Tag Archives: Kabar Baru

Berkah dan Kisah Anugerah Jurnalisme Warga 2019

Penerima AJW kategori video, Sugiehermanto.

Ada banyak berkah di malam Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2019 ini. Selain masih bisa magibung (bancakan), meplailanan (dolanan), tahun ini ada Combine RI, Kacak Kicak, dan Made Mawut si blues krisis.

Dua hari sebelum malam AJW, tim Kacak Kicak teater boneka anyar ini sudah memasang sejumlah instalasi di Taman Baca Kesiman, lokasi langganan AJW tiap tahun. Puluhan burung dari jerami di jalan setapak, di antara hamparan kebun organik TBK.

Setelah itu di halaman rumput sisi Utara, ada tenda hitam dengan belasan kotak-kotak kardus kosong. Ini play ground anak, mereka dipersilakan berkreasi membangun dari balok-balok kardus, atau mendongeng bersama beberapa instalasi kandang burung hantu.

Instalasi kardus KacakKicak

Setelah itu di halaman tengah, tergantung beberapa boneka kombinasi kayu dan jerami. Inilah panggung utama AJW sekaligus panggung teater boneka Kacak Kicak. Kicak adalah istilah lokal desa Pedawa, Buleleng, untuk anak-anak. Santiasa aka Jong, pendiri Kacak Kicak menjadikan AJW momentum kelahiran teater boneka ini.

Jong dan rekan-rekan teaternya di Kacak Kicak bukan seniman baru. Mereka terbilang eksis, rajin membuat garapan di event-event sosial budaya di Bali melalui teater Kalangan, juga dengan nama kelompok lainnya. Di AJW, seluruh rangkaian kegiatan dipandu tokoh-tokoh Kacak Kicak seperti Pak De yang memandu magibung, Tut Mertha memandu maplalianan, sampai pertunjukan utama mereka bertajuk Tut Mertha dan I Cepuk.

Ternyata Kacak Kicak merespon satu sesi melali di dusun Pagi, suka duka burung hantu. Adegan demi adegan selama 24 menit dinikmati dengan khusyuk oleh pengunjung, termasuk anak-anak di baris terdepan. Tikus-tikus di sawah, celepuk terbang rendah, ditembak pemburu, tersungkur, sedih, haru, penyesalan, dan jiwa baru I Cepuk.

Tim teater boneka KacakKicak

Teater boneka ini merundukkan ego, tersungkur di kaki kejujuran, dan melayang bersama imaji. Pengisi ruh para tokoh boneka tak nampak dominan, mereka berhasil berada di belakang bayang-bayang dan rona wajah kalem Tut Mertha, kecerian Pak De, dan keberanian I Cepuk.

Pada sesi yang serius seperti diskusi media warga Jer Basuki Mawa Desa pun tokoh ini hadir. Donny BU perwakilan Kemkominfo, Ferdhi dari Combine, media Warta Desa, dan Marsinah FM mendiskusikan dampak dan tantangan menuju warga berdaya atas informasi. Sebelumnya dibuka oleh Imung Yuniardi dan Kepala Seksi Sumber Daya Komunikasi Publik Dinas Kominfo dan Statistik Provinsi Bali, IB Ludra.

Setelah melalui serangkaian apresiasi oleh juri terdiridari BaleBengong, Dandhy D. Laksono (WatchDoc), Ahmad Nasir (pegiat media warga), dan Widuri (ICT Watch), terpilih 5 pemenang di tiap kategori.

Kategori Pewarta Warga bisa diikuti siapa saja yang memiliki produk jurnalistik yang dipublikasikan melalui media daring (online) dan non daring (offline) tergantung aksesibilitas di media warga seluruh Indonesia. Pendaftar menunjukkan minimal satu produk jurnalistik yang dinilai telah membawa perubahan bagi komunitasnya. Karya dapat berupa tulisan, video, foto, dan ilustrasi (komik, infografis, dll).

Pemenang di kategori ini untuk format artikel adalah I Wayan Suardana (Denpasar) dengan tulisan Peladung, Jejak Awal Mekanisme Adat Menyikapi Investasi.

Dandhy D. Laksono mengatakan karya Suardana adalah sebuah jejak sejarah penting dalam gerakan warga adat di Bali menghadapi investor air kemasan, dikisahkan oleh pelakunya sendiri. Dua pemenang pewarta warga kategori video dan artikel ini kuat dari segi ide dan prosesnya. “Bagaimana tuna netra menggunakan inderanya menikmati keramaian dalam kegelapan, sebuah paradoks,” katanya tentang cara tuna netra mengakses pantai sebagai fasilitas publik.

Karya kategori artikel lain yang masuk dalam sepuluh finalis adalah Ni Nyoman Ayu Suciartini (Bali Menggugah, Kini Harus Tabah), I Made Julio Saputra (Rare Segara), Dian Suryantini (Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan), Kardian Narayana (Sidatapa, Berkabar Lewat Burung Yang Dilepasliarkan), Tobing Crysnanjaya (Rumah Intaran, Inspirasi Kearifan Lokal dari Desa Bengkala), Diana Pramesti (Kisah Mewujudkan Mimpi, Desa yang Berdiri Sendiri), I Wayan Junaedy (Selamat Pagi Burung Hantu di Banjar Pagi, Selalulah jadi Sahabat Petani), Isun (Warung Subuh, Napas Dusun dalam Semangat Anak Muda), dan Intan Rastini (Membangkitkan Kesadaran Lingkungan dari Hulu).

Untuk kategori Pewarta Warga format Video pemenangnya adalah Sugihermanto (Surabaya) dengan video Pantai Parang Tritis, Keindahan dalam Kegelapan. Sugi yang mengalami low vision, konsisten membuat video di Youtube pengalaman tuna netra dengan akun Mlaku mlaku. “Media mainstream tak mempekerjakan disabilitas. Ayo isi channel Youtube, ruang kebebasan untuk jadi content creator,” ajak Sugie. 

Tiga karya lain adalah I Made Argawa (Obyek Wisata Selfie Sebagai Pelestari Sungai di Tabanan), Lanang Taji (Memanen Hujan), Fanky Catur Nugraha (Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pengembangan Ekonomi Lokal)

Diskusi Media Warga bersama Donny BU (Tenaga Ahli Kemkominfo), Ferdhi (Combine RI), Warta Desa, dan Marsinah FM.

Media warga adalah media yang diprakarsai dan dikelola secara mandiri oleh kelompok warga non-perusahaan pers (non profit), tidak berafiliasi dengan partai politik, maupun pejabat publik. Selain mendaftarkan diri, warga juga bisa mengusulkan media warga favoritnya yang berkontribusi terhadap perubahan sosial di komunitasnya. Pemenang Kategori Media Warga format Daring adalah Warta Desa (Pekalongan). Didik Harahap, pengelola Warta Desa menyebut pernah jual motor untuk menghidupi media yang mempublikasikan berita peristiwa dan feature sekitar Pekalongan. M. Nasir, juri lain menyebut Warta Desa bereksperimen dengan banyak medium, radio, dan cetak.

Adapun media warga lain yang masuk 10 besar lain adalah BAFE, buruh.co, tatkala.co, Terune.id, Speaker Kampung, Merapi News, Forbanyuwangi, Ciamis.info, dan Mercusuar.

Untuk kategori Media Warga format Radio pemenangnya adalah Radio Komunitas Marsinah FM (Jakarta). Dia bersaing dengan satu radio lain yaitu Rakom Suandri FM (Sumatera Barat). Dian, penerima penghargaan di malam AJW punya banyak cerita pengorbanan pengelola media berbasis elektronik dan daring ini melakukan advokasi dan pendampingan buruh. “Buat tenda depan perusahaan atau ditangkap karena aksi lewat jam malam,” kisahnya.

Kategori Pegiat Literasi Digital adalah individu atau komunitas yang mendorong perubahan aktif dan memadukan penggunaan media daring (online) dan aktivitas luring (offline). Perubahan aktif ini terkait praktik baik dan inspiratif dari desa, atau menyebarkan literasi digital yang dilakukan atau digaungkan melalui media daring seperti media sosial, blog, dan lainnya.

Pemenang di kategori ini adalah Rumah Literasi Indonesia (Banyuwangi). Komunitas ini aktif dalam kegiatan literasi baik daring maupun luring. Kegiatan komunitas ini antara lain mengadakan talk show online, kelas literasi digital online, gerakan literasi melalui medsos, penggalangan iuran publik untuk gerakan literasi, dan menyediakan informasi terkini tentang isu pendidikan melalui website.

Pegiat media dan pewarta warga sejumlah daerah di Indonesia bermain bersama di Maplalianan.

Mereka juga mengadakan kelas film di sekolah-sekolah dan komunitas, seminar literasi digital di sekolah, kampus dan komunitas, memproduksi konten positif, serta pelatihan dan pemberdayaan masyarakat tentang jurnalisme warga. “Sejak 2014, menjangkau 57 taman baca, dan relawan 500. Kami juga pernah mengajak geng motor mendistribusikan buku,” papar Tunggul Hermanto, pendiri Rumah Literasi Indonesia.

Komunitas lain yang masuk dalam sepuluh besar adalah Yayasan Klub Buku Petra, Panti Digital Sulawesi Selatan, Hidden Gems Story, Tunanetra Sighted Network, Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri, Jawasastra Culture Movement, Bumi Setara, Bali Mendongeng, dan Pemuda Mendesa.

Kelima pemenang tiap kategori mendapatkan uang penghargaan Rp 2.500.000, piagam, plakat, serta beasiswa pelatihan membuat video di Denpasar, Bali bersama Dandhy D. Laksono, pegiat Watch Doc.

Diskusi media warga

FGD Pegiat Media Warga

AJW tak sekadar apresiasi, juga mempertemukan sejumlah pegiat media warga dalam diskusi terfokus tentang perlindungan hukum. Kegiatan ini dihelat sehari sebelum malam AJW di Denpasar. Diskusi ini menindaklanjuti kedatangan Direktur Combine, Imung Yuniardi dan Ferdhi ke gudang lama BaleBengong di Jl Noja Ayung, Denpasar yang berbuah kolaborasi AJW ini. Diskusinya saat itu serius, apa dan siapa itu media warga? Lembaga pendampingan media komunitas berusia 18 tahun bermarkas di Jogja ini memiliki kerisauan sekaligus harapan untuk penguatan media dan pewarta warga.

Wah senang sekali ada yang kan mengayuh perahu ini bersama. Sejak awal AJW dihelat, kami selalu membuka kolaborasi terbuka. Tak hanya sekadar sponsor atau donatur tapi juga pemikiran, dan pelaksana dari nol bersama.

Dengan dukungan Combine, skala penjaringan karya kembali dibuka secara nasional. Sebelumnya AJW 2017 juga pernah mengundang peserta dari luar Bali dengan berkolaborasi dengan 11 media warga/komunitas. Pewarta warga bisa mendaftarkan karyanya yang sudah terpublikasikan di 12 media yang terlibat dalam AJW. Namun, kolaborasi ini kurang erat, karena sekadar partisipan. Tak terlibat menyiapkan dan melaksanakan seluruh tahapan kegiatan AJW.

Namun, tahun ini, AJW 2019 hampir mendekati harapan, Combine dan BaleBengong patungan pembiayaan. Baik dari kas sendiri atau menggalang donasi tambahan dari pihak lain. Seperti tahun lalu, BaleBengong membuat Bazar Sembako. Menyatukan produk-produk pangan lokal berkualitas dari sejumlah desa di Bali, yakni garam laut dari Amed dan minyak kelapa Nyuhetebel (Karangasem), gula aren Besan (Klungkung), dan beras merah dusun Pagi (Tabanan).

Program rintisan adalah Melali Bareng Musisi ke dua desa produsen bazar sembako, Nyuhtebel dan Pagi. Bersama dua biduan folk indie Bali, Dadang SH Pranoto (vokalis Dialog Dini Hari) dan Guna Warma (Nosstress). Sebuah perjalanan Jer Basuki Mawa Desa sekaligus penelusuran produk bazar sembako dengan berkunjung langsung ke petani dan desanya.

Tak hanya musisi yang terlibat, namun banyak pihak yang melengkapi kisah perjalanan Melali ini. Misalnya mengajak GoodFriendBali, sebuah travel agent anyar, dirintis dua anak muda yang mengampanyekan tur beretika, ramah lingkungan, dan adil.

Kemudian pembelajaran tambahan dari penggunaan SunZet, generator listrik dari tenaga surya yang bisa mengakses area outdoor untuk memasok listrik konser mini. Di Dusun Pagi, konser dihelat di tengah sawah yang baru saja panen padi merah atau padi tinggi, pertanian yang terus dilestarikan secara ekologis. Tim SunZet dikomando Gung Kayon sudah menjemur panel di tengah sawah sejak pagi untuk menabung energi yang akan digunakan mulai sore hingga petang.

Melali di Pagi terasa kurang lama, karena rangkaian kisah sambung menyambung, dari praktik koservasi burung hantu (celepuk) sebagai predator alami tikus sawah, keberadaan sarang celepuk sebagai penanda sumber air, sampai filosofi padi Bali. Matahari sudah menggelincir ke horison, Dadang mulai memetik gitarnya ditemani aroma padi yang sedang dijemur. Puluhan warga mendekat, menikmati lagu-lagu Kubu Carik dan Dialog Dini Hari.

Melali di Dusun Pagi, Tabanan bareng Dadang-Dialog DIni Hari

Melali di Karangasem pun seperti kekurangan waktu. Mulai dari sejarah lokasi ngopi yakni Banjar Karangsari yang unik, mengenal belasan jenis pohon kelapa di kebun, sampai pembuatan minyak kelapa.

Diskusi kelapa harus dipotong untuk menyongsong sisa senja di Bukit Pekarangan, Ngis. Makan bersama, megibung dengan menu sate pepes ikan Mendira sebelum menikmati suara merdu Guna Warma Kupit. Melali Karangasem melintas dua desa bertetangga. SunZet knock down pun berperan sentral, karena outlet listrik terdekat di kaki bukit, sekitar 100 meter.

Melali bareng Guna Warma-Nosstress di Karangasem

Fiuh, perjalanan AJW 2019 yang cukup panjang dan mengejutkan. Sampai jumpa di AJW 2020, siap berkolaborasi?

Foto-foto: Risky, Vifick, dan Fauzi.

The post Berkah dan Kisah Anugerah Jurnalisme Warga 2019 appeared first on BaleBengong.

Menyimak Kolaborasi Lintas Bangsa dalam Territorium

Pertunjukan kolaborasi seniman Norwegia dan Bali digelar di Bali.

Pentas bertajuk “Territorium” ini diadakan di Bentara Budaya Bali (BBB), pada Sabtu (06/7). Pertunjukan sebagai konser visual ini diinisiasi seniman multitalenta dari Norwegia, Øystein Elle, dengan Capto Musicae-nya.

Sebagai penampil yakni Øystein Elle (vokal, instrumen) dan Maren Elle (Violin). Khusus pementasan di Bali, mereka berkolaborasi pula dengan koreografer dan penari Wayan Purwanto dan sekaa Cak dari Sanggar Singamandawa.

Garapan ini disutradarai oleh Janne Hoem sekaligus sebagai kreator bersama Øystein Elle. Sebagai produser Nina Ziegemann. Ini merupakan buah kerja sama dengan KULTURRÅDET – Arts Council Norway dan Kementerian Luar Negeri Norwegia dengan BBB.

Øystein Elle memiliki latar belakang dan pendekatan eklektik baik sebagai pemain maupun komposer, serta aktif dalam berbagai seni pertunjukan. Estetika musik maupun seni panggungnya dapat dengan jelas ditautkan dengan sumber inspirasi Baroque, Dadaisme, Eropa, dan Avant-Garde Amerika Utara.

Sebagai seorang pemain dan pencipta pertunjukan teater, ia fokus pada bentuk-bentuk modern dari dramaturgi, khususnya pertunjukan yang digerakkan oleh musik, atau “Composed Theatre”.

Sementara Maren Elle adalah seorang pemain biola di Norwegian Radio Orchestra. Selain karya orkestra, ia juga memainkan musik kamar dalam berbagai konteks, termasuk sebagai pemain biola baroque dalam ansambel Barokkanerne.

Dia memiliki kepedulian tentang penyebaran musik, dan bagaimana membuka ruang apresiasi lebih luas untuk musik, baik di kalangan penonton anak-anak atau orang dewasa.

Menurut Janne Hoem Territorium adalah potret sangat mempribadi dari Øystein Elle, dihidupkan melalui kolaborasi dan persahabatan di antara mereka. Ini juga sebentuk penghormatan terhadap segala unsur yang hidup dari manusia. Ini adalah Territorium atau wilayahnya, tetapi juga ruang terbuka, di mana Anda diundang untuk masuk ke sebuah ruang cipta baru.

“Kami dengan rendah hati membawa apa yang kami sebut pertunjukan ke Bentara Budaya Bali untuk menghubungkan akar kultur kami dengan sesuatu yang segar,” ujar Janne Hoem.

Janne Hoem merupakan seniman visual dan sutradara yang kerap mengerjakan pertunjukan teater dan film. Dia melakukan eksplorasi melampaui gender, melakukan pencarian di balik kebangsaan, latar dan mitologi untuk menemukan konsep kemanusiaan yang universal. Ia secara khusus mendalami teknik Butoh dan Grotowski guna mencipta dari dalam diri bersama pemain lainnya. Ia berupaya untuk mengekspresikan budaya dari seluruh tubuh sehingga bisa menemu apa yang hakiki dari diri.

Pencarian Panjang

Capto Musicae, berasal dari bahasa Latin yang berarti menangkap atau menangkap musik, merupakan sebuah proyek jangka panjang yang digagas Øystein Elle. Proyek tersebut menjadi sebentuk laboratorium baginya. Dia mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru untuk teater musik di persimpangan antara konser, seni pertunjukan, seni visual, dan teater, menggunakan alat komposisi praktik vokal yang diperluas sebagai kerangka kerja utama.

Melalui Capto Musicae, Elle ingin menciptakan pertunjukan dan latihan teater musik yang dapat menggambarkan sejarah suara manusia dan warisan musik yang kaya dari berbagai tradisi.

Pada garapan Territorium, Elle bereksperimen dengan unsur-unsur seperti film, bahan skenografi, teknik suara yang diperluas dan dekonstruksi bahan teks. Proses cipta pertunjukan ini juga terbilang panjang. Tidak hanya diolah di Norwegia, tetapi juga sebagian adegan dikreasi dan disublimasi di Tokyo.

Ide atau gagasan yang dipresentasikan terinspirasi mitologi yang hidup dalam khazanah kebudayaan Nordik, Avant Garde Jepang, dan Dadaisme Eropa.

Melalui tahapan konstruksi dan dekonstruksi yang berulang perihal peran, identitas, ruang pribadi dan sosial; yang secara keseluruhannya terangkum di dalam penegasan akan hubungan antar kita, berikut konvensi yang mempertautkan hubungan-hubungan tersebut.

Ini merupakan sebentuk pertunjukan kolase, mempresentasikan sebuah ruangan di mana “sense” dan “non-sense” diselaraskan atau disatu-padukan. Segenap unsur yang berbeda latar, masing-masing memiliki peran yang esensial dalam keseluruhan bangunan musikal yang bersifat polifonik.

Territorium telah dipentaskan keliling di sejumlah negara, antara lain di Tou Scene, Stavanger, Norwegia (17 dan 18 Maret 2016); di Tokyo, Jepang (24 dan 25 Juni 2016), termasuk di Norwegian Theatre Academy, Fredrikstad, Norwegia. Ditampilkan pula pada “Færder Kulturfestival” di Vestfold, Norwegia dan di The Konservatory, San Fransisco, USA, sepanjang tahun 2017 hingga 2018. [b]

The post Menyimak Kolaborasi Lintas Bangsa dalam Territorium appeared first on BaleBengong.

Inilah Para Penerima Anugerah Jurnalisme Warga 2019

dav

Ada yang menulis tentang advokasi dan aktif melakukan literasi.

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) adalah agenda tahunan BaleBengong, salah satu media warga di Bali, untuk mengapresiasi pegiat jurnalis dan media warga. Pada tahun 2019, BaleBengong kembali menyelenggarakan AJW dengan berkolaborasi bersama Combine Resource Institution (CRI).

Melalui kolaborasi ini, AJW 2019 digelar dengan menambah dua kategori nominasi, yakni media warga dan pegiat literasi digital.

Sejak April 2019, kami membuka pengumpulan karya bagi media warga, pewarta warga, dan pegiat literasi digital. Setidaknya, terdapat total 87 yang mengirimkan karya dan mengajukan diri dengan masing-masing: Media Warga (24), Pewarta Warga (16), dan Pegiat Literasi Digital (47).

Rangkaian prosesnya meliputi seleksi administrasi dan penilaian oleh juri terdiri dari Luh De Suriyani (BaleBengong), Dandhy D. Laksono (sutradara, WatchDoc), Ahmad Nasir (pegiat media warga), dan Widuri (ICT Watch).

Melalui proses tersebut, juri dan panitia memutuskan pemenang sebagai berikut:

Kategori Pewarta Warga

Kategori Pewarta Warga bisa diikuti siapa saja yang memiliki produk jurnalistik yang dipublikasikan melalui media daring (online) dan non daring (offline) tergantung aksesibilitas di media warga seluruh Indonesia. Pendaftar menunjukkan minimal satu produk jurnalistik yang dinilai telah membawa perubahan bagi komunitasnya.

Karya dapat berupa tulisan, video, foto, dan ilustrasi (komik, infografis, dll).

Pemenang di kategori ini untuk format cetak adalah I Wayan Suardana (Denpasar) dengan tulisan Peladung, Jejak Awal Mekanisme Adat Menyikapi Investasi.

Adapun yang masuk dalam sepuluh finalis adalah:

Untuk kategori Pewarta Warga format Video adalah Sugihermanto (Surabaya) dengan video Pantai Parang Tritis, Keindahan dalam Kegelapan.

Tiga karya lain yang masuk empat besar adalah

Kategori Media Warga

Sebagai catatan, media warga adalah media yang diprakarsai dan dikelola secara mandiri oleh kelompok warga non-perusahaan pers (non profit), tidak berafiliasi dengan partai politik, maupun pejabat publik. Selain mendaftarkan diri, warga juga bisa mengusulkan media warga favoritnya yang berkontribusi terhadap perubahan sosial di komunitasnya.

Pemenang Kategori Media Warga format Daring adalah Warta Desa (Pekalongan).

Media warga yang masuk 10 besar lain adalah:

Untuk Kategori Media Warga format Radio adalah Radio Komunitas Marsinah FM (Jakarta). Dia bersaing dengan satu radio lain yaitu Rakom Suandri FM (Sumatera Barat).

Kategori Literasi Digital

Kategori Pegiat Literasi Digital adalah individu atau komunitas yang mendorong perubahan aktif dan memadukan penggunaan media daring (online) dan aktivitas luring (offline). Perubahan aktif ini terkait praktik baik dan inspiratif dari desa, atau menyebarkan literasi digital yang dilakukan atau digaungkan melalui media daring seperti media sosial, blog, dan lainnya.

Pemenang di kategori ini adalah Rumah Literasi Indonesia (Banyuwangi). Komunitas ini aktif dalam kegiatan literasi baik daring maupun luring.

Kegiatan komunitas ini antara lain mengadakan talk show online, kelas literasi digital online, gerakan literasi melalui medsos, penggalangan iuran publik untuk gerakan literasi, dan menyediakan informasi terkini tentang isu pendidikan melalui website.

Adapun kegiatan luringnya mengadakan kelas film di sekolah-sekolah dan komunitas; seminar literasi digital di sekolah, kampus dan komunitas; memproduksi konten positif; serta pelatihan dan pemberdayaan masyarakat tentang jurnalisme warga.

  • Komunitas lain yang masuk dalam sepuluh besar adalah:
  • Yayasan Klub Buku Petra
  • Panti Digital Sulawesi Selatan
  • Hidden Gems Story
  • Tunanetra Sighted Network
  • Komunitas Blogger Makassar Anging Mamiri
  • Jawasastra Culture Movement
  • Bumi Setara
  • Bali Mendongeng
  • Pemuda Mendesa

The post Inilah Para Penerima Anugerah Jurnalisme Warga 2019 appeared first on BaleBengong.

Semarak Perayaan Coral Triangle Day di Kusamba, Klungkung

kkp-kelautan-terumbu-karang
Penyelenggara Coral Triangle Day 2019 dengan beberapa peserta. Foto : CTC

Terumbu karang merupakan kekayaan alam bawah laut yang mempesona.

Tahukah kalian, bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman terumbu karang terbesar di dunia yang tergabung dalam kawasan yang disebut sebagai Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle.

Apa itu Coral Triangle?

Coral Triangle adalah kawasan yang terdiri dari enam negara yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, Timor-Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Dikatakan sebagai ‘segitiga’ karena secara geografis kesatuan wilayah ini nampak membentuk sebuah segitiga.

Jika dilihat dari segi kekayaan biodiversititasnya, Coral Triangle menjadi rumah dari 76% spesies karang di dunia dan lebih dari 3000 spesies ikan karang. Hal ini semakin jelas terlihat dari peta di atas yang menunjukkan bahwa wilayah coral triangle menyimpan kekayaan spesies karang yang terbanyak di dunia, ditandai dengan warnanya yang paling gelap.

Melihat kekayaan sumber daya laut yang sedemikian, wilayah Coral Triangle ini juga disebut-sebut sebagai pusat keanekaragaman hayati laut atau ‘the world epicenter of marine biodiversity’.

peta-terumbu-karang
Peta Sebaran Terumbu Karang Dunia. Foto: Coral Geographic

Coral Triangle Day 2019

Sejak pertama kali diperingati pada tahun 9 Juni 2012, Coral Triangle Day telah menjadi peringatan tahunan. Peringatan Coral Triangle Day ini juga masih berkaitan erat dengan Hari Laut Sedunia atau World Oceans Day yang jatuh setiap tanggal 8 Juni.

Sebagai bagian dari kawasan Coral Triangle, Indonesia turut serta dalam memperingati Coral Triangle Day, termasuk di Bali. Peringatan Coral Triangle Day di Bali juga dirayakan oleh Coral Triangle Center dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) pada 19 Juni 2019 di Desa Kusamba, Dawan, Klungkung yang berada cukup jauh dari pusat kegiatan di Bali.

Aksi Bersih-Bersih Pantai Kusamba

Dimulai sejak pukul 6 pagi, serangkaian kegiatan sudah dilakukan. Dimulai dengan bersih-berish pantai, pelepasan tukik, lomba kreasi pengolahan sampah dan pementasan Wayang Samudra (wayang dengan karakter hewan laut). Sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan yaitu 173 siswa sekolah dasar di Desa Kusamba dan ratusan peserta lainnya dari berbagai organisasi dan masyarakat setempat memadati Pantai Kusamba untuk bersama-sama melakukan aksi bersih-bersih pantai. Para peserta berpencar untuk mengumpulkan sampah-sampah anorganik disekitar pantai dan berhasil mengumpulakn 251,5 kg sampah.

“Sampah yang ada disini disebabkan oleh sampah rumah tangga, selain itu juga merupakan sampah kiriman dari laut. Oleh karenanya, sampah-sampah kiriman ini perlu dilakukan pembersihan. Namun untuk sampah-sampah rumah tangga perlu perlakuan yang berbeda misalnya dengan menyediakan penampungan sampah sementara” ucap Samuda, salah satu masyarakat dari Kecamatan Dawan.

Menyampaikan Pesan dari Laut Lewat Pementasan Wayang Samudra

Wayang Samudra merupakan karya inovatif yang diluncurkan oleh Coral Triangle Center sebagai media pembelajaran dan menyadartahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga laut. Wayang Samudra yang merepresentasikan 32 jenis hewan laut seperti berbagai jenis ikan laut, kepiting, penyu, dan ubur-ubur ini dipentaskan di berbagai kegiatan di Bali, termasuk pada perayaan Coral Triangle Day 2019 di Kusamba ini.

wayang-samudra-bali
Penampilan Wayang Samudra. Foto : CTC

Para siswa terlihat sangat antusias saat menyaksikan penampilan inspiratif dan jenaka dari  si penyu, hiu dan manta yang membawakan pesan dari lautan.  Awi, salah satu siswa dari SD 2 Kusamba menunjukkan antusiasmenya pasca pementasan Wayang Samudra. “Setelah menyaksikan penampilan Wayang Samudra, saya belajar bagaimana caranya menjaga hewan-hewan laut. Ayo sama-sama kita jaga laut kita” ujarnya dengan sangat bersemangat.

Masih penasaran dengan keseruan acaranya? Simak videonya di situs instagram @coraltrianglecenter! [b]

The post Semarak Perayaan Coral Triangle Day di Kusamba, Klungkung appeared first on BaleBengong.

Inilah Lima Penulis Emerging di UWRF 2019

Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia merupakan wadah untuk menemukan calon bintang-bintang sastra masa depan Indonesia. Foto UWRF.

Sebanyak 1.217 penulis mengirimkan 1.253 karya.

Jumlah ini merupakan paling banyak sepanjang seleksi penulis emerging Indonesia yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008. Bentuk karyanya berupa cerita pendek, puisi, dan naskah novel.

Pada 14 Januari-15 Maret lalu, Yayasan Mudra Swari Saraswati, lembaga nirlaba yang menaungi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), membuka seleksi penulis emerging Indonesia 2019. Selama rentang waktu tersebutlah karya-karya itu masuk.

Seleksi penulis emerging Indonesia merupakan wadah bagi para penulis-penulis berbakat Indonesia untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka, serta membuka jalan di dunia kepenulisan profesional.

Pada tahun ke-16 penyelengaraan UWRF ini, Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga mengumumkan bahwa lima penulis emerging telah terpilih. Mereka akan tampil dalam perhelatan sastra, seni, dan budaya terbesar di Asia Tenggara pada 23-27 Oktober mendatang.

Dari rapat kuratorial yang diadakan pada Selasa pekan lalu, terangkum nama-nama penulis emerging terpilih yaitu Chandra Bientang dari D.K.I Jakarta, Ilhamdi Putra dari Padang, Sumatera Barat, Heru Sang Amurwabumi dari Nganjuk, Jawa Timur, Lita Lestianti dari Malang, Jawa Timur, dan Nurillah Achmad dari Jember, Jawa Timur.

Kelima nama tersebut dipilih langsung oleh Dewan Kurator UWRF 2019 yang terdiri dari penulis, jurnalis, dan sastrawan ternama Indonesia, yaitu Leila S. Chudori, Putu Fajar Arcana, dan Warih Wisatsana.

Proses kuratorial dimulai dari pembacaan awal yang dilakukan oleh Indonesian Program Manager UWRF, Wayan Juniarta. Dari tahap ini, terangkum daftar nominasi yang terdiri atas 30 karya dari 30 penulis.

Setiap kurator kemudian memilih 10 karya, yang kemudian disaring kembali menjadi lima karya terpilih. Setiap karya telah dibaca ulang dan didiskusikan oleh para kurator. Baik mengenai tema, pemilihan kata dan diksi, serta aspek kesusastraan lainnya.

Sejalan dengan komitmen UWRF untuk menempatkan kualitas karya sebagai parameter yang paling utama dalam proses seleksi, tahun ini UWRF kembali hanya memilih karya-karya terbaik.

Berpihak Akal Sehat

Menurut Fajar Arcana kelima karya ini dianggap mampu mendorong kesadaran untuk selalu berpihak kepada akal sehat. Sastra memang tidak menyodorkan solusi, tetapi harus mampu memberi “pencerahan” agar para penikmatnya mengutamakan penyelesaian dengan akal sehat.

“Secara istimewa, kelima karya terpilih hampir selalu berangkat problematika sosial-kultural yang terdapat di sekeliling mereka,” kata Fajar.

Oleh sebab itu, lanjutnya, nuansa lokalitasnya begitu menonjol, meski kemudian tidak jatuh pada etnosentrisme kaku. Problem-problem lokal itu ditafsir sedemikian rupa dan disajikan dalam bahasa estetik, yang kemudian kita ketahui memiliki nilai-nilai universal.

Lelia S. Chudori menambahkan tahun ini, karya penulis umumnya cerdas membuat lekukan pada plot hingga menimbulkan daya kejut. Membuat daya kejut pada cerita drama sebetulnya sangat sulit karena akan cenderung menjadi melodramatik atau akhir yang dipaksakan.

“Namun, para penulis ini berhasil membuat daya kejut sebagai bagian dari ceritanya dengan cara yang alamiah dan cerdas,” kata Leila.

Kelima penulis emerging terpilih datang dari latar belakang berbeda. Mereka adalah mahasiswa, penulis lepas, wiraswasta, karyawan swasta, dan ibu rumah tangga. Para penulis emerging terpilih ini berusia antara antara 25 tahun hingga 40 tahun. Semuanya terbukti memiliki kepiawaian dalam berbahasa Indonesia dengan baik.

“Sebagai penulis, mereka sudah tidak lagi bermasalah dengan Bahasa Indonesia sebagai media ekspresi, terbilang piawai dalam bertutur (mengatur plot, mengelola konflik, serta penyelesaian), dan memiliki keunikan secara stlistik maupun tematik,” komentar Warih Wisatsana.

Sorotan

Sama seperti tahun lalu, karya sastra berupa cerita pendek kembali menjadi sorotan. Empat dari lima karya penulis emerging yang terpilih berupa cerita pendek, sedangkan hanya satu karya berupa puisi.

Judul-judul cerita pendek karya penulis emerging antara lain: Anak Kucing Leti, Mahapralaya Bubat, Nyanyian Pilu Meo Oni yang Terdengar dari Hutan, dan Pada Hari Ketika Malam Lelap di Pangkuannya. Sementara, satu-satunya karya berupa puisi yang terpilih berjudul Alegori.

Warih Wisatsana selaku Dewan Kurator UWRF19 mencermati bahwa seluruh nominasi utama berupa karya prosa atau cerita pendek menggarap tema seputar lingkungan keseharian dan kaya dengan warna lokal seperti patriarki, adat, mitos, dan lain-lain.

Menurut Warih para penulis ini berhasil menggali tema tersebut secara mendalam. “Problematik yang diungkap tidak berhenti menjadi persoalan pribadi, melainkan menyuratkan juga pesan sosial yang lebih universal; mengkritisi berbagai hal yang dirasa tidak adil,” ujarnya.

Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia bertujuan untuk menjembatani para penulis emerging untuk lebih berkembang. Mereka mendapat kesempatan memperdengarkan karyanya kepada dunia bersama para penulis ternama dari Indonesia maupun internasional.

Mereka akan diterbangkan dari kota masing-masing ke Ubud untuk ikut berpartisipasi dalam mengisi panel-panel diskusi di UWRF 2019. Karya-karya mereka pun akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dibukukan dalam buku Antologi dwi bahasa, bersama dengan karya dari para penulis ternama Indonesia lainnya.

Deretan nama penulis ternama Indonesia yang akan melengkapi Antologi 2019 ini akan diumumkan bersamaan dengan pengumuman program lengkap UWRF19.

Sejalan dengan misi Yayasan untuk memperkaya kehidupan bangsa Indonesia melalui program pengembangan budaya dan komunitas, seleksi penulis emerging ini juga terbukti telah membukakan jalan bagi banyak penulis emerging Indonesia menuju karier kepenulisan yang lebih profesional. Sebagai contoh, para penulis emerging yang diundang ke UWRF 2018 tahun lalu telah menerbitkan buku-bukunya melalui Comma Books, sebuah penerbitan di bawah naungan KPG.

Karya-karya sastra penulis yang dulunya merupakan penulis emerging UWRF juga kerap dijumpai di koran-koran berita nasional Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa banyak sekali kesempatan yang bisa diraih para penulis emerging.

“Ubud Writers & Readers Festival telah menjadi landasan pacu bagi para penulis emerging dalam berkarya,” ujar Wayan Juniarta mewakili UWRF.

Emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas tetapi belum memperoleh publikasi memadai. Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia adalah bagian dari komitmen Yayasan Mudra Swari Saraswati untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya. Selain itu, program ini merupakan wadah untuk menemukan calon bintang-bintang sastra masa depan Indonesia. [b]

The post Inilah Lima Penulis Emerging di UWRF 2019 appeared first on BaleBengong.