Tag Archives: Indonesian

Yuk Intip Aksi Lipooz Kenalkan HipHop di Bali



*Diunggah di website Musiklik.com pada 20 Desember 2016. Website tersebut untuk sementara sedang beristirahat dengan tidak tenang. Hiks T.T


Untuk orang-orang awam, ia bukan sosok luar biasa. Untuk kalangan tertentu, Lipooz menghunus mata dan hati, juga pikiran. Kekuatannya terletak pada rima yang berirama dari mulutnya seiring tempo dan musik yang membisik.

Lipooz atau lengkapnya Philipus R.I. Ngadut (RI itu bukan Republik Indonesia meskipun dia cinta mati dengan NKRI) adalah seorang pria asal Ruteng – Flores yang memilih menekuni Hiphop sejak tahun 2002 di Surabaya hingga kini berdomisili di Denpasar, Bali.

Musik merupakan pilihan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain. "Rap mampu bercerita tentang sesuatu secara detail karena panjangnya durasi lirik pada rap jika dibandingkan dengan genre musik lain yang liriknya cuma sepenggal dan diulang-ulang," ungkapnya saat ditemui Musiklik.com, (16/12).

Sampai dengan saat ini Lipooz sudah mengeluarkan dua album hip hop, Words = Power (2005), One Man Army (2007), juga belasan single track, baik solo maupun juga berkolaborasi dengan rapper-rapper dari berbagai kota di Indonesia. Tema yang sering diangkat dalam lagu-lagu Lipooz adalah tentang keseharian, cinta, kampung halaman-kota kelahiran dan self pride menjadi kebanggaan diri bagaimana hebatnya seorang MC memainkan kata-kata.

Pada 2013, Lipooz memutuskan hijrah ke Bali dan bertemu dengan teman-teman pelaku hiphop Bali yang sebelumnya cuma dikenal melalui sosial media. "Saya betah di Bali karena budayanya, keramahan orang-orangnya, alamnya yang luar biasa, serta kebebasan berpikir untuk menerjemahkan seni," ungkap Lipooz, MC-rapper di salah satu klub ternama di Denpasar

Lipooz cukup sering tampil di beberapa tempat di Denpasar untuk mengisi acara-acara tertentu. Bagi Lipooz, teman-teman hiphop di Bali tidak hanya mencakup rap, tetapi juga dance dan breakdance. Masing-masing mereka sudah sangat ahli pada profesinya sehingga ketika diminta untuk bergabung dan perform bersama mereka di acara komunitas Hiphop Bali/Dewata Hiphop, ia mengaku dengan senang hati meluangkan waktu untuk terlibat.

Untuk terus menjaga semangat hiphop, Lipooz tengah sibuk dengan sebuah proyek yang ia beri nama 16BAR.

Tentang itu bisa klik di sini: www.youtube.com/lipooz




Apakah Musiklikers  menyukai musik dengan aliran Hip Hop? Yah, tidak semua orang mengenali genre musik ini. Bukan hanya di Bali, tapi hampir di semua kota di Indonesia, musik Hip Hop adalah musik minoritas, karena masyarakat Indonesia didominasi oleh pendengar musik bernyanyi bukan pendengar musik berbicara (Rap).

Demikian ungkap Lipooz, jadi orang-orang lebih suka musik yang berharmoni dan vokal yang bernada daripada mendengarkan manusia ngomel-ngomel pakai rima dan nada, lanjutnya pada sesi wawancara bersama Musiklik.com (16/12).

Adapun 16BAR adalah sebuah Hip Hop web seri yang digarap Lipooz dengan melibatkan teman-teman rapper di berbagai penjuru Indonesia.

Proyek ini cukup merepresentasikan musik Hip Hop Indonesia saat ini. Alurnya seperti berikut, Lipooz akan menyediakan instrumental hiphop yang kemudian dieksekusi oleh rapper berbeda di setiap episodenya. Instrumen tersebut dibuat dengan alat musik dan perlengkapan seadanya langsung dari ruang kerja sekaligus kamar tinggal Lipooz di Denpasar. Itu kemudian dikirim kepada teman-teman rapper yang berniat mengeksekusi lirik sesuai instrumen.

Proyek ini terbilang masih belia karena baru berjalan empat bulan terakhir. Melalui 16BAR Lipooz sesungguhnya ingin mempromosikan teman-teman yang menggandrungi Hip Hop dan terkendala oleh berbagai macam hal. Proyek ini diharapkan dapat mewadahi musisi hiphop baik di pelosok maupun ibu kota yang memiliki kualitas Rap namun jarang diperhatikan.

 Ke depannya Lipooz berharap dapat menggandeng rapper-rapper Bali dan mengolaborasikan musik tradisional maupun juga bahasa Bali ke dalam Hip Hop yang ia garap.

Apalagi Hip Hop menurut Lipooz merupakan satu-satunya genre musik yang bisa dikombinasikan dengan musik dan budaya apapun, karena Hip Hop sendiri adalah sebuah budaya, bukan terbatas pada musik saja. Thumbs Up!



Penulis : Maria Pankratia
Editor : Luh De Dwi Jayanthi
Foto : Dokumentasi Lipooz
Caption : Lipooz Performance


MUSIK, LIPOOZ, HIP HOP, BALI, RAPPER, INDIE MUSIC, INDONESIA, 16BAR

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. I]



*Setelah kesabaran ini terkuras habis, sampai benar-benar kering!


Jika foto yang terlampir kurang jelas, kamu bisa meng-kliknya dua kali untuk melihat lebih jelas. Danke.


Judulnya mungkin hanya mengundang clickbait, akan tetapi sekali lagi, jangan terkecoh judul, baca ini sampai selesai.

Tahun ini, untuk kedua kalinya saya kembali ke Ende untuk menyelesaikan urusan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) yang terkenal menguras waktu, tenaga dan pikiran itu. 

Sebelumnya, di tahun 2012 berdasarkan himbauan Pemerintah dengan Program kerennya tersebut, saya sudah terlibat dalam antrian rekaman segala jenis kebutuhan untuk mendapatkan Kartu Identitas Warga Negara Indonesia ini di Gedung Rektorat Universitas Udayana, Denpasar. 

Tahun 2013, saya kembali ke Ende, untuk mengambil E-KTP di Kantor Camat dari mana saya berasal. KTP tersebut BELUM ADA. Alasannya, belum dikirim dari Pusat. 

Ibu saya, dengan upayanya, membuatkan KTP sementara, yang hingga saat ini masih saya pakai. KTP sementara tersebut akan berakhir pada Hari Ulang Tahun saya tahun depan, 2019.

Tahun 2016, saya kembali, mendatangi kembali Kantor Camat Ende Tengah, menanyakan keberadaan E-KTP saya yang seperti anak hilang, belum menemukan juga siapa pemiliknya. 

Sementara itu, desas-desus Korupsi E-KTP mulai tersebar, saya tentu cemas. Jangan-jangan anak hilang tersebut, benar-benar tak pernah ada, dia hanya pernah dibuahi di Denpasar, lalu keguguran begitu saja dan hilang, tak pernah mengalami kelahiran (ini kenapa saya jadi semacam Ibu-ibu putus asa karena Aborsi tanpa rencana).

26 September 2016, saya diminta datang kembali ke Kantor Camat Ende Tengah di Jl. Melati, saya dianjurkan melakukan perekaman ulang, mulai dari Kornea Mata, Pas Foto (saya ingat, foto saya bagus sekali waktu itu, pakai baju biru berkerah dan rapi dengan latar merah karena saya lahir di tahun ganjil. ugh) dan menyerahkan segala berkas yang dibutuhkan. 

Akhir dari proses tersebut, saya diberikan secarik kertas, sebagai bukti untuk pengambilan hasil jadi E-KTP di Kantor Dinas Kependudukan Kabupaten Ende, satu bulan lagi. 26 Oktober 2016. (Saya memostingnya di Facebook saat itu, berikut fotonya).


Ketika itu, urusan kuliah dan pekerjaan di Denpasar, tidak bisa saya tinggalkan, saya tidak punya waktu sebulan lagi untuk menunggu sampai E-KTP ini jadi, maka dari itu, saya menitipkannya pada Bapak untuk mengambilnya. 

Hal ini sudah saya konsultasikan dengan Pegawai di Kantor Camat, dan berdasarkan informasi tersebut, tidak masalah jika bukan Yang Bersangkutan yang mengambil, selama bukti pengambilan tersebut dibawa serta. 

Oke Fix, saya kembali ke Denpasar dan menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada Bapak.

27 Oktober 2016, saya menelpon ke rumah, menanyakan kepada Bapak, sudah sempatkah bersilaturahmi ke DISPENDUK? Beliau menjawab: “Sudah Ine, tetapi mereka bilang, KTPnya belum ada. Tunggu satu bulan lagi.” 

Demikian terjadi, satu bulan sekali Bapak ke DISPENDUK membawa serta kertas bukti sampai HARI INI, 26 Juni 2018. Setelah 1 Tahun, 8 Bulan. Kurang 4 bulan lagi, DUA TAHUN! 

Kertas bukti tersebut, akhirnya lecek seperti gambar di bawah ini, dan E-KTP yang tersayang hanya sejauh angan-angan.



Siang ini, saya ke Kantor DISPENDUK. Saya menemukan ada banyak sekali orang yang mengantri dan hiruk-pikuk ke kiri dan ke kanan, di luar matahari bersinar cerah, panasnya menembusi segala macam sendi dan sum-sum tulang belakang. Dibikin sup, enak kali yah. Hadeh… 

Kemudian saya teringat, ini 26 Juni 2018, sehari sebelum PILKADA dilakukan serentak di seluru Indonesia. Mariaaaaaa…hahahahaha. Puji Tuhan, saya belum ada niat mengikuti Pesta Rakyat tiputapu ini, jadi bagi saya, ini bukan masalah yang cukup mendesak.

Saya melemparkan pandangan ke sekitar, dan menemukan satu ruangan dengan sebuah Tulisan di depannya “Kartu Keluarga” (Nah, ini cerita lain yang juga konyol, setelah ini, kalian bisa menyimak cerita tersebut). 

Saya punya urusan untuk ini juga, saya menuju ke ruangan ini, dan berhenti tepat di depan pintunya karena ada banyak Kertas Pengumuman yang menempel. Berikut, kertas-kertas Pemberitahuan tersebut:



Perhatikan Pemberitahuan pertama, kesalahan saya yang pertama, SALAH KOSTUM. 

Hahahahaha… Saya pakai kemeja dan celana pendek, sandal pulak. Saya tertawa, saat membaca bagian ini, dan dua orang pemuda plus satu pemudi di samping saya berbicara menggunakan bahasa Ende tentang kekonyolan saya ini. 

Mereka pikir, saya orang asing dari mana datang sehingga tidak mengerti mereka omong apa. Sorry Gaes, aku nantang mata kamu yah, tetapi kamu malah lihat ke tempat lain. Kan kita bisa ngobrol. Wew. 

Kesalahan kedua, yah saya sadari sejak dari rumah, sesiang ini saya berkunjung ke Kantor Pemerintahan untuk mengurus hal semacam ini, saya hanya akan disembur omelan dan berbagai alasan yang justru menyerang balik saya (boomerang keto kone).



Pemberitahuan yang kedua, perhatikan dengan seksama. Saya hampir saja melepas tawa berkepanjangan yang mungkin bisa jadi mengejutkan semua orang yang ada di dalam maupun juga di halaman kantor DISPENDUK ini. 

WHAT THE FUCK kan?! Setelah kau menyiapkan waktu dan tenaga, jauh-jauh datang kembali, memastikan bahwa kau tidak keguguran lagi #eh hahahahahaha kau malah menemukan Pengumuman Sial seperti ini. 

Untuk waktu yang tidak tentu, Hep! Mereka akan mengumumkannya melalui media yang tersedia, jika semua sudah kembali normal. Itu kaya Pacaran, terus pasangan minta break dan gak jelas sampai kapan. Mo cari gebetan lain, ntar dibilang selingkuh. Kan an**ng! Ini sudah semakin ke mana-mana..bah!




Dan Pemberitahuan yang ketiga, hal sial lain yang terjadi pada saya, tepat di poin pertama! 

03 Januari 2018 yang lalu, adik saya mengurus ulang Kartu Keluarga di kantor ini juga. Ia membutuhkan lembar asli dengan tanda tangan basah Kepala Dinas Kependudukan dan Capil Kabupaten Ende demi mengurus satu dan lain hal. 

Karena lembar asli di rumah sudah lama hilang, maka ia harus ke Polres Ende, mengurus surat keterangan kehilangan dan meminta pihak DISPENDUK untuk membuat ulang. 

Ia mengaku bahwa sudah mengikutsertakan lembaran KK yang lama, yang jelas-jelas ada NAMA SAYA tertera di situ sebagai ANAK PERTAMA. And I don’t know what the hell is going on with those people, di lembar Kartu Keluarga baru tersebut TIDAK ADA NAMA SAYA. 




Seketika saya lenyap dan tidak diakui sebagai anak sulung dari kedua orang tua saya. 

ILEGAL DONG GUE? 

E-KTP gak jadi-jadi, sekarang nama juga taka da di KARTU KELUARGA. Terus, aku kudu ngere emba?!!!

Fyuh...


Hari ini, saya membutuhkan satu botol arak dan setidaknya potongan daging babi asap dengan campuran lombok yang banyak, sertakan bijinya sekaligus, biar mabok sepuasnya. 

Sesetia apa pun kamu pada tanah airmu, kamu akan lebih sering dikecewakan, karena begitulah hidup mengajarkanmu kesabaran dan ketegaran. Bakbi sekali! Mbingu betul! Arghhhhhh….

Surga Tersembunyi Lakolat di Maidang



"Lakolat"
Sudah pernah ke Sumba? Atau paling tidak, pernah mendengar tentang SUMBA? Sebuah pulau dengan bentangan Padang Sabana yang maha luas di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang gencar wisatawan, baik lokal maupun internasional yang mengatur perjalanan ke SUMBA. Sebagian besar pengunjung tertarik akan bukit-bukit sabananya, juga pantai-pantai di Sumba yang luar biasa eksotis, sebagiannya lagi ingin berburu tenun ikat Sumba yang memang terkenal unik.

Padahal selain padang rumput yang luas, pantai dan tenun ikat, ada banyak surga tersembunyi lain yang bisa kita temukan di Sumba, yang belum diketahui banyak orang dan sama sekali belum terjamah. Tentu saja dibutuhkan kesabaran dan tenaga yang mumpuni serta waktu yang memadahi, sebab jika kita ingin pergi ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi orang lain, atau masih jarang diketahui banyak orang, ada banyak tantangan dan hal baru yang akan kita temukan. Selain itu, jika ke Sumba, tak cukup waktu tiga atau empat hari saja. Minimal satu minggu dan maksimal satu bulan untuk berkeliling mendatangi semua tempat indah tersebut.

Pada tulisan saya kali ini, saya akan merekomendasikan sebuah tempat yang menentramkan hati, sangat jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Masih begitu alami dan cocok untuk kalian yang gemar bermain air sembari berkhayal, berendam sampai lama untuk mencari inspirasi atau mencoba hal menantang seperti terjun ke dalam air dari ketinggian. Nama tempat tersebut adalah “Air Terjun Lakolat”

Keheningan di Lakolat

Air Terjun Lakolat terletak di Desa Maidang, Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang, Kabupaten Sumba Timur. Apabila kalian datang dari luar Pulau Sumba, kalian dapat menggunakan Penerbangan menuju Bandara Umbu Mehang Kunda di Kota Waingapu. Sudah ada beberapa penerbangan yang melayani rute menuju Ibu Kota Sumba Timur tersebut. Nah, zaman sekarang tidak perlu susah-susah kalau mau cek jadwal penerbangan atau maskapai apa yang memiliki rute ke Indonesia bagian Timur, Khususnya Kupang atau Waingapu. Kalian bisa gunakan layanan aplikasi online tiket.com yang selengkapnya bisa kalian klik di sini: @tiket.com (Twitter: @tiket dan Instagram: @tiket.com ).


Jalan menuju Lakolat
dua gambar atas, dari Rumah Kepala Desa Maidang || dua gambar bawah, dari SDN Lumbung

Jarak dari Waingapu menuju Desa Maidang, tempat Air Terjun Lakolat berada, dapat ditempuh selama kurang lebih dua (2) jam menggunakan mobil atau sepeda motor. Sebagaimana jalanan di Nusa Tenggara yang selalu membelah bukit, mengulari lembah, begitu pula perjalanan ke Pelosok Utara Sumba Timur ini. Kita akan melalui jalan yang berkelok-kelok tetapi menjadi puas sebab sepanjang jalan terpampang pemandangan yang menakjubkan.

Tiba di Desa Maidang, kita bisa memulai rute trackingyang cukup menantang. Yah, belum ada jalan yang bisa dilalui kendaraan langsung menuju Air Terjun Lakolat. Kita akan melewati turunan tangga tanah, menyebrangi aliran sungai yang cukup deras, hutan dan juga ladang masyarakat setempat. Semua itu akan setimpal dengan Pemandangan yang disuguhkan setelah tiba di tempat tujuan.

Hutan menuju Lakolat

Pemandangan dalam perjalanan menuju Lakolat
Saat tiba di pintu masuk, kita akan disambut barisan pepohonan bambu dan lagi-lagi tangga menurun dari tanah. Terus ke bawah , menuju areal sungai, di sisi kiri, ada sebidang tanah yang cukup lapang yang dapat digunakan untuk berkemah atau piknik bersama keluarga dan teman-teman.

Sisi Kiri Lakolat, tempat kita bisa duduk bersantai dan bercengkrama

Suasana Lakolat pada sore hari ketika matahari beranjak turun
Berada di sini, kita seolah-olah terlempar ke Negeri para peri atau dunia dongeng anak-anak. Di mana hanya terdengar gemericik air yang mengalir, ceruk-ceruk batu alam yang membentuk kolam pemandian alami, suara kicau burung dan desau angin di pucuk pepohonan.

Ketika sore tiba, pantulan sinar matahari di atas bebatuan dan air, akan menambah kesan indah lainnya dari Air Terjun Lakolat. Kenangan tersebut masih membekas di kepala saya hingga saat ini.

Ceruk Batu Lakolat

Pemandangan dari atas bebatuan di Lakolat

Pada akhir bulan Agustus 2016 yang lalu, saya bersama teman-teman Gabungan Mahasiswa Sumba Timur (GAMASTIM) di Bali, melakukan sebuah kegiatan sosial yang kami beri judul “1000 Buku Untuk Sumba”. Kegiatan tersebut di laksanakan di SD Negeri Lumbung. Salah satu Sekolah Dasar yang menampung para Siswa/I dari tiga desa di Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang. Sekolah ini masih bertahan tanpa Listrik, para siswa/inya pun kadang tidak bersepatu dan berseragam lengkap saat ke sekolah. Selain membagikan Buku dan Alat tulis, kami menyempatkan diri mengadakan kelas inspirasi bersama 73 Siswa/I di SDN Lumbung saat itu. Selengkapnya tentang kegiatan ini bisa dibaca di: Maiwa La Humba Setelah kegiatan tersebut, kami menyempatkan diri, menghabiskan sisa waktu di Air Terjun Lakolat, sebelum malam tiba dan membawa kami kembali ke Waingapu. Foto-foto yang diunggah di tulisan ini merupakan dokumentasi perjalanan tahun lalu yang sebagian belum sempat saya unggah karena menunggu waktu yang tepat.

Kegiatan bersama GAMASTIM BALI di SDN Lumbung (Agustus 2016)
Foto Bersama GAMASTIM BALI di Lakolat

Adalah pengalaman yang luar biasa menyenangkan dan jelas tidak terlupakan. Saya berharap dapat kembali lagi ke SDN Lumbung dan Air Terjun Lakolat, untuk sekedar bernostalgia maupun juga menikmati kebesaran Tuhan melalui Alam Raya yang indah ini. Satu hal, jika kalian ke sini, JANGAN MENINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK DAN KENANGAN! Sesungguhnya, Wisata Dunia, semuanya ada di Indonesia.

***

PS. Ada satu pertanyaan penting yang masih saya simpan hingga saat ini, apa sebenarnya makna harafiah dari Lakolat dan mengapa air terjun tersebut diberi nama Lakolat?

Saya tidak sempat menanyakan pada penduduk setempat saat itu. Mungkin ini akan menjadi agenda pada perjalanan saya selanjutnya. Terima Kasih sudah membaca sampai selesai ^^


Saya :)




Taman Bung Karno Ende – Saran untuk pengembangan



Akhirnya!!!

*Jika ingin melihat gambar lebih jelas, bisa double klik pada gambar. Thanks




Saran saya ini sempat saya sampaikan ketika saya ngomel-ngomel di postingan Generasi Bangsa Ini, Diajarkan Untuk Lupa kemarin. Berikut saya uraikan lebih rinci;

Pintu depan: Ada Petugas jaga/Piket yang bekerja beberapa shift (bergantian), Pagi-Siang-Sore-Malam. Petugas-petugas ini juga bertanggung jawab atas Keamanan Lingkungan Taman setiap hari termasuk Security Check. Pengunjung DILARANG membawa spidol,pilox, atau alat-alat lainnya yang memiliki potensi Vandalisme ke dalam taman.

Di pintu depan disiapkan Katalog yang bisa dibagikan ke pengunjung saat akan masuk ke taman sebagai penunjang informasi selain juga PAPAN INFORMASI yang bisa disediakan di sudut tertentu dari taman. Informasi bisa berupa “Kenapa Taman Bung Karno dibangun?” // “Cerita tentang Proses Pembangunan hingga Peresmian” // “Sejarah Bung Karno di Ende” // “Pohon Sukun dan Falsafah Pancasila” // ini salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengedukasi masyarakat supaya punya rasa bangga dan kepedulian lebih terhadap Taman.

Patung: Sebaiknya Lokasi Patung tidak diakses leluasa oleh pengunjung, dipagari rapi lalu diberi tulisan “PENGUNJUNG DILARANG NAIK DAN DUDUK DEKAT/DI ATAS PATUNG.” Ini terkesan keras atau mungkin norak tetapi juga mengajarkan pengunjung supaya tidak terlalu kurang ajar karena beberapa pengunjung yang ceroboh malah membuat Patung Bung Karno itu tidak memiliki wibawa sama sekali sebagai Tokoh Proklamator dan Presiden Pertama Indonesia.

Kolam airnya mohon dijaga supaya selalu berisi air, tidak kering. Karena memang begitu fungsinya, menambah keindahan dengan pantulan bayangan patung tersebut ke air (menurut saya sih).

Petugas Kebersihan: Daun-daun yang jatuh dari pohon itu tidak masalah, itu bisa dibersihkan sesekali tetapi sampah plastik atau bekas makanan yang dibuang sembarangan pengunjung itu kadang mengganggu sekali padahal sudah disediakan tempat sampah di titik tertentu. Kita harus menerima kenyataan, masyarakat kita belum begitu paham tentang “Membuang Sampah Pada Tempatnya” sehingga harus dibutuhkan pekerja extra sampai waktu yang tidak ditentukan. Petugasnya usahakan yang memang talentanya di situ, bukan yang terima gaji buta wkwkwkw…

TOILET: Belum ada toilet di Taman Bung Karno (Atau sudah ada, cuma saya yang kurang perhatikan)

Seperti di atas dulu untuk sementara, kalau seiring waktu ada yang nyasar di kepala saya dan belum terlambat untuk disampaikan, saya akan berkabar. Hm..Kalau tambahan petugas itu dirasa akan menguras banyak biaya demi menggaji mereka, pengunjung mungkin bisa dikenakan biaya retribusi masuk yang “masuk akal” untuk mengimbangi hal tersebut.

Demikian~


Ini Bukan Jessica dan Sianida, Ini Jualan Manusia



*Balebengong.net terbit 28 Oktober 2016 #CitizenJournalismAward








Mandi pagi saya ini tiba-tiba terputus. Saya jeda karena pertanyaan ini muncul tiba-tiba di kepala. Kenapa saya harus mandi? Kenapa manusia disarankan mandi dua kali sehari? Sejak kapan hal ini berlaku seperti aturan tidak tertulis di dunia? Siapa menganjurkan perihal ini?
Banyak hal yang manusia lakukan di dunia ini tanpa dipikirkan terlebih dahulu hanya karena memang sudah seperti itu yang berlaku dalam kehidupan. Kenapa kita tidak pertanyakan hal-hal yang katanya sederhana itu? Mengapa harus begini, mengapa harus begitu.
Sesekali ada yang bertanya dan akan dijawab sekenanya saja, khususnya oleh para tetua kita: Yah memang sudah harus begitu. Jangan banyak tanya, lakukan saja. Cerewet!
Dalam karyanya Essay Concerning Human Understanding, John Locke mencoba menjawab persoalan dari manakah asal ide dan pengetahuan kita, apa yang mampu kita ketahui, sejauh mana pengetahuan kita memiliki kepastian? Kapan kita dibenarkan berpegang pada pendirian yang didasarkan pada ide kita?
Penelitian semacam ini menjadi penting karena kita akan mengetahui kekuatan dan batas pikiran manusia. Dengan demikian, “pikiran manusia yang sibuk” akan membatasi diri pada pembahasan masalah-masalah yang sebenarnya memang dapat diolah. Dia akan “duduk dengan tenang membiarkan tidak mengerti” hal-hal yang di luar jangkauan kemampuannya.
Begitu banyak hal di sekitar kita yang berpendar seperti cahaya. Saya yakin semuanya penting untuk dipikirkan. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak ingin susah-susah memahaminya karena tidak ingin, bukan tidak mampu. Sebab semua manusia terlahir jenius. Kasarnya, tidak tertarik karena tidak menarik.

Human Trafficking
Seperti Human Trafficking. Kasus yang sedang marak diberitakan ini mungkin sudah menjadi perhatian publik nasional. Namun, nasional di sini tidak berarti semua manusia Indonesia paham dan mau terlibat memikirkannya. Tulisan ini dibikin dengan tujuan menarik perhatian banyak orang sehingga kesadaran dapat muncul. Lalu, makin banyak yang mulai berpikir tentang hal ini. Lebih bagus lagi apabila memutuskan membantu dengan cara masing-masing.
Human Trafficking, pengertiannya yang paling umum, termaktub dalam UU NKRI No. 21 tahun 2007. Di sana tersurat, “Yang dimaksudkan dengan perdagangandalam manusia adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan dengan memanfaatkan posisi rentan, penjeratan uang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam daerah dan di luar daerah maupun antarnegara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.”
Praktiknya; menemukan manusia dari mana saja yang bisa dikendalikan sebagaimana sapi perah karena seseorang merasa sudah menyerahkan sejumlah uang atau barang sebagai kompensasi. Manusia yang “terbeli” itu dapat diperlakukan sesukanya. Tak jauh beda dengan perbudakan, menurut ngana?
Perlu kita ketahui juga bahwa kebutuhan akan tenaga kerja manusia ini tidak hanya datang dari luar Indonesia seperti Malaysia dan Hongkong. Justru di dalam negeri banyak tenaga kerja seperti pekerja rumah tangga (PRT) dan baby sitteryang didatangkan dari pelosok daerah demi memenuhi permintaan pasar.
Saya pernah menemukan iklan lowongan pekerja rumah tangga di Bali Advertiser. Saya lupa edisi ke berapa pada 2012. Saya pernah memostingnya di Facebook. Iklan itu berisi special request pada baris terakhir “Diprioritaskan yang berasal dari Sumba.” Ini fenomena menarik. Bahwa hari-hari ini, karakter manusia juga menentukan derajat dan kualitas suku atau etnis tertentu sehingga membentuk pasar yang cukup signifikan.
Saya sendiri sangsi, para tenaga kerja yang masih berada di ruang lingkup seputar Indonesia ini apakah mendapatkan hak sesuai  kewajiban yang sudah mereka jalankan atau belum. Di akhir Mei 2016, saya diberi kesempatan mengecap pengalaman ini bersama pengurus Ikatan Keluarga Besar Flores, Paguyuban Flobamora di Bali.
Pada kasus ini, ada 29 orang perempuan yang dicegah keberangkatannya ke Jakarta di Bandara Ngurah Rai, Bali. Beberapa orang yang saya wawancarai berusia masih di bawah 20 tahun. IKB Flobamora Bali dihubungi sejumlah pihak di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) baik itu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar membantu membatalkan keberangkatan nona-nona Sumba ini.
Pasalnya pola-pola memberangkatkan tenaga kerja tanpa identitas sering terjadi dan merupakan salah satu modus penjualan manusia (human trafficking). Sebagian besar berangkat dengan dokumen yang baru saja diurus seminggu sebelumnya. Bahkan ada keterangan usia yang tidak sesuai antara KTP, Surat Permandian dan Ijazah. Mereka mengaku akan dipekerjakan sebagai PRT, baby sitter dan merawat orang jompo. Gaji yang dijanjikan pun bervariasi. Tidak semuanya mendapatkan informasi sama dari agen yang merekrut.
Berbagai alasan mereka kemukakan. Sebagian besar mengakui tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga menyebabkan mereka harus berangkat ke Jakarta dan bekerja apa saja. Lain lagi dengan alasan beberapa orang anak perempuan yang baru saja lulus SMA. Ketika saya bertanya tentang cita-cita dan keputusan mereka melakukan perjalanan ini. Mereka hanya ingin menabung biaya pendidikan agar bisa bersekolah.
Setelah dua tahun kontrak kerja mereka selesai dan dana sudah cukup, mereka akan kembali ke kampung halaman atau hijrah ke kota lain supaya bisa melanjutkan sekolah. Sesederhana itu rencana yang mereka bangun.
Faktor Pendorong
Beberapa hal yang mendorong hal seperti perdagangan manusia bisa terjadi, saya ilustrasikan seperti berikut:
Bertha ibu dengan empat orang anak di pelosok daerah. Pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar. Menikah di usia dini karena sudah telanjur hamil. Setiap hari ia sibuk membantu suami di ladang sebagai petani. Hasil pertanian tidak menentu karena musim tidak pasti serta pengelolaan yang masih sederhana. Bertha sekeluarga pun harus mengikat perut setiap hari. Belum lagi dua anaknya yang paling besar sudah mulai bersekolah.
Suatu ketika, Sius, Sekertaris Desa yang juga teman bermainnya di masa kecil berkunjung ke rumah Bertha. Ia menawarkan pekerjaan di tempat sangat jauh dengan gaji menarik. Pekerjaannya pun tidak terlalu berat, “Kau cuma cuci pakaian, masak, setrika macam yang kau biasa bikin di rumah juga. Itu satu bulan kau sudah dapat sekitar dua juta. Belum lagi tunjangan lain-lain. Nanti saya yang urus kau punya surat-surat. Kau cukup kerja satu atau dua tahun. Kau sudah bisa pulang dan bawa uang banyak. Kerja di luar negeri lagi.”
Sepanjang malam, Bertha tidak dapat memejamkan mata. Ia bahkan membangunkan suaminya dan mengajak berdiskusi. Suaminya sedikit keberatan, mengingat anak-anak mereka akan ditinggalkan ibunya untuk waktu lama. Lagipula, suami Bertha ragu dengan apa yang dikatakan Sius. Malam itu mereka tidur saling memunggungi satu sama lain.
Dua hari kemudian, saat akan beranjak tidur di malam hari, Bertha kembali membahas hal tersebut. Suaminya tetap bersikeras tidak mengizinkan ia pergi. Mereka bertengkar cukup hebat.
Keesokan hari, Bertha mendatangi mertuanya dan mengadu. Kedua mertuanya medengarkan dengan seksama dan merasa Bertha menemukan solusi tepat untuk meningkatkan kondisi perekonomian keluarga. Lalu kenapa anak mereka yang adalah suami Bertha harus melarang Bertha berangkat bekerja?
Suami Bertha dipanggil, diajak berbicara serius. Ia berusaha memaparkan banyak alasan, baik itu anak-anak maupun keraguannya tentang Sius. Alasan tersebut dipatahkan begitu saja oleh kedua orang tuanya. “Anak-anakmu biar kami yang jaga, kasih saja Bertha pergi. Sius itu kita kenal baik. Dia tidak mungkin bikin Bertha luntang-lantung di tanah orang.”
Singkat cerita, Bertha pun berangkat. Hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk mengurus dokumen keberangkatan. Bertha begitu total mempercayai Sius. Selama enam bulan setelah keberangkatan, suami dan anak-anaknya tidak pernah menerima kabar berita dari Bertha.
Setahun kemudian, dua petugas Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) mendatangi rumahnya dan memberikan kabar menyesakkan. Bertha dinyatakan meninggal di negeri perantauan akibat sakit yang tidak dapat disembuhkan.
Akan tetapi, banyak pihak yang peduli dan menyangsikan kejadian ini. Banyak kejanggalan sehingga diadakan penyelidikan lebih lanjut. Berita-berita yang menyusul kemudian hanya menjadi mimpi buruk bagi suami dan anak-anaknya serta penyesalan tak berujung bagi kedua mertuanya. Sementara Sius, tetap hidup dengan aman dan tenteram. Ng….salah siapa?
Kesimpulan dari ilustrasi di atas menghasilkan beberapa poin.
Pertama, masih dan akan selalu tentang faktor ekonomi atau kemiskinan. Permasalahan ini sering sekali menjadi masalah utama dalam kasus human trafficking. Tanggung jawab yang besar untuk menopang hidup keluarga, membayar semua pengeluaran dan pendidikan anak, saudara, dan lainnya sering menjadi pemicu mencari pekerjaan di luar negeri yang tidak jelas kepastiannya.
Kedua, keinginan untuk menjadi kaya dalam waktu yang singkat.
Ketiga, faktor budaya seperti: peran perempuan untuk mencari nafkah, memang sudah kodratnya perempuan mengurus rumah dan hanya membantu untu mencari nafkah tambahan, namun tanggung jawab atas keberlangsungan hidup keluarganya menjadi alasan untuk berimigrasi.
Selain itu juga, peran anak dalam sebuah keluarga, kepatuhan anak terhadap orang tua serta rasa tanggung jawab untuk membayar hutang yang keluarganya miliki, memberikan motivasi tersendiri bagi mereka untuk berangkat bekerja.
Keempat, faktor budaya lainnya: khusus bagi TKI laki-laki. Motivasi untuk berangkat bekerja ke Negara tetangga terkadang bukan hanya tentang keluarga, tetapi tentang perempuan yang akan dinikahi.
Khusus di NTT, tradisi “belis” atau mas kawin sejak beberapa tahun silam terjadi pergeseran makna yang memberikan tekanan cukup besar bagi pihak laki-laki. Jika terus berada di kampung, biaya mas kawin dan resepsi menikah tak akan pernah cukup. Menjadi TKI adalah jalur alternatif yang bisa ditempuh.
Kelima, perkawinan dini mempunyai implikasi yang serius bagi para anak perempuan termasuk bahaya kesehatan, putus sekolah, kesempatan ekonomi yang terbatas, gangguan perkembangan pribadi, dan seringkali, juga perceraian dini. Anak-anak perempuan yang sudah bercerai secara sah dianggap sebagai orang dewasa dan rentan terhadap trafficking disebabkan oleh kerapuhan ekonomi mereka.
Keenam, kurangnya kesadaran, baik mereka yang menjalankan atau terlibat dalam perdagangan manusia ataupun mereka yang menjadi korban perdagangan manusia. Hal ini karena kurang hati-hatinya dan kurangnya informasi serta pengetahuan yang mereka dapat tentang motif-motif dari Perdagangan Manusia.
Ketujuh, pengetahuan yang terbatas yang dimiliki, orang dengan pendidikan yang terbatas memiliki lebih sedikit keahlian/skill dan kesempatan kerja dan mereka lebih mudah menjadi sasaran karena memutuskan bermigrasi mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian.
Kedelapan, orang-orang terdekat yang cukup mengambil andil dalam membentuk keputusan tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadahi sehingga ancaman tidak hanya datang dari luar melainkan juga dari dalam rumah itu sendiri. Tak jarang, iming-iming sejumlah uang justru memperlancar proses keberangkatan. Duit sejuta di pelosok sana, itu BANYAK SEKALI.

Berita Tragis
Akhir Juli 2016, KOMPAS.COM memuat berita tragis dan sungguh menyayat hati: sepanjang 2016 sudah 23 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal di Malaysia. Sayangnya, kabar ini tak sedemikian mencuat dan menyita perhatian khalayak, sebagaimana publik Indonesia menempatkan rasa kepo-nya yang besar pada kasus kopi sianida.
Perdagangan manusia memang bukan isu seksi layaknya drama Jessica dan Mirna.
Pada 11 Oktober 2016 kemarin, Kompas TV bekerja sama dengan Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (J-RUK) Sumba melalui program Berkas Kompas mengangkat topik “Jalan Gelap TKI Ilegal.” Pada liputan ini, diketahui sepanjang tahun 2016 telah ada 35 korban TKI yang meninggal di perantauan. Hanya ada empat TKI yang berangkat melalui jalur resmi sementara tiga puluh satu lainnya berangkat secara legal atau memalsukan identitas.
Jumlah mereka yang mati dikabarkan terus bertambah. Hingga 25 Oktober 2016, ketika tulisan ini sedang saya kerjakan, sudah 44 orang TKI asal NTT meninggal di negara orang.
Kasus yang cukup menghebohkan adalah kematian buruh migran bernama Yulfrida Selan (19 tahun), asal Timor Tengah Selatan, NTT. Yulfrida meninggalkan kampung halaman tanpa sepengetahuan keluarganya sejak September 2015.
Pada 13 Juli 2016, petugas BP3TKI NTT memberitahu keluarga, bahwa Yulfrida telah meninggal gantung diri di dapur rumah majikannya di Malaysia. Saat jenazah Yulfrida diserahkan pada keluarga, ditemukan sejumlah kejanggalan: identitas korban dipalsukan, kondisi jenazah penuh bekas jahitan, serta dugaan Yulfrida menjadi korban perdagangan organ tubuh, yang kemudian dibantah Polri.
Tak pernah habis masalah TKI ini diangkat, namun tidak kunjung terurai. Kasus di NTT menunjukkan pengiriman TKI tidak resmi lebih jadi pilihan ketimbang jalur legal. Mengapa bisa demikian? Selain karena permintaan tinggi, warga desa mudah ditipu dengan cara ilegal, demi terhindar dari biaya-biaya yang dianggap membebani seperti tes kesehatan, asuransi hingga biaya pelatihan. Identitas mereka dipalsukan, sertifikat keterampilan pun dipalsukan. Oleh para calo, TKI kemudian dikirim ke majikan yang telah memesan.
Data yang dihimpun tim International Organization for Migration menyebutkan 65 persen TKI direkrut oleh pekerja individual, para calo atau tetangganya. Sekitar 35 persen direkrut lembaga penyalur tenaga kerja (PPTKIS), dan sekitar 5 persen bahkan dijerumuskan oleh keluarganya sendiri, sisanya sebagian kecil diculik untuk dieksploitasi.
Kasus terbaru pada 23 Agustus 2016 lalu, Polda NTT mengungkap sindikat perdagangan orang yang menukarkan 20 TKI ke luar negeri, dengan satu mobil Xenia. Sungguh ironi, nyawa manusia hanya dihargai satu buah mobil.
Bagi yang selama ini penasaran, semoga tulisan ini menjawab rasa-rasa yang selama ini berkecamuk di kepala Anda. Kenapa orang-orang ini mau berangkat kerja ke luar negeri? Kenapa mereka bisa menjadi korban perdangangan manusia? Kenapa mereka bisa mati begitu saja dan tidak dipedulikan?
Mulai saat ini, cobalah kita lebih peka dengan situasi di sekitar. Di negara kita tercinta ini. Apabila memiliki tenaga kerja di rumah yang berasal dari pelosok daerah, sudahkah kita memperlakukan dengan layak dan memberikan hak yang seharusnya ia dapatkan?
Begitu pula jika kita mendapat curiga, mencium hal-hal yang mengarah pada cerita-cerita yang sudah saya kemukakan di atas, sepatutnya kita mencari tahu dan mengantisipasi. Terhadap keluarga, kenalan, siapa saja yang kita jumpai. Sampaikan informasi-informasi berharga ini lalu meneruskannya kepada yang sungguh-sungguh membutuhkan. Dengan demikian tidak ada lagi korban-korban selanjutnya pun kesedihan yang berkepanjangan.

Penutup
Jangan terburu-buru sebab tulisan ini belum selesai. Cerita ini tidak fiktif. Ini yang mencuat keluar dari sekian kenangan yang tersimpan lama. Saya tarik dari lemari penyimpanan memori karena dibutuhkan.
Belasan tahun yang lalu, saat itu saya masih sangat kecil dan tidak mengerti apa-apa. Rumah kami kedatangan sejumlah keluarga yang akan berangkat ke Malaysia. Saya terpukau, waow itu kan luar negeri. Kakak sepupu saya yang adalah anak dari kakak ayah saya, mengumpulkan mereka di ruang tamu lalu membagikan Kartu Identitas mereka.
Ia menekankan supaya mereka semua berhati-hati saat naik kapal nanti, usahakan semua tiba di Kalimantan dengan selamat. Saat itu saya hanya bengong menatap biji matanya yang hampir menggelinding keluar, juga kumisnya yang terus bergerak seiring ia bicara.
Tiga tahun lalu, adiknya, salah satu dari yang berangkat, dinyatakan meninggal karena TBC di Malaysia. Hal ini terjadi setelah berkali-kali mereka pulang-pergi bekerja ke Malaysia. Dan saya baru mendengar kabar duka ini setahun lalu dari adik kandung saya.
Laki-laki yang meninggal itu, kami cukup dekat saat saya masih sering bertandang ke kampung. Dia sepupu yang selalu mengabulkan keinginan saya akan mata yang lapar terhadap buah-buah di pepohonan sekitar rumahnya. Hari-hari ini, saya mulai penasaran, apakah sungguh ia mati karena sakit? [b]
#StopHumanTraficking #StopBajualOrangIndonesia #StopBajualOrangNTT