Tag Archives: Info Kesehatan

Kesehatan Mulut Berhubungan Dengan Hipertensi, Baik Atau Buruk?

Penderita hipertensi yang kesehatan gigi dan mulutnya buruk ternyata lebih susah untuk mengendalikan tekanan darahnya. Demikian kesimpulan penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Hypertension.

Baca juga: Inilah 7 Cara Menyembuhkan Sakit Gigi dengan Mudah

Diantara penderita hipertensi yang menjalani pengobatan dengan obat obatan anti hipertensi, mereka yang menderita penyakit gusi rata rata memiliki tekanan darah yang lebih tinggi 2 sampai 3 mmHg bila dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita penyakit gusi. Penderita hipertensi yang juga menderita penyakit gusi memiliki respon yang lebih rendah terhadap obat obatan anti hipertensi.

Penelitian sebelumnya telah banyak menyimpulkan hubungan antara buruknya kesehatan mulut dengan peningkatan risiko menderita penyakit kardiovaskuler, diabetes, stroke dan kegemukan. Hubungan yang tidak baik ini ujung ujungnya akan meningkatkan risiko kematian.

Yang baru dari penelitian ini adalah penyakit gusi ternyata berhubungan dengan efektivitas dari pengobatan pada pasien pasien hipertensi.

Pada penelitian ini, peneliti menganalisa data dari survei tahunan U.S. National Health and Nutrition Examination, yang diselenggarakan dari tahun 2009 sampai dengan 2014. Mereka yang dipilih dalam penelitian ini adalah yang berusia di atas 30 tahun, menderita hipertensi dan rutin menjalani pemeriksaan gigi. Dari syarat tersebut didapatkan responden penelitian sebanyak 4.086 orang. Responden yang sedang minum obat anti hipertensi sebanyak 3.626 orang, sedangkan yang tidak minum obat anti hipertensi sebanyak 460 orang.

Berdasarkan hasil pemeriksaan gigi, sekitar 52 responden menderita penyakit gusi (periodontitis). Sebagian besar dari penyakit gusi yang diderita adalah penyakit gusi tingkat sedang. Hanya 3 persen yang menderita penyakit gusi ringan dan 12 persen yang menderita penyakit gusi berat.

Berdasarkan catatan peneliti, tekanan darah sistolik rata rata meningkat seiring dengan dengan memberatnya penyakit gusi yang diderita.

Kesimpulan dari penelitian ini, penderita hipertensi akan mengalami kesulitan dalam mengelola tekanan darahnya menggunakan obat obatan anti hipertensi bila di saat yang sama dia juga menderita penyakit gusi.

Baca juga: 5 Penyebab Sakit Gigi dan Cara Mengobatinya

Periodontitis adalah penyakit infeksi pada gusi yang ditandai dengan kerusakan pada jaringan lunak dan penyangga gigi. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab paling sering dari tanggalnya gigi sehingga perlu segera diobati. Penderita periodontitis kebanyakan berasal dari mereka yang berusia remaja.

The post Kesehatan Mulut Berhubungan Dengan Hipertensi, Baik Atau Buruk? appeared first on BlogDokter.

Menyeramkan, Otak Mengecil Karena Stress

Sebuah penelitian terbaru menyimpulkan, orang yang kadar hormon stress-nya tinggi, cenderung memiliki ukuran otak yang lebih kecil.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology ini melaporkan, orang yang kadar hormon kortisol di dalam darahnya rata rata tinggi memiliki ukuran otak yang lebih kecil dan mengalami penurunan kemampuan mengingat. Sebagaimana diketahui, hormon kortisol juga kerap disebut sebagai hormon stress.

Baca juga: 5 Cara Sederhana Mengatasi Stress

Hasil penelitian yang cukup menyeramkan ini ternyata mengundang reaksi beragam dari para ahli. Sebagian dari mereka mengatakan, kesimpulan pengecilan otak yang diakibatkan oleh stress itu terlalu prematur. Penelitian ini hanya memberikan kesimpulan berupa hubungan antara A dan B. Penelitian ini tidak berhasil membuktikan adanya hubungan sebab akibat antara keduanya.

Ahli yang lain menyebut hasil penelitian ini sebagai sesuatu yang menarik, mengingat kortisol sudah dikenal luas sebagai penyebab dari berbagai masalah yang terjadi di dalam tubuh. Dikatakan, kortisol yang selama ini dikenal hanya puncak dari gunung es. Ada banyak masalah kortisol lainnya yang belum terungkap.

Kortisol adalah hormon yang dihasilkan tubuh sebagai reaksi terhadap berbagai macam stressor, seperti kejadian yang tiba tiba, stress psikologis dan inflamasi kronis. Ini bukan kali pertama para ahli menghubungkan antara kortisol dengan perubahan pada otak. Penelitian sebelumnya juga menemukan hubungan antara peningkatan kadar kortisol dengan mengecilnya beberapa bagian otak, seperti bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pengolahan memori.

Mengecilnya otak merupakan tanda terjadinya masalah neurologis atau masalah kognitif. Meskipun pengecilan otak tidak selalu diartikan sebagai matinya sel otak, tetapi mengecilnya otak dapat menyebabkan menurunnya sistem pendukung dari sel sel otak. Akibatnya tentu saja fungsi otak menjadi terganggu.

Sel sel otak sangat membutuhkan sistem pendukung yang baik agar bisa bekerja optimal. Sistem pendukung tersebut antara lain aliran zat gizi yang cukup termasuk. Pengecilan otak menyebabkan aliran zat gizi ini terganggu sehingga kemampuan otak mengolah informasi juga menjadi tidak maksimal.

Baca juga: Makan Cokelat Dapat Meredakan Stress, Begini Caranya

Hasil penelitian ini memang belum berhasil membuktikan adanya hubungan sebab akibat, tetapi tidak ada salahnya dijadikan pedoman dalam menjaga kesehatan otak. Salah satunya adalah belajar mengendalikan stress sehingga stress tersebut tidak sampai menganggu kesehatan, termasuk kesehatan otak.

The post Menyeramkan, Otak Mengecil Karena Stress appeared first on BlogDokter.

Makanan Organik Dapat Turunkan Risiko Kanker

Rutin mengonsumsi makanan organik dapat menurunkan risiko beberapa jenis kanker, demikian kesimpulan sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli dari Perancis.

Baca juga: Organisasi Ini Akhirnya Menyatakan Pewarna Makanan Berbahaya Bagi Anak Anak

Penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine ini membandingkan antara mereka yang rutin mengonsumsi makanan organik dengan mereka yang jarang mengonsumsinya. Hasilnya, mereka yang mengonsumsi makanan organik memiliki risiko 25% lebih rendah menderita kanker dibandingkan dengan mereka yang jarang mengonsumsi makanan organik. Secara absolut, penurunan risikonya mencapai 0,6%.

Untuk tetap sehat, manusia membutuhkan makanan yang sehat dan bergizi baik yang berasal dari pertanian organik maupun konvensional. Makanan sehat dan bergizi ditambah dengan aktivitas fisik yang cukup merupakan faktor protektif tubuh dari serangan sel sel kanker dan penyakit lainnya.

Penelitian yang sifatnya pengamatan seperti ini memang tidak berhasil membuktikan makanan organik sebagai penyebab menurunnya risiko kanker, tetapi penelitian ini sedikitnya bisa memberi gambaran tentang peranan makanan organik dalam menurunkan risiko kanker.

Sebagaimana kita ketahui, standar makanan organik melarang penggunaan pupuk sintetis, pestisida, organisme dengan modifikasi genetik dan obat obatan seperti antibiotika.

Meskipun penelitian sebelumnya ada yang mengatakan bahwa zat kimia yang digunakan dalam pertanian memiliki hubungan dengan penyakit kanker, tetapi para peneliti belum berani menyimpulkan bebasnya makanan organik dari zat kimia merupakan faktor penyebab terjadinya penurunan risiko kanker.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Perancis ini melibatkan responden sebanyak 69.000 orang dewasa. Mereka diminta mengisi kuisioner tentang makanan yang dikonsumsi dalam rentang waktu 3×24 jam terakhir.

Dalam penelitian ini, para peneliti fokus pada 16 jenis makanan organik seperti buah buahan, sayuran, makanan yang berasal dari kedelai, susu, daging dan ikan, telur, gandum dan biji bijian, roti dan sereal, tepung, minyak sayur, makanan siap saji, kopi dan teh, anggur, cookies, cokelat, dan lain lain termasuk suplemen makanan.

Mereka kemudian memberi nilai pada jenis makanan yang dikonsumsi oleh partisipan. Nilai 0 untuk partisipan yang tidak mengonsumsi makanan organik dan nilai 32 untuk partisipan yang mengonsumsi makanan organik dalam jumlah besar.

Baca juga: Benarkah Makanan Pedas Dapat Merusak Lidah?

Setelah dilakukan pengamatan selama 4 sampai 5 tahun semenjak partisipan menjawab kuisioner, partisipan yang menderita kanker berjumlah 1.340 orang. Jenis kanker yang banyak diderita antara lain kanker payudara, kanker prostat, kanker kulit, kanker usus besar dan kanker kelenjar getah bening.

The post Makanan Organik Dapat Turunkan Risiko Kanker appeared first on BlogDokter.

Ini Dampak Buruk Gula Bagi Tubuh Manusia

Gula itu memang manis, tetapi dampak gula bagi tubuh ternyata tidak semanis rasanya. Sudah cukup banyak penelitian yang berhasil membuktikan dampak buruk gula bagi tubuh bila dikonsumsi secara berlebihan. Karena kandungan gula pada makanan kebanyakan tidak terukur maka seseorang yang mengonsumsi makanan yang mengandung gula umumnya tidak menyadari saat gula yang dia konsumsi masuk dalam tahap berlebihan.

Baca juga: Gula Ternyata Berdampak Buruk Terhadap Kesehatan Mental, Ini Alasannya

Berita baiknya, tubuh memiliki mekanisme tertentu yang bisa dijadikan tanda saat asupan gula terlalu banyak. Tanda atau gejala tersebut antara lain:

1. Ketagihan

Meskipun para ahli belum menemui kata sepakat dalam hal gula dapat menimbulkan ketagihan, tetapi tidak sedikit yang berpendapat jika konsumsi gula yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang berkeinginan untuk mengonsumsi gula dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Di dalam otak, gula memiliki kemampuan mempengaruhi reseptor dopamin sehingga menimbulkan efek toleransi, artinya seseorang yang telah dipengaruhi oleh gula akan mencoba untuk mengonsumsi gula dalam jumlah yang lebih banyak untuk bisa memberikan rasa puas.

2. Jerawat dan penuaan dini pada kulit

Makanan yang kaya gula akan dengan cepat dapat menaikan kadar gula darah dan insulin. Kondisi ini juga akan merangsang produksi androgen, kelenjar minyak dan reaksi inflamasi. Akibatnya, jerawat pun akan tumbuh dengan subur. Masuknya gula ke dalam tubuh secara berlebihan juga akan merusak kolagen dan elastin yang terdapat di dalam kulit. Sebagaimana diketahui, kolagen dan elastin adalah protein yang berperanan penting dalam menjaga keremajaan kulit. Kerusakan kolagen dan elastin yang disebabkan oleh gula dapat menyebabkan kulit tampak lebih tua dari yang seharusnya.

3. Nyeri sendi

Ada banyak penelitian yang berhasil menemukan hubungan antara konsumsi gula dengan peningkatan proses inflamasi di dalam tubuh. Salah satu bagian tubuh yang sangat menderita akibat dari proses inflamasi adalah sendi. Itu sebabnya pada mereka yang terlalu banyak mengonsumsi gula kerap mengalami kekakuan pada sendi yang disertai dengan bengkak dan rasa nyeri. Cobalah mengurangi konsumsi gula jika mengalami gejala tersebut.

4. Tekanan darah tinggi

Manisnya minuman bergula tidak selalu manis untuk jantung. Menurut American Heart Association, gula dapat menyebabkan tekanan darah meningkat dan meningkatkan riisko terjadinya penyakit jantung. Perkumpulan dokter ahli jantung Amerika Serikat itu menganjurkan konsumsi gula tidak lebih dari 100 kalori atau 6 sendok teh setiap hari untuk wanita dan tidak lebih dari 150 kalori atau 9 sendok teh setiap hari untuk pria.

5. Masalah pencernaan

Masalah pencernaan yang bisa terjadi saat seseorang mengonsumsi gula secara berlebihan adalah gangguan keseimbangan bakteri di dalam usus. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mayo Clinic, gula yang masuk ke dalam tubuh sangat disukai oleh bakteri jahat sehingga populasi bakteri ini meningkat dengan pesat. Peningkatan populasi bakteri jahat akan menekan populasi bakteri yang baik. Ketidakseimbangan populasi bakteri ini akan mempengaruhi fungsi dari sistem pencernaan sehingga kita menjadi mudah sakit dan terjadi gangguan metabolisme zat gizi. Segera kurangi konsumsi gula bila kerap mengalami masalah pada saluran cerna.

6. Depresi

Konsumsi gula yang berlebihan dapat mempengaruhi mood seseorang. Salah satu gangguan mood yang terjadi adalah peningkatan risiko depresi. Gangguan mood ini diduga karena terjadinya perubahan kadar gula darah yang berlangsung dengan cepat, gangguan regulasi neurotransmitter dan reaksi inflamasi. Sebaliknya bila seseorang mengonsumsi makanan sehat justru kondisi mood akan meningkat. Kesimpulan dari kondisi ini adalah, makanan yang kita konsumsi tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik tetapi juga kesehatan mental.

7. Kerusakan gigi

Kerusakan gigi karena makanan dan minuman bergula kerap dialami oleh anak anak. Meskipun demikian, bukan berarti kerusakan gigi tidak dialami oleh orang dewasa. Setiap makanan atau minuman yang mengandung gula dapat mempemudah terjadinya gigi berlubang. Kondisi ini disebabkan karena tumbuh suburnya bakteri yang dapat menyebabkan lubang pada gigi. Semakin sering dan semakin lama gula yang dikonsumsi berdiam di dalam mulut maka risiko gigi berlubang akan semakin meningkat. Jadi, bila tidak ingin merasakan gigi berlubang, segera batasi konsumsi gula.

8. Peningkatan berat badan

Meningkatkannya berat badan karena kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman bergula sudah barang tentu bukan sesuatu yang aneh lagi. Kalori yang sangat tinggi pada gula dan mudahnya kalori ini masuk ke dalam tubuh menjadi penyebab utama peningkatan berat badan pada mereka yang gemar mengonsumsi gula.

Baca juga: Berapa Kadar Asam Urat, Gula Darah dan Kolesterol Yang Normal?

Itulah 8 gejala atua tanda yang bisa dirasakan saat seseorang mengonsumsi gula secara berlebihan. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari jumlah gula yang dia konsumsi setiap hari terutama bila yang dikonsumsi adalah makanan olahan jadi atau makanan dalam kemasan. Sebagai konsumen yang ingin sehat, sudah sepatutnya kita selalu membaca label kandungan gizi yang terdapat dalam makanan kemasan sehingga kita bisa mengetahui jumlah zat gizi terutama gula yang masuk ke dalam tubuh.

Minuman Berenergi Itu Buruk Loh, Ini Alasannya

Minuman berenergi adalah salah satu minuman yang menjadi favorit kalangan muda. Menurut data di Amerika Serikat, mereka yang suka mengonsumsi minuman berenergi adalah mereka yang berusia antara 18 sampai 34 tahun. Bahkan satu dari tiga orang remaja yang berusia antara 12 sampai 17 tahun, mengonsumsi minuman berenergi secara rutin.

Baca juga: Makanan Minuman Olahahan Berisiko Menyebabkan Kanker

Maraknya konsumsi minuman berenergi salah satunya disebabkan oleh gencarnya promosi yang dilakukan oleh produsen minuman berenergi. Dalam promosinya, mengonsumsi minuman berenergi dikatakan dapat meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan fisik. Di iklanpun produsen minuman berenergi selalu mengasosiasikan peminum minuman berenergi sebagai laki laki yang kuat dan perkasa.

Sayangnya, gambaran minuman berenergi yang disampaikan dalam promosi hanya sebagian kecil dari dampak yang dirasakan oleh mereka yang gemar mengonsumsi minuman ini. Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Public Health, kegemaran mengonsumsi minuman berenergi ternyata memiliki pengaruh terhadap kesehatan mental seseorang.

Berdasarkan bukti bukti yang dikumpulkan dalam penelitian ini, para ahli menarik kesimpulan, konsumsi minuman berenergi secara rutin berhubungan dengan peningkatan risiko masalah mental seperti stress, kecemasan dan depresi. Hubungan antara minuman berenergi dengan kondisi mental seseorang kemungkinan dipengaruhi oleh kadar kafein dan gula yang terdapat dalam minuman berenergi. Sebagaimana diketahui, sebagian besar minuman berenergi yang beredar di pasaran mengandung air, gula, kafein dan beberapa jenis stimulan lainnya.

Ini bukan kali pertama para ahli mendapatkan hubungan antara minuman berenergi dengan peningkatan risiko masalah pada mental seseorang. Sebelumnya, para ahli dari Korea telah mempublikasikan penelitian dalam Nutrition Journal, yang menyimpulkan adanya hubungan antara konsumsi minuman berenergi dengan peningkaran risiko gangguan tidur, stress dan percobaan bunuh diri.

Mereka yang mengonsumsi minuman berenergi lebih sering mengeluh stress, depresi dan ketidakpuasan dalam kualitas tidur. Yang lebih menyeramkan lagi, konsumsi minuman berenergi sangat dekat hubungannya dengan keinginan bunuh diri. Risiko ini semakin meningkat pada mereka yang selain mengonsumsi minuman berenergi, juga mengonsumsi makanan cepat saji.

Baca juga: Hubungan Makanan dan Minuman Dengan Mengompol

Karena target promosi minuman berenergi adalah pada kalangan muda maka penelitian ini difokuskan mencari dampak konsumsi minuman berenergi pada anak anak, remaja dan orang dewasa muda. Karena otak manusia tidak berhenti tumbuh sampai usia 25 tahun maka kelompok usia muda ini sangat rentan mengalami masalah mental saat bahan bahan tertentu masuk tubuh yang memiliki dampak negatif terhadap otak.