Tag Archives: Kabar Baru

Perayaan Hidup Perempuan di Teater 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung

Siapa pahlawan? Mereka yang memaknai hidupnya. Inilah 11 kisah dari 11 ibu di 11 panggung Bali Utara.

Tuti Dirgha, panggung ke-8, pentas di rumahnya.

Bulan November, tak terasa pentas 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah sebuah karya teater dokumenter Kadek Sonia Piscayanti yang merupakan hibah Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi sudah memasuki pentas ke delapan. Sonia seperti sengaja memilih momen Hari Pahlawan sebagai tanggal pementasan sebab memang pentas ini diniatkan sebagai sebuah peringatan bahwa 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah adalah sebuah dedikasi bagi dunia Ibu yang adalah pahlawan sejati di dunia nyata.

Bertempat di Puri Buleleng, pentas kedelapan digelar dengan aktor Sumarni Astuti yang lebih dikenal dengan nama penulis Tuti Dirgha. Pementasan ini terasa istimewa karena sang aktor adalah guru dan pelatih baca puisi sang sutradara Kadek Sonia Piscayanti ketika duduk di SD dan berlanjut hingga kini telah menjadi ibu. Hubungan Sonia dan Ibu Tuti seperti layaknya ibu dan anak, begitu banyak kenangan yang Sonia simpan di benaknya tentang Ibu Tuti.

Ibu Tuti disebutnya sebagai ibu sabar, yang berjuang sangat keras menjadi single parent sejak kematian suaminya. Ibu melahirkan 6 jiwa, satu meninggal dunia dalam usia 6 bulan, membuatnya  belajar dengan bijak apa itu kematian. Setelah kematian anaknya bertubi-tubi cobaan mengujinya, namun ia tetap tangguh dan sabar. Ia kehilangan 5 jiwa hampir berturutan yaitu kematian mertua, ipar-ipar yang diajaknya bersama dan kematian suaminya yang sangat menghentak dan membuatnya hampir tak kuasa.

Jika saja ia bukanlah perempuan yang sabar dan tangguh, kematian serupa badai beruntun bisa saja menghempas dan menenggelamkannya. Namun ia tidak. Sekali lagi ia berdiri, menyelamatkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk menatap masa depan.

Pahlawan adalah julukan yang tepat bagi Ibu Tuti, dan juga 10 ibu lain di projects 11 Ibu ini. Hampir semua ibu adalah pahlawan bagi keluarganya dan hampir semua ibu berjuang mati-matian untuk anak-anaknya.

Di project ini, kita tentu masih ingat profil perjuangan masing-masing ibu. Setidaknya ada tujuh pentas sebelumnya. Ada Ibu Erna Dewi, seorang pembaca tarot yang berjuang untuk keluarga. Ada Ibu Watik, seorang tukang batu yang merantau ke Bali untuk menghidupi keluarganya di Jawa.

Ada Ibu Hermawati, seorang keturunan China yang menikah dengan lelaki Bali yang berjuang di keluarga mencari asal usul leluhur di tengah kerinduannya mencari rumah jiwa. Ada Diah Mode seorang desainer yang merancang baju seperti merancang hidupnya sendiri. Ia tak pernah mengenyam pendidikan formal namun berjuang belajar otodidak hingga karyanya dikenal bahkan di tingkat nasional.

Ada Ibu Simpen seorang bidan senior yang berjuang menolong kelahiran ribuan bayi dan menolong dirinya sendiri keluar dari persoalannya. Ia pernah mengalami trauma karena isu kekerasan domestik di pernikahan pertamanya namun bangkit lagi dan menata pernikahan keduanya. Ada ibu Sukarmi yang tuna rungu dan tuna wicara namun tetap menjadi tulang punggung keluarga. Ia pernah menikah dua kali, dan gagal. Kini ia menikah untuk ketiga kalinya dan menata kembali hidupnya.

Yang akan pentas setelah pentas ke delapan ini adalah Ibu Tini Wahyuni, seorang pelukis, pemusik dan penyuka kesunyian yang kini berdamai dengan dirinya sendiri. Ia pernah mengalami gagal dua kali berumah tangga dan kini memilih sendiri dan menghayati hidupnya yang sederhana berteman dengan kanvas, piano dan anjing-anjingnya. Ibu Tini akan pentas pada tanggal 17 November 2018.

Pentas berikutnya adalah pentas kesepuluh Ibu Cening Liadi yang mengambil kisahnya berjuang menemani anaknya yang sakit. Sakit anaknya adalah sakit misterius yang hampir membuatnya putus asa, namun ia bisa bangkit lagi. Ibu Cening akan pentas pada tanggal 7 Desember 2018.

Pentas terakhir adalah pentas Prof. Pk Nitiasih atau Ibu Titik yang  menjadi seorang ibu peracik menu masa depan bagi keluarga dan anak-anaknya. Prof. Titik berjuang menjadi pengayom, penyokong, pelindung keluarga di samping menjadi akademisi dan pejabat di kampus. Perjuangannya bisa kita saksikan di rumah beliau sendiri pada tanggal 15 Desember 2018.

The post Perayaan Hidup Perempuan di Teater 11 Ibu 11 Kisah 11 Panggung appeared first on BaleBengong.

Merayakan Solidaritas dan Kabar dari Akar di Anugerah Jurnalisme Warga 2018

Klik untuk melihat slideshow

Apa yang bisa melawan berita bohong (hoaks) dan penyebar kebencian? Salah satunya memproduksi dan menyebarkan konten-konten yang lebih berguna untuk orang banyak dan diri sendiri.

Sebanyak lima tim anak muda Bali berusia di bawah 25 tahun menerima beasiswa Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2018 untuk mendokumentasikan kabar hutan, kaki gunung, laut, dan kebun dari sejumlah desa di Bali.

Koordinatornya adalah empat perempuan muda Ni Luh Putu Anjany Putri Suryaningsih, Made Daivi Candrika Seputri, Luh Putu Sugiari, Ni Luh Putu Murni Oktaviani, dan satu laki-laki Nyoman Gede Pandu Nujaya. Semuanya mahasiswa kecuali Anjany siswa SMAN 3 Denpasar.

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW), sebuah apresiasi untuk pewarta warga di Indonesia merayakan semangat warganet pada malam apresiasi Minggu (11/11) malam di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali. Ada bedah karya penerima beasiswa liputan mendalam yang menyelesaikan karya multiplatform tentang isu pertanian, gunung, laut, pariwisata berkelanjutan, dan tanggap bencana. Mereka adalah 5 tim anak muda berusia 20-30 tahun yang terpilih dari puluhan usulan.

Sebelumnya para pewarta warga di mana saja diajak mengirim usulan beasiswa liputan mendalam total Rp 12,5 juta dengan tema Mendengar Kabar dari Akar. BaleBengong, portal jurnalisme warga sejak 2007 ini bekerja sama dengan sejumlah kolaborator memberi apreasiasi untuk warga dan warganet melalui AJW.

Ini adalah AJW yang ketiga, sejak diluncurkan pada 2016. Tahun ini berbeda karena warga diundang mendaftarkan diri atau tim untuk mendapat beasiswa liputan mendalam. Jika terpilih sebagai penerima beasiswa, ada empat topik yang bisa dikembangkan menjadi aneka karya dalam bentuk tulisan, video pendek, esai foto, infografis, ilustrasi, dan lainnya.

Sejumlah lembaga mendukung sebagai kolaborator pemberian beasiswa AJW yakni lembaga-lembaga pemberdayaan yang bekerja di akar rumput. Mereka adalah Conservation International (CI) Indonesia, WWF Indonesia, Yayasan Kalimajari, dan Mongabay Indonesia.

Topik liputan beragam seperti petani kakao lestari Jembrana menembus manisnya pasar dunia. Kedua, Nyegara gunung melestarikan lingkungan gunung dan perairan di Karangasem. Ketiga, Signing Blue, wadah bagi pelaku wisata untuk mewujudkan pariwisata bahari yang bertanggung jawab di Bali, dan keempat tentang kesiapan tanggap bencana warga di Pulau Dewata.

Pada malam apresiasi AJW ini, warga diajak bergabung untuk Meplailanan (main bersama), Megibung (makan bersama tradisi Bali), Bedah Karya Beasiswa, HUT ke-11 Bali Blogger Community, dan Musik Bersuara bersama band Zat Kimia. “Kami senang terlibat di AJW, untuk pertama kali kami diundang mendiskusikan karya,” kata Ian J. Stevenson, vokalis Zat Kimia, band yang menyuarakan literasi digital melalui lagu Candu Baru dalam albumnya yang baru dirilis tahun ini.

Ada juga lapak dan kopdar bersama petani dan produsen sembako Bali seperti garam Amed, beras merah Tabanan, gula merah Klungkung, minyak kelapa Karangasem, dan olahan pangan sehat dari kelompok perempuan Dewi Umbi.

BaleBengong adalah portal jurnalisme warga di Bali. Sejak tahun 2007, BaleBengong hadir sebagai media alternatif di tengah derasnya arus informasi media arus utama. Dalam portal ini warga bebas menulis atau merespon sebuah kabar. Warga tidak hanya menjadi obyek, tetapi subyek berita.

Portal yang dikelola Sloka Institute dan Bali Blogger Community ini memuat berbagai topik mulai dari lingkungan, gaya hidup, sosial budaya dan lain-lain. Selain portal, BaleBengong juga aktif berbagi informasi melalui akun Twitter dan Instagram @BaleBengong maupun Facebook Page @BaleBengong.id. Kami membagi dan meneruskan setiap informasi yang dianggap layak untuk diketahui warga. Kami juga menjadi wadah warga untuk berdiskusi dan berbagi informasi.

Juni tahun ini, BaleBengong, media jurnalisme warga berbasis di Bali, merayakan ulang tahun kesebelas. Perjalanan hingga tahun kesebelas menjadi pencapaian tersendiri bagi media yang dikelola oleh komunitas secara nirlaba. “Dia menunjukkan bahwa publik pun bisa mengelola media berkualitas dan independen tanpa harus terikat pada modal kapital besar,” kata Anton Muhajir, Pemimpin Redaksi.

Sejumlah penelitian tentang BaleBengong menunjukkan bahwa media ini bisa menjadi ruang bagi warga untuk berekspresi secara bebas. Di sisi lain, warga juga bisa berbagi informasi terutama mengenai isu-isu berbeda dengan media arus utama terutama di Bali. Sebagai media jurnalisme warga, BaleBengong bisa menunjukkan bahwa publik bisa mengelola media sendiri dengan informasi-informasi yang bersumber dari warga biasa.

Pencapaian dan posisi itu menjadi berarti ketika wacana media arus utama ataupun media sosial dipenuhi dengan bahaya tentang berita dusta (hoax). Berita-berita dusta memenuhi ruang-ruang perbincangan publik seperti grup pesan ringkas dan media sosial. Mereka tak hanya menyebarkan berita-berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan, tetapi pada saat yang sama juga membangun kebencian berbasis identitas pada kelompok lain.

Munculnya media jurnalisme warga sedari awal adalah menyediakan ruang bagi warga agar bisa memproduksi informasi-informasi alternatif yang bisa dipertanggungjawabkan. Kami percaya bahwa melawan maraknya berita-berita dusta tidak bisa dilakukan hanya dengan membangun kesadaran tapi juga dengan mengajak warga untuk memproduksi informasi itu sendiri dan menyediakan ruang bagi mereka.

Pada AJW 2016 dengan tema Menyuarakan yang tak terdengar diikuti 44 karya (teks, foto, video, ilustrasi). Kemudian AJW 2017 dengan tema Bhinneka Tunggal Media, Merayakan Keberagaman Indonesia melalui Jurnalisme Warga diikuti 35 karya tersebar di 12 media komunitas selain BaleBengong (Bali) adalah Lingkar Papua (Papua), Kampung Media (NTB), Kabar Desa (Jawa Tengah), Plimbi (Bandung), Kilas Jambi (Jambi-Sumatera), Tatkala (Buleleng-Bali), Nyegara Gunung (Bali), Nusa Penida Media (Klungkung-Bali), Sudut Ruang (Bengkulu), Peladang Kata (Kalimantan Barat), dan Noong (Bandung). BaleBengong melibatkan 11 media alternatif dari seluruh Indonesia. Pewarta warga bersaing di tingkat nasional.

Makin banyak informasi yang jernih dan dari sekitar kita, makin mudah memetakan masalah dan solusinya. Agar akses internet berguna bagi kebaikan dan pemberdayaan.

Foto-foto: Wayan Martino

 

The post Merayakan Solidaritas dan Kabar dari Akar di Anugerah Jurnalisme Warga 2018 appeared first on BaleBengong.

Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama

Akhir pekan lalu, Minikino melanjutkan perjalanan menebar layar tancap.

Pada Sabtu (3/11) Minikino menuju ke lokasi pemutaran selanjutnya di Lapangan Terbuka RT 02, Dusun Kopang, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Jaraknya sekitar 56 km dari pelabuhan Lembar, Lombok.

Sebelumnya, Minikino sudah mengadakan Pop Up Cinema (Layar Tancap) di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Dusun Kopang yang terletak di daerah perbukitan menjadi lokasi pemutaran hari ketiga roadshow Minikino Film Week 4. Di sekeliling dusun banyak ditumbuhi pohon kelapa dan pohon kakao. Di Dusun Kopang, hampir sebagian warganya sudah mulai
membangun kembali bangunan yang roboh akibat gempa.

Mayoritas penduduk Dusun Kopang adalah pedagang warung sembako. Bagi yang muda, mereka lebih memilih bekerja di sektor pariwisata khususnya di tiga pulau seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Pasca gempa, beberapa warga bergotong royong
membangun kembali rumah dengan bantuan yang ada.

Warga secara swadaya juga melakukan berbagai kegiatan untuk anak-anak. Kebetulan pada hari sama, ibu Ayu dari RT02 Dusun Kopang mengadakan kegiatan menggambar dan mewarnai.

Sama seperti desa sebelumnya, kegiatan seperti ini sangat disambut dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Kegiatan menonton film dipandang sebagai kegiatan yang menghibur dan membuat rasa kebersamaan warga setempat meningkat. Anak-anak di lokasi pemutaran sangat antusias sekali untuk bisa ikut menonton film. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana semangat dan sabarnya mereka menunggu dari sore hari.

Selain itu bagi sebagian anak-anak, menonton film yang belum pernah mereka tonton di tv adalah sesuatu hal yang menyenangkan karena selain bisa menonton film baru, bisa juga menonton film bersama tema-teman. Ahmadi sebagai Kepala Dusun setempat juga menyebutnya kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.

“Senang saya, Mas. Ya warga jadi bisa bareng-bareng nonton film. Biasanya ya hanya diam di tenda, tidur, tapi sekarang bisa keluar dan bareng-bareng di sini,” katanya.

Sehari sebelum pemutaran, anak-anak juga menyambut Minikino dengan riang gembira. Meskipun di awal pertemuan mereka tampak begitu malu-malu, saat diberi kesempatan untuk memegang handycam dan merekam temannya, mereka sangat senang dan semangat untuk melakukannya. Melihat semangat mereka, crew roadshow Minikino pun tambah bersemangat dalam memasang layar tancap dan mempersiapkan semua peralatan.

Warga Dusun Kopang begitu ramah kepada crew Minikino. Keramahan mereka tercermin ketika pertama kali crew Minikino melakukan pengecekan lokasi. Mereka menyambut crew Minikino dengan riang gembira layaknya kawan lama yang lama berpisah.

Selain itu, mereka juga menyediakan makanan dan minuman yang crew Minikino nikmati bersama warga. Walaupun masih dalam situasi sulit sekali pun mereka tetap mencoba sabar dan menjalani hari-hari dengan semangat. Sebuah tangan terbuka yang membuka isolasi. Warga Dusun Kopang sadar betul bahwa jejaring yang baik bisa membuat mereka makin kuat dan menerima dengan lapang apa yang sudah terjadi.

Bertepatan dengan kegiatan nonton bareng, satu anak bernama Ica berulang tahun. Bersama warga crew Minikino mencoba menghibur dengan menyanyikan lagu dan memberinya selamat. Ica senang, warga senang, dan crew Minikino pun senang.

Hingga pemutaran film selesai, warga tidak langsung saja pulang ke rumah masing-masing. Mereka ikut bersama membongkar layar dan merapikan peralatan yang digunakan tanpa diminta. Sebuah kebersamaan yang begitu hangat dari awal sampai akhir kegiatan.

Saat acara nonton bareng, ada 250 orang yang datang untuk bersama-sama menonton film pendek. Tak hanya warga RT02, menurut penuturan bapak kepala desa, warga dari RT05 yang jaraknya setengah kilometer dari lokasi juga ikut bersama-sama berbaur dan menonton film bersama-sama.

Kadang, kebersamaan bisa diciptakan dengan cara-cara yang sederhana, tak harus mewah, menonton film salah satunya. Film mempertemukan, film menguatkan, dan dengan film kita sejenak melupakan apa yang sudah terjadi. [b]

The post Layar Tancap di Pengungsian; Menonton Bersama, Bangkit Bersama-sama appeared first on BaleBengong.

Setelah Bali, Minikino Bikin Layar Tancap di Lombok

Mengobati trauma setelah gempa dengan nonton bersama.

Setelah melewati keseruan seminggu penuh festival dan melaksanakan Pop Up Cinema (Layar Tancap) di Bali, Minikino Film Week 4 melanjutkannya dengan melakukan Road Show Pop Up Cinema ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Satu bulan sebelumnya, pada 7 – 9 Oktober 2018, Minikino telah melaksanakan tiga layar tancap di tiga tempat berbeda yaitu di Bale Banjar Kebayan Desa Nyambu Tabanan bekerja sama dengan Nyambu Eco Tourism, di Puri Klungkung bekerja sama dengan Cineclue, dan di Wantilan Desa Pedawa, Buleleng bekerja sama dengan Kayonan Pedawa; Pecinta Alam Pedawa.

November ini, Minikino mengawali bulan dengan melakukan Road Show ke Lombok bekerja sama dengan Rotary RDR (Rotary Disaster Relief). Ada tiga lokasi yang menjadi tempat Road Show Minikino di Lombok kali ini.

Dalam waktu empat hari Road Show, Minikino membawa sembilan film-film pendek pilihannya, yaitu; Mogu and Perol. Be The Reds, Schoolyard Blues, Air Untuk Wasa, Life of Death, Belly Flop, Caronte, Almari, dan peraih Best Short Film of The Year Minikino Film Week 4, Kimchi.
Pop Up Cinema hari pertama akan dilaksanakan pada 2 November 2018, pukul 18:30 WITA, bertempat di Lapangan PEMDA KLU, Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Desa Medana adalah salah satu desa di Lombok Utara yang mengalami kerusakan yang cukup parah di Lombok Utara akibat gempa yang mengguncangnya bulan Agustus lalu. Di lokasi ini dihuni oleh 60 kepala keluarga. Untuk menambah penghasilan pasca gempa, warga di lokasi membuat kelompok yang disebut Kelompok Harapan Bunda.

Kelompok Harapan Bunda adalah kelompok usaha kecil menengah yang menjual kopi robusta yang disebut Kopi Lindur. Lindur dalam bahasa Lombok berarti gempa. Kopi ini disebut dengan Kopi Lindur karena anggota dari kelompok ibu-ibu ini dipertemukan karena gempa, oleh karena itu kopi ini disebut Kopi Lindur.

Menurut penuturan Ari, pemuda Kopang, kegiatan yang dilakukan Minikino sangat bagus dan menguntungkan warga setempat. Dia mengaku ada kegiatan seperti ini di desa. Warga jadi ada hiburan dan tidak suntuk di rumah. Warga juga bisa jualan kopi dan lain-lain sebelum acara dimulai, jadi warga dapat menambah penghasilan setelah gempa waktu ini.

“Apalagi belum pernah ada kegiatan nonton bareng film, ya bagus lah jadi ada hiburan,” jelas Ari.

Saat Pop Up Cinema hari pertama, 150 jumlah penonton mulai dari anak-anak, anak muda bahkan hingga usia senja hadir untuk menonton film.

Putra, salah satu penonton sangat senang karena sekarang bisa nonton film rame-rame. Saat ditanya dia menjelaskan kalau kegiatan seperti ini membuatnya senang karena pengungsian yang jadi tempat tinggalnya sementara kembali rame, selain itu bisa main rame-rame dan bisa main dengan lebih banyak teman lagi.

Budi Utomo, selaku Kepala Kewilayahan Dusun Teluk Dalam Kren, Desa Medana, Lombok Utara juga menyampaikan rasa senangnya dan terima kasih untuk Minikino dan Rotary Disaster Relief (RDR) sudah membawa hiburan ke desanya untuk menghibur masyarakat yang terkena dampak gempa. Dengan diadakannya kegiatan semacam ini, dia juga berharap semakin tumbuhnya rasa kebersamaan antar sesama warga. [b]

The post Setelah Bali, Minikino Bikin Layar Tancap di Lombok appeared first on BaleBengong.

Tragedi Penghilangan Paksa 1998 dalam Film Laut Bercerita

Diskusi tentang film Laut Bercerita dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2018.

Suasana mencekam dan gelap menyelimuti layar.

Sesaat kemudian suara pukulan dan orang jatuh terdengar memecahkan keheningan. Lampu kemudian menyala. Seorang lelaki berambut ikal, pendek, dan awut-awutan diseret tak berdaya ke dalam sel tahanan oleh dua orang bertubuh gempal memakai topeng.

Dari sel sebelah, lelaki seumurannya membuka satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia mengetok sel di sebelah kanannya seraya menyelipkan pakaiannya ke dalam.

Dengan susah payah pria berambut ikal tersebut merangkak dan memungut pakaian itu. Lantas ia meringkuk bergelung pada secuil kehangatan itu.

Lelaki berambut ikal tersebut Biru Laut Wibisono. Pria yang mendiami sel sebelahnya Sunu. Karena aktivitas politiknya keduanya dijebloskan di sel tahanan dan menerima beragam penyiksaan.

Biru Laut yang diperankan oleh Reza Rahardian merupakan tokoh utama cerita film pendek Laut Bercerita.

Cerita yang ia kisahkan dalam sel tahanan menjadi pemandu jalannya cerita. Rentetan peristiwa dikisahkan secara bergantian antara masa kini, saat ia dalam penjara dan masa lalunya, saat ia masih menjadi aktivis yang diburu. Pada penghujung cerita Biru Laut menemui kematiannya di suatu pagi. Ditemani deburan ombak ia melesat terjerembap di dasar lautan.
Film Laut Bercerita diputarkan di salah satu sesi Ubud Writers and Readers Festival 2018 (UWRF18) pada Jumat (26/10) malam di Taman Baca Festival.

Film pendek ini merupakan adaptasi novel dengan judul sama karya Leila S. Chudori. Sepanjang 30 menit film ini berusaha memvisualisasikan kisah dalam novel setebal 400 halaman karya kedua jurnalis TEMPO itu.

Kisah Laut Bercerita mengambil latar peristiwa sejarah tahun 1998, yakni hari-hari menjelang reformasi. Hingga hari ini puluhan aktivis yang terlibat reformasi masih hilang tak diketahui belantaranya.

Penantian Panjang

Dalam sesi diskusi seusai pemutaran film, Leila S. Chudori mengungkapkan kisah dalam novel maupun film ini berusaha merangkum rasa kehilangan keluarga dan kerabat korban penghilangan paksa. Kesedihan dan kehilangan dalam penantian panjang terhadap anak dan saudara yang tak diketahui keberadaannya, entah masih hidup atau tidak.

“Tak hanya berbicara tentang peristiwa ’98, tetapi kesedihan dan kehilangan. Perasaan seperti itu universal. Bisa dialami oleh siapa saja,” ujar Leila.

Kesedihan dan kehilangan digambarkan dengan epik melalui tokoh-tokoh di kehidupan Biru Laut, seperti adik semata wayangnya, Asmara Jati yang diperankan Ayushita Nugraha, kekasih Biru Laut Ratih Ajani yang diperankan Dian Sastrowardoyo dan kedua orang tua Biru Laut yang diperankan oleh Tio Pakusadewo dan Aryani Willems dengan arahan sutradara Pritagita Arianegara.

Pada saat yang sama Gita Fara, produser film mengatakan bahwa meski peristiwa 1998 sudah 20 tahun berlalu, film ini masih relevan dengan generasi saat ini.

“Sebagai medium untuk mengenalkan anak muda bahwa pernah terjadi peristiwa seperti ini. Juga untuk mengingatkan kembali rezim yang berkuasa perihal menuntaskan tugas mengungkap kejahatan kemanusiaan masa silam,” tutur Gita. [b]

The post Tragedi Penghilangan Paksa 1998 dalam Film Laut Bercerita appeared first on BaleBengong.