Tag Archives: Kewirausahaan

Mahasiswa (oknum) Pemberi Harapan Palsu!

Yang tercinta Adik-adik-ku mahasiswa,

Seringkah kalian, mahasiswa suka ingkar janji? Tak jelas dan pemberi harapan palsu. Apakah ini jadi bibit psikis masa depan kalian? Semoga enggak ya 🙂

Contoh: Ada seminar motivasi wirausaha untuk mahasiswa. Gratis! Tidak bayar. Diberikan fasilitas dan manfaat: Ilmu bisnis bernilai miliaran rupiah, gedung seminar berkursi empuk dan berAC, diberi snack, diberi sertifikat. Yang daftar 220 mahasiswa. Yang menepati janji hadiri seminar cuma 70 mahasiswa!

Kemana 150 mahasiswa yang tidak datang? Tidak beri keterangan apapun dan bahkan tidak ada kata maaf kepada panitia seminar.

“Halah gratis aja kok, santai aja kak!” Santai gundulmu ya sayangku. Aku beritahu ya, seminar yang digratiskan untuk kalian para mahasiswa yang tercinta, panitia harus menanggung dan membayar:

1. Biaya tiket pesawat PP, hotel, dan honor dua narasumber dari Jakarta.
2. Biaya sewa gedung, bayar snack, bayar spanduk, photobooth, umbul-umbul, sertifikat.
3. Para panitia yang mayoritas pebisnis juga sisihkan waktu dan konsentrasi untuk urusi kesuksesan seminar ini.

“Kakak Panitia nggak ikhlas dong?” mungkin itu kata kalian. Namun semuanya sudah terbayarkan dan sudah terjadi. Mau nggak ikhlas gimana wong acara dah selesai. Sebuah kegiatan tanpa adanya evaluasi, itu konyol adik-ku.

Ini tulisan, dalam rangka evaluasi agar tercipta pembangunan jiwa yang mrinding bagi Indonesia. Mentalitas 150 mahasiswa tanpa kehadiran itu sungguh merugikan.

Rugi karena kalian ingkar janji. Menurut agama, itu dosa besar. Rugi kalian mengabaikan ilmu bernilai miliaran dari narasumber. Rugi nggak dapat snack dan sertifikat. Rugi tidak bisa berjejaring, kenalan dengan narasumber dan panitia yang mayoritas pengusaha.

Ada beberapa mahasiswa yang akhirnya datang dengan status ijin meninggalkan kuliah lebih awal kepada dosen nya. Itu terhormat dan gentlemen! Komitmen dengan janjinya.

Bagaimana dengan kalian yang 150 mahasiswa itu? Sudahkah kalian minta maaf ke kakak-kakak panitia? Lain kali jangan ya adik-adik-ku mahasiswa. Seminar/workshop walaupun gratis, ada trilyunan manfaat dan cerita-cerita pengorbanan lho.

Salam #NaikKelas
www.hendra.ws

Keterangan foto: Saya bersama panitia di Pro Indonesia adakan seminar wirausaha Diginesia bagi para mahasiswa beberapa kampus di Bali. Terselenggara pada Kamis, 8 November 2018, pukul 13.00 – 17.00 WITA di Gedung Doktor lt 4, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Udayana – Bali.

Challenge mahasiswa berwirausaha melalui program Diginesia. Hadirkan para coaches sharing metodologi berwirausaha gunakan silabus bisnis Smart Business Map (SBM). Ini baru seminar. Seminggu lagi akan ada workshop SBM untuk mahasiswa.

Seminar ini dihadiri para civitas dari Universitas Udayana, UNHI, Akubank, Undiknas, STAI Denpasar.

Kerjasama dengan Universitas Udayana, Sindonews, Suzuki dan PLN. Terima kasih telah berkontribusi positif bagi pembangunan jiwa mahasiswa Indonesia!

Trainer Perdana di SBM Workshop

Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar adalah salah satu dari 7 BDI di Indonesia yang satu-satunya mempunyai inkubator bisnis (Inbis). Warbyazah! BDI ini dibawah kendali langsung Kementrian Perindustrian RI. BDI Denpasar berfokus di pengembangan industri kreatif.

Saat ini sudah angkatan ke 4 di tahun ke 4, BDI mempunyai tenant (startup binaan). Mereka ingin berikan kegiatan yang bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas wirausaha bagi para tenant alumni. Salah satunya adakan Smart Business Map (SBM) Workshop pada Jumat – Sabtu, 19 – 20 Oktober 2018.

Ada sekitar 30 alumni Inbis mengikuti SBM Workshop ini. Bagi Pro Indonesia, yayasan yang menaungi gerakan wirausaha yang gunakan metodologi SBM, kegiatan yang diselenggarakan BDI ini bernama SBM Inhouse disamping ada pula SBM reguler.

Bali sendiri pernah 3 kali adakan SBM Reguler yaitu perdana pada akhir tahun 2015 dan saya yang jadi koordinator workshop nya. Kemudian tongkat koordinator berpindah ke Coach Ikhwan yang berhasil selenggarakan SBM Reguler pada tahun 2017 dan 2018.

Apa itu SBM?

SBM atau Smart Business Map adalah modul pembelajaran bisnis yang dikembangkan pada tahun 2012 oleh seorang ekonom, profesional sekaligus investor Bapak Budi Satria Isman. Beliau salah satunya pernah memimpin Coca Cola Indonesia dan PT. Sari Husada (Susu SGM).

SBM adalah alat untuk mendiagnosa kesehatan sebuah bisnis, sekaligus sebagai satuan proses untuk membangun dan mengembangkan bisnis. Ada 3 modul besar bernama Playing Field, Market Lanscape, dan Operational Profitability yang mempunyai 12 pertanyaan mendasar untuk panduan para pebisnis naik kelaskan bisnisnya.

12 Pertanyaan yang menjadi panduan bisnis dan harus terjawab adalah:

1. What is the problem?
2. Who has the problem?
3. What is the solution?
4. How big is the market?
5. What factors will impact the business?
6. Why do people choose you?
7. How do you sell your product?
8. How do you keep your customer?
9. How can you increase your revenue?
10. How can you manage your cost?
11. What is your core resourses?
12. How do you develop you team?

Kembali ke BDI, workshop SBM ini diperkuat oleh 4 orang tim SBM yaitu Coach Taufan, Coach Ikhwan, Coach Jayeng, dan saya. Sebagai trainer SBM adalah Coach Taufan dan saya, yang perdana sebagai trainer di ajang workshop SBM. Yay! Sedangkan Coach Ikhwan dan Coach Jayeng menjadi asisten yang memandu para peserta isi pertanyaan-pertanyaan dari modul SBM.

Saya pribadi tidak pernah meminta menjadi trainer SBM namun karena dipanggil/terpilih oleh Pro Indonesia, ya Bismillah saya terima. Menjadi trainer adalah salah satu upaya saya untuk terus menerus belajar, mendalami keilmuan. Merasa bersyukur dan tertantang! Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kelancaran dalam pengabdian ini. Amin.

Menurut Coach Taufan yang sudah 5 tahun menjadi SBM Trainer, SBM Inhouse terkadang bisa dibawakan oleh seorang trainer saja. Namun khusus di BDI Denpasar, saya belum berani presentasikan semua modul SBM tersebut.

Akhirnya ada pembagian presentasi modul SBM. Separo plus plus Coach Taufan dan separonya saya hehehe.

Terima kasih Ya Allah, akhirnya pecah telor! Terima kasih BDI Denpasar. InshaAllah siap menerima tantangan selanjutnya di gerakan wirausaha Pro Indonesia.

Ada testimonial menarik yang dibuat oleh peserta setelah ikutan workshop SBM, “Ini ilmu dan wawasan baru bagi saya dan sepertinya siap berganti ‘agama’ dari BMC ke SBM.” Hahahaha. Selama ini memang Business Model Canvas (BMC) yang jadi panduan bisnis bagi para wirausahawan.

Ya semuanya baik kok, tinggal kita saja yang memilih mana yang lebih nyaman dan pas dalam selesaikan masalah bisnis.

Trainer Perdana di SBM Workshop

Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar adalah salah satu dari 7 BDI di Indonesia yang satu-satunya mempunyai inkubator bisnis (Inbis). Warbyazah! BDI ini dibawah kendali langsung Kementrian Perindustrian RI. BDI Denpasar berfokus di pengembangan industri kreatif.

Saat ini sudah angkatan ke 4 di tahun ke 4, BDI mempunyai tenant (startup binaan). Mereka ingin berikan kegiatan yang bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas wirausaha bagi para tenant alumni. Salah satunya adakan Smart Business Map (SBM) Workshop pada Jumat – Sabtu, 19 – 20 Oktober 2018.

Ada sekitar 30 alumni Inbis mengikuti SBM Workshop ini. Bagi Pro Indonesia, yayasan yang menaungi gerakan wirausaha yang gunakan metodologi SBM, kegiatan yang diselenggarakan BDI ini bernama SBM Inhouse disamping ada pula SBM reguler.

Bali sendiri pernah 3 kali adakan SBM Reguler yaitu perdana pada akhir tahun 2015 dan saya yang jadi koordinator workshop nya. Kemudian tongkat koordinator berpindah ke Coach Ikhwan yang berhasil selenggarakan SBM Reguler pada tahun 2017 dan 2018.

Apa itu SBM?

SBM atau Smart Business Map adalah modul pembelajaran bisnis yang dikembangkan pada tahun 2012 oleh seorang ekonom, profesional sekaligus investor Bapak Budi Satria Isman. Beliau salah satunya pernah memimpin Coca Cola Indonesia dan PT. Sari Husada (Susu SGM).

SBM adalah alat untuk mendiagnosa kesehatan sebuah bisnis, sekaligus sebagai satuan proses untuk membangun dan mengembangkan bisnis. Ada 3 modul besar bernama Playing Field, Market Lanscape, dan Operational Profitability yang mempunyai 12 pertanyaan mendasar untuk panduan para pebisnis naik kelaskan bisnisnya.

12 Pertanyaan yang menjadi panduan bisnis dan harus terjawab adalah:

1. What is the problem?
2. Who has the problem?
3. What is the solution?
4. How big is the market?
5. What factors will impact the business?
6. Why do people choose you?
7. How do you sell your product?
8. How do you keep your customer?
9. How can you increase your revenue?
10. How can you manage your cost?
11. What is your core resourses?
12. How do you develop you team?

Kembali ke BDI, workshop SBM ini diperkuat oleh 4 orang tim SBM yaitu Coach Taufan, Coach Ikhwan, Coach Jayeng, dan saya. Sebagai trainer SBM adalah Coach Taufan dan saya, yang perdana sebagai trainer di ajang workshop SBM. Yay! Sedangkan Coach Ikhwan dan Coach Jayeng menjadi asisten yang memandu para peserta isi pertanyaan-pertanyaan dari modul SBM.

Saya pribadi tidak pernah meminta menjadi trainer SBM namun karena dipanggil/terpilih oleh Pro Indonesia, ya Bismillah saya terima. Menjadi trainer adalah salah satu upaya saya untuk terus menerus belajar, mendalami keilmuan. Merasa bersyukur dan tertantang! Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kelancaran dalam pengabdian ini. Amin.

Menurut Coach Taufan yang sudah 5 tahun menjadi SBM Trainer, SBM Inhouse terkadang bisa dibawakan oleh seorang trainer saja. Namun khusus di BDI Denpasar, saya belum berani presentasikan semua modul SBM tersebut.

Akhirnya ada pembagian presentasi modul SBM. Separo plus plus Coach Taufan dan separonya saya hehehe.

Terima kasih Ya Allah, akhirnya pecah telor! Terima kasih BDI Denpasar. InshaAllah siap menerima tantangan selanjutnya di gerakan wirausaha Pro Indonesia.

Ada testimonial menarik yang dibuat oleh peserta setelah ikutan workshop SBM, “Ini ilmu dan wawasan baru bagi saya dan sepertinya siap berganti ‘agama’ dari BMC ke SBM.” Hahahaha. Selama ini memang Business Model Canvas (BMC) yang jadi panduan bisnis bagi para wirausahawan.

Ya semuanya baik kok, tinggal kita saja yang memilih mana yang lebih nyaman dan pas dalam selesaikan masalah bisnis.

Menyembuhkan Komplain ala McDonalds

Saya komplain berat ke McDonalds melalui akun Instagram dan Twitter karena orderan double cheeseburger saya ternyata berisi cuma satu CHEESE! Komplain itu menyertakan foto cheese burger dan struk pembeliannya di McD Teuku Umar Barat, Denpasar – Bali.

Komplain McDonalds

Satu hari kemudian saya ditelpon sama GM McDonalds Bu Rini. Inti dalam percakapan itu atas nama McDonalds sampaikan maaf dan ingin mengganti produk yang salah tersebut. Kemudian minta ketemu saya. Oke, saya layani dan Sabtu siang datang ke kantor saya.

Datanglah Bu Rini dan Bu Kadek (Marketing McDonalds Teuku Umar) ke kantor sambil membawa paket double cheeseburger kesayangan saya. Yes, i’m lovin it! Ada satu pemberian lagi yaitu bantal McDonalds. Semuanya for free!

Bu Rini kembali sampaikan maaf nya dan berjanji untuk memperbaiki layanan McDonalds. Tersampaikan harapan agar saya tidak kapok untuk datang dan belanja di McDonalds.

Bu Rini Bu Kadek McDonalds

Ini kami bawakan paket kesukaan Pak Hendra, sebagai tebusan atas kesalahan kami tempo hari.” Wuah maunya marah besar namun hati ini meleleh seperti lelehan cheese diantara himpitan beef itu hahahaha.

McDonalds Double Cheese Burger

* How Do You Keep Your Customer ?

McDonals menyebut tindakan diatas adalah recovery complaint. Kegiatan menelpon, mendatangi, beri produk yang benar dan hadiah kepada pelanggan yang komplain sudah ada dalam SOP (Standard Operating Prochedure) mereka.

Mengapa penting? Bu Rini bilang, “Mencari pelanggan itu susah sekali lho Pak.” Kalau ada yang kecewa, itu sangat berbahaya bagi McDonalds. Baik, mari analisa seberapa bahaya akibat dari komplain saya saja. Berdasar statistik postingan IG saya menunjukkan dibawah ini:

IG Komplain McDonalds

Postingan komplain saya ternyata dilihat oleh 2.344 orang sebanyak 2.799 kali. Itu baru sehari saja di IG. Belum lagi yang di Twitter. Kemudian, saya belum posting komplain ini di FB, LinkedIn, Google+ dan blog pribadi ini.

Akibat recovery complaint ini saya berjanji untuk menuliskan pengalaman dan menjadikannya inpirasi bagi semua pihak khususnya UKM Indonesia. Metode ini penting dalam menjawab pertanyaan How Do You Keep Your Customer?. Bagaimana cara Anda (UKM) dalam mempertahankan pelanggan?

* Inspirasi Bagi UKM

Cara McDonalds perlakukan komplain ini bisa jadi inspirasi bagi para UKM. McDonalds sebagai perusahaan multi nasional punya manajemen komplain agar konsumen nya kembali ceria dan mau untuk datang membeli lagi.

Kesalahan itu tidak cuma meminta maaf saja. Namun ada aksi lanjutan yang membuat level emosional konsumen akan naik. Berikut tingkatan emosional konsumen terhadap sebuah brand:

1. Satisfied (puas)
2. Loyal (setia)
3. Engaged (ada interaksi)
4. Advocate (membela brand)

Dimanakah posisi saya terhadap McDonals? Saya termasuk konsumen yang puas dengan double cheeseburger itu. My favorite meal! Sesuai selera. Saya selalu beli ke McDonalds walaupun ada kompetitor burger lain nya. Maka saya termasuk konsumen yang loyal (setia).

Atas kejadian komplain itu, saya sudah naik ke level ke 3, yaitu ada interaksi ke McDonalds. Saya jadi tahu kejanggalan/kekurangan produk nya jika ada sesuatu yang tidak beres. Bungkusan double cheeseburger yang biasanya tebal kok tipis. Ini yang bikin saya curiga untuk menelisik, meneliti dan akhirnya lampiaskan kekecewaan.

Perlakuan recovery complaint McDonalds bisa jadi menaikkan saya ke level ke 4. Let’s see saja ya hehehe.

Bu Kadek sebagai marketing McDonalds Teuku Umar tampak protes, “Pak Hendra kenapa tidak telpon kami saja soal komplain ini.

Saya jawab, “Ini jaman now Bu. Nggak seru kalau cuma Anda saja yang tahu hahaha.” Ini jaman internet of things (IoTs). Menjangkau orang banyak jadi lebih mudah. Berlomba-lomba mencetak kebaikan pun bisa melalui jemari. Mengingatkan kerabat agar tidak kecewa ketika membeli produk, utamanya di McDonalds. Postingan saya kan isinya berikan tips agar periksa sebelum pergi. Inline dengan topik besar yang sering saya usung sebagai pembicara di seminar workshop digital marketing.

Kalaupun McDonalds merasa perlu meningkatkan layanan akibat komplain saya, itu pahala bagi saya. InshaAllah hehehe. Feeling saya, McDonalds akan tetap menjuara kok, akibat metode recovery complaint ini.

Terima kasih dan selamat buat Bu Rini, Bu Kadek dan McDonalds. Semoga peristiwa ini menjadi inspirasi dan motivasi UKM di Indonesia agar meniru hal-hal baik dalam menciptakan brand yang menjuara!

Menyembuhkan Komplain ala McDonalds

Saya komplain berat ke McDonalds melalui akun Instagram dan Twitter karena orderan double cheeseburger saya ternyata berisi cuma satu CHEESE! Komplain itu menyertakan foto cheese burger dan struk pembeliannya di McD Teuku Umar Barat, Denpasar – Bali.

Komplain McDonalds

Satu hari kemudian saya ditelpon sama GM McDonalds Bu Rini. Inti dalam percakapan itu atas nama McDonalds sampaikan maaf dan ingin mengganti produk yang salah tersebut. Kemudian minta ketemu saya. Oke, saya layani dan Sabtu siang datang ke kantor saya.

Datanglah Bu Rini dan Bu Kadek (Marketing McDonalds Teuku Umar) ke kantor sambil membawa paket double cheeseburger kesayangan saya. Yes, i’m lovin it! Ada satu pemberian lagi yaitu bantal McDonalds. Semuanya for free!

Bu Rini kembali sampaikan maaf nya dan berjanji untuk memperbaiki layanan McDonalds. Tersampaikan harapan agar saya tidak kapok untuk datang dan belanja di McDonalds.

Bu Rini Bu Kadek McDonalds

Ini kami bawakan paket kesukaan Pak Hendra, sebagai tebusan atas kesalahan kami tempo hari.” Wuah maunya marah besar namun hati ini meleleh seperti lelehan cheese diantara himpitan beef itu hahahaha.

McDonalds Double Cheese Burger

* How Do You Keep Your Customer ?

McDonals menyebut tindakan diatas adalah recovery complaint. Kegiatan menelpon, mendatangi, beri produk yang benar dan hadiah kepada pelanggan yang komplain sudah ada dalam SOP (Standard Operating Prochedure) mereka.

Mengapa penting? Bu Rini bilang, “Mencari pelanggan itu susah sekali lho Pak.” Kalau ada yang kecewa, itu sangat berbahaya bagi McDonalds. Baik, mari analisa seberapa bahaya akibat dari komplain saya saja. Berdasar statistik postingan IG saya menunjukkan dibawah ini:

IG Komplain McDonalds

Postingan komplain saya ternyata dilihat oleh 2.344 orang sebanyak 2.799 kali. Itu baru sehari saja di IG. Belum lagi yang di Twitter. Kemudian, saya belum posting komplain ini di FB, LinkedIn, Google+ dan blog pribadi ini.

Akibat recovery complaint ini saya berjanji untuk menuliskan pengalaman dan menjadikannya inpirasi bagi semua pihak khususnya UKM Indonesia. Metode ini penting dalam menjawab pertanyaan How Do You Keep Your Customer?. Bagaimana cara Anda (UKM) dalam mempertahankan pelanggan?

* Inspirasi Bagi UKM

Cara McDonalds perlakukan komplain ini bisa jadi inspirasi bagi para UKM. McDonalds sebagai perusahaan multi nasional punya manajemen komplain agar konsumen nya kembali ceria dan mau untuk datang membeli lagi.

Kesalahan itu tidak cuma meminta maaf saja. Namun ada aksi lanjutan yang membuat level emosional konsumen akan naik. Berikut tingkatan emosional konsumen terhadap sebuah brand:

1. Satisfied (puas)
2. Loyal (setia)
3. Engaged (ada interaksi)
4. Advocate (membela brand)

Dimanakah posisi saya terhadap McDonals? Saya termasuk konsumen yang puas dengan double cheeseburger itu. My favorite meal! Sesuai selera. Saya selalu beli ke McDonalds walaupun ada kompetitor burger lain nya. Maka saya termasuk konsumen yang loyal (setia).

Atas kejadian komplain itu, saya sudah naik ke level ke 3, yaitu ada interaksi ke McDonalds. Saya jadi tahu kejanggalan/kekurangan produk nya jika ada sesuatu yang tidak beres. Bungkusan double cheeseburger yang biasanya tebal kok tipis. Ini yang bikin saya curiga untuk menelisik, meneliti dan akhirnya lampiaskan kekecewaan.

Perlakuan recovery complaint McDonalds bisa jadi menaikkan saya ke level ke 4. Let’s see saja ya hehehe.

Bu Kadek sebagai marketing McDonalds Teuku Umar tampak protes, “Pak Hendra kenapa tidak telpon kami saja soal komplain ini.

Saya jawab, “Ini jaman now Bu. Nggak seru kalau cuma Anda saja yang tahu hahaha.” Ini jaman internet of things (IoTs). Menjangkau orang banyak jadi lebih mudah. Berlomba-lomba mencetak kebaikan pun bisa melalui jemari. Mengingatkan kerabat agar tidak kecewa ketika membeli produk, utamanya di McDonalds. Postingan saya kan isinya berikan tips agar periksa sebelum pergi. Inline dengan topik besar yang sering saya usung sebagai pembicara di seminar workshop digital marketing.

Kalaupun McDonalds merasa perlu meningkatkan layanan akibat komplain saya, itu pahala bagi saya. InshaAllah hehehe. Feeling saya, McDonalds akan tetap menjuara kok, akibat metode recovery complaint ini.

Terima kasih dan selamat buat Bu Rini, Bu Kadek dan McDonalds. Semoga peristiwa ini menjadi inspirasi dan motivasi UKM di Indonesia agar meniru hal-hal baik dalam menciptakan brand yang menjuara!