Tag Archives: Gili Trawangan

Rapat Anggaran di Lombok

Perjalanan dinas saya kali ini adalah ke Lombok yaitu tanggal 3-4 Agustus 2015, dalam rangka ikut sebagai peserta dalam rapat penyusunan anggaran (RKA-KL). Saya ikut hadir dalam kapasitas sebagai Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (Pensisba) Tahun Akademik 2015/2016 (tahun ini), dimana salah satu anggaran yang dibahas mengenai Pensisba. Mungkin diasumsikan tahun depan saya akan menjadi ketua panitia lagi sehingga bisa ikut memberikan masukan terkait anggaran Pensisba.

Sebelum mendapat tugas dinas ke Lombok ini, saya sebenarnya diminta untuk berangkat ke Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, dalam rangka melaksanakan ujian Pensisba khusus untuk calon mahasiswa dari Bengkayang. Akan tetapi karena orangtua (ayah) saya dalam keadaan sakit, saya memohon kepada pimpinan agar tidak ditugaskan kesana, apalagi kemungkinan dalam waktu lebih dari 3 hari.

Untuk tugas ke Lombok, saya mendapat informasinya sekitar beberapa hari sebelumnya dan peserta yang ikut rapat sekitar 30 orang. Mungkin karena dalam rombongan yang cukup banyak, menyebabkan keberangkatan pada hari Kamis, 3 Agustus 2015 dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang berangkat pukul 10 pagi, pukul 4 sore dan pukul 7 malam. Saya kebagian yang jam 4 sore, tapi sayangnya pakai pesawat Lion Air, bukan Garuda Indonesia seperti yang biasanya saya pakai dalam perjalanan dinas. Tak apalah, pikir saya toh penerbangan sampai di Lombok saja yang notabene jaraknya sangat dekat, sekitar 30 menit saja sudah sampai.

Hari keberangkatan, saya sudah tiba di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 15.00 kemudian check in bersama 5 orang teman lainnya. Setelah menunggu boarding, ternyata ada pengumuman delay 1 jam. Saya pasrah dan tidak terkejut karena sering mendengar bahwa Lion Air sudah biasa delay. Setelah menunggu kembali, kami kembali mendapat informasi delay sekitar 2 jam lebih, jadi kami delay hampir 4 jam. Banyak penumpang yang komplain waktu itu. Kebetulan salah satu penumpang adalah tetangga saya yang seorang anggota polisi. Dia menuntut agar penumpang segera diberikan haknya sesuai aturan, baik berupa snack ataupun makanan, bahkan uang.

Tahap pertama, akhirnya semua penumpang dibagikan snack, isinya roti dan air mineral kemasan gelas. Saya taksir harga rotinya sekitar seribu rupiah, karena mirip dengan roti-roti yang dijual di warung seharga seribuan. Tahap kedua kami dibagian makanan, isinya kalau tidak salah nasi goreng (saya lupa).

Yang menjadi masalah kemudian adalah kami belum yakin akan bisa berangkat sore/malam itu. Kami kemudian berembug dengan teman yang lain, membayangkan seandainya tidak jadi berangkat dan dipindahkan keesokan paginya, gimana jadinya karena sorenya kami sudah dijadwalkan balik lagi ke Bali, bisa jadi kami hanya beberapa jam di Lombok lalu pulang lagi.

Untunglah akhirnya kami tetap berangkat dan tiba di Lombok dengan selamat, walaupun lucunya rombongan yang berangkat pukul 7 malam sudah tiba lebih dulu lagi beberapa menit. Dan kami akhirnya bertemu di rumah makan dengan rombongan di daerah Mataram, dan setelah makan melanjutkan perjalanan ke Senggigi.

Saya sebenarnya senang dengan jadwal berangkat jam 4 sore karena membayangkan bisa melihat suasana jalan di sepanjang pantai Senggigi. Tapi karena pesawat delay, kami akhirnya melewati jalan pinggir pantai tersebut di malam hari sehingga pemandangan tidak terlalu jelas. Maklumlah saya baru pertama kali ke Lombok, berbeda dengan teman lainnya yang hampir semuanya sudah beberapa kali ke Lombok.

Tiba di hotel, saya langsung istirahat. Keesokan harinya, saya sempat berjalan-jalan di lingkungan hotel Holiday Inn tempat kami menginap dan sekaligus mengadakan rapat. Suasananya enak dan nyaman, sangat mirip dengan di daerah Candidasa (Bali), yaitu hotel pinggir pantai dan berdekatan juga dengan bukit-bukit berbatu. Yang menarik di pinggir pantai yang langsung berbatasan dengan hotel adalah tampak Gunung Agung di pulau Bali dengan sangat megah. Apalagi ketika pagi hari ketika Gunung Agung disinari matahari yang baru terbit. Oya, pantai Senggigi ini menghadap ke barat. Konon kalau kita pulang naik kapal laut dari Lombok ke Bali sore-sore, kita bisa melihat sunset yang indah dari atas kapal laut. Saya pun mungkin suatu saat ingin liburan ke Lombok naik kendaraan pribadi dari Bali.

Muncuk Gunung Agung, pukul 06.45 dari Pantai Senggigi pagi ini.

A photo posted by Made Wirautama (@madewirautama) on

Acara rapat saya ikuti dengan baik, dari pagi sampai siang dan dilanjutkan dengan makan siang di hotel. Selesai makan siang, kami langsung check out dan berangkat ke bandara untuk pulang ke Bali. Kami sempat diajak singgah di beberapa tempat membeli oleh-oleh. Tidak seramai di Bali, saya hanya membeli oleh-oleh camilan saja.

Tiba di bandara, semua rombongan dibagi menjadi dua keberangkatan yaitu menggunakan Garuda dan Lion. Jam keberangkatan hampir sama, sayangnya saya kembali kebagian Lion. Dan bisa ditebak, kami kembali delay, kalau tidak salah sekitar 3 jam, saya bahkan sempat mencoba pijat refleksi kaki di bandara. Dan akhirnya kami berangkat serta tiba di Bali dengan selamat.

Oya, yang menarik di Lombok adalah suasana di beberapa tempat sangat mirip dengan di Bali. Bahkan rasanya seperti berada di Bali, karena ada tempat dimana penduduk Hindu dengan budaya yang sama dengan di Bali. Mengenai tempat wisata, konon yang paling bagus adalah di Gili Trawangan. Mudah-mudahan nanti saya bisa mengajak istri dan anak untuk wisata kesana.

Baca Juga:

Melali Tiga Hari di Tiga Gili

 

Aku sedang terlalu malas untuk menulis serius.

Maka, baiklah. Aku tulis ngasal saja cerita jalan-jalan bersama Satori, Bani, dan Bunda ke Gili akhir pekan lalu. Jalan-jalannya pas libur panjang Nyepi.

Niat jalan-jalan ke Gili muncul begitu saja ketika kami ngobrol sama Bu Nungki pemilik Desa Dusun yang juga punya hotel di Gili Air, pulau terkecil dari tiga pulau di sana.

Setelah googling dengan kata kunci “tiket murah fast boat ke Gili Trawangan”, aku menemukan tiket kapal cepat yang memang murah, Rp 275 ribu per orang. Biasanya, tiket kapal cepat ke Gili berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu per orang.

Makanya, Rp 275 ribu termasuk murah.

Semula aku pikir BPC yang menjual tiket murah ini sekaligus pemilik kapal cepat. Ternyata mereka hanya agen. Kapal cepatnya sendiri adalah Wahana.

Kami dijemput dari Denpasar ke Padang Bai dengan catatan, sopir penjemput ternyata tidak tahu alamat tempat penjemputan. Pesan moralnya, besok-besok pastikan si penjemput memang tahu lokasi persis penjemputan. Biar tak perlu sakit hati karena menunggu sekitar satu jam plus dibentak-bentak si sopir.

Oh ya, si sopir penjemput ini sepertinya marah parah. Selama perjalanan dari Denpasar ke Padang Bai, Karangasem, dia ngebut banget dan menerobos lampu merah beberapa kali. Sakit!

Baiklah. Setelah antre dan menunggu selama sekitar 2 jam, kapal kami pun melaju menuju Gili Trawangan. Asyik aja sih perjalanan 1,5 jam ini. Sebelum ke Gili Trawangan, kapal mampir dulu ke Pelabuhan Bangsal di Lombok.

Ombak tenang. Laut biru. Air jernih. Pasir putih. Oh, terima kasih untuk sambutannya, Gili Trawangan.

Snorkeling
Maka, esoknya, kami pun berkeliling ke tiga pulau ini: Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Perjalanan ini dinikmati dengan perahu berkaca di bagian bawahnya alias glass bottom boat. Paket wisata dengan tarif Rp 100 ribu per orang ini sekitar 5-6 jam.

Kegiatan jalan-jalan dengan perahu berkaca ini umumnya berupa snorkeling di tiga titik. Titik pertama berjarak hanya sekitar 5 menit dari Gili Trawangan. Titik ini lebih dekat ke Gili Meno, pulau terbesar kedua. Paling hanya 10 meter dari garis pantai.

Namanya Titik Kapal Tenggelam (Shipwreck Point). Sebenarnya cuma perahu yang tenggelam di sana tapi pemandu menyebutnya Little Titanic. Biar keren saja.

Bangkai kapal di kedalaman sektar 10 meter itu terlihat jelas karena jernihnya air laut. Di sekitarnya, ikan-ikan kecil dengan warna agak gelap berenang ke sana ke mari. Sayangnya, terumbu karang terlihat agak rusak.

Lalu, byur! Para turis termasuk aku nyebur di biru dan beningnya air. Seger..

Setelah sekitar 30 menit snorkeling di sini, aku sendiri hanya sekitar 15 menit, kami lebih banyak duduk manis di perahu. Bani sempat ikut terjun ke laut meskipun dia agak takut.

Perjalanan pun berlanjut ke titik kedua. Namanya Turtle Point.

Titik ini berada di sisi utara Gili Meno. Disebut Turtle Point karena biasanya ada penyu di sini. Beberapa turis sih berseru melihat hewan laut sisa-sisa zaman purba ini. Namun, aku tak melihatnya sama sekali.

Selebihnya adalah ikan warna-warni. Biru. Merah muda. Abu-abu. Ikan-ikan itu berenang dan bersembunyi di antara terumbu karang yang terlihat lebih indah dan hidup dibanding titik pertama.

Di titik ini, arus terasa lebih keras dibanding titik pertama. Karena itu, para turis sebaiknya snorkling berkelompok. Kalau terseret arus paling tidak ada temannya. Tidak sendiri karena berbahaya.

Kalau sudah capek snorkeling di titik pertama, seperti aku yang masih muntah sekali lagi, tak ada salahnya duduk manis di perahu menikmati pemandangan bawah laut.

Waktu snorkling di sini pun kurang lebih sama, 30 menit. Setelah itu, perahu akan bergerak ke titik tiga, di sisi timur Gili Air. Titik ini hanya pilihan. Tidak ada turis yang angkat tangan ketika ditanya apakah ada yang mau nyemplung lagi di sini.

Maka, perjalanan pun berhenti sementara di Gili Air untuk makan siang. Di sini kami membeli gelang dari para pedagang lokal.

Usai makan siang, titik selanjutnya adalah Titik Ikan Hias. Mudah ditebak. Di titik ini memang banyak sekali ikan hias cantik berwarna-warni. Para turis tak hanya bisa snorkeling tapi juga memberi makan ikan di sini.

Arus ini lebih keras. Ombak juga lebih kuat sehingga perahu bergoyang lebih kencang. Toh, para turis asyik berenang dengan jaket pelampung, snorkel, dan sepatu katak masing-masing.

Setelah 30 menit kemudian, perjalanan pun berlanjut kembali ke Gili Trawangan. Selesailah sudah keliling tiga pulau yang menyenangkan.

Naik Cidomo
Sorenya, setelah rehat sekitar 1,5 jam, kami lanjut keliling Gili Trawangan dengan cidomo. Kendaraan khas Lombok yang ditarik kuda ini bisa diajak keliling selama kurang lebih 45 menit hingga 1 jam. Tarifnya Rp 150 ribu.

Satori girang sekali pas naik cidomo. Dia tak mau duduk di samping. Maunya di depan di antara Bani dan Pak Kusir.

Pilihan naik cidomo menjelang petang ternyata tepat. Kami bisa menikmati matahari tenggelam di sisi barat Gili Trawangan. Di sisi ini, ratusan turis asing maupun lokal asyik duduk di pasir mengantar matahari pulang.

Di barat sana, matahari tenggelam dengan Gunung Agung di Bali terlihat tinggi menjulang. Keren banget sih menurutku.

Pada hari ketiga, hari terakhir, kami baru bisa nyebur mandi di beningnya air laut Gili Trawangan. Cocok cih nama pulau ini Trawangan karena airnya yang begitu bening alias terawang.

Karena pantainya landai dan nyaris semua berpasir lembut, terutama di sisi timur, maka mandi pun bisa seenaknya. Apalagi pantainya belum dikapling sama restoran, kafe, ataupun hotel. Kami bebas merdeka mau mandi di mana.

Sayangnya arus sangat keras. Beda dengan di Sanur yang tenang, arus di Gili Trawangan pagi itu saat kami mandi terasa keras sekali. Jadi, kalau cuma diam di dalam air, badan bisa terseret. Pantes saja beberapa turis asing yang berbikini dan mandi hanya sebentar nyemplung di air.

Naik perahu keliling tiga pulau sudah. Snorkling sudah. Muntah juga sudah. Naik cidomo sudah. Mandi sepuasnya juga sudah. Apalagi ya?

Oh ya, naik sepeda. HARAM hukumnya jika ke Gili Trawangan tanpa naik sepeda. Di pulau ini tak ada kendaraan bermotor. Eh, ada ding. Perahu dan kapal bermotor. Cuma mereka kan di laut, bukan di darat.

Sepeda ini bisa disewa Rp 50 ribu per hari. Jadi, kami pun bisa menggunakan sepuasnya. Misalnya pas malam-malam ke pasar senggol bule. Satori duduk di keranjang depan sepeda. Dia senang ketawa saja. Turis-turis yang melihat juga ikut ketawa.

Sebenarnya naik sepeda keliling pulau bisa sangat menyenangkan. Sayangnya kami tak melakukan karena agak susah jika bawa Satori di keranjang depan gitu. Jadi yowislah. Cukup di sisi timur pantai dari ujung ke ujung. Toh tetap sama asyiknya.

Maka, lengkaplah sudah liburan tiga hari di tiga Gili. Saatnya balik ke(m)Bali. Besok-besok lanjut lagi cerita tema lain dari melali ke tiga Gili. Semoga tidak keburu basi.

Kenangan Gili Trawangan

Iseng-iseng buka Gudang Foto, nemu foto-foto pas liburan di Lombok Bukan Cabe :) (Opening Jeje ~ Makan-makan || @adymul’s house)

Wisata kuliner, yuph mungkin itu yang jadi tagline saya dan kawan-kawan mengunjungi pulau Lombok. Setelah sempat di pending beberapa bulan akhirnya kesampaian juga main-main ke pulau Ciamik ini. Menikmati Gili, menjelajahi Lombok menemukan banyak kejutan dan pengalaman menyenangkan saat liburan kali ini. Mau tips dan trik cara hemat merakyat saat liburan, cekibrung this –>

Awal tahun ini, emm,,,Bulan Mei,, saya @aguslenyot @nirmala_asriani @nyink_ajja @neymeita #bebek #ipam @adipasmara @Dewiqwq @metrimetrii @adymul berangkat ke Lombok, maunya sih akan menghabiskan sehabis-habisnya waktu liburan kami. Selain karena memang rencana ini sudah matang (hampir gebuh) kami juga berencana akan silahturahmi ke beberapa rumah teman sekelas saya di IKM 08. *tuink,,,tuinkk…

:9 eem,,,yummy… makasi mamahnya @adymul yang udah menyambut kami dengan sangat hangat *serbuuu

Setelah melewati 1,5 Jam perjalanan DPS-Padang Bay dan 5 Jam Padang Bay-Lembar, akhirnya kami mengisi amunisi di rumah adi mulyanto. Gilak! masakan mamahnya cihuy beudh lo, cantik pula. makasi tante yaa, kalo ke Bali inget kabarin saya (minta dimasakin ala Lombok) hehehe. Ada beberuknya juga, :9 *mendadakLaperLagi (T__T)

Setelah cukup beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Gili Trawangan. Ketika melewati Pusuk mampir sebentar buat foto-foto. Situasi di pusuk ini mengingatkan saya akan sepanjang jalan Yeh Ketipat di menuju Singaraja. Hijau tampak pohon-pohon yang lebat, sambil sesekali ada monyet melompat ke jalanan. Menemukan tempat strategis, kami pun merapat…

Pusuk ~ Udara Sejuk, Monyet dan Kami :D
CINLOOK…!!

Dari Pusuk, kami akan menuju ke Bangsal karena sebelum akhirnya sampai di gili trawangan kami harus naik perahu kecil dulu, Tiketnya sepuluh ribu rupiah waktu itu. Siik,,asik,,,, bisa beneran kayak Popeye the sailorman puut…puutttt…..

Menyebrangi dari pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan

Kata Bapak Kapten Gili itu artinya pulau kecil, dan diseberang sana ada 3 Gili. Yaitu Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan, pulau-pulau kecil ini terletak di sebelah barat laut pulau Lombok dan memiliki beberapa fasiltas yang menunjang pariwisata. Diantara ketiga gili ini, gili trawangan yang paling pesat pertumbuhan pariwisatanya karena para wisatawan lebih memilih untuk mengunjungi nya karena telah tersedia fasilitas dan hiburan yang lebih lengkap di pulau ini ada bar kafe dan restoran serta penginapan-penginapan yang menawarkan keunikan masing-masing.

Yuph, dan sampailah kami di Gili trawangan. Sekitar jam 11.30 siang saya dan @aguslenyot langsung menyewa sepeda dan keliling Pulau…. aseeek…

sepedaa..sepedaa… 2 jam mengelilingi Pulau Gili Trawangan

Setelah puas bersepeda keliling pulau, saya dan teman-teman bernarsis ria dulu. keindahan pantai dan kebersihannya membuat kami betah berlama-lama main di pantai. Alhasil, kami sempat merasa kebakaran kulit, hahahaha

Seharian bersepeda, kami pun nyebur ke laut dan menikmati indahnya sunset dari balik awan gili trawangan :)

BERENDAM, wkwkwk…berenang di air garam
sunset Gili Trawangan :D

Setelah puas menikmati hari yang indah *ceilee… kami kembali ke penginapan dan bersiap-siap untuk menikmati indahnya gemerlap malam di Gili Trawangan. aseek,,,, *beli sate lagiiii

jalan-jalan malam :D  

Karena di Gili trawangan tidak ada kendaraan bermotor, maka kami hanya bisa memanfaatkan tenaga kuda (cidomo), sepeda gayung, atau kaki sendiri. yuph karena kelelahan kami hanya sempat berjalan kaki tak jauh dari penginapan. Di dekat konservasi penyu ada dagang sate uenak banget tapi sayangnya malam hari dagannya tutup. Makan malam kami cukup nasi goreng di pasar senggol dengan harga *uhuk #wisatawan :(

Sampai penginapan kami langsung tepar, karena keesokan harinya masih ada perjalanan yang tak kalah menarik lagi..

berkeliling Lombok :)

Mungkin akan ditulis terpisah dari cerita kenangan Gili ini, karena banyak hal yang ingin saya ceritakan kemudian….