Tag Archives: Kabar Baru

Keberpihakan Leila S. Chudori dalam Sastra dan Jurnalisme

Leila S. Chudori dalam salah satu panel diskusi di UWRF 2019. Foto Anggara Mahendra.

Salah satu penulis yang karyanya tidak sengaja saya temukan adalah Leila S. Chudori.

Namanya saya kenal melalui sebuah buku bersampul biru-putih yang saya temukan saat jalan-jalan di toko buku. Gambarnya ilustrasi dunia bawah laut serta sepasang kaki yang diborgol di dalamnya. Saat itu saya seperti menemukan apa yang saya cari.

Melalui Laut Bercerita, saya kembali membayangkan dan merasakan sedemikian tegang dan ngerinya kondisi negara di bawah pemimpin yang otoriter selama puluhan tahun. Leila mengajak pembacanya ikut menapaki jejak pergerakan mahasiswa melawan tirani kekuasaan saat itu.

Nilai-nilai tentang hak asasi manusia (HAM), aktivisme, dan keluarga masuk dalam buku ini dengan sangat halus dan mengalir. Berdarah-darah, ngeri, getir dan menyayat hati pada saat bersamaan.

Menurut saya, dengan rajutan ceritanya, Leila berhasil menciptakan sebuah kisah yang hidup. Bahkan selepas membaca novel setebal 379 halaman itu, saya pun dibuat sedih sejadinya. Dibuat merasa hampa.

Penulis kelahiran 12 Desember 1962 itu menulis dengan sejujurnya diri. Tidak pernah menargetkan tulisan itu untuk siapa. Anak muda, milenial atau orang tua. Senaturalnya saja. Setulus mungkin. Termasuk dalam tema HAM yang diangkat dalam dua novel karyanya, Pulang dan Laut Bercerita.

Leila tidak mau menjejali pembaca tentang HAM seperti khotbah, tapi dirangkainya melalui sebuah cerita.

“Saya tidak mau memaksakan. Sejak awal, saya ingin menulis cerita tentang Si Laut dan keluarga, dari dua sudut pandang. Dan saya tidak mau memikirkan apakah milenial akan mengerti atau tidak. Nanti malah tulisannya terlalu memaksakan untuk masuk ke dunia mereka,” ungkap Leila.

Mahasiswa dan Perlawanan

Tepat 24 September 2019, mahasiswa dan masyarakat di hampir seluruh penjuru Indonesia. Bergabung dalam gerakan solidaritas untuk menyuarakan aspirasi dan penolakan terhadap beberapa RUU yang dianggap ngawur. Misalnya revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) yang dianggap melemahkan hingga pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang dianggap menelanjangi hak dan privasi warga negara.

Ketika melihat gerakan itu, banyak masyarakat menyala lagi harapannya. Tak sedikit pula yang bersyukur bahwa mahasiswa masih turun ke jalan, tidak hanya duduk di ruang kelas.

Namun, seperti datang satu paket, di tengah harapan yang kembali menyala, terdapat fakta bahwa lima mahasiswa gugur. Tak sedikit di antaranya mengalami luka-luka akibat tindakan represif dari aparat.  

Peristiwa tersebut mengingatkan saya pada peristiwa 1998 yang menjadi latar dalam Laut Bercerita.

“Saya tidak mau mengatakan ini persis sama, tapi bahwa ada yang meninggal, iya. Bedanya dengan yang dulu, mereka diculik 22 orang, kemudian 9 orang kembali setelah melalui penyiksaan, dan yang 13 orang, tidak. Tidak jelas,” jawab Leila ketika dimintai tanggapan tentang peristiwa 98 dan gerakan solidaritas pada September lalu.

Leila saya wawancara selepas mengisi salah satu panel diskusi di Ubud Writers & Readers Festival pada 25 Oktober lalu. Dia juga menyampaikan bahwa munculnya gerakan mahasiswa seperti ini, bukan yang pertama kali.

Leila melanjutkan bahwa pada 1970-an pernah ada peristiwa yang spesifik menentang apa pun produksi negara Jepang. Kemudian ketika Perdana Menteri Jepang melakukan kunjungan ke Jakarta, saat itulah terjadi demo besar yang berujung kerusuhan pada 15 Januari 1974. Peristiwa itu dikenal dengan peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari).

“Ketika peristiwa 98 terjadi, kita semua banyak harapan, ada euforia. Bahkan negara-negara Asia yang lain, cemburu pada Indonesia karena persnya yang bebas. Di Malaysia dan Singapura, tidak sebebas kita,”  ungkap Leila mengenang peristiwa 98.

Menurut Leila, gerakan solidaritas pada September lalu, memang sudah waktunya terjadi. Namun, hal yang disayangkan olehnya adalah, tetap adanya korban berjatuhan di era yang katanya menjunjung demokrasi dan kebebasan menyuarakan aspirasi ini.

Leila melelmpar ingatannya ke Orde Baru, di mana masyarakat benar-benar dibungkam oleh pemerintah. Sehingga ketika ingin membicarakan isu-isu yang sensitif, mereka harus menggunakan metafora-metafora. 

“Di era yang seolah-olah kita menjadi bebas ini, metafora itu masih berlaku juga, sebab kita tak pernah sepenuhnya bebas. Bahkan sekarang, semua orang punya kesempatan untuk menuntut melalui beragam UU dengan pasal karet,” jawabnya.

Leila melihat bahwa pelan-pelan, negara ini akan mengarah kembali ke Orde Baru. Lalu apakah ini berarti pemerintahan Jokowi selama ini adalah kemunduran?

“Tidak sepenuhnya,” kata Leila.

Jika dijabarkan, ia menganggap kemunduran itu bisa dilihat dari beberapa hal yang sebetulnya tidak butuh kompromi. Misalnya kabinet Indonesia Maju saat ini.

“Ini ‘kan tahun terakhir kepemimpinan Jokowi di periode pertama. Saya percaya kalau diisi dengan lebih banyak profesional daripada banyak wakil dari parpol, tidak akan masalah,” tegasnya.

Leila yang dengan terbuka mengakui bahwa ia adalah pemilih Jokowi, juga menyebutkan bahwa persoalan kompetensi dalam parpol membuatnya bertanya-tanya.

“Lalu yang ketiga, tentu adalah kekecewaan banyak orang. Dengan meletakkan Prabowo sebagai Menhan (Menteri Pertahanan), adalah suatu keputusan yang tentu melahirkan banyak pertanyaan dengan sepak terjangnya dalam isu HAM. Jadi, janji presiden untuk menyelesaikan HAM di urutan pertama, itu makin jauh. Bahkan dalam pidato pelantikannya, sama sekali tidak menyebut tentang HAM. Itu membuat saya tidak heran ketika mengetahui pengumuman kabinetnya,” jelasnya.

Faktor lain yang dipandang Leila membuat kita sekarang makin mundur adalah, banyaknya Undang-Undang (UU) baru, yang berpotensi membuat orang dengan mudahnya dituntut maupun menuntut, seperti UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), kemudian ada juga UU tentang penghinaan ke pejabat, dan pasal karet lainnya. Kondisi seperti ini pada akhirnya membuat orang tidak akan bisa membedakan antara kritik dengan hinaan.

“Ini menjadi penting bagi saya sebagai penulis, tentu saja karena kemerdekaan kita untuk berbicara, berekspresi,” lanjutnya.

Lalu di mana posisi media?

Leila menjelaskan bahwa media tidak sama dengan oposisi. Media akan mengkritik kebijakan yang dianggap tidak layak dijalankan atau diciptakan. Bukan hanya pemerintah. Entah itu DPR, UU, atau peristiwa-peristiwa yang menyebabkan korban, menurutnya media harus berbicara. Sedangkan oposisi berasal dari partai. Media harus objektif. Ketika memang ada kebijakan yang bagus, maka diapresiasi juga.

Wartawan senior TEMPO ini juga memberikan keterangan bahwa meskipun ia berjalan di dua kaki, sastra dan jurnalistik, ia tidak memandang bahwa sastra hanya menjadi pelarian ketika idealismenya tak bisa disampaikan di media arus utama.

Menurutnya, TEMPO sangat terbuka dan lugas jika mengkritik. Dari segi sikap, tidak ada hal yang membedakan antara tulisannya di TEMPO atau sastra. Keduanya memiliki arah yang sama untuk membela orang yang tertindas. Hampir setiap tahun pula redaksi TEMPO dulu menulis edisi khusus di bulan September tentang keluarga korban peristiwa 1965, kemudian tahun 1998 menulis tentang keluarga yang masih berusaha mencari anggota keluarganya yang diculik.

Dalam wawancara yang beberapa kali dijeda karena ada orang ingin menemuinya, Leila dengan tegas mengatakan bahwa keberpihakan TEMPO pada kaum marjinal adalah sikap yang ia anut juga. Pembedanya hanya, di TEMPO adalah tulisan jurnalistik yang berisi fakta-fakta secara kronologis, sementara kalau fiksi atau sastra ada andil dari imajinasi, penciptaan tokoh, dan emosi, yang dapat pula membuat tokoh-tokoh itu menjadi manusia yang utuh.

“Intinya, materi yang dipresentasikan itu berbeda, tetapi sikapnya sama. Bahwa selama 28 tahun di TEMPO, sikapnya harus selalu membela jika ada orang-orang yang tertindas. Dan sebetulnya saya belajar itu dari TEMPO. Seandainya saya tidak kerja di situ, belum tentu saya menulis Pulang dan Laut Bercerita,” katanya dengan yakin.

“Minimal bagaimana cara saya mengumpulkan materi, mewawancarai orang, kemudian berempati, itu adalah sikap yang saya pelajari dari TEMPO,” tambahnya.

Seperti pada novel Pulang, itu adalah pengalaman Leila ketika pulang dari Kanada dan bertemu para eksil di Paris. Kemudian ia masuk ke TEMPO dan bertemu pula dengan orang-orang bekas tapol yang bekerja di sana. Leila merasa ada yang aneh kala itu melihat ada orang-orang Indonesia yang tidak bisa kembali ke tanah airnya.

Akhirnya tumpukan dari pengalaman-pengalaman selama Orde Baru di mana para tapol maupun keluarganya didiskriminasi itulah yang menginspirasinya melahirkan Pulang.

“Menulis, ya menulis. Bahwa tadi saya mengatakan saya kecewa, itu bukan hanya sebagai sastrawan, tetapi juga sebagai warga negara Indonesia. Walaupun bukan sebagai penulis, saya akan tetap kecewa. Apakah kebebasan berekspresi ini akan jadi lebih sempit, itu yang saya khawatirkan. Mudah-mudahan tidak. Tapi sekarang dengan tanpa kabinet seperti itu saja, ruang kita makin sempit dengan adanya UU demikian.” tutup Leila. [b]

The post Keberpihakan Leila S. Chudori dalam Sastra dan Jurnalisme appeared first on BaleBengong.

Fotografi, Sekadar Konsumsi atau Kepercayaan?

Bali antara citra fotografi dan kenyataan sesungguhnya. Ilustrasi Anton Muhajir.

Agamben menganggap fotografi adalah gambaran dari Penghakiman Terakhir.

Saya terbiasa untuk memotret hal-hal sepele yang hanya menarik bagi diri sendiri. Sebagian besar objek foto saya adalah pemandangan yang sembarang, kucing, anjing, atau orang-orang terdekat saya bersama kegiatannya.

Kadang-kadang saya memotret ranting pohon dengan latar langit karena saya senang sekali melihat pemandangan tersebut. Seringkali, saya tidak menyunting foto yang telah dihasilkan. Jadi jika foto tersebut miring atau memiliki warna yang kurang menarik, itulah yang saya tampilkan di laman media sosial saya.

Apa adanya, dan mungkin agak mengganggu bagi mereka yang paham akan estetika fotografi. Foto-foto yang saya hasilkan secara keseluruhan mungkin tidak memiliki daya pikat bagi orang lain di luar saya sendiri. Mungkin. Akan tetapi, inilah suatu hal yang, bagi saya, menarik dari fotografi itu sendiri.

Fotografi membebaskan orang yang berada di belakang jendela bidik kamera untuk memilih dan kemudian memotret apapun. Misalnya, ketika berada di meja makan yang sama, saya dan kamu bebas untuk memotret entah itu makanan yang tersaji di meja, orang yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulut, atau detail kecil seperti lalat yang hinggap di bibir mangkuk. Kita semua bebas untuk menampilkan apapun dalam foto.

Hal ini senada dengan gagasan Giorgio Agamben, seorang filsuf Italia, pada salah satu esainya dalam karyanya, Profanations (2007). Agamben beranggapan bahwa fotografi adalah gambaran dari Penghakiman Terakhir (The Last Judgement).

Dalam Penghakiman Terakhir, ketika kerumunan manusia terhampar di hadapan Yang Kudus, Ia tentu tidak menghakimi semuanya sekaligus. Penghakiman itu akan dilakukan secara satu per satu; Ia memilih satu manusia di antara sekian banyak dalam satu waktu.

Sama seperti fotografi, di antara sekian banyaknya hal yang terhampar dalam suatu waktu, sang fotografer akan fokus pada satu objek dan mengabaikan hal lainnya. Dan sama seperti manusia yang akan mendapatkan kemuliaan setelah penghakiman, objek dalam foto juga akan mendapatkan “keabadian”-nya setelah dipotret. Ia akan berada dalam sebuah bingkai bernama foto, selamanya selagi foto tersebut ada. Fotografi membebaskan subjeknya untuk memulai dari mana.

Fotografi, terlepas dari definisi teknisnya untuk melukis cahaya, adalah pembekuan realitas. Ia mereproduksi suatu kenyataan yang hanya akan terjadi sekali saja. Ia mengulang apa yang secara eksistensial tidak bisa diulang kembali—hal yang hanya ada di masa lampau yang tentunya sudah kita lalui.

Ada dua hal yang kemudian bersinggungan di sini, yaitu realitas dan yang-lampau. Maka dari itu, Roland Barthes menyebut bahwa esensi atau noeme dari sebuah foto adalah “That-has-been” atau “Yang-sudah-terjadi.” Dalam Camera Lucida: Reflections of Photography (1982), filsuf Prancis ini menyebutkan bahwa sudah merupakan sebuah kepastian bahwa objek yang ada dalam sebuah foto memang benar pernah ada-di-sana. Dan sebaliknya, foto tersebutlah yang bisa menjadi sarana pembuktiannya.

Saya tentu punya sosok fotografer profesional yang saya favoritkan. Akan tetapi, saya juga begitu senang melihat hasil karya para fotografer amatir. Mereka dapat menampilkan sebuah realitas dengan apa adanya. Foto yang mereka hasilkan terasa jujur dan tanpa “topeng” apapun sebab memang begitulah kenyataannya. Kekaburan objek, pencahayaan yang kadang tidak memadai, garis-garis lurus yang tampak miring, ketidaksiapan objek untuk difoto, dan lain sebagainya. Keteledoran-keteledoran ini yang membuat fotografer amatir justru semakin dekat dengan noeme fotografi itu sendiri.

Keamatiran dalam memotret dan menyunting, atau bahkan ketiadaan penyuntingan dalam fotografi, malah membuat sebuah foto menjadi menarik di mata saya. Ini menyebabkan tidak adanya kebimbangan atas realitas objek dalam foto tersebut. Foto tersebut sederhana, tanpa tipuan, dan tanpa “riasan” apapun.

ustru bagi saya inilah ihwal yang paling sulit dalam fotografi: memperlihatkan apa yang benar-benar terjadi tanpa harus bergantung pada penyuntingan dan properti pemercantik foto lainnya. Walaupun dalam dunia fotografi profesional penyuntingan mesti dilakukan untuk menambah nilai estetika dan bahkan penekanan makna yang ingin disampaikan melalui sebuah foto. Dan bagi saya, hal itu pun sama sekali tidak ada salahnya.

Punggawa Bali tempo doeloe

Napak Tilas

Album foto keluarga masih tersimpan rapi dalam lemari ruang tengah rumah saya. Foto pernikahan papa dan mama, foto telanjang saya dan kakak saya saat bayi, foto rumah saya yang waktu itu sedang dibangun, foto anjing peliharaan saya, foto pentas tari saya saat masih duduk di taman kanak-kanak, dan foto-foto lainnya, semuanya masih tertambat dengan baik.

Dengan melihat foto-foto tersebut, saya bisa melakukan napak tilas perjalanan kehidupan saya dan keluarga. Saya percaya bahwa kami pernah ada di situ, melakukan itu, di waktu itu, bersama orang-orang itu. Saya melihat foto-foto tersebut untuk percaya pada Yang-sudah-terjadi. Dengan begitu, secara tidak langsung saya percaya terhadap foto tersebut. Inilah salah satu fungsi penting dari fotografi bagi saya: menciptakan rasa percaya.

Akan tetapi, kini fotografi sudah menjadi suatu hal yang begitu biasa, bahkan lebih banal daripada kegiatan foto-foto untuk dokumentasi keluarga. Sekarang kamera bukanlah barang mewah sebab hampir setiap ponsel pintar kita dilengkapi dengan fitur kamera. Kita bisa memotret apapun, kapanpun, dimanapun, sebanyak apapun yang kita mau.

Banalnya fotografi juga didukung oleh adanya sosial media. Sebuah foto kini tidak dibuat untuk memperlihatkan Yang-sudah-terjadi secara gamblang sebab ia dapat direkayasa dengan mudah. Contohnya filter-filter pada aplikasi Snapchat dan fitur Instastory pada aplikasi Instagram. Bisa jadi saya memiliki wajahmu dan kamu memiliki wajah saya dalam satu bingkai. Di waktu lain, bisa jadi saya punya telinga dan hidung anjing.

Barthes menyebut bahwa “apa yang menjadi karakter dari masyarakat maju adalah bahwa mereka kini mengonsumsi gambar dan tidak lagi, seperti masyarakat di masa lalu; percaya.” Nah, kalau begini, Barthes tampak seperti seorang kakek yang merasa bahwa kehidupan generasinya adalah bentuk kehidupan yang terbaik dan karenanya harus dicontoh.

Akan tetapi, untuk argumennya soal konsumsi gambar, saya mau tidak mau harus setuju. Pasalnya, kini masyarakat semakin dimudahkan dengan adanya media Instagram. Di sana, kita bisa berbagi foto dan video apapun, dan karenanya juga mengonsumsinya. Lingkarannya berputar pada produksi dan konsumsi. Walaupun begitu, saya pikir, hal tersebut tidak bisa dikatakan seratus persen salah. Justru Instagram memperlihatkan banyak imaji-imaji yang segar, meski kita dibuat untuk belajar menelaah foto mana yang bisa dipercaya.

Terlepas dari itu, budaya Instagram seringkali membuat saya penat lalu bertanya-tanya, apa motif seseorang dalam memotret, ya? Apakah engagement yang tinggi? Hobi? Cari uang? Atau hanya sekadar memotret saja? Apapun itu, kepenatan saya seringkali berujung pada kegiatan berjalan-jalan dan memotret apapun yang menarik di depan saya.

Menjadi flaneur—seseorang yang keluyuran tanpa tujuan yang pasti—dan memotret apapun yang tersedia di depan mata, saya merasa bebas dan bisa belajar menelaah sekitar. Kini hal tersebut bisa dilakukan semua orang; semua orang bisa menjadi fotografer. Perkara bagus atau tidaknya adalah masalah selera sebab kembali lagi, kitalah pemegang otoritas dalam fotografi. Seperti kata Agamben, kita sebagai subjek dalam fotografi adalah Yang Kudus dalam Penghakiman Terakhir!

Maka dari itu, banalnya fotografi justru bisa menjelma momentum bagi siapapun untuk belajar. Bagi saya, para fotografer yang tengah belajar, mereka yang bisa disebut sebagai amatir, adalah yang secara tidak langsung menawarkan kejujuran dalam karyanya. Itu yang menjadi nilai plus mereka dibanding fotografer profesional. Lewat foto-fotonya, mereka tidak akan membuat kita susah payah untuk percaya pada Yang-sudah-terjadi. Dengan begitu, setidaknya kita tidak akan menjadi sepesimis Barthes; masih ada alasan bagi kita untuk tetap percaya pada kekuatan sebuah foto. [b]

The post Fotografi, Sekadar Konsumsi atau Kepercayaan? appeared first on BaleBengong.

TPST 3R Sekar Tanjung, Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

TPST 3R Sekar Tanjung

Sampai saat ini sampah masih menjadi permasalahan rumit.

Sampah yang terus dibuang hingga menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) justru menimbulkan masalah baru. Antara lain kebakaran, bau, sarang penyakit, tempat yang banyak lalat serta mencemari lingkungan.

Padahal, jika terkelola dengan baik, hanya sedikit sampah yang perlu dibuang ke TPA. Sampah yang terkelola justru dapat menguntungkan dan jadi uang. Kita telah menyia-nyiakan potensi sampah yang sedemikian besarnya.

Tempat pengelolaan sampah terpadu reuse, reduce, recycle (TPST 3R) Sekar Tanjung yang terletak di Sanur Kauh, Denpasar menjawab permasalahan sampah tersebut.

Sanur merupakan salah salah satu kawasan pariwisata di Bali. Tentunya sampah bisa menjadi momok jika dibuang sembarangan atau diletakkan di pinggir jalan dan tidak terangkut.

Namun, dengan diterapkannya sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sampah sudah terkelola dari hulu bukan hilir lagi. Masyarakat diminta memisahkan sampahnya. Mereka mendapatkan dua karung untuk sampah organik dan anorganik.

Masyarakat juga diedukasi secara rutin agar bersedia memisahkan sampah. Kendaraan pengangkut sampah disediakan dan mengangkut sampah setiap hari secara rutin dalam bak terpisah.

DI TPST 3R Sekar Tanjung terdapat kolaborasi antara desa dinas dan desa adat serta pemangku kepentingan lain yang terkait untuk membuat Program Desa Kedas. Sampah yang organik dicacah menjadi kompos dan makanan ternak. Kemudian yang anorganik seperti botol plastik, logam, kardus dijual kembali menghasilkan uang sehingga hanya sedikit sampah yang dibuang ke TPA.

Sistem ini menjadi solusi terhadap masalah sampah yang selama ini tidak terkelola dengan baik. Karena, sampah sebenarnya menguntungkan bukan merugikan. TPST juga tidak membuat bau yang mengganggu masyarakat sekitar. Bahkan, lalat pun tidak ada.

Salah satu pengelola TPST Sekar Tanjung Sila Dharma menceritakan, pada awalnya memang pengelola perlu berjuang mengedukasi masyarakat untuk memisahkan sampahnya. Mereka bahkan berjuang juga agar masyarakat bersedia menerima keberadaan TPST.

Semula masyarakat mengira kalau di wilayahnya ada TPS, maka akan bau dan mengganggu kawasan sekitar. Pengelola pun terus menerus melakukan edukasi dan menjanjikan tidak akan ada bau. Lokasi juga akan tetap bersih. Kalau kotor silakan diusir.

Setelah mendapatkan pemahaman semacam itu, barulah masyarakat mau menerima keberadaan TPST ini. Sekarang terbukti TPST tidak bau dan bersih. Bahkan ke depannya bisa menjadi sarana belajar bagi daerah lainnya maupun mahasiswa yang mau meneliti tentang persampahan.

Ke depanya kita harus mampu mengelola sampah kita yang menguntungkan secara ekonomis. Jangan justru dibuang ke TPA hingga menggunung. Apalagi kapasitas TPA Suwung saat ini sudah berkurang karena akan ditata peruntukannya.

Marilah kita bersama-sama mengelola sampah menjadi uang. Bahkan di setiap desa harus dikembangkan TPST 3R agar sampah dapat terkelola dengan baik. Jadilah bagian dari solusi bukan polusi, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. [b]

The post TPST 3R Sekar Tanjung, Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat appeared first on BaleBengong.

Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian [3]

Ilustrasi/Dok. I Kadek Agus Juniantara

Sang Ruh membersihkan diri di Pancaka Tirtha. Setelahnya, konon warnanya menjadi putih keperakan. Shiwa yang memiliki otoritas atas orang mati memerintahkan agar sang Ruh dijemput. Pergilah para bidadara bidadari itu menjemput sang Ruh. Mereka terbang di langit.

Barisan kober, umbul-umbul, gong, rebab, berjejer hendak menjemput sang Ruh. Di barisan belakang ada bidadari yang makidung dengan khusuk. Di dunia ini, manusia yang biasanya menjemput para dewata dengan cara demikian. Tapi di alam dewa, justru Ruh manusia yang dijemput dengan cara yang hampir sama. Semua itu didapat bukanlah dengan cara yang mudah. Ada syaratnya. Syaratnya adalah “sukirti mwang susatyeng panakya (berbuat baik dan setia sejak dari dalam pikiran).

Sang Ruh yang merasa tersanjung karena telah dijemput oleh para penghuni Isana Loka lalu berkata, “Hamba sungguh beruntung, meskipun hamba tidak berhasil memahami isi Aji Palayon, tapi hamba mendapat perlakuan istimewa.”

Seorang dewata menjawab, “Untuk mendapatkan perlakuan istimewa dari para dewata, tidaklah mesti engkau memahami ajaran Granta Bolong. Cukuplah berbuat baik, dan sungguh-sungguh berbakti.”

Menurut Aji Palayon, ternyata ada ajaran yang bisa dipelajari agar diperlakukan istimewa oleh para dewata. Ajaran itu bernama Granta Bolong. Apakah yang dimaksud dengan ajaran Granta Bolong? Sulit mencari teks lontar dengan judul itu. Tapi saya agak sedikit lega, karena dalam terjemahan Aji Palayon, Granta Bolong disebut dengan nama berbeda yakni Kuranta Bolong. Nama yang belakangan, lebih familiar dari yang di depan. Sebuah teks, wajar adanya memiliki nama yang berbeda.

Berdasarkan penelusuran singkat, ada beberapa naskah yang memuat Kuranta Bolong. Judulnya pun beraneka, ada yang disebut Usadha Kuranta Bolong, Usadha Kuranta Bolong Kalimosadha, Tutur Panglukatan Kuranta Bolong, Tutur Kuranta Bolong, Kaweruhan Kuranta Bolong, dan Kuranta Bolong Usadhaning Rare.

Manakah Kuranta Bolong yang dimaksudkan oleh Aji Palayon? Dari sekian judul, saya mengeliminasi judul-judul yang berisi kata Usadha karena berarti pengobatan, dan sangat kecil kemungkinan isinya yang dimaksudkan oleh Aji Palayon. Saya memilih satu lontar dengan judul Tutur Kuranta Bolong. Berdasarkan judulnya, tampaknya teks inilah yang menjanjikan.

Pada bagian awal Tutur Kuranta Bolong, disebutkan bahwa lontar inilah yang boleh dipakai oleh orang yang sedang mataki-taki atau bersiap-siap. Untuk apa? Ya tentu saja untuk mengetahui peleburan yang utama (wruh ring kapralinan uttama). Melebur adalah sebutan lain untuk mati. Dengan kata lain, Tutur Kuranta Bolong boleh dibaca oleh mereka yang ingin menyiapkan kematian. Apakah ada jaminan persiapan itu akan sukses? Silahkan tanyakan kepada mereka yang sudah pernah mati, lalu hidup kembali. Siapa mereka? Para Dwijati.

Sang Ruh naik ke atas tandu. Ada dua Kala yang datang dan membantu menggotong tandu itu. Sang Ruh dibawa ke Isana Loka. Di Isana Loka, sang Ruh dimandikan di sebuah balai di depan Sawarga. Sawarga maksudnya Surga. Sambil mandi, didoakan oleh para Resi surga. Mandi saja didoakan, bayangkan betapa suci nanti hasil mandi itu. Tapi memang, kalau rajin baca-baca lontar ada beberapa mantra yang bisa diucapkan saat akan mandi.

Mandi pun selesai. Sang Ruh dituntun masuk ke sebuah gerbang yang berhiaskan bintang-bintang. Tanpa cela tempat itu. Di dalam tempat itu seluruh keluarga yang telah mendahului mati menunggu sang Ruh.

Tidak terkecuali para dewata juga ada di sana. Sang Ruh ingin tahu, di mana sesungguhnya istana Dewa Asmara. Dia bertanya kepada para dewata juga seluruh keluarga yang hadir. Mereka menjawab, “Sepuluh Nalika jauhnya dari sini. Tapi sekarang bukanlah saatnya ke sana, sebab Sang Hyang Shiwa akan datang.” Satu Nalika, konon adalah dua puluh empat menit jarak tempuh. Jadi dari tempat Ruh itu berada, perlu waktu dua ratus empat puluh menit untuk sampai ke istana Dewa Asmara. Berapa jaraknya dari Bumi? Mari kita cari tahu nanti.

Dengan tandu berwarna putih dan diiringi gambelan juga kekidungan, Shiwa datang melayang dari langit. Segala puja dan puji dikumandangkan oleh para Ruh dan dewata yang hadir. Berbagai nama Shiwa dielu-elukan. Sang Hyang Ishwara namanya saat memendarkan cahaya putih. Mahesora saat memendarkan cahaya merah muda. Brahma namanya saat bercahaya merah.

Rudra namanya saat bercahaya jingga. Mahadewa saat kuning. Sangkara saat hijau. Wisnu saat hitam. Sambhu saat abu-abu. Sridhanta saat memendarkan cahaya yang tidak panas. Sang Hyang Guru saat bersinar membuat seluruh pikiran manusia cemerlang. Bherawa namanya saat melebur segala kegelapan dan keakuan manusia.

Itulah beberapa nama-nama Shiwa. Menurut sumbernya, Shiwa memiliki seribu macam sebutan. Aji Palayon hanya menyebutkan beberapa. Shiwa konon berstana di langit. Tepatnya pada sekuntum teratai. Teratai itu berakarkan tanah, sedangkan bunga dan kelopaknya adalah langit. Di manakah tangkainya? Tangkainya adalah udara yang menghubungkan tanah dengan langit. Udara yang mengubungkan itu disebut embang. Embang dapat berarti jarak yang kosong. Jarak tidaklah memisahkan, tapi menghubungkan.

Sang Ruh menghadap Shiwa di tempat itu. Di sana konon ada banyak bangunan Meru. Ada sebuah Meru Perak dengan kober (bendera) berwarna putih. Di Meru itu semua Ruh yang dahulunya senang melakukan tapa brata berada. Di belakang meru itu, terdapat Tegal Panangsaran yang sangat luas.

Ruh yang sombong dan berlaku buruk di sanalah tempatnya. Ada juga Meru Tembaga terletak di selatan dengan kober berwarna merah. Tempat Ruh yang dahulunya pemberani. Di belakangnya kawah neraka yang menganga. Tempat Ruh yang dahulunya suka membunuh orang tidak berdosa.

Meru Emas ada di barat, kobernya berwarna kuning. Tempat Ruh yang dulunya teguh berbuat baik dan melakukan puja kepada leluhur. Di belakangnya terdapat jurang yang sangat dalam. Tempat Ruh yang berani kepada ayah ibunya dahulu, disana Ruh itu tergantung di Tiing Petung.

Tiing Petung adalah nama sebuah bambu, yang biasanya memang berfungsi untuk menghukum Ruh. Meru Besi ada di utara, kobernya berwarna hitam. Di sanalah tempat para pemimpin yang hebat. Di belakangnya tumbuh pohon Curiga yang rindang. Pohon Curiga ini berdaun keris tajam. Di sanalah tempat Ruh yang suka Ngeleak.

Tiap arah ada meru dengan masing-masing warnanya. Di belakangnya terdapat tempat khusus untuk Ruh yang semasa hidupnya berlaku tidak baik. Ada juga Meru Permata letaknya di tengah. Tempat Ruh para Pendeta yang teguh melakukan brata. Di sanalah tempat para Pendeta yang mahir dalam Yayur, Sama, Atarwa dan Reg Weda. Terutama tidak henti-hentinya mengusahakan kebahagiaan bagi seluruh dunia.

Saat berada di tempat itu, ada Ruh yang bertanya kepada Shiwa. Pertanyaanya begini. Wahai Dewa, apakah hamba pantas di mendapatkan Surga? Sebab upacara pangabenan yang dilakukan oleh keluarga hamba, sangatlah kecil.”

Shiwa konon menjawab, “Keteguhan hati dan perbuatan yang baik saat di dunia, juga Nirwreti Marga itulah yang patut dilakukan semasa hidup. Yakni manusia yang ingin menyatukan jiwa dengan sang Jiwa utama.”

Pertanyaan sang Ruh sepertinya tidak dijawab oleh Shiwa. Tapi sesungguhnya, dengan mengatakan hal di atas, Shiwa menyatakan bukan tingkat pangabenan itu yang penting. Ada suatu jalan yang bisa ditempuh semasa hidup. Jalan itu disebut Nirwreti Marga. Apakah yang dimaksud dengan Niwreti Marga?

Menurut penjelasan Aji Palayon ialah Jnana, Bhakti, Karma dan Yoga. Ada beberapa penjelasan yang bisa didapat jika kita mencari-cari pengertian dari masing-masing Marga itu. Marga artinya jalan. Dan tiap jalan dilalui oleh pejalan yang berbeda. Perbedaan jalan hanyalah masalah cara pandang.

Shiwa ingin mengatakan, pilihlah jalanmu sendiri. Jalani dia dengan sungguh-sungguh semasa hidup. Tiap jalan menyediakan pengalaman berbeda. Beda jalan beda pula risiko yang timbul. Saat ajaran itu diberikan oleh Shiwa. Datanglah utusan Dewi Durga. Utusan itu konon menyampaikan kepada Shiwa, bahwa tubuh sang Ruh akan diupacarai oleh keluarganya. Maka sang Ruh mesti kembali sebentar ke dunia.

Saat upacara ngaben dilangsungkan, Ruh konon akan kembali ke rumahnya semasa hidup. Saat itu Ruh akan datang untuk melihat upacaranya sendiri. Dalam cerita Aji Palayon, Ruh itu konon mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah datang dan turut mendoakannya. Sang Ruh akan melihat tubuhnya sendiri diupacarai. Juga melihat segala peristiwa yang terjadi sepanjang upacara itu digelar. Orang-orang terkasih, sanak keluarga, sahabat, musuh, orang tua, suami, istri, anak-anak, semua akan dilihatnya. Saya tidak bisa bayangkan, bagaimana jika Ruh itu KITA?

Bagian pertama Aji Palayon 1

Bagian kedua Aji Palayon 2

The post Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian [3] appeared first on BaleBengong.

Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian [2]

Ilustrasi ritual di Baturiti, Tabanan.

Timur Laut. Ke sana arah yang dituju oleh sang Ruh setelah dari Pura Dalem.

Di sanalah hulu menurut tradisi. Hulu berarti kepala. Ke puncak kepala, Ruh menuju. Biasanya, yang dimaksud dengan kepala adalah gunung. Ke puncak gunung perjalanan dilanjutkan. Sepanjang perjalanan, ada banyak keindahan yang ditemukan oleh sang Ruh.

Bunga-bunga, sungai, kumbang, juga pepohonan yang menjalar. Suara kumbang yang mendengung seperti rapalan mantra Pandita suci yang memohon kepada Sang Hyang Goripati.

Bagaimana Ruh tahu arah yang tepat menuju Hulu? Petunjuk jalannya adalah sebuah sungai bernama Sarayu. Sungai Sarayu yang airnya konon sangat hening itu diikuti oleh sang Ruh. Di pinggirnya, ada sebuah batu putih tipis dipayungi daun cepaka. Sungai Sarayu dalam beberapa teks kakawin memang disebut-sebut sebagai jalan kematian.

Ada beberapa judul teks yang menyebutkan sungai Sarayu dan hubungannya dengan kematian. Di antaranya adalah teks kakawin Sumanasantaka, Kala Jagra, Kala Tattwa, Swacandamarana, dan lain sebagainya. Semisal teks Sumanasantaka, menjelaskan bagaimana cara mati yang benar bagi para tokoh-tokoh dalam kakawin Sumanasantaka. Juga Swacandamarana, teks yang berbicara tentang bagaimana cara memilih waktu mati yang benar.

Di dekat sungai Sarayu dan batu tipis putih, sang Ruh membersihkan diri. Seekor buaya tiba-tiba muncul dari bawah sungai. Mulutnya menganga dengan gigi yang tajam. Sedikit lagi, sang Ruh bisa saja diterkam. Tapi gagal, karena lekas Ruh itu berkelit.

Kau adikku. Tak pantas kau menyakitiku,” kata sang Ruh kepada Buaya.

Dengan nada meyakinkan, sang Ruh menjelaskan siapa Buaya itu sesungguhnya.

Kau adalah Ari-ari yang menjelma Buaya. Kau saudaraku. Tidak ada saudara yang boleh menyakiti saudaranya sendiri. Justru seharusnya kau menolongku. Tolonglah seberangkan aku segera dari sungai yang dalam ini.”

Buaya itu konon adalah saudara sang Ruh. Ternyata Ruh bersaudara dengan buaya. Mungkin itu sebabnya, sewaktu masih hidup banyak Ruh yang mahir menjadi buaya. Laki atau perempuan sama saja. Sungai Sarayu pun berhasil diseberangi, perjalanan dilanjutkan: Timur Laut!

Tibalah saatnya perjalanan memasuki hutan lebat dan menyeramkan. Segala jenis pohon dan binatang ditemui sepanjang perjalanan. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar, semua binatang hutan terdiam. Raksasi Sirsa nama pemilik suara menyeramkan itu. Belum lagi berhenti teriakan Raksasi Sirsa, satu Raksasa lain muncul lagi. Kepalanya gundul!

Kedua raksasa itu mencegat sang Ruh. Raksasi Sirsa dengan matanya yang mendelik, cukup membuat takut seluruh penghuni hutan. Tapi tidak dengan sang Ruh. Dia berdiri tegak lalu mendekati si Raksasi.

Kau adalah Ibuku. Kau menjelma dari cahaya Baga Wasa,” ungkap sang Ruh.

Raksasi Sirsa yang mendengar perkataan sang Ruh kemudian diam. Ternyata Raksasi Sirsa adalah ibu sang Ruh menurut Aji Palayon. Tapi kenapa sang Ruh memiliki ibu raksasa? Begini penjelasannya.

Raksasi Sirsa itu konon berasal dari cahaya Bagawasa. Bagawasa adalah sebutan untuk tempat dari mana manusia dilahirkan: Rahim. Menariknya, dalam teks Aji Palayon rahim konon bercahaya. Rahim jenis apakah itu yang bisa bercahaya? Saya bukan ahli perahiman, tapi biasanya ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang dengan cara simbolik seperti itu. Aji Palayon bukan satu-satunya teks yang membicarakan hal itu dengan cara berbeda. Semisal teks Calonarang, menyebut rahim sebagai Sadkosa. Sad artinya enam, kosa artinya lapisan. Itulah rahim.

Tidak aneh jika sosok Ibu dengan rahimnya disebut menyeramkan seperti Raksasi. Silahkan bayangkan jika seorang Ibu yang mahapengasih itu tiba-tiba marah. Saya sendiri sungguh tidak akan kuat menahan amarahnya. Pastilah Ibu terlihat menyeramkan, seperti penggambaran Dewi Durga saat marah.

Tapi bukankah kepada yang menyeramkan itu manusia menyerah kalah karena takut? Bukankah karena takut, kemudian manusia memuja-muja? Ada banyak ketakutan yang diproduksi oleh manusia, salah satu di antaranya adalah takut pada neraka. Takut kepada hukuman-hukuman yang mungkin dinikmati setelah kematian. Barangkali di sanalah kemudian, agama mendapat tempat untuk mengarahkan manusia kepada perilaku yang baik. Sebelum kemudian agama menjadi suatu kekuatan yang super duper sensitif.

Menurut cerita dalam sumber yang berbeda, Ibu Durga yang sedang marah itu bisa mengalahkan raksasa Mahisasura. Cerita itulah yang kemudian melegitimasi upacara caru. Jadi wajarlah ketakutan kepada sosok Ibu dimiliki oleh manusia. Bukankah memang kepada Ibu mestinya ketakutan dan kasih sayang itu diserahkan? Karena dari Ibu manusia lahir, dan kepada Ibu [baca: Bumi] pula manusia kembali. Sayangnya tidak pada masa kini, Ibu justru menjadi sosok yang selalu disakiti. Dikeruk, ditimbun, diurug, digali, diinjak, dihina, ditinggalkan, dijual! Bahkan tanpa permohonan maaf sekalipun.

Tidak salah juga Ibu disebut menyeramkan. Sebab shastra Jawa Kuna sering bekerja dengan cara terbalik. Durga, sosok menyeramkan itu menurut ceritanya adalah sosok paling welas asih karena memberikan banyak anugerah. Salah satu tokoh yang mendapatkan anugerah adalah Sutasoma. Tokoh lainnya adalah Pedanda Sakti Ender.

Menurut Aji Palayon, karena sang Ruh mengetahui Ibunya, maka Ibu Raksasi Sirsa akhirnya bersedia minggir dari jalan yang akan dilalui oleh sang Ruh. Lalu perjalanan dilanjutkan. Sebuah jurang menghadang di depan. Di jurang itu ada lubang tempat tinggal seekor Macan Merah yang ganas. Seperti sebelumnya, sang Ruh tahu kalau macan itu adalah jelmaan saudaranya. Sang macan adalah wujud dari darah.

Sementara perjalanan berlanjut, tiba-tiba seekor ular melesat entah dari mana. Sang Ruh kaget dan merasa akan ada sesuatu yang menghalangi perjalanan. Saat itu pula, seekor Anjing Hitam besar dan tinggi menghadang. Sang Ruh berkata bahwa Anjing itu adalah saudaranya. Anjing Hitam itu adalah penjelmaan air ketuban.

Sudah ada tiga “saudara” yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Buaya, Macan Merah, lalu Anjing Hitam. Ketiganya konon penjelmaan dari Ari-ari, Darah dan Air Ketuban. Ketiganya adalah anggota saudara manusia. Menurut ajarannya, manusia konon memiliki empat saudara saat dilahirkan. Keempat saudara itu disebut Kanda Empat. Siapa sajakah saudara itu? Tiga di antaranya sudah disebutkan dalam Aji Palayon. Sekarang tinggal mencari yang keempat.

Matahari terik di atas, sang Ruh konon juga bisa kepanasan. Ruh yang kepanasan itu juga konon kehausan. Saya hampir tidak mengerti, bagaimana mungkin Ruh bisa panas dan haus. Tapi mungkin saja bisa, siapa tahu. Saat kehausan, ia ingin minum air dari sebuah mata air. Tepat pada saat itu ada gerombolan Raksasa yang datang. Raksasa-raksasa itu ingin memakan sang Ruh.

Sang Bawal, Sang Mrajasela, Sang Badmoti dan Sang Badpamyad. Itulah empat nama raksasa yang ingin memakan sang Ruh. Keempatnya sudah dikenal betul oleh sang Ruh. Dengan fasih, sang Ruh menyebut nama raksasa-raksasa itu satu persatu. Menurut aturannya, jika ada Ruh yang bisa menyebutkan nama-nama raksasa itu, maka Ruh itu haruslah dilepaskan. Tapi konon saking laparnya, keempat Raksasa itu masih ingin memakan sang Ruh.

Sang Ruh berkata, “di rumah, sedang dilakukan upacara kematian untuk diriku. Pergilah kesana, kalian bisa mendapatkan makanan disana.”

Pergilah raksasa-raksasa itu ke rumah sang Ruh. Di sanalah keempat raksasa itu bisa mendapatkan makanan. Makanan yang dimaksud adalah bebantenan. Ada beberapa penjelasan tentang banten yang dipersembahkan kepada raksasa-raksasa yang datang saat upacara kematian dilangsungkan. Tentu saja bebantenan itu akan rumit untuk dijelaskan. Ada baiknya kita diskusikan nanti saja, tidak disini.

Singkat cerita, sang Ruh tiba di persimpangan jalan. Persimpangan itu disebut Marga Telu. Sebagaimana namanya, persimpangan ini terpecah menjadi tiga jalan. Ada beberapa sumber lain yang membicarakan Marga Telu ini. Menurut sumber-sumber itu, Marga Telu adalah jalan untuk mengalirnya makanan [anawaha], air [toyawaha] dan udara [pranawaha]. Ketiganya adalah sebutan lain untuk Tri Nadi. Di tempat itu konon sang Ruh beristirahat.

Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, pohon-pohon tercabut dari akarnya. Empat sosok Kala datang menghadang. Keempatnya ingin menyakiti sang Ruh. Sang Ruh yang telah mengetahuinya, segera berkata, “Bli, sang Suratma, sang Jogormanik, adikku sang Mahakala dan sang Dorakala, aku ini saudaramu”.

Sekali lagi sang Ruh dengan fasih menyebutkan nama-nama Kala yang menghalangi jalannya. Bahkan sang Ruh dapat menjelaskan siapa dan di mana sebenarnya keempat saudaranya itu berasal dan tinggal. Tempat tinggal keempat Kala itu diistilahkan dengan sebutan Dwipa. Ada yang bernama Gemeda Dwipa, Puskara Dwipa, Sangka Dwipa dan Kusa Dwipa.

Keempatnya tidaklah jauh letaknya. Tiap Dwipa merepresentasikan satu buah organ tubuh manusia. Jadi istilah Dwipa dalam konteks ini adalah tubuh. Berikut ini letak masing-masing Dwipa berdasarkan teks Aji Palayon. Gemeda Dwipa adalah jantung. Puskara Dwipa adalah tempat bertumpuknya hati. Sangka Dwipa adalah ginjal. Kusa Dwipa adalah Nyali atau Empedu. Masing-masing tempat itu konon memiliki jalan tembus. Masing-masing jalan tembusnya adalah sebagai berikut. Gemeda tembus ke mulut. Puskara Dwipa tembus ke mata. Sangka Dwipa tembus ke telinga. Kusa Dwipa tembus ke hidung. Tubuh ini seperti kota-kota besar yang punya jalan tembus.

Sekali lagi, tubuh ini menurut Aji Palayon adalah penjara yang mengurung Ruh. Di penjara itu pun, ada lagi sub-sub penjara yang lain. Jantung, Nyali, Hati, Ginjal, semua organ itu dianggap sebagai pulau yang dihuni oleh Kala bernama Jogormanik, Suratma, Mahakala dan Dorakala. Mereka seperti saudara yang menjaga kenyamanan sang Ruh. Sayangnya tidak banyak yang mengingat mereka semasa hidup. Berbeda dengan sang Ruh dalam Aji Palayon. Semua telah diketahui oleh sang Ruh, maka keempat Kala tadi kemudian menyingkir. Sang Ruh melanjutkan perjalanan sampai di sebuah kolam dengan bunga-bunga yang indah. Di sana juga terdapat pancuran. Namanya Pancaka Tirtha. Apa yang dilakukan Ruh di tempat itu?

Bagian pertama serial esai ini bisa dibaca di sini Aji Palayon 1

The post Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian [2] appeared first on BaleBengong.