Tag Archives: Kabar Baru

Semeton Dadya Pasek Togog Gelar Upacara Meajar-ajar

Upacara meajar-ajar Dadia Pasek Togog Muntig, Karangasem. Foto Made Selamat.

Setelah sempat tertunda karena krisis Gunung Agung, akhirnya kami bisa melaksanakan upacara meajar-ajar.

Meskipun masih pagi, ratusan semeton Dadia Pasek Togog Banjar Muntig sudah berkumpul di halaman Pura Dadya Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Para semeton hadir untuk mendengar arahan dari pengelingsir dadia Pasek Togog Muntig Jro Mangku Puspa.

Tujuannya untuk persiapan rute pelaksanakan upacara meajar-ajar setelah sebelumnya dilaksanakan upacara ngaben dan ngeroras sebagai rangkaian dari upacara Pitra Yadnya.

“Hari ini kita berkumpul untuk melaksanakan upacara meajar-ajar dalam rangkaian upacara Pitra Yadnya yang telah kita laksanakan sebelumnya,” kata Jro Mangku Puspa.

Jro menambahkan meajar-ajar dilaksanakan menuju Pura Goa Lawah, Pura Besakih, Pura Punduk Dawa, Pura Silayukti, Pura Andakasa dan Pura Lempuyang Madya.

Sekitar pukul 5 pagi rombongan berangkat beriring-iringan dengan 30 mobil menuju Pura Goa Lawah di Klungkung. Sebelum berangkat rombongan terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Dadya Pasek Togog Muntig untuk memohon keselamatan dalam perjalanan.

Rangkaian kegiatan ini seharusnya diikuti sekitar 300 kepala keluarga (KK) tetapi yang hadir hanya 181 KK. Ketidakhadiran semeton pasek lainya karena ada yang masih mengungsi dan terikat kerja.

Adapun semeton Pasek yang hadir dari Tukadeling Desa Tianyar Timur, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Ada juga dari Karanganyar, Sibetan, Karangasem, di mana dulunya mereka merupakan Semeton Pasek Togog Muntig yang tinggal di Banjar Muntig.

Ditemui usai sembahyang, Jro Mangku Wayan Purni yang merupakan tokoh serati banten, mengatakan Upacara Meajar-ajar seharusnya sudah dia laksanakan pada 30 September tetapi karena pada 22 September status Gunung Agung meningkat dari level III (Waspada) ke level IV (Awas) kami menunda pelaksanaannya, dimana semeton tyang semuanya mengungsi cetusnya”.

“Atas komitmen semua Semeton Pasek Togog Muntig setelah melalui Paruman Dadya kami pun melaksanakan Upacara Meajar-ajar ketika status Gunung Agung sudah turun statusnya ke waspada,” imbuhnya.

Jro Mangku menambahkan bahwa upacara meajar-ajar merupakan upacara untuk mengiringi Dewa Hyang dalam perjalanan Tirta Yatra ke berbagai Pura di Bali. Setelah sebelumnya telah melaksanakan Upacara Ngaben dan Ngeroras, yang tujuannya untuk Nangkilang Bhatara Raja Dewata atau Dewa Hyang ke berbagai Pura di Bali sebagai tempat berstananya Para Dewa atau Hyang Widhi agar mendapat restu sebagai atma yang telah disucikan.

Sekitar satu setengah jam perjalan rombongan tiba di Pura Goa Lawah. Sejam kemudian, rombongan berangkat menuju Pura Besakih di Karangsem. Pura yang dituju adalah Pura Dalem Puri, Pura Pedarman Ratu Pasek dan Pura Penataran Agung Besakih.

Saat menuju Pura Pedarman Ratu Pasek rombongan diguyur hujan cukup deras, tetapi karena kebulatan tekad nangkilang Dewa Hyang hujan tidak membuat rombongan menghentikan niat untuk bersembahyang.

Tepat pukul 3 sore rombongan tiba di Pura Catur Lawa Parihyangan Catur Sanak Linggih Ida Batara Mpu Gana di Punduk Dawa. Setelah dua jam kemudian rombongan menuju Pura Silayukti.

Sebelum menuju Pura Andakasa rombongan istirahat makan. Usai makan rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Pura Andakasa, medan yang dilalui cukup menantang karena terdapat banyak tanjakan dan berkelak-kelok. Sampai-sampai salah satu mobil rombongan ada yang mogok tetapi masih bisa diatasi.

Akhirnya sekitar pukul 7 petang rombongan tiba di Pura Andakasa. Setelah Persembahyangan selesai dilaksanakan, rencana rombongan menuju Pura Lempuyang Madya. Namun, karena sudah malam akhirnya rombongan kembali ke rumah masing- masing. Sembahyang di Pura Lempuyang Madya pun dilaksanakan besok hari sekitar pukul 8 pagi.

The post Semeton Dadya Pasek Togog Gelar Upacara Meajar-ajar appeared first on BaleBengong.

Gunung Agung Meletus Tipe Freatik, Ini Rekomendasi untuk Warga

Laporan warga di twitter @Balebengong

Letusan freatik bukan sesuatu yang aneh jika status gunungapi dalam kondisi siaga.

Gunung Agung yang meletus pada Selasa (21/11/2017) pukul 17:05 WITA, termasuk letusan jenis freatik. Tinggi asap kelabu tebal dengan tekanan sedang maksimum 700 meter.

Letusan freatik terjadi akibat adanya uap air bertekanan tinggi. Uap air tersebut terbentuk seiring dengan pemanasan air bawah tanah atau air hujan yang meresap ke dalam tanah di dalam kawah kemudian kontak langsung dengan magma. Letusan freatik disertai dengan asap, abu dan material yang ada di dalam kawah. 

Letusan freatik sulit diprediksi. Bisa terjadi tiba-tiba dan seringkali tidak ada tanda-tanda adanya peningkatan kegempaan. Beberapa kali gunungapi di Indonesia meletus freatik saat status gunungapi tersebut Waspada (level 2) seperti letusan Gunung Dempo, Gunung Dieng, Gunung Marapi, Gunung Gamalama, Gunung Merapi dan lainnya. Tinggi letusan freaktik juga bervariasi, bahkan bisa mencapai 3.000 meter tergantuk dari kekuatan uap airnya.

Jadi letusan freatik gunungapi bukan sesuatu yang aneh jika status gunungapi tersebut di atas normal. Biasanya dampak letusan adalah hujan abu, pasir atau kerikil di sekitar gunung.

Memang letusan freatik tidak terlalu membahayakan dibandingkan letusan magmatik. Letusan freatik dapat berdiri sendiri tanpa erupsi magmatik. Namun letusan freatik bisa juga menjadi peristiwa yang mengawali episode letusan sebuah gunungapi. Misalnya Gunung Sinabung, letusan freatik yang berlangsung dari tahun 2010 hingga awal 2013 adalah menjadi pendahulu dari letusan magmatik. Letusan freatik Gunung Sinabung berlangsung lama sebelum diikuti letusan magmatik yang berlangsung akhir 2013 hingga sekarang.

Letusan magmatik adalah letusan yang disebabkan oleh magma dalam gunungapi. Letusan magmatik ada tanda-tandanya, terukur dan bisa dipelajari ketika akan meletus.

Memang pemahaman masyarakat masih cukup terbatas mengenai gunungapi. Kita memiliki 127 gunungapi aktif yang masing-masing gunung memiliki watak berbeda-beda. Yang penting masyarakat mematuhi rekomendasi dari PVMBG. Iptek dikombinasikan dengan kearifan lokal setempat dapat efektif menyelamatkan masyarakat sekitar.

Status Gunung Agung hingga saat ini tetap Siaga (level 3). Tidak ada peningkatan status. PVMBG terus melakukan pemantauan dan analisis aktivitas vulkanik. Tremor menerus mulai terdeteksi. Rekomendasi juga tetap radius 6-7,5 km dari puncak kawah tidak boleh ada aktivitas masyarakat. Data pengungsi pada Selasa siang tadi sebanyak 29.245 jiwa yang tersebar di 278 titik pengungsian.

Pengungsi ini akan bertambah mengingat warga Dusun Bantas Desa Abaturinggit sudah turun menjauh dari radius 7.5 km ke Kantor Camat Kubu. Warga Dusun Juntal Kaje rencana malam ini juga turun ke balai-balai banjar yang ada di Desa Kubu. Begitu juga warga dukuh juga sudah bersiap-siap untuk mencari tempat yang lebih aman.

Masyarakat dihimbau tetap tenang. Jangan panik dan terpancing isu-isu menyesatkan. PVMBG akan terus memberikan informasi terkini. BNPB, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, SKPD, relawan dan semua unsur terkait akan memberikan penanganan pengungsi.

Kondisi Bali tetap aman. Bandara Internasional Ngurah Rai masih aman dan normal. Pariwisata di Bali juga masih aman, selain di radius berbahaya di sekitar Gunung Agung yang ditetapkan PVMBG yang memang tidak boleh ada aktivitas masyarakat. (Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB)

Rekomendasi dari BPVMB:

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan- Baratdaya sejauh 7.5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru. Daerah yang terdampak antara lain Dusun Br. Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban); Dusun Br. Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi); Dusun Br. Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih); Dusun Br. Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri); Dusun Br. Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan); dan sebagian wilayah Desa Dukuh.
  2. Jika erupsi terjadi maka potensi bahaya lain yang dapat terjadi adalah terjadinya hujan abu lebat yang melanda seluruh Zona Perkiraan Bahaya. Hujan abu lebat juga dapat meluas dampaknya ke luar Zona Perkiraan Bahaya bergantung pada arah dan kecepatan angin. Pada saat rekomendasi ini diturunkan, angin bertiup dominan ke arah Selatan-Tenggara. Oleh karena itu, diharapkan agar hal ini dapat diantisipasi sejak dini terutama dalam menentukan lokasi pengungsian.
  3. Mengingat adanya potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung maupun di Pulau Bali, segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi bahaya abu vulkanik.
  4. Pemerintah Daerah beserta jajarannya maupun BNPB agar segera membantu dalam membangun jaringan komunikasi melalui telepon seluler (Grup WhatsApp) maupun komunikasi melalui radio terintegrasi untuk mengatasi keterbatasan sinyal telepon seluler di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana letusan G. Agung. Diharapkan agar proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terselenggara dengan baik.
  5. Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan agar terus mengikuti perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara dapat dilakukan.
  6. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  7. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Agung.
  8. Masyarakat di sekitar G. Agungdan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta aparatur terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.
  9. Seluruh masyarakat maupun Pemerintah Oaerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan tingkat aktivitas maupun rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Partisipasi masyarakat juga sangat diharapkan dengan melaporkan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan aktivitas G. Agung melalui fitur Lapor Bencana. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation. (Sumber Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)

 

The post Gunung Agung Meletus Tipe Freatik, Ini Rekomendasi untuk Warga appeared first on BaleBengong.

Krisis Air dan Sampah Bali di Festival Sastra UWRF

Sesi Stressing the Source di UWRF17

Forum Sastra Ubud Writers and Readers 2017 juga mendiskusikan isu lingkungan di Bali.

Hujan gerimis mengiringi perjalanan saya ke Ubud. Rencananya ingin mengikuti salah satu sesi di Ubud Writers and Readers Festival 2017 (UWRF17) yang baru mulai hari ini, Kamis, 26 Oktober 2017.

Saya agak kesal, malas hujan-hujanan. Tapi kini sudah setengah jalan. Jika kembali ke Denpasar, waktu 30 menit ini terbuang sia-sia. Kalaupun melanjutkan perjalanan, rasanya kok malas.

Setelah perdebatan dalam hati beberapa menit, akhirnya saya memutuskan berhenti sejenak dan memakai jas hujan. Saya pun melanjutkan perjalanan ke Ubud, sambil berharap hujan reda sesampainya di lokasi acara.

Saya tidak memiliki rencana akan hadir pada sesi yang mana di UWRF17. Bukannya saya tak tertarik. Tapi, justru karena saking banyaknya sesi menarik yang jadwalnya bersamaan. Akhirnya saya memilih sesi Stressing the Source di Museum Neka.

Sesi ini menekankan pada isu penyelamatan sumber daya alam yang semakin berkurang akibat perubahan iklim. Para pembicara yang hadir ialah Asana Viebeke Lengkong (pendiri komunitas filantropi I’m an Angel) dan Robert Crocker (sejarawan yang tertarik pada bidang lingkungan). Dene Mullen, Editor in Chief of Southeast Asia Globe magazine menjadi pemandu diskusi ini.

Jika berbicara tentang sumber daya alam, tentu tidak akan pernah habis. Tapi, sesi ini sejak awal telah mengerucut pada penyelamatan air dan pengelolaan plastik. Sebuah video dokumenter bertajuk Water, I’m With You menjadi pembuka. Video berdurasi sekitar tiga menit ini menampilkan pandangan seniman, aktivis dan warga tentang krisis air bersih di Bali.

“Bali sedang menghadapi krisis air, salah satunya karena gempuran pariwisata massal,” ungkap Viebeke.

Viebeke menyebutkan hotel dan sarana pariwisata yang banyak mengonsumsi air secara besar-besaran. Pernyataan Viebeke ini didukung oleh hasil penelitian Stroma Cole, peneliti dari University of the West of England. Pada hotel dengan harga kamar 400 USD, turis mengonsumsi rata-rata 2000 liter perhari.

Foto oleh Wirasathya Darmaja

Viebeke menambahkan, pariwisata pula yang mengenalkan plastik kepada masyarakat Bali. Sebelumnya, hanya daun pisang sebagai sarana pembungkus sesuatu, terutama makanan. Semenjak masyarakat Bali mengenal plastik, apapun terbungkus plastik.

Penyebabnya beragam. Plastik bukanlah barang mahal, bahkan mudah didapatkan secara gratis ketika berbelanja di warung hingga supermarket. Plastik dapat melindungi barang atau makanan dari kotoran atau air hujan. Plastik makin digemari karena menjadi suatu barang terlihat baru. Plastik adalah penemuan terbesar yang pernah ada.

“Saya sedang tidak mengajak Anda menghentikan penggunaan plastik. Kita harus mengelola penggunaannya,” jelas Viebeke.

Penggunaan plastik secara masif di Bali belum diimbangi dengan pengelolaan yang baik. Sampah plastik masih menjadi masalah umum yang terjadi di mana-mana. Bahkan di desa terpencil pun ada plastik. Bagaimana cara terbaik untuk mengatasi masalah ini?

Viebeke menceritakan proyek perdana pengelolaan plastik yang pernah ia lakukan di sebuah desa, di Tabanan. Ia memberdayakan anak-anak untuk mengumpulkan plastik. Setiap 1 kilogram plastik, maka akan dibayar Rp 1.000 oleh perangkat desa dan ditambah lagi Rp 1.000 oleh I’m an Angel. Pada awalnya, semua anak bersemangat. Namun, energi mereka tak selamanya berkobar. Lalu, apa lagi caranya?

“Saya belajar dari pengalaman ini bahwa yang mereka butuhkan adalah edukasi (tentang plastik),” tutur Viebeke.

Edukasi yang dimaksud bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa. Robert Crocker menanggapi cerita Viebeke sembari menawarkan solusi. Robert mengungkapkan bahwa barang gratisan memang tidak memiliki nilai. Begitu pula dengan plastik. Menurutnya, masalah plastik harus diselesaikan bersama.

“Ada tiga komponen, pemerintah, regulasi dan ekonomi atau perusahaan. Ketiganya perlu bekerja sama untuk mengelola penggunaan plastik,” kata Robert.

Pernyataan Robert ini pun langsung ditanggapi Viebeke dengan sinis. Baginya, menggabungkan ketiga komponen itu masih sulit dilakukan. Berdasarkan pengamatannya selama ini, ada sebelas institusi yang terkait dengan bidang lingkungan tapi tak sekalipun pernah duduk bersama.

“Izin AMDAL (baca: Analisis mengenai dampak lingkungan) saja bisa dibeli,” tandas Viebeke.

Meski sulit menemukan solusi, selalu ada upaya dari mereka yang peduli. Inilah yang disampaikan oleh Robert sambil mengakhiri diskusi ini.

“Harus ada orang-orang yang tepat seperti Anda (sambil menunjuk Viebeke), untuk turut andil dalam menyelesaikan masalah ini,” tutur Robert.

Robert pun menyebutnya dengan istilah waste system atau sistem pengelolaan sampah. Jika memang ketiga komponen itu sulit bekerja sama, maka sistem ini boleh jadi solusi alternatif. Dalam sistem yang digagas Robert, dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu anggaran dan ahli yang mengelola sampah plastik. Solusi ini masih dapat dilakukan secara mandiri, maupun melibatkan pemerintah. Kini, persoalan berikutnya: mau atau tidak?

Sesi ini akhirnya mengingatkan saya pada krisis air, juga masalah plastik di Bali. Saya justru bersyukur atas hujan yang mengguyur Bali hari ini. Saya pun masih menggunakan jas hujan berbahan dasar plastik.

 

The post Krisis Air dan Sampah Bali di Festival Sastra UWRF appeared first on BaleBengong.

Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari

Tahun 2017 ini, seolah tidak ingin berhenti. Ada satu momen pencatatan lagi yang tidak bisa dilewatkan begitu saja; Pohon Tua –juga dikenal sebagai— Dadang Pranoto, salah satu personil Navicula dan Dialog Dini Hari, resmi meluncurkan debut album solonya yang berjudul Kubu Carik.

Kubu Carik, merupakan sebuah album berisi delapan lagu yang merupakan tabungan lama dalam sebuah fase musikal yang ia jalani bersama Eko Prabowo. Di tahun 2015, proyek ini dimulai dan respon antar dua manusia seni beda disiplin ini berlarian ke arah masing-masing.

“Awalnya dulu Eko membuat buku prosa tentang Pohon Tua. Saya iseng merespon dengan satu skesta lagu. Ternyata responsnya menarik dan jadi keterusan. Akhirnya dari satu sketsa itu berkembanglah menjadi delapan materi di Kubu Carik ini,” tuturnya.

Dua cabang kreativitas ini kemudian terus menulis kisahnya masing-masing hingga kemudian idenya dikembangkan menjadi perilisan buku dan sebuah album musik. Untuk perkara musik, Pohon Tua berbicara dengan dua orang kompatriotnya di Dialog Dini Hari, Deny Surya dan Zio.

“Mereka malah menjadi co-producer untuk album ini,” lanjutnya. Dukungan yang memberi ruang untuk cerita supaya bisa bersinergi dengan baik itu, terbukti membawa kesolidan pada materi rekaman yang dikandung oleh Kubu Carik.

“Ada hubungan juga dengan periode dua bulan lalu ketika Zio merilis album solonya. Itu jadi semacam pemicu untuk diselesaikannya proyek ini. Saya merilis Kubu Carik saat ini bersama Rain Dogs Records sekaligus supaya bisa konsentrasi ke proyek selanjutnya. Setelah ini, kami akan fokus menggarap materi baru Dialog Dini Hari,” terangnya.

Tanpa bermaksud membuat cerita sendiri, buncahan-buncahan kreativitas model begini difasilitasi dengan baik oleh masing-masing orang di dalam tubuh Dialog Dini Hari.

“Tidak ada alasan khusus kenapa album solo ini dibuat. Titik berat Kubu Carik lebih pada kolaborasi saya dengan Eko Prabowo. Lagu-lagunya harus menemukan jalannya sendiri kepada pendengar. Itu yang ingin dicapai oleh album ini,” paparnya.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, album berisi delapan lagu ini, dirilis oleh Rain Dogs Records. Album ini dirilis secara digital di sejumlah kanal musik seperti iTunes, Apple Music, Spotify dan sejumlah tempat lainnya.

Rain Dogs Records juga merupakan rumah dari Dialog Dini Hari.

Pohon Tua – Kubu Carik
Tahun produksi: 2015
Tahun Rilis: 2017
Produser: Dialog Dini Hari

Tersedia dalam bentuk digital. iTunes, Apple Music, Spotify, Amazon dan digital stores lainnya.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang Kubu Carik, silakan langsung menghubungi [email protected]

The post Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari appeared first on BaleBengong.

Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari

Tahun 2017 ini, seolah tidak ingin berhenti. Ada satu momen pencatatan lagi yang tidak bisa dilewatkan begitu saja; Pohon Tua –juga dikenal sebagai— Dadang Pranoto, salah satu personil Navicula dan Dialog Dini Hari, resmi meluncurkan debut album solonya yang berjudul Kubu Carik.

Kubu Carik, merupakan sebuah album berisi delapan lagu yang merupakan tabungan lama dalam sebuah fase musikal yang ia jalani bersama Eko Prabowo. Di tahun 2015, proyek ini dimulai dan respon antar dua manusia seni beda disiplin ini berlarian ke arah masing-masing.

“Awalnya dulu Eko membuat buku prosa tentang Pohon Tua. Saya iseng merespon dengan satu skesta lagu. Ternyata responsnya menarik dan jadi keterusan. Akhirnya dari satu sketsa itu berkembanglah menjadi delapan materi di Kubu Carik ini,” tuturnya.

Dua cabang kreativitas ini kemudian terus menulis kisahnya masing-masing hingga kemudian idenya dikembangkan menjadi perilisan buku dan sebuah album musik. Untuk perkara musik, Pohon Tua berbicara dengan dua orang kompatriotnya di Dialog Dini Hari, Deny Surya dan Zio.

“Mereka malah menjadi co-producer untuk album ini,” lanjutnya. Dukungan yang memberi ruang untuk cerita supaya bisa bersinergi dengan baik itu, terbukti membawa kesolidan pada materi rekaman yang dikandung oleh Kubu Carik.

“Ada hubungan juga dengan periode dua bulan lalu ketika Zio merilis album solonya. Itu jadi semacam pemicu untuk diselesaikannya proyek ini. Saya merilis Kubu Carik saat ini bersama Rain Dogs Records sekaligus supaya bisa konsentrasi ke proyek selanjutnya. Setelah ini, kami akan fokus menggarap materi baru Dialog Dini Hari,” terangnya.

Tanpa bermaksud membuat cerita sendiri, buncahan-buncahan kreativitas model begini difasilitasi dengan baik oleh masing-masing orang di dalam tubuh Dialog Dini Hari.

“Tidak ada alasan khusus kenapa album solo ini dibuat. Titik berat Kubu Carik lebih pada kolaborasi saya dengan Eko Prabowo. Lagu-lagunya harus menemukan jalannya sendiri kepada pendengar. Itu yang ingin dicapai oleh album ini,” paparnya.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, album berisi delapan lagu ini, dirilis oleh Rain Dogs Records. Album ini dirilis secara digital di sejumlah kanal musik seperti iTunes, Apple Music, Spotify dan sejumlah tempat lainnya.

Rain Dogs Records juga merupakan rumah dari Dialog Dini Hari.

Pohon Tua – Kubu Carik
Tahun produksi: 2015
Tahun Rilis: 2017
Produser: Dialog Dini Hari

Tersedia dalam bentuk digital. iTunes, Apple Music, Spotify, Amazon dan digital stores lainnya.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang Kubu Carik, silakan langsung menghubungi [email protected]

The post Rilisan Baru “Kubu Carik” Debut Album Solo “Pohon Tua” dari Dialog Dini Hari appeared first on BaleBengong.