Tag Archives: Gianyar

Ketika Pisang Terakhir Ditebang

Pedalem tiang nepukin punyan biu kénéanga (saya kasihan melihat pohon pisang dibeginikan).”

Kalimat itu spontan meluncur dari mulut Wayan Kariasa, salah satu pekebun sekaligus pengepul pisang di Banjar Selasih, Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Gianyar. Di siang yang terik itu, ia berdiri di atas tanah yang selama empat generasi digarap oleh keluarga Wayan Sarna.

Matanya mengedar ke sekeliling, memperhatikan pohon-pohon pisang yang sudah tumbang karena ditebang. Beberapa di antaranya memiliki batang yang masih bisa dibilang begitu pendek. Pohon-pohon pisang tersebut mati muda.

Saya hanya bisa menimpali dengan getir, “Nggih, Pak…”

Saya datang ke Selasih akhir pekan lalu. Dua pekan sebelumnya ibu-ibu di sana membuka baju mereka untuk menghadang alat berat yang masuk ke daerahnya. Mengingat apa yang mereka lakukan, hati saya patah melihat dua alat berat dengan warna merah masih bisa memarkirkan diri jauh di seberang tempat saya berpijak.

“Ini hari Minggu, alatnya enggak kerja,” ujar Gede Nova, seorang pemuda yang juga berdiri di sebelah Wayan Kariasa.

“Tapi, alatnya masih bisa masuk, ya?” tanya saya pada mereka. Mereka mengangguk. “Pas rapat waktu itu, kami sudah sepakat untuk memulangkan alat beratnya. Namun, beberapa jam kemudian, alatnya tetap ada di sana dan sampai sekarang tidak penah pergi.”

Alat-alat berat itu hendak meratakan tanah-tanah di Selasih, kira-kira separuh dari keseluruhannya. PT. Ubud Resort Duta Development (URDD) yang melakukannya, sebab tanah-tanah tersebut hendak disulap menjadi lapongan golf, resor, dan fasilitas wisata lainnya.

Setidaknya, PT URDD memasuki Selasih pada medio 1994 dengan klaim bahwa 85 persen tanah di sana tidak produktif. Dengan begitu, lahan tersebut lebih baik dimanfaatkan untuk sektor di luar pertanian atau perkebunan. Sejak saat itu, pembebasan lahan pun mulai dilakukan.

“Padahal, sebelum krisis air, dulu kami biasa menanam padi, jeruk, salak, durian, dan mayoritasnya cengkeh,” kata I Made Sudiantara, salah satu warga Selasih.

Penghasil Pisang

Berbeda dengan dulu, kini Selasih memang dikenal sebagai salah satu daerah pemasok daun pisang di Bali. Kita bisa menemukan hamparan pohon pisang batu di sana. Sekiranya pengalihan sebagian besar lahan menjadi kebun pisang terjadi pada masa-masa krisis moneter tahun 1997-1998, ditambah dengan adanya krisis air.

Pisang kemudian semakin diminati warga. Sebab, selain mampu memberikan penghasilan lebih baik daripada padi, tanaman pisang dapat dipelihara dengan mudah. Hal ini bisa dibuktikan sebab pisang begitu mudah saya temui di lahan-lahan kosong Selasih. Berjalan beberapa langkah di lahan-lahan tersebut, saya seringkali menemui anakan pohon pisang yang masih muda tumbuh dengan subur.

Pada tahun-tahun tersebut pulalah konflik terkait lahan mencuat. Pertemuan warga dengan pihak PT UDRD sempat dilakukan. Hasilnya berupa kesepakatan tidak tertulis antara kedua belah pihak. Kesepakatan itu adalah sebelum tanah benar-benar digunakan pihak PT, warga dapat menggarap dan menikmati hasilnya. Selain itu, warga juga dijanjikan oleh pihak PT perihal relokasi rumah.

“Tapi, saya tidak pernah merasa menjual tanah saya,” Kariasa berujar, menoleh ke arah Nova yang menimpalinya dengan sebuah anggukan.

Beberapa warga yang merasa bahwa lahan mereka layak untuk diperjuangkan kemudian membentuk Serikat Petani Selasih (SPS). Tercatat sebanyak 52 kepala keluarga terdaftar sebagai anggota SPS dan 32 di antaranya bermukim di lahan yang diklaim pihak PT UDRD.

Lantas, bagaimana 20 lainnya dan juga mereka yang tidak tergabung dengan SPS? “Kami masih merundingkannya, tapi yang jelas, saya cuma mau apa yang dimiliki leluhur saya tetap di sini dan seperti ini,” tegas Nova.

Warga Selasih mengaku masih berharap pada pemerintah untuk membantu meredakan konflik ini. “Kalau kita nggak berharap sama pemerintah, mau berharap sama siapa?” ujar Kariasa. Saya tersenyum, kecut sekali.

Setelah semua yang terjadi, warga Selasih masih berpikir bahwa pemerintah akan melakukan sesuatu untuk rakyat seperti mereka. Harapannya, pemerintah mampu menjalankan dan menguatkan PP Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar, serta Perpres Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria. Dengan begitu, warga Selasih tidak terinjak di tanah mereka sendiri.

Tiba-tiba Datang Kembali

“Waktu (lahan) dibabat, tiang dadi penonton gen. Kan sing runguanga munyin tiangé (saya jadi penonton saja, kan ucapan saya tidak didengarkan).”

Saya termenung mendengar ucapan Wayan Liu, seorang ibu yang sehari-hari menggarap lahan yang waktu itu sedang saya pijak. Ia merasa bahwa suara para perempuan di Selasih tidak akan didengarkan.

Padahal, perempuan-perempuan tersebut berperan begitu banyak dalam usaha perkebunan pisang di Selasih. Mereka turut bekerja di kebun, menanam dan merawat pohon-pohon, mengambil daun-daun, serta mengantarkannya ke Denpasar dan Badung untuk dijual.

Sementara itu, wajah-wajah perempuanlah yang memperkenalkan saya dengan Selasih dan konfliknya. Dua pekan lalu, foto-foto mereka yang hanya menggunakan kutang dengan raut marah menghiasi linimasa media sosial saya. Mereka menghadang alat berat yang muncul kembali setelah dua puluh tahun tidak berkabar.

Ketika perempuan yang merasa kurang didengarkan justru menjadi garda depan dalam perlawanan, saya pikir, ini adalah suatu alarm tanda bahaya. Apa yang terjadi di Selasih adalah suatu kegentingan.

Biune ampun telah. Ten wenten penghasilan napi mangkin. Nol. Mati raga pelan-pelan (pisangnya sudah habis, tidak ada penghasilan apa-apa sekarang. Nol. Kami mati pelan-pelan),” tegas Liu. Ia yang biasanya menjual 60-70 ikat daun pisang satu kali dalam dua hari, kini harus melakukannya dalam waktu lima belas hari sekali.

Walaupun dihimpit ketidakpastian dan semakin menipisnya penghasilan, warga Selasih tetap bisa tersenyum dan berbagi. Saya dan lima orang kawan yang datang ke Selasih disuguhkan berbagai macam hasil bumi. Kariasa memetikkan kelapa muda dan kami minum bersama-sama di siang yang terik di tepi lahan bersengketa.

Kami sempat diajak Liu mencoba memetik dan memotong daun pisang dengan teknik yang biasa mereka gunakan. Di perjalanan pulang, kami harus menepi kembali sebab Nova memetikkan sebungkus leci dan sebuah durian. Segar sekali, walaupun seorang polisi tetap mengikuti kami kemanapun kami pergi.

“Kita selalu minta dan diberi oleh warga desa, tapi mereka enggak pernah minta sama kita yang di kota,” kata Luh De Suriyani, kawan yang mengajak saya ke Selasih, sambil tertawa.

“Kalau begitu, sekarang tiang minta tolong untuk dibantu memperjuangkan biar kami dapat yang sepantasnya,” jawab Liu.

Lalu kami tertawa bersama. Perihal isi hati, siapalah yang tahu. Mungkin di balik tawa yang mereka bagi di hari itu, warga Selasih senantiasa meringis dalam hati. Sama seperti batang pohon leci milik keluarga Nova yang akhir-akhir ini terus menerus mengeluarkan air.

“Mungkin dia juga ikut menangis,” ujarnya sambil tersenyum. [b]

Catatan Tandang ke Selasih

Pedalem tiang nepukin punyan biu kénéanga (saya kasihan melihat pohon pisang dibeginikan).”

Kalimat itu spontan meluncur dari mulut Wayan Kariasa, salah satu pekebun sekaligus pengepul pisang di Banjar Selasih, Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Gianyar. Di siang yang terik itu, ia berdiri di atas tanah yang selama empat generasi digarap oleh keluarga Wayan Sarna. Matanya mengedar ke sekeliling, memperhatikan pohon-pohon pisang yang sudah tumbang karena ditebang. Beberapa di antaranya memiliki batang yang masih bisa dibilang begitu pendek. Pohon-pohon pisang tersebut mati muda. Saya hanya bisa menimpali dengan getir, “Nggih pak…”

Saya datang ke Selasih dua pekan setelah ibu-ibu di sana membuka baju mereka untuk menghadang alat berat yang masuk ke daerahnya. Mengingat apa yang mereka lakukan, hati saya patah melihat dua alat berat dengan warna merah masih bisa memarkirkan diri jauh di seberang tempat saya berpijak. “Ini hari Minggu, alatnya enggak kerja,” ujar Gede Nova, seorang pemuda yang juga berdiri di sebelah Wayan Kariasa.

“Tapi alatnya masih bisa masuk ya?” tanya saya pada mereka. Mereka mengangguk. “Pas rapat waktu itu, kami sudah sepakat untuk memulangkan alat beratnya. Namun, beberapa jam kemudian, alatnya tetap ada di sana dan sampai sekarang tidak penah pergi.”

Alat-alat berat itu hendak meratakan tanah-tanah di Selasih, oleh PT. Ubud Resort Duta Development (URDD) hendak disulap menjadi lapongan golf, resor, dan fasilitas wisata lainnya. Perusahaan ini sudah memasang plang nama sebagai pemilik lahan, setelah konflik tanah lebih dari 20 tahun. Setidaknya, PT URDD memasuki Selasih pada 1990an dengan klaim bahwa 85% tanah di sana tidak produktif. “Padahal, sebelum krisis air, dulu kami biasa menanam padi, jeruk, salak, durian, dan mayoritasnya cengkeh,” kata I Made Sudiantara, salah satu warga Selasih.

Sejumlah warga membuat artikel terkait konflik agraria Selasih ini sebelumnya. Seperti Made Supriatma dan Roberto Hutabarat.

Berbeda dengan dulu, kini Selasih memang dikenal sebagai salah satu daerah pemasok daun pisang di Bali. Kita bisa menemukan hamparan pohon pisang batu di sana. Sekiranya pengalihan sebagian besar lahan menjadi kebun pisang terjadi pada masa-masa krisis moneter tahun 1997-1998, ditambah dengan adanya krisis air.

Pisang kemudian semakin diminati warga sebab selain mampu memberikan penghasilan yang lebih baik daripada padi, tanaman pisang dapat dipelihara dengan mudah. Hal ini bisa dibuktikan sebab pisang begitu mudah saya temui di lahan-lahan kosong Selasih. Berjalan beberapa langkah di lahan-lahan tersebut, saya seringkali menemui anakan pohon pisang yang masih muda tumbuh dengan subur.

Pada tahun-tahun tersebut pulalah konflik terkait lahan mencuat. Pertemuan warga dengan pihak PT UDRD sempat dilakukanseperti kesepakatan tidak tertulis dan tertulis antara kedua belah pihak. Kesepakatan itu adalah sebelum tanah benar-benar digunakan pihak PT, warga dapat menggarap dan menikmati hasilnya. Selain itu, warga juga dijanjikan oleh pihak PT perihal relokasi rumah. “Tapi saya tidak pernah merasa menjual tanah saya,” Kariasa menoleh ke arah Nova yang menimpalinya dengan sebuah anggukan.

Beberapa warga yang merasa bahwa lahan mereka layak untuk diperjuangkan kemudian membentuk Serikat Petani Selasih (SPS). Tercatat sebanyak 52 kepala keluarga terdaftar sebagai anggota SPS dan 32 di antaranya masuk kawasan yang diklaim PT UDRD. “Saya hanya ingin, apa yang dimiliki leluhur saya tetap di sini dan seperti ini,” tegas Nova.

Warga Selasih mengaku masih berharap pada pemerintah untuk membantu meredakan konflik ini. “Kalau kita nggak berharap sama pemerintah, mau berharap sama siapa?” ujar Kariasa. Saya tersenyum, kecut sekali. Setelah semua yang terjadi, warga Selasih masih menaruh asa pada pemerintah akan melakukan sesuatu untuk rakyat seperti mereka. Harapannya, pemerintah mampu menjalankan dan menguatkan PP Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar, serta Perpres Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria. Dengan begitu, warga Selasih tidak terinjak di tanah mereka sendiri.

Tiba-tiba Datang Kembali

“Waktu (lahan) dibabat, tiang dadi penonton gen. Kan sing runguanga munyin tiangé (saya jadi penonton saja, kan ucapan saya tidak didengarkan).”

Saya termenung mendengar ucapan Wayan Liu, seorang ibu yang sehari-hari menggarap lahan yang waktu itu sedang saya pijak. Ia merasa bahwa suara para perempuan di Selasih tidak akan didengarkan. Padahal, perempuan-perempuan tersebut berperan begitu banyak dalam usaha perkebunan pisang di Selasih. Mereka turut bekerja di kebun, menanam dan merawat pohon-pohon, mengambil daun-daun, serta mengantarkannya ke Denpasar dan Badung untuk dijual.

Sementara itu, wajah-wajah perempuanlah yang memperkenalkan saya dengan Selasih dan konfliknya. Dua pekan lalu, foto-foto mereka yang hanya menggunakan kutang dengan raut marah menghiasi linimasa media sosial saya. Mereka menghadang alat berat yang muncul kembali setelah dua puluh tahun tidak berkabar. Ketika perempuan yang merasa kurang didengarkan justru menjadi garda depan dalam perlawanan, saya pikir, ini adalah suatu alarm tanda bahaya. Apa yang terjadi di Selasih adalah suatu kegentingan.

Biune ampun telah. Ten wenten penghasilan napi mangkin. Nol. Mati raga pelan-pelan (pisangnya sudah habis, tidak ada penghasilan apa-apa sekarang. Nol. Kami mati pelan-pelan),” tegas Liu. Ia yang biasanya menjual 60-70 ikat daun pisang satu kali dalam dua hari, kini harus melakukannya dalam waktu lima belas hari sekali.

Walaupun dihimpit ketidakpastian dan semakin menipisnya penghasilan, warga Selasih tetap bisa tersenyum dan berbagi. Saya dan lima orang kawan yang datang ke Selasih disuguhkan berbagai macam hasil bumi. Kariasa memetikkan kelapa muda dan kami minum bersama-sama di siang yang terik di tepi lahan bersengketa. Kami sempat diajak Liu mencoba memetik dan memotong daun pisang dengan teknik yang biasa mereka gunakan. Di perjalanan pulang, kami harus menepi kembali sebab Nova memetikkan sebungkus leci dan sebuah durian. Segar sekali, walaupun seorang polisi tetap mengikuti kami kemanapun kami pergi.

“Kita selalu minta dan diberi oleh warga desa tapi mereka enggak pernah minta sama kita yang di kota,” kata Luh De, kawan yang mengajak saya ke Selasih, sambil tertawa. “Kalau begitu, sekarang tiang minta tolong untuk dibantu memperjuangkan biar kami dapat yang sepantasnya,” jawab Liu.

Lalu kami tertawa bersama. Perihal isi hati, siapalah yang tahu. Mungkin di balik tawa yang mereka bagi di hari itu, warga Selasih senantiasa meringis dalam hati. Sama seperti batang pohon leci milik keluarga Nova yang akhir-akhir ini terus menerus mengeluarkan air. “Mungkin dia juga ikut menangis,” ujarnya sambil tersenyum.

The post Ketika Pisang Terakhir Ditebang appeared first on BaleBengong.

Berikut Ini Sejumlah Konflik Agraria di Pulau Dewata

KPA Bali saat jumpa pers di Denpasar menyoroti maraknya konflik agraria di Bali. Foto Anton Muhajir.
KPA Bali saat jumpa pers di Denpasar menyoroti maraknya konflik agraria di Bali. Foto Anton Muhajir.

Tanggal 24 September adalah hari bersejarah bagi kalangan tani.

Tepat 59 tahun lalu, 24 September 1960, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno mengundangkan Undang-Undang (UU) No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau yang biasa disingkat UU PA.

UU itu lahir sebagai tuntutan perubahan terhadap peraturan agraria produk kolonial yang tidak memenuhi azas keadilan. Presiden Soekarno membuat UU Agraria untuk meningkatkan kesejahteraan petani nasional dan sebagai tonggak sejarah menghentikan sistem hukum agraria kolonialisme.

Namun, 59 tahun berselang setelah UU tersebut dikeluarkan, nasib petani Indonesia masih tetap tertindas dan tidak mengalami peningkatan kesejahteraan hidup. Hal tersebut terjadi sejak zaman Orde Baru sampai saat ini.

Saat ini, program reforma agraria sejati yang dicanangkan Presiden Joko Widodo menempatkan Reforma Agraria sebagai prioritas nasional yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019. Lebih lanjut dia juga diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2018.

Tanah seluas 9 juta hektare menjadi rencana redistribusi tanah dan legalisasi aset di bawah payung reforma agraria. Sumber tanahnya berasal dari kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan.

Bali sendiri termasuk salah satu lokasi di mana konflik agraria juga terjadi. Terdapat konflik agraria di tiga kabupaten yaitu Klungkung, Buleleng dan Gianyar. Konflik-konflik agraria itu sudah terjadi sangat lama, antara 15 sampai 30 tahun.

Masyarakat di lokasi konflik harus bolak balik mendatangi kantor pemerintah untuk memperjuangkan Hak Milik atas tanah yang telah dikuasai dan ditempati mereka secara turun temurun. Berbagai dialog dan pertemuan telah dilakukan oleh masyarakat dengan pemerintah, tetapi hasilnya nihil dan menjadi wacana belaka.

Persoalan lain yang lebih serius, pemerintah pusat dan daerah ternyata masih belum mampu menyelesaikan konflik tenurial secara tuntas di Indonesia, termasuk khususnya di Buleleng, Klungkung dan Gianyar.

Usulan

Berkaitan dengan hal tersebut, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mengonsolidasikan dan mengusulkan Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA). LPRA yang diinisiasi dan dibangun KPA bersama anggota KPA sudah diserahkan kepada pemerintah.

Pada saat acara Global Land Forum di Bandung, 24 September 2018, KPA menyerahkan 462 objek LPRA seluas total 668.109 Hektar. Luas itu meliputi 148.286 rumah tangga petani di 98 kabupaten/kota, 20 provinsi, termasuk Provinsi Bali.

Adapun potensi objek reforma agraria yang dapat ditindaklanjuti oleh segenap pemerintah provinsi dan kabupaten di Bali adalah seluas 997,01 Hektar. Mereka tersebar Buleleng, Gianyar dan Klungkung.

Lokasi-lokasi yang terkonsolidasikan dalam LPRA diusulkan petani di Bali, tidak semata-mata lokasi konflik agraria. Lebih dari itu dalam LPRA, lokasi-lokasi tersebut sudah terorganisir dengan baik. Petani telah menggarap secara penuh. Juga terdapat data subjek-objek Reforma Agraria lengkap dan valid serta mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah.

Pada 29 Juni 2018 sudah terdapat kesepakatan atau Memorandum of Understanding (MoU) antara pemerintah dengan petani di Bali untuk percepatan pelepasan kawasan hutan di Kabupaten Buleleng. Di lokasi lain yakni Dusun Sendang Pasir, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng pada 5 Desember 2018 Pemprov Bali dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah melakukan tinjauan lapangan atas objek lahan HGU terlantar PT Margarana.

Perkembangan terbaru, pada 4 Juli 2019, KPA wilayah Bali bekerja sama dengan Kantor Wilayah BPN Provinsi Bali melaksanakan Percepatan Penyelesaian Konflik Pertanahan dalam Kerangka Reforma Agraria di Provinsi Bali.

Koordinator KPA Wilayah Bali telah menyerahkan data LPRA di Provinsi Bali kepada Kepala BPN Provinsi Bali seluas 997,01 hektare. Di dalamnya terdapat 1.465 KK penggarap di enam lokasi. Lima lokasi non-hutan seluas 914 Hektar, dengan jumlah penggarap 1.358 KK, dan 1 lokasi dalam kawasan hutan seluas 83,01 Hektar, dengan jumlah penggarap 107 KK.

Perabasan kebun di Payangan, Gianyar termasuk salah satu konflik agraria di Bali. Foto KPA Bali.
Perabasan kebun di Payangan, Gianyar termasuk salah satu konflik agraria di Bali. Foto KPA Bali.

Perlu Dialog

Perkembangan konflik agraria terbaru juga terjadi di Dusun Selasih Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Sumber ekonomi masyarakat penggarap terancam hilang karena kebun-kebun pisang petani penggarap diterabas secara sepihak oleh tenaga pengaman dari PT. Ubud Resort Duta Development.

Kebun pisang yang telah diterabas paksa oleh tenaga pengaman PT. Ubud Resort Duta Development, berdasarkan data yang dihimpun petani penggarap, seluas kira-kira 25 ha. Jika dihitung kerugian materi yang dialami oleh petani penggarap adalah sebesar Rp 300 juta dalam sekali panen.

Berdasarkan beberapa gambaran kondisi di atas, KPA Wilayah Bali menilai bahwa Hari Tani Nasional merupakan hari sangat penting bagi petani penggarap dan pemerintah dalam upaya bersama-sama mencari solusi damai. Puncak Hari Tani ini akan diadakan pada 24 September 2019 di Dusun Sendang Pasir, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

Jalan dialog atau diskusi terbuka antara unsur pemerintah dan perwakilan serikat tani/perwakilan masyarakat petani penggarap bertujuan mencari jalan keluar percepatan penyelesaian konflik agraria. Upaya ini dalam rangka melaksanakan reforma agraria sejati yang mengacu pada Perpres Nomor 86 Tahun 2018 Tentang Reforma Agraria dan ketentuan lain.

Harapannya, pemerintah dan pihak lain bisa hadir untuk bersama-sama membuat strategi pelaksanaan percepatan penyelesaian konflik agraria di Provinsi Bali. Strategi itu harus lebih mengedepankan hak-hak masyarakat tani dari pada kepentingan golongan pemodal. [b]

The post Berikut Ini Sejumlah Konflik Agraria di Pulau Dewata appeared first on BaleBengong.

Festival Tepi Sawah, Pertunjukan Seni Ramah Lingkungan

Persembahan dari para pegiat seni untuk menghormati ibu pertiwi.

Tahun ini kali ketiga Festival Tepi Sawah hadir di tengah-tengah hati masyarakat Bali. Festival ini menjadikan kolektivitas khas Bali sebagai semangat utama ini. Dia pun kian menciptakan lingkungan dinamis dan kreatif bagi masyarakat modern-individual.

Berbagai kegiatan seni seperti musik, workshop, instalasi seni, dan lainnya akan hadir dalam kebersamaan yang dibalur dengan program-program ramah lingkungan.

Memang, Festival Tepi Sawah ditujukan sebagai sebuah acara kesenian tahunan berorientasi ramah lingkungan. Dia melibatkan dan menghadirkan seniman-seniman dari berbagai cabang seni, untuk berkolaborasi dan berkarya dalam kebersamaan. Di lokasi pinggiran desa Pejeng ini, festival ini merancang Uma Stage yang melatardepani panorama simbolik tempat aspirasi ini terlahir: di Tepi Sawah.

Festival Tepi Sawah lahir dari perpaduan passion dan gagasan dari tiga pelaku seni yaitu Nita Aartsen, Anom Darsana, Etha Widiyanto. Ketiganya memberikan kombinasi latar belakang pengalaman di bidang pendidikan musik dan pertunjukan, tata suara dan manajemen even, serta arsitek dan desain. Mereka ingin mengintergrasikan elemen kreatif dari festival ini dengan edukasi dan implementasi tentang keberlanjutan lingkungan, baik di kalangan anak-anak maupun di kalangan dewasa.

Berbagai line up bakat-bakat luar biasa akan ditampilkan di Festival ini. Tentu masih mengusung semangat Nusantara sebagai konsep utamanya. Nita Aarsent, founder Festival ini yang berkecimpung dan bertanggung jawab dalam soal line up, mengungkapkan bahwa tahun ini Fetival Tepi Sawah menghadirkan line up istimewa.

Tahun ini ada yang istimewa. Sinden yang bisa menyanyi jazz dan blues Endah Laras akan hadir bersama talent luar biasa umur 17 tahun sinden muda juga dari Solo. Ada dalang cilik Narend yang bisa berkolaborasi dengan Woro.

Ada pula penampilan menarik dari Papua: Papua Mania. Mereka akan menari dan menggelar kolaborasi. Tak kalah serunya ada Artis Ibukota Anda Perdana yang akan tampil. “Juga tak ketinggalan aka nada duo maut antara Balawan feat Made Ciiiaaattt,” ujar Nita Aarsent.

Tak hanya sebatas itu, Festival Tepi Sawah juga akan menggelar “Tribute untuk Koes Plus”. Semua artis-artis yang berkontribusi, semuanya akan ikut menyanyi.

Festival ini juga akan menggelar workshop-workshop yang tak kalah apik sebagai bahan edukasi. Di antaranya workshop film bersama Erick EST, workshop cukil dengan Rumah Kelima, Workshop tari dengan Dayu Ani dan juga workshop dengan Pak Made Bandem. Turut serta group-group dari generasi muda yaitu dari ISI Denpasar dan juga dari Universitas Udayana.

Di dalam segi tatanan produksi, Festival Tepi Sawah ini dipersiapkan dengan matang dari tahun ke tahun. Misalnya tata panggung, suara, cahaya, dan kebutuhan produksi lainnya.

Menurut founder Festival Tepi Sawah Anom Darsana, mereka terus mencoba menyuguhkan sebuah festival ramah anak-anak dan keluarga. Untuk itulah kebutuhan tata suara dan cahaya yang digarap juga akan mengikuti dan menyamankan anggota keluarga yang hadir.

“Intinya menyamankan semua mata dan telinga,” kata Anom.

Dari sisi lingkungan, festival ini telah sukses dan melahirkan inovasi-inovasi baru untuk mengedukasi peserta festival termasuk para penampil, maupun penikmat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan. Semuanya sama-sama tidak menghasilkan terlalu banyak atau mengurangi sampah. Caranya dengan cara menggunakan kembali alat-alat makan dan minum serta asbak.

Workshop lain akan disampaikan Pak Made Taro dan dari Little Talks di Ubud. Ada pula kegiatan art corner untuk anak-anak dari bahan recycle. Semuanya membuat festival ini senada dengan mewujudkan festival ramah lingkungan.

“Di sisi venue, kami boleh berbangga sebab sudah tiga tahun ini kita masih menggunakan plang-plang yang sama dari material yang sama untuk signage seperti rundown, dekorasi dan sejenisnya,” kata Etha Widyanto.

Hal itu untuk mengurangi sampah dan mengutamakan 3R. Tahun ini dan setiap tahun merupakan ide baru. “Sejalan dengan tampilnya Dalang Cilik Narend, kami terinsiprasi menyiapkan ‘wayang-wayangan’ sebagai bagian dari dekorasi,” lanjutnya.

Dalam gerakan kesadaran lingkungan ini, Festival Tepi Sawah berkolaborasi dengan Clean Bali Series (CBS). CBS adalah program buku dan pendidikan tentang kesadaran lingkungan untuk anak-anak.

Sejak 2006, program ini telah aktif menggalang program bulanan “Bali Bersih” di lokasi festival, Omah Apik. Mereka melakukannya bersama dengan sejumlah organisasi dan aktivis lingkungan, pendidikan, seni dan budaya. Tujuannya untuk memberikan ruang belajar kepada anak-anak setempat tentang kesadaran lingkungan.

Kebersamaan ini akan menjadikan Festival Tepi Sawah sebagai cerminan dan pembawa pesan kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup. Prinsipnya tetap dengan reduce, reuse, dan recycle (kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang). Baik dalam hal produksi, penjualan makanan dan minuman, penanganan sampah, pembuangan limbah dan lain-lain.

Festival Tepi Sawah menggunakan area di tepi sawah sebagai pusat kegiatan. Kolaborasi antara seniman adalah suatu konsep yang sangat menarik dan akan mengejutkan bagi orang-orang yang akan menghadiri festival ini.

Selain itu, Festival Tepi Sawah juga akan mengalirkan beberapa sekuen arsitektur yang menarik. Booth yang akan menyebar di setiap lanskap, dan instalasi seni akan menambah kecantikan festival ini. Festival Tepi sawah juga akan mengadakan workshop dari berbagai cabang kesenian, dan food stall serta art market.

Tak khayal, Festival Tepi Sawah ini akan membuat audiens yang hadir tersihir melalui pukau seniman-seniman yang tampil dalam festival ini. [b]

The post Festival Tepi Sawah, Pertunjukan Seni Ramah Lingkungan appeared first on BaleBengong.

Pameran Encounter, Rimba Imaji Jana

Jana menatah, menelusuri urat-urat spirit Muja, bapaknya.

Sosok Barong Bangkal menyambut kita saat memasuki ruang Titian Art Space, Ubud. Sosok itu merupakan patung kayu karya maestro I Ketut Muja (1944 – 2014), pematung dari desa Singapadu, Gianyar.

Sembilan patung kecil ditata di atas pustek. Ruangan tidak begitu besar, tapi pameran digarap sangat apik. Semua patung adalah karya I Wayan Jana, putra I Ketut Muja. Pameran bertajuk ‘Encounter’ ini berlangsung pada 11 Mei – 30 Juni 2019.

Jana lahir di Singapadu, sempat mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Aktif berpameran dan meraih beberapa ‘Award’.

Gagasan-gagasan Jana dieksekusi pada berbagai jenis kayu seperti suar, panggal buaya, waru dan jati. Ada jejak patra yang ia tinggalkan di patung-patungnya, gaya yang dikembangkan pada kurun waktu 10 tahun ini.

Sebelum itu karyanya seperti gaya patung bapaknya. Sejak kecil dia memang belajar mematung kepada I Ketut Muja dan kerap terlibat di dalam proses pembuatan patung karya Muja sebagai asisten. Di ranah seni tradisi, artisan suatu hal yang lazim.

Ikon-ikon tradisi merasuk ke tubuh patung-patung Jana, semisal pepatran Bali. Patra ‘kakul-kakulan’, hasil stilasi dari rumah siput ditengarai sebagai patra dasar yang kemudian berkembang ke berbagai patra seperti ‘kuping guling’, ‘patra punggel’ dan ‘patra sari’.

Pepatran Bali terinspirasi oleh alam, antara lain dari tumbuhan dan binatang di samping terpengaruh oleh motif Mesir, Eropa dan China.

Bawah Sadar

Sumber inspirasi karya Jana juga didapat dari benda pakai yang ditemui di sekitarnya. Bentuk lain yang tersirat adalah citra tumbuhan dan binatang. Bentuk-bentuk itu bermutasi ke dalam benak Jana. Mengalami proses asimilasi dan mewujud serupa mutan, bentuk yang ganjil, muncul dari dunia imaji.

Pengalaman bawah sadar ikut berperan membentuk asosiasi atau interpretasi ketika melihat karya-karya ini. Gejala tersebut dapat dilihat pada karya ‘Harmony’. Batang bagian tengah patung ini – yang memisahkan perut dan leher – lebih kecil volumenya.

Nampak lentur seolah berfungsi menggerakkan tubuh. Mengingatkan pada gerakan ulat saat menggeser tubuhnya. Ada bentuk seperti sayap pada abdomen atau area perut dan di ujung ekor bukannya sengat yang ditatahkan tapi bentuk seperti daun waru atau hati.

Saya menyebutnya ‘seperti’ karena mencurigai bahwa ini mutan.

Pada pustek yang lain nampak sekilas seperti benih. Ada kecambah yang tumbuh pada biji. Berbagai bentuk menempel pada tangkai seperti susunan gigi, daun waru serupa simbol hati, bulatan dan bentuk runjung di ujungnya.

Asosiasi lain pada patung ini ialah citraan kelopak yang tengah membuka, gambaran sesuatu yang sedang berevolusi. Berproses ‘Tumbuh dan Berkembang’ untuk menjadi.

Ada tiga unsur yang mendasari karya Jana, yaitu bentuk bulatan, bentuk gigi atau taring dan hati. Masing-masing unsur memiliki makna. Dua bulatan menyimbolkan laki-laki dan perempuan (purusa-pradana), bentuk hati bermakna cinta atau kasih sayang serta gigi melambangkan kebaikan dan keburukan (rwa-bhineda).

Gigi atau taring bila digunakan untuk kebaikan dapat mengunyah makanan yang bermanfaat bagi tubuh dan pertumbuhannya. Sebaliknya bila digunakan untuk keburukan seperti menyerang dengan gigitan, ia dapat melukai, menciptakan celaka.

Ketiga unsur tersebut dirajut menjadi kesatuan bentuk.

Jana juga menuturkan perkara konsep yang melandasi proses kreatifnya. Menurutnya, semua yang ada di alam semesta berawal dari suatu ‘pertemuan’. Unsur pertemuan melahirkan kehidupan dan generasi, perkembangbiakan pada mahluk dan tumbuhan.

Sepasang Kekasih

Bagi Jana esensi utama pertemuan tersebut adalah ‘hubungan’ sebagai yang tersurat di dalam Tri Hita Karana. Relasi tersebut terjalin antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama dan manusia dengan alam atau lingkungan.

Tunas itu tumbuh pada batang yang menggembung menyerupai kapsul bagai bagasi penuh nutrisi. Terlihat dua figur dengan satu hati melekat pada satu tangkai, meliuk di samping selengkung cabang bermahkotakan kuncup bunga yang menghadirkan harmoni, sedangkan patra kakul-kakulan melingkar di rusuk tangkai memberi tekanan irama. Karya bertitel ‘Irama Hati’ ini mengungkapkan gejolak perasaan sepasang kekasih.

Pada sudut lain ada bentuk lingga berdiri tegak di celah dua payudara yang gembung dan terasa kenyal. Kesan kenyal timbul dari karakter material yang halus dan licin serta didukung efek pencahayaan.

Karya ‘Gairah Dara’ ini terasa sensual. Letak payudara terkesan seperti berada di buritan, sebagai pangkal patung yang membujur seperti perahu. Pada bagian haluan berbentuk gagang dengan posisi mendongak, menempel daun waru yang memiliki anatomi melekung dengan bagian lancip di ujungnya. Di badan gagang menancap deretan gigi.

Haluan ini mengesankan sebagai penghela, membawa seluruh citra visual di dalamnya berlayar di samudra interpretasi. Beragam asosiasi muncul dari patung-patung di ruangan tersebut. Jana menawarkan ruang imajinasi untuk kita masuki dan mengembara di dalamnya.

Karakter Muja memang berbeda dengan Jana. Karya Muja nampak liar. Urat-urat kayu yang menganga merajah sekujur Barong Bangkal, sangat ekspresif. Sensitivitasnya sangat tajam dalam membaca karakter kayu.

Anatomi karyanya sangat dinamis, menyisakan anatomi asal dan meleburnya dengan anatomi yang dibangunnya. Seperti dituturkan Jana, Muja bisa bercakap-cakap dengan kayu. Bisa membaca alur, lekuk dan laku kayu. Memiliki kebebasan dalam membentuk anatomi.

Jana sedang memahat Muja. Dia menatah, menelusuri urat-urat spirit Muja, mendengarkan percakapannya dengan kayu. Barong Bangkal menggerakkan kaki-kakinya, melangkah turun dari ‘singgasana’, meliukkan badan, menari mengikuti rentak suara pahat yang terus menatah, menggurat tubuh Muja, menyayat lebih dalam untuk menemukan rohnya.

Barong Bangkal terus bergerak dinamis dan ritmis. Tatahan-tatahan pahat semakin dalam. [b]

The post Pameran Encounter, Rimba Imaji Jana appeared first on BaleBengong.

Inilah Tiga Tempat Surga Belanja di Pulau Dewata

(pict : aspairandasparendiy)

Belanja adalah salah satu agenda wajib turis ketika melancong ke Bali.

Pilihan tempatnya pun beragam. Namun, tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi pasar tradisional di Bali yang menjual berbagai souvenir khas Bali. Selain harga terjangkau, pasar-pasar ini juga menawarkan beragam pilihan.

Menurut I Komang Sastrawan, guide asal Karangasem, ketiga tempat berburu souvenir yang paling  dikenal dan sering dikunjungi oleh wisatawan adalah sebagai berikut:

  1. Pasar Kumbasari

Letaknya di jantung Kota Denpasar membuat pasar ini menjadi pilihan para wisatawan yang ingin berbelanja buah tangan khas Bali, tetapi tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling. Waktu yang dibutuhkan untuk ke pasar ini hanya sekitar 45 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

Pasar ini memiliki beragam pilihan suvenir yang bisa dibawa pulang. Baju, aksesoris, lukisan, patung, dan ornamen-ornamen tradisional lengkap tersedia di pasar seni yang terletak di jalan Gajah Mada, Denpasar ini.

2. Pasar Seni Ubud

Belum ke Bali namanya kalau belum mengunjungi Ubud, Kabupaten Gianyar. Desa ini merupakan kawasan pariwisata yang dikenal memiliki daya tarik wisata lengkap.

Pasar tradisional Ubud merupakan salah satu pelengkap keanekaragaman Bali sebagai lokasi wisata yang terkenal sampai ke mancanegara. Di tempat ini banyak pedagang yang menjajakan barang-barang seni dan kerajinan khas Bali semacam sendal khas Bali, Baju Bali, sarung pantai, tikar, lukisan, patung, cermin unik sampai gantungan kunci.

Barang-barang yang ditawarkannya terbilang berkualitas, tetapi harganya cukup terjangkau.

Ari Devita, pelancong asal Surabaya, sudah tiga kali ke Bali. Bagi Ari pasar tradisional menjadi agenda wajib yang harus dikunjungi. “Paling excited kalo ke Pasar Ubud. Lokasinya enak sekalian jalan-jalan,” katanya.

“Dan memang lengkap banget suvenir yang bisa aku bawa pulang. Cantik-cantik semua bikin kalap,” lanjutnya.

Lokasi pasar seni tradisional Ubud sangat strategis, berada di depan Puri Saren Ubud, tepatnya di Jalan Raya Ubud No 35. Jarak tempuh yang harus dilewati dari Bandara Internasional Ngurah Rai adalah sekitar 1,5 jam.

3. Pasar Seni Sukawati

Pasar ini adalah pasar seni paling terkenal di Bali. Sudah menjadi rahasia umum kalau pasar seni Sukawati adalah surga dari berbagai suvenir dan kerajinan tangan yang sangat unik. Pasar seni ini terkenal menjual pakaian dan kerajinan tradisional dengan harga sangat murah.

Sukawati merupakan pusatnya kerajinan seni di Bali. Karena itu harga dari kerajinan seni seperti lukisan, pakaian, dan cinderamata lainnya relatif lebih murah daripada di tempat lain.

Pasar ini terletak di Desa Sukawati, Kabupaten Gianyar. Jarak tempuh dengan berkendara sekitar 1 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

“Walaupun pusat perbelanjaan di Bali banyak banget, tapi pasar seni tradisional adalah yang paling wajib didatangi,” kata salah satu wisatawan asal Jakarta, Nedia Farah. Menurut Farah pasar tradisonal adalah tempat terbaik untuk membeli buah tangan khas asal daerah yang dikunjungi. [b]

The post Inilah Tiga Tempat Surga Belanja di Pulau Dewata appeared first on BaleBengong.