Tag Archives: Humanitarianism

Pluralitas dan Pluralisme dari Hongkong

Awas! Ini bukan tentang agama atau anti/pro Jaringan Islam Liberal. Ini tentang pilihan pluralisme.

Kerabat Puspawarna, kembali kita bersua di jagat maya. Semoga anda tetap bugar-berjaya dan terus merdeka menjadi bianglala. Saya memang sengaja beristirahat sebentar dari riuh argumen yang sedang terjadi. Akun Twitter pun saya deaktivasi untuk sementara waktu. Saya pikir ketika sedang baku argumen memang lebih baik lewat tulisan yang tak terbatas di 140 karakter. Debat seyogianya lewat blog saja. Pemaparan pikiran satu sama lain pasti lebih nyaman untuk ditelaah, lalu diangguki setuju atau malah ditolak mentah.

Dari tiga rangkuman opini yang sudah saya beberkan, Surat Terbuka untuk Rocket Rockers, Sesat dan Kafir Harus Bersatu, serta Merdeka Menjadi Bianglala, akhirnya saya mendapat respons Dilema Lini Massa Tentang Pluralisme dan Pluralitas yang, harus saya akui, disusun numerikal, rapi, dan runut. Dan saya baca hingga tuntas. Berbeda dengan tanggapan via Twitter yang ditulis oleh manajernya—what’s his name again?—yang, tanpa mengurangi rasa hormat, tidak saya konsumsi hingga selesai karena cengengesan dan mencla-mencle. Itu manajer ya? Atau road manager? Atau manajer ad-hoc, diambil asal saja dari crew karena posisi manajer sedang lowong? Kicauannya paceklik kharisma. Belum lagi… (Lebih baik saya hentikan kalimatnya hingga di situ saja, saya sedang mendisiplinkan diri agar mengurangi drastis kebiasaan menghina, sebab konon murtad pada adat ketimuran.)

Numerikal, rapi dan runut, itu kelebihan respons tersebut. Saya ikhlas angkat topi. Kekurangannya? Kekurangannya sejatinya bahkan sudah dimulai dari detik pertama, yang awalnya membuat saya malas membaca isinya. Haha. Namun karena susunannya apik saya lalu luangkan waktu sekadar menengok macam mana celotehannya. Ya, benar, kesalahan telah dimulai sejak langkah termula: Lini Massa. Cukup lama saya mencoba memahami apa maksud dari "Lini Massa". Garis masyarakat? Lajur publik? Demarkasi umum? …Ah, ternyata maksudnya linimasa yang merupakan terjemahan cerdas dari frase Bahasa Inggris timeline. Terjemahan cerdas yang (sayangnya) dimodifikasi kembali secara tidak cerdas. *uhuk*

Nah, dari gagap linguistik sedemikian rupa wajar saja jika saya berubah ngikik ketika saya hendak diterangkan tentang kebahasaan: apa makna pluralitas, apa bedanya dengan pluralisme. Membedakan "linimasa" dengan "lini massa" saja masih mencret kok malah sekarang sok menjelaskan dikotomi pluralitas dengan pluralisme. (Apalagi jika saya nyinyir mengkoreksi tulisannya, semisal "ke-bhineka-an". Bung, yang lebih tepat adalah "kebinekaan" karena "bineka" telah masuk menjadi salah satu lema di Tesaurus Bahasa Indonesia yang bermakna seragam dengan "majemuk". Jika pun menggunakan slogan negeri ini, yang benar adalah Bhinneka Tunggal Ika (dengan dua "n", bukan satu). Apa mau saya lanjutkan lagi program pencibiran gagap linguistik ini? Jangan. Kasihan.) Tentu saja berikutnya saya coba didikte bahwa pluralitas harus dibedakan dengan pluralisme blablabla… Bahwa yang ditentang olehnya dan kelompoknya adalah pluralisme theosophy. Uh oh. Mungkin maksudnya adalah pluralisme teosofi (Ingat! Photography disadur ke Bahasa Indonesia menjadi fotografi). Kembali saya menjadi ragu apakah ia betul paham dan tahu apa yang sedang dicerocosinya. Semua kawan-kawannya selalu penjelasannya kurang lebih sama. "Pluralitas itu berbeda dengan pluralisme, mas. Yang kita tolak itu pluralisme agama, mas." Bahkan salah satu personel Rocket Rockers yang lain selain pokalis, eh, fokalis, eh, vochalis—aduh, kena gagap linguistik juga saya jadinya—sudah termakan yaddayaddayadda pluralitas-pluralisme tersebut. "Gue menolak pluralisme tapi setuju pluralitas." Duh Gusti, saya jadi heran, sejak kapan istilah pluralisme itu menjadi negatif? Pluralisme itu bagi saya intinya adalah keadaan keberagaman, terjadinya interaksi dan adanya toleransi. Cenderung netral mengarah positif. Alamak jauh dari negatif. Saking penasarannya, saya kemudian bertanya dengan pakar bahasa Eko Endarmoko, penyusun kamus Tesaurus Bahasa Indonesia, tentang hal ini. Ia pada dasarnya sependapat dengan saya. Kalimat Eko persisnya seperti ini, "Buat saya, ‘pluralitas’ itu fakta, yaitu keberagaman, kebinekaan. Sedang ‘pluralisme’ itu sikap mengakui pluralitas. Saya kira banyak orang rada keliru—termasuk MUI ketika menyatakan bahwa pluralisme menganggap semua agama benar. Itu, kita tahu, namanya monisme."

Sudahlah, cukup ah, saya bosan lagi lelah dengan kisruh pemaknaan macam demikian. Muak akibat butek saling silang teori yang tiada berkesudahan. Mbulet. Mendingan langsung ke praktek saja, satunya kata dan perbuatan saja. Benar, baiklah, jika kemudian di antara kita ternyata hanya berbeda pemahaman dalam istilah, sekadar isu kebahasaan, semata debat panas tentang terminologi, okelah, mari kita kembalikan ke substansi: apa benar Ucay (hore!) menghargai keberagaman, sosok bineka, memang toleran seperti pengakuannya? Jika di sekolah nilai anda rendah dalam mata pelajaran eksakta dan ilmu sosial (baca: tolol) maka anda akan kambing-congek percaya klaim dia begitu saja. Mulut manis dan berondongan ayat suci saja bukan jaminan. Foto ini—cukup satu saja—sudah sangat agresif berbicara, bisa dijadikan dasar kuat sebagai pijakan tuduhan bahwa pengakuannya penuh dusta:

Bagaimana mungkin mengaku toleran, menghargai perbedaan, jika mengagungkan agresor macam Rizieq dan Ba’asyir sebagai suri tauladan? Ndak mungkin toh? Mustahil kan?

Berbeda jika tokoh yang dijadikannya panutan profil teduh macam Gus Mus dan Gus Dur, misalnya.

Sudah. Cukup. Capek. Saya akhiri baku argumen ini hingga di sini. Doi menang mulut manis dan berondongan ayat suci doang. Prakteknya mah bohong besar.

Bhinneka Tunggal Ika,
RUDOLF DETHU

___________________

*Foto Gus Mus dan Gus Dur adalah pengganti dari foto Gus Mus yang tadinya menghiasi artikel ini. Setelah berdiskusi hangat dan riang lewat e-mail dengan putra Gus Mus, Mas Ova, maka diputuskan untuk mengganti foto Abah—demikian beliau sering dipanggil oleh orang dekatnya—dengan yang lain sebab ternyata puisi yang tercantum di situ adalah bukan karya Gus Mus. Penggantian foto tersebut adalah sekaligus permohonan maaf atas keteledoran saya. Pun substansi dari ujaran saya adalah lebih kepada sosok Gus Mus yang teduh, bukan prioritas pada puisinya. Demikian. Terima kasih.

Merdeka Menjadi Bianglala

Awas! Ini bukan tentang agama atau anti/pro JIL. Ini tentang pilihan pluralisme.

Kerabat Puspawarna,

Jabat erat keberagaman dari klandestin. Ada kabar mencengangkan, utamanya bagi insan bineka yang berdomisili di Bali. Gerakan Indonesia Tanpa JIL (ITJ) yang notabene pendukung "Pluralisme? Injak saja!" ternyata sudah membuka cabang di Bali (akun Twitter: @ITJ_BALI dengan @BahrudinJamil sebagai admin). Konon berpusat di Klungkung.

Duh gusti, ini sungguh lucu. Di Bali mana ada JIL? Mau menghadapi siapa memangnya? Atau memang berencana besar menginjak pluralisme yang justru merupakan fondasi utama Bali? Oh, ok, ok, mungkin sekadar antisipasi agar benih-benih JIL tak bersemi di pulau Dewata. Harus diinjak duluan agar senantiasa kerdil atau sekalian binasa. Begitu? Hmmm… Okeh. Bolehlah diterimah logikah.

Tadi menyebut sekadar mengantisipasi ya? Baiklah, sama juga, sekadar mengantisipasi kehadiran gerakan ITJ tersebut di Bali maka saya sudah minta rekan-rekan saya untuk mengkonfirmasi langsung ke akun Twitter @ITJ_BALI dengan memberikan 2 pertanyaan mendasar:
1. Anda bagian dari "Pluralisme? Injak saja"?
2. Jika tidak, mengapa mengusung Ba’asyir & Rizieq (anti keberagaman) sebagai suri tauladan?
Jawaban silakan e-mail ke: rudolfdethu@rudolfdethu.com

Saya masih menunggu jawaban dari penanggungjawab akun tersebut. Nah, sambil menunggu respons tersebut mari kita siram kembali ingatan kita dengan menampilkan 4 gambar serta 1 akal sehat bersih-segar:
Indonesia Tanpa JIL menjadi partisipan Apel Siaga Umat "Indonesia Tanpa Liberal", 9 Maret 2012, di Jakarta
Salah satu aktivis ITJ bergandengan bersama gerombolan radikal yang gemar mengumbar label sesat dan kafir
Jajaran suri tauladan para peserta aksi
Salah satu "guru besar" ITJ, Rizieq (baca: pembinasa keberagaman), sedang berpidato kala aksi sedang berlangsung

Sekarang silakan gunakan akal sehat dengan baik lalu asosiasikan ke-4 foto tersebut, apa iya gerakan Indonesia Tanpa JIL benar menghargai pluralisme (keberagaman)? Kecuali jika anda kurang menonjol dalam bidang akademis kala bersekolah (baca: tolol) maka anda akan manggut-manggut percaya kepada klaim mereka sebagai organisasi yang menghargai keberagaman.

Ah, sekalian juga, mohon sudi kiranya kawan-kawan outSIDers Muslim dan punk rock puspawarna beragama Islam yang berdomisi di Klungkung bersilaturahmi ke markas ITJ di Klungkung. Tanyakan saja dua pertanyaan di atas. Nanti juga saat saya berlibur ke Bali saya akan minta ITJ Klungkung untuk meluangkan waktu bertemu dengan saya. Saya akan mengajak sahabat-sahabat Muslim saya bertemu dengannya. Ini saya memang sengaja mengajak kerabat Muslim puspawarna agar ITJ tak seenaknya mengklaim mewakili suara mayoritas. Pun saya akan menolak bicara agama sebab ini isunya pluralisme (keberagaman). Sekali lagi, para karib Muslim saya hanya akan jadi penyeimbang klaim ITJ sebagai wakil mayoritas.

Saat bertemu nanti saya akan tegaskan dengan menambahkan 2 pertanyaan lagi:
3. Kedekatan ITJ dengan Ba’asyir (baca: radikalisme). Sebab radikalisme telah dua kali, tahun 2002 dan 2005, meluluhlantakkan Bali (tapi gagal memporakporandakan pluralisme sebab tiada secuil pun tersulut konflik antar agama setelah tragedi mengerikan "Pluralisme? Injak saja!" tersebut)
4. Apakah ITJ Klungkung juga memiliki tabiat seperti guru besarnya yang kerap seenak udelnya mengumbar cap sesat dan kafir ke pihak lain?
Sekali lagi mari saya tekankan: Tidak siapa pun—TIDAK SIAPA PUN—berhak menyebut orang lain sebagai sesat dan kafir. Kata "sesat" dan "kafir" adalah frase kebahasaan yang bermakna derogatori (derogatory) alias merendahkan, melecehkan, bertendensi menghina. Dalam konteks ini, "sesat" dan "kafir" adalah kasta setan tertinggi dari derogatori karena sifatnya yang amat jahat dan keji merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan. Saya pribadi tak akan pernah mau tunduk, sampai kapan pun saya akan melawan, cecunguk rendah nan berakal budi menjijikkan yang menyebut saya sesat dan kafir. @ITJ_BALI harus mampu meyakinkan saya bahwa anda berbeda dengan suri tauladan anda.

Bhinneka Tunggal Ika. Bersatu dan merdeka menjadi bianglala. Mohon maaf lahir dan batin.

RUDOLF DETHU

NB: Mohon sudi kiranya ITJ nanti mengirimkan satu e-mail saja ke saya. Kalau memang punya adab, jangan beramai-ramai merespons. Malu-maluin dong kalau mengeroyok. Saya ini cuman sendiri kok. Saya juga tak akan menjawab e-mail tersebut jika anda saya anggap tipe nakal dan mengkerdilkan alias kelas kambing macam "Pluralisme? Injak saja!" Terima kasih banyak sebelumnya.

Sesat dan Kafir Harus Bersatu. (Atau Mencret Menjadi Pengecut Seumur Hidup.)

Awas! Ini bukan tentang agama atau pro-JIL. Ini tentang pilihan pluralisme.

Ayo kita mulai. Sejak menyebarkan "Surat Terbuka untuk Rocket Rockers" segera saja berhamburan respons yang saya terima. Yang paling semangat mengeroyok saya adalah sejawat dari sang biduan Rocket Rockers—what’s his name again?—dari gerakan Indonesia Tanpa JIL. Bertubi-tubi saya dikuliahi serbaneka isu, itu sebenarnya begini, ini sejatinya begitu:

Yang pertama mereka para "Pluralisme? Injak saja!" mencoba meluruskan pemahaman saya tentang pluralitas, pluralisme, dan makna isme itu sendiri. Saya berujung bingung dengan justifikasi linguistik versi mereka yang menurut saya terlalu dicari-cari. Mereka lupa bahwa saya adalah pencinta bahasa, terutama Bahasa Indonesia. Saya tahu. Saya paham benar. Saya punya alasan sentimental mengklaim diri sebagai "munsyi".

Yang kedua mereka para "Pluralisme? Injak saja!" sok mengajari saya tentang penggunaan frase yang nakal, dalam konteks ini: permainan kata "injak saja!". Sama, saya juga berujung bingung sebab "injak saja" itu tidak nakal tapi agresif—ofensif malah, bersifat menyerang, mengerdilkan, kadang bisa membinasakan. Mereka lupa bahwa saya pernah punya clothing line Suicide Glam yang pada masanya jaya wijaya menjadi salah satu distro terbesar di Indonesia, serta saya pernah memanajeri Superman Is Dead dalam rentang waktu nan tak terbilang (tak perlulah dijelaskan siapa SID). Kedua entitas tersebut fondasinya sama: Nakal dan membebaskan. Bukan nakal dan mengerdilkan. Ya, saya punya alasan dramatis mengaku-ngaku sebagai "propagandis".

Yang ketiga oleh mereka dipikirnya saya kurang banyak membaca. Mereka tidak tahu bahwa saya sadar seberapa pentingnya membaca plus saat ini sedang kuliah di bidang perpustakaan di Australia. Pun saya pernah memiliki perpustakaan kecil dan terbuka untuk umum selama beberapa tahun. Pula saya berkeyakinan bahwa di Indonesia, jika satu tempat ibadah dibangun, maka satu perpustakaan juga harus didirikan. Tujuannya? Makin rajin membaca yang berimplikasi mencerdaskan bangsa yang bineka ini lalu di kemudian hari tersentak sadar bahwa keberagaman (pluralisme) adalah yang justru menyatukan Nusantara; kemudian mahfum bahwa "Pluralisme? Injak saja!" adalah tindak khianat.

Silakan mereka, anda, penolak keberagaman menganggap saya arogan. Tiga paragraf jumawa di atas memang sengaja dikreasikan untuk anda saja kawanan "Pluralisme? Injak saja!". Tujuannya? Agar anda lebih mawas diri serta, ahem, pick your battle. Oh ya, saya belum bilang bahwa sejak 2006 saya beserta sejawat dari Komponen Rakyat Bali (juga Yogyakarta, Sulawesi Utara dan Papua) telah bersinggungan dengan orang anti keberagaman macam anda di isu Undang Undang Pornografi. Jadi saya telah "kenal baik" dengan anda, siapa anda, cara pendekatan anda, agenda anda. Jujur, saya, kami, memang kalah karena akhirnya bendera UU Pornografi bisa dikibarkan. Tapi tidak di Bali. Tidak di hati para pencinta keberagaman.

Sudah, sekarang mari kita kembali ke topik utama: Rocket Rockers. Mari saya buktikan bahwa kecurigaan penolak keberagaman itu memang sahih dan beralasan. Cukup dengan 3 foto dan 1 logika benderang.
Aksi Indonesia Menolak Liberal dimana turut berpartisipasi di antaranya adalah gerakan Indonesia Tanpa JIL tempat si vokalis Rocket Rockers—damn, what’s his name again?—meluangkan waktunya di kala senggang.

Salah satu aktivis Indonesia Tanpa JIL dikawal oleh seorang dari, um, FPI? MMI? HTI? Saya kurang tahu. Yang pasti bagian dari organisasi radikal.
Jajaran suri tauladan para partisipan aksi Indonesia Tanpa Liberal. Di antaranya ada Ba’asyir dan Rizieq.

Nah, kerabat puspawarna, pengusung kebinekaan, pencinta keberagaman, dari kedua nama yang saya sebut di atas mana yang anda anggap menghargai pluralisme? Sebaliknya, justru para "guru besar" tersebut adalah orang-orang yang kerap menghancurkan tempat ibadah non kaumnya serta dengan seenak udelnya mencap pihak lain sebagai kafir dan sesat. Atau manuver lucuk mereka: Mengaku menghargai keberagaman namun—salah satu contoh saja—mengharamkan mengucapkan selamat natal. Anda tahu arti dari mengharamkan? Babi haram = babi hina, menjijikkan, menimbulkan penyakit. Jika anda relatif agak tidak terlalu pandai (baca: tolol) mungkin anda akan terbuai dengan klaim mereka sebagai mahluk yang menghargai keberagaman.

Jadi saya tetap dengan pendapat saya sejak awal: Sama sekali tidak percaya bahwa personel Rocket Rockers terutama Noor Al Kautsar alias Ucay (Ha! Baru ingat! Mohon ikhlas dimaafkan, saya memang gampang lupa nama jika sedang jijik) klaimnya menghargai keberagaman. Punk rock, kawasan yang saya hafal benar, justru adalah surganya para insan bineka. Saya tidak terima si personel Rocket Rockers itu merecoki zona punk rock nan puspawarna, yang bangga menjadi pelangi ini. Pun saya menolak bersinggungan sampai kapan pun dengan jenis orang yang merasa berhak mencap orang lain sebagai kafir dan sesat. Tidak siapa pun—TIDAK SIAPA PUN—boleh menyebut orang lain kafir dan sesat. Kenapa dia merasa berhak memasang label kafir dan sesat kepada kita, kepada saya? Siapa yang telah mengangkatnya menjadi mahluk yang berharkat lebih tinggi dari kita, dari saya? Maka itu saya memilih melawan, menolak mencret seumur hidup menjadi pengecut.

Bhinneka Tunggal Ika. Bersatu menjadi bianglala.

RUDOLF DETHU

NB:
1. Sudi kiranya dimaafkan bagi yang foto/karyanya saya gunakan tanpa ijin sebelumnya
2. Kolom komentar saya tutup sebab kesimpulan saya sudah final. Jika ingin merespons ini silakan bikin tulisan sendiri

Surat Terbuka untuk Rocket Rockers

Kegelisahan saya bermula dari sebuah tampilan foto di Facebook dari salah seorang personel Rocket Rockers saat ia berpartisipasi di acara Indonesia Tanpa JIL dimana salah satu dari orang yang diajaknya berpose mengenakan kaos "Pluralisme? Injak Saja!" Mohon maaf, foto tersebut sekarang sudah tidak ada lagi di album foto personel Rocket Rockers tersebut. Tapi kebetulan saya menemukan kaos bersablonkan tulisan tersebut di album foto yang lain:

Dari foto tersebut beserta jargon-jargon para simpatisan "Indonesia Tanpa JIL" jelas tergambar bahwa mereka menolak pluralisme, sekularisme dan liberalisme. Alias, jika dimaknai bebas para penolak JIL itu anti keberagaman. Agama lain? Injak saja. Yang berbeda suku—misalnya Bali yang cenderung sekuler—adalah kafir. Serta yang paling mereka prioritaskan: bahaya laten Zionisme serta Kristenisasi. Yang khas, aktivis gerakan ini memiliki semacam kode pemersatu yaitu: salam satu jari. Dari pemahaman saya intinya salam satu jari ini adalah sebuah peringatan untuk kembali ke asal, gerakan pemurnian, hati-hati sebab orang yang berada di luar lingkaran, yang berbeda keyakinan, tak lebih dari kumpulan kafir.

Saya sih tak masalah dengan orang yang berbeda keyakinan, mau masuk jadi anggota klub ini grup itu, menjadi ekstrem kiri mau pun kanan, bahkan menggunakan SARA sebagai bahan lawakan pun menurut saya masih sah-sah saja. Yang menurut saya berbahaya adalah anjuran/perintah/pidato yang menyulutkan kebencian pada suatu sosok dan/atau hal tertentu. Contoh paling sederhana: Pluralisme? Injak saja! Jargon ini kan berarti menafikan keberagaman. Hanya mengakui bahwa kelompok mereka saja yang paling berhak untuk hidup. Okelah, silakan merasa paling benar… Tapi "injak saja!"? Itu sudah menunjukkan agresivitas, menyerang kelompok lain (baca: kafir). Okelah, silakan, itu hanya sebuah permainan kata-kata, marketing gimmick. Yang duh-gusti menyedihkan adalah seperti yang dilakukan Rocket Rockers, menyuruh untuk menginjak keberagaman (agama berbeda, suku lain, a.k.a. kafir) tapi tetap saja, sekadar menyebut contoh, berkonser di Bali, menerima uang dari para kafir, berjingkrak-jingkrak "menghibur" (atau—sambil mempraktekkan salam satu jari—"kembali lah kau ke jalan yang yang benar wahai") para kafir. Cih.

Kenapa surat ini saya tujukan kepada Rocket Rockers? Sebab setiap kali salah satu personel tersebut menghadiri acara "pemurnian" selalu saja yang disebut adalah si anu dari Rocket Rockers. Artinya ini bisa dikaitkan dengan institusi bertajuk Rocket Rockers. Kenapa saya tiba-tiba gerah padahal gerakan pemurnian ini telah ada sejak cukup lama? Sebab sudah mulai masuk ke wilayah yang saya sangat akrabi: musik. Silakan saja beraktivitas memurnikan/meluruskan di kelompok sendiri, jangan kami bagian dari pluralisme ini dicekoki lelucon fundamentalisme.