Tag Archives: Indonesia

Literasi Keluarga: Dari Kho Ping Hoo hingga Menjelma Klub Buku Petra



#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga #LiterasiBergerak #PerpustakaanKeluarga #PustakaBergerak
*Klik dua kali pada gambar jika kurang jelas


Salah satu sudut koleksi buku di Perpustakaan Klub Buku Petra.
dok. Klub Buku Petra

Ini cerita tentang teman saya, seseorang yang sangat mencintai buku. Saya baru mengenalnya setahun yang lalu, ketika tanpa sengaja kami bertemu di salah satu acara launching buku seorang kawan. Perjumpaan pertama yang terlampau biasa saja, kecuali obrolan terkait karya-karya penulis Indonesia, tidak ada lagi yang istimewa selain itu.

Perjumpaan kedua, ketika kami sama-sama sedang berada di Jakarta. Ia dengan urusannya, saya dengan urusan saya sendiri. Di sela-sela obrolan kami tersebut, ia tiba-tiba menawarkan sesuatu yang tidak saya duga samasekali. Meminta saya kembali ke Flores untuk mengelola perpustakaan.

Saya tercenung, memikirkan semuanya dengan seksama. Saat itu, pikiran dan tujuan saya telah berada di sisi yang lain dari apa yang selama ini saya idam-idamkan. Saya sudah berpasrah pada apa saja yang dikehendaki semesta, termasuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Akan tetapi, mengelola koleksi buku-buku pribadi menjadi perpustakaan yang dapat diakses oleh orang banyak, bersamaan dengan itu saya akan diberi upah yang layak dan menetap di salah satu kota paling dingin di Nusa Tenggara Timur. Tentu ini menggiurkan sekali.

Saya kemudian menanyakan padanya, “apa untungnya mengupah seseorang yang mengelola buku-buku bekas agar bisa dibaca oleh orang lain? Tak ada profit di situ, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari sana kecuali tagihan yang menumpuk akhir bulan untuk sewa gedung, gaji karyawan, listrik dan sebagainya.”

Jawabannya sungguh di luar dugaan saya yang miskin dan hina dina ini, yang memang selalu melakukan apa pun dengan perhitungan akurat meskipun kemudian selalu mengedapankan perasaan dan berujung pada kekesalan karena merugi.

“Tidak ada keuntungan di sini, Mar. Kita tidak sedang mencari untung. Biarkan saja buku-buku itu yang bekerja dan mendatangkan keuntungan dalam bentuk yang lain. Masalah operasional, tidak perlu kamu pikirkan. Kerjakan saja bagianmu, dan saya akan mengerjakan bagian saya.”

Kunjungan dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kab. Manggarai
dok. Klub Buku Petra

Demikian, saya akhirnya memutuskan kembali ke Nusa Tenggara Timur setelah urusan saya selesai. Perpustakaan itu diberi nama Klub Buku Petra. Beragam buku yang merupakan koleksi kawan saya sejak zaman Sekolah Dasar hingga kini telah menjalani profesinya sebagai seorang Dokter yang juga Pengajar, Direktur Klinik Jiwa dan beberapa pekerjaan lainnya, ada di sana.
Suatu kali, saat kami tengah bersantai, saya membuka sebuah obrolan ringan. Topik ini muncul setelah sekian lama saya simpan demi menantikan kesempatan yang tepat untuk menggali lebih dalam, juga karena saya menemukan kenyataan bahwa di Ruteng tidak ada Toko Buku. Selain itu, pertanyaan yang sama kerap saya dapatkan dari para pembaca dan peminjam buku di Klub Buku Petra, “dari mana asal buku-buku bagus dalam jumlah sebanyak ini?”

Kawan saya ini, yang adalah seorang laki-laki sulung di dalam keluarganya, mengenal kebiasaan membaca sejak masih Sekolah Dasar. Di tahun 1980an, serial cerita silat Kho Ping Hoo beredar secara luas dan dibaca oleh siapa saja. Termasuk bapaknya. Hampir setiap hari, ia mendapati bapaknya menekuni stensilan Kho Ping Hoo di sela-sela pekerjaannya. Melihat itu, kawan saya kemudian bertanya, bolehkah ia ikut membaca serial kartun silat tersebut? Sepertinya menarik sekali sebab bapaknya begitu tenggelam di dalam petualangan-petualangan para pendekar itu.

“Dan bapak mengizinkan saya ikut membacanya. Itu pengalaman pertama saya mengenal bacaan, dan sejak itu saya melahap cerita silat yang beredar di sekitar lingkungan pergaulan saya. Di zaman itu, memang hanya ada cerita-cerita silat seperti Kho Ping Hoo dan Wiro Sableng yang dijual bebas sehingga mudah didapat. Bapak juga mengoleksinya. Hampir setiap hari, jika sudah lelah bermain dengan teman-teman, saya kemudian memutuskan untuk membaca sekaligus mengistirahatkan badan. Biarkan giliran otak yang bekerja. Hehehe…” tutur kawan saya.

Ruang Baca untuk umum - Perpustakaan Klub Buku Petra
dibuka sejak 1 September 2019
dok. Klub Buku Petra

Beranjak remaja, memasuki Sekolah Menengah Pertama hingga akhirnya Sekolah Menengah Atas, kawan saya ini berkenalan dengan lingkungan sekolah asrama yang juga menyediakan perpustakaan dengan buku-buku bermutu. Karya-karya fiksi populer seperti novel dan cerita pendek, dapat ditemukan dengan mudah di sana. Saat itu, karya sastra belum begitu ramai dibicarakan kecuali saat jam pelajaran Bahasa Indonesia saja.

Di sekolah berasrama ini, ia akhirnya bertemu dengan sahabat baiknya yang hampir setiap hari menghabiskan waktu untuk membaca karya-karya sastra. Ajaibnya, meskipun hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membaca novel, kumpulan cerpen, atau puisi, nilai ulangan/ujiannya tak pernah buruk. Melihat ini, kawan saya berpikir bahwa jika banyak membaca maka kita dengan sendirinya akan menjadi pandai dan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan saat ujian. Apa pun bacaannya. Ia pun minta dikenalkan kepada bacaan-bacaan sastra tersebut. Namun demikian, tiga bulan setelah itu, ia akhirnya membuktikan bahwa bacaan memang membuat kita terbuka pada hal-hal baru tetapi tidak seketika menjadikan kita mampu mengerjakan soal-soal ujian dengan mudah seperti yang ia harapkan sebelumnya. Sahabat baiknya itu yang memang jenius dan pandai mengatur waktu.

Meskipun demikian, kawan saya ini sudah telanjur jatuh cinta pada sastra. Pada karya-karya penulis dan sastrawan Indonesia yang terkadang membikin lupa waktu dan menghantarkan imajinasinya berkelana ke mana suka. Ia akhirnya terus membaca sastra hingga kini memiliki hampir 2000 judul buku, baik yang ditulis oleh penulis Indonesia maupun terjemahan.

“Saya ingat dulu, kalau pulang libur ke rumah. Setiap selesai makan, saya dan kedua adik saya akan berkumpul dalam satu kamar lalu mengeluarkan koleksi masing-masing. Biasanya kami akan terheran-heran melihat koleksi satu sama lain, sebab anak-anak yang bersekolah di sekolah umum ternyata memiliki selera bacaan yang berbeda dengan anak-anak yang bersekolah di asrama seperti kami (baca: seminari). Mereka akan melemparkan pertanyaan seperti ini, hih baca buku apa kalian ini? bikin kepala sakit saja. Hahaha tetapi justru di situ saya melihat perbedaan selera kami mejadi menarik. Kami saling melengkapi satu sama lain. Saya suka novel-novel Ayu Utami, Putu Wijaya, Remy Sylado dan lain-lain, adik perempuan saya menyukai kisah-kisah populer khas anak muda seperti Teenlit, Metropop, Harlequin, dan sejenisnya, sementara adik laki-laki yang paling bungsu masih betah menikmati Kungfu Boy, Detektif Conan, Slam Dunk dan lain-lain.” tutur kawan saya

Apa yang diceritakan kawan saya ini, saya buktikan ketika pertama kali membongkar koleksi buku-bukunya. Saat itu saya sedang dalam proses mendata semua judul buku yang ada agar bisa diakses oleh para peminjam. Saya sempat penasaran, ada berapa tahapan yang sebenarnya kawan saya ini lalui sehingga hampir semua genre bisa terjebak di dalam ruangan tersebut? Saya pikir dua puluh tahun bukanlah waktu yang terlalu lama. Saya bandingkan dengan diri sendiri, yang kurang lebih membutuhkan tiga hingga empat tahun untuk berpindah dari bacaan ringan seperti masalah percintaan, menuju bacaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran seperti novel-novel dengan perpaduan filsafat, ilmiah atau psikologi. Rupanya koleksi yang mencapai 3000 judul tersebut (tambah 1000 dari sebelumnya) juga berasal dari bacaan-bacaan kedua adiknya yang tadi ia ceritakan.

Pendataan awal buku-buku di Perpustakaan Klub Buku Petra
Januari 2019
dok. Klub Buku Petra

Lalu bagaimana caranya ia mendapatkan buku di tahun 1990-an, ketika belum ada fasilitas pengiriman uang dan jasa pengiriman barang yang cepat seperti sekarang?

“Saya menulis surat. Korespondensi dengan pihak Gramedia. Saat itu, sekali mengirim surat, butuh waktu satu bulan untuk mendapatkan balasan berupa katalog buku-buku terbaru terbitan Gramedia. Setelah itu, saya dan kawan-kawan akan memilih buku mana yang ingin kami pesan. Saya akan mengumpulkan judul buku-buku tersebut lalu saya tulis dengan rapi di kertas dan saya kirimkan kembali ke Gramedia. Uangnya kami kirim melalui wesel pos. Satu atau dua bulan kemudian, buku-buku tersebut telah tiba. Saya dan kawan-kawan akan bergantian membacanya baru setelah itu kami bahas isi buku yang telah kami baca. Itu awal mula saya terbiasa dengan istilah diskusi atau bedah buku, hingga sekarang lebih dikenal dengan bincang buku." ia menjelaskan

Salah Satu Sesi Bincang Buku Klub Buku Petra
dok. Klub Buku Petra

Saat menuliskan ini, sudah ada sekitar 3000 lebih judul buku yang bisa diakses di Perpustakaan Klub Buku Petra. Sebagai admin, saya baru berhasil mendata 2000 judul, di antaranya karya-karya penulis Indonesia dan karya terjemahan, serta beberapa buku non fiksi tentang Sastra. Buku-buku ini dapat dibaca maupun juga dipinjam secara gratis, selama peminjam menetap di kota Ruteng. Cukup foto KTP serta nomor hape yang digunakan untuk berkomunikasi dengan admin, buku sudah bisa dipinjam dan dibawa pulang. Satu buku diberi waktu satu minggu, jika belum sempat menyelesaikannya, peminjam silakan menginformasikan kepada admin untuk meminta tambahan waktu. Beberapa peminjam yang sangat tekun, bahkan menuliskan ulasan dari buku yang telah dibaca, hasil ulasan ini bisa disimak di https://www.bacapetra.co/sekitar-kita/saya-dan-buku/

Saat ini, selain mengelola Perpustakaan Klub Buku Petra, kami akhirnya mengembangkan unit lain yang masih terkait dengan literasi seperti; Bincang Buku bulanan Klub Buku Petra yang telah memasuki bulan kesepuluh, terlibat bersama kawan-kawan Komunitas Kolektif di Ruteng dalam melaksanakan Lapak #LiterasiBergerak di Taman Kota Ruteng setiap hari Jumat dan Sabtu, serta mengelola Bacapetra.co, sebuah laman web yang berfokus pada pengembangan literasi di Nusa Tenggara Timur. Kegiatan-kegiatan ini, selain menggerakan literasi juga dengan sendirinya membuat individu-individu yang terlibat di dalamnya secara tidak langsung membentuk keluarga baru. Keluarga yang literat.

Lapak #LiterasiBergerak di Taman Kota Ruteng
dok. Klub Buku Petra

Melalui gerakan ini, saya dan kawan-kawan sangat berharap bahwa ekosistem literasi demi terwujudnya manusia-manusia yang literat bisa dimulai dari orang-orang terdekat kita. Dari anggota keluarga, kawan-kawan atau siapa saja yang kebetulan kita temui di tengah kesibukan-kesibukan yang kita jalani.

Jika kawan saya memulainya dengan serial cerita silat karena melihat apa yang dilakukan bapaknya setiap hari, kita bisa memulainya di rumah dengan kisah apa saja. Saya akhirnya membuat satu kesimpulan bahwa, mempengaruhi seseorang untuk menyukai sesuatu tidak harus menjelaskannya panjang lebar tentang manfaat atau kerugian yang akan ia dapatkan. Cukup lakukan dan perlihatkan saja terus menerus, dengan sendirinya rasa tertarik itu akan tumbuh.

Untuk melihat kerja literasi yang sejak tadi saya ceritakan, silakan buka halaman Facebook atau Instagram: Klub Buku Petra atau klik tautan: www.bacapetra.co. Kiranya kerja-kerja literasi yang belum seberapa ini, bisa memberi dampak yang baik dan juga menginspirasi kawan-kawan semuanya.

Selamat membaca dan jangan lupa sebarkan hal baik untuk orang-orang di sekitarmu.
Salam Literasi dari Ruteng~

Pertemuan dengan dr. Ronald Susilo di Jakarta. Desember 2018.
dokumentasi pribadi


*Terima kasih untuk kawan saya itu, dr. Ronald Susilo, atas kesempatan berbagi dan juga memutuskan memberi gaji bagi manusia yang bekerja pada bidang yang sungguh-sungguh ia sukai ini. Semoga cerita ini dapat menginspirasi siapa pun.



Ende, 30 September 2019
Maria Pankratia

10 Tahun Menjadi PNS

Tidak terasa saya telah 10 tahun menjadi seorang abdi negara, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali yang merupakan perguruan tinggi di bawah Kementerian Pariwisata. Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 1 April 2009 saya pertama kali ngantor bekerja di STP Bali, rasanya baru beberapa waktu yang lalu. Dalam rangka 10 […]

Pletan Cai, de!

1 menit waktu bacaBeberapa hari lalu, seorang teman, sebut saja ratna, mengirimi saya sebuah tangkapan layar cuitan Jerinx, drummer dari grup musisi Superman Is Dead. Fuck you so much Indonesia, begitu cuitnya. Apa salah Indonesia? Apa salah kami semua? Apa karena sebagian kami tidak pernah ikut aksi demonstrasi menolak reklamasi Benoa, sehingga kau merasa berhak … Continue reading "Pletan Cai, de!"

The post Pletan Cai, de! appeared first on Blog Pushandaka.

Berkenalan dengan ASUS Zenbook S UX391UA di Jakarta





Bundaran HI Jakarta. Dok. Pribadi

JAKARTA!

Di mana gedung tinggi bertaburan bagai ketombe, dan deru mesin kendaraan adalah musik latar paling asoy yang menemani aktivitas sepanjang hari.

Zaman masih berstatus murid dari para guru yang ca’em-ca’em dan tampan dobel, momen kembali ke sekolah setelah liburan panjang adalah kesempatan pamer yang paling paripurna.
“Kemarin liburan sekolah ke mana?”

Salah satu pertanyaan basi yang selalu muncul begitu saja, atau kalau ketemu kekawan yang kecanduan songong, yang meskipun tak ditanya, bunyi aja persis iklan tahu bulat di sepanjang jalanan Menteng.

“Sa kemarin libur di Jakarta, ko libur pi mana?”

Kalau sudah begini, saya suka pura-pura budeg atau sibuk catat lirik lagu Jamrud di halaman paling belakang buku catatan pelajaran. Biarkan saja si kawan nyerocos sesukanya.

Demikian, dulu sekali, Jakarta pernah menjadi tempat menakar gengsi sebab tak sembarang manusia bisa menginjakkan kaki di Ibu Kota Negara.

Beberapa tahun kemudian, rasa cemburu dan putus asa itu mulai berdebu dan diterbangkan angin begitu saja. Gara-garanya sekali waktu, zaman ikut kegiatan mewakili sekolah, Jakarta pernah menjadi kota transit. Momen itu benar-benar bak nila setitik yang merusak susu sebelanga. Jakarta terlalu mengerikan untuk anak kampung seperti saya. Membikin sakit kepala dan perasaan heran bersemi membabi buta.

Berbeda dengan harapan banyak orang, liburan atau menetap di Jakarta tidak pernah menjadi impian saya. Setiap kali mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan dengan tiket gratis di Jakarta, perasaan saya selalu tak karuan. Sebagian senang, sebagian lagi sibuk menciptakan kalimat dan semangat positif untuk membentengi diri.

“Hanya beberapa hari, Mar. Nanti juga ketemu kawan-kawan yang asik, bakal lupa kalau lagi di Jakarta.”

Tidak pernah saya sangka, akhir tahun kemarin, saya menghabiskan seluruh hari di bulan Desember di JAKARTA. Plus lima hari malah dari tahun yang baru. Bagaimana perasaan dari seseorang, yang dulunya sangat membenci Jakarta, lalu bertemu kemungkinan akan tinggal di Jakarta, kemudian memutuskan untuk bertahan selama sebulan lebih di Jakarta sebagai pengalaman liburan, sembari menanti kepastian masa depan? Bagaimana?

Setelah hampir satu bulan, pantengin website resmi Kementrian BUMN dan Instagram Period Workshop di laptop Asus A450C saya yang mulai kumal (tetapi selalu menjadi kawan setia nan mesra, cieh), akhirnya saya mendapatkan kabar baik dari Jakarta. Nama saya muncul di antara sembilan (9) peserta yang lolos ke tahapan seleksi kompetensi bidang tes cpns kementrian BUMN, juga ada di antara sebelas (11) peserta yang boleh mengikuti workshop kritik sastra Period bersama Melanie Budianta. Seperti sekali dayung, kapal agak oleng tetapi fokus tak terganggu, hahahaha pepatah macam apapulak. Mari liburan sembari menenun masa depan di Ibu Kota. YEAH!

Saya mendarat di Jakarta (lagi) tepat tanggal 01 Desember 2018. Sebelumnya, di akhir bulan Oktober hingga awal November 2018, saya menghabiskan waktu dua minggu di Jakarta. Mengikuti tes seleksi kompetensi dasar. Total Passing Grade 330, menghantarkan saya kembali ke Jakarta sebulan kemudian.

Satu setengah bulan jika ditotal keseluruhannya, saya menetap di Jakarta. Ternyata Jakarta tidak seburuk yang saya pikir. Di saat-saat tertentu, saya menyadari bahwa, saya akan sangat merindukan Ibu Kota jika nantinya nasib tidak mengizinkan saya tinggal di Jakarta.

Saya akan merindukan gedung-gedung pencakar langitnya, yang megah dan selalu menimbulkan pertanyaan, “sungguhkah semua ruangan di gedung-gedung tersebut terisi oleh manusia?” *Pertanyaan bodoh hahahaha…

Merindukan kilau matahari sore yang memantul di antara gedung-gedung tinggi tersebut. Cah Melankolis bah...

Stasiun Kereta Api Manggarai. Dok. Pribadi

Juga, tentu saja merindukan transportasi umumnya yang beragam, dan selalu mudah dijangkau. Terjangkau tempat perhentiannya/penjemputannya, maupun juga harganya. Dari kereta api, transportasi berbasis online, bus transjakarta, sampai kopaja, bajaj, dan angkotan umum.

Merindukan berbagai kuliner enak dari yang paling mahal di pusat-pusat perbelanjaan, ketika diajak jalan sama teman baik, yang sekaligus mentraktir makan siang/makan malam. Sampai jajanan kaki lima, yang boleh jadi menguras isi dompet tanpa disadari. Saking murahnya, main nunjuk aja, yang ini yang itu, ini juga itu juga.

Kedai Jamu Bukti Mentjos Salemba. Dok. Pribadi

Nah, ini yang paling unik di tengah hiruk-pikuk Jakarta, saya akan sangat merindukan salah satu tempat nongkrong asik dan sehat, seperti Jamu Bukti Mentjos di Salemba.

Merindukan orang-orang hebat yang bisa bertemu secara tak sengaja pada kegiatan-kegiatan menyenangkan, seperti yang saya alami selama berada di Jakarta. Dari Pembawa acara televisi yang selalu ditonton sejuta umat, Penulis Idola, Sastrawan/I Indonesia, Penggiat dan Penikmat Seni, juga kawan-kawan Blogger.

Salah satu Diskusi Sastra di Taman Ismail Marzuki. Dok. Pribadi

Terakhir, ini yang benar-benar bikin susah move on, merindukan kehadiran laptop baru seperti Asus Zenbook S UX391UA #eh untuk menggantikan posisi Asus A450C yang selama ini selalu dengan tabah menerima perlakuan saya. Bagaimana ceritanya bisa rindu Asus Zenbook ini?

Saya berkenalan dengan Asus Zenbook S UX391UA tanpa sengaja di salah satu gerai Asus, di sebuah Pusat Perbelanjaan di Jakarta.

Sebelumnya, saya mau cerita dulu, kenapa saya jadi gandrung sama Asus? Bahkan untuk rencana laptop pengganti yang belum pasti ke depannya. Bagi saya, laptop adalah perangkat penting dan utama untuk bekerja, apa lagi untuk manusia yang hampir setiap hari bekerja dengan tulisan seperti saya. Asus A450C berhasil saya bawa pulang dari sebuah etalase tokoh elektronik tiga tahun lalu, setelah mendapatkan honor bekerja yang lumayan di Lampung. Sebelumnya, saya selalu mengandalkan laptop teman atau kabur ke warnet/rental komputer demi menghasilkan tulisan atau mengerjakan tugas kuliah. Sedih yah.

Laptop Asus A450C gueh waktu diajak pulang ke Ende, Juli 2018. Dok. Pribadi

Saya memilih laptop Asus saat itu tanpa alasan, saya suka lempengan langsingnya dan tampilan keyboardnya yang menyembul ke permukaan. Sangat nyaman ketika digunakan mengetik berjam-jam. Sudah tiga tahun saya gunakan, laptop biru kesayangan ini sudah berjalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia menemani saya, dikala ingin menulis banyak hal maupun juga sekadar menonton drama korea favorit yang sedang tayang. Tak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda menyebalkan, kecuali beberapa kali onar yang disebabkan keteledoran saya sendiri. Seperti charger yang tak pernah dilepas sepanjang minggu, padahal baterai sudah full 100%, sementara laptop tidak digunakan untuk mengerjakan apa pun. Walhasil, baru dua hari yang lalu, baterai pamit mundur. Saya terpaksa bekerja sembari charger menempel pada sumber arus. Hiks. Seperti sekarang, saat saya mengetik artikel ini.

Sepulang dari cuci mata tersebut, saya iseng mencari tahu tentang produk Asus terbaru itu, Si Zenbook S UX391UA. Saya mah gitu, suka kepo anaknya. Seperti produk Asus lainnya, ZenBook S UX391UA dirancang dengan penampilan elegan nan cantik, bodi tipis sekaligus ringan, tetapi tanpa kompromi di sektor performa. Bodi ZenBook UX391 hanya setebal 1,29 mm saja saat layar ditutup, dengan bobot tidak lebih dari 1,05 kg. Layar 13,3 inci Full HD laptop ini pun dirancang dengan ukuran bingkai yang ramping hanya 5,9 mm yang memberikan FootPrint layaknya laptop 12 inci. ZenBook S UX391UA telah lolos uji ketahanan militer MIL-STD 810G, sehingga menjamin penggunanya merasa aman saat menggunakannya di segala kondisi. Cocok betul untuk manusia yang suka ngukur jalan, gandrung nonton, dan grasak-grusuk seperti saya ini. ugh..

Performa Asus Zenbook S UX391UA. Dok. Mira Sahid

Salah satu daya pikat ZenBook S UX391UA adalah desain engsel terbaru dengan julukan ErgoLift. Fitur ini membuat bodi bawah laptop akan mengangkat dan membentuk sudut 5,5° saat layar dibuka. Sudut kemiringan seperti ini diklaim membuat kenyamanan mengetik menjadi lebih baik, membuat pendinginan lebih optimal, dan keluaran suara Harman Kardon di laptop ini lebih maksimal. Wah…

Untuk konektivitas, ZenBook S UX391UA menyuguhkan 2X Type-C USB 3.1 Gen 2/Thunderbolt 3 (40 Gbps) pada sisi kanan dan 1X Type-C USB 3.1 Gen 1 (5 Gbps) pada sisi kiri. Terdapat pula konektor audio 3,5 mm di kaki layar. Sayang sekali dengan jenis konektor seperti ini, dibutuhkan konverter atau kabel khusus jika ingin menghubungkan laptop ke display tambahan atau menggunakan perangkat USB konvensional. Yeah tak ada yang sempurna di dunia ini yah kan Gaes….hohohoho…

Dapur pacu ZenBook S UX391UA untuk pasar Indonesia tidak dapat dianggap remeh dengan penggunaan prosesor Octa-Thread Core i7 8550U yang menawarkan performa tinggi tetapi tetap hemat daya dengan klaim daya tahan baterai hingga 13,5 jam. Kapasitas RAM DDR3L 2133 MHz pun tidak kalah istimewanya dengan 16 GB Dual Channel dengan Storage super kencang yang masif SSD PCIe 3.0 x4 sebesar 512 GB. Demi dewa…. Asli ngiler….

Performa Asus Zenbook S UX391UA. Sumber. Asus Channel

Untuk semua kualitas dan kapasitas kerja seperti yang diuraikan diatas, dan dengan masa garansi selama dua tahun, kita harus mengalokasikan dana sekitar dua puluh enam juta rupiah (26jt+) untuk membawa pulang ASUS ZenBook S UX391UA ini. Sampai di sini, tarik nafas panjang, hembuskan , ulangi beberapa kali, dan berdoa. Hahahahaha... Duh, sepertinya saya harus jual tanah di kampung dulu nih, demi bisa bawa pulang Asus Zenbook canggih seperti UX931U. Lalalalalala.....

Begitulah….

Beberapa hari yang lalu, pada perjalanan pulang ke Flores, saya mengenang Jakarta dalam senyuman. Saya akhirnya gagal pada seleksi rekruitmen Analis Publikasi PNS Kementrian BUMN, yang juga artinya gagal jadi Warga Ibu Kota Jakarta. Anggap saja liburan akhir tahun yang menyenangkan, karena toh Jakarta akhirnya memberikan banyak alasan untuk dirindukan. Salah satunya, mimpi bisa bawa pulang Asus Zenbook S UX391UA bersama saya. Cihui...

Wah sepertinya sudah siang, mari bekerja lagi! Mana ni Asus A450 saya, yuk nguli! Hahahahaha….

Lebih lengkap tentang Asus Zenbook UX391UA, bisa mampir ke sini: ASUS ZENBOOK S UX391UA Slim, Stunning, Supreme. Bukan hanya menawarkan kecanggihan serta desain yang elegan, Zenbook UX391UA adalah perangkat praktis dalam menunjang kinerja manusia yang belakangan ini lebih senang mobile ke mana-mana, bahkan saat bekerja.  Sungguh paripurna.

Jangan lupa jalan pulang yah! dan AWAS NAKSIR kaya saya! (^_^)

#LiburanASikDenganLaptopASUS #2019PakaiZenbook #AsusxMiraSahid


Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. III. habis]





Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Ende. Dok. Pribadi

*Catatan cukup penting: Jika tampilan gambar di artikel ini kurang jelas, silakan klik dua kali.

Akhir tahun ini, saya menghabiskan waktu di Ibu Kota, Jakarta. Sebut saja, ini perjalanan menguji kemampuan diri, menakar kualitas, baik secara akademis maupun juga sebagai manusia yang tak pernah luput dari kekurangan.

Saya bertemu banyak orang, yang entah mengapa, mereka adalah orang-orang baik dan memberi kesan dengan caranya masing-masing.

Perjalanan ini berawal dari sebuah antusiasme yang percayalah, saya sendiri tidak tahu datang dari mana sebenarnya.

Pagi itu, saya sedang bermalas-malasan di kasur kos Nana Haibara sebab tak punya kesibukan apa pun. Pengangguran total. Mengecek beberapa notifikasi di Grup What’s App, saya akhirnya menemukan pengumuman Tes CPNS pada beberapa Kementrian di Republik Indonesia tercinta ini dari Grup Bali Blogger Community. Pengumuman itu dibagikan oleh seorang teman Blog yang cukup tersohor di kancah nasional, maka saya pastikan bukan hoax.

Ada pada daftar teratas, lowongan CPNS dari Kementrian BUMN. Saya iseng membuka dan menelusuri kebutuhan formasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, Sarjana Ilmu Komunikasi. Mereka membutuhkan (3) Tiga Analis Publikasi. Cukup menyesakkan tetapi kesempatan ini perlu dicoba. 

Alasan lain, yang membuat saya akhirnya memutuskan mengikuti seluruh proses tes cpns ini, selain untuk mencoba peruntungan dan menakar diri seperti yang saya sebutkan di paragraf awal, saya percaya sistem perekrutan CPNS di rezim ini, tak lagi dibumbui hal-hal berbau Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme sebagaimana di tahun-tahun lawas. Ketika, tidak semua orang bisa memiliki mimpi dan harapan yang sama jika bukan berasal dari keluarga mampu atau memiliki garis keturunan orang penting alias pejabat. Lagipula, syaratnya tak ribet seperti yang sudah-sudah dan yang pernah saya bayangkan. Semuanya bisa dilakukan secara online dari bilik bambu nan sendu.

Saat itu, saya masih berada di Kupang, saya harus ke Ende untuk mengurus kembali KTP dan Kartu Keluarga yang blunder sebelumnya. Jika kamu ingin tahu cerita mirisnya, bisa baca bagian I di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian I] dan lanjutan bagian II di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian II]

Dari Kupang ke Ende, saya berhutang kebaikan pada beberapa kawan, sebab isi rekening sangat memprihatinkan. Beberapa hal yang patut saya syukuri dan masih membuat saya tercengang hingga saat ini adalah, semuanya berjalan sangat lancar dan tanpa hambatan, bantuan seperti datang dari berbagai penjuru.

E-KTP yang saya nanti-nantikan selama enam tahun, ternyata sudah lama menginap di Kantor Lurah Paupire bersama kartu tanda penduduk milik warga kelurahan yang lain, yang mungkin ketika ke Kantor Dispenduk untuk memeriksa, tidak mendapatkan informasi yang memadai atau dikatakan belum jadi, lalu memutuskan menunggu lagi dan tidak mau membuang-buang waktu mencari yang belum tentu ada di Kantor Kelurahan. Saya dibantu Bibi saya, istri dari Om, adik Ibu saya, yang kebetulan bekerja di Kantor Lurah Paupire (saya tidak menduganya, pernah mendapatkan cerita ini dari Ibu, tetapi kemudian saya lupa). 

KTP AKOHHH...

Kami mencarinya bersama-sama, satu demi satu di antara tumpukan ktp-ktp lain yang sebagian kondisinya mulai mengenaskan, seperti sebagian plastiknya terkelupas, saking lamanya dibiarkan di sana. Beberapa nama di ktp-ktp tersebut saya kenal baik, mereka adalah tetangga, kakak kelas dan adik kandung, anak ketiga dari ibu dan bapak saya. Yassss… hahahahahaha… 

KTP dengan foto dekil saya di zaman semester awal di Undiknas Denpasar tersebut, masih menampilkan status saya sebagai Mahasiswa dengan masa berlaku hanya sampai pada hari ulang tahun saya di tahun ini. HellTheWhat. (Di kemudian hari, ketika saya mengurus Kartu Keluarga di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, saya mengkonsultasikan hal ini. Petugas kemudian meminta saya membaca poin Undang-Undang yang ditempelkan di pintu masuk ruangan, isinya seperti pada gambar di bawah ini).


Lihat Poin 02

Selanjutnya mengurus Kartu Keluarga.

Kartu Keluarga saya, di awal tahun 2018 kemarin, direvisi oleh adik saya demi beberapa urusan. Ketika Kartu Baru tersebut tercetak, nama saya sebagai anak pertama telah hilang. Setelah saya mendatangi lagi Kantor Dispenduk Kabupaten Ende beberapa waktu lalu, ternyata terjadi pendobelan NIK akibat perekaman yang saya lakukan sebanyak dua kali sejak tahun 2012. Maka, mau tak mau, status masih menjadi anak pertama dari kedua orang tua saya harus segera dikembalikan kepada tempatnya.

Nah, pertemuan tak sengaja dengan Bibi saya yang bekerja di Kantor Lurah Paupire tadi, sebenarnya berawal dari kedatangan saya ke kantor untuk meminta tanda tangan Lurah pada formulir pengajuan kartu keluarga yang telah saya lengkapi. Pada akhirnya formulir tersebut tidak digunakan oleh petugas, sebab itu hanya digunakan saat mengurus Kartu Keluarga baru, bukan untuk revisi. Perbincangan tentang KTP muncul secara tidak sengaja, yang kemudian berakhir pada penemuan kartu tanda penduduk saya dan adik saya yang telah lama mendekam di sana.

Saya ingat, saya memasang alarm pukul 05.30 pada pagi hari Jumat 28 September 2018. Bangun lalu berangkat ke Kantor Dispenduk untuk mencatat nama demi mendapatkan nomor antrian teratas, supaya bisa mendapatkan kesempatan tercepat mengubah kartu keluarga tersebut. Saya mendapat nomor antrian (5) Lima. 




Setelah mencatat nama, saya kembali ke rumah untuk tidur lagi, sejam, lalu bangun dan bersiap-siap berangkat lagi ke Kantor Dispenduk. Operasional dimulai Pukul 08.00 pagi, yang yeah birokrasi di mana-mana, hanya judulnya saja jam delapan. Pukul 09 lewat 15 menit baru nomor antrian pertama masuk. Belum lagi, hanya antrian 1-5 yang boleh masuk dan menunggu di dalam ruangan, sisanya silakan menadah panas atau meminta belas kasihan dari ranting dan dedauan pohon mangga di depan ruangan. Saat tiba di dalam ruangan, pendingin ruangan seolah tak berfungsi, hampir semua petugas memasang wajah seperti ingin membunuh. Ha-da-pi dengan senyuman. Demikian.

Sekalian rujakan, enak kali yakh..hihihi

Sialnya, saya tidak memeriksa sebelumnya, bahwa selain nama saya yang harus dimunculkan kembali, status pendidikan akhir saya juga harus diperbaharui. Saya bukan lagi mahasiswi. Saya lupa membawa fotokopi Ijazah. Duh berabe! Petugas Dispenduk yang saat itu membantu, menanyakan kepada saya, apakah akan tetap dicetak tanpa mengubah status pendidikan? Saya tidak diperbolehkan mencetak ulang kartu keluarga hingga tahun depan (2019). Ia menatap saya dengan tajam dan memastikan bahwa saya tidak boleh mengubah pendirian lagi. Dengan sedikit gugup, saya berpikir cepat, karena untuk tes CPNS hanya dibutuhkan nomor kartu keluarga/NIK kepala keluarga, maka saya menjawab dengan tidak masalah, silakan dicetak saja sesuai keterangan yang ada.

Nomor Antrean akohhhh

 Saya pulang ke rumah dengan isi kepala yang penuh, penuh dengan kemungkinan ini dan itu. Saya tidak ingin hanya karena kesalahan yang sepele, tujuan yang cukup besar dan langka untuk terjadi pada saya ini, malah jadi berantakan.

Sore hari, setelah mengajukan cetak ulang kartu keluarga tersebut, saya ke sekolah. Maksud saya, Almamater. SMAK Syuradikara Ende menyelenggarakan Reuni Akbar dalam rangka Ulang Tahun Sekolah yang ke-65. Di tengah keramaian dan basa-basi antara para alumni, saya bertemu dengan K Norman Soludale, salah satu anggota Syuradikara Bali Community. Saat itu, K Norman tengah asik ngobrol bersama kawan-kawan angkatannya.

Saya kemudian dikenalkan kepada dua orang yang paling dekat, salah satunya sungguh tidak asing di ingatan saya. Namanya K Detty Paul. Rupanya, kaka nona adalah Petugas di Kantor Dispenduk yang pagi tadi membantu saya mengurus cetak ulang Kartu Keluarga. Awalnya, kaka nona sempat berkelit bahwa mungkin saya salah orang, barangkali kakaknya ingin mengerjai saya atau bisa jadi tak ingin terbebani (sensitif kan gue hihi). Akan tetapi, saya sulit melupakan wajah orang. Lupa nama, sering. Pada akhirnya kaka nona mengakui dan kami terlibat obrolan panjang.

Pulang dari acara reuni tersebut, saya mengecek isi kertas keterangan pengambilan cetak ulang kartu keluarga yang diberikan petugas siang tadi. Masih tujuh hari lagi, saya baru boleh mengambil hasil cetak ulang. Masih banyak waktu. Karena hari itu, hari Jumat, saya harus menunggu hingga hari Senin, jika ingin membawa fotokopi ijazah untuk mengajukan tambahan perubahan.

Saya menanti Senin dengan berdebar-debar, saya bukan tipe yang bisa memanfaatkan relasi dengan mudahnya, apa lagi baru pernah bertemu dua kali. Tetapi, saya ingin tetap mencobanya, dengan asumsi proses pencetakan ulang belum berlangsung karena setelah hari jumat, dua hari berikutnya bukan hari kerja efektif. Berkas saya pasti masih dalam antrian. Jika pun permohonan tambahan perubahan ini tidak diterima, hal terburuk yang akan saya hadapi adalah amukan petugas dan diusir keluar ruangan. Gak sampai bikin mampus, malu dikit ajah. Gak papalah.

Senin pagi 01 Oktober 2018, pukul 08.00 wita, saya kembali ke kantor Dispenduk. Setelah mengumpulkan keberanian, saya nekat masuk ke dalam ruangan sembari membawa fotokopi ijazah di tangan. Saya mengamati situasi dari bangku depan, mencoba memperhitungkan beberapa hal, menunggu peluang untuk langsung ke meja K Detty. Saya sempat ditanyakan oleh petugas lain yang ada di situ, apakah sudah mengambil nomor antrian? Jika belum, silakan datang lagi besok dengan prosedur yang sama yang telah saya lalui pada hari Jumat kemarin. Tentu saja, itu akan memakan waktu yang sangat lama, padahal urusan saya tersisa menyerahkan fotokopi ijazah terakhir ini.

Suasana pagi hari nan cerah ceria di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, yeah...

Peluang tersebut muncul sekitar lima belas menit kemudian, setelah giliran konsultasi seorang ibu, saya melangkah cepat ke depan meja K Detty. Kami tidak sempat berbasa-basi, entahlah barangkali sudah demikian karakter beliau. Masih tetap profesional, kaka nona menanyakan apa keperluan saya. Saya menjelaskan secara singkat padat dan jelas, sempat K Detty menanyakan berkas-berkas saya yang lain, yang saya jawab dengan menunjukkan kertas keterangan pengambilan yang ia berikan pada hari Jumat yang lalu. Tak butuh waktu lama, ia mengecek beberapa hal, meminta fotokopi ijazah terakhir saya dan selesai. Saya dipersilakan datang mengambil kartu keluarga yang telah direvisi, sesuai jadwal pengambilan yang telah diinformasikan sebelumnya. 

Dengan demikian proses melamar PNS Kementrian BUMN sesuai rencana saya, bisa dimulai.

Berat bukan jadi orang Ende, yang di tahun 2018-2019 ini, kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipilnya masih memakai gaya konvensional dalam melayani masyarakat banyak. Padahal, boleh dikatakan, lembaga ini adalah jantung dari kehidupan masyarakat sipil. Hari-hari ini, bagaimana kau bisa hidup tanpa indentitas dan dokumen-dokumen pendukung? Bagaimana eksistensi dan kelancaran urusanmu dapat terjamin dari kantor dengan ruang tunggunya seperti LAPAK PASAR INPRES MBONGAWANI?! S E R I U S !!!

***

Ikuti terus cerita perjalanan akhir tahun saya di Blog ini! Saya berniat menyicil cerita-cerita saya, pelan-pelan dari sekarang….

Doakan yah~