Tag Archives: Film

27 Steps of May: Bikin Sesenggukan tanpa Meromantisir Kesunyian

Tangkapan layar dari Official Trailer 27 Steps of May

Saya sempat kecewa dengan bagaimana Ave Maryam mengeskploitasi kesunyian. Ketika membaca sinopsis film 27 Steps of May, sempat ragu, apakah trauma dan kesunyian akan dieksploitasi sedemikian radikal dan patah-patahnya seperti di Ave Maryam.

4 Mei jam 21.40, saya dan teman saya memutuskan untuk malem mingguan di bioskop di Jalan Adisucipto, Yogyakarta. Lima cinema disediakan untuk End Game. Satu tersisa untuk 27 Steps of May. Tidak sesepi film-film festival Indonesia yang diputar di Bali, menghitung perbandingan kerumunan yang hadir, film ini masih punya cukup penoton untuk bertahan hingga seminggu ke depan (mungkin).

Setelah Lovely Man, Diana Diana dan kabar tentang penghargaan Aktris Terbaik di Festival Film ASEAN, Raihaanun adalah salah satu daya tarik bagi saya untuk segera membeli tiket dan duduk sepanjang hampir dua jam. Menonton film di bioskop di Jogja ternyata sangat melelahkan di awal, kita disuguhi banyak iklan komersil yang berulang 2-3 kali.

Cerita berawal ketika May, 8 tahun sebelum setting cerita utama, pulang dari Sekaten pasar malam dan diperkosa (adegan ini mengingatkan saya pada Lovely Man [Teddy S, 2011], waktu si waria menemui pacarnya).

Waktu kemudian ditarik menjauh ke delapan tahun sesudahnya. Ketika adegan-adegan pemerkosaan itu ditampilkan sekilas-sekilas untuk penonton menarik benang merah atas respon-respon traumatis yang tersebar di sepanjang film seperti mengapa May hanya makan makanan tanpa warna atau memakai sepatu putih.

Repetisi-repetisi tentang keteraturan hidup May dan ayahnya punya porsi cukup panjang di awal cerita. Tentang bagaimana May menyeterika bajunya serapi-rapinya. Menghitung jumlah boneka yang sudah mereka buat. Memasukkan meja. Mengambil boneka-boneka yang sudah jadi. Menggunting kain. Memasang manik-manik. Lompat tali.

Menempatkan lauk dan sayur serba putih di atas nasi yang dibentuk dengan mangkok. Lalu, menyuapkannya ke mulutnya dengan irama teratur.

Lain waktu, ketika ada kabar tentang kebakaran, kita bakal tahu bahwa bahkan untuk melangkah ke luar dari kamar pun, dia memerlukan banyak pertimbangan, sebelumnya akhirnya kembali ke zona amannya. Semuanya dilakukan di dalam rumah. May dan ayahnya sudah mulai terbiasa dengan batas ruang yang mereka akan/boleh langkahi dan yang tidak.

Depresi

Alih-alih menjadi permulaan yang membosankan, repetisi yang ditawarkan di awal ini membuat penonton ikut merasakan depresi, atau setidaknya frustrasi. Bukan hanya oleh trauma yang ditampilkan secara apik oleh Raihaanun, pun oleh ketidakmampuan ayah (Lukman Sardi) menghadapi situasi yang serba kaku ini.

Sosok “ayah” punya dua lokus dan dua penggambaran yang berbeda: putus asa di rumah, dan penuh kemarahan di ring tinju/MMA.

Saya punya banyak masalah dengan penggambaran kerumunan yang hadir di arena-arena bela diri pun tinju, di semua film. Kerumunan digambarkan seolah-olah haus akan darah.

Terlepas dari itu, film ini juga berusaha menampilkan pergulatan diri si ayah dan kelindan-kelindannya dengan tuntutan untuk menjadi figur “ayah”, yang pada situasi ini (8 tahun dealing with his daughter’s mental health) digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya.

Ravi L. Bhawani memasukkan arena tinju dengan aturan-aturan ketat. Dan, ketidakmampuan si ayah untuk mengatur emosinya sebelum akhirnya didepak keluar dari skena tinju (karena menyebabkan lawannya hampir mati). Untuk membuat konflik punya kaitan dengan kehidupannya di rumah, Ravi kemudian mengakomodasi emosi tanpa kontrol ini ke medan MMA.

Permasalahan-permasalahan mulai muncul. Mulai dari kekalahannya di babak pertama yang membuatnya harus dirawat sebentar dan terlambat pulang rumah. Lain waktu, dia harus masuk penjara dan kembali terlambat pulang rumah.

Terlambat pulang rumah punya peran yang cukup signifikan untuk menggambarkan rasa bersalah dan kekhawatiran si ayah. Pun di lain waktu untuk membuat alur maju. Dari sesuatu yang depresif menjadi sesuatu yang enlightening. May mau menyentuh area dapur, membawa makanan dengan bumbu ke meja makan, dan memasukkannya ke mulut.

Hal yang membuat saya khawatir adalah kemunculan Ario Bayu sebagai pesulap. Dengan keabsurdan lubang yang tiba-tiba muncul, Ario yang tinggal di sebelah rumah mulai menjadi penghibur May. May punya motivasi untuk belajar sesuatu. “Magic” kalau kata pengantar boneka (Verdi Solaiman).

Keabsurdan-keabsurdan lain muncul. Mulai dari lubang yang makin membesar hingga akhirnya bisa dilewati badan orang dewasa. Tikus yang mampir sebentar ke rumah May (kemudian menghilang entah ke mana, walaupun May dikirimi notes: terima kasih sudah menjaganya. Seolah-olah tikus adalah bagian penting dari cerita).

Rumah pesulap yang tiba-tiba listriknya mati (dengan konsumsi listrik sebanyak itu. Dia menyodorkan satu colokan dan numpang listrik dari rumah May. Apakah dia akan ikut bayar iuran listrik? Jeng. Jeng). Kehadiran adik pesulap untuk memunculkan emosi lain dari May: jealousy. Hingga pilihan May untuk melakukan reka ulang pemerkosaan di depannya.

Menyadari bahwa pilihan rutinitas merakit boneka (akan lebih absurd kalau dia merakit Gundam) juga adalah pilihan yang absurd, juga letak lemari boneka yang memunggungi lubang. Saya tidak bisa tidak membayangkan bahwa film ini memasukkan beberapa genre sekaligus, drama, thriller dan komedi sulap.

Walaupun pembabakannya tidak dibagi-bagi sejelas di Rumah dan Musim Hujan (Ifa I, 2012), tapi saya akhirnya menyerahkan diri pada campur-campurnya adegan action ayah di medan MMA, permainan psikologis May, permainan emosi May dan ayah, adegan sayat-sayat tangan, komedi-komedi si pengantar boneka pun si pesulap.

Pesulap jadi katalis untuk May merelakan dirinya untuk membuka diri pada (hingga akhirnya berdamai dengan) masa lalu. Relasi mereka digambarkan lebih ke relasi yang romantis. Lain lagi dengan si pengantar boneka punya peran yang cukup klenik (lol). Dengan caranya yang jenaka dan (itu tadi) klenik, dia membantu ayah untuk mengubah caranya menyikapi hal-hal yang terjadi pada anaknya, 8 tahun lalu.

Baik pesulap pun pengantar boneka tidak digambarkan sebagai sosok penyelamat. Dengan pergulatan emosi May dan ayah, dua karakter ini memunculkan sisi-sisi non-depressive dari May dan ayah.

Hal yang sangat saya apresiasi dari Ravi L. Bhawani sebagai director dan Rayya Makarim sebagai penulis naskah adalah kemampuan dan kemauan mereka memberi kuasa pada May dan ayah untuk menentukan sikap atas fenomena masing-masing: May yang harus berhadapan dengan trauma-trauma pemerkosaan, ayah yang harus mengendalikan rasa putus asanya yang sia-sia.

Pertanyaan

Masih ada pertanyaan-pertanyaan untuk film ini, misalnya tentang siapa dan bagaimana menyiapkan makanan di rumah (lebih-lebih waktu ayah masuk penjara), juga bagaimana situasi stok kain di rumah dan bagaimana May meminta warna kain yang berbeda ketika dia mengubah karakter bonekanya dari si cantik ke si pesulap.

May hampir tidak pernah bicara dalam masa-masa depresinya kecuali untuk bilang “Stop” ketika ayah menghajar pesulap. Di satu sisi, susah rasanya melepaskan peran apik Raihaanun di film ini dengan perannya sebagai perempuan berjilbab di film Lovely Man. Keduanya sama-sama mengeskplorasi relasi anak dan ayah dengan pergulatan batin masing-masing.

Pun, rasanya susah melepaskan film ini dari Rumah dan Musim Hujan dengan segala keabsurdan untuk menggambarkan trauma pasca perkosaan. Akting yang apik dari semua pemeran di film ini membuat pertanyaan-pertanyaan itu menguap (sebentar, sebelum akhirnya muncul di tulisan ini).

1 jam 52 menit terlewati dengan hati yang puas. Film ini tidak meromantisir kesunyian. Penonton di sebelah kami sesenggukan. Saya membayangkan, film ini akan memberikan sesak di dada yang sungguh bagi orang-orang dengan trauma. Film ini juga akan sangat mengeringkan kantung mata bagi orang-orang yang punya father issue, melihat bagaimana peran ayah di sini sangat sentral.

Kami menunggu sebentar di kursi, supaya tidak menginterupsi tangis laki-laki berkaca mata di ujung baris. Saya sarankan, tisu adalah logistik yang mungkin Anda perlukan jika berencana menonton film ini. [b]

The post 27 Steps of May: Bikin Sesenggukan tanpa Meromantisir Kesunyian appeared first on BaleBengong.

Minikino di Pasar Film Pendek Terbesar Dunia

Teater Utama di CFISFF 2019
Suasana teater utama di Clermont-Ferrand International Short Film Festival 2019 (dok.minikino)

Di awal tahun 2019 Minikino berkesempatan ke Short Film Market terbesar di dunia.

Short Film market adalah bagian dari festival film pendek, Clermont Ferrand International Short Film Festival (CFISFF) di Perancis. Festival film pendek ini termasuk yang terbesar dan tertua di dunia, berlangsung sejak 1979.

Di Perancis sendiri festival ini merupakan festival film terbesar kedua setelah Cannes Film Festival. Ini dilihat dari perbandingan jumlah penonton dan kehadiran para profesional di bidang terkait.

CFISFF secara resmi menyatakan bahwa setiap tahunnya festival mereka dihadiri lebih dari 160 ribu pengunjung ditambah 3.500 profesional, termasuk para filmmaker dan produser. Selain aktivitas pemutaran film dan diskusi, festival ini juga terkenal dengan program short film market yang telah dijalankan sejak 1986.

Di dalam masa kunjungannya pada 1-8 Februari 2019 di Clermont-Ferrand, Edo Wulia yang mewakili Minikino mengonfirmasi langsung, tercatat bahkan lebih dari 4.000 profesional hadir tahun ini.

Short Film Market atau Pasar Film Pendek di CFISFF memiliki definisi lebih lanjut daripada sekadar kata “pasar” yang kita kenal sehari-hari. Film Market yang dimaksudkan di sini adalah sebuah ajang pameran (showcase) diikuti berbagai badan terkait festival film dari berbagai belahan dunia.

Badan-badan pemerintah yang berhubungan dengan pengembangan film pendek untuk pengembangan budaya dan industri pariwisata juga melibatkan diri dalam acara ini. Ajang film market CFISFF secara efektif digunakan untuk berbagai pertemuan dan pembentukan jaringan kerja sama, serta pertukaran informasi global di bidang seni, budaya dan pariwisata.

Short Film Market pada dasarnya diadakan untuk mendorong nilai ekonomi dari sebuah film pendek. Namun, pergerakan ekonomi yang terjadi dalam kegiatan pasar film pendek di CFISFF tercipta setelah terbentuknya jaringan kerja global antar filmmaker, festival, distributor, serta badan-badan kenegaraan yang terkait.

Di sinilah seluruh pekerja yang terkait dalam ekosistem film pendek berkesempatan bertemu, berdialog dan mengadakan rapat formal maupun informal. Nilai ekonomi yang dibangun sifatnya jangka panjang dan dengan pemahaman yang lebih mendalam daripada sekedar sebuah kegiatan jual dan beli retail yang kita kenal sehari-hari.

Menurut Edo, sisi komersil film pendek dalam Short Film Market memang disinggung sebagai salah satu tujuan ketika beberapa perusahan distribusi dan stasiun televisi di beberapa negara, terutama yang berada di region Eropa memang memiliki kemampuan untuk membeli hak tayang dan distribusi. Namun, sisi ini relatif merupakan aktivitas khusus (segmented) dan bukan menjadi tujuan pertama dari kebanyakan instansi yang hadir.

Katalog Minikino Film Week 4 di antara berbagai selebaran di Clermont-Ferrand International Short Film Festival 2019
Katalog Minikino Film Week 4 di antara berbagai selebaran di Clermont-Ferrand International Short Film Festival 2019 (dok.minikino)

Poin Penting

Edo Wulia melakukan perjalanannya dari Bandara Ngurah Rai Airport, Bali pada 1 Februari 2019 malam, langsung menuju ke Perancis, tanpa melalui Jakarta terlebih dahulu. Kunjungan kerja ini dilakukan selaku posisinya sebagai direktur festival Minikino Film Week. Pendanaan perjalanan didukung sepenuhnya oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Republik Indonesia.

Di dalam laporan tertulis kepada BEKRAF RI, Edo menyampaikan beberapa poin penting. Edo melihat langsung bagaimana penyikapan negara-negara Eropa dan juga berbagai negara dari region lain yang hadir di Clermont-Ferrand, termasuk Asia yang pada tahun 2019 ini terwakili oleh Korea, Jepang dan Taiwan.

“Saya langsung tergelitik membandingkannya dengan pencapaian Indonesia dalam bidang produksi dan eksibisi film pendek,” katanya.

Menurut Edo, walaupun belum ada yang meraih penghargaan utama di Clermont-Ferrand, tetapi beberapa film pendek produksi Indonesia sudah beberapa kali masuk dalam sesi kompetisi. “Begitu bergengsinya festival ini, sehingga untuk ikut dipertimbangkan dalam sesi kompetisi festival ini saja sudah merupakan sebuah kebanggaan,” ujarnya.

Edo menekankan kembali ketatnya seleksi dan standard film-film pendek yang tampil, dia menyaksikan bagaimana festival besar ini menyikapi dan menghormati karya-karya film yang berhasil lolos ke sesi kompetisi. “Demikian juga antusiasme penonton merayakannya sebagai sebuah pencapaian membanggakan ketika layar-layar raksasa tersebut kemudian memproyeksikan film-film pendek luar biasa ini,” lanjutnya.

Giulio Vita (Director & Animation Programmer)& Sara Fratini (Co-Director, Animation Programmer & Curator of the Illustration Exhibition “Artists For La Guarimba”)

Pekerjaan Rumah

Dalam kunjungan ini Edo Wulia juga semakin menyadari bagaimana Indonesia masih memiliki “pekerjaan rumah” yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Untuk ikut berlaga pada ajang Short Film Market di Clermont-Ferrand, tentu saja lebih jauh daripada sekedar kemampuan menyewa stan.

Dalam kondisi sosial politik di Indonesia yang masih menempatkan karya film-film pendek atau karya film pada umumnya terbatas hanya sebagai komoditas politik dan ekonomi, kondisi ini sedikit banyak mempengaruhi karya-karya yang dihasilkan. Aturan-aturan perfilman yang seharusnya fleksibel dan bergerak dinamis, tidak berhasil disosialisasikan dengan baik.

Hegemoni lembaga sensor yang lebih dari sekadar mengklasifikasi, namun sampai pada pengguntingan karya. Ditambah tindakan persekusi oknum-oknum di masyarakat kepada penyelenggaraan pemutaran masih sering terdengar. Diperburuk lagi oleh pembiaran-pembiaran oleh aparat negara, bahkan seringkali malah berpihak pada pelaku persekusi.

Karya-karya film di Indonesia secara umum bereaksi pada situasi ini. Perkembangan produksinya dari tahun-ke-tahun yang umumnya berhenti pada hiburan ringan yang berharap mengejar sukses komersil, atau sekedar selesai pada pameran teknis semata.

Walaupun relatif belum terlalu diperhatikan oleh pemangku kebijakan ataupun lembaga sensor,  situasi ini juga berdampak pada karya-karya film pendek. Dampak yang terjadi lebih parah, karena dengan nilai ekonominya yang minim akhirnya juga dengan konteks sosial budaya yang dangkal, tanpa benefit yang jelas.

Secara perlahan kondisi ini akan mematikan ekosistem film pendek Indonesia, baik di dalam masyarakat Indonesia sendiri dan juga di dunia Internasional.

Kondisi memprihatinkan ini sangat kontras dengan penyikapan pada karya film pendek yang diusung dan dipromosikan dalam Short Film Market Global di Clermont-Ferrand. Karya-karya film pendek dipahami sebagai karya seni, sosial dan budaya dengan penghormatan setinggi-tingginya.

Film pendek berkualitas yang mengejar kekuatannya untuk memberi dampak pada nilai-nilai sosial dan budaya dirayakan, dan secara implisit menjadi cerminan cara berpikir dan wawasan masyarakat di mana karya tersebut dibuat. Karya film pendek yang tetap memiliki kepentingan untuk merangkul penontonnya, bukan untuk hasil penjualan tiket, namun untuk mengajak penonton memikirkan kembali tayangan yang baru saja mereka tonton.

Di sinilah esensi dari kekuatan film pendek yang sebenarnya. Sebuah karya yang sejak tahap produksi seharusnya berfokus pada kualitas daripada mimpi-mimpi tentang sukses finansial.

Kemampuan sebar film pendek yang khas, menjadikannya sebuah bentuk kesenian yang bisa menyentuh  berbagai lapisan masyarakat. Menjadikannya perangkat yang jitu untuk membangun kembali budaya sinema di Indonesia. Tentu negara perlu bijaksana untuk mengarahkan, melindungi dan menempatkannya dalam konteks seni dan budaya.

Mengarahkan pemahaman masyarakat untuk menerima sebuah karya film pendek dan karya seni lainnya dalam arti yang lebih luas, sebagai produk budaya, selanjutnya sebagai kekayaan pustaka yang bisa digunakan sebagai materi diskusi, penelitian dan wacana yang bisa digali terus untuk pemahaman yang lebih luas dan mendalam.

Secara bersamaan, membentuk kekuatan penonton dan masyarakat Indonesia yang lebih berani dan kritis pada tontonannya, dan ini adalah lawan kata dari sikap ketakutan dan ketidak-pedulian.

Clermont-Ferrand International Short Film Festival ini telah membuktikan bahwa film pendek merupakan perangkat ampuh untuk menjalin hubungan kebudayaan, sosial, pendidikan lintas disiplin dan lebih jauh lagi adalah pendidikan lintas budaya.

Pada sisi tertentu hal ini juga berpengaruh pada posisi sebuah bangsa di mata dunia. Nilai ekonomi dan terbentuknya pondasi untuk pembangunan industri hanyalah hasil dari sebuah proses. Didukung oleh kemampuan berpikir panjang ke depan dan sikap yang terbuka untuk ikut berdialog dan berdebat. Serta terlepas dari kepentingan untuk menebar rasa takut dan ancaman. [b]

The post Minikino di Pasar Film Pendek Terbesar Dunia appeared first on BaleBengong.

Sexy Killers, Ketika Sumber Energi menjadi Pembunuh Keji


Sumber: WatchDoc

Semua berawal dari ledakan dari dalam tanah. Bum!!

Layar memerlihatkan ledakan di lokasi tambang. Tanah membubung tinggi lalu meninggalkan debu beterbangan. Kendaraan pengeruk dan truk-truk besar hilir mudik mengangkut hasil ledakan: batu bara.

Dari Kalimantan, puluhan ribu ton batu bara mengalir terutama ke Jawa dan Bali, dua pulau paling rakus mengonsumsi energi. Mereka melewati jalur sungai, laut, sebelum tiba di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan batu bara sebagai sumber energi.

Sepanjang itulah, sumber energi bumi bernama batu bara itu membawa bencana. Dari hulu hingga hilir. Sexy Killers, film dokumenter terbaru rumah produksi WatchDoc dengan apik menarasikan bagaimana sumber energi itu menjadi pembunuh bagi warganya sendiri, terutama kelompok miskin dan pedesaan.

WatchDoc meluncurkan dokumenter sepanjang 88 menit ini pada Jumat (5/4/2019) lalu. Pada hari itu juga, berbagai komunitas di lebih dari 10 kota menggelar nonton bareng: Semarang, Samarinda, Surabaya, Kupang, Makassar, dan seterusnya.

Hampir seminggu berlalu, setidaknya sudah 252 lokasi menggelar nobar dokumenter Sexy Killers. Mereka terutama dari kalangan mahasiswa, komunitas, lembaga swadaya masyarakat, dan karang taruna.

Komunitas Perpustakaan Jalanan di Denpasar termasuk salah satu lokasi yang menggelar nobar itu pada Sabtu (6/4/2019) malam di Kampus Sudirman Universitas Udayana, Bali. Sekitar 50 penonton hadir di tempat parkir kampus negeri terbesar di Bali itu.

“Setelah nonton film ini saya jadi tahu bagaimana permainan para oligarki dalam industri batu bara di negeri ini,” kata I Made Wipra Prasita, salah satu penonton.

Nobar di Denpasar berlanjut dengan diskusi bertema energi bersih dan terbarukan. Praktisi energi matahari Agung Putradhyana, lebih akrab dipanggil Gung Kayon, hadir sebagai pembicara bersama Aam Wijaya dari Greenpeace Indonesia.

Gung Kayon termasuk narasumber dalam dokumenter Sexy Killers. Adapun Greenpeace Indonesia termasuk produser bersama Jaringan Advokasi Advokasi Tambang (JATAM).

Bagian Terakhir

Sexy Killers merupakan bagian terakhir dari rangkaian dokumenter hasil Ekspedisi Indonesia Biru. Dua jurnalis videografer, Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Suparta, melakukan perjalanan keliling Indonesia pada 2015. Selama sekitar setahun mereka menempuh perjalanan bersepeda motor dari Jakarta ke Bali, Sumba, Papua, Kalimantan, Sulawesi, lalu kembali ke Jawa.

Dari perjalanan itu mereka menghasilkan 12 film dokumenter tentang isu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dua di antaranya adalah Kala Benoa, tentang gerakan Bali tolak reklamasi Teluk Benoa dan (A)simetris, tentang industri kelapa sawit.

Menurut sutradara Dandhy D Laksono bagian inti dari Sexy Killers dikerjakan selama Ekspedisi Indonesia Biru dengan mengambil lokasi Kalimantan Timur. Pengembangan cerita lalu dilakukan di beberapa daerah seperti Jawa, Bali, dan Sulawesi dengan melibatkan videografer lain di daerah-daerah itu.

Sebagaimana dokumenter khas Ekspedisi Indonesia Biru lainnya, Sexy Killers juga menghadirkan sisi lain dari pembangunan infrastrukur yang begitu masif di zaman Joko Widodo – Jusuf Kalla. Di balik banyak pembangunan PLTU Batubara, terdapat korban-korban dari kalangan petani, nelayan, dan kelompok rentan lain.

Sexy Killers menunjukkan para korban “pembunuhan” batu bara itu terentang dari hulu hingga hilir. Dari lokasi penambangan sampai di mana batu bara itu digunakan.

Di lokasi penambangan di Kalimantan Timur, misalnya, petani dari Jawa dan Bali yang melakukan transmigrasi pada zaman Orde Baru, kini harus berhadapan dengan industri penambangan batu bara. Mereka tergusur atau tercemar.

“Dulu sebelum ada bangunan batubara, sawah tidak rusak. Tidak amburadul. Sekarang sejak ada tambang, rakyat kecil malah sengsara. Yang enak, rakyat yang besar. Ongkang-ongkang kaki terima uang. Kalau kita terima apa? Terima imbasnya. Lumpur..” kata salah satu petani.

Lubang-lubang bekas tambang yang ditinggalkan, kini juga meminta tumbal. Menurut Sexy Killers, sejak 2011 – 2018, sebanyak 32 orang mati tenggelam di bekas lubang tambang di Kalimantan Timur. Secara nasional dalam kurun waktu 2014-2018 terdapat 115 orang mati.

PLTU Celukan Bawang yang sudah berdiri sejak 2015. Foto Anton Muhajir.

Banyak Tumbal

Dari lokasi penambangan, pengangkutan batu bara itu terus memakan lebih banyak tumbal ketika diangkut menuju lokasi PLTU di Jawa dan Bali. Di Batang, Jawa Tengah, petani tergusur dan tidak bisa leluasa memasuki sawahnya. Nelayan juga terkepung PLTU sehingga sumber penghidupannya terancam. Terumbu karang hancur karena tumpahan batu bara atau jangkar kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara.

Nek PLTU berdiri, anakku arep digowo mrindi? Wis ora ono maneh tempat Indonesia, Pak. Gara-gara wong sing pinter kuwi, gununge didol. Segoro arep ditanduri wesi,” seorang nelayan bersuara dengan agak berteriak lalu menepuk dada menahan amarahnya.

Artinya, “Jika ada PLTU, anak kami mau dibawa ke mana? Sudah tidak ada tempat lagi di Indonesia. Gara-gara orang pinter itu, gunung dijual. Laut ditanami besi.”

Di tempat lain, asap PLTU batu bara itu bahkan telah merenggut nyawa warga sekitar, seperti di Palu, Sulawesi Tengah. Sexy Killers menghadirkan getir tangis para korban di balik gemerlap lampu yang dinikmati warga sehari-hari.

Di Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, hadirnya PLTU juga membawa banyak masalah bagi warga setempat. Laporan Greenpeace Indonesia pada April 2018 menyebutkan PLTU Celukan Bawang yang beroperasi sejak 2015 itu menimbulkan empat dampak.

Pertama, ganti rugi tanah yang belum selesai, antara lain karena nilai ganti rugi yang tidak layak dan proses yang tidak transparan. Kedua, hancurnya mata pencaharian, terutama untuk petani dan nelayan tangkap. Ketiga, kerusakan lingkungan di darat dan di laut akibat limbah sisa pembakaran. Keempat, terganggunya kesehatan warga terutama sakit pernapasan yang diperburuk tidak adanya pemantauan mengenai dampak kesehatan.

Ironisnya, PLTU Celukan Bawang sebenarnya tidak pernah masuk dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) di Bali. Menurut RUPTL Nasional, Bali termasuk provinsi dengan rasio elektrifikasi tertinggi di Indonesia, 100 persen, bersama DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Bandingkan dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) 70 persen atau Papua, 65 persen.

Saat ini, beban puncak kebutuhan listri Bali mencapai 825 megawatt. Adapun total pasokan listrik sudah melebihi, yaitu 1.248 megawatt.

Ketika pasokan listrik Bali sudah berlebih dan PLTU Celukan Bawang sudah menimbulkan banyak dampak buruk bagi warga setempat, di tempat yang sama justru akan dibangun PLTU tahap II.

Menjelang Pilpres

Toh, Sexy Killers tak semata menghadirkan para korban di lapangan, tetapi juga pat gulipat para pemilik industri penambagan batu bara maupun listrik yang dihasilkannya. Dokumenter ini dengan jeli mengungkap bagaimana perseteruan politik saat ini tak berarti apa-apa ketika melihat mesranya hubungan bisnis para calon di industri batu bara.

Luhut Binsar Panjaitan, Sandiaga Uno, Erick Tohir, Joko Widodo, bahkan Ma’ruf Amien memiliki hubungan dengan makin maraknya bisnis batu bara meskipun membunuh warganya sendiri itu. Tak sekadar narasi, Sexy Killers layak disebut sebagai dokumenter investigasi.

Pengungkapan data-data kepemilikan perusahaan tambang batu bara maupun PLTU itu merupakan hasil kerja kolaborasi. Menurut Dandhy, ada tim riset khusus yang menekuni dokumen seperti akta perusahaan sampai mencocokkannya dengan kondisi lapangan. Setidaknya ada lima produser yang juga periset lapangan dan seorang periset khusus untuk dokumen perusahaan.

“Lalu kami di WatchDoc mensinkronkan ulang semua kepingan, sebelum akhirnya kami konfirmasi lagi kepada tim riset untuk presisinya. Jadi ada tiga tahap pemeriksaan,” ujarnya.

Dandhy melanjutkan mungkin ada saja nanti yang bolong atau kurang akurat, tapi risiko itu sudah diperkecil. “Itu menunjukkan tidak ada iktikad buruk dalam pengungkapan ini semua, kecuali untuk kepentingan dan pengetahuan publik,” tegasnya.

Karena itu pula, WatchDoc memiliki alasan tersendiri kenapa meluncurkan Sexy Killers menjelang Pilpres.

Pertama, ini isu berdekade-dekade yang tidak terlalu dipedulikan banyak pihak. “Siapa yang peduli dengan isu batu bara, energi bersih, reklamasi, penggusuran, kelapa sawit, jika tidak sedang euforia politik?” tanya Dandhy.

“Inilah saat tepat untuk membicarakan kebijakan publik dalam substansi lebih relevan daripada sentimen agama, nasionalisme semu, atau gimmick-gimmick personal, seperti keluarga,” lanjutnya.

Kedua, Dandhy melanjutkan, Ekspedisi Indonesia Biru sudah ada empat tahun lebih awal dari Pemilu Legislatif dan Pilpres 2019. “Ketiga, agar publik tahu siapa sesungguhnya yang mereka pilih dan tidak pilih,” kata Dandhy yang dalam beberapa sikapnya menunjukkan akan golput itu. [b]

Catatan: Versi lain artikel ini terbit di Beritagar.

The post Sexy Killers, Ketika Sumber Energi menjadi Pembunuh Keji appeared first on BaleBengong.

Teh Nia, Membela Liyan Lewat Sinema

Catatan (lebih dari) sebulan kemudian setelah Minikino Film Week 4. Kok ulasannya telat banget, sih? Begitulah. Pertama karena pas pelaksanaan Minikino Film Week (MFW) 4 waktu itu sedang menduda. Tiga minggu jadi orangtua tunggal. Dan, ternyata, jadi orangtua tunggal itu merepotkan dan melelahkan juga. Urusan domestik rumah tangga lebih pelik dari mengurus negara. Hehehe.. Kedua, Continue Reading

Teh Nia, Membela yang Berbeda Lewat Sinema

Nia Dinata saat diskusi di Minikino Film Week 4. Foto Anton Muhajir.

Catatan (lebih dari) sebulan kemudian setelah Minikino Film Week 4.

Kok ulasannya telat banget, sih? Begitulah. Pertama karena pas pelaksanaan Minikino Film Week (MFW) 4 waktu itu sedang menduda. Tiga minggu jadi orangtua tunggal dan kepala keluarga.

Dan, ternyata, jadi orangtua tunggal itu merepotkan dan melelahkan juga. Urusan domestik rumah tangga lebih pelik dari mengurus negara. Hehehe..

Kedua, seperti biasa, karena banyak pekerjaan. MFW4 itu barengan dengan hajatan besar Pertemuan Tahunan International Mother Fucker, eh, International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Bali pada 8-14 Oktober 2018.

Kemudian susul menyusul agenda-agenda lain setelahnya. Intinya, sibuklah. Karena pengecer karya memang harus selalu kelihatan sibuk. Biar lebih meyakinkan dan tidak terlihat sebagai pengangguran.

Alasan terakhir, pemalas memang selalu punya alasan untuk menunda pekerjaan. Jadi ya, dimaklumi saja. Tidak usah dipahami.

Tabrakan Jadwal

Oke, cukup basa-basi dan omong kosongnya. Mari kembali ke MFW tahun ini.

Pada MFW keempat ini, saya mendapat kehormatan untuk menjadi juri kompetisi film pendek. Karena itu pada Juli 2018, tiga bulan sebelum pelaksanaan festival, saya sudah mendapatkan kesempatan nonton film-film pendek yang masuk nominasi pemenang.

Ini kegiatan menyenangkan karena bisa menikmati dan menilai 18 film pendek dari 11 negara. Filmnya berdurasi antara 3 – 20 menit dengan genre beragam: anak-anak, fiksi, dokumenter, animasi, dan eksperimental.

Selain sebagai juri, saya juga ditodong memandu salah satu diskusi MFW 4. Pembatalan kesediaan memandu diskusi lain karena tabrakan jadwal dengan pekerjaan ternyata justru jadi berkah. Sesi yang justru saya moderatori adalah diskusi bareng nama terkemuka dalam sinema Indonesia, Nurkurniati Aisyah Dewi.

HEH!! Who the hell is Nurkurniati Aisyah Dewi!? Kenal saja tidak kok bilang nama terkemuka!

Oke. Nurkurniati Aisyah Dewi adalah nama asli Nia Dinata. Ini juga saya baru tahu dari Wikipedia saat membuat tulisan ini. Nama Nia Dinata tentu lebih terkenal dibandingkan nama aslinya. Dia jelas nama terkemuka di antara para sineas Indonesia.

Sebagai produser, perempuan yang juga lebih akrab dipanggil Teh Nia ini, membuat film-film terkenal, seperti Cau-ba-kan (2002), Arisan (2003) dan Berbagi Suami (2006). Ketiga film itu menyajikan cerita-cerita tentang topik tak biasa, misalnya perempuan China di Indonesia, homoseksualitas, dan kontroversi poligami.

Film Keluarga

MFW4 kali ini juga memutar film-film Nia Dinata dengan tema Keluarga ala Indonesia. Namun, ini bukan keluarga-keluarga biasa.

Ada tujuh film pendek berdurasi antara 15-20 menit diputar pada awal Oktober lalu itu. Di antaranya Elinah, Har, Perfect P, Sleep Tight Maria, dan Kebaya Pengantin. Hampir semua film itu diproduksi Kalyana Shira Film, rumah produksi yang didirikan Teh Nia.

Salah satu lokasi pemutarannya di Rumah Sanur, tempat kumpul beragam komunitas di Sanur. Sekitar 30 orang menonton tujuh film pendek itu lalu dilanjut ngobrol santai dengan Teh Nia. Penonton duduk di kursi menyimak dengan manis layaknya mahasiswa baru pertama kali kuliah sementara pembicara dan moderatornya duduk di bean bag, santai kayak di pantai.

Aku sendiri kelewat satu film pertama, Elinah. Namun, masih ada enam film lain yang menarik untuk disimak.

Film-film pendek ini bercerita tentang keluarga-keluarga tak biasa.

Film Har, misalnya, menggunakan masa cerita 1997, tahun terakhir Orde Baru. Orang-orang duduk di beranda rumah ngobrol dalam bahasa Jawa perihal apakah Soeharto akan bersedia diganti atau tidak.

Salah satu di antara bapak-bapak yang ngobrol itu adalah bapaknya si Har, anak SD yang ditinggal ibunya menjadi buruh migran. Film ini membongkar paradigma kuno bahwa bapak adalah kepala keluarga dan harus menjadi penanggung jawab sumber dana.

Sebaliknya, film Har menegaskan bapak juga bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, termasuk memasak, mengantar anak sekolah, dan semacamnya.

Teh Nia memang senang dengan narasi melawan kemapanan pandangan arus utama. Itu pula yang dia sampaikan Teh Nia lewat Perfect P. Film ini menceritakan definisi keluarga di mata seorang remaja pria. Dalam pandangan arus utama ala Indonesia, keluarga adalah ibu, bapak, dan anak-anak. Namun, dalam film ini, keluarga bagi Putra, si tokoh utama adalah bapak dan bapak. Dia memang anak (angkat?) dari pasangan gay.

Hal tak biasa, tetapi harus mulai dibiasakan. Bahwa keluarga bisa punya banyak rupa. Bisa punya banyak cara.

Timur Tengah

Film lain yang menarik adalah Kebaya Pengantin, kisah asmara laki-laki dengan waria. Si waria adalah penata busana yang mengantarkan pacarnya pulang kampung untuk kawin dengan perempuan lain. Kebaya buatan si waria dipakai perempuan itu.

Ada tragedi. Ada ironi. Semacam pesan bahwa budaya kita masih terikat pada nilai-nilai biner, laki-laki vs perempuan. Tidak mungkin ada pernikahan antara laki-laki dan waria.

Melalui film-filmnya, Teh Nia menggugat kemapanan budaya itu. Seolah menegaskan, ada lho nilai-nilai berbeda. Ada lho cerita-cerita “tabu” diungkap meskipun praktiknya itu terjadi sehari-hari di dunia nyata.

Dia memang melakukannya dengan sengaja.

Niatan semacam itu justru muncul berdasarkan pengalaman pribadinya. Saat remaja, dia pernah tinggal di Timur Tengah. Kalau tak salah sih di Saudi Arabia.

[Mmmm, maaf ya, Mbak jika salah. Saya tidak mencatat detail diskusi kita karena lebih khusyuk mendengar]

Selama di sana, dia merasakan hal sangat berbeda dibandingkan pengalaman di Indonesia. Salah satunya karena sebagai perempuan, dia sangat dibatasi aktivitasnya. Tidak bebas pergi sendiri.

Namun, pembatasan berlebihan justru melahirkan pemberontakan. “Pengalaman hidup selama di Timur Tengah justru membuat saya ingin membuat film-film yang melawan pembatasan semacam itu,” kata Teh Nia saat itu.

Menurut Teh Nia, melalui film-film semacam itu, dia berharap pemirsa filmnya akan makin terbuka pada mereka-mereka yang dianggap berbeda, terutama kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Mereka yang dianggap liyan oleh arus utama.

Maka, lahirlah film-film bertema keluarga tak biasa dari Teh Nia. Cerita-cerita tentang mereka yang selama ini sering mendapatkan stigma dan diskrminasi hanya karena mereka berbeda.

Di tangan Teh Nia, film tak sekadar media untuk bercerita dan menghibur semata, tetapi alat untuk membela mereka yang selama ini kurang mendapat tempat untuk bersuara.

The post Teh Nia, Membela yang Berbeda Lewat Sinema appeared first on BaleBengong.