Tag Archives: Gerakan Literasi Nasional

Literasi Keluarga: Dari Kho Ping Hoo hingga Menjelma Klub Buku Petra



#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga #LiterasiBergerak #PerpustakaanKeluarga #PustakaBergerak
*Klik dua kali pada gambar jika kurang jelas


Salah satu sudut koleksi buku di Perpustakaan Klub Buku Petra.
dok. Klub Buku Petra

Ini cerita tentang teman saya, seseorang yang sangat mencintai buku. Saya baru mengenalnya setahun yang lalu, ketika tanpa sengaja kami bertemu di salah satu acara launching buku seorang kawan. Perjumpaan pertama yang terlampau biasa saja, kecuali obrolan terkait karya-karya penulis Indonesia, tidak ada lagi yang istimewa selain itu.

Perjumpaan kedua, ketika kami sama-sama sedang berada di Jakarta. Ia dengan urusannya, saya dengan urusan saya sendiri. Di sela-sela obrolan kami tersebut, ia tiba-tiba menawarkan sesuatu yang tidak saya duga samasekali. Meminta saya kembali ke Flores untuk mengelola perpustakaan.

Saya tercenung, memikirkan semuanya dengan seksama. Saat itu, pikiran dan tujuan saya telah berada di sisi yang lain dari apa yang selama ini saya idam-idamkan. Saya sudah berpasrah pada apa saja yang dikehendaki semesta, termasuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Akan tetapi, mengelola koleksi buku-buku pribadi menjadi perpustakaan yang dapat diakses oleh orang banyak, bersamaan dengan itu saya akan diberi upah yang layak dan menetap di salah satu kota paling dingin di Nusa Tenggara Timur. Tentu ini menggiurkan sekali.

Saya kemudian menanyakan padanya, “apa untungnya mengupah seseorang yang mengelola buku-buku bekas agar bisa dibaca oleh orang lain? Tak ada profit di situ, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari sana kecuali tagihan yang menumpuk akhir bulan untuk sewa gedung, gaji karyawan, listrik dan sebagainya.”

Jawabannya sungguh di luar dugaan saya yang miskin dan hina dina ini, yang memang selalu melakukan apa pun dengan perhitungan akurat meskipun kemudian selalu mengedapankan perasaan dan berujung pada kekesalan karena merugi.

“Tidak ada keuntungan di sini, Mar. Kita tidak sedang mencari untung. Biarkan saja buku-buku itu yang bekerja dan mendatangkan keuntungan dalam bentuk yang lain. Masalah operasional, tidak perlu kamu pikirkan. Kerjakan saja bagianmu, dan saya akan mengerjakan bagian saya.”

Kunjungan dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kab. Manggarai
dok. Klub Buku Petra

Demikian, saya akhirnya memutuskan kembali ke Nusa Tenggara Timur setelah urusan saya selesai. Perpustakaan itu diberi nama Klub Buku Petra. Beragam buku yang merupakan koleksi kawan saya sejak zaman Sekolah Dasar hingga kini telah menjalani profesinya sebagai seorang Dokter yang juga Pengajar, Direktur Klinik Jiwa dan beberapa pekerjaan lainnya, ada di sana.
Suatu kali, saat kami tengah bersantai, saya membuka sebuah obrolan ringan. Topik ini muncul setelah sekian lama saya simpan demi menantikan kesempatan yang tepat untuk menggali lebih dalam, juga karena saya menemukan kenyataan bahwa di Ruteng tidak ada Toko Buku. Selain itu, pertanyaan yang sama kerap saya dapatkan dari para pembaca dan peminjam buku di Klub Buku Petra, “dari mana asal buku-buku bagus dalam jumlah sebanyak ini?”

Kawan saya ini, yang adalah seorang laki-laki sulung di dalam keluarganya, mengenal kebiasaan membaca sejak masih Sekolah Dasar. Di tahun 1980an, serial cerita silat Kho Ping Hoo beredar secara luas dan dibaca oleh siapa saja. Termasuk bapaknya. Hampir setiap hari, ia mendapati bapaknya menekuni stensilan Kho Ping Hoo di sela-sela pekerjaannya. Melihat itu, kawan saya kemudian bertanya, bolehkah ia ikut membaca serial kartun silat tersebut? Sepertinya menarik sekali sebab bapaknya begitu tenggelam di dalam petualangan-petualangan para pendekar itu.

“Dan bapak mengizinkan saya ikut membacanya. Itu pengalaman pertama saya mengenal bacaan, dan sejak itu saya melahap cerita silat yang beredar di sekitar lingkungan pergaulan saya. Di zaman itu, memang hanya ada cerita-cerita silat seperti Kho Ping Hoo dan Wiro Sableng yang dijual bebas sehingga mudah didapat. Bapak juga mengoleksinya. Hampir setiap hari, jika sudah lelah bermain dengan teman-teman, saya kemudian memutuskan untuk membaca sekaligus mengistirahatkan badan. Biarkan giliran otak yang bekerja. Hehehe…” tutur kawan saya.

Ruang Baca untuk umum - Perpustakaan Klub Buku Petra
dibuka sejak 1 September 2019
dok. Klub Buku Petra

Beranjak remaja, memasuki Sekolah Menengah Pertama hingga akhirnya Sekolah Menengah Atas, kawan saya ini berkenalan dengan lingkungan sekolah asrama yang juga menyediakan perpustakaan dengan buku-buku bermutu. Karya-karya fiksi populer seperti novel dan cerita pendek, dapat ditemukan dengan mudah di sana. Saat itu, karya sastra belum begitu ramai dibicarakan kecuali saat jam pelajaran Bahasa Indonesia saja.

Di sekolah berasrama ini, ia akhirnya bertemu dengan sahabat baiknya yang hampir setiap hari menghabiskan waktu untuk membaca karya-karya sastra. Ajaibnya, meskipun hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membaca novel, kumpulan cerpen, atau puisi, nilai ulangan/ujiannya tak pernah buruk. Melihat ini, kawan saya berpikir bahwa jika banyak membaca maka kita dengan sendirinya akan menjadi pandai dan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan saat ujian. Apa pun bacaannya. Ia pun minta dikenalkan kepada bacaan-bacaan sastra tersebut. Namun demikian, tiga bulan setelah itu, ia akhirnya membuktikan bahwa bacaan memang membuat kita terbuka pada hal-hal baru tetapi tidak seketika menjadikan kita mampu mengerjakan soal-soal ujian dengan mudah seperti yang ia harapkan sebelumnya. Sahabat baiknya itu yang memang jenius dan pandai mengatur waktu.

Meskipun demikian, kawan saya ini sudah telanjur jatuh cinta pada sastra. Pada karya-karya penulis dan sastrawan Indonesia yang terkadang membikin lupa waktu dan menghantarkan imajinasinya berkelana ke mana suka. Ia akhirnya terus membaca sastra hingga kini memiliki hampir 2000 judul buku, baik yang ditulis oleh penulis Indonesia maupun terjemahan.

“Saya ingat dulu, kalau pulang libur ke rumah. Setiap selesai makan, saya dan kedua adik saya akan berkumpul dalam satu kamar lalu mengeluarkan koleksi masing-masing. Biasanya kami akan terheran-heran melihat koleksi satu sama lain, sebab anak-anak yang bersekolah di sekolah umum ternyata memiliki selera bacaan yang berbeda dengan anak-anak yang bersekolah di asrama seperti kami (baca: seminari). Mereka akan melemparkan pertanyaan seperti ini, hih baca buku apa kalian ini? bikin kepala sakit saja. Hahaha tetapi justru di situ saya melihat perbedaan selera kami mejadi menarik. Kami saling melengkapi satu sama lain. Saya suka novel-novel Ayu Utami, Putu Wijaya, Remy Sylado dan lain-lain, adik perempuan saya menyukai kisah-kisah populer khas anak muda seperti Teenlit, Metropop, Harlequin, dan sejenisnya, sementara adik laki-laki yang paling bungsu masih betah menikmati Kungfu Boy, Detektif Conan, Slam Dunk dan lain-lain.” tutur kawan saya

Apa yang diceritakan kawan saya ini, saya buktikan ketika pertama kali membongkar koleksi buku-bukunya. Saat itu saya sedang dalam proses mendata semua judul buku yang ada agar bisa diakses oleh para peminjam. Saya sempat penasaran, ada berapa tahapan yang sebenarnya kawan saya ini lalui sehingga hampir semua genre bisa terjebak di dalam ruangan tersebut? Saya pikir dua puluh tahun bukanlah waktu yang terlalu lama. Saya bandingkan dengan diri sendiri, yang kurang lebih membutuhkan tiga hingga empat tahun untuk berpindah dari bacaan ringan seperti masalah percintaan, menuju bacaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran seperti novel-novel dengan perpaduan filsafat, ilmiah atau psikologi. Rupanya koleksi yang mencapai 3000 judul tersebut (tambah 1000 dari sebelumnya) juga berasal dari bacaan-bacaan kedua adiknya yang tadi ia ceritakan.

Pendataan awal buku-buku di Perpustakaan Klub Buku Petra
Januari 2019
dok. Klub Buku Petra

Lalu bagaimana caranya ia mendapatkan buku di tahun 1990-an, ketika belum ada fasilitas pengiriman uang dan jasa pengiriman barang yang cepat seperti sekarang?

“Saya menulis surat. Korespondensi dengan pihak Gramedia. Saat itu, sekali mengirim surat, butuh waktu satu bulan untuk mendapatkan balasan berupa katalog buku-buku terbaru terbitan Gramedia. Setelah itu, saya dan kawan-kawan akan memilih buku mana yang ingin kami pesan. Saya akan mengumpulkan judul buku-buku tersebut lalu saya tulis dengan rapi di kertas dan saya kirimkan kembali ke Gramedia. Uangnya kami kirim melalui wesel pos. Satu atau dua bulan kemudian, buku-buku tersebut telah tiba. Saya dan kawan-kawan akan bergantian membacanya baru setelah itu kami bahas isi buku yang telah kami baca. Itu awal mula saya terbiasa dengan istilah diskusi atau bedah buku, hingga sekarang lebih dikenal dengan bincang buku." ia menjelaskan

Salah Satu Sesi Bincang Buku Klub Buku Petra
dok. Klub Buku Petra

Saat menuliskan ini, sudah ada sekitar 3000 lebih judul buku yang bisa diakses di Perpustakaan Klub Buku Petra. Sebagai admin, saya baru berhasil mendata 2000 judul, di antaranya karya-karya penulis Indonesia dan karya terjemahan, serta beberapa buku non fiksi tentang Sastra. Buku-buku ini dapat dibaca maupun juga dipinjam secara gratis, selama peminjam menetap di kota Ruteng. Cukup foto KTP serta nomor hape yang digunakan untuk berkomunikasi dengan admin, buku sudah bisa dipinjam dan dibawa pulang. Satu buku diberi waktu satu minggu, jika belum sempat menyelesaikannya, peminjam silakan menginformasikan kepada admin untuk meminta tambahan waktu. Beberapa peminjam yang sangat tekun, bahkan menuliskan ulasan dari buku yang telah dibaca, hasil ulasan ini bisa disimak di https://www.bacapetra.co/sekitar-kita/saya-dan-buku/

Saat ini, selain mengelola Perpustakaan Klub Buku Petra, kami akhirnya mengembangkan unit lain yang masih terkait dengan literasi seperti; Bincang Buku bulanan Klub Buku Petra yang telah memasuki bulan kesepuluh, terlibat bersama kawan-kawan Komunitas Kolektif di Ruteng dalam melaksanakan Lapak #LiterasiBergerak di Taman Kota Ruteng setiap hari Jumat dan Sabtu, serta mengelola Bacapetra.co, sebuah laman web yang berfokus pada pengembangan literasi di Nusa Tenggara Timur. Kegiatan-kegiatan ini, selain menggerakan literasi juga dengan sendirinya membuat individu-individu yang terlibat di dalamnya secara tidak langsung membentuk keluarga baru. Keluarga yang literat.

Lapak #LiterasiBergerak di Taman Kota Ruteng
dok. Klub Buku Petra

Melalui gerakan ini, saya dan kawan-kawan sangat berharap bahwa ekosistem literasi demi terwujudnya manusia-manusia yang literat bisa dimulai dari orang-orang terdekat kita. Dari anggota keluarga, kawan-kawan atau siapa saja yang kebetulan kita temui di tengah kesibukan-kesibukan yang kita jalani.

Jika kawan saya memulainya dengan serial cerita silat karena melihat apa yang dilakukan bapaknya setiap hari, kita bisa memulainya di rumah dengan kisah apa saja. Saya akhirnya membuat satu kesimpulan bahwa, mempengaruhi seseorang untuk menyukai sesuatu tidak harus menjelaskannya panjang lebar tentang manfaat atau kerugian yang akan ia dapatkan. Cukup lakukan dan perlihatkan saja terus menerus, dengan sendirinya rasa tertarik itu akan tumbuh.

Untuk melihat kerja literasi yang sejak tadi saya ceritakan, silakan buka halaman Facebook atau Instagram: Klub Buku Petra atau klik tautan: www.bacapetra.co. Kiranya kerja-kerja literasi yang belum seberapa ini, bisa memberi dampak yang baik dan juga menginspirasi kawan-kawan semuanya.

Selamat membaca dan jangan lupa sebarkan hal baik untuk orang-orang di sekitarmu.
Salam Literasi dari Ruteng~

Pertemuan dengan dr. Ronald Susilo di Jakarta. Desember 2018.
dokumentasi pribadi


*Terima kasih untuk kawan saya itu, dr. Ronald Susilo, atas kesempatan berbagi dan juga memutuskan memberi gaji bagi manusia yang bekerja pada bidang yang sungguh-sungguh ia sukai ini. Semoga cerita ini dapat menginspirasi siapa pun.



Ende, 30 September 2019
Maria Pankratia

Gerakan Literasi di Perbatasan




*Membangun Daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) #KorindoBlogCompetition


Gerakan 1000 Buku di Sumba Timur - 2016. Dok. Pribadi

Masih pagi sekali ketika handphone saya berbunyi, sebuah notifikasi pesan muncul di layar. Dari seorang kawan di Pulau Rote. Ia mengkonfirmasi tentang adanya perubahan regulasi terkait Free Cargo Literacy yang merupakan Program Presiden Jokowi bersama Simpul Pustaka Bergerak Indonesia yaitu mengirimkan buku ke seluruh daerah di Indonesia melalui jasa PT. Pos Indonesia. Free Cargo Literacy dilaksanakan setiap tanggal 17 dalam bulan sejak bulan Mei 2017.

Perubahan ini sudah menjadi isu yang cukup serius selama beberapa minggu belakangan ini di salah satu Grup Literasi yang saya ikuti. Selama Program Free Cargo Literacyini berjalan hingga Maret 2019 yang lalu, ada banyak Taman Baca/Rumah Baca, Sekolah dan Komunitas di hampir seluruh pelosok daerah di Indonesia telah merasakan manfaat yang sangat luar biasa. Akses buku yang lebih mudah, serta geliat berliterasi yang sangat masif. Beberapa daerah bahkan telah mencanangkan daerah administrasinya sebagai Kabupaten Literasi. Di Nusa Tenggara Timur misalnya, Kabupaten Lembata pada tahun 2018 lalu di Jakarta mendeklarasikan kabupatennya sebagai Kabupaten Literasi.

Free Cargo Literacy adalah sebuah program pemerintah yang mempermudah para donatur untuk menyumbangkan buku kepada penggiat literasi di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Jika sebelumnya, para donatur/penggiat literasi cukup membawa buku-buku yang telah dikemas rapi di dalam dus dengan berat maksimal 10 Kilogram ke Kantor Pos terdekat, kemudian mengkonfirmasi alamat tujuan yang sudah terdapat di daftar Simpul Pustaka Bergerak, maka kini semuanya tidak semudah itu.

Mulai bulan April 2019 yang lalu, program pengiriman buku gratis ini telah dialihkan dari PT. Pos Indonesia kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Peralihan ini bukan tanpa alasan. Harus diakui, sejak diumumkan oleh Presiden Jokowi tentang kehadiran Free Cargo Literacy, progam ini telah menghadapi beberapa kali masalah terkait pendanaannya yang belum jelas. Selama 23 kali pengiriman yang telah dilakukan dari Mei 2017 hingga Maret 2019, PT. Pos Indonesia telah mengirimkan total 45.252 koli buku, yang berat totalnya hampir 289 ton. Data terakhir yang disampaikan PT. Pos Indonesia, hingga Oktober 2018, salah satu perusahaan BUMN ini telah mengeluarkan dana sebesar Rp13,051 miliar, melebihi dana CSR (corporate social responsibility) PT Pos.

Pada akhir 2018 yang lalu, program ini sempat terhenti. Kemudian dilanjutkan kembali, hingga munculnya regulasi baru pada April 2019 yang melibatkan Kemendikbud. Tentunya kondisi ini berlaku atas instruksi Presiden Jokowi. Dengan mediasi antara kedua pihak, akhirnya muncul sebuah kesepakatan kerja sama dan aturan-aturan baru terkait program ini. Nah regulasi baru ini, melahirkan sistem birokrasi yang cukup rumit, tidak ramah, serta terkesan mempersulit.

Surat Edaran Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nomor 0009/G/BS/2019 tentang Program Pengiriman Buku dalam Pelaksanaan Gerakan Literasi Nasional tersebut, kurang lebih menjelaskan seperti berikut: Donatur diwajibkan menyerahkan buku-buku yang akan didonasikan kepada Unit Satuan Kerja (Satker) Badan Bahasa di daerah masing-masing. Buku-buku tersebut harus sesuai dengan kriteria dan jenis yang telah ditetapkan. Perihal ini, para donatur wajib mengisi formulir donasi dan surat pernyataan. Buku yang tidak sesuai dengan kriteria akan dikembalikan kepada donatur.

Nah, yang dimaksud dengan Satuan Kerja Kemendikbud terdekat yang terdapat di daerah masing-masing, adalah permasalahan lainnya. Di Nusa Tenggara Timur, hanya ada di kota Kupang. Dua hari, satu malam dari kota tempat tinggal saya jika menggunakan kapal laut. Atau satu setengah jam menggunakan pesawat. Tiga hari jika menggunakan jasa pengiriman barang. Yang artinya, ada pengeluaran baru lagi sebelum buku dikirimkan dengan kemungkinan buku-buku tersebut bisa saja ditolak jika tidak sesuai kriteria.

Poin selanjutnya, penerima donasi adalah TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang terdaftar di aplikasi Donasi Buku Kemendikbud. Padahal, dari jumlah 2.500 simpul Pustaka Bergerak, tidak semuanya terdaftar sebagai TBM. Untuk menjadi TBM, ada banyak persyaratan administrasi yang belum bisa dipenuhi para penggiat seperti  IMB, Surat pajak bumi, NPWP, dan lain sebagainya. Hampir semua yang bergerak untuk Simpul Pustaka ini adalah orang-orang yang dengan sukarela dan spontan melakukan hal baik oleh karena didorong rasa prihatin terhadap kesulitan mendapatkan buku atau kemewahan pengetahuan di daerahnya masing-masing. Sebagian dari mereka bahkan pelajar SMP/SMA atau Ibu Rumah Tangga yang bekerja dari rumah atau di pinggir jalan.

Selain pembatasan penerima donasi, peraturan lain yang disesalkan adalah pembatasan wilayah donasi. Disebutkan Satker Kemendikbud menentukan penerima buku yang ada di wilayah kerjanya (dalam satu provinsi). Hal ini berarti, donatur dari Surabaya hanya boleh mengirim untuk daerah-daerah di Provinsi Jawa Timur. Demikian pula dengan donatur di Jakarta, hanya boleh mengirimkan untuk Taman Baca/Sekolah yang terdapat di wilayah-wilayah adminsitrasi Ibu Kota. Bukankah ini terkesan sia-sia? Sementara itu, di beberapa daerah di Indonesia hampir tidak ada akses ke toko buku atau penerbit yang kira-kira bisa menyediakan bacaan berkualitas sesuai dengan tuntutan pendidikan dan pembangunan saat ini. Belum lagi tingkat kepedulian masyarakat akan program donasi ini di setiap daerah berbeda-beda. Bagaimana bisa membeli buku, atau bahkan mendonasikannya, jika untuk makan saja masih susah.


Perubahan Untuk Indonesia yang Lebih Baik

Beberapa waktu lalu, ketika mencari berita tentang Papua, tanpa sengaja saya menemukan sebuah artikel menarik berjudul Perubahan Untuk Indonesia yang Lebih Baik di korindonews.com. Artikel ini berkisah tentang kasus gizi buruk yang tengah ditangani oleh Korindo di Kabupaten Asmat, Papua melalui kehadiran Klinik Asiki. Saya cukup tersentil dengan kisah kemanusiaan dan pengakuan warga desa setempat yang merasa sangat terbantu dengan kehadiran para tenaga kesehatan yang didatangkan Korindo. Saya kemudian membayangkan, jika kehadiran pemerintah bisa diwakilkan oleh pihak-pihak investor yang hadir untuk mengelola sumber daya alam di daerah setempat, apakah itu memungkinkan?

Jika pengembangan fasilitas kesehatan dan pembangunan rumah ibadah yang telah dilakukan Korindo dengan mengandalkan dana CSR (corporate social responsibility) di Papua -seperti yang telah dilakukan PT. Pos Indonesia-, mengapa gerakan lainnya terkait pendidikan tidak disertakan?

Bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia bisa diawali dengan kemudahan akses buku melalui pengadaan Taman Baca/Rumah Baca bagi masyarakat setempat yang buku-bukunya didatangkan oleh pihak perusahaan. Tenaga-tenaga pendidik atau instruktur literasi juga bisa didatangkan demi meningkatkan kapasitas pengelola Taman Baca/Rumah Baca/Pegawai Perpustakaan Sekolah di daerah tersebut.

Dengan demikian kerja pemerintah akan menjadi lebih mudah ketika ada pihak investor yang mau ikut peduli terhadap tumbuh kembang masyarakat sekitar, selain tetap berkonsentrasi mengelola sumber daya alamnya.

Mengutip artikel dari Korindonews,com,

membangun usaha berbasis lingkungan, bukan sesuatu yang mudah. Apa lagi jika dibangun di wilayah perbatasan yang infrastrukturnya belum memadai. Namun, di sisi lain juga terdapat kebutuhan bagi pemerintah dan masyarakat untuk membangun daerah perbatasan yang kini ingin dijadikan sebagai berandanya negara Republik Indonesia.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT) telah menyusun beberapa program dan kebijakan untuk pembangunan daerah perbatasan. Citra wilayah perbatasan tak boleh dianggap sebagai dapur, melainkan sebagai beranda atau teras bagi negara. Sebagai daerah terdepan bagi rumah kita yang berfungsi menyambut tamu. Salah satu program pemerintah adalah dengan mengajak pelaku usaha untuk berinvestasi di daerah perbatasan. Dengan meningkatnya investasi maka diharapkan sejalan dengan pembangunan daerah tersebut.

Investasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui pendidikan yang baik dan berkelanjutan. Jika perusahaan seperti Korindo sanggup melakukan kerja sama dengan Kementrian selain Kemendes PDT, dengan Kemendikbud misalnya, maka dengan sendirinya para investor telah membantu mengamalkan salah satu tujuan dari hadirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang termaktub di dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945, yaitu: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Menggerakan literasi dari pelosok, salah satunya di perbatasan-perbatasan Indonesia tercinta ini.