Tag Archives: Kabar Baru

Ketika Pisang Terakhir Ditebang

Pedalem tiang nepukin punyan biu kénéanga (saya kasihan melihat pohon pisang dibeginikan).”

Kalimat itu spontan meluncur dari mulut Wayan Kariasa, salah satu pekebun sekaligus pengepul pisang di Banjar Selasih, Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Gianyar. Di siang yang terik itu, ia berdiri di atas tanah yang selama empat generasi digarap oleh keluarga Wayan Sarna.

Matanya mengedar ke sekeliling, memperhatikan pohon-pohon pisang yang sudah tumbang karena ditebang. Beberapa di antaranya memiliki batang yang masih bisa dibilang begitu pendek. Pohon-pohon pisang tersebut mati muda.

Saya hanya bisa menimpali dengan getir, “Nggih, Pak…”

Saya datang ke Selasih akhir pekan lalu. Dua pekan sebelumnya ibu-ibu di sana membuka baju mereka untuk menghadang alat berat yang masuk ke daerahnya. Mengingat apa yang mereka lakukan, hati saya patah melihat dua alat berat dengan warna merah masih bisa memarkirkan diri jauh di seberang tempat saya berpijak.

“Ini hari Minggu, alatnya enggak kerja,” ujar Gede Nova, seorang pemuda yang juga berdiri di sebelah Wayan Kariasa.

“Tapi, alatnya masih bisa masuk, ya?” tanya saya pada mereka. Mereka mengangguk. “Pas rapat waktu itu, kami sudah sepakat untuk memulangkan alat beratnya. Namun, beberapa jam kemudian, alatnya tetap ada di sana dan sampai sekarang tidak penah pergi.”

Alat-alat berat itu hendak meratakan tanah-tanah di Selasih, kira-kira separuh dari keseluruhannya. PT. Ubud Resort Duta Development (URDD) yang melakukannya, sebab tanah-tanah tersebut hendak disulap menjadi lapongan golf, resor, dan fasilitas wisata lainnya.

Setidaknya, PT URDD memasuki Selasih pada medio 1994 dengan klaim bahwa 85 persen tanah di sana tidak produktif. Dengan begitu, lahan tersebut lebih baik dimanfaatkan untuk sektor di luar pertanian atau perkebunan. Sejak saat itu, pembebasan lahan pun mulai dilakukan.

“Padahal, sebelum krisis air, dulu kami biasa menanam padi, jeruk, salak, durian, dan mayoritasnya cengkeh,” kata I Made Sudiantara, salah satu warga Selasih.

Penghasil Pisang

Berbeda dengan dulu, kini Selasih memang dikenal sebagai salah satu daerah pemasok daun pisang di Bali. Kita bisa menemukan hamparan pohon pisang batu di sana. Sekiranya pengalihan sebagian besar lahan menjadi kebun pisang terjadi pada masa-masa krisis moneter tahun 1997-1998, ditambah dengan adanya krisis air.

Pisang kemudian semakin diminati warga. Sebab, selain mampu memberikan penghasilan lebih baik daripada padi, tanaman pisang dapat dipelihara dengan mudah. Hal ini bisa dibuktikan sebab pisang begitu mudah saya temui di lahan-lahan kosong Selasih. Berjalan beberapa langkah di lahan-lahan tersebut, saya seringkali menemui anakan pohon pisang yang masih muda tumbuh dengan subur.

Pada tahun-tahun tersebut pulalah konflik terkait lahan mencuat. Pertemuan warga dengan pihak PT UDRD sempat dilakukan. Hasilnya berupa kesepakatan tidak tertulis antara kedua belah pihak. Kesepakatan itu adalah sebelum tanah benar-benar digunakan pihak PT, warga dapat menggarap dan menikmati hasilnya. Selain itu, warga juga dijanjikan oleh pihak PT perihal relokasi rumah.

“Tapi, saya tidak pernah merasa menjual tanah saya,” Kariasa berujar, menoleh ke arah Nova yang menimpalinya dengan sebuah anggukan.

Beberapa warga yang merasa bahwa lahan mereka layak untuk diperjuangkan kemudian membentuk Serikat Petani Selasih (SPS). Tercatat sebanyak 52 kepala keluarga terdaftar sebagai anggota SPS dan 32 di antaranya bermukim di lahan yang diklaim pihak PT UDRD.

Lantas, bagaimana 20 lainnya dan juga mereka yang tidak tergabung dengan SPS? “Kami masih merundingkannya, tapi yang jelas, saya cuma mau apa yang dimiliki leluhur saya tetap di sini dan seperti ini,” tegas Nova.

Warga Selasih mengaku masih berharap pada pemerintah untuk membantu meredakan konflik ini. “Kalau kita nggak berharap sama pemerintah, mau berharap sama siapa?” ujar Kariasa. Saya tersenyum, kecut sekali.

Setelah semua yang terjadi, warga Selasih masih berpikir bahwa pemerintah akan melakukan sesuatu untuk rakyat seperti mereka. Harapannya, pemerintah mampu menjalankan dan menguatkan PP Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar, serta Perpres Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria. Dengan begitu, warga Selasih tidak terinjak di tanah mereka sendiri.

Tiba-tiba Datang Kembali

“Waktu (lahan) dibabat, tiang dadi penonton gen. Kan sing runguanga munyin tiangé (saya jadi penonton saja, kan ucapan saya tidak didengarkan).”

Saya termenung mendengar ucapan Wayan Liu, seorang ibu yang sehari-hari menggarap lahan yang waktu itu sedang saya pijak. Ia merasa bahwa suara para perempuan di Selasih tidak akan didengarkan.

Padahal, perempuan-perempuan tersebut berperan begitu banyak dalam usaha perkebunan pisang di Selasih. Mereka turut bekerja di kebun, menanam dan merawat pohon-pohon, mengambil daun-daun, serta mengantarkannya ke Denpasar dan Badung untuk dijual.

Sementara itu, wajah-wajah perempuanlah yang memperkenalkan saya dengan Selasih dan konfliknya. Dua pekan lalu, foto-foto mereka yang hanya menggunakan kutang dengan raut marah menghiasi linimasa media sosial saya. Mereka menghadang alat berat yang muncul kembali setelah dua puluh tahun tidak berkabar.

Ketika perempuan yang merasa kurang didengarkan justru menjadi garda depan dalam perlawanan, saya pikir, ini adalah suatu alarm tanda bahaya. Apa yang terjadi di Selasih adalah suatu kegentingan.

Biune ampun telah. Ten wenten penghasilan napi mangkin. Nol. Mati raga pelan-pelan (pisangnya sudah habis, tidak ada penghasilan apa-apa sekarang. Nol. Kami mati pelan-pelan),” tegas Liu. Ia yang biasanya menjual 60-70 ikat daun pisang satu kali dalam dua hari, kini harus melakukannya dalam waktu lima belas hari sekali.

Walaupun dihimpit ketidakpastian dan semakin menipisnya penghasilan, warga Selasih tetap bisa tersenyum dan berbagi. Saya dan lima orang kawan yang datang ke Selasih disuguhkan berbagai macam hasil bumi. Kariasa memetikkan kelapa muda dan kami minum bersama-sama di siang yang terik di tepi lahan bersengketa.

Kami sempat diajak Liu mencoba memetik dan memotong daun pisang dengan teknik yang biasa mereka gunakan. Di perjalanan pulang, kami harus menepi kembali sebab Nova memetikkan sebungkus leci dan sebuah durian. Segar sekali, walaupun seorang polisi tetap mengikuti kami kemanapun kami pergi.

“Kita selalu minta dan diberi oleh warga desa, tapi mereka enggak pernah minta sama kita yang di kota,” kata Luh De Suriyani, kawan yang mengajak saya ke Selasih, sambil tertawa.

“Kalau begitu, sekarang tiang minta tolong untuk dibantu memperjuangkan biar kami dapat yang sepantasnya,” jawab Liu.

Lalu kami tertawa bersama. Perihal isi hati, siapalah yang tahu. Mungkin di balik tawa yang mereka bagi di hari itu, warga Selasih senantiasa meringis dalam hati. Sama seperti batang pohon leci milik keluarga Nova yang akhir-akhir ini terus menerus mengeluarkan air.

“Mungkin dia juga ikut menangis,” ujarnya sambil tersenyum. [b]

Catatan Tandang ke Selasih

Pedalem tiang nepukin punyan biu kénéanga (saya kasihan melihat pohon pisang dibeginikan).”

Kalimat itu spontan meluncur dari mulut Wayan Kariasa, salah satu pekebun sekaligus pengepul pisang di Banjar Selasih, Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Gianyar. Di siang yang terik itu, ia berdiri di atas tanah yang selama empat generasi digarap oleh keluarga Wayan Sarna. Matanya mengedar ke sekeliling, memperhatikan pohon-pohon pisang yang sudah tumbang karena ditebang. Beberapa di antaranya memiliki batang yang masih bisa dibilang begitu pendek. Pohon-pohon pisang tersebut mati muda. Saya hanya bisa menimpali dengan getir, “Nggih pak…”

Saya datang ke Selasih dua pekan setelah ibu-ibu di sana membuka baju mereka untuk menghadang alat berat yang masuk ke daerahnya. Mengingat apa yang mereka lakukan, hati saya patah melihat dua alat berat dengan warna merah masih bisa memarkirkan diri jauh di seberang tempat saya berpijak. “Ini hari Minggu, alatnya enggak kerja,” ujar Gede Nova, seorang pemuda yang juga berdiri di sebelah Wayan Kariasa.

“Tapi alatnya masih bisa masuk ya?” tanya saya pada mereka. Mereka mengangguk. “Pas rapat waktu itu, kami sudah sepakat untuk memulangkan alat beratnya. Namun, beberapa jam kemudian, alatnya tetap ada di sana dan sampai sekarang tidak penah pergi.”

Alat-alat berat itu hendak meratakan tanah-tanah di Selasih, oleh PT. Ubud Resort Duta Development (URDD) hendak disulap menjadi lapongan golf, resor, dan fasilitas wisata lainnya. Perusahaan ini sudah memasang plang nama sebagai pemilik lahan, setelah konflik tanah lebih dari 20 tahun. Setidaknya, PT URDD memasuki Selasih pada 1990an dengan klaim bahwa 85% tanah di sana tidak produktif. “Padahal, sebelum krisis air, dulu kami biasa menanam padi, jeruk, salak, durian, dan mayoritasnya cengkeh,” kata I Made Sudiantara, salah satu warga Selasih.

Sejumlah warga membuat artikel terkait konflik agraria Selasih ini sebelumnya. Seperti Made Supriatma dan Roberto Hutabarat.

Berbeda dengan dulu, kini Selasih memang dikenal sebagai salah satu daerah pemasok daun pisang di Bali. Kita bisa menemukan hamparan pohon pisang batu di sana. Sekiranya pengalihan sebagian besar lahan menjadi kebun pisang terjadi pada masa-masa krisis moneter tahun 1997-1998, ditambah dengan adanya krisis air.

Pisang kemudian semakin diminati warga sebab selain mampu memberikan penghasilan yang lebih baik daripada padi, tanaman pisang dapat dipelihara dengan mudah. Hal ini bisa dibuktikan sebab pisang begitu mudah saya temui di lahan-lahan kosong Selasih. Berjalan beberapa langkah di lahan-lahan tersebut, saya seringkali menemui anakan pohon pisang yang masih muda tumbuh dengan subur.

Pada tahun-tahun tersebut pulalah konflik terkait lahan mencuat. Pertemuan warga dengan pihak PT UDRD sempat dilakukanseperti kesepakatan tidak tertulis dan tertulis antara kedua belah pihak. Kesepakatan itu adalah sebelum tanah benar-benar digunakan pihak PT, warga dapat menggarap dan menikmati hasilnya. Selain itu, warga juga dijanjikan oleh pihak PT perihal relokasi rumah. “Tapi saya tidak pernah merasa menjual tanah saya,” Kariasa menoleh ke arah Nova yang menimpalinya dengan sebuah anggukan.

Beberapa warga yang merasa bahwa lahan mereka layak untuk diperjuangkan kemudian membentuk Serikat Petani Selasih (SPS). Tercatat sebanyak 52 kepala keluarga terdaftar sebagai anggota SPS dan 32 di antaranya masuk kawasan yang diklaim PT UDRD. “Saya hanya ingin, apa yang dimiliki leluhur saya tetap di sini dan seperti ini,” tegas Nova.

Warga Selasih mengaku masih berharap pada pemerintah untuk membantu meredakan konflik ini. “Kalau kita nggak berharap sama pemerintah, mau berharap sama siapa?” ujar Kariasa. Saya tersenyum, kecut sekali. Setelah semua yang terjadi, warga Selasih masih menaruh asa pada pemerintah akan melakukan sesuatu untuk rakyat seperti mereka. Harapannya, pemerintah mampu menjalankan dan menguatkan PP Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar, serta Perpres Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria. Dengan begitu, warga Selasih tidak terinjak di tanah mereka sendiri.

Tiba-tiba Datang Kembali

“Waktu (lahan) dibabat, tiang dadi penonton gen. Kan sing runguanga munyin tiangé (saya jadi penonton saja, kan ucapan saya tidak didengarkan).”

Saya termenung mendengar ucapan Wayan Liu, seorang ibu yang sehari-hari menggarap lahan yang waktu itu sedang saya pijak. Ia merasa bahwa suara para perempuan di Selasih tidak akan didengarkan. Padahal, perempuan-perempuan tersebut berperan begitu banyak dalam usaha perkebunan pisang di Selasih. Mereka turut bekerja di kebun, menanam dan merawat pohon-pohon, mengambil daun-daun, serta mengantarkannya ke Denpasar dan Badung untuk dijual.

Sementara itu, wajah-wajah perempuanlah yang memperkenalkan saya dengan Selasih dan konfliknya. Dua pekan lalu, foto-foto mereka yang hanya menggunakan kutang dengan raut marah menghiasi linimasa media sosial saya. Mereka menghadang alat berat yang muncul kembali setelah dua puluh tahun tidak berkabar. Ketika perempuan yang merasa kurang didengarkan justru menjadi garda depan dalam perlawanan, saya pikir, ini adalah suatu alarm tanda bahaya. Apa yang terjadi di Selasih adalah suatu kegentingan.

Biune ampun telah. Ten wenten penghasilan napi mangkin. Nol. Mati raga pelan-pelan (pisangnya sudah habis, tidak ada penghasilan apa-apa sekarang. Nol. Kami mati pelan-pelan),” tegas Liu. Ia yang biasanya menjual 60-70 ikat daun pisang satu kali dalam dua hari, kini harus melakukannya dalam waktu lima belas hari sekali.

Walaupun dihimpit ketidakpastian dan semakin menipisnya penghasilan, warga Selasih tetap bisa tersenyum dan berbagi. Saya dan lima orang kawan yang datang ke Selasih disuguhkan berbagai macam hasil bumi. Kariasa memetikkan kelapa muda dan kami minum bersama-sama di siang yang terik di tepi lahan bersengketa. Kami sempat diajak Liu mencoba memetik dan memotong daun pisang dengan teknik yang biasa mereka gunakan. Di perjalanan pulang, kami harus menepi kembali sebab Nova memetikkan sebungkus leci dan sebuah durian. Segar sekali, walaupun seorang polisi tetap mengikuti kami kemanapun kami pergi.

“Kita selalu minta dan diberi oleh warga desa tapi mereka enggak pernah minta sama kita yang di kota,” kata Luh De, kawan yang mengajak saya ke Selasih, sambil tertawa. “Kalau begitu, sekarang tiang minta tolong untuk dibantu memperjuangkan biar kami dapat yang sepantasnya,” jawab Liu.

Lalu kami tertawa bersama. Perihal isi hati, siapalah yang tahu. Mungkin di balik tawa yang mereka bagi di hari itu, warga Selasih senantiasa meringis dalam hati. Sama seperti batang pohon leci milik keluarga Nova yang akhir-akhir ini terus menerus mengeluarkan air. “Mungkin dia juga ikut menangis,” ujarnya sambil tersenyum.

The post Ketika Pisang Terakhir Ditebang appeared first on BaleBengong.

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Ayah, biarkan hamba tinggal di sini. Sampai mati hamba ingin tetap di sini.”

Demikian kata Wedawati kepada Mpu Baradah, setelah ia merasa tidak dipedulikan di rumahnya sendiri. Saat itu juga ia memutuskan akan tinggal di kuburan, di mana ibunya diupacarai dahulu. Mpu Baradah hanya bisa mengikuti kemauan anaknya. Mulai saat itu, Mpu Baradah memutuskan untuk membangun Pasraman di kuburan itu.

Tanah diratakan, juga diupacarai agar layak ditinggali. Nama upacaranya Bumi Suddha. Setelahnya didirikanlah balai-balai Patani, Patamuan, Pakulem-kuleman, juga Bukur. Gerbang masuk juga dibangun. Bunga-bunga mulai ditanam, seperti bunga Angsoka, Andul, Surabi, Tanjung, Kamuning, Campaka Gondok, Warsiki, Asana, Jering, dan Bujaga Puspa.

Tidak kurang lagi bunga Cabol Atuwa, Gambir, Malati Puspa, Caparnuja, Kuranta, Tari Naka, Cina, Teleng, Wari Dadu, Wari Petak, Wari Jingga, Wari Bang, Padma, dan Lungid Sabrang. Banyak jenis-jenis bunga di Pasraman itu, dan jenis bunga yang sudah tidak kita kenali lagi. Setelah Pasraman itu selesai, di sana Mpu Baradah mengajarkan banyak hal kepada murid-muridnya siang dan malam.

Sampai di sana, cerita tentang Mpu Baradah dan Wedawati berhenti. Atau lebih tepatnya dihentikan. Yang memiliki otoritas untuk menghentikan dan melanjutkan cerita adalah pencerita. Pencerita menjadi maha kuasa di dunia yang ia ciptakan sendiri. Tokoh-tokoh di dalamnya, bergerak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan pembaca hanya bisa pasrah mengikuti aliran pikiran pencerita, sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Maharaja Erlanggya namanya, raja dari kerajaan Daha. Ia disebut Tilingeng Karesyan. Kata Tiling bisa berarti pilihan. Karesyan tampaknya sangat dekat hubungannya dengan suatu tempat para Resi. Barangkali maksudnya, bahwa Erlanggya adalah raja yang dipilih dari salah satu tempat para Resi. Dengan demikian, sangat besar kemungkinan Erlanggya adalah salah satu pelajar di Karesyan itu.

Ada seorang Randa diceritakan kemudian. Randa ini bertempat di Girah. Ia dikenal dengan sebutan Calwan Arang. Anaknya satu bernama Ratna Manggali, cantik sekali. Sayangnya tidak ada yang melamarnya, entah orang-orang Girah, Daha atau orang dari negara pinggiran. Semuanya takut karena terdengar berita Adyan Ing Girah [Calon Arang] mempraktikkan Laku Geleh. Laku Geleh kita terjemahkan sebagai tindakan jahat. Kata Geleh berarti kotoran, noda, kejahatan. Entah kejahatan jenis apa yang konon dilakukan oleh Calwan Arang, belum dijelaskan pada bagian ini.

Calwan Arang merasa tidak terima dengan situasi yang harus diahadapi putrinya. “Apa kurangnya anakku? Kurang cantik? Tidak mungkin!” Karena itu, ia memutuskan untuk Manggangsala Pustaka. Manggangsala Pustaka berarti menurunkan atau mengambil Pustaka. Pustaka dalam hal ini berarti ajaran. Ajaran apakah yang hendak diturunkan? Menurut teks, yang diturunkan adalah Lipyakara. Tidak ada penjelasan yang cukup menjanjikan untuk memahami, apa yang dimaksud dengan Lipyakara. Tapi teks menunjukkan bahwa Lipyakara itu dilakukan dengan menghadap kepada Sri Bagawati. Sri Bagawati adalah nama lain dari Durga. Tujuannya hanya satu: tumpura nikang wwang sanagara [agar semua orang di negara itu terkena penyakit].

Tidak ada yang harus ditunggu lagi, Calwan Arang bersama dengan murid-muridnya menghadap Sri Bagawati di kuburan. Agar tidak ada yang tertinggal, murid-murid itu diabsen terlebih dahulu. Si Weksirsa, Mahisawadana, Si Lendya, Si Lende, Si Lendi, Si Guyang, Si Larung dan Si Gandi. Semuanya menari di kuburan!

Maka yang disembah merasa senang dan mewujudkan diri bersama dengan para pasukannya. Pasukan-pasukan itu datang dan menari di kuburan. Kuburan menjadi sebuah panggung tarian bagi pemuja dan pujaan. Bayangkan, jika drama tari Calwan Arang diadakan di kuburan. Tarian kembali kepada esensinya sebagai ritus pemujaan yang dilakukan dengan gerakan ritmis-mistis. Dengan demikian, penonton tidak perlu lagi menunggu-nunggu saat mayat-mayatan dibawa ke kuburan. Sebab panggung tarian sudah menyajikan kemistisan dari awal pertunjukan dimulai. Juga mereka tidak menjaga jarak sebagai penikmat, tapi juga sebagai pelaku yang dinikmati oleh dirinya sendiri.

Sri Bagawati merasa senang, dan mengabulkan permintaan Calwan Arang. Namun dengan syarat, jangan membunuh sampai ke tengah [kerajaan?], dan jangan sampai kematian itu menyebabkan duka yang teramat sangat. Calwan Arang senang bukan kepalang, lalu melanjutkan tariannya di tempat itu. Ketika tengah malam, berbunyilah Kamanak dan Kangsi. Keduanya dalam seni Gambuh adalah alat musik. Kedua instrument ini tampaknya juga sangat penting dihadirkan pada drama tari Calwan Arang. Jadi ada beberapa hal yang dapat kita ketahui dari cerita Calon Arang yang kita baca. Begini:

  1. Calon Arang menari bersama delapan orang muridnya di Kuburan. Tujuannya adalah memuja Sri Bagawati;

  2. Waktunya adalah tengah malam [madya ratri];

  3. Instrumen musik yang disebut mengiringi tarian itu adalah Kamanak dan Kangsi.

Jadi beberapa point penting itu perlu dicatat oleh kita yang mengaku gemar pada drama tari Calwan Arang. Teks menyajikan sesuatu yang lain dari pada pertunjukan yang sering dipentaskan. Di tingkat ini, kita mesti memikirkan kembali hal-hal lain yang mungkin masih tersimpan dalam teks dan membandingkannya dengan seni pertunjukan. Barangkali di antaranya ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk mengeksplorasi lebih jauh seni pertunjukkan Calon Arang.

Permohonan Calwan Arang benar-benar terkabul. Banyak orang di negara itu mati. Kematian banyak orang membuat Negara serasa mencekam. Rakryan Apatih menghadap kepada raja Erlanggya, melaporkan kejadian yang menimpa negara. “Penyebab semua ini adalah Randeng Girah, dialah Calwan Arang!”, demikian isi laporan sang Patih.

Tidak ada ampun untuk Calwan Arang, pergilah kalian semua punggawa, serang si Calwan Arang”, dengan geram raja Erlanggya memerintahkan semua punggawanya menuju Girah. Sang Bretya sampai di kediaman Calwan Arang, yang dicari masih tertidur pulas. Moment itu dimanfaatkan dengan baik, Sang Bretya menyerang Calwan Arang. Rambutnya dijambak lalu bersiap menusuknya. Saat itu, entah kenapa kaki Sang Bretya terasa berat dan gemetar. Calwan Arang sadar, seketika itu keluar api dari mata, telinga dan mulutnya. Api itu makin lama makin besar dan membakar Sang Bretya. Maka matilah dua orang Bretya yang menyerang Calwan Arang.

Ada beberapa teks yang mendukung kejadian yang menimpa punggawa Daha itu. Api konon memang bisa dikeluarkan dari lubang-lubang yang disebutkan dalam teks Calwan Arang. Masing-masing lubang itu mengeluarkan api yang berbeda warna. Api dari mata berwarna putih, sebab api ini berasal dari jantung. Jantung dalam peta mistis, terletak di timur tubuh. Telinga mengeluarkan api kuning. Menurut teks yang sama, dari ginjal ada saluran berupa urat yang tembus ke telinga. Ginjal dalam tubuh, ada di barat. Dari mulut keluar api merah. Api itu konon bersumber dari hati. Hati dalam peta mistis berada di selatan berwarna merah.

Selain beberapa lubang yang sudah disebutkan tadi, menurut teks Calwan Arang ada lagi satu lubang tubuh Calwan Arang yang mengeluarkan api. Lubang itu disebut Garba. Garba adalah sebutan untuk Rahim. Jadi dari lubang Rahim itulah api keluar berkobar dan membakar Bretya dari Daha. Bretya barangkali sebutan untuk punggawa kerajaan Daha. Semua kejadian itu dilaporkan kepada raja Erlanggya.

Calwan Arang yang sudah marah, menjadi makin marah setelah kejadian itu. Maka sekali lagi ia pergi ke kuburan dan menurunkan Lipyakara. Di kuburan, Calwan Arang duduk di bawah pohon Kepuh. Murid-muridnya mendekat. Si Lendya memberanikan diri bicara, “Maafkan hamba guru, untuk apa kita melakukan semua ini? Tidakkah sebaiknya kita berbuat baik dan menyerahkan diri kepada Sang Mahamuni?”.

Larung, muridnya yang lain berkata, “Apa yang mesti kita takutkan guru? Kemarahan raja? Jangan ragu guru, kita serang saja kerajaan itu!”. Dihadapkan pada dua pilihan, Calwan Arang memilih menyerang.

Cepat, bunyikan Kamanak dan Kangsi! Menarilah! Menari! Menari!”.

Tanpa cang-cing-cong lagi, Calwan Arang dan murid-muridnya menari lagi di kuburan. Tujuannya agar kerajaan Daha diserang penyakit. Tidak lagi syarat Sri Bagawati diperhatikan oleh Calwan Arang. Negeri Daha diserang sampai ke tengah kerajaannya.Mereka menari dengan caranya masing-masing. Si Guyang menari dengan tangan terlentang lalu menepuk-nepuk. Jalannya terbalik [nyungsang]. Juga memakai kain [sinjang]. Matanya mendelik, melihat ke kanan dan ke kiri.

Si Larung menari, lagaknya seperti macan akan menerkam buruan. Matanya mendelik seperti permata merah. Rambutnya terurai panjang. Si Gandi menari melompat-lompat. Rambutnya terurai dan berjuntai. Si Lendi menari berjinjit-jinjit memakai kain. Matanya bersinar terang seperti api berkobar. Si Weksirsa beda lagi, dia menari menunduk-nunduk. Matanya mendelik tanpa berkedip. Mahisawadana menari dengan satu kaki. Setelahnya ia berbalik, kepalanya di bawah. Lidahnya menjulur-julur. Calwan Arang merasa senang.

Tarian itu belum selesai. Mereka membagi tugas melingkar. Lenda bertugas di Selatan. Larung di Utara. Guyang di Timur. Gandi di Barat. Calwan Arang di tengah. Begitu juga Weksirsa dan Mahisawadana, di tengah bersama Calwan Arang. Formasi itu mirip bunga teratai dengan empat kelopak. Masing-masing kelopak menunjuk satu arah. Calwan Arang dan dua muridnya menjadi sari bunga teratai.

Konsep ini tidak asing bagi mereka yang menekuni teks-teks lontar. Bahkan, konsep itu tidak asing pula bagi orang-orang yang peduli pada ritual. Salah satu ritual yang menggunakan konsep teratai empat kelopak adalah upacara caru. Masing-masing arah diwakilkan oleh satu ayam. Ayamnya bukan ayam sembarangan. Tapi ayam yang bulu-bulunya diseleksi.

Formasi yang dibangun sudah siap. Saat itu mereka melihat satu mayat. Tampaknya mati saat Tumpek Kaliwon. Tumpek Kaliwon artinya Sabtu Kaliwon. Mayat itu diletakkan pada batang pohon Kepuh. Apa yang dilakukan dengan mayat itu? Dimakan? Dicincang? Tidak. Mayat itu lalu dihidupkan! Teknik menghidupkan ini disebut binaywan-baywan. Artinya memberikan sumber tenaga [bayu]. Dalam banyak sumber lontar, kita diberi tahu bahwa yang disebut bayu ada sepuluh. Bahkan menurut sumber lainnya, jumlah bayu ada dua puluh. Keduapuluh bayu itu bernama bayu rwang puluh.

Teks menyajikan sesuatu untuk dibaca. Pembaca bertugas memahami. Pergulatan antara teks dan pembaca terjadi terus menerus. Hadiah dari pergulatan itu adalah pemahaman yang terkesan selalu baru, selalu segar. Calwan Arang dituduh melakukan kejahatan, bahkan pencerita sendiri tidak menjelaskan kejahatan macam apa yang dilakukannya.

Melalui teks, kita tahu kalau Lipyakara dilakukan oleh Calwan Arang karena dua hal. Pertama karena putrinya tidak ada yang berani melamar, sebab tuduhan yang ditusukkan pada dirinya. Kedua, karena ia diserang oleh punggawa Erlanggya. Keduanya berpusat pada dendam. Dendam karena dituduh, dan dendam karena diserang.

The post Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap-Bagian II appeared first on BaleBengong.

Literasi Film di Desa Padangsambian Kaja

Literasi film dan produksinya meluas ke desa.

Minikino bersama Desa Padangsambian, Denpasar Barat menyelenggarakan rangkaian pelatihan Literasi Film dan Produksi Film selama 3 hari. Dimulai Jumat, 6 Desember dan berlangsung setiap hari sampai Minggu, 8 Desember 2019. Seluruh rangkaian workshop diadakan di Balai Desa Padangsambian Kaja, Jl. Kebo Iwa No.35, Denpasar.

Pra-aktifitas untuk pemanasan dilakukan Kamis, 5 Desember 2019. Seluruh peserta dan pengurus Desa Padangsambian Kaja diundang untuk terlibat dalam pemutaran dan diskusi program ReelOzInd! Award Winners di Art-House Cinema MASH Denpasar. Selain menonton program film pendek, acara ini menghadirkan diskusi online melalui skype dengan narasumber Jemma Purdey (Australia) selaku direktur ReelOzInd! & Melanie Filler, produser film “Posko Palu’. Dipandu moderator, keduanya narasumber melakukan tanya jawab langsung dengan penonton. Sesi diskusi berlangsung lancar selama 30 menit antara Denpasar, Melbourne, dan Sydney di Australia.

Modul pelatihan ini disusun oleh tim kerja Minikino dengan silabus yang padat. Para peserta remaja dari desa Padangsambian Kaja dilibatkan secara aktif mulai dari menonton dan berdiskusi dengan para profesional di bidangnya, mengikuti seminar tentang sejarah, dari sisi perkembangan kebudayaan serta teknologinya. Mereka juga mendapatkan pembekalan pemahaman kekuatan visual dan materi suara dalam film, hingga akhirnya mempraktikkan seluruh rangkaian proses produksi sebuah film. Mulai dari pengembangan ide, penulisan cerita, desain produksi, dan produksinya sendiri.

Hari pertama

Pelatihan dibuka Perbekel Padangsambian Kaja, I Made Gede Wijaya, S.Pt., M.Si. yang pada sambutannya menyatakan pelatihan semacam ini diharapkan bermanfaat bagi generasi muda. “Desa memanfaatkan teknologi, media film, serta industri kreatif yang dapat menjadi kekuatan desa supaya tidak ketinggalan jaman,” katanya.

Sesi pertama tentang Literasi Film: Sejarah Film Pendek di Dunia dan di Indonesia disampaikan oleh Edo Wulia, direktur Minikino yang sekaligus menjadi mentor pelatihan. Edo memberikan informasi sejarah film dunia dan memberi gambaran luas tentang bagaimana industri film di dunia berkembang seiring kemajuan teknologi. Edo Wulia juga menghubungkannya dengan Bali melalui film “Legong, Dance of the Virgins” yang diproduksi tahun 1935, yang ternyata merupakan salah satu film bisu produksi terakhir di Hollywood.

Selanjutnya, sesi “Visual Storytelling” disampaikan I Made Suarbawa untuk menekankan fokus terhadap alur cerita, mengingat produk dari pelatihan ini salah satunya ialah tulisan/ ide cerita untuk diproduksi pada hari ketiga pelatihan.

Hari kedua

Seminar “Literasi Film Dan Media Untuk Berpikir Kritis” menjadi tema pembuka di pagi hari. Materi ini disampaikan oleh Nurafida Kemala Hapsari dan Saffira Nusa Dewi. Diskusi menjadi lebih hangat ketika menyentuh topik pengaruh publikasi dan persepsi penonton bahkan tentang film yang belum ditonton. Modul dilanjutkan dengan presentasi mengenai “Kerjasama Tim dalam Produksi” disampaikan oleh Inez Peringga. Studi kasus disampaikan dari pengalaman pribadi Inez saat membuat film pendek pertama di masa kuliahnya di sekolah film.

Materi berikutnya “Suara dalam Film” menerangkan sisi audio pada film, diawali dari sejarah film bisu yang hampir selalu ditampilkan dengan iringan musik. Materi ini diberikan untuk membangun pemahaman tentang kekuatan audio dan pengaruhnya pada visual. Pengenalan teknis diiringi berbagai contoh dan praktik, serta berbagi pengalaman tim minikino melakukan audio dubbing untuk keperluan festival internasionalnya.

Hari kedua diakhiri dengan pembahasan cerita para peserta serta desain produksi meliputi pembedahan naskah termasuk lokasi, properti, pemain, dari ide cerita peserta di hari pertama. Para mentor dan fasilitator mengarahkan peserta untuk melakukan analisis mandiri ide cerita mana yang paling memungkinkan untuk diproduksi pada hari ketiga. Sesi terakhir namun yang paling panjang ini dipandu oleh I Made Suarbawa sebagai pendamping utama produksi.

Dari berbagai ide cerita yang dikembangkan hingga menjadi storyline, dipilih satu cerita yang kemudian ditulis menjadi skenario, yang kemudian dibedah dalam sesi desain produksi. Sesi ini mempersiapkan hari terakhir, di mana semua peserta akan mengambil peran masing-masing dalam sesi produksi.

Hari ketiga

Proses pengambilan gambar dan suara dimulai sejak pukul 8 pagi dan berlangsung secara intensif sampai 4 sore. Produksi ditutup dengan sesi evaluasi di akhir hari, para peserta secara umum merasakan ini pengalaman baru walaupun mereka sudah pernah membuat online konten sebelumnya.

Ngurah Ketut Hariadi, S.Kom selaku sekretaris Desa Padangsambian Kaja menyampaikan apresiasi positif tentang pelatihan ini, “Melihat antusiasme peserta saya berharap apa yang difasilitasi desa dapat dimanfaatkan para peserta. Bila 10 persen saja dari para peserta dapat memanfaatkan dengan baik, kegiatan ini dapat dinilai sukses,” sambungnya. Menurutnya pelatihan diberikan dengan profesional. “Awalnya saya tidak membayangkan bahwa dalam tiga hari pelatihan bisa benar-benar menghasilkan produk sampai film. Semoga minat dari masyarakat makin tinggi setelah nanti melihat hasilnya,” harapnya.

Menurut Cika selaku fasilitator acara berkegiatan dengan peserta di Padangsambian Kaja sangat menggairahkan secara kreatif, karena mereka antusias dan penuh perhatian. Para peserta sudah dekat secara keseharian dengan media audio visual serta dunia digital. Sebagian peserta sudah terbiasa dengan konten online, bahkan ada yang sudah menjadi idola milenial dengan 1 juta subscriber @aryanthisuastika dengan kanal @ricaricaa96 .

Saat ini, hasil produksi film masih melalui masa pasca produksi di meja editing. Film pendek hasil pelatihan di Desa Padangsambian Kaja ini direncanakan akan tayang perdana dalam acara tahunan Minikino Open Desember ke 17. Edo Wulia selaku direktur Minikino mengapresiasi masyarakat dan pengurus di kantor desa Padangsambian Kaja dalam program ini.

Walaupun sudah diadakan tahunan sejak tahun 2003, untuk pertama kalinya acara ini hadir dalam format layar tancap pada hari Sabtu tanggal 21 Desember 2019, mulai pukul 19:00 di Balai Pertemuan Dukuh Sari, Padangsambian Kaja, Jalan Gunung Sari.

The post Literasi Film di Desa Padangsambian Kaja appeared first on BaleBengong.

Letupan Gairah Bali Poetry Slam

Slammer, begitu pembaca puisi di Poetry Slam kerap dipanggil yang mendapat nilai tertinggi akan diberi gelar Slam Champion. Peraih gelar tahun ini adalah Jong Santiasa Putra dan pemenang kedua, Kaizar.

JONG
Di Jalan Menuju Singaraja

November 2019
Aku menuju Singaraja
jalan-jalan melihat hutan cemara
jalan-jalan menghirup udara
jalan-jalan sambil bercerita
dengan kekasih dari jakarta

The shine at night
makes me want to light
a city that sparks
onto my heart

Katanya di Jakarta tidak ada udara
it is a place for a run
adanya orang-orang penuh duga
it is a place full of dust
adanya orang-orang berprasangka
it is a place to disguise
sebab di sana adalah kerja
di sini kita sedang bercinta

Sebelum sampai ke kota
kita singgah di tepi kata
ada yang hendak kita rangkai bersama
menjadi apa-apa
menjadi ada-ada
tapi semua bingung tentang arah
karena cemas dan pasrah
kita tanam saja kata-kata dalam tanah
semoga berbuah
dan penuh berkah.

We stand between the lines
move forward we’ll meet the right
move behind we’ll both fall
we see eye to eye
try to decide which way to run
but still there’s no sign
like this life we both enticed

Oh yah kami menaiki motor
To-tor-tor-tooooooooor-toooor
muka kami penuh debu jadi kotor
di jalan orang tergesesa-gesa ngeloyor
asyu, damn, oh my god, oh lord, shut up
umpatan-umpatan keluar dari mulut
cuacana buruk , dingin dan penuh kabut
kami paksa kan saja untuk ngebut
karena di jalan semua tampak kalang kabut.

Finally we arrived
and we know
what will stay
and what will away

GRAND SLAM POETRIES Ini karya puisi slammer lainnya.

Poetry Slam atau Adu Puisi adalah konsep pembacaan puisi yang pertama kali muncul di Amerika Serikat. Para pembaca puisi menyerukan karya orisinalnya kepada audiens selama maksimal tiga menit tanpa menggunakan property dan kemudian dinilai oleh Juri dengan rentan skor 1-9. Juri dipilih dari barisan penonton.

Pembacaan puisi ini terlihat sangat bergairah. Antusiasme penonton sangat terasa, mereka merespon para slammer, dengan menjentikan jari tanda persetujuan pesan di puisi, dan tepuk tangan meriah di akhir penampilan. Peserta open mic juga disambut meriah. “Ini perhelatan baca puisi yang sangat menarik, penontonnya menyimak dan heboh,” seru Iin, salah satu penonton.

Memasuki Tahun ke-2 Unspoken – Bali Poetry Slam kembali mengadakan tahap final dari program tahunan poetry slam yaitu The Grand Slam 2019: Unspoken Justice yang akan diselenggarakan pada 8 Desember 2019 di Betelnut, Jl. Raya Ubud pukul 8 malam. Tersaring 6 finalis yang sebelumnya telah menjadi pembaca puisi terbaik di tahap heats pada bulan Maret, Mei, dan Oktober dari berbagai kota di pulau Bali adalah Cleo Chintya, Gek Ning, Imam Barker, Jong Santiasa Putra, Kaizar Nararaya, dan Zeta Dangkua.

Di tiga kesempatan penyisihan sebelumnya, Unspoken – Bali Poetry Slam yang digerakkan oleh Virginia Helzainka, Trifitri Muhammaditta, Jasmin Kalaila, dan Doni Marmer mengangkat tema “Unspoken Dream” di bulan Maret, “Unspoken Pride” di bulan Mei, dan “Unspoken Passion” di bulan Oktober.

Selain ingin memberikan ruang apresiasi untuk puisi, Unspoken – Bali Poetry Slam juga ingin menyuarakan isu-isu yang umumnya sulit diungkapkan sebagai tema puisi pada setiap penyelenggaraannya. Panggung Unspoken – Bali Poetry Slam menjadi ruang nyaman untuk mengucapkan yang tak terungkapkan, tanpa prasangka, dan bebas melepaskan hasrat dalam bentuk puisi. Nama ‘unspoken’ atau ‘yang tak terungkapkan’ pun menjadi nama komunitas dan acara adu puisi ini.

Project Unspoken Poetry Slam ini berbasis komunitas sastra dan seni yang merayakan puisi dengan menyelenggarakan program yang menghibur dan mengedukasi seperti Poetry Slam (Adu Puisi), Open Mic (Panggung terbuka), dan Workshop (Loka karya). Menjalin silaturahmi dengan komunitas lokal dan festival sastra dan seni penikmat puisi di pulau Bali setiap dua atau tiga bulan sekali sepanjang tahun.

Sebanyak 6 slammers diberi kesempatan untuk membacakan karya orisinalnya di atas panggung Grand Slam 2019. Audiens turut merespons puisi secara leluasa dengan memetikan jari. Gerakan tersebut diartikan sebagai persetujuan penonton akan makna dan keindahan puisi yang dibacakan.

Turut meriahkan panggung, penyair tamu Doni Marmer, Kadek Sonia Piscayati, The Four Hinds serta penampil music The Brass Tax dan I The Band menyelingi acara pada awal, pertengahan, dan akhir acara untuk menjaga suasana tetap segar, hangat, dan semangat. Pada penghujung acara, penampil terbaik disematkan gelar Bali Poetry Slam Champion 2019 sesuai skor penilaian Juri dan membawa pulang hadiah dari pendukung acara (Cekindo Business International, Nonadansa Sanur, Littletalks Ubud, Bali Buda ®, Mahima Institute Indonesia, Minikino).

Keenam finalis The Grand Slam nantinya akan tur keliling Bali di tahun depan dengan mengadakan Open Mic dan Workshop puisi ke kota-kota lokasi kegiatan Unspoken Bali Poetry Slam. Sebagai bentuk apresiasi dari kami telah berpartisipasi di Unspoken – Bali Poetry Slam 2019.

Pemutakhiran detail acara “The Grand Slam 2019: Unspoken Justice” dapat dipantau melalui media sosial Fb Unspoken – Bali Poetry Slam dan Instagram @unspokenpoetryslam. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi unspokenpoetryslam@gmail.com.

The post Letupan Gairah Bali Poetry Slam appeared first on BaleBengong.

Tertunda Empat Tahun, SOB pun Merilis Videoklip “Rise To The End”

Suhu ekstrem di Bali hingga mencapai 35 derajat Celcius.

Menurut Balai Meteorolgi, Geofisika dan Klimatologi (BMKG) Bali inilah suhu terpanas tertinggi dalam 30 tahun belakangan di Bali. Secara ilmiah suhu tinggi ini disebabkan oleh Bali memasuki peralihan musim kemarau ke musim hujan.

Video Klip “Rise To The End” disutradarai oleh: Erick Est

Faktor lain adalah posisi matahari saat ini berada di selatan garis Khatulistiwa. Akibatnya, intensitas cahaya matahari lebih banyak sampai ke permukaan bumi. Perubahan Iklim juga menjadi faktor utama kondisi ini. Ada pergeseran umur cuaca yang sangat ekstrem terjadi.

Scared Of Bums berpikir bahwa kondisi sekarang ini adalah kondisi yang tepat untuk meluncurkan video klip “Rise To The End”. Album ini secara visual menampilkan kondisi-kondisi alam yang sudah semakin berubah.

Taman Nasional Baluran dan Gunung Bromo adalah lokasi menjadi pilihan Erick Est untuk shooting video klip “Rise To The End”. Keduanya bercerita secara surealis menghadirkan kontradiksi antara mimpi dan realita menjadi nyata dalam visual yang memperlihatkan objek nyata dalam keadaan yang tidak mungkin terjadi, seperti dalam mimpi atau alam bawah sadar manusia.

Lagu “Rise To The End” adalah single dari album kedua “Let’s Turn On Fire” yang dirilis pada tahun 2013. “Rise To The End sendiri mengandung arti untuk tidak pernah menyerah, mempertahankan apa yg kita yakini sampai akhir,” ujar Gede Putra Budi Noviyana, drummer Scared Of Bums yang lebih akrab dipanggil Nova.

Banyak pengalaman menarik ketika pengambilan gambar video klip ini. Semisal di Taman Nasional Baluran kamera drone sempat jatuh dan kemudian diperingati penjaga pos Taman Nasional Baluran untuk menjaga ketenangan banteng liar penghuni Taman Nasional.

Tidak Turun Pamor

Putu Eka Janantha atau sering dipanggil Bocare vokalis Scared Of Bums mengatakan dia dikerjain Erick Est, ketika adegan badan dikubur sampai leher di gurun pasir Gunung Bromo. Proses shooting sempat tertunda satu hari karena hujan angin di lokasi sampai menerbangkan tenda crew di lokasi. Tim produksi dan personil benar-benar diuji secara fisik dan mental ketika proses pembuatan video.

Rilis video klip “Rise To The End” di kanal YouTube ini adalah sebagai jembatan penghubung antara album kedua dan dan album terbaru Scared Of Bums berikutnya yang bertajuk “Delay” yang akan segera dirilis akhir tahun ini.

Album “Delay” akan diawali dengan perilisan single pertama yang berjudul sama dengan album yaitu “Delay” yang rencananya dirilis dalam dua pekan kedepan. Single ini nantinya akan dapat dinikmati di semua kanal musik digital terpopuler.

Jarak enam tahun dari album terakhir Scared Of Bums tidak membuat band ini turun pamor. Penggemar Scare Of Bums yang sering disebut “5013mc” (Scared Of Bums Mos Pit Crew) selalu membludak memenuhi festival-festival musik dengan kapasitas penonton ribuan.

Penampilan terakhir Scared Of Bums di acara Carnival Of Rock yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Bali di Panggung Terbuka Ardha Candra, 06 November 2019 silam memberikan kesempatan band ini untuk menyuarakan perjuangan “Bali Tolak Reklamasi” di hadapan Pemerintah Provinsi Bali dengan membawakan lagu “Kepalkan Tangan Kiri”.

Momen ini juga direspon oleh penonton dari Desa Adat/Pakraman Sumerta dengan membawa atribut ForBali ke atas panggung. Ini menunjukan kalau band ini berada di koridor mendukung Pemerintah Provinsi Bali ketika bicara tentang memajukan industri kreatif generasi milenial akan tetapi tetap konsisten mengawal isu-isu sosial di Bali. [b]

The post Tertunda Empat Tahun, SOB pun Merilis Videoklip “Rise To The End” appeared first on BaleBengong.