Tag Archives: Kabar Baru

Perihal Arak dan Cerita-cerita di Baliknya

Pembuat arak menuangkan produknya di Karangasem.

Mata yang merah, tenggorokan yang panas.

Lima pemuda duduk melingkar. Satu kawan saya, tiga teman dari kawan saya, satu persatu saling memperkenalkan diri. Di tengah berdiri tegak botol besar 1 liter yang berisikan arak Bali.

Dia bersandingkan dengan sebotol minuman bersoda dan berserakan jajanan di sekitarnya. Botol kecil yang telah dirobek dan diambil bagian bawahnya kini dialih fungsikan sebagai cangkir untuk minum.

Satu di antara kami memiliki tugas untuk memimpin dan menuangkan arak ke cangkir dan membagikannya secara melingkar berurutan.

Mereka bilang saya tak lemah. Mereka juga mengatakan orang Surabaya terbiasa minum. Begitu mereka menyindir saya. Jangankan menenggak, tercium aromanya ketika hendak meminumnya saja saya tak mampu.

Namun, mereka begitu memaksa dan menikmati setiap tegukan ketika saya hanya mencoba membaur menjadi lambang kekuatan manusia Surabaya dalam menghadapi tiap tetesnya. Apakah mereka tidak merasa saya sengaja menguatkan diri dengan sedikit menahan napas agar melewati fase “tercium aroma” ketika menenggak cangkir di tiap putarannya?

Pada saat bersamaan ketika cangkir sedang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, terdapat diskusi ringan di dalamnya. Bahkan kadang kala terjadi pula diskusi berat dengan tema yang menyudutkan salah satu di antara mereka, yang mana hanya bisa diam dan mengesampingkan ego.

“Sepuluh ribu pertama..” Kalimat ini sering tersuarakan dari mulut anak muda yang sedang berkumpul dengan kawannya. Kalimat itu mengisyaratkan untuk “cuk-cukan” dalam Bahasa bali yang memiliki arti patungan untuk membeli arak.

Aktivitas minum arak menjadi suatu fenemona dan sudah menjadi suatu kewajaran di tengah kehidupan anak muda Bali. Entah itu hanya sekadar berkumpul di rumah atau terdapat suatu acara diskusi, pameran seni, pementasan teater, dan sebagainya.

Entah mengapa aktivitas minum arak ini seperti menjadi suatu kewajiban.

Teringat ketika saya masih hidup dan tinggal di Surabaya, aktivitas meminum minuman keras hanya kami laksanakan pada saat akhir pekan dan saat ada momen istimewa seperti perayaan ulang tahun salah satu kawan.

Saya masih belum terbiasa dengan aktivitas minum tiap harinya. Ketika di Surabaya bisa dikatakan susah untuk mencari minuman berakohol. Umumnya hanya kafe, bar, atau club yang menjualnya. Itu pun bisa didapatkan dengan harga yang relatif mahal.

Namun, ketika berada di Bali saya menjumpai banyak tempat yang menjual minuman beralkohol. Banyak toko kecil bertuliskan “sedia arak”. Bahkan betapa kagetnya saya ketika memasuki sebuah minimarket modern pun menyediakannya.

Suatu pagi saya menghampiri sebuah kafe. Betapa terkejutnya ketika melihat daftar menu, di mana harga secangkir kopi dan segelas jus buah nyatanya lebih mahal ketimbang minuman beralkohol. Inilah momen yang menyadarkan saya bahwa sehat itu memang mahal. [b]

The post Perihal Arak dan Cerita-cerita di Baliknya appeared first on BaleBengong.

Bagaimana Dunia Maya Merayakan Hari Perempuan Sedunia

Google menampilkan doodle tentang perempuan pada 8 Maret 2019 lalu.

Gambar interaktif itu segera muncul hari itu ketika kamu sedang mengakses Internet lalu melakukan pencarian dengan mesin pencari Google. Google menampilkan gambar warna-warni dalam aneka bahasa bermakna sama, perempuan.

Hari itu dunia memang memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day.

Tepat 42 tahun lalu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meresmikan 8 Maret 2019 sebagai hari perjuangan hak perempuan. Hal itu sebagai bentuk apresiasi kepada wanita yang dirintis pertama kali pada 28 Februari 1909 di New York oleh Partai Sosialis Amerika Serikat.

Jika kita menggunakan kata pencari “hari perempuan sedunia”, maka akan dijabarkan bagiamana sejarah dan kilas balik perayaan hari ini. Bagaimana semangat dan tekad kaum perempuan untuk memperjuangkan hak asasi manusia (HAM).

Sejalan dengan hal tersebut, Google pun merayakan Hari Perempuan Sedunia ini dengan mencantumkan petikan-petikan tokoh perempuan dunia berkarakter serta berjuang dengan keahlian dan caranya masing-masing.

Misalnya slogan Yoko Ono, “Mimpi yang Anda impikan sendiri hanya akan menjadi mimpi. Mimpi yang anda impikan bersama orang lain akan menjadi kenyataan.”

“Mimpi yang Anda impikan sendiri hanya akan menjadi mimpi. Mimpi yang anda impikan bersama orang lain akan menjadi kenyataan.”

Yoko Ono

Atau slogan Mary Kom (Petinju India), “Jangan katakan Anda lemah, karena Anda adalah perempuan.”

Mengulas tentang penghormatan atas jasa dan jerih payah seorang wanita banyak tertuang dalam cerita-cerita di seluruh dunia. Saya ingin sedikit bernostalgia tentang kesetiaan Sinta menunggu suaminya menjemputnya dari negeri Alengka dalam kisah Ramayana.

Dewi Athena yang memimpin seribu pasukan lelaki dalam medan peperangan di Yunani. Hal ini serupa dengan Cut Nyak Dien atau Malahayati yang mengangkat senjata ikut berperang melawan kolonialisme di tanah Aceh.

Namun, nostalgia ini sedikit bias dengan hal-hal feminin yang menyatakan posisi wanita ternyata masih di bawah lelaki. Suatu pergolakan tentang catatan sejarah dan fakta yang terjadi hari ini.

Pada hari ini, permasalahan-permasalahan tentang wanita masih dan terus masif terjadi. Masih hangat di ingatan masyarakat Indonesia dan Lombok khususnya tentang kasus pelecehan seksual yang dilaporkan Baiq Nuril yang bermula dari rekaman cerita perselingkuhan kepala sekolah tempatnya dulu bekerja.

Keberanian Baiq Nuril membeberkan percakapan yang seharusnya menjadikan dirinya pahlawan justru terjerat dugaan pelanggaran UU ITE pasal 27 ayat 1 jo pasal 45 ayat 1 UU Nomor 11 tahun 2008. Kasus ini bahkan cukup viral hingga mendapat perhatian namun kini menguap terlupakan.

Dapat diasumsikan kasus serupa dapat muncul kembali dengan tokoh wanita lainnya yang menjadi korban.

Mungkin masalahan pelecehan wanita acap kali menguap menghilang dari perhatian masyarakat umum, tetapi google mencatatnya! Jika kita menggunakan kata pencarian “kasus wanita” di mesin pencari Google, akan ada banyak kejadian-kejadian serupa.

Bahkan dalam beberapa minggu lalu, kasus viral tertangkapnya politisi menggunakan narkoba di Jakarta, ada sosok wanita yang turut diseret sebagai topik pembahasan khasus politisi tersebut.

Klise memang jika menjadikan wanita hanya sebagai objek. Padahal kenyataannya peran wanita sangat dibutuhkan di lini-lini masyarakat atau yang kini tren disebut kaum emak-emak. Mungkin perjuangan kaum feminim menuntut haknya hingga sekarang
belumlah tuntas seperti cita-cita Mary Wollstonecraft ataupun R.A Kartini.

Namun, perlu digaris bawahi, hak apa yang sebenarnya yang dituntut wanita pada dewasa ini? Bukankah jauh sebelum gerakan feminin terjadi, wanita juga bisa menjadi kepala kerajaan? Bukankah wanita telah di letakan pada posisi yang tinggi dalam folklor kedaerahan sebagai seorang “ibu”. Ibu dari segala penciptaan dan surga ada di telapak kakinya.

Merefleksikan Hari Perempuan Sedunia, pantas kiranya menjadikan pembahasan-pembahasan tentang wanita untuk menjadi konsentrasi khusus. Kurangnya nilai-nilai kemanusiaan secara khusus terhadap kaum wanita menjadikannya sangat rentan untuk dicurangi haknya. Sudah saatnya manusia memanusiakan dirinya, bukan sebatas kesetaraan tetapi tentang nilai kemanusiaan. [b]

The post Bagaimana Dunia Maya Merayakan Hari Perempuan Sedunia appeared first on BaleBengong.

“Istirahat” untuk Bumi dan Manusia yang Sehat


Nyepi menjadi hari istimewa bagi umat Hindu.

Dalam sehari, semua aktivitas, hiruk pikuk manusia dan mesin produksi terhenti. Sarat makna dan laksana terkandung dalam Nyepi. Bukan semata rutinitas ritus pergantian tahun baru caka, tetapi lebih dari itu.

Nyepi memiliki filosofi penyucian Buana Alit (manusia) dan Buana Agung (alam dan seluruh isinya). Tujuannya adalah agar tercipta suasana sepi, sepi dari hiruk pikuknya kehidupan. Pula, sepi dari semua nafsu atau keserakahan sifat manusia untuk menyucikan alam semesta dan manusia.

Berbicara tentang alam semesta, laiknya manusia, Bumi pun butuh istirahat meski hanya sehari.

Keistimewaan pelaksanaan Nyepi, menjadi inspirasi bagi trio folk blues, Nosstress untuk melahirkan komposisi anyar berjudul “Istirahat”. Tunggalan baru ini dirilis dalam format video live, dan telah tayang di kanal Youtube Nosstress, sehari pasca Nyepi 1941. Tepatnya Ngembak Geni, Jumat (8/3).

“Setelah kita semua istirahat sehari, Bumi akan segar kembali dan layak dihadiahi sebuah tembang baru. Lagu “Istirahat” ini adalah kenikmatan Nyepi untuk kami,” papar vokalis juga gitaris nosstress, Man Angga.

Bagi para personel Nosstress, Nyepi adalah hari ternikmat sejagat raya. Hari di mana semua kerja manusia mesti berhenti. Mengendalikan diri, dan memberi kesempatan bagi bumi untuk bernafas lega. Lega dari hiruk pikuk manusia yang menjejaki setiap waktu.

“Nyepi hari yang kami tunggu, dan menurut kami hari paling nikmat, mungkin juga banyak orang. Setiap waktu kita disibukan dengan aktivitas, dan dalam sehari kita memberikan kesempatan untuk bumi beristirahat,” saut vokalis juga gitaris Guna Warma.

Lagu “Istirahat”, kata Man Angga, lahir dari kenikmatan Nyepi. Juga, keresahan akan derasnya laju kerja manusia di tengah dunia yang dikuasai kapitalisme. Membuat manusia harus bekerja keras, mengkonsumsi segala isu dan produk yang dilempar oleh kapitalis kecil hingga raksasa. Ini adalah satu-satunya cara bertahan hidup manusia masa kini.

“Kita gila kerja dan gila konsumsi, bumi semakin tak sehat, kemudian produksi besar-besaran isu dan produk penyelamat hidup oleh kapitalis berjalan lancar,” tuturnya.

Nyepi berdampak pula pada berkurangnya puluhan ribu ton karbon dioksida yang dihasilkan manusia dan produksi. Hingga semua makhluk mendapat suplai oksigen yang baik agar dapat menyegarkan fungsi raga. “Nyepi mengajarkan, bahwa harta yang paling berharga bagi manusia, adalah alam yang sehat. Alam yang sehat, akan menaungi manusia yang sehat pula,” terang Man Angga.

“Nyepi menyadarkan, bahwa bumi manusia yang berputar begitu cepat kini, tak kan pernah mampu membuat bumi semakin sehat. Ia hanya akan semakin ringkih dihajar oleh kejamnya manusia,” imbuhnya.

Menurutnya, meski hanya sehari rehat dari segala hiruk pikuk, Nyepi mengajarkan manusia perlu lebih banyak istirahat, untuk Bumi yang sehat. “Jika sehari saja manusia mau beristirahat dan memberikan kesempatan untuk meregangkan otot. Maka ia, sang bumi, akan membalasnya dengan hari-hari yang menyegarkan, langit yang bersih. Senyum-senyum manusia baru dengan otak yang berjalan dengan lebih baik akibat suplai oksigen yang memadai,” cetus Man Angga.

Video live “Istirahat” mengambil lokasi di bagian timur pulau Bali. Tepatnya di bukit, yang disebut Bukit Pekarangan, Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

“Lokasinya di dekat rumah kerabat Nosstress. Awalnya keinginan kami kemah sembari merekam video. Ini merupakan kesepakatan mendadak. Seperti halnya banyak keputusan-keputusan di Nosstress,” ucapnya.

Komposisi lagu dibuat oleh Man Angga. Penulisan lirik hasil kerja sama dirinya dan Guna Warma. Aransemen dikerjakan nosstress (Man Angga, Guna Warma dan Cok Gus), dibantu oleh Fendy Rizk pada Cello. Sementara video direkam dan disunting oleh Baskara Putra.

“Untuk video live lagu “Istirahat” dari sisi musikalitas tetap sederhana. Yang kami tekankan adalah pesan di lagu ini. Semoga kebaikan Nyepi bisa dirasakan oleh makhluk hidup di seluruh dunia,” tutup Man Angga. [b]

The post “Istirahat” untuk Bumi dan Manusia yang Sehat appeared first on BaleBengong.

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini


Melasti sebagai salah satu rangkaian pelaksanaan Nyepi. Foto Anton Muhajir.

Berikut adalah sejumlah seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi tahun ini.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali menyampaikan pedoman pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 atau kalender masehi 2019 ini. Panduan ini disebarluaskan termasuk ke media sosial oleh PHDI Bali.

Ketua PHDI I Gusti Ngurah Sudiana dan majelis-majelis agama dan keagamaan di Bali menyatakan seruan bersama seperti tahun-tahun sebelumnya. Di antaranya penyedia jasa transportasi laut, darat, dan udara tidak diperkenankan beroperasi selama Hari Raya Nyepi. Demikian juga lembaga penyiaran televisi dan radio. Penyedia jasa selular pun diharapkan mematikan data selulernya.

Seruan ini direspon Kemenkominfo dengan Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika No 3 tahun 2019. Seluruh penyelenggara telekomunikasi yang menyediakan akses internet di Bali mendukung seruan kecuali di obyek vital dan sarana darurat. Misalnya rumah sakit, kantor polisi, militer, BPBD, BMKG, Basrnas, dan lainnya.

Rangkaian Nyepi dimulai dengan Melis/Melasti/Mekiyis sampai 6 Maret yang pelaksanaannya disesuaikan dengan desa setempat.
Selanjutnya adalah upacara Tawur Kesanga yang dilakukan dengan sejumpah prosesi.

Pertama, perwakilan dari masing-masing desa/kecamatan datang ke Pura Besakih membawa perlengkapan persembahyanganuntuk mohon Nasi Tawur dan Tirtha Tawur untuk disebarkan dan dipercikkan di wilayah masing-masing.

Selanjutnya tiap desa menggunakan Upakara Tawur Agung dengan segala kelengkapannya. Dilaksanakan dengan mengambil tempat pada Catuspata (perempatan utama) pada waktu tengai tepet (sekitar pukul 12.00 Wita).

Berlanjut sampai tingkat rumah tangga dengan sarana persembahyangan lebih sederhana. Misalnya menghaturkan Segehan Manca Warna 9 (sembilan) dengan olahan ayam brumbun, disertai tetabuhan tuak, arak, berem, dan air yang didapatkan dari desa setempat, dihaturkan ke hadapan Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja.

Keramaian kemudian berpindah ke jalan-jalan, disebut Pangerupukan, saat ribuan ogoh-ogoh dari ukuran kecil sampai 6 meter diarak oleh anak-anak dan orang tua. Dilengkapi aapi (obor), bunyi-bunyian seperti baleganjur dan lainnya. Ngerupuk dilakukan dengan keliling desa, dan parade ogoh-ogoh ini bisa sampai tengah malam.

Hingga Kamis pagi, pukul 6, petugas keamanan tradisional (pecalang) sudah berjaga-jaga di tiap pemukiman dan jalan. Keriuhan Pangerupukan berganti dengan sunyi, sepi. Nyepi Sipeng dilaksanakan 24 jam sejak jam 06.00 Wita sampai dengan jam 06.00 Wita keesokan harinya, dengan melaksakan Catur Brata Penyepian.

Di antaranya Amati Gni, yaitu tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka. Amati Karya, tidak melakukan kegiatan fisik/kerja namun melakukan aktivitas rohani untuk refleksi diri. Amati Lelungan, tidak berpergian, dan Amati Lelanguan, tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang, melainkan tekun melatih batin.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali juga menyepakati agar penganut agama dan keyakinan lain menyesuaikan pelaksanaan Brata Penyepian seperti tidak ada bunyi pengeras suara misalnya saat Sholat dan tidak menyalakan lampu pada waktu malam hari. Dapat diberikan pengecualian bagi yang menderita atau sakit dan membutuhkan layanan untuk keselamatan. [b]

The post Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini appeared first on BaleBengong.

Menjelang Nyepi, KNB Berbagi dengan Lansia


Relawan Komunitas KNB berkunjung ke Panti Jompo menjelang Nyepi. Foto Herdian Armandhani.

Karena sejatinya orang tua hanya butuh kasih sayang dan perhatian dari anak.

Menyambut Nyepi tahun ini, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali (KNB) mengadakan pengabdian sosial untuk lansia. Lokasinya di Panti Jompo Bhumi Santu, Klungkung dan Panti Sosial Werdha Santi Bongan, Tabanan.

Kunjungan dan pemberian uluran tali kasih diselenggarakan selama dua hari pada 2 – 3 Maret 2019. Panti Wredha Bhumi Santu merupakan Panti Sosial khusus lansia milik seorang dermawan berhati mulia. Panti ini menampung tujuh orang lansia yang tidak diurus keluarganya. Kondisi Lansia yang tinggal di sana sangat terurus dan dalam kondisi sehat wal afiat.

Pada hari kedua, Komunitas KNB berkunjung ke Panti Sosial Werdha Santi Bongan. Panti Sosial ini menampung sepuluh lansia dan sebelas orang dengan ganguan mental. Penghuni panti yang mengalami gangguan mental rutin dirawat dan dikunjungi oleh para dokter dari Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Agar para lansia yang tinggal disini tidak jenuh dan mengisi waktu maka pihak panti memfasilitasi kegiatan membuat ketupat dari bahan janur (daun pohon kelapa) dan sarana upacara Agama Hindu seperti banten.

Komunitas KNB memberikan sejumlah bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, telur, kopi, gula, teh, buah semangka,minyak gosok, minyak angin, popok dewasa, kebaya, dan kamen (kain untuk sembahyang dalam Agama Hindu).

Seorang relawan yang berprofesi sebagai dokter, Komang Prasetia, dengan sukarela memeriksa kesehatan para lansia satu per satu. Relawan Komunitas KNB lain mengajak mengobrol dan berinteraksi karena mereka jarang dijenguk bahkan tidak dipedulikan keluarga mereka sendiri. Adapula relawan yang menyuapi lansia penderita gangguan mental dengan penuh kasih sayang tanpa canggung.

Relawan Komunitas KNB Sri Kholifatul Arifah membagi pengalaman ketika berkunjung di dua panti jompo. Sri berujar mengenai curhatan seorang Nenek bernama Nenek Resik yang berusia 80 tahun. Nenek Resik sudah dua tahun tinggal di Panti Jompo.

Nenek Asal Penebel ini dititipkan oleh menantunya. Anak kandungnya sudah lama berpulang dan memiliki satu cucu. Nenek Resik menangis manakala bercerita mengenai kisah hidupnya yang tidak pernah dijenguk oleh menantu dan cucu.

Sri mengaku sedih mendengar curhatan nenek Resik dan mendapatkan pesan moral dari kunjungan ke Panti Jompo, sayangilah kedua orang tua.

“Karena sejatinya orang tua hanya butuh kasih sayang dan perhatian dari anak. Kebahagiaan bukan diukur dari uang, rumah, tanah atau barang mewah lainnya,” ucapnya menyeka air mata.

Koordinator Aksi kegiatan KNB, Muhammad Imran Syaban mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang sudah mendukung kegiatan sosial KNB sehingga acara baksos jelang hari raya Nyepi terselenggara.

“Terima kasih kepada seluruh donatur. Semoga apa yang kita lakukan bersama bisa menular kepada banyak orang. Agar lebih peduli dengan orang-orang di sekitarnya,” pungkas pria berkacamata ini. [b]

The post Menjelang Nyepi, KNB Berbagi dengan Lansia appeared first on BaleBengong.