Tag Archives: Kabar Baru

Ape to? Kau Urek e?

Endy Suryanta menunjukkan kerajinan tangan yang ia buat dengan memanfaatkan batok kelapa. Foto Bali Tribune.

Cerita pahit getir usaha kecil menengah di Bali.

Kesuksesan para pegiat usaha kecil dan menengah di Bali ternyata diawali dengan pengalaman getir. Mereka melalui hidup dengan penuh perjuangan. Mimpi untuk merengkuh kesuksesan selalu mengiang dalam keseharian hidup.

Memelihara mimpi itulah yang menjadi pemandu hidup mereka. Jalan terbuka. Berbagai kesempatan kemudian hadir silih berganti. Ketika kita melihat mereka sukses hari ini, dibaliknya penuh dengan cerita perjuangan.

Ape jemak gae to kau urek,” sindir seorang krama (anggota) banjar kepada Yande suatu waktu.

Pekerjaan yang dipilihnya dianggap remeh karena selalu mengeruk buah kelapa untuk diambil tempurungnya. Usaha rumah tangga yang dilakukan awalnya berada di lingkungan banjar.

Banyak keluhan ketika itu ia dapatkan. Salah satunya tetangga di banjar yang tidak nyaman karena genangan air selalu meluber hingga ke pinggir jalan. Situasi seperti ini merugikan masyarakat lain. Bau busuk air kelapa yang menggenang membuat para tetangga mulai menunjukkan sikap tidak suka.

Namun, Yande bersama dengan adik dan keluarganya tetap bekerja dan berusaha untuk mengurangi genangan air kelapa di halaman depan rumahnya. Perlahan namun pasti ia mulai memikirkan untuk pindah ke tempat lain. Semuanya tercapai karena usaha batok kelapanya berkembang dengan pesat ketika itu.

Sindiran kau urek ini masih membekas hingga kini. Ledekan itu Yande jadikan motivasi untuk semakin jengah (semangat) terus berjuang dalam hidupnya. Perlahan-lahan, pesanan datang silih berganti.

Ia dan istrinya berhasil menabung dan membeli tanah yang lebih luas di sekitar desanya. Tanah ini ia rencanakan untuk tempat tinggal juga gudang seluruh kegiatan usahanya. Ia juga bermimpi dengan tempat barunya ini, ia bisa mendidik anak-anak muda untuk menekuni usaha batok kelapa dengan serius.

Perlahan tapi pasti, kini, cita-citanya itu mendekati kenyataan. Yande dengan tangan terbuka menerima kunjungan dari berbagai pihak yang ingin belajar tentang usaha batok kelapanya. Tidak hanya yang berasal dari Bali, tetapi juga dari daerah lain yang melakukan studi banding. Yande juga menyiapkan kamar-kamar untuk bermalam selama proses belajar di rumahnya.

Ngacung

Kini kerajinan batok kelapa bernama “Yande Batok” sudah terkenal hingga ke luar negeri. Siapa menyangka juga jika sebelum memiliki workshop seperti sekarang, ia melalui jalan berliku merintis usahanya. Yande mengakui bahwa awal mula terjun ke usaha batok kelapa ini karena begitu banyaknya kelapa di daerah mereka di Banjarangkan, Klungkung ketika itu.

Yande bersama dengan adiknya merintis usaha batok kelapa ini dengan tujuan untuk memanfaatkan potensi yang besar dari buah kelapa tersebut. Pada tahun 1997, Yande mendapatkan ide awalnya dari adiknya untuk coba memanfaatkan kelapa yang berlimpah untuk dijadikan kerajinan tangan. Pada saat itu harga kelapa adalah Rp 1.000 per tiga butir.

Tahun 1997-1998 adalah masa-masa awal dan sulit dari perjuangan Yande bersama adiknya untuk merintis usaha batok kelapa ini. Pada tahun-tahun ini, ia berjuang untuk mengenalkan produknya dan mencari pelanggan. Yande dengan mengendarai Vespa membawa empat tas plastik yang berisi contoh-contoh kerajinan batok kelapa yang diproduksinya.

Ia ngacung (menawarkan barang) ke daerah pariwisata Kuta. Masuk dari satu toko ke toko lainnya tanpa mengenal lelah. Hasil kerja kerasnya itu adalah ia berhasil mengenalkan barang produksinya dan mendapatkan langganan baru. Ini adalah langkah awal yang baik pada saat itu untuk memperkenalkan produk batok kelapanya kepada masyarakat.

Yande menuturkan bahwa masa-masa ngacung itu adalah masa terberat dalam hidupnya. Pada masa ngacung inilah titik balik dari kehidupannya. Ketegarannya untuk terus mencari order (pesanan) akhirnya perlahan-lahan membuahkan hasil.

Contoh-contoh produk batok kelapa yang diproduksinya perlahan mulai dikenal oleh publik. Pada saat ngacung di Kuta itulah ia mendapatkan pesanan dari seorang yang tidak dia sangka sebelumnya. Yande mengaku sering menawarkan dagangannya di kawasan Kuta, terutama di sekitaran Toko Joger yang terkenal saat itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa suatu saat nanti Mr. Joger yang menjadi pemilik dari Joger akan membeli hasil kerajinannya.

Yande mengisahkan pada suatu hari ia menawarkan kerajinan batok kelapa miliknya kepada sesorang yang berdiri di depan Joger. Saat itu memang hari keberuntungannya. Tanpa Yande menyangka, laki-laki yang ia hampiri itu kemudian memesan barangnya ratusan buah. Sungguh ia sangat senang sekali.

Yang membuat Yande makin semringah adalah Mr. Joger, yang ia baru ketahui belakangan mengatakan bahwa potongan yang ia dapatkan hanya 2 persen, tidak 10 persen seperti penjual yang menaruh barang di Joger. Saat ini usahanya sudah maju dan berhasil untuk membuat Gudang dan rumah baru serta menyerap tenaga kerja di desanya.

Pesanan pun hadir silih berganti. Kini, bekerja sama dengan pemerintah dan Perusahaan Angkasa Pura, ia mengenalkan kerajinan batok kelapa hingga keluar negeri. Pemerintah juga semakin terbuka dan selalu mengajak Yande untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan pembinaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kerajinan tangan di Klungkung maupun di Bali secara umum.

Tidak hanya sampai di Bali. Yande juga membuka pintu workshopnya bagi pegiat-pegiat UKM yang ingin sungguh-sungguh belajar di tempatnya.

Limbah

Jika Yande fokus untuk “hanya” menggunakan batok (tempurung) kelapa untuk memproduksi kerajinan, tidak demikian yang dilakukan oleh Endy Suryanta. Anak muda ini justru secara cerdik melihat limbah kelapa yang tidak dipergunakan.

Selama ini yang menjadi prioritas memang hanya tempurung (batok) kelapanya. Sementara bagian yang lain, meski sudah dimanfaatkan, namun tetap tidak maksimal. Celah inilah yang dilihat Endy untuk kemudian memutar otak untuk menjadikannya bernilai guna.

Limbah batok kelapa yang biasanya hanya digunakan untuk kayu bakar tersebut disulap oleh Endy Suryanta menjadi berbagai kerajinan tangan yang cantik, bermanfaat, dan juga bernilai ekonomis. Dengan kerajinan limbah batok kelapa ia bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Hal itu berawal dari banyaknya limbah batok kelapa yang berada di sekitar rumahnya (Lihat “Endy Sukses Olah Limbah Batok Kelapa”, Tribun Bali, 12 Agustus 2019).

Endy memulai usahanya sejak tahun 2017 di Tabanan. Ia mengumpulkan batok-batok kelapa yang sudah tidak terpakai lalu dibuat menjadi produk mangkok, gelas, hingga lampu hias. “Supaya batok kelapa tidak terbuang sia-sia, saya berpikir kenapa tidak dipakai untuk kerajinan saja,” ujarnya.

Kini setelah usahanya mulai berkembang, ia mulai melangkah maju untuk membuka pasar. Ia melakukan produksi dan pemasaran produknya sendiri. Oleh sebab itulah ia aktif untuk mengikuti pameran dan promosi lainnya. Hal ini ia lakukan untuk mencari peluang mempromosikan produknya.

Harga kerajinan tangannya juga bervariasi dari mulai dari Rp 5000 sampai dengan Rp 5.800.000. Bahkan sekarang juga ada hiasan meja yang laku terjual Rp.7.800.000. Apabila dalam sebulan penjualannya ramai, Endy mengaku bisa meraup keuntungan bersih sampai Rp 6.000.000 per bulan.

Ke depannya ia ingin terus berkarya dengan menghasilkan berbagai bentuk kerajinan tangan yang unik dan tentunya bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. “Siapa tahu ke depannya bisa memotivasi adik-adik yang lain untuk berkarya dan semoga batok kelapa tidak lagi hanya dipandang sebelah mata,” ungkapnya (Lihat “Endy Sukses Olah Limbah Batok Kelapa”, Tribun Bali, 12 Agustus 2019).

Kisah Yande dan Endy bisa menjadi cermin bahwa hal yang tampak remeh dan tidak berguna di sekeliling kita bisa menjadi peluang besar.

Kau urek, adalah sindiran pejorative (merendahkan) yang diterima Yande pada awalnya. Namun, sekarang ia bisa dengan kepala tegak mengatakan bahwa dengan kau meurek lah ia bisa sukses seperti sekarang. Yande juga selalu mengingatkan kepada anaknya bahwa apa yang mereka lihat sekarang adalah berkat jasa kau (tempurung kelapa).

Sindiran kau urek membuatnya jengah dan kemudian bangkit berjuang dalam hidupnya hingga bisa sukses seperti sekarang. [b]

The post Ape to? Kau Urek e? appeared first on BaleBengong.

“Istirahat Sejenak” dari Lapastik Bangli

Istirahat Sejenak. Karyanya mengajak rehat dan merefleksikan.

Sebuah petikan gitar mengawali alunan kalimat “can u see how’s beautiful u are,” dengan suara berat milik sosok bertopi. Ia duduk dengan sebuah gitar akustik di depan panel surya yang terpasang rapi di hadapan baliho yang berjejer.

Sebuah ingatan akan perjumpaan pertama dengan lagu ini menyusup ke telinga. Perpaduan suara berat dan petikan akustik membuat kata-kata yang diucapkan Yogi seolah tidak ditujukan untuk mereka yang sedang duduk dihadapannya, melainkan untuk dirinya sendiri.

Pukulan Ajik pada kajon hadir setelah kalimat “… couse that’s how you look like”, disusul melodi Indra yang menyayat. Yogi, vokalisnya melanjutkan dendangannya.

Lantunan lirik sederhana, para pendengar bisa dengan mudah menerima dan menerjemahkannya. Formasi band ini menyebut diri mereka Istirahat Sejenak.

Suara berat Yogi membawa masuk lebih jauh, tempo pelan dan melodi yang mengiringi menghanyutkan. “I want to be with you when the sun rise up/ I want to be with you when the sun goes down/ And I want to be with u all night long/Couse I want u to know I need u in my life.”

Ingatan dengan penampilan mereka secara live di Pra Bali yang Binal 8 di Taman Baca Kesiman hadir kembali melalui rekaman dokumentasi ala kadarnya. Ingatan yang membawa getaran yang sama seperti hadir dan melihat mereka bermain secara langsung. Ingatan yang membawa sensasi kerinduan mendalam, hadir dengan intensitas yang sama.

https://www.youtube.com/watch?time_continue=17&v=phE0zrO-VoQ

Kerinduan yang hadir akibat waktu dan ruang yang tak berpihak. Kerinduan yang terpendam dan tak mampu diobati dengan layanan telekomunikasi 4.0 yang katanya telah melampaui jarak dan waktu. Kerinduan yang kemudian semakin terekspresikan lewat permainan rima rap Ayi, “lady… now I should tell you that I was fallin at the first time, I rest my eyes on you…”

Lirik itu menjelasakan bagaimana perasaaan sesuangguhnya yang tak sanggup diucapkan. Kemudian pertemuan hadir untuk mejadi oase kerinduan.

Istirahat Sejenak merupakan band Lapas Narkotik Klas IIA Bangli. Para personelnya merupakan warga binaan Lapas yang berlokasi di Br. Buungan, Jl. Purasti, Tiga, Susut, Kabupaten Bangli. Istirahan Sejenak digawangi oleh Yogi pada gitar akustik dan vocal, Ayi sebagai rap, Mahesa pada bass, Indra dengan melody gitar, Adut pada perkusi, dan Ajik pada kajon.

Status yang disandang sebagai warga Lapas menguatkan karkter lagu yang diberi judul Is Real itu. Sebuah lagu yang mengungkangkan bagaimana perasaan terhadap orang-orang yang mereka cintai dan mereka rindukan. Sebuah ungkapan perasaan sederhana yang mereka utarakan lewat lagu. Baru bisa dirasakan ketika melihat penampilan panggung mereka secara langsung.

Lagu yang membawa saya secara personal masuk ke dalam kenyataan selalu ada saja perasaaan yang tak bisa terucap. Diasumsikan telah diwakilkan lewat tatapan mata yang beradu namun pada kenyataannya itu tak cukup. Perasaan tersebut tetap saja mengganjal, bertemu dengan dominasi gengsi sifat maskulin dengan segala citra kuat dan perkasa yang sebenarnya menjadi boomerang basi sosok laki-laki itu sendiri.

Is Real tidak menghadirkan peraasaan rindu tersebut dengan sajian cengeng, mereka menghadirkannya dengan tetap menjadi lelaki dan segala citra yang menempel pada label laki-laki. Pengakuan bahwa lelaki memiliki perasaan yang rapuh dan rentan.

Sebuah peristiwa pada akhirnya akan membawa si lelaki dengan kelelakiannya terjerembab pada satu titik. Mengakui sosok yang ada di sebelahnya begitu berarti dan tak ada satu pun yang berhasil dilakukan selama ini bisa mewakili perasaan tersebut.

Menjadi warga binaan tentu bukan sebuah peristiwa yang diinginkan, direncanakan, atau bahkan diimpikan. Ada jalinan sebab akibat yang membuat para personel berada di titik sebagai warga binaan. Membuat mereka tidak lagi bisa bebas mengakses ruang, jarak, dan waktu seleluasa kita.

Titik yang membawa mereka pada kesadaran memaknai kerinduan lebih dari sekedar I Miss U yang dikirimkan lewat pesan whatssap. Dengan emoticon kecupan berlogo jantung yang memerah. Mereka harus memendam kerinduan mereka, menyimpannya di balik ruang-ruang dingin kesendirian, kesunyian, dan kemudian ditumpahkan dalam dalam lagu Is Real.

Mendengarkan lagu ini mengantarkan ingatan pada sebuah quote lama, “engkau akan mengerti arti memiliki ketika kehilangan.” Sebuah kutipan yang selama ini timbul tenggelam akibat persinggungan yang terjadi karena pertemuan-pertemuan baru. Kutipan yang bisa diperdebatkan ketika tahu untuk memaknai kata memiliki tidak perlu sampai pada titik kehilangan.

Bahkan ketika seseorang terlempar pada titik paling nadir bisa memicu kesadaran sederhana untuk memaknai keberadaan seseorang. Keberadaan yang menjadi begitu berarti ketika tak bisa disentuh tetapi terasa begitu kuat kehadirannya.

For me more than enough to having u in my life.” Apa yang lebih menguatkan selain perasaaan akan kehadiran seseorang di saat berada dititik paling rendah.

Walau hanya berasal dari video penampilan yang diputar ulang, apa yang ingin disampaikan band Istirahat Sejenak melalui “Is Real” tetap bisa sampai, mengungkapkan bagaimana kerinduan akan seseorang yang selama ini telah hadir. Pemaknaan kehadiran setelah kehadiran fisik tak lagi hadir seperti biasanya.

Is real belum beredar di pasaran. “Tunggu saja, kawan-kawan sedang proses rekaman album di Rockness,” bocoran dari Krisna, sosok yang menghadirkan Istirahat Sejenak malam itu. Membuat Is Real melekat di kepala dengan mudah.

Is real” hanya sebuah lagu sederhana, dibawakan secara sederhana, untuk menyampaikan sebuah perasan yang tidak kalah sederhana namun sering kali menjadi begitu sulit diuangkapkan karena kesederhanaan tersebut. Kesederhanaan, rasa yang sering kali luput dan takut untuk disampaikan dan sering kali kalah bersaing oleh kerumitan yang lebih mundah dilontarkan.

The post “Istirahat Sejenak” dari Lapastik Bangli appeared first on BaleBengong.

FAN Rayakan Ultah dengan Diskusi Penambangan Pasir

Semua elemen sepakat menolak rencana yang akan merusak pantai.

Perayaan hari ulang tahun Forum Aksi Nyata (FAN) Seminyak diisi dengan diskusi penolakan rencana pengerukan pasir di sepanjang pantai Kuta hingga Canggu. Diskusi diadakan pada Minggu, 8 September 2019 di Seminyak, Badung.

Dalam perayaan HUT FAN ketiga itu hadir Bendesa Adat Seminyak, Kepala Lingkungan beserta jajaran pengurus Desa Adat Seminyak.

FAN Seminyak merupakan forum swadaya masyarakat Seminyak yang dibentuk sebagai pelaksana mandat teknis di bawah naungan Desa Adat. Forum ini sangat aktif dalam gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa.

Di hari jadi ketiga ini selain melakukan seremoni syukuran, FAN Seminyak juga menggelar diskusi terkait tambang pasir yang akan dilakukan di sepanjang pantai Kuta hingga Canggu. Rencana itu masuk dalam penyusunan dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Bali.

Dalam acara diskusi ini FAN Seminyak melibatkan Forum Rakyat Bali Toak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) dan WALHI Bali. Keduanya memberikan pemahan serta bahaya dari tambang pasir yang masuk dalam dokumen RZWP3K tersebut.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana yang juga Dewan Nasional WALHI menjelaskan bahwa Bali saat ini sedang menyusun RZWP3K. Dokumen ini merupakan dokumen untuk menentukan tata ruang laut dalam radius sepanjang 0-12 mil.

Gendo menjelaskan bahwa dalam dokumen RZWP3K ini amat banyak proyek yang merusak lingkungan, tetapi tetap diakomodir. Ada reklamasi Teluk Benoa milik PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) seluas 700 hektar dan reklamasi oleh Pelindo III yang sampai saat ini masih membatasi informasi dan sudah sebabkan mangrove mati seluas 17 hektar. Ada pula reklamasi Bandara Ngurah Rai oleh Angkasa Pura dan proyek tambang pasir laut yang akan dilakukan di sepanjang pantai Legian hingga Canggu seluas 1.916 hektar.

Tambang Pasir

Proyek tambang pasir laut yang masuk dalam dokumen RZWP3K yang semula seluas 1.916 hektar dapat berkurang menjadi 938,34 hektar akibat usaha dan perlawanan oleh ForBALI dan WALHI Bali. “Jarak titik tambang pasir ini kurang lebih 3 kilo meter dari pantai seminyak. Bayangkan saja apa yang akan terjadi apabila proyek ini dijalankan!?” pungkasnya.

Gendo menambahkan saat ini sudah ada dua izin ekplorasi yang sudah terbit. “Ini sama saja merugikan hajat hidup warga. Apalagi Seminyak menggantungkan penghidupannya di pantai,” tegasnya.

Menurut Gendo daerah pesisir kian terancam karena banyaknya proyek reklamasi yang masuk dalam dokumen tersebut. Reklamasi bandara sedari tahun 1960an sudah menyebabkan sebuah situs keagamaan Pura Cedok Waru bergeser tiga kali akibat abrasi yang disebabkan oleh Reklamasi Bandara.

Reklamasi oleh Pelindo III Cabang Benoa menyebabkan 17 hektar mangrove mati di wilayah perairan Teluk Benoa. “Segala bentuk protes yang kita lakukan bukan bentuk dari antipembangunan. Kami hanya akan protes terhadap pembangunan yang merusak lingkungan dan tidak memperhatikan masa depan Bali,” tegas Gendo.

Pemaparan kembali dilanjutkan Suriadi Darmoko, Dewan Daerah WALHI Bali. Darmoko menjelaskan berbagai dampak tambang pasir di Banten dan Sulawesi yang menyebabkan abrasi 10 hingga 20 meter serta mampu menengelam desa.

Jro Bendesa Seminyak I Wayan Windu Segara yang hadir dalam acara ini sangat mendukung agar warga menolak proyek ini. Terlebih mayoritas penduduk Seminyak memang menggantungkan penghidupannya di pesisir pantai.

Begitu pula Kepala Lingkungan Desa Adat Seminyak I Wayan Sunarta yang sangat mengapresiasi ForBALI dan WALHI Bali yang memberikan edukasi terhadap masyarakat Seminyak. Terlebih dalam penyusunan dokumen RZWP3K Desa Adat Seminyak tidak pernah dilibatkan.

Acara juga dihadiri berbagai organisasi di bawah Desa Adat seperti Asosiasi Pedagang Pantai Seminyak (AP2S), Asosiasi Surfing Seminyak (ASUS) dan Warung Pantai (WAPA) Seminyak. Semua berikrar dan sepakat menolak rencana tambang pasir di sepanjang pantai Kuta hingga Canggu yang masuk dalam dokumen RZWP3K. [b]

The post FAN Rayakan Ultah dengan Diskusi Penambangan Pasir appeared first on BaleBengong.

Tempat Wisata di Bandung yang Cocok untuk Liburan bersama Keluarga

Foto: Shutterstock

Anda bisa menemukan dengan mudah tempat wisata di Bandung.

Ya, Bandung seakan menjadi salah satu kota di Indonesia yang didambakan oleh banyak orang, terutama yang ingin menikmati waktu liburan. Pasalnya, Anda sendiri bisa menemukan berbagai macam hal dengan mudah. Berbagai macam tempat wisata yang unik dan menarik tersedia di Bandung. 

Bisa dibilang, hampir semua sudut di Bandung menyajikan keunikan tersendiri. Tidak heran apabila Bandung ternyata juga banyak dijadikan sebagai wisata keluarga yang tepat. Untuk Anda yang sedang mencari tempat wisata di Bandung yang bisa dikunjungi bersama keluarga, berikut ini pilihan tempat wisata yang bisa Anda tuju.

Tempat Wisata di Bandung

Kebun Teh Sukawana 

Tempat wisata Bandung pertama yang bisa Anda kunjungi bersama keluarga adalah Kebun Teh Sukawana. Keberadaan kebun ini bisa menjadi pilihan yang tepat bagi Anda yang ingin mengetahui bagaimana cara memetik teh, terutama mengajarkan hal tersebut kepada anak-anak. Tempat ini semakin popular berkat adanya social media. 

Tak hanya itu saja, untuk Anda yang sedang mencari tempat wisata di Bandung yang sejuk dan tenang, Anda bisa datang kesini. Tak hanya mempelajari bagaimana cara memetik teh, para pengunjung juga akan dimanjakan dengan panorama indah yang ada di setiap sudut kebun. 

Tangkuban Perahu 

Siapa yang tidak kenal dengan Tangkuban perahu? Ini merupakan salah satu wisata andalan yang dimiliki oleh Bandung. Letaknya sekitar 20 km dari Utara kota Bandung tepatnya berada di kawasan Lembang. Sesuai dengan namanya, Anda akan menjumpai ada dataran yang menyerupai perahu yang terbalik ketika berada di sini. 

Tak hanya itu saja, tempat ini ternyata juga mempunyai 2 kawah yang bernama kawah Ratu dan Kawah Domas. Kedua kawah tersebut cukup terkenal di telinga masyarakat. Tidak heran apabila Anda wajib datang kesini. Tetapi pastikan Anda berhati-hati ketika mengajak anak-anak datang ke kawah, karena jalan yang bergelombang dan terkadang licin.

Kawah Putih Ciwidey

Masih ada tempat wisata di Bandung yang bisa Anda datangi bersama keluarga yakni Kawah Putih Ciwidey. Kawah Putih ini tentu juga sudah tidak asing bagi para wisatawan. Pasalnya rasanya kurang lengkap apabila Anda datang ke Bandung tetapi tidak mampir kesini. Lokasi Kawah Putih Ciwidey ini berada sekitar 50 km dari Bandung Selatan. Di tempat ini, Anda bisa melihat kawah vulkanik dengan tanah berwarna putih. Tetapi Anda juga harus berhati-hati pasalnya kawah tersebut mengandung belerang. Jangan lupa menggunakan pakaian yang hangat karena Kawah Putih Ciwidey memiliki suhu yang dingin.

Saung Angklung Udjo 

Anda ingin mengenalkan anak Anda dengan alat musik tradisional Jawa Barat yakni angklung? Jika iya, maka Anda bisa langsung mampir ke Saung Angklung Udjo. Ini merupakan tempat wisata budaya yang cukup terkenal di kawasan Bandung dan juga dijadikan sebagai balai pelestarian alat musik tradisional Jawa Barat. Di sini, Anda juga bisa menemukan adanya pentas seni angklung, helaran, tari topeng hingga adanya wayang golek. Dijamin anak-anak akan mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan ketika datang ke sini.

Museum Geologi Bandung 

Tempat wisata edukasi di Bandung bernama Museum Geologi Bandung wajib untuk Anda kunjungi. Untuk Anda yang ingin berwisata kesini maka bisa langsung datang ke jalan Diponegoro dimana tidak jauh dari Gedung Sate dan Taman Lansia. Di tempat ini, Anda dan anak-anak bisa melihat ratusan koleksi benda prasejarah seperti adanya fosil, mineral dan peta, bebatuan dan masih banyak lagi. Salah satu hal menarik yang ada di tempat ini adalah adanya fosil replikasi binatang purba seperti dinosaurus.

Observatorium Bosscha

Tidak ketinggalan Observatorium Bosscha menjadi tempat wisata berikutnya yang wajib untuk Anda kunjungi. Tempat wisata yang berada di kawasan Lembang ini dijamin akan memberikan pengalaman liburan yang berbeda. Untuk bisa memasuki area tempat wisata, maka para pengunjung harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Untuk kemudian langsung bisa menikmati suasana di Observatorium Bosscha. 

Demikian beberapa tempat wisata di Bandung yang bisa Anda kunjungi. Bandung menjadi salah satu kota di Indonesia yang menawarkan keunikan tersendiri. Selain tempat wisata yang di sebutkan diatas, masih ada banyak tempat wisata di Bandung yang bisa Anda kunjungi. 

 

The post Tempat Wisata di Bandung yang Cocok untuk Liburan bersama Keluarga appeared first on BaleBengong.

Keunikan Pulau Atauro dari Sanur

Pada bulan Agustus ini, sebuah pameran foto bertemakan konservasi laut telah dibuka di Sanur. Tujuh buah foto yang diambil di Pulau Atauro, Timor-Leste ini memukau mata dan menambah wawasan kita tentang indahnya alam bawah laut dan kehidupan masyarakat pesisir di Segitiga Terumbu Karang Dunia.

Berangkat ke Atauro

Nama Timor-Leste mungkin sudah tidak asing lagi di telinga anda. Namun bagaimana dengan Atauro? Ternyata, hanya dengan menempuh perjalanan udara selama 2 jam dari Bali, kita sudah bisa menginjakkan kaki di negara bekas jajahan Portugis ini. Lalu dengan menempuh perjalanan laut selama kurang lebih satu jam dengan menggunakan fast boat, kita akan sampai di Atauro.

pulau-atauro-timor-leste
Sebuah kapal yang melintas di Perairan Atauro. Foto : Mike Veitch/CTC

Inilah mutiara di persimpangan Perairan Sawu dan Laut Banda

Mungkin belum banyak yang tahu, dibalik kondisi alam pulaunya yang berbukit-bukit dan kering, ternyata Pulau Atauro yang terletak di perbatasan antara Perairan Sawu dan Laut Banda menjadi salah satu wilayah yang menyimpan kekayaan alam bawah laut terbanyak di dunia. Sebuah studi pada tahun 2016 menyatakan bahwa Pulau Atauro dapat menaungi spesies ikan karang terbanyak di dunia dalam satu lokasi pengamatan, dimana tercatat terdapat sebanyak 642 spesies ikan karang yang ditemukan disana. Alam bawah laut di Atauro juga menyimpan 360 spesies karang. Namun, beberapa tahun belakangan ini, terumbu karangnya menghadapi ancaman akibat perubahan iklim dan praktik-praktik penangkapan ikan yang merusak.

Sekarang, keindahan alam di Atauro dapat dinikmati dari Sanur!

Guna menggaungkan semangat konservasi laut kepada masyarakat, Coral Triangle Center membuka sebuah pusat pembelajaran di Sanur yang diberi nama Center for Marine Conservation. Di tempat ini, berbagai kalangan dari anak-anak hingga dewasa dapat belajar tentang konservasi laut melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan.

Baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 13 Agustus 2019, sebuah pameran foto outdoor dibuka secara resmi di Center for Marine Conservation. Pameran foto bertajuk ‘Atauro Island Community: Custodians of the Sea’ ini secara resmi dibuka oleh Consul General Timor-Leste di Bali, Ibu Elda Ferreira. Ibu Elda amat mengapresiasi adanya pameran foto yang menunjukkan keindahan dan kekayaan alam yang dimiliki oleh Atauro sebagai bagian dari Wilayah Segitiga Terumbu Karang Dunia.

pameran-foto-sanur
Para fotografer bersama dengan Direktur Eksekutif CTI-CFF, Konsul Jenderal Timor Leste dan Direktur Eksekutif CTC (Kiri ke Kanan). Foto : Coral Triangle Center

Pada kesempatan tersebut juga hadir sang fotografer, Mike Veitch dan Luca Vaime yang telah mengenal kehidupan bawah laut lebih dari dua puluh tahun. Mike merupakan fotografer dari Kanada yang pernah meraih penghargaan BBC Wildlife photographer of the year pada 2013. Luca juga sudah sangat mengenal kehidupan bawah laut bahkan sudah memulai karirinya sebagai instruktur selam sejak berusia 18 tahun. Saat ini, kedua fotografer bawah air yang berpengalaman berdomisili di Bali.

Menampilkan keindahan alam dan kearifan lokal

Pameran foto karya Mike dan Luca ini tidak hanya semata-mata menampilkan keindahan alam bawah laut Atauro saja, melainkan secara lengkap menyakinan keunikan dan keindahan bentang alam hingga kehidupan masyarakat setempat. Jejeran foto-foto spektakuler ini menunjukan hubungan manusia, alam dan aktivitas di pulau kecil yang dulunya pernah menjadi bagian dari Negara Indonesia ini.

pameran-foto-sanur
Pameran Foto Atauro di Sanur. Foto: CTC

Salah satu cerita menarik yang berhasil ditangkap oleh Mike dan Luca adalah seorang nelayan yang mencari ikan dengan peralatan tradisional. Sebuah foto dari tujuh foto yang dipamerkan di Center for Marine Conservation, Sanur menampilkan seorang nelayan yang menangkap ikan menggunakan alat tangkap dan kaca mata tradisional khas Atauro.  

Selain itu, pameran foto ini juga menampilkan proses jual beli ikan di pasar yang hanya digelar satu kali seminggu. Nampak seorang perempuan tengah menjajakan ikan demersal, tongkol dan pelagis lainnya yang berdasarkan penuturan Marine Conservation Advisor CTC, Marthen Welly merupakan salah ikan-ikan yang banyak ditangkap oleh masyarakat Atauro.

Penampakan karang-karang sehat di Atauro

Dan masih ada foto-foto karang yang sehat nan cantik serta berbagai cerita menarik lainnya tentang kehidupan masyarakat di Atauro yang dapat kita saksikan disini. Mike membagikan pengalamannya saat mengambil foto karang di Atauro “Karang-karang keras dan lunak disana luar biasa bagusnya dibawah laut, foto terumbu karang ini salah satunya. Ada banyak sekali gerombolan ikan di perairan ini namun satu hal yang paling menarik adalah karang kerasnya yang sehat”.

Dan masih ada foto-foto karang yang sehat nan cantik serta berbagai cerita menarik lainnya tentang kehidupan masyarakat di Atauro yang dapat kita saksikan disini. Mike membagikan pengalamannya saat mengambil foto karang di Atauro “Karang-karang keras dan lunak disana luar biasa bagusnya dibawah laut, foto terumbu karang ini salah satunya. Ada banyak sekali gerombolan ikan di perairan ini namun satu hal yang paling menarik adalah karang kerasnya yang sehat”.

lansekap-atauro
Lansekap Atauro. Foto : Mike Veitch/CTC

Selain itu, mereka juga berkesempatan mengambil foto karang meja yang berukuran raksasa. Berdasarkan penuturan Luca, “Sesungguhnya sangat sulit untuk menjelaskan seberapa besarnya karang ini, namun kurang lebih karang ini memiliki diameter 6-8 meter. Untuk menjumpai karang dengan ukuran sebesar ini, sudah semakin sulit sehingga sangat penting untuk bisa melihat karang yang sedemikian sehat di Atauro” ujarnya dengan antusias.

Menjaga keindahan dan sumberdaya laut di Atauro

Pasca dibukanya pameran foto Atauro di Center for Marine Conservation, ditayangkan sebuah film pendek bertajuk Atauro MPA: One Island One Management. Sekitar 130 pasang mata menyaksikan dan mendengar cerita-cerita dibalik keindahan alam bawah laut Atauro yang harus dilindungi.

Film ini mengisahkan bagaimana masyarakat Atauro bergantung pada laut sebagai sumber penghidupannya. Oleh karenanya menjadi sangat penting untuk dilindungi dengan membentuk Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di wilayah ini dengan menganut konsep ‘Satu Pulau, Satu Pengelolaan’ atau One Island One Management. Selain itu, di wilayah ini memiliki kearifan tradisional bernama ‘Tara Bandu’ yang turut menjadi salah satu cara untuk menegakkan aksi konservasi di wilayah ini.

Guna merealisasikannya, masyarakat Atauro bersama-sama dengan Coral Triangle Center (CTC), Roman Luan Foundation dan juga pemerintah setempat melalui Kementerian Pertanian dan Perikanan Timor–Leste membentuk Kawasan Konservasi Perairan di seluruh wilayah Pulau Atauro. Sejak tahun 2017, pembentukan KKP ini telah dimulai dengan survei yang dilakukan oleh CTC. Dari hasil survei tersebut dihasilkan data- data sebaran lokasi terumbu karang, mangrove dan padang lamun, serta identifikasi wilayah terumbu karang yang rusak karena penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan kaidah lingkungan.

Tunggu Apa Lagi? Datang dan saksikan sendiri!

Pameran foto Atauro Island Community: Custodians of the Sea di Center for Marine Conservation masih akan dibuka sampai beberapa periode ke depan dan tentunya terbuka untuk umum. Yuk, mampir ke Center for Marine Conservation di Jalan Betngandang II No 88-89, Sanur, Bali dan teropong keindahan dan keunikan kehidupan di Atauro.

The post Keunikan Pulau Atauro dari Sanur appeared first on BaleBengong.