Tag Archives: Kabar Baru

Laporan Minggu IV: Bantuan APD untuk Tenaga Kesehatan

Beragam ajakan kolaborasi berdatangan minggu ini.

Imbauan untuk di rumah saja, sebagai upaya mencegah meluasnya penularan COVID-19, memasuki minggu keempat. Jenuh makin menggelayut. Putus asa semakin sering berkunjung. Harapan terasa samar-samar di depan pintu.

Hari-hari makin tidak mudah. Penduduk yang sebelumnya menggantungkan asa pada perkotaan kini memikul yang tersisa dan membawanya pulang ke kampung meski imbuan untuk #dirumahaja sudah dikumandangkan.

Apa mau dikata, struktur sosial kita yang sedari sebelum pandemi pun telah timpang, semakin lumpuh ketika pandemi menghantam. Para pencari mimpi di perkotaan kembali menggulung mimpi dan pulang.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pun telah diterapkan di beberapa kota besar. Namun, korban positif merangkak naik, korban meninggal juga semakin banyak. Ditambah lagi, terdapat ketidaksepakatan jumlah korban positif melalui pemerintah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Semakin menambah kebingungan.

Pasien yang berhasil sembuh juga banyak, tapi kabar tentang infeksi berulang juga tiba dari negeri tetangga yakni Singapura dan Korea Selatan. Akibatnya, kabar kesembuhan tak lantas membuat mantan penderita bisa imun terhadap virus SARS-COV 2 meskipun hal ini perlu lebih lanjut diteliti dan dikonfirmasi oleh para dokter.

Setiap kita saat ini saling menunggu kabar baik. Misalnya, kapan vaksin ditemukan? Kapankah pembatasan fisik ini berakhir? Kabar baik yang menjadi jawaban akan segala rindu pada kebiasaan hidup lampau.

Namun, mungkin masa depan nanti adalah sebuah kebiasaan yang baru, kelaziman yang mulai kita lakoni dengan kemauan. Agaknya, masa depan memang memiliki wajah berbeda dari apa-apa yang pernah kita tuliskan.

Untunglah, manusia adalah mamalia yang berhasil, setidaknya hingga saat ini. Keyakinan bahwa kita mampu melewati ini harus pelan dan teguh kita tanam. Mungkin hal itu membuat langkah setidaknya berayun.

Ini tidak mudah juga menampilkan ketidakadilan pada setiap sendi sosial dan norma. Kehidupan dari lapisan bawah tampak makin kelam. Segala yang ada di sana meringkuk terjepit. Manusia lapisan tengah mencoba mengandalkan tenaga yang tersisa. Sesekali mencoba bersiasat pada keadaan. Sementara itu manusia kalangan atas juga dihantam kaget. Tentunya membuat mereka tersentak walau mustahil kelaparan dan mati.

Pandemi ini menelanjangi dunia hingga pada lapisan terdalam.

Bagi kami, tim Putih Hijau, pandemi ini begitu pedih, membuat linglung terkadang. Namun, sama seperti manusia lain yang masih bernapas dan merajut asa, pandemi ini tidak berhasil menenggelamkan kami. Ada kalanya setiap kami berperang dengan rasa takut, kengerian, serasa waktu berhenti dan kepala diserang vertigo hingga isi nyawa ingin keluar karena takut.

Mungkin ini akan kalian rasakan ketika kalian memasuki ruang isolasi pasien COVID-19.

Rasanya sungguh mengerikan, seperti sesuatu mencekik lehermu dan kau tak bisa mengeluarkannya. Berhenti. Perasaan ini, saya alami dan tenaga kesehatan lainnya juga alami. Dan karena itu, penting sekali bagi kalian untuk menjaga kesehatan dan #dirumahaja.

Konser #JauhdiMataDekatdiHati memasuki minggu keempat. Dan, kami masih berusaha berjalan dan bersinergi, berbuat dengan segala daya upaya.

Pada minggu keempat ini, kami memulai istirahat sedikit lebih banyak, yakni Minggu & Senin. Ini kami lakukan untuk menjaga energi kami. Jika-jika pandemi lebih panjang maka usia gerakan ini pun lebih panjang. Hari Selasa, dimulai dengan penampilan duo Soul and Kith selama satu jam. Penampilan yang akrab dan hangat.

Lalu, hari Rabu kami bernostalgia dengan banyak puisi dalam lantunan musikalisasi bersama Mba Reda Gaudiamo. Penampilan selama dua jam yang memukau dan menawar rindu juga menentramkan hati.

Esoknya, kami belajar bersama dengan salah satu dokter saraf dari Satgas Covid-19 Denpasar dari bagian Perhimpunan Dokter Saraf Seluruh Indonesia (Perdossi) Denpasar yakni dr. Gusti Martin, Sp.S. Diskusi santai tapi berisi dipandu Iin Valentine dari tim kami. Antusiasme masyarakat juga tinggi, diskusi yang direncanakan satu jam, justru berlangsung dua jam.

Pada Jumat berlanjut dengan penampilan musik asik dari grup musik Coconightman. Penampilan yang menghibur sekali. Apalagi lagu-lagunya yang unik dan sederhana. Malam Minggu kali ini ditemani oleh Krisna Floop, malam minggu yang asoi dengan seruling dan suara khas Bli Krisna menemani selama satu jam.

Pada minggu ini, kami juga mendapat banyak ajakan untuk berkolaborasi. Ini sungguh kabar yang menyenangkan, karena tujuan awal kami adalah mengajak semua bersolidaritas dan menabung harapan.

Karena itu, minggu ini Tim Balebengong juga mengadakan #MusikBersuara dengan menampilkan live di Instagram Balebengong penampilan dua DJ yakni @mistral85 dan @mairakilla juga @artivak_. Kami juga berkolaborasi dengan Dialog Dini Hari (DDH), band folks dari Bali yang telah dikenal di seantero nusantara. DDH meluncurkan sebuah single bertajuk Kulminasi II.

Dalam peluncuran secara daring tersebut, band ini mengajak setiap penggemar berdonasi melalui tim Putih Hijau. Bahkan band ini menjual kaos merchandise khusus untung single ini yang 50 persen keuntungannya akan didonasikan juga.

Pun, kolaborasi yang tak kalah keren juga kami lakukan adalah dengan diskusi Bincang Sastra di Udara dengan Juli Sastrawan & Wahyu Heriyadi, dimana setiap penonton diajak untuk berdonasi melalui tim Putih Hijau.

Kami juga berkolaborasi dengan Thebaliflorist Sanur, di mana florist tersebut turut serta dengan mendonasikan sebuah surat kaligrafi bertuliskan ucapan terima kasih kami dan para donatur kepada tenaga kesehatan yang telah berjuang di garda terdepan.

Kami akan sangat senang jika ada kawan-kawan yang ingin berkolaborasi, dalam bentuk apapun. Meski begitu, ada beberapa hal yang menjadi perhatian serius kami yakni:

  1. Penggunaan tagar akan disesuaikan dengan tagar yang kami gunakan untuk menghindari tumpang tindih dengan kegiatan live milik teman-teman lainnya;
  2. Inisiator kolaborasi harus berkordinasi dengan anggota tim putih hijau yang telah ditentukan;
  3. Mencantumkan nomor rekening BPD BALI 0200215109141 a.n Ni Wayan Desy Lestari & OVO/GoPay 0895378736000 a.n Fenty Lilian;
  4. Inisiator tidak berafiliasi dengan pemerintah dan partai politik apapun; serta
  5. Insiator dan kegiatan acaranya wajib melaporkan sponsor jika ada, untuk ditentukan boleh tidaknya sponsor tersebut. Hal ini penting bagi kami, untuk menghindari isu-isu yang selama ini menjadi perhatian kami. Misalnya lingkungan hidup dan juga isu rasisme dan konflik tertentu. Karena ini adalah gerakan kolektif yang dibalik setiap donasi juga menjunjung tinggi nilai kesetaraan dan kemanusian dan cinta pada alam.

Adapun total donasi hingga Minggu sore, 19 April 2020 pukul 18.00 Wita adalah:

NoViaJumlah (Rp)
1BPD41,303,814
2Mayhem14,960,000
3OVO1,808,467
4GoPay2,324,666
TOTAL60,396,947

Adapun total pengeluaran hingga minggu sore, 19 april 2020 pukul 18.00 Wita adalah:

NoKeterangan BelanjaHarga Satuan (Rp)Total (Rp)
1Pembelian masker N95 BSA 250biji20,0005,000.000
2Pembelian masker bedah 22 kotak (DP 50%)180,0001.980.000
3Pembelian masker KN95 16 biji50,000800,000
4Pembelian hazmat spunbon 60biji (DP 50%)75,0002,250,000
5Pembelian hazmat waterproof 60biji (DP 50%)100,0003,000,000
6Pembelian kacamata gogles 92biji + ongkir9,900930.000
7Pembelian faceshield 200biji (DP 50%)15,0001.500,000
8Pembelian masker bedah 2 kotak260.000520,000
9Pembelian masker bedah 23 kotak (diskon Rp.100.000)290.000657,000
10Pembayaran sisa faceshield 50% + ongkir1,500,000 + Ongkir Rp.50,0001,550,000
11Pembayaran sisa hazmat (50%)2,250,000 + Rp. 3.000,0005,250,000
12Pemesanan ulang hazmat spunbond (60 biji) + hazmat parasut (30 biji)60x 75,000
30x 100,000
7,500,000
13Pembelian KN95 210 biji35,0007,350,000
14Pembelian masker bedah 39 kotak325.00012.675,000
15Biaya transfer Bank 11x6,50071,500
16Transfer donasi ke Gopay Fenty11.000,000
17Transfer donasi gopay dari Fenty ke BPD12,000,000
18Ongkir Gobox ke Sanglah1113,000
19Ongkir Gobox ke Wangaya1102,000
20Ongkir Gosend ke thebaliflorist11.50023,000
21Ongkir Gocar Hazmat1x20,000
22Ongkir Gojek Masker2x30.000
23Beli kardus & Selotip2x151,000
24Bayar Kargo Mito1x60,000
TOTAL57,980,000

Beberapa donasi telah kami kirimkan ke RSUP Sanglah, RSUD Wangaya dan Tim IGD RSUD Bangli, RSUD Sanjiwani, adapun jumlah donasi ke setiap rumah sakit adalah:

  1. RSUP Sanglah : Hazmat Spunbond : 40 buah, N95 1 kotak + 16 Biji, Faceshield: 30biji, kacamata gogles: 20 biji
  2. RSUD Wangaya : Hazmat spunbond : 40 buah, N95 1 kotak, faceshield : 30 biji , kacamata gogles: 20 biji
  3. Tim IGD RSUD Bangli : Hazmat Spunbond: 20 buah, KN95: 2 kotak, masker bedah: 3 kotak, Faceshield: 20 buah, kacamata gogles: 5 buah
  4. RSUD Sanjiwani : Hazmat Spunbond: 20 buah, KN95: 2 kotak, masker bedah: 3 kotak, Faceshield: 20 buah, kacamata gogles: 5 buah

Pengiriman donasi ke puskesmas di luar pulau Bali saat ini tengah proses untuk pengiriman melalui kargo. Kami akan jelaskan ketika donasi telah tiba di puskesmas tersebut. Semoga, sekalipun saat ini tengah pandemi namun proses pengiriman tidak mengalami kendala.

Kami berharap beberapa kabar baik dari kolaborasi-kolaborasi yang telah kami lakukan seperti kolaborasi dengan Thepojoks, AJAR, DDH. Kolaborasi tersebut memang baru saja dimulai sehingga membutuhkan waktu untuk mengumpulkan donasi.

Secara khusus, kolaborasi dengan AJAR saat ini ada beberapa kabar baik tentang pendonasi dari Australia, meski masih dalam proses regulasi akun bank di sana. Kami harap beberapa kabar baik akan segera kita terima. Dengan demikian pembelian donasi tahap selanjutnya dapat dilakukan yang mana tujuan donasi kami selanjutnya adalah RSUPTN Udayana, RSU Bali Mandara dan beberapa puskesmas di Jepara dan Nusa Penida.

Pada minggu kelima ini, kami terus berusaha mengajak para seniman dan penampil lain yang semoga bukan hanya saja menghibur, tapi juga menambah wawasan dan memperluas sudut pandang. Kami berharap dapat lebih melihat bagaimana pandemi di Indonesia bagian timur. Bagaimana sebenarnya teman-teman para medis yang berjuang di garda terdepan. Bagaimana pandemi berdampak pada industri kreatif dan usaha kecil menengah.

Karena itu jika teman-teman tahu ataupun memiliki ide para penampil yang kompeten untuk hal tersebut jangan ragu untuk memberi tahu kami.

Semoga, donasi akan terus mengalir sesuai dengan kebutuhan APD di lapangan juga semoga semangat kita tak kendur meski kabar berakhirnya physical distancing belum jua muncul. Semoga #konserdirumahaja dan #diskusidirumahaja dapat memberi sedikit jeda, pun menambah wawasan tentang bagaimana masa depan kita setelah pandemi berakhir.

Sampai jumpa Senin depan dengan laporan selanjutnya pun kolaborasi-kolaborasi lain yang semakin asyik dan beragam. Jangan ragu untuk memberi kami saran, kritik pun ide, mari bersama-sama menjaga kewarasan.

Salam sehat selalu, mari menabung harapan dan bersolidaritas.

Tim Hijau Putih.

Dialog Dini Hari: Turun Tangan lewat Karya

Inilah refleksi trio folks Bali terhadap kecemasan akibat pandemi saat ini.

Ada di rumah sehari-hari menunggu tanpa melihat garis ujung dari pandemi Covid-19, membuat tiga orang personel Dialog Dini Hari mencari jalan untuk tetap berbuat sesuatu sekaligus berkontribusi pada hidup orang banyak lewat karya.

Setelah dirilisnya album penuh terbaru mereka pada Juli 2019, Parahidup, trio asal Bali ini kembali dengan single Kulminasi II. Secara khusus, single ini, mendokumentasikan perjalanan umat manusia menghadapi pandemi yang secara global mengubah cara hidup kita semua.

Kendati menghadapi kehidupan yang mencekam, ketiganya masih bergerak untuk mencipta.

“Masing-masing dari kami punya peralatan rekaman yang mumpuni. Jadi, produksi bisa dikerjakan dari jauh, di rumah masing-masing,” cerita Pohon Tua (vokal dan gitar), penulis lagu utama Dialog Dini Hari. Selain Pohon Tua, dua orang personel band yang lain, Brozio Orah (bas dan synthesizer) dan Putu Deny Surya (drums) juga merupakan produser musik.

Trio Dialog Dini Hari dari kiri ke kanan, Deny Surya, Pohon Tua, dan Brozio Orah. Foto: Gus Wib.

Pesan Solidaritas

Single Kulminasi II ini juga membawa pesan untuk terus bersolidaritas membantu penyediaan APD bagi tim medis yang beraksi di garis depan menghadapi pandemi ini. Bersama dengan single ini, Dialog Dini Hari mengajak berdonasi yang diinisiasi oleh anak-anak muda di Bali yang didukung BaleBengong & Taman Baca Kesiman. Donasi bisa dikirimkan lewat rekening BPD Bali 0200 2151 09141 a/n Ni Wayan Desy Lestari, atau Ovo/gopay 0895 3787 3600 0 a/n Fenty Lilian.

“Sebagai seniman, ini yang bisa kami lakukan. Ini yang paling masuk akal bisa kami kerjakan dari rumah,” lanjut Pohon Tua.

Perjalanan kolektif manusia menjalani peristiwa yang belum kelihatan ujungnya ini, juga membuat mereka melakukan refleksi sekaligus menyelami pertanyaan besar akan seperti apa peradaban setelah semuanya berlalu.

Menurut Pohon Tua mungkin ada tatanan yang berubah, tentang bagaimana manusia satu melihat manusia lainnya. “Aku antara penasaran dan khawatir juga. Kita yang orang timur pada dasarnya kan sulit untuk menerima social distancing. Akan seperti apa, itu yang buat aku curiga,” kata Pohon Tua.

“Rasanya akan terbawa terus sampai ini semua selesai. Aku pikir, kita akan berubah secara tatanan sosial. Dan ini akan terjadi di berbagai sektor, termasuk ekonomi. Perlu waktu lama. Yang bisa kita lakukan ya, perlu bahu membahu,” lanjutnya tentang gejala yang coba direkam.

Pohon Tua menambahkan, “Aku masih yakin tetap ada hal baik yang menunggu kita semua di depan nanti.”

Kulminasi II rilis pada 14 April 2020 di kanal Youtube Dialog Dini Hari dan segera menyusul di sejumlah kanal musik digital. [b]

Anak Muda, Inilah Peluang-Peluang Kerja di Dunia Maya

Ngoprek blog bersama Bali Blogger Community tahun 2015

Bagaimana bisa tetap menghasilkan duit dengan cara diam di rumah?

Bencana yang kita alami hari-hari ini tidak hanya bencana kesehatan dalam bentuk pandemi Covid-19. Namun, terjadi juga bencana ekonomi akibat terhentinya kegiatan mencari nafkah bagi kebanyakan orang.

Khususnya bagi masyarakat Bali, bencana ekonomi ini tentu sangat terasa. Ekonomi pariwisata berhenti berdetak akibat putusnya arus masuk turis dari mancanegara maupun domestik. Anak muda Bali yang sebagian besar mencari nafkah di sektor pariwisata pun menemukan dirinya tiba-tiba menjadi pengangguran.

Saya belum punya data kuantitatif menyeluruh untuk bencana ekonomi ini. Namun, dari berita Detik, sampai 7 April kemarin tercatat untuk wilayah Bali 19.124 pegawai telah dirumahkan dan 480 orang mengalami pemutusan hubungan kerja.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menambah beban pikiran Anda, para pembaca. Sebaliknya, saya bermaksud berbagi catatan awal dari penelitian Sasmita Research Lab tempat saya bergiat yang mungkin bisa menumbuhkan harapan bagi anak muda yang sedang bingung mau kerja apa.

The New Freelancers

Pertanyaan terbesar sekarang tentu saja bagaimana bisa tetap menghasilkan duit dengan cara diam saja di rumah, atau work from home. Sasmita Research Lab kebetulan sedang mengerjakan riset kecil, dengan hibah receh juga, yang meneliti anak muda dan tipe-tipe pekerjaan baru di era ekonomi digital.

Kami menemukan ada sekelompok anak muda yang mampu mengambil kesempatan dari tersedianya pekerjaan tidak tetap kecil-kecilan (gig) yang ditawarkan di Internet. Secara umum kita menyebut transaksi barang dan jasa yang sifatnya tidak tetap dan kecil-kecilan ini gig economy. Para pekerja lepas di gig economy yang kami teliti ini kerap kali disebut sebagai the new freelancer.

Sebagai contoh konkret, semisal ada pekerjaan membuatkan slide presentasi power-point untuk sebuah perusahaan yang berani membayar sampai $20 per slide presentasi. Pekerjaan ini bisa dikerjakan dari rumah oleh salah seorang responden kami yang fasih menggunakan Microsoft Power Point dan juga berbagai software manipulasi visual lainnya.

Seorang responden lain mengerjakan proyek-proyek animasi dan menggambar desain untuk klien Eropa. Skill yang ia miliki adalah kemampuan menggambar dan menggunakan piranti lunak menggambar di komputer. Besaran proyek yang ia kerjakan dapat mencapai ribuan dolar yang ia kerjakan dalam jangka waktu beberapa bulan.

Para anak muda responden kami ini menawarkan jasanya di situs seperti 99design dan fiverr. Di situs fiverr anak muda bisa menawarkan berbagai jasa seperti desain, fotografi, sampai terjemahan. Awalnya mereka ikut berkompetisi menjajakan jasa.

Lambat laun, mereka mulai mempunyai klien tetap yang mempercayakan banyak gig dan memberi mereka pemasukan yang relatif tetap.

Merunut data yang disediakan oleh Boston Consulting Group (BCG), industri yang menyerap jasa dari para pekerja lepas ekonomi digital ini dapat dibagi menjadi sektor keterampilan (skill) tinggi dan sektor keterampilan rendah. Sektor keterampilan tinggi adalah sektor yang biasanya dapat dikerjakan dari rumah. Misalnya, penyediaan jasa membuat software, desain, dan lain-lain. Sementara sektor keterampilan rendah merujuk pada pekerjaan seperti berbagi kendaraan dan jasa pengantaran barang.

Sebagaimana kita sadari, sektor keterampilan rendah ikut terpukul dengan adanya pembatasan mobilitas sosial akhir-akhir ini. Berita baiknya, sektor keterampilan tinggi juga tidak kalah menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan sektor keterampilan rendah. Sektor keterampilan tinggi menyerap sekitar 32% dari tenaga kerja di ekonomi digital.

Sumber: diolah dari Wallenstein et al (2019), The New Freelancers: Tapping Talent in the Gig Economy, Boston Consulting Group Henderson Institute.

Tantangannya bagi anak muda sekarang, tentu saja, adalah mendapatkan keahlian keterampilan tinggi seperti desain, coding, dan lain sebagainya agar dapat bekerja dari rumah saja. Yang menarik, keterampilan para responden kami ini tidak selalu didapatkan lewat pendidikan formal. Dua responden yang menjadi contoh di atas pendidikan formalnya adalah D3 Pariwisata dan sarjana sastra.

Lalu dari mana mereka mendapatkan skill menggunakan piranti lunak untuk menggambar dan membuat desain? Ternyata dari lingkungan pertemanan dan tersedianya piranti lunak gratis yang bertebaran di Internet maupun rental persewaan piranti lunak. Intinya, para responden kami yang bekerja di ekonomi digital ini sebagian besar otodidak.

Hemat saya, di sini letak keunggulan komparatif anak muda kita. Keterampilan menggunakan piranti lunak disain semacam Corell, Photoshop, Power Point dan sebagainya termasuk keterampilan mahal di negara-negara maju. Sebabnya tentu saja adalah modal awal, initial investment, bagi mereka yang ingin belajar software tersebut sudah cukup mahal karena diharuskan membeli atau berlangganan.

Namun, di Indonesia keterampilan ini relatif mudah dipelajari secara otodidak akibat bertebarannya tempat persewaan software murah meriah di seputaran dekade 2000an di Yogyakarta dan juga di kota-kota besar lainnya.

Kemampuan Bercita-Cita

Tentu saja sedikit cerita saya ini tidak akan dengan serta merta menyelesaikan masalah kaum muda yang sedang kesulitan pekerjaan. Namun, saya harap cerita ini bisa menumbuhkan cita-cita kaum muda. Menurut pengalaman seorang antropolog India yang meneliti kemiskinan di perkotaan, kemampuan untuk bercita-cita ini penting dalam usaha mengentaskan kemiskinan.

Pengalaman mendengarkan cerita positif tentang pekerjaan yang memberi penghasilan layak bisa melecut semangat anak muda. Istilah Bali-nya, jengah. Kalau anak muda tempat lain bisa, di Bali tentu juga bisa. Daftar cita-cita mereka pun bisa bertambah dan tidak terbatas hanya pada keinginan untuk bekerja di sektor formal industri jasa.

Idealnya selain bekerja di sektor formal industri jasa, para anak muda juga menjadi pekerja lepas di ekonomi digital. Dua pekerjaan ini sifatnya dapat saling melengkapi.

Kembali merujuk data dari laporan BCG di atas, sebagian besar pekerja di industri digital ini mempunyai pekerjaan utama lainnya. Untuk kasus Indonesia, hanya 3 persen dari responden survei yang menyatakan bahwa bekerja di ekonomi digital ini adalah pekerjaan utama. Sebagian besar, sekitar 23 persen, menyatakan bahwa ini adalah pekerjaan sambilan.

Menariknya, walaupun ia bukan pekerjaan utama, justru pekerjaan sambilan di gig economy ini memberi lebih banyak pemasukan bagi para responden. Fenomena ini terjadi di ekonomi negara-negara seperti China, India, Brazil, dan juga, Indonesia.

Ke depan, semoga anak muda Bali makin banyak yang mencari nafkah di arena ekonomi digital atau gig economy ini. Segera setelah pandemi ini berlalu. Semoga! [b]

Siapkah Kita untuk Pembelajaran Jarak Jauh?

sumber gambar: internshala blog

Banyak lembaga pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa yang belum mempunyai pengalaman melakukan pembelajaran jarak jauh sama sekali. Hal ini menimbulkan kegagapan dari sisi dosen, mahasiswa, maupun pengelola pendidikan tinggi.

Penyebaran virus corona yang dimulai di kota Wuhan – Tiongkok, pada akhir tahun 2019, menjadi semakin menyebar tidak terkendali ke seluruh dunia pada awal tahun 2020. Hingga akhirnya, Indonesia mengumumkan kasus pertama pasien positif covid-19 (penyakit yang disebabkan oleh virus corona) pada awal Maret 2020.

Hingga 3 April 2020, di Indonesia terdapat 1.986 pasien yang dinyatakan positif Covid-19, 181 jiwa meninggal dunia dan 134 dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona. Secara global, virus corona telah menjangkiti 900.306 jiwa dan merenggut korban 45.693 jiwa (info dari akun Twitter @BNPB_Indonesia 4 April 2020).

Berbagai upaya dalam meredam penyebaran virus corona telah dilakukan oleh aparat yang berwenang. Berbagai intervensi medis seperti menyediakan tes cepat, menyiapkan fasilitas, infrastruktur, obat-obatan, alat perlindungan diri dan tenaga medis khusus untuk menangani infeksi virus corona, maupun menyiapkan berbagai panduan dan melakukan kampanye secara masif untuk menghindarkan diri dari kemungkinan tertular maupun menularkan virus, maupun melakukan berbagai upaya guna menekan penyebaran virus.

Salah satunya aparat yang berwenang telah mendorong diterapkannya menjaga jarak fisik (physical distancing, yang menggantikan istilah social distancing). Konsekuensi dari menjaga jarak fisik adalah masyarakat diminta untuk menjauhi kerumunan, menutup tempat-tempat umum yang tidak terkait dengan pelayanan kesehatan maupun objek-objek untuk menunjang kehidupan yang mendasar, serta melakukan pekerjaan dan bersekolah dari rumah (work from home/WFH maupun school from home/SFH).

Bersekolah dari rumah tidak hanya dilakukan oleh jenjang pendidikan sekolah dasar dan menengah saja, namun juga dilakukan oleh jenjang pendidikan tinggi. Dosen dan mahasiswa harus melakukan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti grup bertukar pesan instan, kelas virtual, video conference, maupun surat elektronik untuk menggantikan pembelajaran tatap muka yang selama ini biasa dilakukan.

Memang sudah ada universitas yang telah melakukan pembelajaran jarak jauh, contohnya program pembelajaran jarak jauh yang telah lama dilakukan oleh Universitas Terbuka (UT). Universitas Terbuka bahkan sebelum banyak tersedia teknologi komunikasi online (seperti email, kelas online, video conference), telah berpengalaman melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan jasa pengiriman dokumen melalui pos. Serta berbagai pembelajaran jarak jauh yang sudah mulai marak diselenggarakan oleh berbagai universitas terkemuka lainnya jauh hari sebelum pandemik covid-19 terjadi.

Namun, bila dikalkulasi, tentu saja lebih banyak lembaga pendidikan tinggi, dosen, maupun mahasiswa yang belum mempunyai pengalaman melakukan pembelajaran jarak jauh sama sekali. Tentu saja hal ini menimbulkan kegagapan dari sisi dosen, mahasiswa, maupun pengelola pendidikan tinggi.

Pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan teknologi informasi, entah berupa kelas virtual (contohnya aplikasi Google Classroom dan Edmodo) maupun video conference (contohnya menggunakan aplikasi dari Zoom, Google Meet, Skype, dan Webex) membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengoperasikannya. Sehingga dosen harus tertatih-tatih dalam mengejar ketertinggalan dalam menguasai aplikasi pembelajaran jarak jauh tersebut. Belum lagi materi maupun ujian yang akan berbeda bila harus diterapkan tanpa tatap muka, sehingga dosen juga harus mempersiapkan materi pembelajaran dan soal ujian yang berbeda.

Banyak dosen yang merasa tertekan dengan teknologi baru yang harus mereka kuasai dalam waktu singkat tersebut. Praktek trial and error seringkali dilakukan untuk mengatasi gagap teknologi, bahkan ada yang menyerah saat menghadapi situasi yang pelik. Beruntung apabila ada kolega yang mau berbagi dan mendampingi dosen yang kesulitan menerapkan pembelajaran jarak jauh, apabila tidak ada, maka frustrasi, keputusasaan, dan ketidakberdayaan-lah yang dirasakan oleh dosen.

Mahasiswa yang merupakan generasi native digital, tentu saja mempunyai keunggulan dalam penguasaan teknologi informasi baru tersebut. Mereka sudah terbiasa dengan penggunaan aplikasi baru yang menuntut penguasaan berbagai perangkat yang dimiliki aplikasi tersebut.

Panduan resmi maupun video tutorial bisa dengan mudah mereka peroleh dari layanan video maupun situs resmi aplikasi. Namun bukan berarti mahasiswa tidak menemukan kendala dalam pembelajaran jarak jauh. Mahasiswa juga mempunyai keterbatasan terkait dengan perangkat yang dimiliki, kuota internet yang terbatas, serta ketidakpaduan antar pengajar maupun kelas pembelajaran jarak jauh sehingga dosen memberikan tugas yang terlampau berat dan tenggang waktu yang tidak realistis bagi mahasiswa, apalagi di situasi khusus seperti ini.

Tentu saja berbagai hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi mahasiswa saat mengikuti perkuliahan jarak jauh, yang tentu saja hal tersebut akan memengaruhi prestasi akademik dan kesehatan mental mahasiswa pada saat krisis pandemi covid-19.

Pengelola pendidikan tinggi juga tidak kalah gagapnya dengan situasi ini. Aturan, panduan, fasilitas maupun infrastruktur yang masih berlubang sana-sini menghambat pembelajaran jarak jauh. Pengelola pendidikan tinggi juga harus menggandeng pihak eksternal untuk mendukung pendidikan jarak jauh ini. Ikatan alumni, programer, penyedia layanan internet, dan stakeholder lainnya harus dirangkul untuk mendukung suksesnya pembelajaran jarak jauh di tengah masa krisis.

Situasi pandemi covid-19 ini adalah situasi yang di luar kebiasaan, sehingga harus dihadapi juga dengan inovasi dan tindakan yang diluar kebiasaan pula. Perlu ada kolaborasi yang apik dari pengelola pendidikan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, pihak eksternal kampus, maupun pengambil kebijakan pendidikan tinggi di pusat untuk mendukung situasi yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh ini. Tentu saja tujuannya untuk mendukung bersekolah dari rumah guna menekan penyebaran covid-19 serta pembelajaran tetap dapat berjalan dengan baik walau di tengah masa krisis.

Belanja Pangan secara Daring. Berikut Pilihannya.

Perlu belanja pangan dari rumah? Santai saja.

Ketika terpaksa lebih banyak di rumah untuk menghindari pandemi COVID-19, kita tetap memerlukan pasokan pangan sehari-hari. Untunglah teknologi memungkinkan kita untuk memesan aneka pangan itu bermodal jari jemari. Berikut sebagian pilihan untuk belanja pangan sebagaimana dikumpulkan oleh Diana Pramesti di akun Twitternya.