Tag Archives: Koperasi KSS

Kakao Fermentasi pun Terbang Tinggi Hingga Luar Negeri

Pengolahan dengan cara fermentasi meningkatkan kualitas kakao Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Oleh: Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum

“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”

Hai.. Saya ingin menceritakan curahan hati selama ini. Ini pertama kali saya menceritakan apa yang selama ini saya pendam. Jadi kalian harus bersyukur, ya. Saya kasih tahu pertama kali dan jangan kasih tahu siapa-siapa ya.

Sekarang saya ingin menceritakan tentang awal mula saya biasa masuk ke dalam dunia tulis menulis dengan bumbu yang beragam di dalamnya.

Awal saya menulis itu karena saya dipercaya mewakili sekolah dalam lomba esai bertajuk “Gelora Esai” yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja. Masalahnya, waktu itu saya sama sekali tidak tahu apa itu esai. Bagaimana caranya, apa perbedaannya sama tulisan-tulisan lain, dan segala tetek bengeknya. Itu semua tidak ada yang saya mengerti.

Lebih parahnya lagi temanya itu, loh, yang bikin pusing tujuh keliling, tentang politik. Wong saya saja tidak pernah tahu tentang politik, eh, malah diminta buat menulis esai lagi. Ya bagaimana mau tahu, kalau ibu lagi menonton TV yang politik saja saya langsung “ngamar”.

Eitts! Tapi bukan yang negatif ya. Saya lebih memilih untuk tidur daripada mendengarkan tokoh-tokoh yang mendebat untuk mempertahankan pilihannya. Akhirnya, saya memilih untuk menggunakan cara instan yaitu menjiplak sebagian informasi yang saya temukan di Google.

Ya, namanya juga masih awal, masih coba- coba.

Dipermalukan

Singkat cerita, tidak pernah dibayangkan sebelumnya ternyata saya dikabarkan oleh salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di sana, Kak Made Ginastra. Saking senangnya, saya hampir terserempet mobil karena saya ingin memberitahukan guru yang juga pembina saya Bu Indra.

Saat final, saya makin minder karena ternyata yang lolos adalah anak-anak berpengalaman dalam bidang ini. Sejak masuk ruang presentasi keringat dingin sudah membasahi punggung saya. Padahal di sana disediakan pendingin ruangan yang jumlahnya dua, tapi tetap tidak mampu untuk menghilangkan keringat itu.

Yang paling saya ingat adalah saat saya selesai menjelaskan dan masuk sesi tanya jawab. Di sana saya benar-benar merasa dipermalukan karena para dewan juri saat itu sangat pedas komentarnya. Saya merasa lebih malu saat hampir semua orang di ruangan itu menertawakan presentasi saya. Rasanya ingin cepat- cepat pulang dan menangis sejadi-jadinya.

Namun, yang saya syukuri dari peristiwa itu, ada satu juri penulis esai dan juga wartawan yang mencoba menghibur saya. Lebih baiknya lagi dari beliau ialah setelah selesai dari perlombaan itu kami para peserta final dibuatkan satu grup yang di dalamnya membahas tentang tata cara penulisan esai. Beliau juga dengan sabar menanggapi komentar-komentar dari kami. Beliau adalah Pak Kadek Surya. Beliau juga yang menginspirasi saya untuk terus membuat lebih banyak lagi esai.

Dari beliau juga saya jadi percaya diri untuk mengikuti lomba-lomba esai yang lain. Sampai akhirnya, saya mendapatkan kabar ada satu lomba esai bertema kakao yang diselenggarakan oleh Yayasan Kalimajari dan Koperasi Samaya Samaniya (KSS). Lokasinya di SMKN 2 Negara. Dari sana juga saya mendapatkan banyak ilmu baru yang membuat saya sadar akan sekitar.

Informasi lomba esai ini saya dapatkan dari guru saya, Bu Indra. Awalnya saya ditunjuk bersama dengan teman saya, Rama, bukan Desita. Namun, saat itu guru saya salah membaca informasi. Babak penyisihan tahap awal yang seharusnya diselenggarakan padal 2 Juli 2019, tapi guru saya membacanya tanggal 2 Juni 2019.

Saat itu Rama sedang sakit sehingga tidak bisa mengikuti penyisihan itu. Saya dan guru saya bingung siapa yang bisa menggantikan Rama. Akhirnya Desita dipilih untuk menggantikannya. Saat besoknya kami sampai di SMKN 2 Negara ternyata di sana sepi. Tidak ada seorang pun.

Kami sempat berpikir apa kami yang terlalu pagi atau bagaimana. Saya bersama Desita di sana mondar-mandir seperti orang hilang. Kami menunggu berjam-jam. Tapi tidak ada tanda- tanda panitia muncul. Akhirnya saya menelepon guru saya untuk memastikan tanggalnya benar atau salah.

Benar saja. Guru kami itu salah membaca informasi tanggal penyisihan tersebut. Akhirnya kami pulang dengan tangan kosong.

Saya dan Desita kembali lagi ke SMKN 2 Negara pada 2 Juli. Di sana saya mendapatkan informasi tentang cokelat. Ada salah satu informasi yang saya dapatkan, ternyata kakek Desita, Pak Wayan Rata merupakan salah satu petani kakao yang berhasil menciptakan klon baru kakao. Hebat yahh.. Ini juga yang membuat saya semakin tertarik mendalami tentang kakao.

Dari lima tema yang disiapkan panitia saat itu, saya lebih memilih untuk menggunakan tema kesehatan sesuai dasar pendidikan saya. Untuk kedua kalinya hal yang tidak pernah saya bayangkan terjadi, saya lolos ke babak selanjutnya. Dari hari di mana saya mendapatkan kabar tersebut, saya jadi tidak sabar untuk menanti hari pelatihan sebagai bagian dari tahap final.

Terbuktilah hari pertama mulai pelatihan kemarin saya mendapatkan lebih banyak lagi ilmu- ilmu yang diberikan oleh Pak I Ketut Wiyadnyana selaku ketua KSS.

Setengah hati

Di hari pertama itu juga kami diundi untuk mendapatkan tema penulisan selanjutnya. Namun, tema itu harus saya terima dengan setengah hati dan membuat saya ingin menangis karena tema itu saya tidak tahu menahu cara memulainya. Tema tersebut ialah manajemen koperasi. Namun, dengan sabar Kak Sri Auditya Sari atau biasa dipanggil Kak Tya selaku anggota dari Kalimajari menjelaskan apa sih yang dilakukan di manajemen koperasi. Dia berhasil mematahkan opini saya tentang manajemen yang saya tahu hanya angka, angka, dan angka.

Kami juga diberikan fasilitas untuk jalan-jalan sekaligus belajar lebih dalam tentang kakao. Terima kasih Kak Tya, panitia, Koperasi KSS dan Kalimajari atas semua kesempatan dan ilmunya. Saya harap saya bisa diberikan kepercayaan lagi untuk mendapatkan yang saya harapkan. He.he.he..

Setelah tiga hari mendapatkan banyak ilmu bermanfaat selama pelatihan, kami diberikan waktu untuk mewawancarai sumber-sumber yang sudah kami siapkan. Lagi-lagi kami diberi fasilitas berupa surat dispensasi. Sebenarnya saya merasa lelah, sih, karena harus pergi ke kantor beberapa kali akibat beberapa kendala yang mengakibatkan saya dan Bintang selaku teman satu tema harus kembali pergi ke kantor dinas. Tapi, tidak apa untuk cuci mata. Supaya segar melihat cowok bening dulu biar semangat lagi buat mengetik. Hahaha..

Mulai Bangkit

“Jatuh bangun aku sendiri……”

Dari sekian narasumber yang saya wawancara, hampir semua mengatakan bahwa Koperasi KSS ini koperasi yang pernah berada di titik terendah. Koperasi ini pernah “kecolongan” karena salah satu anggotanya ada yang menggelapkan dana. Melihat itu akhirnya Kalimajari tergerak untuk mendampingi.

Kenapa Kalimajari tertarik bekerja sama dengan KSS? Direktur Kalimajari, Bu I Gusti Agung Ayu Widiastuti, mengatakan alasan tertarik karena KSS ini merupakan satu-satunya koperasi kakao di Jembrana. Maka, Kalimajari pun mendampingi mereka. Penguatan tidak hanya budidaya tapi juga kelembagaan.

Nah, bagaimana perasaan kalian yang tinggal di Jembrana? Pastinya bangga kan. Bangga, dong.

Tahun 2011 Kalimajari mulai mendampingi bersama dengan dinas yang sudah mendampingi koperasi ini sejak lahir tahun 2006. Mereka mengawalinya dengan mengadakan Rapat Akhir Tahunan (RAT) luar biasa. Dalam rapat ini mereka selaku pendamping bermusyawarah pada anggota pengurus untuk membentuk pengurus baru.Rapat juga memutuskan bahwa pengurus lama setuju diganti dengan pengurus baru.

Setelah berhasil membentuk pengurus baru, di sini semua dimulai. Semuanya mulai bekerja, bekerja untuk maju. Inilah titik di mana KSS mulai bangkit.

Mulai Berjalan

Dalam hidup itu tidak ada yang mudah. Begitupun dengan KSS baru. Emm, kita panggil Baby K saja ya. Biar kesannya baru. Kan KSS baru lahir kembali. Oke?

Bu Agung Widiastuti bercerita mereka mengalami banyak kendala cukup rumit. Misalnya harus mengembalikan kembali jiwa yang sempat hilang pada diri Baby K. Mengembalikan kembali kepercayaan masyarakat. Saat itu subak-subak yang pernah bekerja sama dengan KSS sudah telanjur sakit hati. Sebab, bukannya untung yang mereka dapat, tetapi hanya buntung yang mereka tuai.

Karena para anggota subak dan petani telanjur sakit hati, mereka pernah memanggil KSS dengan sebutan “koperasi sakit- sakitan”. Hal inilah yang menjadi permasalahan, sulitnya pengurus dan Kalimajari untuk mengajak anggota subak dan petani untuk kembali melakukan fermentasi. Jangankan mengajak para petani untuk kembali, untuk mengubah mindset petani saat itu pun sulit.

Saat sudah berhasil mengubah mindset petani, terjadilah penumpukan biji kakao fermentasi karena tidak pernah tahu adanya pembeli biji fermentasi saat itu.

Melihat hal itu, Bu Gung selaku Direktur Kalimajari dan Pak Ketut selaku Ketua Koperasi KSS menunjuk salah satu anggota untuk menjadi petugas quality control. Namun, anggota itu tak bertahan lama. Tahun 2017 posisi tersebut digantikan oleh Putu Dian P atau sering dipanggil Pepeng. Diberi pekerjaan tersebut tidak membuat Kak Pepeng tahu dan paham akan kakao. Justru pada awalnya dia sangat awam dengan kakao.

Selaku petugas quality control atau QC, Kak Pepeng bertugas mengecek semua alur yang terjadi ke koperasi. Mulai dari kakao masuk ke koperasi, kakao disimpan, sampai kakao keluar semua dicek oleh QC.

Tidak hanya itu, tim manajemen koperasi pun dibentuk. Manajemen sendiri merupakan seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Di Koperasi KSS kini dijalankan oleh Wayan Diana yang dahulunya juga merupakan petani kakao. Beliau juga sempat bercerita awal bagaimana ia menjadi petani karena orang tuanya memiliki lahan dengan luas 8 hektar, tapi kurang terurus.

Dari sanalah ia mulai menjadi seorang petani kakao dan dari orang tuanya pula ia mengetahui keberadaan KSS. Ia juga mengungkapkan bahwa manajemen di koperasi menangani semua yang terjadi di dalam koperasi. Misalnya pengarsipan data yang baik, pengelolaan keuangan, produksi, menganalisis keuntungan dan kerugian, dan marketing.

“Penguatan bukan hanya budidaya, tapi juga kelembagaan yang berkelanjutan,” kata Bu Gung.

Untuk modal, KSS mendapatkan dana talangan dari Dinas Koperasi Jembrana tiga tahun belakangan. Sejak tahun 2017 Dinas Koperasi mulai memberikan dana talangan senilai Rp 200 juta. Dana tersebut bukanlah dana cuma-cuma melainkan harus dikembalikan setiap tahun dengan kontribusi sebanyak 2 persen. Begitu pun dengan tahun 2018. Dinas Koperasi juga memberikan dana Rp 200 juta kepada koperasi dan untuk tahun 2019 dinas memberikan dana senilai Rp 300 juta.

Permodalan tidak hanya berasal dari pemerintah. Koperasi juga meminjam modal dari Bank BRI senilai Rp 500 juta. Bank BPD pun juga dijadikan tempat untuk meminjam dana loh. Dana modal yang dipinjam yakni senilai Rp 250 juta. Wah, kalo dihitung-hitung, utang KSS bisa membelikan pizza sekampung, yah. Lebih malah.. Hehehe…

Tapi tidak apa-apa kan? Koperasi KSS ini menghasilkan sesuatu yang dapat dibanggakan masyarakat Jembrana. Jad,i tak apalah berhutang dahulu pelunasan kemudian. Hehe. Bahkan akan dilunaskan dengan hal sangat membanggakan bagi warga Jembrana sekali lagi. Yap. Apa lagi kalo bukan kakao fermentasi terbaik yang ada di Indonesia?

Koperasi ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dari koperasi kakao lain di Indonesia. Akhirnya, fermentasi dipilih untuk itu. Bukan hanya untuk membuat Koperasi KSS beda, tapi fermentasi juga merupakan kunci utama menghasilkan aroma yang khas. Seperti di KSS yang mempunyai aroma khasnya yakni aroma madu.

Setelah menguatkan kelembagaan di KSS, Kalimajari memulai mencari para pembeli yang mencari kakao berfermentasi. Namun, usaha itu tidaklah berjalan mulus. Bahkan Bu Gung saja hampir tidak lagi percaya ada pasar fermentasi. Hingga beliau menemukan satu pembeli yang menghargai pasar itu.

“Untuk mencapai sesuatu yang unik dan berkarakter, kita harus thingking out of the box,” ujar Bu Agung saat itu.

Pelepasan biji kakao dari Jembrana ke pembeli.

Begin to Fly

Sebelum menemukan pembeli tersebut, koperasi harus merasakan sakit hati dahulu. Sakit hati karena tidak dihargai seseorang. Saat itu tahun 2012 KSS memiliki 1,8 ton kakao bersertifikat UTZ yang dibeli perusahaan tetapi harganya kecil. Perusahaan itu tidak memberikan harga lebih meskipun koperasi sudah memiliki sertifikat. Untuk itu Bu Agung kembali mengatakan bahwa jika kita masih berjalan sendiri-sendiri maka posisi tawar kita tidak akan pernah kuat.

Setelah kejadian tersebut, KSS berjuang kembali dengan jalan fermentasi. Pada tahun 2013, Koperasi KSS melakukan presentasi pertama di Jakarta dan bertemu pembeli dari Bandung. Setelah pertemuan itu pun tidak langsung sepakat, tetapi KSS harus mengirimkan dua kali contoh. Itu pun baru dikonfirmasi setelah pengiriman kedua. Setelah proses tersebut akhirnya didapatkan kesepakatan. Inilah pembeli pertama yang menghargai dan membuat koperasi kembali percaya akan adanya pasar fermentasi.

Tahun 2014 barulah Koperasi KSS bertemu dengan pihak Valrhona, pabrik cokelat terbaik di Perancis, Eropa. Lagi-lagi untuk mendapatkan kesepakatan harus membutuhkan proses. Bedanya untuk pihak Valrhona KSS membutuhkan waktu hampir dua tahun yakni 18 bulan lamanya dan harus melewati lima kali pertemuan untuk mendapatkan kepercayaan dan kesepakatan.

Oktober 2015 merupakan bulan yang membanggakan bagi Koperasi Kerta Samaya Samaniya karena pada bulan itu KSS memberangkatkan kontainer pertama ke Eropa. Bayangkan betapa bangganya kita bukan?

Bahkan coklat Valrhona tidak hanya menyediakan bean to bar alias pengolahan dari kebun hingga menjadi cokelat siap saji. Restoran-restoran mahal yang ada di Prancis hampir semua menggunakan coklat Valrhona. Sekali lagi saya tanya, bangga tidak sih kalian menjadi warga Jembrana? Pastinya bangga dong…

Tahun 2018 KSS melebarkan sayapnya kembali. Kali ini pabrik Cau Chocolate International di Tabanan bekerja sama dengan KSS. Pertemuannya kala itu terjadi di Kuta, Bali. Kenapa Cau Chocolate tergerak untuk ikut bergabung? Karena Pak I Wayan Alit Arta Wiguna selaku pemilik dan pembeli mengaku kagum dengan Koperasi KSS yang merupakan koperasi penghasil biji kakao pertama yang memiliki tiga sertifikat internasional. Yakni sertifikat UTZ di Belanda, Organic USDA di Amerika Serikat, dan UE di Eropa. Kerja sama itu masih terjalin hingga sekarang.

Hope for Us

Semua orang pasti menginginkan yang terbaik untuk segalanya. Begitu pun dengan Bu Agung selaku Direktur Kalimajari. Ia berharap KSS suatu saat nanti bisa menghasilkan produk turunan yakni produk dengan nama sendiri. Nama yang bisa dibanggakan bukan hanya para petani, melainkan semua kalangan dari anak kecil hingga lansia. Bukan hanya Jembrana tapi seluruh Indonesia.

Beliau juga berharap KSS ini bisa mandiri baik dari segi finansial maupun manajemen. Harapan terakhirnya ialah semoga lebih banyak lagi petani kakao yang sadar dan tergerak hatinya untuk bergabung dengan KSS.

Tidak hanya Kalimajari saja yang berharap kepada KSS. Namun, Dinas Koperasi selaku pembina dari pihak pemerintah berharap bahwa koperasi ini dapat membentuk lembaga yang profesional. Serta menunjuk pengelola KSS yang profesional dan juga bertanggung jawab.

Harapan kali ini bukan dari dinas maupun yayasan. Harapan kali ini berasal dari seorang anak SMK kelas XI yang begitu menyukai cokelat dan terinspirasi dari kisahnya. Siapa dia? Dia adalah saya. He.he.he..

Saya Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum, salah satu peserta yang banyak bertanya dan kadang suka bikin rusuh dan cerewet ini, berharap bahwa program di KSS berjalan semua khususnya program beasiswa yang sedang saya ikuti. Saya ingin lebih banyak lagi generasi milenial yang tahu keberadaan koperasi yang bisa membantu keluarga.

Ada juga pesan dari Pak Wayan Rata. Beliau merupakan seorang petani kakao yang sangat menginspirasi saya. Pesannya ini singkat, padat, namun sangat bermakna. Pesannya, kunci sukses hanya ada 3, yaitu tekun, sabar, dan kreatif. [b]

The post Kakao Fermentasi pun Terbang Tinggi Hingga Luar Negeri appeared first on BaleBengong.

Koperasi KSS Pembangkit Kakao di Bumi Makepung

Penandatanganan MoU antara petani kakao dengan pembeli.

Oleh Ni Komang Bintang Kosiki

Petani Jembrana mampu membuktikan mereka bisa sejahtera bersama koperasi.

Masyarakat zaman sekarang lebih memilih bekerja di perusahaan atau toko dibandingkan menjadi petani. Sebagian besar masyarakat memandang seorang petani sebagai pekerjaan rendah dan berpenghasilan kecil.

Eitsssss.. Jangan salah dulu. Justru jasa petani itu sangat besar dan tidak semua petani itu miskin.

Contohnya saja I Wayan Rata, yang sering disebut Pak Rata, petani di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Beliau memiliki kebun kakao sendiri yang ia kelola bersama menantu dan cucunya. Dan, ternyata, cucunya yang bernama Desita juga mengikuti seleksi Anugrah Jurnalistik Siswa (AJS) yang sedang saya ikuti saat ini bersama 9 peserta lain.

Kami bersepuluh mengumpulkan informasi tentang Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dan kakao Jembrana. Sepuluh peserta itu terdiri dari saya sendiri, I Putu Angga Ardi Wilyandika, Ni Made Gladis Desyani, Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum, Pajar Rizkian, I Made Dwi Mertha Mahendra, Dewa Ayu Komang Tri Aprilliani, Ni Putu Ayu Rischa Sasmita Yanti, Luh Komang Desita Anggreni, dan Ni Putu Wulan Prima Dewi. Kami berasal dari berbagai sekolah SMA/SMK di kabupaten Jembrana.

Kami dibagi menjadi lima kelompok dengan masing-masing tema berbeda. Saya sendiri mendapat tema manajemen koperasi bersama dengan Retno dari SMKN 4 Negara. Cerita yang membuat saya agak kesal sekaligus tertawa yaitu di mana saat saya dan Retno akan melakukan wawancara, kami membuat janji akan bertemu di Taman Pecangakan, Negara.

Tetapi, saya tidak menemukan Retno di manapun. Sudah keliling saya mencarinya. Saat saya telepon, HP Retno tidak aktif. Saya menelpon hingga belasan kali, tapi tetap tak dijawab. Saya pun mulai panik. Akhirnya saat saya mencoba menelpon Retno ke sekian kalinya. Syukurlah telepon saya dijawab. Ternyata, Retno dari tadi berada di patung kuda tepatnya di barat taman.

Saat saya dan Retno hendak wawancara ke Dinas Koperasi, ternyata beliau yang bersangkutan sedang ada acara di luar. Huhhhh… Sudah panik mencari Retno ditambah lagi kepala dinasnya tidak ada saat kami cari. Saya sedikit kesal. Kami pun menjadwal ulang untuk mewawancarai Dinas Koperasi, nasib saya memang tak beruntung kala itu. Saya malah ditinggal Retno. Padahal saya sudah menunggu Retno cukup lama di Taman Pecangakan. Pada jadwal selanjutnya akhirnya kami dapat mewawancarai Dinas Koperasi bersama-sama.

Lanjut lagi mengenai Pak Rata. Dengan luas kebun seluas 75 are di kebun Pak Rata terdapat 5 klon kakao antara lain panter, MCC 01, MCC 02, BLB, dan RTNJ 01. Menurut Pak Rata, budidaya tanaman kakao sama seperti mengurus anak, harus dengan kesabaran ekstra. Dalam mengurus pohonnya pun hal lain harus diperhatikan. Misalnya dalam pemangkasan, ada beberapa cabang harus dipangkas antara lain cabang mati, cabang air, cabang gantung, cabang selingkuh, cabang tumpuk, dan cabang balik.

Dulunya Pak Rata tidak tahu menahu mengenai kakao sampai akhirnya ia bertemu dan bekerja sama dengan Koperasi KSS. Koperasi ini bertujuan untuk menyejahterakan dan memberi harga pantas bagi para petani. Dengan demikian jasa petani mulai dipandang dan dihargai di masyarakat. Koperasi KSS menerapkan teknik fermentasi dalam pengolahannya sehingga menghasilkan biji kakao berkualitas baik.

Selain itu proses fermentasi ini juga menghasilkan aroma-aroma yang khas. Salah satunya aroma madu yang berhasil menarik hati perusahaan cokelat ternama di dunia maupun lokal. Bisa dibilang bahwa proses fermentasi ini menjadi kunci rasa dari coklat.

Sebuah Ide

Fermentasi merupakan teknik pengolahan makanan dari bahan pokok menjadi makanan siap saji dengan menggunakan mikroorganisme tertentu. Pengertian lain menyebutkan bahwa fermentasi merupakan proses produksi energi dalam sel pada suatu keadaan anaerobik (tanpa menggunakan oksigen) atau pembebasan energi tanpa adanya oksigen. Fermentasi dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroba pada substrat organik.

Fermentasi dilakukan dengan meletakkan biji-biji kakao ke dalam kotak kayu yang sudah dilubangi bawahnya. Ingat, dalam melakukan fermentasi sebaiknya menggunakan biji kakao yang segar agar menghasilkan hasil terbaik dan mengurangi kegagalan saat proses fermentasi. Lubang pada bagian bawah kotak kayu memiliki fungsi sebagai jalan keluar masuknya oksigen, karbondioksida, dan air yang dihasilkan dari proses fermentasi.

Selanjutnya tumpukan biji kakao di dalam kotak bisa ditutup menggunakan karung goni, daun pisang, atau penutup lain. Selama fermentasi berlangsung, biji kakao diaduk atau dibalik setiap 1-2 hari sekali agar panas yang dihasilkan dari biji kakao fermentasi dapat merata.

Manfaat proses fermentasi ini antara lain memperkaya atau memperkuat rasa, aroma, dan komposisi makanan atau biji kakao. Dia juga bisa memperkaya nutrisi makanan, menghilangkan senyawa anti nutrien, dan meningkatkan nilai gizi. Makanan, minuman, atau olahan lain hasil fermentasi dapat meningkatkan kesehatan karena mengandung probiotik.

Dalam mengolah biji kakao pun tidak boleh asal-asalan. Contohnya dalam proses membelah buah kakao. Membelah buah kakao tidak boleh menggunakan pisau, parang, besi, atau benda tajam lain yang dapat melukai biji kakao. Disarankan menggunakan kayu karena tidak akan menyebabkan luka pada biji. Mengapa biji tidak boleh terluka? Karena dalam proses pengolahannya nanti, biji kakao yang terbelah atau luka akan ditumbuhi jamur di dalamnya. Tentu saja hal itu akan mempengaruhi proses produksi.

Biji kakao fermentasi hasil petani Jembrana ini telah mendapat tiga sertifikat yaitu UTZ, EU, dan Organic USDA. Hal ini yang memungkinkan untuk mengumpulkan 38 subak abian atau subak di lahan kering sehingga menjalin kerja sama dengan koperasi KSS. Sertifikat UTZ merupakan sebuah standar yang dikembangkan organisasi dengan kantor pusat di Belanda. Sertifikat EU yaitu sertifikat yang bisa diperoleh apabila produk yang dihasilkan berkualitas baik.

Adapun sertifikat Organic USDA diperoleh melalui proses berkelanjutan yang memerlukan dedikasi. Standar program organik internasional ini menyatakan bahwa tanaman organik harus ditanam di lahan bebas pestisida, herbisida, pupuk sintetis, dan bahan kimia lain yang penggunaannya tidak diperkenankan selama tiga tahun pertumbuhan.

Semua proses itu bisa dilakukan Koperasi KSS berkat dukungan Yayasan Kalimajari, organisasi di Denpasar yang mendampingi petani-petani kecil. Merekalah yang membantu KSS bisa mendapatkan tiga sertifikat tersebut.

Ketika berbicara soal koperasi, proses penguatan tidak hanya pada petani, tetapi juga pada tingkat koperasi. Bagusnya lagi, pemegang sertifikat di Koperasi KSS adalah koperasi itu sendiri, bukan pembeli. Lain halnya dengan di Sulawesi pemegang sertifikatnya yaitu pembeli. Jadi seluruh biaya dan segala macam akan ditanggung oleh pembeli. Namun, koperasi dan petani tidak boleh menjual biji ke manapun. Artinya koperasi dan petaninya tidak independen.

Lain halnya dengan koperasi KSS Jembrana yang sertifikatnya dipegang langsung Koperasi KSS. Jadi koperasi punya posisi tawar kuat serta bisa menjual biji kakaonya ke mana saja. Dengan catatan proses komunikasinya baik dan koperasi tidak selalu menuntut harga yang tinggi tetapi harga yang segnifikan yaitu harga yang pantas untuk perjuangan para petani. Oleh karena itu mengapa koperasi menjadi sesuatu yang sangat penting.

Pengurus koperasi KSS terdiri dari ketua I Ketut wiadnyana, sekertaris I Wayan Diana, sekretaris I Nengah Kardika, serta pengurus-pengurus lain yang membidangi bidangnya masing-masing.

Kepercayaan yang Hilang

Sebelum terkenal seperti sekarang, Koperasi KSS dulunya banyak menemukan kendala. Contohnya, bagaimana mengembalikan kepercayaan petani kepada koperasi KSS? Mengapa petani tidak percaya pada koperasi KSS ?

Koperasi KSS ini pertama kali beroperasi pada tahun 2006. Pada saat itu pengurus koperasi tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya. Dari situlah masyarakat mulai tak mempercayai koperasi tersebut sehingga ditutup. Akhirnya beroperasi kembali pada tahun 2011 dengan pengurus koperasi dan nama baru, tetapi dengan tempat atau bangunan sama.

Dari situlah tantangan terbesar dimulai. Masyarakat masih tidak percaya pada koperasi tersebut. Butuh kesabaran besar dan proses lumayan panjang untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terutama para petani. Salah satu cara koperasi KSS meyakinkan masyarakat dan petani yaitu dengan cara mensosialisasikan kepada mereka tentang koperasi baru. Pada akhirnya para petani mulai percaya kembali pada koperasi KSS.

Dalam proses ini koperasi KSS juga dibantu Yayasan Kalimajari untuk bangkit dari keterpurukan dan membimbing koperasi KSS agar lebih mandiri ke depanya. Saat ini koperasi KSS memiliki sekitar 609 petani dan juga terdiri dari 38 subak Abian.

Direktur Yayasan Kalimajari I Gusti Agung Ayu Widiastuti, yang kerap disapa Bu Agung, mempunyai peran penting dalam proses membangkitkan koperasi KSS menjadi lebih baik. Mengapa Bu Agung tertarik bekerja sama dengan koperasi KSS? Bu Agung mengaku tertarik menjalin kerja sama dengan KSS karena koperasi inilah satu-satunya koperasi kakao di Bali yang konsentrasinya pada komunitas.

“Koperasi itu harus ada sebagai wadah untuk menyatukan petani. Kalian tahu sendiri, dulunya petani di Jembrana hampir semua bekerja secara individual. Tidak ada yang mau berkolaborasi,” tutur Bu Agung saat kami wawancarai.

Menurut Bu Agung, penguatan tidak hanya dilakukan pada budidaya, tetapi juga di tingkat kelembagaan. Maka dari itulah harus ada sebuah lembaga yang kuat dan solid. “Ketika sebuah bisnis harus berjalan, pilihannya cuma dua, apakah dalam bentuk koperasi atau private sector. Kalau dalam bentuk private sector, seperti PT atau CV, itu gak mungkin karena itu harus ada penyertaan modal. Modalnya cukup gede dan petani tidak punya itu. Akhirnya kita pilih bahwa koperasilah satu-satunya keputusan yang paling tepat ketika berbicara wadah untuk komunitas,” lanjut Bu Agung kembali.

Dahulunya koperasi KSS seperti tidak memiliki jiwa. Ada beberapa tantangan terbesar koperasi KSS saat baru beroperasi. Misalnya bagaimana cara mengembalikan kepercayaan masyarakat dan petani pada koperasi KSS. Bagaimana mengajak Subak Abian dan petani mau kembali mempercayai KSS dan mulai memikirkan fermentasi. Tantangan lainnya, mengubah pola pikir petani dari yang tidak ingin berubah menjadi ingin berubah serta meyakinkan petani bahwa biji fermentasi itu ada pasarnya.

Bu Agung mengaku terinspirasi dari semangat para petani yang ingin maju dan ingin bangkit selain juga karena tanggung jawab moral. “Ada harapan bahwa nantinya petani menjadikan kakao sebagai tabungan masa depan. Problem petani hanya satu, bagaimana mereka dihargai dengan sesuatu yang pantas dalam bentuk harga. Dan jawabannya hanya satu yaitu lewat fermentasi,” kata Bu Agung.

Dia melanjutkan melalui fermentasi dengan selisih harga yang cukup tinggi antara kakao fermentasi dengan yang non-fermentasi, petani juga bisa mengembalikan hak kebun yang telah mereka ambil. Artinya jangan hanya mengambil, tetapi juga mengembalikan apa yang sudah kita ambil. Kembalikan sekian persen dalam bentuk pupuk atau apa saja yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas kebun.

Kesulitan dan Tantangan

Saat kami ingin mewawancarai Pak Ketut Wiadnyana selaku ketua koperasi KSS, ternyata Pak Ketut sedang ada upacara agama, jadi kami memutuskan untuk mewawancarai Wayan Diana, yang akrab dipanggil Kak Andi. Kak Andi merupakan salah satu anggota pengurus KSS yang senang berbisnis. Die mengenal Koperasi KSS setelah diperkenalkan oleh orangtuanya. Sejak Maret 2018 dia menjadi anggota. Karena aktif dalam organisasi, Kak Andi pun diangkat menjadi pengurus koperasi.

Sumber modal Koperasi KSS awalnya sebanyak Rp 4.970.300.00. Kemudian ada modalnya dari bank BRI sebanyak Rp 500 juta dan dari bank BPD Rp 260 juta. Ada pula bantuan dari Dinas Koperasi Rp 300 juta. Menurut Kepala Bidang Koperasi I Puti Eka Artha, pemerintah memberikan talangan pada tahun 2017 dan 2018 masing-masing sebanyak Rp 200 juta dan Rp 300 juta pada tahun ini. Semua sumber modal KSS merupakan pinjaman yang harus di ganti suatu saat.

Putu Eka Artha mengatakan pemerintah akan terus melakukan pembinaan dan monitoring. Pak Putu berharap dari segi kelembagaan, nantinya koperasi KSS ini bisa lebih profesional. Dari segi pengurus, ia berharap nantinya pengurus Koperasi KSS bisa lebih baik.

Setiap minimal setahun sekali koperasi KSS bersama para petani dan perwakilan di masing-masing subak Abian akan melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Rapat ini membahas perkembangan, pemasukan, pengeluaran, keuntungan serta membahas segala sesuatu yang menyangkut koperasi KSS dan kakao.

Ada tiga prinsip operasi KSS yaitu transparansi, keberlanjutan, dan tracebility atau keterlacakan. Prinsip transparansi merupakan laporan seperti contohnya mengadakan RAT. Prinsip keberlanjutan mengenai bagaimana keterlibatan anak muda dalam perkembangan kakao atau pertanian. Prinsip tracebility membahas tentang data.

Buyer KSS saat ini berjumlah 20 terdiri dari lokal dan ekspor. Salah satunya perusahaan cokelat ternama di dunia, Valrhona dari Prancis. Cokelat Valrhona ini merupakan coklat terbaik dunia. Kakao yang dipilih dalam pengolahannya pun tidak sembarangan.

Dalam menjalin kerja sama dengan pembeli, koperasi KSS tidak sembarang pilih. Koperasi KSS mempunyai kriteria pembeli yang harus dipenuhi. Banyak pembeli yang ditolak karena dianggap tidak sportif. Kriteria lainnya, pembeli juga harus peduli dengan nasib petani.

Dalam pemasaran, jasa Bu Agung cukup besar. Dialah yang berusaha mencari pembeli agar mau bekerja sama hingga akhirnya berita tentang kakao fermentasi Jembrana ini terdengar sampai di perusahaan cokelat ternama dunia yaitu Valrhona. Karena kakao fermentasi Jembrana ini sudah menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan coklat terbaik dunia, maka tidak heran perusahaan cokelat ekspor maupun lokal yang lain mulai melirik kakao fermentasi Jembrana.

Salah satu pembeli lokal KSS yang kami wawancarai adalah I Wayan Alit Arthawiguna. Bapak yang sering disapa dengan Pak Alit ini merupakan pemilik perusahaan cokelat di daerah Tabanan. Dulu, perusahaannya bernama PT Agri Wisata Jaya Kencana lalu berganti nama menjadi PT Cau Chocolate pada tahun 2017.

Menurut saya, Pak Alit ini dapat memanfaatkan lingkungan dengan baik. Contohnya, Pak Alit tidak hanya melihat pada aspek produksi, tetapi juga melihat potensi lain dari kebun dan pabriknya. Dia pun mengembangkan agrowisata berbasis kakao yaitu Chocolate Tour dan Subak Tour. Selain itu Pak Alit juga melakukan penelitian atau riset kecil terhadap kulit kakao. Selain sebagai pakan ternak, ternyata kulit kakao bisa juga diseduh layaknya teh. Kulit biji kakao banyak digunakan untuk pupuk dan ternyata bisa juga digunakan sebagai bahan scrub.

Menakjubkan bukan?

Kini perusahaan coklat milik Pak Alit diurus oleh Kadek Surya Prasetya Wiguna, salah satu anaknya. Pak Alit menuturkan awal mula kerja samanya dengan Koperasi KSS. Saat bertemu dengan pihak KSS awalnya mereka berbincang mengenai kakao kemudian terjalinlah kerja sama antara KSS dengan PT Cau Chocolate. Menurut Pak Alit, Cau Chocolate memiliki misi untuk produksi (temoat menghasilkan cokelat), edukasi (tempat belajar tentang kakao dan cokelat), serta destinasi (sebagai tempat tujuanwisata). Rencananya juga akan dibuka koperasi kakao di Tabanan bernama Masako.

Kendali Mutu

Mengecek kualitas dan mengecek semua alur di koperasi, mulai dari masuknya biji hingga keluar, merupakan tugas seorang petugas kendali mutu (quality control). Posisi ini ditempati oleh I Puti Dian Pratama yang akrab dipanggil Kak Pepeng. Kak Pepeng ini sudah bergabung di KSS mulai dari Agustus 2017. Saat bergabung di KSS dia tidak tahu menahu mengenai kakao.

Menurut penuturan Kak Pepeng, syarat biji kakao yang bisa masuk koperasi KSS yaitu biji yang sudah melalui proses fermentasi. Jika tidak difermentasi, Koperasi KSS tidak akan menerima biji tersebut. Di Koperasi KSS biji kakao yang dijemur sembarangan dan tanpa proses fermentasi biasanya disebut dengan biji preman.

Ada dua sistem dalam pengambilan atau penerimaan biji. Pertama sistem pengambilan biji basah. Dalam sistem ini biasanya dilihat dari bijinya apakah bijinya masih fresh (segar) ataukah sudah lebih dari dua hari. Biasanya akan terlihat dari warna. Biji yang tidak fresh biasanya akan berwarna cokelat sedangkan biji yang baik akan berwarna putih.

Biasanya ada juga biji yang terserang penyakit penggerek buah kakao (PBK). Ciri-ciri bijinya dempet (double). Jika bagus, biji tersebut akan berbentuk butiran. Untuk harga plafon (harga maksimal) dari biji basah ini biasanya diambil Rp 12.000. Jika organik sedang jika biji RA (biji yang tercampur kimia) dihargai dengan harga Rp 11.000.

Kedua, sistem pengambilan biji biji kering yang sudah difermentasi. Biji fermentasi yang berhasil akan berwarna cokelat dan di dalamnya berongga. Sedangkan biji yang tidak difermentasi akan berwarna ungu. Untuk masalah harga sendiri biji kering fermentasi yang organik biasanya dihargai dengan harga Rp 38.000 sedangkan biji fermentasi yang RA dihargai dengan harga Rp 36.000. Keputusan tentang harga tidak hanya ada di tangan pengurus koperasi, tetapi juga anggota. Biasanya akan dibahas bersama dengan anggota, baik petani maupun subak abian.

Mengapa harga biji organik lebih tinggi dibandingkan dengan harga biji RA atau bahan kimia? Karena biji organik lebih sehat. Ini dikarenakan dalam budidayanya menggunakan bahan-bahan organik yang sudah pasti bebas dari bahan kimia. Adapun harga biji RA lebih rendah dikarenakan dalam budidayanya menggunakan bahan kimia sehingga dinilai kurang sehat.

Pengecekan biji organik sangatlah ketat hingga laboratorium. Bahkan dari pupuknya pun harus organik sehingga biasanya petani membeli pupuk di SIMANTRI. Untuk memastikan biji kakao tersebut organik sampai-sampai tanah, pupuk buah dan daunya diambil untuk diteliti. Untuk biji yang kecil, kempes, luka, terkena penyakit dan lain sebagainya tidak akan diterima di koperasi KSS.

“Kita sudah nggak menerima biji yang non fermentasi,” tutur Kak Pepeng saat berbincang dengan kami. Jika biji kakao fresh maka keberhasilan dalam fermentasi akan semakin besar.

Dalam penerimaan biji kakao dari Subak Abian yang pertama dilakukan adalah mengecek kadar airnya. Jika kadar airnya tinggi kemungkinan besar biji kakao tersebut akan ditumbuhi jamur. Biasanya para petani dari Subak Abian akan memasok biji kakao mereka karena biaya transportasi. Jika mereka sering mengirim hasil panen, biaya transportasi juga akan sering dikeluarkan. Maka dari itu petani menstok biji kakao mereka.

Namun, biasanya ada saja petani yang tidak menjemur biji kakaonya kembali sehingga adar air pada biji naik sedikit demi sedikit. Apalagi jika dalam penyimpannya tidak menggunakan alas. Hal ini akan membuat kadar air meningkat dan hal itu menyebabkan tumbuhnya jamur pada biji. Para pembeli biasanya akan komplain jika terdapat jamur di dalam biji kakao.

Sebuah Proses

Ada beberapa tahap atau proses pengecekan biji kakao hingga dikirim kepada pembeli. Pertama saat barang masuk. Barang terlebih dahulu dicek berat dan kadar airnya, kemudian biji kakao yang sudah dicek diberi label asal biji pada setiap karung. Apabila ada indikasi jamur dalam atau terkena serangan serangga, maka barang tersebut akan dikembalikan langsung dan diberi pemahaman kembali pada petani atau Subak Abian yang menjual biji tersebut.

Kedua merupakan proses sortasi. Sortasi ini bertujuan untuk menyamakan kualitas dan menghilangkan biji-biji yang rusak, pipih, terlalu kecil, dempet (menyatu), dan terbebas dari benda asing dalam artian non biji kakao. Isi label kembali asal biji dan tanggal barang masuk agar mempermudah dalam pengecekan dan penelusuran barang. Jika sudah tersortasi akan dimasukan ke gudang.

Ketiga yaitu proses pengiriman. Setiap karung yang akan di kirim akan di cek kembali kadar airnya, maksimal 6,5 persen. Pastikan asal biji jelas, barangnya dari Subak Abian mana agar mudah menelusuri. Kemudian timbang berat per karung. Tahap terakhir yaitu packing kembali dengan karung baru dan dijarit (dijahit) rapi serta setiap karungnya diberi label tanggal pengemasan dan nomer karung.

Melalui semua proses tersebut, anggota Koperasi KSS bisa menjamin kualitas kakaonya dan mendapatkan kepercayaan dari pembeli. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan bagian dari Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Koperasi KSS Pembangkit Kakao di Bumi Makepung appeared first on BaleBengong.

Kecantikan Bukan sebagai Standar Kesuksesan Perempuan

Pekerja perempuan di Koperasi Kerta Samaya Samaniya Jembrana memilah kakao hasil fermentasi. Foto Anton Muhajir.

Oleh Gladis Desyani Putri

“Kopi cokelat” begitu kerap saya menyebutnya ketika masih belia.

Tidak pernah terpikirkan bahwa buah berbentuk oval dan dominan berwarna hijau ini ternyata memiliki segudang manfaat dan peran. Siapa yang tidak mengenal cokelat? Remaja Indonesia tentu sangat menyukai olahan pabrik satu ini. Bukan hanya manis, tetapi juga lezat. Buah ini juga telah diteliti mampu melepaskan hormon endorfin ke otak sehingga memicu perasaan bahagia pada konsumenya.

Kabupaten Jembrana merupakan salah satu penghasil buah kakao di Bali. Sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Bali, Jembrana bukanlah tempat ramai atau sarat dengan kemacetan. Kabupaten ini lebih terasa sunyi dan tenang. Seolah semua penduduknya bergerak perlahan.

Namun, kini Jembrana tidak akan lagi dipandang sebelah mata karena buah kakao.

Buah yang disebut “makanan para dewa” (the food of the gods) ini dikenal sebagai bahan pembuat makanan seperti bubuk cokelat yang dipakai dalam pembuatan kue, dan permen cokelat. Carolus Linnaeus, ahli botani dari Swedia, memberikan nama Latin “Theobroma cacao” untuk tanaman kakao pada 1735. “Theobroma” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “makanan para dewa” sedangkan “cacao” adalah bahasa Maya yang merujuk pada tanaman kakao.

Linnaeus menggunakan nama ini karena pengaruh literatur Bangsa Spanyol yang menceritakan mengenai bangsa Maya dan Aztek. Mereka mengasosiasikan kakao dengan para dewa dan sering menggunakannya dalam ritual keagamaan. Meskipun berasal dari dataran Amerika, kakao kini ditanam di kawasan tropis, termasuk Indonesia. Kakao telah dibudidayakan secara luas di Indonesia sejak tahun 1970. Kakao menjadi salah satu andalan ekspor non migas milik Indonesia (Wardani, 1988).

Menurut Morganelli (2006) cokelat merupakan hasil olahan biji kakao (Theobroma cacao) yang tumbuh pertama kali di hutan hujan di Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Sejarah mengenai cokelat dimulai dari ditemukanya cokelat oleh Bangsa Olmek di Amerika Selatan tiga ribu tahun lalu. Bertahun-tahun setelah bangsa Olmek punah, cokelat pun masih dinikmati Bangsa Maya yang menghuni Amerika Selatan. Olahan dari tanaman kakao ini, secara historis berasal dari Amerika dan disebarkan ke wilayah Indonesia akibat pengaruh Spanyol pada tahun 1560 tepatnya di Minahasa.

Setelah membaca dari beberapa literatur, saya menyimpulkan bahwa tingkah petani yang hanya kenal instan dan sukar menerima perubahan menyebabkan kualitas kakao di Indonesia tidak pernah meningkat. Hingga saat ini, Indonesia menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana di Afrika Barat.

Namun, sayangnya, kualitas kakao Indonesia masih rendah di pasar internasional. Kakao Indonesia didominasi oleh biji-biji tanpa fermentasi, biji dengan kadar kotoran tinggi serta terkontaminasi serangga, jamur dan mikotoksin (Wahyudi, et al., 2007).

Untuk menghasilkan produk cokelat berkualitas, diperlukan sebuah perhatian khusus terutama dalam tahap fermentasi. Fermentasi merupakan inti dari proses pengolahan biji kakao. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp (daging buah) dan mematikan biji, tapi juga memperbaiki dan membentuk cita rasa cokelat yang enak serta mengurangi rasa sepat dan pahit.

Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Savitri, kurangnya perhatian para petani pada proses fermentasi inilah yang menyebabkan produksi biji kakao Indonesia kalah dengan produksi Pantai Gading, Ghana, dan Nigeria. Bahkan, di Jepang, biji coklat dari Indonesia hanya untuk makanan ternak karena kualitasnya rendah.

Dewi dalam Keluarga

Bali telah banyak dikenal hingga kancah internasional sebagai daerah pariwisata. Kultur budaya dan keindahan alamnya menarik turis domestik dan mancanegara untuk bertandang ke Bali. Namun, kini Bali juga memiliki potensi lain yang tak kalah menarik, kakao fermentasi dari Jembrana. Kabupaten di ujung barat Bali ini telah mengirim 11 ton kakao fermentasi dengan tujuan 5 ton ke Perancis, 2 ton ke Jepang, dan 4 ton. Semuanya adalah simbol keberhasilan usaha petani anggota Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

Petani kakao yang tidak mengenal lelah dan terus memupuk semangat untuk lebih baik adalah kunci sukses utama keberhasilan Jembrana. Mendengar kata “petani”, masyarakat mungkin akan cenderung terbayang dengan kehidupan penuh peluh, kotor, dan tentu saja seorang laki-laki dengan cangkul sebagai senjata utamanya. Namun, di era globalisasi yang sudah mengakui emansipasi wanita, peran petani tidak hanya diambil laki-laki.

Ungkapan perempuan sebagai dewi dalam keluarga mungkin cocok dikenakan pada kaum hawa di seluruh dunia. Standar yang sedari dulu dipergunakan oleh perempuan hanya tentang kecantikan dan ketrampilan dalam mengurus suami beserta anak. Namun, tidakkah perlu untuk memberikan kesempatan lebih bagi kaum hawa untuk merentangkan sayapnya? Terutama wanita yang gemar bertani.

Menjadi petani tidak hanya tentang mencangkul di sawah atau pulang dengan baju lusuh dan kotor. Seorang petani juga memiliki harkat dan martabat sendiri. Tidak dipungkiri bahwa seorang petani merupakan seorang pengusaha bertamengkan kebun dan lahan.

Seorang petani kakao dituntut untuk tekun dan sabar. Perempuan sebagai insan yang lembut tentu saja memiliki kemampuan jika diberikan kesempatan untuk menekuni bidang ini. Bukan karena keterpaksaan, tetapi dari hati nurani murni ingin mandiri. Seperti dilansir dari sumber-sumber di Internet, diskriminasi gender masih kerap terjadi. Misalnya dalam hal perbedaan penentuan tugas karena jenis kelamin, bukan berdasarkan kompetensi dan kemampuan. Adapun kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban.

Menjadi petani tidak mesti tampak lusuh, tapi tidak juga takut kotor. Sebuah kerja keras tidak bisa didapat jika setengah-setengah. Karena itu, perempuan belia seperti saya ini supaya jangan takut mencoba hal baru. Para petani kakao Jembrana telah membuktikanya. Kerja keras dan kuatnya pemberdayaan perempuan sehingga timbul hubungan kerja sama yang timbal balik, membuahkan hasil hingga ke kancah dunia.

Pahlawan Agronomi

Secara khusus saya sempat berbincang dengan salah satu petani wanita yang sudah terjun ke bidang ini sejak ia menikah. “Pernah belajar akuntansi pada salah satu universitas di Jakarta, eh, tidak disangka malah menjadi petani kakao untuk membantu suami,” ungkap Ni Made Budi Ayu Anggreni saat kami datangi di kediamanya.

Beliau menceritakan pengalaman pertamanya saat menginjakkan kaki di kebun. Sedari kecil ia hanya fokus pada pendidikan dan sesekali membantu keluarga berdagang. Sama sekali tidak pernah beroikir akan menjadi seorang petani seperti sekarang membuat Kadek Ayu, begitu kerap ia disapa, tidak memiliki pengalaman dan gambaran pasti mengenai dunia pertanian.

Pengalaman menggelikan pun tidak luput ia rasakan ketika pertama kali berada di kebun suami yang diwariskan turun temurun tersebut. Salah satunya saat salah mengira biji nangka sebagai biji kakao. Kedua biji ini memang agak mirip hanya saja memiliki perbedaan dari segi ukuran. Biji nangka lebih besar daripada biji kakao.

“Suami saya sampai tertawa, padahal sudah dapat satu ember,” ucap Kadek Ayu sambil tertawa geli mengingat kejadian itu. Memulai sesuatu dari dasar ketika sudah menikah begini merupakan sesuatu yang unik dan menantang untuk Kadek Ayu. Dia menerangkan, awal mula niatnya hanya untuk membantu suami karena mertua tidak di rumah dan dia sendirian. Bahkan ketika telah dikaruniai seorang putri yang cantik jelita, Kadek Ayu tidak vakum dari kegiatanya bertani kakao.

Kadek Ayu menuturkan dengan senyum semringah mengingat momen pertama ia mengajak kedua putrinya ke kebun. Keduanya tampak senang dan tidak lupa pula ikut membantu. Kedua malaikatnya itu akan mengumpulkan biji kakao kemudian dibawa pulang dan dijemurnya. Setelah itu mereka sepakat menjual biji tersebut kepada guru di sekolah mereka yang juga kebetulan pedagang biji kakao.

Uang hasil penjualan ditabung di bank. Inginnya digunakan untuk keperluan masa depan. Kadek Ayu dan suami telah mengajarkan buah hatinya untuk hidup mandiri dan mencintai pekerjaan kedua orang tuanya.

Kadek Ayu tersenyum sendu sambil menatap kami. “Saya nggak mau mereka merasa malu dan terintimidasi oleh ejekan dari teman-temanya karena kami hanyalah petani kakao. Saya dan suami ingin menanamkan pada mereka bahwa petani kakao juga pahlawan, tapi di ladang,” ujarnya.

Ajaran itu pun tidak sia-sia karena kedua putri mereka kini telah sukses dengan jalan masing-masing. Kini tinggal si bungsu yang masih duduk di sekolah menengah pertama.

Seorang ibu, istri, sekaligus petani wanita yang mengurus kebun bukanlah pekerjaan yang dibilang mudah. Bangun di pagi hari, menyiapkan sarapan untuk anak-anak sekolah. Lalu siangnya berangkat ke kebun hingga sore menjelang. Belum lagi mengurus pekerjaan rumah seperti bersih-bersih, mencuci, dan memasak merupakan tanggung jawab besar bagi Kadek Ayu. Beliau tidak ingin hal tersebut menghalangi jalanya untuk tetap bertani kakao.

Ibu beranak tiga itu yakin jika sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesabaran, sesulit apapun itu pasti akan diberikan jalan oleh-Nya. Benar saja, masa-masa penuh tantangan ketika harus mengurus si kecil di rumah dan bertani kakao berhasil Kadek Ayu lewati dengan lancar.

“Dulu saya ini juga termasuk perempuan manja di masa muda. Suka belanja, berpenampilan cantik. Ah, pokoknya yang kayak gitu! Tapi sekarang saya sadar bahwa itu semua bukan segalanya,” tuturnya. Lagi-lagi dengan senyum khas di wajahnya.

Kadek Ayu menyayangkan pendidikanya yang tidak bisa lancar hingga usai dikarenakan sakit. Namun, kini ia tidak lagi menyesal karena menyadari bahwa inilah jalan yang ditunjukkan Tuhan. Memiliki suami, tiga anak yang jelita, dan menjadi petani wanita kakao yang berperan dalam memajukan kakao Jembrana merupakan jawaban Tuhan atas hal-hal malang yang menimpanya dahulu. Ia sangat bersyukur.

Wanita berumur 45 tahun ini merasa tidak terbebani dengan profesinya sebagai petani. Malahan merasa sangat menikmatinya. Menurut Kadek Ayu, petani meskipun lusuh-lusuh begitu sebenarnya juga berjasa dalam menghasilkan bahan pangan. Penghasilannya pun tidak kalah dengan pekerjaan orang elite jika musim panen tiba.

Intinya adalah tentang kesabaran dan tekun. Apalagi saat serangan hama beberapa tahun silam. Kala itu keadaan sungguh kacau. Kadek dan suami kebingungan, padahal sudah mencari di berbagai sumber, tidak juga membuahkan hasil. Hingga akhirnya kedua pasangan petani ini mengenal sistem sambung pucuk, samping, dan batang. Keadaan pun kembali pulih.

Lagi-lagi bicara soal takdir. Tidak lama setelah itu, tepatnya akhir 2015, mereka dipertemukan dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dan Yayasan Kalimajari. Mulai dari sini kerja sama dan kerja keras kedua belah pihak digencarkan. Lika-liku akibat musim yang tidak stabil, serangan hama penggerek buah kakao (PBK), dan belum ditemukanya skill yang tepat dalam memfermentasi biji kakao pun dihadapi.

Sampai akhirnya kakao fermentasi Jembrana berhasil mendapatkan perhatian dunia. Sejumlah besar buah kakao hasil fermentasi dari Jembrana diekspor ke luar negeri dan berhasil menyabet sertifikat Cacao Excellent 2017, di Paris, Perancis.

Kabupaten Jembrana, khususnya di Koperasi KSS menjadi daerah pertama di Indonesia yang berhasil menyabet penghargaan kelas dunia dalam hal fermentasi kakao. Hal ini merupakan sesuatu yang membanggakan sekaligus mengharukan, mengingat segala dan serta pengorbanan sejumlah komponen koperasi yang terlibat dalam keberhasilan ini. Tidak luput juga peran petani kakao yang atas kerja kerasnya mampu menghasilkan biji berkualitas dan mempertahankan kebun yang terserang hama kala itu. Dalam konteks lebih khusus dari topik yang sedang saya bicarakan, petani wanita juga memegang andil penting.

Kala itu saya dan rekan saya mengunjungi Koperasi KSS. Kami bertemu dengan beberapa petani wanita yang bertugas di penyortiran biji. Semua petani tersebut sangat ramah dan menerima kehadiran kami dengan tangan terbuka. Ketika ditanya soal peran wanita dalam program kakao lestari, mereka memberikan jawaban sederhana namun membuat diri saya baru sadar akan potensi yang dimiliki wanita.

Salah satu petani wanita, Ibu Kerti, menuturkan bahwa penyortiran biji memerlukan kesabaran dan ketelitian. Seorang laki-laki mungkin bisa melakukanya juga, akan tetapi bakat wanita yang merupakan bawaanya dari lahir tentang keterampilan semacam itu tidak bisa diremehkan. Petani wanita ini secara khusus terjun di bidang pengolahan biji kakao sedangkan Ibu Kadek Ayu yang merawat pohon kakao di kebun. Keduanya sama-sama petani wanita kakao di Jembrana dengan peran yang berbeda namun untuk tujuan yang sama.

Kenapa Tidak?

Tingginya peran perempuan di Koperasi KSS, baik dari kebun maupun pengolahan, menunjukkan pentingnya kesetaraan gender dalam pertanian, termasuk kakao berkelanjutan di Jembrana. Petani laki-laki dan perempuan tidak boleh dibeda-bedakan haknya. Kepala Bidang Dinas Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Jembrana, Ni Ketut Arwati, S.Pd, menyatakan ketidaksetujuanya tentang perbedaan hak antara perempuan dan laki-laki pada beberapa aspek kehidupan. Salah satunya dalam memilih pekerjaan dan meneruskan kehidupan.

“Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan, sih. Adat purusa di Bali membuat ini susah,” pungkas ibu dua orang anak ini. Budaya yang telah masyarakat yakini sejak dahulu sungguh sulit untuk diubah, meski demi kebaikan dan merupakan bentuk dari proses penyesuaian terhadap globalisasi.

Bagaimanapun, salah merombak tradisi di masyarakat akan menimbulkan perpecahan dan konflik. Anggapan bahwa perempuan hanya bertugas melayani suami dan tidak diberi kesempatan bekerja serta memperluas pengetahuan, sampai saat ini masih saja tertanam dalam benak masyarakat. Mereka belum memahami situasi dunia yang tidak bisa kaku semacam itu.

Akan tetapi, suasana menjadi sedikit canggung setelah membicarakan adat dan nasib perempuan di masa lalu. Ibu Arwati tersenyum dan menatap kami, seolah tidak ingin membuat kami yang masih menempuh pendidikan ini ikut terseret arus. Melihat suasana telah kembali normal, akhirnya kami mulai pada bagian inti yaitu mengenai petani wanita kakao di Jembrana.

“Saya sih setuju-setuju saja dengan wanita yang bertani. Kenapa tidak? Kalau karena gengsi dan takut kotor, itu sih cuma kedok supaya bisa malas-malasan di rumah,” ujarnya sambil mengerling pada kami berdua. Melihat reaksi kami yang salah tingkah, beliau melanjutkan. “Maksud ibu, perempuan juga bisa. Srikandi bahkan bisa membunuh ksatria termasyur semacam Bhisma bukan? Saran saya, tidak perlu gengsi asalkan pekerjaanya positif,” ujarnya.

Banyak pengaduan yang pernah Ibu Arwati terima, tapi yang paling melankolis adalah kasus sepasang suami istri berseteru karena dimulai dari media sosial. Sambil menceritakanya, wanita umur 53 tahun itu menyuguhkan kami segelas air dan beberapa kali bertanya mengenai prospek kami ke depan. Pembicaraan dengan beliau sungguh ringan dan keibuan. Tidak lupa, di akhir percakapan kami Ibu Arwati kembali membuka suaranya.

“Kapan-kapan saya mau, deh, berkunjung ke kebun kakaonya. Siapa tahu tertarik bertani juga!” Kami berdua tersenyum mendapat respon menyenangkan tersebut.

Meninjau hal yang telah saya paparkan, menurut saya pemberdayaan perempuan perlu lebih digencarkan lagi dengan menyadari kelebihan yang dimiliki insan bernama wanita ini. Dengan memberikan kesempatan untuk berkembang. Tidak memandangnya sebelah mata seolah wanita hanya pelengkap dan tidak bisa berdikari. Saya rasa cukup dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Dari diri saya sendiri yang kebetulan juga merupakan seorang perempuan yang masih menuntut pendidikan, saya menyadari betapa pentingnya pendidikan dan kerja keras. Menekuni bidang yang diminati adalah sebuah pilihan tersendiri. Bila minat saya berada di pertanian kakao, mengapa tidak?

Sedangkan dari lingkungan sekitar saya rasa lebih banyak untuk melibatkan wanita dalam setiap program, khususnya dalam hal ini yaitu program kakao lestari. Bahwa potensi yang ada pada diri wanita tidak akan pernah mencuat jika tidak ada rasa saling menghargai dan membutuhkan. Seseorang akan memberikan hal lebih dari kemampuanya ketika merasa dihargai.

Harapannya, semoga peran perempuan dalam program kakao lestari dapat lebih diapresiasi lagi. Misalkan dengan tidak mencibir setiap langkah yang ia tempuh jika tidak merugikan siapapun. Karena sosok dewi ini pun dapat memimpin tanpa terus harus dipimpin. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan salah satu dari tiga karya terbaik dalam Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS)

The post Kecantikan Bukan sebagai Standar Kesuksesan Perempuan appeared first on BaleBengong.