Tag Archives: keluarga

Sakit Telinga Bindeng Satu Bulan Lebih

Beberapa waktu yang lalu saya mengalami sakit telinga bindeng selama lebih dari satu bulan. Cerita tentang sakit telinga bindeng saya ini berawal sekitar pertengahan bulan Mei yang lalu. Berawal dari sakit flu biasa yang biasanya mereda dalam beberapa hari saja. Awal flu ini saya sempat merasa meriang tapi segera reda setelah saya minum obat. Beberapa […]

Nasib Itu Ditangan Manusia

Bulan Juni dan Juli 2019 penuh tantangan! Khusus nya dalam hal keuangan. Ada 4 pos yang harus dihadapi yaitu perusahaan, keluarga, orang tua dan adik.

Orang tua saya tinggal Bapak. Semenjak Ibu pergi dulu bersamaNya, otomatis sumber pendapatan dari orang tua berkurang. Kedua orang tua saya pensiunan PNS. Menggantungkan dari gaji pensiunan yang tidak seberapa. Mereka merasa bertanggungjawab untuk adik bungsu yang masih kuliah.

Kami berempat dan saya yang paling tua alias sulung. Untuk adik bungsu, ini agak istimewa. Sudah kuliah 4 semester di Fakultas Hukum Universitas Veteran Surabaya eh keluar. Tidak kuat alasannya. Sekarang masuk ke Universitas Surabaya (UNESA) ambil Fakultas Ekonomi dan Bisnis menginjak semester 3.

Motor Honda CBR yang dibelikan oleh almarhum Ibu kecurian. Sementara saya suruh bawa Vespa. Motor hasil awal-awal saya bangun usaha di BOC. Alhamdulillah masih ada sampai sekarang. Sebelum Ibu almarhum dan setelah kehilangan motor, adik bungsu ini sempat linglung. Mungkin agak gila dan harus masuk RS Jiwa di Solo sana. Alasan nya karena tekanan kuliah di Universitas Veteran Surabaya. Tapi entahlah, plin plan kalau diajak omong. Ya maklum lah, lagi linglung.

Kebutuhan hidup Bapak dan adik bungsu tidak lah lengkap. Semenjak Ibu pergi, saya diminta untuk membantu perjalanan hidup Bapak dan adik bungsu. Bismillah Saya iyakan. Tanggungjawab dan secara agama Islam memang diharuskan semenjak Saya dan keluarga tidak bermasalah dengan makan dan kebutuhan pokok. Tak perlu saya sebutkan dalil nya disini. Bisa dicari di Google.

Masih cerita soal adik bungsu. Dia kembali ‘menggila’ semenjak liburan kuliah di Pacitan, tempat tinggal Bapak. Sempat nggak makan berhari-hari dan akhirnya berujung menginap di RS Harjono Ponorogo. Bapak pontang panting hutang tetangga dan saudara untuk biaya RS. Selepas dari RS tinggal di rumah adik nomor 2 di Mojokerto. Dengan penuh ketelatenan dan rasa naik turun, adik bungsu diasuh disana.

Kejadian itu bertepatan pula dengan kasus adik Saya nomor 1 yang terlilit hutang perusahaan tempat dia kerja.

Mas, kalau aku nggak bisa kembalikan uang perusahaan, aku akan dilaporkan ke polisi dan dipenjara,” curhat adik nomor 1. Saya berusaha bantu berkirim uang kepada nya walaupun tidak full melunasi hutang nya. Bapak ambil sikap dengan pertimbangan saya yaitu menjual sawah warisan almarhum kakek nenek. Oke Alhamdulillah akhirnya lunas dan dia bisa hidup tenang di Solo sana.

Mendengar cerita jual sawah, adik bungsu dalam ‘kegilaannya’ meminta dibelikan motor laki. Byuuuuh. Uang hasil jual sawah itu untuk melunasi hutang adik nomor 1 dan hutang ke tetangga. Akhirnya juga diambil sebagian untuk beli motor seken untuk adik bungsu. Akhirnya dapat Suzuki Thunder 125 cc.

Hutang ke saudara akhirnya terbengkalai. Saya diminta oleh Bapak dan ya akhirnya bisa lunas.

‘Kegilaannya’ berangsur normal. Tapi perjalanan belum usai. Adik bungsu nunggak 2 bulan belum bayar kost di Surabaya dan sudah terusir. Kemudian belum bayar SPP semester. Bapak berencana hutang bank dengan gadaikan sertifikat rumah Madiun. Byuh.

Saya pribadi alergi dengan hutang bank dan cukup trauma kapok hadapi hutang. Dengan bekal meminta doa sama Bapak, akhirnya kost itu bisa saya bayarkan. Begitupula patungan dengan Bapak untuk bayar SPP. Teryata Bapak habis jual kayu di Pacitan sana. It’s oke lah akhirnya selesai tantangan nya.

Dari sisi perusahaan, Juni dan Juli ada operational cost tambahan yaitu Tunjangan Hari Raya (THR). Untuk anak buah saya yang Buddha dan Islam. Tetap semangat, tetap bergerak, tetap move on, tanggungjawab dan Alhamdulillah bisa.

Dari sisi keluarga, ini saat nya tahun ajaran baru. SPP harus dibayar 2 bulan dan bayar buku dll yang besarannya 5x lipat SPP. Maklum karena sekolah swasta. Juga harus bayar-bayar cicilan rumah, air, listrik, internet, cicilan motor, dan cicilan bank. Anak kami 3 dan saya menanggung biaya anak ke 2 dan 3.

Alhamdulillah istri ambil peran untuk anak pertama yang harus bayar semesteran di Universitas Udayana. Dari hasil bisnis catering nya istri juga transfer berkirim ke Bapak saya. Mrinding! Alhamdulillah, terima kasih inilah partnership! Bukan ownership.

Meski istri sudah berbisnis apakah saya diam? Tidak. Ujud tanggungjawab haruslah tetap memberikan.

Alhamdulillah saya tenang. Yang saya yakini adalah Allah pasti memberikan petunjuk. Allah pasti memberikan kemudahan dan jalan keluar. Berbisnis itu tidak tahu masa depan. Apa yang terjadi di depan tergantung pikiran dan tindakan kita sebagai manusia. Nasib kehidupan itu tergantung manusia nya. Allah lah penentunya dengan takdir-takdirNya.

Kita cuma disuruh berprasangka baik sama Allah dan tetap berusaha. Meski terdiam pun harus berprasangka baik. Semoga saya dan keluarga selalu bisa berprasangka baik dan positive thinking. Begitupula yang baca ini. Amin YRA.

Coba kejadian diatas jika tidak ada prasangka baik, tidak ada pikiran baik dan tidak ada tindakan berniatkan kebaikan? Tidak move on. Bagaimana jika isinya marah-marah? Gugat sana gugat sini. Bagaimana jika isinya negative thinking? Bakal bubar. Adik bungsu tetap ‘gila’, adik bungsu putus kuliah, adik nomor 1 masuk penjara, kinerja perusahaan kacau balau, proses belajar anak-anak terganggu, listrik air internet diputus, dan debt collector gentayangan.

Meski harus sarapan pagi nasi kuning lima ribuan, malam makan telor dadar, mondar-mandir pakai motor pinjaman, yang penting tetap move on hidup berkarya dan berbagi 🙂

Aku tidak memperdulikan atas keadaan susah atau senangnya diriku. Karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya itu yang lebih baik bagiku menurut Allah.” (Sayyidina Umar Bin Khattab RA)

Ibu Nindi Kena Cacar

Lanjutan cerita dari blog Nindi, tentang istri saya yang akhirnya kena cacar. Salah satu momen berat di awal-awal kelahiran Nindi. Apa yang dikhawatirkan oleh Ajik dan Ibu pada malam hari setelah Nindi pulang dari dokter terjadi juga. Ibu kena cacar air! Besoknya, hari minggu sekitar jam 9 setelah Ajik pulang dari gotong royong, Ajik mengantar […]

Ngalu Untuk Nindi

Ini juga merupakan salah satu post di blog Nindi yang sayang untuk dibuang, saya salin kesini. Judul aslinya “Ngalu”. Langsung saja ya. Hari Jumat yang lalu, yaitu 4 hari setelah kelahiran Nindi, pungsed (tali pusar) Nindi sudah kepus (putus). Jadi seperti tradisi sebelumnya orang tua Nindi harus Ngalu. Ngalu artinya pergi ke orang pintar untuk […]