Tag Archives: Indonesia

Melihat Indonesia yang Adil di #FlashBloggingKupang




*Tulisan ini bernilai LIMA BELAS LEMBAR UANG SERATUS RIBU RUPIAH dan SEBUAH PIAGAM PENGHARGAAN sebagai Kompensasi dari Gelar "TERBAIK 1" Sesi Kompetisi Menulis di Acara #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju - Aston Hotel Kupang, 20 Juli 2018


Adalah sebuah kebetulan yang menyenangkan, saat saya kembali ke Kupang untuk mengikuti tes lanjutan Beasiswa Bahasa Inggris, sebuah kegiatan dari  Direktorat Kemitraan Komunikasi (Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo) yang bekerja sama dengan Dinas Kominfo Provinsi Nusa Tenggara Timur, juga diadakan di kota ini. Tepat tiga hari setelah tes tersebut selesai dilaksanakan.

Saya pikir, ini kesempatan yang baik untuk bergabung pada acara #flashbloggingkupang #menujuindonesiamaju sebelum menentukan jadwal kembali ke Ende. Maka dari itu, ketika saya mendapatkan pengumuman kegiatan yang dibagikan kawan-kawan di beberapa grup, saya memutuskan untuk mendaftar.


Poster Kegiatan #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju



#flashbloggingkupang #menujuindoensiamaju merupakan sebuah acara yang mengajak generasi muda Indonesia yang senang menulis di blog untuk berkumpul bersama dan saling berbagi. Demikian ungkap Ibu Niken Widiastuti selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo, pada sambutan yang beliau berikan.

Lebih lanjut, Ibu Niken menyampaikan, sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa saat ini arus informasi begitu deras terjadi. Baik yang berisi konten positif, maupun juga konten negatif. Blogger dapat mengambil peranan penting dalam deseminasi informasi dengan menyebarkan kebaikan seperti etika penulisan dan penyebaran informasi yang baik di dunia digital.

Ke depannya, Ibu Niken berharap, para blogger memiliki kontribusi lebih dalam menyebarkan informasi positif dan mendukung kemajuan Indonesia tak hanya di bidang teknologi saja.

Nah, di acara ini, saya menemukan satu hal menarik yang patut saya bagikan kepada kawan-kawan. Jadi, acara #flashbloggingkupang terdiri atas beberapa sesi yang dibawakan oleh Pemateri yang berbeda.

Salah satu sesi yang cukup menancap dalam hati saya, ugh, soalnya saya sampai menitikkan air mata haru pada laki-laki bertubuh ceking dan baik hati itu. Yap, siapa lagi kalau bukan Presiden kita tertjinta, Bapak Ir. Joko Widodo. Sesi ini dibawakan oleh Bapak Andoko Arta, Tim Komunikasi Presiden, “Sudut Istana.”

Padahal sejujurnya, belakangan, saya agak susah terharu dan berderai air mata, saking jenuhnya melihat hal yang sama di hidup ini #eh.

Di tengah sesi ini, Bapak Andoko, menayangkan sebuah video yang tautannya bisa kawan-kawan tonton di sini: SATU HARGA, SATU INDONESIA



Saya kutip cerita Bapak Joko Widodo yang tertulis pada tautan tersebut:

Bertahun-tahun lamanya, warga daerah arah hulu Sungai Mahakam di Kalimantan membeli bahan bakar minyak dengan harga berkali-kali lipat dari harga BBM di kota besar. Sebagaimana yang dialami warga di sebagian besar Papua, satu liter bensin di punggung Kalimantan ini pernah mencapai Rp45.000. 

Masalahnya di distribusi BBM yang tidak mudah karena medan yang tak ramah. Tapi apa pun taruhannya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus kita wujudkan. Daerah yang terpencil, daerah terdepan, daerah terluar, tetaplah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kini, warga di wilayah terpencil di sekitar hulu Sungai Mahakam menikmati harga BBM yang sama dengan kota-kota lain di Indonesia.

Dan inilah perjuangan mendistribusikan BBM dari Samarinda ke Long Apari di pelosok Kalimantan Timur, dengan kapal dan perahu yang menyusuri sungai berair deras sejauh ratusan kilometer.

Ketika menonton video ini, hati saya haru biru, saya lalu teringat dua perjalanan yang saya lakukan ke Sumba pada tahun 2016 bersama kawan-kawan GAMASTIM BALI, ceritanya bisa kalian baca di sini: MAIWA LA HUMBA, MARI MEMBANGUN YANG BAIK dan ke Fatule’u beberapa bulan lalu bersama kawan-kawan Komunitas Buku Bagi NTT, ceritanya bisa kalian baca di sini: MENGHIDUPI LITERASI, SUSAH-SUSAH GAMPANG


Saya pikir, ini hal yang menarik bahwa di tahun 2018 ini, masih ada masyarakat di beberapa daerah di Indonesia yang tidak bisa mengalami kehidupan nyaman dan sejahtera sebagaimana saudara-saudaranya di kota, atau meskipun daerah terpencil, tetapi sudah mendapatkan perhatian dari Pemerintah. Baik Pemerintah Pusat, maupun juga Pemerintah Daerah setempat. Jalanan masih buruk, tak ada listrik, tak ada air bersih dan jauh dari pusat teknologi.

Video ini memacu semangat saya untuk mengunggah tulisan ini. Selain sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras Pemerintah di masa Bapak Presiden Ir. Joko Widodo, sekaligus memohon perhatian kepada Beliau (semoga beliau memiliki kesempatan untuk membaca, akan baik jika Panitia berkenan meneruskannya).

Harapan saya, Bapak Jokowi memiliki kesempatan yang lain atau mendelegasikan tim terkait untuk meninjau kerja Pemerintah Provinsi maupun juga Kabupaten di daerah-daerah pelosok di Nusa Tenggara Timur. 

Bagaimanapun juga, salah satu fokus Pembangunan Bapak Jokowi adalah Infrastruktur, mengutip apa yang diungkapkan oleh Bapak Maxi Manafe selaku Moderator pada #flashbloggingkupang hari ini, "Jika ingin Indonesia maju, harus membangun Nusa Tenggara Timur. Kemajuan NTT, juga merupakan kemajuan Indonesia."

Dua cerita yang saya sertakan melalui tautan pada tulisan ini, hanyalah segelintir dari sekian banyaknya pekerjaan yang belum dilaksanakan secara maksimal di Provinsi ini.

Dengan itu, bukan hanya warga wilayah terpencil di sekitar Hulu Sungai Mahakam seperti Long Bagun, Ulu Riam dan Long Apari, tetapi juga, kaka-adik, bapa-mama, nona-nyong di Amfoang, Timor atau Umbu dan Rambu di Kambata Mbapa Mbuhang, Sumba, memiliki kesempatan yang sama menikmati Indonesia yang Satu dan Indonesia yang Adil. Bukan hanya Satu Harga, Satu Indonesia. Tetapi juga, Satu Jalan, Satu Indonesia.


SALAM INDONESIA RAYA!!! 


Yuhuuu, dapat payung :) gara-gara jempol sekseh di twitter


Yeah jadi yang TERBAIK 1 ^^


Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional

Remaja berusia 13 sampai 16 tahun dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek ini.

Youth Jury Board Minikino Film Week 4

Minikino Film Week (MFW) di bawah naungan yayasan Kino Media tahun ini masuk usia keempat. Sejak awal festival film pendek internasional ini dirancang sebagai festival yang masuk dalam keseharian masyarakat, membuka kesempatan pada semua orang mengalami suasana menonton bersama dan sekaligus mengajak untuk bersikap lebih kritis terhadap apa yang ditonton.

Tahun ini Minikino mengawali rangkaian kegiatan pra-festival dengan mengadakan pelatihan selama tiga hari penuh di Omah Apik, Pejeng, Gianyar. Pelatihan bertajuk ‘MFW 4 Youth Jury Camp 2018’ telah dilangsungkan pada tanggal 6-8 Juli 2018. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi remaja berusia 13 sampai 16 tahun untuk dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek berskala internasional ini.

Jalur pendaftaran MFW4 Youth Jury Camp 2018 dibagi dua yaitu, jalur pendaftaran umum dan jalur beasiswa. Untuk jalur umum, pendaftaran dipromosikan di Indonesia dan Asia Tenggara melalui website dan media sosial, dengan persyaratan biaya pendaftaran. Sedangkan jalur beasiswa hanya dibatasi untuk 2 (dua) remaja yang memiliki Nomor Induk Siswa Nasional dari wilayah Bali. Penerima beasiswa mendapatkan fasilitas bebas biaya sepenuhnya, namun melalui proses wawancara dan proses seleksi yang ketat.

“Ini merupakan kesempatan yang istimewa dan bergengsi untuk para remaja. Mereka mendapat pelatihan khusus dan diberikan peran yang penting secara aktif menilai film-film pendek kategori anak, remaja dan keluarga. Film-film pendek yang dinilai oleh para juri remaja adalah yang sudah lolos resmi dari tim seleksi Minikino. Di dalam pelatihan ini mereka menentukan 5 nominasi internasional untuk Youth Jury Award 2018,” kata direktur festival Minikino Film Week 4, Edo Wulia.

Sebanyak 6 (enam) remaja dari Bali, Jakarta, dan Tangerang berhasil menyelesaikan rangkaian pelatihan intensif tersebut dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari festival sebagai MFW 4 Youth Jury Board. Mereka adalah Sophie Louisa (15) dan Keane Levia Koenathallah (16) dari Tangerang Selatan, Natasya Arya Pusparani (15) dari Jakarta Selatan, Seika Cintanya Sanger (15) dari Tabanan, serta Ni Ketut Manis (15) dan I Putu Purnama Putra (15) dari Karangasem.

Di hari pertama MFW4 Youth Jury Camp 2018, peserta dibekali dengan sejumlah materi tentang sejarah film dunia termasuk pengaruhnya di Indonesia, tata-cara mendengarkan dan mengemukakan pendapat, mengenal elemen gambar dan suara dalam film, serta kreatifitas tutur visual. Pelatihan ini langsung disampaikan oleh dewan komite Minikino Film Week 2018, yaitu Direktur Festival Edo Wulia, Direktur Program Fransiska Prihadi, Direktur Eksekutif I Made Suarbawa, serta fotografer resmi untuk festival, Syafiudin Vifick ‘Bolang’ yang secara profesional telah dikenal luas di Indonesia.

Modul-modul yang disiapkan dan diberikan para pengajar dalam pelatihan ini memiliki peran besar. Membantu para juri remaja menyaring puluhan film pendek internasional yang ditonton dan dibahas secara mendalam menjadi 5 (lima) nominasi 2018 Youth Jury Award. Keputusan ini dihasilkan melalui metode diskusi yang serius, proses mempertanggungjawabkan pendapat dan berujung pada mufakat.

Proses ini menciptakan tidak hanya sebuah proses penjurian yang kritis, namun juga generasi muda yang memiliki kualitas kepemimpinan yang sekaligus memiliki kepekaan untuk melihat, mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan kemampuan mencari titik temu untuk kepentingan bersama.

I Putu Purnama Putra, salah satu peserta dari Karangasem yang mengikuti MFW4 Youth Jury Camp lewat jalur beasiswa berkata bahwa ia digembleng banyak hal selama 3 hari tersebut. “Awalnya saya kaget, ternyata lolos seleksi beasiswa. Saya agak jarang nonton film, dan kalau pun menonton hanya menikmati saja. Tapi sekarang saya juga ikut menilai apakah tontonan itu bagus atau tidak.”

Natasya Arya Pusparani yang berasal dari Jakarta Selatan juga menyatakan bahwa MFW4 Youth Jury Camp ini merupakan sebuah pengalaman baru baginya. “Sebenarnya saya tipe orang yang lebih suka mendengarkan (pendapat orang lain). Tapi di MFW4 Youth Jury Camp ini saya dibimbing para mentor untuk berani mengemukakan pendapat. Pengalaman yang sangat bagus buat saya. Suasananya juga sangat bersahabat.” Ungkapnya.

Proses penjurian dalam Youth Jury Camp 2018 berlangsung lancar dan mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun semuanya masih akan berlanjut. Pada saat festival MFW 4 di Bali, tanggal 6 sampai 13 Oktober 2018 mendatang, para juri remaja tingkat internasional ini akan melanjutkan kembali diskusi mereka untuk menentukan 1(satu) peraih penghargaan prestisius 2018 MFW Youth Jury Award. Bahkan seluruh komite festival ikut penasaran menunggu keputusan mereka. Untuk info lebih lanjut bisa diikuti di tautan link minikino.org/filmweek

Levia (16) dalam sesi review MFW4 Youth Jury Camp 2018
Levia (16) mengemukakan pendapatnya tentang film yang baru saja ditonton.(foto: Vifick Bolang)
Hari kedua MFW4 Youth Jury Camp 2018
Para peserta menonton film pendek calon nominasi Youth Jury Award Minikino Film Week 4. (foto: Vifick Bolang)
Edo Wulia (Direktur Festival Minikino Film Week) menjelaskan materi sejarah film dunia. (foto: Vifick Bolang)
Diskusi bersama, saling mendengarkan dan berpendapat untuk mencapai mufakat.(foto: minikino)

The post Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional appeared first on BaleBengong.

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. II]


Su macam detektif siang itu. 

Berikut kelanjutan kisah KTP saya yang sejauh angan-angan. Kisah sebelumnya bisa cek di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag.I]

Saya ke kantor Dispenduk lagi hari Jumat 29 Juni lalu, bertemu seorang Ibu yang sangat ramah dan kemudian mengarahkan saya ke Ruang 7 untuk urusan E-KTP. Wah nomor keberuntungan saya ini, semoga yah alamat baiks.

Tiba di sana, saya lalu menyerahkan kertas bukti pengambilan yang lecek lumutan itu dan Kartu Keluarga versi lama. 

Wih saya diomelin, karena itu kartu keluarga zaman bahula, sudah tidak terpakai lagi. Ya iyalah, 2009 hahaha. Oke, saya kasih Kartu Keluarga baru, yang tidak ada nama saya, Petugasnya bingung dan mulai lihat saya atas bawah. 

Oh Come on saya bukan buronan. 

Lalu saya  ditanya lagi, pernah urus surat pindah domisili? Saya merasa tidak pernah mengurus itu, jadi saya jawab tidak. 

Sang Ibu di Ruangan 7 itu, yang demi tuhan, saya kenapa bisa lupa namanya padahal saya sudah sempat bertanya dan saling berjabat tangan, beliau mengajak saya ke ruangan lain, yang di depannya ada tulisan Kartu Keluarga itu (sebelumnya, sempat saya ceritakan di tulisan bagian I). Oh yah Ibu ini berkacamata.

Kami masuk, menuju pojok ruangan dan bertemu dua orang wanita berkerudung, yang satu masih muda, sedang serius di hadapan layar monitor sambil sesekali menimpali obrolan seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.

Wanita kedua ini, tengah asik meliuk-liukkan badannya mengikuti irama dari pemutar musik handphone dan terus nyerocos tentang hasil Pilkada Kabupaten Ende yang katanya sangat fenomenal, pas dengan lagu yang sedang mengiringinya bergoyang.

Kamu mau tahu lagu apa yang sedang ia dengarkan? 

GOYANG DUA JARI! YANG BIASA DI APLIKASI SAKTI TIKTOK ITU. 

Makin lama, jarinya ikutan naik, membentuk angka dua sambil tubuhnya tetap bergerak. 

Saya tiba-tiba pusing. Ugh ada apa dengan masya-raqat Ende ini? Mereka suka punya euforia yang sia-sia, mungkin saya dulu juga begitu kah? Duduk nganga di jalan hanya mau ikut rame, gegi mau ikut pawai keliling sampai goyang tidak jelas, sementara Pasangan yang menang tidak kenal kita sama sekali. #Eh Huft…

Sebelum saya, sudah ada seorang laki-laki duduk di depan meja wanita muda itu, tetapi sepertinya dia sedang berusaha menelpon seseorang untuk urusan yang sama, Kartu Keluarga. 

Urusan saya didahulukan, Sang Ibu dari Ruangan 7 menyerahkan dua lembar Kartu Keluarga milik saya untuk diperiksa. 

Ada lima atau enam kali, saya tak sempat menghitung karena mulai pening, wanita muda berkerudung merah muda itu bolak-balik dari komputer yang ada di hadapannya ke komputer yang ada di seberang mejanya. 

Usut punya usut, voila: karena saya pernah melakukan perekaman sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2012 di Denpasar dan 2016 di Ende, maka Nomor Induk Kependudukan (NIK) saya terdeteksi ada dua. 

Oleh karena itu, nama saya tidak masuk di Kartu Keluarga baru. Ugh. 

Sabar dulu, ada yang lebih menakjubkan lagi, ternyata oh ternyata, berdasarkan keterangan di sistem, E-KTP saya statusnya sudah “SIAP CETAK” sejak tahun 2012, beberapa bulan setelah perekaman di Gedung Rektorat Unud itu. Oh Anakku…… ENAM TAHUN lamanya pencarian ini. Hadeh kok bisa yah?

Mendadak saya ingin ke Jakarta, bawa serta peralatan lengkap, mungkin mutilasi saja Setya Novanto dan antek-anteknya kah?! SipalomasekiyaBarzulBollock!

Sedangkan perekaman yang saya lakukan pada tahun 2016 di Kantor Camat Ende Tengah, tidak dijelaskan nasibnya bagaimana, saya juga bingung bagaimana analisanya, tetapi karena alasan itu, NIK saya menjadi GANDA, yang berbuntut pada nama saya tidak ada di Kartu Keluarga dan sampai sekarang E-KTP saya belum ada. FIX BLUNDER!

Solusi yang akhirnya berlaku: Sang Ibu dari Ruangan 7 akan mengajukan permohonan Print E-KTP atas nama saya ke “bagian entah,” beliau tidak menjawab pertanyaan saya. 

Ketika saya menanyakan, berapa lama proses pencetakan ini? Jawabannya sungguh menyedihkan: “Ade, saya tidak bisa janji e, kapan ini jadi. Nanti, satu bulan lagi, datang cek ke sini. Datang saja dan cek, siapa tahu sudah ada.” 

OmowahaiGad. Adakah yang bisa menjamin bahwa ketika saya datang sebulan lagi, E-KTP itu minimal bisa di-cek alias jelas juntrungannya, udah sampai di mana dia? Duh!

Ternyata angka 7 di depan ruangan tersebut, tidak mempan sama sekali. T.T

Alhasil, yep, kertas baru lagi wkwkwkw… dengan sebagian kolom yang dikosongkan. Ya Tuhan, butuh kerja keras dan loyalitas benar yah, menguras segala-galanya.


Oh yah, untuk Kartu Keluarganya, saya hanya perlu membawa KK asli yang versi baru untuk selanjutnya dikeluarkan KK pengganti, yang jelas tertera nama saya nantinya di sana. 

Masalah berikutnya adalah: lembar asli Kartu Keluarga dimaksud, masih ada di Denpasar sekarang, dibawa serta adik saya sejak bulan Januari lalu untuk urusannya itu.

Kembali lagi, yah mungkin sudah nasib saya, bahwa ketika saya memutuskan pulang ke NTT, saya sudah harus siap jika SEBAGIAN BESAR WAKTU SAYA DIHABISKAN UNTUK MENUNGGU.

Menunggu di tengah ketidakpastian, kapan E-KTP jadi?

Menunggu lembar asli KK dikirim dari Denpasar.

Sementara saya harus segera kembali ke Kupang. Arghhhhh.

Trus, trus… ini aku kudu ngera emba lagi?! Akan ada berapa bagian lagi untuk curhat panjang lebar kali tinggi bagi luas ini?

Njlimet Kabeh!


Tenang, Nanti Tuhan Tolong!


Yuk Intip Aksi Lipooz Kenalkan HipHop di Bali



*Diunggah di website Musiklik.com pada 20 Desember 2016. Website tersebut untuk sementara sedang beristirahat dengan tidak tenang. Hiks T.T


Untuk orang-orang awam, ia bukan sosok luar biasa. Untuk kalangan tertentu, Lipooz menghunus mata dan hati, juga pikiran. Kekuatannya terletak pada rima yang berirama dari mulutnya seiring tempo dan musik yang membisik.

Lipooz atau lengkapnya Philipus R.I. Ngadut (RI itu bukan Republik Indonesia meskipun dia cinta mati dengan NKRI) adalah seorang pria asal Ruteng – Flores yang memilih menekuni Hiphop sejak tahun 2002 di Surabaya hingga kini berdomisili di Denpasar, Bali.

Musik merupakan pilihan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain. "Rap mampu bercerita tentang sesuatu secara detail karena panjangnya durasi lirik pada rap jika dibandingkan dengan genre musik lain yang liriknya cuma sepenggal dan diulang-ulang," ungkapnya saat ditemui Musiklik.com, (16/12).

Sampai dengan saat ini Lipooz sudah mengeluarkan dua album hip hop, Words = Power (2005), One Man Army (2007), juga belasan single track, baik solo maupun juga berkolaborasi dengan rapper-rapper dari berbagai kota di Indonesia. Tema yang sering diangkat dalam lagu-lagu Lipooz adalah tentang keseharian, cinta, kampung halaman-kota kelahiran dan self pride menjadi kebanggaan diri bagaimana hebatnya seorang MC memainkan kata-kata.

Pada 2013, Lipooz memutuskan hijrah ke Bali dan bertemu dengan teman-teman pelaku hiphop Bali yang sebelumnya cuma dikenal melalui sosial media. "Saya betah di Bali karena budayanya, keramahan orang-orangnya, alamnya yang luar biasa, serta kebebasan berpikir untuk menerjemahkan seni," ungkap Lipooz, MC-rapper di salah satu klub ternama di Denpasar

Lipooz cukup sering tampil di beberapa tempat di Denpasar untuk mengisi acara-acara tertentu. Bagi Lipooz, teman-teman hiphop di Bali tidak hanya mencakup rap, tetapi juga dance dan breakdance. Masing-masing mereka sudah sangat ahli pada profesinya sehingga ketika diminta untuk bergabung dan perform bersama mereka di acara komunitas Hiphop Bali/Dewata Hiphop, ia mengaku dengan senang hati meluangkan waktu untuk terlibat.

Untuk terus menjaga semangat hiphop, Lipooz tengah sibuk dengan sebuah proyek yang ia beri nama 16BAR.

Tentang itu bisa klik di sini: www.youtube.com/lipooz




Apakah Musiklikers  menyukai musik dengan aliran Hip Hop? Yah, tidak semua orang mengenali genre musik ini. Bukan hanya di Bali, tapi hampir di semua kota di Indonesia, musik Hip Hop adalah musik minoritas, karena masyarakat Indonesia didominasi oleh pendengar musik bernyanyi bukan pendengar musik berbicara (Rap).

Demikian ungkap Lipooz, jadi orang-orang lebih suka musik yang berharmoni dan vokal yang bernada daripada mendengarkan manusia ngomel-ngomel pakai rima dan nada, lanjutnya pada sesi wawancara bersama Musiklik.com (16/12).

Adapun 16BAR adalah sebuah Hip Hop web seri yang digarap Lipooz dengan melibatkan teman-teman rapper di berbagai penjuru Indonesia.

Proyek ini cukup merepresentasikan musik Hip Hop Indonesia saat ini. Alurnya seperti berikut, Lipooz akan menyediakan instrumental hiphop yang kemudian dieksekusi oleh rapper berbeda di setiap episodenya. Instrumen tersebut dibuat dengan alat musik dan perlengkapan seadanya langsung dari ruang kerja sekaligus kamar tinggal Lipooz di Denpasar. Itu kemudian dikirim kepada teman-teman rapper yang berniat mengeksekusi lirik sesuai instrumen.

Proyek ini terbilang masih belia karena baru berjalan empat bulan terakhir. Melalui 16BAR Lipooz sesungguhnya ingin mempromosikan teman-teman yang menggandrungi Hip Hop dan terkendala oleh berbagai macam hal. Proyek ini diharapkan dapat mewadahi musisi hiphop baik di pelosok maupun ibu kota yang memiliki kualitas Rap namun jarang diperhatikan.

 Ke depannya Lipooz berharap dapat menggandeng rapper-rapper Bali dan mengolaborasikan musik tradisional maupun juga bahasa Bali ke dalam Hip Hop yang ia garap.

Apalagi Hip Hop menurut Lipooz merupakan satu-satunya genre musik yang bisa dikombinasikan dengan musik dan budaya apapun, karena Hip Hop sendiri adalah sebuah budaya, bukan terbatas pada musik saja. Thumbs Up!



Penulis : Maria Pankratia
Editor : Luh De Dwi Jayanthi
Foto : Dokumentasi Lipooz
Caption : Lipooz Performance


MUSIK, LIPOOZ, HIP HOP, BALI, RAPPER, INDIE MUSIC, INDONESIA, 16BAR

Teroris, Manusia Tanpa Nurani!

Saya tidak tahu mau berkata apa lagi, teroris itu seperti apa, jangankan dibandingkan dengan manusia, dengan binatang pun mereka tidak layak disandingkan. Wujud mereka memang seperti manusia, tapi rasanya yang mereka lakukan tidaklah layak disebut manusia. Mereka sangat sadis, membunuh orang dengan membabi buta dengan tujuan utama menciptakan rasa takut bagi semua orang, membuat rasa tidak aman dan kecemasan.

Kalau menurut saya, teroris itu tidak punya hati nurani, otaknya tidak normal karena yang dilakukan tidak masuk akal. Bagi orang normal, tentu tidak mungkin berani bunuh diri apalagi dengan tujuan membunuh orang lain, apalagi ikut mengorbankan anak-anak, sangat tidak berperikemanusiaan. Saya tidak tahu dan tidak bisa membayangkan bagaimana isi pikiran mereka yang ikut mengajak anaknya untuk bunuh diri dengan bom. Duh, ngeri sekali.

Yang paling membuat sedih tentu saja para korban yang berjatuhan, baik yang meninggal ataupun luka. Semua kejadian teror itu pasti meninggalkan rasa sedih dan sakit yang tidak bisa hilang begitu saja. Kita semua berduka. Saya yakin kita semua yang normal pasti memendam rasa marah yang luar biasa terhadap prilaku teroris itu. Entah bagaimana mengungkapkan semua rasa marah ini. Rasanya berdoa saja agar para teroris itu segera sadar tidaklah cukup. Mereka rasanya tidak pernah habis, tidak mau sadar bahwa hidup damai dalam segala perbedaan itu sangatlah indah.

Kita kini berharap semoga pemerintah bisa berbuat lebih jauh lagi untuk menumpas semua teroris itu sampai ke akar-akarnya. Indonesia milik kita bersama, semoga damai semuanya..

Baca Juga: