Tag Archives: HAM

Daging Olahan Berhubungan Dengan Peningkatan Risiko Kanker Payudara

Daging olahan seperti sosis dan ham merupakan salah satu jenis makanan yang sangat populer dewasa ini. Kepopuleran makanan ini ternyata tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang bisa dialami oleh orang yang mengonsumsinya. Menurut penelitian terbaru, mengonsumsi daging olahan seperti sosis, ham dan bacon berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara sampai dengan 9 persen.

Baca juga: Makanan Berlemak Dan Peningkatan Risiko Kanker Payudara

Penelitian yang melibatkan partisipasi lebih dari 1,2 juta wanita ini merupakan jawaban atas penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh WHO tentang dagingan olahan. Pada saat itu, WHO memasukan daging olahan sebagai karsinogen setelah menemukan hubungan antara konsumsi daging olahan dengan peningkatan kejadian kanker.

Karsinogen adalah zat yang menyebabkan penyakit kanker. Zat-zat karsinogen menyebabkan kanker dengan mengubah asam deoksiribonukleat (DNA) dalam sel-sel tubuh, dan hal ini mengganggu proses-proses biologis.

“Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara konsumsi daging olahan dengan peningkatan risiko kanker payudara setelah dilakukan penelitian meta-analysis dan systematic review”, demikian menurut Dr. Maryam Farvid, kepala penelitian ini.

“Mengurangi konsumsi daging olahan memiliki dampak yang menguntungkan dalam upaya pencegahan kanker payudara,” tambahnya.

Menurut para ahli, hasil penelitian ini tidak serta merta mengharuskan seseorang menghentikan konsumsi daging olahan. Mereka menganjurkan konsumsi daging olahan dilakukan dengan hati hati dan dibatasi.

Risiko perseorangan sangat kecil

Ternyata tidak semua ahli sependapat dengan hasil penelitian ini. Kevin McConway, seorang professor di Universitas Terbuka, Inggris menyebut ada banyak pertanyaan yang tidak berhasil dijawab oleh penelitian ini. Salah satunya adalah penelitian ini tidak berhasil membuktikan hubungan langsung antara konsumsi daging olahan dengan kanker payudara.

“Saya gak bisa membayangkan ada berapa banyak kasus kanker payudara di dunia ini bila semua orang yang makan daging olahan berisiko menderita kanker payudara.” tutur McConway.

Baca juga: Makan Tomat Untuk Turunkan Risiko Kanker Payudara

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak diderita kaum wanita di seluruh dunia. Kanker payudara juga merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak membunuh kaum wanita. Untungnya, dengan deteksi dini. seperempat dari keseluruhan kematian akibat kanker payudara bisa dicegah.

Perlindungan HAM ASEAN Masih Sebatas Angan

Di atas kertas, perlindungan HAM di ASEAN terlihat bagus. Sudah ada sejumlah lembaga maupun deklarasi di tingkat regional untuk menjamin perlindungan hak asasi manusia (HAM) di negara-negara anggota ASEAN. Lembaga yang sudah ada itu, misalnya, ASEAN Intergovernmental Comission on Human Right (AICHR), ASEAN Comission on the Rights of Women and Children (ACWC), dan ASEAN Committee Continue Reading

Irshad Manji dan Perlunya Dukungan pada LGBT

Penolakan terhadapnya mengingatkan kepada teman-teman LGBT.

Tak hanya di Jakarta, diskusi Irshad Manji di Yogyakarta pun diserbu kelompok intoleran berkedok agama. Tak ada alasan jelas kenapa kelompok ini terus saja membubarkan diskusi bersama Irshad Manji.

Namun, menurut media, Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menuduh Irshad Manji menyebarluaskan ide homoseksualitas, termasuk lesbianisme. Karena itu, kelompok intoleran ini membubarkan diskusi dengan Irshad Manji di Salihara dan LKiS Yogyakarta.

Penolakan terhadap Irshad Manji, yang memang mengaku sebagai lesbian, ini langsung mengingatkanku pada teman-teman lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Pertemuan terakhirku dengan teman-teman LGBT terjadi awal Maret lalu di Kuta. Sehari sebelumnya, kamu bertemu di salah satu hotel di daerah Renon, Denpasar tanpa banyak obrolan.

Esok harinya, kami bertemu kembali. Aku agak deg-degan juga. Ini pertama kali aku ngobrol dengan teman-teman lesbian. Aku tak kenal sebelumnya dengan teman-teman lesbian. Hanya beberapa kali ketemu dalam satu forum diskusi tanpa tegur sapa. Kalau dengan gay, waria, dan transgender sih sudah biasa.

Sekitar pukul 20.00 Wita, kami bertemu di salah satu restoran di Jalan Legian, Kuta. Empat teman, yang mengaku, lesbian dari Bali dan tiga dari Jakarta intim dalam obrolan. Aku ada di antara mereka mengikuti obrolan tersebut sambil sesekali bertanya.

Untungnya sih mereka terbuka meski aku bilang jurnalis dan blogger. Mereka mempersilakan jika aku mau menulisnya.

Salah satu isu menarik bagiku adalah bagaimana mereka menghadapi diskriminasi dan stigma. Ini cerita usang yang selalu terulang pada kelompok minoritas, termasuk LGBT. Tak terkecuali bagi lesbian.

Diskriminasi itu, menurut mereka, dimulai dari wilayah paling dekat, keluarga. Hampir tiap lesbian selalu mendapat penolakan dari keluarga. Sebagian merasa bahwa menjadi lesbian adalah kutukan. Sesuatu yang terlarang.

Dan memang begitulah adanya. Secara umum, masyarakat kita masih menilai lesbian ini dari sisi moral. Karena itu, mereka yang menjadi lesbian seolah-olah sah untuk dikucilkan atau bahkan mendapat tindak kekerasan.

Salah satu teman bercerita dia akhirnya kabur dari keluarganya sejak SMP karena dia memilih tetap teguh pada orientasi seksualnya, lesbian. “Aku tak mau menyakiti diri sendiri dengan berpura-pura menjadi hetero(seksual) demi menyenangkan keluarga,” katanya.

Di tingkat lebih tinggi, penolakan itu terjadi dalam bentuk kekerasan. Biasanya, lagi-lagi atas nama moralitas. Pelakunya pun dari kelompok yang mengaku beragama. Berdasarkan catatan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), sepanjang tahun 2010 lalu, terjadi lima kali tindak kekerasan pada kelompok LGBT ini.

Tak Terdengar
Kasus pada Irhsad Manji hanyalah contoh kasus yang menonjol karena popularitas korban. Tapi, tidak dengan teman-teman LGBT lainnya yang bahkan untuk menunjukkan identitas pun mereka masih tak berani. Kekerasan terhadap mereka, apalagi di wilayah domestik, nyaris tak pernah terdengar.

Padahal, pilihan orientasi seksual atau orientasi gender adalah pilihan asasi setiap orang. Itu bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM). Karena itu, menjadi LGBT pun bagian dari HAM. Tak ada yang bisa menghalangi hak mendasar bagi setiap orang ini. Dia sejajar dengan hak untuk beragama (apa pun itu) ataupun tidak beragama maupun hak asasi lainnya.

Nyatanya, hak ini belum sepenuhnya terwujud bagi kalangan LGBT. Jangankan berekspresi, menunjukkan identitas saja bagi mereka masih jadi sesuatu yang tabu. Masih banyak warga negara yang belum menghormati hak ini.

Kalau hanya tak setuju sih tak apa. Atas nama demokrasi, pro kontra itu hal biasa. Lha ini kan tidak. Para kelompok intoleran kemudian memakai cara kekerasan kepada kelompok LGBT.

Parahnya, Negara yang kemudian harus menjamin bahwa setiap warga negara terpenuhi hak asasinya sebagai manusia ternyata malah diam saja. Dalam banyak kasus kekerasan pada LGBT, negara tak hadir memberikan pembelaan. Atau, kalau toh hadir, mereka malah seolah-olah mengamini kekerasan tersebut.

Polisi, sebagai representasi Negara, hanya membiarkan kekerasan terhadap LGBT tersebut. Inilah pelanggaran HAM oleh negara. Mereka telah melakukan pelanggaran HAM karena membiarkan terjadinya kekerasan (by omission). Sayangnya, pelanggaran HAM karena pembiaran oleh negara ini tak terlalu banyak yang menggugat dibanding, misalnya, pelanggaran HAM secara langsung (by action) oleh Negara. Maka, pelanggaran HAM pada LGBT pun terus terjadi secara diam-diam.

Padahal, Negara seharusnya lebih tegas melindungi hak setiap warga tanpa melihat agama, etnis, ataupun pilihan orientasi seks dan gender sekali pun.

Foto: Sepasang lesbian sedang berjalan sambil bergandengan tangan.