Tag Archives: keluarga

Pengen Liburan Akhir Tahun di Yogyakarta

Akhir tahun adalah momen yang paling bagus untuk liburan ke luar daerah, suasana liburan biasanya mengasikkan karena memasuki bulan Desember adalah menjelang pergantian tahun. Kami sudah beberapa kali liburan di bulan Desember, tapi selama ini masih di seputar Bali saja.

Pertama kali seingat saya kami liburan di Bedugul, menginap di Strawberry Hill. Waktu itu kami cuma bertiga yaitu Saya, Istri dan Nindi. Kami hanya menginap semalam dan mengisi waktu dengan jalan-jalan di sekitar Bedugul. Memang fokus kami waktu itu adalah menikmati suasana di hotel saja.

Selain itu kami juga dua kali menginap di Candidasa, Karangasem. Yang pertama hanya bertiga saja, kami menginap di Rama Candidasa. Sedangkan yang kedua kami menginap berlima yaitu kami bertiga ditambah adik ipar dan mertua saya. Keduanya dalam momen akhir tahun. Liburan akhir tahun lainnya kami juga sempat dua kali menginap di Ubud, yang pertama bukan hotel tapi sebuah villa. Kemudian yang kedua di sebuah hotel.

Selain itu kami juga beberapa kali menginap di hotel akan tetapi memang bukan dalam momen liburan akhir tahun, tapi sekedar mengisi kesempatan di sela-sela tugas dinas yaitu ketika saya atau istri dapat tugas dinas di Bali dengan menginap serta kebetulan dapat kamar sendiri, maka kami biasanya ajak anak-anak ikut menginap juga.

Kembali tentang liburan akhir tahun, kami sebenarnya punya rencana untuk menginap di Singaraja dulu, misalnya di Lovina. Selain itu kami ingin mencoba dulu lokasi-lokasi wisata di Bali, baru kemudian sesekali ingin ke luar Bali. Kami mendahulukan di Bali tentu saja karena budget di Bali lebih terjangkau karena kami hanya perlu biaya hotel saja, sedangkan transport bisa dengan kendaraan sendiri. Sedangkan di luar daerah, biaya transport cukup besar.

Nah, kalau ngomongin liburan di luar Bali, maka ada beberapa pilihan daerah yang saya bayangkan untuk dikunjungi. Yang pertama adalah Yogyakarta, kenapa Yogyakarta? Karena dalam benak saya Yogyakarta asik untuk dikunjungi selain Bali. Ada cukup banyak obyek wisata yang sepertinya menyenangkan untuk dikunjungi di Yogyakarta. Kalau jadi liburan ke Yogyakarta, kami tentunya ingin naik pesawat saja kesana, apalagi baru beberapa waktu lalu Yogyakarta meresmikan bandara baru. Untuk menginap kami inginnya di hotel atau villa. Kalau di hotel tentu saja cukup hotel bintang 3 saja. Kalau dengan sewa villa murah di jogja boleh juga karena mungkin bisa lebih praktis karena bersama keluarga. Oya, saya sendiri sudah pernah ke Yogyakarta sekali, waktu itu dalam tugas dinas, namun sayang belum sempat kemana-mana karena saya sakit.

Yang kedua, kami inginnya liburan ke Surabaya, kenapa Surabaya? Karena saya dan istri dulu sama-sama kuliah di Surabaya. Kami ingin mengajak anak-anak ke kota dimana dulu kami menempuh pendidikan. Kota dimana dulu masa yang cukup berat bagi kami khususnya saya karena itu pengalaman pertama kali merantau. Untuk obyek wisata memang mungkin tidak sebanyak tempat lainnya. Oya, sebenarnya Nindi dan Bramasta sudah pernah kami ajak ke Surabaya, tapi bukan liburan melainkan untuk menghadiri Wisuda adik ipar saya. Ya isi jalan-jalan juga sih. Untuk perjalanan, kami punya keinginan untuk mencoba naik mobil, pelan-pelan saja. Selain agar bisa lebih hemat, juga agar bisa sekaligus jalan-jalan ke Malang.

Yang ketiga, seperti saya sebutkan di atas, maunya jalan-jalan liburan di Malang. Saya sendiri pernah beberapa kali ke Malang, baik ketika kuliah di Surabaya maupun dalam tugas dinas, tapi belum pernah khusus liburan bersama keluarga.

Itulah rencana liburan saya, mudah-mudahan nanti bisa terealisasi. Untuk liburan ke luar negeri, misalnya ke Thailand, Malaysia dan lainnya, jujur saja saya belum terbayang, namun ide muncul juga dari istri saya, tapi ya sementara jadi pertimbangan saja dulu sambil menunggu Bramasta lebih besar.

Baca Juga:

Bramasta Disapih

Proses sapih (berhenti menyusu) Bramasta ternyata sangat jauh lebih mudah dari yang saya bayangkan. Saya teringat dulu waktu proses sapih kakaknya, Nindi, cukup sulit dan bahkan sempat gagal.

Waktu Nindi dulu, pertama kali mencoba, malam sebelum tidur Nindi nangis dan ngamuk minta susu ibunya. Kami sebenarnya sudah berusaha tenang dan siap, kami bahkan sudah mengisi dan mengoleskan daun samiroto di susu ibunya, lalu Nindi mencobanya dan tentu rasanya sangat pahit, gara-gara itu juga dia semakin menangis dan ngamuk. Yang pertama menyerah adalah nininya, ibu saya, karena tidak tega melihat cucunya menangis dan sedih. Malam itupun kami gagal dan istri saya membersihkan susunya dengan sabun untuk menghilangkan rasa pahit, lalu Nindi kembali menyusu.

Beberapa hari kemudian, kami memutuskan untuk menginap di rumah mertua dan fokus pada proses sapih Nindi. Nindi tentu nangis lagi, tapi kami lebih tenang dan mencoba memberinya air minum. Dengan sabar akhirnya malam itu Nindi berhasil kami tidurkan tanpa susu dan berlanjut di hari-hari selanjutnya.

Nah, berdasarkan pengalaman itu, kami membayangkan proses sapih Bramasta akan jauh lebih sulit, mengingat karakternya yang jauh lebih keras dari kakaknya. Bramasta kalau minta sesuatu dan tidak dia dapatkan, dia biasanya cenderung berontak dan teriak. Agak khawatir membayangkan bagaimana dia akan ngamuk kalau disapih. Tapi ternyata prosesnya cukup mudah, bahkan jauh lebih mudah dibanding kakaknya Nindi dulu.

Hari pertama kami coba menghentikan Bramasta menyusu ternyata langsung berhasil, dia hanya terlihat sedikit sedih saja, tapi langsung bisa tidur Begitu pula di hari-hari selanjutnya. Kami sempat tidak percaya kok bisa semudah itu. Ah, ternyata setiap anak memang sangat unik.

*btw, ini sebenarnya draft tulisan yang hampir setahun lalu, saat Bramasta berumur sekitar 2 tahun saat dia baru disapih.

Baca Juga:

Nindi Ikut Porjar Renang

Beberapa waktu yang lalu untuk pertama kalinya Nindi mengikuti Porjar khususnya di cabang renang. Keikutsertaan Nindi ini sebenarnya tidak kami rencanakan karena dulu pada awal mengikutkan Nindi les renang tujuan kami hanya sekedar agar Nindi bisa renang sehingga lebih leluasa kalau kebetulan ada kesempatan bermain di kolam renang. Selain itu kami juga yakin nanti saat SMP kemampuan renang akan diperlukan, jadi agar tidak malu nantinya.

Setelah sekitar setahun lebih ikut les renang, itupun tidak rutin, Nindi sepertinya sudah tidak cocok lagi di level pemula. Walau mungkin sebenarnya perkembangan Nindi tidak secepat anak-anak lainnya tapi untuk di level pemula dia sudah tidak cocok. Jadi pelatihnya menyarankan Nindi ikut di kelas intermediet, tetapi kami terkendala dengan waktu. Jadwal latihan kelas tersebut adalah hari Senin, Rabu, Jumat pukul 4 sore dan Sabtu, Minggu pukul 10 pagi, dimana setiap anak diharapkan latihan minimal 4 kali seminggu. Sedangkan Nindi dari Senin-Jumat sekolah siang sampai sore sehingga tidak memungkinkan ikut kelas tersebut. Memang sih latihan renang kelas tersebut sebenarnya ditujukan untuk persiapan lomba dan mencari prestasi di cabang renang.

Awal Januari kemarin atas saran pelatihnya, apakah Nindi tidak coba diikutkan Porjar dari sekolahnya. Setelah kami cari info di sekolahnya ternyata memang ada Porjar dan Nindi pun kami daftarkan, apalagi kebetulan ternyata dari sekolahnya sama sekali tidak ada atlet renang di tahun ini. Jadi Nindi satu-satunya peserta cabang renang di sekolahnya.

Nindi kemudian ikut seleksi di tingkat gugus bersama dengan 8 orang anak dari sekolah lainnya. Nindi ikut di nomor 50 meter gaya bebas dan nomor 50 meter gaya dada. Jadwal seleksinya agak mendadak kami terima sehingga Nindi tidak sempat banyak latihan di tempat les renangnya. Nindi bahkan belum bisa melompat. Prediksi pelatihnya, Nindi mungkin tidak akan lolos mengingat catatan waktunya masih jauh dari ideal, untuk gaya bebas 50 meter catatan waktu Nindi di tempat latihan adalah 1 menit 15 detik. Tapi tidak apalah, yang kami cari hanya pengalaman dan sekedar penggembira saja.

Saat seleksi kami cukup gugup mengingat ini pengalaman pertama dan persiapan yang sangat minim. Hasilnya Nindi tidak lolos di nomor 50 m bebas, catatan waktunya hanya 1 menit 14 detik, sedangkan dari 4 anak lainnya catatan waktu yang terbaik sekitar 37 detik, tentu jauh sekali. Sedangkan di nomor 50 m gaya dada, karena Nindi sendiri maka otomatis dia lolos. Wah, kami merasa cukup senang, Nindi juga sangat antusias walau sebenarnya dia lolos karena tidak ada lawan.

Seleksi selanjutnya adalah di tingkat kecamatan Kuta Utara. Kali ini Nindi sudah lebih siap karena sudah berlatih di club tempat lesnya. Nindi bahkan beberapa kali mendapat dispensasi di sekolah untuk ikut latihan, dia juga untuk pertama kalinya mendapat uang saku/konsumsi sebesar 9 x 5 ribu rupiah.

Skip, langsung saja ke tahap seleksi. Pelaksanaan seleksinya kini jauh lebih ramai dan lebih menegangkan. Ada sekitar 30 anak yang ikut di berbagai nomor, Nindi hanya ikut di nomor 50 m gaya dada. Pelatihnya Nindi pun ikut hadir karena ada juga beberapa anak dari clubnya yang ikut disini, termasuk salah satu temannya yang kelas 5 SD ikut di nomor 50 m dada. Hasilnya, kami cukup bangga karena target kami yang penting finish. Nindi akhirnya finish dengan waktu sekitar 1 menit 8 detik. Dari 5 anak yang terjun tahap pertama, Nindi finish nomor 4 dan tidak terlalu jauh ketinggalan, jadi kami cukup senang dengan hasilnya dan sesuai prediksi.

Selanjutnya, mungkin Nindi akan break dulu renang karena ternyata cukup banyak menyita waktu karena Nindi juga ada kegiatan lainnya seperti sekolah, les keyboard, les Kumon dan juga dance. Ke depan kami akan lihat situasi, harapan saya tahun depan Nindi bisa ikut Porjar lagi, sedangkan untuk lomba bersama club renangnya mungkin tidak usah dulu. Sekian.

Baca Juga:

Mengintip Matahari Terbit Lalu Mendaki Bromo

Ini cerita lanjutan tentang liburan akhir tahun lalu. Setelah sempat tertunda karena telanjur lupa atau pura-pura sibuk mengerjakan yang lain, mari lanjutkan lagi ceritanya. Kali ini tentang lokasi kedua, Bromo. Sebelumnya aku sudah dua kali ke Bromo. Pertama kali sendirian. Hanya jalan-jalan setelah ada acara di Bondowoso. Kedua kali sama Bunda dan dua teman lain Continue Reading

Habis Blusukan Lalu Ngopi di Jember

Kafe Kolong memberikan kejutan pada malam terakhir di Jember. Semula aku pikir tempat ini hanya serupa tempat nongkrong dengan banyak warung kopi. Serupa angkringan atau lesehan begitu. Namun, begitu tiba di sana, ternyata aku salah. Kafe Kolong melebihi apa yang aku bayangkan. Merujuk namanya, Kafe Kolong memang berada di kolong jembatan. Lokasinya di tengah kota. Continue Reading