Tag Archives: Inspiration

Berkenalan dengan ASUS Zenbook S UX391UA di Jakarta





Bundaran HI Jakarta. Dok. Pribadi

JAKARTA!

Di mana gedung tinggi bertaburan bagai ketombe, dan deru mesin kendaraan adalah musik latar paling asoy yang menemani aktivitas sepanjang hari.

Zaman masih berstatus murid dari para guru yang ca’em-ca’em dan tampan dobel, momen kembali ke sekolah setelah liburan panjang adalah kesempatan pamer yang paling paripurna.
“Kemarin liburan sekolah ke mana?”

Salah satu pertanyaan basi yang selalu muncul begitu saja, atau kalau ketemu kekawan yang kecanduan songong, yang meskipun tak ditanya, bunyi aja persis iklan tahu bulat di sepanjang jalanan Menteng.

“Sa kemarin libur di Jakarta, ko libur pi mana?”

Kalau sudah begini, saya suka pura-pura budeg atau sibuk catat lirik lagu Jamrud di halaman paling belakang buku catatan pelajaran. Biarkan saja si kawan nyerocos sesukanya.

Demikian, dulu sekali, Jakarta pernah menjadi tempat menakar gengsi sebab tak sembarang manusia bisa menginjakkan kaki di Ibu Kota Negara.

Beberapa tahun kemudian, rasa cemburu dan putus asa itu mulai berdebu dan diterbangkan angin begitu saja. Gara-garanya sekali waktu, zaman ikut kegiatan mewakili sekolah, Jakarta pernah menjadi kota transit. Momen itu benar-benar bak nila setitik yang merusak susu sebelanga. Jakarta terlalu mengerikan untuk anak kampung seperti saya. Membikin sakit kepala dan perasaan heran bersemi membabi buta.

Berbeda dengan harapan banyak orang, liburan atau menetap di Jakarta tidak pernah menjadi impian saya. Setiap kali mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan dengan tiket gratis di Jakarta, perasaan saya selalu tak karuan. Sebagian senang, sebagian lagi sibuk menciptakan kalimat dan semangat positif untuk membentengi diri.

“Hanya beberapa hari, Mar. Nanti juga ketemu kawan-kawan yang asik, bakal lupa kalau lagi di Jakarta.”

Tidak pernah saya sangka, akhir tahun kemarin, saya menghabiskan seluruh hari di bulan Desember di JAKARTA. Plus lima hari malah dari tahun yang baru. Bagaimana perasaan dari seseorang, yang dulunya sangat membenci Jakarta, lalu bertemu kemungkinan akan tinggal di Jakarta, kemudian memutuskan untuk bertahan selama sebulan lebih di Jakarta sebagai pengalaman liburan, sembari menanti kepastian masa depan? Bagaimana?

Setelah hampir satu bulan, pantengin website resmi Kementrian BUMN dan Instagram Period Workshop di laptop Asus A450C saya yang mulai kumal (tetapi selalu menjadi kawan setia nan mesra, cieh), akhirnya saya mendapatkan kabar baik dari Jakarta. Nama saya muncul di antara sembilan (9) peserta yang lolos ke tahapan seleksi kompetensi bidang tes cpns kementrian BUMN, juga ada di antara sebelas (11) peserta yang boleh mengikuti workshop kritik sastra Period bersama Melanie Budianta. Seperti sekali dayung, kapal agak oleng tetapi fokus tak terganggu, hahahaha pepatah macam apapulak. Mari liburan sembari menenun masa depan di Ibu Kota. YEAH!

Saya mendarat di Jakarta (lagi) tepat tanggal 01 Desember 2018. Sebelumnya, di akhir bulan Oktober hingga awal November 2018, saya menghabiskan waktu dua minggu di Jakarta. Mengikuti tes seleksi kompetensi dasar. Total Passing Grade 330, menghantarkan saya kembali ke Jakarta sebulan kemudian.

Satu setengah bulan jika ditotal keseluruhannya, saya menetap di Jakarta. Ternyata Jakarta tidak seburuk yang saya pikir. Di saat-saat tertentu, saya menyadari bahwa, saya akan sangat merindukan Ibu Kota jika nantinya nasib tidak mengizinkan saya tinggal di Jakarta.

Saya akan merindukan gedung-gedung pencakar langitnya, yang megah dan selalu menimbulkan pertanyaan, “sungguhkah semua ruangan di gedung-gedung tersebut terisi oleh manusia?” *Pertanyaan bodoh hahahaha…

Merindukan kilau matahari sore yang memantul di antara gedung-gedung tinggi tersebut. Cah Melankolis bah...

Stasiun Kereta Api Manggarai. Dok. Pribadi

Juga, tentu saja merindukan transportasi umumnya yang beragam, dan selalu mudah dijangkau. Terjangkau tempat perhentiannya/penjemputannya, maupun juga harganya. Dari kereta api, transportasi berbasis online, bus transjakarta, sampai kopaja, bajaj, dan angkotan umum.

Merindukan berbagai kuliner enak dari yang paling mahal di pusat-pusat perbelanjaan, ketika diajak jalan sama teman baik, yang sekaligus mentraktir makan siang/makan malam. Sampai jajanan kaki lima, yang boleh jadi menguras isi dompet tanpa disadari. Saking murahnya, main nunjuk aja, yang ini yang itu, ini juga itu juga.

Kedai Jamu Bukti Mentjos Salemba. Dok. Pribadi

Nah, ini yang paling unik di tengah hiruk-pikuk Jakarta, saya akan sangat merindukan salah satu tempat nongkrong asik dan sehat, seperti Jamu Bukti Mentjos di Salemba.

Merindukan orang-orang hebat yang bisa bertemu secara tak sengaja pada kegiatan-kegiatan menyenangkan, seperti yang saya alami selama berada di Jakarta. Dari Pembawa acara televisi yang selalu ditonton sejuta umat, Penulis Idola, Sastrawan/I Indonesia, Penggiat dan Penikmat Seni, juga kawan-kawan Blogger.

Salah satu Diskusi Sastra di Taman Ismail Marzuki. Dok. Pribadi

Terakhir, ini yang benar-benar bikin susah move on, merindukan kehadiran laptop baru seperti Asus Zenbook S UX391UA #eh untuk menggantikan posisi Asus A450C yang selama ini selalu dengan tabah menerima perlakuan saya. Bagaimana ceritanya bisa rindu Asus Zenbook ini?

Saya berkenalan dengan Asus Zenbook S UX391UA tanpa sengaja di salah satu gerai Asus, di sebuah Pusat Perbelanjaan di Jakarta.

Sebelumnya, saya mau cerita dulu, kenapa saya jadi gandrung sama Asus? Bahkan untuk rencana laptop pengganti yang belum pasti ke depannya. Bagi saya, laptop adalah perangkat penting dan utama untuk bekerja, apa lagi untuk manusia yang hampir setiap hari bekerja dengan tulisan seperti saya. Asus A450C berhasil saya bawa pulang dari sebuah etalase tokoh elektronik tiga tahun lalu, setelah mendapatkan honor bekerja yang lumayan di Lampung. Sebelumnya, saya selalu mengandalkan laptop teman atau kabur ke warnet/rental komputer demi menghasilkan tulisan atau mengerjakan tugas kuliah. Sedih yah.

Laptop Asus A450C gueh waktu diajak pulang ke Ende, Juli 2018. Dok. Pribadi

Saya memilih laptop Asus saat itu tanpa alasan, saya suka lempengan langsingnya dan tampilan keyboardnya yang menyembul ke permukaan. Sangat nyaman ketika digunakan mengetik berjam-jam. Sudah tiga tahun saya gunakan, laptop biru kesayangan ini sudah berjalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia menemani saya, dikala ingin menulis banyak hal maupun juga sekadar menonton drama korea favorit yang sedang tayang. Tak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda menyebalkan, kecuali beberapa kali onar yang disebabkan keteledoran saya sendiri. Seperti charger yang tak pernah dilepas sepanjang minggu, padahal baterai sudah full 100%, sementara laptop tidak digunakan untuk mengerjakan apa pun. Walhasil, baru dua hari yang lalu, baterai pamit mundur. Saya terpaksa bekerja sembari charger menempel pada sumber arus. Hiks. Seperti sekarang, saat saya mengetik artikel ini.

Sepulang dari cuci mata tersebut, saya iseng mencari tahu tentang produk Asus terbaru itu, Si Zenbook S UX391UA. Saya mah gitu, suka kepo anaknya. Seperti produk Asus lainnya, ZenBook S UX391UA dirancang dengan penampilan elegan nan cantik, bodi tipis sekaligus ringan, tetapi tanpa kompromi di sektor performa. Bodi ZenBook UX391 hanya setebal 1,29 mm saja saat layar ditutup, dengan bobot tidak lebih dari 1,05 kg. Layar 13,3 inci Full HD laptop ini pun dirancang dengan ukuran bingkai yang ramping hanya 5,9 mm yang memberikan FootPrint layaknya laptop 12 inci. ZenBook S UX391UA telah lolos uji ketahanan militer MIL-STD 810G, sehingga menjamin penggunanya merasa aman saat menggunakannya di segala kondisi. Cocok betul untuk manusia yang suka ngukur jalan, gandrung nonton, dan grasak-grusuk seperti saya ini. ugh..

Performa Asus Zenbook S UX391UA. Dok. Mira Sahid

Salah satu daya pikat ZenBook S UX391UA adalah desain engsel terbaru dengan julukan ErgoLift. Fitur ini membuat bodi bawah laptop akan mengangkat dan membentuk sudut 5,5° saat layar dibuka. Sudut kemiringan seperti ini diklaim membuat kenyamanan mengetik menjadi lebih baik, membuat pendinginan lebih optimal, dan keluaran suara Harman Kardon di laptop ini lebih maksimal. Wah…

Untuk konektivitas, ZenBook S UX391UA menyuguhkan 2X Type-C USB 3.1 Gen 2/Thunderbolt 3 (40 Gbps) pada sisi kanan dan 1X Type-C USB 3.1 Gen 1 (5 Gbps) pada sisi kiri. Terdapat pula konektor audio 3,5 mm di kaki layar. Sayang sekali dengan jenis konektor seperti ini, dibutuhkan konverter atau kabel khusus jika ingin menghubungkan laptop ke display tambahan atau menggunakan perangkat USB konvensional. Yeah tak ada yang sempurna di dunia ini yah kan Gaes….hohohoho…

Dapur pacu ZenBook S UX391UA untuk pasar Indonesia tidak dapat dianggap remeh dengan penggunaan prosesor Octa-Thread Core i7 8550U yang menawarkan performa tinggi tetapi tetap hemat daya dengan klaim daya tahan baterai hingga 13,5 jam. Kapasitas RAM DDR3L 2133 MHz pun tidak kalah istimewanya dengan 16 GB Dual Channel dengan Storage super kencang yang masif SSD PCIe 3.0 x4 sebesar 512 GB. Demi dewa…. Asli ngiler….

Performa Asus Zenbook S UX391UA. Sumber. Asus Channel

Untuk semua kualitas dan kapasitas kerja seperti yang diuraikan diatas, dan dengan masa garansi selama dua tahun, kita harus mengalokasikan dana sekitar dua puluh enam juta rupiah (26jt+) untuk membawa pulang ASUS ZenBook S UX391UA ini. Sampai di sini, tarik nafas panjang, hembuskan , ulangi beberapa kali, dan berdoa. Hahahahaha... Duh, sepertinya saya harus jual tanah di kampung dulu nih, demi bisa bawa pulang Asus Zenbook canggih seperti UX931U. Lalalalalala.....

Begitulah….

Beberapa hari yang lalu, pada perjalanan pulang ke Flores, saya mengenang Jakarta dalam senyuman. Saya akhirnya gagal pada seleksi rekruitmen Analis Publikasi PNS Kementrian BUMN, yang juga artinya gagal jadi Warga Ibu Kota Jakarta. Anggap saja liburan akhir tahun yang menyenangkan, karena toh Jakarta akhirnya memberikan banyak alasan untuk dirindukan. Salah satunya, mimpi bisa bawa pulang Asus Zenbook S UX391UA bersama saya. Cihui...

Wah sepertinya sudah siang, mari bekerja lagi! Mana ni Asus A450 saya, yuk nguli! Hahahahaha….

Lebih lengkap tentang Asus Zenbook UX391UA, bisa mampir ke sini: ASUS ZENBOOK S UX391UA Slim, Stunning, Supreme. Bukan hanya menawarkan kecanggihan serta desain yang elegan, Zenbook UX391UA adalah perangkat praktis dalam menunjang kinerja manusia yang belakangan ini lebih senang mobile ke mana-mana, bahkan saat bekerja.  Sungguh paripurna.

Jangan lupa jalan pulang yah! dan AWAS NAKSIR kaya saya! (^_^)

#LiburanASikDenganLaptopASUS #2019PakaiZenbook #AsusxMiraSahid


Yuk Intip Aksi Lipooz Kenalkan HipHop di Bali



*Diunggah di website Musiklik.com pada 20 Desember 2016. Website tersebut untuk sementara sedang beristirahat dengan tidak tenang. Hiks T.T


Untuk orang-orang awam, ia bukan sosok luar biasa. Untuk kalangan tertentu, Lipooz menghunus mata dan hati, juga pikiran. Kekuatannya terletak pada rima yang berirama dari mulutnya seiring tempo dan musik yang membisik.

Lipooz atau lengkapnya Philipus R.I. Ngadut (RI itu bukan Republik Indonesia meskipun dia cinta mati dengan NKRI) adalah seorang pria asal Ruteng – Flores yang memilih menekuni Hiphop sejak tahun 2002 di Surabaya hingga kini berdomisili di Denpasar, Bali.

Musik merupakan pilihan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain. "Rap mampu bercerita tentang sesuatu secara detail karena panjangnya durasi lirik pada rap jika dibandingkan dengan genre musik lain yang liriknya cuma sepenggal dan diulang-ulang," ungkapnya saat ditemui Musiklik.com, (16/12).

Sampai dengan saat ini Lipooz sudah mengeluarkan dua album hip hop, Words = Power (2005), One Man Army (2007), juga belasan single track, baik solo maupun juga berkolaborasi dengan rapper-rapper dari berbagai kota di Indonesia. Tema yang sering diangkat dalam lagu-lagu Lipooz adalah tentang keseharian, cinta, kampung halaman-kota kelahiran dan self pride menjadi kebanggaan diri bagaimana hebatnya seorang MC memainkan kata-kata.

Pada 2013, Lipooz memutuskan hijrah ke Bali dan bertemu dengan teman-teman pelaku hiphop Bali yang sebelumnya cuma dikenal melalui sosial media. "Saya betah di Bali karena budayanya, keramahan orang-orangnya, alamnya yang luar biasa, serta kebebasan berpikir untuk menerjemahkan seni," ungkap Lipooz, MC-rapper di salah satu klub ternama di Denpasar

Lipooz cukup sering tampil di beberapa tempat di Denpasar untuk mengisi acara-acara tertentu. Bagi Lipooz, teman-teman hiphop di Bali tidak hanya mencakup rap, tetapi juga dance dan breakdance. Masing-masing mereka sudah sangat ahli pada profesinya sehingga ketika diminta untuk bergabung dan perform bersama mereka di acara komunitas Hiphop Bali/Dewata Hiphop, ia mengaku dengan senang hati meluangkan waktu untuk terlibat.

Untuk terus menjaga semangat hiphop, Lipooz tengah sibuk dengan sebuah proyek yang ia beri nama 16BAR.

Tentang itu bisa klik di sini: www.youtube.com/lipooz




Apakah Musiklikers  menyukai musik dengan aliran Hip Hop? Yah, tidak semua orang mengenali genre musik ini. Bukan hanya di Bali, tapi hampir di semua kota di Indonesia, musik Hip Hop adalah musik minoritas, karena masyarakat Indonesia didominasi oleh pendengar musik bernyanyi bukan pendengar musik berbicara (Rap).

Demikian ungkap Lipooz, jadi orang-orang lebih suka musik yang berharmoni dan vokal yang bernada daripada mendengarkan manusia ngomel-ngomel pakai rima dan nada, lanjutnya pada sesi wawancara bersama Musiklik.com (16/12).

Adapun 16BAR adalah sebuah Hip Hop web seri yang digarap Lipooz dengan melibatkan teman-teman rapper di berbagai penjuru Indonesia.

Proyek ini cukup merepresentasikan musik Hip Hop Indonesia saat ini. Alurnya seperti berikut, Lipooz akan menyediakan instrumental hiphop yang kemudian dieksekusi oleh rapper berbeda di setiap episodenya. Instrumen tersebut dibuat dengan alat musik dan perlengkapan seadanya langsung dari ruang kerja sekaligus kamar tinggal Lipooz di Denpasar. Itu kemudian dikirim kepada teman-teman rapper yang berniat mengeksekusi lirik sesuai instrumen.

Proyek ini terbilang masih belia karena baru berjalan empat bulan terakhir. Melalui 16BAR Lipooz sesungguhnya ingin mempromosikan teman-teman yang menggandrungi Hip Hop dan terkendala oleh berbagai macam hal. Proyek ini diharapkan dapat mewadahi musisi hiphop baik di pelosok maupun ibu kota yang memiliki kualitas Rap namun jarang diperhatikan.

 Ke depannya Lipooz berharap dapat menggandeng rapper-rapper Bali dan mengolaborasikan musik tradisional maupun juga bahasa Bali ke dalam Hip Hop yang ia garap.

Apalagi Hip Hop menurut Lipooz merupakan satu-satunya genre musik yang bisa dikombinasikan dengan musik dan budaya apapun, karena Hip Hop sendiri adalah sebuah budaya, bukan terbatas pada musik saja. Thumbs Up!



Penulis : Maria Pankratia
Editor : Luh De Dwi Jayanthi
Foto : Dokumentasi Lipooz
Caption : Lipooz Performance


MUSIK, LIPOOZ, HIP HOP, BALI, RAPPER, INDIE MUSIC, INDONESIA, 16BAR

TRIAL & ERROR



*Bingung mau kasih judul apa ini tah!


Di tahun 2004 di sebuah kelas IPA di SMAK Syuradikara, saat itu, saya adalah salah satu siswi yang kurang beruntung. Demikian saya mengklaim diri saya sendiri. Saya masih ingat, pagi itu Jam Pertama Pelajaran kelas kami adalah Fisika yang dibawakan oleh seorang Guru Wanita. Sebelumnya, suami Ibu Guru ini, yang adalah seorang Dosen di satu-satunya Universitas di Kota kami, sempat beradu pendapat dengan saya pada sebuah diskusi budaya tentang Asal Usul Seorang Pahlawan Daerah Ende. Jikalau saya salah berpikir, maka maafkanlah, akan tetapi tak pernah intuisi saya mengkhianati saya, mereka tak pernah muncul sia-sia. Hasil kebawelan saya di acara ini juga, yang membuat saya kemudian terpilih sebagai satu-satunya Perwakilan Nusa Tenggara Timur untuk Lawatan sejarah Nasional I di Nangroeh Aceh Darussalam, yang kegiatannya diselenggarakan berkat program terbaru Kementrian Pariwisata dan Budaya Republik Indonesia saat itu.

Kejadian yang akan saya ceritakan ini, berlangsung hanya beberapa hari setelah saya kembali dari Nangroeh Aceh Darussalam, pada bulan Agustus yang mataharinya bersinar sangat cerah bersamaan dengan angin dingin yang bertiup dari arah selatan. Seringkali membikin saya menggigil kedinginan. Persis dengan kejadian ini, yang masih mampu menimbulkan rasa dingin yang tiba-tiba apabila mengingatnya. Dua apa tiga hari sebelumnya (saya lupa tepatnya), kami melaksanakan Tes/Ulangan terhadap salah satu bab yang telah selesai dibahas pada buku mata pelajaran Fisika yang saat itu lazim dipakai. Hasil ulangannya telah dibagikan, dan sebagaimana biasanya, saya yang tak sungguh-sungguh dalam semua mata pelajaran penting pada jurusan saya ini, mendapatkan angka yang bagi saya sudah pas, entah bagi mentor saya atau kawan-kawan saya lainnya.

Pagi itu, Sang Ibu Guru muncul, memberi salam dan berbasa-basi sebentar lalu dengan pongahnya berkata: “oke, jadi hasil ulangan kemarin sudah terima semua toh? Nah sekarang, saya mau, masing-masing duduk sesuai hasil ulangannya, supaya kita tahu, mereka-mereka ini masalahnya di mana?! Ikuti arahan saya, yang lima ke bawah, silakan duduk di deretan kursi sebelah kanan saya (sembari menggerakan tangan beliau, membentuk batasan). Kemudian, yang nilainya enam ke atas, silakan duduk di sebelah kiri saya.” Saat itu, duduk satu deretan ke belakang, (sepertinya tidak ada yang menempati kursi paling depan, kau tahulah kenapa) ada Stivan Agustinus Wungubelen, Euginius Pasely Surya Kandar, Maria Pankratia Mete Seda, Sunartin Abdullah Wahid, Kenisia Natalia Rohy, dua orangnya lagi saya lupa siapa. Jika kalian, penghuni kelas 3Ipa2 ada yang mengingat peristiwa ini, mungkin bisa membantu menyebut dua nama yang kurang. Ruangan kelas yang kita pakai saat itu adalah Ruang A2, deretan ruang kelas di Gedung Induk yang berada pada bangunan yang sama dengan Pendopo Syuradikara yang berlangit-langit tinggi itu.

Saat itu, saya menjadi sangat malu dan terpukul. Seperti dibanting dari udara sahaja rasanya. Yah kau bayangkan, belum selesai bayang-bayang asmara Aceh I’m in Love-ku itu, lalu bertemu pula aku dengan hal memalukan seperti ini. Nol Kilometer Indonesia sudah kucapai, angka enam di atas kertas ulangan saja, tak bisa kujangkau?! What The Fuck kan?
Lebih lanjut, Sang Ibu Guru berkata: “Saya hanya mau kasitahu, kenapa saya pisah-pisahkan kalian begini, supaya kalian tahu diri, ada di posisi yang mana kalian sekarang? masih proses belajar, yang nilainya bagus, jangan cepat puas! Apalagi sombong. Yang nilainya masih hopang, coba dengan sadar. Jangan terlalu sibu-ribu dengan yang tidak ada guna-gana tuh, coba dengan sadar. Tuhan tidak turun tolong kamu supaya nilai mendadak jadi bagus. BELAJAR!” -------- OKE FINE!

Satu hal yang membuat saya sungguh sangat putus asa saat itu dan, merasa yakin bahwa saya tidak akan keluar dari Syuradikara hidup-hidup, bahwa Sang Ibu Guru adalah salah satu yang merekomendasikan saya untuk memilih Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dari beberapa Guru yang menakar kehebatan siswa/inya dari Nilai Rapor saat kenaikan kelas. Beliau juga yang mati-matian memaksa saya bertahan di kelas yang bukan saya pilih ini, yang begitu sangat horror terdengar di awal Masa Orientasi Sekolah (MOS). Beliau yang menasihati selalu, pun setia menghantam saya dan kawan-kawan dengan sindiran yang mematikan di tengah pelajaran berlangsung; “Kalian-kalian ini, sama sekali tidak merasa bersyukur e, sudah dikasih kemampuan seperti itu, bukannya dimanfaatkan dengan baik.” Kira-kira senada dengan ungkapan Kepala Sekolah Bertugas saat itu: “Tidak punya hasrat menaklukan dunia, mau jadi apa kau?”

Sejak awal pemilihan jurusan, saya sangat ingin bergabung di kelas Bahasa, karena ketertarikan saya pada sastra dan dunia menulis. Akan tetapi, sebagaimana nasib remaja berusia 16 tahun di NTT pada umumnya, jalan hidupmu ditentukan oleh Orang tua, Para Guru, Kepala Sekolah dan Nilai di atas kertasmu. Mereka adalah penentu mutlak yang lebih memahami kemampuanmu daripada dirimu sendiri. Kau siapa? Keci ana kemarin sore, macam jago-jago saja. Well!!! Orang tua saya tentu saja bangga setengah mati, anak saya Jurusan IPA, tidak kalah dengan anak-anak tetangga, rekan kerja, pejabat, de es be-nya.

Mereka tidak akan peduli, seberapa pusingnya kau melihat angka-angka tersebut berseliweran entah dari mana datangnya. Bagaimana kau gugup karena takut akan ulangan umum dan dipermalukan di seantero kelas. Bagaimana kau berusaha tetap mengimbangi bakatmu, yang hanya mendapatkan presentasi terkecil dari perhatianmu. Saya bahkan harus mencuri-curi kesempatan, untuk menuliskan puisi atau cerita ketika mood puitis saya tengah indah-indahnya, saat Guru Kimia sedang mencampurkan bahan-bahan di depan kelas hingga berasap dan menggelegak. Euw. Saya tidak peduli.

Hingga saat ini, saya masih merasa sakit hati jika mengingat kejadian di atas. Saya dibuat merasa sebagai manusia paling bodok, goblok, sial, tidak bisa diharapkan dan kawanannya, jika diketik entah sepanjang apa nanti ini. Kawan-kawan kelas saya harus tahu, bahwa saya pernah begitu benci bangun pagi dan harus berangkat ke sekolah karena mesti bergabung dengan mereka, mengikuti pelajaran sembari mengutuki diri sendiri yang adzubilah min zalik apa isi otak saya ini, sampah?!

Ketika merefleksi ini, saya kemudian paham bahwa saya marah karena tidak bisa menerima cara Sang Ibu Guru memperlakukan siswa/inya dengan bijak. Yang membuat saya merasa begitu sangat tertekan dan putus asa, hingga membencinya. Apakah tidak ada cara lain lagi, dari sekian juta kemungkinan cara di dunia ini, saat itu sudah Milenium, Abad 21. Apakah tidak ada cara lain, untuk membuat kami yang BODOK ini menjadi LEBIH BAIK atau PINTAR sebagaimana lazimnya harapan bangsa yang terpatri sejak dahulu kala? Apakah hanya dengan cara membuat kami malu, maka kami otomatis berubah?

Tiga belas tahun kemudian, saya dipertemukan dengan seorang Guru, bernama Simon Seffi. Yang menuliskan buku berjudul: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD yang di dalamnya juga menjelaskan bagaimana selama ini siswa/i di NTT sejak tingkat dasar sudah diajar menggunakan metode kekerasan dan hukuman yang pada akhirnya menimbulkan efek jera karena malu dan takut. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapatkan ilmu.

Pada akhir tahun ajaran, di tahun 2005, saat Pengumuman Kelulusan, saya sengaja datang terlambat. Saya begitu ketakutan bahwa saya tidak akan lulus dan mempermalukan kedua orang tua saya. Keluarga saya, tetangga saya dan tentu saja diri saya sendiri. Saya datang mengenakan baju putih dan rok putih, perpaduan seragam osis dan yayasan, demi menegaskan (lebih kepada diri saya sendiri) bahwa saya tidak akan mencoret-coret seragam saya, sebab ini dibeli dengan jerih susah kedua orang tua yang setiap hari mengomeli saya dan menjelaskan daftar panjang finansial yang telah dihabiskan untuk anak sulung tak tahu diuntung seperti saya. Saya tiba ketika Pendopo Syuradikara sudah lengang, dan sialnya saya berpapasan lagi dengan Sang Ibu Guru yang tetap saja ketus di detik-detik terakhir: “Mete Seda, kau lulus juga e?”

DEMI DEWA!

Saya memiliki, hm entahlah apakah ini anugerah atau kesialan, bahwa saya mampu merekam kejadian yang telah lewat dengan sangat sempurna termasuk percakapan, raut wajah dan tatapan mata, apa lagi jika kejadian tersebut menimbulkan rasa yang seperti klimaks di hati dan pikiran saya (semacam orgasme: ada harubiru, senang, sedih, marah, sakit hati, campur aduk). Entahlah apa namanya, tidak berlebihan jika kadang saya sangat berapi-api ketika bertemu kawan lama atau orang dari masa lalu, belum lagi jika dia memberi kesan mendalam, saya akan mengupas tuntas segala kejadian yang pernah kami lewati bersama. Nostalgia yang kadang cukup menimbulkan ambigu, bisa senang atau bisa jadi membuat risih apabila bertemu teman yang tak suka mengungkit-ungkit masa silam.

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya berdarah-darah dan berusaha menerima, memahami dan memaklumi DIRI SENDIRI, belajar dari banyak hal, syukur kepada Tuhan, saya doyan membaca, bahkan mungkin nanti hingga masuk liang lahat, bahwasannya SEMUA MANUSIA DILAHIRKAN JENIUS, tergantung di mana dia berada, bagaimana dia dididik, dengan apa dan siapa dia bergaul serta bagaimana dia mengolah semuanya, itu yang akan menentukan MANUSIA SEPERTI APA KITA. Saya belajar untuk tidak hidup berdasarkan pilihan dan omongan orang lain, saya hidup atas apa yang saya yakini!

Sampai di sini, saya mengetik sembari tersenyum. Sok sekali rupanya. Ahai.
---------------------------------

Setelah hampir sebulan saya tidak mengupdate blog pribadi ini, di sebuah misa sore yang sama sekali tidak bisa mengintervensi suasana hati saya yang kalut, entah mengapa di tengah konsekrasi, saya malah mengingat peristiwa ini. Dan setelah Komuni, saya begitu sengit dengan kertas dan spidol yang berwarna senada dengan rok yang sedang saya pakai. Orange. Entah apa pulak maknanya. Tetapi saya mengamininya sebagai sebuah jalan perubahan. Saya menulis kembali semua kejadian ini dengan sangat lancar dan penuh haru. Lalu menyalinnya di laptop saat pulang, dan memostingnya di sini. Saya tidak tahu, apa manfaat saya menuliskan ini kembali, dan apa pentingnya kau harus membaca ini? Itu terserah kalian.

Tulisan ini, rencananya, ingin saya ikutsertakan pada Kumpulan Cerita Alumni Syuradikara Edisi kedua, yang sampai saat ini juga masih rencana. Sebelumnya, telah ada Kumpulan Cerita Alumni yang terbit di tahun 2012 berjudul 5900 Langkah. Ada 30 Kisah dari 28 Alumni Syuradikara, dari yang Preman dulunya di Sekolah sampai yang Unggulan dan selalu diperhitungkan Para Guru, bergabung untuk menulis di situ. 5900 Langkah, menyimpan banyak cerita, juga ilmu yang tidak akan kau dapatkan di kelas-kelas Sekolah Menengah Atas dengan banyak mata pelajaran yang pada akhirnya sebagian besar hanya sia-sia bagi kehidupanmu di masa depan. Ini serius!


Panjangnya! Tidak ada gambar lagi. Yang kuat yah….hihi…BYE.

Catatan lain saya, tentang masa-masa labil di SMA, bisa dilihat di sini: AKHIRNYA (*Sebuah Refleksi)


Untuk yang punya foto, saya pinjam. saya temukan di google dan ini bagus. Simo Gemi :)


Meratapi Kristus di Noemuti



Sore itu, awan hitam menggantung di atas langit Bijeli, nama tempat di mana rumah kami menginap. Pukul 15.00, kami berangkat menuju Gereja Satu Hati, Satu Cinta, Satu Keluarga, Noemuti untuk mengikuti Ibadat Cium Salib dan Perayaan Ekaristi Jumat Agung.

 (Hah? Kenapa? Nama Gerejanya panjang? hahaha Ember, tetapi itu beneran. Serius).

Tiba di gereja, misa baru saja dimulai. Beruntung, kami masih mendapat tempat di dalam gereja, meskipun di bangku paling jauh dari altar. Saya dan salah satu teman saya, menempati satu bangku bersama dua orang bapak dan seorang wanita paruh baya, mungkin dia seumuran saya. Hm…

Beberapa menit sebelum Passio Injil Tuhan dimulai pada Perayaan Jumat Agung yang muram, terdengar guntur yang menggelegar dengan dahsyatnya. Ini terjadi sepanjang bacaan injil yang dinyanyikan tersebut berlangsung di atas altar.

Demikian, supaya genaplah isi Kitab Suci, “ketika Yesus mati di kayu salib, langit seketika menjadi gelap gulita, terjadi gempa bumi yang hebat, Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.” (Matius, 27: 51-52)


Yah tidak sehoror isi Kitab Suci juga. Masih dalam taraf yang bisa diterima dan dihadapi.

Hal yang sama terjadi, terdengar dentuman keras dari langit, tepat di atas gereja, hanya sepersekian detik ketika barisan wanita dan Patung Yesus tiba di pintu masuk gereja menuju altar untuk memulai RATAPAN. Setelah Passio selesai, upacara dilanjutkan dengan RATAPAN. Tradisi meratapi kematian Kristus di Hari Jumat Agung setelah Kisah Sengsara selesai dinyanyikan ini, terdapat di beberapa Paroki di Keuskupan Atambua maupun juga Keuskupan Agung Kupang.

Disebut ratapan, sebab syair yang dinyanyikan dalam bahasa Dawan ini berisi tentang kesedihan dan duka yang mendalam akan kematian Kristus. Orang Dawan, sebagaimana juga beberapa suku lain di Nusa Tenggara Timur, memiliki kebiasaan menangis di samping jenazah yang telah meninggal dunia. Tangisan tersebut memiliki nada dan akan terdengar seperti nyanyian yang sedih menyayat hati. Saat menangis itu, kenangan-kenangan yang sudah terjadi di masa hidup Almarhum akan diungkapkan melalui ratapan tersebut.

Ketimbang panik dengan bunyi-bunyi alam dari langit, umat di dalam gereja memilih tetap khusyuk dan tenang. Sepertinya ini fenomena alam yang sudah lumrah terjadi setiap tahunnya di sini.

Ketika ratapan dimulai, seluruh gereja hening, masing-masing sibuk dengan isi di dalam hatinya (bukan kepala, saya yakin begitu). Di luar dugaan, pada ratapan yang memilukan ini, terdapat satu bagian yang dinyanyikan bersama-sama dengan UMAT.

Tidak ada bahasa yang tepat untuk menjelaskan suasana serta perasaan untuk kejadian ini. Jika kau mungkin ingin tahu, apa yang saya lakukan saat itu; saya menutup Novel Cannery Row yang tengah saya baca sejak Passio mencapai pertengahan tadi (karena saya sungguh mulai bosan dengan Kisah Sengsara yang diulang-ulang sejak saya belum mengerti hingga khatam Kitab Suci).

Saya kemudian terdiam, tenggelam bersama ratapan. Tanpa sadar, mata saya basah. Biasanya, untuk hal-hal semacam ini, saya tidak pernah punya cukup alasan untuk hal-hal yang terjadi dengan tubuh saya, apalagi ini berada di luar kendali saya. Menalarnya dengan cara apa pun, saya tak mampu. Maka, saya memilih diam sembari membiarkan pipi, rambut hingga bahu saya kebanjiran.

Saya teringat anjuran Yesus yang dahulu, waktu saya masih kanak-kanak, yang saya nilai sungguh angkuh sekali: “Jang ko menangis saya. Menangis untuk ko, ko pu suami dan ko pu anak-anak.”

(yang single, dikondisikan aja yah :D)

Hingga saat ini, saya masih kepo, sungguhkah Tuhan ada? Benarkah Yesus, PuteraNya?

(24 Jam kemudian, saya tetap menyatakan Percaya bahwa Ia sungguh ada dan Yesus sungguh Puteranya pada Pembaharuan Janji Baptis di Perayaan Ekaristi Sabtu Alleluya).

Saya kadang dijuluki sangat kekanak-kanakan di usia yang sebegini ini, masih saja meragukan Tuhan dan semua sepak terjang Beliau.

Kisahnya tak lekang oleh waktu, meski sampai detik ini, tidak ada satu pun yang bisa memastikan “Apa agama Yesus?”

Yesus hanya menyebarkan sebuah ajaran yang kadang sangat menguras tenaga, waktu dan perasaan: “CINTA KASIH.”

Dan saya, masih terduduk di antara ratusan umat di gereja ini, meratapi kematian laki-laki seksi berambut sebahu, sebab siang kemarin Ia dibiarkan telanjang di tiang gantungan. Ia dengan tegas membalikkan makna tiang penyiksaan tersebut dari simbol keterpurukan, penyiksaan yang hina dina menjadi sebuah tanda kemenangan, yang entah mengapa, hingga saat ini, masih menjadi gerakan sekaligus mantra utama dalam setiap kondisi.


Nikiniki, 31 Maret 2018
Dari sebuah Perayaan Malam Paskah yang melelahkan
Saya memilih untuk belum move on dan mencatat ini pada Jurnal
*Akhir bulan ini, saya cerewet sekali.


Barisan Wanita yang Meratap. Foto: Eko Ninu







Menghidupi Literasi: Susah-Susah Gampang



Dalam rangka kegiatan hari ketiga Gathering Nasional Buku Bagi NTT – 15 April 2018 nanti, kami mengadakan survei ke lokasi Taman Baca Masyarakat (TBM) yang akan menjadi tujuan kunjungan para Relawan Komunitas Buku Bagi NTT.

TBM tersebut bernama Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, berlokasi di Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang.

Dari Kupang, kami berangkat berempat, saya, dua Relawan BBNTT Regional Kupang, Tri dan Neno serta salah satu teman kantor Tri, Mesakh. Kami menggunakan dua motor dan membawa serta satu dos buku untuk adik-adik di Lopo Belajar. Berangkat pukul 11.00 WITA dan sempat nyasar selama kurang lebih lima belas menit karena salah arah hohoho, untung insting bekerja baik sehingga bertanya ulang-ulang pada warga yang lewat. Jalanan menuju Fatule’u barat ini beragam, seperti pulau-pulau di Indonesia. Ada pulau besar, lalu menyusul teluk dan lautan kemudian pulau kecil lalu pulau besar lagi hahaha…






Sekitar tiga puluh menit sebelum tiba ke tempat tujuan, kami bertemu dengan KALI YANG PERTAMA (Kali BUKAN sungai). Kami belum tahu, ada berapa KALI yang harus kami lewati untuk tiba di Desa Poto, berdasarkan info dari kakaknya Neno, ada kurang lebih SEPULUH dengan volume arus yang berbeda-beda. Pada perjalanan berangkat ini, hari masih cerah, memang terlihat awan hitam di kejauhan tetapi kami pikir hujan masih akan tiba nanti malam.

Memasuki Desa setelah KALI yang pertama, kami kehilangan sinyal dan sudah tidak nampak tiang-tiang listrik di sepanjang jalan. Kami mengambil kesimpulan, memang tidak ada sinyal dan listrik di sini, maka kami berjalan sembari tetap bertanya karena kami sendiri belum tahu tujuan kami di mana. Ternyata ada DUA LAGI KALI yang harus kami lewati. KALI YANG KETIGA, airnya mengalir deras di atas jembatan beton yang entah kapan dibangun. Setelah KALI yang ketiga ini, kami bertemu seorang ibu dan pemuda yang sedang mengaso di pinggir kali, kami bertanya lagi. Tempat tujuan kami sudah dekat.

Kali yang KEDUA


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, kami sudah menemukan Kantor Desa Poto dan Lopo Belajar tujuan kami yang berada tepat di sebelahnya. Ada mama-mama yang sedang duduk di situ, kami bertanya lagi. Dari mama-mama ini, kami diarahkan ke rumah Bapak Simon Seffi yang mengelola Lopo Belajar tersebut. Rumahnya tidak jauh, tepat di jalan masuk samping Kantor Desa, berhadapan dengan Puskemas Desa Poto.


Kantor Desa Poto


Tiba di rumah Bapak Simon, beliau ternyata sedang keluar. Kami menunggu sembari melemaskan tubuh dan pikiran dari medan perjalanan yang luar biasa hasoy. Saya mencuri lihat koleksi buku Bapak Guru Simon yang kebetulan sedang berbaris rapi pada rak di depan kamar kosnya. Canggih! Tidak lama kemudian, Pak Simon muncul. Kami saling berjabat tangan, memperkenalkan diri lalu mulai ngobrol. Perlahan keluar, pisang goreng, pisang rebus, ikan goreng hasil pancingan Pak Simon dari laut terdekat dan tentu saja sambal kemangi serta kopi.




Koleksi buku Bapak Simon Seffi


Bapak Guru Simon adalah seorang Guru Matematika asal Amfoang yang ditugaskan di Desa Poto sejak tahun 2015. Jarak Amfoang ke Poto sendiri, kurang lebih masih 80 KM lagi. Bermula dari beliau menemukan fakta bahwa banyak sekali siswa/I di Sekolah Menengah Atas di Desa Poto belum bisa membaca, menulis dan menghitung dengan baik. Beliau kemudian mengadakan riset kecil-kecilan dengan instrumen yang sederhana dan menemukan kenyataan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan Guru-Guru hampir di seluruh sekolah di Kecamatan Fatule’u Barat, baik SD, SMP maupun juga SMA , semuanya sama. Menggunakan kekerasan dan hukuman. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapat ilmu. Belum lagi, tidak ada kegiatan belajar pendukung setelah waktu di sekolah telah selesai, mereka harus membantu orang tuanya bekerja di ladang atau di sawah.



Bapak Guru Simon bekerja sama dengan salah satu tetua adat setempat, membuka sebuah Lopo Belajar yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama suku besar setempat. Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomane yang berlokasi di halaman rumah Bapak Tetua Adat. Kurang lebih ada 20 anak yang diasuh oleh Bapak Guru Simon, sebagian besar sudah duduk di kelas lima dan enam. Saat pertama bergabung, anak-anak ini samasekali masih kesulitan membaca. Melalui metode belajar kreatif, anak-anak perlahan termotivasi dan bisa lancar membaca. Kami tidak sempat bertemu anak-anak tersebut, karena di hari Minggu, Lopo Belajar tutup.

Meskipun tutup di hari Minggu, kami tetap mampir melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar sebagai dokumentasi. Selain itu, sangat nikmat berjalan kaki dari rumah Bapak Guru Simon ke Lopo Belajar di siang hari tanpa ada suara bising di sana-sini.


Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana




Salah satu hal menggembirakan pada cerita perjalanan ini adalah, mendapat sebuah suguhan menarik dari Bapak Guru Simon Seffi yang ternyata sudah sempat membukukan hasil penelitian beliau tentang kekeliruan metode pembelajaran serta solusi yang bisa beliau tawarkan. Buku tersebut telah dicetak sebanyak dua kali, saat ini beliau tengah berusaha mencari donatur yang mau membantu mencetaknya lagi karena sudah tidak ada stok yang tersisa. Masih ada satu buku saja yang menjadi arsip beliau. Saya sudah sempat membacanya, luar biasa bermanfaat. Harapan saya, Komunitas Buku Bagi NTT bisa membantu memperbanyak buku ini dan membaginya secara gratis ke seluruh Taman Baca di Nusa Tenggara Timur. Judul bukunya: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD.

Buku Hasil Penelitian Bapak Guru Simon Seffi

Dalam perjalanan mengasuh anak-anak di Lopo Belajar serta mensosialisasikan metode belajar yang sudah beliau kembangkan dalam bentuk buku, Bapak Guru Simon Seffi tentu juga menghadapi berbagai penolakan dan kecurigaan yang terkadang melemahkan posisi beliau. Beliau pernah mengadakan audiensi dengan Dinas terkait bahkan Bupati Kabupaten Kupang, akan tetapi hingga saat ini, belum ada langkah konkrit yang diambil demi mengatasi permasalahan ini. Para Guru Senior, melihat sepak terjang beliau sebagai bentuk mempermalukan mereka atau sok pintar yang sebaiknya diabaikan saja. Sangat khas NTT!

Jika tidak mengingat waktu dan perjalanan pulang yang masih panjang serta awan hitam yang berarak di langit, kami mungkin tidak beranjak sedikitpun dari kediaman Bapak Guru Simon. Sebagaimana perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, ini adalah perjumpaan luar biasa yang kesekian. Di sebuah Desa di tengah belantara dan pegunungan, ada sosok gemilang yang bertahan dan mencoba peruntungan hidupnya dengan cara yang begitu mulia. Saya seperti di-charge penuh kembali batereinya.



Nasib pakai timer :D




Pukul 16.00 WITA lewat sedikit, kami mohon pamit kembali ke Kupang. Kami sungguh tidak tahu apa yang menanti kami di perjalalan pulang ini hahaha.. Jika pada perjalanan berangkat, kami selalu berhati-hati dan baik-baik saja, maka di perjalanan pulang ini, kami agak ceroboh dan menyedihkan wkwkwkw.

Motor yang ditumpangi saya dan Neno, nyungsep di KALI YANG PERTAMA harus kami lewati, sebelumnya adalah KALI YANG KETIGA pada saat kami datang, yang di mana saya harus turun jika tidak ingin basah kuyup. Kali ini, saking nekatnya dan keasikan ngobrol, Neno menerjang air begitu saja dan alhasil, kami terjebak.

Di tengah perjalanan menuju KALI YANG KEDUA, gerimis mulai turun perlahan yang kemudian menjadi sangat deras. Kami berhasil melewati KALI YANG KEDUA tanpa ada rintangan yang berarti. Dan beberapa meter sebelum mencapai KALI YANG KETIGA, saya melihat ada aliran cokelat yang begitu pekat dari kejauhan. Banjir besar datang dari hulu, jalan terputus dan kami tidak bisa lewat, rupanya sudah ada beberapa orang yang duduk lemas lebih dulu di pinggiran kali bersama kendaraan mereka. Waktu menunjukkan pukul 16.45, pupus sudah harapan kami untuk tiba lebih cepat di Kupang, sementara besok ada audiensi berkaitan dengan Gathering Nasional BBNTT juga yang harus saya hadiri.



Alternatif pertama adalah, menunggu air surut dan kami menyebrang. Sekitar dua jam kami harus menunggu, bisa jadi lebih dari itu. Alternatif kedua, kembali ke rumah Bapak Guru Simon dan menginap, tetapi bagaimana dengan Tri dan Mesakh yang besok pagi-pagi harus bekerja. Lalu, tanpa kami duga, alternatif ketiga itu muncul. Pasukan Profesional Pemuda Fatule’u, Para Pengangkut Motor tangguh dengan biaya yang tidak disangka-sangka, sangat murah. 30.000/motor. Motor diangkut dan kami boleh memilih nyebrang sendiri atau digendong ke sebelah. Alamak! Yang laki-laki memilih yang kedua, saya dan Tri meskipun kami perempuan, kami juga tetap memilih yang kedua. Masih ada sisi lain dari KALI yang cukup dangkal dan bisa kami sebrangi.





Saya menikmati proses memindahkan motor ini dengan hikmat. Sejak awal, ketika mereka mulai turun ke sungai satu per satu untuk mengecek kedalaman air dan deras arus. Lalu, mencari alat bantu berupa kayu yang cukup keras untuk menopang motor sehingga motor tetap stabil saat dipikul dan tidak terasa terlalu berat saat melintasi arus air yang deras. Tips agar kayu tidak ikut berputar dengan roda motor saat dipikul adalah, gigi motor dimasukkan dulu agar roda tetap diam dan kayu bisa menopang kuat, tidak bergerak. Sebuah pengalaman yang cukup ekstrim dan fenomenal tentu saja. Ketika kami berjalan ke sisi lain sungai untuk menyebrang ke sebelah sementara motor telah tiba lebih dulu, kami sungguh tidak menyangka bahwa akhirnya kami bisa kembali ke Kupang hari itu juga.

Video lengkap tentang aksi heroik ini, bisa dilihat di Instagram saya: @maria_pankratia

Setelah selebrasi yang cukup heboh dan alay, hahaha ditonton oleh warga masyarakat yang sedang nongkrong di pinggiran sungai -rupanya ini menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di kala senja hahahaa- kami melanjutkan perjalanan ke Kupang. Di tengah perjalanan, kami diterpa hujan yang lumayan deras sehingga harus dua kali berhenti dan berteduh. Pukul 20.00 WITA lebih atau kurang sedikit, saya lupa, kami akhirnya tiba di Kupang dengan kondisi masih utuh.



Di akhir cerita perjalanan ini, saya hanya mau bilang, Tempat yang kami kunjungi ini hanya dua jam dari Kota Kupang. Tak ada jembatan, tak ada listrik, tak ada sinyal hape kecuali tenaga surya yang tentu saja mengandalkan matahari –belakangan kami dikasitahu oleh isteri Bapak Guru Simon tentang TS ini- Di musim penghujan, mustahil ada nyala lampu neon berpendar. Tetapi orang-orang di tempat ini tetap hidup dan bertahan bahkan sangat kuat dan tegar. Mereka dapat dibilang menjadi sangat profesional saat dibutuhkan seperti di situasi sore kemarin. Lalu, orang-orang seperti saya, kau dan dia masih saja mengeluh ketika siang terlalu panas atau hujan terlampau sering, cemas karena telkomsel terus kirim sms kuota data anda tersisa 498KB saja, kesal karena ditanya kapan kawin #eh nikah #HapaSih hahaha...

Jika demikian, pantas saja kalau banyak orang mudah mati saat ini.

Demikian laporan #BBNTTGATHERINGPREPARATION dari kunjungan ke Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang di hari Minggu, 11 Maret 2018.


Salam Literasi,
Maria Pankratia – Relawan Buku Bagi NTT

PS. Semua dokumentasi dalam perjalanan ini berasal dari Handphone saya dan Tri. ^^