Tag Archives: Kabar Baru

Kalau Bisa Ditunda, Kenapa Buru-Buru Menikah?

Ilustrasi pernikahan secara adat di Bali. Foto thebridedept.com.

MBA adalah istilah lumrah sekitar 2006 silam.

Waktu itu usia saya menginjak 24 tahun. MBA alias married by accident adalah istilah yang lumrah menjadi alasan orang menikah muda. Ini sampai menjadi standar dalam memilih jodoh di antara kawan-kawan saya.

Kalimat khas yang masih membekas hingga kini adalah “coba dulu, baru nikahi”. Istilah lainnya, sebelum ketahuan bisa hamil tidak usah dinikahi. Alasan pembenar untuk melakukan seks pranikah. Seks yang sebenarnya hanya untuk memenuhi hawa nafsu belaka, lalu menjadi tanpa pilihan selain menikah ketika kehamilan pacar tidak terelakkan.

Bagi lelaki seperti saya, terlebih karena kurangnya informasi ketika itu, tidak ada yang bisa saya jadikan patokan selain menjadi lelaki yang bertanggung jawab karena telah menghamili pacar saya. Sesungguhnya, saya tidak memiliki alasan lain untuk menikah ketika itu selain karena pacar saya yang telah hamil.

Saya juga tidak memiliki informasi yang cukup tentang sebuah pernikahan. Bahkan, saya tidak terlalu mengerti kenapa saya harus menikah selain karena alasan tanggung jawab.

Celakanya, pacar saya ketika itu juga sama. Tidak tahu kenapa harus menikahi saya selain karena dia telah mengandung anak saya.

Usia yang masih relatif muda -saya 24 tahun, pacar saya berusia 22 tahun- dan kurangnya informasi yang membuat kami merasa telah melakukan hal tepat, menikah. Meskipun kami tidak tahu kenapa kami harus menikah.

Keluarga kami juga ternyata sama. Tidak ada yang bisa memberi kami informasi yang tepat tentang sebuah pernikahan selain karena sudah telanjur hamil ya menikah saja. Dan itulah lazimnya yang berlaku pada pemikiran kebanyakan masyarakat kita.

Cerita saya berbeda dengan cerita seorang kawan saya. Dia yang telah dalam usia matang (mendekati 30 tahun) menyatakan tidak akan menikahi pacarnya sebelum ketahuan bisa hamil. Sekalipun usia pacaran mereka telah menginjak tiga tahun. Sekalipun untuk ukuran kematangan penghasilan dan usia dia sudah cukup matang.

Pemikirannya sederhana, buat apa menikah kalau tidak bisa memiliki anak. Benar saja, setelah ketahuan pacarnya hamil, kawan saya dengan segera menikahinya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah yang terjadi jika pacar kawan saya tersebut tidak kunjung hamil? Saya cukup yakin kalau kawan saya akan memutuskan untuk mencari perempuan lain untuk dihamili. Ini juga pemikiran yang lazim di kebanyakan masyarakat kita.

Bersedia Dicerai

Cerita berbeda lagi datang dari seorang tetangga saya, seorang om-om sukses yang memiliki usaha cukup sukses untuk ukuran orang di desa saya. Dia menikahi seorang gadis yang berasal dari lingkungan keluarganya. Istilah lainnya, masih kerabat dekat.

Hingga usia pernikahan yang memasuki 10 tahun, mereka tidak kunjung dikaruniai anak. Hingga akhirnya terjadilah pertengkaran karena si om menyalahkan istrinya karena tidak bisa hamil.

Alih-alih memeriksakan diri ke dokter, sang istri malah membawa perempuan lain untuk dihamili oleh si om. Istrinya memberi waktu enam bulan untuk si om dan si perempuan tinggal bersama. Kalau kemudian si perempuan ini bisa hamil, maka istrinya bersedia untuk dicerai.

Ujung ceritanya adalah kegagalan si om menghamili perempuan yang dibawakan oleh istrinya.

Masih membekas di telinga saya bagaimana lingkungan saya menilai si om yang tidak memiliki keturunan. Nyinyir cukup menusuk yang memposisikannya sebagai lelaki lemah karena tidak mampu menghasilkan keturunan.

Istrinya juga memilih untuk bertahan karena alasan komitmen. Komitmen agar tidak berpisah. Sebab, berpisah adalah kutukan lain dari tidak memiliki keturunan. Alih-alih bertahan karena kebahagiaan, mereka mengikatkan diri pada komitmen hanya agar tidak berpisah.

Ketiga gambaran tersebut adalah hal nyata di lingkungan saya. Benang merahnya ada pada anak. Alasan ketiga pernikahan tersebut adalah anak. Menikah sangat lekat dengan memiliki anak. Coba saja lihat urutan pertanyaan setelah “kapan nikah?”, pasti yang pertama ditanyakan adalah “kapan punya anak?”.

Seolah menegaskan bahwa tujuan menikah hanya untuk punya anak. Tidak ada aspek lain yang lebih penting dari sebuah pernikahan selain menghasilkan keturunan.

Tidak bisa kita pungkiri, pandangan ini justru diamini sebagian besar orang. Istilah terlambat menikah merujuk pada kesehatan reproduksi perempuan untuk memiliki anak. Selain itu, istilah terlambat menikah juga merujuk pada usia produktif lelaki untuk menghasilkan uang untuk membiayai anak.

Keduanya dikatakan terlambat karena menggunakan anak sebagai tolok ukur. Karena itu tadi, menikah hanya dipandang bertujuan untuk punya anak. Jika saja pernikahan dipandang untuk cinta dan kebahagiaan, masihkah ada istilah terlambat untuk menikah?

Masyarakat kita sangat susah memandang pernikahan sebagai sebuah pilihan, begitu juga dengan pandangan memiliki anak sebagai sebuah pilihan. Keduanya ditabsihkan sebagai sebuah keharusan. Seorang perempuan dan seorang lelaki yang terlahir di dunia ini harus menikah dan setiap orang yang menikah harus memiliki anak. Paling tidak itu tugas wajib yang diemban setiap masyarakat yang ada di lingkungan saya.

Tidak menikah adalah sebuah kutukan. Tidak memiliki anak adalah kutukan lainnya. Menikah kemudian berpisah juga adalah kutukan lain yang harus dihindari. Saya rasa ini juga pemikiran sebagian besar masyarakat kita.

Jadi, sudah cukup pahamkah kenapa usia selalu dibawa ketika menentukan jodoh? [b]

The post Kalau Bisa Ditunda, Kenapa Buru-Buru Menikah? appeared first on BaleBengong.

Seminar Konten Digital untuk Generasi Kreatif

Ada lomba penyiar radio dan seminar nasional September ini.

Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana akan menggelar rangkaian kegiatan Communication Events (COMMET) 2017. Kegiatannya lomba penyiar radio dan seminar memproduksi konten digital.

Rangkaian COMMET 2017 akan diawali dengan lomba penyiar radio yang terdiri dari dua kategori, single dan berpasangan. Lomba ini sudah mulai dibuka sejak Juli awal. Babak penyisihan dilakukan pada 3 September kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan lomba untuk babak semi final hingga babak final.

Tahap final akan dilaksanakan di Gedung Agrokompleks Lt. 4 Kampus Universitas Udayana Sudirman pada 16 September.

Adapun seminar nasional akan diselenggarakan pada 23 September 2017 di Auditorium Widya Sabha Kampus Universitas Udayana Jimbaran. Temanya adalah “Become a Creative Generation with Inspiring Digital Content”. Topik ini akan membahas bagaimana mempersiapkan diri agar bisa menjadi seorang creative digital content creator yang baik bersama narasumber ahli di bidangnya.

Seminar COMMET 2017 ini terbuka untuk umum meskipun sasaran utamanya adalah pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Acara ini untuk mengajak dan memberi pemahaman kepada pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum mengenai pentingnya kemampuan produksi konten digital serta diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam membuat konten yang mampu memberikan inspirasi dan manfaat positif bagi orang lain.

Untuk mendukung terwujudnya tujuan tersebut, seminar nasional ini akan menghadirkan dua narasumber, yang terdiri dari narasumber lokal dan juga nasional yang berpengalaman di bidang konten digital kreatif yang mampu menginspirasi, yaitu Rai Pendet, film maker asal Bali dan Wishnutama, CEO dari NET. Mediatama yang akan hadir sebagai narasumber nasional. [b]

The post Seminar Konten Digital untuk Generasi Kreatif appeared first on BaleBengong.

Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari

Buku “Ovulasi yang Gagal” in memoriam Putu Vivi Lestari

Bali pada pertengahan 1990-an sangat bergairah dengan kegiatan sastra dan teater.

Penyair-penyair muda juga tumbuh semarak. Salah satu penyair muda yang sangat berbakat pada saat itu adalah Putu Vivi Lestari.

Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Saat itu, bersama teman-temannya, dia rajin menghadiri acara-acara sastra dan teater sejumlah komunitas tempat di Bali. Dia juga rajin menyiarkan puisi, prosa liris, dan esai di ruang apresiasi sastra Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi.

Ketika duduk di bangku kuliah, era 2000-an awal, seiring pergaulan dan bacaannya yang luas, puisi-puisi Vivi semakin matang dan mengejutkan khalayak sastra. Puisi-puisinya banyak menyuarakan tentang persoalan perempuan dalam kaitannya dengan urusan tubuh, domestik, budaya patriarki, dan berbagai persoalan lainnya.

Puisi-puisinya dibangun dari diksi dan metafora-metafora yang digalinya dari berbagai sumber Barat dan Timur: Kitab Injil, Ramayana, Mahabarata, mitologi, tokoh dunia, hingga merek parfum. Dengan kelincahan imajinasi, dia meramu ikon-ikon Timur dan Barat menjadi puisi-puisi yang multikultur, dan juga terkesan metropolitan.

Salah satu puisinya yang mengejutkan adalah puisi yang dibubuhi judul berupa gambar salib, dibuka dengan bait pertama: dosa/ adalah firman/ hari ini. Puisi ini membuktikan kemampuan Vivi meramu ikon-ikon Timur dan Barat menjadi sebuah puisi yang utuh dan padu. Kisah dan tokoh dalam Injil berpadu dengan kisah dan tokoh dalam Mahabarata, dikaitkan dengan berbagai persoalan perempuan.

Bahkan, dia tak segan memasukkan kata “vagina” dalam puisi ini: aku menebus/ dosa vagina/ sarang laba-laba lapuk/ koyak di taman firdaus. Dalam puisi ini, nuansa religius, erotisme, dan eksistensi diri tampak saling berkelindan.

Puisi tersebut dimuat Kompas pada 2000, berdampingan dengan puisi beberapa penyair senior dari Bali. Sutardji Calzoum Bachri yang saat itu menjadi redaktur puisi Kompas—dalam sebuah esai pendeknya yang bertajuk “Puisi dari Bali”—memuji Vivi sebagai penyair muda usia yang memiliki bakat kuat, dan bakal memberikan kekayaan bagi khazanah perpuisian Indonesia di Bali.

Selain Kompas, pada masa itu, puisi-puisi Vivi juga muncul di Jurnal Kebudayaan Kalam, Majalah Sastra Horison, Bali Echo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Jurnal Puisi, Majalah Coast Lines, Pikiran Rakyat, Jurnal Kebudayaan Sundih, dan Jurnal Kebudayaan CAK.

Puisi-puisinya juga bisa dijumpai dalam sejumlah antologi bersama, antara lain Angin (Teater Angin, Denpasar, 1997), Catatan Kepedulian (Jukut Ares, Tabanan, 1999), Ginanti Pelangi (Jineng Smasta, Tabanan, 1999), Art and Peace (Buratwangi, Denpasar, 2000), Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Kompas, 2001), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Kompas, 2002), Ning: Antologi Puisi 16 Penyair Indonesia (Sanggar Purbacaraka, Denpasar, 2002), Malaikat Biru Kota Hobart (Logung Pustaka, 2004), Roh: Kumpulan Puisi Penyair Bali-Jawa Barat (bukupop, Jakarta, 2005), Karena Namaku Perempuan (FKY, 2005), Selendang Pelangi (Indonesia Tera, 2006), Herbarium: Antologi Puisi 4 Kota (Pustaka Pujangga, Lamongan, 2007), Rainbow (Indonesia Tera, 2008), Couleur Femme (Forum Jakarta-Paris & AF Denpasar, 2010).

Vivi juga rajin mengikuti lomba menulis puisi dan meraih sejumlah penghargaan, antara lain: “Lima Terbaik” lomba catatan kecil yang digelar Komunitas Jukut Ares Tabanan (1999), “Sepuluh Terbaik” lomba cipta puisi pelajar SLTA tingkat nasional yang diadakan Jineng Smasta-Tabanan (1999), Juara II lomba cipta puisi dalam pekan orientasi kelautan yang diadakan Fakultas Sastra Unud (1999), “Sembilan Puisi Terbaik” Art & Peace 1999, Juara II lomba cipta puisi dengan tema “Bali pasca tragedi Kuta” (2003).

Kehadiran Vivi sebagai penyair memang tak dapat ditolak. Dia diundang mengisi sejumlah acara sastra tingkat nasional, antara lain: Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003 di Denpasar, Cakrawala Sastra Indonesia 2004 di TIM Jakarta, Ubud Writers and Readers Festival 2004, Festival Kesenian Yogyakarta XVII 2005, Musim Semi Penyair (Printemps de Poetes) 2006 di Denpasar, Temu Sastra Mitra Praja Utama VIII di Banten (2013).

Karena kecintaannya pada buku dan sastra, sekitar tahun 2002 hingga 2005, Vivi bekerja mengelola Rumah Buku Cengkilung yang berlokasi di pinggiran Denpasar Utara. Kemudian dia terlibat dalam redaksi Jurnal Kebudayaan CAK dan Jurnal Kebudayaan Sundih yang terbit di Bali.

Pendidikan terakhir Vivi adalah Magister Manajemen. Sejak 2005, Vivi menjadi dosen di almamaternya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.

Vivi lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1981 dari pasangan I Nengah Artha dan Ni Nengah Laksmini. Vivi termasuk sosok yang pendiam dan cenderung introvert. Buku harian menjadi kawan akrabnya sejak masa kanak. Tidak banyak orang yang bisa memahami dirinya.

Pada 2007, Vivi kawin dengan pelukis Ketut Endrawan. Tujuh tahun kemudian, mereka dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Made Kinandita Radharani, dan pada 2016 dikarunia anak lelaki bernama Nyoman Akira Bodhi Pawitra.

Kesibukan Vivi sebagai dosen, istri, dan ibu cukup menyita banyak waktunya. Dia lama menghilang dari pergaulan dan panggung sastra, serta puisi-puisinya tidak pernah terlihat lagi di media massa.

Sekitar November 2016, tiga bulan setelah melahirkan Bodhi, Vivi didiagnosis terkena leukemia (kanker darah). Vivi terguncang. Dia sempat bertahan beberapa bulan melawan penyakitnya. Namun, Tuhan berkata lain, pada tanggal 8 April 2017 Vivi menyerah dan menghembuskan nafas terakhir di RSUP Sanglah, Denpasar. Pada 14 April 2017, jenazah Vivi dikremasi di Krematorium Mumbul dan abunya dilarung di Pantai Matahari Terbit, Sanur.

Putu Vivi Lestari saat membaca puisi dalam sebuah kegiatan sastra. Foto Made Sugianto.

Mengingat puisi-puisi Vivi layak untuk dicatat, dan atas keinginan keluarganya serta sejumlah teman penyair, kami memandang penerbitan buku ini menjadi suatu hal yang sangat penting. Untuk itu, kami secara khusus berupaya mengumpulkan puisi-puisi Vivi.

Puisi-puisi Vivi berhasil kami kumpulkan dengan bantuan suaminya, Ketut Endrawan. Dia memberikan kami sebuah manuskrip bersampul merah yang berisi tiga puluh satu puisi. Manuskrip itu disusun sendiri oleh Vivi semasa hidupnya, mungkin untuk keperluan tertentu atau dokumentasi pribadi. Dugaan kami, puisi-puisi dalam manuskrip itu dianggap oleh Vivi sebagai karya terbaiknya.

Untuk menghormati pilihan dan keinginan Vivi atas puisi-puisinya, manuskrip tersebut kami masukkan dalam buku sebagaimana adanya. Kami memberi judul “Manuskrip Merah” untuk bagian ini karena mengacu pada warna sampul manuskrip.

Ketika kami memeriksa perpustakaan di rumah Vivi, kami menemukan 21 puisi lain di dalam kliping karya-karya Vivi dan dari buku kumpulan puisi bersamanya.  Selain itu, dalam file-file yang dikirimkan Endrawan, kami juga menemukan sebuah puisi yang tidak ada dalam manuskrip merah, yakni “Aceh: Waktu Yang Kelabu” yang bertitimangsa Januari 2005. Kemungkinan ini puisi terakhir yang dikerjakan penuh oleh Vivi.

Pada November 2016, Vivi juga sempat menulis untaian kata untuk pengantar arsip Jurnal Kebudayaan Sundih yang diluncurkan secara online, yang kami anggap cukup layak dimasukkan dalam buku ini. Untuk kepentingan identifikasi dan daftar isi buku, untaian kata itu kami beri judul “Penyuci Luka”. Semua puisi tersebut kami masukkan ke dalam bagian “Puisi-puisi Temuan”.

Kami memilih judul puisi “Ovulasi yang Gagal” sebagai judul buku ini karena judul tersebut memperlihatkan dengan kuat persoalan perempuan dalam kaitannya dengan urusan tubuh, domestik, budaya patriarki, dan lainnya yang menjadi tema sebagian besar puisi Vivi. Kami juga menyusun daftar istilah untuk memudahkan pembaca menikmati puisi-puisinya. Selain itu, sketsa-sketsa karya Ketut Endrawan mengenai Vivi turut juga kami sertakan untuk memberi gambaran yang lebih utuh mengenai sosok Vivi semasa hidupnya.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak keluarga Vivi yang telah mengijinkan penerbitan buku ini, Made Sugianto dan Pustaka Ekspresi, serta pihak-pihak yang turut mendukung.

Semoga buku ini turut menyemarakkan dunia sastra kita. [b]

***

Judul Buku: Ovulasi yang Gagal
Penulis: Putu Vivi Lestari
Hak Cipta © Ketut Endrawan 2017

Penyunting: Wayan Jengki Sunarta & Phalayasa Sukmakarsa

 

Penerbit: Pustaka Ekspresi
Jl. Diwang Dangin No.54, Br. Lodalang, Desa Kukuh, Marga, Tabanan, Bali Tlp. 081338722481.
Email: [email protected]

Cetakan pertama: Agustus 2017

ISBN: 978-602-5408-05-2

Harga: Rp 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Bagi yang berminat buku ini silakan langsung memesan pada Obed Wewo (WA : 081236842900. Line : kepui_raho).

The post Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari appeared first on BaleBengong.

Soundrenaline 2017, Pesta Musik dan Wisata Baru

Soundrenaline 2017 awalnya hanya sebatas kemungkinan.

Keputusan untuk akhirnya mendatangi even yang digadang-gadang sebagai festival musik terbesar dalam tingkat nasional Indonesia ini pun baru tercetus di H-1. Kali ini yang menguatkan keinginan saya adalah menonton Float dan Homogenic.

Float tampil untuk pertama kali di Bali sekaligus membuka Soundrenaline hari pertama. Homogenic di hari kedua. Sesungguhnya menonton Float secara langsung bukan sesuatu yang baru bagi saya. Tidak bisa dikatakan sering juga, mungkin ini kali kelima saya menonton mereka secara langsung.

Menonton Float dengan masa teramai pun ternyata saya alami tahun lalu di Folk Music Festival (FMF) Malang. Lalu bagaimana di Soundrenaline?

Suasana area amphiteater atau yang dinamai Refine Slim Stage selama dua hari perhelatan Soundrenaline 2017 cukup ramai dan terus bertambah hingga pengujung penampilan mereka. Namun, tidak penuh sesak seperti saat saya menonton mereka di Malang.

Bisa jadi karena Float hadir di jam awal, 16.00 Wita, bersamaan dengan Efek Rumah Kaca yang tampil di Burst Stage. Tampil di panggung amphiteater dengan, dua gitar, bass dan drum menjadi set sederhana band yang digadang-gadang sebagai raksasa folknya Indonesia.

Total 10 lagu yang mereka bawakan. Lagu-lagu dari soundtrack film 3 Hari Untuk Selamanya, album “10”, hingga single paling baru mereka Keruh (2016) Indah Hari Ini (I.H.I) menjadi penutup band yang sudah 13 tahun malang melintang di industri musik indie tanah air pun berhasil mengobati rindu. Saya dan seisi amphiteater semakin kompak bernyanyi bersama Meng pada lagu Pulang.

Namun, perlu diakui bahwa repertoar dari band yang kini hadir dengan formasi baru, setelah Bontel hengkang yang kemudian disusul oleh Raymond, Float Reborn, begitu mereka menyebutnya pun masih menampilkan lagu-lagu lama. Memang kerap menjadi pertanyaan apa yang menjadi materi band yang kini diperkuat Timur Segara, Binsar H. Tobing dan David Lintang, menemani vokal dan gitar Meng. Apalagi tahun ini sudah menjadi tahun ke-13 bagi Float.

Hingga ada celetukan, “Benar-benar lewat sudah nih 3 Hari untuk Selamanya…”

Is “Payung Teduh” sempat berseloroh bahwa musisi dan karyanya adalah sebuah KTP yang memiliki batas waktu berlaku. Karena itu, saat lewat masa berlaku dan tidak diperpanjang, maka bukan tidak mungkin kena razia. Semacam simbol eksistensi. Jika lewat dari batas tersebut maka tidak diakui, yang kemudian mau tak mau mendorong mereka kembali mengumbar janji akan kelahiran album anyar mereka di November mendatang.

Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, langsung pada Float juga. Tadinya.

Hingga kemudian, jadwal jumpa pers band ini batal. Dan pertanyaan tersebut kembali mengapung atau mungkin Float memilih menggunakan KTP seumur hidup.

Kolaborasi Stars and Rabbit dan Bottle Smoker (SRXBS) di Soundrenaline 2017.

Dimensi Lain

Namun, patah hati sedikit terobati dengan penampilan kolaborasi Stars and Rabbit dengan Bottle Smoker. Kolaborasi yang mereka namai dengan SRXBS ini menurut saya adalah yang paling berhasil di antara total 9 kolaborasi yang dihadirkan di Soundrenaline 2017.

Menyaksikan Stars and Rabbit sendiri saja sudah mampu menghipnotis para audiensnya. Setidaknya itu yang tampak pada Soundrenaline 2016 yang lalu di tempat yang sama yang disesaki penonton. Itu yang kembali terjadi tahun ini.

Bukan lagi suasana magis yang kerap saya rasakan saat menonton perform Elda dan Adi, sebagai Stars and Rabbit. Kali ini lewat kolaborasi SRXBS, saya seperti dibawa ke dimensi lain.

Lagu-lagu milik Stars and Rabbit hadir berbeda. Begitu juga Bottle Smoker, dengan karya-karya nir lirik, yang kemudian diisi vokal dan lirik oleh Elda, pada lagu Frozen Scratch Cerulean. Tak hanya itu, sebagai bentuk kolaborasi seutuhnya, mereka pun menelurkan dua lagu baru dalam penampilannya tersebut.

Kali ini dua lagu milik proyek SRxBS, yang sesungguhnya sudah digagas bahkan sejak 2013 yang lalu, bukan lagi secara pribadi Stars and Rabbit ataupun Bottle Smoker.

Di sini, baik Stars and Rabbit dan Bottle Smoker melepaskan atribut mereka masing-masing dan mencoba melebur bersama. Tidak hanya di antara keduanya. Bahkan dalam penampilannya malam itu, seluruh penonton bangkit dari tempat duduknya menyanyi bersama menutup penampilan mereka lewat lagu Man Upon The Hill.

Kematangan ini mungkin lahir dari kebersamaan SRxBS yang akhirnya sudah dimulai sejak akhir tahun 2016 yang lalu. Panggung Soundrenaline 2017 ini pun sesungguhnya menjadi yang kesekian, namun untuk kedua lagu barunya, penonton di Bali mendapatkan kesempatan pertama mendengarkannya secara langsung.

“Di sini kami berusaha melepaskan atribut kami masing-masing. And its quite refreshing, di saat saya tengah jenuh mengerjakan album kedua Stars and Rabbit, di sini saya justru seperti menemukan jalan,” kata Elda di kesempatan berbeda.

Sayangnya, hal tersebut tak saya rasakan ketika menyaksikan Homogenic X Neonomora pada hari kedua. Di tempat yang sama, amphitheater, seluruh seat memang terisi penuh. Set panggung sendiri bahkan menghadirkan 3 synthesizer untuk mengiringi kolaborasi.

Saya sendiri awalnya sangat penasaran, segawat apa kolaborasi mereka. Pertunjukkan ini dibuka oleh HMGNC, trio elektronik ini hadir dengan lagu-lagu baru mereka. Secara bergiliran dengan Neonomora. Setelah itu barulah keduanya tampil bersama.

Neonomora identik dengan karakter vokal kuatnya, mengingatkan saya pada Adele. Dan yang saya rasakan dalam kolaborasi ini justru Amandia Syachridar ikut tertarik ke sana. Secara pribadi, saya tidak mendapatkan “blend” keduanya.

Namun kembali, musik adalah masalah selera. Walaupun saya kurang menikmatinya, bukan berarti itu jelek. Nyatanya penonton tetap bertahan hingga akhir dan memberikan applause untuk kolaborasi kental elektronik ini.

Lebih Rapi

Secara keseluruhan Soundrenaline tahun ini tampak dan terasa lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Walau permasalahan teknis tetap terjadi namun dengan tanggap segera diatasi. Antrean berdesak-desakan yang terjadi di tahun lalu, tidak terjadi lagi sekarang.

Relaxing area atau tempat bersantai pun tampak lebih banyak di tahun ini. Sehingga penonton bisa melipir sejenak, untuk sekadar rehat atau melakukan fun activity yang disediakan pihak penyelenggara.

Untuk konten pengisi acara, kembali lagi pada selera. Pandangan akan band-band jalur mainstream yang absen tahun ini menjadi sorotan. Walau sebenarnya nama-nama seperti Sheila on 7, NAIF, /RIF, Andra and The Backbone masih bertahan. Namun bagi penikmat band indie, nama besar seperti ERK, Float, Payung Teduh, Stars and Rabbit hingga pendatang baru, Barasuara yang memiliki massa tersendiri, tentu menjadi magnet.

HMGNCXNEONOMORA

Dan untuk musisi internasional, kali ini Soundrenaline menggaet 4 musisi, JET, MEW, Cults, Dashboard Confessional.

Kimokal

Yang cukup menarik, musisi dengan balutan elektronik cukup meramaikan line up Soundrenaline 2017. Sebut saja Bottle Smoker, Goodnight Electric, Diskopantera, HMGNC, Kimokal hingga Dipha Barus yang kerap hadir di berbagai panggung electronic dance musik (EDM) Indonesia.

Namun pihak Soundrenaline sendiri membantah bahwa mereka mengikuti pasar EDM yang memang tengah naik daun. Mengembalikan pada tema United We Loud yang diusung untuk Soundrenaline 2017, di mana event ini sebagai bentuk perayaan keberagaman musik di Indonesia.

“Kalau melihat pasar EDM, tidak ada arah ke sana. Jadi seperti tema, Soundrenaline ini benar-benar sebagai showcase musik Indonesia dengan beragam genre di dalamnya,” kata Novrial Rustam, Managing Director KILAU Indonesia.

Sesungguhnya, perubahan konsep secara signifikan sendiri sudah terasa sejak tahun 2015 yang lalu. Dengan tema “Change The Ordinary”, Soundrenaline hadir dengan suguhan musik multi-genre termasuk musisi internasional sebagai headliner, selama dua hari di GWK. Jika di tahun-tahun sebelumnya Soundrenaline digelar di beberapa kota, sejak tahun 2015 lalu secara tetap, puncak acara dihelat di Bali.

Adapun Road to Soundrenaline, pra-event yang menjadi rangkaiannya yang digelar sebelumnya di beberapa kota. Road to Soundrenaline 2017 sendiri hadir di 50 titik di berbagai kota di Indonesia.

“Di tahun 2017 ini musisi multi genre semakin bermunculan. Ini sebagai pesan untuk menyuarakan keberagaman lewat musik dan ruang kreatif,” ujar Rustam.

Gaet Pariwisata

Festival musik sesungguhnya menjadi bagian tersendiri dalam perkembangan skena musik di satu daerah dan seiring perkembangannya menjadi gaya hidup bagi masyarakat urban.

Di Bali setiap tahunnya, festival musik seolah menjadi satu kalender event yang tak hanya ditargetkan untuk memberikan wadah bagi musisi, seniman dan penikmatnya dalam hal ini audiens, namun juga menjadi gaya hidup hingga gaet pariwisata yang memang diamini oleh beberapa penggagasnya.

Untuk tahun 2017 ini, berdasarkan data yang diberikan panitia Soundrenaline 2017, ada sekitar 83.151 penikmat musik yang hadir di Soundrenaline 2017. Tidak hanya dari lokal Bali, namun penonton yang hadir dalam dua hari perhelatannya tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga para turis dari luar negeri yang ingin menikmati sajian musik di tanah eksotis dengan branding pariwisatanya ini.

Soundrenaline pun hanya satu di antaranya. Masih banyak deretan festival yang hadir dari awal hingga penghujung tahun. Tidak hanya yang digelar oleh lokal Bali sendiri, festival musik bertaraf nasional hingga internasional hadir. Sebut saja Jazz Market By The Sea, Bali Blues Festival, Sanur Mostly Jazz, Pacha Festival, Ubud Village Jazz Festival, Ultra Beach Bali, Bestival, Bali Reggae Festival dan pelbagai festival lainnya, belum termasuk yang digelar oleh kalangan pelajar maupun mahasiswa. [b]

The post Soundrenaline 2017, Pesta Musik dan Wisata Baru appeared first on BaleBengong.

Inilah Para Nominasi Begadang Filmmaking Competition

Foto karya Mohamad Vector Rahmawan (Syahdu Cinema Nusantara) salah satu pemenang Instagram Photo Contest, sebuah kompetisi pengiring Begadang Filmmaking Competition 2017 pada 2 – 3 September 2017.

Begadang Filmmaking Competition adalah kompetisi unik.

Kompetisi dengan skala nasional ini menantang para pesertanya untuk menyelesaikan film pendek mereka dengan batas waktu produksi 34 jam. Penyelenggara kompetisi ini adalah organisasi film pendek Minikino sebagai kegiatan pra-event dari acara tahunan Minikino Film Week, Festival Film Pendek Internasional yang akan dilangsungkan pada 7-14 Oktober 2017 mendatang di Bali.

Pendaftaran dibuka pada 20 Juli 2017 sampai 25 Agustus 2017 secara on-line. Tercatat 40 tim peserta mendaftar, namun hanya 30 tim yang memenuhi persyaratan untuk maju ke tahap produksi.

Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimatan Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali.

Kegiatan utama kompetisi adalah pembuatan film yang dilakukan para peserta di lokasi mereka masing-masing. Proses ini telah berlangsung pada Sabtu (2/9) tepat pukul 8 pagi WITA. Panitia memberi aba-aba mulai secara on-line dengan memberitakan panduan-panduan elemen audio visual yang sebelumnya dirahasiakan.

Berita ini dilakukan serentak di berbagai kanal milik Minikino, termasuk Instagram, Facebook, Twitter dan website resmi. Juga diberitakan melalui nomer SMS pribadi masing-masing peserta.

Dengan menggunakan panduan ini, para peserta mulai membangun ide cerita mereka, merancang produksi, melakukan shooting, editing dan seluruh proses yang diperlukan untuk menyelesaikan film pendek dengan durasi maksimal 5 menit.

Tiga puluh empat jam kemudian, pada Minggu (3/9) pukul 6 sore, seluruh film karya peserta yang berhasil menyelesaikan filmnya harus sudah diterima panitia di Posko Begadang. Secara fisik, posko ini berada di sekretariat Minikino di Denpasar, Bali. Pengiriman file film juga dilakukan secara on-line.

Akhirnya, tersaring hanya 17 tim produksi yang berhasil membuktikan kehandalan menyelesaikan film pendek mereka sesuai batas waktu yang diberikan. Dari ke 17 karya ini, tim seleksi memilih 6 karya terbaik untuk masuk ke penilaian tim juri final, yang akan menentukan juara 1, 2 dan 3 Nasional.

Berikut ini daftar judul karya dari enam kelompok produksi yang menjadi nominasi pemenang:
1. 1 YANG TERSISA (Bali Atmosphere Film Sukasada, Buleleleng, Bali / 06:02)
2. ALMARI (Guru Banjarmasin, Kalimantan Selatan /2 menit)
3. DIA (D’ Lapan Tuju Malang, Jawa Timur / 4 menit)
4. KAMBING HITAM (Syahdu Cinema Nusantara Bekasi, Jawa Barat / 5menit)
5. MANTAP JIWA (YPS Studios Pictures Medan, Sumatera Utara / 5menit)
6. MIBER (Gunungan Cine Surabaya, Jawa Timur / 5 menit)

Keenam finalis tersebut juga diundang ke Bali pada saat festival film pendek internasional 3rd Minikino Film Week berlangsung di Bali 7 – 14 Oktober 2017. Mereka menerima penggantian biaya kedatangan sebesar Rp 1 juta serta akomodasi gratis untuk hadir dalam malam penganugerahan Internasional pada 14 Oktober 2017 di Denpasar.

Dalam acara ini akan diumumkan film pendek terbaik pertama, kedua dan ketiga, memperebutkan hadiah uang tunai sebesar Rp 10 juta.

Foto karya Muhammad Rofiqi (Laperkuy).

Minikino Film Week pada tahun ketiga menghadirkan kompetisi unik ini dengan harapan optimis, untuk menghubungkan lebih banyak lagi para pembuat film pendek di Indonesia, serta menawarkan sebuah pengalaman produksi yang dapat dikenang. Begadang Filmmaking Competition 2017 menjadi catatan yang penting dalam perjalanan waktu perkembangan film pendek di Indonesia dan akan menjadi ajang tahunan bersama-sama festival Minikino Film Week. [b]

The post Inilah Para Nominasi Begadang Filmmaking Competition appeared first on BaleBengong.