Tag Archives: keluarga

Amor ring Acintya Ni Made Suardini

Tiga tahun lalu, sekitar awal tahun 2015, sang suami pergi lebih dulu pada sang pencipta. Serangan jantung yang mematikan. Kondisi yang memukul telak karena ia hanyalah seorang ibu rumah tangga dengan empat anak yang masih remaja. Kami cukup prihatin saat itu. Namun pada tanggal 26 Maret lalu, semua cerita ketangguhan akan sakit yang ia derita […]

Pekan Yang Melelahkan

Dua pekan terakhir benar-benar melelahkan bagi kami baik secara fisik maupun pikiran. Berawal dari dua minggu yang lalu, di hari Minggu sore Bramasta diimuninasi, kebetulan ini imunisasi yang menyebabkan panas. Selama dua hari Bramasta badannya panas, walau sudah kami tahu sejak awal dan juga minum obat, tetap saja pikiran tidak tenang. Apalagi ibunya, tentu lebih repot khususnya di malam hari karena Bramasta tidak bisa tidur nyenyak.

Panasnya Bramasta pun hilang, hari berikutnya ibunya yang tepar. Mulai pusing dan meriang, dugaan kami mungkin karena kecapean. Tapi istri saya tetap memaksa beraktivitas, sampai akhirnya hari Kamis pagi saat berangkat dari rumah lalu singgah di rumah mertua dan istirahat disana sampai sore. Pusing dan demamnya belum juga hilang.

Hari Jumat saya memutuskan untuk tidak masuk, agar bisa membantu ngempu Bramasta di rumah dan istri saya lebih banyak istirahat. Sabtu sore karena belum membaik juga, akhirnya saya paksa ajak cek lab. Hasil cek darah lengkap, istri saya positif demam berdarah, trombosit sudah 124 dan panas hari ke 4. Saran dokter, banyak istirahat dan minum air, apalagi sedang menyusui. Sementara itu Sabtu siang Bramasta ikutan panas lagi, duh..

Keesokan harinya, Minggu di sore hari istri saya cek lab lagi, saya sudah pasrah kalau harus opname. Hasilnya, trombosit masih turun menjadi 117, tapi masih boleh istirahat di rumah. Kami cukup lega namun bercampur cemas. Saya sangat pesimis kalau besok trombosit akan naik. Hari Senin istri cek lab lagi, syukurlah trombosit malah naik menjadi 130, ini hari ke 6. Saya anggap sebuah keajaiban, saya cukup lega.

Tapi masih ada yang membuat cemas yaitu Bramasta masih panas dan terus diberi penurun panas. Senin sore dia ikut ke dokter tapi kata dokter belum perlu cek lab. Hari Selasa istri saya tetap istirahat di rumah karena belum fit dan masih lemes. Saya kerja dan lembur sampai malam karena harus membuat tugas kuliah. Saya dikabarin bahwa Nindi muntah-muntah dari siang sepulang sekolah. Saya tiba di rumah pukul 10 malam dan Nindi masih muntah-muntah, obat yang diminum tidak mempan. Perutnya kembung dan mual terus menerus. Kami coba suruh istirahat dan beri minum sedikit demi sedikit. Sampai pagi Nindi tidak bisa tidur nyenyak, dia mengeluh mual terus. Beberapa kali saya terbangun mengurut perutnya dan dia muntah terus. Sementara itu istri saya mengurus Bramasta yang juga masih hangat badannya. Benar-benar malam yang menguras energi dan pikiran.

Rabu pagi sekitar pukul 6 kami menyerah, kami putuskan ajak Nindi ke UGD RS Balimed. Sampai di UGD Nindi diperiksa dan diberi obat mual lewat suntikan sekaligus cek darah. Hasil cek darah normal, sekitar 30 menit observasi Nindi mulai membaik. Terlihat dari senyumnya, dia mulai bisa bicara biasa, padahal sebelumnya cuma meringis dan mengeluh mual dan muntah. Setelah kondisinya membaik, kami diijinkan pulang. Hari itu Nindi tidak sekolah, padahal dia sempat menangis sedih ingin sekolah karena katanya itu hari pertama ada pelajaran bahasa Inggris.

Hari Rabu itu Nindi full istirahat, setelah minum obat dan makan bubur, dia tidur. Saya tinggal kerja, katanya Nindi tidur sampai lewat siang. Tak apalah mungkin dia benar-benar lelah. Sementara itu Bramasta masih hangat saja, sorenya sempat kami ajak cek lab tapi setelah disuntik gagal diambil darahnya. Kami minta ditunda dan akhirnya batal cek lab hari itu, karena sebenarnya Bramasta masih sangat aktif dan panasnya sekitar 37-38 saja.

Hari Kamis, Nindi masih tidak sekolah, sementara ibunya mulai masuk kerja walau berangkat agak siang. Kamis sore sepertinya semua mulai pulih. Hari Jumat, akhirnya semua sudah kembali beraktivitas normal, istri saya mulai kembali ke kantor, Nindi mulai sekolah dan Bramasta juga tidak panas lagi. Terima kasih Tuhan akhirnya semua sudah sehat kembali.

Lega sekali rasanya setelah semua kembali sehat. Karena jangankan ketiganya sakit, salah satu diantara mereka saja yang sakit, saya pasti cemas, apalagi ini ketiganya dan hampir bersamaan. Banyak hal yang saya syukuri dari kejadian ini, mulai dari kesembuhan mereka dan tidak sampai opname sampai bagaimana menghargai kesehatan serta belajar sabar menghadapi cobaan. Sekali lagi, Terima Kasih Tuhan..

Baca Juga:

Merayakan Pernikahan dalam Ketidakpastian

Desa-desa menuju kaki Gunung Agung seperti kuburan. Jalanan sepi. Kami jarang bertemu orang. Di kanan kiri, hanya satu dua rumah dengan pintu pagar terbuka. Itu pun tak terlihat penghuninya. Rumah warga lebih banyak tertutup. Mendekati gunung tertinggi di Bali itu, suasana jauh lebih senyap. Anehnya, truk-truk pengangkut pasir masih hilir mudik di antara senyapnya desa. Continue Reading

Melanjutkan Hidup Bebas sebagai Pekerja Lepas

“Jadi, apa resolusi tahun ini?” tanya Bunda. Pertanyaan itu mengantarkan kami ketika meninggalkan Amed, tempat kami melewatkan pergantian tahun kali ini. Aku diam. Tidak langsung menjawabnya. Sambil menyetir mobil aku baru berpikir. Mengingat-ingat apakah memang ada hal yang amat aku inginkan tahun sepanjang 2018 ini. “Tidak ada. Memang mau apa lagi? Kita sudah punya semua Continue Reading

Ulang Tahun Pertama Bramasta

Saya baru sadar ternyata saya belum menuliskan cerita ulang tahun anak kedua kami, Bramasta. Baiklah kali ini akan saya tuliskan walau mungkin hanya sederhana.

Tidak terasa Bramasta sudah berumur 1 tahun pada tanggal 29 Juni 2017 yang lalu. Rasanya waktu berjalan dengan begitu cepat. Sedikit terasa berbeda dengan ketika kakaknya Bramasta, Nindi, dulu berumur 1 tahun. Mungkin ini karena dulu Nindi masih sendiri sehingga saya dan istri benar-benar berdua fokus kepada Nindi saja. Kalau sekarang kami berdua harus berbagi, jadi mungkin tidak bisa sepenuhnya waktu kami untuk Bramasta. Tapi bukan berarti rasa sayang dan perhatian harus berkurang, tentu keduanya sama-sama sangat kami sayangi dengan segenap jiwa dan raga. Semua orangtua pasti begitu menyayangi anak-anaknya.

Sekarang bicara tentang perkembangan dan pertumbuhan Bramasta, di umur 1 tahun dia sudah bisa berdiri dan berjalan beberapa langkah tapi belum lancar. Baru setelah beberapa minggu kemudian dia mulai lancar berjalan sendiri. Bramasta juga hampir selalu ceria, sehari-hari Bramasta di rumah bersama Gungkak dan Nini, bahkan Bramasta terlihat jauh lebih lengket bersama Gungkaknya.

Sejak lahir sampai sekarang, syukurlah Bramasta selalu sehat. Hanya beberapa kali dia panas dan demam namun hanya beberapa hari. Pernah sekali Bramasta sampai saya ajak cek darah di RS Puri Bunda, saya lupa dia umur berapa saat itu. Tapi untung juga semua normal dan dia hanya demam biasa.

Saat ini umurnya sudah 1 tahun 3 bulan. Untuk berjalan di sudah sangat lancar, hanya saja untuk bicara belum lancar. Sebenarnya dia termasuk cerewet dan ekspresif, tapi apa yang dikatakan belum jelas. Hanya dua kata yang terbaca yaitu ketika dia bilang “buuu” untuk memanggil ibunya dan “mooo” untuk memanggil “mbok gek” (kakaknya, Nindi).

Begitulah, sekali lagi kami sangat bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan kepada keluarga kami. Rasanya tidak habis diungkapkan dengan kata-kata. Semoga Bramasta dan kami semua selalu sehat, panjang umur dan bahagia.

Baca Juga:

  • Tidak ada artikel terkait