Tag Archives: Interview

PROPAGANDA, MUSIK, DAN AKTIVISME

Rudolf Dethu adalah sosok di balik panggung dalam kesuksesan band-band asal Bali. Mulai dari Superman Is Dead sampai The Hydrant merasakan tangan dinginnya.

Ia tak genah memainkan instrumen musik, betapapun semesta irama adalah cinta sekaligus jalan hidup yang membesarkan namanya. Selera dan pengetahuan jadi senjatanya mengarungi blantika musik.

“Sejak akhir 1980-an, aku bergaul dengan anak-anak musik di Denpasar. Aku orang yang enggak bisa main musik, tapi sering diminta berpendapat tentang musik,” kata Rudolf Dethu, yang namanya dikenal sebagai eks manajer Superman Is Dead (SID)–trio punk rock asal Bali.

Pria ini kerap disebut sebagai propagandis musik. Propaganda Dethu–terutama lewat tulisan–adalah pintu gerbang yang mempertemukan skena (scene) musik Bali dengan pendengarnya.

Hal itulah yang membuat namanya berada satu level bersama para pesohor skena musik Bali, macam SID, Navicula, dan The Hydrant. Tiada berlebihan, sebab Dethu adalah figur di balik panggung dalam kisah sukses band-band di muka.

Belakangan, Dethu terlibat pula dalam dunia aktivisme. Ia berdiri di baris depan dalam puputan melawan reklamasi Teluk Benoa di Bali. Ia juga aktif mengampanyekan semangat kebinekaan dan antikorupsi.

“Aku lebih suka disebut storyteller (pencerita). Wendi Putranto (eks Rolling Stone Indonesia) orang pertama yang menyebutku propagandis,” ujar pemilik nama resmi Putu Wirata Wismaya itu.

Perbincangan kami berlangsung saat matahari Bali sedang panas-panasnya. Angin laut membawa aroma asin dari Pantai Sanur, yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kami mengobrol: Rumah Sanur Creative Hub.

Tempat itu merupakan satu titik pertemuan para seniman, pelaku industri kreatif, dan aktivis di Bali. Di sana ada kedai kopi, restoran, panggung musik, toko konsep, dan ruang kerja bersama.

Siang itu (8/12/2017), Rumah Sanur sedang sibuk. Beberapa anak muda tengah menata panggung, mengatur instrumen musik, dan mengecek sistem pengeras suara.

“Kami dipercaya jadi tuan rumah Festival Anti Korupsi oleh KPK. Ini sedang persiapan buat acaranya, sore nanti,” kata Dethu, yang bertanggung jawab mengurusi perihal musik dan konten di Rumah Sanur.

Sebelum memulai percakapan, pria yang lahir 47 tahun silam itu memesan Gurita Bumbu Bali dan Jus Melon.

Hari itu, ia mengenakan setelan sepatu bot, celana jin, kemeja berwarna merah, plus suspender yang melingkar dari pinggang ke bahu. Sesekali, ia membenarkan letak topi fedora di kepalanya, seolah memastikan penampilannya senantiasa klimis.

Berewok dan kumis membuatnya terlihat sangar. Kesan itu hilang bila melihat senyum atau gelak yang kerap menutup perkataannya. Agaknya, gaya serta gestur Dethu adalah cerminan karakter skena musik Bali: sangar tanpa kehilangan keramahan dan kegembiraan.

“Street punk susah berkembang di Bali yang punya beach culture–dengan suasana kegembiraan dan santai. Musik yang pas rockabilly, californian punk, atau surf punk,” katanya.

Rudolf Dethu saat ditemui Beritagar.id di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Senin (8/12/2017) | Syafiudin Vifick / Beritagar.id

Menanam pengaruh dari kapal pesiar

Ketertarikan Dethu pada musik dimulai sejak dini. Kebetulan, orang tuanya bekerja di industri pariwisata dan kerap melawat. Billboard, majalah hiburan kenamaan asal Amerika Serikat, jadi buah tangan saban orang tuanya pulang lawatan.

Bacaan itulah yang memperkaya referensi musiknya. “Sejak SD, aku jadi semacam ensiklopedia di antara teman-temanku, terutama soal musik,” ujar Dethu.

Hal itu berlaku hingga dirinya berkuliah di Politeknik Pariwisata Udayana. Semasa kuliah, ia sempat pula membentuk band sebelum sadar kemampuannya dalam bermusik terbatas adanya.

Dethu menambal kelemahan itu dengan pengetahuan, yang memberinya tempat khusus dalam skena musik Bali. Ia juga mulai mengasah kemampuan menulis lewat catatan musik di koran lokal.

Lembar baru petualangan Dethu terbuka saat dirinya menjadi pramusaji di kapal pesiar milik perusahaan pelayaran asal AS.

“Saat itu, aku punya duit lebih dan bisa mengoleksi apa-apa yang kusuka. Rilisan musik jadi item koleksiku,” katanya. “Aku jadi sering membuat album kompilasi–semacam mixtape–dari lagu atau album yang kudengarkan. Kompilasi itu kukirim ke teman-teman di Bali.”

Kumpulan lagu itu menjadi kanal propaganda Dethu. Ia memuat tembang pilihannya dalam cakram padat (CD). Tiap lagu pilihan juga diberi catatan yang memuat sejarah atau sekadar alasan personalnya memilih tembang termaksud. Bila punya waktu luang, Dethu akan membuat sampul kompilasi yang digambarnya sendiri.

Ia mengenang masa-masa itu sambil tersenyum, “Tiap kompilasi kubikin dua hingga tiga kopi. Teman-teman di Bali menggandakannya. Akhirnya, di Bali–terutama Denpasar–orang-orang mendengarkan lagu yang sama.”

Pada 1998, Dethu turun kapal pesiar. Hanya sebulan dirinya menganggur, tawaran pekerjaan datang.

“Ada teman yang kerja di Radio Cassanova, Bali. Ia minta aku jadi penyiar dan bikin program sendiri. Padahal, aku enggak punya pengalaman broadcasting,” kata Dethu.

Dengan naluri seorang propagandis, Dethu tak menyiakan-nyiakan tawaran itu. Ia membuat program mingguan bertajuk “Alternative Airplay” di Radio Cassanova.

“Program itu membahas musik alternatif secara mendalam. Misalnya, pekan ini bikin edisi khusus punk rock, aku akan membahas sejarahnya, pengaruhnya di Indonesia, hingga mewawancarai band lokal,” ujar Dethu

Kelak, karena kepopuleran program itu, Radio Cassanova jadi titik kumpul bagi band-band di Bali.

Pekerjaan cuap-cuap lewat frekuensi dilakoninya selama 14 tahun (1998-2012), dengan tiga kali ganti pemancar: Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, dan OZ Radio.

Salah satu program radio Dethu nan legendaris adalah “The Block Rockin’ Beats” (The Beat Radio Plus), yang menyajikan daftar putar–berikut catatan singkat–dari orang-orang pilihannya.

Nama-nama kesohor pernah memutar lagu dalam program itu, macam Andre Opa (eks Pemimpin Redaksi Trax), Adib Hidayat (eks Pemimpin Redaksi Rolling Stone Indonesia), Philip Vermonte (peneliti), Jimi Multhazam (The Upstairs), dan Kill The DJ (Jogja Hip Hop Foundation).

“Publik ingin tahu, musik macam apa yang membentuk orang-orang keren itu,” kata Dethu perihal program termaksud.

“Hal-hal yang kulakukan selalu personal. Musik membuat kita mengenal seseorang lebih intim.”

Rudolf Dethu saat memperkenalkan salah satu band binaannya, Leonardo & His Impeccable Six, dalam sebuah pentas di Rumah Sanur – Creative Hub, Bali; pada medio 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Propagandis musik

Radio membuka jalan bagi Dethu untuk menekuni bisnis musik. Tawaran menjadi manajer band pertama kali datang dari SID, yang memang sering menyambangi tempat Dethu bekerja.

“JRX (penabuh drum SID) yang menawarkan pertama kali. Aku belum mengiyakan, tapi merasa terhormat karena suka dengan mereka,” kenang Dethu. “Waktu itu, aku sedang merintis clothing, Suicide Glam. JRX juga bantu kasih tempat untuk toko.”

Petualangannya bersama SID dimulai pada 2001. Itu adalah era awal penetrasi internet di Indonesia, yang ditandai demam milis–grup diskusi berbasis surel.

Lewat milis–terutama Yahoo Groups, Suicide Glam–Dethu melancarkan propaganda guna memperkenalkan band binaannya. Pun, ketika blog mengetren, Dethu menyalakan laman pribadinya sebagai kanal propaganda: RudolfDethu.com.

Gaya promosi Dethu tak lazim, misal menyematkan kalimat frasa “beer drinker” pada tiap personel SID atau menyebut mereka tak pandai bermain musik.

“Secara administrasi, aku enggak cukup baik. Aku bahkan enggak pernah bikin proposal untuk menawarkan band. Hal yang paling aku tahu adalah mempropagandakan sesuatu dengan sudut pandang berbeda,” katanya.

Puncak sukses SID terjadi saat merilis album mayor label pertama, Kuta Rock City (2003) lewat Sony Music Entertainment Indonesia.

Semula, kata Dethu, tawaran merilis album mayor label jadi kontroversi di internal SID dan skena punk rock. “Waktu itu ada semacam anggapan band punk rock enggak boleh rekaman dengan mayor label. Di sisi lain, SID merasa mentok di jalur indie, sejak 1995.”

Menurut Dethu, SID tak pernah meminta belas kasih mayor label. “Kami ‘ditawarkan’ bukan ‘menawarkan’, jadi lebih setara, penuh kebebasan.”

Perihal kesetaraan dan kebebasan itu, Dethu mengenang momen ketika SID berkukuh memasukkan 70 persen lagu berlirik Bahasa Inggris dalam album pertama mereka.

“Waktu itu, Pak Jan Djuhana (Artist and Repertoire Sony Music Entertainment Indonesia) telepon aku dan memastikan permintaan kami diterima. Itu jadi titik balik, kami menerima tawaran Sony.”

Sebagai manajer, Dethu pula yang mengawal eksponen grunge Bali, Navicula saat merilis album dengan Sony-BMG (Alkemis, 2004). Ia juga ikut menginisiasi kelahiran Suicidal Sinatra, band psychobilly pertama di Indonesia.

Pengujung 2007, ketika SID berstatus band punk rock nomor wahid Indonesia, Dethu malah mengambil rehat dari aktivitas manajemen band. Konon, ia mundur karena ingin fokus pada bisnis clothing, Suicide Glam.

“Ada juga rasa jenuh. Awalnya, aku nonton band dengan fun, tapi ada satu titik lihat konser malah stres,” katanya.

Ia baru kembali ke dunia manajemen artis pada 2015, dengan mengusung bendera Rudolf Dethu Showbiz. Saat ini, bendera bisnis termaksud membawahi tujuh artis–termasuk gerombolan rockabilly andalan Bali, The Hydrant.

“Sekarang, kalau bandku main, aku bisa minum dan ngobrol sama orang-orang. Aku bilang sama road manager, ‘Kalau Megawati wafat, atau Gus Dur hidup lagi, baru panggil aku. Kalau enggak gawat, jangan panggil.’ Aku merasa fun lagi.”

Rudolf Dethu dalam acara peluncuran buku biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Agustus 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Kelindan budaya pop dalam aktivisme

Nyaris satu dekade terakhir, Dethu menaruh minat dan tenaga ke dunia aktivisme.

Saat gelombang reformasi 1998 menerpa Indonesia, Dethu sebenarnya sudah tertarik pada isu-isu sosial politik dan sesekali terlibat dalam demonstrasi menuntut pergantian rezim.

Namun, ia baru aktif benar dalam dunia aktivisme antara 2007-2008, ketika terlibat gerakan menentang Undang-Undang Pornografi. “Aku merasa UU Pornografi mengancam budaya Nusantara. Aku mulai mengajak musisi terlibat memberi solidaritas,” katanya.

Perlawanan itu kandas. UU Pornografi disahkan. Namun, Dethu belajar banyak dari kegagalan.

Tatkala isu reklamasi Teluk Benoa berdengung, Dethu terlibat dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI).

Gerakan sipil itu adalah garda depan aksi-aksi anti-reklamasi Teluk Benoa. Mereka menganggap reklamasi Teluk Benoa mengancam lingkungan dan kebudayaan di Pulau Dewata.

“Saat melawan UU Pornografi, musisi hanya bersolidaritas di atas panggung. Sekarang, di ForBALI, musisi ikut demonstrasi, diskusi, dan mengorganisir,” kata pria yang kebagian tugas mengurusi Divisi Media sosial di ForBALI itu.

Dethu memberi kredit khusus kepada I Wayan Suardana alias Gendo, Koordinator ForBALI. Ia menyebut Gendo sebagai tokoh yang bisa memimpin dan menyuntikkan kesadaran anak-anak muda Bali perihal isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.

“Sekarang, kalau demo ForBALI, ada SID, Navicula, The Hydrant, Nosstress, dan seterusnya. Anak-anak muda ramai ikut demo. Mereka sering selfie, enggak masalah, yang penting melawan dan fun,” ujar Dethu beriring gelak.

Sejak medio 2016, Dethu menjadi Koordinator Aliansi Kebinekaan. Aliansi itu dibentuk 23 organisasi non-pemerintah. Mereka kerap membuat forum-forum berbasis kampus guna menangkal radikalisme dan mengampanyekan kebinekaan.

Dalam dunia aktivisme, Dethu senantiasa membawa unsur-unsur budaya populer. Baginya, budaya populer merupakan pintu masuk untuk mendekati anak-anak muda.

“Kita sering berprasangka bahwa anak muda tak tertarik dengan isu berat, seperti social justice. Padahal, kalau ambil contoh ForBALI, yang banyak terlibat justru anak muda. Itu karena kampanye kami menjangkau mereka,” katanya.

Pendidikan:

  • Fakultas Ilmu Komunikasi Politik – Universitas Terbuka (semester akhir)
  • Community Development Komisi Pemberantasan Korupsi – The Hague Academy, Den Haag, Belanda (2017)
  • Diploma Perpustakaan – Sydney Institute, Sydney, Australia (2012-2013)
  • Front Office Departement – BPLP Bali (1990-1992)
  • Departemen Pariwisata – Politeknik Udayana (1988-1990)

Karier:

  • Koordinator Forum MBB (Muda Berbuat Bertanggung Jawab) & Aliansi Kebinekaan (2015-sekarang)
  • Rudolf Dethu Showbiz, memanajeri The Hydrant, Leanna Rachel, Athron, Rebecca Reijman, Leonardo & His Impeccable Six, dan Negative Lovers (2015-sekarang)
  • Penulis biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! (2015)
  • Communication Specialist – IMACS/USAID, Jakarta (2014-2015)
  • Publisis – film dokumenter JALANAN, Jakarta (2014)
  • Kolumnis, The Beat (2007-2014)
  • Night fill – Woolworths Ltd, Sydney, Australia
  • Penyiar dan produser program musik alternatif – Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, OZ Radio (1998-2012)
  • Marketing Director & Co-founder – Suicide Glam clothing (1999-2010)
  • Glampunkabilly Inferno Band Management, memanajeri SID, Navicula, Postmen; menginisiasi Suicidal Sinatra (2001-2008)
  • Personal Assistant to Head Designers – CV Kecak, Denpasar, Bali (2000-2002)
  • Dining Room Steward – Holland America Line (kapal pesiar), Seattle, Amerika Serikat (1993-1997)

________

Artikel di atas dipinjampakai dari Beritagar.id bertajuk Rudolf Dethu: Propaganda, Musik, dan Aktivisme.

FOLK REVOLUTIONARIES VOL. 08

Teras Gandum & Rudolf Dethu Showbiz present:

FOLK REVOLUTIONARIES vol. 08
Chit-chat and Stripped-down set

Community Conversation
ADI HYDRANT

Moderator
RUDOLF DETHU

Music
MANJÃ
ATHRON
LEANNA RACHEL

at Teras Gandum – Rumah Sanur
Friday, 17 February 2017
6.30pm – end
Free!
18+

MUSIC WITH A MESSAGE: MARJINAL

Rudolf Dethu Showbiz and @america mempersembahkan:

Musik dengan Pesan Perubahan − MARJINAL.

Bagaimana beberapa aktivis begitu berdedikasi memakai musik untuk membuat perubahan positif di komunitas mereka? Untuk lebih jauh, bergabunglah dalam diskusi spesial disertai pertunjukan yang menampilkan band punk serta kumpulan seniman kawakan Jakarta serta saksikan cuplikan film dokumenter Ayumi Nakanishi Jakarta: Where Punk Lives – MARJINAL.

Moderator: RUDOLF DETHU.

Kamis, 16 Februari 2017
19.00-20.30 WIB
@america, Pacific Place, lantai 3
Gratis!

Rudolf Dethu Showbiz and @america present:

Music with a Message − MARJINAL.

How do some of Indonesia’s most dedicated activists use music to make a positive difference in their communities? Join a special disuccion and performance featuring Jakarta’s legendary punk band and art collective to find out, and get a sneak preview of Ayumi Nakanishi’s documentary “Jakarta: Where Punk Lives – MARJINAL”.

Moderator: RUDOLF DETHU.

Thursday, 16 Feb 2017
7.00-8.30pm
@america, Pacific Place, level 3
Free!

MUSIK DAN PERGERAKAN BERSAMA RUDOLF DETHU

Bisa dibilang, melalui kata dan tulisan Rudolf Dethu, scene musik Bali kemudian didengar dan dibaca. Tak hanya oleh penduduk Indonesia, tetapi juga warga dunia. Belakangan, Dethu juga aktif dalam beberapa movement yang aktif dalam melawan ketidakadilan. Di sela-sela aktivitasnya, whiteboardjournal berbincang dengan Dethu mengenai musik, rockabilly dan pergerakan yang ia mulai melalui nada dan bahasa.

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan aktivis Rudolf Dethu (R).

H: Mas Dethu aktif di berbagai aktivitas, tapi sepertinya musik merupakan salah satu katalis utama diantaranya, ada alasan tertentu?

R: Saya mengawali segalanya sebagai penikmat musik. Dulu saya sempat bekerja di kapal pesiar, mengikuti keluarga saya yang berprofesi di bidang pariwisata. Hampir lima tahun saya bekerja di kapal pesiar, ternyata saya tidak terlalu menikmatinya. Tapi di saat yang sama, saya mendapat banyak musik dari luar negeri yang saya suka. Saat itu saya mengumpulkan CD, dan vinyl dari kunjungan saya bersama kapal pesiar ini. Dari musik yang saya kumpulkan, saya lalu membuat materi siaran radio saya sendiri. Dan dari situ saya baru merasa bahwa musik adalah jiwa saya. Dari situ saya lantas mencoba lebih dalam dengan menjadi manajer band, dan berbagai aktivitas lainnya.

Sekian tahun mendalami musik, saya lalu sadar bahwa musik memiliki kekuatan besar yang bisa jadi inti pergerakan. Ketika kami menghadapi berbagai isu sosial dan alam yang harus dilawan, kami kemudian melihat bahwa musik bisa jadi salah satu corong suara. Akhirnya sampai sekarang kalau kami bikin movement, selalu ada divisi musik untuk menggalang massa. Karena musik adalah bahasa yang universal, bisa menembus segala macam segmen. Inilah kenapa musik selalu kuat posisinya dalam setiap pergerakan yang kami mulai. Tapi positifnya, band yang kami ajak dalam pergerakan tak hanya berperan melalui musiknya. Ketika harus turun ke jalan, mereka juga ikut disana. Jadi keterlibatan mereka nyata, bukan cuma tempelan.

H: Salah satu pencapaian besar dari Dethu adalah menjadi manajer dari Superman Is Dead. Membawa sebuah band yang relatif tak dikenal dari Bali menjadi salah satu yang terdepan di Indonesia, kenapa justru meninggalkan band ketika band sedang di puncak?

R: Saya sempat “meninggalkan musik”, dalam artian saya pernah dalam masa tak memegang band selama beberapa tahun. Ketika itu saya mulai merasa jenuh, karena setiap kali ada pentas untuk band yang saya manajeri, saya jatuhnya jadi selalu stress karena harus mempersiapkan berbagai hal. Saya merasa bahwa saya tak bisa lagi menikmati musik ketika ada panggung. Saya merasa bahwa kekuatan utama saya ada pada berbincang-bincang, menulis dan mengabarkan berita kepada semua, dan hal ini hilang ketika saya berperan sebagai manajer band.

Saya lantas memutuskan untuk berhenti jadi lalu berfokus pada usaha clothing yang saya miliki saat itu. Ketika itu saya juga ingin mendalami dunia tulis menulis. Maka jadilah satu buku biografi Superman Is Dead yang berjudul Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! itu. Selain itu saya juga sempat menulis buku yang berjudul Blantika Linimasa yang mendokumentasikan scene musik Bali.

H: Apa yang kemudian menjadi trigger untuk kembali menjadi manajer band sekarang ini?

R: Yang membuat saya kembali ke dunia music showbiz adalah Leonardo and His Impeccable Six. Saya sangat mencintai band itu. Baik di panggung, maupun di luar panggung. Leonardo Ringo adalah sahabat saya.

Suatu saat ia datang kepada saya dan meminta saya memanajeri mereka. Saya tak mungkin menolak permintaannya, karena saya sangat menggemari musik mereka. Tak lama setelah itu, The Hydrant menghubungi saya dan meminta hal yang sama. Yang saya pikir saat itu adalah sepertinya pas dua band ini, kuat secara attitude, slick tampilannya dan sama-sama klimis (tertawa).

Prinsip saya dalam menjadi manajer sangat sederhana sebenarnya. Saya tidak akan memanajeri band yang saya tidak suka musiknya. Sebesar apapun bandnya, kalau tidak suka, saya tidak akan mengambilnya. Toh ketika menjadi manajer saya juga tak pernah menggaungkan nama saya di atas nama band-nya. Posisi yang saya ambil cenderung lebih ke ghostwriter dalam menjadi manajer band. Band yang saya pegang juga semuanya memiliki kedekatan secara personal dengan saya pribadi, ini penting bagi saya. Karena saya sebenarnya tak memiliki strategi khusus dalam menjadi manajer. Saya tidak seprofesional itu. Kalau boleh jujur, I’m not very good at being a manager. Yang biasa saya lakukan adalah menceritakan band saya melalui foto dan cerita. Dengan dekat dengan setiap personelnya, maka cerita yang keluar natural adanya. Tidak dibuat-buat. Kalaupun ada gimmick dalam hal tulisan misalnya, yang harusnya pakai tanda seru satu, saya tambah jadi tiga (tertawa).

H: Bagaimana perjalanan Mas Dethu ketika itu dan bagaimana jika dibandingkan dengan kondisi sekarang?

R: Kalau dibandingkan, kondisi sekarang jelas lebih mudah. Teman-teman saya yang masih sama-sama berjuang ketika awal saya membangun jaringan dan skena di Bali, sekarang sudah menjadi tokoh di bidangnya masing-masing. Jadi ketika saya memiliki progam sekarang, mereka akan dengan senang hati ikut memberitakan, atau bahkan mengajak band saya ikut bermain di acara mereka. Jauh lebih mudah dibanding ketika dahulu.

H: Kalau pergulatan di scene bagaimana? Terutama mungkin ketika dahulu?

R: Pergulatan skena di jaman dahulu jelas lebih berat. Dulu itu ngeri banget. Terutama di skena punk rock-nya ya. Mereka bukan cuma memaki, tapi juga menggunakan kekerasan fisik. Di jaman awal SID, kami adalah band punk rock yang datang dari Bali untuk bersenang-senang, tapi ketika kami keluar dari Bali, ternyata keadaan yang ada sangat berbeda. Contohnya, kami biasa mengkonsumsi alkohol sebagai bagian dari rutinitas panggung, tapi ketika kami keluar, hal yang menurut kami sederhana, ternyata jadi masalah tersendiri (tertawa). Dan dari situ, banyak yang kemudian nge-judge kami dengan tuduhan imoral, miskin moral dan semacamnya. Bahwa kami berusaha menyebarkan budaya negatif. Padahal minum alkohol adalah hal yang sangat normal di Bali. Yang disayangkan adalah ketika ada yang tidak sepakat dengan kebiasaan kami, mereka menggunakan kekerasan fisik untuk melawannya. Untungnya SID itu mampu membuktikan bahwa meski mereka kena berbagai macam stigma, mereka mampu bertahan. Sekarang saya rasa keadaannya lebih mudah. Scene jaman sekarang lebih open-minded terhadap berbagai budaya yang ada.

H: Ada karakter yang cukup menonjol dari musik yang muncul dari Bali, terutama mungkin tampilan rockabilly yang kuat, darimana karakter ini muncul?

R: Sebenarnya mungkin karakter ini muncul secara tidak sengaja. Di banyak aspek, Jakarta adalah tempat pertama yang menerima budaya dari luar negeri. Termasuk dalam musik punk, jadi anak punk dengan spike pertama ada mungkin di Jakarta. Hal yang sama juga berlaku pada subkultur lain, semua sudah berkembang lebih dahulu di kota-kota besar. Sementara di Bali, ada satu tempat dimana kami masih bisa steal the show, yakni melalui punk rock ala Amerika dan rockabilly. Dan ini pas dengan kondisi kota Bali yang penuh kegembiraan dan suasana santainya. Budaya street-punk kurang laku di Bali, agak susah untuk jadi depresi di alam yang sejahtera seperti di Bali. Se-street punk apapun orang yang ada di Bali, kalau pulang ke rumah juga akan tunduk pada ibunya dan tidur di rumah, tak akan di jalanan juga. Rockabilly dalam hal ini pas untuk menggambarkan nuansa gembira dari Pulau Bali.

Tapi dari kondisi yang demikian juga ada dilema tersendiri. Awalnya ketika mengajak anak-anak ini untuk ikut bergerak, mereka kebanyakan tak mau. Mereka tidak biasa diajak protes, karena keadaan yang nyaman. Tapi pelan-pelan mereka akhirnya mau untuk ikut turun karena mereka melihat keadaan di sekitar mereka berbeda. Yang menarik adalah ketika anak-anak ini turun, pendekatan yang mereka gunakan juga asik. Dimana mereka turun ke jalan sembari menyanyi, dan bersenang-senang. Mereka memperjuangkan aspirasi dengan rasa gembira di dada. Tak pernah ada kerusuhan di dalamnya.

H: Dethu aktif dalam mengkampanyekan semangat keberagaman melalui musik. Bagaimana sejauh ini peran musik sebagai motor utama pergerakan?

R: Bagi saya, keberhasilan utama kami dalam berkampanye adalah mengumpulkan ribuan nama baru untuk bergabung dalam pergerakan dan turun ke jalan bersama. Musik sekali lagi menjadi alat bagi kami untuk mengundang orang untuk ikutan. Dalam beberapa kali aksi yang kami gelar, banyak orang bergabung hanya karena melihat ada personil Navicula, Dialog Dini Hari atau Superman Is Dead di situ, tanpa tahu isu apa sebenarnya yang kami angkat.

Kami memang menerapkan strategi dimana kami tidak pilih-pilih siapa orang yang bisa bergabung dengan kami. Kalaupun ada yang cuma ingin ikut keren-kerenan saja, kami akan menerima dengan tangan terbuka. Seiring waktu, mereka akan belajar bersama kami tentang masalah apa yang kami lawan bersama. Semangat inilah yang menjadi dasar tumbuh kembang pergerakan kami. Dengan ini pula, kami semakin percaya bahwa musik adalah senjata, ini mungkin terdengar klise, tapi kami merasakan sendiri buktinya. Kampanye kami selalu berjalan tanpa uang, atau modal tertentu, hidupnya mungkin hanya dari jual kaos, tapi musiklah yang membuat suara pergerakan kami lebih lantang untuk melawan penindasan dengan modal uang trilyunan.

Sekarang, kalau SID main, akan ada ratusan bahkan ribuan orang yang memakai kaos Bali Tolak Reklamasi. Dan ini terjadi bahkan di luar Bali, rasanya seperti ribuan orang tersebut tahu dan menghadapi masalah reklamasi bersama kami.

Semangat ini powerful sekali. Mereka juga sangat militan dalam mendukung dan menyuarakan kegelisahan kami. Tak hanya di musik punk rock, musik folk juga sama pergerakannya. Mungkin hampir sama dengan musik era 50 atau 60’an jaman dahulu dimana musik folk dan budaya hippies menjadi katalis perlawanan.

H: Belakangan, Mas Dethu cukup aktif dalam mengkampanyekan keberagaman. Apakah ini ada hubungannya dengan latar belakang Mas Dethu sebagai warga Bali yang lekat dengan bermacam budaya? Dan kenapa keberagaman penting bagi Mas Dethu?

R: Saya memiliki pengalaman yang tak mengenakkan dalam hal ini. Ketika menjadi manajer SID, salah satu tuduhan yang sering menghampiri kami adalah tuduhan bahwa kami adalah band rasis yang anti orang Jawa. Ini sebuah tuduhan omong kosong yang entah darimana datangnya. Ada yang bilang bahwa tembok latihan kami bertuliskan “Anti Jawa”, atau bahwa ada tato “Fuck Java” di tubuh personil SID, dan semua tuduhan tersebut bohong besar. Padahal pacarnya Bobby (gitaris/vokalis SID) orang Surabaya dan kru kami ada yang dari Tegal. Sayangnya, banyak orang yang percaya dan isu ini menjadi semakin besar. Karena meski isunya sangat dangkal, ternyata banyak anak muda yang terpengaruh dan dari situ timbul kebencian yang tak berdasar.

Ketika saya masih kesal dengan isu tadi, muncul lagi isu besar mengenai pornografi yang jelas-jelas mengoyak semangat pluralisme di Indonesia. Digerakkan hanya oleh sekelompok kecil orang yang anti keberagaman, tiba-tiba muncul undang-undang yang memojokkan orang Bali karena budaya kami akan terganggu dengan undang-undang itu. Trus ada lagi peraturan tentang pelarangan minuman beralkohol, ini semakin menunjukkan bahwa keberagaman sedang terancam di sini. Padahal, minuman beralkohol sebenarnya adalah bagian dari kebudayaan lokal – hampir semua daerah memiliki minuman alkohol khas masing-masing. Juga bahwa seharusnya negara tidak ikut campur pada keseharian orang-orangnya. Toh, minuman tersebut kami dapatkan secara legal, orang lain tidak memiliki hak untuk mengatur apa yang kami konsumsi. Sekarang ada kekerasan seksual dikaitkan dengan minuman beralkohol, ini omong kosong. Ini pandangan sempit yang cenderung menyederhanakan masalah. Yang salah orangnya, bukan minumannya.

Di Bali, yang saya lihat adalah kami adalah daerah yang menjunjung tinggi keberagaman, dan terbukti bahwa keberagaman berpengaruh pada perilaku masyarakatnya, Bali adalah salah satu tempat yang tingkat kriminalitasnya paling rendah.

Dari yang saya lihat, ketika paham keberagaman itu telah dipegang dan dihidupi pada sebauh masyarakat, maka jadinya masyarakatnya akan lebih ramah dan humanis. Ini terbukti pada peristiwa Bom Bali, ketika bom meledak, tak ada yang kemudian menjarah toko, merampas uang turis atau vandalisme lain. Kearifan seperti ini akan terganggu bila keberagaman diusik.

H: Bagaimana Dethu melihat intoleransi yang semakin meningkat beberapa tahun terakhir?

R: Saya jelas sedih. Hal ini menggerakkan saya bersama beberapa teman untuk keliling kampus dan menyurakan semangat toleransi pada mahasiswa sebagai representasi generasi muda. Dan yang membuat saya semakin sedih adalah ketika menjalankan itu, kami sering mendapat ancaman. Saya yakin bahwa intoleransi ini tumbuh karena generasi kita miskin ilmu pengetahuan, karena kalau mereka tahu, mereka harusnya semakin toleran terhadap budaya lain. Ini sangat berbahaya. Jadi meski capek, saya akan terus melawan gerakan intoleran. Di titik tertentu, gerakan seperti ini juga merupakan food for the soul bagi saya.

H: Beberapa tahun terakhir, kalangan di Bali cukup aktif dalam mengkampanyekan “Tolak Reklamasi Teluk Benoa”, apa sebenarnya masalah yang dihadapi dan bagaimana perkembangannya hingga sejauh ini?

R: Jadi begini, ada sedikitnya tiga masalah utama dalam proyek reklamasi Teluk Benoa. Satu adalah isu sosial dan lingkungan. Bali sudah memiliki ribuan kamar hotel yang surplus, jadi buat apa membuat hotel baru kalau yang ada sekarang saja masih sisa? Kalau alasannya untuk menampung tenaga kerja – ini alasan klise yang selalu dijadikan excuse dari pengembang, yang ada adalah orang-orang pun tak akan mau bekerja kalau nantinya hotel mereka sepi dan tak laku. Kalaupun nantinya kamar-kamar tersebut laku, maka Bali yang sekarang sudah macet, bisa semakin penuh lagi jalanannya. Kalau macet dan semakin penuh, apakah kita akan bisa menikmati hiburan alam di sana? Tentu tidak.

Yang kedua adalah masalah di Teluk Benoa sendiri. Teluk Benoa itu adalah muara dari 6-7 sungai besar di Bali. Jika nantinya di tengah Teluk Benoa akan diisi sebuah pulau buatan, maka pasti air sungai tersebut akan meluap ke daerah sekitar. Tak perlu jadi Einstein untuk tahu bahwa kalau nanti ada pulau baru di tengah Teluk Benoa, akan jadi banjir di sana. Ini logika sederhana saja. Kalau pengembang bisa dapat izin AMDAL, maka izin tersebut patut untuk dipertanyakan kebenarannya.

Belum lagi mengenai fungsi kawasan tersebut yang merupakan kawasan konservasi yang harus dilindungi. Sayangnya, beberapa bulan sebelum lengser dari jabatan presiden, Susilo Bambang Yudhoyono mengubah fungsi kawasan Teluk Benoa menjadi kawasan pariwisata yang memungkinkan area tersebut untuk direklamasi. Dan yang mencurigakan adalah izin dari SBY yang membuka izin bagi pengembang persis sesuai luas wilayah yang diinginkan oleh penggerak reklamasi.

Pihak pengembang juga selama ini berkata bahwa seolah-olah proyek ini dibuat demi “kemaslahatan” penduduk Bali. Kalau memang benar mereka membuat proyek ini untuk orang Bali, harusnya mereka melakukan pengembangan di luar daerah Selatan yang sudah overload. Padahal kalau mereka benar-benar setulus itu, ada daerah utara Bali yang lebih butuh pengembangan lebih lanjut. Ini menjadi bukti kesekian tentang tipu daya mereka.

Awalnya rakyat tidak tahu menahu, kami yang sedari awal curiga tentang motif dari proyek ini lantas semakin khawatir ketika kekuatan besar seperti mantan Presiden SBY ikut campur didalamnya. Ketika kami telusuri lebih jauh, hampir semua aparat pemerintah juga sudah dibeli oleh pengembang. Rakyat Bali disini jadi yatim piatu yang tak dipedulikan. Setelah kami giat mensosialisasikan, rakyat kemudian sadar bahwa pengembang tak memperhatikan mereka sama sekali, dan hanya memikirkan berkembangnya bisnis real estate mereka di proyek ini. Bahwa proyek reklamasi adalah murni bisnis real estate semata, tak ada urusannya dengan pengembangan masyarakat dan semacamnya.

Sekarang, rakyat sudah sangat marah. Jika dulu campaign kami masih bernama “Tolak Reklamasi Berkedok Revitalisasi Teluk Benoa”, sekarang ada tambahan “Puputan Teluk Benoa”, yang berarti bahwa rakyat Bali telah siap berperang untuk mempertahankan keberlangsungan hidup ekosistem Teluk Benoa. Ketika Presiden Jokowi akan mengunjungi Bali, oknum keamanan menyebar ke jalanan untuk mencopot poster, baliho atau atribut di jalanan yang dibuat sendiri oleh rakyat untuk menolak proyek reklamasi ini. Untungnya, rakyat tidak takut untuk mempertahankannya.

Terakhir, ada kabar dari orang dalam istana yang menyatakan bahwa proyek reklamasi akan tetap dijalankan. Saya lalu berkata beliau ini bahwa kalau istana memberi lampu hijau untuk proyek ini, maka istana juga harus siap melihat rakyat Bali berjuang hingga tetes darah terakhir untuk mencegah proyek ini berjalan. Ini bukan omong kosong, rakyat sudah siap mati untuk ini. Karena pergerakan rakyat ini juga bukan pergerakan yang instan, telah 4 tahun lebih kami berjuang dan ini bukan gerakan main-main.

Dan tampaknya, sebenarnya pengembang juga telah menyadari kekuatan yang kami miliki. Tapi entah kenapa mereka enggan menyerah. Hingga suatu ketika, pemimpin pengembang ini menggelar press conference dan memimpin sendiri sesi itu sembari menyatakan bahwa beliau telah mengeluarkan uang 1 trilyun untuk melancarkan jalan proyek ini, jadi kalau proyek ini dihentikan, orang-orang yang menerima uang 1 T dari saya juga harus dikuak. Kami lantas agak bertanya-tanya siapa saja yang telah menerima uang tersebut. Tapi di sisi lain kami juga merasa bahwa kalau si pemimpin ini sudah turun tangan sendiri untuk ngomong kepada publik tentang modusnya, ini berarti pergerakan yang kami mulai ada dampaknya. Setelah kami nonton bareng sesi press conference itu, saya bersama teman-teman bertepuk tangan, karena at some point itu pencapaian bagi kami (tertawa). Mungkin dalam hal ini kami kalah secara materi, tapi selama masih punya dukungan dari masyarakat dan KPK saya masih optimis. Kalau dulu kita bisa menurunkan Suharto dari kursi presiden, maka harusnya kita juga bisa menggagalkan usaha developer ini. Ini jadi semangat kami.

RD2

H: Apa visi dari gerakan MBB yang Mas Dethu inisiasi ini?

R: Belakangan saya aktif dalam membuat gerakan pluralisme yang saya namai Forum MBB − Muda, Berbuat dan Bertanggung jawab. Disitu saya berusaha untuk menyebarkan semangat keberagaman. Pergerakan ini merupakan perpanjangan dari movement yang saya mulai ketika kami melawan UU Pornografi di tahun 2008. Meski saat itu saya dan kawan-kawan gagal untuk melawan disahkannya UU Pornografi, ada pencapaian tersendiri disitu. Dari pergerakan saya tersebut, terbentuk jaringan yang berisi individu-individu yang mau bergerak untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Ini menjadi modal besar bagi saya ketika saya bergabung di gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa.

Awalnya saya sendirian di MBB ini, tapi sekarang saya bergerak bersama Arman Dhani untuk mengkampanyekan semangat pluralisme dan hak-hak sipil. Masih dengan metode dan semangat yang dulu saya pelajari di pegerakan yang telah lalu, saya ingin MBB bisa hidup dan berkembang sembari terus mengkampanyekan semangat pluralisme di Indonesia. Tetap dengan pendekatan pop yang kuat. MBB memiliki website dengan konten yang kuat, facebook page dengan jumlah like ribuan dan terus berkembang hingga sekarang dengan isi yang selalu berfokus pada movement dalam menolak ketidakadilan.

Awal dari MBB ini mungkin ada pada saat dimana saya berperang dengan eks vokalis Rocket Rockers yang dulunya merupakan rekan yang saya hormati di scene punk lokal. Ketika dia tiba-tiba berubah menjadi sosok yang anti keberagaman, saya lalu bertanya, kenapa dia bisa begitu, padahal dia anak punk yang harusnya semangat utamanya adalah liberation. Momen transisi yang drastis ini membuat saya bertanya-tanya, lantas ngapain dia selama ini jadi vokalis band punk, mending bikin lagu religi saja (tertawa). Tapi di satu sisi saya khawatir juga, karena semangat anti keberagaman ini mulai bergerak di area yang saya hidupi. Ini bibit-bibit anti pluralitas yang harus dibasmi, bayangkan, ada dari mereka yang bilang bahwa bersalaman dengan orang yang merayakan Natal itu haram, ini kan absurd. Saya lantas memutuskan untuk melawan. Karena mereka yang anti pluralitas ini lebih militan dan aktif dari kita, maka kita juga harus memulai pergerakan.

Program yang kami persiapkan adalah menyebarkan semangat toleransi, tentang alkohol dan hak publik. Saya sedang membuat proposal tentang acara mengenai kekerasan seksual, di dalamnya kami juga akan mengajarkan mengenai fenomena ini. Aksi ini juga merupakan respon pada pemerintah yang dengan sembrononya mengkambinghitamkan minuman beralkohol sebagai tersangka utama dalam kekerasan seksual ini. Padahal ini juga ada hubungannya dengan ketidakbecusan pemerintah dalam masalah edukasi seksual. Dengan hanya mengkambinghitamkan minuman beralkohol, ini bukan tindakan yang menyelesaikan masalah.

H: Selama ini masyarakat umum hanya mengenal Bali dengan pantai, Kuta, tari Kecak atau baju Bali. Jatuhnya cenderung jadi eksotisme saja. Sebagai salah satu representasi Bali, mungkin bisa diceritakan tentang apa yang sedang terjadi di kultur kreatif di sana?

R: Pantai, hingga Tari Kecak mungkin masih menjadi jualan utamanya. Tapi di scene anak muda, mereka sudah memiliki cara tersendiri dalam berkarya. Masyarakat Bali cukup terbuka dengan budaya urban, dan ini mereka kombinasikan dengan budaya yang ada disana. Seperti tempat yang saya kelola misalnya, Rumah Sanur secara arsitektur menggabungkan budaya Bali dengan gaya urban. Eksotisme masih ada, namun budaya urban juga berkembang di sana, anak muda Bali sudah paham bahwa kalau kami tetap tak berkembang, hasilnya akan membosankan juga, jadi mereka membuat bentuk karya baru yang berbeda dengan apa yang orang tua mereka lakukan dahulu.

H: Bagaimana Mas Dethu melihat pola yang demikian, karena bisa jadi dengan kebudayaan lokal yang semakin tersisihkan, anak-anak mudanya akan lupa dan kehilangan identitas kebudayaannya?

R: Kalau saya pribadi melihat bahwa langkah anak-anak muda Bali yang menggabungkan budaya lokal dengan gaya urban adalah hal yang tepat untuk dikembangkan sekarang ini. Saya rasa, budaya lokal Bali tak akan hilang, karena budaya kami dicintai oleh banyak orang dan selalu ada yang menjaganya. Para millenial ini harus dibiarkan untuk berkreasi, biar ada kebudayaan Bali jadi lebih ekletik. Ini hal yang positif yang harus dikembangkan.

H: Apa rencana Dethu di masa yang akan datang? Ada proyek tertentu mungkin?

R: Untuk proyek pribadi, saya ingin mengembangkan Rudolf Dethu Showbiz yang akan menjadi tempat bagi band atau musisi lokal yang memiliki semangat untuk menampilkan musik yang membawa kebahagiaan, dan berkualitas. Di luar itu, saya ingin membesarkan MBB. Dua proyek ini ingin saya kembangkan bersama, jadi dengan berkembangnya showbiz, saya bisa meningkatkan appeal MBB juga. Inginnya Rudolf Dethu Showbiz bisa jadi industry of cool yang mengingatkan bahwa rock ‘n’ roll bisa juga menjadi agen perubahan.

Artikel ini saya pinjampakai dari Whiteboard Journal

DOMESTIC GROOVE: MARSHELLO HYDRANT

Foto: Budi Susanto.
Foto: Budi Susanto.

MARSHELLO HYDRANT
Penyanyi, Penulis Lagu, Penyelamat Pantai

Musik apa yang sedang anda sukai saat ini?
Saya sedang suka dan selalu suka musik dari Elvis Presley, Gene Vincent, Chuck berry, Jerry Lee Lewis, Little Richard. The Hydrant banyak sekali terinspirasi oleh para legenda rockabilly tersebut.

Apa album rekaman pertama yang anda beli—ada kisah menarik di baliknya?
Saya agak lupa album apa yang saya beli pertama kali, ingatan agak kabur waktu masih kecil haha. Tapi peristiwa menarik dalam membeli album adalah ketika saya membeli Karmila punyanya Farid Hardja. Di era-era 2004 atau 2005 itu cukup sulit mendapatkannya karena tergolong album lawas. Tapi saya harus mendapatkannya karena saya harus menyanyikan lagu tersebut dengan The Hydrant sebagai single pertama untuk album perdana, Rockabilly Live, di bawah label mayor, EMI Indonesia.

Elvis

Apa album-album favorit anda sepanjang masa? Kenapa?
Hati saya sudah kepincut musik rockabilly sepenuh hati. Album-album dari musisi yang disebut di atas adalah favorit saya sepanjang masa.

Apa album rekaman terburuk yang pernah anda beli?
Haha. Ini pertanyaan agak menjebak. Saya kasih tahu anda tapi off the record ya!

Di reinkarnasi berikutnya, selain diri anda sendiri, anda ingin menjadi siapa?
There’s no such thing as reincarnation.

Buku apa yang sedang anda baca sekarang, skornya berapa (1-10)?
Saya gemar membaca Bible. Banyak buku yang mengadopsi dari Bible. Skor 10.

The Kongsmen-OnCampus

Lagu-lagu apa yang anda pilih untuk memulai akhir pekan?
Masih seputar rockabilly. Sekarang sedang suka dan mudah membakar semangat itu lagunya The Kongsmen, “Chimpanzee”. Uuuuuk… Aaaaaak…

Dan lagu-lagu untuk mengakhiri akhir pekan?
Lagu-lagu gospel agar hati sejuk.

Foto: Rully Beertubes.
Foto: Rully Beertubes.

Bersama paguyuban rockabilly yang dikomandoinya, The Hydrant, si Brown Elvis makin sibuk dengan karir menyanyinya sekembalinya dari tur di Pantai Barat Amerika Serikat bulan April silam. Selain itu ia juga tetap rutin menjalani profesinya yang lain sebagai penyelamat pantai dengan wilayah tugas di Kuta dan sekitarnya. Beberapa hari ke depan, Jumat, 22 Juli 2016, bersama The Hydrant ia bakal mengadakan pemutaran perdana film dokumenter THE HYDRANT KRUISIN’ IN THE USA.

Featured image: Erick Est.