Tag Archives: Info Kesehatan

Kabar Gembira!!! Alat Kontrasepsi Pria Berbentuk Gel

Berbicara tentang alat kontrasepsi, perkembangannya terhitung sangat cepat terutama dalam beberapa dekade terakhir. Sayangnya, inovasi dan metode baru kontrasepsi ini

The post Kabar Gembira!!! Alat Kontrasepsi Pria Berbentuk Gel appeared first on BlogDokter.

Kesehatan Mulut Berhubungan Dengan Hipertensi, Baik Atau Buruk?

Penderita hipertensi yang kesehatan gigi dan mulutnya buruk ternyata lebih susah untuk mengendalikan tekanan darahnya. Demikian kesimpulan penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Hypertension.

Baca juga: Inilah 7 Cara Menyembuhkan Sakit Gigi dengan Mudah

Diantara penderita hipertensi yang menjalani pengobatan dengan obat obatan anti hipertensi, mereka yang menderita penyakit gusi rata rata memiliki tekanan darah yang lebih tinggi 2 sampai 3 mmHg bila dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita penyakit gusi. Penderita hipertensi yang juga menderita penyakit gusi memiliki respon yang lebih rendah terhadap obat obatan anti hipertensi.

Penelitian sebelumnya telah banyak menyimpulkan hubungan antara buruknya kesehatan mulut dengan peningkatan risiko menderita penyakit kardiovaskuler, diabetes, stroke dan kegemukan. Hubungan yang tidak baik ini ujung ujungnya akan meningkatkan risiko kematian.

Yang baru dari penelitian ini adalah penyakit gusi ternyata berhubungan dengan efektivitas dari pengobatan pada pasien pasien hipertensi.

Pada penelitian ini, peneliti menganalisa data dari survei tahunan U.S. National Health and Nutrition Examination, yang diselenggarakan dari tahun 2009 sampai dengan 2014. Mereka yang dipilih dalam penelitian ini adalah yang berusia di atas 30 tahun, menderita hipertensi dan rutin menjalani pemeriksaan gigi. Dari syarat tersebut didapatkan responden penelitian sebanyak 4.086 orang. Responden yang sedang minum obat anti hipertensi sebanyak 3.626 orang, sedangkan yang tidak minum obat anti hipertensi sebanyak 460 orang.

Berdasarkan hasil pemeriksaan gigi, sekitar 52 responden menderita penyakit gusi (periodontitis). Sebagian besar dari penyakit gusi yang diderita adalah penyakit gusi tingkat sedang. Hanya 3 persen yang menderita penyakit gusi ringan dan 12 persen yang menderita penyakit gusi berat.

Berdasarkan catatan peneliti, tekanan darah sistolik rata rata meningkat seiring dengan dengan memberatnya penyakit gusi yang diderita.

Kesimpulan dari penelitian ini, penderita hipertensi akan mengalami kesulitan dalam mengelola tekanan darahnya menggunakan obat obatan anti hipertensi bila di saat yang sama dia juga menderita penyakit gusi.

Baca juga: 5 Penyebab Sakit Gigi dan Cara Mengobatinya

Periodontitis adalah penyakit infeksi pada gusi yang ditandai dengan kerusakan pada jaringan lunak dan penyangga gigi. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab paling sering dari tanggalnya gigi sehingga perlu segera diobati. Penderita periodontitis kebanyakan berasal dari mereka yang berusia remaja.

The post Kesehatan Mulut Berhubungan Dengan Hipertensi, Baik Atau Buruk? appeared first on BlogDokter.

Menyeramkan, Otak Mengecil Karena Stress

Sebuah penelitian terbaru menyimpulkan, orang yang kadar hormon stress-nya tinggi, cenderung memiliki ukuran otak yang lebih kecil.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology ini melaporkan, orang yang kadar hormon kortisol di dalam darahnya rata rata tinggi memiliki ukuran otak yang lebih kecil dan mengalami penurunan kemampuan mengingat. Sebagaimana diketahui, hormon kortisol juga kerap disebut sebagai hormon stress.

Baca juga: 5 Cara Sederhana Mengatasi Stress

Hasil penelitian yang cukup menyeramkan ini ternyata mengundang reaksi beragam dari para ahli. Sebagian dari mereka mengatakan, kesimpulan pengecilan otak yang diakibatkan oleh stress itu terlalu prematur. Penelitian ini hanya memberikan kesimpulan berupa hubungan antara A dan B. Penelitian ini tidak berhasil membuktikan adanya hubungan sebab akibat antara keduanya.

Ahli yang lain menyebut hasil penelitian ini sebagai sesuatu yang menarik, mengingat kortisol sudah dikenal luas sebagai penyebab dari berbagai masalah yang terjadi di dalam tubuh. Dikatakan, kortisol yang selama ini dikenal hanya puncak dari gunung es. Ada banyak masalah kortisol lainnya yang belum terungkap.

Kortisol adalah hormon yang dihasilkan tubuh sebagai reaksi terhadap berbagai macam stressor, seperti kejadian yang tiba tiba, stress psikologis dan inflamasi kronis. Ini bukan kali pertama para ahli menghubungkan antara kortisol dengan perubahan pada otak. Penelitian sebelumnya juga menemukan hubungan antara peningkatan kadar kortisol dengan mengecilnya beberapa bagian otak, seperti bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pengolahan memori.

Mengecilnya otak merupakan tanda terjadinya masalah neurologis atau masalah kognitif. Meskipun pengecilan otak tidak selalu diartikan sebagai matinya sel otak, tetapi mengecilnya otak dapat menyebabkan menurunnya sistem pendukung dari sel sel otak. Akibatnya tentu saja fungsi otak menjadi terganggu.

Sel sel otak sangat membutuhkan sistem pendukung yang baik agar bisa bekerja optimal. Sistem pendukung tersebut antara lain aliran zat gizi yang cukup termasuk. Pengecilan otak menyebabkan aliran zat gizi ini terganggu sehingga kemampuan otak mengolah informasi juga menjadi tidak maksimal.

Baca juga: Makan Cokelat Dapat Meredakan Stress, Begini Caranya

Hasil penelitian ini memang belum berhasil membuktikan adanya hubungan sebab akibat, tetapi tidak ada salahnya dijadikan pedoman dalam menjaga kesehatan otak. Salah satunya adalah belajar mengendalikan stress sehingga stress tersebut tidak sampai menganggu kesehatan, termasuk kesehatan otak.

The post Menyeramkan, Otak Mengecil Karena Stress appeared first on BlogDokter.

Makanan Organik Dapat Turunkan Risiko Kanker

Rutin mengonsumsi makanan organik dapat menurunkan risiko beberapa jenis kanker, demikian kesimpulan sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli dari Perancis.

Baca juga: Organisasi Ini Akhirnya Menyatakan Pewarna Makanan Berbahaya Bagi Anak Anak

Penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine ini membandingkan antara mereka yang rutin mengonsumsi makanan organik dengan mereka yang jarang mengonsumsinya. Hasilnya, mereka yang mengonsumsi makanan organik memiliki risiko 25% lebih rendah menderita kanker dibandingkan dengan mereka yang jarang mengonsumsi makanan organik. Secara absolut, penurunan risikonya mencapai 0,6%.

Untuk tetap sehat, manusia membutuhkan makanan yang sehat dan bergizi baik yang berasal dari pertanian organik maupun konvensional. Makanan sehat dan bergizi ditambah dengan aktivitas fisik yang cukup merupakan faktor protektif tubuh dari serangan sel sel kanker dan penyakit lainnya.

Penelitian yang sifatnya pengamatan seperti ini memang tidak berhasil membuktikan makanan organik sebagai penyebab menurunnya risiko kanker, tetapi penelitian ini sedikitnya bisa memberi gambaran tentang peranan makanan organik dalam menurunkan risiko kanker.

Sebagaimana kita ketahui, standar makanan organik melarang penggunaan pupuk sintetis, pestisida, organisme dengan modifikasi genetik dan obat obatan seperti antibiotika.

Meskipun penelitian sebelumnya ada yang mengatakan bahwa zat kimia yang digunakan dalam pertanian memiliki hubungan dengan penyakit kanker, tetapi para peneliti belum berani menyimpulkan bebasnya makanan organik dari zat kimia merupakan faktor penyebab terjadinya penurunan risiko kanker.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Perancis ini melibatkan responden sebanyak 69.000 orang dewasa. Mereka diminta mengisi kuisioner tentang makanan yang dikonsumsi dalam rentang waktu 3×24 jam terakhir.

Dalam penelitian ini, para peneliti fokus pada 16 jenis makanan organik seperti buah buahan, sayuran, makanan yang berasal dari kedelai, susu, daging dan ikan, telur, gandum dan biji bijian, roti dan sereal, tepung, minyak sayur, makanan siap saji, kopi dan teh, anggur, cookies, cokelat, dan lain lain termasuk suplemen makanan.

Mereka kemudian memberi nilai pada jenis makanan yang dikonsumsi oleh partisipan. Nilai 0 untuk partisipan yang tidak mengonsumsi makanan organik dan nilai 32 untuk partisipan yang mengonsumsi makanan organik dalam jumlah besar.

Baca juga: Benarkah Makanan Pedas Dapat Merusak Lidah?

Setelah dilakukan pengamatan selama 4 sampai 5 tahun semenjak partisipan menjawab kuisioner, partisipan yang menderita kanker berjumlah 1.340 orang. Jenis kanker yang banyak diderita antara lain kanker payudara, kanker prostat, kanker kulit, kanker usus besar dan kanker kelenjar getah bening.

The post Makanan Organik Dapat Turunkan Risiko Kanker appeared first on BlogDokter.