Tag Archives: humaniora

When I Miss You :) (via GungWie’s Weblog)

:’)

When I Miss You :) When I miss you, I smile.. I think about you I sing a song that you like the most.. I re-read our old conversation.. I try to call you, but after I wrote your phone number, I press any key to stop. I stare your picture again and again, check your timeline too way often. I make some note and spend the time write something about you.. I can hardly breathe.. I wish that I was looking into your eyes.. I think I’m insane. But it's just me missing you … Read More

via GungWie's Weblog


tujuhbelasan untuk satu tujuan

di hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66, saya bingung, bimbang, ragu..yaa,wajar sih,saya sebagai remaja emang lagi masa-masa labil gitu. sebut saja masa pencarian jati diri, seperti gambar terakhir di Poetica Grafica dari Kang Ayip,”kita harus ban66a sama siapa?” daripada saya sok2 nasionalis pasang profil picture merah putih, twibbon merahputih, bawa2 bendera merah putih, tapi ga tau artinya, lebih baik  saya merenungi dulu arti kemerdekaan, dan Indonesia.

oleh karena akhir-akhir ini kinerja otak agak melambat, yang sepertinya memerlukan libur panjang *alasan aja sih* jadi sampe tanggal 16 agustus blum juga ada ide mau ngapain, ya udah deh, saya naikin bendera aja, saya suka melihat bendera berkibar-kibar di angkasa, saya culik Komang Edi, tetangga saya yg kelas 5 SD, utk naikin bendera, setalah bendera berkibar, saya paksa dia utk ikut hormat, dia bingung, saya suka dia bingung. huhahaha

lagi khusyuk memandangi sang saka merah putih yang merahnya mulai agak oranye, mirip2 bendera pusaka gitu, pak ketua pemuda sms, ngajak kumpul2 di warung depan, mau ngbrol utk buat lomba apa besok di bale banjar. singkat cerita, rapat ditutup dengan, “lombanya ga masalah, yg penting ada pesertanya”. yeaah..masalah di banjar ini adalah uhm..entahlah, saya juga bingung, entah pemalu, atau pemalas, tak peduli atau pura-pura tak mendengar, yg pasti susah sekali mengumpulkan anggota sekehe teruna-teruni atau karang tarunanya. mari kita lihat besok ;)

“kepada kawan2 stt.yowana dharma kerthi, diharap datang ke banjar, lomba-lomba memperingati HUT Republik Indonesia akan segera dimulai” suara si Kucit terdenger nyempreng dari pengalo-aloan alias speaker di banjar, saya segera berjalan kaki menuju banjar, sekalian memantau lingkungan sekitar dan motret bendera, mumpung langit sedang biru cerah ceria, dan siapa tau ketemu adik yg disitu ituu..*shaalalalaa*, oke, mari jalan, mari jepret!

yak..sampai di banjar, cuma ada Kucit yg sibuk wara-wiri. ga lama, dateng Koming Puji – anaknya pak Puji, dateng bawain alat-alat lomba semacam dua bungkus krupuk, 2 roll tali rafia, 1 gulung tali kemong, 1 kresek guli/kelereng, beberapa biji paku, sudah jelaslah kami akan debus..eh, lomba. bahan sudah siap, trus..pesertanya manaaaa? setelah menunggu 1 jam 45 menit, hanya muncul beberapa anak, kami pasrah, ya udah deh.kalian aja yang lomba…kami tutup itu jalan di ujung tegal sari dengan semena-mena, gerobak sampah kami selonjorkan di ujung jalan. yang mau lewat kami “arahkan” lewat jalan belakang melalui PCA. yeaah! kita mulai lomba makan krupuk dengan brutal dan berisik. ternyata kebrutalan itu mengundang warga yang lain, akhirnya banyak juga yang ikut lomba…yuhuww!

dan inilah para juara,ditemani para tetua..eh,senior :D

memang sih,kami agak brutal dalam perancanaan dan pelaksanaan, nutup jalan dengan semena-mena, tapi inget katanya bli Jun di bungklangbungkling, gpp sekali-sekali, biar pernah krama balinya ngerasa sebagai pemilik tanah sendiri, sebelum semuanya dikuasai investor luar.

daripada susah mikirin tingkahpolah yg ditipi, mending kita mulai dari yang terdekat, kepalkan tangan, dan tinju ke udara dengan penuh semangat!

merdekaa!


mbah is back! aye!

sudah baca cerita saya tentang dorong mobil di Batur? klo belum,dan kalo niat, silakan dibaca di sini.

lama ga liat si embah biru, yg katanya tom-tom, habis didorong2 itu dia dimasukkin ke bengkel biar jadi transformer.

Waktu kami ke tamblingan, nanangnya tom-tom mampir ke tempat kami bawa mobil item bertampang sangar, dan…lihat sendiri deh ;)

jimni '86

“bole dibawa turun ke batur lagi?” tanya saya ke pengemudinya sekaligus montirnya,

“amaan” jawabnya

*noleh ke tom-tom* :D

ada yang mau ikut?


ngantuk? jepret aja

anggap saja saya dalam keadaan mengantuk tingkat tinggi, level 7 dari 9 level, dan saya diajak sembahyang ke Pura Pucak di Gianyar, semacam saya ingin menghilangkan ngantuk dan malas membawa kamera besar. saya tertarik dengan ukiran-ukiran yang rumit dan detail yang konon dibuat di tahun 1920-an.

jikalau kamu sedang mengantuk, cobalah tengok foto2 ini, mungkin bisa menghilangkan kantuk.

mungkin….

dan, seperti setiap odalan,selalu ada parade dagang nasi, dagang mainan, dan hiburan, mulai dari tari-tarian, drama, calonarang, dan..hei!! ada dek ulik! salah satu diva pop bali ;)

DSC01140 DSC01141-pola DSC01142 DSC01143 DSC01145-pola DSC01146 DSC01151 DSC01152 DSC01153 DSC01154-pola DSC01156-pola DSC01157 DSC01158 DSC01159-pola DSC01160-pola DSC01161 DSC01162 DSC01163 DSC01164 DSC01165 DSC01166 DSC01167

pohon lateng

 

jahe alas

Tiga jam perjalanan santai dari Denpasar, bersama Atik, Yudha dan Tom-tom, kami akhirnya tiba di sekitar danau Tamblingan, sedikit bergeser dari tujuan awal, danau Buyan. Setelah start molor 1 jam 30 menit, hingga mengarahkan kami makan siang nasi campur dan nasi bubuh di depan Pura Taman Ayun. Yummiee!

sebelum berangkat

Setelah berjalan dengan mengikuti insting dan kira-kira, akhirnya kami sampai di sebuah tempat sejuk dan agak lembab, areal parkir yang luas di pinggir hutan, di sisi lain areal parkir itu ada pos kecil, tampaknya seperti pos untuk mulai trekking.  Baiklah, singkat cerita itu memang pos utk yang mau trekking, ada beberapa jalur trekking, dari yang terpendek memerlukan waktu tempuh sekitar 2 jam, menyusuri hutan disekitar sana hingga sampai di pinggir danau, hingga 8 jam sampai di balik gunung. Karena memang ga punya tujuan, kami memutuskan mencoba trekking yang jarak pendek, berbekal tas penuh cemilan, sandal jepit, jaket, dan tongkat kayu minjem disana, sungguh jangan tiru kami, persiapkanlah yang lebih matang. Kami ditemani Bli Kadek Ris, guide yang ramah dan suka ngobrol. Baru saja kami masuk hutan, dia sudah berhenti dan menunjukkan tanaman yang tampak seperti bunga dengan banyak kelopak bertumpuk-tumpuk berwarna merah,”ini namanya Jahe Alas, bisa dipake untuk obat mata, tapi dipakainya pagi2 sebelum matahari terbit, seger sekali rasanya” terangnya sambil memetik dan memeras jahe alas tersebut. Sambil berjalan menembus hutan, dia banyak bercerita tentang isi hutan tersebut, seperti binatang-binatang yang masih tersisa, contohnya, landak, musang, kijang, dan sesekali dia berhenti untuk menjelaskan yang lebih detail.

lateng siap

lateng kenyer

“wooow..banyak lateng” ujar tom2 menunjuk ke bawah, sekumpulan semak di sekitar jalan setapak.

“wah. Kalau disini banyak ada lateng..itu namanya Lateng Kenyer, kalo kena kulit, akan terasa gatel dan perih, tapi sekitar 30 menit,setelah itu ilang.” bli Kadek menjelaskan tentang lateng Kenyer, kemudian dia melanjutkan penjelasannya lagi, “selain lateng kenyer, ada juga lateng kidang, lateng ngiu, lateng siap…”

“Trus, ada yang paling serem?”

“ooh..adaa, namanya Lateng Temesi atau Lateng Besi, kalo kena daunnya itu masih terasa sampe 10 hari!” jawabnya ringan,

Glek! Kedengerannya ngeri, “yang mana namanya lateng besi,bli?”

melintasi pohon lateng

dibawah ranting dan daun lateng temesi ;)

“oooh…itu!” jawabnya sambil menunjuk pohon besar, ga kalah besar dengan pohon beringin yang tampaknya sudah hidup puluhan tahun disana, tingginya mungkin belasan meter. Kami bergidik ngeri, kirain lateng cuma tanaman semak atau perdu, ternyata ada juga pohon lateng segede dosa. Astagaa…! Ketika kami masih terbayang2 ada pohon penyebab gatal yang terasa hingga 10 hari, bli kadek menjelaskan lagi ada tanaman yang lebih menyeramkan, motongnya hars pagi2, dengan mengarah ke arah matahari terbit, ketika dipotong, katanya akan keliatan seperti pelangi, tapi berwarna ungu, atau hijau, atau merah, dan ketika memotong, jangna sampai kena getahnya,begitu kena getahnya, kulit bisa borok dan langsung parah! Nama pohonnya Belantih

Kami bengong.

ini yg namanya pohon belantih, menggoda ya ;)

Tenang, penangkalnya adalah gula bali dengan kelapa, dikunyah ketika memotong tanaman tersebut, walaupun kena getah, maka tidak akan kenapa2.

Kami tambah bengong.

Ketika melewati pohon blantih, bli kadek langsung memetik daunya dan memperlihatkan getahnya ke kami, ternyata benar, ketika getahnya kena rumput disana, tak lama kemudian rumputnya keriput. Hiiii…serem banget ni pohon.

say hallo, pop! :D

Oke,lanjutkan perjalanan, sambil ngobrol2 tentang isi hutan, ini apa, itu apa, pohon apa? Yg itu gimana bentuknya? Hingga akhirnya saya tau yang namanya pacet, benar2 melihat sendiri,memegangnya dan membuangnya dengan sadis karena dia menempel di kaki saya, tapi ternyata saya tidak menyadari, sudah ada seekor pacet di betis saya dan tampaknya sudah kekenyangan, karena darah segar mengucur keluar dari betis dekat pergelangan kaki. Sial, pacetnya udah kabur! Kami melanjutkan perjalanan menuju Pura Pande, nanti dari sana kami akan balik menuju pos pertama, pura pande itu tempatnya di sisi danau, jalur balik kami menuisiri penggiran danau, beberapa hari terakhir liat berita di koran lokal kalau air danau Buyan dan Tamblingan lagi naik, ternyata bukan issue, air sudah sampai ke depan Pura Pande, tempat kami istirahat, menurut cerita bli Kadek, air danau sudah naik sejak awal tahun kemarin. Oia, di Pura Pande kami bertemu seekor anjing putih bermata kuning, posturnya tegap, dan sangat ramah, tom2 dan yudha membagi roti dan chitato ke anjing yang sebut saja ‘Happy Poppy’ – bukan karaokean.

Lanjut lagi, jalur kali ini menyisir tepi danau, ga ada masuk hutan lagi, tapi jalannya parah, ada beberapa titik kami harus menyeberangi jalur yg berlumpur dan tergenang air, ga dalem sih, cuma semata kaki, tapi bodoh juga kalau jatuh disini, pasti belepotan. Saya yg cuma pake sandaljepit merasa bersyukur, ga perlu repot2 ngelepas sepatu.uhehehe..ketika melewati salah satu genangan itu, atik yang berjalan di depan saya tiba-tiba teriak, panik, dia merasa menginjak sesuatu dan tiba-tiba terasa sakit dan panas dan…ah,mari tanya atik untuk lebih jelasnya, klo saya yang menceritakan, takut kurangseru,nanti digetok sama atik, yang pasti, setelah keluar dari genangan dan rame2 ngeliatin kakinya atik, bli Kadek menyimpulkan dia kena lateng. Katanya 30menit aja ilang kok. Pasti terkena lateng yg terbawa air tadi. Oke,berhubung sudah semakin sore, lanjutkan saja perjalanannya. Oia, sempat juga mampir ke rumah bli Kadek, ternyata dia juga salah satu korban dari pasangnya air danau, sekarang dia dan keluarganya dan tetangga2nya membuat rumah sementara, mundur beberapa meter dari tempat awal.

di depan pura tadi, terendam

salah satu rumah yg terendam,ehm..itu yudha -bukan warga lokal-

:))

Langit makin gelap, jarak pandang pun makin menurun, akhirnya kami tiba di jalan yg ber-paving, ternyata jalan ini menuju area perkemahan di tepi danau. “10 menit lagi nyampe pos,kok” kata bli kadek, ternyata benar…tempat kemah itu hanya berjarak 15 menit jalan kaki dari pos dan juga tempat parkir awal kami. Hohoho…

Tumben2an perjalanan kami merupakan perjalanan yang berbobot, dapet pengalaman dan tentunya pengetahuan baru, ga sekedar hura2 untuk jalan-jalan, pelajaran yang dapat dipetik. Sebelum trekking ato masuk hutan, persiapkan dengan matang, seperti obat anti serangga, baju dan celana panjang, alas kaki yg nyaman dan tangguh di segala medan, kotak P3K. Jangna sok tau, karena hutan bukan hanya yang ada di buku IPA waktu SD. Hargailah makhluk lain seperti tumbuhan dan hewan, dan juga penghuni setempat.. :D

Oke, karena sudah malam, mari balik ke denpasar, sebelumnya kami berhenti dlu, masih diatas bedugul, melihat ada warung nasi goreng yang masih buka di malam yg dingin itu, sambil menunggu hidangna matang, tom2 mengeluarkan kotak rahasia yg sedari awal kami duga adalah mayat yg berada di bagasi, ternyata itu teleskop. Horee, mengintip bulan dan bintang di pinggir jurang menjadi penutup perjalanan kami.

mengintip bulan

Sampai jumpa ;)

nb: sepanjang perjalanan pulang atik meringis. hihihi.tapi katanya setelah mandi, udah ilang kok…katanya…