Tag Archives: Kabar Baru

Zio Luncurkan Video Lirik “See The Sun” untuk Hati yang Tersenyum.

Zio mengajak menyumbu matahari lewat “See The Sun”, dirilis hari ini.

Dirilis Agustus 2017, album perdana Zio bertajuk “See The Sun” masih menjadi daftar putar wajib bagi pendengarnya di kanal-kanal musik digital. Single “See The Sun” seperti yang diprediksi menjadi single terkuat di album ini, terlihat dari jumlah putar di Spotify saja sudah didengarkan hampir selama 161.980 jam.

Untuk mengawali album “See The Sun” sebelumnya Zio sudah meluncurkan sebuah video klip dari single “Tak Tersisa” kemudian klip kedua untuk lagu “Laguku” diluncurkan pada bulan Januari 2018.

Dua tahun belakangan selain disibukan dengan jadwal manggung bersama bandnya Dialog Dini Hari, Zio juga tidak kalah disibukan dengan jadwal manggungnya sendiri. Dari panggung-panggung komunitas sampai panggung festival seperti salah satunya di Java Jazz Festival di tahun 2018 silam.

Pada Maret 2017 Zio juga berkesempatan manggung di Jepang tepatnya di Substore, Koenji, Tokyo. Untuk bekalnya ke Tokyo Zio dalam kesempatan itu merilis sebuah mini-album bertajuk “Japan Edition”. EP Japan Edition yang memuat 3 lagu yaitu “Laguku”, “Tak Tersisa”, dan tentunya “See The Sun”.

“Cruisin’ the day, Find the way to get to you, Wind through my face, The sun smiling all day.” Melanjutkan perjalanan dan animo pendengar terhadap album “See The Sun” tahun ini Zio akan meluncurkan sebuah video lirik untuk single “See The Sun” .

Video ini melibatkan “Andri Nur Oesman” seorang illustrator yang juga banyak berkecimpung di komunitas urban sketch untuk mendesain artwork dari video ini. Sedangkan untuk video lirik digarap oleh Muhammad Indra Gunawan (Igun).

Video lirik ini akan diluncurkan dengan sebuah perayaan intim, 5 april 2019, di Lingkara Space. Jl. Merdeka IV No.2, Denpasar. Penampilan Zio akan diiringi oleh Bam George (Guitar), Kevin Suwandhi (Keyboard), Fendy Rizk (Contra Bass) dan Micah Johnston (Drum).

“Video lirik ini sebagi ungkapan Terima kasih kepada teman-teman penikmat musik saya, karena sampai saat ini masih ada yang mendengarkan lagu ini. Semoga setelah video lirik
akan menjadi video klip,” ungkap Zio di sela-sela kesibukannya.

Untuk memulai malam perayaan peluncuran video lirik ini Zio juga mengajak “Sendawa”. Sebuah project band anyar yang digawangi oleh Bayu (guitar), Edi (bass), Glenda (vocal) dan
Kiki (drum). Sampai jumpa nanti untuk hati-hati yang tersenyum. Silakan simak album See The Sun di sini.

The post Zio Luncurkan Video Lirik “See The Sun” untuk Hati yang Tersenyum. appeared first on BaleBengong.

Chaos Non Musica X Maternal Disaster Menguji Skena Musik Eksperimental di Bali

Oleh Aditya Surya Taruna & Tyara Pradini

Chaos Non Musica kali ini berusaha menyajikan pengalaman lintas budaya antara skena musik eksperimental Bangkok (Thailand) dan Denpasar (Indonesia).

Inilah gerilya Pisitakun dan Wuttipong (Thailand), dan lainnya di Chaos Non Musica X Maternal Disaster.

Meskipun terus berjalan paralel dengan aliran arus utama, musik eksperimental di Asia terutama Asia Tenggara selalu mempunyai tawaran menarik: akar budaya, ketidak-mapanan teknologi, dan kondisi politik. Juga sempitnya pandangan tentang apa itu musik antara definisi dan masifnya konsumsi gempita pop di sekitarnya.

Bergerilya di antara sekian banyak talenta dan sedikitnya venue yang menerima. Kolektif-kolektif musik eksperimental Asia Tenggara memakai strategi primal ala Punk atau Hardcore; berjejaring, mengambil semua kesempatan, dan mencoba terus merangkul lewat semua improvisasi. Secara ketersediaan piranti bunyi, instrumen, tema, serta konsep yang ditawarkan.

Uniknya, secara organik, penggiat eksperimental di Bali merayap masuk melalui tawaran bebunyian analog dan digitalnya elektronik musik. Terinspirasi oleh awamnya musik klub dan dansa dan konteks pariwisata, Bali memberikan warna tersendiri di khazanah eksperimental musik indonesia. Berangkat dari lingkaran musik cadas seperti metal dan punk yang banyak terjadi tanah jawa, ataupun improvisasi bebas di ranah Jazz atau proyek-proyek kesenian berbasis bunyi di provinsi lainnya.

Ohoi Records, Grintabachan & Sooncrazy adalah penggiat utama Noise/Harsh Noise, Glibly Ninja menawarkan kegelapan analog Post-punk EBM, Diwagraya & Gumatat-gumitit Gospel menawarkan suasana ambient dan Jagajaga & Gabber Modus Operandi memberikan oktan tinggi dan definisi lain musik dansa lewat BPM cepat brutalitas bunyi mereka. Angkatan baru ini yang kemudian menjadi pengisi rutin malam experimental Chaos Non Musica paling tidak di 3 tahun terakhir.

Juga afiliasi antara kota semisal acara Tur Thailand-nya Grintabachan, Jagajaga di Jogja Noise Bombing dan juga Gabber Modus Operandi di CTM Festival Berlin 2019. Boleh dikata, Denpasar Selatan sudah punya taring sehingga penggiat garda depan seperti Yes No Klub Yogjakarta, afiliasi praktis dari Yesnowave sebagai salah satu dapur rekaman pemicu. Musisi yang juga berpengaruh di ranah eksperimental musik Indonesia sedari awal tahun 2000 melakukan kolaborasi mewadahi kerabat Asia Tenggara kami adalah:

Pisitakun (Thailand)

Seniman seni rupa yang berevolusi menjadi musisi experimental ini sarat akan makna. Antara afiliasi politik dan simbol-simbol budaya, komposisi elektroniknya merepresentasikan kengerian, curiga dan agresi primal. Dengan balutan alat tiup tradisional Thailand yang dirangkum menarik di Black Country dirilis dapur rekaman Chinabot, salah satu label Elektronik Pan-Asia yang paling diperhitungkan saat ini.

Sebagai aktivis, Pisitakun mencoba menarik garis abu antara manifesto politik dan budaya yang menjadi satu kesatuan akrobat bunyi. Tanpa semantik-semantik yang bias, dan presentasi menarik untuk definisi lanjut dari apa itu aksi politik.

Wuttipong (Thailand)

Projek pribadi dari gitaris legendaris ranah Indie Thailand; Desktop Error ini akan menawarkan soundscape dan Post Rock enigmatik. Sesuai kualitasnya sebagai salah komposer musik untuk film dan advertising Thailand yang berkualitas tinggi, Wuttipong akan mempresentasikan jeda dan spasi antara bunyi.

Bekerjasama dengan Maternal Disaster, merek produk lokal Indonesia yang sudah lebih dari satu dekade malang melintang dalam mendukung pergerakan mandiri musik-musik lokal dan internasional. Chaos Non Musica kali ini berusaha menyajikan pengalaman lintas budaya antara skena musik eksperimental Bangkok dan Denpasar. Acara ini akan diadakan di Grandpa Kitchen and Bar, Canggu, pada Selasa, 9 April 2019.

Dengan diadakannya acara seperti ini, harapannya publik akan semakin terbuka dengan berbagai macam musik yang dianggap kurang konvensional. Yang nantinya mudah-mudahan akan menjadi penyemangat untuk penggiat-penggiat industri kreatif. Khususnya di ranah musik lokal agar semakin beragam dalam menyajikan acara dan akan menjadi tongkat penyambung untuk regenerasi talenta-talenta baru.

The post Chaos Non Musica X Maternal Disaster Menguji Skena Musik Eksperimental di Bali appeared first on BaleBengong.

Mural di Pantai Jimbaran: Fantasi Putri Duyung Sampai Kelomang Kaleng

Invasi seniman mural kolektif yang bernaung di bawah tudung “Rurung Gallery” akhirnya kembali hadir di triwulan pertama tahun 2019 di Pantai Jimbaran. Area yang merentangkan tangan dan menyongsong hadirnya semburat warna dan lekuk rupa di tembok mereka.

Pada Minggu, 24 Maret 2019, sejak pukul 10 pagi, torehan warna pertama sudah mulai dipoles pada bidang tembok perkampungan jukung (perahu nelayan tradisional Bali) yang menghadap jalan, menghubungkan Jimbaran – Kedonganan. Disokong penuh oleh Desa Adat Jimbaran, dengan benang merah aura kehidupan bahari, sesi kali ini berhasil melahirkan karya eklektik apik.

Misalnya figur fantasi putri duyung berparas gadis Bali hingga kritikan pedas lingkungan yang berupa hewan kelomang. Si krustasea yang terpaksa bercangkang kaleng karena ulah manusia yang selalu memberi polutan ke lautan.

Seiring hari mulai senja, sesi menggambar tembok sedikit berbelok ke sesi berinteraksi para muralist dengan anak-anak dari sekolah dasar setempat. Untuk ikut serta mewarna bidang tembok yang sudah dikhususkan untuk mereka dan berlanjut ke merekayasa tas blacu (tote bag) dengan tuangan kreativitas polos namun spontan dari anak-anak dengan bersenjatakan cat minyak dan spidol warna sokongan dari Toko Tondo.

Bagian ini merupakan salah satu cara dari kami untuk memperkenalkan street art dan edukasi awal kepada anak-anak bahwa street art di waktu dan tempat yang baik adalah sesuatu yang produktif dan positif. Juga memupuk minat dan bakat berkesenian sedari usia awal mereka.

Kegiatan kali ini dengan senang hati disponsori oleh

NothingCloth, Rutopia, Voordurend, Toko Tondo, Nasi Kuning Bujidet, dan MadeMade Bali.

Dan jajaran artist yang terlibat adalah Pansaka, Midas Kid, Ikynata, Donik Dangin, Belanonik, Deggeha, Ardi Kidney, Desar Yuartha, Eka Sudarma Putra, Slinat, dan Bunny Bone. Media partner, Kind Magz, Magic Ink Magz, Kopi Keliling, Kulidan Kitchen, dan Balebengong.

Disain poster oleh: Arnis Muhammad

Text oleh Gino Andrias

Photo oleh: Gusde Bima, Adi Suarcandra, Gus Yoga

The post Mural di Pantai Jimbaran: Fantasi Putri Duyung Sampai Kelomang Kaleng appeared first on BaleBengong.

Perihal Arak dan Cerita-cerita di Baliknya

Pembuat arak menuangkan produknya di Karangasem.

Mata yang merah, tenggorokan yang panas.

Lima pemuda duduk melingkar. Satu kawan saya, tiga teman dari kawan saya, satu persatu saling memperkenalkan diri. Di tengah berdiri tegak botol besar 1 liter yang berisikan arak Bali.

Dia bersandingkan dengan sebotol minuman bersoda dan berserakan jajanan di sekitarnya. Botol kecil yang telah dirobek dan diambil bagian bawahnya kini dialih fungsikan sebagai cangkir untuk minum.

Satu di antara kami memiliki tugas untuk memimpin dan menuangkan arak ke cangkir dan membagikannya secara melingkar berurutan.

Mereka bilang saya tak lemah. Mereka juga mengatakan orang Surabaya terbiasa minum. Begitu mereka menyindir saya. Jangankan menenggak, tercium aromanya ketika hendak meminumnya saja saya tak mampu.

Namun, mereka begitu memaksa dan menikmati setiap tegukan ketika saya hanya mencoba membaur menjadi lambang kekuatan manusia Surabaya dalam menghadapi tiap tetesnya. Apakah mereka tidak merasa saya sengaja menguatkan diri dengan sedikit menahan napas agar melewati fase “tercium aroma” ketika menenggak cangkir di tiap putarannya?

Pada saat bersamaan ketika cangkir sedang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, terdapat diskusi ringan di dalamnya. Bahkan kadang kala terjadi pula diskusi berat dengan tema yang menyudutkan salah satu di antara mereka, yang mana hanya bisa diam dan mengesampingkan ego.

“Sepuluh ribu pertama..” Kalimat ini sering tersuarakan dari mulut anak muda yang sedang berkumpul dengan kawannya. Kalimat itu mengisyaratkan untuk “cuk-cukan” dalam Bahasa bali yang memiliki arti patungan untuk membeli arak.

Aktivitas minum arak menjadi suatu fenemona dan sudah menjadi suatu kewajaran di tengah kehidupan anak muda Bali. Entah itu hanya sekadar berkumpul di rumah atau terdapat suatu acara diskusi, pameran seni, pementasan teater, dan sebagainya.

Entah mengapa aktivitas minum arak ini seperti menjadi suatu kewajiban.

Teringat ketika saya masih hidup dan tinggal di Surabaya, aktivitas meminum minuman keras hanya kami laksanakan pada saat akhir pekan dan saat ada momen istimewa seperti perayaan ulang tahun salah satu kawan.

Saya masih belum terbiasa dengan aktivitas minum tiap harinya. Ketika di Surabaya bisa dikatakan susah untuk mencari minuman berakohol. Umumnya hanya kafe, bar, atau club yang menjualnya. Itu pun bisa didapatkan dengan harga yang relatif mahal.

Namun, ketika berada di Bali saya menjumpai banyak tempat yang menjual minuman beralkohol. Banyak toko kecil bertuliskan “sedia arak”. Bahkan betapa kagetnya saya ketika memasuki sebuah minimarket modern pun menyediakannya.

Suatu pagi saya menghampiri sebuah kafe. Betapa terkejutnya ketika melihat daftar menu, di mana harga secangkir kopi dan segelas jus buah nyatanya lebih mahal ketimbang minuman beralkohol. Inilah momen yang menyadarkan saya bahwa sehat itu memang mahal. [b]

The post Perihal Arak dan Cerita-cerita di Baliknya appeared first on BaleBengong.

Bagaimana Dunia Maya Merayakan Hari Perempuan Sedunia

Google menampilkan doodle tentang perempuan pada 8 Maret 2019 lalu.

Gambar interaktif itu segera muncul hari itu ketika kamu sedang mengakses Internet lalu melakukan pencarian dengan mesin pencari Google. Google menampilkan gambar warna-warni dalam aneka bahasa bermakna sama, perempuan.

Hari itu dunia memang memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day.

Tepat 42 tahun lalu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meresmikan 8 Maret 2019 sebagai hari perjuangan hak perempuan. Hal itu sebagai bentuk apresiasi kepada wanita yang dirintis pertama kali pada 28 Februari 1909 di New York oleh Partai Sosialis Amerika Serikat.

Jika kita menggunakan kata pencari “hari perempuan sedunia”, maka akan dijabarkan bagiamana sejarah dan kilas balik perayaan hari ini. Bagaimana semangat dan tekad kaum perempuan untuk memperjuangkan hak asasi manusia (HAM).

Sejalan dengan hal tersebut, Google pun merayakan Hari Perempuan Sedunia ini dengan mencantumkan petikan-petikan tokoh perempuan dunia berkarakter serta berjuang dengan keahlian dan caranya masing-masing.

Misalnya slogan Yoko Ono, “Mimpi yang Anda impikan sendiri hanya akan menjadi mimpi. Mimpi yang anda impikan bersama orang lain akan menjadi kenyataan.”

“Mimpi yang Anda impikan sendiri hanya akan menjadi mimpi. Mimpi yang anda impikan bersama orang lain akan menjadi kenyataan.”

Yoko Ono

Atau slogan Mary Kom (Petinju India), “Jangan katakan Anda lemah, karena Anda adalah perempuan.”

Mengulas tentang penghormatan atas jasa dan jerih payah seorang wanita banyak tertuang dalam cerita-cerita di seluruh dunia. Saya ingin sedikit bernostalgia tentang kesetiaan Sinta menunggu suaminya menjemputnya dari negeri Alengka dalam kisah Ramayana.

Dewi Athena yang memimpin seribu pasukan lelaki dalam medan peperangan di Yunani. Hal ini serupa dengan Cut Nyak Dien atau Malahayati yang mengangkat senjata ikut berperang melawan kolonialisme di tanah Aceh.

Namun, nostalgia ini sedikit bias dengan hal-hal feminin yang menyatakan posisi wanita ternyata masih di bawah lelaki. Suatu pergolakan tentang catatan sejarah dan fakta yang terjadi hari ini.

Pada hari ini, permasalahan-permasalahan tentang wanita masih dan terus masif terjadi. Masih hangat di ingatan masyarakat Indonesia dan Lombok khususnya tentang kasus pelecehan seksual yang dilaporkan Baiq Nuril yang bermula dari rekaman cerita perselingkuhan kepala sekolah tempatnya dulu bekerja.

Keberanian Baiq Nuril membeberkan percakapan yang seharusnya menjadikan dirinya pahlawan justru terjerat dugaan pelanggaran UU ITE pasal 27 ayat 1 jo pasal 45 ayat 1 UU Nomor 11 tahun 2008. Kasus ini bahkan cukup viral hingga mendapat perhatian namun kini menguap terlupakan.

Dapat diasumsikan kasus serupa dapat muncul kembali dengan tokoh wanita lainnya yang menjadi korban.

Mungkin masalahan pelecehan wanita acap kali menguap menghilang dari perhatian masyarakat umum, tetapi google mencatatnya! Jika kita menggunakan kata pencarian “kasus wanita” di mesin pencari Google, akan ada banyak kejadian-kejadian serupa.

Bahkan dalam beberapa minggu lalu, kasus viral tertangkapnya politisi menggunakan narkoba di Jakarta, ada sosok wanita yang turut diseret sebagai topik pembahasan khasus politisi tersebut.

Klise memang jika menjadikan wanita hanya sebagai objek. Padahal kenyataannya peran wanita sangat dibutuhkan di lini-lini masyarakat atau yang kini tren disebut kaum emak-emak. Mungkin perjuangan kaum feminim menuntut haknya hingga sekarang
belumlah tuntas seperti cita-cita Mary Wollstonecraft ataupun R.A Kartini.

Namun, perlu digaris bawahi, hak apa yang sebenarnya yang dituntut wanita pada dewasa ini? Bukankah jauh sebelum gerakan feminin terjadi, wanita juga bisa menjadi kepala kerajaan? Bukankah wanita telah di letakan pada posisi yang tinggi dalam folklor kedaerahan sebagai seorang “ibu”. Ibu dari segala penciptaan dan surga ada di telapak kakinya.

Merefleksikan Hari Perempuan Sedunia, pantas kiranya menjadikan pembahasan-pembahasan tentang wanita untuk menjadi konsentrasi khusus. Kurangnya nilai-nilai kemanusiaan secara khusus terhadap kaum wanita menjadikannya sangat rentan untuk dicurangi haknya. Sudah saatnya manusia memanusiakan dirinya, bukan sebatas kesetaraan tetapi tentang nilai kemanusiaan. [b]

The post Bagaimana Dunia Maya Merayakan Hari Perempuan Sedunia appeared first on BaleBengong.