Tag Archives: Kewirausahaan

#UNBRANDING, Cara UNPOPULAR Branding di Entrepreneur Festival 2019

Entrepreneur Festival ke 6 tahun 2019 kembali terselenggara oleh BPR Lestari dan Money&I Magazine dengan tema UNBRANDING. Berlangsung di Bhumiku Convention Centre pada Sabtu, 28 September 2019. Menghadirkan pembicara kondang Andy F. Noya, Executive Producer Brand Adventure Indonesia dan Arto Biantoro, Creative Director CEO of Gambaran Brand dan Host Brand Adventure Indonesia.

Alex P Chandra Entrepreneur Festival 2019

Jadi ajang nostalgia juga bagi saya yang pernah rasakan jadi nominator kategori Technopreneur Awards pada Entrepreneur Festival ke 2 tahun 2015. Alhamdulillah bisa jadi bahan cerita ke anak-anak. Ada buktinya juga hehehe.

Ya, acara ini ada ajang penghargaan nya juga. Selain konsep seminar edukasi wirausaha, Entrepreneur Festival juga sebagai selebrasi apresiasi kepada sejumlah pengusaha yang sukses menjadi inspirator kewirausahaan khususnya di Bali.

Kategorisasi penghargaan meliputi The Rookie (untuk pengusaha pemula yang usianya di bawah 35 tahun), The Wonder Woman (untuk pengusaha wanita yang dengan berbagai kesibukannya sebagai ibu rumah tangga namun berhasil mengembangkan usahanya), The Technopreneur (untuk pengusaha yang bisnisnya menggunakan platform teknologi atau digital), penghargaan Lestari Entrepreneur of the year (penghargaan tertinggi pengusaha), dan The Icon (pengusaha dari Bali yang berkiprah di tingkat nasional).

Pemenang Entrepreneur Festival 2019

Pemenang Penghargaan di Entrepreneur Festival 2019

Proses pengamatan para nominator berlangsung 1 tahun. Waw! Kemudian penjurian akan saya ceritakan di akhir tulisan ini. Maka pemenang nya adalah:

The Rookie: Anak Agung Gede Wedhatama (pengusaha Pertanian)
The Wonder Woman: Putu Suprapti Santy Sastra (pengusaha Public Speaking)
The Technopreneur: Puja Astawa (Pegiat sosial dan Youtuber)
Lestari Entrepreneur Of The Year: I Ketut Mardjana (Owner Toya Devasya)
The Icon: Gusti Ngurah Anom (Cok Krisna, owner Krisna Oleh-Oleh)

Selamat ya Bli, Pak dan Bu! Anda tokoh panutan kami para wirausahawan Bali!

Para pemenang didaulat ke panggung dan menerima penghargaan yang diserahkan oleh Walikota Denpasar Bapak Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Chairman Lestari Group Bapak Alex Purnadi Chandra. Sambil semua masih berdiri di panggung, Pak Rai Mantra berikan sambutan. Mengabarkan bahwa Denpasar saat ini sudah punya 4% pengusaha.

Saya pribadi punya kenangan manis dengan Pak Rai Mantra ini. Aishh. Ketika mengadakan Pesta Wirausaha Bali 2016 untuk komunitas wirausaha TDA Bali, berhasil audiensi dan mendaulat beliau untuk membuka acara tersebut. Ah lagi-lagi cerita manis yang bisa jadi oleh-oleh masa tua nanti hehehe. Alhamdulillah.

Inspirasi dari Para Pemenang

Ada 5 pemenang namun sayangnya Cok Krisna dan Puja Astawa berhalangan hadir. Jadinya cuma 3 pemenang saja yang didaulat cerita tentang pengembangan bisnis nya. Supaya jadi inspirasi 800 an undangan Entrepreneur Festival 2019. Berikut saya ceritakan poin-poin nya ya.

Walikota Denpasar

Toya Devasya ternyata milik dari mantan Dirut PT. Pos Indonesia! Bapak I Ketut Mardjana. Tahu Toya Devasya kan? Itu loh resort di Kintamani yang ada Natural Hot Spring nya. Saya coba googling ternyata Toya Devasya menjalankan beberapa unit usaha di antaranya Natural Hot Springs, Restaurant, The Ayu Kintamani Villas, Wisata petualangan, Ayurvedic Spa dan Toya Yatra Tour and Travel. Tidak hanya resort ternyata!

Setelah pensiun, tokoh yang terkenal membuat PT. Pos Indonesia buntung jadi untung ini fokus having fun pulang kampung jalankan Toya Devasya yang tadinya tidak kedengaran jadi fenomenal di dunia pariwisata Bali.

Pak I Ketut Mardjana mengawali presentasi nya dengan filosofi Bali. Tidak ada ceritanya orang sakti itu pintar sendiri. Beliau punya 3 jurus sakti buat Toya Devasya melejit. Yaitu konsep Selfie, Kemitraan dan Kontribusi. Kurang lebih begitulah resume dari bahasa saya.

Tren selfie dimanfaatkan Pak Mardjana untuk poles setiap sudut Toya Devasya memorable dan jadi spot cantik untuk berfoto selfie. Ketika wisatawan berselfie ria dan unggah ke media sosial, maka pasar lah yang lakukan marketing untuk Toya Devasya! Irit biaya marketing, kelakar Pak Mardjana.

Untuk tingkatkan kunjungan wisata ke Toya Devasya, Pak Mardjana sadar betul tidak bisa sendirian. Wisatawan mayoritas dibawa oleh guide atau driver. Maka strategi beliau adalah berikan pendapatan tambahan (komisi) untuk guide/driver yang membawa wisatawan nya belanja di Toya Devasya. Besaran komisi nya mulai dari 50 hingga 70%! Mrinding! Makanya guide dan driver betah berikan referensi wisatawan untuk datang ke Toya Devasya.

Strategi ke tiga, Pak Mardjana menyisihkan keuntungannya untuk bantu penduduk dan pebisnis lokal untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang nyaman bersama. Support melalui kegiatan PokDarWis (Kelompok Sadar Wisata). Misalnya bantu buatkan toilet untuk spot cantik di sekitaran Kintamani sana. Bantu perbaiki boat/perahu operator wisata milik penduduk sana agar tamu betah berlama-lama di Kintamani. Bantu pengusaha transport lokal sana, dll yang intinya kegiatan membangun pariwisata Kintamani. Maka jika ada thread/ancaman bagi Toya Devasya, lingkungan lah yang menjadi benteng. Kemudian antara operator wisata satu dan lainnya saling mendukung. Gilak ya. Salut!

Gajah adalah maskot group Toya Devasya. Makna filosofif Gajah menurut Pak Mardjana: Kuping nya besar maka siap mendengarkan segala ide, saran dan kritik. Matanya kecil artinya fokus. Mulut gajah kecil, artinya tidak greedy (serakah). Belalainya untuk memuntahkan air, semburkan kemakmuran. Badan nya besar simbol dari kekokohan. Byuh keren pisan euy!

Itu yang bisa saya rekam dari mantan Dirut PT. Pos Indonesia yang melegenda, dalam meningkatkan value bisnis Toya Devasya Group.

Bagaimana dengan Bu Santy Sastra? Beliau ini dulunya penyiar dan pemilik radio Duta FM. Akhir-akhir ini fokus di lembaga public speaking. Memberikan pendidikan kemampuan diri didepan publik. Bu Santy mengenal 2 macam hari dalam hidupnya. Yaitu hari yang baik dan hari yang sangat baik. Waw, maka isi kehidupannya selalu positif nih!

Kemudian Anak Agung Gede Wedhatama, yang lebih dikenal dengan panggilan Gung Wedha. Masih muda, milenial, namun bisnis nya berbasis Pertanian. Menjadi petani muda itu keren! Itu tagline nya. Keren nya ada alasannya lho. Gung Wedha berhasil eksport ber ton-ton komoditi unggulan Bali ke luar negeri! Semisal manggis.

Menurut Gung Wedha, Bali kekuatan nya di agraris. Harus ada generasi muda yang konsen perbaiki pertanian di Bali. Pertanian adalah bisnis yang sudah disediakan Tuhan, selain air dan energi. Maka kita tinggal ambil dan mengolah nya jadi nilai yang tinggi. Mrinding!

Selain sektor pertanian, Gung Wedha juga mengembangkan fintech Pertanian, nabung tani. Kemudian menciptakan teknologi Pertanian by phone. Ngeri ya? hehehe. Pantes menang!

#UNBRANDING, Konsep Branding Tanpa Branding

Pembicara utama Entrepreneur Festival 2019 saat nya bicara. Adalah Arto Biantoro seorang brand activist presentasi tentang UNBRANDING bagi para pebisnis. UNBRANDING adalah pendekatan branding yang tidak populer. Namun jika dilakukan akan membuat brand itu bertahan lama (sustain).

Arto Biantoro UNBRANDING

Branding selama ini berfikiran bagaimana produk kita laku. Kegiatan menawarkan produk, edukasi produk, di klaim sebagai branding. Padahal itu pola marketing. UNBRANDING adalah aksi the next branding yaitu brand yang memberikan manfaat kepada konsumen atau masyarakat secara umum.

The future of branding adalah care about the people, bukan brand nya. Arto juga menunjukkan slide bertuliskan: Successful brands of the future care about people, not branding. Mungkin secara teori, pendekatan tidak biasa ini bertentangan dengan ilmu marketing yang kita kenal dari dulu.

Kata Menteri Koperasi dan UKM RI, jumlah pengusaha di Indonesia meningkat jadi 7%. Apakah lantas membuat profit bisnis makin meningkat? Malah makin susah karena itu realita kompetisi yang tinggi. Masyarakat jadi banyak pilihan dan kita harus rela berbagi kue profit. Contoh kompetisi antar marketplace yang gaungkan Free Ongkir, itu tidak kreatif sama sekali. Pendapat Arto. Maka kita perlu pendekatan UNBRANDING untuk menciptakan nilai lebih dari brand kita.

Hasil dari UNBRANDING adalah kita tak perlu cerita tentang brand. Orang lain lah yang akan menceritakan brand kita. Bagaimana bisa tahu? Kita cukup mempersiapkan brand profile saja yang ditempatkan sebagaimana mestinya, misal website, kartu nama, kantor. Tanpa harus menawarkan orang lain untuk mengerti. Klo tetap menawarkan mah marketing itu namanya hehehe.

Andy F Noya

Ada apa dengan Andy F Noya? Dia masih satu manajemen dengan Arto. Andy adalah sosok sempurna dari UNBRANDING. “Tanpa saya sadari, inilah yang membentuk label dari Andy F Noya, proses UNBRANDING yang menjadikan saya seperti sekarang,” ujar si presenter Kick Andy.

Andy bercerita panjang soal sejumlah program dan kegiatannya di ranah sosial, yang semua ini tidak pernah terpikirkan olehnya ketika mengawali karir. Baginya, menjadi seorang jurnalis sudah lebih dari cukup, namun panggilan lain membawanya bergerak pada jalur yang lebih dalam, menjadi sosial entrepreneur.

Andy F Noya ini cocok jadi standup comedian deh. Dari awal sampai pertengahan acara isi materinya bikin undangan terpingkal-pingkal. Ya saya terhibur juga siy. Namun pukul 21.30 WITA saya anggap pertengahan dan harus pamit dari Entrepreneur Festival 2019. Sayang tidak bisa ikuti acara hingga akhir karena sudah janji dengan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Badung, sebuah organisasi pencak silat untuk memberikan materi tentang media sosial dan potensinya.

PSHT

Setelah memberikan materi media sosial ke anggota PSHT, saya jadi mikir tentang UNBRANDING dan kegiatan tingkah polah saya selama ini. Mungkin saya tidak sadar bahwa kegiatan sharing jadi pembicara internet marketing ini sudah UNBRANDING. Porsi bicara brand saya cuma perkenalan nggak sampai 5 menit. Sisanya bicara kekuatan digital marketing yang berpotensi bawa manfaat.

Mungkinkah aktivitas saya sama seperti yang dilakukan Andy F Noya dengan Kick Andy Foundation nya? Wallahu A’lam hanya Allah yang Maha Tahu deh. Tapi saya pribadi sepakat dengan konsep UNBRANDING ini. Masuk akal dan Mrinding!

Entrepreneur Festival lakukan #UNBRANDING

Ya! Menurut saya BPR Lestari dan Money&I melakukan aksi UNBRANDING dengan selenggarakan acara tahunan bernama Entrepreneur Festival. Event tahunan ini manfaatnya terasa bagi saya pribadi. Yakin juga bermanfaat bagi pebisnis lainnya.

Saya dapat wawasan keilmuan dan pengalaman dunia bisnis dari narasumber yang berkompeten. Tentunya akan saya aplikasikan di bisnis juga. Saya dapat pengakuan (walaupun sebagai nominator) dan rela untuk cerita tentang Entrepreneur Festival. Bukan cerita soal BPR Lestari dan Money&I nya ya. Pun tidak ceritakan figur Pak Alex dan Pak Arif nya. Kedua brand dan kedua orang itu jelas akan dikepoin oleh masyarakat yang mengikuti Entrepreneur Festival. Bahkan dikepoin orang karena ada yang baca tentang manfaat nya. Ya seperti baca di tulisan ini. Haizzz. Serius ini Pak!

Pribadi-pribadi yang mendapatkan pengakuan, walaupun itu nominator dan diberikan piagam, itu sangat berharga. Mean something. Yakin deh. Menurut saya siy. Jadi value untuk vibrasi masa depan nya anak-anak. Tokoh tua nya bisa dijadikan panutan. Sayang nya Entrepreneur Festival kali ini tidak menyebutkan para nominator nya. Apakah saya ketinggalan? CMIW. Padahal para nominator bisa jadi agent UNBRANDING nya kedua bisnis itu.

Juri Entrepreneur Festival 2019

Pengakuan lain di event ini adalah menunjuk saya jadi salah satu juri untuk penentuan pemenang Entrepreneur Festival 2019. Saya merasa diri ini bermanfaat dan bernilai tinggi mewakili ribuan pengusaha di Denpasar. Mohon ampun Ya Allah jika ini tinggi hati. Trully i’m proud of my self and my kids will do. Thanks Pak.

Saya yakin juri yang lain juga merasa terhormat mendapatkan kesempatan. Adalah Bu Sutrisna Dewi, Pak Putu Santika, Pak Putu Sudiarta, Bu IGA Silawati, Pak IB Ratu Antoni Putra, Bu Kadek Chintya Dwi Pratiwi dan Pak Arif Rahman.

So, saya mendukung Entrepreneur Festival terus menerus diadakan. Sangat bermanfaat. Terima kasih Ya Allah dan terima kasih BPR Lestari (Pak Alex) dan Money&I (Pak Arif).

#UNBRANDING, Cara UNPOPULAR Branding di Entrepreneur Festival 2019

Entrepreneur Festival ke 6 tahun 2019 kembali terselenggara oleh BPR Lestari dan Money&I Magazine dengan tema UNBRANDING. Berlangsung di Bhumiku Convention Centre pada Sabtu, 28 September 2019. Menghadirkan pembicara kondang Andy F. Noya, Executive Producer Brand Adventure Indonesia dan Arto Biantoro, Creative Director CEO of Gambaran Brand dan Host Brand Adventure Indonesia.

Alex P Chandra Entrepreneur Festival 2019

Jadi ajang nostalgia juga bagi saya yang pernah rasakan jadi nominator kategori Technopreneur Awards pada Entrepreneur Festival ke 2 tahun 2015. Alhamdulillah bisa jadi bahan cerita ke anak-anak. Ada buktinya juga hehehe.

Ya, acara ini ada ajang penghargaan nya juga. Selain konsep seminar edukasi wirausaha, Entrepreneur Festival juga sebagai selebrasi apresiasi kepada sejumlah pengusaha yang sukses menjadi inspirator kewirausahaan khususnya di Bali.

Kategorisasi penghargaan meliputi The Rookie (untuk pengusaha pemula yang usianya di bawah 35 tahun), The Wonder Woman (untuk pengusaha wanita yang dengan berbagai kesibukannya sebagai ibu rumah tangga namun berhasil mengembangkan usahanya), The Technopreneur (untuk pengusaha yang bisnisnya menggunakan platform teknologi atau digital), penghargaan Lestari Entrepreneur of the year (penghargaan tertinggi pengusaha), dan The Icon (pengusaha dari Bali yang berkiprah di tingkat nasional).

Pemenang Entrepreneur Festival 2019

Pemenang Penghargaan di Entrepreneur Festival 2019

Proses pengamatan para nominator berlangsung 1 tahun. Waw! Kemudian penjurian akan saya ceritakan di akhir tulisan ini. Maka pemenang nya adalah:

The Rookie: Anak Agung Gede Wedhatama (pengusaha Pertanian)
The Wonder Woman: Putu Suprapti Santy Sastra (pengusaha Public Speaking)
The Technopreneur: Puja Astawa (Pegiat sosial dan Youtuber)
Lestari Entrepreneur Of The Year: I Ketut Mardjana (Owner Toya Devasya)
The Icon: Gusti Ngurah Anom (Cok Krisna, owner Krisna Oleh-Oleh)

Selamat ya Bli, Pak dan Bu! Anda tokoh panutan kami para wirausahawan Bali!

Para pemenang didaulat ke panggung dan menerima penghargaan yang diserahkan oleh Walikota Denpasar Bapak Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Chairman Lestari Group Bapak Alex Purnadi Chandra. Sambil semua masih berdiri di panggung, Pak Rai Mantra berikan sambutan. Mengabarkan bahwa Denpasar saat ini sudah punya 4% pengusaha.

Saya pribadi punya kenangan manis dengan Pak Rai Mantra ini. Aishh. Ketika mengadakan Pesta Wirausaha Bali 2016 untuk komunitas wirausaha TDA Bali, berhasil audiensi dan mendaulat beliau untuk membuka acara tersebut. Ah lagi-lagi cerita manis yang bisa jadi oleh-oleh masa tua nanti hehehe. Alhamdulillah.

Inspirasi dari Para Pemenang

Ada 5 pemenang namun sayangnya Cok Krisna dan Puja Astawa berhalangan hadir. Jadinya cuma 3 pemenang saja yang didaulat cerita tentang pengembangan bisnis nya. Supaya jadi inspirasi 800 an undangan Entrepreneur Festival 2019. Berikut saya ceritakan poin-poin nya ya.

Walikota Denpasar

Toya Devasya ternyata milik dari mantan Dirut PT. Pos Indonesia! Bapak I Ketut Mardjana. Tahu Toya Devasya kan? Itu loh resort di Kintamani yang ada Natural Hot Spring nya. Saya coba googling ternyata Toya Devasya menjalankan beberapa unit usaha di antaranya Natural Hot Springs, Restaurant, The Ayu Kintamani Villas, Wisata petualangan, Ayurvedic Spa dan Toya Yatra Tour and Travel. Tidak hanya resort ternyata!

Setelah pensiun, tokoh yang terkenal membuat PT. Pos Indonesia buntung jadi untung ini fokus having fun pulang kampung jalankan Toya Devasya yang tadinya tidak kedengaran jadi fenomenal di dunia pariwisata Bali.

Pak I Ketut Mardjana mengawali presentasi nya dengan filosofi Bali. Tidak ada ceritanya orang sakti itu pintar sendiri. Beliau punya 3 jurus sakti buat Toya Devasya melejit. Yaitu konsep Selfie, Kemitraan dan Kontribusi. Kurang lebih begitulah resume dari bahasa saya.

Tren selfie dimanfaatkan Pak Mardjana untuk poles setiap sudut Toya Devasya memorable dan jadi spot cantik untuk berfoto selfie. Ketika wisatawan berselfie ria dan unggah ke media sosial, maka pasar lah yang lakukan marketing untuk Toya Devasya! Irit biaya marketing, kelakar Pak Mardjana.

Untuk tingkatkan kunjungan wisata ke Toya Devasya, Pak Mardjana sadar betul tidak bisa sendirian. Wisatawan mayoritas dibawa oleh guide atau driver. Maka strategi beliau adalah berikan pendapatan tambahan (komisi) untuk guide/driver yang membawa wisatawan nya belanja di Toya Devasya. Besaran komisi nya mulai dari 50 hingga 70%! Mrinding! Makanya guide dan driver betah berikan referensi wisatawan untuk datang ke Toya Devasya.

Strategi ke tiga, Pak Mardjana menyisihkan keuntungannya untuk bantu penduduk dan pebisnis lokal untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang nyaman bersama. Support melalui kegiatan PokDarWis (Kelompok Sadar Wisata). Misalnya bantu buatkan toilet untuk spot cantik di sekitaran Kintamani sana. Bantu perbaiki boat/perahu operator wisata milik penduduk sana agar tamu betah berlama-lama di Kintamani. Bantu pengusaha transport lokal sana, dll yang intinya kegiatan membangun pariwisata Kintamani. Maka jika ada thread/ancaman bagi Toya Devasya, lingkungan lah yang menjadi benteng. Kemudian antara operator wisata satu dan lainnya saling mendukung. Gilak ya. Salut!

Gajah adalah maskot group Toya Devasya. Makna filosofif Gajah menurut Pak Mardjana: Kuping nya besar maka siap mendengarkan segala ide, saran dan kritik. Matanya kecil artinya fokus. Mulut gajah kecil, artinya tidak greedy (serakah). Belalainya untuk memuntahkan air, semburkan kemakmuran. Badan nya besar simbol dari kekokohan. Byuh keren pisan euy!

Itu yang bisa saya rekam dari mantan Dirut PT. Pos Indonesia yang melegenda, dalam meningkatkan value bisnis Toya Devasya Group.

Bagaimana dengan Bu Santy Sastra? Beliau ini dulunya penyiar dan pemilik radio Duta FM. Akhir-akhir ini fokus di lembaga public speaking. Memberikan pendidikan kemampuan diri didepan publik. Bu Santy mengenal 2 macam hari dalam hidupnya. Yaitu hari yang baik dan hari yang sangat baik. Waw, maka isi kehidupannya selalu positif nih!

Kemudian Anak Agung Gede Wedhatama, yang lebih dikenal dengan panggilan Gung Wedha. Masih muda, milenial, namun bisnis nya berbasis Pertanian. Menjadi petani muda itu keren! Itu tagline nya. Keren nya ada alasannya lho. Gung Wedha berhasil eksport ber ton-ton komoditi unggulan Bali ke luar negeri! Semisal manggis.

Menurut Gung Wedha, Bali kekuatan nya di agraris. Harus ada generasi muda yang konsen perbaiki pertanian di Bali. Pertanian adalah bisnis yang sudah disediakan Tuhan, selain air dan energi. Maka kita tinggal ambil dan mengolah nya jadi nilai yang tinggi. Mrinding!

Selain sektor pertanian, Gung Wedha juga mengembangkan fintech Pertanian, nabung tani. Kemudian menciptakan teknologi Pertanian by phone. Ngeri ya? hehehe. Pantes menang!

#UNBRANDING, Konsep Branding Tanpa Branding

Pembicara utama Entrepreneur Festival 2019 saat nya bicara. Adalah Arto Biantoro seorang brand activist presentasi tentang UNBRANDING bagi para pebisnis. UNBRANDING adalah pendekatan branding yang tidak populer. Namun jika dilakukan akan membuat brand itu bertahan lama (sustain).

Arto Biantoro UNBRANDING

Branding selama ini berfikiran bagaimana produk kita laku. Kegiatan menawarkan produk, edukasi produk, di klaim sebagai branding. Padahal itu pola marketing. UNBRANDING adalah aksi the next branding yaitu brand yang memberikan manfaat kepada konsumen atau masyarakat secara umum.

The future of branding adalah care about the people, bukan brand nya. Arto juga menunjukkan slide bertuliskan: Successful brands of the future care about people, not branding. Mungkin secara teori, pendekatan tidak biasa ini bertentangan dengan ilmu marketing yang kita kenal dari dulu.

Kata Menteri Koperasi dan UKM RI, jumlah pengusaha di Indonesia meningkat jadi 7%. Apakah lantas membuat profit bisnis makin meningkat? Malah makin susah karena itu realita kompetisi yang tinggi. Masyarakat jadi banyak pilihan dan kita harus rela berbagi kue profit. Contoh kompetisi antar marketplace yang gaungkan Free Ongkir, itu tidak kreatif sama sekali. Pendapat Arto. Maka kita perlu pendekatan UNBRANDING untuk menciptakan nilai lebih dari brand kita.

Hasil dari UNBRANDING adalah kita tak perlu cerita tentang brand. Orang lain lah yang akan menceritakan brand kita. Bagaimana bisa tahu? Kita cukup mempersiapkan brand profile saja yang ditempatkan sebagaimana mestinya, misal website, kartu nama, kantor. Tanpa harus menawarkan orang lain untuk mengerti. Klo tetap menawarkan mah marketing itu namanya hehehe.

Andy F Noya

Ada apa dengan Andy F Noya? Dia masih satu manajemen dengan Arto. Andy adalah sosok sempurna dari UNBRANDING. “Tanpa saya sadari, inilah yang membentuk label dari Andy F Noya, proses UNBRANDING yang menjadikan saya seperti sekarang,” ujar si presenter Kick Andy.

Andy bercerita panjang soal sejumlah program dan kegiatannya di ranah sosial, yang semua ini tidak pernah terpikirkan olehnya ketika mengawali karir. Baginya, menjadi seorang jurnalis sudah lebih dari cukup, namun panggilan lain membawanya bergerak pada jalur yang lebih dalam, menjadi sosial entrepreneur.

Andy F Noya ini cocok jadi standup comedian deh. Dari awal sampai pertengahan acara isi materinya bikin undangan terpingkal-pingkal. Ya saya terhibur juga siy. Namun pukul 21.30 WITA saya anggap pertengahan dan harus pamit dari Entrepreneur Festival 2019. Sayang tidak bisa ikuti acara hingga akhir karena sudah janji dengan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Badung, sebuah organisasi pencak silat untuk memberikan materi tentang media sosial dan potensinya.

PSHT

Setelah memberikan materi media sosial ke anggota PSHT, saya jadi mikir tentang UNBRANDING dan kegiatan tingkah polah saya selama ini. Mungkin saya tidak sadar bahwa kegiatan sharing jadi pembicara internet marketing ini sudah UNBRANDING. Porsi bicara brand saya cuma perkenalan nggak sampai 5 menit. Sisanya bicara kekuatan digital marketing yang berpotensi bawa manfaat.

Mungkinkah aktivitas saya sama seperti yang dilakukan Andy F Noya dengan Kick Andy Foundation nya? Wallahu A’lam hanya Allah yang Maha Tahu deh. Tapi saya pribadi sepakat dengan konsep UNBRANDING ini. Masuk akal dan Mrinding!

Entrepreneur Festival lakukan #UNBRANDING

Ya! Menurut saya BPR Lestari dan Money&I melakukan aksi UNBRANDING dengan selenggarakan acara tahunan bernama Entrepreneur Festival. Event tahunan ini manfaatnya terasa bagi saya pribadi. Yakin juga bermanfaat bagi pebisnis lainnya.

Saya dapat wawasan keilmuan dan pengalaman dunia bisnis dari narasumber yang berkompeten. Tentunya akan saya aplikasikan di bisnis juga. Saya dapat pengakuan (walaupun sebagai nominator) dan rela untuk cerita tentang Entrepreneur Festival. Bukan cerita soal BPR Lestari dan Money&I nya ya. Pun tidak ceritakan figur Pak Alex dan Pak Arif nya. Kedua brand dan kedua orang itu jelas akan dikepoin oleh masyarakat yang mengikuti Entrepreneur Festival. Bahkan dikepoin orang karena ada yang baca tentang manfaat nya. Ya seperti baca di tulisan ini. Haizzz. Serius ini Pak!

Pribadi-pribadi yang mendapatkan pengakuan, walaupun itu nominator dan diberikan piagam, itu sangat berharga. Mean something. Yakin deh. Menurut saya siy. Jadi value untuk vibrasi masa depan nya anak-anak. Tokoh tua nya bisa dijadikan panutan. Sayang nya Entrepreneur Festival kali ini tidak menyebutkan para nominator nya. Apakah saya ketinggalan? CMIW. Padahal para nominator bisa jadi agent UNBRANDING nya kedua bisnis itu.

Juri Entrepreneur Festival 2019

Pengakuan lain di event ini adalah menunjuk saya jadi salah satu juri untuk penentuan pemenang Entrepreneur Festival 2019. Saya merasa diri ini bermanfaat dan bernilai tinggi mewakili ribuan pengusaha di Denpasar. Mohon ampun Ya Allah jika ini tinggi hati. Trully i’m proud of my self and my kids will do. Thanks Pak.

Saya yakin juri yang lain juga merasa terhormat mendapatkan kesempatan. Adalah Bu Sutrisna Dewi, Pak Putu Santika, Pak Putu Sudiarta, Bu IGA Silawati, Pak IB Ratu Antoni Putra, Bu Kadek Chintya Dwi Pratiwi dan Pak Arif Rahman.

So, saya mendukung Entrepreneur Festival terus menerus diadakan. Sangat bermanfaat. Terima kasih Ya Allah dan terima kasih BPR Lestari (Pak Alex) dan Money&I (Pak Arif).

Antara Business Matching dan Guna-Guna Sembuh ‘Berkat Youtube’

4 rejeki yang saya terima dari Silaturahmi hadiri undangan Business Matching nya Inkubator Bisnis (INBIS) Universitas Udayana, almamater tercintah. Terima kasih Tuhan, terima kasih Bu Sutrisna Dewi.

Business Matching Inkubator Bisnis Universitas Udayana

Pertama!

Bertemu dan berbincang dengan Pak Wayan Magnum, undangan dan juga anggota TDA Bali. Ah dunia ini tak selebar daun kelor. TDA tuh plesetan dari Temannya Dimana Aja wkwkwk. Pak Magnum cerita habis jatuh sakit akibat guna-guna (sihir). Mungkin bukan asumsi ya karena sekelas RS Siloam pun tak mampu diagnosa jenis penyakitnya. Namun bagian dari upaya penyembuhan, Pak Magnum seminggu sekali ke dokter spesialis dari tahun 2014 hingga 2018.

Sekali ke dokter habis 2juta! Penyakit itu perlahan sirna setelah Pak Magnum menerapkan terapi minum air hangat sebelum tidur, tengah malam dan pagi hari sebelum sarapan. Dari awal 2019 hingga pertemuan tadi, Pak Magnum merasa sehat bugar! Tanpa ke dokter lagi. Terapi air hangat ini ditemukan oleh Pak Magnum dari Youtube! Jeddaarrrr. #GoOnlineOrGoAway. Saya jadi semangat konsumsi air hangat nok!

Hendra dan Wayan Magnum

Kedua!

Bertemu dan berbicang dengan Orlando Nandito Nehemia. Usia masih milenial namun dia founder & CEO Miracle Gates Indonesia, perusahaan games animasi dengan anak buah 18 orang. Semuanya fix cost! Mrinding! Perusahaan nya di inkubasi oleh INBIS Univ Udayana. Dia bangun bisnis nya dari modal Dengkul, Otak dan Tuhan. Semuanya dimulai ketika dia putuskan Out Duluan alias OD dari kampus IT di Bali pada semester 2 di tahun 2014. Ya, dia tak bergelar dan saya langsung salaman hahaha. Senasib wkwkwk. Bedanya, dia OD pada semester 2, saya semester 16!

Hendra dan Nando

Bisnis game dan animasi di Indonesia masih terbuka lebar. Dia berani punya impian untuk bisa ke Amerika dan itu terwujud! Pokoknya bermimpilah dan konsisten dengan bidangnya, Tuhan akan beri jalan. Segala hal teknis dunia game dia pelajari dari internet. Kemudian mau untuk networking, hadiri acara-acara yang berkaitan dengan dunia nya. Informasi monetizing game pun terbuka. Jadi merintis bisnis itu harus berani keluar kamar. Itu pesan dari obrolan tadi. Soal OD, jangan ditiru!

Ketiga!

Saya bertemu dengan network-network baru dan lama. Ada beragam perusahaan besar yang diundang oleh INBIS Univ Udayana. Begitu juga bertemu dengan pak bro Rudi Luo dan para pejuang-pejuang INBIS Universitas Udayana. Ini rejeki!

Undangan dan Peserta Business Matching INBIS Universitas Udayana

Keempat!

Bertemu dan berbincang dengan Bu Sayu, Ketua INBIS Universitas Udayana. Memberikan penawaran peluang kolaborasi. Ahay! Saya suka saya suka! Kemudian bisa mencicipi kue, buah dan minum. Segarnyoo. Tak lupa team beliau berikan bingkisan untuk dibawa pulang. Sebutin gag ya? Ada deeeh. Thanks Bu! telah undang saya atas nama BOC Indonesia.

Hendra, Sutrisna Dewi dan Wayan Magnum

Selamat dan sukes untuk Business Matching nya INBIS Universitas Udayana. Tetaplah memrindingkan para wirausahawan dengan arahan nya. Semoga tenan nya mampu jadi perusahaan besar dan bermanfaat bagi masyarakat.

Salam #KolaborAksiUntukNegeri

Saya baru sadar setelah beberapa jam sampai rumah. Foto-foto bersama di lokasi pengennya menjulurkan tangan untuk salam KolaborAksi Untuk Negeri, eh ternyata acung jemari nya tuh salam DONGKRAK! hahahaha. Duh lupa euy.

Kebacut! The Keranjang Milik Siapa?

Pukul 22.15 WITA, saya menerima sebuah kata, “Kebacut!” Namun saya mau ekspresikan rasa syukur kepada Allah SWT lewat tulisan ini akibat sore tadi bertemu dengan beberapa orang penting dan hebat. Adalah Mas Ibnu Riyanto dan Pak Gede Indra.

Ibnu Riyanto dan Hendra W Saputro

Bertemu dan sempat berbincang dengan mereka di acara nya Deputi Pengembangan dan Penguatan Usaha, Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia (Kemenkop UKM RI). Berlangsung di Hotel Mercure Harvest Kuta, Sabtu 21 September 2019.

Siapa sih Mas Ibnu dan Pak Indra? Mas Ibnu tuh CEO dan owner The Keranjang Bali. Ya, pusat oleh-oleh The Keranjang Bali miliknya Mas Ibnu Riyanto. Tapi ada 4 orang lagi pemilik The Keranjang. Cukup saya aja yang tahu hehehe. Nggak seru kalau saya omongkan disini. Karena para pemilik itu ada dalam materi presentasi nya Mas Ibnu di acara tadi.

Ketika Mas Ibnu didaulat untuk bicara di acaranya Kemenkop UKM RI tadi, The Keranjang baru 2 bulan buka dengan status soft opening. Belumlah grand opening! Mas Ibnu berbicara tentang kisah sejarah wirausaha nya dan beri wawasan berbisnis serta memotivasi para UKM.

Ibnu Riyanto The Keranjang Bali

Ya, peserta acara tadi adalah para UKM dari Bali. Tidaklah banyak, mungkin sekitar 50 an dan pastinya itu pilihan dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali.

Mas Ibnu menikah muda. Lulus SMA langsung menikah. Berbekal uang hasil resepsi pernikahan sebesar Rp. 17 juta, Mas Ibnu memulai bisnis jualan kain kafan (mori). Beh ngeri-ngeri sedap juga hehehe. Namun itu ada unsur sosialnya juga siy. Kain Kafan itu kain untuk bungkus jenazah.

Karena ketekunan, konsistensi, dan inovasi hingga akhirnya jadi besar bisnis nya. Sampai punya batik trusmi di Cirebon sana. Hingga The Keranjang Bali.

UKM Bali

Sebelum acara, sempat saya berbincang dengan Mas Ibnu. Namun saya yang gencar memulai percakapan. Termasuk singgung soal komunitas wirausaha Tangan Di Atas (TDA). Ya, Mas Ibnu terkenal di kalangan teman-teman TDA. Jadi langsung saja saya giring topiknya ke TDA.

Mas Ibnu begitu tahu saya anggota TDA Bali, beliau langsung sumringah berbinar. “Kita satu DNA! TDA!” gitu komentar Mas Ibnu pada saya. “Saya ikut TDA pas jaman Presiden TDA Mustofa Romdloni,” cerita Mas Ibnu.

Kami pun terlibat obrolan seru tentang TDA. Termasuk saya ceritakan tentang TDA Bali dan pernah jadi ketua nya. Saat ini sudah lengser dan digantikan Mas Sidik. Di sela-sela pembicaraan, saya ‘todong’ meminta Mas Ibnu untuk meetup dengan teman-teman TDA Bali. “Iya lah, ayo, kita kan sama-sama satu DNA.” Lagi bilang soal satu DNA hahaha. Alhamdulillah.

Saya jadi tidak sabar. Foto selfie bersama Mas Ibnu saya share ke grup TDA Bali. Teman-teman pun antusias untuk bisa meetup dengan Mas Ibnu. Ketika sudah pulang, Mas Ibnu saya WA dan kami membuat janji meetup. Ah indahnya! Alhamdulillah Ya Allah, atas karunia rejeki di sore tadi.

Lantas siapa Pak Gede Indra? Beliau adalah Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali. Yay! Beliau sempat mendengarkan materi presentasi saya tentang Digital Marketing. Ya, saya diundang sebagai pembicara dan hampir 45 menit presentasi tentang “Solusi Kemudahan dan Membangun Usaha di Era Digital.”

Hendra W Saputro Pembicara Internet Marketing

Selesai acara, kami sempat berbincang tentang UKM di Bali. Jumlah dan statistik nya. Menurut BPS, Bali punya kurang lebih 30.000 UKM. Namun itu data lama. Belum lah mutakhir kekinian.

Saya sempatkan memasukkan komunitas wirausaha TDA Bali kepada Pak Kadis. Beliau bilang, “Ya bagus-bagus itu. UKM harus saling memperkuat diri satu sama lain.” Saya pun punya keinginan untuk bisa berbincang, audiensi dengan beliau. Tentunya bersama-sama dengan teman-teman TDA Bali. Langsung beliau memberikan nomor WA nya dan bisa bikin janji bertemu. Nanti akan disesuaikan jadwalnya dengan ajudan. Gitu katanya. Waw menarik nih! Tanpa birokrasi.

Gede Indra Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali dan Hendra W Saputro

Selain bertemu dengan kedua tokoh penting tadi, saya juga bertemu dan berbicang dengan pejabat Deputi Kemenkop. Sayangnya saya lupa namanya lho. Tadi sih sudah kenalan. Dasar lemah nya memori saya, jadi lupa deh. Beliau berdua bilang materi saya bagus untuk membuka mindset para UKM untuk Go Online. Ah syukurlah. Alhamdulillah. Ditunggu undangannya lagi ya, batin saya hehehe.

Terima kasih Ya Allah!

Undangan KEMENKOP

Gede Indra Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali UKM Bali

MUKERNAS 6.0 TDA #LOMBOKBANGKIT

MUKERNAS, Musyawarah Kerja Nasional 6.0 Komunitas Wirausaha TDA (Tangan DiAtas) periode kepengurusan Presiden TDA 6.0 Donny Kris Puriyono berlangsung 28 – 30 Agustus 2019 di Hotel Puri Indah, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Presiden TDA 6.0 Donny Kris Puriyono

Pemilihan lokasi MUKERNAS tidak lepas dari kepedulian TDA sebagai salah satu upaya recovery pasca bencana bagi masyarakat Lombok. Gunakan hashtag #LombokBangkit, TDA ingin berkontribusi positif untuk Lombok. Teman-teman TDA Mataram sebagai panitia lokal MUKERNAS mempersiapkan kegiatan tersebut dengan sangat ciamik! Kolaborasi dengan panitia pusat menghadirkan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) membuka MUKERNAS. Demikian hal kegiatan sosial juga terselenggara dengan membagikan 1000 paket sekolah untuk anak-anak terdampak gempa Lombok. Mrinding!

MUKERNAS 6.0 TDA dihadiri oleh 245+ delegasi, mewakili 11.457 Anggota TDA yang terdaftar dalam aplikasi TDA Passport. Dari unsur Board of Directors (BOD), Majelis Wali Amanah (MWA), Pengurus atau dalam istilah TDA disebut sebagai “Pelayan” dari 5 Negara dimana TDA tersebar, 15 TDA Wilayah dan 90 TDA Daerah se Indonesia.

TDA Bali Goes To Lombok

TDA Bali sendiri sebagai bagian dari TDA pernah jadi tuan rumah MUKERNAS 5.0 pada tahun 2017. Perbedaan yang saya rasakan dengan MUKERNAS 6.0 adalah adanya acara pembukaan oleh pejabat pemerintahan setempat yaitu Gubernur NTB. Kemeriahan ditambah dengan live music dimana anggota TDA bisa partisipasi bernyanyi.

MUKERNAS 6.0 TDA di Ballroom Hotel Puri Indah, Mataram

Lokasi pembukaan berbeda tempat dengan ruangan ballroom MUKERNAS yaitu terselenggara di area kolam renang yang punya halaman luas. Mrinding! Ruangan pameran nya luas juga. Wow pokok nya. Selamat TDA Mataram! Kalian buat MUKERNAS yang spesial.

Para pengurus dan anggota TDA Bali yang berangkat ke MUKERNAS 6.0 diantara nya saya, Mas Sidik (Ketua TDA Bali), Mas Eko, Bu Yani, Bu Eka dan putra nya Paul, Mbok Putu Cita, Mbak Lidia, Desu, Bli Yusa, Pak Nizar, Pak Anton, Kang Fajar (Ketua TDA Bali 1.0), Pak Hendro, Mas Fatkur, Mas Didien, dan Mas Khairul. Jadi ada 17 orang dari TDA Bali membersamai MUKERNAS 6.0 TDA di Mataram. Saya sudah lengser dari Ketua TDA Bali, lantas dalam kapasitas apa berangkat ke MUKERNAS? Saya ternyata ditarik jadi anggota TDA Wilayah Bali Nusra dimana Pak Bambang dari TDA Mataram sebagai ketua wilayah nya.

Delegasi TDA Bali di MUKERNAS 6.0 TDA

Agenda MUKERNAS 6.0

MUKERNAS ini dijadikan ajang penyampaian program-program kerja yang diawali dengan pemaparan visi kepengurusan oleh Presiden 6.0 : Donny Kris Puriyono. Sam DK panggilan akrabnya menginginkan TDA melaksanakan narasi besar bertema KolaborAksi Untuk Negeri. Jadikan TDA sebagai pusat literasi kewirausahaan melalui konten-konten digital. Makanya ada channel TDA TV di Youtube. Demikian pula konten-konten kewirausahaan lebih detail akan termuat dalam aplikasi TDA Passport. Didalamnya juga akan ada gerakan #beliTDA dimana para anggota nya jadikan aplikasi itu sebagai marketplace, penanda lokasi usaha, buat meeting, dll. Ciamik deh aplikasi ini.

Sam DK juga menantang para anggotanya untuk mencipta konten positif, karena sejatinya everybody is content creator. Terkhusus untuk berkontribusi bagi masyarakat Lombok, Sam DK berpesan untuk ciptakan konten yang bertemakan #lombokbangkit dan #kolaboraksiuntuknegeri, dan sebarkan melalui jagat media sosial. Agar semua tahu bahwa pulau Lombok sudah layak dikunjungi sebagai salah satu destinasi wisata andalan Indonesia.

Saya pun sesuai kemampuan membuat konten video dan foto yang terunggah di FB, IG dan Youtube dengan hashtag yang disampaikan oleh Sam DK. Disela-sela MUKERNAS, ada beberapa anggota TDA yang diminta untuk mengisi konten bagi channel TDA TV. Salah satunya saya yang bicara tentang Menjadi top 10 di Google. Ternyata bicara didepan kamera tidak semudah bicara di panggung hehehe.

Presentasi dan diskusi program juga dilakukan oleh Sekretaris Umum Wisnu Sakti Dewobroto, Bendahara Umum Ibrahim M. Bafagih dan para BOD (Board of Director) dari Direktorat Pengawasan & Kepatuhan Lutfiel Hakim, Direktorat Pelayanan Keanggotaan Daeng Faqih, Direktorat Marketing & Komunikasi Rawi Wahyudi, Direktorat Edukasi & Peningkatan Kapasitas Anggota : Rizki Rahmadianti, Direktorat Program Khusus Wahyu Agus Ariadi, Direktorat Penggalangan Sumberdaya & Kerjasama Yeti Riyadi, Direktorat Pengembangan Wilayah Roskar, Direktorat Badan Usaha Abraham Syah, Direktorat Kebijakan Publik Rudi Sahputra, Direktorat Urusan Luar Negeri Teguh Atmajaya dan Direktorat Pesta Wirausaha Deliyana Oktaviani. Ya ada 11 direktorat di kepengurusan TDA pusat. Masing-masing punya staf khusus juga yang diperkenalkan oleh para direktur nya.

#LOMBOKBANGKIT

Tidak lanjuti arahan dari Sam DK, kami rombongan TDA Bali lakukan kunjungan wisata di sekiataran Mataram untuk mencipta konten positif dan mengabarkan bahwa Pulau Lombok sudah move on. Saya juga melihat beberapa delegasi TDA dari seluruh Indonesia juga lakukan kunjungan wisata di Pulau Lombok.

TDA di Pantai Kuta Mandalika Lombok

Saya yang satu rombongan dengan Pak Ketua TDA Bali berkunjung ke Pantai Seger dan Kuta Mandalika. Kami bertemu dengan para delegasi dari TDA daerah lain. Sempat membuat konten juga disana. Ini video nya:

Kami dari TDA Bali berangkat ke Lombok hari selasa 27 Agustus 2019 pukul 22.00 WITA. Menyeberang dari pelabuhan Padang Baik ke Lembar, Lombok selama 6 jam. Berlabuh disana pukul 06.30 WITA pada hari rabu 28 Agustus 2019.

Selanjutnya menuju ke Pantai Pandanan daerah utara nya Senggigi untuk bergabung dengan rombongan bermobil Sam DK. Pada pukul 11.00 WITA rombongan kurang lebih 8 mobil konvoi bersama menuju Hotel Puri Indah Mataram.

Kekuatan Afirmasi Menolak Tidur

Sebenarnya setelah checkin hotel dan mandi, saya capek luar biasa mengingat cuma tidur 3 jam saja di kapal penyeberangan. Setelah mandi, pikiran ini saya berikan kalimat motivasi gini, “Hendra! Rugi besar kalau kamu ke MUKERNAS cuma untuk menuruti nafsu tidur. Keluarlah dari kamar dan yakin kamu dapat rejeki di arena MUKERNAS.

Ah benar saja, setelah mengikuti sesi sharing dengan Mas Witjaksono saya bertemu Mas Khairul dan Mas Ricky (TDA Mataram). Saya bilang lapar belum makan siang ke mereka. Atas skenario Allah SWT, Mas Ricky ajak saya, Mas Khairul plus bonus Mas Witjaksono dan Mas Fais Afrianto (TDA Palu) makan bersama di Sate Rembiga.

Mas Witjaksono di MUKERNAS 6.0 TDA

Siapa Mas Witjaksono? Kandidat calon menteri milenial di kabinet Presiden Joko Widodo! Ah rejeki bisa berbincang dengan beliau. Mas Witjaksono juga pengusaha muda yang melistingkan 2 perusahaannya di bursa efek dengan status Tbk. Aktif juga jadi Ketua KorNas Pertanian PBNU.

Di pertengahan makan siang, datang pula rombongan Ustad Syaikhu ditemani oleh Presiden TDA 5.0 Ahmad Baidillah Bara. Wuaaah bisa bersalaman dan sempat berbincang dengan kandidat wakil Gubernur Jakarta Ustad Ahmad Syaikhu. Benar-benar rejeki dari Allah atas afirmasi pasca mandi di hotel hehehe. Coba kalau saya tidur menuruti hawa nafsu kecapekan setelah mandi tadi? Takkan ada cerita diatas! Hanya sebuah kata untuk menggambarkan peristiwa afirmasi itu, MRINDING!

TDA Entrepreneurstory

Beberapa bulan sebelum lengser dari ketua TDA Bali, saya dihubungi oleh Dirmarkom TDA 5.1 Mas Faizal Alfa melalui WA untuk kolaborasi menulis buku untuk TDA. Begini kalimatnya:

Salam kangen dari Presiden TDA 5.1 : Bimo Prasetio

Diajak Presiden Bimo Prasetio, untuk berkontribusi, menulis artikel, yang akan dikompilasi dalam sebuah buku. Luangkan waktu, sempatkan menulis, dan kirim segera ya.

April ini, 99 artikel sedang dikumpulkan dari anggota TDA di Indonesia dan Mancanegara, lembar demi lembar dipersatukan u/ kemudian diolah dan diwujudkan dalam sebuah buku berjudul : TDA ENTREPRENEURSTORY.

Buku yang akan dicetak secara fisik ini, dirancang sebagai #TDALegacy yang dicatat dalam sejarah TDA dan dijadikan warisan dari TDA 5.1 untuk TDA di generasi berikutnya.

Satu tambahan kebahagiaan di MUKERNAS 6.0 TDA di Mataram adalah mengetahui buku tersebut sudah jadi dan penulis berhak gratis mendapatkan buku itu. Ahay! Saya buka buku itu dan cerita saya berada di halaman 103. Total ada 420 halaman! Ah Mrinding lagi!

Buku TDA Entrepreneurstory

Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Selamat buat TDA Mataram atas kesuksesan penyelenggaraan MUKERNAS 6.0 TDA. Semoga kita semua mampu berkontribusi positif untuk peradaban ini. Amin YRA.