Tag Archives: Kewirausahaan

Kerja Bintang 5, Ijazahku Nggak Kepake Bro!

“Selama karir kerja di hotel, yang sudah lintas benua di berbagai hotel bintang lima multinasional, dengan pengalaman 15 tahun di hotel industry, selama itu, tidak ada 1 perusahaanpun yg minta secarik ijazah itu.” Tutur Iqbal teman kuliah saya.

Iqbal

Iqbal menambahi, “Ternyata nggak kepake. Yang kepake ya malah PENGALAMAN organisasi dan pengalaman “sekolah kehidupan”. Sekali lagi, tak 1 pun yang peduli dengan ijazahku.”

Hendra: “Awal-awal sebagai tarikan kan perlu pak bro.”

Iqbal: “TIDAK. Tidak pernah. Di luar negeri orang melihat track record dan 3 month probation period.”

Hendra: “Masa sih? awal-awal ketika kerja kan perlu menyertakan ijazah pas kasih lamaran tuh?”

Iqbal: “Aku awali kerja itu sebelum lulus. Kerja di hotel dulu kan sebelum lulus. Pertama kali kerja ya di Bali Tourism Board (BTB). DI BTB kan aku dilamar. Gak ngelamar hehehe.”

Hendra: “Heh kok bisa?”

Iqbal: “Aku kan pemenang lomba karya tulis populer tentang pariwisata Bali pasca bom Bali. Yang diselenggarakan oleh BTB dan Yayasan Paras Paros. Dari tingkat mahasiswa aku pemenangnya. Dan si Heru Gutomo juara 2.

Masuk koran kan. Dan pas penerimaan hadiah dan piagam, langsung ditawarin kerja. Ya udah masuk aja. Jadi gak pake ijasah.”

Hendra: “Ini mrinding! Ukir prestasi pada masa mahasiswa.”

Iqbal: “2 tahun di BTB banyak kenal dengan owner hotel dan para General Manager (GM) hotel berbintang.”

Hendra: “Rawk! Trus your first step ke hotel gimana ceritanya?”

Iqbal: “Tapi Pak Putu Antara waktu itu owner GWK dan Mamaleon group melihat pontensiku. Dijebloskannya aku ke Darin Storkson. Orang bule Amerika yang sudah 7 tahun di Bali. Dilatihlah aku bahasa Inggris dan ilmu Tourism marketing dan Public Relations. Pake bahas inggris loh ngajarinnya. Hehehe.

Genap setahun dibawah Mr. Darin. Aku dijambret ke Mamaleon grup. Sempat kerja di GWK juga. Lalu dijebloskan ke manajeman hotelnya juga di jimbaran sono (Keraton Jimbaran Hotel).”

Hendra: “Sebagai apa di Keraton?”

Iqbal: “Sales lah. Kan aku bocah marketing. Langsung ditarik lagi ke Mamaleon holding. Ngurusi proyek Romancing Bali dengan semua Bupati se-Bali.

Waktu itu proyek perdana bikin 1000 kecak dance di Tanah Lot. Untuk mendatangkan dan menggenjot pariwisata Tabanan.

Lalu aku kepikir untuk Go internasional. Iseng-iseng ngelamar hotel di Bahrain.”

Hendra: “Nah ini kan pake ijazah?”

Iqbal: “Nggak pake setor ijazah sama sekali! Langsung interview dengan GM nya. Khalid Anib orang perancis berdarah maroko.”

Hendra: “Tapi apa sempet bilang, saya lulusan s1 tourism di udayana bla bla bla?”

Iqbal: “Cuma modal:
– doa
– percaya diri
– bahasa inggris
– grooming standar hotel
– dan CV.”

Hendra: “Oke, CV tetap menyebutkan S1 udayana kan? walau tanpa serahkan digital paper nya.”

Iqbal: “Kayaknya gak sempet. Tapi mungkin lihat di CV ku. Education: Udayana University.”

Hendra: “Klo CV ku, aku menyebutkan udayana dan fakultasku sebagai tempat kuliah nya. Cuma sifatnya keterangan doang. Di CV mu jelas menyebutkan pengalaman kerja kan?”

Iqbal: “Nah. Itu dia. Di CV pengalaman kerja (track record) harus. Ditulis DETAIL. Rinci dengan segenap prestasi-prestasi yang ada hehehe…”

Hendra: “Boleh minta CV mu bro? Siapa tahu jadi inspirasi bagi adik-adik generasi bangsa”

Iqbal: “Boleh. Jaman dulu masih pake CV. Jaman sekarang sudah ganti pake profil LinkedIn. Coba aja lihat profil LinkedIn ku.”

Hendra: “Aku dah lihat LinkedIn mu. Btw, aku penasaran. Kenapa sih kerja di Indonesia itu waktunya pendek-pendek? Contoh di Crowne Plaza Semarang cuma 3 bulan kerja. Habis itu di perusahaan selanjutnya cuma 4 bulan.”

Iqbal: “Khusus di semarang istriku gak mau jauh-jauh. Dia jakarta. Aku semarang. Makanya diminta balik. Kalo mau LDR mending sekalian yg lintas benua aja sekalian. Hehhe…”

==========

Silakan download CV nya Iqbal. Semoga bisa jadi inspirasi.

Iqbal teman saya, akhirnya memutuskan untuk berwirausaha (entrepreneur) mendirikan restoran steak, burger, dan aneka olahan ayam. Sudah bosen kerja katanya hehehe. Silakan lihat website bisnis nya di BarapiGrill.

Jadi, silakan ambil kesimpulan sendiri ya tentang ijazah. Pentingkah atau sangat penting? Bagi saya pribadi penting! Namun sayang nya nggak kepake juga. Kisah saya sama seperti kisah Iqbal. Saya mulai kerja pada saat masih kuliah. Kemudian mempunyai bisnis sendiri pada saat kuliah pula. Hingga sekarang dah. Akibatkan tidak mengenal ijazah sama sekali hehehe.

Ijazah mungkin penting untuk awal-awal cari kerja meniti dunia profesionalisme ya. Selanjutnya, mungkin akan menemukan nasib seperti cerita Iqbal. Pindah kerja hanya andalkan CV dan prestasi kerja di tempat sebelumnya. Ijazah nya pun tak sempat diperlihatkan.

BarapiGrill

Barburger

Team Barapi

#StudiNielsen: 6 Perubahan Perilaku Konsumen (Consumer Behavior)

Terungkap melalui Pak Budi Isman (CEO Mikro Investindo Utama, Ex Direktur Coca Cola Indonesia & Sari Husada) dalam Biznis.id Webinar Class, Nielsen melakukan studi perubahan perilaku konsumen dalam perekonomian Indonesia selama wabah dan pasca pendemi Corona Covid-19 di Indonesia.

Work from home

Menurut Nielsen, ada 6 tahapan perubahan perilaku konsumen:

1. Proactive health-minded buying: Konsumen mulai tertarik untuk membeli produk kesehatan dan healthy life style.
2. Reactive health management: Konsumen prioritaskan membeli produk yang berhubungan dengan wabah COVID-19 (masker, sanitizer, vitamin, dll).
3. Pantry preparation: Pertumbuhan belanja produk tahan lama, produk sehat dan mengunjungi toko lebih banyak dan basket size lebih besar.
4. Quarantined living preparation: Peningkatan online shopping dan menurunnya offline store visit dan adanya kekurangan barang tertentu. Supply chain terganggu.
5. Restricted living: Harga barang-barang tertentu naik, sulit atau tidak sama sekali belanja offine dan online shopping mulai terganggu.
6. Living a new normal: Kenaikan kesadaran kesehatan walaupun kondisi sudah normal dan perubahan supply chain dan e-commerce business model.

Kategori bisnis (business category) yang akan berkembang:
1. Healthy Food and Beverage.
2. Nutrition.
3. Home entertainment and media.
4. Logistic and supply chain.
5. E-commerce and online retail.
6. Health prevention.
7. Online education.
8. Technology.
9. New trend fashion.

Dampak ke distribution channel?

Offline: Harus menyesuaikan dengan perilaku baru dan masuk ke omni channel. Omni Channel adalah model bisnis lintas channel yang digunakan perusahaan untuk meningkatkan kenyamanan dan kemudahan pengalaman pelanggan mereka. Pelanggan bisa menggunakan lebih dari satu channel penjualan seperti toko fisik, e-Commerce/internet, mobile (m-Commerce), social Commerce.

Online: Disamping generasi muda, makin berkembang consumer yang lebih tua mulai menggunakannya.

D2C (Direct to Consumers): Para produsen harus mulai memikirkan untuk membangun kemampuan untuk jual direct ke konsumen.

Bagaimana tingkatkan sales?

Salah satu peserta webinar membagikan tips nya yaitu Pak Gufron, CEO HAUS! pada masa wabah COVID-19 justru mengalami kenaikan sales. Cara nya adalah alokasikan budget sales marketing ke online. Menggandeng salah satu aplikasi OJOL menawarkan paket-paket minuman dengan harga terjangkau. HAUS! adalah gerai minuman yang menyediakan segala jenis minuman kekinian yang sedang hits dengan harga yang affordable.

Tips diatas bisa berbeda hasil pada kategori bisnis yang lain. Hampir 2 jam webinar yang diinisiasi oleh Pak Budi Isman diikuti para CEO diantaranya oleh Pak Rexmarindo (Warunk Upnormal), Pak Gufron, Pak Baskoro, dll. Webinar ini gratis untuk pebisnis Indonesia. Silakan tonton start dari awal videonya disini: https://www.youtube.com/watch?v=xwdOAdki5ys

Semoga kita tetap sehat, selamat dan mampu berjuang dimasa pendemi ini. Terima kasih Pak Budi! Sungkem.

#Workfromhome #fightcovid19 #keepaction #dirumahaja

#UNBRANDING, Cara UNPOPULAR Branding di Entrepreneur Festival 2019

Entrepreneur Festival ke 6 tahun 2019 kembali terselenggara oleh BPR Lestari dan Money&I Magazine dengan tema UNBRANDING. Berlangsung di Bhumiku Convention Centre pada Sabtu, 28 September 2019. Menghadirkan pembicara kondang Andy F. Noya, Executive Producer Brand Adventure Indonesia dan Arto Biantoro, Creative Director CEO of Gambaran Brand dan Host Brand Adventure Indonesia.

Alex P Chandra Entrepreneur Festival 2019

Jadi ajang nostalgia juga bagi saya yang pernah rasakan jadi nominator kategori Technopreneur Awards pada Entrepreneur Festival ke 2 tahun 2015. Alhamdulillah bisa jadi bahan cerita ke anak-anak. Ada buktinya juga hehehe.

Ya, acara ini ada ajang penghargaan nya juga. Selain konsep seminar edukasi wirausaha, Entrepreneur Festival juga sebagai selebrasi apresiasi kepada sejumlah pengusaha yang sukses menjadi inspirator kewirausahaan khususnya di Bali.

Kategorisasi penghargaan meliputi The Rookie (untuk pengusaha pemula yang usianya di bawah 35 tahun), The Wonder Woman (untuk pengusaha wanita yang dengan berbagai kesibukannya sebagai ibu rumah tangga namun berhasil mengembangkan usahanya), The Technopreneur (untuk pengusaha yang bisnisnya menggunakan platform teknologi atau digital), penghargaan Lestari Entrepreneur of the year (penghargaan tertinggi pengusaha), dan The Icon (pengusaha dari Bali yang berkiprah di tingkat nasional).

Pemenang Entrepreneur Festival 2019

Pemenang Penghargaan di Entrepreneur Festival 2019

Proses pengamatan para nominator berlangsung 1 tahun. Waw! Kemudian penjurian akan saya ceritakan di akhir tulisan ini. Maka pemenang nya adalah:

The Rookie: Anak Agung Gede Wedhatama (pengusaha Pertanian)
The Wonder Woman: Putu Suprapti Santy Sastra (pengusaha Public Speaking)
The Technopreneur: Puja Astawa (Pegiat sosial dan Youtuber)
Lestari Entrepreneur Of The Year: I Ketut Mardjana (Owner Toya Devasya)
The Icon: Gusti Ngurah Anom (Cok Krisna, owner Krisna Oleh-Oleh)

Selamat ya Bli, Pak dan Bu! Anda tokoh panutan kami para wirausahawan Bali!

Para pemenang didaulat ke panggung dan menerima penghargaan yang diserahkan oleh Walikota Denpasar Bapak Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Chairman Lestari Group Bapak Alex Purnadi Chandra. Sambil semua masih berdiri di panggung, Pak Rai Mantra berikan sambutan. Mengabarkan bahwa Denpasar saat ini sudah punya 4% pengusaha.

Saya pribadi punya kenangan manis dengan Pak Rai Mantra ini. Aishh. Ketika mengadakan Pesta Wirausaha Bali 2016 untuk komunitas wirausaha TDA Bali, berhasil audiensi dan mendaulat beliau untuk membuka acara tersebut. Ah lagi-lagi cerita manis yang bisa jadi oleh-oleh masa tua nanti hehehe. Alhamdulillah.

Inspirasi dari Para Pemenang

Ada 5 pemenang namun sayangnya Cok Krisna dan Puja Astawa berhalangan hadir. Jadinya cuma 3 pemenang saja yang didaulat cerita tentang pengembangan bisnis nya. Supaya jadi inspirasi 800 an undangan Entrepreneur Festival 2019. Berikut saya ceritakan poin-poin nya ya.

Walikota Denpasar

Toya Devasya ternyata milik dari mantan Dirut PT. Pos Indonesia! Bapak I Ketut Mardjana. Tahu Toya Devasya kan? Itu loh resort di Kintamani yang ada Natural Hot Spring nya. Saya coba googling ternyata Toya Devasya menjalankan beberapa unit usaha di antaranya Natural Hot Springs, Restaurant, The Ayu Kintamani Villas, Wisata petualangan, Ayurvedic Spa dan Toya Yatra Tour and Travel. Tidak hanya resort ternyata!

Setelah pensiun, tokoh yang terkenal membuat PT. Pos Indonesia buntung jadi untung ini fokus having fun pulang kampung jalankan Toya Devasya yang tadinya tidak kedengaran jadi fenomenal di dunia pariwisata Bali.

Pak I Ketut Mardjana mengawali presentasi nya dengan filosofi Bali. Tidak ada ceritanya orang sakti itu pintar sendiri. Beliau punya 3 jurus sakti buat Toya Devasya melejit. Yaitu konsep Selfie, Kemitraan dan Kontribusi. Kurang lebih begitulah resume dari bahasa saya.

Tren selfie dimanfaatkan Pak Mardjana untuk poles setiap sudut Toya Devasya memorable dan jadi spot cantik untuk berfoto selfie. Ketika wisatawan berselfie ria dan unggah ke media sosial, maka pasar lah yang lakukan marketing untuk Toya Devasya! Irit biaya marketing, kelakar Pak Mardjana.

Untuk tingkatkan kunjungan wisata ke Toya Devasya, Pak Mardjana sadar betul tidak bisa sendirian. Wisatawan mayoritas dibawa oleh guide atau driver. Maka strategi beliau adalah berikan pendapatan tambahan (komisi) untuk guide/driver yang membawa wisatawan nya belanja di Toya Devasya. Besaran komisi nya mulai dari 50 hingga 70%! Mrinding! Makanya guide dan driver betah berikan referensi wisatawan untuk datang ke Toya Devasya.

Strategi ke tiga, Pak Mardjana menyisihkan keuntungannya untuk bantu penduduk dan pebisnis lokal untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang nyaman bersama. Support melalui kegiatan PokDarWis (Kelompok Sadar Wisata). Misalnya bantu buatkan toilet untuk spot cantik di sekitaran Kintamani sana. Bantu perbaiki boat/perahu operator wisata milik penduduk sana agar tamu betah berlama-lama di Kintamani. Bantu pengusaha transport lokal sana, dll yang intinya kegiatan membangun pariwisata Kintamani. Maka jika ada thread/ancaman bagi Toya Devasya, lingkungan lah yang menjadi benteng. Kemudian antara operator wisata satu dan lainnya saling mendukung. Gilak ya. Salut!

Gajah adalah maskot group Toya Devasya. Makna filosofif Gajah menurut Pak Mardjana: Kuping nya besar maka siap mendengarkan segala ide, saran dan kritik. Matanya kecil artinya fokus. Mulut gajah kecil, artinya tidak greedy (serakah). Belalainya untuk memuntahkan air, semburkan kemakmuran. Badan nya besar simbol dari kekokohan. Byuh keren pisan euy!

Itu yang bisa saya rekam dari mantan Dirut PT. Pos Indonesia yang melegenda, dalam meningkatkan value bisnis Toya Devasya Group.

Bagaimana dengan Bu Santy Sastra? Beliau ini dulunya penyiar dan pemilik radio Duta FM. Akhir-akhir ini fokus di lembaga public speaking. Memberikan pendidikan kemampuan diri didepan publik. Bu Santy mengenal 2 macam hari dalam hidupnya. Yaitu hari yang baik dan hari yang sangat baik. Waw, maka isi kehidupannya selalu positif nih!

Kemudian Anak Agung Gede Wedhatama, yang lebih dikenal dengan panggilan Gung Wedha. Masih muda, milenial, namun bisnis nya berbasis Pertanian. Menjadi petani muda itu keren! Itu tagline nya. Keren nya ada alasannya lho. Gung Wedha berhasil eksport ber ton-ton komoditi unggulan Bali ke luar negeri! Semisal manggis.

Menurut Gung Wedha, Bali kekuatan nya di agraris. Harus ada generasi muda yang konsen perbaiki pertanian di Bali. Pertanian adalah bisnis yang sudah disediakan Tuhan, selain air dan energi. Maka kita tinggal ambil dan mengolah nya jadi nilai yang tinggi. Mrinding!

Selain sektor pertanian, Gung Wedha juga mengembangkan fintech Pertanian, nabung tani. Kemudian menciptakan teknologi Pertanian by phone. Ngeri ya? hehehe. Pantes menang!

#UNBRANDING, Konsep Branding Tanpa Branding

Pembicara utama Entrepreneur Festival 2019 saat nya bicara. Adalah Arto Biantoro seorang brand activist presentasi tentang UNBRANDING bagi para pebisnis. UNBRANDING adalah pendekatan branding yang tidak populer. Namun jika dilakukan akan membuat brand itu bertahan lama (sustain).

Arto Biantoro UNBRANDING

Branding selama ini berfikiran bagaimana produk kita laku. Kegiatan menawarkan produk, edukasi produk, di klaim sebagai branding. Padahal itu pola marketing. UNBRANDING adalah aksi the next branding yaitu brand yang memberikan manfaat kepada konsumen atau masyarakat secara umum.

The future of branding adalah care about the people, bukan brand nya. Arto juga menunjukkan slide bertuliskan: Successful brands of the future care about people, not branding. Mungkin secara teori, pendekatan tidak biasa ini bertentangan dengan ilmu marketing yang kita kenal dari dulu.

Kata Menteri Koperasi dan UKM RI, jumlah pengusaha di Indonesia meningkat jadi 7%. Apakah lantas membuat profit bisnis makin meningkat? Malah makin susah karena itu realita kompetisi yang tinggi. Masyarakat jadi banyak pilihan dan kita harus rela berbagi kue profit. Contoh kompetisi antar marketplace yang gaungkan Free Ongkir, itu tidak kreatif sama sekali. Pendapat Arto. Maka kita perlu pendekatan UNBRANDING untuk menciptakan nilai lebih dari brand kita.

Hasil dari UNBRANDING adalah kita tak perlu cerita tentang brand. Orang lain lah yang akan menceritakan brand kita. Bagaimana bisa tahu? Kita cukup mempersiapkan brand profile saja yang ditempatkan sebagaimana mestinya, misal website, kartu nama, kantor. Tanpa harus menawarkan orang lain untuk mengerti. Klo tetap menawarkan mah marketing itu namanya hehehe.

Andy F Noya

Ada apa dengan Andy F Noya? Dia masih satu manajemen dengan Arto. Andy adalah sosok sempurna dari UNBRANDING. “Tanpa saya sadari, inilah yang membentuk label dari Andy F Noya, proses UNBRANDING yang menjadikan saya seperti sekarang,” ujar si presenter Kick Andy.

Andy bercerita panjang soal sejumlah program dan kegiatannya di ranah sosial, yang semua ini tidak pernah terpikirkan olehnya ketika mengawali karir. Baginya, menjadi seorang jurnalis sudah lebih dari cukup, namun panggilan lain membawanya bergerak pada jalur yang lebih dalam, menjadi sosial entrepreneur.

Andy F Noya ini cocok jadi standup comedian deh. Dari awal sampai pertengahan acara isi materinya bikin undangan terpingkal-pingkal. Ya saya terhibur juga siy. Namun pukul 21.30 WITA saya anggap pertengahan dan harus pamit dari Entrepreneur Festival 2019. Sayang tidak bisa ikuti acara hingga akhir karena sudah janji dengan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Badung, sebuah organisasi pencak silat untuk memberikan materi tentang media sosial dan potensinya.

PSHT

Setelah memberikan materi media sosial ke anggota PSHT, saya jadi mikir tentang UNBRANDING dan kegiatan tingkah polah saya selama ini. Mungkin saya tidak sadar bahwa kegiatan sharing jadi pembicara internet marketing ini sudah UNBRANDING. Porsi bicara brand saya cuma perkenalan nggak sampai 5 menit. Sisanya bicara kekuatan digital marketing yang berpotensi bawa manfaat.

Mungkinkah aktivitas saya sama seperti yang dilakukan Andy F Noya dengan Kick Andy Foundation nya? Wallahu A’lam hanya Allah yang Maha Tahu deh. Tapi saya pribadi sepakat dengan konsep UNBRANDING ini. Masuk akal dan Mrinding!

Entrepreneur Festival lakukan #UNBRANDING

Ya! Menurut saya BPR Lestari dan Money&I melakukan aksi UNBRANDING dengan selenggarakan acara tahunan bernama Entrepreneur Festival. Event tahunan ini manfaatnya terasa bagi saya pribadi. Yakin juga bermanfaat bagi pebisnis lainnya.

Saya dapat wawasan keilmuan dan pengalaman dunia bisnis dari narasumber yang berkompeten. Tentunya akan saya aplikasikan di bisnis juga. Saya dapat pengakuan (walaupun sebagai nominator) dan rela untuk cerita tentang Entrepreneur Festival. Bukan cerita soal BPR Lestari dan Money&I nya ya. Pun tidak ceritakan figur Pak Alex dan Pak Arif nya. Kedua brand dan kedua orang itu jelas akan dikepoin oleh masyarakat yang mengikuti Entrepreneur Festival. Bahkan dikepoin orang karena ada yang baca tentang manfaat nya. Ya seperti baca di tulisan ini. Haizzz. Serius ini Pak!

Pribadi-pribadi yang mendapatkan pengakuan, walaupun itu nominator dan diberikan piagam, itu sangat berharga. Mean something. Yakin deh. Menurut saya siy. Jadi value untuk vibrasi masa depan nya anak-anak. Tokoh tua nya bisa dijadikan panutan. Sayang nya Entrepreneur Festival kali ini tidak menyebutkan para nominator nya. Apakah saya ketinggalan? CMIW. Padahal para nominator bisa jadi agent UNBRANDING nya kedua bisnis itu.

Juri Entrepreneur Festival 2019

Pengakuan lain di event ini adalah menunjuk saya jadi salah satu juri untuk penentuan pemenang Entrepreneur Festival 2019. Saya merasa diri ini bermanfaat dan bernilai tinggi mewakili ribuan pengusaha di Denpasar. Mohon ampun Ya Allah jika ini tinggi hati. Trully i’m proud of my self and my kids will do. Thanks Pak.

Saya yakin juri yang lain juga merasa terhormat mendapatkan kesempatan. Adalah Bu Sutrisna Dewi, Pak Putu Santika, Pak Putu Sudiarta, Bu IGA Silawati, Pak IB Ratu Antoni Putra, Bu Kadek Chintya Dwi Pratiwi dan Pak Arif Rahman.

So, saya mendukung Entrepreneur Festival terus menerus diadakan. Sangat bermanfaat. Terima kasih Ya Allah dan terima kasih BPR Lestari (Pak Alex) dan Money&I (Pak Arif).

#UNBRANDING, Cara UNPOPULAR Branding di Entrepreneur Festival 2019

Entrepreneur Festival ke 6 tahun 2019 kembali terselenggara oleh BPR Lestari dan Money&I Magazine dengan tema UNBRANDING. Berlangsung di Bhumiku Convention Centre pada Sabtu, 28 September 2019. Menghadirkan pembicara kondang Andy F. Noya, Executive Producer Brand Adventure Indonesia dan Arto Biantoro, Creative Director CEO of Gambaran Brand dan Host Brand Adventure Indonesia.

Alex P Chandra Entrepreneur Festival 2019

Jadi ajang nostalgia juga bagi saya yang pernah rasakan jadi nominator kategori Technopreneur Awards pada Entrepreneur Festival ke 2 tahun 2015. Alhamdulillah bisa jadi bahan cerita ke anak-anak. Ada buktinya juga hehehe.

Ya, acara ini ada ajang penghargaan nya juga. Selain konsep seminar edukasi wirausaha, Entrepreneur Festival juga sebagai selebrasi apresiasi kepada sejumlah pengusaha yang sukses menjadi inspirator kewirausahaan khususnya di Bali.

Kategorisasi penghargaan meliputi The Rookie (untuk pengusaha pemula yang usianya di bawah 35 tahun), The Wonder Woman (untuk pengusaha wanita yang dengan berbagai kesibukannya sebagai ibu rumah tangga namun berhasil mengembangkan usahanya), The Technopreneur (untuk pengusaha yang bisnisnya menggunakan platform teknologi atau digital), penghargaan Lestari Entrepreneur of the year (penghargaan tertinggi pengusaha), dan The Icon (pengusaha dari Bali yang berkiprah di tingkat nasional).

Pemenang Entrepreneur Festival 2019

Pemenang Penghargaan di Entrepreneur Festival 2019

Proses pengamatan para nominator berlangsung 1 tahun. Waw! Kemudian penjurian akan saya ceritakan di akhir tulisan ini. Maka pemenang nya adalah:

The Rookie: Anak Agung Gede Wedhatama (pengusaha Pertanian)
The Wonder Woman: Putu Suprapti Santy Sastra (pengusaha Public Speaking)
The Technopreneur: Puja Astawa (Pegiat sosial dan Youtuber)
Lestari Entrepreneur Of The Year: I Ketut Mardjana (Owner Toya Devasya)
The Icon: Gusti Ngurah Anom (Cok Krisna, owner Krisna Oleh-Oleh)

Selamat ya Bli, Pak dan Bu! Anda tokoh panutan kami para wirausahawan Bali!

Para pemenang didaulat ke panggung dan menerima penghargaan yang diserahkan oleh Walikota Denpasar Bapak Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Chairman Lestari Group Bapak Alex Purnadi Chandra. Sambil semua masih berdiri di panggung, Pak Rai Mantra berikan sambutan. Mengabarkan bahwa Denpasar saat ini sudah punya 4% pengusaha.

Saya pribadi punya kenangan manis dengan Pak Rai Mantra ini. Aishh. Ketika mengadakan Pesta Wirausaha Bali 2016 untuk komunitas wirausaha TDA Bali, berhasil audiensi dan mendaulat beliau untuk membuka acara tersebut. Ah lagi-lagi cerita manis yang bisa jadi oleh-oleh masa tua nanti hehehe. Alhamdulillah.

Inspirasi dari Para Pemenang

Ada 5 pemenang namun sayangnya Cok Krisna dan Puja Astawa berhalangan hadir. Jadinya cuma 3 pemenang saja yang didaulat cerita tentang pengembangan bisnis nya. Supaya jadi inspirasi 800 an undangan Entrepreneur Festival 2019. Berikut saya ceritakan poin-poin nya ya.

Walikota Denpasar

Toya Devasya ternyata milik dari mantan Dirut PT. Pos Indonesia! Bapak I Ketut Mardjana. Tahu Toya Devasya kan? Itu loh resort di Kintamani yang ada Natural Hot Spring nya. Saya coba googling ternyata Toya Devasya menjalankan beberapa unit usaha di antaranya Natural Hot Springs, Restaurant, The Ayu Kintamani Villas, Wisata petualangan, Ayurvedic Spa dan Toya Yatra Tour and Travel. Tidak hanya resort ternyata!

Setelah pensiun, tokoh yang terkenal membuat PT. Pos Indonesia buntung jadi untung ini fokus having fun pulang kampung jalankan Toya Devasya yang tadinya tidak kedengaran jadi fenomenal di dunia pariwisata Bali.

Pak I Ketut Mardjana mengawali presentasi nya dengan filosofi Bali. Tidak ada ceritanya orang sakti itu pintar sendiri. Beliau punya 3 jurus sakti buat Toya Devasya melejit. Yaitu konsep Selfie, Kemitraan dan Kontribusi. Kurang lebih begitulah resume dari bahasa saya.

Tren selfie dimanfaatkan Pak Mardjana untuk poles setiap sudut Toya Devasya memorable dan jadi spot cantik untuk berfoto selfie. Ketika wisatawan berselfie ria dan unggah ke media sosial, maka pasar lah yang lakukan marketing untuk Toya Devasya! Irit biaya marketing, kelakar Pak Mardjana.

Untuk tingkatkan kunjungan wisata ke Toya Devasya, Pak Mardjana sadar betul tidak bisa sendirian. Wisatawan mayoritas dibawa oleh guide atau driver. Maka strategi beliau adalah berikan pendapatan tambahan (komisi) untuk guide/driver yang membawa wisatawan nya belanja di Toya Devasya. Besaran komisi nya mulai dari 50 hingga 70%! Mrinding! Makanya guide dan driver betah berikan referensi wisatawan untuk datang ke Toya Devasya.

Strategi ke tiga, Pak Mardjana menyisihkan keuntungannya untuk bantu penduduk dan pebisnis lokal untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang nyaman bersama. Support melalui kegiatan PokDarWis (Kelompok Sadar Wisata). Misalnya bantu buatkan toilet untuk spot cantik di sekitaran Kintamani sana. Bantu perbaiki boat/perahu operator wisata milik penduduk sana agar tamu betah berlama-lama di Kintamani. Bantu pengusaha transport lokal sana, dll yang intinya kegiatan membangun pariwisata Kintamani. Maka jika ada thread/ancaman bagi Toya Devasya, lingkungan lah yang menjadi benteng. Kemudian antara operator wisata satu dan lainnya saling mendukung. Gilak ya. Salut!

Gajah adalah maskot group Toya Devasya. Makna filosofif Gajah menurut Pak Mardjana: Kuping nya besar maka siap mendengarkan segala ide, saran dan kritik. Matanya kecil artinya fokus. Mulut gajah kecil, artinya tidak greedy (serakah). Belalainya untuk memuntahkan air, semburkan kemakmuran. Badan nya besar simbol dari kekokohan. Byuh keren pisan euy!

Itu yang bisa saya rekam dari mantan Dirut PT. Pos Indonesia yang melegenda, dalam meningkatkan value bisnis Toya Devasya Group.

Bagaimana dengan Bu Santy Sastra? Beliau ini dulunya penyiar dan pemilik radio Duta FM. Akhir-akhir ini fokus di lembaga public speaking. Memberikan pendidikan kemampuan diri didepan publik. Bu Santy mengenal 2 macam hari dalam hidupnya. Yaitu hari yang baik dan hari yang sangat baik. Waw, maka isi kehidupannya selalu positif nih!

Kemudian Anak Agung Gede Wedhatama, yang lebih dikenal dengan panggilan Gung Wedha. Masih muda, milenial, namun bisnis nya berbasis Pertanian. Menjadi petani muda itu keren! Itu tagline nya. Keren nya ada alasannya lho. Gung Wedha berhasil eksport ber ton-ton komoditi unggulan Bali ke luar negeri! Semisal manggis.

Menurut Gung Wedha, Bali kekuatan nya di agraris. Harus ada generasi muda yang konsen perbaiki pertanian di Bali. Pertanian adalah bisnis yang sudah disediakan Tuhan, selain air dan energi. Maka kita tinggal ambil dan mengolah nya jadi nilai yang tinggi. Mrinding!

Selain sektor pertanian, Gung Wedha juga mengembangkan fintech Pertanian, nabung tani. Kemudian menciptakan teknologi Pertanian by phone. Ngeri ya? hehehe. Pantes menang!

#UNBRANDING, Konsep Branding Tanpa Branding

Pembicara utama Entrepreneur Festival 2019 saat nya bicara. Adalah Arto Biantoro seorang brand activist presentasi tentang UNBRANDING bagi para pebisnis. UNBRANDING adalah pendekatan branding yang tidak populer. Namun jika dilakukan akan membuat brand itu bertahan lama (sustain).

Arto Biantoro UNBRANDING

Branding selama ini berfikiran bagaimana produk kita laku. Kegiatan menawarkan produk, edukasi produk, di klaim sebagai branding. Padahal itu pola marketing. UNBRANDING adalah aksi the next branding yaitu brand yang memberikan manfaat kepada konsumen atau masyarakat secara umum.

The future of branding adalah care about the people, bukan brand nya. Arto juga menunjukkan slide bertuliskan: Successful brands of the future care about people, not branding. Mungkin secara teori, pendekatan tidak biasa ini bertentangan dengan ilmu marketing yang kita kenal dari dulu.

Kata Menteri Koperasi dan UKM RI, jumlah pengusaha di Indonesia meningkat jadi 7%. Apakah lantas membuat profit bisnis makin meningkat? Malah makin susah karena itu realita kompetisi yang tinggi. Masyarakat jadi banyak pilihan dan kita harus rela berbagi kue profit. Contoh kompetisi antar marketplace yang gaungkan Free Ongkir, itu tidak kreatif sama sekali. Pendapat Arto. Maka kita perlu pendekatan UNBRANDING untuk menciptakan nilai lebih dari brand kita.

Hasil dari UNBRANDING adalah kita tak perlu cerita tentang brand. Orang lain lah yang akan menceritakan brand kita. Bagaimana bisa tahu? Kita cukup mempersiapkan brand profile saja yang ditempatkan sebagaimana mestinya, misal website, kartu nama, kantor. Tanpa harus menawarkan orang lain untuk mengerti. Klo tetap menawarkan mah marketing itu namanya hehehe.

Andy F Noya

Ada apa dengan Andy F Noya? Dia masih satu manajemen dengan Arto. Andy adalah sosok sempurna dari UNBRANDING. “Tanpa saya sadari, inilah yang membentuk label dari Andy F Noya, proses UNBRANDING yang menjadikan saya seperti sekarang,” ujar si presenter Kick Andy.

Andy bercerita panjang soal sejumlah program dan kegiatannya di ranah sosial, yang semua ini tidak pernah terpikirkan olehnya ketika mengawali karir. Baginya, menjadi seorang jurnalis sudah lebih dari cukup, namun panggilan lain membawanya bergerak pada jalur yang lebih dalam, menjadi sosial entrepreneur.

Andy F Noya ini cocok jadi standup comedian deh. Dari awal sampai pertengahan acara isi materinya bikin undangan terpingkal-pingkal. Ya saya terhibur juga siy. Namun pukul 21.30 WITA saya anggap pertengahan dan harus pamit dari Entrepreneur Festival 2019. Sayang tidak bisa ikuti acara hingga akhir karena sudah janji dengan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Badung, sebuah organisasi pencak silat untuk memberikan materi tentang media sosial dan potensinya.

PSHT

Setelah memberikan materi media sosial ke anggota PSHT, saya jadi mikir tentang UNBRANDING dan kegiatan tingkah polah saya selama ini. Mungkin saya tidak sadar bahwa kegiatan sharing jadi pembicara internet marketing ini sudah UNBRANDING. Porsi bicara brand saya cuma perkenalan nggak sampai 5 menit. Sisanya bicara kekuatan digital marketing yang berpotensi bawa manfaat.

Mungkinkah aktivitas saya sama seperti yang dilakukan Andy F Noya dengan Kick Andy Foundation nya? Wallahu A’lam hanya Allah yang Maha Tahu deh. Tapi saya pribadi sepakat dengan konsep UNBRANDING ini. Masuk akal dan Mrinding!

Entrepreneur Festival lakukan #UNBRANDING

Ya! Menurut saya BPR Lestari dan Money&I melakukan aksi UNBRANDING dengan selenggarakan acara tahunan bernama Entrepreneur Festival. Event tahunan ini manfaatnya terasa bagi saya pribadi. Yakin juga bermanfaat bagi pebisnis lainnya.

Saya dapat wawasan keilmuan dan pengalaman dunia bisnis dari narasumber yang berkompeten. Tentunya akan saya aplikasikan di bisnis juga. Saya dapat pengakuan (walaupun sebagai nominator) dan rela untuk cerita tentang Entrepreneur Festival. Bukan cerita soal BPR Lestari dan Money&I nya ya. Pun tidak ceritakan figur Pak Alex dan Pak Arif nya. Kedua brand dan kedua orang itu jelas akan dikepoin oleh masyarakat yang mengikuti Entrepreneur Festival. Bahkan dikepoin orang karena ada yang baca tentang manfaat nya. Ya seperti baca di tulisan ini. Haizzz. Serius ini Pak!

Pribadi-pribadi yang mendapatkan pengakuan, walaupun itu nominator dan diberikan piagam, itu sangat berharga. Mean something. Yakin deh. Menurut saya siy. Jadi value untuk vibrasi masa depan nya anak-anak. Tokoh tua nya bisa dijadikan panutan. Sayang nya Entrepreneur Festival kali ini tidak menyebutkan para nominator nya. Apakah saya ketinggalan? CMIW. Padahal para nominator bisa jadi agent UNBRANDING nya kedua bisnis itu.

Juri Entrepreneur Festival 2019

Pengakuan lain di event ini adalah menunjuk saya jadi salah satu juri untuk penentuan pemenang Entrepreneur Festival 2019. Saya merasa diri ini bermanfaat dan bernilai tinggi mewakili ribuan pengusaha di Denpasar. Mohon ampun Ya Allah jika ini tinggi hati. Trully i’m proud of my self and my kids will do. Thanks Pak.

Saya yakin juri yang lain juga merasa terhormat mendapatkan kesempatan. Adalah Bu Sutrisna Dewi, Pak Putu Santika, Pak Putu Sudiarta, Bu IGA Silawati, Pak IB Ratu Antoni Putra, Bu Kadek Chintya Dwi Pratiwi dan Pak Arif Rahman.

So, saya mendukung Entrepreneur Festival terus menerus diadakan. Sangat bermanfaat. Terima kasih Ya Allah dan terima kasih BPR Lestari (Pak Alex) dan Money&I (Pak Arif).

Kebacut! The Keranjang Milik Siapa?

Pukul 22.15 WITA, saya menerima sebuah kata, “Kebacut!” Namun saya mau ekspresikan rasa syukur kepada Allah SWT lewat tulisan ini akibat sore tadi bertemu dengan beberapa orang penting dan hebat. Adalah Mas Ibnu Riyanto dan Pak Gede Indra.

Mas Ibnu The Kerandjang Bali

Bertemu dan sempat berbincang dengan mereka di acara nya Deputi Pengembangan dan Penguatan Usaha, Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia (Kemenkop UKM RI). Berlangsung di Hotel Mercure Harvest Kuta, Sabtu 21 September 2019.

Siapa sih Mas Ibnu dan Pak Indra? Mas Ibnu tuh CEO dan owner The Keranjang Bali. Ya, pusat oleh-oleh The Keranjang Bali miliknya Mas Ibnu Riyanto. Tapi ada 4 orang lagi pemilik The Keranjang. Cukup saya aja yang tahu hehehe. Nggak seru kalau saya omongkan disini. Karena para pemilik itu ada dalam materi presentasi nya Mas Ibnu di acara tadi.

Ketika Mas Ibnu didaulat untuk bicara di acaranya Kemenkop UKM RI tadi, The Keranjang baru 2 bulan buka dengan status soft opening. Belumlah grand opening! Mas Ibnu berbicara tentang kisah sejarah wirausaha nya dan beri wawasan berbisnis serta memotivasi para UKM.

Ibnu The Kerandjang Bali

Ya, peserta acara tadi adalah para UKM dari Bali. Tidaklah banyak, mungkin sekitar 50 an dan pastinya itu pilihan dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali.

Mas Ibnu menikah muda. Lulus SMA langsung menikah. Berbekal uang hasil resepsi pernikahan sebesar Rp. 17 juta, Mas Ibnu memulai bisnis jualan kain kafan (mori). Beh ngeri-ngeri sedap juga hehehe. Namun itu ada unsur sosialnya juga siy. Kain Kafan itu kain untuk bungkus jenazah.

Karena ketekunan, konsistensi, dan inovasi hingga akhirnya jadi besar bisnis nya. Sampai punya batik trusmi di Cirebon sana. Hingga The Keranjang Bali.

Hendra Kemenkop Bali

Sebelum acara, sempat saya berbincang dengan Mas Ibnu. Namun saya yang gencar memulai percakapan. Termasuk singgung soal komunitas wirausaha Tangan Di Atas (TDA). Ya, Mas Ibnu terkenal di kalangan teman-teman TDA. Jadi langsung saja saya giring topiknya ke TDA.

Mas Ibnu begitu tahu saya anggota TDA Bali, beliau langsung sumringah berbinar. “Kita satu DNA! TDA!” gitu komentar Mas Ibnu pada saya. “Saya ikut TDA pas jaman Presiden TDA Mustofa Romdloni,” cerita Mas Ibnu.

Kami pun terlibat obrolan seru tentang TDA. Termasuk saya ceritakan tentang TDA Bali dan pernah jadi ketua nya. Saat ini sudah lengser dan digantikan Mas Sidik. Di sela-sela pembicaraan, saya ‘todong’ meminta Mas Ibnu untuk meetup dengan teman-teman TDA Bali. “Iya lah, ayo, kita kan sama-sama satu DNA.” Lagi bilang soal satu DNA hahaha. Alhamdulillah.

Saya jadi tidak sabar. Foto selfie bersama Mas Ibnu saya share ke grup TDA Bali. Teman-teman pun antusias untuk bisa meetup dengan Mas Ibnu. Ketika sudah pulang, Mas Ibnu saya WA dan kami membuat janji meetup. Ah indahnya! Alhamdulillah Ya Allah, atas karunia rejeki di sore tadi.

Lantas siapa Pak Gede Indra? Beliau adalah Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali. Yay! Beliau sempat mendengarkan materi presentasi saya tentang Digital Marketing. Ya, saya diundang sebagai pembicara dan hampir 45 menit presentasi tentang “Solusi Kemudahan dan Membangun Usaha di Era Digital.”

Hendra di Kemenkop Bali

Selesai acara, kami sempat berbincang tentang UKM di Bali. Jumlah dan statistik nya. Menurut BPS, Bali punya kurang lebih 30.000 UKM. Namun itu data lama. Belum lah mutakhir kekinian.

Saya sempatkan memasukkan komunitas wirausaha TDA Bali kepada Pak Kadis. Beliau bilang, “Ya bagus-bagus itu. UKM harus saling memperkuat diri satu sama lain.” Saya pun punya keinginan untuk bisa berbincang, audiensi dengan beliau. Tentunya bersama-sama dengan teman-teman TDA Bali. Langsung beliau memberikan nomor WA nya dan bisa bikin janji bertemu. Nanti akan disesuaikan jadwalnya dengan ajudan. Gitu katanya. Waw menarik nih! Tanpa birokrasi.

Hendra Gede indra kadis koperasi bali

Selain bertemu dengan kedua tokoh penting tadi, saya juga bertemu dan berbicang dengan pejabat Deputi Kemenkop. Sayangnya saya lupa namanya lho. Tadi sih sudah kenalan. Dasar lemah nya memori saya, jadi lupa deh. Beliau berdua bilang materi saya bagus untuk membuka mindset para UKM untuk Go Online. Ah syukurlah. Alhamdulillah. Ditunggu undangannya lagi ya, batin saya hehehe.

Terima kasih Ya Allah!

Undangan dari kemenkop