Tag Archives: Kesehatan

Mematikan Pandemi Covid-19 di Bali

Imbauan terkait virus corona di Denpasar. Foto Anton Muhajir.

Oleh Gusti Ngurah Mahardika

Sebelum terlampat, Bali seharusnya segera melakukan PSBB.

Pemahaman virus yang baik diperlukan untuk keluar dari cekaman pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Jika obat dan fasilitas rumah sakit untuk kasus infeksi yang berat dapat diadakan, kita bisa keluar dari cekaman pandemi ini. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebaiknya disiagakan untuk Jawa dan Bali serta kota-kota besar yang padat penduduk.

Pandemi Covid-19 masih dalam fase logaritmik. Namun, guncangannya sudah terasa luar biasa. Tingkat kematian (fatalitas) kasus sebenarnya tidak tinggi sekali. Hingga 11 April 2020 lalu, porsi fatalitas di seluruh dunia adalah 6 persen.

Akan tetapi, pandemi lebih mematikan sosial-ekonomi negara dan masyarakat. Pekerja dirumahkan. Banyak pabrik tutup karena ketiadaan bahan baku atau pasar. Bursa saham anjlok. Ekspor-impor berhenti. Pariwisata menyepi.

Pandemi Covid-19 kini memasuki gelombang kedua di seluruh dunia, apabila kasus awal di Tiongkok dianggap sebagai gelombang pertama. Episentrum sekarang ada di Eropa dan Amerika Serikat. Indonesia terdampak saat gelombang kedua ini.

Pandemi ini menunjukkan satu hal bahwa tidak ada negara yang siap menghadapi Covid-19. Pola wabah dalam tiga gelombang sudah terjadi saat pandemi Flu Spanyol 1918. Gelombang kedua saat itu tercatat lebih dahsyat. Itulah yang terjadi sekarang di seluruh dunia.

Wabah Ketiga

Wabah oleh Covid-19 adalah wabah ketiga oleh virus dari keluarga Coronaviridae. Wabah pertama adalah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) tahun 2003. Yang kedua adalah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) tahun 2012. Gejala yang ditimbulkan oleh ketiga virus ini mirip, yaitu gangguan pernafasan akut dan berat.

Yang membedakan ketiganya adalah daya sebar, lingkungan penularan, dan fatalitas kasus. Daya sebar Covid-19 luar biasa cepat dibandingkan dua pendahulunya. Diketahui sejak akhir 2019, virus ini sudah dikonfirmasi pada 750.890 orang di berbagai penjuru dunia sampai 31 Maret 2020. SARS dalam waktu 8 bulan hanya terkonfirmasi pada 8.000 orang. MERS lebih lambat. Dalam kurun waktu 2012-2017, jumlah kasus hanya sekitar 2.000.

Lingkungan penularan tiga serangkai korona virus itu juga berbeda. Covid-19 membentuk pola transmisi antar-orang lebih banyak di komunitas (community transmission), sementara SARS dan MERS lebih dominan penularan antar orang di rumah sakit (hospital setting).

Kefatalan kasus Covid-19 masih harus ditunggu. Wu, Z. and J. M. McGoogan (2020) di Journal of American Medical Association menyebut SARS dan MERS mempunyai tingkat kefatalan sekitar 9 persen dan 35 persen.

Kenapa virus Covid-19 ini menyebar demikian cepat dan bagaimana kemungkinan keganasannya? Dari pengamatan saya dalam makalah yang sedang direview di jurnal internasional, Covid-19 mempunyai ciri molekuler unik. Sebagian ciri molekuler mirip SARS, sebagian mirip MERS. Dalam keganasan, saya memprediksikan Covid-19 bisa mendekati keganasan SARS atau MERS. Namun, angka itu baru kita akan tahu setelah pandemi berakhir.

Kecepatan penyebaran yang luar biasa dari Covid-19 pasti dipengaruhi oleh sifat genetik virusnya. Transportasi udara, yang meningkat 130% tahun 2019 dibandingkan 2003-2004 (www.statista.com), seharusnya tidak menyebabkan peningkatan yang meroket dari penyebaran Covid-19 dibandingkan SARS. Jumlah penduduk kemungkinan mempunyai peran yang kecil juga. Data Bank Dunia 2018 menunjukkan penduduk dunia meningkat antara 2003-2018 sebesar 37 persen.

Sabuk Covid-19

Artinya kita menghadapi virus yang punya daya penularan antar manusia yang demikian efisien. Walau demikian, Covid-19 tampaknya ringkih suhu dan kelembaban yang tinggi. Jika dilihat peta pusat-pusat kasus terkonfirmasi dari Johns Hopkins University, virus Covid-19 ini terutama terjadi di daerah suhu sedang sampai dingin. Pusat wabah seperti membentuk “Sabuk Covid-19” sebagaimana terlihat di ilustrasi.

Sabuk itu dimulai dari Tiongkok ke barat melintasi Iran, Turki, sedikit bergeser ke utara di Eropa, dan kemudian menyeberangi Atlantik sampai Amerika Serikat. Daya tahan yang rendah pada suhu panas dan kelembaban tinggi sudah diungkap pada SARS dan MERS.

Kasus di selatan sabuk seperti limpahan (spill-over). Di wilayah yang selalu panas dan lembab itu, atau sedang musim panas, virus tidak tahan lama. Di utara sabuk, kasus masih relatif sedikit, karena suhu yang amat dingin yang memaksa penduduk tinggal di rumah. Kasus di sana dapat meningkat sejalan dengan peningkatan suhu jika apabila tidak ada intervensi yang memadai. 

Walau limpahan, risiko negara-negara di sebelah selatan sabuk Covid-19 imajiner itu juga tak rendah. Beberapa negara, seperti Indonesia, Filipina, dan India mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi sehingga virus dapat mempunyai peluang besar untuk menyebar. Pembatasan sosial yang diberlakukan di negara-negara tropis, termasuk Indonesia, akan sangat efektif asalkan penduduknya disiplin mematuhi.

Untuk mendesain rencana jangka panjang keluar dari cekaman pandemi, kita mesti memahami bagaimana virus ini membuat sakit dan bahkan fatal. Para ahli membagi fase infeksi Covid-19 dalam tiga stadium. Stadium I adalah masa inkubasi asimtomatik. Stadium II adalah periode simtomatik ringan. Stadium III adalah fase gejala pernapasan berat.

Strategi untuk memicu respon imun pada Stadium I dan Stadium II akan sangat membantu. Termasuk di dalamnya pemberian serum hiperimun. Virus Covid-19 juga mengandalkan protease pasien untuk memperbanyak diri. Karena itu, obat antiprotease bisa membantu kesembuhan penderita.

Akan tetapi, beberapa bagian dari pasien dapat mengalami gangguan respon imun. Ini pemicu Stadium III. Saya memperkirakan itu terjadi akibat gabungan antara faktor genetik dan patogenesis Covid-19. Pada kelompok pasien ini, gangguan kekebalan memicu badai sitokin sebagai awal mula sindroma penekanan pernafasan akut.

Kondisi kesehatan prima dapat tidak menguntungkan pada pasien itu. Obat penekan radang dan obat simtomatik lain dapat dipertimbangkan. Dalam beberapa kasus, pasien perlu dirawat di intensive care units (ICU) dengan ventilator mekanik. Alat paru-paru buatan dapat menyelamatkan nyawa mereka.

Paru-paru pasien Stadium III akibat Covid-19 dilaporkan penuh cairan seperti jeli atau fibrin seperti orang meninggal karena tenggelam. Beberapa peneliti menyebut komponen utama adalah hyaluron. Bahan ini konon mempunyai daya serap air yang luar biasa tinggi. Obat-obat yang menekan hyaluron dan produksinya dapat menyelamatkan, termasuk obat-obatan herbal dan vitamin tertentu.

Data respon imunitas pasien Covid-19 sampai sekarang belum dipublikasi. Apakah antibodi berperan dalam kesembuhan belum kita ketahui. Pengalaman pada SARS telah dipublikasi bahwa hanya sekitar 10 persen pasien yang sembuh mempunyai antibodi. Pengembangan vaksin akan menemui rintangan di sini. Vaksin yang memicu antibodi justru bisa menjadi penginduksi badai sitokin jikalau terinfeksi virus, seperti diungkapkan sebelumnya.

Prioritas

Bagaimana mematikan pandemi Covid-19 dengan latar belakang yang kompleks itu?

Pada hemat saya, obat dan fasilitas kesehatan yang mengancam kehidupan pasien Stadium III mesti diprioritaskan terlebih dahulu. Data menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang terpapar tidak menjadi sakit. Yang mengembangkan gejala klinis pun lebih banyak klinis ringan.

Informasi dari WHO, 80 persen pasien yang sakit dapat sembuh tanpa pengobatan khusus. Data dari karantina kapal pesiar Diamond Princess di Jepang yang dimuat pada Journal Eurosurveillance bisa kita jadikan patokan. Persentase orang terpapar tapi tak terinfeksi sekitar 75 persen. Proporsi yang positif tanpa gejala adalah 8 persen dan yang simptomatik adalah 17 persen.

Karena itu, porsi pasien yang memerlukan perawatan rumah sakit juga tidak besar. Pasien dengan katagori Stadium II kemungkinan dapat sembuh dengan intervensi serum hiperimun dan obat-obatan simtomatik. Pasien yang memerlukan perawatan ICU dengan ventilator lebih kecil lagi.

Apabila informasi dari WHO pengalaman kapal pesiar itu kita pakai, pasien yang perlu pengobatan khusus hanya 3,4 persen dari populasi. Pasien yang memerlukan ventilator sekitar 10 persen dari pasien dengan penanganan khusus, atau 0,34 persen dari populasi.

Dalam kondisi riil, angka itu dapat menjadi jauh lebih kecil. Keperluannya dapat sekitar 25 persen lebih rendah dibandingkan dengan kondisi ekstrim kapal pesiar. Angkanya menjadi 0,1 persen dari populasi.

Jikalau digunakan rata-rata per pasien 15 hari, satu ventilator dapat digunakan untuk 24 orang dalam setahun. Artinya, keperluan ICU dengan ventilator 0,004 persen dari populasi. Untuk Indonesia dengan 280 juta penduduk, itu jumlahnya 11.200 unit. Bali dengan 4 juta penduduk, misalnya, memerlukan 160 unit. Jika negara atau daerah mampu 50 persen saja, itu sudah memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Stretegi non-farmasetik berupa PSBB disiagakan di seluruh Jawa dan Bali. Dua pulau ini mempunyai kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Ini menyediakan peluang penularan antar orang yang tinggi. Di luar pulau itu, PSBB dapat disiagakan di kota-kota yang padat penduduk saja.

Jika obat dan sistem rumah sakit sudah siap, kita bisa keluar dari cekaman pandemi COVID-19. [b]

Keterangan: tulisan ini pertama kali terbit di Kompas cetak edisi Sabtu, 18 April 2020. Dimuat di sini, dengan edit seperlunya, seizin penulis untuk menyebarluaskan pengetahuan.

Laporan Minggu IV: Bantuan APD untuk Tenaga Kesehatan

Beragam ajakan kolaborasi berdatangan minggu ini.

Imbauan untuk di rumah saja, sebagai upaya mencegah meluasnya penularan COVID-19, memasuki minggu keempat. Jenuh makin menggelayut. Putus asa semakin sering berkunjung. Harapan terasa samar-samar di depan pintu.

Hari-hari makin tidak mudah. Penduduk yang sebelumnya menggantungkan asa pada perkotaan kini memikul yang tersisa dan membawanya pulang ke kampung meski imbuan untuk #dirumahaja sudah dikumandangkan.

Apa mau dikata, struktur sosial kita yang sedari sebelum pandemi pun telah timpang, semakin lumpuh ketika pandemi menghantam. Para pencari mimpi di perkotaan kembali menggulung mimpi dan pulang.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pun telah diterapkan di beberapa kota besar. Namun, korban positif merangkak naik, korban meninggal juga semakin banyak. Ditambah lagi, terdapat ketidaksepakatan jumlah korban positif melalui pemerintah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Semakin menambah kebingungan.

Pasien yang berhasil sembuh juga banyak, tapi kabar tentang infeksi berulang juga tiba dari negeri tetangga yakni Singapura dan Korea Selatan. Akibatnya, kabar kesembuhan tak lantas membuat mantan penderita bisa imun terhadap virus SARS-COV 2 meskipun hal ini perlu lebih lanjut diteliti dan dikonfirmasi oleh para dokter.

Setiap kita saat ini saling menunggu kabar baik. Misalnya, kapan vaksin ditemukan? Kapankah pembatasan fisik ini berakhir? Kabar baik yang menjadi jawaban akan segala rindu pada kebiasaan hidup lampau.

Namun, mungkin masa depan nanti adalah sebuah kebiasaan yang baru, kelaziman yang mulai kita lakoni dengan kemauan. Agaknya, masa depan memang memiliki wajah berbeda dari apa-apa yang pernah kita tuliskan.

Untunglah, manusia adalah mamalia yang berhasil, setidaknya hingga saat ini. Keyakinan bahwa kita mampu melewati ini harus pelan dan teguh kita tanam. Mungkin hal itu membuat langkah setidaknya berayun.

Ini tidak mudah juga menampilkan ketidakadilan pada setiap sendi sosial dan norma. Kehidupan dari lapisan bawah tampak makin kelam. Segala yang ada di sana meringkuk terjepit. Manusia lapisan tengah mencoba mengandalkan tenaga yang tersisa. Sesekali mencoba bersiasat pada keadaan. Sementara itu manusia kalangan atas juga dihantam kaget. Tentunya membuat mereka tersentak walau mustahil kelaparan dan mati.

Pandemi ini menelanjangi dunia hingga pada lapisan terdalam.

Bagi kami, tim Putih Hijau, pandemi ini begitu pedih, membuat linglung terkadang. Namun, sama seperti manusia lain yang masih bernapas dan merajut asa, pandemi ini tidak berhasil menenggelamkan kami. Ada kalanya setiap kami berperang dengan rasa takut, kengerian, serasa waktu berhenti dan kepala diserang vertigo hingga isi nyawa ingin keluar karena takut.

Mungkin ini akan kalian rasakan ketika kalian memasuki ruang isolasi pasien COVID-19.

Rasanya sungguh mengerikan, seperti sesuatu mencekik lehermu dan kau tak bisa mengeluarkannya. Berhenti. Perasaan ini, saya alami dan tenaga kesehatan lainnya juga alami. Dan karena itu, penting sekali bagi kalian untuk menjaga kesehatan dan #dirumahaja.

Konser #JauhdiMataDekatdiHati memasuki minggu keempat. Dan, kami masih berusaha berjalan dan bersinergi, berbuat dengan segala daya upaya.

Pada minggu keempat ini, kami memulai istirahat sedikit lebih banyak, yakni Minggu & Senin. Ini kami lakukan untuk menjaga energi kami. Jika-jika pandemi lebih panjang maka usia gerakan ini pun lebih panjang. Hari Selasa, dimulai dengan penampilan duo Soul and Kith selama satu jam. Penampilan yang akrab dan hangat.

Lalu, hari Rabu kami bernostalgia dengan banyak puisi dalam lantunan musikalisasi bersama Mba Reda Gaudiamo. Penampilan selama dua jam yang memukau dan menawar rindu juga menentramkan hati.

Esoknya, kami belajar bersama dengan salah satu dokter saraf dari Satgas Covid-19 Denpasar dari bagian Perhimpunan Dokter Saraf Seluruh Indonesia (Perdossi) Denpasar yakni dr. Gusti Martin, Sp.S. Diskusi santai tapi berisi dipandu Iin Valentine dari tim kami. Antusiasme masyarakat juga tinggi, diskusi yang direncanakan satu jam, justru berlangsung dua jam.

Pada Jumat berlanjut dengan penampilan musik asik dari grup musik Coconightman. Penampilan yang menghibur sekali. Apalagi lagu-lagunya yang unik dan sederhana. Malam Minggu kali ini ditemani oleh Krisna Floop, malam minggu yang asoi dengan seruling dan suara khas Bli Krisna menemani selama satu jam.

Pada minggu ini, kami juga mendapat banyak ajakan untuk berkolaborasi. Ini sungguh kabar yang menyenangkan, karena tujuan awal kami adalah mengajak semua bersolidaritas dan menabung harapan.

Karena itu, minggu ini Tim Balebengong juga mengadakan #MusikBersuara dengan menampilkan live di Instagram Balebengong penampilan dua DJ yakni @mistral85 dan @mairakilla juga @artivak_. Kami juga berkolaborasi dengan Dialog Dini Hari (DDH), band folks dari Bali yang telah dikenal di seantero nusantara. DDH meluncurkan sebuah single bertajuk Kulminasi II.

Dalam peluncuran secara daring tersebut, band ini mengajak setiap penggemar berdonasi melalui tim Putih Hijau. Bahkan band ini menjual kaos merchandise khusus untung single ini yang 50 persen keuntungannya akan didonasikan juga.

Pun, kolaborasi yang tak kalah keren juga kami lakukan adalah dengan diskusi Bincang Sastra di Udara dengan Juli Sastrawan & Wahyu Heriyadi, dimana setiap penonton diajak untuk berdonasi melalui tim Putih Hijau.

Kami juga berkolaborasi dengan Thebaliflorist Sanur, di mana florist tersebut turut serta dengan mendonasikan sebuah surat kaligrafi bertuliskan ucapan terima kasih kami dan para donatur kepada tenaga kesehatan yang telah berjuang di garda terdepan.

Kami akan sangat senang jika ada kawan-kawan yang ingin berkolaborasi, dalam bentuk apapun. Meski begitu, ada beberapa hal yang menjadi perhatian serius kami yakni:

  1. Penggunaan tagar akan disesuaikan dengan tagar yang kami gunakan untuk menghindari tumpang tindih dengan kegiatan live milik teman-teman lainnya;
  2. Inisiator kolaborasi harus berkordinasi dengan anggota tim putih hijau yang telah ditentukan;
  3. Mencantumkan nomor rekening BPD BALI 0200215109141 a.n Ni Wayan Desy Lestari & OVO/GoPay 0895378736000 a.n Fenty Lilian;
  4. Inisiator tidak berafiliasi dengan pemerintah dan partai politik apapun; serta
  5. Insiator dan kegiatan acaranya wajib melaporkan sponsor jika ada, untuk ditentukan boleh tidaknya sponsor tersebut. Hal ini penting bagi kami, untuk menghindari isu-isu yang selama ini menjadi perhatian kami. Misalnya lingkungan hidup dan juga isu rasisme dan konflik tertentu. Karena ini adalah gerakan kolektif yang dibalik setiap donasi juga menjunjung tinggi nilai kesetaraan dan kemanusian dan cinta pada alam.

Adapun total donasi hingga Minggu sore, 19 April 2020 pukul 18.00 Wita adalah:

NoViaJumlah (Rp)
1BPD41,303,814
2Mayhem14,960,000
3OVO1,808,467
4GoPay2,324,666
TOTAL60,396,947

Adapun total pengeluaran hingga minggu sore, 19 april 2020 pukul 18.00 Wita adalah:

NoKeterangan BelanjaHarga Satuan (Rp)Total (Rp)
1Pembelian masker N95 BSA 250biji20,0005,000.000
2Pembelian masker bedah 22 kotak (DP 50%)180,0001.980.000
3Pembelian masker KN95 16 biji50,000800,000
4Pembelian hazmat spunbon 60biji (DP 50%)75,0002,250,000
5Pembelian hazmat waterproof 60biji (DP 50%)100,0003,000,000
6Pembelian kacamata gogles 92biji + ongkir9,900930.000
7Pembelian faceshield 200biji (DP 50%)15,0001.500,000
8Pembelian masker bedah 2 kotak260.000520,000
9Pembelian masker bedah 23 kotak (diskon Rp.100.000)290.000657,000
10Pembayaran sisa faceshield 50% + ongkir1,500,000 + Ongkir Rp.50,0001,550,000
11Pembayaran sisa hazmat (50%)2,250,000 + Rp. 3.000,0005,250,000
12Pemesanan ulang hazmat spunbond (60 biji) + hazmat parasut (30 biji)60x 75,000
30x 100,000
7,500,000
13Pembelian KN95 210 biji35,0007,350,000
14Pembelian masker bedah 39 kotak325.00012.675,000
15Biaya transfer Bank 11x6,50071,500
16Transfer donasi ke Gopay Fenty11.000,000
17Transfer donasi gopay dari Fenty ke BPD12,000,000
18Ongkir Gobox ke Sanglah1113,000
19Ongkir Gobox ke Wangaya1102,000
20Ongkir Gosend ke thebaliflorist11.50023,000
21Ongkir Gocar Hazmat1x20,000
22Ongkir Gojek Masker2x30.000
23Beli kardus & Selotip2x151,000
24Bayar Kargo Mito1x60,000
TOTAL57,980,000

Beberapa donasi telah kami kirimkan ke RSUP Sanglah, RSUD Wangaya dan Tim IGD RSUD Bangli, RSUD Sanjiwani, adapun jumlah donasi ke setiap rumah sakit adalah:

  1. RSUP Sanglah : Hazmat Spunbond : 40 buah, N95 1 kotak + 16 Biji, Faceshield: 30biji, kacamata gogles: 20 biji
  2. RSUD Wangaya : Hazmat spunbond : 40 buah, N95 1 kotak, faceshield : 30 biji , kacamata gogles: 20 biji
  3. Tim IGD RSUD Bangli : Hazmat Spunbond: 20 buah, KN95: 2 kotak, masker bedah: 3 kotak, Faceshield: 20 buah, kacamata gogles: 5 buah
  4. RSUD Sanjiwani : Hazmat Spunbond: 20 buah, KN95: 2 kotak, masker bedah: 3 kotak, Faceshield: 20 buah, kacamata gogles: 5 buah

Pengiriman donasi ke puskesmas di luar pulau Bali saat ini tengah proses untuk pengiriman melalui kargo. Kami akan jelaskan ketika donasi telah tiba di puskesmas tersebut. Semoga, sekalipun saat ini tengah pandemi namun proses pengiriman tidak mengalami kendala.

Kami berharap beberapa kabar baik dari kolaborasi-kolaborasi yang telah kami lakukan seperti kolaborasi dengan Thepojoks, AJAR, DDH. Kolaborasi tersebut memang baru saja dimulai sehingga membutuhkan waktu untuk mengumpulkan donasi.

Secara khusus, kolaborasi dengan AJAR saat ini ada beberapa kabar baik tentang pendonasi dari Australia, meski masih dalam proses regulasi akun bank di sana. Kami harap beberapa kabar baik akan segera kita terima. Dengan demikian pembelian donasi tahap selanjutnya dapat dilakukan yang mana tujuan donasi kami selanjutnya adalah RSUPTN Udayana, RSU Bali Mandara dan beberapa puskesmas di Jepara dan Nusa Penida.

Pada minggu kelima ini, kami terus berusaha mengajak para seniman dan penampil lain yang semoga bukan hanya saja menghibur, tapi juga menambah wawasan dan memperluas sudut pandang. Kami berharap dapat lebih melihat bagaimana pandemi di Indonesia bagian timur. Bagaimana sebenarnya teman-teman para medis yang berjuang di garda terdepan. Bagaimana pandemi berdampak pada industri kreatif dan usaha kecil menengah.

Karena itu jika teman-teman tahu ataupun memiliki ide para penampil yang kompeten untuk hal tersebut jangan ragu untuk memberi tahu kami.

Semoga, donasi akan terus mengalir sesuai dengan kebutuhan APD di lapangan juga semoga semangat kita tak kendur meski kabar berakhirnya physical distancing belum jua muncul. Semoga #konserdirumahaja dan #diskusidirumahaja dapat memberi sedikit jeda, pun menambah wawasan tentang bagaimana masa depan kita setelah pandemi berakhir.

Sampai jumpa Senin depan dengan laporan selanjutnya pun kolaborasi-kolaborasi lain yang semakin asyik dan beragam. Jangan ragu untuk memberi kami saran, kritik pun ide, mari bersama-sama menjaga kewarasan.

Salam sehat selalu, mari menabung harapan dan bersolidaritas.

Tim Hijau Putih.

Laporan Minggu III: Bantuan APD untuk Tenaga Kesehatan

Sudah hampir satu bulan masa jaga jarak diberlakukan.

Perasaan rindu pada keseharian pun makin terasa. Setiap hari berita di media pun makin menambah gusar. Angka kematian yang tinggi, jumlah yang terinfeksi bertambah, akses untuk tes laboratorium pun sulit, krisis ekonomi semakin nyata ditambah lagi akhir pandemi belum jua tampak.

Jika menilik hal-hal tersebut, menjadi cemas terasa wajar. Sungguh manusiawi.

Kami pun tak berbeda. Setiap hari berkonfrontasi pada realita. Setiap kami mengalami keresahan serupa. Pun, kami yakini kita umat dunia mengalaminya. Namun, satu hal yang tak ingin ditampik adalah bahwa gerakan “Jauh di Mata Dekat di Hati” menjadi tempat menyalurkan keresahan, menggali energi, menemukan secercah harap, mencoba merajut kekuatan.

Memasuki minggu ketiga, ide pun semakin beragam. Terkadang, muncul juga pertanyaan, apakah napas gerakan ini mampu menemani sepanjang pandemi? Apakah gerakan ini mampu menjaga energi jika ternyata pandemi lebih panjang dari yang diperkirakan?

Tentulah kecemasan tersebut lumrah. Namun, seperti kata seorang teman bilanh, “Biarlah gerakan ini menjadikan kita manusia. Jika lelah kita istirahat sebentar. Jika masih bisa bernapas mari lanjutkan.”

Berbicara energi, jika kami hanyalah kami, ini mustahil berumur panjang. Namun, karena ini telah menjadi milik bersama dan merupakan pekerjaan kolektif, ini terasa lebih niscaya.

Minggu ketiga diawali oleh penampilan Mba Happy Salma bersama Frischa Aswarini. Kedua perempuan pecinta puisi ini berbicara tentang bagaimana perempuan menjaga kreativitas & produktivitas selama pandemi. Juga bagaimana Mba Happy menjaga mood anak-anaknya selama harus #dirumahaja.

Selasa malam berlanjut dengan penampilan duo dara muda bali, Alien Child. Penampilannya sungguh enerjik juga penuh semangat. Sangat menyenangkan. Rabu malam, Wake Up Iris band asal kota Malang melanjutkan estafet dengan tampil pada sore hari. Selain tampil mereka juga cukup aktif mengajak penonton Instagram mereka berdiskusi. Penampilanya pun cukup panjang dan penuh antusiasme.

Hari Kamis, kami mengadakan diskusi cukup panas yakni tentang karantina wilayah dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Narasumbernya Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) Bli Wayan Suardana Gendo. Diskusi yang semula berdurasi satu jam menjadi dua jam.

Cukup banyak penonton mengajukan pertanyaan tentang keputusan-keputusan pemerintah seperti PSBB dan konsekuensinya, rapat DPR tentang omnibus law juga tentang wacana sipeng di Bali yang sebelumnya membuat heboh.

Selanjutnya, Jumat malam, kami mengadakan ngobrol lucu dengan komedian Rare Kual. Lawakan yang edukatif dan berbahasa Bali, yang kami harapkan dapat menjadi satu sarana untuk mengedukasi masyarakat Bali dari segala usia untuk tetap #dirumahaja demi memutus tali penularan #Covid19.

Malam minggu kemarin, Zio dari Dialog Dini Hari tampil solo dengan lantunan piano bernyanyi menghibur penonton. Durasi yang awalnya tiga puluh menit menjadi satu jam. Penampilan Zio pun membawa suasana berbeda karena ini kali pertama penampil bermain piano di #konserdirumahaja.

Minggu ketiga ini kami juga berkolaborasi dengan komunitas The Pojoks. Para seniman akan menggambar potret daripada para pendonasi dengan cara berdonasi minimal Rp 150 ribu. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 10-24 April. Jika teman-teman tertarik mari buruan untuk berpartisipasi dengan menghubungi komunitas tersebut melalui DM Instagram @the_pojoks.

Kami juga tengah berkolaborasi dengan Yayasan AJAR, organisasi nirlaba yang berkontribusi di bidang hak asasi manusia di regio asia pasifik. Yayasan AJAR, akan membantu menggalang dana dari koneksi yang AJAR miliki. Sejauh ini, AJAR sudah memiliki beberapa kabar baik yang tengah berproses. Kami harap di minggu berikutnya kami sudah bisa menceritakannya disini.

Kami, juga berkolaborasi dengan @thebaliflorist untuk pengadaan surat tanda cinta dan terima kasih kami kepada tim tenaga kesehatan yang telah bekerja di garda terdepan. Sesuai rencana, kami akan mengirim barang donasi disertai surat karya kaligrafi tim dari @thebaliflorist.

Adapun pemasukan hingga Minggu pukul 18.00 WITA adalah:

NoViaJumlah (Rp)
1BPD40.528.814
2Mayhem melalui BPD14.960.000
3GoPay2.335.000
4OVO1.808.467
TOTAL59.632.281

Adapun pengeluaran hingga Minggu pukul 18.00 WITA adalah:

NoKeterangan BelanjaBiaya (Rp)
1Pembelian masker N95 kesatu (250 buah)5.000.000
2Pembelian masker N95 kedua (16 buah)800.000
3Pembayaran uang muka baju coverall (50%) (210 buah)5.250.000
4Pembelian kacamata proteksi (92 buah)930.000
5Pembayaran Faceshield (200 buah)3.050.000
6Pembayaran masker bedah (25 kotak)7.090.000
7Admin transfer 9x @ Rp 6.50058.500
8Pembayaran baju coverall lunas sebanyak 210 buah12.750.000
9Membeli 4 buah kardus besar60.000
10Ongkir antar baju coverall dari garmen ke tim kita 3x50.000

Minggu ini kami hampir semua donasi kecuali masker bedah telah tiba. Kami pun membuka beberapa yang tidak disegel seperti faceshield yang memang harus dilihat apakah benar sesuai dengan gambar atau tidak. Di dalamnya pun terdapat imbauan untuk disterilisasi kembali sesampainya di rumah sakit tujuan.

Untuk baju coverall masih dalam plastik dan sepanjang minggu kemarin telah kami sisihkan per jumlah untuk setiap rumah sakit kloter 1 pertama ini. Setelah kami kemas di kardus, kardus tersebut kami semprotkan desinfektan kembali.

Senin ini, donasi kloter satu siap dikirim, untuk pengiriman ke rumah sakit di Denpasar dan sekitarnya. Kami menggunakan jasa antar guna mengurangi kontak. Oleh pengemudi barang akan diantar ditempat yang dituju, d imana ditempat tsb telah menunggu dokter penanggung jawab dan tim mereka. Dokter tersebur akan memotret foto barang-barang tersebut kemudian akan mengirim foto tersebut kepada kami melalui aplikasi pesan singkat.

Minggu keempat terdapat beberapa kejutan. Kami juga berusaha menghadirkan diskusi yang membangun dan mengisi. Semoga semesta selalu membantu kita. Semoga kawan-kawan juga mau menyisihkan sedikit rezeki agar APD untuk tenaga medis yang masih sangat dibutuhkan dan makin langka ini dapat tersalurkan ke setiap rumah sakit yang membutuhkan.

Sepanjang minggu ini, ada tiga instansi baru yang mendaftarkan tempatnya sebagai penerima donasi. Artinya, masih banyak APD yang dibutuhkan oleh para medis.

Semoga, donasi akan terus mengalir sesuai dengan kebutuhan alat perlindungan diri (APD) di lapangan juga semoga semangat kita tak kendur meski kabar berakhirnya physical distancing belum jua muncul. Semoga #konserdirumahaja dan #diskusidirumahaja dapat memberi sedikit jeda, pun menambah wawasan tentang bagaimana masa depan kita setelah pandemi berakhir.

Sampai jumpa Senin depan dengan laporan selanjutnya. Juga kolaborasi-kolaborasi lain yang semakin asyik dan beragam. Jangan ragu untuk memberi kami saran, kritik pun ide. Mari bersama-sama menjaga kewarasan.

Salam sehat selalu, mari menabung harapan dan bersolidaritas.

Tim Hijau Putih,