Tag Archives: Jokowi

Mengurangi Nyinyir soal PilPres di akun Media Sosial

Entah sudah kali keberapa saya mendapat teguran soal share materi di akun media sosial FaceBook saat perhelatan PilPres dilaksanakan periode lalu. Baik oleh sesama rekan ASN maupun kawan-kawan baik disekitar, yang masih masih mau mengingatkan. Kala itu PakDe Jokowi lagi bertarung untuk pertama kalinya dengan Om Prabowo. Saya sampai kehilangan beberapa kawan bahkan memblokir mereka […]

Pelajaran dari Politik Hari Ini Untuk Kita Semua

Pelajaran dari Agus Harimurti untuk kita semua : Jangan resign kalau belum dapat kerjaan baru, meskipun dapet rekomendasi dari bapak. Pelajaran dari Pak Mahfud buat kita semua : Jangan cerita ke orang-orang dapat kerjaan baru kalau belum sign kontrak. Pelajaran dari Sandiaga untuk kita semua : Selalu liat peluang baru yang lebih baik. Berani keluarin […]

Catatan Mingguan Men Coblong: Impetus

Jokowi saat bersama sejumlah menterinya. Foto Setgab.

MEN COBLONG membelalakkan matanya lebar-lebar menonton televisi.

Dahi Men Coblong terasa panas. Begitu pula ubun-ubunnya. Mulutnya merengut. Dahinya juga berkerut membuat lukisan-lukisan timbul tidak menarik di wajahnya yang tidak lagi muda. Matanya yang sedikit rabun terus mendelik.

Di depan televisi, Men Coblong menyaksikan alangkah girangnya para petinggi partai jika diundang orang nomor satu di republik ini. Senyum mereka semringah. Tutur katanya sopan, bahasa tubuhnya terlihat penuh hormat.

Seolah tidak ada satu potong huruf pun dari pertemuan yang sulit dideteksi orang awam itu terlihat penuh gontok-gontokan dan terasa berhawa panas. Bak dunia akan kimiat mendadak jika suara-suara mereka tidak didengar. Para petinggi itu tersenyum manis dengan wajah tampan dan berseri.

Tidak ada makian. Tidak amarah. Tidak ada juga dengki. Tidak ada saling sindir. Tidak ada yang satu merasa lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Tidak juga terlihat yang satu lebih dicintai Tuhan yang satu tidak. Tidak terlihat juga yang satu keturunan malaikat yang satu lagi keturunan setan.

Suasana pertemuan itu terlihat damai di televisi. Juga wajah-wajah girang melintas sangat damai di pesawat televisi Men Coblong. Wajah orang nomor satu di Republik ini bagi Men Coblong tidak berubah. Begitu-begitu saja. Caranya bicara, gerak tubuhnya, agaknya tidak ada yang berubah.

“Berubahlah, sedikit,” kata sahabat Men Coblong serius.

“Tidak. Wajahnya tetap datar dan sulit ditebak,” jawab Men Coblong tidak kalah serius.

“Kupikir makin hari presiden kita makin cerdas, kok. Caranya berhadapan dengan orang-orang di negeri ini sudah semakin mahir. Minimal saat ini presiden kita sudah mampu mengeja arah angin. Walau pun yang ngerecokin makin hari makin bertambah bukannya berkurang. Tapi aku yakin, itu bagian pembelajaran untuk naik ke kelas yang lebih tinggi.”

Men Coblong setuju dengan argumentasi sahabatnya itu. Agaknya presiden sudah mulai belajar banyak dengan segala atraksi-atraksi yang jujur saja seringkali tidak masuk akal dan membuat hal-hal yang harusnya tidak jadi urusan presiden, justru presiden akhirnya harus turun tangan. Bahkan sampai hal-hal kecil.

“Kupikir presiden kita itu oke juga.”

“Ya, kalau tidak oke bagaimana menghadapi para “perusuh” yang tidak jelas di dalam tubuhnya sendiri,” Men Coblong berkata sungguh-sungguh.

Perusuh yang menghabiskan energi adalah perusuh yang muncul dari tubuh kita sendiri. Perusuh yang membuat energi hidup tergerus juga berasal dari orang-orang terdekat, orang-orang yang menikam dari belakang. Pengecut yang terus melecut dirinya untuk tidak jadi penakut.

Ya, senyum orang nomor satu itu dirasakan Men Coblong penuh kewaspadaan, karena hampir lima tahun disenggol kiri-kanan. Dibenturkan juga dengan orang-orang yang dipilihnya sendiri dan diharapkan bisa membantu kerja kerasnya untuk membangun negeri ini. Orang-orang yang menyodorkan para asisten terbaik ala mereka untuk meringankan bebannya. Namun, justru orang-orang inilah yang bingung mencari jalan untuk mengusik dan mengurai beragam program-program yang telah disusunnya.

Dan hari ini, entah sampai kapan, wajah-wajah semringah jika dipanggil orang nomor satu itu justru terasa memunculkan sesuatu yang berbeda.

Men Coblong merasa tidak begitu mengenal orang-orang berwajah semringah itu. Dengan senyum menebar rasa damai. Dengan burung garuda di dada dan Pancasila di hati. Apakah mereka semua itu benar-benar telah memasang wajah mereka sendiri?

Wajah-wajah yang terasa asing bagi Men Coblong bahkan terasa aneh. Mereka seperti tampil dengan wajah orang lain.

Selama ini wajah-wajah itu, wajah-wajah yang dikenal Men Coblong selalu memberi pernyataan kepada pers tentang beragam kebijakan-kebijakan, yang justru sering membuat yang mendengar makin linglung dan bingung.

Biasanya, sepanjang pengetahuan Men coblong wajah-wajah itu tidak seperti yang dilihat di TV. Wajah ruwet dengan sorot mata penuh perhitungan. Hawa yang menyembur dari wajah mereka sangat tidak memberi ketenangan, karena berisi hujatan, kritik dan hal-hal yang membuat Men Coblong gagal paham. Sudah diberi kursi menteri kok malah tambah keras berteriak memberi kritik tanpa solusi.

Ke mana larinya wajah-wajah itu? Jangan-jangan mereka lupa wajah mereka sendiri, karena terlalu sering mengganti wajah mereka untuk setiap karakter yang dimainkan.

Celaka kalau begitu. Men Coblong menarik napas dalam-dalam. Lalu, apakah yang telah dibicarakan orang nomor satu itu kepada mereka? Sehingga mampu membuat orang-orang itu mengubah wajahnya sendiri. Wajah yang dijamin tidak mereka kenali sendiri. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Impetus appeared first on BaleBengong.

5 Hal Penting yang Wajib diKetahui soal KPR BTN Rumah Subsidi dari Pemerintah

Tingginya angka kekurangan kepemilikan rumah, masih menjadi pe-er penting bagi pemerintah Indonesia. Tak terkecuali pada era Presiden Jokowi ini. Hal ini diungkap oleh Pak Ketut Suyasa, perwakilan dari BTN dalam salah satu sesi akhir pemaparan, saat agenda pertemuan di Hotel Grand Santhi Selasa 24 April 2018 kemarin. Salah satu program pemerintah yang kini digenjot kembali […]

Polling akun Twitter Bang @iwanfals Bikin Gerah

Sosial Media Twitter belakangan ramai pasca dimulainya Gong Pilkada DKI Jakarta yang menyajikan 3 pasangan calon Cagub dan Cawagub. Jadi makin ramai setelah aksi Bela Agama tanggal 4 November lalu yang sepertinya memiliki agenda lain dari apa yang dikoarkan banyak pihak. Namun terlepas dari semua karamaian itu, rupanya ada satu akun yang bisa jadi berawal […]