Tag Archives: Interview

PANGKUPARA TERANYAR SENI DAN SOSIAL SANG FLAMBOYAN PULAU SERIBU PURA, RUDOLF DETHU

Rudolf Dethu bak Sasangkala dari pulau Dewata, yang secara berkala menyerukan ide-ide kreatif maupun positif, agar yang terjadi di sekitarnya selalu berjalan seimbang. Beberapa tahun lalu dia berteriak keras, sekaligus berdiri paling depan, untuk menentang reklamasi Teluk Benoa Bali melalui jurnal-jurnal ofensifnya. Mundur lagi ke belakang, pria ini sempat menyibak waktu demi berterimanya warga Nusantara terhadap populasi LGBT. Untuk perihal kesenian, terutama seni suara, dia turut berjasa dalam membenihi invasi band serta musisi Bali demi keluar dari kandang. Salah tiganya Superman is Dead (SID), Navicula, serta The Hydrant. Berikut tanya jawab mengenai kesibukan terbaru sang flamboyan, yang tak pernah berhenti berinovasi.

Kegiatan Anda sekarang lebih banyak di Bali, ya? Dan masih bergelut di seputar showbiz?
Ya, sekarang saya sepenuhnya tinggal di Bali. Sudah 2 tahunan lebih. Masih bergelut di showbiz, juga aktif bergerak di gerakan sosial kemasyarakatan, utamanya Drink Responsibly dan Designated Smoking Area.

Ini menarik! Boleh tolong dijelaskan sedikit, mengenai gerakan Drink Responsibly & Designated Smoking Area?
Drink Responsibly dan Designated Smoking Area ini merupakan gerakan pengurangan risiko, penyadaran lewat pendekatan pragmatis. Tidak melarang atau frontal menolak apa yang mereka (peminum dan perokok) lakukan. Namun memberi pemahaman, ngasih opsi, dan melokalisir. Drink Responsibly ini berupa menjadi talk show tentang bagaimana minum yang bertanggung jawab. Silahkan minum-minuman beralkohol, jika itu memang bentuk rekreasi kamu, tapi jangan mengendarai kendaraan bermotor setelah menenggak minuman beralkohol dalam kadar tertentu. Gampangnya: 2 botol bir kecil atau 1 gelas/single spirit.

Talk show tersebut melibatkan pemilik bar, polisi, Gojek/Grab/taksi, pihak Banjar setempat (Banjar adalah pembagian wilayah administratif di Provinsi Bali, di bawah Kelurahan atau Desa, setingkat dengan Rukun Warga). Kami juga mengecek silang apa yang mereka lakukan, ketika ada aktivitas minum miras.
Designated Smoking Area juga mirip-mirip. Kami memasang beberapa asbak besar di sepanjang pantai Sanur. Memasangnya pun serius, tampak indah, tidak asal-asalan. Agar orang-orang tidak membuang puntung rokok sembarangan di pantai. Juga mereka terlokalisir saat merokok, tak berdampak pada perokok pasif. Setelah di Sanur, saya juga sudah pasang di Besakih, masing-masing 5 asbak besar. Bulan depan lanjut ke Tabanan, dipasangnya di taman kota.

Cerkas! Bagaimana Anda bisa ber-ide sebagus dan se-visioner ini? Apa penyebab awalnya yang membuat Anda serius dengan pergerakan tersebut? Ada peristiwa-peristiwa yang menginspirasi-kah?
Drink Responsibly terinspirasi saat saya tinggal di Sydney beberapa tahun. Masyarakat di sana tertib sekali mengenai miras. Mereka memang hobi menenggak miras, tapi miras itu tidak mudah untuk didapatkan, hanya dapat dibeli di bottle shop, tidak dijual di supermarket, dan aturannya ketat banget! Anak-anak di bawah umur bisa dipastikan sulit mendapatkannya. Dan, mereka takut banget berkendara saat sedang berada di bawah pengaruh miras. Hukumannya super berat! Lalu yang kedua karena salah satu sohib saya, anak band, meninggal akibat drink driving.
Kalau Designated Smoking Area ini karena dulu saya kan perokok berat. Saya lebih memilih pendekatan pragmatis dalam berhadapan dengan perokok. Biar saja Dinas Kesehatan dan siapa gitu yang bergerak menghentikan orang merokok. Saya tahu, bagaimana sulitnya untuk berhenti merokok. Jadi ya sudah, saya sediakan asbak saja, melokalisir perokok, agar sampah puntung rokok tak berserakan, perokok pasif bisa diminimalisir. Tagarnya #KurangiResiko.

Ini sempat Anda terapkan ketika membuat komunitas kecil Ragunan Whiskey Warrior (RGNWW) di Jakarta beberapa tahun lalu? Atau ketika Anda menjadi kontributor Beergembira? (Beergembira adalah online media mengenai bir serta budaya yang berkaitan dengannya)
Saya terapkan itu saat di RGNWW. Sebelumnya ya disiplin sendiri saja. Tidak mudah, karena di Indonesia Anda mudah tergoda untuk tetap memaksakan diri mengemudi, karena kebanyakan orang merasa mampu. Dan, di sini pun peraturannya tidak ketat. Di Beergembira kebetulan mereka sudah punya program mirip, namanya #TahuBatasnya.

Kan Anda minum dari dulu ya, nah, Anda sendiri pernah mengalami masa-masa terliar nggak? Minum hingga teler berat, berantakan di club, berantem dengan sesama pengunjung, atau hal-hal sejenis
Haha, pernahlah. Kita semua pasti sempat melewati masa-masa itu. Yang paling bodoh sih mabok dan berkendara. Kalau mati sendiri ya nggak apa-apa, resiko. Parahnya itu kalo bikin orang lain juga ikut mati. Itu yang mesti kita segera sadari. Mati ya mati saja sendiri. Jangan ngajak-ngajak. Kian tambah usia kesadaran pun semakin tumbuh. Silahkan minum sampai dead drunk, asal jangan membahayakan orang lain. Itu bentuk tanggung jawab kita, wujud kedewasaan.

Ok. Kita bicara soal Rudolf Dethu Showbiz, sekarang siapa saja musisi dan band yang tergabung?
Karena kesibukan yang kayak setan ini, saya lebih fokus ngurus satu band saja: The Hydrant. Selebihnya, saya lebih sekadar membantu saja. Ada Manja dan Truedy, juga Rebecca Reijman. Selebihnya, untuk urusan yang berkaitan dengan musik, saya ngurusin acara, bikin program di Rumah Sanur, di mana di sini saya menjabat sebagai Co-Director. Oh, saya belum sebut juga bahwa saya ikut di komunitas creative hub Ruangtuju. Yang cita-citanya ambisius: mengintegrasikan creative hub yang ada di seluruh Nusantara. Cikal Bakal Lokal. Ruangtuju ini ikut di Soundrenaline. Menyodorkan bakat-bakat lokal hasil kurasi dari beberapa creative hub di beberapa kota di Indonesia. Creative hub adalah wadah baru bagi anak-anak muda untuk bertemu, bergaul, saling bertukar pikiran serta berbagi ilmu. Ruangtuju Ini merupakan kolaborasi tiga creative hub: Rumah Sanur, Earhouse (Tangerang), Kedubes Bekasi. Sekarang banyak bertebaran creative hub di pelosok Nusantara. Kami bertiga yang paling solid. Dan, sepakat mencoba mengumpulkan satu demi satu creative hub itu agar kita semua bisa bekerjasama, membantu mendorong talenta-talenta lokal, sesuai dengan rekomendasi dari masing-masing creative hub. Bukan hanya soal musik, ya, tapi segala rupa berkesenian. Di mana saat seniman-seniman itu hendak pergi ke daerah baru, mereka tinggal kontak creative hub yang ada di daerah tersebut, dan bisa bertanya, misalnya, apakah bisa memfasilitasi konser, pameran, atau sejenisnya. Di website-nya sudah ada beberapa paparan, di mana saja ada creative hub.

Keren! Sekarang saya mau bertanya mengenai perbedaan nightlife di Bali dan Jakarta, versi Anda, karena Anda terbiasa bolak balik berkegiatan di kedua provinsi tersebut
Nightlife di Bali lebih variatif. Karena sekarang ada banyak opsi beach club, open airNggak melulu di tempat tertutup. Nightlife juga teramat variatif, ada beach club (outdoor, semi outdoor — live music, DJs), night club (indoor, DJs), bar (live music, DJs), creative hub (indie bands). Untuk daerah sekecil Bali, Denpasar dan Badung, utamanya, ada banyak sekali opsi. Dan, kantong-kantong keramaian itu terus melebar. Canggu, Seminyak, Kuta, Jimbaran, Ungasan, Nusa Dua. Itu pun baru Bali Selatan saja. Belum lagi Sanur. Masing-masing daerah, gaya serta jenis audiens-nya berbeda.
Untuk Jakarta, Tetap berkesan. Terutama jenis-jenis orang yang datang. Metropolitan banget! Cenderung formal.Terutama yang ke klub-klub malam. Kalau semisal beerhouse seperti Beer Garden mungkin lebih santai ya, meski kesan kurang rileks tetap ada. Nggak kayak di Bali, beda banget sama Bali. Kehidupan malam di Jakarta salah satu yang saya suka adalah banyak ketemu yang sadar busana dan enak dipandang. Kesan metropolitannya dapet. Sebagai orang Bali, enak sesekali dapet pemandangan seperti itu.

Hahaha. Ok, Dethu. Thank you! Saya memang hanya mau memberi tahu kesibukan terbaru Anda saja ke pembaca Vantage, sekaligus seperti apa nightlife Bali serta Jakarta di mata Anda, sebagai dua kota tempat Anda biasa bolak balik beraktivitas. Thank you so much brother!
Senang bisa ngobrol lagi, Nicko! Likewise, brother. Have a good one!

• Artikel di atas dipinjampakai dari Vantage.

The post PANGKUPARA TERANYAR SENI DAN SOSIAL SANG FLAMBOYAN PULAU SERIBU PURA, RUDOLF DETHU appeared first on RUDOLF DETHU.

HOMEGROWN & WELL KNOWN: IAN STEVENSON

Image by lukiluka

There should’ve been, at minimum, 3 bands to explode from Bali: Superman Is Dead, Navicula and Kaimsasikun. The last one had sophisticated skills, cool-and-controlled performance style, and their songs are even ‘poppier’ sounding than the other two bands (meaning it would be easier to penetrate the Indonesian market). They even have the looks. Ian Stevenson, the frontman, is without doubt one of the greatest young musicians that Bali ever produced. He shares what went wrong with his almost-famous group and a bit about his personal life in the post-Kaimsasikun era.

I loved your band so much. I think they were one of a very few excellent bands from Bali, who could’ve gone massive nationally. But things seemed to not work out as planned. What happened?
When Kaimsasikun was formed in 1999, we basically started out as just friends who liked to get together, learn our favourite songs, and play in the rehearsal studio. Eventually, we decided to start writing originals, and apparently a producer in Jakarta became interested in our music and offered us a contract. Very cliché, but it was really that simple. It all started out as something that we just did for fun. Our first contract was with Pro Sound records, for only one year. Then my mother passed away, and I had to go home to Bali. The other guys followed shortly after. We were all back together in Bali, and we were compelled to keep making music. So a friend offered to help us make an EP album, which was later released independently, titled Solas.

Loss of hope, is that the reason why Kaimsasikun ended up disbanding?
Kaimsasikun didn’t lose hope, ever. The reason we disbanded was due to the difference of frequencies amongst the members of the band. That lack of spirit and energy amongst us is probably what made us decide to call it quits, and Kaimsasikun was left on hold for 2 years or so. But even though we broke up as a band, we still remained friends and remained in contact. We moved on, I started producing, Sanny and Pandu were also producing, Mark did late night gigs as a drummer at a local cafe. But we knew deep inside that we really missed being together and working as a band, so in November 2011 me and Sanny hung out, and had this urge to call up the other guys. We decided to get together and make some music which we could release for free over the internet. And we did. Project 11 was born, we decided on this name because on every 11th of every month each of us (or sometimes all of us together) upload our new music. We don’t know where this project will go, but to me this project is a place where I can put my musical inspirations, and I am pretty sure the others think the same way. Yeah, we’ll see what the future brings.

You built a little studio at your house. Was that just about killing time after Kaimsasikun broke up?
During the time after Kaimsasikun had broken up, I needed to do something for myself. So with money I had at the time, I built a home recording studio and bought recording equipment, even though I had zero knowledge about audio engineering. So, I took a short course over the internet, learned the basics and began experimenting on my own in my studio. And before you know it I became an audio recording geek, almost in no time at all! With all the knowledge I had, I started producing pop music for artists from Jakarta. For these projects I had to set aside my so called “idealism”, which was very hard at first, because it was just so different from what I normally do. But it was interesting, because I had to learn to listen to a song, or music, with very different perspective, and be open to other genres of music. Behind all that there’s a lesson for me, which is to enjoy limitless exploration of my musical abilities.

Are you guys planning on making a new come back?
Oh that time will come. Haha. I am sure Kaimsasikun will start gigging again but I’m just not sure when. For now me and the other guys are busy with work and our own activities. But Project 11 is home for us, and ever since the 11th of November 2011 each of us have uploaded around 10 songs. All the songs have different styles. And that is the concept of Project 11, it is just a place for us to pour out our own ideas. If one day we compile the songs onto an album we would have to re-arrange the music to match our band’s style, so we could play live as Kaimsasikun.

I think more people need to see Kaimsasikun playing live. You guys are brilliant on stage; skilful, tight—as tight as Navicula, plus performing gives more solid power to your original songs.
We have had plans to gig again. But they always seem to get postponed. Everyone is still living in different areas and even countries. One of us is in Malaysia, a few of us are in Jakarta, and I live mostly in Bali. Even so, I have still managed to play a few gigs by myself. I also made a project not too long ago called Dialog Dini Hari. And I am also sometimes called to get up on stage to sing Pearl Jam’s “Jeremy” with Navicula. Hahaha. But it’s been a while since I have actually performed a proper show. Almost 2 years probably!

Let’s get personal, name 3 of your all-time favourite albums and why.
OK Computer by Radiohead. This album is brilliant. The production is genius. From music arrangement, the mood that each songs creates, the notation/melodies and lyrics. It’s perfect!
In Utero by Nirvana. Almost anyone who grew up and lived through the 90s probably knows this album. To me this is the best album from Nirvana.
Around the Fur by Deftones. This is one of my favourite Deftones albums. I’ve been listening to this album since high school, I guess it’s just stuck with me ever since.

Any last nagging words?
Don’t ask what music has given to you, but ask what you have given to music!

________________________

*Homegrown & Well Known was my biweekly column in The Beat (Bali) mag. Basically it’s an interview via e-mail with Bali’s local big shots. This was the 16th edition, firstly published on The Beat (Bali) #322, Oct 12-25, 2012
*Photo of Ian with the dog, borrowed from abodmu.net

PROPAGANDA, MUSIK, DAN AKTIVISME

Rudolf Dethu adalah sosok di balik panggung dalam kesuksesan band-band asal Bali. Mulai dari Superman Is Dead sampai The Hydrant merasakan tangan dinginnya.

Ia tak genah memainkan instrumen musik, betapapun semesta irama adalah cinta sekaligus jalan hidup yang membesarkan namanya. Selera dan pengetahuan jadi senjatanya mengarungi blantika musik.

“Sejak akhir 1980-an, aku bergaul dengan anak-anak musik di Denpasar. Aku orang yang enggak bisa main musik, tapi sering diminta berpendapat tentang musik,” kata Rudolf Dethu, yang namanya dikenal sebagai eks manajer Superman Is Dead (SID)–trio punk rock asal Bali.

Pria ini kerap disebut sebagai propagandis musik. Propaganda Dethu–terutama lewat tulisan–adalah pintu gerbang yang mempertemukan skena (scene) musik Bali dengan pendengarnya.

Hal itulah yang membuat namanya berada satu level bersama para pesohor skena musik Bali, macam SID, Navicula, dan The Hydrant. Tiada berlebihan, sebab Dethu adalah figur di balik panggung dalam kisah sukses band-band di muka.

Belakangan, Dethu terlibat pula dalam dunia aktivisme. Ia berdiri di baris depan dalam puputan melawan reklamasi Teluk Benoa di Bali. Ia juga aktif mengampanyekan semangat kebinekaan dan antikorupsi.

“Aku lebih suka disebut storyteller (pencerita). Wendi Putranto (eks Rolling Stone Indonesia) orang pertama yang menyebutku propagandis,” ujar pemilik nama resmi Putu Wirata Wismaya itu.

Perbincangan kami berlangsung saat matahari Bali sedang panas-panasnya. Angin laut membawa aroma asin dari Pantai Sanur, yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kami mengobrol: Rumah Sanur Creative Hub.

Tempat itu merupakan satu titik pertemuan para seniman, pelaku industri kreatif, dan aktivis di Bali. Di sana ada kedai kopi, restoran, panggung musik, toko konsep, dan ruang kerja bersama.

Siang itu (8/12/2017), Rumah Sanur sedang sibuk. Beberapa anak muda tengah menata panggung, mengatur instrumen musik, dan mengecek sistem pengeras suara.

“Kami dipercaya jadi tuan rumah Festival Anti Korupsi oleh KPK. Ini sedang persiapan buat acaranya, sore nanti,” kata Dethu, yang bertanggung jawab mengurusi perihal musik dan konten di Rumah Sanur.

Sebelum memulai percakapan, pria yang lahir 47 tahun silam itu memesan Gurita Bumbu Bali dan Jus Melon.

Hari itu, ia mengenakan setelan sepatu bot, celana jin, kemeja berwarna merah, plus suspender yang melingkar dari pinggang ke bahu. Sesekali, ia membenarkan letak topi fedora di kepalanya, seolah memastikan penampilannya senantiasa klimis.

Berewok dan kumis membuatnya terlihat sangar. Kesan itu hilang bila melihat senyum atau gelak yang kerap menutup perkataannya. Agaknya, gaya serta gestur Dethu adalah cerminan karakter skena musik Bali: sangar tanpa kehilangan keramahan dan kegembiraan.

“Street punk susah berkembang di Bali yang punya beach culture–dengan suasana kegembiraan dan santai. Musik yang pas rockabilly, californian punk, atau surf punk,” katanya.

Rudolf Dethu saat ditemui Beritagar.id di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Senin (8/12/2017) | Syafiudin Vifick / Beritagar.id

Menanam pengaruh dari kapal pesiar

Ketertarikan Dethu pada musik dimulai sejak dini. Kebetulan, orang tuanya bekerja di industri pariwisata dan kerap melawat. Billboard, majalah hiburan kenamaan asal Amerika Serikat, jadi buah tangan saban orang tuanya pulang lawatan.

Bacaan itulah yang memperkaya referensi musiknya. “Sejak SD, aku jadi semacam ensiklopedia di antara teman-temanku, terutama soal musik,” ujar Dethu.

Hal itu berlaku hingga dirinya berkuliah di Politeknik Pariwisata Udayana. Semasa kuliah, ia sempat pula membentuk band sebelum sadar kemampuannya dalam bermusik terbatas adanya.

Dethu menambal kelemahan itu dengan pengetahuan, yang memberinya tempat khusus dalam skena musik Bali. Ia juga mulai mengasah kemampuan menulis lewat catatan musik di koran lokal.

Lembar baru petualangan Dethu terbuka saat dirinya menjadi pramusaji di kapal pesiar milik perusahaan pelayaran asal AS.

“Saat itu, aku punya duit lebih dan bisa mengoleksi apa-apa yang kusuka. Rilisan musik jadi item koleksiku,” katanya. “Aku jadi sering membuat album kompilasi–semacam mixtape–dari lagu atau album yang kudengarkan. Kompilasi itu kukirim ke teman-teman di Bali.”

Kumpulan lagu itu menjadi kanal propaganda Dethu. Ia memuat tembang pilihannya dalam cakram padat (CD). Tiap lagu pilihan juga diberi catatan yang memuat sejarah atau sekadar alasan personalnya memilih tembang termaksud. Bila punya waktu luang, Dethu akan membuat sampul kompilasi yang digambarnya sendiri.

Ia mengenang masa-masa itu sambil tersenyum, “Tiap kompilasi kubikin dua hingga tiga kopi. Teman-teman di Bali menggandakannya. Akhirnya, di Bali–terutama Denpasar–orang-orang mendengarkan lagu yang sama.”

Pada 1998, Dethu turun kapal pesiar. Hanya sebulan dirinya menganggur, tawaran pekerjaan datang.

“Ada teman yang kerja di Radio Cassanova, Bali. Ia minta aku jadi penyiar dan bikin program sendiri. Padahal, aku enggak punya pengalaman broadcasting,” kata Dethu.

Dengan naluri seorang propagandis, Dethu tak menyiakan-nyiakan tawaran itu. Ia membuat program mingguan bertajuk “Alternative Airplay” di Radio Cassanova.

“Program itu membahas musik alternatif secara mendalam. Misalnya, pekan ini bikin edisi khusus punk rock, aku akan membahas sejarahnya, pengaruhnya di Indonesia, hingga mewawancarai band lokal,” ujar Dethu

Kelak, karena kepopuleran program itu, Radio Cassanova jadi titik kumpul bagi band-band di Bali.

Pekerjaan cuap-cuap lewat frekuensi dilakoninya selama 14 tahun (1998-2012), dengan tiga kali ganti pemancar: Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, dan OZ Radio.

Salah satu program radio Dethu nan legendaris adalah “The Block Rockin’ Beats” (The Beat Radio Plus), yang menyajikan daftar putar–berikut catatan singkat–dari orang-orang pilihannya.

Nama-nama kesohor pernah memutar lagu dalam program itu, macam Andre Opa (eks Pemimpin Redaksi Trax), Adib Hidayat (eks Pemimpin Redaksi Rolling Stone Indonesia), Philip Vermonte (peneliti), Jimi Multhazam (The Upstairs), dan Kill The DJ (Jogja Hip Hop Foundation).

“Publik ingin tahu, musik macam apa yang membentuk orang-orang keren itu,” kata Dethu perihal program termaksud.

“Hal-hal yang kulakukan selalu personal. Musik membuat kita mengenal seseorang lebih intim.”

Rudolf Dethu saat memperkenalkan salah satu band binaannya, Leonardo & His Impeccable Six, dalam sebuah pentas di Rumah Sanur – Creative Hub, Bali; pada medio 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Propagandis musik

Radio membuka jalan bagi Dethu untuk menekuni bisnis musik. Tawaran menjadi manajer band pertama kali datang dari SID, yang memang sering menyambangi tempat Dethu bekerja.

“JRX (penabuh drum SID) yang menawarkan pertama kali. Aku belum mengiyakan, tapi merasa terhormat karena suka dengan mereka,” kenang Dethu. “Waktu itu, aku sedang merintis clothing, Suicide Glam. JRX juga bantu kasih tempat untuk toko.”

Petualangannya bersama SID dimulai pada 2001. Itu adalah era awal penetrasi internet di Indonesia, yang ditandai demam milis–grup diskusi berbasis surel.

Lewat milis–terutama Yahoo Groups, Suicide Glam–Dethu melancarkan propaganda guna memperkenalkan band binaannya. Pun, ketika blog mengetren, Dethu menyalakan laman pribadinya sebagai kanal propaganda: RudolfDethu.com.

Gaya promosi Dethu tak lazim, misal menyematkan kalimat frasa “beer drinker” pada tiap personel SID atau menyebut mereka tak pandai bermain musik.

“Secara administrasi, aku enggak cukup baik. Aku bahkan enggak pernah bikin proposal untuk menawarkan band. Hal yang paling aku tahu adalah mempropagandakan sesuatu dengan sudut pandang berbeda,” katanya.

Puncak sukses SID terjadi saat merilis album mayor label pertama, Kuta Rock City (2003) lewat Sony Music Entertainment Indonesia.

Semula, kata Dethu, tawaran merilis album mayor label jadi kontroversi di internal SID dan skena punk rock. “Waktu itu ada semacam anggapan band punk rock enggak boleh rekaman dengan mayor label. Di sisi lain, SID merasa mentok di jalur indie, sejak 1995.”

Menurut Dethu, SID tak pernah meminta belas kasih mayor label. “Kami ‘ditawarkan’ bukan ‘menawarkan’, jadi lebih setara, penuh kebebasan.”

Perihal kesetaraan dan kebebasan itu, Dethu mengenang momen ketika SID berkukuh memasukkan 70 persen lagu berlirik Bahasa Inggris dalam album pertama mereka.

“Waktu itu, Pak Jan Djuhana (Artist and Repertoire Sony Music Entertainment Indonesia) telepon aku dan memastikan permintaan kami diterima. Itu jadi titik balik, kami menerima tawaran Sony.”

Sebagai manajer, Dethu pula yang mengawal eksponen grunge Bali, Navicula saat merilis album dengan Sony-BMG (Alkemis, 2004). Ia juga ikut menginisiasi kelahiran Suicidal Sinatra, band psychobilly pertama di Indonesia.

Pengujung 2007, ketika SID berstatus band punk rock nomor wahid Indonesia, Dethu malah mengambil rehat dari aktivitas manajemen band. Konon, ia mundur karena ingin fokus pada bisnis clothing, Suicide Glam.

“Ada juga rasa jenuh. Awalnya, aku nonton band dengan fun, tapi ada satu titik lihat konser malah stres,” katanya.

Ia baru kembali ke dunia manajemen artis pada 2015, dengan mengusung bendera Rudolf Dethu Showbiz. Saat ini, bendera bisnis termaksud membawahi tujuh artis–termasuk gerombolan rockabilly andalan Bali, The Hydrant.

“Sekarang, kalau bandku main, aku bisa minum dan ngobrol sama orang-orang. Aku bilang sama road manager, ‘Kalau Megawati wafat, atau Gus Dur hidup lagi, baru panggil aku. Kalau enggak gawat, jangan panggil.’ Aku merasa fun lagi.”

Rudolf Dethu dalam acara peluncuran buku biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! di Rumah Sanur – Creative Hub, Sanur, Bali; Agustus 2015 | Syafudin Vifick / Beritagar.id

Kelindan budaya pop dalam aktivisme

Nyaris satu dekade terakhir, Dethu menaruh minat dan tenaga ke dunia aktivisme.

Saat gelombang reformasi 1998 menerpa Indonesia, Dethu sebenarnya sudah tertarik pada isu-isu sosial politik dan sesekali terlibat dalam demonstrasi menuntut pergantian rezim.

Namun, ia baru aktif benar dalam dunia aktivisme antara 2007-2008, ketika terlibat gerakan menentang Undang-Undang Pornografi. “Aku merasa UU Pornografi mengancam budaya Nusantara. Aku mulai mengajak musisi terlibat memberi solidaritas,” katanya.

Perlawanan itu kandas. UU Pornografi disahkan. Namun, Dethu belajar banyak dari kegagalan.

Tatkala isu reklamasi Teluk Benoa berdengung, Dethu terlibat dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI).

Gerakan sipil itu adalah garda depan aksi-aksi anti-reklamasi Teluk Benoa. Mereka menganggap reklamasi Teluk Benoa mengancam lingkungan dan kebudayaan di Pulau Dewata.

“Saat melawan UU Pornografi, musisi hanya bersolidaritas di atas panggung. Sekarang, di ForBALI, musisi ikut demonstrasi, diskusi, dan mengorganisir,” kata pria yang kebagian tugas mengurusi Divisi Media sosial di ForBALI itu.

Dethu memberi kredit khusus kepada I Wayan Suardana alias Gendo, Koordinator ForBALI. Ia menyebut Gendo sebagai tokoh yang bisa memimpin dan menyuntikkan kesadaran anak-anak muda Bali perihal isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.

“Sekarang, kalau demo ForBALI, ada SID, Navicula, The Hydrant, Nosstress, dan seterusnya. Anak-anak muda ramai ikut demo. Mereka sering selfie, enggak masalah, yang penting melawan dan fun,” ujar Dethu beriring gelak.

Sejak medio 2016, Dethu menjadi Koordinator Aliansi Kebinekaan. Aliansi itu dibentuk 23 organisasi non-pemerintah. Mereka kerap membuat forum-forum berbasis kampus guna menangkal radikalisme dan mengampanyekan kebinekaan.

Dalam dunia aktivisme, Dethu senantiasa membawa unsur-unsur budaya populer. Baginya, budaya populer merupakan pintu masuk untuk mendekati anak-anak muda.

“Kita sering berprasangka bahwa anak muda tak tertarik dengan isu berat, seperti social justice. Padahal, kalau ambil contoh ForBALI, yang banyak terlibat justru anak muda. Itu karena kampanye kami menjangkau mereka,” katanya.

Pendidikan:

  • Fakultas Ilmu Komunikasi Politik – Universitas Terbuka (semester akhir)
  • Community Development Komisi Pemberantasan Korupsi – The Hague Academy, Den Haag, Belanda (2017)
  • Diploma Perpustakaan – Sydney Institute, Sydney, Australia (2012-2013)
  • Front Office Departement – BPLP Bali (1990-1992)
  • Departemen Pariwisata – Politeknik Udayana (1988-1990)

Karier:

  • Koordinator Forum MBB (Muda Berbuat Bertanggung Jawab) & Aliansi Kebinekaan (2015-sekarang)
  • Rudolf Dethu Showbiz, memanajeri The Hydrant, Leanna Rachel, Athron, Rebecca Reijman, Leonardo & His Impeccable Six, dan Negative Lovers (2015-sekarang)
  • Penulis biografi Superman Is Dead, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! (2015)
  • Communication Specialist – IMACS/USAID, Jakarta (2014-2015)
  • Publisis – film dokumenter JALANAN, Jakarta (2014)
  • Kolumnis, The Beat (2007-2014)
  • Night fill – Woolworths Ltd, Sydney, Australia
  • Penyiar dan produser program musik alternatif – Radio Cassanova, The Beat Radio Plus, OZ Radio (1998-2012)
  • Marketing Director & Co-founder – Suicide Glam clothing (1999-2010)
  • Glampunkabilly Inferno Band Management, memanajeri SID, Navicula, Postmen; menginisiasi Suicidal Sinatra (2001-2008)
  • Personal Assistant to Head Designers – CV Kecak, Denpasar, Bali (2000-2002)
  • Dining Room Steward – Holland America Line (kapal pesiar), Seattle, Amerika Serikat (1993-1997)

________

Artikel di atas dipinjampakai dari Beritagar.id bertajuk Rudolf Dethu: Propaganda, Musik, dan Aktivisme.

FOLK REVOLUTIONARIES VOL. 08

Teras Gandum & Rudolf Dethu Showbiz present:

FOLK REVOLUTIONARIES vol. 08
Chit-chat and Stripped-down set

Community Conversation
ADI HYDRANT

Moderator
RUDOLF DETHU

Music
MANJÃ
ATHRON
LEANNA RACHEL

at Teras Gandum – Rumah Sanur
Friday, 17 February 2017
6.30pm – end
Free!
18+

MUSIC WITH A MESSAGE: MARJINAL

Rudolf Dethu Showbiz and @america mempersembahkan:

Musik dengan Pesan Perubahan − MARJINAL.

Bagaimana beberapa aktivis begitu berdedikasi memakai musik untuk membuat perubahan positif di komunitas mereka? Untuk lebih jauh, bergabunglah dalam diskusi spesial disertai pertunjukan yang menampilkan band punk serta kumpulan seniman kawakan Jakarta serta saksikan cuplikan film dokumenter Ayumi Nakanishi Jakarta: Where Punk Lives – MARJINAL.

Moderator: RUDOLF DETHU.

Kamis, 16 Februari 2017
19.00-20.30 WIB
@america, Pacific Place, lantai 3
Gratis!

Rudolf Dethu Showbiz and @america present:

Music with a Message − MARJINAL.

How do some of Indonesia’s most dedicated activists use music to make a positive difference in their communities? Join a special disuccion and performance featuring Jakarta’s legendary punk band and art collective to find out, and get a sneak preview of Ayumi Nakanishi’s documentary “Jakarta: Where Punk Lives – MARJINAL”.

Moderator: RUDOLF DETHU.

Thursday, 16 Feb 2017
7.00-8.30pm
@america, Pacific Place, level 3
Free!