Tag Archives: Film

Format Baru Program Indonesia Raja 2020

Program Indonesia Raja memasuki tahun ke-6, dan terus-menerus dipelajari dan direvisi kembali. Perubahan besar-besaran yang dilakukan oleh tim koordinator Minikino secara mendasar adalah memperketat jumlah programmer yang terlibat.

Sejak diumumkan pada tanggal Senin, 2 Maret 2020, langkah ini sudah langsung menuai respon kekecewaan beberapa filmmaker yang daerahnya tidak terjangkau programmer tahun ini. Dari tahun lalu yang melibatkan 10 wilayah di Indonesia kemudian dikuruskan menjadi hanya 3 wilayah tahun ini adalah sebuah langkah yang mengejutkan beberapa pihak terkait.

Program jejaring dan pertukaran film pendek Indonesia Raja 2020 saat ini sudah pada tahap penerimaan film. Pengumuman 3 programmer kota telah diterbitkan pada hari senin 8 April 2019 yang lalu, baik melalui media sosial maupun halaman website khusus minikino.org. Ketiga programmer yang mengemban tanggung jawab tahun ini adalah Sazkia Noor Anggraini untuk D.I Yogyakarta & Jawa Tengah, Kemala Astika untuk wilayah Jawa Barat dan Kardian Narayana untuk wilayah Buleleng, Bali utara. Profil mereka sudah bisa dibaca lengkap di https://minikino.org/indonesiaraja/programer-2020/

Edo Wulia mewakili tim kerja menjelaskan bahwa, “Setelah melalui berbagai pertimbangan, hal ini kami sepakati untuk mempertegas kembali bahwa kualitas kolaborasi harus dikedepankan, lebih penting daripada mengejar jumlah. Tahun ini kami secara tegas hanya menerima programmer yang bersedia melanjutkan kerja mereka dari tahun-tahun sebelumnya.

Untuk pengajuan programmer pengganti atau programmer baru kami tahan dulu dalam status kandidat programmer untuk tahun 2021.” Edo menambahkan kembali bahwa pola kerja ini akan terus diterapkan di tahun-tahun ke depan. Calon programmer yang mendaftar akan melalui masa persiapan pada tahun pertamanya.

Dalam masa persiapan ini, mereka masuk dalam grup diskusi eksklusif bersama para programmer aktif. Sehingga mereka punya kesempatan 1 tahun pertama untuk benar-benar mengenal kerja programmer, bahkan ikut menyumbang pendapat dan berdiskusi dengan programmer aktif. Yang tidak serius atau hanya coba-coba saja akan tersaring dengan sendirinya, bahkan sebelum mereka sempat dilantik menjadi programmer aktif.

Ini mempertegas bahwa gerakan Indonesia Raja hanya bisa dikerjakan dengan mengusung kepentingan bersama. Tidak hanya untuk Minikino dan programmer saja, tapi juga kepentingan para filmmaker dan penonton di Indonesia.”

Fransiska Prihadi selaku ketua koordinator pelaksana menegaskan program Indonesia Raja adalah ruang untuk mengenal budaya masyarakat dalam arti yang lebih luas, tidak sekadar sisi tradisi namun juga budaya yang nyata di dalam masyarakat terkini. Semua secara implisit dan eksplisit disampaikan melalui karya-karya film pendek yang dibuat melalui lensa kamera putra-putri daerah mereka sendiri. “Indonesia Raja tidak dirancang untuk kompetisi, namun sebuah gerakan eksibisi, memamerkan pencapaian karya film pendek dalam skala nasional,” tambahnya.

Made Suarbawa dalam tim kerja Minikino ikut menambahkan, “pertemuan penonton dalam sebuah acara screening inilah yang menjadi salah satu dari misi Minikino sejak awal. Karena pertemuan langsung dan komunikasi yang terjadi ketika menonton bersama inilah yang menjadi momen yang memiliki nilai sosial budaya yang tinggi.”

Mulai 2 Maret 2020 pembukaan pendaftaran film pendek untuk program Indonesia Raja resmi dibuka dan akan berakhir pada tanggal Rabu, 18 Maret 2020. Indonesia Raja memanggil semua pembuat film pendek yang wilayahnya memiliki programmer untuk segera mendaftar. Para programmer selanjutnya bertugas untuk menerima pendaftaran film-film pendek dari wilayahnya masing-masing, kemudian melakukan seleksi untuk membuat sebuah program yang memperlihatkan pencapaian produksi film pendek wilayah tersebut. Tidak ada pembatasan tema sama sekali, sehingga semua genre akan dipertimbangkan, baik itu fiksi naratif, dokumenter, animasi, bahkan sampai karya-karya eksperimental sekalipun.

Sesuai alur kerja yang ditetapkan, semua program yang dibuat tahun ini akan dikembalikan lagi kepada masyarakat umum dalam bentuk pemutaran dan diskusi di berbagai tempat di Indonesia, mulai Senin, 6 April 2020 sampai akhir Desember 2019. Program-program ini juga akan menjadi bagian dari berbagai tayangan di festival film pendek Internasional; Minikino Film Week 6, yang akan diselenggarakan kembali di Bali tanggal 4-12 September 2020.

Literasi Film di Desa Padangsambian Kaja

Literasi film dan produksinya meluas ke desa.

Minikino bersama Desa Padangsambian, Denpasar Barat menyelenggarakan rangkaian pelatihan Literasi Film dan Produksi Film selama 3 hari. Dimulai Jumat, 6 Desember dan berlangsung setiap hari sampai Minggu, 8 Desember 2019. Seluruh rangkaian workshop diadakan di Balai Desa Padangsambian Kaja, Jl. Kebo Iwa No.35, Denpasar.

Pra-aktifitas untuk pemanasan dilakukan Kamis, 5 Desember 2019. Seluruh peserta dan pengurus Desa Padangsambian Kaja diundang untuk terlibat dalam pemutaran dan diskusi program ReelOzInd! Award Winners di Art-House Cinema MASH Denpasar. Selain menonton program film pendek, acara ini menghadirkan diskusi online melalui skype dengan narasumber Jemma Purdey (Australia) selaku direktur ReelOzInd! & Melanie Filler, produser film “Posko Palu’. Dipandu moderator, keduanya narasumber melakukan tanya jawab langsung dengan penonton. Sesi diskusi berlangsung lancar selama 30 menit antara Denpasar, Melbourne, dan Sydney di Australia.

Modul pelatihan ini disusun oleh tim kerja Minikino dengan silabus yang padat. Para peserta remaja dari desa Padangsambian Kaja dilibatkan secara aktif mulai dari menonton dan berdiskusi dengan para profesional di bidangnya, mengikuti seminar tentang sejarah, dari sisi perkembangan kebudayaan serta teknologinya. Mereka juga mendapatkan pembekalan pemahaman kekuatan visual dan materi suara dalam film, hingga akhirnya mempraktikkan seluruh rangkaian proses produksi sebuah film. Mulai dari pengembangan ide, penulisan cerita, desain produksi, dan produksinya sendiri.

Hari pertama

Pelatihan dibuka Perbekel Padangsambian Kaja, I Made Gede Wijaya, S.Pt., M.Si. yang pada sambutannya menyatakan pelatihan semacam ini diharapkan bermanfaat bagi generasi muda. “Desa memanfaatkan teknologi, media film, serta industri kreatif yang dapat menjadi kekuatan desa supaya tidak ketinggalan jaman,” katanya.

Sesi pertama tentang Literasi Film: Sejarah Film Pendek di Dunia dan di Indonesia disampaikan oleh Edo Wulia, direktur Minikino yang sekaligus menjadi mentor pelatihan. Edo memberikan informasi sejarah film dunia dan memberi gambaran luas tentang bagaimana industri film di dunia berkembang seiring kemajuan teknologi. Edo Wulia juga menghubungkannya dengan Bali melalui film “Legong, Dance of the Virgins” yang diproduksi tahun 1935, yang ternyata merupakan salah satu film bisu produksi terakhir di Hollywood.

Selanjutnya, sesi “Visual Storytelling” disampaikan I Made Suarbawa untuk menekankan fokus terhadap alur cerita, mengingat produk dari pelatihan ini salah satunya ialah tulisan/ ide cerita untuk diproduksi pada hari ketiga pelatihan.

Hari kedua

Seminar “Literasi Film Dan Media Untuk Berpikir Kritis” menjadi tema pembuka di pagi hari. Materi ini disampaikan oleh Nurafida Kemala Hapsari dan Saffira Nusa Dewi. Diskusi menjadi lebih hangat ketika menyentuh topik pengaruh publikasi dan persepsi penonton bahkan tentang film yang belum ditonton. Modul dilanjutkan dengan presentasi mengenai “Kerjasama Tim dalam Produksi” disampaikan oleh Inez Peringga. Studi kasus disampaikan dari pengalaman pribadi Inez saat membuat film pendek pertama di masa kuliahnya di sekolah film.

Materi berikutnya “Suara dalam Film” menerangkan sisi audio pada film, diawali dari sejarah film bisu yang hampir selalu ditampilkan dengan iringan musik. Materi ini diberikan untuk membangun pemahaman tentang kekuatan audio dan pengaruhnya pada visual. Pengenalan teknis diiringi berbagai contoh dan praktik, serta berbagi pengalaman tim minikino melakukan audio dubbing untuk keperluan festival internasionalnya.

Hari kedua diakhiri dengan pembahasan cerita para peserta serta desain produksi meliputi pembedahan naskah termasuk lokasi, properti, pemain, dari ide cerita peserta di hari pertama. Para mentor dan fasilitator mengarahkan peserta untuk melakukan analisis mandiri ide cerita mana yang paling memungkinkan untuk diproduksi pada hari ketiga. Sesi terakhir namun yang paling panjang ini dipandu oleh I Made Suarbawa sebagai pendamping utama produksi.

Dari berbagai ide cerita yang dikembangkan hingga menjadi storyline, dipilih satu cerita yang kemudian ditulis menjadi skenario, yang kemudian dibedah dalam sesi desain produksi. Sesi ini mempersiapkan hari terakhir, di mana semua peserta akan mengambil peran masing-masing dalam sesi produksi.

Hari ketiga

Proses pengambilan gambar dan suara dimulai sejak pukul 8 pagi dan berlangsung secara intensif sampai 4 sore. Produksi ditutup dengan sesi evaluasi di akhir hari, para peserta secara umum merasakan ini pengalaman baru walaupun mereka sudah pernah membuat online konten sebelumnya.

Ngurah Ketut Hariadi, S.Kom selaku sekretaris Desa Padangsambian Kaja menyampaikan apresiasi positif tentang pelatihan ini, “Melihat antusiasme peserta saya berharap apa yang difasilitasi desa dapat dimanfaatkan para peserta. Bila 10 persen saja dari para peserta dapat memanfaatkan dengan baik, kegiatan ini dapat dinilai sukses,” sambungnya. Menurutnya pelatihan diberikan dengan profesional. “Awalnya saya tidak membayangkan bahwa dalam tiga hari pelatihan bisa benar-benar menghasilkan produk sampai film. Semoga minat dari masyarakat makin tinggi setelah nanti melihat hasilnya,” harapnya.

Menurut Cika selaku fasilitator acara berkegiatan dengan peserta di Padangsambian Kaja sangat menggairahkan secara kreatif, karena mereka antusias dan penuh perhatian. Para peserta sudah dekat secara keseharian dengan media audio visual serta dunia digital. Sebagian peserta sudah terbiasa dengan konten online, bahkan ada yang sudah menjadi idola milenial dengan 1 juta subscriber @aryanthisuastika dengan kanal @ricaricaa96 .

Saat ini, hasil produksi film masih melalui masa pasca produksi di meja editing. Film pendek hasil pelatihan di Desa Padangsambian Kaja ini direncanakan akan tayang perdana dalam acara tahunan Minikino Open Desember ke 17. Edo Wulia selaku direktur Minikino mengapresiasi masyarakat dan pengurus di kantor desa Padangsambian Kaja dalam program ini.

Walaupun sudah diadakan tahunan sejak tahun 2003, untuk pertama kalinya acara ini hadir dalam format layar tancap pada hari Sabtu tanggal 21 Desember 2019, mulai pukul 19:00 di Balai Pertemuan Dukuh Sari, Padangsambian Kaja, Jalan Gunung Sari.

The post Literasi Film di Desa Padangsambian Kaja appeared first on BaleBengong.

Film Berdaulat, Menjaga Kenangan Penuh Keseimbangan

Membangun itu memang memabukkan.

Lihatlah bagaimana papan iklan kredit perumahan rakyat (KPR) bertaburan di televisi, sosial media, koran bahkan pada papan reklame di pinggir jalan. Selebaran menempel di tembok-tembok pemukiman urban bahkan pedesaan pun tak luput dari mabuk membangun.

Demikianlah yang terjadi. Kita disuguhi segala yang bombastis. Rumah beton berkamar dua. Berbaris dari satu beton ke beton lain. Gedung-gedung pencakar langit tanda kemajuan suatu bangsa. Pusat perbelanjaan baru yang menjamur bahkan hingga ke pinggir kota. Ini belum berakhir. Bandara baru di setiap kota seolah-olah semua mampu membeli tiket pesawat yang mencekik. Jalan raya aspal yang membelah bukit. Dan, segala simbol kemajuan yang membuat kita semua mabuk.

Sebagai perempuan muda yang baru masuk usia 30 tahun dan tengah melanjutkan pendidikan spesialisasi, saya sering berpikir, “Apakah saya sanggup mengikuti laju yang memabukkan ini?”.

Marilah kita berhitung dengan jujur. Anak muda sekarang terbeban dengan cicilan bulanan KPR, cicilan roda empat, di luar biaya makan sehari-hari, biaya listrik dan air yang setiap tahun naik. Ditambah biaya asuransi kesehatan yang selalu naik di penghujung tahun, plus biaya tuntutan zaman yakni biaya nongkrong di kedai kopi gaul. Untuk saya yang tengah bersekolah, ini cukup mencekik leher dan juga pinggang.

Perasaan cemas ini adalah hantu-hantu di era modern. Kecemasan yang tebal dan menggelayut di setiap pikiran anak muda. Tentang masa depan di mana kita tak lagi berdaulat akan hajat hidup kita sendiri yakni rumah dan rasa tenang.

Sabtu sore itu, di Yogyakarta yang hiruk pikuk dengan cuaca yang panas membakar kulit dan membikin keringat mengalir dari setiap lipatan kulit, aduh teriknya. Kami melewati gang- gang sempit di tengah kampung Jogoyudan, sebuah kampung di pinggir kali Code.

Rumah-rumah kecil berdempetan tanpa jeda. Halaman rumah yang dijadikan jalan gang. Penduduk yang duduk bercengkerama di tepi jalan gang. Kendaraan yang melaju pelan karena takut menelan anak-anak yang sedang berlarian di tengah kampung.

Sementara kontras dari semua pemandangan sempit itu, desa ini dikelilingi hotel-hotel tinggi menjulang memecah langit kota. Sekilas hotel-hotel itu seperti benteng perang, kokoh sombong dan teguh menutup pemukiman ini. Tentu hotel-hotel itu bukan benteng pelindung. Sebaliknya hotel-hotel tersebut menutup udara dan angin. Hasilnya desa yang kecil semakin sempit, pengap dan panas.

Dari dalam kendaraan, kami memandang kaget tak percaya bahwa pemandangan begini terasa nyata di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota bersahaja.

Menuruni anak tangga, berjalan pelan di tengah desa, dalam rasa kaget itu, kami berdecak kagum betapa bersihnya desa Jogoyudan. Tanaman-tanaman kecil dalam pot berjejer rapi meski terdesak. Sulit menemukan sampah dan ada sebuah sumur dengan kerekan ember di tengah desa. Saat melihat sumur ini, saya seperti kembali ke masa kecil.

Di sebuah ruang terbuka desa Jogoyudan, berdiri sebuah hotel bernama Purgatorio. Sebuah hotel yang didirikan dengan bambu. Bambu-bambu dirakit sedemikian teliti menjadi sebuah ruang menatap kota yang sibuk. Memandang tembok-tembok pembangunan yang saling beradu menghimpit pemukiman penduduk.

Di bawah hotel, sebuah layar putih dikembangkan, proyektor dinyalakan, para penonton dan masyarakat duduk saling membaur. Pemutaran film Berdaulat siap dilaksanakan.

Hotel Purgatorio yang dibangun sebagai kritik terhadap maraknya pembangunan hotel di Yogyakarta. Foto www.provoke-online.com.

Tak Bisa Terlelap

Jujur saja, saya tidak cakap mengenai sinematografi atau apapun dalam dunia kamera dan gambar. Saya rasa, kita tak perlu cakap untuk bisa menyampaikan perasaan kita akan sebuah karya. Film Berdaulat adalah buah karya Hadhi Kusuma & Ngurah Termana, dua anak muda kakak beradik yang resah, gelisah dan gemas tentang gejolak mabuk membangun. Menceritakan tentang pembangunan yang menghardik beberapa anak manusia.

Seorang Ayah yang tak bisa terlelap saat harus tidur di apartemen. Sederhana, ia tak bisa tidur karena ia merindukan suara penduduk desa memukul tiang tengah malam. Film ini juga bertutur tentang perempuan yang menjadi korban KPR. Tentang perempuan yang di tengah lilitan KPR berhasil menemukan cara memiliki rumah tanpa KPR. Perempuan yang akhirnya menemukan bahwa dunia bangun membangun juga memberikan banyak kegunaan dan keasyikan pada perempuan.

Film ini juga berkisah tentang komunitas bambu dan perjuangan penduduk Kendeng menolak pembangunan pabrik semen hingga menewaskan seorang warga perempuan. Juga bagaimana penduduk desa membangun mimpi dari fragmen-fragmen harapan dalam bentuk sebuah musholla untuk mengenang perjuangan seorang ibu menolak kerusakan tanah dan bumi pegunungan Kendeng.

Namun, ada sesuatu yang lebih dalam daripada sebuah cerita di sini. Sesuatu yang membuat perasaan nostalgia dan senang tumbuh merayap pelan memenuhi setiap indera saya. Perasaan penuh asa.

Telah saya sebutkan sebelumnya, sebelum menonton film ini, saya kerap mempertanyakan kemampuan saya untuk memiliki rumah idaman. Mungkin kalian akan merasa, reaksi saya berlebihan, apakah film ini sedemikiannya hingga mampu melahirkan harapan? Saya jawab, iya, film ini mampu menabur harap itu.

Film ini bercerita tentang metode Ugahari, sebuah kata dari bahasa Sansekerta. Kata ini mempunyai makna yang bersajaha, cukup, kesederhanaan, ada banyak tidak lebih-tidak kurang. Makna yang indah yang tentu saja mengandung nilai filosofis tak sesederhana itu. Film ini menuturkan tentang terkikisnya relasi kita sebagai manusia dengan bangunan dan alam.

Film ini menuturkan pengalaman terhanyut dalam pesona membangun dan kembali menemukan bentuk sebuah relasi yang sederhana antara keinginan membangun dan tak merusak tatanan alam. Saat menonton film ini, saya merasa rindu, rindu cerita tentang sebuah rumah kayu di tepi danau toba milik leluhur saya.

Angin Yogyakarta sore itu menerbangkan kembali diri ini ke serpihan kenangan bersama ayah. Bayangkanlah sebuah rumah kayu dengan dua buah kamar tidur, berlantaikan papan yang kokoh, sebuah anak tangga memisahkan ruang keluarga yang hanya berisi lemari tempat sekumpulan foto leluhur, tikar yang membentang tempat keluarga duduk bercerita. Anak tangga memisahkan ruang utama ini dengan dapur, dapur yang tak terlalu besar dan beberapa jendela tempat angin hilir mudik.

Merindu yang Seimbang

Sewaktu masih sekolah dasar, Ayah kerap bercerita bagaimana dia setiap liburan sekolah akan berlibur ke rumah kayu itu bersama kakeknya. Mereka akan berenang di Danau Toba yang tepat berada di halaman belakang rumah kayu tersebut.

Pada kedua sisi rumah kayu tersebut, banyak kandang peliharaan, tanaman untuk bumbu memasak, pohon cengkih hingga banyak jenis pohon-pohon yang melingkari rumah kayu tersebut. Sementara kerbau merobek rumput-rumput kecil di tepi danau, kakek akan mengajak ayah mendaki bukit-bukit yang berdiri anggun di bagian depan rumah. Kakek dan para cucunya berjalan melewati kebun kopi, kebun jagung hingga sekumpulan ladang serai dan bawang menuju pemakaman leluhur.

Ayah selalu bercerita tentang danau, sawah, ladang, makam leluhur dan suara tetua yang menuntun mereka ke puncak bukit dan melihat danau dari puncak. Saya ingat betul wajah ayah saat menceritrakan ini, ia rindu, merindu segala yang teduh dan seimbang.

Film berdaulat berhasil membangkitkan ingatan ini, sebuah ingatan yang terletak jauh di dasar kepala, tersimpan kalah oleh rasa cemas akibat zaman yang menggilai pembangunan. Duduk di sebelah saya seorang teman, yang sesekali menguap karena angin sore yang semilir.
Sebelum film usai, kami bercerita penuh semangat tentang mimpi dan rumah idaman.

Yang kami sadari ternyata kami tidak membutuhkan banyak hal. Kami tidak menginginkan rumah mewah dengan pintu ala kekaisaran, berlantai marmer berkilau yang membuat lalat pun terbang tergelincir.

Kami hanya mengingingkan sebuah rumah yang mencukupkan, dikelilingi pepohonan, bunga-bunga berkelompok, bilik memasak yang sejuk menghadap sekelompok tanaman bumbu memasak dan suara sekelompok binatang menjadi lagu pengiring hari.

Film Berdaulat bercerita tentang kesadaran kolektif hingga individual dalam membangun. Kesadaran untuk menjaga harmonisasi dengan alam sekitar, tanah, tumbuhan bahkan serangga yang merayap di ranting-ranting dan burung-burung di dahan pepohonan.

Film Berdaulat bercerita tentang hubungan penuh keseimbangan antara kita semua mahluk penghuni semesta. Sebuah relasi yang saling mencukupkan. Tanpa beton berlebih. Tanpa kabel listrik yang menggulung kusut di tiang-tiang dan tanpa cahaya listrik yang menyala tanpa berhenti.

Film ini mengajak kita, sebagai generasi muda untuk belajar mengenali setiap “cukup”. Mengajak kita untuk percaya bahwa setiap kita tak perlu cemas akan atap rumah idaman, baik kayu hingga atap dapat kita kumpulkan secara perlahan, karena hakikatnya setiap bangunan tidak melulu tentang desain megah melainkan sebuah proses hidup itu sendiri.

Setiap bangunan yang berdiri adalah saksi setiap peristiwa hidup kita. Saat kita menangis tersedu di balik kamar mandi. Saat kita menarik napas menahan amarah di sekitar sofa. Saat kita diam-diam menatap foto kekasih di meja makan.

Sebuah rumah adalah saksi, tempat yang tidak hanya melindungi melainkan juga menghidupi setiap kenangan. [b]

The post Film Berdaulat, Menjaga Kenangan Penuh Keseimbangan appeared first on BaleBengong.

Perempuan Tanah Jahanam, Ngeri dan Mencekam

Yah, akhirnya ada kesempatan menulis film lagi setelah tiga film sebelumnya, Sekte, Kutuk dan Joker  yang terlewatkan. Filem Bergenre horror karya Joko Anwar “Perempuan Tanah Jahanam” mampu memaksaku untuk menuliskan pengalaman menonton film horror Indonesia yang berbeda. Awalnya sih pesimis nonton filem Indonesia terlebih horror Indonesia, apalagi yang dibuat oleh Joko Anwar. Mengingat film sebelumnya […]

Minikino Film Week 2019: 140 Program 3754 Penonton

Festival film pendek Minikino Film Week 5 mendapat pengakuan internasional.

Minikino Film Week 5, Bali International Short Film Festival telah berakhir pada Sabtu, 12 Oktober 2019 lalu. Bertempat di Omah Apik, Pejeng, Gianyar, festival film pendek internasional MFW5 menutup seluruh rangkaian acaranya dengan mengumumkan pemenang kompetisi dan peraih penghargaan film pendek terbaik untuk masing-masing kategori.

Malam penghargaan tersebut dihadiri oleh para sutradara, tamu dan undangan festival dari berbagai negara. Hadir juga para pendukung acara, serta sponsor festival. Semuanya berkumpul kembali setelah berpencar ke berbagai penjuru pulau Bali selama satu minggu sebelumnya.

Direktur Festival MFW5 Edo Wulia dalam laporannya menyampaikan, tahun ini MFW5 kedatangan 68 tamu festival, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Penonton yang hadir tercatat ada 3754 orang dari 140 program yang berbeda, termasuk didalamnya yaitu 119 pemutaran serta 21 talks dan forum diskusi di 9 lokasi Micro Cinema dan 3 Pop Up Cinema. Di antaranya banyak ditemui nama-nama profesional, sutradara dan pelaku festival lain yang juga hadir, termasuk salah satu founder dari Clermont-Ferrand Short Film Festival; Roger Gonin dan direktur Tampere Film Festival; Jukka-Pekka Laakso yang sekaligus menjadi salah satu dewan juri tahun ini.

Pemenang kompetisi nasional tahunan Begadang Filmmaking Competition 2019 diraih oleh kelompok produksi Small Time Pictures dari Sleman, Jawa Tengah dengan film pendeknya berjudul “Pendekar Tafsir Mimpi”. Direktur Eksekutif MFW5 Made Suarbawa mengatakan, film pendek dengan durasi empat menit tiga puluh empat detik tersebut terpilih karena berhasil menampilkan idenya yang segar, menghibur, berani menabrakkan hal nyeleneh hingga memunculkan orisinalitas, tapi tetap dengan batasan elemen maupun waktu produksi yang sempit, yang menjadi persyaratan kompetisi.

Sedangkan untuk penghargaan internasional, diumumkan secara berturut-turut, Best Children Short yang diraih oleh Aviv Kaufman dari Israel dengan film pendek berjudul “Milestone”, Best Documentary diraih oleh Johan Palmgren dari Swedia dengan judul “The Traffic Separating Device”, Best Animation diraih oleh Florentine Grelier dari Perancis dengan judul “My Juke Box”, Best Audio Visual Experimental diraih oleh Daphne Lucker dari Netherland dengan judul “Sisters”, lalu Programmer’s Choice dinobatkan pada “Eva” arahan Xheni Alushi dari Swiss. Selanjutnya, Best Fiction diraih oleh Amanda Nell Eu dari Malaysia dengan judul “Vinegar Baths”. Dan terakhir diumumkan adalah penghargaan yang paling bergengsi, yaitu The Best Short Film of the Year dianugerahkan kepada film “Fauve” arahan Jeremy Comte dari Kanada.

Fransiska Prihadi sebagai direktur program, bekerja bersama susunan dewan juri yang sudah mulai bekerja mempertimbangkan film-film pilihan ini sejak bulan Juni 2019. Fransiska menegaskan kembali, “Minikino mendapat kehormatan atas dukungan dan perhatian dari tokoh-tokoh yang kami kagumi. Prestasi kerja dan pencapaian mereka sudah menjadi perhatian kami sejak lama,” katanya.

Mandy Marahimin adalah produser terkemuka Indonesia, saat ini film terbarunya juga sedang beredar di bioskop-bioskop utama, kemudian Putu Kusuma Wijaya, sutradara dan penulis dengan pengalaman yang sangat luas, selalu membantu kami sejak awal dengan berbagai masukan berharga.

Lalu Sanchai Chotirosserane yang menjabat  sebagai Deputy Director dari the Film Archive Thailand, serta Jukka-Pekka Laakso saat ini menduduki posisi tertinggi sebagai direktur Tampere Film Festival di Finlandia. TFF adalah salah satu dari jajaran festival film pendek terpenting dan bergengsi di dunia yang sudah menjadi perhatian Minikino sejak lama.

Pengumuman penghargaan masih berlanjut. MFW Youth Jury 2019 tahun ini terdiri dari Kayla Amare Budiwarman, Benedictus Richi Tamrin, Stella Melody Winata dan Qiu Mattane Lao. Keempat remaja ini menjalani pelatihan apresiasi film langsung dari komite bulan Juni lalu. Perwakilan dari dewan Youth Jury 2019 yang hadir pada malam itu, Qiu dan Stella mengumumkan keputusan mereka untuk film pendek peraih penghargaan Youth Jury Award 2019, yaitu “Sisters” karya Daphne Lucker dari Netherland.

Qiu membacakan tulisan yang ditulis bersama oleh para Youth Jury 2019, “Sisters adalah film pendek yang segar, liar, dan sarat eksperimen, film ini berhasil menyampaikan kisah yang rumit dalam sebuah pengalaman audio visual yang sulit dilukiskan kata-kata. Kami terhanyut dan terharu dalam aliran cerita dan nuansa dalam film tersebut. Film ini tidak menyuapkan ceritanya pada penonton, tapi menawarkan ruang untuk interpretasi yang sangat personal. Film yang sangat indah.”

Lebih lanjut Stella dan Qiu menjelaskan, “Kami menyaksikan film ini menggabungkan dua bentuk seni, yaitu tari dan sinema ditambah dengan musik untuk menampilkan sebuah kualitas mahakarya, namun sekaligus tetap mudah dinikmati penonton awam.”

Malam penghargaan MFW5 ditutup dengan pemutaran film pendek peraih Best Short Film of the Year yaitu “FAUVE”. Tidak ada kalimat panjang yang diucapkan dewan juri dalam memilih film ini selain, “It’s just wooohh, a real great film!”.

Sebelum acara benar-benar berakhir, Edo Wulia menambahkan bahwa, agenda MFW5 masih berlanjut sampai dengan rangkaian acara post-festival, yakni gelaran Pop Up Cinema pada 31 Oktober-4 November 2019 mendatang di Lombok yang bekerjasama dengan Rotary D3420 Disaster Relief , Rotary Club Mataram di Lombok dan didukung oleh Purin Pictures. Workshop dan Pop Up Cinema Lombok ini akan diadakan di Santong Mulya, Lombok Utara, kemudian di Dopang, Lombok Barat, serta Penimbung, Lombok Barat.

Seluruh daftar peraih penghargaan 2019 sudah dapat dilihat di halaman website https://minikino.org/filmweek/mfw5/2019-awards-winner. Semoga perhelatan internasional ini bisa memberikan inspirasi bagi pelaku produksi film pendek Indonesia, untuk berani lebih serius lagi dan terus menggali kedalaman karya-karyanya.

The post Minikino Film Week 2019: 140 Program 3754 Penonton appeared first on BaleBengong.