Tag Archives: keluarga

Ulang Tahun Pertama Bramasta

Saya baru sadar ternyata saya belum menuliskan cerita ulang tahun anak kedua kami, Bramasta. Baiklah kali ini akan saya tuliskan walau mungkin hanya sederhana.

Tidak terasa Bramasta sudah berumur 1 tahun pada tanggal 29 Juni 2017 yang lalu. Rasanya waktu berjalan dengan begitu cepat. Sedikit terasa berbeda dengan ketika kakaknya Bramasta, Nindi, dulu berumur 1 tahun. Mungkin ini karena dulu Nindi masih sendiri sehingga saya dan istri benar-benar berdua fokus kepada Nindi saja. Kalau sekarang kami berdua harus berbagi, jadi mungkin tidak bisa sepenuhnya waktu kami untuk Bramasta. Tapi bukan berarti rasa sayang dan perhatian harus berkurang, tentu keduanya sama-sama sangat kami sayangi dengan segenap jiwa dan raga. Semua orangtua pasti begitu menyayangi anak-anaknya.

Sekarang bicara tentang perkembangan dan pertumbuhan Bramasta, di umur 1 tahun dia sudah bisa berdiri dan berjalan beberapa langkah tapi belum lancar. Baru setelah beberapa minggu kemudian dia mulai lancar berjalan sendiri. Bramasta juga hampir selalu ceria, sehari-hari Bramasta di rumah bersama Gungkak dan Nini, bahkan Bramasta terlihat jauh lebih lengket bersama Gungkaknya.

Sejak lahir sampai sekarang, syukurlah Bramasta selalu sehat. Hanya beberapa kali dia panas dan demam namun hanya beberapa hari. Pernah sekali Bramasta sampai saya ajak cek darah di RS Puri Bunda, saya lupa dia umur berapa saat itu. Tapi untung juga semua normal dan dia hanya demam biasa.

Saat ini umurnya sudah 1 tahun 3 bulan. Untuk berjalan di sudah sangat lancar, hanya saja untuk bicara belum lancar. Sebenarnya dia termasuk cerewet dan ekspresif, tapi apa yang dikatakan belum jelas. Hanya dua kata yang terbaca yaitu ketika dia bilang “buuu” untuk memanggil ibunya dan “mooo” untuk memanggil “mbok gek” (kakaknya, Nindi).

Begitulah, sekali lagi kami sangat bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan kepada keluarga kami. Rasanya tidak habis diungkapkan dengan kata-kata. Semoga Bramasta dan kami semua selalu sehat, panjang umur dan bahagia.

Baca Juga:

  • Tidak ada artikel terkait

Para Istri di Pesantren Digital Indonesia

Tak terasa dari Desember 2016 sampai Agustus 2017, Pesantren Digital Indonesia sudah laksanakan camp yang ke 5. Ratusan alumni terbina secara mental dan teknis agar kuat aqidah dan ekonominya. Semua mentor adalah pria. Tentunya perjalanan ini tak lepas dari peran istri dibelakangnya.

Para Istri di Pesantren Digital Indonesia

Alhamdulillah di Pesantren Digital Indonesia Camp 5 beberapa istri bisa datang bergabung. Walaupun belum semua saling berpasangan namun inilah momentum kebahagiaan bersama. Ridha melepas suami untuk berjuang dijalanNya.

Perjalanan suami untuk memberi contoh pada anak-anak nya. Perjalanan suami sebagai makhluk sosial, berbagi kebajikan di muka bumi ini. Perjalanan suami untuk mengada di segala keberadaan yang ada hidup di dunia. Perjalanan suami untuk selalu bersyukur atas anugerah akal fikiran ini. Perjalanan suami untuk berbagi rasa syukur istri atas istiqomah suami berkontribusi positif bagi sesama. Perjalanan suami memberi untuk menerima kembali, ilmu baru, sahabat baru, berjejaring dan pertahankan konsistensi dlm hidup bersosial. Dan akhirnya yang paling utama, perjalanan suami untuk beribadah dijalanNya.

Apa yang diharapkan dari perjalanan ini? Yang telah meninggalkan rumah, berpamitan pada anak dan istri. Merelakan waktu nya terbagi. Menjeda waktu bisnis nya. Tiada lain dan tiada bukan hanyalah ikhlas berserah diri untuk ridhaNya.

Wahai para istri, terima kasih atas keikhlasan nya. Kami para suami bertambah daya dongkrak dalam mempertanggungjawabkan waktu hidup kami dihadapanNya kelak.

Semoga Allah SWT, Tuhan YME menyusui perjalanan hidup kita. Amin.

Peluk cium penuh cinta.
Para suami.

Para istri bersama Ibu-ibu relawan Pesantren Digital Indonesia

Hendra Berbicara di Pesantren Digital Indonesia

Hendra dan para sponsor

Pala dan Kulkas (Banda: The Dark Forgotten Trail)

Kami sekeluarga haturkan Dirgahayu Republik Indonesia ke 72! Merdeka! Salam Bhinneka! Saya dan istri sudah tidak lagi mengenal baris berbaris di lapangan untuk upacara bendera.

Banda The Dark Forgotten Trail

Klo ditanya terakhir kali upacara? Istri mungkin jawab pas masa SMA. Klo saya, hmm mungkin 7 tahun yang lalu bersama-sama pasien RS Jiwa Bangli. Bersama mereka, sama-sama cari pengalaman saja. Saya merasa waras dan mungkin pasien RSJ juga merasa waras dalam dunianya, bersama anggota Bali Blogger Community lakukan upacara bendera! Ya, serius! Cari aja di Google ceritanya. Tapi disini cerita saya upacara bersama pasien RS Jiwa Bangli.

Saya dan istri serta anak-anak tidak punya acara khusus untuk rayakan kemerdekaan RI. Mungkin kena rutinitas ya jadinya hmmm tak ada yang spesial. Namun, tinggal di Bali dengan beraneka ragam suku, adat, budaya dan agama adalah istimewa! Kami beruntung!

Coba klo tinggal di kota tempat SMP SMA dulu berada? Sarapan pagi nya ya klo nggak pecel ya nasi jagung. Keluar rumah ya ngelihatnya ibu-ibu duduk saling membelakangi dan saling mencabut sesuatu di rambut (petan) sambil omong berbisik (rasan-rasan). Bosan di rumah mau main air, ketemunya ya sungai. Meski suara adzan bertalu-talu, yang jama’ah ya itu-itu saja hehehe. Peace cak!

Intinya banyak keseragaman klo disitu. Mulai bahasanya, orang-orang nya, suku dan budaya nya dan agamanya mayoritas. Saya merasakan begitu majemuk dan beragam ketika di Bali. Dan selain Bali, ternyata atmosfer serupa ada di pulau bernama Banda! Tahu dari film garapan Jay Subiakto berjudul Banda: The Dark Forgotten Trail.

Saya, istri dan anak-anak serasa merayakan dan meresapi nilai-nilai kemerdekaan RI. Begitupun rasa Bhinneka Tunggal Ika ada dalam film itu. Tepatnya jadi nafas hidup masyarakat di Banda!

Kami jadi tahu adanya jalur rempah dunia. Pemicu kolonialis di Indonesia karena Eropa (Belanda, Inggris, Portugis) ingin bersaing atas dominasi perdagangan Arab. Rempah bernama Pala sungguh bernilai dari pada emas sekalipun! Para pedagang Arab, China, dan Eropa semua berkumpul di Pulau Banda demi Pala!

VOC dan pemerintah Belanda ingin kuasai sumber Pala di Banda. Selalu paksa petani Banda untuk jual Pala hanya ke mereka. Loji/gedung penimbunan Pala mulai dibangun oleh Belanda di Banda. Protes petani Banda selalu dikalahkan oleh senjata. Akhirnya berujung dengan peperangan. Penjajahan dengan genosida kan ribuan penduduk Banda pun pertama kali terjadi di Indonesia. Belanda mampu binasakan 15.000 penduduk asli Banda hingga menyusut jadi 1.000 saja!

12 benteng Belanda di bangun untuk mengamankan jajahannya. Datangkan tenaga kerja dari seluruh Indonesia untuk garap perkebunan Pala. Beragam suku, etnis dan latar belakang agama melakoni perbudakan yang terjadi pertama kali nya di Indonesia! Inilah sebabkan warga Banda saat ini sangat majemuk.

Pala menjadi rempah yang multi fungsi. Bisa untuk pengawet makanan, penambah rasa lezat segala jenis sajian, sebagai minyak atsiri, bahan baku obat dan kosmetik, dll. Ketika bangsa modern menemukan teknologi pendingin ruangan alias kulkas, seketika pula Pala jadi merosot dan terjun bebas. Momen itulah Banda mulai ditinggalkan oleh Belanda. Sepi dan dunia seakan lupa akan sejarah kelam jalur rempah dunia bernama Banda.

Sedih dan bangga bercampur aduk. Indonesia ini kaya! Dirgahayu RI ke 72!

Akhirnya Berpisah Lagi

Gak terasa Tiga Minggu sudah kakak liburan di Bali. Mengajak dua Putranya yang sudah segede gaban bersama sang istri, menepati janji yang pernah mereka ucapkan lima tahun lalu. Pulang sebentar setelah lelah mengumpulkan dollar. Ada banyak cerita yang dilalui selama mereka di Bali. Dari soal ujian bahasa Inggris setiap hari bagi semua orang di rumah […]

Karena Dunia Tak Hanya Seluas Ruang Kelas

Tahun ini kami memindahkan Satori ke sekolah baru. Dia masih TK Kelas B. Seharusnya masih melanjutkan di sekolah lama yang hanya berjarak tak sampai 200 meter dari rumah. Namun, kami sudah bersepakat. Si adik juga semangat ketika dikasih tahu. Dia pun pindah ke TK lain, satu tempat dengan Bani, kakaknya, sekolah sejak SD kelas I Continue Reading