Tag Archives: kematian

Vitamin Terkenal Ini Ternyata Tidak Bermanfaat

Banyak yang percaya minum vitamin saat sakit dapat mempercepat penyembuhan, benarkah demikian menurut studi terbaru? Ternyata beberapa jenis vitamin dan suplemen makanan yang cukup populer di kalangan masyarakat, tidak terlalu bermanfaat bagi kesehatan. Untungnya, vitamin dan suplemen makanan ini juga tidak berbahaya bila dikonsumsi. Demikian kurang lebih hasil studi dari tim peneliti Rumah Sakit St. Michael, Universitas Toronto, Kanada.

Baca juga: Manfaat Buah Lemon, Gudangnya Vitamin C Alami

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology ini lebih jauh menyebutkan, multivitamin, vitamin D, kalsium dan vitamin C tidak memberi manfaat yang berarti dalam pencegahan penyakit kardiovaskuler, serangan jantung, stroke atau kematian dini. Umumnya vitamin dan suplemen makanan ini dikonusmsi untuk menambah asupan gizi yang kurang didapatkan dari makanan.

Temuan ini sebenarnya cukup mengejutkan mengingat selama ini banyak orang yang minum vitamin dan suplemen dengan harapan dapat terhindari dari berbagai macam penyakit berbahaya. Meskipun manfaatnya kecil, minum vitamin dan suplemen makanan seperti multivitamin, vitamin D, kalsium dan vitamin C tidak berbahaya bagi tubuh, asal dikonsumsi sesuai dengan aturan pakainya.

Selain menemukan jenis vitamin dan suplemen yang manfaat kesehatannya rendah, studi kali ini juga membuktikan bahwa asam folat dan vitamin B yang mengandung asam folat dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler dan stroke.

Baca juga: Cara Mendapatkan Vitamin C Yang Baik Bagi Tubuh

Studi ini kembali menegaskan pentingnya mengetahui jenis vitamin yang kita konsumsi termasuk kebutuhan tubuh terhadap vitamin tersebut. Tidak semua vitamin harus kita konsumsi dalam bentuk suplemen karena dari makanan, vitamin tersebut sudah mencukupi. Kita juga harus paham tentang kekurangan vitamin dan mineral yang kemungkinan terjadi pada tubuh kita. Kalau memang tidak paham caranya, silakan berkonsultasi ke dokter terdekat.

Virus Hepatitis Lebih Banyak Membunuh Orang Dibandingkan Dengan HIV, Malaria Dan TBC

Meskipun pengobatan infeksi virus hepatitis mengalami banyak kemajuan termasuk kian gencarnya program vaksinasi virus hepatitis, angka kematian yang disebabkan oleh penyakit ini semakin hari semakin meningkat. Menurut data terbaru yang dilansir oleh Global Burden of Disease (GBD), angka kematian penduduk dunia yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis jauh berada diatas angka kematian akibat penyakit HIV, malaria dan tuberkulosis.

Baca juga: 7 Gejala Penyakit Yang Tidak Bisa Diabaikan

Data angka kematian yang diambil dari 195 negara oleh GBD ini secara khusus menyoroti penyebab kematian berdasakan penyebab spesifik seperti infeksi. Dari data tersebut, pada tahun 2016, sebanyak 1,34 juta kematian berhubungan dengan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Penyakit penyakit tersebut antara lain kanker liver, sirosis liver, hepatitis A, E, B, C dan D.

Sebagai perbandingan, angka kematian akibat infeksi TB pada tahun yang sama mencapai 1,2 juta orang, infeksi HIV/AIDS 1 juta orang dan malaria mencapai 719.000 orang.

Secara umum, infeksi virus hepatitis kembali masuk ke dalam 10 besar penyebab kematian terbesar penduduk dunia. Infeksi virus hepatitis bersaing bersama dengan penyakit jantung, kecelakaaan lalu lintas dan penyakit alzheimer.

Untuk mengatasi masalah ini, para penggiat hepatitis yang tergabung dalam World Hepatitis Alliance (WHA) menyarankan untuk menggalakan kembali pemeriksaan hepatitis dan perbaikan standar diagnosis untuk infeksi virus hepatitis. Menurut organisasi ini, hanya 5% penduduk dunia yang terinfeksi virus hepatitis menyadari dirinya telah terinfeksi.

Masih berdasarkan data yang dikeluarkan GBD, selama 10 tahun terakhir, ada beberapa penyakit infeksi yang mengalami penurunan kasus kematian. Penyakit penyakit itu antara lain, diptheria mengalami penurunan sampai 66,4%, tetanus (59,5%), campak (72,5%), leishmaniasis (54,1%), trypanosomiasis (76,3%).

Sedangkan angka kematian yang disebabkan oleh TB mengalami penurunan sampai 20,9%, HIV/AIDS (45,8%), infeksi saluran nafas bawah (8,2%), infeksi saluran nafas atas (26,2%), meningitis (8,4%), malaria (25,9%), schistosomiasis (22,1%), yellow fever (11,8%), rabies (47,4%) dan infeksi menular seksual (26%).

IQ Tinggi Di Masa Kanak Kanak Berhubungan Dengan Panjang Umur

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam BMJ today mengungkap hubungan antara IQ tinggi pada anak anak dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit serius seperti penyakit jantung, stroke, kanker yang berhubungan dengan rokok, penyakit pernafasan dan demensia.

Studi yang relatif besar ini berupaya mencari hubungan antara gaya hidup dengan penyebab kematian akibat beberapa penyakit berbahaya. Salah satu hubungan yang ditemukan adalah adanya pengaruh kecerdasan (IQ) dengan penurunan risiko penyakit yang menyebabkan kematian dini.

Studi sebelumnya menyebutkan, mereka yang ber-IQ tinggi memiliki umur yang sedikit lebih panjang bila dibandingkan dengan mereka yang IQ-nya rendah, namun studi ini hanya mengamati mereka yang usianya menginjak dewasa.

Dari hasil tersebut, para peneliti dari Universitas Edinburgh kemudian mencari hubungan antara hasil tes IQ yang dilakukan saat seseorang berusia 11 tahun dengan penyebab kematian yang terjadi sampai dengan usia mereka 79 tahun.

Data penelitian diambil dari sampel sebanyak 33.536 pria dan 32.229 wanita yang lahir di Skotlandia tahun 1936. Sampel tersebut dipilih karena memiliki data hasil tes IQ saat mereka berusia 11 tahun. Data hasil tes IQ tersebut selanjutnya dihubungkan dengan penyebab kematian sampai dengan Desember 2015.

Data penyebab kematian tersebut diantaranya penyakit jantung koroner, stroke, beberapa jenis kanker tertentu, penyakit saluran nafas, penyakit saluran pencernaan, penyebab kematian eksternal seperti bunuh diri dan kecelakaan, serta demensia.

Setelah mempertimbangkan berbagai macam faktor, peneliti tiba pada satu kesimpulan, tingginya kecerdasan di masa kanak kanak berhubungan dengan penurunan risiko kematian sampai usia 79 tahun.

Lebih spesifik lagi, anak anak yang memiliki nilai IQ yang tinggi, risiko kematian akibat penyakit saluran nafas menurun sebesar 28%, risiko kematian akibat penyakit jantung koroner menurun sampai 25%, risiko kematian akibat stroke menurun sampai 24%.

Peneliti mengakui, studi ini bisa saja mengalami bias karena masih banyak faktor penyebab kematian yang luput dalam data penelitian. Studi ini juga tidak berhasil menemukan hubungan sebab akibat dari antara penyebab kematian dengan tingkat kecerdasan di masa kanak kanak.

Malpraktek Menjadi Pembunuh Nomor 3 Di Negara Ini

Data mengejutkan baru baru ini dipublikasikan oleh peneliti dari Johns Hopkins School of Medicine, Amerika Serikat. Menurut mereka, lebih dari seperempat kematian di Amerika Serikat pada tahun 2013 disebabkan oleh kesalahan prosedur medis atau malpraktek. Jumlah ini menempatkan malpraktek menjadi pembunuh nomor 3 di Amerika Serikat pada tahun 2013.

Jumlah kematian yang terjadi di dalam rumah sakit tersebut, dua kali lipat dari total jumlah kematian akibat bunuh diri, senjata api dan kecelakaan lalu lintas yang digabungkan menjadi satu.

Jumlah kematian tersebut tidak termasuk mereka yang meninggal dunia setelah dipulangkan dari rumah sakit. Kesalahan medis tidak dimasukan ke dalam surat kematian sebagai suatu penyebab kematian dan kebanyakan dari kesalahan medis ini tidak tercatat atau dilaporkan.

Data ini sekaligus mengingatkan bagi para profesional di bidang kesehatan agar bekerja lebih hati hati dan tetap mengikuti prosedur medis yang benar.