Tag Archives: Kabar Baru

Inilah Rencana Pembangunan Gubernur Bali Terpilih

Ruang rapat Gedung DPRD Bali pagi itu dipenuhi ratusan orang.

Mereka adalah kepala desa, bendesa adat dan tokoh masyarakat yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Bali. Tak ketinggalan, para Bupati/Wali Kota turut hadir. Terlihat pula para mantan pejabat yang tak asing di mata.

Mereka menghadiri sidang paripurna DPRD Provinsi Bali pada Minggu, 9 September 2018. Kali ini istimewa karena dirangkai dengan acara serah terima jabatan dan memori jabatan Gubernur Bali. Jabatan gubernur Bali dijabat sementara selama sepuluh hari oleh Penjabat Gubernur Bali Hamdani.

Sesuatu yang ditunggu-tunggu tiba juga, penyampaian visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Bali terpilih yang disampaikan Gubernur Koster. Visi dan misi tersebut tertuang pada “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”.

Istilah ini mempunyai arti menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama dan gumi Bali yang sejahtera dan bahagia.

Pembangunan Manusia Bali

Dalam pidatonya, Gubernur Koster memaparkan kondisi Bali di masa lalu. Alamnya masih terjaga serta karakter manusia Bali memegang teguh nilai-nilai agama dan budaya. Saat ini kondisi itu mengalami pergeseran. Alam Bali kini mengalami kerusakan. Begitu juga dengan manusia Bali yang berubah dan melupakan nilai-nilai luhur Hindu dan Bali.

“Manusia Bali dikenal jemet (rajin), seken (serius, fokus) dan rendah hati. Hal ini yang menjadikan mereka berbeda dari yang lain,” kata Koster. Menurutnya, melebihan inilah yang mesti terus dijaga dan dikembangkan, kembali ke nilai-nilai kearifan lokal di zaman modern ini.

Untuk mengembangkan karakter luhur manusia Bali, pihaknya akan membuat program pendidikan khusus, membangun PAUD dan TK bernapaskan Hindu di setiap desa adat di Bali. Hal ini penting menurutnya karena pendidikan karakter semestinya diberikan sejak dini, mulai dari kanak-kanak.

Guna menunjang hal tersebut, pihaknya juga akan bekerja sama dengan Parisadha Hindu Dahrma Indonesia (PHDI). Organisasi pemuka agama Hindu ini perlu dikembangkan karena mesti sudah ada sekretariat PHDI di kabupaten/kota di Bali, tetapi kondisinya memprihatinkan. Untuk itu, pemerintah akan membangun kantor PHDI di seluruh Bali yang representatif.

“Bagaimana bisa menjalankan tugas mengembangkan agama jika bangunan tak representatif, seperti ada dan tiada,” katanya.

Hal lain di bidang pendidikan, pemerintahan Koster-Cok Ace akan mengembangkan pasraman di setiap desa adat di Bali. Tujuannya untuk membangun karakter manusia Bali sekaligus mendukung program pemerintah pusat wajib belajar 12 tahun.

Buku-buku Hindu juga akan diperbanyak selain tenaga guru agama Hindu yang akan diperhatikan dan diperbanyak jumlahnya. Juga Dharma Wacana sebagai media pengembangan Hindu juga mendapat perhatian Gubernur dan Wakil Gubernur baru.

Selain itu, membangun akademi komunitas dan perguruan tinggi di kabupaten/kota di Bali yang bisa menyalurkan minat generasi muda dan mengembangkan bakat mereka yang oleh Koster dicontohkan seperti di Jepang. Anak-anak muda yang mempunyai hobi desain disalurkan ke akademi komunitas dan menekuni bidang desain hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut dan berguna ketika mencari kerja atau membangun usaha sendiri.

Calon Pasangan Gubernur Bali nomor urut 1 Wayan Koster dan Cok Ace seusai mengambil nomor undian di Gedung Wiswasabha – areal kantor Gubernur Bali pada Selasa, 13 Februari 2018. Foto Anggara Mahendra.

Ekonomi Bali

Tak hanya pendidikan, kesejahteraan krama Bali juga diperhatikan dengan membangun perekonomian berbasis kebudayaan. Konkretnya, memberi bantuan dana sebesar Rp 300 juta kepada setiap desa adat di Bali yang terealisasi mulai tahun depan. Bantuan ini bisa digunakan desa adat untuk membuat berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan warga desa.

“Pertumbuhan ekonomi Bali sebesar enam persen per tahun hal yang bagus, dan tertinggi di Indonesia. Itu karena pariwisata. Ada bidang lain yang terlupakan yakni pertanian dan kami akan menyeimbangkan antara pariwisata dan pertanian,” katanya.

Koster menambahkan, pendapatan per kapita penduduk Bali sebesar Rp 51 juta per tahun. Ini akan terus ditingkatkan dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali dengan membuat peraturan misalnya di bidang ketenagakerjaan yang memihak kepada penduduk lokal.

“Bali kini tak hanya ditempati oleh warga Bali tapi juga warga luar Bali. Kami akan membuat peraturan yang mengharuskan investor dan pengusaha di Bali dalam merekrut tenaga kerja untuk lebih mengutamakan warga lokal. Dan pengusaha diharapkan ikut membangun Bali dengan membuat kebijakan yang berpihak kepada warga lokal,” ujarnya.

Kesehatan dan Pertanian

“Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, istilah yang diambil dari kearifan dan nilai luhur agama dan budaya ini bisa dibilang menitikberatkan pada penguatan adat dan budaya. Tak hanya bidang fisik yang dibangun namun juga mental, budaya dan agama. Kesejahteraan krama Bali menjadi perhatian pemerintahan Koster-Cok Ace.

Tak ketinggalan, pertanian yang menjadi ciri khas Bali selain pariwisata akan lebih diperhatikan. Hotel dan restoran di Bali dihimbau untuk menggunakan produk lokal sehingga petani Bali tak kesulitan memasarkan produk pertanian mereka.

Di bidang kesehatan, program pemerintahan terdahulu akan dikembangkan di mana Poskesdes dan Puskesmas akan lebih diberdayakan. RSUD di kabupaten/kota di Bali juga akan dikembangkan lebih baik. RS Bali Mandara juga akan dikembangkan menjadi RS Internasional yang representatif sehingga warga Bali yang berkecukupan tak harus berobat di luar negeri seperti Singapura dan bisa berobat di Bali.

BLK atau Balai Latihan Kerja yang selama ini nyaris tak terdengar kiprahnya juga akan dikembangkan. Bagi warga Bali terutama generasi muda yang ingin bekerja di luar negeri akan diberi kemudahan dengan bantuan pinjaman lunak. Pun jika ingin berkerja di luar daerah, Pemprov Bali akan menjalin kerja sama dengan provinsi-provinsi lain di Bali sehingga warga Bali yang ingin bekerja di luar daerah tak perlu ragu akan tak mendapat pekerjaan.

Kesejahteraan prajuru adat di seluruh Bali akan mendapat perhatian dengan diberikannya insenstif yang menurut Koster saat ini belum merata jumlahnya, Prajuru adat sebagai ujung tombak pembangunan adat di Bali akan lebih diperhatikan. Demikian juga dengan pecalang yang akan diberi kompetensi lebih untuk meningkatkan kinerja mereka yang akan dikerjasamakan dengan Polda Bali.

Program Holistik

Koster juga akan melaksanakan pengembangan sistem jaminan sosial mulai lahir, tumbuh, berkembang. Dalam kesempatan tersebut ia juga memaparkan tentang janji kampanyenya One Island One Managament and One Commando. Karena menurutnya, Bali sebagai pulau adalah satu kesatuan dengan daerah yang saling mendukung, untuk itu Koster berharap bisa terjadi pemerataan pembangunan dan ekonomi di seluruh Bali.

“Kita akan buat branding Bali sebagai penarik wisata kita, jadi saya harap kabupaten/kota tidak mengembangkan brand sendiri,” katanya.

Agaknya program Gubernur-Wakil Gubernur Bali terpilih ini sangatlah holistik atau menyeluruh, menyangkut bidang-bidang strategis baik pembangunan fisik juga mental. Semoga semua bisa direalisasikan untuk Bali yang lebih baik di masa kini dan mendatang. [b]

The post Inilah Rencana Pembangunan Gubernur Bali Terpilih appeared first on BaleBengong.

IIBF 2018 Hadirkan Literasi dan Kebudayaan 17 Negara

Creative Work Towards the Culture of Literacy.

Begitulah tema Indonesia lntemational Book Fair (llBF) 2018 tahun ini. Kegiatan ini diharapkan menjadi market hub untuk industri perbukuan di pasar global. Puluhan penerbit dari 17 negara ini menghadirkan lebih dari 100 program unruk penerbit. penulis dan masyarakat umum.

Ikatan Penerbit lndonesia (IKAPI) didukung oleh Badan Kreatif Indonesia (Bekrat) kembali menggelar lndonesia lntemational Book Fair (llBF) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 12 – 16 September 2018. Pameran buku bertaraf intemasional ini diikuti oleh puluhan penerbit dari 17 negara.

Negara-negara yang berpartisipasi dalam pameran ini adalah lndonesia, Arab Saudi, Australia. Inggris, China, Maroko, India. Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Mesir, Turki, Singapura, Uni Emirat Arab, Thailand, Tunisia. Kedutaan besar dan penerbit dari luar negeri akan menempati areal Plennary Hall, sedangkan penerbit dan peserta pameran lain akan menempati Cendrawasih Room dan areal luar di depan Plennary Hall.

Di tahun ke-37 penyelenggaraannya, lKAPl menargetkan sedikitnya 120 ribu pengunjung datang ke pameran yang dibuka gratis untuk umum ini. Lebih dari 100 acara dengan tema literasi. pendidikan dan kebudayaan siap memeriahkan perhelatan llBF 2018, mulai dari lomba untuk sekolah. wisata literasi untuk para pelajar, seminar, talkshow, peluncuran buku, lndonesia Right Fair, Bursa Naskah, dan temu penulis.

Kegiatan yang d igelar bergantian selama pameran itu diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung. Selain itu, setiap pengunjung yang datang ke pameran bisa membeli buku dengan harga supermurah dengan diskon mulai dari 50 sampai 80 persen di Zona Kalap. Mereka juga berkesempatan memenangkan paket Grand Prizes Haji Kerajaan Arab Saudi yang diundi setiap hari oleh Kedutaan Besar Arab Saudi.

Naik Kelas

Mengambil tema “Creative Work Towards the Culture of Literacy”, llBF 2018 diharapkan dapat menjadi market hub perbukuan internasional untuk para penerbit yang ingin melebarkan sayap bisnis dengan menyasar pangsa pasar global. “Saat ini, di tingkat global, banyak yang ingin tahu Indonesia dan sangat antusias hadir di sini. Apalagi setelah Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015,“ kata Ketua Umum lkatan Penerbit lndonesia (IKAPI) Rosidayati Rozalina.

Tantangannya, lanjut Ida, adalah bagaimana pemerintah dapat memfasilitasi program-program yang dapat meningkatkan industri perbukuan di tingkat global, antara lain melalui penyelenggaraan pameran tingkat dunia seperti llBF ini.

Merespon adanya potensi besar di industri ini, Bekraf sejak dua tahun terakhir hadir memberikan dukungan penuh untuk penyelenggaraan llBF. [b]

The post IIBF 2018 Hadirkan Literasi dan Kebudayaan 17 Negara appeared first on BaleBengong.

Di Sinilah Julia Roberts Mengobati Patah Hati

Nama Julia Roberts berhasil membuat penasaran.

Aktris yang menjadi bintang Hollywood setelah bermain film Pretty Woman (1990) ini menjadi nama salah satu titik di kawasan Batur Global Geopark, Kintamani, Bangli. Kami pun berusaha mencari jejak selebritis papan atas kiblat hiburan Hollywood itu di sana.

Titik bernama Julia Roberts Point itu, menurut informasi brosur Batur Global Geopark, merupakan lokasi pengambilan film Eat Pray Love (2010). Film ini dibuat berdasarkan novel berjudul sama Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert.

Dalam film itu, Julia Roberts yang memerankan Elizabeth melakukan perjalanan untuk mengobati patah hatinya setelah bercerai. Indonesia menjadi salah satu lokasi perjalanan itu selain Italia dan India. Bali menjadi pilihannya selama di Indonesia.

Tepi Danau Batur menjadi salah satu lokasi syuting film itu selain tempat wisata populer lainnya yaitu Ubud, Gianyar dan Pantai Padang-Padang, Badung. Namun, dibandingkan dua tempat lain, lokasi syuting di Danau Batur ini kalah populer meskipun sudah disebut dalam peta Batur Global Geopark.

Selain disebut dalam peta Batur Global Geopark, tak banyak petunjuk lain di mana lokasi syuting itu dilakukan.

Jaringan Global

Batur Global Geopark sendiri merupakan kawasan seluas sekitar 37.000 hektar di kaldera Batur. Pada September 2002, Organisasi PBB urusan Pendidikan, Teknologi, dan Budaya (UNESCO) memasukkan Kaldera Batur ini sebagai bagian dari Jaringan Taman Bumi Global atau Global Geopark Network (GGN).

Sebagai bagian dari GGN, Kaldera Batur pun melakukan beberapa penataan. Pembuatan Museum Gunung Berapi Kintamani hanya salah satunya. Tempat-tempat penting pun ditata lebih serius untuk mengenalkan Batur sebagai salah satu kekayaan taman bumi di Indonesia dan satu-satunya di Bali.

Taman Bumi Batur merupakan satu kesatuan antara konservasi warisan geologi dan wisata. Bekas letusan dahsyat Gunung Batur Purba membentuk kaldera seluas 13,8 x 10 km, menjadikannya sebagai salah satu kaldera terbesar di dunia.

Di dalam kawasan Kaldera Batur ini terdapat dua objek utama sebagai tujuan wisata alam Kintamani yaitu Gunung Batur setinggi 1.717 meter dan Danau Batur seluas 7 x 1,5 km. Ribuan turis setiap hari menikmati dua objek wisata alam ini terutama dari titik di Desa Penelokan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Jaraknya sekitar 55 km atau 2 jam dari Denpasar ke arah timur laut.

Namun, lereng sisi timur Gunung Batur ataupun Danau Batur juga bisa menjadi pilihan menarik untuk jalan-jalan menikmati alam. Sisa-sisa dua letusan besar Gunung Batur ribuan tahun lalu menyisakan pasir di sisi barat gunung dan endapan vulkanik berupa batu hitam (ignimbrit).

Di sisi timur, terlihat jelas sisa-sisa aliran lava yang membeku dan membentuk batu-batu raksasa menghitam setinggi manusia. Batuan beku andesit dan batuapung ini terhampar di antara pepohonan pinus ataupun ampupu sepanjang jalan raya penghubung desa-desa di antara gunung dan danau, seperti Kedisan, Toyabungkah, dan Songan.

Berada di kaki Gunung Batur sebagian desa di sisi timur ini juga telah mengembangkan usaha pariwisata berbasis alam. Selain wisata mendaki Gunung Batur, kegiatan lain yang juga ada adalah mandi air hangat.

Wisata Berbasis Komunitas

Pada 3 Maret 2014, Menteri Kehutanan menetapkan kawasan ini sebagai Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang. Luasnya 2.528 hektar dengan fungsi sebagai hutan wisata seluas 2.075 hektar dan kawasan hutan produksi terbatas seluas 453 hektar.

Penetapan status TWA Gunung Batur Bukit Layang ini diikuti dengan munculnya inisatif warga lokal untuk mengelola usaha wisata alam berbasis komunitas. Salah satunya adalah Ampupu Kembar yang berada di Desa Toyabungkah.

Dari semula hanya hutan ampupu tidak terawat, sekarang sudah ada penataan, seperti papan nama, ayunan, balebengong, hingga ornamen-ornamen kecil untuk duduk-duduk santai atau berswafoto.

Julia Roberts Point menjadi bagian dari semua penataan Kaldera Batur setelah penetapan sebagai anggota GGN ataupun TWA Gunung Batur Bukit Layang. Lokasinya berjarak sekitar 500 meter dari hutan Ampupu Kembar. Tidak ada petunjuk apapun sehingga lebih baik bertanya ke warga jika mau menuju ke lokasi tersebut.

Dari jalan raya utama beraspal Kedisan – Songan lokasinya masih sekitar 300 meter dengan kondisi jalan cukup untuk satu mobil tetapi berbatu dan berlubang. Setelah itu masih harus berjalan kaki naik turun bebatuan dan melewati kebun petani untuk sampai di lokasi yang dicari.

Dua balebengong terpisah di atas bebatuan bisa menjadi petunjuk akhir di mana Julia Roberts pernah berakting sebagai perempuan patah hati itu.

Sepi dan Tenang

Julia Roberts Point persis berada di pinggir danau dengan posisi menghadap desa Baliaga Trunyan persis di seberang danau. Ada papan resmi dari pengelola Batur Global Geopark berisi keterangan Lokasi Shooting Film Eat Pray Love sehingga meyakinkan bahwa di sanalah Julia Roberts memang pernah duduk diam merenung melihat dalam suasana sepi dan tenang danau terbesar di Bali itu.

“Iya, memang pernah dipakai syuting film beberapa tahun lalu. Banyak orang waktu itu. Saya dengar artisnya bernama Julia Roberts begitu,” kata Nyoman Radi, petani yang rumahnya persis berada di lokasi itu.

Namun, tentu saja petang itu tidak ada Julia Roberts di sana. Hanya papan penunjuk dari pengelola Batur Global Geopark sebagai bukti. Selebihnya, tempat itu terlihat masih alami. Tidak ada jalan khusus. Tidak ada penataan khusus.

Pengunjung bisa duduk-duduk di sana menikmati kecipak bunyi air danau atau memancing untuk menghilangkan galau atau mengobati kepenatan sehari-hari, layaknya Julia Roberts ketika berakting di sini. [b]

The post Di Sinilah Julia Roberts Mengobati Patah Hati appeared first on BaleBengong.

Faye Menggairahkan Coworking Space di Indonesia

Faye Scarlet Alund, pendiri Kumpul dan Presiden Coworking Indonesia. Foto Wayan Martino.

Apa yang kurang dari coworking space yang kamu datangi?

Kalau kurang bergairah, barangkali ekosistemnya belum terbentuk. Silakan berkunjung ke Kumpul Coworking Space di sebuah gedung besar bernama Kembali di Jl Sunset Road, Badung. Bangunan bekas galeri yang keseluruhannya dirancang untuk sebuah tempat kerja bersama.

Beberapa grup terlihat menempati ruang-ruang ukuran sedang yang disewa jadi kantor. Sebagian lagi menyebar di ruangan lebih besar. Dalam satu meja bisa ada beberapa laptop dengan pekerjaan berbeda. Sebuah pantry jadi sudut pelepas penat dengan persediaan kopi, teh, dan air minum.

Lemari berisi minuman dingin bisa diakses asal mengisi celengan sendiri. Semacam kantin kejujurannya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di halaman belakang, ada sebuah rumah Joglo semi terbuka yang direncanakan jadi tempat makan. Panggung kayu di sampingnya dan halaman rumput yang bisa muat puluhan orang. Bangunan yang megah. Sebelumnya Kumpul yang dibuat pada 2015 bergabung di Rumah Sanur, sebuah ruang kerjasama kreatif.

Faye Scarlet Alund, pendiri Kumpul dan juga Presiden Coworking Indonesia dari Bali ini ditemui 24 Agustus. Dia baru pulang dari perjalanan sebagai salah satu peserta International Visitors Leadership Program (IVLP). Ia dan beberapa rekan lainnya berkunjung dan belajar di sejumlah kota di Amerika Serikat. Dalam setahun bisa lebih dari 10 grup IVLP yang mengikuti program ini, dengan minat dan bidang kerja berbeda.

Salah satu lokasi yang membuatnya terkesan adalah sebuah coworking yang fokus pada bisnis kuliner. “Ini cocok di Bali, karena kan banyak usaha kuliner di sini,” ujarnya. Di sebuah ruang kerja dan bisnis terpadu, ada yang sedang bekerja mengembangkan bisnis online dan juga memasak. Semacam laboratorium makanan.

Ada juga sebuah ekosistem industri perjumpaan mesin-mesin, pengerajin, pembuat karya rintisan, klien, dan tim pemasaran. Mereka membuat produk dari pesanan, dibuatkan prototype, dan bisa langsung dijual jika hasilnya bagus. Ruang ini membuat banyak karya inovatif lahir, menyesuaikan kebutuhan warga.

Faye Alund (tengah) saat mengampanyekan Gerakan 1000 Startup Digital di Malang. Foto samudrawan.blogspot.com

Membangun Jejaring

Faye mengingatkan coworking space itu tak hanya tempat bekerja, tapi mendorong komunikasi dan jejaring di antara penggunanya. Sebuah komunitas yang bisa saling melengkapi dan menambah nilai dari apa yang sedang dikerjakan.

Faye dan teman-temannya di grup IVLP-Creative Economy and Entrepreneurship Incubators ini mengunjungi lima kota, dimulai di ibukota Amerika Washington DC, Baltimore, Charlotte, Cleveland, dan Seattle. Mereka mengikuti lebih dari 30 diskusi dengan durasi masing-masing 1-2 jam.

Bisa dibayangkan berapa banyak pengalaman yang didengar, pengetahuan yang dicerna, dan jejaring baru di bidang pengembangan ekonomi kreatif ini sekitar tiga minggu perjalanan di Amerika Serikat. Tiap hari rata-rata berdiskusi dalam tiga pertemuan dengan tuan rumah berbeda. Dalam rombongan ini ada penggiat DILO Kota Medan, sekolah animasi Hello Motion, Hipmi Surabaya, dan pembuat start-up.

Hal menarik yang dicatat Faye, penggerak perekonomian di AS adalah ekonomi kreatif yang dihidupkan sektor swasta. Bahkan ada sebuah inisiatif, Midtown, menurutnya seperti pemerintah daerah karena mendorong gerakan warga aktif dan memastikan iklim bisnis kondusif.

“Mereka mendorong active citizenship,” ingat Faye.

Ada juga program American for the Arts yang fokus memberikan analisis bagaimana seni berdampak luas pada banyak bidang kehidupan termasuk ekonomi dan investasi. “Mereka fokus di research and development, apa yang dikerjakan berdampak pada hal apa saja, jadi bisa menjadi investasi jangka panjang,” lanjut penerima beasiswa S2 di Australia dan mengambil Peace and Conflict Studies ini.

Inilah salah satu kekurangan gerakan di Indonesia, memetakan bagaimana sebuah kegiatan memberi dampak yang bisa diukur kualitatif atau kuantitatif. “Misal, ada yang ngasi bantuan Rp 1 juta tapi bisa memberi dampak Rp 5 juta,” sebutnya soal matrikulasi dampak program yang akan memberi nilai tambah. Nah ini harus dianalisis.

Untuk Faye, berdiskusi topik-topik seputar ekonomi kreatif bukan hal baru. Mendirikan dan bekerja di sejumlah komunitas coworking space pasti membiasakan bertemu banyak orang, model bisnis, dan strateginya.

Seperti tur di Kumpul saat itu, tiap melewati ruang, ia bertegur sapa dengan mereka yang sedang bekerja dan memperkenalkan siapa yang berkunjung jika isunya relevan pada yang rekannya. Intuisi ide dan bisnis nampaknya sudah menyatu dengan jiwanya. Semua bersumber dari pertemuan dengan banyak orang dengan segudang semangatnya, tiap hari.

Inilah energi yang diciptakan sebuah ekosistem kerja bersama ini. Jejaring dan kolaborasi tak bisa dielakkan dalam usaha-usaha berbasis digital saat ini.

Kurang dari dua jam tur dan ngobrol di Kumpul saja, sudah berkenalan dengan dua pegiat gerakan sosial dan kewirausahaan sosial yang dirintis oleh perempuan muda. Pertama Rombak, sebuah jaringan media alternatif yang membuat beberapa channel seperti video dan website atraktif. Berikutnya Diffago, situs yang menyembatani penyandang disabilitas dengan kesempatan kerja dan pemberdayaan.

Tantangan di pengembangan usaha berbasis online, strategi ideal saat ini belum tentu cocok setahun atau dua tahun lagi. Makin banyak model bisnis baru, cara berkomunikasi, dan sarananya. Hal-hal semacam ini bisa ter-update ketika sering bertatap muka. Salah satunya di sebuah coworking.

Di Bali, selain Kumpul, ada beberapa tempat yang menyebut dirinya coworking. Makin banyak jumlah dan sebaran areanya. Ada Hubud di Ubud, Rumah Sanur, Colony-Plaza Renon Denpasar, Dojo di Canggu, dan lainnya. Tinggal pilih mana yang ekosistemnya cocok untukmu. [b]

The post Faye Menggairahkan Coworking Space di Indonesia appeared first on BaleBengong.

UWRF Turut Bantu Korban Gempa Lombok

Ada dua cara membantu: saat beli tiket atau datang langsung.

Berangkat dari kepedulian terhadap korban gempa bumi di Lombok, Yayasan Mudra Swari Saraswati ikut mengadakan penggalangan dana untuk ikut meringankan beban para korban. Penggalangan dana oleh penyelenggara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) dan Ubud Food Festival itu melalui penjualan tiket UWRF 2018.

Penjualan tiket UWRF 2018 resmi dibuka pada Selasa, 14 Agustus lalu, bersamaan dengan peluncuran daftar lengkap Main Program dan nama- nama pembicara yang akan mengisi UWRF 2018 pada 24-28 Oktober mendatang.

Para pembeli tiket bisa menyertakan donasi mereka saat membeli tiket Main Program UWRF 2018 melalui laman trybooking.com.

Donasi yang terkumpul kemudian disalurkan melalui Yayasan IDEP, organisasi non-pemerintah yang memiliki program Lombok Earthquake Emergency Response. Program tersebut merupakan sebuah aksi tanggap darurat bagi para pengungsi melalui penyaluran bantuan untuk memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup mereka selama evakuasi.

Selain melalui pembelian tiket UWRF18, Yayasan Mudra Swari Saraswati juga membuka penggalangan dana secara langsung saat menggelar program yayasan, Documentary Film Screening As Worlds Divine. Pemutaran film berlangsung pada 17 Agustus 2018 di Taman Baca. Ada pula Workshop Food Styling for Food Photography with @sazhabusha pada 2 September 2018 di The Samaya Ubud, Bali.

Melalui penggalangan dana yang berlangsung sekitar tiga minggu, telah terkumpul uang sejumlah Rp 11,5 juta dari para pembeli tiket dan Rp 2,6 juta saat penyelenggaraan program- program yayasan.

Total hasil penggalangan dana untuk korban gempa bumi di Lombok sejumlah Rp 14,1 juta telah resmi disalurkan Yayasan Mudra Swari Saraswati ke Yayasan IDEP pada Selasa, 4 September 2018 lalu.

“Kami akan menjaga amanat yang telah diberikan oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati dan menggunakan donasi yang telah terkumpul ini untuk masyarakat di Lombok,” ujar Yosephine Avi Rembulan selaku Resource Development Coordinator Yayasan IDEP.

Yayasan Mudra Swari Saraswati berterima kasih kepada semua orang yang telah ikut berdonasi dalam penggalangan dana ini dan berharap Yayasan IDEP mampu memberikan bantuan yang terbaik dan tepat sasaran kepada korban gempa bumi di Lombok melalui program Lombok Earthquake Emergency Response.

Melalui penyelengaraan UWRF 2018, Yayasan Mudra Swari Saraswati juga menghadirkan pembahasan mendalam mengenai penanggulangan bencana alam, baik langkah yang harus diambil sebagai pengurangan risiko bencana maupun cara efektif menghadapi bencana bagi mereka yang terkena dampak secara langsung. Para peserta UWRF18 dapat bergabung dalam sesi Main Program: Dealing with Disaster yang dijadwalkan pada Minggu, (28/10/2018) dengan beberapa pembicara seperti Daisuke Takeya, Rio Helmi, Jewel Topsfield, dan Ade Andreawan, Direktur Yayasan IDEP.

Selama hampir dua dekade, Yayasan IDEP telah mengembangkan dan memberikan program pelatihan dan mengadakan kegiatan pendidikan publik kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Program-program tersebut berfokus pada manajemen bencana berbasis masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan melalui permakultur.

Kini, Yayasan IDEP sedang fokus membantu pengungsi di beberapa lokasi bencana, termasuk kawasan Senaru, Kayangan, dan Rempek di Lombok Utara. Mereka melakukan distribusi bahan makanan segar ke beberapa posko bantuan gempa dan menyediakan y?ang disebut dengan ‘keranjang keluarga’ yang berisi makanan, kasur, selimut, produk kebersihan, obat-obatan dasar, dan lainnya.

Yayasan ini juga mendukung tenda-tenda evakuasi dengan penyediaan lampu darurat, sistem penyaringan air, serta media pendidikan dan fasilitas penunjang lain untuk orangtua dan anak-anak. [b]

The post UWRF Turut Bantu Korban Gempa Lombok appeared first on BaleBengong.