Tag Archives: Jembrana

Rumah Sanur, Modal Manusia, Musik dan Militansi


Jah Megesah Vol. 03 menghadirkan Rudolf Dethu dan Ayip Budiman. Foto Wendra Wijaya.

Membangun peradaban adalah membangun mental manusia.

Manusia menjadi energi besar kemajuan jika memiliki kebanggaan dan keterlibatan aktif bagi apa yang diperjuangkannya. Dua pembicara Jah Megesah Vol. 03, Rudolf Dethu dan Ayip Budiman, sepakat menempatkan manusia menjadi unsur vital, melalui kreativitas dan militansi yang dimilikinya.

Jah Megesah kali ini mengambil tema Rumah Sanur: Modal Manusia, Musik, dan Militansi. Obrolan di Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Negara, Jembrana ini dimoderatori Umam al Maududy.

Diskusi ini mendapat perhatian serius dari banyak pihak. Sebab aktivasi ruang, baik berupa komunitas ataupun wilayah atau kota, memiliki persamaan mendasar meski dengan tantangan yang beragam.

“Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan terhadap apa saja yang diperjuangkan. Jika kebanggaan ini melekat, otomatis militansi akan tumbuh sebagai modal dasar untuk membangun sesuatu. Apa pun itu,” ungkap Ayip.

Ayip merupakan inisiator Rumah Sanur. Sejak awal, ia memang membentuk Rumah Sanur menjadi rumah kreatif bagi siapa saja. Melaui Rumah Sanur, Ayip berupaya mengarahkan pembangunan kreativitas yang inklusif. Caranya dengan membentuk ekosistem kreatif untuk mendorong inovasi sosial yang berfokus pada pengelolaan sumber daya dan pengembangan produk.

Untuk mencapainya, ada tiga hal mendasar yang menjadi titik berangkat Rumah Sanur, yakni sense of place, 3rd space, dan serendipity space. Ketiganya bersinergi untuk memberi sensasi pertemuan bagi setiap orang.

Menurut Ayip kesan sebuah tempat sangat penting di dalam menumbuhkan keinginan untuk selalu datang. Menariknya adalah ketika orang-orang dari berbagai latar belakang mengunjungi Rumah Sanur, pengelola menskenariokan kedatangan itu agar terjadi hubungan baru di antara pengunjung.

“Karena itu, konsep yang dibangun di Rumah Sanur memungkinkan untuk terjalinnya relasi baru di antara sesama pengunjung. Sekali lagi, kita sengaja skenariokan jalinan relasi itu,” terangnya.

Media Musik

Di sisi lain, Rudolf Dethu mengungkapkan strategi untuk menarik kedatangan pengunjung adalah lewat media musik. Ia percaya, musik merupakan alat komunikasi paling efektif untuk mempertemukan, sekaligus merekatkan berbagai kalangan.

“Musik bisa merangkul siapa saja, paling gampang ditularkan untuk menciptakan crowd. Karena itu, musik yang kita programkan mesti lintas genre dan berjenjang untuk menarik massa yang berbeda,” ungkapnya.

Dethu yang selama ini dikenal sebagai propagandis mengingatkan bahwa modal manusia adalah segala-galanya. “Melelahkan itu pasti. Kita mesti menjadi host, menyambut setiap orang yang datang dan menciptakan suasana yang akrab ke sesama audience,” ujar Dethu.

“Selain itu, kita juga melakukan pendampingan terhadap musisi. Memang benar kita open terhadap segala genre musik, tapi bukan berarti kita tidak mengkurasinya. Kurasi penting untuk menjaga kualitas pertunjukan sekaligus sebagai tanggung jawab kita juga kepada publik,” tambahnya.

Namun, tiap kota punya ceritanya masing-masing.

Pengelola Rompyok Kopi sekaligus Koordinator Komunitas Kertas Budaya, Nanoq da Kansas, mengisahkan bagaimana ia dan kawan-kawan di Jembrana cukup militan untuk membangun tempat yang diproyeksikan sebagai rumah singgah tersebut.

Hampir setiap hari, selalu saja ada aktivitas utamanya mengenai pembelajaran seni kepada pelajar di Jembrana. “Tapi akhirnya malah warga yang seperti enggan datang. Rompyok jadi terkesan tenget dan hanya jadi tempat bagi ‘orang-orang serius’,” ungkapnya.

Terkait hal ini, sekali lagi Dethu menerangkan jika segalanya akan bisa cair lewat musik. Namun yang mesti digarisbawahi adalah, komunikasi yang ditawarkan harus lebih ngepop. Karena itu, pengelola mesti mampu merangkul setiap kalangan dari berbagai usia.

Sementara Ayip menjelaskan bahwa keberadaan tempat harus memberi manfaat dan mampu mengakomodasi aktivitas warga. Hal ini berarti, penting untuk menciptakan persamaan antara sesama manusia, tidak ada perlakuan yang berbeda.

Di sisi lain, lanjut pria yang juga merupakan konsultan branding beberapa kota di Indonesia, pemahaman terhadap peta potensi wajib dimiliki. Namun, tak berhenti sampai di sana, pemuktahiran juga menjadi keharusan karena selalu berlaku dinamis. Setiap tempat, termasuk kota memiliki karakternya masing-masing, entah itu karena pengaruh historis atau lainnya.

Dengan demikian, setiap kota mesti memiliki story telling-nya sendiri untuk memproduksi wacana yang mampu mencerminkan identitas masing-masing, tanpa mengabaikan siapa saja yang menjadi bagian di dalamnya.

“Segalanya harus dirangkul. Bergerak bersama dan menciptakan kesamaan visi untuk mencapai apa yang diharapkan. Interaksi harus dibangun dengan titik berat pada transformasi pengetahuan,” demikian Ayip.

Sementara Wakil Bupati Jembrana, Made Kembang Hartawan, mengapresiasi program Jah Megesah yang diselenggarakan Jimbarwana Creative Movement (JCM) bersama Komunitas Kertas Budaya. Menurutnya program ini penting sebagai media edukasi, utamanya di era digital yang demikian pesat.

Menurut Kembang orang-orang yang survive adalah mereka yang kreatif dan mampu meningkatkan nilai produk. Kreativitas masyarakat Jembrana tentu juga merupakan kekayaan daerah yang mesti diapresiasi dengan serius.

“Karena itulah, Pemda (Pemkab Jembrana) ingin memaksimalkan kreatif muda Jembrana, salah satunya dengan membangun creative hub,” tukasnya. [b]

The post Rumah Sanur, Modal Manusia, Musik dan Militansi appeared first on BaleBengong.

Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan

Membangun sebuah brand tak sesederhana memiliki produk semata.

Jauh melebihi itu, mesti ada ide dan gagasan besar yang melatarbelakangi keberadaannya. Sebuah brand, bagi Ary Astina alias JRX, semestinya bisa menjadi pernyataan sikap atas berbagai dinamika sosial di masyarakat.

Menjadi suara-suara yang (minimal) mampu mewakili diri sendiri.

Selama ini JRX memang dikenal sebagai pemuda kritis. Dalam berbagai peristiwa, ia kerap berada terdepan untuk menyuarakan kegelisahan. Tidak hanya melalui musik bersama grupnya Superman is Dead (SID) dan berbagai aksi massa, JRX juga menyuarakan kegelisahannya dalam sunyi, melalui brand Rumble (RMBL).

JRX hadir dalam Jah Megesah Vol #1: Build Your Own Brand yang digelar Jimbarwana Creative Movement (JCM) bersama Komunitas Kertas Budaya. Jimbarwana Creative Movement merupakan sekumpulan pemuda Jembrana dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, mulai dari creative enterpreneur hingga ke seniman digital. Kecintaan pada Jembrana sebagai “Ibu” melahirkan kegelisahan untuk menciptakan Jembrana yang lebih progresif.

JRX mengingatkan pentingnya passion dalam menjalankan bidang usaha. Sebab, passion akan menciptakan komitmen dan fokus untuk menjaga kontinuitas usaha.

“Namun, jauh yang lebih penting, brand yang dimiliki selayaknya mampu menjadi identitas, sekaligus media propaganda atas pemikiran dan gagasan yang kita miliki,” kata JRX yang hadir sebagai pembicara, dimoderatori founder beritabali.com Agus Swastika di Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Rabu malam.

Sopir Truk

Dalam design-design RMBL, misalnya, JRX tidak menginginkan produknya hanya berhenti sebatas fashion. Karena itu, RMBL sering menggunakan idiom buruh ataupun sopir truk untuk mewakili kaum marginal.

Hasilnya, produk RMBL dianggap mampu menyuarakan kegelisahan masyarakat sehingga strategi marketing konvensional menjadi tidak terlalu penting. Kesamaan visi yang hadir melalui simbol-simbol dalam produk akan menghapus jarak antara produk dengan penggunanya.

Selama ini RMBL memang diperuntukkan juga sebagai media propaganda untuk melawan hal-hal yang sering ditabukan masyarakat dengan alasan-alasan mainstream, seperti ketakutan berlebih akan norma yang melekat pada keindahan wanita, budaya alternatif dan substansi mood altering. Sebab, menjadi diri sendiri terasa sulit di negara bhinneka yang penuh aturan moral ini.

“Brand itu bukan sekadar produk semata. Ini tentang energi untuk melawan dan menjadi diri sendiri,” ucap JRX yang dalam pengakuannya juga pernah gagal dalam bisnis fashion di bawah bendera Lonely King pada tahun 2005.

Dalam membangun RMBL, JRX tidaklah sendiri. Bersama Ady, bassist band rockabilly The Hydrant, mereka saling dukung untuk membesarkannya hingga akhirnya memiliki brand position yang kuat di Indonesia, dengan memanfaatkan seluruh channel social media yang dimiliki.

Tak hanya sebagai produsen fashion, RMBL juga menyasar kepedulian anak-anak muda pada isu lingkungan. Eco Defender pun terbentuk dan bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali untuk melakukan gerakan perlawanan atas kebijakan-kebijakan yang dinilai tidak pro terhadap lingkungan hidup.

Dari setiap produk yang terjual di RMBL, sebanyak Rp 2.000 disumbangkan untuk mendukung gerakan tersebut.

Pengaruh Personal

Dalam sesi diskusi, Ariadi, salah seorang peserta menanyakan masalah pengaruh personal brand JRX dengan brand produk RMBL. Karena persepsi di masyarakat, JRX adalah RMBL dan RMBL adalah JRX.

“Apa yang terjadi jika Bli JRX keluar dari Rumble, apakah produknya masih akan diminati?” tanya Ariadi yang juga penggerak wirausaha muda di Jembrana.

Menurut JRX, pengaruh dirinya tentu ada, tetap tidak akan signifikan. Karena selain dirinya, RMBL juga terdiri dari orang-orang yang satu visi dan memiliki integritas yang sama.

“Sikap kritis saya atas isu-isu sosial, juga pasti akan berpengaruh. Tapi saya kira ini seperti seleksi semesta. Konsumen paham kalau RMBL bukan sekedar produk fashion, tapi ada nilai pergerakan di sana. Mungkin saja akibat sebuah aksi saya membuat konsumen meninggalkan RMBL. Namun saya yakin konsumen baru akan berdatangan karena aksi saya sesuai dengan prinsip mereka,” tegasnya.

Antusiasme peserta dalam Jah Megesah begitu terasa. Creativepreneur yang hadir benar-benar memaksimalkan kegiatan tersebut untuk menggali dan menemukan jawaban permasalahan mereka masing-masing.

Era Digital

Sementara itu, koordinator Jah Megesah, Wena Wahyudi, menyinggung era digital yang memberi dampak sangat besar pada dunia usaha. “Kini promosi tak lagi butuh biaya tinggi. Kita bisa memanfaatkan media sosial masing-masing, selanjutnya bisa menjajaki platform besar yang ada, misal Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya,” ucapnya.

Melalui program Jah Megesah, Wena bersama JCM mencoba mengajak creativepreneur Jembrana untuk ambil bagian di era digital yang bergerak demikian pesat. Build Your Own Brand merupakan topik awal dalam Jah Megesah. Program ini akan berkelanjutan membahas unsur-unsur penting lainnya dalam bisnis digital sehingga mampu menjadi acuan di dalam mengembangkan usaha.

“Selain membangun brand, apalagi yang dibutuhkan bersaing di bisnis digital ini? Kita akan gelar Jah Megesah yang akan datang dengan mengangkat commercial photo, creative video promotion, menulis dengan basic story telling, dan lain-lain. Prinsipnya, kita harus menjadi pemuda yang progresif. Salah satunya ambil bagian dalam era digital ini,” demikian Wena.

Di akhir acara, JRX menyanyikan lagu Jadilah Legenda untuk memotivasi pemuda di Jembrana. Setelahnya kelompok Badai di Atas Kepalanya benar-benar memungkasi acara yang berjalan selama 3 (tiga) jam tersebut. [b]

The post Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan appeared first on BaleBengong.

Petani Jembrana Harumkan Kakao Fermentasi Indonesia

Pelepasan biji kakao dari Jembrana ke pembeli.

Harapannya, Jembrana bisa menjadi jendela kakao fermentasi Indonesia.

Petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali mengirimkan biji kakao kering fermentasi sebanyak 11 ton untuk pembelinya di pasar internasional maupun domestik. Pengiriman secara seremonial diadakan pada Kamis, 6 September 2018, di depan Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Negara, Jembrana.

Hadir sekitar 700 undangan, termasuk petani, pelajar, Bupati Jembrana, dan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Petani yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS) mengirim biji kakao kering tersebut ke lima pembeli yaitu Valrhona Peranci (5 ton), AKP Organic untuk Dari-K Jepang (2 ton), Cau Chocolate (2 ton), POD (1 ton), dan Bali Chocolate Factory (1 ton). Seluruhnya dalam bentuk kakao kering fermentasi.

Keberhasilan petani kakao Jembrana mengekspor kakao fermentasi ke Perancis dan Jepang maupun pasar domestik ini mendapat apresiasi dari Dirjen Perkebunan Bambang. Dalam sambutan pelepasan ekspor, Bambang mengatakan kakao fermentasi dari Jembrana menjadi bukti bahwa Indonesia bisa memproduksi kakao berkualitas.

“Jembrana luar biasa karena menjadi percontohan kakao fermentasi nasional. Jembrana bisa menjadi jendela masa depan kakao Indonesia yang berkualitas,” kata Bambang.

Jembrana luar biasa karena menjadi percontohan kakao fermentasi nasional. Jembrana bisa menjadi jendela masa depan kakao Indonesia yang berkualitas.

Bambang menambahkan saat ini kebutuhan cokelat dunia semakin bertambah. Indonesia berpotensi menjadi produsen kakao berkualitas dunia karena selama ini merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Dengan kualitas lebih bagus, termasuk melalui fermentasi, kakao Indonesia akan mendapatkan harga lebih tinggi pula.

Menurut Bambang Indonesia sebagai pengahasil kakao terbesar ketiga di dunia justru dikenal sebagai produsen kakao yang terburuk karena tidak terfermentasi. “Kesadaraan untuk mengolah kakao melalui fermentasi itu tumbuh dari Jembrana dan itu pelajaran yang sangat penting untuk kita,” ujarnya.

Masa depan kakao Indonesia, Bambang melanjutkan, akan berjaya seiring dengan perhatian dari para pembeli yang memberikan harga lebih tinggi. Karena itu, Bambang mendesak agar Pemerintah Kabupaten Jembrana lebih serius menjadikan kakao sebagai komoditas unggulan daerah. “Pemahaman perkebunan yang baik akan berdampak terhadap hasil lebih baik karena pemahaman pejabat-pejabat daerah masih menganggap sektor perkebunan itu belum penting. Padahal, perkebunan adalah fundamental kekuatan ekonomian nasional,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan juga penandatanganan MOU antara Koperasi KSS dengan POD Chocolate, Mason Gourmet Chocolate, Cau Chocolate dan AKP Organic untuk dukungan kerjasama yang lebih berkelanjutan. Kampanye Coklat juga menjadi bagian dari membangun kesadaran publik bahwa kakao Jembrana adalah milik bersama dan patut untuk didukung. Public Awareness melalui Chocolate Campaign sepenuhnya didukung oleh Cau Chocolate, POD Chocolate dan Mason Gourmet Chocolate. Dedikasi penuh ini diberikan untuk para pejuang kakao Jembrana.

Penandatanganan MoU antara petani kakao dengan pembeli.

Menjawab Tantangan

Bupati Jembrana I Putu Artha menyatakan menyambut baik saran Dirjen Perkebunan tersebut sebagaimana selama ini sudah ditunjukkan oleh Pemkab Jembrana. Pihak menyadari bahwa sektor pertanian dan perkebunan berperan penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan, tetapi di sisi lain sektor ini justru menghadapi banyak tantangan, seperti alih fungsi lahan dan kurangnya minat anak muda.

“Selama delapan tahun terakhir kami menyambut baik program Kakao Lestari untuk pengembangan kakao unggulan yang dampaknya sudah dirasakan oleh para petani saat ini. Petani mulai bangkit untuk mengelola kebun kakaonya dari hulu sampai hilir, yang hasilnya bisa kita lihat pada hari ini bahwa kakao Jembrana bias merambah dunia internasional. Ini adalah hasil dari komitmen semua pihak,” ujar Bupati Artha.

Bupati menambahkan Jembrana memiliki satu satunya lembaga koperasi yang bergerak di bidang perkakaoan yaitu Koperasi Kerta Samaya Samaniya (Koperasi KSS) yang memiliki anggota 38 subak abian atau subak di kawasan kering. Koperasi ini mampu mendampingi dan memfasilitasi anggotanya dalam proses, produksi, mutu dan juga pemasaran walaupun masih sebatas biji kakao fermentasi. Jumlah anggota koperasi saat ini adalah 609 petani kakao.

“Ke depan agar para petani anggota koperasi tidak terhenti hanya pada produk biji kakao fermentasi, tetapi sampai juga kepada produk turunan biji kakao untuk peningkatan nilai tambah produk dan peningkatan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Jembrana,” Bupati Artha berharap.

Julien Desmedt, perwakilan Valrhona Perancis yang membeli kakao fermentasi dari Jembrana sejak 2015, berharap petani bisa berkomitmen untuk menjaga kualitas biji kakao dengan dukungan semua pihak. “Hal yang paling penting adalah peremajaan pohon dengan klon-klon baru yang tahan terhadap hama agar dapat memberi hasil kualitas yang lebih baik dan juga akan memberi income yang lebih baik lagi untuk para petani,” katanya.

Adapun Agung Widiastuti, Direktur Yayasan Kalimajari yang mendampingi petani kakao Jembrana dalam program Kakao Lestari sejak 2011, mengatakan pengiriman kakao ini membuktikan bahwa petani bisa mengubah pandangan negatif terhadap sektor pertanian selama ini. “Ini bukti bahwa pasar memang ada di depan mata, tetapi kita harus berjuang untuk mencapainya. Ini bukan mission impossible karena kita bisa mewujudkannya,” kata Widiastuti.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Koperasi KSS I Ketut Wiadnyana. Jika dulunya mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan pasar, tetapi saat ini justru mereka yang dicari-cari oleh pembeli. “Kami bangga karena ini sekaligus membuktikan bahwa petani kakao bisa membawa harum nama Jembrana dan Indonesia ke pasar internasional,” ujarnya. [b]

The post Petani Jembrana Harumkan Kakao Fermentasi Indonesia appeared first on BaleBengong.

Kakao Lestari yang Mengubah Hidup Petani

Program Kakao Lestari di Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Saya terpaksa terjun di kakao sejak tahun 2016.

Itupun secara profesional dan dalam waktu singkat. Waktu itu, kebetulan saya terlibat dalam penelitian energi baru terbarukan, tentang biogas. Proyek ini multidisiplin dan lintas geografis antarbenua. Donornya European Union (EU) Horizon 2020 dalam sebuah konsorsium bernama Green Growth and Win-win Strategies for Sustainability and Climate Action (GreenWIN).

Namanya juga proyek penelitian, kegiatannya selalu dipenuhi eksperimen. Salah satunya mengenai integrasi pertanian berkelanjutan dengan menambahkan satu nilai berupa adopsi fungsi bioenergi dalam tingkat rumah tangga kelompok tani. Berdasarkan hasil uji kompetensi dan studi kelayakan, sampailah saya pada suatu eksperimen menggunakan limbah perkebunan kakao sebagai bahan baku biogas.

Saya ingat sekali. Saat itu pertama kali saya ke Jembrana, berjarak sekitar 100 km dari Denpasar, bersama empat orang dalam satu tim. Ada Marco, insinyur asal Italia; Cyprien yang juga insinyur dari Prancis; dan Arti, alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang saat itu baru lulus master di Wageningen, Belanda. Orang-orang pintar semua mereka itu.

Saya sendiri mendapat peran penting dalam tim ini, menyetir mobil selama perjalanan dari basecamp kami di Canggu, hingga sampai di Desa Nusasari, Melaya, Jembrana. Tak lupa juga, yang dipakai pada saat itu adalah mobil pribadi saya. Penting sekali bukan, peran saya? 🙂

Kami berangkat setelah mendapat mandat yang sudah disetujui Direktur Yayasan Kalimajari, pendamping program Kakao Lestari di Jembrana, I Gusti Agung Ayu Widiastuti. Beliau bilang, integrasi ini akan cocok sekali dengan misi yang ingin dicapai petani kakao di Jembrana. Memperkuat ketangguhan petani melalui potensi yang dimiliki dan mendapatkan satu substansi praktik pertanian ramah lingkungan.

Harapannya, petani memperoleh nilai ekonomis lebih tinggi untuk produk biji kakao mereka karena telah menerapkan suatu hal yang meningkatkan rantai nilai.

Kami berangkat membawa peralatan instalasi biogas. Mobil saya yang kecil, diupayakan untuk “mampu” menampung semua properti yang dibutuhkan.

Kami saja sudah berempat, bagian bagasi belakang penuh dengan peralatan pertukangan. Bahan baku biodigester berupa PVC berukuran 2 meter sudah terikat di atap mobil. Ditambah dua buah pipa sepanjang satu meter dengan diameter sebesar 30 cm harus. Ujung-ujungnya kami letakkan di antara tempat duduk masing-masing penumpang. Posisinya melintang dari belakang hingga depan mobil.

Jadilah kami duduk bersebelah-sebelahan, tetapi tidak dapat saling memandang, karena terhalang oleh besarnya pipa itu. Begitulah keadaannya sepanjang tiga jam perjalanan.

Menarik sekali menceritakan pengalaman tak terlupakan. Tapi bukan itu inti cerita ini. Di atas hanyalah prolog tentang bagaimana saya pertama kali berurusan dengan petani kakao. Sebatas profesional dan ikatan kerja, tak sedikit pun terbesit akan ada ikatan emosional setelahnya.

Namun, hari ini saya merasa beda.

Guru Eka belajar budi daya kakao selama program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Begitu Saja Terjadi

Semenjak saat proyek itu, saya meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan sekolah. Belajar di negeri nun jauh di Eropa bagian Utara sana. Fokus materi pilihan saya adalah pembangunan berkelanjutan. Saya memilih sains karena percaya, pendekatan itulah yang akan mengubah negeri kaya raya ini, menjadi lebih adil dan bijaksana dalam mengelola hasil alamnya.

Setidaknya, itulah yang ada di pikiran saya sebagai manusia yang cukup tahu. Bahwa alam ini tidak dapat menyediakan semua yang kita inginkan dalam tingkat keserakahan.

Kemudian saya pulang.

Entah apa lagi yang membuat saya kembali ke kakao, di Jembrana. Alurnya begitu saja terjadi. Jika saya ceritakan di sini, akan panjang sekali.

Namun, begitulah. Aktivitas saya di Yayasan Kalimajari yang semula hanya untuk memenuhi kredit akademik sebagai standar kelulusan pascasarjana, menjadi lebih kompleks karena sekarang saya terlibat langsung dalam proyek bertajuk Sustainability action and advocacy in Kakao (SUBAK). Proyek ini didanai langsung oleh UTZ, lembaga sertifikasi yang mempunyai basis kerja di Belanda.

Semenjak saat itu hingga tahun 2018 ini, saya menjadi sering sekali ke Jembrana. Menjadi lebih banyak berinteraksi dengan para petani kakao. Baik petani ahli, petani generik, petani muda, petani wanita, hingga petani pemula yang baru mau menjadi petani saking tertariknya dengan visi dan misi program Kakao Lestari di Jembrana ini.

Namun, perjalanan ini menjadi lebih menarik. Terlebih ketika saya terlibat dalam pelatihan membuat The Most Significant Changes (MSC) atau perubahan paling penting. Ini adalah suatu metode pendekatan terkait monitoring dan evaluasi program. Pesertanya kawan-kawan petani yang diberi pelatihan untuk menceritakan perubahan signifikan dalam kehidupannya sebelum dan selama berlangsungnya program Kakao Lestari hingga saat ini.

Pelatihan yang diberikan berupa metode penulisan cerita singkat, dilengkapi beberapa cara pelaporan secara visual melalui gambar-gambar kegiatan dengan topik fermentasi, organisasi, administrasi, budi daya dan pemasaran.

Kegiatan berlangsung menarik, hingga tiba saatnya peer review pada Kamis, 23 Agustus 2018 lalu. Partisipan diminta mengevaluasi tulisan peserta lain secara berpasang-pasangan. Salah satu pasangan selesai sebelum batas waktu yang diberikan. Kami pun memiliki waktu lebih untuk bercerita secara personal kesana kemari. Topiknya tidak jauh-jauh dari perkakaoan.

“Sepuluh tahun yang lalu, kakao menjawab doa saya,” ujarnya.

Jawaban singkat yang menarik untuk melahirkan beberapa pertanyaan lanjutan. Padahal, saya cuma membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan sederhana. “Adi jeg bise kadung tresne jak kakao, Pak?” (Kok bisa jadi telanjur cinta dengan kakao, Pak?)

Gede Eka Aryasa petani di Jembrana peserta program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Konflik Keluarga

Jawaban singkat I Gede Eka Aryasa, petani kakao dari Desa Penyaringan, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, itulah yang menjadi sumber inspirasi tulisan ini.

Bapak berusia 38 tahun, yang biasa dipanggil Guru Eka ini, memulai ceritanya bahwa ia sudah senang berkebun sedari kecil. Lebih tepatnya sejak umur sekitar dua tahun. Dia tak begitu ingat. Sejak itu, ia kerap membantu ayahnya bekerja di kebun, setiap hari, setiap saat, kapan pun setiap ada waktu.

Bagi dia dan keluarganya, menjadi petani adalah mata pencaharian turun temurun. Ibarat sebuah dinasti. Kebun yang dimiliki ayahnya cukup luas, berisi beragam macam tanaman buah-buahan dan hasil alam lainnya. Kebanggaan sebagai petani pada saat itu, luar biasa dianutnya.

Namun, beberapa tahun lalu terjadi konflik keluarga yang membuatnya dibenci dan membenci ayah kandungnya sendiri. Orang yang justru pertama kali memperkenalkannya pada kakao.

Ayahnya yang dulu mempunyai kebiasaan berjudi. Tabiat kurang baik ini membawa dampak ke kehidupan keluarga kecilnya. Ayahnya kerap pulang ke rumah dalam keadaan marah dan merusak perabot di sekitarnya. Tak ayal lagi, orang tuanya pun bercerai.

Kemudian ayahnya menikah lagi. Bakal ibu tiri Guru Eka adalah wanita muda sepantaran dirinya. Situasi ini membuatnya berjanji pada diri sendiri. “Sedetik pun, saya tidak akan pernah berjudi. Apapun jenis permainan judinya. Tidak akan pernah,” ujarnya.

Perpisahan orang tua membuatnya memilih untuk tinggal bersama ibu kandungnya. Keputusan yang membuat sang ayah makin membencinya. “Mungkin sampai sekarang bapak masih benci sama saya,” dia menambahkan dengan lirih.

Semenjak tinggal bersama ibunya, ia membantu sang ibu berjualan ke pasar di Denpasar. Membawa hasil bumi dari kebun orang-orang di sekitar kampungnya.

Iya benar, hasil bumi yang dijual berasal dari kebun orang lain, bukan kebunnya sendiri. Hal itu karena semenjak ayahnya menikah lagi, ia tidak pernah kembali ke kebunnya. Hubungan yang rumit dengan ayahnya membuat Guru Eka menganggap bahwa ia tak pernah memiliki kebun.

“Bukan kebun saya. Kebun bapak itu. Sing juari,” katanya.

Ia juga menyebutkan, terakhir kali ke kebun adalah ketika melihat ayahnya sedang bertengkar dengan ibunya. Di saat sama, ia melihat bibit tanaman kakao yang katanya bibit unggul turun temurun, Lindak namanya. Masih jelas di ingatannya, andai saja ayah dan ibunya tak bertengkar, hari itu sang ayah berencana mengajaknya untuk menanam bibit tersebut di kebunnya.

Setiap hari ke pasar, ia banyak bercakap dengan sang ibu, sehingga ia semakin akrab dengan ibunya. Ibunya seringkali mengatakan bahwa ia berhak atas sebagian kebun yang dimiliki ayahnya, karena ia merupakan anak laki-laki. Di Bali, anak laki-laki memiliki hak prerogatif atas materi yang menjadi barang bukti harta gono gini.

Pemilahan kakao fermentasi di Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Tak Ingin Ribut

Guru Eka tidak meragukan bahwa ia sangat menyayangi ibunya, tapi obrolan mengenai ambil alih kebun ini membuatnya jengah. Ia hanya berpikiran bahwa ayahnya masih hidup, dan ia tidak ingin meributkan permasalahan mengenai warisan atau sebagainya. Baginya dibenci oleh ayahnya sendiri saja sudah cukup menyakitkan. Tak usahlah lagi membawa masalah duniawi untuk memperuncing keadaan.

Namun, sang ibu berdalih bahwa ini adalah wujud tanggung jawab sang ayah, dan ia sebagai anak laki-laki harus memperjuangkannya.

“SRAKKKK!”

Guru Eka menirukan bunyi ketika ia memukul buah-buahan dan semua hasil bumi di belakang mobil pikapnya. Refleks karena kesal dengan ibu yang terus menerus memaksanya untuk mengambil alih kebun ayahnya. Ia pun bertengkar dengan ibunya di pasar, di depan para pelanggan mereka. Ia bosan, jengah dan juga marah.

Semenjak pertengkarannya itu, ia memutuskan pindah ke Denpasar. Merantau seorang diri dan menjadi anak kos agar tidak lagi bersama ibunya. Ia rela bekerja apapun yang ia bisa kerjakan asalkan halal untuk bisa bertahan hidup.

Namun, kondisi ini tidak berlangsung lama, ibunya menyusul ke tempat tinggalnya. Rupanya sang ibu merindukan dirinya, dan memintanya untuk kembali pulang dan tinggal bersamanya. Sekali lagi, kasih sayang terhadap ibu dan mengingat pengorbanan ibunya selama ini, ia pun luluh. Pulanglah ia untuk kembali berjuang bersama sang ibu.

Tak dinyana, ternyata ayahnya mengetahui perihal permasalahannya dengan sang ibu. Di saat yang sama, sang ayah beserta keluarga barunya berniat mengikuti program transmigrasi ke Sulawesi.

Ayahnya menawarkan rumahnya untuk ia tinggali. “Nyak sing nongos di jumah ne? Men ye sing nyak, kal juang ke nyen gen kal meli.” Begitu ia menirukan penawaran ayahnya saat itu. Artinya, kurang lebih sang ayah menawarkan dirinya untuk tinggal di rumah dulu. Jika ia tidak berkenan, maka rumah itu akan dijual saja ke siapapun yang ingin membeli.

Guru Eka sempat menimbang-nimbang, tetapi akhirnya ia memutuskan menerima tawaran itu. Pertimbangannya adalah lagi-lagi sang ibu. Ia tidak ingin menjadi beban bagi sang ibu, terutama ketika ia ingin memulai hidup baru dengan menikahi si bibik, istrinya hingga saat ini.

Jadilah ia tinggal di rumah ayahnya dengan keluarga kecilnya. Semenjak ayahnya hijrah ke Sulawesi, ia tahu bahwa kebun milik sang ayah di sewakan ke orang lain. Tapi ia memilih tidak pernah membahas hal tersebut. “Malu,” ujarnya.

Beberapa sanak keluarga yang kerap mengunjunginya selalu berbicara hal sama dengan sang ibu, bahwa kebun itu miliknya juga. Bahkan ada kerabatnya yang mulai membanding-bandingkan tingkat ekonominya dengan kerabat lain. Andai saja ia memiliki kebun itu, tentu ia bisa hidup lebih baik untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari beserta anak dan istri. Tapi ia tetap bersikukuh.

“Biarlah,” katanya.

Pengolahan kakao secara fermentasi memberikan nilai tambah bagi kakao Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Jual Cincin Kawin

Singkat cerita, masa sewa kebun milik ayahnya berakhir. Kemudian ia mendengar dari salah satu pamannya, bahwa sang ayah akan menjual kebun tersebut. Pamannya menanyakan apakah ia mempunyai tabungan untuk membeli, karena pamannya yakin bahwa kebun itu adalah sesuatu yang harus dimilikinya. Umpamanya, kebun itu adalah jodohnya.

Namun, sayang sekali, ia tidak memiliki tabungan. Gaya hidup sederhana yang terpaksa ia jalani bersama istrinya sudah cukup menyusahkan. Bagaimana mungkin ia membeli kebun? Namun, rupanya tekad sang paman sangat kuat. Guru Ekapun mulai merasakan bahwa kebun tersebut juga menginginkan ia sebagai pemilik berikutnya.

Jadilah Guru Eka menjual satu-satunya harta yang ia miliki, cincin perkawinannya. Uang hasil penjualan cincin, ditambah sedikit pinjaman dari tetangga ia gunakan sebagai uang muka. Sisanya ia berjanji untuk mencicil dengan berbagai cara.

Sebenarnya agak aneh. Guru Eka memilih membeli kebun ayahnya sendiri, yang sebenarnya bisa ia dapatkan dengan gratis kalau saja ia mau mengurus tetek bengeknya. Namun, ia yakin, inilah jalan terbaik. Kebun seluas 5 hektar itu sangat produktif. Setengah lahannya ditanami kakao, setengahnya lagi banyak tanaman hasil bumi lainnya seperti manggis, mangga, pisang, pala, cengkeh, kopi, vanili juga jati.

Dua bulan pertama semenjak resmi memiliki kebun tersebut, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya membayar orang untuk mengurus kebun, karena ia sendiri sudah hampir lupa caranya berkebun. “Jeg bes sai medagang, kanti engsap tiang berkebun,” ujarnya lantas tertawa.

Dia bilang terlalu sering berdagang, sampai lupa saya berkebun.

Selama dua bulan ia memperhatikan cara orang-orang tersebut merawat dan mengurus kebun. Proses menanam hingga memanen. Juga bagaimana memperkirakan tingkat produktivitas dari setiap jenis tanaman di kebun ia perhatikan dengan sangat baik. Ia ingat sekali, zaman itu kebun kakaonya mampu menghasilkan 500 kilogram biji kakao kering yang dipanen setiap 15 hari sekali.

Bahagia sekali ia dapat kembali menjadi petani.

Direktur Yayasan Kalimajari I Gusti Ayu Agung Widiastuti saat berdiskusi dengan petani. Foto Anton Muhajir.

Merosot Tajam

Selama beberapa tahun, kakao menjadi sumber utama pemasukan ekonominya. Namun, di tahun 2000an, terjadi serangan penyakit. Hampir semua tanaman kakao di kebunnya menjadi gundul dan mati akibat vascular streak dieback (VSD). Kondisi ini menyebabkan hasil panennya merosot tajam menjadi hanya 70 kilogram setiap masa panen.

Ia menjadi sedih, terpuruk dan bahkan merasa gagal. Sumber penghidupan yang ia andalkan untuk memperbaiki kualitas hidup keluarganya kini menghilang. Ia marah kepada semua pohon-pohon kakao yang dimilikinya. Ia mulai menendangi, memukuli dan memaki. Murni ia lakukan untuk meluapkan kekesalannya.

Pada suatu hari di tahun 2006, ia memutuskan untuk menebang saja semua pohon kakao yang ia miliki. Tujuannya untuk mengganti dengan bibit tanaman lain seperti jati, setidaknya itu lebih aman untuk investasi, pikirnya waktu itu. Ia pun pergi untuk membeli sebanyak 2.000 bibit jati yang rencananya akan ia tanam sesegera mungkin.

Sekembalinya mencari bibit jati, ia mampir ke kebun untuk melihat-lihat. “Mungkin untuk terakhir kali sebelum semua pohon kakao saya tebang esok hari,” begitu ujarnya menirukan pikirannya waktu itu.

Ketika berjalan-jalan, barulah ia melihat ada empat pohon kakao yang tetap berbuah meskipun pohon kakao lain meranggas hampir mati. Ia menjadi bingung, tetapi di saat bersamaan ia merasa mempunyai harapan untuk tetap mempertahankan kebun kakao miliknya. Terlebih ketika ia juga menyadari, keempat pohon itu adalah pohon dengan jenis klon Lindak yang ditanam ayahnya secara turun temurun. Jenis klon sama dengan bibit yang ia lihat dulu sewaktu terakhir kali ke kebun bersama ayahnya.

Ia pun berlari, mencari sang istri untuk menceritakan apa yang terjadi. Di saat itu dia melihat pelinggih (tempat menghaturkan sesaji Tuhan bagi umat Hindu) di tengah kebun.

Tanpa pikir panjang, ia segera bersimpuh. Mengambil sejumput bunga yang di situ. Kemudian mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, menutup mata dan berdoa kepada Tuhan yang ia percayai. Terucap di bibirnya waktu itu, “Ida Sang Hyang Widi Wasa, tunjukkan jalan. Jika kakao adalah hidup saya, tunjukkan jalannya. Tunjukkan jalan. Sekali lagi, tunjukkan jalan.”

Pelatihan Most Significant Change untuk petani kakao di Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Manfaat Lebih Tinggi

Guru Eka bertahan dengan kebun kakaonya. Sedikit demi sedikit ia berhasil memulihkan pohon kakao yang terserang penyakit. Hal yang ia lakukan adalah belajar, belajar, dan belajar. Ia mencari ilmu dari mana saja, melalui kawan petani yang lebih dahulu berhasil, melalui pelatihan-pelatihan yang didapatkan dari penyuluh, termasuk juga melalui Internet.

Jalannya memang tak mudah, bahkan tidak akan pernah mudah. Namun, ia telanjur percaya bahwa kakao akan menjadi bagian dari hidupnya, selamanya. Di tahun 2016, pertemuannya dengan Koperasi Kerta Samaya Samaniya (Koperasi KSS) dan juga Yayasan Kalimajari selaku pendamping program Kakao Lestari menjadi jawaban dari doanya sepuluh tahun lalu. Biji kakao yang selama ini diolah secara asalan, melalui pendampingan program Kakao Lestari kemudian diproses secara fermentasi.

Begitulah cara memproduksi biji kakao berkualitas, sehingga petani mendapat manfaat ekonomi lebih tinggi untuk hasil kebun kakaonya. Secara angka, biji yang awalnya terjual hanya Rp 17.000 per kg, tetapi setelah dilakukan fermentasi, biji kakao tersebut dibeli oleh koperasi KSS seharga Rp 42.000 per kg.

Ia luar biasa senang sekali.

Seringkali ia mengikuti pelatihan-pelatihan yang difasilitasi Koperasi KSS dan Kalimajari, baik dari sektor hulu di kebun hingga menyasar sektor hilir di pemasaran. Kalimajari dan Koperasi KSS tidak hanya memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas biji kakao fermentasi, tapi juga mengembangkan kapasitas petani menjadi lebih berdaya guna melalui manajemen organisasi serta sertifikasi UTZ dan organik.

Tidak hanya itu, pelatihan MSC ini pun menjadi salah satu upaya meningkatkan kapasitas petani terkait jurnalisme dan fotografi. Pendampingan pelatihan dilakukan Anton Muhajir, jurnalis lepas di Bali, yang dipilih karena kredibilitas dan konsistensinya menyuarakan perubahan-perubahan di kalangan masyarakat sipil.

Tujuan pelatihan MSC ini adalah agar petani mampu menceritakan perubahan yang telah terjadi pada kehidupan mereka baik secara individu maupun kelompok. Pengalaman yang diceritakan harapannya akan mewakili suara-suara mengenai perjuangan petani di lapangan. Untuk memotivasi siapa saja yang terlibat dalam pengembangan kakao berkelanjutan di Jembrana, maupun di Indonesia secara keseluruhan.

Kegiatan ini juga dapat dijadikan sebagai pembuktian bahwa program Kakao Lestari di Jembrana selama hampir delapan tahun berproses, telah melahirkan perubahan-perubahan signifikan bagi petani kakao di Jembrana. Perubahan secara personal maupun profesional di kalangan petani terkait praktik pertanian ramah lingkungan dan pasar berkelanjutan baik di tingkat lokal hingga internasional.

Wow. Luar biasa sekali ya?

Saya bahkan tidak pernah meminta saya bisa bertemu dengan kawan-kawan petani yang selalu punya cerita. Tapi begitulah hidup mencipta. Apa saja bisa terjadi bahkan satu hal yang tidak pernah kau pikirkan. Di luar kesukaan saya terhadap cokelat, sekarang saya jadi tahu, bahwa perjuangan petani kakao di Indonesia masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

Pastinya, itu semua tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pemangku kepentingan harus bergandengan tangan, tidak memandang bulu asalkan satu napas dalam memperjuangkan hak-hak petani di lapangan.

Ah, semoga saja. [b]

The post Kakao Lestari yang Mengubah Hidup Petani appeared first on BaleBengong.

Kerja Sama untuk Sejahterakan Petani Kakao Jembrana

Pegawai di Koperasi Kerta Semaya Samaniya Jembrana menyortir biji kakao fermentasi pada Jumat (20/7). Foto Anton Muhajir.

Menara Kembar di Negara, Jembrana, Bali bagian barat menjadi saksi.

Jumat pekan lalu, Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS), mengikat janji kerja sama pemasaran dengan salah satu pembeli kakao fermentasi bersertifikat organik, yaitu PT Cau Coklat Internasional.

Kedua pihak menandatangani kerja sama itu pada seremoni puncak acara Hari Ulang Tahun Koperasi Provinsi Bali ke-71. Acara itu diadakan di Gedung Kesenian Ir. Bung Karno Jembrana yang populer dengan nama Twin Tower alias Menara Kembar.

Kegiatan yang diadakan bersamaan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional XXV tersebut dihadiri Gubernur Bali (diwakili Sekda), Bupati dan Wakil Bupati Jembrana beserta ibu, para Asisten, Sekwan dan staf ahli. Hadir pula organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Bali dan Kabupaten Jembrana serta para undangan serta masyarakat Jembrana dengan total hadirin lebih 1.000 orang.

Perjanjian Kerja Sama antara Koperasi KSS dengan PT Cau Coklat Internasional mencangkup komitmen aktivitas pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik di antara kedua belah pihak. Melalui perjanjian ini PT Cau Coklat Internasional menjamin tersedianya pasar berkelanjutan bagi biji kakao fermentasi bersertifikat organik yang diproduksi Koperasi KSS. Keduanya menyepakati volume jual beli sesuai dengan kebutuhan pada saat pembelian.

Koperasi KSS merupakan satu-satunya koperasi komoditas kakao di Bali yang membuka pemasaran satu pintu untuk produk biji kakao fermentasi bersertifikat UTZ dan organik di pasar premium lokal, nasional maupun internasional.

Sejak tahun 2011, bersama dengan Yayasan Kalimajari melalui program Kakao Lestari, Koperasi KSS telah berkolaborasi dengan 609 petani kakao dari 41 subak abian di Kabupaten Jembrana untuk melakukan pelatihan berkaitan dengan praktik pertanian kakao yang ramah lingkungan, praktek gizi yang baik, penerapan praktik keuangan yang bijak, termasuk sertifikasi produk.

Saat ini, biji kakao fermentasi Koperasi KSS mampu menembus pasar ekspor premium hingga ke Prancis (Valrhona), Jepang (Tachibana), Finlandia (Godio) dan menjadi penyedia bahan baku untuk perusahaan pengolah coklat nasional seperti POD, Primo, Cau Coklat, Mason, Krakakoa, Tripper, P3ER, Javara, Dari K, dan lain-lain.

Selain itu, biji kakao fermentasi dari Jembrana juga mendapat pengakuan “Cacao of Excellence” yang diselenggarakan oleh organisasi Biodiversity International yang didukung oleh Salon du Chocolat di Paris, pada November tahun lalu.

Penghargaan ini merupakan sebuah amunisi karena mampu memberikan peluang dan insentif untuk semakin berperan aktif dalam industri kakao premium, baik di tingkat nasional maupun dunia. Akibatnya, peran Koperasi KSS pun semakin strategis dalam memastikan biji kakao berkualitas tetap tersedia untuk kebutuhan dunia di masa depan.

Tujuan keseluruhan dari ruang gerak Koperasi KSS adalah untuk menciptakan lapangan kerja, memastikan kondisi kerja yang aman dan sehat, melestarikan lingkungan, meningkatkan produktivitas petani dan menambah pendapatan mereka, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani.

Dengan kata lain, Koperasi KSS adalah bukti bahwa lembaga ekonomi bisnis berbasis kemasyarakatan dapat menjadi solusi ekonomi berkelanjutan yang harus didukung perkembangannya dalam meningkatkan potensi lokal menembus pasar global.

Ketua Koperasi KSS, I Ketut Wiadnyana, menuturkan bahwa ditandatanginya perjanjian kerja sama pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik melalui satu pintu ini, dapat memberikan jaminan pasar berkelanjutan serta meningkatkan motivasi pihak yang terlibat untuk tetap berkomitmen memperjuangkan kepentingan bersama menuju kemandirian lembaga koperasi di Jembrana pada khususnya, dan Indonesia secara keseluruhan.

Sementara pada waktu yang sama, Direktur Utama PT. Cau Coklat Internasional, Surya Prasetya Wiguna, menambahkan perjanjian kerjasama terkait pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik ini sekiranya dapat menguatkan komitmen dalam rantai nilai kakao di Bali pada khususnya. Sehingga petani kakao di Jembrana dapat langsung menikmati harga premium yang ditawarkan oleh pasar, sebagai timbal balik dari konsistensi memproduksi biji kakao berkualitas premium.

Direktur Yayasan Kalimajari, I Gusti Ayu Agung Widiastuti, ketika dihubungi di lain tempat sepakat bahwa penandatangan perjanjian kerja sama di antara kedua belah pihak ini adalah satu langkah menuju implementasi pemasaran kakao fermentasi di pasar premium secara berkelanjutan.

Perjanjian ini bersifat mengikat sehingga dapat dijadikan jaminan komitmen dan konsistensi untuk menyejahterahkan petani kakao di Jembrana yang tergabung dalam program Kakao Lestari melalui Koperasi KSS. [b]

The post Kerja Sama untuk Sejahterakan Petani Kakao Jembrana appeared first on BaleBengong.