Tag Archives: Klungkung

Segi Tiga Emas Sebuah Harapan Anak Pulau

Penari lintas generasi menarikan tari jangkang di Nusa Penida.

Ibarat seorang gadis desa yang memikat para lelaki.

Begitulah kemolekan sebuah pulau di sebelah tenggara Bali yang menyimpan “kemegahan” potensi. Memang pulau ini terlihat tandus tatkala musim kemarau. Sepanjang mata memandang dari laut, warna kecoklatan yang mencolok mata.

Namun, jika kita menelisik ke dalam, kemegahan alamnya tak bisa diragukan. Lukisan semesta sedemikian rupa membentang dari ujung barat dan timur. Salah satunya adalah tempat yang sekarang menjadi incaran para Instragammer untuk berswafoto dengan atar belakang kalaborasi laut, bukit dan karang.

Tempat tersebut adalah Angel Billabong, Pasih Uug, Crystalbay, Atuh serta tempat lainnya yang masih menunggu untuk dilirik. Penorama alam bawah laut lebih dulu dikenal, ikan mola-mola ikonnya di samping terumbu karang yang siap diajak bercengkrama.

Warga ramah menyambut siap saja yang datang menikmati sebuah keagungan lukisan alam. Rasa penasaran akan sebuah pulau kecil berkecamuk dan penasaran bagi penikmatnya silih berganti datang.

Metamorfosis pulau yang cadas dan keras ini mengubah tatanan hidup warganya. Alam membentuk manusia yang berdiam melakukan perubahan sesuai dengan kondisi saat ini, di mana pariwisata sekarang menggeliat ditanah Dukuh Jumpungan.

Guratan alam adalah pasarnya. Tatanan hidup sedikit ada kemajuan dalam hal ekonomi walaupun yang belum bisa menangkap peluang kue pariwisata tetap saja masih setia dengan profesinya baik petani ladang, buruh dan lainnya.

Kesiapan mental menjadi masalah prinsip di tengah pergolakan pariwisata yang sedang hangat. Kepribadian masalah pokok dalam hal memberikan yang terbaik dan melayani sepenuh hati untuk mereka yang datang.

Begitu banyak yang datang tidak merta mereka dengan hati yang lembut. Dinamika inilah bumbu kita menyikapi sebuah perkembangan pariwisata.

Setiap perkembangan selau berdampingan dengan dampak yang ditimbulkan. Tinggal sejauh mana kita menyimaknya. Perubahan mungkin saat masih belum terjadi dalam hal kepribadian anak pulau. Larut boleh, tetap sesuai tatanan sosial anak pulau yang penuh senyum.

Dampak lainya mungkin lebih jelas terlihat tatanan bukit atau lokal menyebutnya bataran mulai merasakan kecewa. Bataran yang rapi membentuk barisan benteng berundak diratakan disambut sebuah hunian. Warisan tersebut tetap berdiri dengan gagah di tengah kepungan hutan rumah. Itupun kalau bisa dikalaborasikan.

Segi Tiga Emas

Ketiga pulau yakni Nusa Lembongan, Ceningan dan Nusa Penida secara administrarif masuk wilayah Kabupaten Klungkung. Satunya kabupaten di Bali yang mempunyai daerah kepulauan dan satu kecamatan mewilayahi tiga pulau.

Pintu masuk menuju Nusa Penida tersebar di beberap titik. Inilah sumber permasalahannya nanti. Lambat laun, pergolakan pasti timbul baik dari segi kriminalisasi, kerusakan alam serta lainnya.

Pemerintah Kabupaten Klungkung sendiri sudah menyadari hal itu. Perencanaan pelabuhan segi tiga emas sebuah jawaban. Sesuai progres dua titik berada di Nusa Penida: satu untuk Nusa Gede, satu di Lembongan dan Ceningan, serta satu titik Klungkung daratan berpusat di Pesinggahan.

Konektivitas Klungkung dan Bali akan melancarakan pemerataan pembangunan, memecah “telur emas Bali” sebutan lama yang dilontarkan oleh mantan Gubernur Bali Dewa Beratha. Sebutan tersebut sudah lama menggema, sekarang perlahan tapi pasti telus emas Bali pecah.

Membahas segi tiga sangat seksi baik ranah spiritual, mistologi kehidupan sosial masyarakat serta lainya. Seperti hal segi tiga emas yang bisa dibilang segara hadir. Begitu juga mitologi segi tiga yang sering menjadi panduan hidup manusia Bali yaitu Tri Hita Karana.

Keharmonisasi alam “palemahan” adalah tatanan alam yang sudah terbentuk sedemikian rupa. Jangan diusik. Tatkala perkembangan terjadi, maka alamlah yang menopang sendi kehidupan.

Kita diajarkan dibentuk hapalan saja tentang konsep itu, tetapi implementasi masih di bibir. Berseteru saling menyalahkan dan posisi paling benar atas konsep-konsep kehidupan. Dampaknya, kita sibuk berdebat kusir tanpa melerai.

Apa korelasinya segi tiga emas dengan konsep Tri Hita Karana?

Berhubungan sangat dekat sedekat semesta dan isinya. Pembangunan sebuah daerah bertujuan untuk kesejukan masyarakat. Keberpihakan kepada masyarakat adalah ujung tombak. Penting sekali masalah ini. [b]

The post Segi Tiga Emas Sebuah Harapan Anak Pulau appeared first on BaleBengong.

Manis Legit Gula Merah Dawan

Bersiap memanen nira kelapa/Osila

Menikmati pembuatan gula merah alias gula Bali dari memanjat pohon kelapa, meledok, sampai kelahiran model baru, SuLuh.

 

Manis merupakan salah satu dari Sad Rasa  atau enam rasa dasar yang dikenal masyarakat Bali.  Gula yang sering kita jumpai di Bali ada dua warna yaitu merah dan putih, namun untuk produksi gula putih di Bali sepertinya belum ada,  yang ada adalah produksi gula merah. Gula merah yang ada di Bali berbahan dari nira enau dan nira kelapa.

Pengerajin gula merah  di Bali yang  terkenal akan kualitasnya ada di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Gula  hasil produksi Desa Besan ini sering di sebut dengan Gula Dawan mungkin karena Kecamatan Dawan lebih familiar dibanding Desa Besan.

Desa Besan merupakan tempat kelahiran dari I Wayan Sudata,  seorang pengerajin gula merah berbahan nira kelapa. “Sepuluh tahun setelah Gunung Agung meletus, tiang mulai melajah membuat gula merah dari tuak nyuh. Tiang belajar dari Bapan tiange, karena memproduksi gula merah ini merupakan warisan leluhur tiang dari sebelum ada gula putih.  Dulu kakek tiang sempat juga membuat arak namun karena gula merah lebih cepat laku, ya akhirnya turun temurun kami memproduksi gula merah sebagai mata pencaharian kami,”  tutur Sudata.

Sudata tidak berani mencampur tuak yang dia sadap sendiri dengan tuak yang disadap oleh orang lain karena dapat mempengaruhi kualitas gula merahnya. Sehingga untuk menjaga kualitas gula merahnya, Sudata menyadap nira sendiri yang dikenal istilah ngirisin. Sehari  ngirisin dua kali yaitu pagi dan sore hari. Hasil dari ngirisin 15 pohon kelapa akan mendapatkan kurang lebih 20 litter nira, dan bisa menghasilkan 4-5 kilogram gula merah.

“tiang ngirisin uli umur 14 tahun, waktu itu banyak yang bekerja sebagai pengiris, tuak yang di peroleh ada yang dijadikan gula merah, dijadikan arak,  ada juga yang dijadikan cuka. Sekarang tukang  ngirisin sudah sedikit, semua beralih kerja di hotel, namun ketika hotel di Bali perlu gula merah, jadinya mesti didatangkan dari luar Bali karena hasil produksi disini tidak lagi sebanyak dulu akibat sedikitnya tukang kiris,” tambah Sudata.

Proses pembuatan gula merah di Desa Besan masih penggunakan peralatan yang tradisional, seperti kayu bakar dan jalikan (tungku tradisional Bali). Proses memanaskan tuak atau nira kelapa agar menjadi gula  dikenal dengan proses mumpunin.

Proses mumpunin ini menggunakan api sedang agar gula yang dihasilkan tidak hangus dan berasa agak pahit. Setelah tuak berubah menjadi merah dan kental, kurang lebih 3 jam baru diledok (aduk). Alat pengaduk disebut dengan pengeledokan yang bentuknya seperti sendok makan berukuran besar dan terbuat dari kau kau (batok kelapa).

Proses meledok  pun tidak boleh sembarangan karena bisa membuat gula tidak bisa mengeras di dalam cetakan. Cetakan  gula merah di Desa Besan menggunakan  kau kau  berbetuk setengah bola. Di dalam kau kau  di isi dengan daun pisang kering, kemudian baru tuangkan cairan gula ke cetakan.

Cetakan tersebut diletakan di atas  ancak (anyaman bambu) dan tunggu hingga gula merah menjadi dingin dan mengeras untuk melepaskan gula dari cetakan, cukup dihentakan di atas telapak tangan.

Gula dari Desa Besan ini memiliki rasa manis yang khas dibandingkan dengan  gula merah dari daerah lain. Warnanya pun berbeda dengan gula merah lainnya, gula merah pada umumnya berwarna agak gelap, tetapi gula dari Desa Besan berwarna merah gading, terlihat lebih terang. Walau lebih mahal, gula merah hasil produksi Desa Besan tetap menjadi incaran konsumennya, terutama para produsen makanan yang memerlukan pemanis alami.

Sudata dalam meningkatkan penjualan hasil produksinya, dia melakukan modifikasi bentuk gula merah yang biasanya bulat besar ukuran 1 kg,  kini dia juga membuat gula merah mini ukuran 50gr yang di beri nama Su Luh. Su artinya baik, Luh itu adalah wanita, jadi gula Su Luh buatan Sudata diharapkan seperti wanita yang baik, dengan ukuran tentu mempermudah konsumen dalam mengosumsi gula merah buatannya, yang bisa langsung dijadikan pemanis teh atau kopi, bahkan dijadikan souvenir pernikahan namun harganya lebih mahal karena proses percetakannya lebih rumit.

“Gula merah tiang ini,  tanpa bahan pengawet, tanpa campuran gula pasir, jadi aman dikonsumsi oleh penderita diabetes karena kandungan glikemiknya rendah, kalau orang sini gula merah bukan untuk pemanis saja tapi juga untuk upacara dan usadha (pengobatan), ya kalau mau pesan bisa hubungi ponakan saya di +6285739493399, PO napi adane care jani,” tambah Sudata.

Pengerajin yang kian berkurang membuat Sudata kadang kewalahan menerima orderan sehingga mesti pesan dulu jauh jauh hari. Harapan Sudata selaku pengerajin gula merah tentu agar pemerintah dapat memperhatikan nasib para pengerajin gula merah agar tidak punah.

The post Manis Legit Gula Merah Dawan appeared first on BaleBengong.

Instalasi Seni untuk Mengembalikan Bahasa Bali

Seni menjadi alat efektif untuk mengampanyekan perlunya bahasa Bali ke anak-anak muda. Foto Santana Ja Dewa.

Anak-anak muda Bali makin lupa pada bahasa sendiri.

Saat ini, makin banyak anak muda tidak percaya diri menggunakan bahasa Bali sebagai alat komunikasi. Mungkin mereka merasa kurang kekinian atau bahkan menganggapnya kuno. Bahasa Bali kian terkikis era globalisasi.

Oleh karena itu, membangun pondasi rasa bangga keberadaan bahasa Bali mutlak dilakukan sebagai jati diri masyarakat Bali. Menumbuhkan kembali menggunakan bahasa ibu setiap komunikasi dilakukan.

Anak-anak sejak sekolah dasar yang berbahasa Bali, terutama di daerah perkotaan, bisa dihitung dengan jari. Imbasnya juga terasa di daerah pedesaan meskipun masih ada beberapa pedesaan yang tetap memegang teguh Bahasa Bali.

Salah satu penyebab kian hilangnya bahasa Bali karena bahasa Bali dirasa ruwet dan menjelimet. Untuk itulah, menciptakan kembali cinta Bahasa Bali harus melalui gebrakan yang mudah disenangi dan dekat dengan anak muda.

Seni bisa menjadi cara paling ampuh mendekatkan Bahasa Bali agar mudah dimengerti. Tak jarang masyarakat, muda, tua bahkan anak-anak dekat dengan sastra Bali.

Mengubah yang kuno menjadi kekinian. Memperkenalkan lebih dekat kepada masyarakat terutama anak muda hal-hal berbau “berkesenian “.

Aliansi Peduli Bahasa Bali (Bayu Gita Purnama, Anom, Gus Darma), Gurat Institute (I Made Susanta Dwitanaya, Dewa Purwita) dan seniman seperti Komunitas Djmur, Komunitas Helmonk dan Perupa Wayan Sudarna Putra yang lebih dikenal Nano Uhero pun nimbrung mencurahkan gagasan.

Kami dari komponen generasi muda yang tergabung dalam Aliansi Peduli Bahasa Bali dan Gurat Institute bekerja sama dengan Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Klungkung berpartisipasi dalam menyemarakkan kegiatan Festival Semarapura.

Bentuk kegiatan yang akan kami lakukan adalah seni Instalasi Mural Padmaaksara. Seni Instalasi ini termasuk salah satu kegiatan sosial yang diharapkan memberikan dampak positif bagi tumbuh dan berkembangnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan bahasa Bali.

Instalasi Mural Padmaksara adalah sebuah konsep yang mempertemukan tiga komponen mendasar dalam kehidupan masyarakat Bali, yaitu bahasa (aksara dan sastra), seni, serta ritual. Tujuannya untuk menggemakan semangat cinta bahasa Bali di Kabupaten Klungkung.

Ruang Baru

Semangat menyebarkan ideologi kecintaan terhadap bahasa Bali ini kami kemas dengan seni instalasi dan mural. Kami mencoba menawarkan ruang baru bagi bahasa Bali untuk tampil dan lebih dekat pada generasi muda, lebih dekat dengan masyarakat Kabupaten Klungkung. Sebab bagaimanapun juga, bahasa Bali harus menempati ruang-ruang baru yang lebih modern dan dekat dengan generasi muda, lebih mampu mengikuti perkembangan zaman.

Dengan demikian bahasa Bali tidak lagi dipandang sebagai bahasa kuno, bahasa yang ketinggalan zaman.

Lokasi pemasangan instalasi mural ini di Museum Kertha Gosa, sebuah lokasi paling bersejarah dalam perjalanan peradaban Klungkung dan juga Bali. Pemilihan Kertha Gosa sebagai lokasi karena Kertha Gosa adalah sebuah sejarah aksara dan kata-kata sebagai puncak penciptaan kedamaian, kerahayuan, kesejahteraan, dari pemimpin untuk segala masyarakatnya.

Kertha Gosa bermakna kata-kata yang melahirkan kesejahteraan. Pada dasar kesejarahan inilah kami berpijak, aksara Bali menjadi bangkit dan kembali ditinggikan oleh masyarakat penggunanya, tidak semata sebagai sebuah warisan peradaban namun juga sebagai keseharian yang tak lepas dari manusia Bali.

Klungkung akan turut berperan menjadi tempat lahirnya ruang baru bagi bahasa Bali pada ruang seni kreatif. Hal ini sekaligus sejalan dengan semangat pemerintah Kabupaten Klungkung dalam usaha menggalakkan penggunaan bahasa Bali.

Seni Instalasi Mural Padmaksara menghadirkan sebuah peristiwa kebudayaan dengan memakai media mural dan instalasi sebagai sarana untuk memasyarakatkan bahasa dan aksara Bali kepada publik. Media ini dapat dimaknai sebagai upaya untuk memperluas misi kebudayaan, dalam hal ini pengembangan bahasa dan aksara Bali dengan cara dan pendekatan yang lebih kontemporer.

Pohon Harapan

Mural misalnya sebagai bentuk seni rupa publik telah menjadi bagian dari urban culture (budaya urban) yang sangat lekat dengan kalangan muda. Sehingga pilihan untuk mengkolaborasikan bahasa Bali dengan bentuk seni mural akan menjadi kolaborasi sangat menarik.

Mural digarap oleh komunitas Djamur dan Hell Monk yang dibuat seatraktif mungkin dalam upaya melakukan pendekatan lebih intim pada generasi muda di Kabupaten Klungkung. Di samping media mural, pilihan pengunaan media instalasi interaktif berupa instalasi pohon Taru Aksara dari anyaman bambu oleh perupa Wayan Sudarna Putra (Nano U Hero) yang dikolaborasikan dengan pohon impian, berupa happening art di mana publik diminta untuk menulis impiannya terhadap Kabupaten Klungkung dengan bahasa dan aksara Bali.

Pengunjung akan menulis impian dan harapannya di atas daun lontar. Lalu harapan dan impian tersebut akan digantung pada pohon harapan. Selain berisi harapan masyarakat Klungkung, pohon itu juga berisi gantungan aksara-aksara Bali sesuai dengan pangider bhuwana. Pohon harapan ini sekaligus menjadi sarana untuk pengunjung belajar bahasa Bali.

Kami akan siapkan tabel aksara Bali untuk membantu pengunjung yang hendak menulis harapannya dengan aksara Bali. Pengunjung yang mampu menulis harapannya dengan aksara Bali akan mendapatkan poster aksara Bali secara cuma-cuma. Hal ini sebagai bentuk apresiasi terhadap mereka yang telah berusaha menjaga peradaban aksaranya. Pohon harapan ini berada di tengah-tengah instalasi mural, sehingga pohon harapan ini menjadi pusat atau titik tengah dari seni instalasi ini.

Sebagai sebuah ruang seni, instalasi mural ini juga akan kami gunakan untuk menjadi panggung pembacaan puisi Bali. Pembacaan puisi Bali ini akan dilakukan oleh sastrawan muda Bali modern yang hadir dari beberapa komunitas sastrawan di Bali. Pembacaan puisi ini akan merespon ruang dari seni instalasi mural, sekilgus memberikan nuansa baru bagi ranah bersastra di Bali.

Pada sesi akhir kegiatan ini, kami akan melakukan ritual yang kami sebut Aksaram Pula Kertih. Ritual ini adalah puncak dari kegiatan ini, di mana semua harapan dan impian masyarakat Kabupaten Klungkung yang telah digantung pada pohon harapan akan ditanam bersamaan dengan penanaman bibit pohon. [b]

The post Instalasi Seni untuk Mengembalikan Bahasa Bali appeared first on BaleBengong.

Jalan Kaki Menikmati City Tour Semarapura

Puri Klungkung dulunya menjadi pusat kekuasaan Bali. Foto Luh De Suriyani.

Kamu punya waktu berapa lama ketika di Bali? 

Jika cuma 2-3 jam, sangat bisa menikmati city tour Semarapura, ibukota Kabupaten Klungkung dengan cukup puas. Bahkan bisa mengelilingi 3-4 landmark dalam satu jam saja. Cukup jalan kaki. Sehat fisik dan jiwa.

Misalnya nih, kamu dari Sanur atau kota Denpasar, maka arahnya ke timur. Melewati jalan Bypass IB Mantra kemudian belok kiri menuju Takmung atau Dawan. Coba cek rutenya lewat aplikasi peta di ponselmu. Jika jalanan lancar, bisa sampai pusat kota Semarapura sekitar satu jam.

Sampai di pusat kota, dijamin tidak akan bingung karena antar penanda kota (landmark) sangat berdekatan. Mari buktikan betapa asyiknya city tour Semarapura ini.

Catus Pata menjadi penanda kota utama di Klungkung. Foto Luh De Suriyani.

Patung Kanda Pat Sari
Perempatan agung atau utama di area ini berbentuk pahatan empat sosok patung jadi satu. Arsiteknya Ida Bagus Tugur, menyimbolkan empat “saudara” manusia saat lahir yakni ari-ari, darah, air, dan tali pusar.

Tiap perempatan besar di kabupaten dan kota di Bali biasanya ada landmark khusus, nah Semarapura dengan Kanda Pat Sari ini.

Di perempatan utama sering jadi titik lokasi perhelatan event, upacara keagamaan, dan lainnya. Sebagai penyeimbang atau penjaga keharmonisan.

Pasar Senggol
Sekitar patung Kanda Pat adalah lokasi-lokasi keramaian utama misal Pasar Senggol, pasar malam tempat berburu kuliner aneka jenis khas Bali dan juga menu kebanyakan macam nasi goreng dan sate ayam. Pedagang baru buka sore hari sampai tengah malam.

Menu khas Klungkung yang banyak dijual adalah Serombotan. Ini mirip pecel tapi sayurnya lebih beragam seperti kangkung, tauge, pare, terong bulat, kacang-kacangan, dan lainnya tapi bumbunya parutan kelapa dengan sambal khas yang gurih pedas. Semi raw food tradisional Bali, gitu.

Ada juga jaje Bali yang dominan manis serta camilan lain. Pokoknya adil untuk semua kalau cari makan di Pasar Senggol, mengakomodasi semua keinginan.

Pusat Lukisan Kamasan
Sekitar 10 menit dari perempatan utama Kanda Pat Sari tadi. Salah satu desa wisata spesial City Tour Semarapura adalah gambar tradisional wewayangan khas Klungkung, Kamasan. Tak hanya berwujud dalam lukisan, juga dompet, cangkang telur, tas laptop, dan lainnya.

Atraksi melukis kamasan di aneka aplikasi bisa dilihat langsung, live, di desa wisata Kamasan ini. Kamu juga bisa mencoba belajar dan mengetahui sejarahnya di sini. Tinggal masuk ke rumah-rumah penduduk yang ditandai dengan papan nama sebagai pelukis Kamasan.

Monumen Puputan Klungkung menjadi salah satu lokasi menarik di Klungkung. Foto Luh De Suriyani.

Museum Monumen Puputan
Berada persis di sebelah perempatan utama. Ditandai sebuah monument setinggi 28 meter. Tinggal masuk dan langsung melihat diorama sekilas jejak sejarah Klungkung yang mengelilingi patung bagian dalam. Ada papan informasi yang mudah dibaca, dan membuat kamu satu level lebih melek sejarah.

Areal monumen ini sekarang makin ramai jadi tempat nongkrong karena ada air mancur menari. Berandanya jadi panggung musik dan even. Misalnya pemilihan Jegeg Bagus Klungkung dan penyanyi berusara lirih Raisa yang menutup Festival Semarapura 2017 pada 2 Mei.

Kertha Gosa
Obyek wisata paling ramai dan teduh ini juga berada persis di pojok perempatan utama. Berhadapan dengan Monumen Puputan. Yah, kok gampang dan enak sekali menyusuri city tour Semarapura? Ya demikanlah tata ruang pusat kota ini ramah pada pelancong short time.

Kalau long time lebih bagus, bisa menjelajah, berdialog dengan warganya, dan menghayati selfie. Haha…

Kamu bisa naik ke Bale Kambang dan Bale Kertha Gosa yang plafonnya berhias lukisan khas Kamasan. Mengisahkan kehidupan dan legenda dengan menarik. Semacam urban legend di masa lalu. Ada manusia yang terlihat diguling di atas api dengan sejumlah alasan. Apa itu? Silakan lihat sendiri.

Bale Kertha Gosa ada dekat jalan raya. Di sini lah peradilan adat di masa kerajaan Klungkung dilaksanakan, masih lengkap dengan kuris, meja, dan formasinya.

Bagian lain kompleks ini adalah museum informatif terkait kehidupan, tata cara ritual, dan anggota kerajaan Klungkung. Ada juga arsip koran-koran berbahasa Belanda yang merekam Semarapura di masa lalu.

Tukad Unda menjadi lokasi untuk foto pranikah favorit di Semarapura. Foto Luh De Suriyani.

Tukad Unda
Pernah lihat foto seru sepasang calon penganten disiram air berbentuk simbol love di tirai air yang sangat deras? Di Tukad Unda, tepatnya bendungan dengan curah air stabil sepanjang tahun ini lah foto pre wedding dibuat.

Nyaris tiap hari, bahkan bisa beberapa pasang sehari mereka berbasah-basahan sambil berdesahan di dam Tukad Unda ini. Biaya pemotretan ini ada tarif resminya, terakhir Rp 250 ribu untuk pre wedding. Kalau selfi sekitar Rp 10 ribu.

Paling enak sih berendam sambil lihat kehebohan pengarah gaya menginstruksikan anak-anak sekitar yang langganan jadi model ini. Bisa diakses 10-15 menit jalan kaki dari perempatan utama.

Pasar Seni
Masih ada waktu menikmati city tour Semarapura? Pilihan yang tak bisa ditolak lainnya adalah melihat dan membeli aneka kain tradisional termasuk tenun khas Klungkung di Pasar Seni. Banyak desainer baju membeli pasokan kain tenun di sini untuk disulap jadi aneka pakaian etnik modis.

Mengelilingi Klungkung bisa dilakukan dengan dokar, kendaraan tradisional yang kian langka. Foto Luh De Suriyani.

Naik Dokar
Biar anak-anak lebih terhibur, naik dokar keliling kota adalah solusi jitu. Silakan manfaatkan momen langka, karena hanya ada tiga dokar tersisa dan aktif tiap hari ngetem mencari penumpang di Semarapura. Mereka biasanya ngetem di dekat terminal, dekat perempatan utama juga.

Hebatnya, ketiga kusir sudah sepuh umurnya sekitar 65-75 tahun. Kakek tertua kabarnya akan pensiun, dan belum ada generasi penerus. Naik dokar akan menjadi memori langka sekaligus menyedihkan sebelum transportasi publik tradisional ini hilang selamanya dari jalanan. [b]

The post Jalan Kaki Menikmati City Tour Semarapura appeared first on BaleBengong.

Keliling Kota di Hari Pertama Festival Semarapura

Peserta City Tour Semarapura menikmati perjalanan dengan dokar. Foto Luh De Suriyani.

Festival Semarapura kembali digelar tahun ini. 

Hari pertama Festival Semarapura 2017 Jumat kemarin diisi dengan acara City Tour Semarapura. Agenda dimulai dengan diskusi bersama Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta di Restauran di Tukad Unda, Semarapura.

Hadir Asosiasi Travel Agen Bali, Himpunan Pramuwisata Indonesia, pelaku media online, JCI Semarapura, HIPMI dan awak pers dalam diskusi tersebut.

Dalam kesempatannya Bupati Klungkung mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Kepala Desa Pakse Bali.

“Saya berterima kasih dengan Pak Perbekel Pakse Bali karena telah melakukan sejumlah inovasi untuk mengembangkan Pariwisata. Padahal Pakse Bali belum termasuk Desa Wisata,” ungkap Bupati.

Selanjutnya, Bupati Klungkung mengajak pelaku travel untuk membawa tamu ke Klungkung. Dari Tukad Unda, para peserta naik dokar kendaraan yang hampir punah.

Setelah itu, dengan berjalan kaki para peserta City Tour menikmati beberapa lokasi wisata menarik di Semarapura, seperti Puri Agung Klungkung, Kertha Gosha, Monumen Puputan Klungkung, dan Balai Budaya Dewa Agung Istri Kania.

Monumen Puputan Klungkung menjadi salah satu lokasi menarik di Klungkung. Foto Luh De Suriyani.

“Kepada Bapak-bapak dan ibu yang bergerak di travel Agen, Klungkung sedang berbenah. Selain di Kota Semarapura kita sedang terus dorong desa wisata. Seperti Kamasan telah mulai ditata parkir dan rumah-rumah penduduknya,” ajak Bupati.

Sementara itu Penasehat Asita Bali I Ketut Erna Parta berharap kepada Pemerintah Klungkung agar menata obyek wisata di Klungkung.

“Bapak Bupati kami berharap penataan obyek wisata di Klungkung terus dilakukan. Mulai keamanan dan kenyamanan wisatawan agar mereka betah,” ungkap Ketut Ena Parta.

Festival Semarapura sendiri merupakan agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Klungkung. Pada tahun lalu, festival juga diadakan pada April dengan agenda serupa yaitu City Tour dan pembukaan.

Melalui agenda pariwisata tahunan ini, Pemkab Klungkung ingin mengenalkan potensi pariwisata di kabupaten yang pernah menjadi pusat Kerajaan Bali ini.  Selama festival juga ada beberapa kegiatan lain, seperti pertunjukan musik, pameran kerajinan dan kuliner, serta pentas seni tradisional dari berbagai kelompok di Kabupaten Klungkung. [b]

The post Keliling Kota di Hari Pertama Festival Semarapura appeared first on BaleBengong.