Tag Archives: kisah calon arang

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #7

Singkat cerita, akhirnya Baradah sampai di Bali. Tempat Baradah berlabuh di Bali bernama Kapurancak. Dari Kapurancak, Baradah berjalan menuju arah timur. Tempat yang ditujunya adalah Silayukti.

Baradah pulang. Putrinya, Wedawati menyambut dengan sekantung rindu. Entah apa yang mereka lakukan untuk menghabiskan rindu mereka. Yang pasti keduanya merasa senang, sebab bertemu kembali dengan yang dikasihi.

Sementara itu, Raja Airlangga memerintahkan para punggawanya untuk membuka jalan. Tujuannya agar tercipta desa-desa, dan mengusir para penyamun yang mengganggu. Tidak lupa, ia memerintahkan untuk menanam pohon beringin dan pohon bodi. Kedua pohon itu ditanam berjajar-jajar.

Tampaknya Airlangga tidak lupa melakukan penghijauan di seputaran kerajaannya. Airlangga memang panutan. Itu bedanya pemimpin yang belajar sungguh-sungguh dengan pemimpin yang tidak pernah belajar. Airlangga belajar tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan otak, tapi juga hatinya. Hati inilah yang dalam teks-teks kadiatmikan disebut Hredaya.

Sekarang yang banyak adalah pemimpin yang belajar sekenanya untuk keperluan formalitas. Katanya, gelar-gelar mentereng itu dipakai untuk mendapatkan kekuatan. Kekuatan itu berupa pengakuan dan uang. Begitu biasanya, dan memang biasanya sudah begitu. Kita biasanya akan manggut-manggut dan menerima begitu saja. Hal-hal begitu sudah biasa kita temui, tapi kita selalu dibuatnya berpikir. Seolah-olah ada yang belum selesai dalam yang sudah selesai.

Keputusan-keputusan yang diambil oleh Airlangga, barangkali karena ia memiliki pembisik-pembisik yang benar-benar mumpuni. Kehadiran pembisik bagi seorang pemimpin sangat penting. Dia bisa menjadi otak bantuan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan. Itu mungkin sebabnya, Airlangga terlihat sangat bijaksana.

Karena Airlangga dianggap bijaksana, maka seluruh rakyat Nusantara sungguh-sungguh mengabdi padanya. Dalam teks Calon Arang, beberapa daerah disebutkan sebagai wilayah kekuasaan Airlangga, di antaranya: Sabrang, Malayu, Palembang, Jambi, Malaka, Singapura, Patani, Pahang, Siyam, Cempa, Cina, Koci, Keling, Tatar, Pego, Kedah, Kutawaringin, Kate, Bangka, Sunda, Madura, Kangayan, Makasar, Seran, Goran, Pandan, Peleke, Moloko, Bolo, Dompo, Bima, Timur, Sasak, Sambawa.

Semua wilayah itu menyerahkan pajak kepada raja. Dari daftar nama itu, saya tidak melihat nama Bali. Airlangga konon memang salah satu putra Bali. Dia adalah anak dari raja Udayana yang terkenal itu.

Nama Bali muncul dalam teks Calon Arang saat Airlangga diceritakan kebingungan untuk mengangkat dua orang anaknya sebagai raja. Ia hendak mengangkat seorang anak menjadi raja di Jawa, sedangkan yang satunya di Bali. Karena itu, diperintahkanlah punggawa istana untuk menghadap ke hadapan Baradah di Buh Citra.

Saya sama sekali tidak bisa mengerti, untuk apa Airlangga meminta pertimbangan kepada Baradah. Sementara di dalam kerajaan, Airlangga sudah memiliki pendeta yang tergolong sebagai Brahmana, Bhujangga dan Rsi. Ketiga golongan pendeta itu mestinya mampu memberikan pertimbangan yang bagus kepada rajanya agar Airlangga terlepas dari ikatan kebingungan. Apakah ada suatu maksud tertentu yang tidak dikatakan dalam teks? Tidak cukupkah tiga pembisik di lingkungan kekuasaan itu sehingga harus memohon pertimbangan kepada pendeta yang ada di luar lingkaran kepemerintahan?

Ken Kanuruhan adalah orang beruntung yang diutus oleh raja Airlangga untuk memohon arahan kepada Baradah. Arahan itu nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan. Kanuruhan segera berangkat dan menemui Baradah, Mpu yang telah mengalahkan Calon Arang. Mpu yang kemudian disebut-sebut namanya dalam lontar-lontar berbau mistis. Contohnya adalah lontar Kaputusan Mpu Baradah yang berarti ajaran-ajaran dari Mpu Baradah. Lontar ini membicarakan tentang cara-cara melihat diri sendiri. Melihat diri sendiri maksudnya, melihat dari bagian paling kasar sampai paling halus. Yang paling kasar dari diri disebut badan. Yang halus disebut ruh.

Tampaknya, keinginan Airlangga untuk menjadikan salah satu anaknya raja di Bali akan sia-sia. Sebab di Bali ada seorang Mpu yang tidak kalah bijaksananya dengan Baradah. Mpu itulah yang harus ditemui oleh Baradah kemudian.

“Aku akan pergi ke Bali,” begitu kata Baradah pada Kanuruhan. Kanuruhan disuruh pulang, sementara Baradah bersiap-siap menuju Bali. Setelah Baradah menemui putrinya, berangkatlah ia ke Bali. Tempat yang ditujunya adalah Sukti, tempat Mpu Kuturan. Sebelum berangkat, Baradah berpesan kepada putrinya, “kita akan moksa bersama-sama, setelah tugas ini berhasil ayah selesaikan. Sabarlah putriku.”

Dalam perjalanan itu, ada beberapa desa yang dilewati oleh Baradah. Beberapa nama desa itu yakni Watulambi, Sangkan, Banasara, Japana, Pandawan, Bubur Mirah, Campaluk, Kandikawari, Kuti, Koti.

Di Koti, Mpu Baradah bermalam. Esok paginya melanjutkan perjalanan sampai di Kapulungan, Makara Mungkur, Bayalangu, Ujungalang, Dawewihan, Pabayeman, Tirah, Wunut, Talepa, We Putih, Genggong, Gahan, Pajarakan, Lesan, Sekarawi, Gadi.

Di Gadi, Mpu Baradah berbelok ke arah utara melewati daerah Momorong, Ujung Widara, Waru-waru, Daleman, Lemah Mirah, Tarapas, Banyulangu, Gunung Patawuran, Sang Hyang Dwaralagudi, Pabukuran, Alang-alang Dawa, Patukangan, Turayan, Karasikan, Balawan, Hijin, Belaran, dan Andilan. Itulah daerah yang dilewati oleh Mpu Baradah, dan akhirnya sampai di Sagara Rupek.

Mpu Baradah harus menyeberang dari Sagara Rupek ke Bali. Masalahnya, saat itu tidak ada seorang pun yang bisa mengantarkan sebab disana mendadak sepi. Karena itu, Mpu Baradah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan menyeberang sendiri. Meski tidak ada perahu, bukan berarti proses penyeberangan tidak akan berhasil. Diambilnya daun Kalancang, diletakkan di atas air, lalu Baradah berdiri di atasnya. Penyeberangan dimulai.

Jangan bertanya bagaimana caranya Baradah menyeimbangkan diri di atas daun Kalancang. Jangan juga bertanya daun Kalancang yang bagaimana yang bisa tetap mengambang di atas air sementara di atasnya berdiri seorang manusia. Saya tidak tahu caranya. Tidak ada di dalam cerita disebutkan cara-cara teknis yang dilakukan oleh Baradah. Pokoknya, dengan bantuan daun Kalancang, lautan bisa diseberangi oleh Baradah. Daun Kalancang konon nama latinnya Artocarpus incisa.

Singkat cerita, akhirnya Baradah sampai di Bali. Tempat Baradah berlabuh di Bali bernama Kapurancak. Dari Kapurancak, Baradah berjalan menuju arah timur. Tempat yang ditujunya adalah Silayukti.

Tidak diceritakan tempat-tempat di Bali yang dilewati oleh Baradah. Di dalam cerita, pembuat cerita memotong penggambaran daerah-daerah itu. Entah apa sebabnya. Perjalanan dari Kapurancak menuju Silayukti, sangat menarik untuk dicari-cari. Barangkali kalau sudah menemukannya, kita bisa tahu peta Bali pada masa itu. Kita juga akan diberitahu, tempat-tempat yang menjadi petilasan Mpu Baradah di Bali. Masalahnya, adakah petunjuk yang bisa kita andalkan untuk pencarian ini? Mungkinkah tempat-tempat itu sudah menjadi Pura di Bali sebagaimana dilakukan belakangan?

Sesampainya di Asrama Silayukti, Baradah tidak langsung bertemu dengan Kuturan. Mpu Kuturan saat itu masih melakukan Yoga yang ketat. Yoga dalam konteks ini, tidak seperti Yoga yang sering kita lihat pada zaman kekinian. Yoga yang dilakukan Mpu Kuturan, pastilah dahsyat. Kita bisa melihat, berbagai sumber-sumber yang mengajarkan praktik Yoga. Sumber-sumber itu bisa disebut kuno. Contohnya: homa dhyatmika, swacanda marana, yoga nidra, dan lain sebagainya.

Kuturan tidak kunjung muncul dari tempatnya melakukan Yoga, maka Baradah menciptakan air sebatas leher Mpu Kuturan. Air ciptaan itu, tampaknya bukan persoalan bagi Mpu Kuturan. Ia tetap dengan teguh melakukan Yoga. Baradah segera menambahkan Semut Gatal pada air itu. Semua semut itu mengambang di atas air, dan bisa membuat tubuh gatal. Tetapi, Kuturan tetap tidak bergeming.

Air itu pelan-pelan surut dan mengering. Semut Gatal itu pun lenyap tidak bersisa. Tidak lama berselang, Mpu Kuturan keluar dari tempatnya beryoga. Baradah diterima dengan sangat baik, “Adikku Baradah, lama kita tidak berjumpa. Tentu ada tujuanmu datang kemari. Katakanlah.”

“Terimakasih kakakku Mpu Kuturan. Betul, aku memang hendak meminta keikhlasanmu. Ini tentang raja Jawa bernama Airlangga, bergelar Jatiningrat. Ada dua anaknya. Semoga berkenan agar diangkat menjadi Raja Bali salah satunya.”

“Tidak. Ya rikapan ana jageki makawaniha, kaprenah putu deninghulun, yeka jagadegaken mami ratw i bali [Nanti akan ada yang lain, dia masih merupakan cucuku, itulah yang akan aku jadikan raja di Bali],” kata Mpu Kuturan.

“Tapi seluruh kerajaan di Nusantara ini, patut menghaturkan upeti kepada Airlangga.”

“Apa? Aku bahkan tidak paham, mengapa seluruh kerajaan itu harus membayar upeti. Jika semua kerajaan itu membayar upeti, biarkan Bali tetap tidak! Kalau perlu, suka nghulun lurugen sabumeka [aku akan sangat senang menghancurkan seluruh bumi itu]. Kecuali, setelah aku mati nanti, terserah apakah ingin menyerang Bali.”

Mendengar ucapan Kuturan, Baradah mengerti kalau usahanya tidak akan berhasil. Ia lalu keluar dari asrama Silayukti itu. Baradah membuat gempa saat itu. Seluruh kerajaan Bali terkena gempa yang besar. Seluruh wilayah bergoncang. Hal itu membuat penduduk panik. Beberapa punggawa diperintahkan oleh raja Bali untuk menanyakan hal itu kepada Mpu Kuturan, apa gerangan yang sedang terjadi?

Baradah pergi dari Silayukti tanpa pamit. Segera, Kapurancak ditujunya. Ia ingin segera menyeberang. Tapi gagal. Daun Kalancang yang dikendarainya terus saja tenggelam. Berulang kali daun itu diletakkannya di atas air, lalu tenggelam berkali-kali. Ia seperti kehilangan kesaktian. Apa sebabnya?

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #6

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian 3

sumber: wayang.wordpress.com

“Kutebas lehermu!” kata Weksirsa kepada mayat yang telah dihidupkannya. Mayat yang dihidupkan itu bukan menjadi Zombie, tapi benar-benar manusia yang hidup seperti sedia kala.

Mayat yang dihidupkan itu berterimakasih karena telah dihidupkan kembali oleh Weksirsa dan Mahisawadana. Tapi sayang, terima kasih saja tidak cukup. Ia harus membayar lebih karena telah dihidupkan kembali. Ia harus mati.

Mayat dihidupkan, lalu dibunuh lagi. Begitu runtutan prosesi ritual yang dijalankan oleh Calwan Arang dan murid-muridnya. Tapi untuk apa yang sudah jadi mayat dihidupkan kembali? Saya belum mendapatkan informasi dalam teks sejauh ini. Tapi ada suatu penjelasan secara lisan, bahwa dalam ritual segala jenis Banten yang dipersembahkan terlebih dahulu “dihidupkan” lagi. Konon, orang tidak boleh mempersembahkan bangkai, maka dengan mantra, yantra, dan mudra dihidupkan terlebih dahulu.

Barangkali, praktik semacam ini memiliki hubungan yang serius dengan praktik ritual Calwan Arang. Agar lebih jelas, kita mesti merunutnya dengan teks-teks Puja sebagaimana dilangsungkan oleh Pendeta. Tentu saja, merunut teks semacam itu tidaklah mudah. Jadi kita istirahatkan dulu rasa ingin tahu kita sampai di sini.

Leher mayat yang dihidupkan tadi, benar-benar ditebas. Darah menyembur. Kepalanya terlempar. Calwan Arang menggunakan darah itu untuk mencuci rambut. Sampai saat ini ada dua tokoh perempuan yang menggunakan darah untuk mencuci rambut. Perempuan pertama adalah istri Pandawa, Drupadi. Ia menggunakan darah Dusssasana untuk mencuci rambutnya yang telah tergerai setelah tragedi penelanjangan saat Pandawa kalah judi. Saat itu Drupadi bersumpah akan mencuci rambutnya dengan darah Dussasana.

Dalam teks Calwan Arang, kita menemukan lagi adegan semacam itu. Tapi kali ini bukan karena sumpah. Entah karena apa Calwan Arang mencuci rambut dengan darah manusia. Mungkin ada suatu ajaran yang dapat kita telusuri mempraktikkan praktik-praktik spiritual dengan metode ini.

Ajaran apa namanya, saya juga belum tahu. Yang pasti, adegan ini tidak sesederhana seperti melihat perempuan mencuci rambut di kali atau sungai. Satu hal yang penting lagi, setelah Calwan Arang mencuci rambutnya dengan darah, rambutnya menjadi kusut. Kusut dalam bahasa teks Calwan Arang disebut gimbal [magimbal pwa kesanira]. Jadi kata gimbal bukan kata baru.

Bagaimana dengan tubuh mayat yang dihidupkan tadi? Menurut teks Calwan Arang, ususnya dijadikan kalung oleh Calwan Arang. Semua bagian tubuh itu diolah dan dijadikan persembahan berupa Caru kepada semua Bhuta. Dari sisi ini, kita bisa melihat suatu praktik yang tercatat dalam teks dan barangkali memang benar-benar terjadi pada suatu masa. Persembahan Caru yang kini dikenal di Bali kebanyakan menggunakan binatang dan bukan manusia.

Tapi teks Calwan Arang berkata lain. Manusia juga dipersembahkan sebagai upakara Caru. Catatan ini penting diketahui, agar ditimbang-timbang apa pula penyebab praktik itu tidak bisa ditemukan lagi jejaknya.

Cerita-cerita tentang persembahan daging manusia hanya bisa dinikmati lewat penuturan para tetua. Tentulah ada suatu klasifikasi yang harus dipenuhi agar praktik itu bisa dilakukan. Salah satunya adalah kemampuan pemimpin upacara dan juga tentang “siapa yang mesti dikorbankan”.

Dalam kakawin Ramayana, ketika raja Dasharata melakukan puja Homa, yang didaulat untuk memimpin upacara adalah Resyasrengga. Resyasrengga didaulat, karena ia adalah Rsi yang mahir dalam Shastra [widagda ring shastra]. Pada tingkat upacara Homa klasifikasi semacam itu diperlukan, apalagi pada tingkat persembahan manusia.

Bahwa Calwan Arang yang mempraktikkan ritual itu, artinya pada Calwan Arang kita cari klasifikasi pemimpin upacara korban Caru itu. Sampai pada saat ini, kita mengenal Calwan Arang sebagai Guru, sebagai Ibu, Janda sakti yang menguasai ilmu menghidupkan dan mematikan. Tidak hanya itu, Calwan Arang adalah kesayangan Bhatari Bagawati. Bahkan persembahan yang dilakukan Calwan Arang disebut persembahan yang utama [adinika inaturanya].

“Aku sangat senang dengan persembahanmu, tapi berhati-hatilah dalam bertindak anakku Calwan Arang,” demikian kata Bhatari Bagawati. Konon Bhatari merasa senang dengan persembahan yang dipersembahkan oleh Calwan Arang. Sayangnya, permintaan Calwan Arang agar seluruh kerajaan terkena penyakit membuat Bhatari Bagawati harus menasehatinya agar hati-hati dalam bertindak.

Meski anugerah Bhatari sudah didapat, Calwan Arang ternyata harus tetap hati-hati juga. Jika pemilik otoritas anugerah itu menasehati agar hati-hati, bagaimana mungkin Calwan Arang tidak hati-hati? Tapi hati-hati kepada apa? Kepada siapa? Tidak dijelaskan dalam adegan itu, kepada apa dan siapa Calwan Arang mesti hati-hati.

Setelah anugerah didapat, Calwan Arang segera menari sekali lagi. Tidak di kuburan, tapi di perempatan [catus pata]. Karena itu seluruh penduduk kerajaan menderita penyakit. Jenis penyakitnya adalah panas tis [panas dingin]. Penyakit panas dingin macam apa yang bisa membunuh banyak orang dalam dua malam?

Banyak orang mati di kerajaan itu. kuburan kekurangan tempat. Banyak mayat membusuk di selokan. Bahkan di dalam rumah-rumah penduduk. Weksirsa masuk ke dalam rumah dan tempat tidur penduduk. Ia meminta-minta Caru berupa daging dan darah mentah. Pada mayat yang belum membusuk, ia mengambil darah dengan cara merobek leher mayat-mayat itu. Benar-benar hari-hari huru hara.

Di Kerajaan, para pinisepuh menghadap raja. Para mantri tidak ketinggalan. Keputusannya? Adakan upacara Homa. Homa adalah upacara penyelesaian yang dilakukan ketika wabah terus menyerang. Begitu yang ingin disampaikan oleh pencerita Calwan Arang. Yang dipuja adalah Hyang Agni. Puja Homa dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Tengah malam, Sang Hyang Catur Bhuja muncul dari api Homa. Catur berarti empat. Bhuja berarti lengan. Dia yang berlengan empat keluar dari api itu. Tidak hanya sekadar keluar, tapi ada petunjuk yang diberikan kepada para pemuja di kala itu. “Carilah Sri Munindra Baradah, ia ada di Semasana Lemah Tulis,” begitu petunjuknya. Konon hanya Baradah yang mampu meruat [menyucikan] kembali negeri yang sudah terlanjur porak poranda itu.

Raja memerintahkan Kanuruhan untuk pergi menghadap Baradah di Lemah Tulis. Sesingkat-singkatnya cerita, Kanuruhan berhasil menemui Baradah. Tapi bukan Baradah yang akan datang ke kerajaan itu. Adalah Mpu Kebo Bahula, murid Mpu Baradah yang diutus untuk pergi mendahului. Yang diutus tidak menolak, maka pergilah Mpu Kebo Bahula bersama Kanuruhan. Rencananya, Mpu Kebo Bahula akan melamar Ratna Manggali, anak Calwan Arang.

“Tuanku, hamba adalah murid Mpu Baradah. Bahula nama hamba. Tujuan hamba datang adalah untuk memohon belas kasihan kepada Tuanku. Sudi kiranya Tuanku mengabulkan permintaan hamba yang hina ini. Hamba ingin melamar Ratna Manggali,” begitu kata Mpu Bahula tanpa ragu.

“Tidak ada yang perlu kau takutkan anakku. Tapi kau haruslah sungguh-sungguh dari hatimu. Ratna Manggali akan aku serahkan, hanya jika kau cinta,” Calwan Arang merasa senang.

“Baiklah Tuanku, hamba ini pesakitan yang diperintahkan untuk mencari obat oleh guru hamba. Hanya Ratna Manggali obat segala penderitaan hamba. Hamba meyakininya tanpa ragu. Lalu apa maharnya?”

“Anakku Bahula, bukan mahar itu yang terpenting. Tapi cinta dan kesungguhan. Apapun yang kau berikan, akan aku terima.”

Maka siaplah segala mahar diberikan oleh Mpu Bahula. Di antaranya sedah panglarang [sirih], pirak panomah [perak], patiba sampir [selendang], dan spatika nawaratna dipata [permata]. Dengan seperangkat mahar itu, Mpu Bahula dan Ratna Manggali dinikahkan. Bagaimana prosesi pernikahan mereka, tidak diceritakan. Saya ragu, apakah setelah ritual sakral pernikahan itu, Ratna Manggali dan Mpu Bahula juga menggelar acara resepsi.

Jenis riasannya pun tidak dijelaskan, siapa pula juru riasnya juga tidak ada penjelasan. Jangankan penjelasan tentang hal-hal semacam itu, bahkan pemimpin upacara pernikahan pun tidak disebutkan siapa. Hal ini akan menarik mengingat kedua mempelai memiliki orang tua yang sama-sama sakti. Maka seorang yang ditugaskan untuk menyelesaikan upacara pernikahannya pun, pastilah tidak kalah hebatnya.

Setelah mereka menikah, Calwan Arang tetap melakukan pemujaan kepada Bhatari Bagawati. Lipyakara sering diturunkan, ia juga sering pergi ke kuburan. Kejadian itu terus diperhatikan oleh Mpu Bahula. Sampai pada suatu saat, Mpu Bahula bertanya kepada Ratna Manggali. “Dewiku, Ratna Manggali. Apa sebabnya ibu selalu pergi dan baru kembali saat tengah malam? Kemana perginya? Aku sungguh khawatir.”

Cinta dan percaya, membuat Ratna Manggali tidak menaruh sedikit pun kecurigaan kepada Bahula. “Suamiku, janganlah sampai mengikuti jejak ibu yang demikian. Sungguh tidak baik perbuatan itu. Ibu saat malam selalu memuja Bhatari Bagawati. Menurunkan Lipyakara dan pergi ke kuburan. Itulah sebabnya banyak orang mati di kerajaan.”

“Dewiku, perkenankan aku mengetahui dan melihat Lipyakara itu. Aku juga ingin mempelajarinya.”

Tidak perlu pikir panjang, saat Calwan Arang pergi, Ratna Manggali menyelinap ke tempat penyimpanan. Mengambil Lipyakara dan menyerahkannya kepada Bahula. Dengan alasan untuk dipelajari dan ditanyakan kepada Pendeta Baradah, Bahula pergi menuju Lemah Tulis membawa Lipyakara.

Bahula sampai di Lemah Tulis. Baradah segera dihadapnya. Sebagaimana tradisi ketika itu, Bahula mendekati Baradah sambil membawa Lipyakara dan menjilati debu di kaki Baradah. Hasil jilatan itu diletakkannya di ubun-ubun [Bahula mamawa lipyakara, manambah eng jeng sang Mredu, teher mandilati lebu kang aneng talampakanira Sang Yogiswara, enahakenireng wunwunan]. Ada tradisi yang dipraktikkan oleh garis perguruan tertentu sebagai cara menghormati guru dengan menjilat debu di kaki guru dan diletakkan di ubun-ubun. Tradisi semacam ini, bisa kita baca dalam teks Calon Arang.

Mpu Bahula menyerahkan Lipyakara kepada Mpu Baradah untuk dilihat dan dipelajari. Saat mulai membukanya, Mpu Baradah terkejut, ternyata ajaran di dalamnya sangat utama. Isinya konon ajaran tentang kebenaran [kayogyan], tentang kesiddian [kasidyan], ajaran agama [telas pwa yeng agama].

Ajaran kebenaran, berarti ajaran tentang Dharma. Ajaran tentang kesiddhian, berarti suatu ajaran untuk sampai pada tingkat mendapat permata pikiran. Cirinya adalah semua yang dicari didapat, yang dinanti datang. Lalu apa yang dimaksud dengan telas pwa yeng agama? Artinya ajaran agama itu telah habis. Habis berarti tuntas, selesai, sampai, menjadi. Artinya isi Lipyakara adalah tentang menjadi Agama. Apakah yang dimaksud ajaran agama? Tidak sesederhana yang sedang kita pikirkan.

Bagian kedua serial kisah ini di sini.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Ayah, biarkan hamba tinggal di sini. Sampai mati hamba ingin tetap di sini.”

Demikian kata Wedawati kepada Mpu Baradah, setelah ia merasa tidak dipedulikan di rumahnya sendiri. Saat itu juga ia memutuskan akan tinggal di kuburan, di mana ibunya diupacarai dahulu. Mpu Baradah hanya bisa mengikuti kemauan anaknya. Mulai saat itu, Mpu Baradah memutuskan untuk membangun Pasraman di kuburan itu.

Tanah diratakan, juga diupacarai agar layak ditinggali. Nama upacaranya Bumi Suddha. Setelahnya didirikanlah balai-balai Patani, Patamuan, Pakulem-kuleman, juga Bukur. Gerbang masuk juga dibangun. Bunga-bunga mulai ditanam, seperti bunga Angsoka, Andul, Surabi, Tanjung, Kamuning, Campaka Gondok, Warsiki, Asana, Jering, dan Bujaga Puspa.

Tidak kurang lagi bunga Cabol Atuwa, Gambir, Malati Puspa, Caparnuja, Kuranta, Tari Naka, Cina, Teleng, Wari Dadu, Wari Petak, Wari Jingga, Wari Bang, Padma, dan Lungid Sabrang. Banyak jenis-jenis bunga di Pasraman itu, dan jenis bunga yang sudah tidak kita kenali lagi. Setelah Pasraman itu selesai, di sana Mpu Baradah mengajarkan banyak hal kepada murid-muridnya siang dan malam.

Sampai di sana, cerita tentang Mpu Baradah dan Wedawati berhenti. Atau lebih tepatnya dihentikan. Yang memiliki otoritas untuk menghentikan dan melanjutkan cerita adalah pencerita. Pencerita menjadi maha kuasa di dunia yang ia ciptakan sendiri. Tokoh-tokoh di dalamnya, bergerak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan pembaca hanya bisa pasrah mengikuti aliran pikiran pencerita, sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Maharaja Erlanggya namanya, raja dari kerajaan Daha. Ia disebut Tilingeng Karesyan. Kata Tiling bisa berarti pilihan. Karesyan tampaknya sangat dekat hubungannya dengan suatu tempat para Resi. Barangkali maksudnya, bahwa Erlanggya adalah raja yang dipilih dari salah satu tempat para Resi. Dengan demikian, sangat besar kemungkinan Erlanggya adalah salah satu pelajar di Karesyan itu.

Ada seorang Randa diceritakan kemudian. Randa ini bertempat di Girah. Ia dikenal dengan sebutan Calwan Arang. Anaknya satu bernama Ratna Manggali, cantik sekali. Sayangnya tidak ada yang melamarnya, entah orang-orang Girah, Daha atau orang dari negara pinggiran. Semuanya takut karena terdengar berita Adyan Ing Girah [Calon Arang] mempraktikkan Laku Geleh. Laku Geleh kita terjemahkan sebagai tindakan jahat. Kata Geleh berarti kotoran, noda, kejahatan. Entah kejahatan jenis apa yang konon dilakukan oleh Calwan Arang, belum dijelaskan pada bagian ini.

Calwan Arang merasa tidak terima dengan situasi yang harus diahadapi putrinya. “Apa kurangnya anakku? Kurang cantik? Tidak mungkin!” Karena itu, ia memutuskan untuk Manggangsala Pustaka. Manggangsala Pustaka berarti menurunkan atau mengambil Pustaka. Pustaka dalam hal ini berarti ajaran. Ajaran apakah yang hendak diturunkan? Menurut teks, yang diturunkan adalah Lipyakara. Tidak ada penjelasan yang cukup menjanjikan untuk memahami, apa yang dimaksud dengan Lipyakara. Tapi teks menunjukkan bahwa Lipyakara itu dilakukan dengan menghadap kepada Sri Bagawati. Sri Bagawati adalah nama lain dari Durga. Tujuannya hanya satu: tumpura nikang wwang sanagara [agar semua orang di negara itu terkena penyakit].

Tidak ada yang harus ditunggu lagi, Calwan Arang bersama dengan murid-muridnya menghadap Sri Bagawati di kuburan. Agar tidak ada yang tertinggal, murid-murid itu diabsen terlebih dahulu. Si Weksirsa, Mahisawadana, Si Lendya, Si Lende, Si Lendi, Si Guyang, Si Larung dan Si Gandi. Semuanya menari di kuburan!

Maka yang disembah merasa senang dan mewujudkan diri bersama dengan para pasukannya. Pasukan-pasukan itu datang dan menari di kuburan. Kuburan menjadi sebuah panggung tarian bagi pemuja dan pujaan. Bayangkan, jika drama tari Calwan Arang diadakan di kuburan. Tarian kembali kepada esensinya sebagai ritus pemujaan yang dilakukan dengan gerakan ritmis-mistis. Dengan demikian, penonton tidak perlu lagi menunggu-nunggu saat mayat-mayatan dibawa ke kuburan. Sebab panggung tarian sudah menyajikan kemistisan dari awal pertunjukan dimulai. Juga mereka tidak menjaga jarak sebagai penikmat, tapi juga sebagai pelaku yang dinikmati oleh dirinya sendiri.

Sri Bagawati merasa senang, dan mengabulkan permintaan Calwan Arang. Namun dengan syarat, jangan membunuh sampai ke tengah [kerajaan?], dan jangan sampai kematian itu menyebabkan duka yang teramat sangat. Calwan Arang senang bukan kepalang, lalu melanjutkan tariannya di tempat itu. Ketika tengah malam, berbunyilah Kamanak dan Kangsi. Keduanya dalam seni Gambuh adalah alat musik. Kedua instrument ini tampaknya juga sangat penting dihadirkan pada drama tari Calwan Arang. Jadi ada beberapa hal yang dapat kita ketahui dari cerita Calon Arang yang kita baca. Begini:

  1. Calon Arang menari bersama delapan orang muridnya di Kuburan. Tujuannya adalah memuja Sri Bagawati;

  2. Waktunya adalah tengah malam [madya ratri];

  3. Instrumen musik yang disebut mengiringi tarian itu adalah Kamanak dan Kangsi.

Jadi beberapa point penting itu perlu dicatat oleh kita yang mengaku gemar pada drama tari Calwan Arang. Teks menyajikan sesuatu yang lain dari pada pertunjukan yang sering dipentaskan. Di tingkat ini, kita mesti memikirkan kembali hal-hal lain yang mungkin masih tersimpan dalam teks dan membandingkannya dengan seni pertunjukan. Barangkali di antaranya ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk mengeksplorasi lebih jauh seni pertunjukkan Calon Arang.

Permohonan Calwan Arang benar-benar terkabul. Banyak orang di negara itu mati. Kematian banyak orang membuat Negara serasa mencekam. Rakryan Apatih menghadap kepada raja Erlanggya, melaporkan kejadian yang menimpa negara. “Penyebab semua ini adalah Randeng Girah, dialah Calwan Arang!”, demikian isi laporan sang Patih.

Tidak ada ampun untuk Calwan Arang, pergilah kalian semua punggawa, serang si Calwan Arang”, dengan geram raja Erlanggya memerintahkan semua punggawanya menuju Girah. Sang Bretya sampai di kediaman Calwan Arang, yang dicari masih tertidur pulas. Moment itu dimanfaatkan dengan baik, Sang Bretya menyerang Calwan Arang. Rambutnya dijambak lalu bersiap menusuknya. Saat itu, entah kenapa kaki Sang Bretya terasa berat dan gemetar. Calwan Arang sadar, seketika itu keluar api dari mata, telinga dan mulutnya. Api itu makin lama makin besar dan membakar Sang Bretya. Maka matilah dua orang Bretya yang menyerang Calwan Arang.

Ada beberapa teks yang mendukung kejadian yang menimpa punggawa Daha itu. Api konon memang bisa dikeluarkan dari lubang-lubang yang disebutkan dalam teks Calwan Arang. Masing-masing lubang itu mengeluarkan api yang berbeda warna. Api dari mata berwarna putih, sebab api ini berasal dari jantung. Jantung dalam peta mistis, terletak di timur tubuh. Telinga mengeluarkan api kuning. Menurut teks yang sama, dari ginjal ada saluran berupa urat yang tembus ke telinga. Ginjal dalam tubuh, ada di barat. Dari mulut keluar api merah. Api itu konon bersumber dari hati. Hati dalam peta mistis berada di selatan berwarna merah.

Selain beberapa lubang yang sudah disebutkan tadi, menurut teks Calwan Arang ada lagi satu lubang tubuh Calwan Arang yang mengeluarkan api. Lubang itu disebut Garba. Garba adalah sebutan untuk Rahim. Jadi dari lubang Rahim itulah api keluar berkobar dan membakar Bretya dari Daha. Bretya barangkali sebutan untuk punggawa kerajaan Daha. Semua kejadian itu dilaporkan kepada raja Erlanggya.

Calwan Arang yang sudah marah, menjadi makin marah setelah kejadian itu. Maka sekali lagi ia pergi ke kuburan dan menurunkan Lipyakara. Di kuburan, Calwan Arang duduk di bawah pohon Kepuh. Murid-muridnya mendekat. Si Lendya memberanikan diri bicara, “Maafkan hamba guru, untuk apa kita melakukan semua ini? Tidakkah sebaiknya kita berbuat baik dan menyerahkan diri kepada Sang Mahamuni?”.

Larung, muridnya yang lain berkata, “Apa yang mesti kita takutkan guru? Kemarahan raja? Jangan ragu guru, kita serang saja kerajaan itu!”. Dihadapkan pada dua pilihan, Calwan Arang memilih menyerang.

Cepat, bunyikan Kamanak dan Kangsi! Menarilah! Menari! Menari!”.

Tanpa cang-cing-cong lagi, Calwan Arang dan murid-muridnya menari lagi di kuburan. Tujuannya agar kerajaan Daha diserang penyakit. Tidak lagi syarat Sri Bagawati diperhatikan oleh Calwan Arang. Negeri Daha diserang sampai ke tengah kerajaannya.Mereka menari dengan caranya masing-masing. Si Guyang menari dengan tangan terlentang lalu menepuk-nepuk. Jalannya terbalik [nyungsang]. Juga memakai kain [sinjang]. Matanya mendelik, melihat ke kanan dan ke kiri.

Si Larung menari, lagaknya seperti macan akan menerkam buruan. Matanya mendelik seperti permata merah. Rambutnya terurai panjang. Si Gandi menari melompat-lompat. Rambutnya terurai dan berjuntai. Si Lendi menari berjinjit-jinjit memakai kain. Matanya bersinar terang seperti api berkobar. Si Weksirsa beda lagi, dia menari menunduk-nunduk. Matanya mendelik tanpa berkedip. Mahisawadana menari dengan satu kaki. Setelahnya ia berbalik, kepalanya di bawah. Lidahnya menjulur-julur. Calwan Arang merasa senang.

Tarian itu belum selesai. Mereka membagi tugas melingkar. Lenda bertugas di Selatan. Larung di Utara. Guyang di Timur. Gandi di Barat. Calwan Arang di tengah. Begitu juga Weksirsa dan Mahisawadana, di tengah bersama Calwan Arang. Formasi itu mirip bunga teratai dengan empat kelopak. Masing-masing kelopak menunjuk satu arah. Calwan Arang dan dua muridnya menjadi sari bunga teratai.

Konsep ini tidak asing bagi mereka yang menekuni teks-teks lontar. Bahkan, konsep itu tidak asing pula bagi orang-orang yang peduli pada ritual. Salah satu ritual yang menggunakan konsep teratai empat kelopak adalah upacara caru. Masing-masing arah diwakilkan oleh satu ayam. Ayamnya bukan ayam sembarangan. Tapi ayam yang bulu-bulunya diseleksi.

Formasi yang dibangun sudah siap. Saat itu mereka melihat satu mayat. Tampaknya mati saat Tumpek Kaliwon. Tumpek Kaliwon artinya Sabtu Kaliwon. Mayat itu diletakkan pada batang pohon Kepuh. Apa yang dilakukan dengan mayat itu? Dimakan? Dicincang? Tidak. Mayat itu lalu dihidupkan! Teknik menghidupkan ini disebut binaywan-baywan. Artinya memberikan sumber tenaga [bayu]. Dalam banyak sumber lontar, kita diberi tahu bahwa yang disebut bayu ada sepuluh. Bahkan menurut sumber lainnya, jumlah bayu ada dua puluh. Keduapuluh bayu itu bernama bayu rwang puluh.

Teks menyajikan sesuatu untuk dibaca. Pembaca bertugas memahami. Pergulatan antara teks dan pembaca terjadi terus menerus. Hadiah dari pergulatan itu adalah pemahaman yang terkesan selalu baru, selalu segar. Calwan Arang dituduh melakukan kejahatan, bahkan pencerita sendiri tidak menjelaskan kejahatan macam apa yang dilakukannya.

Melalui teks, kita tahu kalau Lipyakara dilakukan oleh Calwan Arang karena dua hal. Pertama karena putrinya tidak ada yang berani melamar, sebab tuduhan yang ditusukkan pada dirinya. Kedua, karena ia diserang oleh punggawa Erlanggya. Keduanya berpusat pada dendam. Dendam karena dituduh, dan dendam karena diserang.

The post Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II appeared first on BaleBengong.