Tag Archives: Kabar Baru

Tips Kurangi Risiko Saat Melasti dan Pawai Ogoh-Ogoh

Oleh dr. Oka Negara

Prinsip terbaik buat saat ini adalah semua orang membatasi mobilitas dan hindari berkumpul di keramaian. Jangan abai dengan infeksi menular cepat Covid-19 ini.

Sesungguhnya yang terbaik adalah dengan membatalkan segala acara pengumpulan orang banyak. Apakah pawai ogoh-ogoh termasuk sebuah acara yang mengumpulkan orang banyak di satu tempat? Jawabannya jelas YA.

Pasti banyak yang protes keras. Karena sudah mempersiapkan semua sejak lama dan ini sebuah tradisi yang diteruskan. Walau ada edaran-edaran yang membatasi dan ada usul membatalkan, sampai hari ini masih ada banjar-banjar yang tetap melaksanakannya. Baiklah, jika tetap ingin melabrak pandemi medis ini dengan menomerduakan permasalahan kesehatan, yang dibutuhkan kemudian adalah komitmen untuk pencegahan maksimal. Kita akhirnya tidak pernah tahu lagi saat ini jika yang hadir ada yang terinfeksi.

Berlebihan? Virus tidak pandang bulu. Virus tidak pandang orang, agamanya, sukunya, jabatannya, semua bisa kena. Sebagian masih sangat percaya bahwa kalau memang harus sakit itu sudah nasib. Itu sudah ditakdirkan Tuhan. Hyang Widhi. Ini pemikiran keliru, karena justru Tuhan juga yang menganugerahkan ilmu pengetahuan, juga ilmu kesehatan, sehingga kita tahu bagaimana pencegahan agar tidak sakit dan tidak menulari orang banyak.

Sebagai sebuah catatan, Pulau Bali ratusan tahun lalu pernah terkena wabah cacar. Semua pada menyerahkan diri dan ramai berdoa tanpa melakukan pencegahan karena memang pencegahan belum diketahui, yang membuat lebih dari setengah penduduk tidak selamat.

Padahal jika semua waspada dan komitmen terhadap pencegahan, semua bisa dikendalikan. Jika semua sanggup menjaga kesehatan, andai terinfeksipun akan bisa sembuh dan pulih lagi. Tetapi dalam kenyataannya masih banyak yang abai, tidak melakukan pencegahan. Ampah.

Di saat yang sakit harus ke dokter atau istirahat untuk dipantau di rumah, tidak dilakukan. Diminta tetap di rumah, malah jalan-jalan ke tempat ramai. Warung-warung dan kafe kopi gaul masih ramai malam-malam dipadati anak muda. Ada yang sakit batuk dan demam tetap ikut nongkrong. Dan masih banyak upaya pencegahan tidak dilakukan. Pawai ogoh-ogoh juga menyediakan keramaian masa berkumpul. Ini akhirnya tidak sejalan dengan himbauan pemerintah.

Stop atau berkomitmen. Jika acara dibatalkan, itu hal baik dalam konteks ikut memutus atau paling tidak menghambat rantai penularan. Jika akhirnya tetap diadakan, harus berkomitmen. Komitmen melakukan pencegahan. Lalu, apa saja yang harus dilakukan? Ini yang bisa dilakukan:

1. Membatasi mobilitas.

Pastikan arak-arakan ogoh-ogoh hanya dalam radius yang tidak luas, cukup di depan banjar dan berjarak cukup jauh sekitar minimal 4 meter dari penonton.

2. Membatasi jumlah masa pengarak.

Tidak usah berlebihan jumlah pengarak ogoh-ogoh. Secukupnya saja, kalau perlu tanpa banyak tim tambahan.

3. Membatasi lama paparan.

Tidak usah dilaksanakan berlama-lama. Secepat mungkin semakin baik. Ini mengurangi risiko lama paparan. Karena semakin lama bisa semakin besar kemungkinan paparan jika ada yang terinfeksi di lokasi.

4. Membatasi penonton.

Masyarakat sebaiknya menonton dari rumah. Menonton live dari media sosial atau youtube yang ada. Itu terbaik. Kalaupun datang menonton pastikan tidak sedang sakit. Panitia juga sebaiknya tegas membatasi jumlah yang hadir agar tidak ramai. Mungkin dengan teknis yang diatur berupa jatah. Dengan kupon atau perwakilan kesinoman. Di luar itu dilarang. Umumkan sebelumnya teknis ini ke masyarakat.

5. Memproteksi pengarak.

Pengarak dipastikan dulu semua sehat. Jika ada yang sakit, diganti. Ukur suhu badan sebelum tampil. Jika di atas 37,5 derajat pulangkan buat istirahat. Boleh pakai masker. Dan selalu cuci tangan sebelum dan sesudah mengarak ogoh-ogoh.

6. Skrining penonton.

Seharusnya panitia menyiapkan juga upaya deteksi penonton yang hadir dengan melakukan cek suhu tubuh dan siapkan hand sanitizer di tempat strategis. Pecalang juga mesti memproteksi diri dengan masker dan rajin cuci tangan.

7. Manfaatkan media.

Ada baiknya pawai ogoh-ogoh menjadi senyap penonton di lapangan tetapi ramai di dunia maya. Manfaatkan kesempatan dan situasi ini dengan menggunakan media sosial untuk live dan rekam video untuk diposting di fb, ig, twitter, WA group, youtube, dll.

8. Jangan pamer dulu.

Jangan pamer dulu kehebatan atau keunggulan ogoh-ogohnya di media sosial sebelum acara pawai. Ini akan membuat orang-orang ramai datang ke banjar. Ini akan membuat penambahan jumlah keramaian. Ingat saat ini keramaian tidak diharapkan. Silakan pamer sebanyak-banyaknya setelah pawai selesai.

9. Jangan turunkan imunitas.

Jangan ikutkan keberadaan alkohol di acara. Juga acara yang berlama-lama akan membuat lelah. Ini akan menurunkan.imunitas. Ini berlaku buat pengarak dan juga penonton.

10. Bersih-bersih lagi.

Pastikan setelah usai, semua bersih-bersih diri yang baik. Mandi dengan sabun yang mengandung antiseptik dan disinfektan.

Demikian. Apa bisa berkomitmen dengan langkah-langkah pencegahan tersebut? Bisa? Kalau tidak, mending acara dibatalkan. Jika bisa, harus dengan komitmen ketat terutama di area yang penduduknya memiliki mobilitas tinggi setiap harinya. Bisa jadi ini terbaca lebay, tetapi jangan sampai justru pawai ogoh- ogoh ini menjadi ajang penularan lewat kerumunan masa. Dan apapun pilihannya, tentu saja pawai ogoh-ogoh tahun ini akan dikenang sepanjang masa.

Saat sekarang repotnya memang ada yang bergejala ringan atau dirasa tidak ada gejala (asimtomatik). Sudah tertular, virus berbiak di tubuh. Virus ini akan relatif cepat menggerogoti organ yang ada reseptornya yaitu saluran nafas dan sedikit di saluran cerna. Karenanya keluhan dan fatalnya karena masalah saluran nafas.

Untungnya, selama daya tahan bagus dan tidak sedang punya penyakit lain virus bisa kalah dan pengidap jadi sembuh. Artinya bisa begini, jika kita tidak sadar, tertular, dan tidak tahu tertular, tapi tetap jaga kesehatan, bisa sembuh tanpa disadari juga. Itu untungnya.

Sialnya kita tetap bisa nulari ke yang lain. Sialnya lagi kalau yg ditulari adalah yang daya tahan tubuh lemah seperti lansia, anak-anak, orang dengan HIV/AIDS, atau diabetes. Nah mereka ini yang bisa menunjukkan gejala serta bisa fatal.

Pasukan perlindungan tubuh akan mulai mendeteksi musuh sebenarnya sejak baru musuh datang, tetapi koordinasi dan lain- butuh waktu. Pasukan antibodi untuk melawan virus mulai dikoordinasi hari ke 5-7 dan ramainya hingga pertempuran terakhir di hari ke 10-14. Karenanya karantina itu 14 hari.

Perbedaan Nyepi dan Parade Ogoh-ogoh Tahun ini

Pelaksanaan prosesi Hari Raya Nyepi dan pengarakan ogoh-ogoh tahun ini akan berbeda. Termasuk tradisi Omed-omedan dan ritual Melasti. Ini alasannya.

Surat Edaran Bersama Pemerintah Provinsi Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali, dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali tentang Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 di Bali sudah beredar. Kesepakatan tiga pihak itu menyebut pengarakan ogoh-ogoh bukan rangkaian hari suci Nyepi, sehingga tak wajib dilaksanakan. Oleh karena itu pengarakan sebaiknya tidak dilaksanakan.

Namun bila tetap dilaksanakan, pelaksanaan sesuai ketentuan. Di antaranya pengarakan dilakukan pada pukul 17-19.00 WITA. Tempat pelaksanaan hanya di wewidangan desa adat setempat. Sebagai penanggungjawab adalah bendesa dan prajuru adat desa setempat.

Pengarakan Ogoh-Ogoh terkait dengan pelaksanaan Upacara Tawur Kasanga Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 pada 24 Maret 2020 ini diimbau membatasi jumlah peserta; perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), tidak mengganggu ketertiban umum, tidak mabuk-mabukan, dan ada koordinator sebagai penanggung jawab.

Sementara keesokan hari setelah pangerupukan, warga diimbau melaksanakan Catur Brata Panyepian dengan sradha bhakti. Bagi Umat lain di Bali agar bersama-sama mendukung dan menyukseskan Pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 dengan tetap menjaga dan merawat kerukunan antar umat beragama.

Demikian Surat Edaran Bersama tertanggal 16 Maret 2020 yang ditandatangani Gubernur Bali Wayan Koster, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana, dan Bandesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet.

Imbauan ini berdasarkan arahan Presiden Republik Indonesia melalui pidato tanggal 15 Maret 2020, tentang perkembangan penyebaran penyakit virus Corona (COVID-19) di Indonesia. Juga Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 7194 Tahun 2020 tanggal 16 Maret 2020 tentang Panduan Tindak Lanjut terkait Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Lingkungan Pemerintahan Provinsi Bali, dan hasil rapat koordinasi Gubernur Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali pada 16 Maret 2020 di Gedung Gajah Jayasabha, Denpasar.

Khusus kepada Umat Hindu di Bali, kegiatan Melasti Tawur Kasanga Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut, bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Segara, Melasti di pantai. Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Danu, Melasti di danau.

Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Campuhan, Melasti di Campuhan. Bagi Desa Adat yang memiliki Beji dan /atau Pura Beji, Melasti di Beji. Bagi Desa Adat yang tidak melaksanakan Melasti, dapat Melasti dengan cara Ngubeng atau Ngayat dari Pura setempat.

Upakara Melasti ditambahkan dengan, bagi Desa Adat yang Melasti ring Segara, ngaturang Banten Guru Piduka, salaran ayam itik (bebek) dan tipat kelanan, pakelem itik katur ring Bhatara Baruna. Bagi Desa Adat yang Melasti ring Danu, Beji, utawi Campuhan, ngaturang Caru Panglebar Sasab Merana (caru ayam ireng). Bagi Desa Adat yang Melasti Ngubeng utawi Ngayat, ngaturang Caru Panglebar Sasab Merana ring Pangulun Setra.

Upakara Tawur dilaksanakan serentak pada tanggal 24 Maret 2020 dengan tingkatan sebagai berikut: Tawur Agung ring Bencingah Agung Besakih, dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali, dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali pada pukul: 09.00 WITA nemu kerta ikang rat.

Tawur Labuh Gentuh ring Catus Pata Kabupaten/Kota, dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten/Kota, dan Majelis Desa Adat Kabupaten/Kota pada pukul 13.00 WITA. Tawur Manca Kelud ring Catus Pata Desa Adat, dilaksanakan oleh masing-masing Desa Adat setempat pada pukul 16.00 WITA. Biaya Upakara dapat menggunakan Dana Desa Adat yang bersumber dari APBD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2020.

Upacara lan Upakara setingkat Keluarga dan Rumah Tangga dilaksanakan sesuai dengan Surat Edaran Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali. Tawur Agung disertai dengan Upacara Sad Kertha Kahyangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali dan difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.

Ring Luhur Puser Tasik Giri Toh Langkir, Kabupaten Karangasem, katur ring Bhatara Druwa Rsi Akasa sebagai bentuk pelaksanaan Giri Kerthi/Atma Kerthi. Ring Segara Watu Klotok, Kabupaten Klungkung, sapisanan ring Catur Bhagini utawi Catur Danu ring Bali sebagai bentuk pelaksanaan Danu Kerthi. Ring Pura Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, sebagai bentuk pelaksanaan Jagat Kerthi.

Ring Pura Dalem Sakenan, Kota Denpasar, sebagai bentuk pelaksanaan Segara Kerthi. Ring Pura Pakendungan, Kabupaten Tabanan, sebagai bentuk pelaksanaan Swi Kerthi/Jana Kerthi. Ring Pura Watu Kau, Kabupaten Tabanan, sebagai bentuk pelaksanaan Wana Kerthi.

Respon warga yang berinteraksi di media sosial terutama akun twitter @Balebengong terhadap edaran ini beragam. Ada yang mengapresiasi, dan ada yang memperkirakan pawai ogoh-ogoh akan tetap dijubeli warga. Ada juga warga yang melaporkan di beberapa kota di luar Bali, prosesi melasti dan pengarakan ogoh-ogoh ditiadakan. Sementara Tawur Agung hanya dihadiri prajuru dan pemimpin ritual.

I Gusti Ngurah Sudiana, Ketua PHDI Bali usai jumpa pers mengatakan imbauan ini sebagai upaya agar tak melanggar protap Dinas Kesehatan dan Surat Edaran terkait pandemi Covid-19. Walau bukan bagian ritual tapi ogoh-ogoh menurutnya budaya ritual. “Ogoh-ogoh lahir dari ritual walau tak ada kaitan penuh tapi masih berhubungan dengan Nyepi. Orang bikin ogoh-ogoh pasti saat Nyepi. Kalau sudah buat, mengarak sedikit, dibatasi sekitar wilayah banjarnya,” sebutnya.

Bagaimana membatasi umat saat melasti? “Melasti sudah diatur, dibatasi. Caranya membatasi, nanti desa adat mengkoordinasikan apakah semua Ida Betara ikut melasti ataukah ada yang tinggal di pura. Atau diatur semua ke pantai, yang ngiring penyungsungnya saja 1-2 orang sehingga tak melibatkan jumlah besar,” jelasnya.

Dalam prosesi melasti, penyucian diri dan alam sebelum tahun baru Saka ini biasanya melibatkan ribuan warga di tiap desa adat. Warga membawa Jempana dan baleganjur. “Baleganjur pun dibatasi, menjaga agar tak terlambat nanti,” lanjutnya tentang risiko penularan.

Sementara terkait pemadaman akses internet saat Nyepi, ia memastikan akan terjadi lagi. “Internet jelas, tak ada media sosial aktif, kecuali untuk kantor-kantor vital, keamanan, rumah sakit, pelabuhan tetap berjalan. Telpon dan SMS tetap bisa,” urainya.

Terkait tradisi Omed-omedan yang juga dipadati ribuan warga, Sudiana mengatakan akan berkoordinasi. “Kami akan koordinasikan ke Bendesa Adat Sesetan biar bisa diatur agar secara simbolis saja dulu,” katanya terkait tradisi Omed-omedan di Desa Sesetan yang dihelat sehari setelah Nyepi.

Format Baru Program Indonesia Raja 2020

Program Indonesia Raja memasuki tahun ke-6, dan terus-menerus dipelajari dan direvisi kembali. Perubahan besar-besaran yang dilakukan oleh tim koordinator Minikino secara mendasar adalah memperketat jumlah programmer yang terlibat.

Sejak diumumkan pada tanggal Senin, 2 Maret 2020, langkah ini sudah langsung menuai respon kekecewaan beberapa filmmaker yang daerahnya tidak terjangkau programmer tahun ini. Dari tahun lalu yang melibatkan 10 wilayah di Indonesia kemudian dikuruskan menjadi hanya 3 wilayah tahun ini adalah sebuah langkah yang mengejutkan beberapa pihak terkait.

Program jejaring dan pertukaran film pendek Indonesia Raja 2020 saat ini sudah pada tahap penerimaan film. Pengumuman 3 programmer kota telah diterbitkan pada hari senin 8 April 2019 yang lalu, baik melalui media sosial maupun halaman website khusus minikino.org. Ketiga programmer yang mengemban tanggung jawab tahun ini adalah Sazkia Noor Anggraini untuk D.I Yogyakarta & Jawa Tengah, Kemala Astika untuk wilayah Jawa Barat dan Kardian Narayana untuk wilayah Buleleng, Bali utara. Profil mereka sudah bisa dibaca lengkap di https://minikino.org/indonesiaraja/programer-2020/

Edo Wulia mewakili tim kerja menjelaskan bahwa, “Setelah melalui berbagai pertimbangan, hal ini kami sepakati untuk mempertegas kembali bahwa kualitas kolaborasi harus dikedepankan, lebih penting daripada mengejar jumlah. Tahun ini kami secara tegas hanya menerima programmer yang bersedia melanjutkan kerja mereka dari tahun-tahun sebelumnya.

Untuk pengajuan programmer pengganti atau programmer baru kami tahan dulu dalam status kandidat programmer untuk tahun 2021.” Edo menambahkan kembali bahwa pola kerja ini akan terus diterapkan di tahun-tahun ke depan. Calon programmer yang mendaftar akan melalui masa persiapan pada tahun pertamanya.

Dalam masa persiapan ini, mereka masuk dalam grup diskusi eksklusif bersama para programmer aktif. Sehingga mereka punya kesempatan 1 tahun pertama untuk benar-benar mengenal kerja programmer, bahkan ikut menyumbang pendapat dan berdiskusi dengan programmer aktif. Yang tidak serius atau hanya coba-coba saja akan tersaring dengan sendirinya, bahkan sebelum mereka sempat dilantik menjadi programmer aktif.

Ini mempertegas bahwa gerakan Indonesia Raja hanya bisa dikerjakan dengan mengusung kepentingan bersama. Tidak hanya untuk Minikino dan programmer saja, tapi juga kepentingan para filmmaker dan penonton di Indonesia.”

Fransiska Prihadi selaku ketua koordinator pelaksana menegaskan program Indonesia Raja adalah ruang untuk mengenal budaya masyarakat dalam arti yang lebih luas, tidak sekadar sisi tradisi namun juga budaya yang nyata di dalam masyarakat terkini. Semua secara implisit dan eksplisit disampaikan melalui karya-karya film pendek yang dibuat melalui lensa kamera putra-putri daerah mereka sendiri. “Indonesia Raja tidak dirancang untuk kompetisi, namun sebuah gerakan eksibisi, memamerkan pencapaian karya film pendek dalam skala nasional,” tambahnya.

Made Suarbawa dalam tim kerja Minikino ikut menambahkan, “pertemuan penonton dalam sebuah acara screening inilah yang menjadi salah satu dari misi Minikino sejak awal. Karena pertemuan langsung dan komunikasi yang terjadi ketika menonton bersama inilah yang menjadi momen yang memiliki nilai sosial budaya yang tinggi.”

Mulai 2 Maret 2020 pembukaan pendaftaran film pendek untuk program Indonesia Raja resmi dibuka dan akan berakhir pada tanggal Rabu, 18 Maret 2020. Indonesia Raja memanggil semua pembuat film pendek yang wilayahnya memiliki programmer untuk segera mendaftar. Para programmer selanjutnya bertugas untuk menerima pendaftaran film-film pendek dari wilayahnya masing-masing, kemudian melakukan seleksi untuk membuat sebuah program yang memperlihatkan pencapaian produksi film pendek wilayah tersebut. Tidak ada pembatasan tema sama sekali, sehingga semua genre akan dipertimbangkan, baik itu fiksi naratif, dokumenter, animasi, bahkan sampai karya-karya eksperimental sekalipun.

Sesuai alur kerja yang ditetapkan, semua program yang dibuat tahun ini akan dikembalikan lagi kepada masyarakat umum dalam bentuk pemutaran dan diskusi di berbagai tempat di Indonesia, mulai Senin, 6 April 2020 sampai akhir Desember 2019. Program-program ini juga akan menjadi bagian dari berbagai tayangan di festival film pendek Internasional; Minikino Film Week 6, yang akan diselenggarakan kembali di Bali tanggal 4-12 September 2020.

Bali yang Baik?

Saya beberapa kali mendapat pertanyaan tentang negara mana yang menjadi impian saya untuk tinggal. Dulu saya selalu menjawab Amerika. Saya melihat New York selalu teringat video klip oleh Jay-Z ft. Alicia Keys.

Saya terpukau dengan betapa megah dan beragamnya penduduk kota New York. Saya berdecak kagum ketika gambar kota New York muncul di layar kaca. Saya terpukau dengan pencakar langit di sana. Saya ingin merasakan jam sibuk di dalam kereta bawah tanah. Dulu saya sangat ingin pindah lalu tinggal di sana.

Beberapa saat yang lalu saya kembali mendapat pertanyaan itu, mereka bertanya “kalau kamu bisa pindah, kamu mau ke negara mana?” saya jawab saya masih ingin tinggal di Indonesia.

Sebuah negara yang mungkin tidak aman untuk manusia seperti saya. Sebuah jawaban yang mengejutkan teman-teman saya. Saya juga terkejut ketika menjawab demikian. Lalu saya bertanya dalam hati, kenapa kamu mau tinggal di Indonesia? Apakah masih ada hari yang cerah untuk saya di sini.

Kembali terlintas hal yang saya inginkan dalam hidup. Hal yang sempat terlintas dan membuat saya melakukan apa yang saya lakukan sekarang. Saya berkata ingin membuat keadaan di Indonesia sedikit lebih baik.

Selama ini saya selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Selain karena kami sekeluarga harus mengikuti papa yang selalu pindah kerja, hal lainnya adalah karena saya merantau untuk kuliah dan kembali merantau untuk berkarya. Saya tidak terlalu paham bagaimana rasanya memiliki keterikatan yang sangat dalam terhadap suatu daerah.

Hal ini yang membuat saya ingin pindah ke luar negeri jika memungkinkan. Saat itu kami sudah di Bali, setelah lulus kuliah saya kembali pindah untuk kuliah. Ketika saya kembali lagi setelah lulus kuliah, saya yakin bahwa dalam hidup saya harus berbuat sesuatu yang baik.

Saya adalah seorang manusia keturunan Bali. Saya memiliki KTP Bali, namun tidak bisa dibilang manusia Bali 100%. Pada awalnya saya tidak memiliki keterikatan yang dalam dengan Bali. Saya berpikir bahwa Bali hanyalah tempat singgah seperti tempat yang lain. Namun, saya memiliki perasaan bahwa Bali adalah tempat yang spesial. Saya dulu belum bisa menjelaskannya, namun bisa merasakan bahwa Bali akan memberikan sesuatu yang baik.

Sekian lama tinggal di Bali, saya tidak terlalu mengenalnya. Saya tinggal di lingkungan yang terlihat dan terasa Bali. Saya tidak berusaha untuk saling mengenalnya, seperti tidak pernah bertegur sapa. Seperti mereka yang tinggal di Ibukota. Sebuah sifat yang tidak baik kata mereka.

Saya mulai mengenal Bali ketika saya merantau untuk kuliah. Saya sering berkumpul dengan mereka di Pura. Di sana kami saling bersosialisasi, kami membuat kenangan bersama, dan di sana saya berkenalan dengan Bali. Saya pada awalnya malu karena tidak mengenal Bali. Setelah kami berkenalan, saya mulai sadar, bahwa Bali ternyata memiliki banyak permasalahan yang tertutupi oleh selimut indah bernama pariwisata.

Kemiskinan, pendidikan yang tidak merata, kerusakan lingkungan, korupsi, maraknya penipuan di dunia pariwisata, keluarga yang tidak akur, kemalangan yang menimpa pekerja di sektor pariwisata, perdagangan narkoba, peraturan dan kebiasaan adat yang menyulitan, pekerja di bawah umur, perdagangan manusia, dan masih banyak lagi.

Tidak sedikit masyarakat Bali yang peduli dengan permasalahan itu. Mereka adalah manusia Bali yang saya kagumi. Mereka tidak hanya diam dan pasrah ketika melihat ada masalah. Tidak semua orang yang tinggal di Bali adalah keturunan orang Bali. Mereka juga ikut menjadi bagian dalam barisan yang membantu menyelesaikan masalah. Merekamemberikan tenaga, pikiran, uang, dan waktu. Mereka semua memiliki keinginan yang sama, membuat Bali menjadi tempat yang baik untuk semua orang.

Saya kagum dengan mereka. Saya memiliki sebuah keinginan, saya juga ingin menjadi seperti mereka. Saya ingin, perbuatan yang saya lakukan menjadi sesuatu yang baik bagi orang lain. Kemudian saya bergabung dengan mereka yang telah melakukannya lebih dahulu. Tidak ada kata terlambat.

Bali ternyata memang spesial. Dia membantu saya menjawab sebuah pertanyaan. Bali memberi saya identitas, tujuan hidup, dan semangat baru. Saya ingin berpartisipasi untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, maka dari itu saya tetap ingin tinggal di Indonesia.

Mengenali Bipolar, Menemukan Renjanaku

Ini adalah hari ke-12 aku bekerja di tempat yang benar-benar aku suka. Dengan bidang yang juga luar biasa aku sukai dan merasa dekat dengan dunia itu.

Sebelumnya aku bekerja di sebuah kantor konsultan interior di Bali. Selama 2,5 hari saja. Loh, kenapa? Kok cepet amat? Itu dianggap probation juga enggak deh kayaknya.

Ya, aku tau. Makanya setelah berhasil bekerja selama 3 hari penuh di pekerjaan yang sekarang, akupun merayakannya dengan memesan makanan favorit untuk dinikmati bersama sang pacar. Ceritanya menghadiahi diri sendiri dan bersyukur atas keberhasilan melewati rekor 2,5 hari bekerja.

Sebelumnya saya juga pernah bekerja di Jakarta. Di kantor konsultan interior-arsitektur juga. Bertahan hanya 1 hari. Lebih parah lagi ya. Hehe.

Mundur lagi ke belakang, saat baru lulus kuliah, aku sempat bekerja di kantor konsultan interior khusus interior spa di hotel-hotel. Kantornya di Bandung. Dengan pemandangan kolam renang yang asri. Lumayanlah, bertahan 4 bulan. Tapi keluarnya juga tidak enak kondisinya.

“Kamu kenapa sih Mi?”

Itu yang banyak ditanyakan orang ke aku. Aku sebetulnya punya jawabannya, namun aku agak malu mengungkapkannya karena jawabannya bisa panjang kali lebar. Dan aku juga tidak mau terkesan menuntut minta dipahami.

Aku adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Aku hidup dengan gangguan bipolar tipe II dan gangguan kepribadian ambang sejak kecil. Gangguan-gangguan itu membuat emosi, semangat, serta energiku naik-turun. Hal-hal yang menurut orang lain tidak penting bisa menjadi pencetus serangan panikku dalam hitungan detik. Stresor-stresor yang biasa dialami oleh orang banyak bisa menjadi pencetus depresi terdalamku bahkan sampai membuatku menyakiti diri sendiri.

Di kantor pertama yang aku masuki tepat setelah aku lulus kuliah, aku merasa tidak nyaman karena aku merasa hasil kerjaku tidak akan terlalu bermanfaat untuk orang yang benar-benar membutuhkan. Dari kecil aku punya passion untuk menjadi dokter dan ingin secara langsung, literally (cie bahasa Jakselnya keluar :p), menolong nyawa orang.

Menurutku dulu yang namanya menolong orang itu harus benar-benar menolong nyawanya. Nggak bisa dengan cara lain, haha.. Nah balik lagi, di kantorku itu, aku bertugas mendesain interior spa khusus hotel-hotel bintang 5 di seluruh dunia. Dan aku stres sekali karena rasanya kok yang aku lakukan tidak mengubah dunia menjadi lebih baik (padahal ya ngga harus seidealis itu juga sih kalau hidup).

Ditambah tekanan-tekanan lembur tiap hari, masuk jam 9 pagi pulang jam 11 malam hampir tiap hari dengan imbalan yang juga tidak sesuai harapan dan janji HRD-nya. Makin streslah aku dan makin tidak merasa punya renjana di sana. Keluarlah aku dalam kondisi emosi memuncak, serangan panik, dan hampir kejang di kantor.

Oke, selanjutnya, kantor kedua, di Jakarta. Ini adalah kantor konsultan interior-arsitektur yang cukup ternama di Jakarta. Aku sebetulnya semangat sekali saat diterima bekerja di sini. Lalu masuklah aku di hari pertama, kebetulan juga hari pertama setelah tahun baru kalau tidak salah. Karyawannya ada sekitar 200 orang totalnya. Tempat makannya cukup mungil. Setiap siang dapat makan siang, lalu akupun mengekor teman kerja yang lain untuk ikut ambil makan siang.

Waduh. Penuh banget nget, nget. Bejubel. Mau jalan aja susah. Lalu pas duduk, aku didudukin orang dari kiri-kanan. Langsunglah kena serangan panik. Sepanjang siang ke sore aku nahan nangis.

Ditambah pikiran-pikiran idealisku keluar lagi, memperkuat niatku buat langsung resign. Saat sampai rumah aku langsung menangis terus dan besoknya aku langsung mengundurkan diri. Habis itu aku masuk fase depresi hampir 6 bulan. Fase depresi yang kumaksud adalah perasaan ingin bunuh diri tiap hari, merasa diri tidak berharga, merasa hanya membebani orang lain, susah sekali bangun dari tempat tidur, susah sekali mandi (rekor sebulan pernah tidak mandi sama sekali), menyakiti diri sendiri, minum obat dari psikiater banyak-banyak berharap over dosis, dan banyak lagi yang lain yang males aku sebutin satu-satu.

Lanjut, ke kantor konsultan interior di Bali yang tahun lalu menerimaku untuk kerja dengan mereka. Sepertinya sudah kebayang ya kenapa aku hanya bertahan 2,5 hari? Same old, same old. Cerita lama. Idealisme menolong orang, mengubah dunia, bidang yang tidak sesuai renjana, dan kawan-kawannya yang lain.

Namun kali ini gejalanya juga dilengkapi dengan psikosomatis. Aku muntah-muntah dan diare di kantor saking stresnya. Padahal kerjanya juga tidak berat, lho. Malah cenderung aku sukai karena pekerjaannya adalah menulis buku interior (dulu saat kuliah aku beberapa kali menulis buku interior). Tapi ya itu tadi, idealisme, renjana, dkk. Selama 2,5 hari berlalu dan akupun keluar tanpa ba bi bu (tapi tetep pamit kok via email dan whatsapp).

Habis itu lagi-lagi aku masuk fase depresi berbulan-bulan. Da kumaha atuh, kita kan butuh penghasilan buat hidup yah.

Setelah berbulan-bulan lemes dan putus asa, akhirnya cahaya terang datang. Aku ditawari pekerjaan yang sesuai dengan minatku dan di bidang yang aku sukai oleh seseorang yang melihat sepak terjangku selama satu tahun hidup di Bali.

“Wah, pekerjaan apa itu Mi?”, tanya banyak teman dekatku.

Pekerjaan ini sesuai dengan cita-citaku menjadi seorang psikiater. Bergelut di dunia kesehatan jiwa. Dan sesuai juga dengan latar belakang pendidikanku di dunia desain. Dan lagi-lagi sesuai sekali dengan minat dan hobiku dalam berkomunitas. Klop sekali, kan?

Aku bekerja di sebuah pusat rehabilitasi psikososial untuk ODGJ di Bali. Aku menangani desain grafis, website, bantu-bantu di sekretariat, dokumentasi, dan banyak lainnya. Ada satu komunitas kesehatan jiwa juga yang aku urus ini itunya, berhubungan dengan desain, website, event coordinating, dan printilan lainnya. Selain itu aku juga membantu produksi infografis dan website seorang profesional di bidang kesehatan jiwa.

Total sudah 12 hari aku bekerja di pusat rehabilitasi psikososial tersebut. Sudah 2 bulan aku bekerja mengurus komunitas kesehatan jiwa yang aku sebutkan di atas. Dan sudah 5 bulan aku bekerja membuat infografis.

“Bagaimana perasaanmu Dek?” tanya mamaku.

AKU SENANG. SENANG SEKALI. Aku merasa sangat berdaya. Aku senang sekali dengan semua kegiatanku sekarang. Terima kasih banyak untuk pihak-pihak yang memberikan kepercayaan padaku. Terima kasih banyak untuk google, youtube, dan sahabat-sahabatku yang banyak mengajarkanku cara membuat website dan urus SEO-nya, haha. Dan tentunya terima kasih banyak untuk seluruh manusia-manusia favoritku yaitu keluargaku, teman hidupku, sahabat-sahabatku, dan: Tuhan 🙂