Tag Archives: Jembrana

Regenerasi Petani Kakao Jembrana Terancam Mati

Oleh Rischa Sasmita

Hampir 100 persen siswa di Jembrana enggan bertani.

Keberhasilan kakao Jembrana menembus pasar dunia tidak lepas dari proses fermentasi. Walaupun Jembrana hanya memiliki 800 ha lahan kering dengan produksi kakao kurang dari 2.000 ton, tetapi biji kakao Jembrana diminati oleh produsen cokelat lokal hingga dunia.

Negara seperti Jepang, Belanda, sampai Perancis antre untuk mendapat biji kakao Jembrana. Negara-negara tersebut jatuh cinta dengan biji kakao Jembrana.

Proses fermentasi sangat berpengaruh pada kualitas biji kakao yang akan dipasarkan. Kakao Jembrana terkenal dan dicintai produsen cokelat karena diproses melalui fermentasi. Proses ini membuat biji kakao sehat dan menciptakan aroma (bunga, buah, rempah dan madu) sekaligus menghilangkan rasa pahit dan memunculkan nutrisi.

Biji kakao Jembrana menjadi pusat perhatian pembeli hingga menerobos pasar dunia. Harganya pun termasuk mahal. Produsen memilih biji kakao Jembrana karena memiliki keunikan aroma. Hanya biji kakao Jembrana yang dapat memberi empat aroma sekaligus.

Menurut Pak Wayan Rata, petani asal Melaya yang sudah lama berkecimpung di pertanian kakao, fermentasi sangat berpengaruh terhadap kualitas biji kakao. Tidak kalah pentingnya adalah perawatan kakao sejak di kebun. “Tanaman kakao hendaknya dirawat layaknya anak,” kata Pak Rata.

Pak Rata berhasil mengelola kebun kakaonya karena merawat tanaman kakao dengan baik, mulai dari memotong cabang pohon, menerapkan sistem sambung dan menggunakan pupuk organik. Pemangkasan untuk menghindari adanya buah di cabang karena buah kakao yang baik adalah buah yang dekat dengan akar serta menggunakan pupuk organik. Adapun pemupukan yang baik dilakukan di awal dan di akhir musim hujan dengan menanam pupuk di area dekat tanaman kakao. Penanaman pupuk bertujuan menghindari penguapan dan dirusak ayam atau ternak lain. Begitu pula yang dilakukan petani kakao di Jembrana lainnya.

Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) didampingi Kalimajari meraih sertifikat komoditas UTZ Certified pertama di Indonesia karena telah memenuhi standar. UTZ Certified adalah standar yang dikembangkan oleh organisasi swasta dengan kantor pusat di Belanda. Selain itu kakao di Jembrana juga memiliki sertifikat dari Lembaga Pengawasan Uni Eropa (UE) sebagai pengakuan kualitas produk kakao di Jembarana. United state department of agriculture (USDA) juga dipegang kakao di Jembrana. Terlebih lagi kakao Jembrana lolos dalam 50 besar dari 166 sample dari 44 negara diajang Cocoa Excellent Award 2017. Penghargaan sangat hebat dan dapat dijadikan motivasi.

Generasi Enggan Bertani

Potensi dan prestasi yang mampu diraih sampai saat ini hendaknya perlu dipertahankan hingga nanti. Karena itu, keberhasilan petani kakao Jembrana memasarkan produknya hingga luar negeri terasa ironis karena berbanding terbalik dengan regenerasi petani kakao di Jembrana. Sebanyak 98 persen anak muda di kabupaten ini enggan bertani. Generasi yang terputus menjadi ancaman petani kakao Jembrana.

Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara di SMP Negeri 4 Negara mengenai peminatan siswa. Ternyata 98 persen siswa laki-laki di Jembrana tidak ingin menjadi petani. Hanya 2 persen yang ingin menjadi petani. Itu pun karena hobi bercocok tanam. Adapun siswa perempuan sebanyak 95 persen tidak ingin menjadi petani. Hanya 5 persen yang ingin menjadi petani karena membantu orang tuanya. Lebih besar lagi, 99 persen siswa di Jembrana tidak faham tentang kakao, tata cara bertani kakao dan potensi serta prestasi yang sudah diraih kakao di Jembrana.

Salah satunya siswa SMP Negeri 4 Negara I Gede Budi Astudiarta yang berasal dari Desa Baluk tepatnya Banjar Baluk Rening. Orang tuanya bekerja sebagai guru yang dimiliki lahan cukup luas untuk bertani. Namun, ia tidak memiliki minat di bidang pertanian karena alasan capek, kotor, malas, panas dan juga penghasilan yang tidak menjanjikan.

Men ngidang sugih ulian megae aluh di kantor. Ngengken kenyel dadi petani. Adenan asana adep tanah 1 hektar. Enggalan maan pis. Men ngantia cokelat mabuah enggala be mati,” kata Gede.

Kentalnya budaya patriaki dalam tradisi Bali, ditambah minimnya minat siswa di bidang pertanian khususnya pertanian kakao, membuat masa depan pertanian dalam ancaman. Lahan yang menyusut, regenerasi petani yang terputus karena kurangnya sosialisasi budaya agraris tanpa disadari tetapi pasti telah mengarahkan terjadinya pergeseran dan sudah dapat diprediksi dari tahun ke tahun akan punah.

Indonesia dikenal dengan negara agraris, mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Kondisi alam mendukung, lahan luas serta iklim tropis dimana sinar matahari terlihat sepanjang tahun menjadi peluang petani untuk bertani sepanjang tahun. Seiring berjalannya waktu lahan pertanian di Indonesia makin menyusut karena kurangnya minat regenerasi di bidang pertanian. Kurangnya minat ini menjadi masalah besar jika terus dibiarkan. Indonesia akan kehilangan gelar negara agrarisnya.

Budaya patriaki sudah berlangsung dari masa lampau di mana laki-laki ditempatkan di hierarki teratas sedangkan perempuan ditempatkan pada nomor dua. Adanya konsep purusa pradhana yang dianut masyarakat Bali, mengakibatkan perempuan di Bali sering dijuluki “pewaris tanpa warisan”. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan kesetaraan gender. “Untuk kesetaraan gender, tidak setuju jika semua jatuh ke tangan laki-laki termasuk lahan untuk bertani. Padahal realita di Bali banyak petani perempuan yang aktif. Bahkan perempuan terlihat lebih banyak dari pada laki-laki,” kata Ibu Ni Ketut Arwati, dari Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) Kabupaten Jembrana.

Bu Ketut bekerja di bidang ini sejak 31 Desember 2016. Pengalaman kegiatannya lebih sering terjun ke lapangan seperti memberikan sosialisasi bahwa PPPA bukan laki-laki saja, perempuan pun mampu. Masalah lain yang pernah diterima adalah pertengkaran istri dengan suami akibat media sosial dan kecurigaan.

Menurut Ibu Ni Ketut Arwati, budaya adat purusa pradhana di Bali membuatnya sulit untuk membela perempuan dalam hal hak waris. Namun, ia kagum dengan sosok perempuan yang mampu di bidang pertanian. Masalah patriaki, perempuan tidak mendapat hak waris dalam hal lahan untuk bertani, dapat diminimalisir dengan cara perempuan bekerja sama dengan laki-laki. Wanita harus meyakinkan suami untuk tidak menjual tanahnya dan memintanya untuk mengurus bersama suami. Apabila hal tersebut dapat diterapkan, Bu Arwati yakin 99 persen pertanian khususnya pertanian kakao di Bali tetap berkembang dari tahun ke tahun.

Guru Eka belajar budi daya kakao selama program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Petani itu Miskin?

Potensi dan prestasi yang mampu diraih kakao di Jembrana akan menurun apabila masyarakat masih takut akan pertanian membawa kemiskinan. Ketakutan masyarakat menjadi masalah besar dalam mempertahankan potensi dan prestasi kakao di Jembrana. Padahal anggapan petani itu miskin tidak selalu benar. Petani akan berhasil apabila bekerja dan bekerja sama secara serius. Kesetaraan gender sangat diperlukan dalam pertanian. Apabila kaum laki-laki dan perempuan mampu bekerja sama secara maksimal, maka hasil pertanian akan memuaskan. Salah satu contoh pertanian yang mampu membawa petani keranah sukses misalnya pertanian kakao.

Contohnya adalah pasangan suami-istri (pasutri) I Gede Eka Arsana, biasa dipanggil Guru Eka (50), dengan istrinya bernama Ni Made Ayu Budi Anggreni (39), biasa dipanggil Ibu Ayu. Pasangan yang memiliki 3 orang putri ini sukses menyekolahkan anaknya karena optimis pada hasil kebun. Pasangan ini kompak dalam menjalankan usaha pertanian kakao. Anggapan bahwa petani itu miskin yang kerap hadir di tengah telinga masyarakat tidak menjadi penghalang bagi pasutri untuk bertani.

“Dengan bermodalkan niat, fokus dan serius, tidak akan membawa kita pada hasil yang buruk,” kata Ibu Ayu.

Ibu Ayu adalah sosok wanita yang awalnya tidak mempunyai kemampuan mendalam tentang pertanian. Dia terjun di bidang pertanian semenjak awal menikah sekitar 25 tahun lalu. Ketika itu dia tidak mempunyai pikiran untuk bertani. Karena saat itu tidak ada yang membantu suaminya, dia pun ikut terjun ke kebun. Awalnya hanya membantu memetik dan mengangkat biji kakao.

“Saya mengalami banyak keluhan. Mulai dari kesusahan jalan, melihat tebing cukup tinggi dan haluan jalan rumit membuat saya sering terpeleset jatuh. Saat itu saya belum terbiasa menyeberang sungai. Sampai saya sempat jatuh terpeleset di sungai karena tidak bisa memilih haluan hingga nasi bekal ke kebun hanyut terbawa air,” katanya.

Pelan-pelan, Ibu Ayu pun kian paham tentang kakao. Misalnya bahwa buah kakao memiliki kulit tebal sekitar 3 cm. Bahwa setiap buah kako mengandung biji sebanyak 30-50 biji. Bahwa warna biji sebelum proses fermentasi dan pengeringan adalah putih yang lalu berubah mejadi keunguan atau merah kecokelatan.

“Parahnya lagi saya awam akan biji kakao. Pernah sekali memungut biji nangka saya kira biji kakao. Bentuk hampir sama membuat saya mengira biji nangka itu biji kakao. Lumayan si maan a ember. Kejadian tersebut membuat saya beranggapan bahwa cantik tidak menjamin hidup. Walaupun wanita ke kebun panas-panasan, kotor dan mengalami beraneka kejadian tidak menutup kemungkinan untuk bisa maju,” tambahnya lagi.

Pelajaran lain yang dia pelajari adalah sistem tanam. Tumpang sari merupakan suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tanaman kakao dengan tanaman lain sangat mempengaruhi hasil produksi kakao oleh karena itu, tata tanam memberikan hasil optimal.

Pasutri ini memiliki kebun seluas 5 hektar jenis tumpang sari, namun lebih banyak pohon kakao diurus bersama. “Panen kakao tidak menentu tergantung cuaca, jika cuaca mendukung setiap minggunya menghasilkan 2 kuintal biji kakao basah. Biji kakao basah dibeli oleh Koperasi KSS dengan harga per kilo Rp. 11.000, jadi dalam satu minggu pendapatan kotor kurang lebih Rp. 2.200.000,’’ katanya.

Suksesnya pasutri ini tidak hanya kompak dalam hal berkebun. Mereka kompak dalam segala bidang. Pasutri ini kompak mengerjakan pekerjaan rumah dan juga kompak dalam mengambil keputusan saat ada perbedaan pendapat. Guru Eka tidak pernah mengabaikan pendapat istrinya. Dia selalu menerima dan mencari jalan tengah apabila ada perbedaan pendapat untuk hal yang lebih positif. Kesetaraan gender membalut kekompakan pasutri ini.

KSS Peduli Petani

Tidak kalah penting suksesnya pasutri ini dari peran Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS). Koperasi ini didirikan dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga, meningkatkan produktivitas, dan kesejateraan petani. Selain itu Koperasi KSS bekerja sama dengan Kalimajari menyediakan bibit kakao berkualitas untuk menghasilkan kakao yang semakin baik. Koperasi KSS pernah mengekspor biji kakao ke pembeli domestik maupun pembeli internasional. Saat ini Koperasi KSS mengayomi 609 petani dari 38 subak abian.

Menurut Guru Eka pada tahun 2015 silam diadakan pelatihan pertanian kakao di subak abian. Subak abian merupakan istilah untuk kelompok tani daerah kering di Bali. Berbeda dengan subak di Bali yang pada umumnya di daerah persawahan. Kakao termasuk komoditas pertanian lahan kering.

Saat itu ia mengikuti dengan semangat hingga tertarik untuk bergabung di Koperasi KSS. Sebelum bergabung di Koperasi KSS, Guru Eka menjual biji kakao asalan yaitu biji kakao dijual dengan harga murah. Biji kakao dijual murah karena kualitasnya kurang baik dan tidak ada proses fermentasi. Karena merasa ada ikatan kemitraan atau sama-sama diuntungkan ia menjual biji kakao ke Koperasi KSS.

Menurut Guru Eka, petani konvensional yang saklek atau keras kepala akan mempengaruhi hasil pertanian kakao di Jembrana. Dia sendiri mengaku selalu cepat menerima informasi mengenai pertanian khususnya pertanian kakao. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong, Gur Eka langsung mengambil tindakan. Beda halnya dengan petani keras kepala. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong cabang, mereka memiliki banyak pendapat untuk membantah anggapan tersebut

“Nah depin gen. Nak nu liu buah pedalem ngetep. Mase batun nu payu adep,” ungkapan seperti itu kerap dikatakan petani konvensional. Petani konvensional lebih memilih membiarkan pohon kakao bercabang karena di cabangnya tumbuh buah kakao yang laku dijual secara asalan dengan harga murah.

Buah kakao pada cabang pohon tidak sama kualitasnya dengan buah kakao pada batang, hal ini menjadi alasan mengapa dilaksankan sistem potong agar menghasilan buah kakao berkualitas, banyak nurisi, harga dari biji kakao tinggi. “Buah yang baik adalah buah yang dekat dengan akar,” kata Bapak I Ketut Wiadnyana selaku Kepala Pengurus di Koperasi KSS (Senin, 5/8/2019).

Pasutri Sukses

Kegiatan bersamaan untuk mendapatkan hasil maksimal merupakan modal petani untuk meraih sukses khususnya pertanian kakao. Contohnya pasutri-pasutri di Jembrana yang berhasil dalam bertani. Kerja sama tidak lepas dari kesetaraan gender yang merupakan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Merujuk pada keadaan di mana laki-laki dan perempuan memperoleh hak dan kewajiban setara. Kesetaraan gender sangat berpengaruh pada perkembangan pertanian di Indonesia dan masalah kemiskinan. Apabila diskriminasi berdasarkan gender terus terjadi maka akan berpengaruh buruk pada perkembangan Indonesia sebagai negara agraris.

Masyarakat hendaknya sadar akan kesetaraan gender dan tidak lagi mendiskriminasi kaum perempuan. Kaum perempuan dan kaum laki-laki saling bekerja sama agar mencapai titik keharmonisan dan keberhasilan di segala bidang, baik bidang rumah tangga maupun pertanian khususnya pertanian kakao. Jika kesetaraan gender diterapkan oleh seluruh pihak maka kehilangan gelar negara agraris tidak akan terjadi. Bahkan akan mengembangkan potensi agraris Indonesia termasuk potensi serta prestasi kakao di Jembrana.

Kesuksesan pasutri di Jembrana telah mengubah image petani dari yang selama ini diidentikkan dengan tua, miskin, pekerjaan kotor, dan kurang berpenghasilan menjadi petani muda, keren, menguntungkan, kekinian, dan tentunya kaya. Maka jadilah petani modern yang mau berubah, bukan petani kovensional. Dengan bertani berarti bersahabat dengan alam. Bila menghargai alam maka alampun memberikan kesejukan, kedamaian dan kekuatan serta memberikan manfaat pada manusia dan isinya.

Jika lahan pertanian tidak digunakan bertani, maka lahan yang ada lama-kelamaan bisa habis. Masyarakat Jembrana harusnya lebih melek informasi mengenai pertanian khususnya kakao karena kakao Jembrana diminati produsen cokelat dan mampu memiliki prestasi yang baik. Bukan lagi menanam beton-beton yang sudah pasti akan merusak citra agraris dan kakao Jembrana yang sudah mendunia. [b]

The post Regenerasi Petani Kakao Jembrana Terancam Mati appeared first on BaleBengong.

Kakao Menyehatkan dari Gumi Mekepung

Pengolahan cokelat siap saji di Puslitkoka. Foto Anton Muhajir.

Oleh I Made Dwi Mertha Mahendra

“Tilulit.. Tilulitt.. Tilulittt…” Telepon seluler saya berbunyi. Dengan ragu saya menjawab telepon dari nomor asing tersebut. Saya beranikan diri untuk menjawabnya. “Haloo..” Hanya satu kata itu saja yang saya katakan.

Suara perempuan terdengar dari seberang telepon sana, “Selamat yaa, Mahendra. Kamu lolos program AJS 2019.”

Dengan rasa terkejut saya pun menjawab, “Oh ya, Kak? Benar, Kak? Bisa diulang gak? Mau direkam ini.”

Hal yang tidak saya sangka-sangka. Saya lolos tahap final dalam program beasiswa Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) 2019. Padahal saya hanya berbekal paksaan dan rasa malas yang luar biasa serta roti serta air putih saja.

Setelah melalui proses seleksi pertama pada Juli 2019, saya ternyata lolos ke tahap final dengan sepuluh finalis dari sekolah SMA/SMK se-Kabupaten Jembrana. Para finalis lalu diseleksi lagi untuk mencari tiga karya terbaik, tetapi harus mengikuti pelatihan dulu. Lokasi pelatihan di kantor koperasi di Melaya, bagian barat Jembrana.

Tepat di hari itu, saat pelatihan pada Agustus 2019 lalu, raga sulit sekali untuk bangun dari tempat tidur. Mungkin masih kepikiran tantangan yang akan dihadapi dengan teman beda sekolah. Hal yang membuat kepikiran sampai di perjalanan menuju lokasi. Apa lagi beban tugas organisasi di sekolah yang membuat gagal fokus dan panik saat kegiatan pelatihan berlangsung. Sangat mengganggu.

Tentu saja hal tersebut menjadi beban terpendam dalam diri. Di satu sisi memikirkan tugas di bagian timur, di sisi lain memikirkan tugas di bagian barat. Saya tidak bisa memilih satu di antaranya. Ingin sekali menyelesaikan satu per satu dengan maksimal. Semoga yaa..

Beradaptasi

Rasa lesu dan beban pikiran tadi terasa hilang ketika matahari menyinari. Seakan memberi semangat, mulailah! Saya pun mulai menyesuaikan untuk bisa beradaptasi dengan teman baru serta mencoba.

“Jalani saja dahulu. Hidup ini pembelajaran,” kata yang pernah terdengar di telinga untuk menjadi penyemangat belajar walaupun belum memahami betul. Yaa namanya juga belajar.

Masih di hari pertama saya diperkenankan bertatap muka dengan Pak Ketut Wiadnyana, orang nomor satu di Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS). Bukan hanya tatap saling menatap saya juga berkesempatan untuk bertukar pikiran dengannya.

Di tengah acara tatap muka langsung itu Pak Tut menceritakan bagaimana sejarah usahanya hingga saya sangat terngiang dengan kata beliau. “Bersatu, bersama.” Itu yang beliau katakan sebagai modal untuk sukses di usahanya.

Ketua Koperasi KSS ini menjelaskan arti nama koperasinya yaitu sejahtera, berjanji, bersatu atau bersama. Arti itu bukan sembarang arti, Pak Tut bercerita, tetapi memang diperuntukkan untuk petani yang mau berubah di tengah susahnya mengubah cara pandang para petani. Jika ingin maju di bidang kakao, khususnya di Jembrana, caranya adalah dengan cara bersatu dan bersama.

Saya sungguh terkejut mendengar pernyataan Pak Tut tadi. Di tanah kelahiran saya ternyata masih terdapat orang-orang yang peduli kepada rakyat kecil dan ingin bangkit bersama-sama dengan cara memberikan pemahaman kepada mereka yang belum paham di bidang tersebut. Mengubah mindset para petani kakao untuk menuju kesuksesan sangat susah. Sebab petani di sekitar kita belum memahami betul proses yang bisa dilakukan untuk mendapat lebih banyak keuntungan.

“Masyarakat cenderung terlalu berpikir instan. Contohnya hanya menjemur biji kakao dari kebunnya. Padahal, jika menggunakan metode fermentasi jelas keuntungan mereka akan bisa membantu perekonomian petani kakao di Jembrana,” kata Pak Ketut.

Muda, Beda, dan Berkarya

Saat program seleksi beasiswa AJS pada Juli 2019 panitia pernah mensosialisasikan bahwa kakao Jembrana adalah kakao yang terbaik di Indonesia. Bahkan, dia diekspor ke negara-negara asing. Cerita panitia itu sungguh membuat saya heran. Saya teruna (remaja) Jembrana malah tidak pernah tahu kekayaan yang dimiliki di tanah tempat saya dibesarkan.

Melihat peluang di sekitar bisa menjadi modal efektif bagi generasi muda berbisnis dengan bahan lokal. Mereka juga harus berinovasi dan memikirkan kualitas produk yang akan diterima konsumen serta pantang menyerah untuk mau maju.

Maka dari itu kita harus bisa bersinergi membangkitkan kakao Jembrana sehingga bisa menciptakan kakao yang menjamin kesehatan pengonsumsinya. Sinergi itu mulai dari cara penjemuran, alat, dan proses untuk mencapai hasil berkualitas dan sehat. Salah satu caranya adalah melalui fermentasi karena dia bisa menciptakan aroma khas sehingga permintaan dari pasar pun meningkat. Harapannya, ekonomi petani kakao juga akan meningkat.

Selain menciptakan aroma khas, petani juga memikirkan kesehatan produk yang akan dibuat dengan menjaga kebersihan.

Hari Kedua

Di hari kedua, saya dan teman-teman berkesempatan mengunjungi agrowisata yang juga pembeli kakao produksi Koperasi KSS. Lokasi agrowisata ini di Desa Cau, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan.

Di sana kami disambut dengan senyuman oleh pegawai. Kami diajak keliling di agrowisata, melihat pohon kakao beserta buahnya. Pemandangan yang asri dan sejuk itu membuat kami menyempatkan untuk berselfie ria mengabadikan momen menyenangkan ini. Setelah capek berfotoria, saya dan teman-teman diajak untuk makan siang ditambah untuk berbincang-bincang dengan pemilik agrowisata tersebut. Saya menanyakan beberapa pertanyaan mengenai manfaat cokelat bagi kesehatan.

Info yang saya dapat dari Bapak Alit Artha Wiguna, pemilik Cau Chocolate, adalah cokelat juga bisa digunakan produk kecantikan seperti lulur danmasker untuk mempercantik tubuh. Bukan hanya itu, kulit kakao juga bisa digunakan untuk teh yang menyehatkan selama diolah dengan baik.

Selain kepada Pak Alit, saya juga menanyakan manfaat cokelat itu kepada narasumber lain yaitu Kakak Sri Auditya Sari dari Yayasan Kalimajari, Luh Komang Desita Anggraeni yang juga finalis AJS 2019, dan pegawai spa yang menggunakan cokelat untuk layanannya.

Pengolahan cokelat di pabrik Chau Chocolate. Foto Bagus Ryan.

Sehat dan Cantik

Menurut Kak Tya, mengonsumsi olahan kakao dari segi kesehatan ternyata bisa membuat kita senang dan itu sudah terbukti secara sains. Karena di dalam olahan kakao, khususnya cokelat murni, banyak mengandung senyawa kimia. Pertama, flavonols yang mempercepat metabolisme tubuh. Jadi tubuh lebih cepat memproses makanan yang masuk menjadi energi. Kita jadi lebih aktif sehari-harinya.

Kedua, theobroma yang merangsang otak untuk memproduksi hormon endorfine, serotonin dan dopamine. Ketiga hormon ini memegang kendali atas perasaan bahagia, tingkat komunikasi verbal dan kinetis. “Senyawa ini bisa membuat konsumennya bisa lebih aktif, ceria dan bahagia,” kata Kak Tya.

Menurut Kak Tya, kakao Jembrana adalah kakao spesial. Kenapa begitu? Bukan hanya karena Jembrana secara alami sudah dikaruniai nutrisi tanah yang luar biasa kaya, Tapi juga karena rantai nilai yang sarat akan kualitas, dan aspek pemberdayaan.

Kakao Lestari Jembrana bukan hanya bicara tentang kualitas produk cokelat, tetapi juga tentang kualitas petani kakaonya. Contohnya adalah proses fermentasi yang menjadi sebuah senjata besar mengantarkan Jembrana untuk diakui sebagai Cacao Of Excellence secara internasional.

Enak atau tidaknya cokelat bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang asa petani sebagai produsen utama produksi cokelat. Kualitas produk sudah jelas menjadi fokus program kakao lestari melalui fermentasi. Namun, pendampingan petani agar lebih berdaya dan mampu bersaing di pasar global adalah cita-cita yang harus diwujudkan. “Cita-cita itu dimulai dari Jembrana, kemudian Bali, dan semoga mimpi Kakao Lestari ini dapat diadaptasi oleh semua petani kakao di Indonesia,” kata Kak Tya.

Olahan kakao juga bisa digunakan produk kecantikan, lhoo, sahabat. Dengan menggunakan masker cokelat dua bulan sekali dan lulur cokelat selama dua minggu sekali. Selain itu cokelat juga bisa diolah sebagai lulur. Apa lagi narasumber menceritakan bahwa bahan yang digunakan sebagai lulur tersebut dipakai dari biji cokelat sisa buangan dari seleksi biji yang ada di Koperasi KSS.

Selain lulur cokelat juga bisa digunakan sebagai masker organik teman-teman. Lagi-lagi narasumber mengatakan bahwa masker cokelat yang digunakan 100 persen organik dan membuat sendiri dari bahan biji kakao yang tidak layak jual atau bahan contoh yang sudah selesai dipakai.

Narasumber memberikan testimoni setelah memakai produk kecantikan dari cokelat, wahh ternyata tidak mengecewakan.
Enak banget, kulit rasanya halus. Karena mengandung lemak nabati (chocolate butter), dan itu bisa mengecilkan pori-pori. Selain itu, antioksidan yang dikandung di dalam cokelat bisa menghambat pertumbuhan radikal bebas di dalam tubuh. Jadi kulit lebih sehat dan terlihat lebih muda.

Wah tidak terduga. Kandungan di dalam cokelat ternyata sangat ampuh untuk mempercantik diri.

Namun, manfaat itu bisa berkurang kalau ada hama masuk ke dalam kakao. Maka dari itu, pemeliharaan harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Dari masa pembibitan, perawatan sampai panen juga harus diperhatikan untuk menciptakan olahan kakao berkualitas. Jawaban sangat jelas dan padat, ya. Maka dari itu kesehatan pohon dan buah kakao sangat penting untuk kualitas produk dari buah kakao tersebut.

Ter.. Terr.. Ternyata lagi cokelat juga bisa digunakan untuk diet karena memiliki kandungan senyawa kimia flavanoit, khusus di buah kakao itu disebut flavanol yang mengakibatkan tubuh lebih giat bermetabolisme. Pencernaan menjadi lebih bagus dan lancar. Senyawa kedua adalah teobroma yang membuat otak memproduksi hormon serotonik, dopamin, dan endorvin. Kandungan itulah membuat orang yang memakan biji kakao dan cokelat menjadi lebih bahagia serta semangat dalam beraktivitas dan mengeluarkan keringat.

Dari energi berlimpah tersebut kita bisa beraktivitas dan mengeluarkan keringat dan aktif berkegiatan, kalau kita aktif berkegiatan otomatis lemak akan keluar lewat keringat yang kita keluarkan dan juga sangat berpengaruh terhadap metabolisme dikarenakan sebenarnya diet tersebut adalah sarana memperlancar metabolisme tubuh.

Bukan berarti saat diet kita hanya mengonsumsi cokelat berkualitas premium, tetapi juga harus diseimbangi dengan karbohidrat serta buah-buahan dan butuh olahraga teratur.

Hitam atau Putih?

Gengs… Kalo pilih warna, hitam atau putih? Wkwkwk. Maksudnya lebih sehat mana yaa.. dark chocolate atau white chocolate?

Begini, gengs. Dark chocolate bisa dianggap cokelat dalam bentuk paling murni. Dia mengandung persentase padatan kakao dan cocoa butter tertinggi. Bahan tambahan lainnya adalah bubuk biji kakao dan gula.

Milk chocolate mengandung padatan cokelat dan cocoa butter, tetapi dalam persentase yang jauh lebih kecil. Ini juga mengandung susu bubuk dan gula yang memberikan rasa lebih halus, lembut dan manis. Tetapi, orang mungkin bertanya apakah white chocolate itu cokelat asli? Sejujurnya, cokelat putih tidak mengandung padatan kakao sama sekali. Hanya mengandung sebagian kecil mentega kakao dengan gula dan susu.

Jadi intinya dari segi kesehatan dark chocolate mengandung banyak nutrisi yang baik buat tubuh dibandingkan dengan jenis cokelat lainnya.

Kita lanjut ke narasumber yang milenial abis yukk.. Bersama Desita, yang juga cucu petani kakao di Melaya sekaligus milenial yang menggemari cokelat.

Saya sangat penasaran dengan sosok satu ini. Dia sangat menarik perhatian saya ketika ia mengatakan suka sekali dengan produk cokelat. Saya pun menanyakan beberapa pertanyaan dan langsung saya jabarkan di sini ya..

Desita sangat suka mengkonsumsi cokelat dari umur lima tahun. Mungkin bukan Desita saja anak-anak yang dulu umurnya 5 tahun ke atas suka mengonsumsi cokelat.

Desita suka mengonsumsi cokelat karena harganya sangat terjangkau dan rasanya enak. Beberapa merk cokelat yang pernah ia konsumsi. Satu yang paling ia cintai adalah produk cokelat dari Cau di daerah Tabanan yang pernah ia kunjungi bersama teman-temannya saat mencari data di sana.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Desita sangat menyukai cokelat, tetapi dia tidak pernah sakit karena mengonsumsi cokelat. Hal itu karena Desita menjaga asupan yang masuk di dalam tubuhnya. Apalagi Desita sangat takut untuk mengonsumsinya saat pemilik Cau Chocolate bilang, cokelat yang dicampur dengan gula dan susu tersebut sangat tidak baik bila dikonsumsi oleh tubuh.

Namun, Desita tidak pantang mundur untuk menyukai cokelat. Hanya saja dia lebih selektif dalam membeli cokelat dengan cara melihat komposisinya terlebih dahulu. Menurut Desita cokelat membuat dirinya senang, menghilangkan stres dan membuat bahagia karena sensasi yang ia dapatkan dari memakan cokelat tersebut.

Desita memberikan cara ampuh untuk mengkonsumsi cokelat agar bermanfaat bagi tubuh. Caranya dengan cara lebih memperhitungkan kandungan cokelat yang kita makan karena semakin pahit cokelat semakin bagus kandungan kesehatan di dalamnya.

Sangat menarik wawancara di atas, ya, guys.

Saya juga ingin menyampaikan informasi tentang olahan cokelat yang bisa digunakan untuk kecantikan kulit. Saya mencari informasi tentang Spa Cokelat yang sangat baik untuk anak berusia 5-10 tahun dengan terapis cokelat di Jembrana.

Menurut terapis tersebut cokelat memiliki kandungan antioksidan khususnya dark chocolate yang bisa membantu menjaga kulit wajah dari serangan racun maupun kuman yang kerap hinggap pada kulit. Menggunakan bahan baku cokelat untuk kesehatan kulit anak berumur 5-10 tahun yang bisa menyehatkan kulit mereka.

Tempat spa anak ini sangat jarang ditemui. Mungkin hanya ada di kota besar. “Andaikan pemahaman menggunakan cokelat sebagai penyehatan kulit ini sudah banyak yang tahu tidak memungkiri banyak yang membuka jasa spa anak,” kata seorang terapis yang pernah mengikuti seminar dan pelatihan spa.

Sumber lainnya, menurut para ahli dari American Health Foundation, antioksidan utama dalam cokelat hitam mampu melindungi kulit tubuh hampir 100 kali lebih efektif dari pada vitamin C dan 25 kali lebih ampuh dari vitamin E. Selain itu cokelat juga bisa menutrisi dan mencerahkan kulit wajah dan tubuh.

Jadi, untuk teman-teman, cokelat juga bisa menjadi bahan baku kesehatan kulit anak. Bukan hanya remaja dan orang dewasa saja, tetapi anak juga bisa menggunakan jasa tersebut sebagai pencegahan penyakit kulit.

Wahh… Begitu besar kandungan buah kakao yang bisa kita manfaatkan. Ayo! Maju terus kakao Gumi Mekepung! [b]

The post Kakao Menyehatkan dari Gumi Mekepung appeared first on BaleBengong.

Rumah Sanur, Modal Manusia, Musik dan Militansi


Jah Megesah Vol. 03 menghadirkan Rudolf Dethu dan Ayip Budiman. Foto Wendra Wijaya.

Membangun peradaban adalah membangun mental manusia.

Manusia menjadi energi besar kemajuan jika memiliki kebanggaan dan keterlibatan aktif bagi apa yang diperjuangkannya. Dua pembicara Jah Megesah Vol. 03, Rudolf Dethu dan Ayip Budiman, sepakat menempatkan manusia menjadi unsur vital, melalui kreativitas dan militansi yang dimilikinya.

Jah Megesah kali ini mengambil tema Rumah Sanur: Modal Manusia, Musik, dan Militansi. Obrolan di Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Negara, Jembrana ini dimoderatori Umam al Maududy.

Diskusi ini mendapat perhatian serius dari banyak pihak. Sebab aktivasi ruang, baik berupa komunitas ataupun wilayah atau kota, memiliki persamaan mendasar meski dengan tantangan yang beragam.

“Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan terhadap apa saja yang diperjuangkan. Jika kebanggaan ini melekat, otomatis militansi akan tumbuh sebagai modal dasar untuk membangun sesuatu. Apa pun itu,” ungkap Ayip.

Ayip merupakan inisiator Rumah Sanur. Sejak awal, ia memang membentuk Rumah Sanur menjadi rumah kreatif bagi siapa saja. Melaui Rumah Sanur, Ayip berupaya mengarahkan pembangunan kreativitas yang inklusif. Caranya dengan membentuk ekosistem kreatif untuk mendorong inovasi sosial yang berfokus pada pengelolaan sumber daya dan pengembangan produk.

Untuk mencapainya, ada tiga hal mendasar yang menjadi titik berangkat Rumah Sanur, yakni sense of place, 3rd space, dan serendipity space. Ketiganya bersinergi untuk memberi sensasi pertemuan bagi setiap orang.

Menurut Ayip kesan sebuah tempat sangat penting di dalam menumbuhkan keinginan untuk selalu datang. Menariknya adalah ketika orang-orang dari berbagai latar belakang mengunjungi Rumah Sanur, pengelola menskenariokan kedatangan itu agar terjadi hubungan baru di antara pengunjung.

“Karena itu, konsep yang dibangun di Rumah Sanur memungkinkan untuk terjalinnya relasi baru di antara sesama pengunjung. Sekali lagi, kita sengaja skenariokan jalinan relasi itu,” terangnya.

Media Musik

Di sisi lain, Rudolf Dethu mengungkapkan strategi untuk menarik kedatangan pengunjung adalah lewat media musik. Ia percaya, musik merupakan alat komunikasi paling efektif untuk mempertemukan, sekaligus merekatkan berbagai kalangan.

“Musik bisa merangkul siapa saja, paling gampang ditularkan untuk menciptakan crowd. Karena itu, musik yang kita programkan mesti lintas genre dan berjenjang untuk menarik massa yang berbeda,” ungkapnya.

Dethu yang selama ini dikenal sebagai propagandis mengingatkan bahwa modal manusia adalah segala-galanya. “Melelahkan itu pasti. Kita mesti menjadi host, menyambut setiap orang yang datang dan menciptakan suasana yang akrab ke sesama audience,” ujar Dethu.

“Selain itu, kita juga melakukan pendampingan terhadap musisi. Memang benar kita open terhadap segala genre musik, tapi bukan berarti kita tidak mengkurasinya. Kurasi penting untuk menjaga kualitas pertunjukan sekaligus sebagai tanggung jawab kita juga kepada publik,” tambahnya.

Namun, tiap kota punya ceritanya masing-masing.

Pengelola Rompyok Kopi sekaligus Koordinator Komunitas Kertas Budaya, Nanoq da Kansas, mengisahkan bagaimana ia dan kawan-kawan di Jembrana cukup militan untuk membangun tempat yang diproyeksikan sebagai rumah singgah tersebut.

Hampir setiap hari, selalu saja ada aktivitas utamanya mengenai pembelajaran seni kepada pelajar di Jembrana. “Tapi akhirnya malah warga yang seperti enggan datang. Rompyok jadi terkesan tenget dan hanya jadi tempat bagi ‘orang-orang serius’,” ungkapnya.

Terkait hal ini, sekali lagi Dethu menerangkan jika segalanya akan bisa cair lewat musik. Namun yang mesti digarisbawahi adalah, komunikasi yang ditawarkan harus lebih ngepop. Karena itu, pengelola mesti mampu merangkul setiap kalangan dari berbagai usia.

Sementara Ayip menjelaskan bahwa keberadaan tempat harus memberi manfaat dan mampu mengakomodasi aktivitas warga. Hal ini berarti, penting untuk menciptakan persamaan antara sesama manusia, tidak ada perlakuan yang berbeda.

Di sisi lain, lanjut pria yang juga merupakan konsultan branding beberapa kota di Indonesia, pemahaman terhadap peta potensi wajib dimiliki. Namun, tak berhenti sampai di sana, pemuktahiran juga menjadi keharusan karena selalu berlaku dinamis. Setiap tempat, termasuk kota memiliki karakternya masing-masing, entah itu karena pengaruh historis atau lainnya.

Dengan demikian, setiap kota mesti memiliki story telling-nya sendiri untuk memproduksi wacana yang mampu mencerminkan identitas masing-masing, tanpa mengabaikan siapa saja yang menjadi bagian di dalamnya.

“Segalanya harus dirangkul. Bergerak bersama dan menciptakan kesamaan visi untuk mencapai apa yang diharapkan. Interaksi harus dibangun dengan titik berat pada transformasi pengetahuan,” demikian Ayip.

Sementara Wakil Bupati Jembrana, Made Kembang Hartawan, mengapresiasi program Jah Megesah yang diselenggarakan Jimbarwana Creative Movement (JCM) bersama Komunitas Kertas Budaya. Menurutnya program ini penting sebagai media edukasi, utamanya di era digital yang demikian pesat.

Menurut Kembang orang-orang yang survive adalah mereka yang kreatif dan mampu meningkatkan nilai produk. Kreativitas masyarakat Jembrana tentu juga merupakan kekayaan daerah yang mesti diapresiasi dengan serius.

“Karena itulah, Pemda (Pemkab Jembrana) ingin memaksimalkan kreatif muda Jembrana, salah satunya dengan membangun creative hub,” tukasnya. [b]

The post Rumah Sanur, Modal Manusia, Musik dan Militansi appeared first on BaleBengong.

Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan

Membangun sebuah brand tak sesederhana memiliki produk semata.

Jauh melebihi itu, mesti ada ide dan gagasan besar yang melatarbelakangi keberadaannya. Sebuah brand, bagi Ary Astina alias JRX, semestinya bisa menjadi pernyataan sikap atas berbagai dinamika sosial di masyarakat.

Menjadi suara-suara yang (minimal) mampu mewakili diri sendiri.

Selama ini JRX memang dikenal sebagai pemuda kritis. Dalam berbagai peristiwa, ia kerap berada terdepan untuk menyuarakan kegelisahan. Tidak hanya melalui musik bersama grupnya Superman is Dead (SID) dan berbagai aksi massa, JRX juga menyuarakan kegelisahannya dalam sunyi, melalui brand Rumble (RMBL).

JRX hadir dalam Jah Megesah Vol #1: Build Your Own Brand yang digelar Jimbarwana Creative Movement (JCM) bersama Komunitas Kertas Budaya. Jimbarwana Creative Movement merupakan sekumpulan pemuda Jembrana dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, mulai dari creative enterpreneur hingga ke seniman digital. Kecintaan pada Jembrana sebagai “Ibu” melahirkan kegelisahan untuk menciptakan Jembrana yang lebih progresif.

JRX mengingatkan pentingnya passion dalam menjalankan bidang usaha. Sebab, passion akan menciptakan komitmen dan fokus untuk menjaga kontinuitas usaha.

“Namun, jauh yang lebih penting, brand yang dimiliki selayaknya mampu menjadi identitas, sekaligus media propaganda atas pemikiran dan gagasan yang kita miliki,” kata JRX yang hadir sebagai pembicara, dimoderatori founder beritabali.com Agus Swastika di Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Rabu malam.

Sopir Truk

Dalam design-design RMBL, misalnya, JRX tidak menginginkan produknya hanya berhenti sebatas fashion. Karena itu, RMBL sering menggunakan idiom buruh ataupun sopir truk untuk mewakili kaum marginal.

Hasilnya, produk RMBL dianggap mampu menyuarakan kegelisahan masyarakat sehingga strategi marketing konvensional menjadi tidak terlalu penting. Kesamaan visi yang hadir melalui simbol-simbol dalam produk akan menghapus jarak antara produk dengan penggunanya.

Selama ini RMBL memang diperuntukkan juga sebagai media propaganda untuk melawan hal-hal yang sering ditabukan masyarakat dengan alasan-alasan mainstream, seperti ketakutan berlebih akan norma yang melekat pada keindahan wanita, budaya alternatif dan substansi mood altering. Sebab, menjadi diri sendiri terasa sulit di negara bhinneka yang penuh aturan moral ini.

“Brand itu bukan sekadar produk semata. Ini tentang energi untuk melawan dan menjadi diri sendiri,” ucap JRX yang dalam pengakuannya juga pernah gagal dalam bisnis fashion di bawah bendera Lonely King pada tahun 2005.

Dalam membangun RMBL, JRX tidaklah sendiri. Bersama Ady, bassist band rockabilly The Hydrant, mereka saling dukung untuk membesarkannya hingga akhirnya memiliki brand position yang kuat di Indonesia, dengan memanfaatkan seluruh channel social media yang dimiliki.

Tak hanya sebagai produsen fashion, RMBL juga menyasar kepedulian anak-anak muda pada isu lingkungan. Eco Defender pun terbentuk dan bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali untuk melakukan gerakan perlawanan atas kebijakan-kebijakan yang dinilai tidak pro terhadap lingkungan hidup.

Dari setiap produk yang terjual di RMBL, sebanyak Rp 2.000 disumbangkan untuk mendukung gerakan tersebut.

Pengaruh Personal

Dalam sesi diskusi, Ariadi, salah seorang peserta menanyakan masalah pengaruh personal brand JRX dengan brand produk RMBL. Karena persepsi di masyarakat, JRX adalah RMBL dan RMBL adalah JRX.

“Apa yang terjadi jika Bli JRX keluar dari Rumble, apakah produknya masih akan diminati?” tanya Ariadi yang juga penggerak wirausaha muda di Jembrana.

Menurut JRX, pengaruh dirinya tentu ada, tetap tidak akan signifikan. Karena selain dirinya, RMBL juga terdiri dari orang-orang yang satu visi dan memiliki integritas yang sama.

“Sikap kritis saya atas isu-isu sosial, juga pasti akan berpengaruh. Tapi saya kira ini seperti seleksi semesta. Konsumen paham kalau RMBL bukan sekedar produk fashion, tapi ada nilai pergerakan di sana. Mungkin saja akibat sebuah aksi saya membuat konsumen meninggalkan RMBL. Namun saya yakin konsumen baru akan berdatangan karena aksi saya sesuai dengan prinsip mereka,” tegasnya.

Antusiasme peserta dalam Jah Megesah begitu terasa. Creativepreneur yang hadir benar-benar memaksimalkan kegiatan tersebut untuk menggali dan menemukan jawaban permasalahan mereka masing-masing.

Era Digital

Sementara itu, koordinator Jah Megesah, Wena Wahyudi, menyinggung era digital yang memberi dampak sangat besar pada dunia usaha. “Kini promosi tak lagi butuh biaya tinggi. Kita bisa memanfaatkan media sosial masing-masing, selanjutnya bisa menjajaki platform besar yang ada, misal Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya,” ucapnya.

Melalui program Jah Megesah, Wena bersama JCM mencoba mengajak creativepreneur Jembrana untuk ambil bagian di era digital yang bergerak demikian pesat. Build Your Own Brand merupakan topik awal dalam Jah Megesah. Program ini akan berkelanjutan membahas unsur-unsur penting lainnya dalam bisnis digital sehingga mampu menjadi acuan di dalam mengembangkan usaha.

“Selain membangun brand, apalagi yang dibutuhkan bersaing di bisnis digital ini? Kita akan gelar Jah Megesah yang akan datang dengan mengangkat commercial photo, creative video promotion, menulis dengan basic story telling, dan lain-lain. Prinsipnya, kita harus menjadi pemuda yang progresif. Salah satunya ambil bagian dalam era digital ini,” demikian Wena.

Di akhir acara, JRX menyanyikan lagu Jadilah Legenda untuk memotivasi pemuda di Jembrana. Setelahnya kelompok Badai di Atas Kepalanya benar-benar memungkasi acara yang berjalan selama 3 (tiga) jam tersebut. [b]

The post Brand Harus Jadi Identitas dan Mewakili Gagasan appeared first on BaleBengong.

Petani Jembrana Harumkan Kakao Fermentasi Indonesia

Pelepasan biji kakao dari Jembrana ke pembeli.

Harapannya, Jembrana bisa menjadi jendela kakao fermentasi Indonesia.

Petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali mengirimkan biji kakao kering fermentasi sebanyak 11 ton untuk pembelinya di pasar internasional maupun domestik. Pengiriman secara seremonial diadakan pada Kamis, 6 September 2018, di depan Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Negara, Jembrana.

Hadir sekitar 700 undangan, termasuk petani, pelajar, Bupati Jembrana, dan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Petani yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS) mengirim biji kakao kering tersebut ke lima pembeli yaitu Valrhona Peranci (5 ton), AKP Organic untuk Dari-K Jepang (2 ton), Cau Chocolate (2 ton), POD (1 ton), dan Bali Chocolate Factory (1 ton). Seluruhnya dalam bentuk kakao kering fermentasi.

Keberhasilan petani kakao Jembrana mengekspor kakao fermentasi ke Perancis dan Jepang maupun pasar domestik ini mendapat apresiasi dari Dirjen Perkebunan Bambang. Dalam sambutan pelepasan ekspor, Bambang mengatakan kakao fermentasi dari Jembrana menjadi bukti bahwa Indonesia bisa memproduksi kakao berkualitas.

“Jembrana luar biasa karena menjadi percontohan kakao fermentasi nasional. Jembrana bisa menjadi jendela masa depan kakao Indonesia yang berkualitas,” kata Bambang.

Jembrana luar biasa karena menjadi percontohan kakao fermentasi nasional. Jembrana bisa menjadi jendela masa depan kakao Indonesia yang berkualitas.

Bambang menambahkan saat ini kebutuhan cokelat dunia semakin bertambah. Indonesia berpotensi menjadi produsen kakao berkualitas dunia karena selama ini merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Dengan kualitas lebih bagus, termasuk melalui fermentasi, kakao Indonesia akan mendapatkan harga lebih tinggi pula.

Menurut Bambang Indonesia sebagai pengahasil kakao terbesar ketiga di dunia justru dikenal sebagai produsen kakao yang terburuk karena tidak terfermentasi. “Kesadaraan untuk mengolah kakao melalui fermentasi itu tumbuh dari Jembrana dan itu pelajaran yang sangat penting untuk kita,” ujarnya.

Masa depan kakao Indonesia, Bambang melanjutkan, akan berjaya seiring dengan perhatian dari para pembeli yang memberikan harga lebih tinggi. Karena itu, Bambang mendesak agar Pemerintah Kabupaten Jembrana lebih serius menjadikan kakao sebagai komoditas unggulan daerah. “Pemahaman perkebunan yang baik akan berdampak terhadap hasil lebih baik karena pemahaman pejabat-pejabat daerah masih menganggap sektor perkebunan itu belum penting. Padahal, perkebunan adalah fundamental kekuatan ekonomian nasional,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan juga penandatanganan MOU antara Koperasi KSS dengan POD Chocolate, Mason Gourmet Chocolate, Cau Chocolate dan AKP Organic untuk dukungan kerjasama yang lebih berkelanjutan. Kampanye Coklat juga menjadi bagian dari membangun kesadaran publik bahwa kakao Jembrana adalah milik bersama dan patut untuk didukung. Public Awareness melalui Chocolate Campaign sepenuhnya didukung oleh Cau Chocolate, POD Chocolate dan Mason Gourmet Chocolate. Dedikasi penuh ini diberikan untuk para pejuang kakao Jembrana.

Penandatanganan MoU antara petani kakao dengan pembeli.

Menjawab Tantangan

Bupati Jembrana I Putu Artha menyatakan menyambut baik saran Dirjen Perkebunan tersebut sebagaimana selama ini sudah ditunjukkan oleh Pemkab Jembrana. Pihak menyadari bahwa sektor pertanian dan perkebunan berperan penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan, tetapi di sisi lain sektor ini justru menghadapi banyak tantangan, seperti alih fungsi lahan dan kurangnya minat anak muda.

“Selama delapan tahun terakhir kami menyambut baik program Kakao Lestari untuk pengembangan kakao unggulan yang dampaknya sudah dirasakan oleh para petani saat ini. Petani mulai bangkit untuk mengelola kebun kakaonya dari hulu sampai hilir, yang hasilnya bisa kita lihat pada hari ini bahwa kakao Jembrana bias merambah dunia internasional. Ini adalah hasil dari komitmen semua pihak,” ujar Bupati Artha.

Bupati menambahkan Jembrana memiliki satu satunya lembaga koperasi yang bergerak di bidang perkakaoan yaitu Koperasi Kerta Samaya Samaniya (Koperasi KSS) yang memiliki anggota 38 subak abian atau subak di kawasan kering. Koperasi ini mampu mendampingi dan memfasilitasi anggotanya dalam proses, produksi, mutu dan juga pemasaran walaupun masih sebatas biji kakao fermentasi. Jumlah anggota koperasi saat ini adalah 609 petani kakao.

“Ke depan agar para petani anggota koperasi tidak terhenti hanya pada produk biji kakao fermentasi, tetapi sampai juga kepada produk turunan biji kakao untuk peningkatan nilai tambah produk dan peningkatan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Jembrana,” Bupati Artha berharap.

Julien Desmedt, perwakilan Valrhona Perancis yang membeli kakao fermentasi dari Jembrana sejak 2015, berharap petani bisa berkomitmen untuk menjaga kualitas biji kakao dengan dukungan semua pihak. “Hal yang paling penting adalah peremajaan pohon dengan klon-klon baru yang tahan terhadap hama agar dapat memberi hasil kualitas yang lebih baik dan juga akan memberi income yang lebih baik lagi untuk para petani,” katanya.

Adapun Agung Widiastuti, Direktur Yayasan Kalimajari yang mendampingi petani kakao Jembrana dalam program Kakao Lestari sejak 2011, mengatakan pengiriman kakao ini membuktikan bahwa petani bisa mengubah pandangan negatif terhadap sektor pertanian selama ini. “Ini bukti bahwa pasar memang ada di depan mata, tetapi kita harus berjuang untuk mencapainya. Ini bukan mission impossible karena kita bisa mewujudkannya,” kata Widiastuti.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Koperasi KSS I Ketut Wiadnyana. Jika dulunya mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan pasar, tetapi saat ini justru mereka yang dicari-cari oleh pembeli. “Kami bangga karena ini sekaligus membuktikan bahwa petani kakao bisa membawa harum nama Jembrana dan Indonesia ke pasar internasional,” ujarnya. [b]

The post Petani Jembrana Harumkan Kakao Fermentasi Indonesia appeared first on BaleBengong.