Tag Archives: Fotografi

Fotografi, Sekadar Konsumsi atau Kepercayaan?

Bali antara citra fotografi dan kenyataan sesungguhnya. Ilustrasi Anton Muhajir.

Agamben menganggap fotografi adalah gambaran dari Penghakiman Terakhir.

Saya terbiasa untuk memotret hal-hal sepele yang hanya menarik bagi diri sendiri. Sebagian besar objek foto saya adalah pemandangan yang sembarang, kucing, anjing, atau orang-orang terdekat saya bersama kegiatannya.

Kadang-kadang saya memotret ranting pohon dengan latar langit karena saya senang sekali melihat pemandangan tersebut. Seringkali, saya tidak menyunting foto yang telah dihasilkan. Jadi jika foto tersebut miring atau memiliki warna yang kurang menarik, itulah yang saya tampilkan di laman media sosial saya.

Apa adanya, dan mungkin agak mengganggu bagi mereka yang paham akan estetika fotografi. Foto-foto yang saya hasilkan secara keseluruhan mungkin tidak memiliki daya pikat bagi orang lain di luar saya sendiri. Mungkin. Akan tetapi, inilah suatu hal yang, bagi saya, menarik dari fotografi itu sendiri.

Fotografi membebaskan orang yang berada di belakang jendela bidik kamera untuk memilih dan kemudian memotret apapun. Misalnya, ketika berada di meja makan yang sama, saya dan kamu bebas untuk memotret entah itu makanan yang tersaji di meja, orang yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulut, atau detail kecil seperti lalat yang hinggap di bibir mangkuk. Kita semua bebas untuk menampilkan apapun dalam foto.

Hal ini senada dengan gagasan Giorgio Agamben, seorang filsuf Italia, pada salah satu esainya dalam karyanya, Profanations (2007). Agamben beranggapan bahwa fotografi adalah gambaran dari Penghakiman Terakhir (The Last Judgement).

Dalam Penghakiman Terakhir, ketika kerumunan manusia terhampar di hadapan Yang Kudus, Ia tentu tidak menghakimi semuanya sekaligus. Penghakiman itu akan dilakukan secara satu per satu; Ia memilih satu manusia di antara sekian banyak dalam satu waktu.

Sama seperti fotografi, di antara sekian banyaknya hal yang terhampar dalam suatu waktu, sang fotografer akan fokus pada satu objek dan mengabaikan hal lainnya. Dan sama seperti manusia yang akan mendapatkan kemuliaan setelah penghakiman, objek dalam foto juga akan mendapatkan “keabadian”-nya setelah dipotret. Ia akan berada dalam sebuah bingkai bernama foto, selamanya selagi foto tersebut ada. Fotografi membebaskan subjeknya untuk memulai dari mana.

Fotografi, terlepas dari definisi teknisnya untuk melukis cahaya, adalah pembekuan realitas. Ia mereproduksi suatu kenyataan yang hanya akan terjadi sekali saja. Ia mengulang apa yang secara eksistensial tidak bisa diulang kembali—hal yang hanya ada di masa lampau yang tentunya sudah kita lalui.

Ada dua hal yang kemudian bersinggungan di sini, yaitu realitas dan yang-lampau. Maka dari itu, Roland Barthes menyebut bahwa esensi atau noeme dari sebuah foto adalah “That-has-been” atau “Yang-sudah-terjadi.” Dalam Camera Lucida: Reflections of Photography (1982), filsuf Prancis ini menyebutkan bahwa sudah merupakan sebuah kepastian bahwa objek yang ada dalam sebuah foto memang benar pernah ada-di-sana. Dan sebaliknya, foto tersebutlah yang bisa menjadi sarana pembuktiannya.

Saya tentu punya sosok fotografer profesional yang saya favoritkan. Akan tetapi, saya juga begitu senang melihat hasil karya para fotografer amatir. Mereka dapat menampilkan sebuah realitas dengan apa adanya. Foto yang mereka hasilkan terasa jujur dan tanpa “topeng” apapun sebab memang begitulah kenyataannya. Kekaburan objek, pencahayaan yang kadang tidak memadai, garis-garis lurus yang tampak miring, ketidaksiapan objek untuk difoto, dan lain sebagainya. Keteledoran-keteledoran ini yang membuat fotografer amatir justru semakin dekat dengan noeme fotografi itu sendiri.

Keamatiran dalam memotret dan menyunting, atau bahkan ketiadaan penyuntingan dalam fotografi, malah membuat sebuah foto menjadi menarik di mata saya. Ini menyebabkan tidak adanya kebimbangan atas realitas objek dalam foto tersebut. Foto tersebut sederhana, tanpa tipuan, dan tanpa “riasan” apapun.

ustru bagi saya inilah ihwal yang paling sulit dalam fotografi: memperlihatkan apa yang benar-benar terjadi tanpa harus bergantung pada penyuntingan dan properti pemercantik foto lainnya. Walaupun dalam dunia fotografi profesional penyuntingan mesti dilakukan untuk menambah nilai estetika dan bahkan penekanan makna yang ingin disampaikan melalui sebuah foto. Dan bagi saya, hal itu pun sama sekali tidak ada salahnya.

Punggawa Bali tempo doeloe

Napak Tilas

Album foto keluarga masih tersimpan rapi dalam lemari ruang tengah rumah saya. Foto pernikahan papa dan mama, foto telanjang saya dan kakak saya saat bayi, foto rumah saya yang waktu itu sedang dibangun, foto anjing peliharaan saya, foto pentas tari saya saat masih duduk di taman kanak-kanak, dan foto-foto lainnya, semuanya masih tertambat dengan baik.

Dengan melihat foto-foto tersebut, saya bisa melakukan napak tilas perjalanan kehidupan saya dan keluarga. Saya percaya bahwa kami pernah ada di situ, melakukan itu, di waktu itu, bersama orang-orang itu. Saya melihat foto-foto tersebut untuk percaya pada Yang-sudah-terjadi. Dengan begitu, secara tidak langsung saya percaya terhadap foto tersebut. Inilah salah satu fungsi penting dari fotografi bagi saya: menciptakan rasa percaya.

Akan tetapi, kini fotografi sudah menjadi suatu hal yang begitu biasa, bahkan lebih banal daripada kegiatan foto-foto untuk dokumentasi keluarga. Sekarang kamera bukanlah barang mewah sebab hampir setiap ponsel pintar kita dilengkapi dengan fitur kamera. Kita bisa memotret apapun, kapanpun, dimanapun, sebanyak apapun yang kita mau.

Banalnya fotografi juga didukung oleh adanya sosial media. Sebuah foto kini tidak dibuat untuk memperlihatkan Yang-sudah-terjadi secara gamblang sebab ia dapat direkayasa dengan mudah. Contohnya filter-filter pada aplikasi Snapchat dan fitur Instastory pada aplikasi Instagram. Bisa jadi saya memiliki wajahmu dan kamu memiliki wajah saya dalam satu bingkai. Di waktu lain, bisa jadi saya punya telinga dan hidung anjing.

Barthes menyebut bahwa “apa yang menjadi karakter dari masyarakat maju adalah bahwa mereka kini mengonsumsi gambar dan tidak lagi, seperti masyarakat di masa lalu; percaya.” Nah, kalau begini, Barthes tampak seperti seorang kakek yang merasa bahwa kehidupan generasinya adalah bentuk kehidupan yang terbaik dan karenanya harus dicontoh.

Akan tetapi, untuk argumennya soal konsumsi gambar, saya mau tidak mau harus setuju. Pasalnya, kini masyarakat semakin dimudahkan dengan adanya media Instagram. Di sana, kita bisa berbagi foto dan video apapun, dan karenanya juga mengonsumsinya. Lingkarannya berputar pada produksi dan konsumsi. Walaupun begitu, saya pikir, hal tersebut tidak bisa dikatakan seratus persen salah. Justru Instagram memperlihatkan banyak imaji-imaji yang segar, meski kita dibuat untuk belajar menelaah foto mana yang bisa dipercaya.

Terlepas dari itu, budaya Instagram seringkali membuat saya penat lalu bertanya-tanya, apa motif seseorang dalam memotret, ya? Apakah engagement yang tinggi? Hobi? Cari uang? Atau hanya sekadar memotret saja? Apapun itu, kepenatan saya seringkali berujung pada kegiatan berjalan-jalan dan memotret apapun yang menarik di depan saya.

Menjadi flaneur—seseorang yang keluyuran tanpa tujuan yang pasti—dan memotret apapun yang tersedia di depan mata, saya merasa bebas dan bisa belajar menelaah sekitar. Kini hal tersebut bisa dilakukan semua orang; semua orang bisa menjadi fotografer. Perkara bagus atau tidaknya adalah masalah selera sebab kembali lagi, kitalah pemegang otoritas dalam fotografi. Seperti kata Agamben, kita sebagai subjek dalam fotografi adalah Yang Kudus dalam Penghakiman Terakhir!

Maka dari itu, banalnya fotografi justru bisa menjelma momentum bagi siapapun untuk belajar. Bagi saya, para fotografer yang tengah belajar, mereka yang bisa disebut sebagai amatir, adalah yang secara tidak langsung menawarkan kejujuran dalam karyanya. Itu yang menjadi nilai plus mereka dibanding fotografer profesional. Lewat foto-fotonya, mereka tidak akan membuat kita susah payah untuk percaya pada Yang-sudah-terjadi. Dengan begitu, setidaknya kita tidak akan menjadi sepesimis Barthes; masih ada alasan bagi kita untuk tetap percaya pada kekuatan sebuah foto. [b]

The post Fotografi, Sekadar Konsumsi atau Kepercayaan? appeared first on BaleBengong.

Cerita Visual tentang Mereka yang Tak Terceritakan

Para fotografer dan mentor dalam pameran foto Unspoken. Foto Wirasathya.

Photography is a small voice, at best, but sometimes one photograph, or a group of them, can lure our sense of awareness.” W Eugene Smith

Seorang bapak tua mengayuh sepeda gayung pelan-pelan, melewati jalanan paving yang penuh debu. Jalan itu membelah Setra Agung Badung (kuburan).

Tiap sore, sepulang dari kantor, Candra Dewi melewati jalan itu juga. Bertemu orang-orang seperti si bapak tua pengayuh sepeda, menikmati suasana setra dengan berbagai aktivitas sore. Sebagai perempuan Bali yang menghabiskan masa anak-anak di luar pulau, pada mulanya Candra tidak begitu akrab dengan keriuhan tersendiri yang diciptakan kompleks pemakaman ini.

Namun, seiring waktu, proses adaptasi yang cukup panjang membuat Candra mempunyai sudut pandang yang menarik. Alih-alih menganggap setra ini sebagai jalanan yang dilewati tiap pulang ke rumah, Candra justru menemukan sebuah perenungan. Dia mempertanyakan tentang jalan pulang yang lain, jalan pulang menuju rumah yang abadi.

Pada karya berjudul “Jalan Pulang”, Candra mengajak kita berjalan melewati lingkungan setra yang dia lewati tiap sore. Membaca berbagai peristiwa dan situasi yang dia tangkap dalam foto-foto yang didisplay di atas meja. Sekaligus mengajak kita merenungi batas-batas kematian dan kehidupan yang bersisian.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak cerita sederhana di sekitar kita yang menarik. Cerita-cerita yang tidak dikatakan, atau jarang dikatakan, tapi sebenarnya mempunyai keunikan tersendiri jika kita membicarakannya.

Cerita-cerita itu terkadang menggelitik, lucu, haru, serta tak jarang pula membuat kita intropeksi dan belajar.

Seperti karya Nyoman Arya Suartawan yang berjudul “Ikan Cupang”, dia menceritakan tentang hubungan personal dia dengan ikan-ikan cupang hias. Berawal dari iseng memelihara 1 ekor ikan cupang hias, kemudian dia ketagihan dan memelihara hingga lebih dari 70 ekor.

Dia mempelajari segala macam hal yang berhubungan dengan ikan cupang, cara merawat, makanan, obat, perkembang biakan dan lain-lain. Begitu besarnya minat dia kepada ikan cupang, dia bahkan merawat ikan-ikan cupangnya seperti bagian dari keluarganya. Istri dan anak-anaknyapun juga ikut merawat dengan penuh kasih.

Keberadaan ikan-ikan cupang di rumahnya menjadi sebuah hal amat penting. Setiap pulang kerja, ikan-ikan cupang ini dimanfaatkan sebagai media refreshing, Arya duduk santai di depan aquarium-aquariumnya untuk menikmati liukan gerakan ikan-ikan cupang itu mengelilingi ruang aquariumnya.

Wayan Martino juga mempunyai cerita menarik, tentang keseharian bapaknya dengan radio, yang membuat Martino berhadapan dengan situasi antara khawatir dan cemas, sekaligus sebagai media belajar kepercayaan diri. Tiap pagi suara radio yang fals itu membangunkan tidurnya, sekaligus membuat dia kuatir, suara kencang radio bapaknya itu akan mengganggu tetangganya yang masih terlelap. Rupanya radio itu bersuara lebih cepat dari kokokan ayam jago.

Karya Martino berjudul “Radio Bapak” ini unik, kita diajak untuk bertatap muka dengan bapaknya. Bercakap-cakap dengan suasana rumah dan tempat-tempat yang hampir setiap hari dilewati bapaknya sambil mendengarkan radio.

Membaca foto-foto Martino seperti masuk ke dalam kehidupan personalnya sebagai anak seorang bapak yang beberapa kali menginap di rumah sakit jiwa, dan ikut serta dalam proses pembelajaran Martino menjadi seorang yang percaya diri.

Karya Candra, Arya dan Martino ini adalah tiga dari 7 karya foto yang dipresentasikan dalam Pameran Foto “UNSPOKEN” di Uma Seminyak, 11-23 Maret 2017. Pameran foto ini menampilkan 7 foto cerita personal yang dikerjakan dalam beberapa bulan ini, karya dari angkatan pertama kelas #SayaBercerita.

Fotografer menjelaskan kepada pengunjung pameran Unspoken. Foto Wirasathya.

Dengan pendekatan fotografer sebagai subyek, karya-karya mereka menjadi sangat personal. Melalui karya mereka, kita bisa melihat cerita-cerita yang selama ini dianggap tidak ada, namun sebenarnya terjadi di sekitar kita sendiri.

Seperti karya Ratnayanti Sukma, dia menceritakan tentang keluarganya. Ratna sebagai anak pertama yang menginjak usia dewasa, menyadari bagaimana sistem komunikasi keluarganya yang telah pasif bertahun-tahun.

Kesadaran itu muncul ketika dia tidak sengaja pertama kalinya mempunyai foto keluarga lengkap, tepat saat hari ulang tahun ayahnya. Dari foto itu dia berusaha merekonstruksi apa yang terjadi dalam sistem komunikasi di keluarganya, bagaimana sosok ayahnya sebagai satu-satunya pria di keluarganya menjalani keseharian.

Pada proses pengerjaan karya fotonya ini, dia menemukan banyak cerita di keluarganya, yang akhirnya membuat dia dan adik-adiknya menjadi lebih dekat lagi dengan sosok ayah, dan tentu dengan ibunya. Ratna mengemas karya fotonya dengan apik dalam bentuk sebuah buku harian besar yang dia rancang sendiri.

Hampir sama dengan Ratna, karya Dodik juga menceritakan tentang dirinya dalam keluarganya. Dodik bercerita tentang ke-lupa-an, tentang hal-hal yang tanpa dia sadari telah terlewatkan begitu saja hingga umurnya beranjak dewasa. Dia mencoba merekontruksi album foto masa kecilnya yang ditemukan di rak kamarnya, lalu diterjemahkan melalui foto-foto yang dia ambil di masa sekarang.

Dengan jeli dia mengambil bagian-bagian cerita masa lalunya, lalu ditata ulang membentuk mozaik-mozaik peristiwa yang amat momentum bagi dia. Dengan menggunakan teknik kolase, karyanya dipajang tidak beraturan pada sebuah papan abu-abu.

Banyaknya hal-hal terlupakan yang disampaikan pada foto-foto pilihannya tersebut sebenarnya justru menujukkan bahwa dirinya sedang dalam titik ingat yang cukup detail. Mungkin karya ini selanjutnya menjadi sebuah titik balik dari perjalanan hidupnya mencari identitas.

Fotografi sebagai media komunikasi visual terkadang memang mampu membuat kita bercermin dan membentuk kesadaran tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Fotogra? sebagai cara untuk melihat, menggambarkan masa lalu dan sepenggal sejarah yang tidak hanya ketika foto diambil tetapi juga saat foto itu dilihat di waktu yang berbeda.

Seperti hal sederhana yang diceritakan oleh Anton Aryadi dalam karyanya berjudul “Odah”. Setiap hari, odah atau nenek Anton menghaturkan makanan dan secangkir kopi di depan sebuah foto almarhum suaminya di salah satu meja di rumahnya. Meski foto itu sudah terlihat usang, namun mempunyai nilai kenangan yang amat berarti bagi odah.

Beliau merasa suaminya masih ada di rumah itu. Foto itu menjadi perantara komunikasi secara tak langsung. Menghaturkan makanan dan secangkir kopi itu merupakan representasi dari kebiasaan makan bersama saat suaminya masih hidup.

Cerita odah pada karya Anton ini mewakili cerita-cerita yang sebenarnya banyak terjadi di lingkungan kita, sebuah cerita tradisi yang mungkin bakal hilang dimakan zaman. Karya Anton ini selanjutnya menjadi dokumentasi kebudayaan yang bisa kita kaji bersama di kemudian hari.

Berbicara tentang dokumentasi, kita juga perlu mengkaji karya Tria Nin yang berjudul “Kotak Memori.” Tria mengajak kita bermain-main dengan waktu, membaca pada benda-benda yang dia kumpulkan sepanjang hidupnya.

Pada karyanya, dia menghadirkan kotak memorinya lengkap dengan isinya, sebanyak 21 buah benda yang penuh dengan kenangan berbagai peristiwa dan momen. Yang menarik, benda-benda tersebut ditampilkan bukan dalam wujud aslinya, melainkan dengan medium 2 dimensi, yaitu fotografi.

Foto benda-benda itu dimasukkan dalam amplop, sehingga seperti tampak bernilai dan personal sekaligus sebagai batasan momen dengan (foto) benda-benda lainnya. Fotografi sendiri adalah alat untuk merekam kenangan, menjadi menarik ketika Tria memilihnya sebagai representasi dari benda-benda yang sengaja dia simpan karena kenangan dan memori dalam perjalanan hidupnya.

Karya-karya dari 7 orang angkatan 1 Kelas #SayaBercerita dalam pameran foto UNSPOKEN ini berikutnya menjadi arsip visual kita bersama, menjadi literasi baru untuk kita diskusikan. Dalam perwujudannya, karya-karya ini mungkin tampak berbeda dengan foto bercerita pada umumnya.

Bagaimanapun juga fotografi hanyalah salah satu medium untuk menyampaikan idea tau gagasan. Selamat membaca.. ?

Denpasar, 11 Maret 2017
Syafiudin Vifick | mentor kelas #SayaBercerita

The post Cerita Visual tentang Mereka yang Tak Terceritakan appeared first on BaleBengong.

Tiga cara mudah membuat foto hitam putih keren dan dramatis menggunakan Snapseed



Snapseed merupakan aplikasi olah foto yang cukup diminati pengguna Android dan iOS. Snapseed pertamakali diluncurkan oleh Nik Software melalui platform iOS hingga kini dikuasai Google untuk pemanfaatan yang seluas-luasnya. Yup, Snapseed merupakan aplikasi gatisan dengan berbagai fitur menarik didalamnya, maka tidak heran jika aplikasi ini dijuluki Photoshopnya smartphone dari pertamakali debut dipasaran hingga saat ini.

Foto hitam-putih atau black and white (BW) merupakan salahsatu genre yang paling diminati pecinta fotografi, termasuk para fotografer yang menggunakan kamera smartphone. Di berbagai media atau jejaring sosial dengan sangat mudah ditemukan group khusus bagi mereka yang ingin memamerkan foto bertemakan BW, misalnya Black and White Street di Facebook atau Black and White Photography di Google+

Membuat foto hitam putih sebenarnya cukup mudah, bisa melalui fitur khusus yang disediakan masing-masing kamera, juga melalui filter khusus masing-masing smartphone. Aplikasi olah digital juga kerap dijadikan pilihan, khususnya bagi mereka yang ingin membawa hasil jepretannya ke tingkat yang lebih tinggi.

Aplikasi Snapseed memiliki fitur merubah foto menjadi hitam putih. Sayangnya hasil yang didapat kurang maksimal walaupun telah tersedia banyak filter hitam-putih yang bisa dipilih sesuai selera. Nah, agar memiliki hasil foto hitam-putih yang lebih maksimal, dibawah ini saya sediakan video tutorial untuk membuat foto hitam-putih Anda menjadi lebih keren dan dramastis.

Melalui video ini saya memanfaatkan filter HDR, mempertajam foto dan terakhir menerapkan filter hitam-putih.


Tiga cara mudah membuat foto hitam putih keren dan dramatis menggunakan Snapseed



Snapseed merupakan aplikasi olah foto yang cukup diminati pengguna Android dan iOS. Snapseed pertamakali diluncurkan oleh Nik Software melalui platform iOS hingga kini dikuasai Google untuk pemanfaatan yang seluas-luasnya. Yup, Snapseed merupakan aplikasi gatisan dengan berbagai fitur menarik didalamnya, maka tidak heran jika aplikasi ini dijuluki Photoshopnya smartphone dari pertamakali debut dipasaran hingga saat ini.

Foto hitam-putih atau black and white (BW) merupakan salahsatu genre yang paling diminati pecinta fotografi, termasuk para fotografer yang menggunakan kamera smartphone. Di berbagai media atau jejaring sosial dengan sangat mudah ditemukan group khusus bagi mereka yang ingin memamerkan foto bertemakan BW, misalnya Black and White Street di Facebook atau Black and White Photography di Google+

Membuat foto hitam putih sebenarnya cukup mudah, bisa melalui fitur khusus yang disediakan masing-masing kamera, juga melalui filter khusus masing-masing smartphone. Aplikasi olah digital juga kerap dijadikan pilihan, khususnya bagi mereka yang ingin membawa hasil jepretannya ke tingkat yang lebih tinggi.

Aplikasi Snapseed memiliki fitur merubah foto menjadi hitam putih. Sayangnya hasil yang didapat kurang maksimal walaupun telah tersedia banyak filter hitam-putih yang bisa dipilih sesuai selera. Nah, agar memiliki hasil foto hitam-putih yang lebih maksimal, dibawah ini saya sediakan video tutorial untuk membuat foto hitam-putih Anda menjadi lebih keren dan dramastis.

Melalui video ini saya memanfaatkan filter HDR, mempertajam foto dan terakhir menerapkan filter hitam-putih.


Cara membuat watermark sederhana

Pada dasarnya membuat watermarkuntuk foto tergolong susah-susah gampang. Gampang apabila kita memiliki konsep, dan susahnya adalah merealitakannya kedalam seni fotografi.

Setiap orang tentunya memiliki seni tersendiri, ada yang menyukai logo, tulisan, dan juga menggabungkan kedua unsur tersebut. Melalui tutorial kali ini saya mengajak Anda untuk membuat desain watermark yang simpel, yaitu hanya berupa tulisan saja dengan memanfaatkan fitur pengolahan foto paling populer di dunia, apalagi jika bukan Photoshop.

Pertama-tama pilih File>New, disini saya menggunakan pengaturan widh1500 dan height 500. Selanjutnya resolution 300 pixel/inch agar tepi garis terlihat lebih halus. Oya, jangan lupa gunakan transparent pada kolom background contents.



Selanjutnya pilih text tools atau tools dengan huruf “T” yang berlokasi disebelah kiri layar, kreasikan teks berdasarkan fonts(jenis tulisan), besar huruf dan warna.




Setelah mengkreasikan tulisan, simpan file dengan format PNG.


Untuk menambahkan watermarkyang telah dibuat tadi kedalam foto sangatlah mudah, pilih file>open dan cari foto yang akan dibubuhkan watermark. Selanjutnya buka folder watermark, klik dan geser kedalam foto.



Atur posisi watermarkdengan cara memperlebar/mengecilkan bingkai dan geser untuk meletakkan watermark pada posisi yang diinginkan. Klik tanda centang di kanan atas layar apabila ukuran dan posisi watermark dirasa sudah pas, terakhir simpan file dalam format JPEG.



Maka hasilnya seperti dibawah ini.




Bagaimana, cukup mudah, bukan? Anda dapat membuat beberapa jenis watermark sekaligus yang disesuaikan dengan latar foto, misalnya warna yang lebih terang untuk foto dengan latar gelap atau watermarkgelap untuk foto dengan latar terang, tentunya disesuaikan dengan kreasi dan citarasa masing-masing.