Tag Archives: Kabar Baru

Pemilahan Sampah di Rumah, Solusi Krisis Sampah di Bali

 

Keindahan Pulau Bali terancam oleh kerusakan yang sulit dihindari karena masalah sampah yang menjadi berita keseharian media massa. Saat ini saluran air yang  ada di seluruh pulau dibanjiri oleh sampah terutama sampah plastik. Hal ini mengundang perhatian dan keprihatinan banyak pihak, termasuk Yayasan Bumi Samaya yang concern terhadap permasalahan sampah di Bali.

Sean Nino, peneliti Yayasan Bumi Samaya mengatakan, salah satu solusi mengatasi masalah sampah di Bali adalah pemilahan sampah yang dimulai dari rumah. Masing-masih rumah tangga mesti ikut peduli terhadap sampah dengan cara memilah sampah antara sampah organik dan non-organik.

Cara yang kelihatannya sepele ini mampu mengurangi masalah, karena sampah yang telah dipilah akan dibawa petugas sampah untuk dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di mana sampah organik bisa diolah menjadi pupuk dan sampah non-organik seperti botol plastik dapat dijual dan didaur ulang.

Nino menjelaskan, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah kini telah diatur undang-undang di mana telah ada kerangka kebijakan sehingga provinsi dan desa di Indonesia memiliki kewenangan untuk membangun dan mengoperasikan infrastruktur mereka sendiri.

Contohnya, Bank sampah dan sistem pengumpulan sampah terdesentralisasi skala kecil kini telah banyak ada di desa-desa di Bali dan terbukti telah berhasil mengurai permasalahan sampah yang ada.

Hal tersebut juga dilakukan oleh Yayasan Bali Sasmaya dengan menggandeng pemerintah desa untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan sampah yang dilakukan salah satunya di Desa Pererenan, Badung dengan membangun TPST yang dikelola secara mandiri yang sejauh ini mendapat respon positif dari masyarakat.

Hasil dari pengolahan sampah sebenarnya cukup besar dan ini bisa menjadi pemasukan desa dan bisa dijadikan badan usaha milik desa. Hanya saja, belum banyak desa yang mau melakukan hal ini. Untuk itu, Yayasan Bali Sasmaya terus melakukan sosialisasi agar banyak desa di Bali membuat TPST termasuk kepada siswa sekolah dasar guna memberi pengetahuan betapa penting kesadaran dan kepedulian terhadap sampah dan lingkungan sekitar.

Program yang dilakukan Yayasan Bali Sasmaya adalah program ‘Merah Putih Hijau’ bertujuan menyelesaikan masalah sampah dengan mendesentralisasi pemilahan dan memastikan terjadinya pengolahan sampah terpadu dengan memberdayakan masyarakat lokal untuk mengelola dan mengolah sampah yang mereka hasilkan di wilayah mereka sendiri.

Dalam program ini proyek pengolahan sampah dilakukan Yayasan Bumi Sasmaya salah satunya di desa Pererenan, Badung yang telah berjalan. Caranya dengan mengajak masyarakat untuk memilah sampah antara sampah organik dan non-organik mulai dari masing-masing rumah dan untuk yayasan ini mengajak kepala desa untuk membuat peraturan desa, bagi yang tidak memilah sampah tidak diambil oleh petugas sampah. Cara itu mampu menggugah kesadaran warga desa untuk memilah sampah dan meningkatkan kepedulian terhadap sampah dari rumah masing-masing.

Dalam sebuah diskusi yang dilakukan Yayasan Bumi Sasmaya baru-baru ini di Denpasar dijelakan, sampah di Bali 65% berupa sampah organik. Sisanya sampah non-organik seperti logam, kaca, dan plastik serta kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di beberapa kabupaten di Bali yang penuh dan menimbulkan masalah baru.

Yayasan ini mengajak kepala desa untuk membuat peraturan desa terkait sampah. Peraturan ini terbukti sangat efektif membuat masyarakat sadar dan bertanggung jawab terhadap sampah. Setelah sampah dipilah kemudian dibawa ke tempat pengolahan dan diolah menjadi pupuk kompos. Cara ini mampu mengatasi permasalahan sampah di desa Pererenan, Badung.

Selain di desa Pererenan, Badung lokasi lain tempat dilakukannya program pengolahan sampah yakni di desa Baturiti Tabanan dan desa Penestenan, Ubud. Rencananya, program akan dilakukan di desa-desa lain di berbagai kabupaten/kota di Bali.

Seperti diketahui, TPST bisa dikelola oleh desa dan menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang di Bali tersebar di berbagai kabupaten. Sayangnya, banyak TPST tidak berjalan atau mangkrak karena kurangnya dana dan SDM. Yayasan Bumi Sasmaya siap melakukan kerja sama untuk mengelola TPST secara terarah dan profesional.

 

 

The post Pemilahan Sampah di Rumah, Solusi Krisis Sampah di Bali appeared first on BaleBengong.

Jejak Latihan dan Kekaguman yang Tertinggal

Begitu pedas latihan kali ini. Setiap hari adalah latihan dan ngobrol.

Setiap pukul empat hingga pukul enam sore, terkadang agak molor sedikit, adalah waktu latihan berkeringat dan ngobrol. Istirahat dua jam, lalu dilanjutkan nonton film bersama dan ngobrol lagi.

Obrolan inilah yang biasanya memakan waktu agak banyak. Namun, dari sana banyak hal bisa direnungkan dan kemudian bisa digunakan dalam banyak hal pula. Tidak hanya pada pementasan. Topik yang dibahas bukan hanya soal teater, tetapi lebih pada hal “apa yang menarik” dan “bagi siapa”.

Setiap hari, menu latihan adalah meremukkan tubuh. Pada beberapa sesi, latihan dilakukan dengan sangat individual dan begitu intim. Latihan ini untuk lebih mengenali badan kasar yang (mungkin) apabila dilanjutkan bisa mencapai ranah lebih dalam lagi.

Latihan, nonton film sebegai refrensi, dan diskusi sengaja disusun menjadi program yang melelahkan dan semoga bermanfaat kemudian. Namun, jadwal latihan yang ketat dan melelahkan ini justru membuat kami (para pelaku) menjadi lebih bernafsu.

Efek itu kemudian saya sadari setelah beberapa kali nonton film dilakukan dan kemudian dihentikan karena dirasa cukup – tempo latihan menjadi kendur. Satu per satu dari kami jeda barang sebentar dengan alasan masing-masing. Kami sepakat hal seperti ini bukanlah sesuatu yang tabu karena “jujur” untuk memilih dan “ikhlas” menerima keputusan menjadi hal yang penting.

Kali ini, kata-kata klise tersebut seolah-olah memiliki akar yang kuat. Mungkin karena kesepakatan yang secara tidak langsung menempel. Selain itu, kami percaya, latihan baru dimulai ketika rasa bosan mencuri kesempatan untuk mampir.

“Jujur” dan “ikhlas” tidak hanya berlaku pada saat minta izin untuk tidak ikut latihan, tetapi juga terhadap gerak. Dalam proses pencarian ini, kami dituntut sadar dengan diri sendiri, sadar dengan tubuh sendiri, sadar dengan keinginan sendiri, dan yang tidak kalah pentingnya adalah sadar dengan napas yang merupakan tangkai bunga pikiran yang suka keluyuran.

Jadi, gerakan yang dilakukan adalah gerakan milik sendiri yang digali dari kesadaran akan kemampuan tubuh.

Pada proses ini, sutradara tidak terlalu turut campur. Sutradara hanya mengingatkan hal-hal yang sebaiknya (tidak harus) dilakukan. Dari latihan-latihan ini, ada banyak temuan yang sangat jarang saya pikirkan dan ternyata menarik.

Temuan-temuan itu sangat sederhana, misalnya “ketika menggerakkan tangan dengan posisi tangan lurus lalu ditekuk, ada otot lain yang ikut merespon” atau “ternyata panjang lengan saya hanya sepanjang ujung jari hingga telapak tangan”.

Hal-hal sederhana semacam inilah yang menjadi topik obrolan kami setelah latihan. Padahal saya sendiri tak sepenuhnya yakin, ini bisa dibawa ke atas panggung. Kami dibuat sibuk membicarakan diri sendiri dan sibuk mengagumi diri sendiri. Namun, bukankah sudah semestinya sesekali kita memelihara rasa kagum pada tubuh sendiri?

Kekaguman inilah yang terbangun dalam latihan, sehingga saya menjadi lebih percaya pada tubuh sendiri dan tak berharap meminjam tubuh orang lain.

Sesekali, latihan kami memang mirip dengan latihan militer. Namun, latihan militer diimbangi dengan menu latihan kesadaran tubuh melahirkan sesuatu yang beraroma beda. Kesadaran menjadi bumbu yang lebih sedap dari pada “micin pada sambal ulek” pada latihan ini.

Latihan seperti militer ini pertama-tama memang harus memperhatikan bentuk gerakan secara detail, tapi keterbatasan melakukan gerakan membuat kami harus menggali ke dalam diri dan bertanya “bagian mana yang harus ditekan, dikunci, dilemaskan, dan seperti apa jadinya apabila tubuhku yang seperti ini bergerak begitu?” bagi saya sendiri menemukan dan menyadari titik-titik itu memberi kepuasan tersendiri.

Latihan seperti ini berlangsung kurang lebih selama satu bulan, sebelum akhirnya semua berubah bukan karena negara api menyerang, tetapi karena hari pentas “berlagak akrab” dengan mendekatkan dirinya. Tanpa niat meninggalkan hasil latihan sebelumnya, kami mulai mencari bentuk pentas, tentu kembali pada otoritas sutradara.

Kali ini sutradara memang mempunyai andil sangat besar, tapi sumbangan latihan selama sebulan sebelumnya nyata-nyata meninggalkan jejak yang tegas pada setiap pemain.

Dengan stimulus berupa film-film, wacana yang dipungut dari penjajagan di lapangan, obrolan di jalan, artikel-artikel, dan hasil latihan pada bulan sebelumnya, akhirnya kami berusaha melahirkan gerakan-gerakan yang kami anggap sesuai pada tubuh masing-masing.

Saya rasa saya sendiri masih tersesat dan terjebak pada latihan sebelumnya. Bagaimana tidak, latihan yang sibuk pada diri sendiri belum mampu saya lepaskan. Bahkan, pada proses peggarapan bentuk pentas ini, saya masih terjebak pada kesibukan mengenali diri.

Sungguh belum mampu rasanya saya sadar bahwa nanti, saya akan ditonton. Bukankah kesadaran ditonton adalah hal yang penting dalam pementasan? Hal ini masih menjadi masalah yang bukan bagi saya sendiri, beberapa kawan pun mengaku demikian.

Sebagaimana kami menanam kagum pada diri sendiri, seperti itu pula kami menyimpan kagum pada para pelaku jogged. Seka joged, penabuh, dan penari yang memandang joged bukan hanya dari segi estetika. Tetapi lebih dari itu, joged adalah benang penyambung hidup.

Mungkin inilah salah satu peninggalan yang masih tertancap tegas karena latihan satu bulan sebelumnya – menanam dan memelihara kekaguman.

Bagi saya sendiri, proses ini memang tak mudah. Sama halnya dengan kesulitan mendefinisikan “joged jaruh” sebagai sebuah tari pergaulan yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat modern. Pada pentas yang akan datang, kesulitan inilah yang akan kami tampilkan. Kebingungan yang kami sepakati. Lagi sekali, kami sepakat, benar salah bukanlah hal yang terpenting, sebab setiap arena kultural memiliki aturan main masing-masing.

Rasanya, sungguh berlebihan jika saya yang ikut berproses di dalam pementasan kali ini menceritakan banyak hal tentang proses yang telah berlangsung. Namun, itulah perasaan yang pada akhirnya muncul setelah stimulus berupa latihan-latihan tersuntikkan. Pementasan yang akan berlangsung beberapa hari lagi, akan lebih banyak bercerita tentang proses kami selama ini.

Pentas ini, menjadi presentasi latihan beberapa bulan belakangan. Maka dari itu, mari saksikan “Joged Adar dan Kesibukan Melupakannya”. [b]

The post Jejak Latihan dan Kekaguman yang Tertinggal appeared first on BaleBengong.

Sejarah dan Keunikan Kelapa di Desa Nyuhtebel

Apakah daging kelapa di Desa Nyuhtebel lebih tebal? Atau kulitnya yang tebal? Kepala Desa atau Perbekel Ketut Mudra, merangkumnya dalam narasi sejarah dan kondisinya kini.

Oleh Pewarta Warga Nyuhtebel

Desa Nyuhtebel di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem Bali memiliki asal usul nama desa berkaitan dengan keberadaan hutan kelapa. Hal tersebut tersurat di dalam prasasti Kerajaan Gelgel tentang misi pasukan Kerajaan Gelgel atas perintah Raja Gelgel tahun 1465 M Dalem Batur Enggong Kresna Kepakisan untuk melumpuhkan kekuatan dan mengambil alih kekuasaan De Dukuh Mengku Tenganan karena tidak tunduk kepada kekuasaan Kerajaan Gelgel.

Setelah misi tersebut berhasil, hutan kelapa yang sangat lebat di sebelah selatan Desa Tenganan hingga ke tepi pantai diserahkan kepada pasukan perang kerajaan Gelgel dibawah komando Ki Bedolot untuk membangun benteng pertahanan perang, mengawasi antek antek De Dukuh Mengku yang belum tertangkap dan juga melindungi keamanan Kerajaan Gelgel di bagian Timur.

Pusat Benteng pertahanan perang inilah yang lambat laun berkembang menjadi desa bernama Desa Nyuhtebel. Nyuh berarti Kelapa, tebel bermakna sangat lebat. Nyuhtebel mengandung makna hamparan hutan kelapa yang sangat lebat.

Seiring perjalanan waktun semenjak tahun 1465 hingga masa kini, hamparan hutan kelapa yang sangat lebat mengalami alih fungsi menjadi tegalan dengan tanaman campuran kelapa, pisang, kakao, dan kayu hutan.  Ada juga yang diolah menjadi lahan sawah. Memasuki tahun 80-an hingga tahun 90-an, alih fungsi lahan tegalan kelapa meningkat.

Sejumlah penyebabnya adalah, perkembangan kepariwisataan kawasan Candidasa di era tahun 80-an. Kemudian berkembangnya usaha agribisnis peternakan ayam ras dan babi di desa Nyuhtebel. Kedua sektor usaha tersebut telah mencaplok lahan tegalan kelapa puluhan hektar beralih fungsi menjadi sarana wisata dan juga kandang ternak.

Ribuan pohon kelapa lokal produktif menjadi korban penebangan dimanfaatkan untuk bahan bangunan wisata dan kandang ternak. Dampak ikutan perkembangan industri pariwisata Candidasa mendorong percepatan pembangunan sektor perumahan di desa Nyuhtebel yang juga banyak mencaplok lahan tegalan kelapa dan penebangan pohon kelapa produktif dijadikan bahan bangunan.

Memasuki era 90-an, potensi tegalan kelapa Nyuhtebel hanya tinggal 50 persen dari era sebelum 80-an. Upaya rehabilitasi juga dilakukan oleh pemerintah melalui proyek (PRPTE) tanaman perkebunan. Tujuan proyek untuk meningkatkan produksi kelapa melalui intensifikasi, perluasan tanam tidak banyak dapat dilakukan karena lahan sudah sangat terbatas.

Kini tegalan kelapa di Desa Nyuhtebel keberadaanya sekitar 153 hektar. Populasi tanaman kelapa berbuah berkisar 9.120 pohon, tanaman kelapa umur bawah lima tahun/belum berbuah sekitar 1.530 pohon.

Panen kelapa di desa Nyuhtebel dilakukan sebanyak 6 kali dalam setahun.  Panen tidak dilakukan serentak, tetapi bertahap sesuai kemampuan kelompok pemanen kelapa disebut “sekaa penek nyuh”.

Hasil panen kelapa setiap kali panen dapat mencapai 63.840 kelapa butiran. Atau dalam kurun waktu setahun desa Nyuhtebel dapat menghasilkan 383.040 kelapa butiran.

Harga kelapa butiran di tingkat pengepul berfluktuasi antara Rp 1.500 – Rp2500 perbutir. Potensi pendapatan desa Nyuhtebel dari buah kelapa mencapai Rp574.560.000 setahun.

 

Pengolahan lengis nyuh

Desa Nyuhtebel banyak menghasilkan buah kelapa butiran. Sebelum era 80-an, tingkat hasil kelapa lokal Nyuhtebel mencapai 4 kali lipat dari sekarang. Di samping karena populasi pohon kelapa berbuah/produktif masih tinggi, juga karena rerata hasil per pohon relatif lebih tinggi dari saat ini.

Rerata hasil kelapa lokal Nyuhtebel saat ini 14 butir per pohon produktif.  Dari jumlah pohon kelapa produktif yang ada saat ini diperoleh sekitar 63.840 butir setiap panen. Panen kelapa dilakukan antara 52-60 hari sekali.

Sebelum era 80-an, hasil buah kelapa butiran di desa Nyuhtebel diolah menjadi kopra dan juga minyak goreng skala rumah tangga. Setelah tahun 90-an, bisnis kelapa butiran mulai marak.

Para pengupul kelapa berlomba lomba untuk dapat membeli kelapa petani saat panen. Harga kelapa butiran menjadi sangat fluktuatif. Hari ini harga kelapa butiran di Nyuhtebel sangat anjlok mencapai Rp 800 per butir. Harga paling tinggi yang pernah dicapai Rp 4200 perbutir.

Pada saat harga kelapa anjlok, banyak petani yang tertarik untuk mengolah buah kelapanya menjadi minyak goreng.  Alasan yang dikemukakan, jika harga anjlok panen kelapa sering molor karena juru petik kelapa kurang bersemangat. Akibatnya buah kelapa tua di pohon jatuh sendirinya.  Buah kelapa yang sudah sangat matang/tua di pohon dipercaya petani akan banyak menghasilkan minyak jika diolah.

Pengolahan kelapa butiran menjadi minyak dilakukan oleh petani secara tradisional. Hasil rata rata dari 25 butir kelapa dapat diperoleh minyak goreng 3 liter. Harga lokal untuk 3 liter minyak goreng kelapa lokal Nyuhtebel mencapai Rp 50.000

Jika suatu saat harga kelapa butiran lebih dari Rp 2.000 per butir, maka petani akan memilih menjual kelapanya dalam bentuk kelapa butiran. Selain itu, petani akan mempercepat panen buah kelapanya untuk cepat dapat uang.

Teknik tradisional pengolahan lengis nyuh

Petani Desa Nyuhtebel memanfaatkan buah kelapa yang sudah tua untuk membuat minyak goreng dari sejak dahulu hingga sekarang. Teknik membuat minyak kelapa di Nyuhtebel dilakukan secara tradisional dan turun temurun. Teknik yang diterapkan sangat sederhana, mudah, dan murah.

Langkah pertama, petani memilih buah kelapa yang tua yang banyak mengandung minyak. Daging kelapa dipisahkan dari batoknya lalu dicuci bersih dan diparut.

Hasil parutan daging kelapa dibuat santan dengan menggunakan air hangat secukupnya. Santan hasil pemerasan pertama ditambahkan dengan hasil pemerasan kedua kali.  Selanjutnya santan tersebut didiamkan di baskom.

Di dalam baskom, santan kelapa akan mengalami fermentasi. Setelah kurang lebih satu jam akan tampak di baskom santan yang mengandung minyak bergerak menuju lapisan permukaan sedangkan air santan terdesak turun ke lapisan  di bawahnya. Santan kental yang berada di atas lapisan air ini disebut “santan prima”. Santan prima akan menghasilkan minyak kurang lebih setelah sepuluh jam didiamkan di dalam baskom.

Ada juga petani yang menggunakan teknik fermentasi lanjutan yaitu: santan prima dipanen/diambil/ dipisahkan dengan airnya, lalu ditempatkan pada baskom lain. Selanjutnya santan prima ini dicampur dengan air kelapa bersih sebanyak 10 persen. Diaduk aduk supaya air kelapa larut di santan selanjutnya didiamkan di baskom.

Setelah kurang lebih 8 jam akan terjadi reaksi fermentasi yaitu: air akan terpisah dari minyak. Lapisan air berada di bawah lapisan minyak, bagian padatan/zat padat berminyak (disebut blondo, atau telengis dalam bahasa Bali) terdesak ke lapisan atas minyak, sehingga di dalam baskom tampak lapisan minyak berada di antara lapisan air dan lapisan blondo. Reaksi fermentasi ini terus terjadi berkelanjutan sehingga lapisan minyak tumbuh semakin tebal. Setelah 24 jam lebih kemudian lapisan minyak  dapat dipanen untuk diolah lebih lanjut menjadi minyak goreng.

Minyak yang sudah dipanen kadang tercampur air dan blondo, oleh karena itu perlu dibersihkan. Petani ada yang memanfaatkan kertas filter untuk memisahkan blondo yang tercampur di minyak, ada juga yang menggunakan teknik pemanasan.

Tujuannya sama yaitu supaya minyak tidak tengik. Untuk minyak yang dipanasi dengan cara digoreng terkadang petani menambahkan daun pandan ke dalamnya untuk membuat bau yang harum.

The post Sejarah dan Keunikan Kelapa di Desa Nyuhtebel appeared first on BaleBengong.

Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional

Remaja berusia 13 sampai 16 tahun dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek ini.

Youth Jury Board Minikino Film Week 4

Minikino Film Week (MFW) di bawah naungan yayasan Kino Media tahun ini masuk usia keempat. Sejak awal festival film pendek internasional ini dirancang sebagai festival yang masuk dalam keseharian masyarakat, membuka kesempatan pada semua orang mengalami suasana menonton bersama dan sekaligus mengajak untuk bersikap lebih kritis terhadap apa yang ditonton.

Tahun ini Minikino mengawali rangkaian kegiatan pra-festival dengan mengadakan pelatihan selama tiga hari penuh di Omah Apik, Pejeng, Gianyar. Pelatihan bertajuk ‘MFW 4 Youth Jury Camp 2018’ telah dilangsungkan pada tanggal 6-8 Juli 2018. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi remaja berusia 13 sampai 16 tahun untuk dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek berskala internasional ini.

Jalur pendaftaran MFW4 Youth Jury Camp 2018 dibagi dua yaitu, jalur pendaftaran umum dan jalur beasiswa. Untuk jalur umum, pendaftaran dipromosikan di Indonesia dan Asia Tenggara melalui website dan media sosial, dengan persyaratan biaya pendaftaran. Sedangkan jalur beasiswa hanya dibatasi untuk 2 (dua) remaja yang memiliki Nomor Induk Siswa Nasional dari wilayah Bali. Penerima beasiswa mendapatkan fasilitas bebas biaya sepenuhnya, namun melalui proses wawancara dan proses seleksi yang ketat.

“Ini merupakan kesempatan yang istimewa dan bergengsi untuk para remaja. Mereka mendapat pelatihan khusus dan diberikan peran yang penting secara aktif menilai film-film pendek kategori anak, remaja dan keluarga. Film-film pendek yang dinilai oleh para juri remaja adalah yang sudah lolos resmi dari tim seleksi Minikino. Di dalam pelatihan ini mereka menentukan 5 nominasi internasional untuk Youth Jury Award 2018,” kata direktur festival Minikino Film Week 4, Edo Wulia.

Sebanyak 6 (enam) remaja dari Bali, Jakarta, dan Tangerang berhasil menyelesaikan rangkaian pelatihan intensif tersebut dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari festival sebagai MFW 4 Youth Jury Board. Mereka adalah Sophie Louisa (15) dan Keane Levia Koenathallah (16) dari Tangerang Selatan, Natasya Arya Pusparani (15) dari Jakarta Selatan, Seika Cintanya Sanger (15) dari Tabanan, serta Ni Ketut Manis (15) dan I Putu Purnama Putra (15) dari Karangasem.

Di hari pertama MFW4 Youth Jury Camp 2018, peserta dibekali dengan sejumlah materi tentang sejarah film dunia termasuk pengaruhnya di Indonesia, tata-cara mendengarkan dan mengemukakan pendapat, mengenal elemen gambar dan suara dalam film, serta kreatifitas tutur visual. Pelatihan ini langsung disampaikan oleh dewan komite Minikino Film Week 2018, yaitu Direktur Festival Edo Wulia, Direktur Program Fransiska Prihadi, Direktur Eksekutif I Made Suarbawa, serta fotografer resmi untuk festival, Syafiudin Vifick ‘Bolang’ yang secara profesional telah dikenal luas di Indonesia.

Modul-modul yang disiapkan dan diberikan para pengajar dalam pelatihan ini memiliki peran besar. Membantu para juri remaja menyaring puluhan film pendek internasional yang ditonton dan dibahas secara mendalam menjadi 5 (lima) nominasi 2018 Youth Jury Award. Keputusan ini dihasilkan melalui metode diskusi yang serius, proses mempertanggungjawabkan pendapat dan berujung pada mufakat.

Proses ini menciptakan tidak hanya sebuah proses penjurian yang kritis, namun juga generasi muda yang memiliki kualitas kepemimpinan yang sekaligus memiliki kepekaan untuk melihat, mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan kemampuan mencari titik temu untuk kepentingan bersama.

I Putu Purnama Putra, salah satu peserta dari Karangasem yang mengikuti MFW4 Youth Jury Camp lewat jalur beasiswa berkata bahwa ia digembleng banyak hal selama 3 hari tersebut. “Awalnya saya kaget, ternyata lolos seleksi beasiswa. Saya agak jarang nonton film, dan kalau pun menonton hanya menikmati saja. Tapi sekarang saya juga ikut menilai apakah tontonan itu bagus atau tidak.”

Natasya Arya Pusparani yang berasal dari Jakarta Selatan juga menyatakan bahwa MFW4 Youth Jury Camp ini merupakan sebuah pengalaman baru baginya. “Sebenarnya saya tipe orang yang lebih suka mendengarkan (pendapat orang lain). Tapi di MFW4 Youth Jury Camp ini saya dibimbing para mentor untuk berani mengemukakan pendapat. Pengalaman yang sangat bagus buat saya. Suasananya juga sangat bersahabat.” Ungkapnya.

Proses penjurian dalam Youth Jury Camp 2018 berlangsung lancar dan mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun semuanya masih akan berlanjut. Pada saat festival MFW 4 di Bali, tanggal 6 sampai 13 Oktober 2018 mendatang, para juri remaja tingkat internasional ini akan melanjutkan kembali diskusi mereka untuk menentukan 1(satu) peraih penghargaan prestisius 2018 MFW Youth Jury Award. Bahkan seluruh komite festival ikut penasaran menunggu keputusan mereka. Untuk info lebih lanjut bisa diikuti di tautan link minikino.org/filmweek

Levia (16) dalam sesi review MFW4 Youth Jury Camp 2018
Levia (16) mengemukakan pendapatnya tentang film yang baru saja ditonton.(foto: Vifick Bolang)
Hari kedua MFW4 Youth Jury Camp 2018
Para peserta menonton film pendek calon nominasi Youth Jury Award Minikino Film Week 4. (foto: Vifick Bolang)
Edo Wulia (Direktur Festival Minikino Film Week) menjelaskan materi sejarah film dunia. (foto: Vifick Bolang)
Diskusi bersama, saling mendengarkan dan berpendapat untuk mencapai mufakat.(foto: minikino)

The post Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional appeared first on BaleBengong.

Guliang Kangin Mengubah Pola Pikir tentang Pariwisata

Bendesa Adat Guliang Kangin, Ngakan Putu Suarsana, menceritakan terbangunnya Desa Wisata Guliang Kangin saat menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian Unud, Sabtu, (26/5).

Pada awalnya, ide I Ketut Sediyasa ditolak masyarakat.

Pada 2012 lalu, I Ketut Sediayasa mempunyai ide untuk mengembangkan tempat kelahirannya, Desa Adat Guliang Kangin, Desa Tamanbali, Bangli menjadi destinasi wisata. I Ketut Sediayasa menyampaikan ide itu pada forum adat.

Miris, idenya ditolak oleh masyarakat.

Meski ditolak, ide I Ketut Sediayasa disambut baik oleh beberapa tokoh masyarakat. Mereka menyadari ide yang ditawarkannya itu bukan tanpa alasan. Berbekal pengalaman dibidang travel agent, Sediayasa telah mengunjungi berbagai daerah yang berkembang menjadi destinasi wisata.

Dampak yang dilihatnya, daerah-daerah tersebut mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Atas dasar inilah I Ketut Sediayasa berkeinginan untuk mengembangkan tanah kelahirannya menjadi salah satu destinasi wisata di Pulau Dewata.

“Kebetulan beliau sering mengantarkan tamu. Kesimpulan yang beliau dapat, di manapun daerah berkembang menjadi daerah pariwisata, beliau melihat ada perkembangan ekonomi yang lumayan bagus,” kata Bendesa Adat Guliang Kangin, Ngakan Putu Suarsana.

Ngakan mengisahkan perjalanan terbentuknya Desa Wisata Guliang Kangin ketika menerima kunjungan mahasiswa Program Studi Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian Unud, Sabtu, (26/5).

Suarsana menilai wajar apabila masyarakat pada awalnya menolak adanya gagasan membangun desa wisata itu. Secara umum masyarakat memang belum pernah melihat wisatawan berkunjung ke Desa Adat Guliang Kangin, terlebih berinteraksi secara langsung dengan mereka. Ia menilai hal inilah yang menyebabkan ide membangun desa wisata itu sempat ditolak oleh masyarakat.

“Mereka pesimis itu bisa dilakukan,” kisah Suarsana.

Sikap pesimis masyarakat ini juga didasari dari keberadaan Desa Adat Guliang Kangin yang lokasinya berada di daerah pinggiran. Letaknya berbatasan langsung dengan Kabupaten Gianyar di sebelah selatan dan Kabupaten Klungkung di sebelah timur sehingga tidak dilalui oleh jalan raya.

Mengubah ‘Mindset’

Guna menampung ide dari I Ketut Sediayasa, para tokoh masyarakat melakukan berbagai upaya. Harapannya, ide itu dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Selama kurung waktu enam bulan, masyarakat selalu diajak untuk berdiskusi mengenai pariwisata.

Diskusi itu dilakukan diberbagai kegiatan seperti paruman adat, diskusi kelompok maupun diskusi kecil, sampai pada diskusi melalui jalur perorangan. Diskusi itu menitikberatkan pada kelebihan, kekurangan dan permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan desa wisata.

“Akhirnya sekitar bulan September (2012) kita sepakat bahwa mengambil peran dalam dunia pariwisata atau menjadi destinasi pariwisata,” terang Suarsana.

Suarsana menceritakan dalam upaya mengubah pola pikir masyarakat mengenai pariwisata memang tidak mudah. Berbagai upaya dikerahkan untuk melakukan proses tersebut. Bagi Suarsana, forum-forum adat memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat.

Desa Adat Guliang Kangin memiliki jadwal paruman adat setiap sebulan sekali. Paruman adat ini biasanya dipakai untuk melaksanakan berbagai pembahasan mengenai adat. Lewat kesempatan itu Suarsana dan tokoh masyarakat lain selalu menyelipkan pembahasan materi mengenai pariwisata dan desa wisata. Selain itu, inisiator dalam hal ini I Ketut Sediayasa selalu diundang dalam forum adat untuk memparkan ide-ide mengenai desa wisata tersebut.

Pada paruman adat biasanya hanya dihadiri oleh laki-laki. Meski demikian Suarsana dan para tokoh masyarakat tidak kehabisan ide. Demi edukasi  sampai kepada para perempuan, mereka melakukannya melalui forum Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

“Sebelum odalan ada pesangkepan (rapat, red) istri namanya, di sana juga kita susupi materi ini setengah jam,” tutur Suarsana.

Tidak hanya itu, untuk mengedukasi kalangan generasi muda, Suarsana melakukannya lewat forum rapat Seka Teruna-Teruni dan pasraman remaja. Sedangkan untuk anak-anak diedukasi melalui pasraman anak-anak. “Nah untuk anak-anak selain kita masuk dari situ, kita juga masuk melalui sekolah,” tuturnya.

Melalui jalan ini, menurut Suarsana telah terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan desa wisata yang sudah sampai 80 persen. Dicontohkan Suarsana, masyarakat selalu aktif dalam kegiatan wisata seperti ada penjemputan tamu di Pelabuhan Benoa, pelibatan dalam berbagai atraksi dan berbagai hal lainnya.

“Kalau ada wisatawan yang mengambil paket dari penjemputan di Benoa, kita bisa kerahkan masyarakat sampai 60 orang. Dari penari, tukang gambel dan sebagainya,” terang Suarsana.

Meski demikian, Suarsana juga tidak menampik masih ada masyarakat yang belum bisa disentuh dengan edukasi yang demikian.

Lebih lanjut Suarsana menilai, meski masih ada masyarakat yang belum berpartisipasi dalam kegiatan desa wisata dirinya tetap bersyukur. Ia berkaca dari daerah lain yang masyarakatnya enggan berpartisipasi biasanya mengganggu aktivitas wisata. Kejadian semacam ini, menurut Suarsana, tidak terjadi di Desa Wisata Guliang Kangin.

Fokus pada Atraksi

Meski telah disetujui oleh masyarakat untuk terjun ke dunia pariwisata, nyatanya tidak mudah bagi Desa Adat Guliang Kangin untuk mengembangkan diri.

Pada tahap awal, mereka belum menemukan hal unik yang harus ‘dijual’. Kawasan Desa Adat Guliang Kangin tidak memiliki sebuah view yang bagus dan unik, pun sesuatu yang menantang untuk ditawarkan kepada wisatawan. Mereka bercermin pada desa wisata lain seperti Penglipuran yang mempunyai ciri khasnya yang memikat.

Namun, di tangan I Ketut Sediayasa, hal semacam ini dapat diselesaikan. Seperti yang diceritakan Suarsana, Sediayasa mengonsepkan pengembangkan wisata Desa Adat Guliang Kangin bertumpu pada aktivitas atau atraksi. Kegiatan metekap, masak, yoga, dan kini sudah bertambah dengan melukat menjadi atraksi andalan yang ditawarkan Desa Adat Guliang Kangin.

“Yang paling laris itu (atraksi) masak. Wisatawan, terutama Eropa, suka sekali kegiatan memasak seperti membuat klepon. lawar dan lain sebagainya,” tambah Suarsana.

“Terbangunnya desa wisata Guliang Kangin memang muncul dari masyarakat dan hampir tidak ada inisiasi dari pemerintah. Oleh karena itu, kami sering disebut sebagai community based tourism,” tuturnya lagi.

Diakui Pemerintah

Bukan hanya itu, kendala berikutnya dalam pengembangan desa wisata yakni masyarakat kebingungan ketika sudah terdapat wisatawan yang berkunjung. Dilihat oleh Suarsana, hal itu dikarenakan masyarakat belum mengerti mengenai standar operasional prosedur (SOP) atau tata cara menerima wisatawan dengan baik. Ditambah lagi masyarakat masih banyak yang belum fasih dalam berbahasa asing serta belum mengetahui mengenai adanya Sapta Pesona dalam pariwisata.

“Atas dasar inilah kita mulai menghubungi Dinas Pariwisata (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli, red) agar mendapat pembinaaan. Kita juga melakukan kursus bahasa Inggris dengan modal sendiri,” kata Suarsana.

Melalui jalan itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli membina Desa Adat Guliang Kangin dalam pengembangan kelompok sadar wisata (pokdarwis). Atas dasar ini pula Desa Adat Guliang Kangin pada akhirnya ditetapkan menjadi desa wisata berdasarkan SK Bupati Bangli. [b]

The post Guliang Kangin Mengubah Pola Pikir tentang Pariwisata appeared first on BaleBengong.