Tag Archives: Kebesaran Allah

Nasib Itu Ditangan Manusia

Bulan Juni dan Juli 2019 penuh tantangan! Khusus nya dalam hal keuangan. Ada 4 pos yang harus dihadapi yaitu perusahaan, keluarga, orang tua dan adik.

Orang tua saya tinggal Bapak. Semenjak Ibu pergi dulu bersamaNya, otomatis sumber pendapatan dari orang tua berkurang. Kedua orang tua saya pensiunan PNS. Menggantungkan dari gaji pensiunan yang tidak seberapa. Mereka merasa bertanggungjawab untuk adik bungsu yang masih kuliah.

Kami berempat dan saya yang paling tua alias sulung. Untuk adik bungsu, ini agak istimewa. Sudah kuliah 4 semester di Fakultas Hukum Universitas Veteran Surabaya eh keluar. Tidak kuat alasannya. Sekarang masuk ke Universitas Surabaya (UNESA) ambil Fakultas Ekonomi dan Bisnis menginjak semester 3.

Motor Honda CBR yang dibelikan oleh almarhum Ibu kecurian. Sementara saya suruh bawa Vespa. Motor hasil awal-awal saya bangun usaha di BOC. Alhamdulillah masih ada sampai sekarang. Sebelum Ibu almarhum dan setelah kehilangan motor, adik bungsu ini sempat linglung. Mungkin agak gila dan harus masuk RS Jiwa di Solo sana. Alasan nya karena tekanan kuliah di Universitas Veteran Surabaya. Tapi entahlah, plin plan kalau diajak omong. Ya maklum lah, lagi linglung.

Kebutuhan hidup Bapak dan adik bungsu tidak lah lengkap. Semenjak Ibu pergi, saya diminta untuk membantu perjalanan hidup Bapak dan adik bungsu. Bismillah Saya iyakan. Tanggungjawab dan secara agama Islam memang diharuskan semenjak Saya dan keluarga tidak bermasalah dengan makan dan kebutuhan pokok. Tak perlu saya sebutkan dalil nya disini. Bisa dicari di Google.

Masih cerita soal adik bungsu. Dia kembali ‘menggila’ semenjak liburan kuliah di Pacitan, tempat tinggal Bapak. Sempat nggak makan berhari-hari dan akhirnya berujung menginap di RS Harjono Ponorogo. Bapak pontang panting hutang tetangga dan saudara untuk biaya RS. Selepas dari RS tinggal di rumah adik nomor 2 di Mojokerto. Dengan penuh ketelatenan dan rasa naik turun, adik bungsu diasuh disana.

Kejadian itu bertepatan pula dengan kasus adik Saya nomor 1 yang terlilit hutang perusahaan tempat dia kerja.

Mas, kalau aku nggak bisa kembalikan uang perusahaan, aku akan dilaporkan ke polisi dan dipenjara,” curhat adik nomor 1. Saya berusaha bantu berkirim uang kepada nya walaupun tidak full melunasi hutang nya. Bapak ambil sikap dengan pertimbangan saya yaitu menjual sawah warisan almarhum kakek nenek. Oke Alhamdulillah akhirnya lunas dan dia bisa hidup tenang di Solo sana.

Mendengar cerita jual sawah, adik bungsu dalam ‘kegilaannya’ meminta dibelikan motor laki. Byuuuuh. Uang hasil jual sawah itu untuk melunasi hutang adik nomor 1 dan hutang ke tetangga. Akhirnya juga diambil sebagian untuk beli motor seken untuk adik bungsu. Akhirnya dapat Suzuki Thunder 125 cc.

Hutang ke saudara akhirnya terbengkalai. Saya diminta oleh Bapak dan ya akhirnya bisa lunas.

‘Kegilaannya’ berangsur normal. Tapi perjalanan belum usai. Adik bungsu nunggak 2 bulan belum bayar kost di Surabaya dan sudah terusir. Kemudian belum bayar SPP semester. Bapak berencana hutang bank dengan gadaikan sertifikat rumah Madiun. Byuh.

Saya pribadi alergi dengan hutang bank dan cukup trauma kapok hadapi hutang. Dengan bekal meminta doa sama Bapak, akhirnya kost itu bisa saya bayarkan. Begitupula patungan dengan Bapak untuk bayar SPP. Teryata Bapak habis jual kayu di Pacitan sana. It’s oke lah akhirnya selesai tantangan nya.

Dari sisi perusahaan, Juni dan Juli ada operational cost tambahan yaitu Tunjangan Hari Raya (THR). Untuk anak buah saya yang Buddha dan Islam. Tetap semangat, tetap bergerak, tetap move on, tanggungjawab dan Alhamdulillah bisa.

Dari sisi keluarga, ini saat nya tahun ajaran baru. SPP harus dibayar 2 bulan dan bayar buku dll yang besarannya 5x lipat SPP. Maklum karena sekolah swasta. Juga harus bayar-bayar cicilan rumah, air, listrik, internet, cicilan motor, dan cicilan bank. Anak kami 3 dan saya menanggung biaya anak ke 2 dan 3.

Alhamdulillah istri ambil peran untuk anak pertama yang harus bayar semesteran di Universitas Udayana. Dari hasil bisnis catering nya istri juga transfer berkirim ke Bapak saya. Mrinding! Alhamdulillah, terima kasih inilah partnership! Bukan ownership.

Meski istri sudah berbisnis apakah saya diam? Tidak. Ujud tanggungjawab haruslah tetap memberikan.

Alhamdulillah saya tenang. Yang saya yakini adalah Allah pasti memberikan petunjuk. Allah pasti memberikan kemudahan dan jalan keluar. Berbisnis itu tidak tahu masa depan. Apa yang terjadi di depan tergantung pikiran dan tindakan kita sebagai manusia. Nasib kehidupan itu tergantung manusia nya. Allah lah penentunya dengan takdir-takdirNya.

Kita cuma disuruh berprasangka baik sama Allah dan tetap berusaha. Meski terdiam pun harus berprasangka baik. Semoga saya dan keluarga selalu bisa berprasangka baik dan positive thinking. Begitupula yang baca ini. Amin YRA.

Coba kejadian diatas jika tidak ada prasangka baik, tidak ada pikiran baik dan tidak ada tindakan berniatkan kebaikan? Tidak move on. Bagaimana jika isinya marah-marah? Gugat sana gugat sini. Bagaimana jika isinya negative thinking? Bakal bubar. Adik bungsu tetap ‘gila’, adik bungsu putus kuliah, adik nomor 1 masuk penjara, kinerja perusahaan kacau balau, proses belajar anak-anak terganggu, listrik air internet diputus, dan debt collector gentayangan.

Meski harus sarapan pagi nasi kuning lima ribuan, malam makan telor dadar, mondar-mandir pakai motor pinjaman, yang penting tetap move on hidup berkarya dan berbagi 🙂

Aku tidak memperdulikan atas keadaan susah atau senangnya diriku. Karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya itu yang lebih baik bagiku menurut Allah.” (Sayyidina Umar Bin Khattab RA)

Lumpuh di Kaki Berjalan Tegak Hidup Mandiri

Kaki nya lumpuh sejak awal Sekolah Menengah Atas (SMA) di tahun 2003. Padahal dia terlahir normal hingga merasakan keanehan melemahnya daya otot kaki pada akhir SMP. Semenjak waktu itu hingga sekarang, dia berjalan sambil/seperti duduk. Untuk bepergian jauh gunakan kursi roda.

Wahyu Diatmika Difable Disabilitas Entrepreneur

Dia kini berlabel manusia berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas. Bukan nya terkurung dengan keterbatasannya namun dia sudah piawai berbisnis (entrepreneur). Punya game center, toko komputer, beristri dan sudah punya 2 anak. Mrinding!

Saya terpana! Tak menyangka sama sekali. Kok bisa? Lanjut baca ya …

Dia bernama lengkap I Made Wahyu Diatmika dan saya panggil Wahyu. Di kampung Tabanan sana, dia dipanggil Dekwah. Doi sempat ragu dengan masa depan nya. Sempat pula tidak terima dengan kelumpuhannya.

Berawal Dari Suka Komputer Hingga Jadi Web Designer

Selesai tamat SMA, dia suka dengan komputer dan bermain game. Hingga suatu saat ada LSM PUSPADI memberinya kesempatan ikut Program Pelatihan Persiapan Keterampilan Kerja Bagi Penyandang Disabilitas. Salah satu silabus training nya adalah dunia blogging dan internet marketing.

Bali Blogger Community menugaskan saya dan teman sesama blogger, Gus Tulank namanya, memenuhi undangan dari PUSPADI untuk jadi pembicara internet marketing. Berlangsung di Gedung Annika Linden Centre Batubulan, 24 Januari 2013, peserta disabilitas ternyata dari Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Wahyu Diatmika Pelatihan Internet Marketing

Disitulah saya bertemu dengan Wahyu. Pada akhir pelatihan, Wahyu tanya ke saya, “Pak, bolehkah saya magang di BOC?

Boleh, sekalian aja tidur di kantor BOC selama magang,” jawab saya. Rumah Wahyu kan jauh di Tunjuk, Tabanan. Maka dari pada bolak-balik saya tawarkan kamar yang ada tempat tidur nya. Bukan hanya di kantor Google aja yang punya nap room, BOC pun punya hehehe.

Wahyu magang di kantor saya selama 3 bulan dan selanjutnya hampir 2 tahun kerja bersama saya di BOC Indonesia sebagai web designer. Selama itu pula tidur di kantor saya.

Wahyu Diatmika, BOC

Selain jago buat website, Wahyu juga bisa memperbaiki laptop dan rakit komputer. Dia juga sering terlibat jual beli gadget, software dan pernak-pernik game. Awalnya dia mengerjakan itu karena dapat titipan dari teman-teman nya di Tabanan dan Denpasar. Saya mempersilahkan dia seperti itu di sela-sela tugas utama nya sebagai web designer. Karena proyek website di BOC berdasarkan target waktu. Selama bisa tepat waktu ya silakan atur saja kesibukannya.

Berani Jatuh Cinta!

Di suatu sore, Wahyu mendekati saya yang lagi duduk santai di depan kantor. “Pak Hendra, saya berencana mau menikah Pak. Bagaimana pendapat Pak Hendra? Apakah saya mampu menjalani nya Pak?” tanya Wahyu.

Out of the box batin saya. Wahyu yang difabel, masih belia dan berani berencana. “Wahyu. Kamu harus hadapi. Ajak bicara keluargamu untuk melamar minta pacarmu itu ke keluarganya. Jika kamu sudah mampu secara finansial, bertanggungjawab, dan niatan nya baik, meski tidak tahu masa depan seperti apa, namun yakin Tuhan akan memberikan kemudahan.” Tutur saya sok bijak.

Pernikahan Wahyu Diatmika Mayuni

Alhamdulillah jalan selanjutnya tetaplah mulus. Buktinya Wahyu dan Mayuni menikah pada 6 februari 2014. Kami di BOC turut hadir di pernikahan yang berlangsung dirumahnya Tunjuk, Tabanan.

Resign, Modal Tabungan dan Semangat Ubah Nasib

Setelah menikah, usia kehamilan istrinya makin membesar dan Wahyu mulai berdiam di Tunjuk, Tabanan. Minta ijin sama saya untuk 2 minggu di kantor dan 2 minggu menemani istri. Saya kabulkan. Hingga akhirnya Wahyu resign ketika istri sudah melahirkan. Tak mungkin lagi berkantor di BOC.

Berbekal tabungan dari gaji ketika di BOC, Wahyu beranikan diri buka rental PS3. Setelah 4 bulan rentalan tersebut berjalan, Wahyu mengajukan pinjaman KUR ke BRI untuk bikin warnet. Pinjamannya cukup untuk beli 5 PC saja. Seiring berjalan nya waktu nambah jadi 10 PC. Wow!

Sambil menjaga warnet nya sendiri, Wahyu juga bisnis online. Membuatkan website, jual beli PC dan laptop, gadget, dll yang semua sumber nya dari online.

Sebuah bank nasional, Maybank namanya pernah undang Wahyu ke Yogyakarta untuk ikut pelatihan entrepreneur. Alasan nya Wahyu punya omzet tertinggi dari para disabilitas lainnya. Wow lagee!

Seminggu setelah saya ikut pelatihan dari Maybank, entah dari mana datangnya ada orang yang mau bikin warnet dan dipercayakan kepada saya untuk membuatkan 5 komputer dan langsung seting jaringannya, setelah itu ada dari Lombok sebuah yayasan disuruh bikin webnya, dan setelah itu ada yang rakit komputer lagi dan ada 3 pesanan HP.” Cerita Wahyu mengukir nasib nya.

Saat ini Wahyu terlihat mondar-mandir dari Tunjuk Tabanan ke kantor saya. Kerjakan rakitan komputer dan jadikan tempat datang nya gadget-gadget yang di order dari seluruh Indonesia dan belahan dunia luar untuk pelanggan nya di Bali 🙂

Well, Wahyu tahun 2003 apakah menyadari nasib nya pada tahun 2019 akan beda? Ingatkah dia pernah putus asa? Ada 2 kata kunci yang saya amati yang mungkin orang lain bilang sebagai keberuntungan hidup. Padahal keberuntungan itu berasal dari kata MAU dan GERAK.

Wahyu MAU untuk membuka diri dan GERAK ikut pelatihan. Wahyu MAU untuk tanya ke saya untuk GERAK magang di BOC. Wahyu MAU untuk terima saran saya dan GERAK melamar pacar nya. Wahyu MAU untuk tanggungjawab dan GERAK untuk bekerja. Wahyu MAU untuk mikir, buat strategi hidup dan GERAK meminjam uang di bank. Wahyu MAU untuk ubah NASIB dengan GERAK kerjakan rakitan komputer, buat web, jual beli gadget, dll yang berkaitan dengan bisnis.

How about me? How about you? Tertampar bukan?

Nasib itu ada di tangan manusia. Takdir ada ditanganNya.

Gaes! Hutang Pesta Wirausaha Bali 2018 Lunas!

Menyisakan hutang dari minus Rp. 27.000.000 (27 juta) setelah acara Pesta Wirausaha (PW) Bali 2018 itu hal baru bagi kami di komunitas wirausaha TDA Bali. Khususnya bagi saya dan para pejuang PW Bali 2018. Ya, anggota kepanitiaan PW Bali kami sebut pejuang PW.

Tapi tenang, hutang yang tercipta pada 25 Februari 2018 itu per 14 Mei 2019 Alhamdulillah sudah lunas! Gimana cara kami melunasinya? Baca terus tulisan saya.

PW Bali sebelumnya, tahun 2016 menyisakan kelebihan uang alias surplus Rp. 3.000.000 (3 juta) dari total pembiayaan kurang lebih Rp. 75.000.000 (75 juta). Sedangkan pembiayaan PW Bali 2018 adalah kurang lebih Rp. 170.000.000 (170 juta). Dua kali lipat lebih. Kok bisa?

* PW Rasa Sosial dan Ingin Beda!

PW adalah agenda tahunan dari pengurus pusat TDA dan diikuti oleh TDA daerah di Indonesia. Setelah TDA Bali laksanakan PW Bali 2016, harusnya 2017 ada. Kami pun mulai pasang waktu pelaksanaan pada 23-24 Desember 2017. Namun sayangnya harus ditunda karena alasan gencarnya letusan Gunung Agung.

Berbekal prediksi cuaca yang cerah dari website cuaca (klo tidak salah Accuweater dot com), kami umumkan ke publik bahwa PW Bali bakal terlaksana kembali pada 24 – 25 Februari 2018. Dikemudian hari saya menyesal pakai prediksi itu, tidak akurat! Hari pertama PW isinya hujan deras di siang hari. Menyusul hujan pas sore hari! Hancur rasanya hati ini. Kenapa? Baca terus ceritanya.

Konsep PW 2016 kebelakang selalu gunakan 2 tema acara yaitu seminar/workshop dan expo (pameran UKM). Sesuai tujuan diadakannya PW yaitu sebagai ajang cari ilmu, berjejaring (networking), promosi produk, dan menjaga konsistensi semangat berwirausaha.

Kami punya impian! Adakan PW Bali dengan konsep beda dari sebelumnya. Sebenarnya konsep yang ditambahin sih. Konsep lama tetap ada namun ada penambahan. Maka harus ada alasan kuat kenapa kok ada tambahan konsep. Alasan kuatnya adalah Gunung Agung!

Ya, Gunung Agung selama 2017 meletus berkali-kali. Warga yang tinggal di lereng sana harus mengungsi meninggalkan rumah dengan persediaan hidup yang semakin menipis. Terlunta-lunta di posko pengungsian. Terpaksa menggantungkan hidup dari santunan warga dan donatur lainnya.

Penerbangan di bandara I Gusti Ngurah Rai kadang buka tutup. Wisatawan banyak menunda kunjungan nya ke Bali. Otomatis bisnis di Bali ikut merasakan dampaknya. Banyak pembatalan (cancellation) dan sepi nya transaksi. Contoh istri saya yang bisnis catering juga merasakan cancellation dari pelanggannya dari luar Bali. Acara akhir tahun yang padat harus cancel karena dampak letusan Gunung Agung.

Maka TDA Bali harus berbuat sesuatu!

Kami harus merumuskan maksud dan tujuan PW Bali 2018 agar punya dampak positif bagi Bali. Yaitu:

1. Sarana untuk para wirausahawan khusus nya Bali dalam meningkatkan pengetahuan (knowledge) bisnisnya, memperluas jejaring (networking), promosi produk dan menjaga konsistensi semangat berwirausaha.

2. Menumbuhkan jiwa sosial berbagi dan menciptakan psikologi positif, sehat jiwa dan raga bagi masyarakat Bali.

3. Sebagai bagian kegiatan untuk pemulihan ekonomi dan psikologi semua elemen masyarakat Bali disaat terjadinya erupsi Gunung Agung.

4. Mempromosikan Bali yang tetap aman untuk hidup dan berbisnis ke seluruh Indonesia dan dunia.

* Take Double Action di PW Bali 2018

Take Double Action itu kami artikan sebagai action dulu mikir nya belakangan hehehe. Untuk mewujudkan PW Bali 2018 rasa sosial dan sesuai tujuan nya maka harus banyak acara yang tercipta. Yaitu: Ada seminar dan talkshow, ada pameran promosi bisnis, ada lomba mewarnai untuk anak, ada acara demo masak untuk ibu-ibu, ada nge-jam musik oleh band undangan, ada konser musik sosial dimana 2 artis papan atas Bali akan aksi untuk penggalian dana. Pemusik itu Jun Bintang dan Nanoe Biroe yang pentas pada hari berbeda. Kemudian ada lomba lari dan senam Zumba masal.

Khusus lomba lari, kami menciptakan kejuaraan berhadiah sejauh 5 kilometer dan pelaksanaannya mirip untuk para profesional. Lengkap dengan medali-medali nya, water station, ada racepack, penjagaan dari kepolisian dan dinas perhubungan, pengawalan voorider untuk sang juara, wuaah mewah dan seperti lomba lari beneran seperti di tipi-tipi hehehe.

Lomba lari itu kami namakan TDA EntrepreneRun! The first entrepreneur run in Indonesia!

Katanya, seumur-umur adakan PW di seluruh Indonesia, baru kali ini di TDA Bali mampu adakan lomba lari dalam rangkaian PW. Mrinding! Akhirnya di kemudian hari konsep lomba lari ini diadopsi oleh PW Nasional 2019 lalu. Alhamdulillah hehehe.

* Out of the box!

PW Bali 2018 punya 2 tempat pelaksanaan acara! Berlokasi di area lapangan Bajra Sandhi dimana didalamnya ada Museum Perjuangan Rakyat Bali dan dikelilingi oleh lapangan-lapangan. Kami gunakan Museum untuk seminar dan talkshow. Kemudian lapangan sebelah timur sebagai arena pameran promosi produk. Terpisah jarak 200 meter saja.

Kami undang 13 pembicara! Mereka adalah:

1. Drs. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga (Menteri Koperasi & UMKM RI)
2. Drs. Ketut Sudikerta (Wakil Gubernur Bali)
3. IB Rai Dharmawijaya (Rai Mantra, Walikota Denpasar)
4. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Tjok Ace, Ketua PHRI Bali)
5. Ahmad Baidillah Thariq Barra (Presiden TDA 5.0)
6. Dewa Eka Prayoga (CEO Billionaire Corp)
7. Gus Agung Gunarthawa (2015 National President JCI Indonesia & Pakar Branding)
8. Nyoman Sukadana (Founder Elizabeth International)
9. Dodi Zulkifli (CEO Neyma Brand Identity)
10. Windu Segara Senet (Founder Mangsi)
11. Hendra W Saputro (CEO BOC Indonesia)
12. Gusti Made Adnyana Kepandean (CEO Banyuatis Bali Coffee)
13. Yana Sandhi (CEO SAM Digital Marketing)

Mereka semua diawal confirm hadir namun Pak Menteri tiba-tiba membatalkan di last minute. Begitupula Pak Rai Mantra. Masih tertahan di acara lain katanya. Para ajudan nya kontak saya. Sedih sih. Pak Sudikerta pun diwakilkan ke Pak Gus Adhi (Anggota DPR RI Fraksi Golongan Karya). Akhirnya acara PW Bali 2018 dibuka oleh Pak Gus Adhi.

Agenda seminar dan talkshow berjalan sesuai rundown. Aman. Arena pameran sempat menyedihkan di hari pertama. Khususnya dari siang sampai malam. Lapangannya becek karena hujan deras mengguyur. Namun Nanoe Biroe tetap goes on dengan lagu-lagunya yang interaktif dan ngocol abis. Terhibur. Saya lihat Pres Barra tak henti-hentinya video kan Nanoe dan tertawa terpingkal-pingkal.

Hari kedua PW Bali 2018 diawali pada dini hari untuk perlombaan lari. Banyak drama di hari ke dua ini. Mulai snack dan sarapan yang sering ditagih oleh para bapak polisi hingga pecah nya suasana akibat senam Zumba. Rameee banget! Apalagi teman-teman dari TDA dan organisasi wirausaha lainnya pada berkumpul. Selebihnya aman sesuai rundown hingga Jun Bintang menutup gelaran PW Bali 2018 dengan lantunan musik nya. Membius para penonton.

* Panas Dingin Karena TDA EntrepreneRun

Kami pikir diawal buat lomba lari bakal mudah. Mengingat dalam rapat persiapan ada panitia dari TDA Bali yang hobi dan jadi aktivis lari. Ikut di sebuah komunitas lari dan pernah menangani lomba lari 5 K Telkomsel. Lokasinya persis sama di area jalanan lapangan Bajra Sandhi.

Ketika pelaksaan PW Bali 2018 kurang 3 minggu, terkuaklah dalam rapat panitia tentang prosedur lomba lari itu. Harus ada ijin dari pengelola lapangan Bajra Sandhi, lanjut ke Desa, Pos Polisi Sub Rayon Renon, Polsek Denpasar Timur, Polresta Denpasar, Polda Bali. Kemudian ijin lagi penggunaan jalan ke Dinas Perhubungan Kota Denpasar dan Provinsi! Untuk desa pun harus urus di desa dinas dan desa adat. Fyuh.

Pernak-pernik lainnya harus urus kaos lari, medali lari, penyediaan sepeda, voorider polisi, tempat ambil racepack yang harus tersedia selama 2 hari hahaha. Sewa cone untuk pembatas jalan. Daaaan semua hal itu ada pos-pos pembiayaannya. Bengkak kurang lebih Rp. 25.000.000 an. Dana itu sudah termasuk nego habis-habisan dengan para pihak. Nego cuek bebek itu menghemat hampir hmm 40% duit.

Mungkin jika tanpa ada lomba lari, budget PW Bali 2018 bakal impas hehehe. Namun dikemudian hari kami sadar dan bersyukur bahwa impact dari TDA EntrepeneRun sungguh out of the box! InshaAllah semua pihak akan mengenang lomba lari tersebut. Terlihat mak-nyess raut kegembiraan dari para peserta lari yang upload aksi nya di media sosial. Alhamdulillah.

Mungkin juga lagi, bila kami mampu meminimalkan bentuk panggung dan bentuk booth-booth pameran, akan menghemat lebih banyak biaya.

Namun fakta minus Rp. 27 juta tetaplah harus dihadapi. Syukurnya pihak vendor-vendor pendukung PW Bali 2018 memberikan tengat waktu 2 minggu dan ada yang 1 bulan untuk pelunasannya. Sebelumnya memang sudah nego-nego waktu pelunasan sih.

* Cara Melunasi Hutang PW Bali 2018

Curhatan tidak populer terpaksa saya ambil sebagai ketua TDA Bali. Saya curhat di grup anggota TDA Bali bahwa PW Bali 2018 minus dan meminta tolong partisipasi nya untuk meminjamkan dana dingin nya. Dana yang tidak ditagih-tagih dalam waktu 1 tahun.

Sebagai kontra prestasi saya tawarkan slot iklan di website TDA Bali selama hutang itu belum terbayar kembali. Akhirnya ada yang meminjamkan 10 juta, 5 juta, 2 juta, ada yang hibahkan 1 juta. Ya Allah. Hingga akhirnya terkumpul 27 juta dalam waktu 1 minggu. Kami bayarkan ke para vendor tadi dan lunas.

Sekarang memikirkan cara mengembalikan hutang organisasi TDA Bali kepada para anggota nya. Kami para pejuang PW Bali 2018 dan para pengurus TDA Bali sepakat untuk lakukan penggalian dana melalui workshop dan penjualan asesoris TDA Bali. Contoh nya jualan kaos polo, seragam, jualan buku 8WS. Surplus kegiatan tersebutlah yang jadi amunisi untuk bayar hutang perlahan-lahan ke para anggota. Butuh waktu 1 tahun lebih.

Terima kasih kepada para pembicara internal TDA Bali yang merelakan energinya tak terbayar. Terima kasih para anggota TDA Bali yang mau beli pernak-pernik asesoris TDA. Terima kasih para sponsor dan organisasi rekanan. Semoga Tuhan YME membalas segala amal kebajikan yang telah diperbuat untuk TDA.

Tahun 2019 harusnya ada PW Bali namun saya menegaskan bahwa tidak akan ada PW sebelum hutang itu lunas! Entah di akhir 2019 nanti. Akan jadi urusan pengurus baru hehehe.

Terima kasih Ya Allah 🙂

Baca laporang PW Bali 2018 dan semoga bisa MRINDING! Tapi videonya saya tunjukin disini deh.

Video

Indonesia Raya Berkumandang di TDA EntrepreneRun

Senam ZUMBA yang Getarkan Lapangan Renon!

Bapak Saya Kembar, Anak Pembantu

Untung Subagijo dan Slamet Widodo terlahir kembar dari ibu bernama Katinem dan Bapak bernama Munrejo. Untung Subagijo keluar terlebih dahulu dari rahim. Maka dalam adat istiadat Jawa dia adalah adik. Sedangkan yang keluar belakangan, bernama Slamet Widodo adalah kakak.

Bapak saya bernama Untung Subagijo dan Pak Puh/Pak Dhe (Bapak Sepuh/Bapak Gede) Slamet Widodo adalah putra asli Madiun. Lahir di Desa Kranggan, Kecamatan Geger, Madiun pada 17 Agustus 1950 silam.

Lahir ber enam dari Ibu yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga dan Bapak sebagai kusir delman. Bapak saya anak ke empat. Sayangnya, semenjak saya dilahirkan pada tahun 1978, belum pernah bertemu dengan Mbah Munrejo karena keburu dipanggil Allah SWT. Meninggal semenjak Bapak saya masih SMP.

Bapak saya sekolah di SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas). Sedangkan Pak Dhe Slamet Widodo sekolah di STM (Sekolah Teknik Menengah) ambil jurusan Teknik Elektronika. Maka, Bapak saya jagoan urusan pertanian sedangkan Pak Dhe jagoan urusan radio dan TV serta alat elektronika lainnya.

Mereka berdua bisa bersekolah lumayan tinggi jaman itu karena hidupnya mengikut bulik dan paklik nya (tante dan paman) yang berprofesi sebagai carik (sekretaris) desa Kertobanyon.

Selepas lulus sekolah, Bapak saya berdinas sebagai PNS di Mojokerto. Sedangkan Pak Dhe Slamet Widodo mengadu nasib di Jakarta, bekerja sebagai pegawai swasta di perusahaan baja.

Mereka kembar. Katanya segala rasa sakit dan bahagia sepertinya saling terkoneksi. Masa muda nya dulu juga dekat dengan ibu saya, Sri Sunaryati. Maka ketika ibu saya meninggal, Pak Dhe Slamet Widodo memberikan simbol belasungkawa dengan datang ke tahlilan 40 hari nya ibu pada 21 Desember 2018 lalu. Juga mereka berdua mendatangi dan berdoa di makam almarhum ibu.

Kadang masih tak percaya bahwa saya adalah cucu dari seorang pembantu rumah tangga dan tukang kusir delman. Coba lihatlah foto-foto Bapak dan Pak Dhe saya di masa tua nya. Sayang nya saya tidak punya foto mereka pas masih muda. Cuma punya foto Bapak saja pas peragakan silat dibawah ini. Ya, Bapak dan saya adalah warga Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Baca disini sejarah nya.

Ya Allah, mohon memberikan tempat terbaik untuk para moyang saya. Juga ibu saya ya. Amin YRA. Kemudian mohon kesehatan dan panjang umur untuk Bapak dan Pak Dhe saya. Amin YRA.

Foto-foto mereka, Bapak saya Untung Subagijo dan Pak Dhe Slamet Widodo

Tak kan Ke Luar Negeri Sebelum Injak kan Kaki di Tanah Suci

“Aku tidak akan ke luar negeri sebelum injakkan kaki di tanah suci dulu.” Itu prinsip saya menghadapi lambaian tiket-tiket murah ke luar negeri. Ataupun rayuan menggiurkan lainnya.

Allah SWT menjawab dengan beri rejeki dan kenikmatan melalui Mr. Fulan, dengan perkataan (bukan pertanyaan), “Mas Hendra, ijinkanlah saya berangkatkan Mas Umrah ke Tanah Suci.” Kalau tidak salah, bisikkan Mr. Fulan itu di bulan April 2018, sambil jalan kaki menuju masjid untuk sholat Dhuhur. Sebelumnya saya tidak punya firasat atau mimpi ajaib dapat permintaan seperti itu.

Kabar ini saya sampaikan ke istri, mertua dan kedua orang tua saya. Anak-anak dan adik-adik saya juga. Semua bilang, “Alhamdulillah diterima saja dan berangkat!” Ya Allah sungguh kenikmatan yang tidak bisa di nalar dengan logika! Terima kasih. Akhirnya saya ada alasan bisa buat passport! hehehe.

* Mengapa Saya?

Saya sempat tanya ke Mr. Fulan, mengapa saya? Ternyata beliau punya program tiap tahun harus berangkatkan orang-orang pilihan, menurut kriterianya. Mr. Fulan sendiri sudah Haji dan umroh.

Saya kenal dan sering komunikasi dengan Mr. Fulan ini sejak tahun 2003. Kami tahu sama lain. Mr. Fulan memilih saya dan biayai umrah saya karena kiprah saya di dunia sosial. MasyaAllah. Kenikmatan dari Allah itu tampak begitu besar sekali atas rejeki umrah ini.

Mr. Fulan sempat tanya saya untuk mencari satu teman lagi untuk menemani umrah. Sempat tanya soal istri, namun saya jawab dia sudah pernah umrah. Saya berusaha cari profil teman itu sesuai dengan kriteria yang sama ketika memilih saya. Kiprah kehidupan sosial nya juga tinggi. Hmm akhirnya 10 Oktober 2018 nama Mas Yayak Eka Cahyanto saya setor ke Mr. Fulan.

* Memakmurkan Sesama

Mr. Fulan awalnya akan gunakan travel umrah langganannya di Jakarta. Semenjak saya beritahu bahwa ada anggota TDA Bali berwirausaha travel umroh, maka beliau urungkan beli paket umrah di Jakarta. Mr. Fulan memilih Mas Sidik yang punya usaha travel umroh di Bali (Raphita Wisata Bali).

Lagi-lagi saya salut atas keputusan Mr. Fulan untuk menggunakan travel umroh milik teman sendiri. Memakmurkan sesama yang dekat katanya. Mrinding! Hari-hari selanjutnya berurusan dengan Mas Sidik. Mulai dari setor dokumen sudah suntik Meningitis, serahkan Passport, urus koper, seragam umroh, latihan manasik umroh, sampai diantar ke Jakarta! Ya, saya dan grup umroh harus berangkat dari Jakarta.

Mas Yayak yang tadinya mau berangkat bersama, ternyata saya yang tidak bisa. Waktu bentrok dengan jadwal workshop dan urusan bisnis. Sepertinya ada saja halangan. Akhirnya usulan berangkat 11 November 2018 saya tolak. Rupanya halangan ini ada maksudnya. Allah memanggil ibu saya untuk berpulang pada 15 November 2018. Ya Allah, bayangkan jika saya berangkat umrah?

* 4 Januari 2019 It’s show time!

Pasca ibu berpulang pada 15 November 2018 ke rumah Allah SWT, begitu banyak tantangan dalam menata hati. Semua jadi serba tidak enak. Namun saya harus berangkat umrah atau tawaran itu hangus. Banyak yang menyarankan umrah ini sekalian badal umrah bagi almarhum ibu. Ya, saya akan badal umrah kan ibu.

Saya bersama 23 orang jamaah lain nya berangkat ke Madinah melalui bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Tepat pukul 16.00 WITA hari Jumat 4 Januari 2019 terbang bersama Saudia, maskapai milik Saudi Arabia.

Untuk kesekian kalinya saya naik pesawat badan besar. Namun sayangnya selimut Saudia sangat terbatas. Tidak semua penumpang dapat. Termasuk saya yang kehabisan selimut. Jaket masuk bagasi. Nggak menyangka sih, Saudia bisa kehabisan selimut hehehe. Jadi jaket harus kalian bawa ke kabin ya.

Solusinya, diantara kedinginan itu, ventilasi AC saya tutup. Bantal tipis 30an cm saya jadikan benteng selimut. Perjalanan dari Jakarta membelah langit berlangsung 9 jam 25 menit sampai di Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz Madinah.

Waktu di Madinah lebih lambat 4 jam dari Jakarta. Rombongan kami sampai pada pukul 22.00 waktu Madinah. Proses imigrasi dan menunggu bagasi kemudian tiba di hotel pukul 23.30.

* Memburu Sholat di Raudhah dalam Masjid Nabawi

Saya sudah pegang jadwal Umrah dari pihak travel. Selama 4 hari di Madinah, hanya hari ke 3 saja jadwal nya tour bersama. Selebihnya adalah ibadah mandiri. Artinya, jamaah harus inisiatif beribadah sendiri. Inisiatif aktivitas mandiri. Terserah, mau diam di hotel, belanja, jalan-jalan atau fokus ibadah. Saya pilih mayoritas fokus ibadah.

Mas Sidik, pembimbing umroh saya bilang, “Mas, ketika di Madinah atau Mekkah, pikirkan bahwa ibadah adalah tanggungjawab pribadi. Fokus kepada aktivitas pribadi. Jangan tergantung atau menunggu teman. Kalau teman sekamar tidak mau diajak, Mas Hendra harus berangkat sendiri, fokus ibadah. Rugi jauh-jauh ke tanah suci kalau hanya di kamar hotel saja.”

Saya amini dan laksanakan! Setiba di hotel, saya cuma tidur 2 jam saja. Mandi, berpakaian dan pukul 02.30 waktu Madinah turun dari kamar. Teman-teman sekamar lainnya masih tidur dan berangkat belakangan. Saya sekamar berempat dan salah satunya adalah Ustad Abdul Aziz sang Muthawif (leader) umrah. Betapa beruntung nya saya! Nikmat rejeki dari Allah. Saya sering curhat sama beliau dan dapat pencerahan tentang Islam.

Berangkat dini hari untuk memburu sholat di Raudhah. Apa itu? Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Tempat yang di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) di antara taman-taman surga.” (HR. Bukhari).

Dahulu Raudhah terletak di luar halaman Masjid Nabawi, yaitu di antara rumah Rasulullah SAW dan mighrab atau mimbar di Masjid Nabawi. Kini setelah Masjid Nabawi diperluas, lokasi Raudhah terletak di dalam masjid, dengan ukurannya yang hanya 22 x 15 meter. Lokasi itulah yang menjadi taman surga yang tak pernah sepi oleh jamaah haji dan umroh.

Kawasan Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau muda yang sangat berbeda dengan warna karpet di ruangan lain di dalam masjid Nabawi. Sebab ruangan lain di dalam masjid Nabawi didominasi dengan karpet yang berwarna merah.

Raudhah selalu menjadi salah satu tempat yang diperebutkan oleh ribuan jamaah haji dan umroh. Lalu mengapa ribuan jamaah tersebut berebut untuk memasuki Raudhah? Rupanya, Raudhah yang bersebelahan dengan makam Rasulullah SAW di dalam kompleks Masjid Nabawi merupakan tempat yang sangat mustajab untuk berdoa. Dengan berdoa di Raudhah, maka doa pun niscaya akan dikabulkan oleh Allah.

Alhamdulillah saya 2 kali dalam 2 hari berbeda bisa bersholat dan bermunajat di Raudhah. Berusaha yang ke 3 kalinya ternyata tidak berhasil, diusir oleh Askar (Tentara Saudi Arabia). Mungkin waktunya tidak tepat yaitu mendekati Sholat Subuh. Bisa saya simpulkan, jika mau sholat di Raudhah, pilihlah waktu sebelum pukul 04.00 waktu Madinah. Berdesakan adalah resikonya. Harus sabar dan berjuang agar bisa sholat di sana.

Yang saya lakukan di Raudhah adalah sholat taubat, hajat dan tahajud. Setelah itu dzikir dan berdoa. Secukupnya dan saya pergi dari situ beri kesempatan jamaah lainnya. Saya sempat lihat ada yang berlama-lama dan baca Al-Qur’an di Raudhah. Itu hak mereka sih namun saya pribadi kurang sepakat. Jamaah dari seluruh dunia tentunya ingin sholat disitu.

Baca selanjutnya, bersambung di pages 2 – Mencari Arah ke Masjid Nabawi Madinah