Tag Archives: Kabar Baru

Warung Subuh, Napas Dusun dalam Semangat Kaum Muda

Para pemuda menyajikan makanan untuk warga

Desa mawa cara tampaknya sudah kembang kempis napasnya di negeri ini.

Banyak desa yang tak berbau khas pedesaan padahal para pemudanya banyak yang bergelar sarjana. Suasana guyub dengan kekuatan gotong royong dan tepa slira seakan luntur dari kultur desa maupun dusunnya. Terutama ketika maraknya teknologi di berbagai bidang mulai mendominasi.

Dusun Purworejo, Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Jika Anda mencari di aplikasi maps, maka akan tahu bahwa dusun ini tak berjarak begitu jauh dari pusat kota.

Sebuah dusun kecil yang terletak di utara Desa Metatu ini masih menyimpan satu napas panjang keguyuban dan persatuan melalui aktivitas para pemuda. Banyak sekali inovasi kegiatan yang ditelurkan para pemuda setiap tahunnya. Salah satunya yaitu Warung Subuh.

Kegiatan ini dirintis pada tahun 2018, meskipun embrio awalnya sudah sejak lama dilakukan ketika ada even besar. Bermula dengan cita-citanya untuk mengabdi kepada dusun, kepala dusun yang bernama Nanang Qosim mulai mengajak para pemuda untuk sebisa-bisanya berdedikasi di lingkungannya.

Para pemuda tengah begadang menyiapkan masakan

Perlahan mulai banyaklah para pemuda untuk turut serta tanpa imbalan maupun janji apapun. Maka, dirintislah Warung Subuh, sebuah konsep yang menggabungkan berbagai nilai baik dalam kehidupan horisontal (sesama manusia) dan vertikal (kepada Tuhan).

Warung Subuh merupakan sebuah wadah bagi para masyarakat untuk turut serta menyisihkan sebagian apa yang mereka punya setiap minggu. Tepatnya setiap subuh di hari Minggu, berlokasi di halaman masjid Al-Ikhlas Dusun Purworejo. Tidak ada batasan maupun kewajiban di dalam partisipasi warga, murni terbuka bagi siapapun yang menyumbang dengan nominal berapapun.

Bahkan, proses memasak dan menyajikan pun dibuka untuk siapapun yang mau memberikan tenaga dan waktunya. Dan alhasil, para pemuda siap begadang semalam untuk menyajikan hasil sumbangsih warga agar bisa dinikmati ketika subuh datang di hari libur.

Adapun menu yang disajikan, sepenuhnya diserahkan kepada kepala dusun, begitu juga dengan list donatur maupun waktu pengumpulan bahan masakan. Hampir setiap minggu tersaji menu yang berbeda, membuat para warga terasa nyaman dan guyub menyambut hari libur.

Konsep ini pun mulai dikembangkan sayapnya, para pemuda dusun memiliki inisiatif untuk lebih mengabdi. Salah satunya yaitu upaya memberikan jasa memasak gratis bagi warga dusun yang memiliki keinginan membuat hajat tetapi terkendala jasa juru masak maupun biaya.

Keberhasilan Warung Subuh yang mampu merekatkan solidaritas sosial para pemuda melahirkan ide-ide sosial lainnya. Di antaranya yaitu mobil pengantar sakit gratis bagi warga dusun yang tengah sakit, dan pengobatan gratis tiap Jumat.

Khusus di bulan Ramadhan ini, Warung Subuh bertransformasi menjadi Warung Ta’jil yang dibuka di depan jalanan masjid Dusun Purworejo untuk semua warga dan musafir.

Serangkaian ide tersebut membuat dusun ini mandiri dan tidak terlalu menunggu respon dari desa maupun kecamatan ketika terjadi sesuatu. Sehingga dusun ini bisa bernapaskan khas pedusunan di tengah desa-desa yang mulai tergerus individualisme ala kota. [b]

The post Warung Subuh, Napas Dusun dalam Semangat Kaum Muda appeared first on BaleBengong.

Sexy Killers Bukan Penghakiman

Apa Itu Sexy Killers?

Sexy Killers merupakan film dokumenter tentang kisah produksi, distribusi dan konsumsi listrik masyarakat Indonesia yang digarap oleh Watchdoc Indonesia. Jika belum tahu, Watchdoc Indonesia adalah rumah produksi audio visual yang berdiri sejak tahun 2009.

Sepanjang berdirinya, Watchdoc sudah memproduksi lebih dari 160 film dokumenter dan juga memperoleh berbagai penghargaan. Adapun orang yang berada di balik Watchdoc Indonesia adalah Dandy Dwi Laksono. Seorang mantan jurnalis di beberapa stasiun tv swasta.

Famplet Film Dokumenter Sexy Killer

Namun, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang siapa Dandy Dwi Laksono tersebut. Tulisan ini akan lebih membahas tentang isi film ini dari awal hingga akhir serta beberapa pendapat tentang tulisan ini. Karena sungguh di luar dugaan, film ini dapat memunculkan berbagai pandangan di kepala setiap orang. Sangat luar biasa.

Kontroversi Sexy Killers

Sejak kemunculannya, film ini sudah menjadi perbincangan banyak orang. Film yang ramai-ramai di tonton oleh banyak orang ini menuai berbagai pandangan. Sejak dikeluarkannya film ini, juga banyak daerah yang melaksanakan nonton bareng di tempatnya masing-masing. Hingga hari ini lebih dari 250 titik lokasi nonton bareng film ini. Bisa dibayangkan berapa juta masyarakat Indonesia yang sudah menonton film ini? Selain itu, sejak film ini resmi di unggah dalam platform Youtube sejak tanggal 14 April 2019 viewers film ini mencapai 21 juta hanya dalam waktu 2 minggu saja. Namun, uniknya film ini tidak masuk dalam trending youtube. Padahal jika dilihat dari jumlah viewersnya yang fantastis, film ini pantas masuk dalam trending youtube.

Selain dari segi jumlah penontonnya, baik pada momen nonton bareng maupun yang menonton di platform youtube. Film ini juga cukup menuai kontroversi, karena dalam film ini benar-benar mengupas habis keterlibatan kedua belah paslon yang sedang berkontestasi dalam Pemilu Tahun 2019 ini. Tanpa ada yang ditutup-tutupi, semua dibahas sampai tuntas keterlibatan elite politik Indonesia dalam oligarki tambang Indonesia.

Banyak juga yang mempertanyakan, kenapa film ini diputar pada detik-detik menjelang Pemilu diselenggarakan? Pertanyaan ini banyak sekali dilayangkan sebelum atau setelah menonton film ini. Bahkan dalam sesi diskusi Nonton Bareng film Sexy Killers di ISI Denpasar, ada salah satu penonton menanyakan hal tersebut kepada Dandy Dwi Laksono yang juga hadir sebagai narasumber kala itu.

Jawabannya sangat simpel dan masuk akal, “agar masyarakat dapat mengetahui siapa sebenarnya orang-orang yang akan dipilihnya nanti,” kurang lebih itulah yang dikatakannya. Jika, mengambil sudut pandang dari Sutradara Film, film ini diputar menjelang perhelatan demokrasi terbesar di Indonesia adalah untuk membuka wawasan masyarakat Indonesia akan calon pemimpin yang dipilihnya dan lebih memperkenalkan rekam jejaknya dalam bidang tambang khususnya.

Elite Politik Meragukan?

Saya yakin banyak yang meragukan elite-elite politik Indonesia setelah mengetahui data dan fakta yang disajikan dalam film Sexy Killers tersebut. Apalagi kebanyakan narasi-narasi yang dilontarkan oleh mereka sangat berbanding terbalik dengan apa yang nyataya terjadi.

Fakta bahwa bisnis tambang ini hanya dikuasai oleh segelintir orang dan ternyata dua kubu yang saling menyerang satu sama lain juga menjadi kolega dalam bisnis ini tentu akan menurunkan tingkat kepercayaan dari masyarakat kepada pemerintah sekarang. Dalam film tersebut juga disajikan cuplikan debat kandidat yang diikuti oleh kedua Calon Presiden yang pada kala itu sang moderator memberikan pertanyaan tentang nasib lubang bekas galian tambang yang terbengkalai dan memakan banyak korban jiwa di Kalimantan.

Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, moderator menyebutkan 3500 lubang tambang yang belum direklamasi kembali. Namun, respon dari kedua Capres tersebut sangatlah mengecewakan. Hanya melontarkan narasi bahwa akan tegas melawan mafia-mafia tambang perusak lingkungan dan tidak ingin banyak berdebat akan hal tersebut. Mengecewakan bukan?

Tidak hanya sampai disana, dalam film tersebut juga ditampilkan cuplikan rapat komisi VII DPR RI yang dipimpin oleh Muhammad Nasir selaku Wakil Ketua Komisi dari Fraksi Partai Demokrat. Secara tegas menanyakan soal pertanggungjawaban pemerintah terhadap lubang-lubang bekas galian yang terbengkalai kepada pihak pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM yang kembali lagi tidak dapat mempertanggungjawabkan ijin yang telah mereka keluarkan.

Mirisnya, Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor tidak memiliki langkah strategis untuk menanggulangi lubang galian tambang yang makin hari semakin banyak merenggut korban jiwa. Pernyataan yang lebih parah lagi disampaikan oleh Gubernur Kaltim tersebut bahwa “korban jiwa terjadi dimana-mana, ya namanya nasib dia meninggal di kolam tambang.” Pernyataan yang sama sekali tidak memihak kepada masyarakat.

Dimana Posisi Negara dalam Kasus Ini?

Kembali lagi, dalam kasus yang melibatkan kehidupan masyarakat kecil negara tidak serius dalam menanggapai. Bahkan bisa dikatakan negara lebih memihak kepada pemilik modal yang secara nyata tidak memperdulikan nasib masyarakat terdampak langsung.

Bukan tanpa alasan, melihat dan membaca respon yang disampaikan oleh pemerintah yang notabene memiliki instrumen untuk menyelesaikan masalah tersebut tidak terlihat keseriusannya. Terlihat hanya sekedar memberikan jawaban yang mampu memuaskan rasa ingin tau dari masyarakat banyak. Padahal belum tentu apa yang mereka katakan akan langsung ditindak lanjuti. Ditunda? Sangat besar kemungkinan tersebut karena tidak dalam prioritas mereka.

Padahal dalam UUD 1945 pasal 33 UUD 1945 berbunyi sebagai berikut : ayat (1) berbunyi; Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan, ayat (2); Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara, ayat (3) menyebutkan ; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, ayat (4), Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional dan ayat (5); Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Meneropong bunyi dari pasal 33 ayat 3, maka jika melihat realita hari ini apakah negara sudah mampu mengamalkannya? Belum. Kenapa demikian? Karena masih sangat banyak sumber daya kita yang dikuasai oleh pihak asing dan negara hanya bisa menikmati sedikit dari sumber daya melimpah yang dinikmati oleh pihak asing. Negara harus segera berbenah.

Bukan Penghakiman

Walaupun kita sebagai warga negara sudah mengetahui bahwa pemerintah kita memiliki banyak kekurangan, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam. Namun, bukan berarti kita harus sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Sebagai warga negara, kita mesti memberikan kontribusi kepada negara, apalagi jika melihat pemerintah berada dalam track yang salah.

Wajib kita perbaiki yang dapat kita lakukan dengan berbagai cara, baik itu audiensi, demonstrasi atau bisa langsung melakukan aduan kepada Instansi terkait. Selain itu, media hari ini sangatlah efektif untuk menjadi ruang kita menyampaikan aspirasi. Tuangkanlah aspirasi dan pemikiranmu ke dalam bentuk tulisan dan sebarkan, sehingga banyak orang mengetahui apa saja keresahan serta apa solusi yang akan kamu berikan untuk dapat meningkatkan kinerja pemerintah.

Warga negara yang cerdas adalah warga negara yang memberikan kritik sekaligus solusi atau gagasan kepada pemerintah.

The post Sexy Killers Bukan Penghakiman appeared first on BaleBengong.

Perjalanan Bali Yang Binal untuk Energi Esok Hari

Pra Bali Yang Binal di TBB. Foto Luh De

Nama Bali Yang Binal sendiri berasal dari parodi Bali Biennale.

Bali Yang Binal (BYB) adalah sebuah pagelaran yang lahir dari kritik atas Bali Biennale, medio 2005. Event ini diinisiasi oleh Komunitas Pojok dan Komunitas Seni di Denpasar (KSDD ). Nama Bali Yang Binal sendiri berasal dari parodi Bali Biennale.

Dalam perjalanannya, BYB tumbuh melebihi ekspetasi awal yang dibayangkan. BYB bukan hanya sebagai acara alternatif, namun menjadi wadah berkumpulnya seniman-seniman muda yang kemudian rutin mengadakan acara ini setiap 2 tahun sekali. BYB menjadi even dimana banyak seniman dengan berbagai bidang seni menunjukkan kepiawaiannya masing-masing, baik itu visual, musik, teater dan sebagainya, yang tidak ragu bereksperimen atau bersenang-senang menciptakan karya seni baru.

Kala acara Bali Biennale yang dikritik mati di tahun keduanya, BYB justru mampu melewati jaman hingga ke edisi #7 pada tahun 2017 yang lalu. Pada setiap pagelaran BYB, Komunitas Pojok selalu memilih tema-tema aktual yang dibungkus dalam balutan estetika. Seni dan kritik adalah formula untuk kemampuan keberlangsungan acara ini.

Pada edisi kali ini (BYB #8) yang menjadi tema adalah “Energi Esok Hari”. Kami memilih tema ini sebagai intisari dari semua permasalahan yang sedang terjadi atau yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari apabila dibiarkan. Bali sebagai sebuah pulau kecil yang mempunyai potensi investasi tinggi selalu menjadi obyek yang menggiurkan untuk dieksploitasi.

Benar bahwa Bali telah menjadi mesin yang memutar gerigi industri pariwisata, banyak kebutuhan yang kemudian diadakan atas nama menjaga Bali sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Namun yang kemudian disayangkan dan butuh dikritik adalah keputusan-keputusan instan yang dipilih pemangku kebijakan dan investor dalam menentukan arah pembangunan pariwisata.

Pra Bali Yang Binal di TBB. Foto Luh De

Keinginan pemerintah dan investor untuk membangun sarana-sarana penunjang pariwisata seperti rencana reklamasi Teluk Benoa, rencana pembangunan tol lintas utara, rencana pembangunan bandara baru di Bali utara, dan lain sebagainya tentu membutuhkan energi yang besar. Dan kebutuhan energi ini hendak dijawab dengan cepat oleh para pemangku kebijakan tadi dengan membangun PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) batubara baru di Celukan Bawang, Buleleng. Sebuah langkah yang tergesa-gesa dan keliru, karena Bali mempunyai potensi energi serta waktu yang cukup untuk beralih pada penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan.

Batubara sudah dikenal sebagai sumber energi fosil yang merusak, tidak hanya dalam proses perubahannya menjadi energi tapi juga sejak proses pengambilannya. Diawali dengan kerusakan hutan, hilangnya ekosistem flora dan fauna, kerusakan di laut dalam proses distribusi dan pengolahan energi. Pembuangan limbah asap dari pembangkit-pembangkitnya serta konflik sosial yang ditimbukannya. Keheranan muncul ketika pulau kecil seperti Bali yang sudah memiliki satu unit PLTU Batubara, masih perlu membangun lagi yang baru. Berbagai pertanyaan baru kemudian muncul membutuhkan jawaban dan solusi, dan bagi kami batubara bukanlah jawaban dan solusinya.

Untuk itu, dengan kemampuan yang kami miliki sebagai seniman, kami ingin berkontribusi dalam mengkampanyekan penggunaan energi ramah lingkungan, menarik dan bergandengan bersama dengan semua pihak yang peduli lingkungan dan Bali, demi hari esok yang lebih baik. Rangkaian BYB #8 telah dimulai dengan gelaran Sawer Nite, sebuah event penggalian dana pada 19–21 April 2019 lalu di Cushcush Gallery. Pada 18 Mei, Pra Bali Yang Binal #8 digelar di Taman Baca Kesiman.

Pada tahapan ini akan dilakukan pemantapan materi, sehingga karya-karya yang dihasilkan pada Bali Yang Binal #8 bisa sesuai dengan tema yang diangkat. Selain itu akan ada juga pameran baliho dari seniman-seniman pendukung Bali Yang Binal #8. Selanjutnya baliho-baliho ini akan dibawa ke Celukan Bawang sebagai media “demonstrasi visual”.

Tahapan selanjutnya adalah pembukaan Bali Yang Binal #8 pada 30 Juni di Taman Baca Kesiman. Pembukaan akan diisi dengan technical meeting untuk seniman-seniman yang berpartisipasi. Pada 6-8 Juli Bali Yang Binal #8 akan mengajak seniman-seniman mural untuk jamming mural langsung di daerah terdampak. Hal ini dilakukan agar seniman-seniman lebih memahami persoalan, dan pada sisi lain kegelisahan masyarakat terdampak terwakili oleh visual-visual yang ditampilkan oleh seniman-seniman tersebut.

Kemudian penutupan Bali Yang Binal #8 akan dilaksanakan pada 14 Juli 2019. Penutupan rencananya diadakan di lapangan Lumintang dengan memamerkan kembali baliho-baliho yang dipamerkan pada pra Bali Yang Binal #8 dan mural jamming di Celukan Bawang dan diiringi oleh beberapa kawan-kawan musisi.

The post Perjalanan Bali Yang Binal untuk Energi Esok Hari appeared first on BaleBengong.

Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca

Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik dan plastik.

Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis.

Tiga puluh April 2019 lalu, Taman Baca Kesiman (TBK), memperingati hari kelahirannya, lima tahun hadir di serambi kiri kota Denpasar. Peringatan diisi dengan menggelar acara unik, Pesta Baca. Sebuah pesta yang ‘menjamu’ para penyuka baca, melalui saling-silang pendapat, tentang buku yang dibaca, disukai, diapresiasi, dan secara literasi menginspirasi si pembaca menjadi sebuah aksi. Paling tidak untuk dirinya sendiri.

Barangkali Pesta Baca ini pesta perdana yang pernah digelar di tanah Bali. Tujuannya semacam memberi penghargaan kepada kaum pembaca secara adil merata dan setara. Karena selama ini yang banyak diberikan penghargaan kebanyakan penulisnya. Bukankah setiap karya buku yang ditulis, pasti menghendaki adanya sang pembaca?

Melalui Pesta Baca, Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca memang layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis. Membaca adalah sebentuk upaya aktif seseorang ‘bergaul’ atau berdialog dengan pikiran penulis, berkesinambungan, menguras tenaga dan pikiran untuk mencerna bacaan. Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik, dan plastik.

Asal usul Pesta Baca

Acara Pesta Baca di TBK ini bermula dari obrolan di meja makan, di rumah Batan Buah Kesiman, bersama keluarga saat merayakan hari Nyepi. Nyepi kita jadikan tradisi guyub keluarga karena satu-satunya momen terindah yang mampu ‘mendiamkan’ kita yang tinggal di Bali dari hiruk-pikuk kehidupan global yang kian menjauhkan anggota keluarga satu dengan lainnya. Hanya Nyepi kita bisa ngobrol intim tidak terinterupsi oleh internet dan handphone.

Ketika itu saya lontarkan pertanyaan, punya ide nggak, untuk Ultah ke-5 Taman Baca Kesiman? Semuanya semangat sambil meraba-raba ide yang baik dan pas. Lalu, Termana mengusulkan ide PESTA BACA. Semua yang hadir menyambut baik ide tersebut, dan minta Termana menggambarkan wujud kongkrit ide pesta baca itu. Termana menjelaskan, bahwa pada Pesta Baca itu para penyuka Baca dihadirkan pada sebuah panggung kontestasi. Dua pembaca laki dan perempuan tampil, ini penting, agar tidak dominan laki-laki aja. Hal ini sejalan dengan moto TBK, bhineka dan setara.

Penjelasan Termana ini menjadikan curah pendapat Nyepi semakin hangat, dan langsung bentuk panitia kecil yang tediri dari saya, Bu Hani, Carlos, Termana, Ika, Jung Hadhi, dan Fenti. Kemudian diskusi lanjut dengan ide-ide acara tambahan selama Pesta Baca berlangsung seperti Kaos Keos Art, lapak buku, dongeng, musik, dan kuliner lokal.

Disepakati Pesta Baca digelar tiga hari, mulai dari t30 April 2019 hingga 2 Mei 2019. Ini momentum yang baik untuk melangsungkan Pesta Baca, karena pada tanggal itu ada hari-hari bersejarah. Pada 30 April adalah tanggal wafatnya pengarang besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Sementara 1 Mei hari Buruh, dan 2 Mei Hari Pendidikan Nasional, pas lah sudah. Dan hal ini semakin menambah semangat mengeksekusi ide Pesta Baca. Saking semangatnya, diskusi pun sampai pada perihal bagi tugas, siapa melakukan apa, terkait Pesta Baca. Ada yang mendapat tugas menghubungi narasumber, pengisi acara selingan Pesta Baca, konsumsi, kemudian pengisi pidato Kebudayaan, dan lainnya.

Nah ketika pembicaraan terkait rencana acara Pidato Budayaan, saya usulkan untuk tidak menggunakan istilah Pidato Kebudayaan. Saya usulkan pakai istilah lokal: Sobyah Budaya. Saya pikir istilah Pidato Kebudayaan terlalu formal, elitis, serius, resmi, dan serem, kurang pas dengan suasana Taman Baca Kesiman (TBK). Bercermin dari pengalaman sehari hari, kehadiran pengunjung TBK, hampir semuanya kelihatan informal dan santai, tidak terkait dengan tetek bengek aneka formalitas.

Kemudian setelah hari Nyepi, pertemuan panitia kecil berlanjut, dan tampaknya kepanitiaan harus diperbesar, karena kita ingin mendapat masukan dari berbagai kalangan dan persepektif agar acara menjadi lebih beragam, lancar dan sukses. Panitia kecil kemudian membuat group WA Pesta Baca dengan tambahan tambahan personel antara lain Bang Roberto, Luhde, Anton, Made Mawut, Ini Timpal Kopi, Daivii ditambah beberapa tenaga relawan seperti Riang, Teja, Bayu, Gilang. Kehadiran group WA Pesta Baca, semakin menjadikan komunikasi dan koordinasi tugas serta informasi semakin lancar, cepat dan mantap.

Lewat grup ini pula acara Pesta Baca semakin mengerucut dan pasti, antara lain Sobyah Budaya, Baca Adalah Nyawa, Lapak Baca, Kaos Keos Art, Dongeng dan Musik.

Sebagai langkah awal, kita merancang desain banner dan poster untuk dimunculkan di media sosial. Untuk desain banner, ada usulan dari Carlos untuk minta bantuan designer perempuan yang sudah banyak melahirkan karya- karya cantik dan menarik perhatian publik, namanya Ivana Kurniawati. Astungkara, Ivana Kurniawati putri Kalimantan yang bermukim di Thailand, dengan senang hati siap support desain untuk Pesta Baca.

Sobyah Budaya

Rencana awal Pesta Baca, untuk Sobyah Budaya diisi tokoh lokal, namun dalam perkembangannya, ada usulan agar Sobyah Budaya diisi tokoh nasional. Pertimbangannya karena kita ingin Pesta Baca tidak hanya untuk masyarakat lokal saja, kita ingin Pesta Baca menyeberang ke wilayah nasional dan bila perlu internasional. Karena kami berkeyakinan Pesta Baca ini ide dan acara baik, segala yang baik untuk kehidupan mesti menyebar ke segala penjuru. Sekalian mengenalkan TBK sebagai tempat paling asyik untuk bertegursapanya aneka perbedaan di Nusantara. Dan ini sesuatu yang nyata, tidak sekadar wacana saja.

Awal April saya dan Bu Hani melakukan perjalanan bisnis ke Blora Jawa Tengah. Nah, disini pula muncul keinginan mengunjungi rumah pujangga besar Indonesia yang disingkirkan Orde Baru Pramoedya Ananta Toer (alm). Kami mampir ke Pataba (Perpustakaan Anak Semua Bangsa) milik keluarga Pram di Jln. Pramoedya Ananta Toer, Blora.

Syukur alhamdulilah, kami bertemu dengan Ibu Soesilo Toer, kami dipersilakan duduk dan disajikan segelas air putih. Selang beberapa menit muncul Pak Soesilo Toer yang dengan ramah dan hangat menyambut kehadiran kami. Setelah ngobrol panjang, kami sampaikan pada beliau bahwa kami bermaksud mengundang beliau hadir pada perayaan Lima Tahun TBK. Dan kami ingin beliau mengisi acara Sobyah Budaya. Syukur alhamdullilah, Astungkare, beliau menyatakan bersedia hadir. Woooo bukan main senangnya hati kami berdua, bak merasa mendapat dua truk durian runtuh. Beliau juga senang, karena cita-cita beliau sejak lama ingin tahu Pulau Bali dan kebetulan tanggal 30 April adalah tanggal wafatnya Pramoedya. Saya pikir Bpk. Soesilo Toer adalah sosok yang paling pantas mengisi Sobyah Budaya, karena beliau salah seorang putra terbaik bangsa yang lolos seleksi masuk universitas di Russia di era Presiden RI Bung Karno. Setelah tamat beliau pulang ke Indonesia dan ingin menyumbang keahliannya untuk Indonesia. Beliau juga seorang pejuang dan cinta Indonesia, dan sadar betul setelah tamat harus kembali mengabdikan ilmunya untuk bangsa dan negara.

Namun apa lacur, begitu tiba di tanah air, beliau ditangkap dan dipenjarakan oleh kepala suku rezim Orde Baru, Soeharto. Beliau penulis yang produktif, hidup sederhana, dan banyak menterjemahkan karya-karya berbahasa Russia. Dan inilah sosok pribadi yang tepat dan pantas kita dengar dan kita simak bersama lewat Sobyah Budaya.

Baca adalah Nyawa

Dua-tiga tahun terakhir di bali sempat populer lagu Bali berjudul: Tuak Adalah Nyawa. Lagu ini banyak dinyanyikan anak-anak, remaja dan orang dewasa, baik di desa maupun di kota. Jujur saya katakan lagu ini bagus, karena nadanya gembira, namun kurang pas di hati karena judul dan liriknya tidak mendidik, terutama untuk anak-anak dan remaja. Saya khawatir lagu ini bisabisa menjadi alat pembenar untuk anak- anak mengonsumsi alkohol.

Sebagaimana kita ketahui Bali tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Banyak hal mesti dibenahi, apalagi Bali dengan industri pariwisatanya, yang kurang senang dengan pemikiran kritis. Pariwisata membangun zone nyaman yang dalam banyak hal sering diterjemahkan apolitis atau “sing demen ruwet”. Dengan istilah Baca adalah Nyawa, akan bisa menggiring opini publik beralih dari tuak ke bacaan.

Dari menyukai tuak menjadi minat baca, begitulah idealnya. Melalui Pesta Baca dan Baca adalah Nyawa, berharap langkah kecil ini bisa menjadi alat tepat untuk mengusir picik serta fanatisme sempit warga dalam merawat kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejuk di Bali dan Indonesia.

Acara Baca adalah Nyawa, berdurasi 2.5 jam, terdiri dari dua sesi, sesi pertama dan kedua. Setiap sesi ada pemandunya, dan pemandu adalah orang-orang yang diseleksi dan dianggap mampu membangkitkan suasana cair sambil memberi highlight pada pesan-pesan dari buku yang dipestakan. Masing masing sesi diisi penyuka baca laki, perempuan dan transgender.

Masing- masing menceritakan buku apa yang dibaca, dan yang berpengaruh atau berkesan bagi dirinya. Kenapa buku itu begitu menginspirasi? Barangkali mendorong si pembaca untuk melakukan perubahan? Setelah itu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama audiens yang hadir. Nah disinilah arti Pesta Baca yang diharapkan terjadi proses pembelajaran sekaligus merangsang minat baca warga. Apalagi sang pembaca adalah orang- orang yang cukup mumpuni di bidangnya sehingga Baca adalah Nyawa memang benar- benar bernyawa dalam membangun semangat baca warga.

Lapak Baca

Ini acara tambahan yang saya pikir penting dan masih dalam satu paket acara Pesta Baca. Lapak Baca ini memberi ruang kepada para pelapak buku dan perpustakaan keliling untuk menampilkan, baik karya buku yang komersial maupun buku yang sekedar dipajang untuk dibaca gratis. Ini penting karena lewat Lapak Baca ini mendorong orang2 yang hadir pada pesta baca untuk lihat- lihat buku yang sedang hangat dan banyak dibaca orang. Barangkali ada yang tertarik membeli buku baik dari buku yang sedang dibicarakan maupun buku diluar dari yang sedang dipestakan aau buku-buku lain yang punya daya tarik tersendiri.

Kaos Keos Art

Saya menyebutnya Kaos Keos Art. Saya mengkoleksi banyak baju kaos yang sarat dengan pesan pesan perlawanan atau ketidakpuasan dengan kebijakan penguasa. Pada kaos itu kita bisa lihat bentuk perlawanan rakyat sehari- hari bergelut dengan ketidakadilan. Saya berfikir jika kaos ini dipajang dalam jumlah banyak pasti kelihatan seni dan orang bisa belajar dari pesan- pesan yang tertera pada baju kaos.

Sering kita baca di media massa ada orang ditangkap aparat karena pakai kaos bertuliskan Bali Tolak Reklamasi, ada bule yang pakai kaos palu arit terpaksa harus berurusan dengan apparat. Ternyata baju kaos bukan sekedar penutup tubuh saja, tapi baju seni baik desain maupun pesannya dikemas artistik dan mampu bikin penguasa “keos”. Kaos Keos Art ini ingin menyampaikan pesan kepada publik. Inilah ekspressi jujur dari rakyat, jujur karena benar, dan benar menjadikan dia indah. Ini pula realita yang mesti disimak dan ditindaklanjuti penguasa.

Dongeng

Bali punya tradisi mendongeng. Saat ini kegiatan mendongeng semakin jarang, karena dunia saat ini dijejali hiburan modern, dan juga manusia semakin sibuk, hubungan kekerabatan yang dulunya guyub kini mulai menjauh dan cenderung lepas dari ikatan komunal atau guyub. Acara mendongeng disediakan untuk menghibur pengunjung yang bawa anak-anak. Harapannya kegiatan mendongeng ini bisa menarik pengunjung dan tradisi mendongeng bisa bangkit kembali tentunya dengan kemasan yang lebih memikat pengunjung.

Musik

Acara musik ini ditangani oleh Made Maut dan Carlos. Para musisi ini hampir semuanya adalah musisi yang punya sikap dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat. Dan hampir semuanya apresiatif dengan keberadaan TBK sebagai melting pot budaya dan gerakan sosial di Bali. Mereka semua mau berkontribusi tampil gratis sambil ikut mendukung dan menyimak opini-opini yang mengalir pada sesi Baca adalah Nyawa. Musisi hadir dengan musik dan lirik ciptaannya yang dipentaskan pada saat jeda acara untuk merelaksasi otak dalam berpesta baca.

Pada acara musik ini juga terjadi dialog seni antara musik dan puisi. Selagi musik dimainkan diisi dengan pembacaan puisi oleh penyair yang hadir dengan spontanitas.

Yang jelas dan tak kalah pentingnya, bahwa acara Pesta Baca adalah acara swadaya dan swakelola dari inisiatif lokal, memaksimalkan produk lokal, untuk lokal, nasional dan internasional, tanpa harus sibuk mengorbankan alam dan budaya Bali untuk Pariwisata.

Terima kasih kepada seluruh tim TBK, tim Pesta Baca, para pengisi acara, pembaca, moderator, pencatat, musisi, pendokumentasi, pelapak buku, dan lainnya. Peminjaman baju kaos, pengunjung dan semua pihak yang mendukung acara Pesta Baca TBK April lalu. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan selama acara. Sampai ketemu pada acara Pesta Baca, April 2020.

The post Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca appeared first on BaleBengong.

Bali Yang Binal, Berkesenian Bukanlah tentang Keindahan Saja

Waktu kuliah seni rupa di Bali, kesal rasanya jika yang dibicarakan adalah pencapaian estetika yang merupakan pencapaian keindahan melulu.

Tembok medium seksi untuk menyampaikan pesan karena posisinya strategis bagi publik. Foto Komunitas Pojok.

Pemaknaan Bali yang indah ala Mooi Indie (Indonesia yang molek) ala Belanda masih menjadi pencapaian terhebat.

Iya, itu penting, tapi seni beserta estetikanya saya yakini sebagai metode menyampaikan suatu isu-isu krusial sosial juga. Menemukan mural-mural di tembok yang mengkritik keadaan Bali pun tidak jarang, lalu kenapa kita tidak membahasnyal di kelas, dan malah isu sosial menjadi semacam tabu?

Misal, saat diberi tema melukis tentang ekonomi di studio lukis, saya melukis tentang korupsi dibanding teman-teman yang melukis tentang kemiskinan dengan pencapaian estetika maksimal. Dosenku bilang apa? “Kenapa harus tentang korupsi yang terlalu berat, ga bisa ngelukis kayak temanmu tentang kemiskinan.” Seriously, pak? Kemiskinan lebih indah dari korupsi, gitu?

Itu cerita 10 tahun yang lalu. Bagaimana hari ini? Di bangku kuliah saat ini, saya kurang tahu apakah ceritanya masih sama. Tapi di luar sana, saat kampanye Pemilu gencar beberapa bulan lalu, salah satu baliho kampanye seorang kandidat Bali adalah kata-kata “Restorasi Bali.” Hmmmmm… apa sih sebenarnya yang ingin direstorasi? Keindahan Bali demi kesehatan ekonomi pariwisatanya yang kian terkikis? Bali sudah kian banyak berubah, beradaptasi, berakulturasi, dan tereksploitasi.

Namun, juga bisa menjadi tempat berbenah, menjadi contoh yang baik untuk hal yang baik untuk bangsa kita. Misalnya kehadiran bank sampah plastik di setiap Banjar setiap minggu pagi, peraturan kota yang meniadakan penggunakan plastik di toko-toko dan restoran, sampai supir online pengantar makanan memiliki totebag sendiri.

Di Bali lah saya mengenal istilah Rwa Bhineda – bukan bermaksud spiritual, cuma ini satu konsep yang masih tidak bisa diterima banyak orang. Kenyataannya, dengan banyaknya informasi hari ini melalui berbagai sumber, baik dan buruk sangat berdekatan.

Di pemahaman Rwa Bhineda, bahwa ada dua sisi di segala hal dan kedua sisi itu harus seimbang, maka itulah satu pencapaian kehidupan yang patut dijalani. Jadi baik dan buruk memang sudah seharusnya berdampingan, dan aku rasa itu spirit yang diterapkan bahwa di saat kita merusak maka berbenah adalah penyeimbangnya.

Lalu di skena kesenian, Bali Yang Binal akan hadir untuk kedelapan kalinya. Baru ini saya baca bahwa perayaan kesenian yang Binal, mengkritik Biennale Seni di Indonesia tidaklah terjadi di Bali saja. Sudah pernah terjadi di Jawa, dimana ada perlawanan terhadap perlehatan Biennale yang hanya fokus dengan seni lukis saja.

Di Bali sendiri, Bali Yang Binal hadir untuk mengkritik kehadiran Bali Biennale pada tahun 2005 karena adanya keberpihakan terhadap perupa-perupa yang berpameran. Nama Bali Yang Binal memang menjadi parodi-nya Bali Biennale dan terdengar lebih menggelora.

Bali Yang Binal merupakan protes secara estetika dan menggunakan baliho serta tembok sebagai media untuk menggaungkan seni di ruang publik dengan mengangkat isu sosial sebagai temanya. Maka Bali Yang Binal saya lihat sebagai penyeimbang yang terus hadir untuk publik. Ini lho juga kesenian Bali, membahas isu sosial dan tidak melulu tentang keindahan.

Tema yang diangkat Bali Yang Binal ke-8 tahun ini adalah Energi Esok Hari. Satu hal yang sangat krusial dibicarakan belakangan ini. Keadaan Bali yang makin padat dan masih menjadi sumber pendapatan, dipermainkan menjadi tempat nyaman untuk pengusaha besar.

Tidak semua menolak keberadaan PLTU Celukan Bawang di Buleleng, satu contoh yang dibahas di Energi Esok Hari. Tapi penggunaan batubara sebagai sumber energi tidak bisa diperbaharui, asapnya tidak sehat untuk mahluk hidup dan melukai bumi pertiwi beserta warga sekitar sumbernya. Maka Bali Yang Binal akan menghadirkan hal krusial ini, yang cenderung tidak banyak dibicarakan.

Bali Yang Binal yang mengkritik keberadaan perlehatan seni Biennale di Bali akhirnya berlangsung lebih lama dari Biennale itu sendiri. Biennale tahun 2005 yang kemungkinan besar diadakan oleh pihak elit ternyata terjadi sekali saja. Apakah kehadiran Bali Biennale saat itu semata-mata kepentingan? Bali Yang Binal menjadi pengingat Bali bisa menjadi tempat berbenah, menjadi contoh baik untuk bangsa kita.

The post Bali Yang Binal, Berkesenian Bukanlah tentang Keindahan Saja appeared first on BaleBengong.