aja Sendiri Dari arah Pasar Ubud penulis coba […]

The post Warung Tulen Ubud, Komucha Itu Alkohol? appeared first on kabarportal.

Bulung Buni dan Lawar Gedang di Lidah Pengisah Kuliner

Misshotrodqueen merekam kuliner Jembrana. Apa kejutan dari kabupaten Bali Barat ini?

Oleh Wendra Wijaya

Dunia kuliner selalu menghadirkan pengalaman menarik. Apalagi, Indonesia kaya akan sumber makanan yang bisa diolah menjadi apa saja. Kekayaan kuliner Indonesia, dengan berbagai rasa dan keunikannya menunjukkan betapa dunia kuliner adalah dunia yang begitu luas, imaji rasa yang tak terbatas.

Membincang kuliner Indonesia, tentu tak bisa lepas dari sosok Ade Putri Paramadita. Lahir dan besar di keluarga pecinta makanan, pemilik Kedai Aput ini juga tercatat sebagai host web serial Akarasa di VICE Indonesia serta pembawa acara di radio dan web serial YouTube FoodieS berjudul 6×6.

Sepanjang pengalamannya sebagai “pencerita kuliner”, Ade Putri banyak menjumpai keunikan. Berkali-kali ia menyempatkan diri mengunjungi pasar-pasar tradisional wilayah yang dikunjunginya, berburu panganan dengan cita rasa “asing” yang nantinya akan dikisahkannya kembali.

“Yang paling berkesan justru ketika saya mencicipi bulung buni kuah pindang di Bali. Bayangkan, sudah aromanya menyengat, warna kuahnya tak menarik dan nyaris tak terdefinisikan, tapi justru memiliki cita rasa yang unik. Dan kalau kita sadari, sesungguhnya bulung buni itu sangat mahal di Eropa. Nah, di sini saya malah menemukannya di warung kecil tanpa nama,” kisahya, saat menjadi narasumber Jah Megesah Vol. 02: Commercial Photography – The Magic of Storytelling, Sabtu (17/11) di Mendopo Ksari, Negara, Jembrana.

Di Jembrana, juri Aqua Reflection’s Jakarta’s Best Eats 2018 dan Iron Chef Indonesia ini juga menyempatkan diri blusukan di pasar dan beberapa kedai makanan seputaran kota. Salah satu tempat yang sempat dikunjungi food stylist ini adalah pedagang Lawar Gedang (lawar papaya) di Pasar Dauh Waru. Dalam akun instagram @misshotrodqueen, ia membagikan pengalamannya dengan bahasa yang menyenangkan. “Sebagian pasti ingat dengan julukan lawarwati yang menempel di saya. Kegilaan saya pada lawar memang berlebihan. Tapi gimana dong… Enak sih! Awalnya dulu saya pikir lawar itu hanya terbuat dari nangka. Ternyata macam-macam variasinya… ,” tulisnya, yang ditutup dengan ucapan, “Matur suksma, Mbok. Jaen niki.”

Selain mengunjungi pasar, Ade yang juga merupakan bagian dari Aku Cinta Makanan Indonesia –sebuah gerakan yang mempromosikan pelestarian makanan tradisional Indonesia, tersebut sempat mencicipi Warung Bu Agung (Beten Ketapang), Warung Beten Poh, dan beberapa tempat lainnya. Bahkan ia juga tak segan menghentikan kendaraan ketika menemukan nama makanan yang terdengar asing baginya. Seperti pelasan tawonI, yang dijumpainya di daerah Lelateng, Negara.

Kebiasaan blusukan ini bukan kali pertama dilakukannya. Pernah di sebuah acara di kota yang berbeda, ia meminta panitia mengantarkannya ke pasar tradisional. “Saat itu kami baru tiba dini hari. Ketika saya bertanya siapa yang bersedia menemani saya ke pasar waktu pagi, mereka hanya bengong. Akhirnya saya diberi kunci mobil. Jadilah saya ke pasar sendiri, hahaa… ,” kisahnya.

Kecintaan pada kuliner berimbas pula pada keinginan Ade untuk meningkatkan “derajat” makanan tradisional ke posisi yang lebih terhormat. Salah satunya, dengan upaya penyajian yang lebih kreatif, dengan tetap memertahankan originalitas rasa makanan Indonesia. Pada titik ini, komersialisasi berlaku aktif. Pertambahan nilai suatu makanan tentu memerlukan upaya yang lebih serius dalam penyampaian gagasan. Misal melalui media foto, yang menarik secara angle dan komposisi. Kondisi ini tidak hanya berlaku di dunia kuliner saja, namun dapat pula diaplikaskan pada produk apa pun.

Melalui storytelling, Ade beranggapan metode ini lebih mampu menarik minat calon konsumen pada produk yang dipromosikan. Sebab dengan storytelling, produsen tidak memberikan hard information, namun lebih pada penekanan nilai yang terkandung dalam produk yang dijual.

“Dengan bahasa yang ringan, sesuai gaya bahasa kita dalam keseharian, akan lebih mudah memancing ketertarikan. Ini lebih sebagai upaya menarik minat semata. Jika calon konsumen sudah tertarik, besar kemungkinannya produk kita akan dibeli,” tukas Ade yang sering diminta menyusun menu makanan bagi beberapa restaurant dan hotel di Indonesia.

The post Bulung Buni dan Lawar Gedang di Lidah Pengisah Kuliner appeared first on BaleBengong.

Tur Kuliner ke Dapur Tahu Dadong Songkeg dan Bubuh Pejeng

foto: luh de

Untuk kali pertama, tur kuliner UFF ke Pejeng. Mencecap tahu dari ratu dapur Dadong Songkeg dan bubuh Pejeng yang diserbu jelang malam.

Sore pukul 14.30, saya melaju dari Denpasar ke arah Ubud untuk mengikuti Food Tour UFF 2018 hari pertama. Jelang pusat Puri Ubud mulai macet, sangat parah karena pesepeda motor saja nyaris diam. Hanya bergerak satu meter dalam beberapa menit sampai pertigaan jalan raya Andong, lokasi Festival Hub Ubud Food Fest.

Pukul 4.15, telat 15 menit dan benar saja sudah ditinggal rombongan food tour yang mengarah ke Pejeng, Gianyar. Saya mengutuk diri karena harus kembali menemui kemacetan parah itu. Tantangan lain, menemukan rombongan yang menuju salah satu dapur rumah warga di Pejeng.

Singkat cerita, satu jam kemudian (setelah bolak balik nelp tour guide yang pastinya sedang sibuk memandu) sampailah ke rumah lokasi pembuatan tahu. Aroma ternak dan menyambut depan rumah. Melewati pintu gerbang dan mendapati dapur setengah terbuka yang super sibuk. Sedikitnya 4 perempuan sibuk di posisinya masing-masing dan seorang nenek bertelanjang dada, rambut gimbal menyentuh lantai, dan berdiri mengiris tahu. Dialah Ni Wayan Songkeg, pemilik sekaligus perintis usaha tahu rumahan di Pejeng ini.

foto: luh de

Wajahnya terlihat tenang, tangannya terampil mengiris tahu menjadi kotak-kotak kecil untuk digoreng. Jelang petang, langganannya akan mengambil pesanan rutin tahu goreng ini. Sesekali ia melirik turis-turis yang mengamatinya dan melihat dapurnya dengan seksama ini.

Pemandu tur, Komang Puriana menunjukkan proses pembuatan tahu mulai dari perendaman biji kedelai, dilumatkan dengan mesin, lanjut dimasak di Jambangan, kompor batu besar berbahan kayu bakar. Dua perempuan paruh baya gantian mengaduk bubur kedelai selama 1-2 jam tergantung besarnya api tungku batu ini. Para pekerja Dadong Songkeg ini mengaku sudah bekerja mulai pukul 12 siang, dan berlanjut sampai dini hari nanti.

Pusat perhatian saya bukan tahu dan dapur yang membuat mudah berkeringat ini, tapi sosok dadong. Dengan pelan saya bertanya pada Nyoman Wati, salah satu pekerja apakah dadong bisa diajak ngobrol? “Ya, silakan. Dadong masih mengontrol semuanya di sini,” katanya. Diiyakan Ketut Taweng, anak laki-laki dadong yang juga diperlakukan sebagai pekerja.

Betul saja, ia masih mengecek berapa yang dibeli para pelanggan yang langsung datang ke dapurnya membeli sekotak atau lebih tahu-tahu yang teksturnya lebih padat dibanding tahu-tahu di pasar ini. Satu kotak yang sudah padat dijual Rp20 ribu. Memberikan susuk (kembalian) dan menyimpan uang penjualan. Sambil memotong tahu, ia beberapa kali terlihat mengecek kondisi dapur dan pekerjanya hanya dengan menoleh sebentar.

foto: luh de

Ia ratu dapur. Dadong tak banyak bicara, bahasa tubuh dan kedisplinannya turut bekerja sampai usia senja menjelaskan kepemimpinannya.

“Saya dulu belajar di Tohpati waktu remaja saat bekerja dengan orang,” ia berbisik dalam bahasa Bali. Bisa saja ngobrol lebih panjang, tapi saya tidak tega. Ia sedang sangat serius bekerja, termasuk walau sedang dikunjungi rombongan food tour. Nanti lah datang lagi sambil bawa sambel cocolan tahu ke dapur dadong.

Sampai rumah, Tahu Pedadapan (nama banjar lokasi rumah) Pejeng ini langsung dimasak. Lebih cepat matang dibanding tahu yang biasa saya beli. Bisa jadi karena lebih padat, kandungan airnya lebih sedikit. Kedelainya lebih banyak, dan akhirnya setengah kotak tahu dimasak dalam dua hari, disimpan di kulkas tak basi. Cocol sambel kecap dengan potongan cabe.

Dari rumah dadong, rombongan ke arah selatan kurang dari satu kilometer saja ke  pasar Pejeng. Jelang petang, kios-kios sudah buka, pedagang pakaian bekas pun ramai. Makan bubur beras khas di sini. Ada dua dagang bubuh, buka sore sampai malam.

Kami ke warung pertama milik Nyoman Wardani. Para pembeli terlihat kompak menabur mamie (snack) ke atas bubur yang terlihat sama dengan bubur khas Bali biasanya ini. Bungkus mamie berserakan di kaki-kaki pembeli. Hampir semua rombongan memesan, tak sedikit yang memilih pedas dengan tambahan sambel matah. Kalau makan sebagai sarapan barangkali terasa lebih nikmat.

foto: luh de

Sesendok bubur beras putih kental ditata di piring lalu ditabur base manis, sebutan untuk campuran santan kelapa, bumbu base genep, dan tepung beras. Lalu ditabur saur (serundeng) kering dari parutan kelapa digongseng, saur basah, sayur urab, dan kuah ayam. Sederhana. Satu porsi Rp8000. Jika ingin pedas, ditambah sambel.

foto: luh de

Ternyata bubur yang biasanya dijual pagi, diserbu juga oleh warga Pejeng pada malam hari.

 

The post Tur Kuliner ke Dapur Tahu Dadong Songkeg dan Bubuh Pejeng appeared first on BaleBengong.