Tag Archives: jalan-jalan

Trekking Danau Buyan dan Hutan Tamblingan – Bali

Setelah 13 tahun kemudian saya bisa mengulangi kembali trekking dari Danau Buyan membelah hutan Tamblingan, ketemu Danau Tamblingan dan kembali pulang ke Danau Buyan lagi. Berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2020 bersama istri tercinta Shinta Dyan K dan pasangan suami istri Om Decy dan Mbak Uci.

Hutan Tamblingan

Butuh waktu 6 jam pulang pergi dengan posisi awal (start) di parkiran Danau Buyan. Pukul 08.00 WITA berangkat dan kembali sampai di parkiran Danau Buyan pukul 14.00 WITA, menghasilkan 3 destinasi yang mrinding!

Peta Danau Buyan dan Danau Tamblingan

1. Ujung Barat Danau Buyan

Posisi berangkat bisa dikatakan berada di pertengahan Danau Buyan. Trekking masuk hutan yang pepohonannya rapi seperti di perkebunan. Mungkin usianya baru puluhan tahun tapi cukup rapat jaraknya. Kesan gelab syahdu cukup terasa disini.

Sempat keluar hutan sejenak untuk bertemu padang rumput luas. Dulu biasanya dipakai spot untuk event tertentu. 13 tahun silam pernah lewat situ banyak tenda-tenda besar ukuran barak tentara. Spot ini namanya Camping Ground Buyan II.

Masuk lagi hutan yang komposisi pohon nya masih sama berbaris rapi hasil settingan manusia hehehe. Mungkin ulah dinas kehutanan ya. Mulailah ketemu sama indukan ayam dan anak-anaknya. Cukup aneh kok ada di hutan. Ternyata disekitaran situ ada rumah penduduk. Cuma satu aja. MasyaAllah bisa juga hidup ya. Jauh banget dari keramaian.

Trekking Danau Buyan dan Hutan Tamblingan

Melewati rumah itu disertai lolongan anjing. Maklum lah si anjing ketemu orang asing. Si pemilik rumah berusaha mendiamkannya. Ada satu anjing yang rupanya jinak mengikuti kami untuk menikmati ujung barat Danau Buyan. Ada bebatuan disana yang instagramable. Eksotis lah! Bikin konten lah kita hehehe.

2. Danau Tamblingan Sisi Tengah

Perjalanan berlanjut masuk hutan yang berisi pohon-pohon super besar. Ya, seperti tempat yang tak terjamah manusia. Diameter pohon ada yang seukuran 4 hingga 10 orang yang berjajar. AllahuAkbar!

Pohon di Hutan Tamblingan

Cukup lama membelah hutan ini dan keluar di Pura Dalem Tamblingan. Kalau lihat di Google Maps, letak pura ini di sisi tengah danau. Kami turun dan menyusuri pinggiran danau.

Terdapat gubung-gubung dengan pondasi tinggi dari kayu di pinggiran danau. Sempat menebak sendiri fungsinya. Mungkin untuk upacara. Tebakan saya salah!

Untung ada pemancing disitu dan saya tanya fungsi gubug itu. Ternyata untuk memancing jikalau air danau pasang. Debit air tinggi bila musim penghujan datang. Wah saat ini sudah masuk musim penghujan.

Cukup jauh kami menyisiri pinggir danau tersebut. Saya mikir apakah pulang nya bakal balik lagi gunakan jalur Pura Dalem tadi? Saya ajak Om Decy pimpinan trekking untuk menjajal rute baru. Kebetulan hasil penyisiran menemukan celah jalan naik keatas.

Tapi kami istirahat dulu menikmati keberhasilan sampai di Danau Tamblingan. Setelah merenung, jeprat-jepret bikin konten, kami langsung naik keatas. Tak jauh dari tempat istirahat tadi ada celah untuk naik keatas.

3. Danau Tamblingan Sisi Timur

Allah Maha Keren! Ajakan saya tepat. Jalur baru tadi ternyata pernah kita lewati sebelumnya. Lumayan bisa memotong jarak dan waktu. Alhamdulillah.

Hutan Tamblingan

Om Decy menawarkan untuk naik bukit melihat kedua danau. Kami ambil arah yang berbeda dari jalur pulang. Eh ternyata bertemu Pura Ulun Danu Tamblingan!

Pura ini pernah saya kunjungi bersama teman-teman Bali Outbound 13 tahun silam. Saya bilang ke Om Decy bahwa dibawahnya ada jalan menuju danau lagi. Akhirnya kita turun dan menikmati sisi timur Danau Tamblingan. Lebih syahdu disitu.

Danau Tamblingan

Mungkin 30 menit kami disitu dan konsentrasi agak buyar karena salah satu dari kami merasakan rintik air dari atas. Ya, bakal hujan!

Benarlah hujan. Kami pulang diguyur air dari langit. Untung bawa jas hujan.

Trekking kali ini penuh tantangan! Saya bersyukur masih hidup. Waaaa. Bagi yang membaca tulisan ini dan trekking di musim-musim penghujan, hati-hati pacet dan ular! Mereka suka dengan yang lembab-lembab.

Diawal perjalanan memasuki hutan, saya sempat bilang ke rombongan kalau trekking disini kayaknya cocok untuk family termasuk anak-anak. Mohon maaf akhirnya saya cabut. Jika berbanyak, mungkin lebih dari 10 orang, berpotensi membangunkan ular. Bersepatu dan berkaus kaki pun tidak jaminan bebas pacet. Bisa masuk!

Trekking yang cocok untuk family dan anak-anak hanyalah sebatas Camping Ground Buyan II saja. Selebihnya harus punya persiapan dan bekal khusus.

Satu lagi, tantangannya adalah tersesat. Tidak ada penunjuk arah dalam hutan sana. Banyak persimpangan. Om Decy sebagai penunjuk jalan berbekal pengalaman pernah bersepeda disana. Kemudian dia bawa alat penunjuk arah (Garmin). Itupun masih tersesat hehehe. Ikhlaaaas hehehe.

Ya Allah terima kasih atas keselamatan yang Engkau berikan kepada kami.

Tonton aja video saya ya. Cukup mewakili tulisan saya kecuali pacet dan ular hehehe.

Menjajal Taxi Mercedes Benz!

Naik taxi mah sudah biasa ya. Namun saya pernah menjajal keluar dari zona biasa itu untuk rasakan taxi dengan jenis kendaraan yang tak biasa. Saya jajal taxi sedan jenis Mercedes Benz!, milik si Blue Bird yang posisi parkir di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Saya lupa nama hotel nya, dan ternyata jika posisi di airport bisa order online gunakan golden bird reservation lho.

Taxi Mercedez Benz Silver Bird

Ketika jajal taxi Mercedes Benz karena teman saya Saat Prihartono tidak bisa antar dari Mega Kuningan, Jakarta ke hotel saya di kawasan Blok M. Diturunkan di hotel berbintang dan disana standby 2 taxi. Blue bird dan Express. Beda dua taxi itu adalah Blue Bird Mercy dan Express pakai Vios. Ah Mercy aja! Biar ada pengalaman hidup naik taxi Mercedes Benz hehehe.

Saya harus di Jakarta dalam rangkaian program Google Gapura Digital yang telah terselenggara di 14 kota di Indonesia. Sebagai wakil dari Bali, saya akan menerima modul baru dari Google Indonesia yang nantinya akan tersampaikan ke para fasilitator di Bali melalui acara Train The Trainer selama 2 hari. Modul itu untuk fasilitator program Gapura Digital dan WomenWill.

Waktu itu hari akhir di kantor Google Indonesia pada 30 Januari 2019. Saya bersama wakil fasilitator dari 14 kota menerima materi akhir dari pagi sampai sore. Selanjutnya dijemput teman kuliah di Universitas Udayana untuk kumpul bersama makan malam. Ceritanya reunian lah antara saya, Saat Prihartono dan Reza Hendrawan.

Kembali ke Mercy tadi ya.

Ketika saya keluar dari Pulau Bali, rasanya juga jalan-jalan. Padahal di Bali tempatnya jalan-jalan kan? Hehehe. Saya sudah tinggal lebih dari 20 tahun di Bali dan sepertinya sudah biasa dengan destinasi wisata disana. Maka ketika bertugas keluar Bali saya gunakan sebaik-baiknya memberikan makna something different untuk pengalaman hidup ini. Ya termasuk jajal taxi Mercedes Benz itu.

Maka saya nikmati betul ketika berada dalam taxi Mercy tadi. Kursinya empuk dan jarak lutut saya masih jauh dengan kursi depan. Maklumlah saya kan 181 cm tingginya. Mercy nya kedap suara alias senyap. AC dingin dan driver nya santun. Artinya dia akan menjawab jika saya ajak bicara. Klo obrolan selesai ya senyap lagi. Dasar saya tidak terbiasa senyap maka banyak tanya. Driver nya sudah berumur dan rupanya pensiunan TNI. Waaaw! Mrinding!

Kenyamanan dan pengalaman naik taxi Mercy tadi sepertinya perlu diulang kembali deh. Apalagi setelah tahu si Blue Bird punya divisi Golden Bird yang siap standby di bandara-bandara kota besar di Indonesia. Saya cek di Ngurah Rai Airport ada! Bisa transfer dari bandara ke rumah nih. Trus, jenis mobil nya tidak hanya Mercedez Benz melainkan yang premium ada Alphard dan Camry. Klo mau standard ya bisa pake Avanza dan Innova.

Selain di Bali, Golden Bird juga ada di Medan, Yogyakarta, Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Semarang, Lombok, Solo, dan Manado. Wuah klo Lombok jadi ingat Mas Amir Muslim, sahabat rasa saudara yang jadi kepala Blue Bird nya sana. Mungkin bisa dapat voucher atau diskon dari dia hahaha.

Klo ditanya kenapa pilih Golden Bird? Ternyata layanannya 24 jam!, dengan waktu penjemputan yang fleksibel dari pelanggannya. Trus driver nya bisa menunggu klo pelanggannya kena delay penerbangan. Tanpa harus antri di airport, bisa antarkan pelanggannya ke rumah atau kemana aja. Begitupula bisa menjemput pelanggannya untuk ke airport.

Well, bakal masuk ke daftar eksekusi traveling nih.

Menjajal Taxi Mercedes Benz!

Naik taxi mah sudah biasa ya. Namun saya pernah menjajal keluar dari zona biasa itu untuk rasakan taxi dengan jenis kendaraan yang tak biasa. Saya jajal taxi sedan jenis Mercedes Benz!, milik si Blue Bird yang posisi parkir di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Saya lupa nama hotel nya, dan ternyata jika posisi di airport bisa order online gunakan golden bird reservation lho.

Taxi Mercedez Benz Silver Bird

Ketika jajal taxi Mercedes Benz karena teman saya Saat Prihartono tidak bisa antar dari Mega Kuningan, Jakarta ke hotel saya di kawasan Blok M. Diturunkan di hotel berbintang dan disana standby 2 taxi. Blue bird dan Express. Beda dua taxi itu adalah Blue Bird Mercy dan Express pakai Vios. Ah Mercy aja! Biar ada pengalaman hidup naik taxi Mercedes Benz hehehe.

Saya harus di Jakarta dalam rangkaian program Google Gapura Digital yang telah terselenggara di 14 kota di Indonesia. Sebagai wakil dari Bali, saya akan menerima modul baru dari Google Indonesia yang nantinya akan tersampaikan ke para fasilitator di Bali melalui acara Train The Trainer selama 2 hari. Modul itu untuk fasilitator program Gapura Digital dan WomenWill.

Waktu itu hari akhir di kantor Google Indonesia pada 30 Januari 2019. Saya bersama wakil fasilitator dari 14 kota menerima materi akhir dari pagi sampai sore. Selanjutnya dijemput teman kuliah di Universitas Udayana untuk kumpul bersama makan malam. Ceritanya reunian lah antara saya, Saat Prihartono dan Reza Hendrawan.

Kembali ke Mercy tadi ya.

Ketika saya keluar dari Pulau Bali, rasanya juga jalan-jalan. Padahal di Bali tempatnya jalan-jalan kan? Hehehe. Saya sudah tinggal lebih dari 20 tahun di Bali dan sepertinya sudah biasa dengan destinasi wisata disana. Maka ketika bertugas keluar Bali saya gunakan sebaik-baiknya memberikan makna something different untuk pengalaman hidup ini. Ya termasuk jajal taxi Mercedes Benz itu.

Maka saya nikmati betul ketika berada dalam taxi Mercy tadi. Kursinya empuk dan jarak lutut saya masih jauh dengan kursi depan. Maklumlah saya kan 181 cm tingginya. Mercy nya kedap suara alias senyap. AC dingin dan driver nya santun. Artinya dia akan menjawab jika saya ajak bicara. Klo obrolan selesai ya senyap lagi. Dasar saya tidak terbiasa senyap maka banyak tanya. Driver nya sudah berumur dan rupanya pensiunan TNI. Waaaw! Mrinding!

Kenyamanan dan pengalaman naik taxi Mercy tadi sepertinya perlu diulang kembali deh. Apalagi setelah tahu si Blue Bird punya divisi Golden Bird yang siap standby di bandara-bandara kota besar di Indonesia. Saya cek di Ngurah Rai Airport ada! Bisa transfer dari bandara ke rumah nih. Trus, jenis mobil nya tidak hanya Mercedez Benz melainkan yang premium ada Alphard dan Camry. Klo mau standard ya bisa pake Avanza dan Innova.

Selain di Bali, Golden Bird juga ada di Medan, Yogyakarta, Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Semarang, Lombok, Solo, dan Manado. Wuah klo Lombok jadi ingat Mas Amir Muslim, sahabat rasa saudara yang jadi kepala Blue Bird nya sana. Mungkin bisa dapat voucher atau diskon dari dia hahaha.

Klo ditanya kenapa pilih Golden Bird? Ternyata layanannya 24 jam!, dengan waktu penjemputan yang fleksibel dari pelanggannya. Trus driver nya bisa menunggu klo pelanggannya kena delay penerbangan. Tanpa harus antri di airport, bisa antarkan pelanggannya ke rumah atau kemana aja. Begitupula bisa menjemput pelanggannya untuk ke airport.

Well, bakal masuk ke daftar eksekusi traveling nih.

MUKERNAS 6.0 TDA #LOMBOKBANGKIT

MUKERNAS, Musyawarah Kerja Nasional 6.0 Komunitas Wirausaha TDA (Tangan DiAtas) periode kepengurusan Presiden TDA 6.0 Donny Kris Puriyono berlangsung 28 – 30 Agustus 2019 di Hotel Puri Indah, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Presiden TDA 6.0 Donny Kris Puriyono

Pemilihan lokasi MUKERNAS tidak lepas dari kepedulian TDA sebagai salah satu upaya recovery pasca bencana bagi masyarakat Lombok. Gunakan hashtag #LombokBangkit, TDA ingin berkontribusi positif untuk Lombok. Teman-teman TDA Mataram sebagai panitia lokal MUKERNAS mempersiapkan kegiatan tersebut dengan sangat ciamik! Kolaborasi dengan panitia pusat menghadirkan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) membuka MUKERNAS. Demikian hal kegiatan sosial juga terselenggara dengan membagikan 1000 paket sekolah untuk anak-anak terdampak gempa Lombok. Mrinding!

MUKERNAS 6.0 TDA dihadiri oleh 245+ delegasi, mewakili 11.457 Anggota TDA yang terdaftar dalam aplikasi TDA Passport. Dari unsur Board of Directors (BOD), Majelis Wali Amanah (MWA), Pengurus atau dalam istilah TDA disebut sebagai “Pelayan” dari 5 Negara dimana TDA tersebar, 15 TDA Wilayah dan 90 TDA Daerah se Indonesia.

TDA Bali Goes To Lombok

TDA Bali sendiri sebagai bagian dari TDA pernah jadi tuan rumah MUKERNAS 5.0 pada tahun 2017. Perbedaan yang saya rasakan dengan MUKERNAS 6.0 adalah adanya acara pembukaan oleh pejabat pemerintahan setempat yaitu Gubernur NTB. Kemeriahan ditambah dengan live music dimana anggota TDA bisa partisipasi bernyanyi.

MUKERNAS 6.0 TDA di Ballroom Hotel Puri Indah, Mataram

Lokasi pembukaan berbeda tempat dengan ruangan ballroom MUKERNAS yaitu terselenggara di area kolam renang yang punya halaman luas. Mrinding! Ruangan pameran nya luas juga. Wow pokok nya. Selamat TDA Mataram! Kalian buat MUKERNAS yang spesial.

Para pengurus dan anggota TDA Bali yang berangkat ke MUKERNAS 6.0 diantara nya saya, Mas Sidik (Ketua TDA Bali), Mas Eko, Bu Yani, Bu Eka dan putra nya Paul, Mbok Putu Cita, Mbak Lidia, Desu, Bli Yusa, Pak Nizar, Pak Anton, Kang Fajar (Ketua TDA Bali 1.0), Pak Hendro, Mas Fatkur, Mas Didien, dan Mas Khairul. Jadi ada 17 orang dari TDA Bali membersamai MUKERNAS 6.0 TDA di Mataram. Saya sudah lengser dari Ketua TDA Bali, lantas dalam kapasitas apa berangkat ke MUKERNAS? Saya ternyata ditarik jadi anggota TDA Wilayah Bali Nusra dimana Pak Bambang dari TDA Mataram sebagai ketua wilayah nya.

Delegasi TDA Bali di MUKERNAS 6.0 TDA

Agenda MUKERNAS 6.0

MUKERNAS ini dijadikan ajang penyampaian program-program kerja yang diawali dengan pemaparan visi kepengurusan oleh Presiden 6.0 : Donny Kris Puriyono. Sam DK panggilan akrabnya menginginkan TDA melaksanakan narasi besar bertema KolaborAksi Untuk Negeri. Jadikan TDA sebagai pusat literasi kewirausahaan melalui konten-konten digital. Makanya ada channel TDA TV di Youtube. Demikian pula konten-konten kewirausahaan lebih detail akan termuat dalam aplikasi TDA Passport. Didalamnya juga akan ada gerakan #beliTDA dimana para anggota nya jadikan aplikasi itu sebagai marketplace, penanda lokasi usaha, buat meeting, dll. Ciamik deh aplikasi ini.

Sam DK juga menantang para anggotanya untuk mencipta konten positif, karena sejatinya everybody is content creator. Terkhusus untuk berkontribusi bagi masyarakat Lombok, Sam DK berpesan untuk ciptakan konten yang bertemakan #lombokbangkit dan #kolaboraksiuntuknegeri, dan sebarkan melalui jagat media sosial. Agar semua tahu bahwa pulau Lombok sudah layak dikunjungi sebagai salah satu destinasi wisata andalan Indonesia.

Saya pun sesuai kemampuan membuat konten video dan foto yang terunggah di FB, IG dan Youtube dengan hashtag yang disampaikan oleh Sam DK. Disela-sela MUKERNAS, ada beberapa anggota TDA yang diminta untuk mengisi konten bagi channel TDA TV. Salah satunya saya yang bicara tentang Menjadi top 10 di Google. Ternyata bicara didepan kamera tidak semudah bicara di panggung hehehe.

Presentasi dan diskusi program juga dilakukan oleh Sekretaris Umum Wisnu Sakti Dewobroto, Bendahara Umum Ibrahim M. Bafagih dan para BOD (Board of Director) dari Direktorat Pengawasan & Kepatuhan Lutfiel Hakim, Direktorat Pelayanan Keanggotaan Daeng Faqih, Direktorat Marketing & Komunikasi Rawi Wahyudi, Direktorat Edukasi & Peningkatan Kapasitas Anggota : Rizki Rahmadianti, Direktorat Program Khusus Wahyu Agus Ariadi, Direktorat Penggalangan Sumberdaya & Kerjasama Yeti Riyadi, Direktorat Pengembangan Wilayah Roskar, Direktorat Badan Usaha Abraham Syah, Direktorat Kebijakan Publik Rudi Sahputra, Direktorat Urusan Luar Negeri Teguh Atmajaya dan Direktorat Pesta Wirausaha Deliyana Oktaviani. Ya ada 11 direktorat di kepengurusan TDA pusat. Masing-masing punya staf khusus juga yang diperkenalkan oleh para direktur nya.

#LOMBOKBANGKIT

Tidak lanjuti arahan dari Sam DK, kami rombongan TDA Bali lakukan kunjungan wisata di sekiataran Mataram untuk mencipta konten positif dan mengabarkan bahwa Pulau Lombok sudah move on. Saya juga melihat beberapa delegasi TDA dari seluruh Indonesia juga lakukan kunjungan wisata di Pulau Lombok.

TDA di Pantai Kuta Mandalika Lombok

Saya yang satu rombongan dengan Pak Ketua TDA Bali berkunjung ke Pantai Seger dan Kuta Mandalika. Kami bertemu dengan para delegasi dari TDA daerah lain. Sempat membuat konten juga disana. Ini video nya:

Kami dari TDA Bali berangkat ke Lombok hari selasa 27 Agustus 2019 pukul 22.00 WITA. Menyeberang dari pelabuhan Padang Baik ke Lembar, Lombok selama 6 jam. Berlabuh disana pukul 06.30 WITA pada hari rabu 28 Agustus 2019.

Selanjutnya menuju ke Pantai Pandanan daerah utara nya Senggigi untuk bergabung dengan rombongan bermobil Sam DK. Pada pukul 11.00 WITA rombongan kurang lebih 8 mobil konvoi bersama menuju Hotel Puri Indah Mataram.

Kekuatan Afirmasi Menolak Tidur

Sebenarnya setelah checkin hotel dan mandi, saya capek luar biasa mengingat cuma tidur 3 jam saja di kapal penyeberangan. Setelah mandi, pikiran ini saya berikan kalimat motivasi gini, “Hendra! Rugi besar kalau kamu ke MUKERNAS cuma untuk menuruti nafsu tidur. Keluarlah dari kamar dan yakin kamu dapat rejeki di arena MUKERNAS.

Ah benar saja, setelah mengikuti sesi sharing dengan Mas Witjaksono saya bertemu Mas Khairul dan Mas Ricky (TDA Mataram). Saya bilang lapar belum makan siang ke mereka. Atas skenario Allah SWT, Mas Ricky ajak saya, Mas Khairul plus bonus Mas Witjaksono dan Mas Fais Afrianto (TDA Palu) makan bersama di Sate Rembiga.

Mas Witjaksono di MUKERNAS 6.0 TDA

Siapa Mas Witjaksono? Kandidat calon menteri milenial di kabinet Presiden Joko Widodo! Ah rejeki bisa berbincang dengan beliau. Mas Witjaksono juga pengusaha muda yang melistingkan 2 perusahaannya di bursa efek dengan status Tbk. Aktif juga jadi Ketua KorNas Pertanian PBNU.

Di pertengahan makan siang, datang pula rombongan Ustad Syaikhu ditemani oleh Presiden TDA 5.0 Ahmad Baidillah Bara. Wuaaah bisa bersalaman dan sempat berbincang dengan kandidat wakil Gubernur Jakarta Ustad Ahmad Syaikhu. Benar-benar rejeki dari Allah atas afirmasi pasca mandi di hotel hehehe. Coba kalau saya tidur menuruti hawa nafsu kecapekan setelah mandi tadi? Takkan ada cerita diatas! Hanya sebuah kata untuk menggambarkan peristiwa afirmasi itu, MRINDING!

TDA Entrepreneurstory

Beberapa bulan sebelum lengser dari ketua TDA Bali, saya dihubungi oleh Dirmarkom TDA 5.1 Mas Faizal Alfa melalui WA untuk kolaborasi menulis buku untuk TDA. Begini kalimatnya:

Salam kangen dari Presiden TDA 5.1 : Bimo Prasetio

Diajak Presiden Bimo Prasetio, untuk berkontribusi, menulis artikel, yang akan dikompilasi dalam sebuah buku. Luangkan waktu, sempatkan menulis, dan kirim segera ya.

April ini, 99 artikel sedang dikumpulkan dari anggota TDA di Indonesia dan Mancanegara, lembar demi lembar dipersatukan u/ kemudian diolah dan diwujudkan dalam sebuah buku berjudul : TDA ENTREPRENEURSTORY.

Buku yang akan dicetak secara fisik ini, dirancang sebagai #TDALegacy yang dicatat dalam sejarah TDA dan dijadikan warisan dari TDA 5.1 untuk TDA di generasi berikutnya.

Satu tambahan kebahagiaan di MUKERNAS 6.0 TDA di Mataram adalah mengetahui buku tersebut sudah jadi dan penulis berhak gratis mendapatkan buku itu. Ahay! Saya buka buku itu dan cerita saya berada di halaman 103. Total ada 420 halaman! Ah Mrinding lagi!

Buku TDA Entrepreneurstory

Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Selamat buat TDA Mataram atas kesuksesan penyelenggaraan MUKERNAS 6.0 TDA. Semoga kita semua mampu berkontribusi positif untuk peradaban ini. Amin YRA.