Tag Archives: Kesehatan

Makanan-Makanan ini yang Harus Diwaspadai Bagi Penderita Demam Berdarah

 

Demam berdarah dengue ialah infeksi yang disebabkan oleh salah satu dari empat macam jenis virus dengue. Demam berdarah ialah penyakit yang mudah menular. Carier penularan demam berdarah sendiri berasal dari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus

Beberapa hal yang memnculkan ciri demam berdarah biasanya dipicu oleh faktor risiko tertentu. Faktor risiko demam berdarah tersebut diantaranya:

  1. Pasien merupakan orang yang pernah mengalami infeksi virus dengue sebelumnya
  2. Pernah tinggal atau melakukan perjalanan ke daerah tropis
  3. Seperti bayi, anak-anak, orang lanjut usia, serta manusia yang kekebalan tubuhnya lemah.

Umumnya virus dengue penyebab munculnya ciri demam berdarah menyebar pesat dengan dimulainya musim penghujan. Hal ini tentunya dapat dimaklumi karena saat musim hujan menjadi waktu yang tepat bagi nyamuk aedes aegypti untuk berkembang biak yang merupakan pembawa dari virus.

Ciri demam berdarah yaitu dibawa oleh nyamuk dengan warna badan hitam putih ini bertelur di genangan air. Menurut Dokter Umum Balai Kesehatan Kompas Gramedia, Susanti memberikan saran bagi Anda agar dapat menutup genangan air maupun membersihkan lingkungan yang berada di lingkungan sekitar tempat tinggal Anda. 

Beberapa hal yang menjadi pantangan agar ciri demam berdarah atau penyakit ini tidak berkembang semakin parah pada diri seseorang yaitu :

  • Tidak mengonsumsi makanan yang berminyak dan pedas

Bagi penderita demam berdarah yang sudah diketahui berdasarkan ciri demam berdarah yang mulai muncul, maka diharapkan untuk sebaiknya terlebih dahulu untuk tidak mengonsumsi makanan dengan kandungan minyak berlebih dan pedas. Hal ini disebabkan karena pada makanan tersebut mampu memicu rasa mual penderita.

Jika terjadi mual dan muntah yang muncul dari diri penderita maka akan dikhawatirkan tubuhnya pun mampu semakin lemah diakibatkan dari kurangnya cairan.

Untuk anda yang merupakan penggemar dari adanya nasi padang, bakso dengan kuah yang pedas ataupun  makanan sejenisnya maka untuk sementara anda dapat sebaiknya menghindari makanan-makanan tersebut terlebih dahulu. Anda pun akan mampu menikmati makanan tersebut jika telah sembuh dari penyakit demam berdarah

  • Tidak mengonsumsi minuman yang memiliki kandungan kafein

Sebagai informasi, bagi penderita demam berdarah yang telah memunculkan ciri demam berdarah pada tubuhnya untuk ada baiknya tidak mengonsumsi adanya minuman dengan kandungan kafein. Hal ini karena menurut dokter Santi, kafein membuat orang jadi ingin terus menerus melakukan buang air kencing.

Dengan kenyataan buang air kecil terus menerus maka kebutuhan cairan penderita akan berkurang selama membutuhkan cairan selama dalam pengobatan. Namun gantinya, penderita mampu mengonsumsi air kelapa. Air kelapa sebagaimana diketahui memiliki kandungan vitamin dan mineral yang mampu meningkatkan cairan tubuh si penderita. Pilihan lainnya ialah penderita juga disarankan agar mampu meminum jus sayuran organik murni. Minuman tersebut yang kemudian mengandung vitamin serta nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Apabila penderita dengan ciri demam berdarah yang cukup ringan dan sedang  mencoba meminum jus sayuran secara rutin, maka mampu membantu mempercepat proses pemulihan.   

Seseorang yang terinfeksi virus dengue ini sebaiknya segera di bawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan intensif. Diagnosis yang dilakukan pada penyakit demam berdarah dilakukan melalui adanya pemeriksaan fisik dan wawancara medis. Terdapat pula pemeriksaan penunjang contohnya pemeriksaan darah di laboratorium pun harus dilakukan. Namun, setelah merasakan terjadinya ciri demam berdarah, maka dapat segera konsultasi dokter  atau dengan secara langsung mengunjungi rumah sakit terdekat, supaya mampu langsung dilakukan diagnosis. 

Demam Berdarah - Pengertian, Gejala, Penyebab, Faktor Risiko ...

Sumber gambar: halodoc.com

 

The post Makanan-Makanan ini yang Harus Diwaspadai Bagi Penderita Demam Berdarah appeared first on Devari.

Corona dan Cerita Kami yang di Desa

Petani masih sibuk di sawah di tengah ancaman pandemi COVID-19. Foto Wayan Martino.

Tak semua di antara kita dapat menulis tagar #dirumahsaja.

“Karena adanya wabah Corona, kita sekarang hanya di rumah dengan keluarga, menghadirkan kebersamaan. Kebersamaan menanggung masalah yang sama, minggu-minggu tanpa pemasukan.” Begitu unggahan Facebook seorang kawan.

Saya membacanya pagi-pagi buta sembari mengedip-ngedipkan mata melihat layar gawai lalu bergegas bangun tidur.

Kemudian masih banyak lagi beranda Facebook saya dipenuhi dengan berita soal Covid-19 yang dibagikan secara acak. Ada soal harapan. Ada pula soal rasa pesimis akan penularan wabah yang terus betambah.

Ada teman-teman sejawat yang secara kreatif memposting kegiatannya selama diam di rumah. Mereka berkampanye menggunakan tanda tagar #dirumahsaja, kemudian diteruskan secara berantai oleh yang lainnya.

Lalu ada pula soal anggota DPRD dalam bangga mengatakan dirinya adalah garda terdepan melawan virus sehingga harus di mendapat tes perdana. Tentang berita duka dari 25 pekerja medis yang meninggal karena merawat pasien Covid-19. Juga soal satu desa yang menolak jenazah positif Covid-19 saat mau dimakamkan.

Semuanya soal virus corona.

Petugas melakukan penyemprotan disinfektan untuk mencegah penularan virus corona. Foto Anton Muhajir.

Curhatan Tetangga

Namun, di luar kabar itu semua, yang paling menarik perhatian saya adalah soal curhatan para tetangga, ibu-ibu PKK Banjar dan Bapak-bapak paruh baya di desa. Mereka selalu jujur dan buka-bukaan soal situasi. Tentu tanpa ada muatan politik seperti anggota-anggota dewan kita.

Purnama di bulan April ini, Purnama Kedasa akan berlangsung upacara piodalan di Pura Dalem. Biasanya di tahun-tahun sebelumnya akan selalu ramai. Oleh segala usia dan semua status sosial.

Pura Dalem biasanya paling banyak orang yang bersembahyang (pemedek)-nya. Bisa sampai ribuan penangkil setiap harinya. Dudonan (susunan) upacara berlangsung selama empat hari.

Namun, piodalan kali ini akan berbeda. Waktu dan penangkil-nya dibagi per kelompok. Setiap giliran ngayah, pengayah-nya dibatasi hanya sepuluh orang.

Hal ini tentu disambut banyak pendapat. Mereka yang tidak setuju berpendapat bahwa niat baik meyadnya seharusnya tidak dibatasi. Toh, tujuannya adalah untuk mendoakan bumi ini rahayu tanpa bencana.

Mereka yang berpendapat seperti ini adalah golongan orang-orang yang paling rajin perihal upacara. Mereka pula yang taat dan selalu ada di garda terdepan saat ngayah. Juga paling mengerti soal upacara.

“Bagaimana kita bisa terus diam di rumah, sementara kebutuhan sehari-hari tak bisa didiamkan begitu saja,” ungkap Pak Made. Mantan peternak babi ini tak pernah menonton berita sejak munculnya wabah Covid-19.

Lalu, sambil melilit sate, warga lain menimpali dengan cepat. Mengatakan bahwa sudah ada kabar dari pemerintah bahwa akan ada tunjangan sembako segera. Juga biaya listrik akan mendapat keringanan.

Pak Made melanjutkan mengeluarkan isi curhatannya. “Pemerintah itu seperti polisi India, datangnya selalu terlambat. Mengapa tidak dari sebelum-sebelumnya. Corona harusnya bisa dicegah,” ujarnya.

“Sudah sebulan sepi tak ada bantuan apa-apa datang, kecuali mobil dengan toa berkeliling di jalan setiap hari,” lanjut Pak Made.

Dialah yang paling kritis di antara kami bertujuh yang sedang ngayah. Sebelumnya Ia juga bersikap sama, antipati sama pemerintah. Dia punya alasan sendiri, belasan anak babinya mati. Sampai saat ini dia belum mendapat solusi dan mengetahui penyebabnya.

Hampir semua peternak babi di desa merasakan hal sama. Harus rela kehilangan salah satu sumber nafkahnya.

Pemerintah itu seperti polisi India, datangnya selalu terlambat. Mengapa tidak dari sebelum-sebelumnya. Corona harusnya bisa dicegah.

Pak Made

Melanggar Imbauan

Obrolan di tengah lingkaran tumpukan sate yang dililit ini memang menarik. Semua bisa saling mengeluarkan pendapat. Tak ada hambatan strata dan status sosial. Walaupun memang meski sedikit melanggar imbauan pemerintah soal social distancing yang jaraknya tak bisa dihindari hanya setengah meter.

Lalu, ada dua pengayah mencurahkan keluhannya karena harus dirumahkan dari pekerjaannya. Satunya bekerja di hotel dan satunya lagi bekerja di restoran. Pekerja hotel sedang berpikir keras mencari cara untuk melanjutkan cicilan sepeda motor Yamaha Nmax di dealer, yang tak mendapat keringanan.

Lalu yang berhenti jadi koki di restoran sedang dalam dilema antara beralih profesi petani atau menjual sawahnya. Sebab, selama ini sawahnya tak ada yang menggarap, hanya ditanami anak pohon albesia yang kurus kering. Sebagian telah mati tak terurus setelah sekali panen.

Di antara kami para pengayah, selalu saja ada yang bijak menjawab. Dia terlihat paling tua dengan rambut dan brewok panjang. Namanya Pak Mangku, Ia bukan seorang pemangku di Pura manapun. Namun, hanya karena senang sembahyang di berbagai pura saat tengah malam sehingga disebut Mangku oleh orang-orang.

Ia mengatakan, “Kita semua, mendapat masalah sama. Tidak hanya di sini, bahkan di seluruh penjuru dunia.”

“Konon menurut berita, kasus yang paling banyak justru ada di negara maju, Amerika. Bahkan di negara yang ada Avengers-nya pun Corona bisa menyerang begitu dahsyat apalagi di negara kita yang hanya ada Si Buta dari Gua Hantu dan Wiro Sableng,” lanjutnya lalu tertawa.

Dengan lebih antusias Mangku melanjutkan. “Sebaiknya kita mulai dari diri sendiri, percuma menunggu pemerintah. Lakukan anjuran kesehatan dengan baik, agar corona tidak menyebar. Makanya pakai masker!”

Sambil dengan bangga dia memberi kode agar orang-orang melihat masker yang dia kenakan. Memang di antara kami hanya dia seorang yang memakai masker.

Pak Made pun tak mau kalah. Ia masih saja meyoalkan yadnya yang pemedeknya dibatasi. “Itu pemerintah, kita yang di Bali tak diizinkan meyadnya, tapi orang-orang dari Jawa dibiarkan masuk ke Gilimanuk!”

Kemudian dijawab oleh seorang yang sedang menyiapkan api untuk memanggang sate. “Kalau tak ada orang Jawa, kamu di mana bisa beli nomor!”.

Obrolan seketika berganti topik, dari virus corona beralih ke peruntungan jual beli nomor.

Kami pun menyelesaikan ayahan di pura pagi ini dalam obrolan yang tema utamanya corona dan nomor. Semenjak munculnya imbauan agar menghindari keramaian dan perkumpulan, judi nomor menjadi topik para lelaki yang paling sering dibicarakan. Sebab, tajen (sabung ayam) sudah tidak diperbolehkan sama sekali.

Mirip seperti peralihan pertemuan fisik menjadi obrolan video call conference yang hanya menggunakan gawai. Nomor pun bisa dibeli tanpa harus bertemu, cukup dengan pesan WhatsApp.

Pada pukul tujuh kami balik ke rumah masing-masing. Tumben bisa menyelesaikan ayahan begitu pagi. Semenjak ada imbauan pemerintah, jam ayahan pun dibuat terbatas dan sepagi-paginya. Namun, bagusnya ada kesempatan saya untuk olahraga pagi. Berolahraga di tempat biasa. Di jalanan di pinggir sawah yang sepi tanpa lalu-lalang kendaraan bermotor.

Imbauan menjaga jarak untuk mencegah penularan virus corona di Denpasar. Foto Anton Muhajir.

Situasi Berubah

Selepas pulang dari pasar, Ibu saya mengeluh dan seperti ngomong pada dirinya sendiri. Katanya sekarang bahan makanan susah dicari. Kadang harganya melonjak mahal. Lagi satu, katanya, dia sekarang menghabiskan banyak waktu di pasar. Sebab, semua pedagang memakai masker jadi butuh waktu menemukan dagang langganannya.

Dan, seperti biasa, saya tak mengubris keluhannya, dan lanjut pergi.

Sampai di jalan di tempat biasa sebagai arena kami untuk jogging, situasinya pun berubah. Sekarang jauh lebih banyak orang. Sebagian besar anak-anak muda. Laki maupun perempuan, baik mereka dari anak sekolahan atau para pekerja yang dirumahkan. Meski ramai tapi saya tak bisa menatap jelas wajah-wajah penuh keringat mereka. Sebagian besar memakai masker.

Seperti biasa saya selalu saja bertegur sapa dengan mereka yang sudah ada di sana sebelum para pelari kecil datang, adalah bapak-bapak petani. Selalu saya perhatian guratan wajah juga badannya yang nampak kekar dan mengilat di bawah mentari. Rasanya pikiran dan tubuh mereka tak gentar oleh corona dan virus apapun. Olahraga dan berjemur setiap hari.

Namun, kali ini berbeda. Mereka nampak bingung saat saya tanya soal kabar garapan padi yang siap panen. Katanya sejak adanya berita corona ini mereka kesusahan mencari teman penggarap lain. Pada bulan-bulan sebelumnya baik saat menandur atau panen, selalu mendapat bantuan tenaga oleh saudara-saudara penggarap dari Jawa dan Lombok.

Kini mereka harus saling menunggu satu sama lain karena di daerah sekitar para penggarap terbatas orangnya.

Kemudian saya membiarkan semua persoalan itu mengembang di udara, terbang bersama aroma tanah sawah. Tapi malah pikiran saya terhenti, saat mata tertuju pada kelompok pekerja keras yang tenggelam bersama padi-padi, berjemur dengan latar indahnya pegunungan.

Saat ini baru soal pembatasan akses dan imbauan untuk tetap rumah, sudah terjadi banyak persoalan. Bagaimana jika benar harus dikarantina (lockdown)?

Tentu dampaknya akan begitu terasa. Sebab, tidak semua bisa bertahan dalam kondisi diam saja. Juga tak semua di antara kita dapat menulis tagar #dirumahsaja, lalu mengunggahnya dalam perasaan aman di media sosial. [b]

Laporan Minggu II: Bantuan APD untuk Tenaga Kesehatan

Rasanya hari-hari belakangan masih sama dengan minggu lalu.

Juga makin miris karena di sana sini pemerintah dan anggota dewan makin getol mengesahkan Omnibus Law. Ditambah lagi memunculkan wacana pembebasan napi korupsi. Menghimpit yang terjepit. Seharusnya setiap elemen pemerintah berlomba memberikan jaminan dan rasa nyaman kepada masyarakat bukan sebaliknya, menambah kecewa ditengah keterpurukan.

Semakin lama semakin wajib bagi kita tuk saling menumbuhkan harapan dan lingkungan yang berenergi baik. Di saat-saat tidak mudah begini, gerakan-gerakan kebaikan muncul dan menjadi tumpuan harapan akan hari esok yang lebih baik.

Menyenangkan sekali, melihat muda-mudi saling tolong untuk memberi bahan pangan pada masyarakat, warga yang memberi makan gratis kepada pengemudi gojek, dan gerakan-gerakan berdonasi lain. Kebaikan-kebaikan yang lahir dan tumbuh menjadi secercah sumber harapan, senyum dan kelegaan, bahwa pertiwi tak sepenuhnya gulita.

Jauh Di Mata, Dekat Di Hati, melalui kegiatan #KonserdiRumahAja pun masih berlangsung dengan antusiasme tak kendur. Musisi yang terlibat makin bertambah. Ide-ide baru terus bermunculan untuk menjaga semangat perjuangan.

Minggu kedua kami memulai fitur #DiskusidiRumahAja dengan mengundang tim Post Santa Jakarta yakni Maesy dan Teddy bergabung melalui instagram Post Santa dan diskusi tsb dimoderatori oleh Man Angga Nosstress. Diskusinya asyik. Empuk. Menambah begitu banyak wawasan dan juga daftar judul buku yang patut dibaca selama masak Physical Distancing ini.

Konser di edisi 2 ini dimulai dengan penampilan Dewa Gede Krisna pada Senin, disusul Wayan Sanjay melalui akun Pygmos, dilanjutkan anggota The Dissland yakni Made Ardha. Pada hari Kamis, ada diskusi buku dengan Post Santa dan Man Angga. Jumat dengan penampilan merdu Mas Iksan Skuter dan diakhiri dengan penampilan syahdu Fajar Merah.

Semangat berbagi, bersolidaritas dan menabung harapan menjadi pondasi yang menautkan setiap penampil pun kami. Minggu kedua ini juga kami berkolaborasi dengan Mayhem Art & Apparel. Mereka mengeluarkan kaos edisi khusus #StayatHome dengan harga 170 ribu rupiah, dan setiap hasil penjualannya sepenuhnya akan disumbangkan melalui tim Putih Hijau.

Mayhem sungguh bersemangat. Antusiasme pembeli pun tak kalah. Dalam empat hari masa pemesanan mereka berhasil menjual kaos sebanyak 88 buah dengan nilai total sumbangan Rp 14.960.000.

Semakin hari, laporan masuk dari instansi rumah sakit pun makin banyak. Cerita kekurangan alat pengaman diri (APD) pun masih menjadi lagu di banyak rumah sakit. Angka kematian pun terus bertahan di atas 8 persen. Tenaga medis yang berpulang pun meningkat. Sampai hari ini terdapat 20 tenaga medis yang tumbang di medan perang.

Ini jelas tragedi.

Kemarahan, kekecewaan, nestapa tapi tak punya pilihan adalah hal yang para medis hadapi sehari-hari. Ditambah lagi ancaman terinfeksi, kelelahan beban kerja dan stress psikologis yang semakin menambah beban.

Kami tahu bahwa apapun yang gerakan #KonserdiRumahAja ini lakukan sungguh kecil dibanding jasa para garda terdepan yakni pejuang medis, pedagang kaki lima, pengemudi ojek online, petani, petugas kebersihan rumah sakit dan petugas-petugas yang tidak bisa #DiRumahAja. Namun, dalam usaha kita yang sedikit ini, marilah kita menabung doa dan harapan agar segala niat kita dan doa dapat menjadi harapan dan juga kekuatan bagi siapapun disekitar kita, terutama mereka garda terdepan.

Adapun hasil donasi miggu ke 1 hingga kedua adalah:

NoViaJumlah
1Bank BPD33.100.014
2Mayhem14.960.000
3OVO1.808.467
4GoPay2.100.00
5PayPal1.878.800
TOTAL53.847.281

Adapun pengeluarannya sebagai berikut:

NoKeterangan BelanjaBiaya
1Pembelian masker N95 I (250 buah)5.000.000
2Pembelian masker N95 II (16 buah)800.000
3Uang muka baju coverall 50% (210 buah)5.250.000
4Pembelian kacamata proteksi (92 buah)930.000
5Pembayaran faceshield (200 buah)3.050.000
6Pembayaran masker bedah (25 kotak)7.090.000
7Admin transfer 8x @ 6.50052.000
TOTAL22.172.000

Kendala

Terdapat beberapa kendala terutama saat pembelian masker bedah. Pertama, harga menjulang di luar akal. Misalnya salah satu merk masker bedah yang baik adalah SENSI. Harga merek ini di Denpasar bisa mencapai Rp 650.000 per kotak. Jumlahnya pun terbatas.

Akibatnya, masker yang kami beli adalah produk dalam negeri yang di bawah kualitas Sensi, tetapi masih dapat dikenakan.

Contoh lain untuk masker N95. Merek standar terbaik adalah 3M dengan harga saat ini per buah sekitar 150.000. Itu pun jumlahnya tak kalah sedikit. Kami pun terpaksa membeli merek lain karena jumlah lebih banyak.

Untungnya baju coverall dan faceshield masih lebih mudah diperoleh karena banyak pengrajin lokal yang tampak bahu membahu mengandalkan penjahit harian dengan bahan yang juga cukup baik.

Harapan kami, semoga kami mampu membeli masker N95 yang terbaik. Ini penting mengingat bahwa jika nanti banyak rumah sakit yang menerima pasien suspek, maka makser tipe inilah yang cukup efektif untuk mencegah infeksi.

Semoga, segera semakin banyak distributor masker bedah dan N95. Dengan demikian kami bisa segera membeli dan menyebarkan donasi tahap kedua. Adapun donasi tahap pertama segera didistribusikan oleh tim kami pada Rabu atau Kamis ini, segera setelah masker bedah tiba.

Pengiriman ke puskesmas di luar kota akan melalui paket pengiriman yang akan segera kami rilis nama penerima jika barang telah terkonfirmasi sampai dan diterima. Adapun tiga rumah sakit besar di Denpasar dan Gianyar, akan diantar oleh tim kami langsung kepada dokter penanggung jawab. Kami akan rilis juga jika sudah terkonfirmasi sampai melalui foto tim kami.

Semoga donasi akan terus mengalir sesuai dengan kebutuhan APD di lapangan. Juga semoga semangat kita tak kendur meski kabar berakhirnya physical distancing belum jua muncul. Semoga #KonserdiRumahAja dan #DiskusidiRumahAja dapat memberi sedikit jeda, pun menambah wawasan tentang bagaimana masa depan kita setelah pandemi berakhir.

Sampai jumpa Senin depan dengan laporan selanjutnya pun kolaborasi-kolaborasi lain yang semakin asyik dan beragam. Jangan ragu untuk memberi kami saran, kritik pun ide, mari bersama-sama menjaga kewarasan.

Salam sehat selalu, mari menabung harapan dan bersolidaritas.

Tim Hijau Putih.

Waspada Corona, Bukan Berarti Parno

Jenazah ditolak masyarakat untuk dikubur. Tim medis yang merawat pasien juga ada yang ditolak pulang ke rumah. Orang terkapar di jalan tak ada yang berani mendekat.

Rupanya stigma terhadap Covid-19 bermunculan. Betapa sosialisasi dan edukasi yang benar harus terus dilakukan. Jika tidak, informasi yang tidak benar, banyaknya hoax, akan membuat masyarakat menjadi semakin memberi cap buruk terhadap pasien beserta orang-orang terdekatnya.

Bahkan saat ini juga banyak kejadian orang pingsan atau terkapar di jalan tidak ada yang berani menolong. Masyarakat mengaitkan dengan disebabkan virus corona. Tentu saja tidak benar. Banyak kejadian adalah karena kelelahan, epilepsi yang kambuh, serangan jantung, hingga kecelakaan tunggal. Jangan sampai akhirnya malah tidak ada yang membantu dan terlambat memberikan pertolongan.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

1. Pastikan dulu dari tampilan visual apakah benar orang yang terkapar membutuhkan pertolongan dengan memperhatikan jarak aman atau physical distance.

2. Secepatnya menelpon atau menghubungi RS atau pusat layanan kesehatan terdekat. Dapat juga menghubungi kepolisian.

3. Bantu meminggirkan yang terkapar ke posisi aman, sehingga bisa tidur terlentang lurus dalam keadaan rileks. Pastikan saat menolong menggunakan masker dengan baik serta jangan sesekali membuka masker untuk memegang mulut, hidung, dan mata. Jika ada sarung tangan, akan lebih baik gunakan sarung tangan.

4. Jika dugaannya adalah serangan jantung dan yang berniat menolong pernah mendapatkan pelatihan kegawatdaruratan jantung, pastikan melakukan bantuan tidak dengan nafas buatan, tetapi dengan pijatan dada. Pastikan menggunakan masker, dan area mulut yang ditolong ditutup terlebih dahulu.

5. Selanjutnya tunggu bantuan datang. Pastikan orang di sekitar menjaga jarak.

6. Demikian juga jika ternyata akhirnya meninggal di tempat, lakukan langkah 2,3,5.

7. Setelah tuntas, pastikan segera mencuci tangan. Sampai di rumah segera ganti baju semua, juga masker dan mandi.

Ini semua untuk menghindari risiko penularan jika yang ditolong kemungkinan seorang yang mengidap Covid-19, yang bisa jadi ada di sekitar karena tanpa gejala. Ini bisa tetap dilakukan untuk tetap menjalankan kepedulian untuk menolong seseorang yang mengalami musibah di jalan. Tanpa kemudian kita ikut menyebar stigma.

Sementara Majelis Adat di Bali sendiri sudah memberi panduan yadnya di tengah pandemi ini.

 

Bedah Rumah; dari ODGJ untuk ODGJ

Memperbaiki rumah untuk meningkatkan martabat orang dengan gangguan jiwa.

Rumah Berdaya Denpasar siang itu tampak lebih sepi dari hari biasa. Hanya tampak beberapa pegawai yang bertugas. Di masa pembatasan sosial karena wabah Covid-19 memang warga Rumah Berdaya diimbau untuk lebih banyak di rumah. Hanya pada saat berobat datang ke komunitas orang dengan gangguan jiwa yang berlokasi di Jalan Raya Sesetan, Pegok, Denpasar Selatan ini.

Saya menemui Nyoman Sudiasa, Koordinator Rumah Berdaya Denpasar. Kami berbincang tentang kegiatan bedah rumah yang baru saja selesai dan diserahterimakan pada akhir Maret 2020 lalu. Bedah rumah adalah program baru Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali, induk organisasi Rumah Berdaya Denpasar.

Biasanya, program bedah rumah diinisiasi pemerintah. Namun, kali ini berbeda. Bedah rumah dikerjakan oleh orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) khususnya skizofrenia. Mereka adalah warga Rumah Berdaya Denpasar yang telah pulih.

Pak Nyoman, panggilan akrab Nyoman Sudiasa dengan semringah menceritakan pengalamannya. Ia adalah penyintas skizofrenia dan salah satu pendiri KPSI simpul Bali.

“Saya merasa bahagia bisa membantu orang yang senasib dengan saya. Kebetulan saya punya pengalaman menjadi tukang bangunan jadi mengerti tentang bedah rumah,” katanya.

Sudiasa menuturkan, kegiatan bedah rumah ini rumah keluarga Wayan, Orang dengan Skizofrenia (ODS) di Pegok, Sesetan, Denpasar Selatan. Selama beberapa bulan ia dibuatkan kamar berterali dan terpisah dengan keluarga inti. Kondisinya kurang layak, WC dan toilet menjadi satu dengan tempat tidur. Kawat berduri menghiasi pintu dan jendela yang memberi kesan penghuninya berbahaya.

Dari informasi dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, SP.KJ, psikiater dan pendiri KPSI simpul Bali, pihaknya bersepakat untuk merenovasi rumah Wayan. Biaya berasal dari para donatur yang terketuk hatinya untuk membantu Wayan agar bisa hidup layak dan bermartabat.

“Pekerjaan dilakukan warga Rumah Berdaya di sela-sela waktu lowong, jadi tidak setiap hari, mulai dari memasang tegel, mengganti pintu dan jendela hingga mengecat ruangan. Waktu pengerjaan selama sebulan,” kata Nyoman Sudiasa.

Edukasi Sederhana

Program bedah rumah yang dilakukan pertama kali oleh KPSI simpul Bali berlangsung lancar. Hal ini tak lepas dari dukungan keluarga Wayan yang setelah diberikan edukasi sederhana tentang kesehatan mental mengizinkan membawa kembali Wayan ke Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali di Kabupaten Bangli untuk berobat, dan tak lagi mengurungnya seperti beberapa bulan belakangan.

Rai Putra Wiguna menyebut kondisi kesehatan Wayan berangsur membaik. Sebelumnya pihak keluarga terpaksa mengurungnya karena relaps (kambuh) akibat putus pengobatan. Wayan mengidap skizofrenia sejak hampir 20 tahun lalu saat ia remaja, dan telah bolak-balik ke RSJ.

“Kini dengan pengobatan rutin kondisinya pulih, mendapat bedah rumah dari Rumah Berdaya Denpasar yang dikerjakan oleh ODS dari dana yang terkumpul. Kelengkapan kamar berupa lemari dan tempat tidur berasal dari Ibu Walikota Denpasar Selly Mantra yang juga ketua K3S Kota Denpasar, juga pakaian layak pakai dari para donatur. Terima Kasih kami ucapkan kepada semua pihak,” ujar Rai Putra Wiguna.

Ia menambahkan, program bedah rumah dari dan untuk ODGJ ini merupakan bukti bahwa penyandang disabilitas mental yang telah pulih mampu berdaya, membantu orang lain dengan kemampuan mereka.

“Ini tantangan bagi orang dan masyarakat yang disebut normal dan sehat, membantu warga yang sering distigma dengan sebutan ‘gila’. Masalah kesehatan mental tanggung jawab kita bersama, sudah bukan zamannya lagi saling menyalahkan,” pungkasnya.

Bagi Rai Putra Wiguna, saat ini waktu yang tepat untuk saling bersinergi antara pemerintah, layanan kesehatan dan juga komunitas serta LSM bahu-membahu mengatasi permasalahan kesehatan mental di lingkungan masing-masing dan menekan angka pemasungan dan penelantaran ODGJ.

“Untuk membuat hidup mereka lebih bermartabat,” katanya.

Kader Kesehatan Jiwa

Berdasarkan data, saat ini di Denpasar terdapat 529 ODGJ. Untuk itu, Dinas Kesehatan Kota Denpasar bekerja sama dengan KPSI Simpul Bali, Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI), dan STIKES Bina Usada mengadakan pelatihan kader kesehatan jiwa untuk puskesmas se-kota Denpasar.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Luh Putu Sri Armini, M.Kes mengatakan, pelatihan kader kesehatan jiwa nantinya akan dirancang untuk mewujudkan desa sadar sehat jiwa. Namun, katanya, yang perlu dicatat adalah bukan berarti di desa atau kelurahan tersebut tidak ada warga yang mengalami gangguan jiwa.

“Jadi, yang sehat tetap sehat, dan yang mengarah ke gangguan jiwa tidak menjadi sakit jiwa, atau jika pun didiagnosis mengalami gangguan jiwa akan tetap diobati. Hal ini perlu digarisbawahi agar tidak salah kaprah,” katanya.

Ia menambahkan, di Kota Denpasar para ODGJ telah tertangani dengan baik, apalagi kini Puskesmas telah menyediakan layanan kesehatan mental termasuk penyediaan obat gangguan jiwa. Juga, bagi ODGJ yang telah pulih telah disediakan tempat pemberdayaan yakni di Rumah Berdaya Denpasar.

Rai Putra Wiguna menyebut, pelatihan ini adalah langkah untuk mewujudkan Denpasar bebas pasung. Jadi setiap desa atau kelurahan diharapkan memiliki kader kesehatan jiwa, yang salah satu tugasnya melakukan deteksi dini ke rumah-rumah untuk mengetahui apakah ada warga yang mengalami gangguan jiwa berat dan belum berobat Termasuk juga mendeteksi juga orang dengan masalah kesehatan jiwa.

“Istilahnya ODMK, yakni orang yang belum mengalami penyakit jiwa tapi berpotensi besar memiliki masalah kesehatan jiwa misalnya setelah kehilangan orang terdekat, perceraian, atau mengalami kekerasan. Jadi baru masalah saja dan itu akan dideteksi oleh kader kesehatan jiwa. Termasuk nanti jika sudah mendapat pengobatan juga ikut mendukung keluarga untuk mengawasi pemberian obat secara rutin,” ujar psikiater RSUD Wangaya, Denpasar ini.

Dijelaskan, pelatihan kader kesehatan jiwa ini sebelumnya sudah dilaksanakan di dua puskesmas berjumlah 57 orang termasuk pelatihan bagi dokter umum dan para perawat kesehatan jiwa. Semua ini akan mengarah ke pembentukan desa atau kelurahan sadar sehat jiwa.

“Kami punya data yang terintegrasi, baik yang berobat di puskesmas atau rumah sakit di mana jumlah pengidap gangguan jiwa di Kota Denpasar yang sudah tertangani adalah 529 orang. Data meliputi nama, alamat, jenis obat dan kapan habisnya. Hal ini bertujuan mencegah terjadinya pemasungan,” terangnya.. [b]