Tag Archives: Kesehatan

Virus Corona, Bagaimana Situasi di Bali Sejauh Ini?

Suasana sepi di Tanjung Benoa setelah merebaknya virus corona di Cina. Foto Anton Muhajir.

Berikut laporan terbaru perihal corona virus dan Bali sejauh ini.

Pertama, hingga Jumat, 14 Februari 2020 pukul 12.00 siang, belum ditemukan satu pun kasus virus corona di Bali. Kabar terbaru itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya melalui siaran pers kemarin malam.

Suarjaya menanggapi beredarnya informasi perihal adanya warga Cina yang positif virus corona setelah pulang berlibur di Bali. Berita itu dimuat The Jakarta Post dua hari lalu. Media berbahasa Inggris itu mengutip informasi resmi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Huainan, China (CDC) pada 6 Februari.

Menurut CDC, seorang warga setempat bernama Jin baru saja berlibur di Bali selama seminggu. Dia terbang dengan Lion Air JT 2618 dari Wuhan ke Bali pada 22 Januari. Setelah berlibur di Bali, dia kembali ke negaranya dengan penerbangan Garuda Indonesia GA 858 dari Bali ke Shanghai pada 28 Januari 2020.

Kedua, menurut perhitungan masa inkubasi dan riwayat perjalanan, tidak dapat dipastikan bahwa penularan pada turis tersebut terjadi di Bali. Menurut Suarjaya, karena dia pulang pada 28 Januari 2020 dan gejala serta konfirmasi laboratorium pada 5 Februari (8 hari), maka bisa saja penularan terjadi di Shanghai atau daratan Cina lain.

Apabila diambil masa inkubasi terlama, 14 hari, sedangkan hingga saat ini sudah hari ke-16 belum ada satu pun kasus yang teridentifikasi di Bali, menurut Suarjaya, itu berarti dia tidak menularkan atau membawa virus ke Bali.

Ketiga, Bali sudah melakukan observasi terhadap 20 orang sejak kasus ini mulai mencuat sekitar 2 minggu lalu. Sebanyak 14 di antaranya dikirim sampelnya ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan. Secara nasional, sudah ada 70 spesimen, termasuk 14 dari Bali, yang telah diperiksa. Semua hasilnya negatif.

Keempat, Pemerintah Provinsi Bali terus melakukan langkah-langkah antisipatif di Bandara Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa, maupun tempat-tempat wisatawan menginap. Petugas dari Dinas Kesehatan Bali, Kantor Kesehatan Pelabuhan, bahkan Puskesmas pun melakukan surveilanse aktif ke lokasi-lokasi tersebut.

Kelima, hingga saat ini seluruh penerbangan dari Cina ke Bali dan sebaliknya masih dihentikan. Hal ini sesuai dengan Keputusan Pemerintah Indonesia pada 5 Februari 2020 lalu. Akibatnya, turis dari Cina pun tak ada lagi yang bisa datang ke Indonesia.

Pada hari yang sama, Pemerintah Indonesia juga mencabut ketentuan bebas visa bagi turis Cina yang datang ke Indonesia. Akibatnya, warga Cina yang sudah kadung masuk Indonesia, termasuk Bali pun tak bisa kembali ke negaranya untuk sementara. Untuk itu, Pemerintah Indonesia sudah memberikan izin perpanjangan masa tinggal bagi turis Cina yang sudah selesai masa berlakunya.

Hingga Jumat sore, WNA Cina yang mengajukan izin perpanjangan masa tinggal di Bali sebanyak 581 orang. Mereka yang mendaftar di Kantor Imigrasi Ngurah Rai sebanyak 396 orang, di Kantor Imigrasi Denpasar 160 orang, dan di Kantor Imigrasi Singaraja 25 orang.

Keenam, sebagai bagian dari pelaksanaan Peraturan Menteri Hukum dan HAM (Permenkumham) Nomor 3 tahun 2020 tentang Penghentian Sementara Bebas Visa Kunjungan, Visa, dan Pemberian Izin Tinggal Keadaan Terpaksa bagi WNA Cina itu, Bali juga menolak beberapa WNA yang akan masuk Bali.

Hingga Jumat sore, Bali setidaknya menolak 91 WNA dari berbagai negara, termasuk Kanada, Turki, Swedia, Amerika Serikat, dan lain-lain. Mereka adalah WNA yang dalam waktu 14 hari selesai melakukan kunjungan ke Cina, pusat penyebaran virus corona saat ini.

Ketujuh, dampak dari tidak adanya kunjungan turis Cina maupun penolakan masuk WNA itu sudah terasa di beberapa tempat wisata di Bali. Tempat-tempat yang biasanya ramai, misalnya Pantai Kuta dan Tanjung Benoa, Badung, kini terlihat lebih lengang. Selain karena memang sedang musim sepi (low season), juga karena memang dampak virus corona.

Beberapa usaha pariwisata bahkan sudah merumahkan karyawannya.

Demikian sejumlah kabar terbaru soal virus corona dan bagaimana dampaknya di Bali sejauh ini. Kabar ini akan terus diperbarui jika ada informasi terbaru yang relevan.

Beginilah Dampak Virus Corona pada Pariwisata Bali

Turis berkunjung di Pura Batuan, Gianyar pada Januari 2020. Foto Anton Muhajir.

Derasnya hujan berbanding terbalik dengan sepinya turis.

Hujan turun lebat di Pura Puseh Batuan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar pada Kamis, 30 Januari 2020, tengah hari. Selama lebih dari dua jam, hujan tak kunjung berhenti di pura berjarak sekitar 15 km dari Denpasar itu.

Lebatnya hujan menambah lengang suasana pura yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan asing itu. Hanya belasan turis siang itu mengunjungi pura yang dibangun sejak abad ke-11 tersebut. Dari wajahnya mereka sebagian besar turis Kaukasian dan India. Tak ada satu pun wajah turis Cina pada tengah hari itu. Padahal, merekalah yang biasanya membanjiri Pura Puseh Batuan.

“Sekarang tidak ada lagi turis Cina karena memang mereka tidak boleh lagi berwisata,” kata Made Jabur, Kepala Desa Adat (Bendesa) Batuan. Pura Puseh Batuan memang dikelola desa adat Batuan.

Menurut Jabur, setiap hari ada sekitar 1.000 turis Cina berkunjung ke Pura Puseh Batuan. Mereka datang terutama dalam grup, sebagaimana karakter turis Cina pada umumnya. Namun, sejak virus corona yang berawal dari Wuhan merebak akhir tahun lalu, kunjungan ke Pura Puseh Batuan pun menurun drastis, terutama dua minggu terakhir.

Pura Puseh Batuan hanya salah satu tempat di Bali yang mulai terdampak virus corona. Akibat merebaknya virus korona yang bermula dari Wuhan, China, pariwisata Bali pun mulai terkena dampak. Sekitar 10.000 turis dari China membatalkan perjalanan ke Bali sejak virus itu menyebar mulai akhir tahun lalu hingga akhir Januari 2020.

Ketua DPD Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA) Bali I Ketut Ardana mengatakan dampak tersebut terutama terjadi pada pelaku pariwisata uang mengandalkan turis dari Cina. “Mereka lumayan terpuruk,” katanya.

Dari sekitar 80 anggota ASITA Bali yang bermain di pasar China, menurut Ardana, ada 27 agen perjalanan yang melaporkan pembatalan tersebut. “Beberapa daerah di Cina kan tidak mengizinkan warganya keluar, oleh karena itu teman-teman travel agent dengan pasar Cina pun kena masalah,” kata Ardana.

Turis di Bali menikmati tari kecak di Uluwatu. Pada 2019, turis Cina merupakan yang terbanyak kedua setelah turis Australia. Foto Anton Muhajir

Terbesar Kedua

Tak hanya bagi pengelola Pura Puseh Batuan, merebaknya virus corona memang berdampak luas pada pariwisata Bali saat ini. “Tidak bisa dipungkiri, pariwisata Bali pun kena dampak karena ada turis yang batal datang,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa.

Astawa belum bisa menjawab seberapa besar dampak tersebut, tetapi karena turis Cina merupakan yang terbesar kedua setelah Australia, dia yakin hal ini akan berdampak pada ekonomi.

Menurut data Dinas Pariwisata Provinsi Bali, jumlah turis Cina di Bali saat ini memang berada di urutan kedua setelah Australia. Sepanjang Januari-November tahun lalu, wisatawan Cina di Bali sebanyak 1,1 juta (19,27 persen) sedangkan turis Negeri Kanguru sekitar 23 ribu lebih banyak (19,64 persen).

Namun, pada tahun sebelumnya, turis Cina yang lebih banyak dengan 1,3 juta sedangkan Australia 1 juta. “Tiap tahun jumlahnya naik turun, tetapi secara umum turis China memang berperan penting dalam pariwisata Bali,” ujar Astawa.

Karena itulah, menurut Astawa, banyak pelaku pariwisata yang mulai terkena dampak pembatalan turis Cina ke Bali, terutama di daerah-daerah yang selama ini menjadi lokasi favorit bagi turis Cina. Pada umumnya, turis dari Cina menyenangi kegiatan wisata air laut, spa dan belanja. Nusa Penida dan Nusa Lembongan, dua pulau terpisah dari Bali daratan, merupakan wilayah yang makin populer di kalangan mereka.

Nusa Penida adalah pulau di Kabupaten Klungkung yang tiga tahun terakhir menjadi tujuan favorit turis Cina. Pesatnya turis di pulau ini membuat warga setempat makin banyak yang terjun di usaha pariwisata, termasuk membangun akomodasi. Namun, sejak merebaknya virus corona, turis di sana pun berkurang.

“Dampak paling terasa di beach club yang memang semua tamunya dari Cina. Sekarang hanya ada 1-2 turis. Jelas tidak bisa untuk menutupi biaya operasional,” kata I Wayan Sukadana, pengusaha pariwisata di Nusa Penida.

Sukadana memberikan contoh beach club Semaya One dan Caspla yang sekarang sudah hampir tidak ada turisnya sama sekali.

Daftar 10 negara penyumbang turis terbesar di Bali sepanjang 2019. Grafik Anton Muhajir.

Kerugian Ekonomi

Menurut Sukadana, turis Cina di Nusa Penida pada umumnya datang berombongan. Mereka hanya sehari ke Nusa Penida dan langsung balik ke Bali daratan. Karena itu dampak terhadap hotel dan penginapan di Nusa Penida, termasuk miliknya, belum terasa. Namun, dia yakin dampak itu akan terasa juga kepada mereka.

“Efek pariwisata itu kan luas. Tidak hanya langsung kepada pelaku pariwisata, tetapi juga sampai ke masyarakat umum karena ekonomi Bali memang sangat tergantung pariwisata,” kata Sukadana.

Ardana menyatakan hal serupa. “Seluruh Bali pasti akan kena. Tidak hanya biro perjalanan wisata, tetapi juga objek wisata, guide, dan masyarakat umum,” ujarnya.

Ardana memberikan contoh kerugian ekonomi akibat batalnya sekitar 10.000 turis Cina setelah maraknya virus corona. Tiap turis Cina menghabiskan sekitar 1.200 dolar Amerika selama mereka di Bali. “Totalnya silakan hitung sendiri,” katanya.

Mengacu pada angka 10.000 turis yang batal datang sementara pengeluaran rata-rata mereka sekitar 1.200 dolar Amerika, maka kerugian pariwisata Bali akibat virus corona mencapai sekitar Rp 164 miliar.

Di tingkat lapangan, kerugian itu terjadi sebagaiman di Pura Puseh Batuan. Menurut Jabur, tiap hari mereka bisa mendapatkan Rp 10 juta sampai Rp 15 juta dari kunjungan turis. Dengan hilangnya turis hingga 90 persen, maka pendapatan mereka saat ini tinggal Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per hari.

Petugas di Pura Batuan mengenakan masker untuk mengantisipasi penularan virus corona. Foto Anton Muhajir.

Antisipasi

Dibandingkan daerah lain di Indonesia, Bali memang termasuk salah satu daerah rentan penularan virus corona. Bali memiliki jalur penerbangan langsung dari Cina terbanyak di Indonesia. Untuk jalur Wuhan – Denpasar saja ada empat penerbangan tiap minggu yaitu Lion Air dan Sriwijaya Air.

Namun, semua penerbangan tersebut sudah ditutup sejak 25 Januari 2020 lalu.

Hingga saat ini, di Bali juga belum ditemukan satu pun kasus virus corona. Pekan lalu sempat ada tiga warga negara asing yang diduga terpapa virus corona dan dirawat di RSUP Sanglah, tetapi ketiganya dinyatakan negatif.

Melalui video yang disebarkan kepada media, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya juga mengatakan bahwa Bali masih aman dari penularan virus corona. Upaya pencegahan penularan juga sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Mulai dari pintu kedatangan di Bandara Ngurah Rai, melalui thermo scanner, tentu akan mencegah masuknya virus. Begitu pula dengan kesiapan layanan kesehatan.

“Sehingga kita berharap dengan cara itu Bali akan terhindar dari masuknya virus corona,” kata Suarjaya.

Dalam diskusi dengan kalangan pariwisata Bali di Denpasar, Kamis, 30 Januari 2020, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Wayan Windia menambahkan Dinas Kesehatan Provinsi Bali sudah mengantisipasi masuknya virus corona ke Bali melalui dua langkah.

Pertama, skrining ketat terhadap penumpang dan kru pesawat yang datang dari daerah terjangkit. Kedua, pemberian Health Alert Card (HAC) bagi penumpang dan kru. “Kami juga melaksanakan surveilens aktif untuk kewaspadaan dini dan menyiagakan seluruh rumah sakit di Bali,” kata Windia.

Khusus untuk pelaku pariwisata, Windia melanjutkan, diharapkan memberikan komunikasi risiko kepada wisatawan. Mereka juga diharapakn melaporkan jika menemukan kasus. “Kami berharap hotel juga bekerja sama dengan memberikan akses kepada petugas yang melakukan pemantauan,” tambahnya.

Di lapangan, antisipasi itu juga terjadi sebagaimana di Pura Puseh Batuan, Gianyar. Para petugas pemberi kain untuk masuk pura dan petugas keamanan (pecalang) pun sudah mengenakan masker untuk pencegahan. “Selebihnya kita mengikuti saja imbauan pemerintah karena mereka juga sudah melakukan pencegahan di bandara dan di hotel-hotel,” kata Jabur.

Dengan cara tersebut para pelaku pariwisata di Bali yakin virus corona tidak akan masuk di Bali dan bisa teratasi. Apalagi pariwisata Bali juga sudah terbukti bisa bangkit setelah mengalami krisis, seperti pada saat wabah kolera, penyakit SARS, bom Bali, dan erupsi Gunung Agung. “Kita sudah mengalami beberapa kali kejadian serupa, termasuk SARS dan kolera terhadap warga Jepang dulu. Buktinya kita bisa menghadapi itu,” kata Ardana.

Adapun Jabur yakin virus corona tidak akan berdampak panjang terhadap kondisi sepinya turis di Pura Puseh Batuan, objek wisata yang dikelola desanya. “Semoga dua bulan lagi sudah pulih kembali,” harapnya. [b]

Keterangan: Versi lain laporan ini juga dimuat BBC Indonesia.

Coronavirus, Apa yang Dikatakan Literatur Sejauh Ini

Seorang warga mengantisipasi penularan virus corona dengan mengenakan masker. Foto Anton Muhajir.

Dirangkum GN Mahardika, Universitas Udayana Bali per 30 Januari 2020

Munculnya coronavirus baru di Wuhan, Cina, memberi tahu kita (lagi), bahwa pandemi selalu terjadi tanpa pemberitahuan. Kita tahu itu akan terjadi. Hanya saja, kita tidak pernah tahu apa yang akan menjadi pandemi, di mana dan kapan terjadi.

Sejarah pernah mencatat pandemi hebat seperti black death, Spanish flu, Asian flu, pandemi influenza H1N1/2009, dan bahkan Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Itulah yang terjadi dengan coronavirus baru (novel coronavirus, disingkat nCoV) di Wuhan, China sejak Desember 2019. Sebagai ilmuwan dengan salah satu prinsip utama sains adalah transparansi, komunitas dunia harus memuji rilis cepat informasi genom virus dan data klinis oleh ilmuwan dan pemerintah Cina.

Itu meningkatkan transparansi pelaporan penyakit dan berbagi data. Hal ini sangat penting untuk membatasi penyebaran virus yang baru muncul ini ke bagian lain dunia (Liu dan Saif, 2020). Tidak ada ilmuwan Cina yang berbicara tentang hak kedaulatan nasional untuk isolat dan informasi, seperti yang sering kita dengar dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Fenomena puncak gunung es tampaknya berlaku untuk total kasus NCoV di Cina dan dunia saat ini. Jumlah kasus yang dipublikasikan bisa hanyalah puncak gunung es (a tip of an iceberg). Dalam memprediksi jumlah kasus yang dilaporkan, Nishiura dan rekan percaya bahwa jumlah kasus pada 24 Januari 2020 kemungkinan merupakan perkiraan yang terlalu rendah (Nishiura et al., 2020).

Mereka menghitung perkiraan kejadian kumulatif di China lebih dari 5.500 hingga jangka waktu itu. Ada indikasi kuat bahwa paparan yang tidak dilacak, selain yang terjadi di pasar makanan laut yang terkait secara epidemiologis di Wuhan, telah terjadi (Nishiura et al., 2020).

Penularan virus adalah dari manusia ke manusia. Perkiraan tingkat kematian akan menyerupai SARS 2002. Wu et al. menyimpulkan bahwa Informasi tentang kasus-kasus yang dilaporkan secara kuat mengindikasikan penyebaran dari manusia ke manusia, dan informasi terbaru semakin menunjukkan penularan dari manusia ke manusia yang berkelanjutan (Wu et al., 2020). Sementara keseluruhan profil keparahan di antara kasus dapat berubah karena kasus yang lebih ringan diidentifikasi, mereka memperkirakan risiko kematian di antara kasus yang dirawat di rumah sakit sebesar 14 persen (Wu et al., 2020).

Dinamika transmisi awal di Wuhan menunjukan faktor risiko kuat paparan dengan Pasar Grosir Makanan Laut Huanan yang menjual berbagai hasil laut dan peternakan dan hidupan liar. Sebagian besar kasus terkait dengan Pasar Grosir Makanan Laut Huanan (Li et al., 2020). Berbagai data klinis menunjukkan usia rata-rata adalah 59 tahun dan 56 persen adalah laki-laki (Li et al., 2020).

Masa inkubasi rata-rata adalah 5,2 hari. Angka reproduksi dasar (R0) diperkirakan 2.2 (Li et al., 2020).Virus nCoV adalah virus baru. Identitas nukleotida untuk kelelawar SARS-seperti-CoVZXC21 dan manusia SARS-CoV adalah hanya 89 persen dan 82 persen.

Angka ini terlalu rendah jika dianggap sebagai turunan langsung dua virus itu. Di samping itu, NCoV ini tampaknya telah mengalami rekombinasi dengan virus yang tidak dikenal. Pohon-pohon filogenetik orf1a / b mereka, Spike, Envelope, Membrane dan Nucleoprotein juga berkerumun erat dengan pohon-pohon koronavirus SARS kelelawar, musang dan manusia. Namun, subdomain eksternal domain pengikatan reseptor Spike pada 2019-nCoV hanya menunjukkan hanya 40 persen identitas asam amino dengan coronavirus terkait-SARS lainnya (Chan et al., 2020).

Infeksi 2019-nCoV menyebabkan kelompok penyakit pernafasan yang parah mirip dengan coronavirus sindrom pernafasan akut yang parah dan dikaitkan dengan masuknya ICU dan mortalitas tinggi (Huang et al., 2020).

Karakteristik epidemiologis, klinis, laboratorium, dan radiologis serta pengobatan dan hasil klinis adalah sebagai berikut; Sebagian besar pasien yang terinfeksi adalah laki-laki (73 persen); kurang dari setengahnya memiliki penyakit yang mendasarinya (32 persen), termasuk diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Usia rata-rata pasien yang dikonfirmasi adalah 49,0 tahun. Sebanyak 66 persen dari pasien telah terpapar ke pasar makanan laut Huanan. Gejala umum pada awal penyakit adalah demam (98 persen), batuk (76 persen), dan mialgia atau kelelahan (44 persen). Dispnea berkembang pada 55 persen pasien (waktu median dari onset penyakit menjadi dispnea 8 hari). Sebanyak 26 (63 persen) dari 41 pasien menderita limfopenia. Semua 41 pasien memiliki pneumonia dengan temuan abnormal pada CT dada.

Kematian terjadi pada orang tua. Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan perincian 17 kematian pertama hingga 24 malam 22 Januari 2020. Kematian itu mencakup 13 pria dan 4 wanita. Usia rata-rata kematian adalah 75 (kisaran 48-89) tahun. Demam (64,7 persen) dan batuk (52,9 persen) adalah gejala pertama yang paling umum dalam kematian. Rata-rata hari dari gejala pertama hingga kematian adalah 14,0 (kisaran 6-41) hari, dan cenderung lebih pendek di antara orang-orang berusia 70 tahun atau lebih (Wang et al., 2020). [b]

4 Kelebihan Masker N95

Memang saat ini sedang ramainya diperbincangkan wabah virus Corona. Penularannya yang semakin merebak pastinya membuat banyak orang merasa khawatir. Dilansir dari foreignpolicy.com diperkirakan jika virus corona ini telah menulari 2463 orang dan menyebabkan 80 orang meninggal dunia. CDC atau Centers for Disease Control and Prevention menyarankan orang orang untuk menggunakan masker antivirus sebagai langkah dini untuk mengurangi merbaknya virus corona tersebut. Pernyataan yang dituliskan stuff.co.nz itu juga mengatakan jika yang terbaik adalah menggunakan masker N95.

Lalu apa yang menjadi kelebihan dari masker N95 ini sehingga layak digunakan? Berikut dibawah ini 4 kelebihan masker N95 diantaranya yaitu :

  1. Masker N95 Dapat Menyaring Polusi Hingga 95 %

CDC memiliki alasan tersendiri kenapa menyarankan kita untuk menggunakan masker N95. Seperti yang telah diketahui jika masker N95 ini dapat menyaring udara hingga 95 %, sehingga membuat virus tidak dapat masuk ke tubuh melalui jalur pernapasan. CDC merekomendasikan penggunaan masker N95 ini bagi mereka yang bekerja dekat dengan penderita virus Corona.

  1. Masker N95 Masuk Dalam Kategori Respirator

Bliss Air telah mempublikasikan informasi yang menjelaskan jenis jenis masker. Untuk masker N95 ini sendiri termasuk kedalam kategori respirator, dimana masker N95 ini didesain khusus untuk melindungi penggunanya dari barang barang asing yang dapat merusak pernapasan dengan cara menghirup.

Adanya huruf N pada kode N95 tersebut memiliki arti not oil resistant atau tidak tahan minyak , sedangkan angka 95 sendiri berarti seberapa tinggi penyaringannya. Itu berarti jika masker N95 ini dapat menyaring 95 % partikel di udara yang tidak mengandung minyak.

  1. Ada Yang Bisa Digunakan Berulang, Ada Yang Tidak Atau Sekali Pakai

Yang perlu diketahui jika respirator ini terbagi menjadi 2 macam kategori berdasarkan frekuensi penggunaannya yaitu yang bisa digunakan ulang dan yang hanya sekali pakai saja. Untuk yang bisa digunakan berulang memiliki ciri khas seperti masker gas dengan adanya fitur pemurni udara. Masker yang seperti ini pada umumnya digunakan oleh mereka yang bekerja dengan bahan kimia berbahaya.

Sedangkan untuk masker yang hanya satu kali pakai pada umumnya memiliki dua ikat tali yang memutar ke area atas dan bawah telinga. Alasan kenapa masker jenis ini harus dibuang setelah digunakan adalah karena tidak bisa dibersihkan penyaringannya. Masker jenis ini memiliki masa kadaluarsa selama 3 tahun dengan kondisi tidak pernah dibuka dari segelnya dan benar cara menyimpannya.

  1. Masker Biasa Tidak Diperuntukkan Untuk Menyaring Udara

Kebanyakan masyarakat sering menggunakan masker berwarna kehijauan yang tidak efektif untuk menyaring udara, karena memang tidak didesain untuk hal itu. Namanya juga masker operasi pastinya fungsinya itu untuk menangkap cairan tubuh seperti air liur sehingga tidak akan mengenai orang lain.

Terlepas dari adanya penyebaran virus corona, ada baiknya kamu menggunakan masker respirator jika tujuan dari penggunaan masker ini adalah untuk menghindari polusi udara. Sedangkan untuk masker operasi hanya digunakan ketika kamu sedang batuk, meler, atau hal lainnya yang membuat keluarnya cairan.

Alangkah baiknya kamu mempersiapkannya mulai saat ini karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Digunakannya masker ini adalah sebagai langkah dini untuk mengurangi merebaknya virus corona. Tetapi untuk bisa mengantisipasi merebaknya wabah virus Corona ini, penggunaan masker tersebut haruslah tepat.

The post 4 Kelebihan Masker N95 appeared first on Devari.