Tag Archives: Kebesaran Allah

Tak kan Ke Luar Negeri Sebelum Injak kan Kaki di Tanah Suci

“Aku tidak akan ke luar negeri sebelum injakkan kaki di tanah suci dulu.” Itu prinsip saya menghadapi lambaian tiket-tiket murah ke luar negeri. Ataupun rayuan menggiurkan lainnya.

Allah SWT menjawab dengan beri rejeki dan kenikmatan melalui Mr. Fulan, dengan perkataan (bukan pertanyaan), “Mas Hendra, ijinkanlah saya berangkatkan Mas Umrah ke Tanah Suci.” Kalau tidak salah, bisikkan Mr. Fulan itu di bulan April 2018, sambil jalan kaki menuju masjid untuk sholat Dhuhur. Sebelumnya saya tidak punya firasat atau mimpi ajaib dapat permintaan seperti itu.

Kabar ini saya sampaikan ke istri, mertua dan kedua orang tua saya. Anak-anak dan adik-adik saya juga. Semua bilang, “Alhamdulillah diterima saja dan berangkat!” Ya Allah sungguh kenikmatan yang tidak bisa di nalar dengan logika! Terima kasih. Akhirnya saya ada alasan bisa buat passport! hehehe.

* Mengapa Saya?

Saya sempat tanya ke Mr. Fulan, mengapa saya? Ternyata beliau punya program tiap tahun harus berangkatkan orang-orang pilihan, menurut kriterianya. Mr. Fulan sendiri sudah Haji dan umroh.

Saya kenal dan sering komunikasi dengan Mr. Fulan ini sejak tahun 2003. Kami tahu sama lain. Mr. Fulan memilih saya dan biayai umrah saya karena kiprah saya di dunia sosial. MasyaAllah. Kenikmatan dari Allah itu tampak begitu besar sekali atas rejeki umrah ini.

Mr. Fulan sempat tanya saya untuk mencari satu teman lagi untuk menemani umrah. Sempat tanya soal istri, namun saya jawab dia sudah pernah umrah. Saya berusaha cari profil teman itu sesuai dengan kriteria yang sama ketika memilih saya. Kiprah kehidupan sosial nya juga tinggi. Hmm akhirnya 10 Oktober 2018 nama Mas Yayak Eka Cahyanto saya setor ke Mr. Fulan.

* Memakmurkan Sesama

Mr. Fulan awalnya akan gunakan travel umrah langganannya di Jakarta. Semenjak saya beritahu bahwa ada anggota TDA Bali berwirausaha travel umroh, maka beliau urungkan beli paket umrah di Jakarta. Mr. Fulan memilih Mas Sidik yang punya usaha travel umroh di Bali (Raphita Wisata Bali).

Lagi-lagi saya salut atas keputusan Mr. Fulan untuk menggunakan travel umroh milik teman sendiri. Memakmurkan sesama yang dekat katanya. Mrinding! Hari-hari selanjutnya berurusan dengan Mas Sidik. Mulai dari setor dokumen sudah suntik Meningitis, serahkan Passport, urus koper, seragam umroh, latihan manasik umroh, sampai diantar ke Jakarta! Ya, saya dan grup umroh harus berangkat dari Jakarta.

Mas Yayak yang tadinya mau berangkat bersama, ternyata saya yang tidak bisa. Waktu bentrok dengan jadwal workshop dan urusan bisnis. Sepertinya ada saja halangan. Akhirnya usulan berangkat 11 November 2018 saya tolak. Rupanya halangan ini ada maksudnya. Allah memanggil ibu saya untuk berpulang pada 15 November 2018. Ya Allah, bayangkan jika saya berangkat umrah?

* 4 Januari 2019 It’s show time!

Pasca ibu berpulang pada 15 November 2018 ke rumah Allah SWT, begitu banyak tantangan dalam menata hati. Semua jadi serba tidak enak. Namun saya harus berangkat umrah atau tawaran itu hangus. Banyak yang menyarankan umrah ini sekalian badal umrah bagi almarhum ibu. Ya, saya akan badal umrah kan ibu.

Saya bersama 23 orang jamaah lain nya berangkat ke Madinah melalui bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Tepat pukul 16.00 WITA hari Jumat 4 Januari 2019 terbang bersama Saudia, maskapai milik Saudi Arabia.

Untuk kesekian kalinya saya naik pesawat badan besar. Namun sayangnya selimut Saudia sangat terbatas. Tidak semua penumpang dapat. Termasuk saya yang kehabisan selimut. Jaket masuk bagasi. Nggak menyangka sih, Saudia bisa kehabisan selimut hehehe. Jadi jaket harus kalian bawa ke kabin ya.

Solusinya, diantara kedinginan itu, ventilasi AC saya tutup. Bantal tipis 30an cm saya jadikan benteng selimut. Perjalanan dari Jakarta membelah langit berlangsung 9 jam 25 menit sampai di Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz Madinah.

Waktu di Madinah lebih lambat 4 jam dari Jakarta. Rombongan kami sampai pada pukul 22.00 waktu Madinah. Proses imigrasi dan menunggu bagasi kemudian tiba di hotel pukul 23.30.

* Memburu Sholat di Raudhah dalam Masjid Nabawi

Saya sudah pegang jadwal Umrah dari pihak travel. Selama 4 hari di Madinah, hanya hari ke 3 saja jadwal nya tour bersama. Selebihnya adalah ibadah mandiri. Artinya, jamaah harus inisiatif beribadah sendiri. Inisiatif aktivitas mandiri. Terserah, mau diam di hotel, belanja, jalan-jalan atau fokus ibadah. Saya pilih mayoritas fokus ibadah.

Mas Sidik, pembimbing umroh saya bilang, “Mas, ketika di Madinah atau Mekkah, pikirkan bahwa ibadah adalah tanggungjawab pribadi. Fokus kepada aktivitas pribadi. Jangan tergantung atau menunggu teman. Kalau teman sekamar tidak mau diajak, Mas Hendra harus berangkat sendiri, fokus ibadah. Rugi jauh-jauh ke tanah suci kalau hanya di kamar hotel saja.”

Saya amini dan laksanakan! Setiba di hotel, saya cuma tidur 2 jam saja. Mandi, berpakaian dan pukul 02.30 waktu Madinah turun dari kamar. Teman-teman sekamar lainnya masih tidur dan berangkat belakangan. Saya sekamar berempat dan salah satunya adalah Ustad Abdul Aziz sang Muthawif (leader) umrah. Betapa beruntung nya saya! Nikmat rejeki dari Allah. Saya sering curhat sama beliau dan dapat pencerahan tentang Islam.

Berangkat dini hari untuk memburu sholat di Raudhah. Apa itu? Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Tempat yang di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) di antara taman-taman surga.” (HR. Bukhari).

Dahulu Raudhah terletak di luar halaman Masjid Nabawi, yaitu di antara rumah Rasulullah SAW dan mighrab atau mimbar di Masjid Nabawi. Kini setelah Masjid Nabawi diperluas, lokasi Raudhah terletak di dalam masjid, dengan ukurannya yang hanya 22 x 15 meter. Lokasi itulah yang menjadi taman surga yang tak pernah sepi oleh jamaah haji dan umroh.

Kawasan Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau muda yang sangat berbeda dengan warna karpet di ruangan lain di dalam masjid Nabawi. Sebab ruangan lain di dalam masjid Nabawi didominasi dengan karpet yang berwarna merah.

Raudhah selalu menjadi salah satu tempat yang diperebutkan oleh ribuan jamaah haji dan umroh. Lalu mengapa ribuan jamaah tersebut berebut untuk memasuki Raudhah? Rupanya, Raudhah yang bersebelahan dengan makam Rasulullah SAW di dalam kompleks Masjid Nabawi merupakan tempat yang sangat mustajab untuk berdoa. Dengan berdoa di Raudhah, maka doa pun niscaya akan dikabulkan oleh Allah.

Alhamdulillah saya 2 kali dalam 2 hari berbeda bisa bersholat dan bermunajat di Raudhah. Berusaha yang ke 3 kalinya ternyata tidak berhasil, diusir oleh Askar (Tentara Saudi Arabia). Mungkin waktunya tidak tepat yaitu mendekati Sholat Subuh. Bisa saya simpulkan, jika mau sholat di Raudhah, pilihlah waktu sebelum pukul 04.00 waktu Madinah. Berdesakan adalah resikonya. Harus sabar dan berjuang agar bisa sholat di sana.

Yang saya lakukan di Raudhah adalah sholat taubat, hajat dan tahajud. Setelah itu dzikir dan berdoa. Secukupnya dan saya pergi dari situ beri kesempatan jamaah lainnya. Saya sempat lihat ada yang berlama-lama dan baca Al-Qur’an di Raudhah. Itu hak mereka sih namun saya pribadi kurang sepakat. Jamaah dari seluruh dunia tentunya ingin sholat disitu.

Baca selanjutnya, bersambung di pages 2 – Mencari Arah ke Masjid Nabawi Madinah

Ibu Berpulang, Meninggalkan Dunia Ini

Le, kowe ndang mulih, yen ora mulih, kowe mengko getun! (Nak, kamu segera pulang, kalau tidak pulang, kamu nanti menyesal!)” Itu kalimat persuasif Bapak ketika mengabarkan Ibu masuk ICU (Intensive Care Unit) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ponorogo, Jawa Timur.

Ibu saya sudah hampir 2 tahun lakukan cuci darah (hemodialisis) karena gagal ginjal. Sebenarnya tidak hanya itu saja sakitnya. Ibu juga terkena sakit jantung dan pernah operasi pasang ring. Kemudian ada diabetes juga dalam dirinya.

3 bulan sebelum masuk ICU, Ibu alami patah kaki karena terpeleset di kamar mandi. Sehabis operasi sambung kaki, otomatis Ibu harus berkursi roda. Bapaklah dengan sabar menemani kegiatan Ibu selama berobat.

Kalimat Bapak itu indikasikan keadaan ibu semakin memburuk. Saya harus pulang, ambil tiket pesawat dan langsung cuzz menuju Surabaya. Mampir Mojokerto untuk pinjam mobil saudara dan ditemani istri tercinta nyetir ke Ponorogo.

Sesampai di RSUD, ibu sudah di ICU. Waktu besuk serba dibatasi. Namun Alhamdulillah bisa jumpa dengan ibu dan sesekali suapi makan. Tak banyak ucapan dari ibu selain sibuk betulkan masker oksigen nya yang kadang tidak pas di hidung.

Pagi itu di hari ketiga, saya sudah tengok ibu dan suapi 3 sendok sarapan pagi nya. Tidak mau nambah lagi meski saya paksa. Saya tinggalkan ibu dalam keadaan nafas yang berat meski ada masker oksigen dihidungnya. Gantian Bapak yang menjaga. Saya harus keluar beli sarapan pagi untuk Bapak dan Hendy adik saya. Sekalian beli pampers nya ibu yang stok nya menipis.

Setelah serahkan bungkusan sarapan, saya ingin mandi dan sekaligus jemput Yulia adek saya di kostan. Ya, Ibu dan Bapak saya harus kost di Ponorogo untuk kelancaran cuci darah seminggu dua kali.

Kenapa harus kost? Tidak pulang balik ke Pacitan setelah cuci darah? Jarak rumah Pacitan di pucuk pegunungan sana ke RS di Ponorogo cukup jauh. Sekali jalan gunakan mobil butuh waktu 2 jam dengan kondisi jalan pegunungan hampir 50% rusak, berlubang dan berbatu akibat aspal yang mengelupas. Entah apa saja urusan pemerintah seakan lupa dengan jalanan disana. Trus, waktu cuci darah adalah 4 jam!

Kondisi perjalanan dari rumah Pacitan ke Ponorogo pernah saya videokan, disini:

Sehabis cuci darah, biasanya ibu sempoyongan. Pusing, nggak enak makan dan ambruk di tempat tidur untuk beberapa jam. Cuci darah itu tidak hanya ambil racun dalam darah namun beberapa nutrisi penting tubuh juga ikut terbuang. Jadi hal tersebut diatas tak memungkinkan untuk pulang pergi.

Kembali ke cerita. Selama saya nyetir ke kostan, Bapak dan Hendy berkali-kali telpon suruh saya segera ke RSUD. Darurat katanya. Namun saya selalu bilang iya dan meneruskan mandi dan jemput Yulia.

Sesampainya di depan ruang ICU, saya dirangkul sama Bapak. Sesekali kilat mata saya memandang tempat tidur ibu di ICU yang kosong! Ibu telah tiada!

Ya Allah, sontak air mata dan tangisan tak bisa membohongi diri. Kami bertiga berpelukan terisak.

Ibu tega sekali meninggalkan saya tanpa bilang. Cerita Bapak, sebelum meninggal ibu hanya bilang, “Mas aku wis ora kuat (Mas, aku sudah tidak kuat lagi)”.

Tertatih sambil berangkulan kami berjalan menuju kamar jenazah di ujung belakang RSUD. Sesampainya disana, tidak ada orang. Saya dan Bapak masuk ruang pemandian jenazah. Diatas beton keramik terlihat sosok yang terbungkus kain putih tertutup lembaran kain batik (jarit). Perlahan saya jalan dan membuka ujung atasnya.

AllahuAkbaaaar! jerit saya lirih dan air mata itu keluar lagi. Ibu saya tertidur, menutup mata selama-lamanya. Saya cium kening nya. Tangan Bapak meraba pipi kiri kanan ibu sambil meratap.

Ketika petugas kamar jenazah datang untuk memandikan, kami memandikan ibu untuk terakhir kalinya. Memastikan agar semuanya bersih sebelum ibu di antar kembali pulang ke Pacitan dan raga ibu menyatu luruh ke bumi pertiwi.

Perlengkapan yang harus disiapkan selepas sholat jenazah adalah peti mati. Bersama staf RSUD dan mobil ambulan nya saya beli peti itu. Balik lagi ke RSUD, hampir satu jam proses beli peti saja. Terdiam saja diri ini selama itu.

Sirine mobil ambulan dinyalakan. Melaju kencang membelah jalanan Ponorogo Pacitan. Saya dibelakangnya bersama Yulia dan anaknya gunakan mobil terpisah. Bapak dan Hendy didepan bersama ambulan. Menyaksikan langsung ambulan terhuyung kiri dan kanan menapak jalanan rusak di pegunungan. Terbayang tubuhnya ibu dalam peti itu. Duh Gusti.

Perjalanan cepat berlalu diantara isak dan diamnya kami. Ibu disemayamkan diruang tamu rumah Pacitan. Saudara dan kerabat berdatangan. Tenda telah terpasang bersama kursi-kursinya. Beberapa diantara kami lakukan sholat jenazah.

Terjadi perdebatan antara keluarga dan Bapak tentang waktu pemakaman. Keluarga menghendaki ibu dimakamkan secepatnya karena orang-orang desa sudah menunggu di kuburan. Waktu mendekati sore dan biasanya akan datang hujan. Sedangkan Bapak kukuh menunggu kedatangan Dimas, adek saya paling bungsu yang masih dalam perjalanan dari Surabaya.

Pada waktu ibu masuk ICU, saya melarang Dimas untuk pulang ke Ponorogo. Saya pikir masuk RS adalah hal biasa yang sering ibu alami. Lagian Dimas seminggu sebelumnya sudah pulang. Jadi saya suruh konsentrasi kuliahnya. Namun, peristiwa ini sungguh diluar dugaan dan timbulkan rasa salah yang mendalam ke Dimas. Saya lantas minta maaf setelah Dimas datang.

Jarak rumah dan tempat peristirahatan terakhir sekitar 1 km. Kami, saudara, kerabat, dan warga PSHT Pacitan berjalan mengusung jasad ibu. Prosesi penguburan ibu lancar tanpa hujan. Begitupun hari-hari sampai 7 harinya ibu, lancar tanpa hujan. Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah, Engkau berikan kemudahan dalam segala urusan melepas kepergian ibu kepangkuanMu.

Saya menulis cerita ini pas 100 harinya ibu. Meninggalnya ibu pada 15 November 2018 lalu, pagi hari kisaran jam 9 di usia 64 tahun.

Masa selepas ibu pergi, begitu berat bagi saya. Termasuk hilang nya selera untuk menulis. Hilang pula selera untuk aktif di media sosial. Hari-hari berjalan dengan segala ratapan dan penyesalan. Saya berusaha untuk hilangkan hal tersebut dan segera bangkit. Namun ternyata saya masih manusia. Punya rasa sedih.

Saya meyakini ibu baca tulisan ini. “Bu, mohon maaf atas segala pembangkangan saya. Mohon maaf atas kesedihan yang timbul atas ulah anakmu ini. Mohon maaf belum bisa maksimal memakmurkanmu. Mohon maaf belum bisa selalu menemanimu di hari-hari tua dan sakitmu. Mohon maaf atas segala keegoisan anakmu ini. Namun Bu, mohon bilang sama Allah SWT, agar senantiasa berikan anakmu ini keselamatan, rejeki yang berlimpah dan kebahagiaan. Agar anakmu ini punya energi lebih untuk mencetak kebaikan-kebaikan yang akan menjadi ladang amalmu. Mohon bilang sama Allah SWT, agar anakmu ini bisa menjaga dan memakmurkan Bapak, Mertua, istri, anak-anak, saudara-saudara dan manusia-manusia yang membutuhkan.”

Ya Allah, mohon mengabulkan omongan ibu saya ya. Itu juga doa saya Ya Allah. Dan juga mohon ampunan atas segala kesalahan dan dosa ibu saya. Mohon menempatkan ibu saya di surga Mu. Amin YRA.

Bagi yang membaca ini dan mengenal ibu dan terlibat utang piutang, mohon menghubungi saya ya. Mohon juga memaafkan segala khilaf dan salah ibu saya.

Saya menuliskan peristiwa ini agar sewaktu-waktu jika kangen melanda, bisa berkunjung kesini untuk membahagiakan rasa kangen itu.

Sampai jumpa lagi Ibu …

Oktober 40 Tahun Berjalan

Ya Allah, ijinkanlah saya berbicara kepadaMu melalui tulisan ini perihal angka 40. Empat puluh adalah jumlah tahun yang telah saya lalui dan Ya Rabb masih berikan kesempatan untuk hidup di dunia ini.

Tidak ada tradisi di keluarga saya merayakan pengurangan umur ini. Dari lahir hingga sekarang, tanpa ada ucapan, “Selamat Ulang Tahun Nak”. Saya tidak dalam rangka protes ya Ya Allah. Cuma ekspresikan diri bahwa prosesi ulang tahun bukanlah prioritas dalam keluarga kami.

Mungkin jadi BaPer lantaran saya kadangkala melihat semaraknya prosesi ulang tahun. Khusus nya dalam melewati umur 40. Bagi mereka mungkin prioritas. Penting sekali. Namun bagi saya, hmmm saya menulis saja ya, berusaha berkomunikasi denganMu Ya Rabb.

Sebelum menulis ini Ya Rabb, tadi Engkau pasti sudah tahu saya berusaha memberikan arti pergantian usia ini dengan sholat taubat dan hajat. Memohon ampun padaMu dan berusaha menyandarkan hidup ini bersamaMu Ya Rabb.

Ya Rabb, orang yang pintar agama mengatakan bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua Engkau yang atur. Maka saya berusaha menggali ke belakang, melihat tingkah polah saya melalui photo-photo di handphone selama Oktober ini.

Ijinkanlah saya menggali petunjuk-petunjukMu Ya Rabb, melalui gambar-gambar yang tercipta beberapa waktu di awal tanggal bulan Oktober hingga komunikasi ini tercipta.

3 Oktober 2018. Photo diatas ketika saya bertemu dengan teman-teman kuliah di Universitas Udayana angkatan 96. Searah jarum jam: Saat, Teknik Sipil (OVO Fintech), Amik, Antropologi (Asuransi Bintang), Budi, D4 Pariwisata (Magento e-commerce Specialist), dan Hendra, Program Studi Teknologi Pertanian (Web Server Provider).

Masing-masing berprofesi tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Saya artikan petunjukMu adalah Engkau menjamin rejeki makhlukMu Ya Rabb. Engkau Maha Kaya Ya Rabb! Terima kasih telah memberikan jaminan pada saya dan semua makhlukMu di jagat raya ini. Mohon maaf jika saya kadangkala suka mengeluh atas keadaan hidup ini. Saya menolak kalah Ya Rabb! Saya berlindung kepadaMu dari rasa takut dan rasa kawatir.

4 Oktober 2018 siang. Photo diatas ketika saya diundang oleh SMKN 1 Kademangan, Blitar – Jawa Timur untuk bicara tentang sejarah BOC, profil bisnis BOC dan beri wawasan soal dunia IT didepan siswa dan guru. Mereka adalah beberapa ratus dari ribuan generasi muda siswa dan mahasiswa yang telah datang ke BOC Indonesia untuk kunjungan industri (studi ekskursi).

Disini saya berusaha meyakinkan diri bahwa Engkau berikan BOC dan belok kan saya ke dunia IT untuk memberikan inspirasi dan memotivasi generasi muda. Saya meyakini Engkau berikan kesempatan ini untuk mencetak kebaikan dunia. Terima kasih Ya Rabb atas kesempatan nya. Mohon jauhkanlah saya dari sikap berlebihan Ya Rabb. Mohon tuntunanMu Ya Rabb agar kami di BOC selalu menjadi manfaat bagi generasi bangsa. Mohon ampun atas segala salah ucap dan khilaf saya selama melayani mereka.

4 Oktober 2018 malam. Photo diatas ketika saya diundang untuk berbicara tentang Social Media Marketing di Kopdar Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD Bali. Kadangkala saya masih gagal faham Ya Rabb, kenapa sebagian orang mengundang saya untuk bicara hal yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan semasa kuliah. Sayapun berusaha keras menghibur diri mungkin ini akibat konsistensi saya selama 15 tahun di dunia digital marketing bersama BOC Indonesia. Engkau berikan perjalanan bersama team-team BOC yang hebat dibidangnya. Terima kasih team! Without you and Allah, i’m nothing!

5 Oktober 2018. Photo diatas ketika saya melepas 2 mahasiswa Politeknik Negeri Bali yang telah usai kerja praktek di BOC selama 3 bulan. Nama mereka I Wayan Gde Wiranatha dan Putu Yuda Pradnyana. Tak terasa mereka adalah mahasiswa ke 72 dan 73 penerima sertifikat magang di BOC.

Ada satu peristiwa yang membekas di memori saya tentang siswa dan mahasiswa magang ini Ya Rabb. Saya pernah menerima 2 kali magang dalam waktu berbeda 4 siswa dari SMK Telkom Sandhy Putra Malang yaitu Yudan dan Bravian serta Deby dan Rizha. Sedangkan saya dulu selepas SMP pernah mendaftar di SMK Telkom (dulu STM) itu dan ditolak, tidak lolos ujian masuk nya. Rasanya gimana gitu Ya Rabb hehehe. Fyuh, apa ini maksudnya Ya Rabb? Saya belum menemukan jawaban nya. Hanya berucap syukur Alhamdulillah saya dan unit bisnis BOC jadi manfaat. Sekali lagi terima kasih Ya Rabb! Engkau Maha Melankolis hehehe.

5 Oktober 2018 malam. Photo diatas ketika saya dan istri kedatangan tamu tak diundang bernama kucing. Si anak kucing ini obrak-abrik makanan nya Landak, hewan piaraan nya putri kami. Kondisinya mengenaskan. Kedua kuping nya borokan. Jijik kalau melihat nya. Makan lahap seperti tidak pernah dikasih makan. Oleh istri, inisiatif dibawa ke dokter hewan. Menginap selama 1 minggu. Photo itu ketika si anak kucing telah sembuh dari kuping yang borokan, cacingan dan kelaparan. Ternyata jenis kucing Persia.

Menjadi BaPer ketika kucing itu sampai rumah dan saya bingung diberi makan apa? tidur dimana? ngengek nya gimana? wuah akhirnya rogoh kocek tidak sedikit untuk belikan makanan, vitamin, bayar dokter hewan, dan beli pasir. Ketika kucing itu saya beri nama Dargombes, eh kena protes keras karena artinya jelek hahaha. Padahal kepikiran saya itu nama pelawak Jawa Timur hehehe. Apa maksudnya Ya Rabb? Apakah ini titipan? Bismillah mohon berikan saya dan istri kekuatan untuk pelihara makhlukMu 🙂

6 Oktober 2018. Photo diatas ketika saya bersama kakak sepupu, Mas Joko namanya, selepas makan siang di restoran nya hotel Jayakarta, Legian – Bali. Kejadian sebelumnya adalah hiruk pikuk pesankan kamar hotel untuk Via Vallen. Itu lho artis dangdut kekinian yang kemarin didatangkan oleh Pemerintah Kabupaten Badung untuk rayakan hari jadi Mangupura. Kawasan perkantoran PEMKAB Badung yang ditasbihkan jadi ibukota Kabupaten Badung – Bali.

Kakak nya Mas Joko yang juga kakak sepupu saya bernama Mas Oji dan istrinya Mbak Gita sedang bangun bisnis manajemen artis. Bisnis yang menurut saya bisa diawali dengan modal Dengkul, Otak dan Tuhan. Persis sama seperti cerita nya BOC hehehe. Manajemen artis yang bernama DF Management ini salah satunya mengandalkan website untuk marketing nya. Tinggal membuat profil artis-artis nya, buatkan website, tarung di SEO nya, memastikan top 10 di Google, berpotensi dapat order deh. Pola ini yang saya lakukan untuk bisnis saya sendiri dan bisnis nya istri di Catering Kita. Kelak keilmuan SEO ini saya bagikan disetiap kesempatan bersama saudara, teman, pelanggan dan alumni DONGKRAK.

Artinya apa ini Ya Rabb? Saya hanya bisa berharap ilmu dan pengalaman saya ini bisa bermanfaat bagi sesama. Saya ingin memakmurkan diri dengan memakmurkan sesama. Mohon mudahkanlah jalan saya Ya Rabb. Mohon menjauhkan diri dari marabahaya.

7 Oktober 2018. Hari minggu saya membersamai peserta kelas Google Gapura Digital Bali. Membawakan topik Tips Website Efektif, salah satu dari 6 modul kelas digital besutan Google Indonesia. Tak terasa saya bersama puluhan trainer Google di Bali sudah 2 tahun saling mengisi kelas gratis Go Digital. Tujuan nya agar UKM Indonesia Go Digital. Ya, kelas Google Gapura Digital ini sudah tersebar di 12 kota di seluruh Indonesia. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari kegiatan hebat ini.

Berkat kelas ini, saya mendapatkan kepercayaan mewakili trainer Bali untuk 2 kali mendatangi kantor nya Google Indonesia di Jakarta sana. Terima kasih untuk seluruh trainer dan project officer Bali. Tak lupa bersyukur dan terima kasih kepadaMu Ya Rabb. Mohon memberikan saya kekuatan untuk bisa berkarya dan berkontribusi melalui Gapura Digital ini.

8 Oktober 2018. Mendapatkan undangan dari guru bisnis saya, Pak Eko Yulianto di villa nya, Cabana Jimbaran. Pak Eko mempertemukan kami dengan rombongan Gus Fahmi, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Salah satu Pondok Pesantren terbesar di Jawa Timur.

Kami? Ya, para kuli akhirat kata Pak Eko, yang tergabung dalam Pesantren Digital Indonesia. Sebuah gerakan yang bermisi mencetak wirausahawan muslim yang kuat aqidah dan ekonominya sehingga berguna bagi agama, orang tua, keluarga dan bangsa Indonesia.

Ada apa dalam pertemuan itu? Nurul Jadid akan membuat sebuah kolaborasi yang bertujuan meningkatkan nilai-nilai pondok pesantren nya. Rencananya pihak Nurul Jadid akan berkolaborasi dengan Pesantren Digital Indonesia yang saat ini dikomando oleh Mas Yana Sandhi. Semoga ini menjadi ladang amal kami. Mohon Ya Rabb, berikan kemudahan dan kelancaran.

10 Oktober 2018. Berlangsung di kantor guru bisnis kami, Pak Eko Yulianto, berlangsung rapat investor PT. KolaboraAksi Impian Menjuara (PT. KIM). Kami? Ya, investor yang juga anggota TDA Bali berupaya membuat kolaborasi berbentuk badan usaha yang bertujuan menjadi role model bisnis yang memakmurkan sesama. Badan usaha ini nantinya juga sebagai tempat kami belajar berbisnis dalam skala enterprise. Mohon mudahkanlah jalan kami Ya Rabb!

Tampak di photo, beberapa dari kami mau sholat ashar. Menjadi gambar dokumentasi karena ada hal lucu disana. Salah satu dari kami (Kang Fajar) gunakan bawahan nya mukena untuk menutupi jeans nya yang robek hehehe. Caption gambar itu yang ngeri-ngeri sedap, “Sudah jaman akhir?” Asli mrinding!

Ketika membuat tulisan ini Ya Rabb, sesekali saya Googling. Eh Google berikan ucapan pada saya hehehe. Thanks Mbah!

Ya Rabb, lagi asik buat tulisan ini Engkau berikan gempa di tempat saya, Denpasar. Sudah ada bencana di Lombok dan Palu. Mohon berikan kekuatan kepada kami Ya Rabb, atas segala ketetapanMu. Mohon perlindunganMu Ya Rabb. Mohon memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa berbuat manfaat bagi istri, anak, orang tua, saudara, anak buah, sahabat dan generasi bangsa ini. Terima kasih atas 40 ini Ya Rabb.

Oktober 40 Tahun Berjalan

Ya Allah, ijinkanlah saya berbicara kepadaMu melalui tulisan ini perihal angka 40. Empat puluh adalah jumlah tahun yang telah saya lalui dan Ya Rabb masih berikan kesempatan untuk hidup di dunia ini.

Tidak ada tradisi di keluarga saya merayakan pengurangan umur ini. Dari lahir hingga sekarang, tanpa ada ucapan, “Selamat Ulang Tahun Nak”. Saya tidak dalam rangka protes ya Ya Allah. Cuma ekspresikan diri bahwa prosesi ulang tahun bukanlah prioritas dalam keluarga kami.

Mungkin jadi BaPer lantaran saya kadangkala melihat semaraknya prosesi ulang tahun. Khusus nya dalam melewati umur 40. Bagi mereka mungkin prioritas. Penting sekali. Namun bagi saya, hmmm saya menulis saja ya, berusaha berkomunikasi denganMu Ya Rabb.

Sebelum menulis ini Ya Rabb, tadi Engkau pasti sudah tahu saya berusaha memberikan arti pergantian usia ini dengan sholat taubat dan hajat. Memohon ampun padaMu dan berusaha menyandarkan hidup ini bersamaMu Ya Rabb.

Ya Rabb, orang yang pintar agama mengatakan bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua Engkau yang atur. Maka saya berusaha menggali ke belakang, melihat tingkah polah saya melalui photo-photo di handphone selama Oktober ini.

Ijinkanlah saya menggali petunjuk-petunjukMu Ya Rabb, melalui gambar-gambar yang tercipta beberapa waktu di awal tanggal bulan Oktober hingga komunikasi ini tercipta.

3 Oktober 2018. Photo diatas ketika saya bertemu dengan teman-teman kuliah di Universitas Udayana angkatan 96. Searah jarum jam: Saat, Teknik Sipil (OVO Fintech), Amik, Antropologi (Asuransi Bintang), Budi, D4 Pariwisata (Magento e-commerce Specialist), dan Hendra, Program Studi Teknologi Pertanian (Web Server Provider).

Masing-masing berprofesi tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Saya artikan petunjukMu adalah Engkau menjamin rejeki makhlukMu Ya Rabb. Engkau Maha Kaya Ya Rabb! Terima kasih telah memberikan jaminan pada saya dan semua makhlukMu di jagat raya ini. Mohon maaf jika saya kadangkala suka mengeluh atas keadaan hidup ini. Saya menolak kalah Ya Rabb! Saya berlindung kepadaMu dari rasa takut dan rasa kawatir.

4 Oktober 2018 siang. Photo diatas ketika saya diundang oleh SMKN 1 Kademangan, Blitar – Jawa Timur untuk bicara tentang sejarah BOC, profil bisnis BOC dan beri wawasan soal dunia IT didepan siswa dan guru. Mereka adalah beberapa ratus dari ribuan generasi muda siswa dan mahasiswa yang telah datang ke BOC Indonesia untuk kunjungan industri (studi ekskursi).

Disini saya berusaha meyakinkan diri bahwa Engkau berikan BOC dan belok kan saya ke dunia IT untuk memberikan inspirasi dan memotivasi generasi muda. Saya meyakini Engkau berikan kesempatan ini untuk mencetak kebaikan dunia. Terima kasih Ya Rabb atas kesempatan nya. Mohon jauhkanlah saya dari sikap berlebihan Ya Rabb. Mohon tuntunanMu Ya Rabb agar kami di BOC selalu menjadi manfaat bagi generasi bangsa. Mohon ampun atas segala salah ucap dan khilaf saya selama melayani mereka.

4 Oktober 2018 malam. Photo diatas ketika saya diundang untuk berbicara tentang Social Media Marketing di Kopdar Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD Bali. Kadangkala saya masih gagal faham Ya Rabb, kenapa sebagian orang mengundang saya untuk bicara hal yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan semasa kuliah. Sayapun berusaha keras menghibur diri mungkin ini akibat konsistensi saya selama 15 tahun di dunia digital marketing bersama BOC Indonesia. Engkau berikan perjalanan bersama team-team BOC yang hebat dibidangnya. Terima kasih team! Without you and Allah, i’m nothing!

5 Oktober 2018. Photo diatas ketika saya melepas 2 mahasiswa Politeknik Negeri Bali yang telah usai kerja praktek di BOC selama 3 bulan. Nama mereka I Wayan Gde Wiranatha dan Putu Yuda Pradnyana. Tak terasa mereka adalah mahasiswa ke 72 dan 73 penerima sertifikat magang di BOC.

Ada satu peristiwa yang membekas di memori saya tentang siswa dan mahasiswa magang ini Ya Rabb. Saya pernah menerima 2 kali magang dalam waktu berbeda 4 siswa dari SMK Telkom Sandhy Putra Malang yaitu Yudan dan Bravian serta Deby dan Rizha. Sedangkan saya dulu selepas SMP pernah mendaftar di SMK Telkom (dulu STM) itu dan ditolak, tidak lolos ujian masuk nya. Rasanya gimana gitu Ya Rabb hehehe. Fyuh, apa ini maksudnya Ya Rabb? Saya belum menemukan jawaban nya. Hanya berucap syukur Alhamdulillah saya dan unit bisnis BOC jadi manfaat. Sekali lagi terima kasih Ya Rabb! Engkau Maha Melankolis hehehe.

5 Oktober 2018 malam. Photo diatas ketika saya dan istri kedatangan tamu tak diundang bernama kucing. Si anak kucing ini obrak-abrik makanan nya Landak, hewan piaraan nya putri kami. Kondisinya mengenaskan. Kedua kuping nya borokan. Jijik kalau melihat nya. Makan lahap seperti tidak pernah dikasih makan. Oleh istri, inisiatif dibawa ke dokter hewan. Menginap selama 1 minggu. Photo itu ketika si anak kucing telah sembuh dari kuping yang borokan, cacingan dan kelaparan. Ternyata jenis kucing Persia.

Menjadi BaPer ketika kucing itu sampai rumah dan saya bingung diberi makan apa? tidur dimana? ngengek nya gimana? wuah akhirnya rogoh kocek tidak sedikit untuk belikan makanan, vitamin, bayar dokter hewan, dan beli pasir. Ketika kucing itu saya beri nama Dargombes, eh kena protes keras karena artinya jelek hahaha. Padahal kepikiran saya itu nama pelawak Jawa Timur hehehe. Apa maksudnya Ya Rabb? Apakah ini titipan? Bismillah mohon berikan saya dan istri kekuatan untuk pelihara makhlukMu 🙂

6 Oktober 2018. Photo diatas ketika saya bersama kakak sepupu, Mas Joko namanya, selepas makan siang di restoran nya hotel Jayakarta, Legian – Bali. Kejadian sebelumnya adalah hiruk pikuk pesankan kamar hotel untuk Via Vallen. Itu lho artis dangdut kekinian yang kemarin didatangkan oleh Pemerintah Kabupaten Badung untuk rayakan hari jadi Mangupura. Kawasan perkantoran PEMKAB Badung yang ditasbihkan jadi ibukota Kabupaten Badung – Bali.

Kakak nya Mas Joko yang juga kakak sepupu saya bernama Mas Oji dan istrinya Mbak Gita sedang bangun bisnis manajemen artis. Bisnis yang menurut saya bisa diawali dengan modal Dengkul, Otak dan Tuhan. Persis sama seperti cerita nya BOC hehehe. Manajemen artis yang bernama DF Management ini salah satunya mengandalkan website untuk marketing nya. Tinggal membuat profil artis-artis nya, buatkan website, tarung di SEO nya, memastikan top 10 di Google, berpotensi dapat order deh. Pola ini yang saya lakukan untuk bisnis saya sendiri dan bisnis nya istri di Catering Kita. Kelak keilmuan SEO ini saya bagikan disetiap kesempatan bersama saudara, teman, pelanggan dan alumni DONGKRAK.

Artinya apa ini Ya Rabb? Saya hanya bisa berharap ilmu dan pengalaman saya ini bisa bermanfaat bagi sesama. Saya ingin memakmurkan diri dengan memakmurkan sesama. Mohon mudahkanlah jalan saya Ya Rabb. Mohon menjauhkan diri dari marabahaya.

7 Oktober 2018. Hari minggu saya membersamai peserta kelas Google Gapura Digital Bali. Membawakan topik Tips Website Efektif, salah satu dari 6 modul kelas digital besutan Google Indonesia. Tak terasa saya bersama puluhan trainer Google di Bali sudah 2 tahun saling mengisi kelas gratis Go Digital. Tujuan nya agar UKM Indonesia Go Digital. Ya, kelas Google Gapura Digital ini sudah tersebar di 12 kota di seluruh Indonesia. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari kegiatan hebat ini.

Berkat kelas ini, saya mendapatkan kepercayaan mewakili trainer Bali untuk 2 kali mendatangi kantor nya Google Indonesia di Jakarta sana. Terima kasih untuk seluruh trainer dan project officer Bali. Tak lupa bersyukur dan terima kasih kepadaMu Ya Rabb. Mohon memberikan saya kekuatan untuk bisa berkarya dan berkontribusi melalui Gapura Digital ini.

8 Oktober 2018. Mendapatkan undangan dari guru bisnis saya, Pak Eko Yulianto di villa nya, Cabana Jimbaran. Pak Eko mempertemukan kami dengan rombongan Gus Fahmi, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Salah satu Pondok Pesantren terbesar di Jawa Timur.

Kami? Ya, para kuli akhirat kata Pak Eko, yang tergabung dalam Pesantren Digital Indonesia. Sebuah gerakan yang bermisi mencetak wirausahawan muslim yang kuat aqidah dan ekonominya sehingga berguna bagi agama, orang tua, keluarga dan bangsa Indonesia.

Ada apa dalam pertemuan itu? Nurul Jadid akan membuat sebuah kolaborasi yang bertujuan meningkatkan nilai-nilai pondok pesantren nya. Rencananya pihak Nurul Jadid akan berkolaborasi dengan Pesantren Digital Indonesia yang saat ini dikomando oleh Mas Yana Sandhi. Semoga ini menjadi ladang amal kami. Mohon Ya Rabb, berikan kemudahan dan kelancaran.

10 Oktober 2018. Berlangsung di kantor guru bisnis kami, Pak Eko Yulianto, berlangsung rapat investor PT. KolaboraAksi Impian Menjuara (PT. KIM). Kami? Ya, investor yang juga anggota TDA Bali berupaya membuat kolaborasi berbentuk badan usaha yang bertujuan menjadi role model bisnis yang memakmurkan sesama. Badan usaha ini nantinya juga sebagai tempat kami belajar berbisnis dalam skala enterprise. Mohon mudahkanlah jalan kami Ya Rabb!

Tampak di photo, beberapa dari kami mau sholat ashar. Menjadi gambar dokumentasi karena ada hal lucu disana. Salah satu dari kami (Kang Fajar) gunakan bawahan nya mukena untuk menutupi jeans nya yang robek hehehe. Caption gambar itu yang ngeri-ngeri sedap, “Sudah jaman akhir?” Asli mrinding!

Ketika membuat tulisan ini Ya Rabb, sesekali saya Googling. Eh Google berikan ucapan pada saya hehehe. Thanks Mbah!

Ya Rabb, lagi asik buat tulisan ini Engkau berikan gempa di tempat saya, Denpasar. Sudah ada bencana di Lombok dan Palu. Mohon berikan kekuatan kepada kami Ya Rabb, atas segala ketetapanMu. Mohon perlindunganMu Ya Rabb. Mohon memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa berbuat manfaat bagi istri, anak, orang tua, saudara, anak buah, sahabat dan generasi bangsa ini. Terima kasih atas 40 ini Ya Rabb.

Team Menjuara

Perkenalkan, inilah team saya di BOC Indonesia. Nama-namanya tertera di gambar. Ada yang bertugas sebagai web administrator, web designer, web programmer, account officer, accounting, sales marketing dan ibu rumah tangga.

Team BOC

Team kecil yang berjiwa besar. Ya, menjadi garda depan dalam menerima keperdulian dari pelanggan dan calon. Apa itu? Pelanggan dan calon hanya perduli dengan masalah nya hahahaha. Mereka akan kontak jika dirinya punya masalah.

Kadangkala calon pelanggan curhat punya masalah di provider lain. Kami pun berusaha beri solusi nya. Kadangkala, pelanggan curhat belum tahu setting ini dan itu, kami pun berusaha beri solusi. Bila pelanggan tidak bisa datang ke kantor BOC, maka kami akan remote jarak jauh di seluruh dunia agar permasalahan nya pelanggan klir.

Bila main ke kantor BOC, isinya cuma meja, kursi, laptop, internet dan musik. Saya ada stereo di kantor dan kalau tanpa musik, bisa kacau hati ini hahaha. Selalu stay tune di radio kesayangan. Apa tuh? Ada deh …

Jika ada teman yang main ke kantor, syukur-syukur pas jam kerja akan ditanya sama Bu Kadek, “Mau kopi, teh atau air mineral bli?“. Hehehe. Yes, silakan main ke kantor. Rasakan hispeed internet, mau duduk di kursi atau lesehan tinggal pilih. Buat sendiri kopi, teh.

Terkadang ada yang tanya, entah itu pelanggan, teman ataupun para mahasiswa kunjungan, “Lho dimana letak komputer server nya?“. Kami bilang komputer itu kami letak kan di sebuah datacenter lokasi nya di Jakarta, Singapore dan USA. Kami disini bisa remote jarak jauh instal jalankan dan managemen program website di komputer itu. Bahkan bisa restart.

Team kecil kami bertanggungjawab memastikan uptime website dan produk turunannya seperti email, database, dll. Pelanggan dari seluruh Indonesia tentunya sangat berharap bahwa uptime tersebut akan menunjang kelancaran bisnis dan aktivitas profesional lainnya.

Semoga kami selalu berjiwa besar dan diberikan perlindungan dari Tuhan YME. Amin.