Tag Archives: Fiction

Pulang ke Kotamu



*Cerpen ini tayang di Rubrik Inspirasi Pos Kupang, Edisi Minggu, 21 Oktober 2018



Matahari Terbenam 29/9/18 dari Jl. Wirajaya, Ende (depan Gereja St. Yosep Onekore) - dok.pribadi

Kota ini, tiba-tiba menjadi begitu syahdu, di tengah musim yang tak pasti. Angin bertiup kencang dari arah timur dan hujan mendadak tumpah-ruah semalaman di bulan Juni yang seharusnya melimpahkan sinar matahari.

Ia termangu di jok belakang sepeda motor tukang ojek yang ia sewa menuju jalan pulang. Di kejauhan kabut tebal masih menutupi puncak Gunung Wongge dan pendampingnya Gunung Kengo. Jika melihat bentangan alam ini, ia selalu teringat pada impiannya, ia tak akan pernah bisa mewujudkannya, mendaki jauh tinggi hingga ke puncak kedua gunung tersebut. Ada jarak yang tak mampu dibahasakan, tak hanya dari sudutnya memandang secara nyata, tetapi juga dari kedalaman pikiran dan hatinya yang kadang tak bisa ia jelaskan dengan leluasa. 

Hanya pernah sekali waktu, ia mencapai kaki gunung wongge, memanen jagung, membakarnya dan menikmati langsung di tempat, bersama kawan-kawan sepermainannya. Dulu sekali, saat kebebasan bukanlah sebuah perihal yang begitu sangat berharga. Hari-harinya adalah kesenangan belaka.

Ojek melintasi Jalan Wirajaya, sebuah jalan bertabur kenangan di mana seluruh waktunya sepanjang dua belas tahun dihabiskan. Dari seragam merahputih, lalu biruputih, dan akhirnya abuabuputih. Jika ditanya, apakah ia tidak bosan, menghabiskan hidup selama itu melalui jalanan dan lingkungan yang sama? Ia tak akan menjawab, sebagian besar karena ia lupa, lupa apa saja yang telah ia lakukan untuk menghabiskan waktu sebanyak itu pada lintasan yang itu-itu melulu.

Banyak bangunan sekolah berdiri di Jalan Wirajaya, mereka bertetangga dengan akurnya. Oleh karena itu, tidak heran, jika dua belas tahun, ia hanya berpindah gedung dan menyebrang dari sisi jalan yang satu ke sisi jalan yang lain. TKK, SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi. Juga ada gereja dan masjid, biara bagi para pastor, bruder dan suster, yang terakhir cukup mencolok, Kompi Senapan C. Rumah-rumah penduduk, hanyalah sebagian yang menyempil di antara bangunan-bangunan penting tersebut.

Ia tidak ingin membayangkan masa-masa sekolah atau membahas perubahan yang terjadi dengan bangunan dan lingkungan sekolahnya. Ia terlalu sering bernostalgia tentang hal tersebut dengan sahabat-sahabatnya yang saban hari bertemu. Mereka menamai kegiatan tersebut, Reuni Daur Ulang, sebab terjadi terus-menerus dan mereka tak kunjung bosan menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Sungguh konyol!

Kompi Senapan C, Lingkungan Angkatan Darat-Tentara Nasional Indonesia yang selalu berusaha ia hindari. Hingga saat ini, ia masih berusaha menemukan alasan, mengapa Ia sangat gugup ketika bertemu orang-orang berpakaian loreng sembari memanggul senjata itu, belum lagi sepatu mereka yang bisa melabrak kepala hingga terbelah dua. Ia teringat sebuah peristiwa, seorang kawan, ia lupa nama dan wajahnya, tetapi tidak dengan kisah yang masih melekat erat di kepala. Sesekali timbul ke permukaan ketika bertemu pemicu.

Senja itu, pukul delapan belas tepat waktu Indonesia tengah. Mereka berjalan kaki cepat agar segera tiba di rumah, setelah melewati sore yang melelahkan untuk menjalani persiapan Ujian Akhir Nasional di sekolah. Kebun belakang SD dan selokan yang mengalir di sepanjang lingkungan Kompi Senapan C, hanya dibatasi sebuah tembok batako yang mulai kusam. Saat melewati Gapura Depan yang bertuliskan Yonif 743-Kompi Senapan C, mendadak terdengar rekaman Lagu Indonesia Raya. Di kejauhan, bendera merah putih menukik turun, perlahan, pada sebuah tiang bercat putih dengan bantuan tiga orang tentara. Para lelaki berseragam itu sungguh gagah. Mereka kemudian mempercepat langkah. Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari balik tugu di samping gapura yang bergambar dua prajurit tengah bertempur di medan perang. Rupanya pos jaga di belakang tugu tersebut, berpenghuni.

“Heh, berhenti! Kalian tidak lihat, itu bendera sedang diturunkan? Anak sekolah apa ini, tidak ada rasa hormat pada Bangsa dan Negara.”

Mereka terdiam di tempat, wajah keduanya pucat pasi. Ia menoleh, mendapatkan temannya menggengam buku dan pulpennya lebih kencang, seakan-akan ada yang akan merebutnya, demikian pula yang terjadi padanya. Ia membayangkan, mereka mungkin tidak dapat kembali ke rumah malam ini. Cilaka!

Lelaki bersepatu tinggi, berseragam kacang hijau, bersenapan dan mengenakan helm tersebut kembali membentak,

“Sikap siap dan hormat bendera! Lihat ke arah tiang di atas itu, jangan bergerak sampai lagu selesai.”

Mereka melakukan apa yang diperintahkan, dengan terbata-bata, karena bercampur rasa takut akibat membayangkan hal-hal mengerikan yang bisa terjadi kapan saja.

Ketika Lagu Indonesia Raya selesai dan bunyi yang datang dari pengeras suara menghilang, laki-laki yang memberi aba-aba tadi melihat tepat di mata mereka. Satu per satu dan berkata,

“Sekarang boleh lanjut jalan. Lain kali, kalau lewat di depan sini lagi dan pas bendera sedang dinaikkan atau diturunkan seperti tadi, berhenti dulu, sikap siap dan beri hormat macam tadi. Mengerti?”

“Mengerti, om.” Jawab mereka

“Apa? Ulang?” prajurit tersebut bertanya, memastikan

“Meeeeengeeeertttiiii, Oooom.” Jawab mereka tegas dan meyakinkan seraya menyembunyikan suara yang bergetar karena rasa takut yang masih bersarang

“Baek su. Jalan su. Hati-hati e, sugelap.” Demikian sang prajurit mempersilakan mereka berlalu pulang.

Setelah berjalan cukup jauh, ada sepuluh meter kira-kira, sang kawan memohon berhenti. Napas mereka terengah-engah, seolah tengah berusaha lari menjauh dari kejaran hantu.

Ja’o pucelana basah.” Ujar sang kawan

“Ha, apa?” Ia bertanya, memastikan telinganya tidak salah mendengar

Ja’o pu celana basah, ja’o kencing di celana ko. Ja’o takut ngeri tadi na.”

Ia terkesima. Yang terjadi selanjutnya, pantatnya bertemu tanah, ia terduduk dan ngakak sepuasnya. Sementara temannya berusaha menjepit paha yang lembab dan berbau pesing. Mbingu betul!

Ojek berhenti di lampu merah, di persimpangan jalan wirajaya dan jalan el tari, juga jalan menuju kantor pos (demikian mereka biasa melafalkannya sehari-hari). Jalan el tari kini telah menjadi dua jalur yang tak begitu sibuk. Di kiri-kanannya berdiri gedung-gedung kantor baru maupun juga gedung-gedung hasil renovasi dari bangunan kantor yang lama. Jika melalui jalan ini, ia terkenang pada dua ruang membaca yang tak pernah menolak kedatangannya dan kawan-kawan, ketika hari sabtu tiba atau pun hari-hari lain, di mana sekolah berakhir lebih cepat.

Bunyi bel pulang sekolah adalah seperti berkat yang dinanti-nantikan. Perjalanan sejauh tiga puluh menit, tidak lagi melelahkan ketika tiba di ruang membaca tersebut. Mereka menempuh jalanan yang lebih singkat, yang hanya diketahui tuan tanah setempat dan mereka, para penjelajah kebun dan lorong perumahan. Wangi lembaran buku dan majalah, cahaya ruangan yang memadai, membuat aktivitas membaca menjadi sangat menyenangkan. Sekarang, ruang membaca itu, tak ada lagi. Telah diubah sepenuhnya menjadi toko buku yang hanya dikunjungi sesekali oleh orang-orang yang membutuhkan buku. 

Sedangkan satu ruang baca lain, dulu menjadi bagian dari sebuah gedung perkantoran. Kantor tersebut kini berpindah lokasi, entah di bagian mana kota ini. Bersamaan dengan itu, ruang baca itu pun ikut menghilang. Dilupakan begitu saja. Kota ini tidak begitu antusias dengan Buku.

“Kaka turun di mana ni?” Suara tukang ojek memecah lamunannya

“Oh, itu, di depan rumah cat biru tuh. Turun di depan situ.”

Seperti biasa, larutan masa lalu begitu kental dan membuat lupa waktu. Ia turun, membayar ongkos perjalanan dan berusaha memijak kembali pada kenyataan. Sudah dua puluh tahun rupanya, semua begitu cepat berlalu.

Ende, Juni 2018



Keterangan
Ngakak           : Tertawa lepas
Mbingu           : (Ende, red) Gila
Ja’o                  : (Ende, red) Saya, Aku




Versi Koran



Versi digital Rubrik Inspirasi Pos Kupang 21 Oktober 2018

#latepost waktu itu senin pagi, saya bangun pagi dengan enggan karena tak tahu mau bikin apa di hari yang bagi semua orang adalah malapetaka kesibukan. Lalu, saya menemukan sebuah pesan dengan gambar Koran Pos Kupang ini sebagai salah satu informasi. Gambar kedua dikirim kemudian oleh teman yang lain. Saya selalu memiliki dua arsip ketika cerpen muncul di Koran. Dalam bentuk koran dan dalam bentuk digital.
Maksudnya biar pernah menulis untuk kampung halaman, kota kelahiran dan kenangan masa kecil dan dibaca Bapak sendiri. Hanya saja, apakah Pos Kupang hari kemarin sudah tiba di rumah?

Tepat SATU BULAN. Tanpa konfirmasi apa pun, tiba-tiba dapat kabar beginian dari kawan dan sudah lewat sehari. Okkay fainnnns.

Sepesial Danke dr. Ronald Susilo dan Mas Abu Nabil Wibisana 

Rok Untuk Lanny

Sebuah Cerpen #MariaPankratia


*Bali Post Edisi Minggu Pon, 4 Desember 2016



Barangkali ia hanya galau sebab rok di lemari sudah terlampau membosankan. Ia gemar memakai rok selebar dan sepanjang gorden. Kegemarannya tidak memiliki alasan, karena ia selalu begitu.
Hari ini, untuk ketiga kalinya ia bertemu lagi dengan rok yang sama. Masih di barisan yang itu-itu juga. Busana Wanita Dewasa. Diam, menanti dihampiri, coraknya hitam-putih. Panjang, menyiratkan jenjang, memancing. Kekaguman itu berubah, serupa imajinasi yang menumpuk setiap  mereka (ia dan rok itu) bertemu. Ia yakin, lepas ini, frustrasi bakal bersarang lebih lama dari biasanya. Pada kali yang kedua, sebelum ini, ia melihat rok panjang itu, rok dengan gambar bunga liar berbahan halus. Ia butuh dua minggu agar berkemas dari risau yang begitu rusuh di kepala.
Jika kemudian mungkin ada yang bertanya, kapan ia bertemu dengan rok itu untuk pertama kalinya? Ia akan kebingungan sebab ia merasa yakin ia dan rok tersebut memiliki ikatan sejak entah.
***
Pertanyaan ini muncul di kepala ketika ia memutuskan untuk menghampiri lagi deretan rok di barisan busana wanita di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka kota ini.
“Kok nggak ada diskon yah? Apa belum kali yah?”
Ia mengitarinya sebanyak tiga kali, semacam ritual menghatur mukjizat. Seolah-olah akan ada seorang Bankir atau Pengusaha Kaya berbaik hati datang menawarkan niat membelikannya.
“Kamu suka rok ini? Jadi pacar saya yah, kamu bisa dapatkan satu, bonus pulang bersama saya”
Ia mengandaikan mereka paham, ia hanya selalu mengandalkan kaki dengan pecahan pada telapaknya yang kian melebar setiap hari untuk beranjak ke mana-mana. Setelah mulai lelah memandangi, ia keluar kembali ke pelataran pusat perbelanjaan itu. Ia duduk termenung di tangga, berharap akan ada ide segar muncul seketika.
Sepuluh menit berlalu, ia masuk lagi. Datang dan mengitari. Ia sadar sebuah tatapan serius mengawasinya sejak tadi. Tatapan  itu sekarang menghampirinya bersama mulut dan gerak tubuh yang lain.
“Mau dicoba dulu mungkin?” tawar sang pramuniaga
Ia tersenyum kemudian berusaha mengelak
“Oh, saya cuma mau lihat-lihat kok”
Sang pramuniaga mengangguk mengerti lalu perlahan menjauh.
Ia memutuskan keluar lagi. Duduk lagi, menatap kosong di kejauhan. Rokoknya ia keluarkan, tarikan pertama begitu dalam hingga membuatnya terbatuk. Seorang security muncul menggantikan petugas sebelumnya. Security itu berdiri tepat di belakangnya. Ia sama sekali tak terganggu, konsentrasinya tetap pada rok. Bara pada rokok hampir selesai dan pilihan itu muncul. Ia harus masuk lagi dan melakukan sesuatu.
Ia kembali ke tempat rok terpajang, pelan-pelan ia mengeluarkan lighter dari dalam tas rajutannya. Sambil menatap rok panjang tersebut dengan ekspresi yang campur aduk, ia menghunuskan api perlahan. Kurang sedetik lagi, nyala api itu menghampiri kuncup bunga liar di ujung rok, tiba-tiba sebuah hantaman mendarat tepat pada punggung kepalanya. Saking giatnya ia merencanakan api, ia alpa pada sang pramuniaga dan security yang sejak tadi memasang kode-kode. Tubuhnya diseret ke ruangan belakang, tempat kantor berada.
***
Mereka menyundutnya dengan sengatan minyak angin, tepat di bawah lubang hidung. Ia terbangun dan berteriak kalap, memasang wajah ketakutan sekaligus memohon ampun. Kemudian mereka meninggalkannya sendirian. Lima menit kemudian seorang laki-laki berkacamata lebar masuk dan menarik kursi, mereka duduk berhadapan. Saling memandang cukup lama. Lalu laki-laki itu mulai bertanya,
“Saya harus panggil anda, Mas atau Mbak?”
“Mbak aja”
“Oke, dengan mbak siapa, saya bicara?”
“Lanny”
“Mbak lanny, mbak sadar apa yang baru saja mbak lakukan?”
Ia tidak menjawab melainkan menunduk, tungkai kakinya gemetar tak karuan. Laki-laki itu melanjutkan.
“Mbak lanny kerja apa?”
Therapist, Pak”
“Di mana?”
“Legian, Pak”
“Mbak lanny, mbak ini baru saja melanggar Pasal 406 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(KUHP). Mbak bisa dipenjara lho”
Ia berjengit mendengar kata penjara. Air matanya mulai mengalir.
“Kalau nggak mau dipenjara, mbak harusnya tidak nekat seperti tadi. Jangan nyalakan korek api pada barang jualan saya. Saya bisa rugi besar, kacau tadi semua kalau apinya merambat ke mana-mana”
Ia mengangguk sembari tetap menunduk.
“Mbak lanny, mbak dengerin saya yah”
“Iya, Pak”
“Saya lupa siapa yang ngomong ini, tetapi kalau kita paksa minum air laut, dahaga kita gak bakal hilang. Kita bakal haus terus. Mbak lanny kalau pingin barang dagangan saya, Mbak harus beli, kalau belum bisa beli yo ditahan keinginannya. Ngerti?”
“Ngerti, Pak”
“Mbak lanny masih mau roknya?”
Ia terkejut, kepalanya terangkat seketika, pada matanya ada binar sumringah.
“Masih”
Yang terjadi berikutnya adalah laki-laki itu membuka celananya, menggelontorkan kemaluannya begitu saja di hadapan lanny. Ia abaikan bahwa lanny juga memiliki bentuk vital yang sama. Kedua laki-laki itu tengah terjebak pada situasi yang sulit. Dengan sigap laki-laki itu menarik kepala lanny. Hampir sepuluh menit lanny berjibaku dengan benda tumpul itu di dalam mulutnya. Setelah erangan tanda puas bergema, memantul pada dinding-dinding kantor yang lusuh, lanny diusir keluar. Ia disuruh menunggu di samping meja kasir yang tentu saja sedang bekerja tanpa mengendarai kuda supaya baik jalannya. Kasir tersebut menatapnya acuh tak acuh, menerima panggilan telepon di mejanya beberapa menit kemudian. Ia tekun mengangguk-angguk menyerukan kata yang sama
“Iya bos, baik bos”

Ketika pembicaraan di telepon terputus, sang kasir menarik lanny menuju deretan busana tempat rok panjang incarannya berada. Kasir penurut itu menyuruh lanny memilih rok yang ia idam-idamkan. Ia membantu lanny membungkus. Lanny pulang bersama pecahan kaki yang makin melebar, sepat sperma yang tersisa di mulut dan bungkusan rok cantik bercorak bunga liar di genggamannya. Air matanya berderai, kali ini berlomba-lomba dengan gemuruh jantungnya. Bukankah hidup adalah pengorbanan?



Rok Untuk Lanny

Sebuah Cerpen #MariaPankratia


*Bali Post Edisi Minggu Pon, 4 Desember 2016



Barangkali ia hanya galau sebab rok di lemari sudah terlampau membosankan. Ia gemar memakai rok selebar dan sepanjang gorden. Kegemarannya tidak memiliki alasan, karena ia selalu begitu.
Hari ini, untuk ketiga kalinya ia bertemu lagi dengan rok yang sama. Masih di barisan yang itu-itu juga. Busana Wanita Dewasa. Diam, menanti dihampiri, coraknya hitam-putih. Panjang, menyiratkan jenjang, memancing. Kekaguman itu berubah, serupa imajinasi yang menumpuk setiap  mereka (ia dan rok itu) bertemu. Ia yakin, lepas ini, frustrasi bakal bersarang lebih lama dari biasanya. Pada kali yang kedua, sebelum ini, ia melihat rok panjang itu, rok dengan gambar bunga liar berbahan halus. Ia butuh dua minggu agar berkemas dari risau yang begitu rusuh di kepala.
Jika kemudian mungkin ada yang bertanya, kapan ia bertemu dengan rok itu untuk pertama kalinya? Ia akan kebingungan sebab ia merasa yakin ia dan rok tersebut memiliki ikatan sejak entah.
***
Pertanyaan ini muncul di kepala ketika ia memutuskan untuk menghampiri lagi deretan rok di barisan busana wanita di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka kota ini.
“Kok nggak ada diskon yah? Apa belum kali yah?”
Ia mengitarinya sebanyak tiga kali, semacam ritual menghatur mukjizat. Seolah-olah akan ada seorang Bankir atau Pengusaha Kaya berbaik hati datang menawarkan niat membelikannya.
“Kamu suka rok ini? Jadi pacar saya yah, kamu bisa dapatkan satu, bonus pulang bersama saya”
Ia mengandaikan mereka paham, ia hanya selalu mengandalkan kaki dengan pecahan pada telapaknya yang kian melebar setiap hari untuk beranjak ke mana-mana. Setelah mulai lelah memandangi, ia keluar kembali ke pelataran pusat perbelanjaan itu. Ia duduk termenung di tangga, berharap akan ada ide segar muncul seketika.
Sepuluh menit berlalu, ia masuk lagi. Datang dan mengitari. Ia sadar sebuah tatapan serius mengawasinya sejak tadi. Tatapan  itu sekarang menghampirinya bersama mulut dan gerak tubuh yang lain.
“Mau dicoba dulu mungkin?” tawar sang pramuniaga
Ia tersenyum kemudian berusaha mengelak
“Oh, saya cuma mau lihat-lihat kok”
Sang pramuniaga mengangguk mengerti lalu perlahan menjauh.
Ia memutuskan keluar lagi. Duduk lagi, menatap kosong di kejauhan. Rokoknya ia keluarkan, tarikan pertama begitu dalam hingga membuatnya terbatuk. Seorang security muncul menggantikan petugas sebelumnya. Security itu berdiri tepat di belakangnya. Ia sama sekali tak terganggu, konsentrasinya tetap pada rok. Bara pada rokok hampir selesai dan pilihan itu muncul. Ia harus masuk lagi dan melakukan sesuatu.
Ia kembali ke tempat rok terpajang, pelan-pelan ia mengeluarkan lighter dari dalam tas rajutannya. Sambil menatap rok panjang tersebut dengan ekspresi yang campur aduk, ia menghunuskan api perlahan. Kurang sedetik lagi, nyala api itu menghampiri kuncup bunga liar di ujung rok, tiba-tiba sebuah hantaman mendarat tepat pada punggung kepalanya. Saking giatnya ia merencanakan api, ia alpa pada sang pramuniaga dan security yang sejak tadi memasang kode-kode. Tubuhnya diseret ke ruangan belakang, tempat kantor berada.
***
Mereka menyundutnya dengan sengatan minyak angin, tepat di bawah lubang hidung. Ia terbangun dan berteriak kalap, memasang wajah ketakutan sekaligus memohon ampun. Kemudian mereka meninggalkannya sendirian. Lima menit kemudian seorang laki-laki berkacamata lebar masuk dan menarik kursi, mereka duduk berhadapan. Saling memandang cukup lama. Lalu laki-laki itu mulai bertanya,
“Saya harus panggil anda, Mas atau Mbak?”
“Mbak aja”
“Oke, dengan mbak siapa, saya bicara?”
“Lanny”
“Mbak lanny, mbak sadar apa yang baru saja mbak lakukan?”
Ia tidak menjawab melainkan menunduk, tungkai kakinya gemetar tak karuan. Laki-laki itu melanjutkan.
“Mbak lanny kerja apa?”
Therapist, Pak”
“Di mana?”
“Legian, Pak”
“Mbak lanny, mbak ini baru saja melanggar Pasal 406 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(KUHP). Mbak bisa dipenjara lho”
Ia berjengit mendengar kata penjara. Air matanya mulai mengalir.
“Kalau nggak mau dipenjara, mbak harusnya tidak nekat seperti tadi. Jangan nyalakan korek api pada barang jualan saya. Saya bisa rugi besar, kacau tadi semua kalau apinya merambat ke mana-mana”
Ia mengangguk sembari tetap menunduk.
“Mbak lanny, mbak dengerin saya yah”
“Iya, Pak”
“Saya lupa siapa yang ngomong ini, tetapi kalau kita paksa minum air laut, dahaga kita gak bakal hilang. Kita bakal haus terus. Mbak lanny kalau pingin barang dagangan saya, Mbak harus beli, kalau belum bisa beli yo ditahan keinginannya. Ngerti?”
“Ngerti, Pak”
“Mbak lanny masih mau roknya?”
Ia terkejut, kepalanya terangkat seketika, pada matanya ada binar sumringah.
“Masih”
Yang terjadi berikutnya adalah laki-laki itu membuka celananya, menggelontorkan kemaluannya begitu saja di hadapan lanny. Ia abaikan bahwa lanny juga memiliki bentuk vital yang sama. Kedua laki-laki itu tengah terjebak pada situasi yang sulit. Dengan sigap laki-laki itu menarik kepala lanny. Hampir sepuluh menit lanny berjibaku dengan benda tumpul itu di dalam mulutnya. Setelah erangan tanda puas bergema, memantul pada dinding-dinding kantor yang lusuh, lanny diusir keluar. Ia disuruh menunggu di samping meja kasir yang tentu saja sedang bekerja tanpa mengendarai kuda supaya baik jalannya. Kasir tersebut menatapnya acuh tak acuh, menerima panggilan telepon di mejanya beberapa menit kemudian. Ia tekun mengangguk-angguk menyerukan kata yang sama
“Iya bos, baik bos”

Ketika pembicaraan di telepon terputus, sang kasir menarik lanny menuju deretan busana tempat rok panjang incarannya berada. Kasir penurut itu menyuruh lanny memilih rok yang ia idam-idamkan. Ia membantu lanny membungkus. Lanny pulang bersama pecahan kaki yang makin melebar, sepat sperma yang tersisa di mulut dan bungkusan rok cantik bercorak bunga liar di genggamannya. Air matanya berderai, kali ini berlomba-lomba dengan gemuruh jantungnya. Bukankah hidup adalah pengorbanan?



Ketika Bapak Hilang



Sebuah Cerpen #MariaPankratia

(Ini cerpen lama yang saya edit dan kirimkan ke Santarang. Lalu diedit kembali oleh Pemred Jurnal Santarang yang ngeri-ngeri sedap itu, maka jadi lah seperti ini. Ada kemungkinan cerita ini akan saya revisi lagi pada bagian akhirnya. Hihi)


*Santarang Edisi Agustus 2016



Lukas melepas celana yang basah setelah sekian lama terendam air sungai. Hampir lima jam Ia menghabiskan waktu untuk bermain bersama kawan-kawan sejak pulang sekolah. Dan kini yang terjadi, Ia mulai menggigil kedinginan dengan jemari yang mulai pucat keriput karena terendam air. Bergegas Ia mendekati tungku yang sedang menyala membara, perasaan hangat menjalar seketika. Beberapa saat kemudian, Mama telah berada di sampingnya sambil memperbaiki letak kayu bakar supaya tetap menyala mekar.

“Dari mana saja kau? Jam begini baru pulang?”

Lukas menyeringai. Dalam temaram dapur, seringai itu nampak menyebalkan. Hal itu membuat Mama bingung dan kesal sehingga menghardiknya.

“Pergi pake baju sudah sana! Besok kau tidak bisa sekolah, kau lihat memang.”

Lukas yang sudah kembali pulih dari rasa dingin lekas bangkit dan berlari ke dalam kamar untuk berpakaian. Di luar, rintik hujan mulai menggerogoti atap ilalang rumah yang perlahan meranggas akibat terlalap musim yang tak pernah pasti.

***

Lukas adalah anak tunggal dari Bapak Petrus dan Mama Ance. Kelakuannya yang “aduhai” mestilah ditoleransi karena usianya yang baru mendekati tujuh. Bapak Petrus sekeluarga menempati sebuah rumah sederhana beratap alang-alang di Desa Pemo, sekian langkah dari Danau Kelimutu. Di sekitar danau bertaburan hutan pinus dan pepohonan yang namanya sulit disebut.

Danau Kelimutu merupakan danau yang indah, bahkan sudah terkenal ke seluruh penjuru Dunia. Air danau Kelimutu memiliki tiga warna berbeda, ceruk-ceruknya dalam mengandung belerang yang berasal dari letusan gunung berapi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ada banyak legenda yang melatarbelakangi fenomena Danau Kelimutu. Bapak Petrus, Ayah Lukas, merupakan salah seorang pencerita yang handal. Pernah sekali waktu, Lukas dan kawan-kawannya menghabiskan malam yang panjang mendengarkan sebuah legenda tentang seorang suami yang nekat melompat ke dalam danau demi menemukan isterinya yang telah meninggal dunia. Masyarakat setempat percaya bahwa manusia yang telah meninggal dunia tempatnya ada di dalam danau tersebut.

Danau berwarna hitam (tiwu ata bupu) adalah tempat bagi orang-orang tua, danau berwarna hijau (tiwu ko’o fai nuwa muri) adalah tempat bagi muda-mudi dan danau berwarna merah (tiwu ata polo) adalah tempat bagi mereka yang selama hidupnya melakukan hal-hal yang menyimpang seperti penenung, penyihir dan sebagainya. Dalam bahasa setempat “Polo Wera” atau “suanggi.”

Semalaman mereka dibuat bergidik membayangkan kejadian yang sebenarnya, mata mereka benderang karena takut bermimpi yang bukan-bukan. Tentu saja hal ini menimbulkan geli bagi bapak petrus dan mama ance yang akhirnya bekerja extra untuk merayu anak-anak itu tidur. Kawan-kawan Lukas memilih menginap saja di rumah Lukas ketimbang pulang dan mengambil resiko bertemu sesuatu di jalanan pada malam gelap buta.

***

Hari ini Lukas bersemangat, sekolahnya akan mengadakan panen jeruk. Semua siswa diajak bersama-sama memanen jeruk di kebun belakang sekolah setelah jam istirahat pertama. Itu artinya kegiatan belajar-mengajar hanya diadakan setengah hari. Lukas dan kawan-kawan dapat menghabiskan jeruk semampu mereka hingga puas dan sakit perut. Bapak Petrus juga akan memanen jeruk di kebun mereka yang berdekatan dengan Danau Kelimutu. Sejak pagi beliau sudah berangkat seorang diri. Hasil panen akan dijual saat regaatau hari pasar nanti. Lukas berniat membantu bapak setelah pulang sekolah.

“Mama, sa pi sekolah dulu” Lukas berteriak pamit pada mamanya

Di luar telah menunggu Ebit dan Anis, sahabat-sahabat Lukas.

“Ho, mbana si..mawe-mawe…” (*Iya, pergilah. Pelan-pelan)

Mama Ance membalas salam Lukas dari dalam rumah.

Pada saat rumah begitu senyap, seisi kampung sibuk barkelompok di kebun. Hanya keretak kayu bakar yang mengisi suara-suara siang dan mama ance pun tenggelam dalam kesibukan menyiapkan makan siang bagi suaminya di ladang. Siang nanti setelah Lukas pulang dari sekolah, mama ance akan mengajak putranya mengantarkan makan siang sekaligus membantu sang suami memanen hasil jeruk mereka.

***

“Mama….”

Jika suara Lukas terdengar membahana didepan rumah, itu tanda sekolah telah usai. Lukas tidak pernah membolos, Ia sangat senang bersekolah, bahkan saat kondisi tubuh melemah dan tak memungkinkan atau cuaca tak bagus dan jalanan berbahaya karena diaspal bagus. Lukas tetap akan berangkat ke sekolah dan menantikan jam-jam ketika Ia bersama kawan-kawan dapat duduk manis mendengarkan sang guru berkisah tentang dunia.

“He, kau su pulang?”

“Iya. Jadi ke kebun tidak kita?”

“Jadi le, kita makan di kebun saja e? Kau su lapar?”

“Belum. OKE BOS”

sambil berucap demikian, Lukas mengangkat ibujarinya tinggi-tinggi. Melihat tingkah anaknya, mama ance hanya bisa tertawa.

***

Hari beranjak siang dan kabut perlahan turun di antara ranting-ranting pinus yang bercabang liar. Sejauh mata memandang hanyalah warna putih yang menyelimuti dan rasa dingin yang menusuk. Mama Ance mengencangkan sarungnya sehingga lebih mudah berjalan. Di depannya, Lukas dengan lincah berloncatan melewati semak belukar. Cuaca di pegunungan memang selalu tidak menentu, di siang hari sekalipun yang semestinya panas terik, kabut justru melebat dengan pongahnya.

Lukas mempercepat langkahnya, Ia tak sabar ingin berjumpa bapak. Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di tujuan. Kebun tampak lengang. Dari pondok tempat bapak biasa beristirahat, tampak asap membumbung. Sepertinya beliau sedang membakar sesuatu, entah ubi, kentang atau sejenisnya. Lukas bergegas menuju pondok sambil berteriak memanggil.

“Bapa.. bapa.. kami ra’i do” (*Bapa, bapa, kami sudah datang)

Tidak ada sahutan dari dalam pondok maupun dari sekitaran kebun. Mama Ance masih berdiri, sesekali mengamati palawija yang ditanam di samping pondok. Mama Ance seperti merasakan diam yang aneh. Firasat buruk menghampirinya. Mama Ance menyusul Lukas ke pondok. Di dalam pondok tidak tampak seorang pun kecuali tungku api yang masih menyala terang dengan onggokan ubi jalar yang sepertinya hendak dibakar. Kain sarung bapak tergeletak begitu saja di bale-bale. Mama Ance keluar dan mulai berkeliling menyusuri kebun. Diikutinya jejak sepasang kaki yang diduga adalah kaki suaminya. Jejak kaki itu berakhir di semak-semak yang ditumbuhi rerumputan dan semak belukar. Tiba-tiba mama ance menyadari Ia telah sampai pada batas hutan. Hutan hujan yang gulita meskipun hari tengah siang, hutan yang banyak menyimpan cerita dan mitos. Hutan yang dipercaya oleh masyarakat setempat sungguh keramat. Ada dunia lain di sana yang tidak boleh disentuh, jika tak ingin membahayakan diri sendiri. Mama Ance pucat pasi sementara Lukas mulai menangis, takut kehilangan bapaknya. Mama Ance lalu memeluk Lukas dan berkata,

“Mai si, kita walo ro. Kita nosi ebe gheta nua” (*Ayo, kita pulang saja dulu. Kita beritahu orang-orang di kampung)

Tergesa mama ance dan lukas menyusuri jalan pulang. Tidak terasa lagi onak dan duri yang menggores kulit sepanjang perjalanan. Pikiran keduanya hanya terfokus pada satu pertanyaan, “Di mana bapak?”

***

Om Thomas sedang berkelakar ria dengan beberapa penduduk yang lain di bale-bale depan rumah, ketika Ia melihat dua sosok yang berjalan tergesa-gesa mendatanginya. Setelah dekat barulah disadari, mereka adalah saudari dan keponakannya. Lukas tampak menangis tersedu dan Ibunya begitu pucat pasi seperti ketakutan. Mama Ance menghampiri om thomas segera dan tanpa menunggu ditanya lagi beliau langsung memberitahu

“Petrus… Petrus ata polo sono” (Petrus, petrus disembunyikan suanggi)

Om thomas membelalak terkejut, sebagian yang juga ikut mendengarkan bergumam kaget. Setelah sedikit hilang keterkejutannya, om thomas pun bertanya 

“Leka emba? Kau mbe’o leka sai me?” (*Di mana? Dari siapa kamu tahu bahwa dia disembunyikan?)

“gheta uma” (*Di kebun)


Saat mengucapkan kalimat ini mama ance tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia menangis histeris. Om thomas pun langsung mengerti setelah mendengarkan kalimat penunjuk keterangan tempat tersebut. Semua orang kampung tahu jika kebun bapak petrus dan mama ance berbatasan langsung dengan hutan keramat. Beberapa kali mereka selalu diperingati agar memperhatikan hari di mana mereka berkebun karena saat-saat tertentu bisa sangat berbahaya. Hal itu lumrah terjadi karena maklhuk-makhluk tak kasat mata tersebut sangat sensitif terhadap perubahan alam maupun lingkungan di sekitar mereka. Untuk menandakan hal itu mereka akan melakukan hal-hal yang kadang tidak masuk akal bagi manusia.

Om Thomas kemudian menghimbau kepada warga yang ada di situ agar mengajak warga lainnya khususnya kaum laki-laki untuk bersama-sama mencari bapak petrus sebelum hari beranjak malam. Para pria berkumpul di rumah om thomas. Setelah mengadakan sedikit diskusi dan mengatur strategi, mereka pun berangkat menuju kebun bapak petrus. Lukas merengek-rengek pada pamannya agar dia ikut mencari. Om Thomas tidak dapat melihat kesedihan di mata bocah itu. Karena sangat menyayangi keponakannya, ia pun mengijinkan Lukas untuk turut serta mencari. Para warga menyisir seluruh kebun hingga jarak 200 meter setelahnya. Ketika mencapai batas hutan keramat, langkah mereka terhenti. Tidak sembarangan orang dapat masuk ke sana tanpa persiapan terlebih dahulu. Segala tumbuhan dan makhluk yang ada di dalamnya begitu purba dan terjaga sejak lama, seperti bahasa alam yang tidak bisa dijelaskan. Beberapa warga menanyakan pendapat om thomas.

“Bagaimana ni? Kita tidak mungkin masuk ke sana tanpa persiapan”

Om Thomas terdiam, beliau tampak berpikir keras dan akhirnya memutuskan.

“Baik, kita pulang saja dulu. Kita lapor Mosalaki. Semoga Beliau bisa kasih petunjuk”

Mosalaki adalah sebutan bagi pemimpin atau tetua adat di kampung itu.


Rombongan kembali ke kampung dan langsung menuju Sa’o Ria atau Rumah Besar, tempat Mosalaki berdiam. Terjadi perbincangan serius antara para lelaki dan Mosalaki. Pada akhirnya diputuskan akan diadakan upacara “Pati Ka Ata Mata” atau “dhera” atau Upacara memberi makan/sesajen bagi para leluhur. Dengan cara ini Mosalaki yakin para leluhur akan memberikan petunjuk atau jalan keluar atas peristiwa yang tengah menimpa warga desanya. Upacara akan diadakan keesokan hari.

***
Bulan tampak kesiangan diatas pucuk menara Sa’o Ria. Lukas telah terjaga sejak tadi. Ia memilih duduk terpaku di sudut rumah sambil menunggu pamannya terbangun untuk meminta Mosalaki melaksanakan upacara. Lukas mulai frustrasi karena tidak bertemu bapak lebih dari sehari.

“Hei Lukas, kau sudah bangun?”

Om Thomas tiba-tiba sudah duduk di sampingnya sembari memeluk Lukas erat-erat.

“Tenang, kita pasti menemukan bapa”

“Hari ini juga? Bisa?”

“Semoga saja”

Lukas tertunduk lesu mendengar jawaban pamannya yang tidak pasti. Ini akan menjadi hari yang panjang baginya. 

Pukul 10.00 pagi, mama ance telah bergabung bersama lukas, om thomas dan beberapa warga yang berdatangan. Mama Ance membawa dua ekor ayam kampung masing-masing berwarna hitam dan merah. Juga ada beras merah, telur ayam kampung, sirih pinang, kapur sirih dan sebotol Moke. Sementara itu, Mosalaki telah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk upacara tersebut. Setelah melewati sesi konsultasi yang panjang dan rumit antara Mama Ance, Om Thomas dan Mosalaki, upacara pun dilaksanakan. Mama Ance Terlebih dahulu memasak bahan makanan yang tadi telah dibawa. Berasnya harus ditanak di dalam bambu sesuai tradisi masyarakat Lio.

Pukul 12.00 siang semua kebutuhan upacara, termasuk makanan, telah lengkap. Mosalaki menghamparkan semua sesajen di atas sebidang batu datar di depan Sa’o Ria. Kemudian, sambil merapalkan mantra, beliau meminta semua warga yang ada disekitarnya turut serta berdoa agar diberikan petunjuk oleh leluhur dan semesta. Selesai upacara dilakukan, petunjuk tidak otomatis didapatkan. Mosalaki harus menunggu waktu semalam lagi untuk didatangi leluhur yang dipercaya akan memberitahukan langkah selanjutnya.

***

Pagi-pagi sekali, Om Thomas, Lukas dan Mama Ance serta beberapa keluarga dekat mereka telah mendatangi Sa’o Ria. Berharap Mosalaki telah mendapatkan petunjuk. Mosalaki dengan luka lesu kebesarannya duduk berhadapan dengan Mama Ance, Lukas dan Om Thomas. Beliau kemudian berbicara.

“Ada kesalahan kecil yang sudah keluarga ini lakukan sehingga leluhur menjadi marah dan memerintahkan makhluk-mahkluk itu menyembunyikan Petrus. Beberapa hari yang lalu, Lukas dan teman-temannya ada pigi bermain di sungai. Apakah benar?”

Mama Ance dan Om Thomas beralih melihat Lukas. Lukas mengangguk mengiyakan. Kemudian Mosalaki berbicara lagi.

“Nah, kalian tidak hati-hati. Kalian mengambil paksa beberapa tanaman yang seharusnya tidak boleh kalian ambil di hutan. Leluhur tidak memberitahukan tanaman apa itu namun karena kelakuan kalian, kehidupan makhluk di sana menjadi terganggu, karena itu mereka marah sekali. Mereka menyandera bapamu supaya kamu dan teman-temanmu menyadari kesalahan kalian dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.”

Lukas terdiam. Ia tiba-tiba teringat beberapa hari yang lalu saat menghabiskan waktu bermain di sungai bersama kawan-kawan. Mereka mematahkan beberapa ranting pepohonan yang mereka sendiri tidak ketahui namanya. Pohon itu memiliki daun yang lebar dan batang yang alot sehingga dapat dipakai sebagai perahu-perahuan di sungai. Mereka mematahkannya dengan paksa sampai terlepas ranting dari pohonnya. Tanpa mereka sadari, pohon itu adalah tempat tinggal beberapa makhluk penjaga hutan. Pohon itu sudah seperti rumah bagi para makhluk tersebut sehingga saat ada orang lain yang tiba-tiba mengusiknya, mereka menjadi sangat marah. Mosalaki kembali berbicara.

“Untuk menebus kesalahan kalian, dan agar bapamu bisa kembali lagi, kalian harus mengadakan upacara sekali lagi di perbatasan hutan. Sesajennya masih sama seperti kemarin. Kita akan melakukan itu sore ini pukul enam di kebun kalian. Semoga saja bapamu akan dikembalikan dan masih dalam kondisi baik-baik saja.”

Mama Ance menarik nafas panjang, Om Thomas menyampaikan terima kasih yang mendalam kemudian pamit untuk segera menyiapkan perlengkapan upacara.

***

Sore beranjak remang, dengan dibantu cahaya dari obor bambu rombongan, yang terdiri atas Mosalaki, Om Thomas, Mama Ance, Lukas dan keluarga terdekat, menuju ladang di kaki Danau Kelimutu. Dari kejauhan, Danau Kelimutu seperti tembok alam raksasa. Matahari sebentar lagi menghilang dan bintang mulai menyembul di langit. Bulan merangkak perlahan dengan cahayanya yang hangat. Tepat pukul enam sore, waktu yang dipercaya sebagai momen peralihan antara dunia siang dan dunia malam, upacara dimulai. Mosalaki kembali menghamparkan sesajen di atas batu datar di pinggiran ladang yang berbatasan dengan hutan. Beliau merapalkan mantra dan melihat ke sekeliling. Sesekali Mosalaki memejamkan matanya dan mengarahkan kepala ke langit seperti memohon. Selang beberapa saat kemudian, munculah sebuah bayangan diantara semak-semak dari arah hutan. Bapa petrus terlihat kuyu dan berjalan terhuyung-huyung menghampiri mereka. Seketika Lukas berteriak kencang sambil menangis

“Bapa…. Ampun bapa, Lukas yang salah…” 

Bapa Petrus tidak berkata apa-apa karena tidak memiliki tenaga lagi. Beliau hanya memeluk Lukas dan Mama Ance erat-erat.

***


Lukas menemukan keceriaannya kembali, keluarganya telah utuh seperti semula. Sejak hari itu, Lukas berjanji untuk memperingati kawan-kawannya agar tidak sembarangan memotong, mencabut atau merusak tumbuhan dan segala hal yang terdapat di hutan.





Ketika Bapak Hilang



Sebuah Cerpen #MariaPankratia

(Ini cerpen lama yang saya edit dan kirimkan ke Santarang. Lalu diedit kembali oleh Pemred Jurnal Santarang yang ngeri-ngeri sedap itu, maka jadi lah seperti ini. Ada kemungkinan cerita ini akan saya revisi lagi pada bagian akhirnya. Hihi)


*Santarang Edisi Agustus 2016



Lukas melepas celana yang basah setelah sekian lama terendam air sungai. Hampir lima jam Ia menghabiskan waktu untuk bermain bersama kawan-kawan sejak pulang sekolah. Dan kini yang terjadi, Ia mulai menggigil kedinginan dengan jemari yang mulai pucat keriput karena terendam air. Bergegas Ia mendekati tungku yang sedang menyala membara, perasaan hangat menjalar seketika. Beberapa saat kemudian, Mama telah berada di sampingnya sambil memperbaiki letak kayu bakar supaya tetap menyala mekar.

“Dari mana saja kau? Jam begini baru pulang?”

Lukas menyeringai. Dalam temaram dapur, seringai itu nampak menyebalkan. Hal itu membuat Mama bingung dan kesal sehingga menghardiknya.

“Pergi pake baju sudah sana! Besok kau tidak bisa sekolah, kau lihat memang.”

Lukas yang sudah kembali pulih dari rasa dingin lekas bangkit dan berlari ke dalam kamar untuk berpakaian. Di luar, rintik hujan mulai menggerogoti atap ilalang rumah yang perlahan meranggas akibat terlalap musim yang tak pernah pasti.

***

Lukas adalah anak tunggal dari Bapak Petrus dan Mama Ance. Kelakuannya yang “aduhai” mestilah ditoleransi karena usianya yang baru mendekati tujuh. Bapak Petrus sekeluarga menempati sebuah rumah sederhana beratap alang-alang di Desa Pemo, sekian langkah dari Danau Kelimutu. Di sekitar danau bertaburan hutan pinus dan pepohonan yang namanya sulit disebut.

Danau Kelimutu merupakan danau yang indah, bahkan sudah terkenal ke seluruh penjuru Dunia. Air danau Kelimutu memiliki tiga warna berbeda, ceruk-ceruknya dalam mengandung belerang yang berasal dari letusan gunung berapi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ada banyak legenda yang melatarbelakangi fenomena Danau Kelimutu. Bapak Petrus, Ayah Lukas, merupakan salah seorang pencerita yang handal. Pernah sekali waktu, Lukas dan kawan-kawannya menghabiskan malam yang panjang mendengarkan sebuah legenda tentang seorang suami yang nekat melompat ke dalam danau demi menemukan isterinya yang telah meninggal dunia. Masyarakat setempat percaya bahwa manusia yang telah meninggal dunia tempatnya ada di dalam danau tersebut.

Danau berwarna hitam (tiwu ata bupu) adalah tempat bagi orang-orang tua, danau berwarna hijau (tiwu ko’o fai nuwa muri) adalah tempat bagi muda-mudi dan danau berwarna merah (tiwu ata polo) adalah tempat bagi mereka yang selama hidupnya melakukan hal-hal yang menyimpang seperti penenung, penyihir dan sebagainya. Dalam bahasa setempat “Polo Wera” atau “suanggi.”

Semalaman mereka dibuat bergidik membayangkan kejadian yang sebenarnya, mata mereka benderang karena takut bermimpi yang bukan-bukan. Tentu saja hal ini menimbulkan geli bagi bapak petrus dan mama ance yang akhirnya bekerja extra untuk merayu anak-anak itu tidur. Kawan-kawan Lukas memilih menginap saja di rumah Lukas ketimbang pulang dan mengambil resiko bertemu sesuatu di jalanan pada malam gelap buta.

***

Hari ini Lukas bersemangat, sekolahnya akan mengadakan panen jeruk. Semua siswa diajak bersama-sama memanen jeruk di kebun belakang sekolah setelah jam istirahat pertama. Itu artinya kegiatan belajar-mengajar hanya diadakan setengah hari. Lukas dan kawan-kawan dapat menghabiskan jeruk semampu mereka hingga puas dan sakit perut. Bapak Petrus juga akan memanen jeruk di kebun mereka yang berdekatan dengan Danau Kelimutu. Sejak pagi beliau sudah berangkat seorang diri. Hasil panen akan dijual saat regaatau hari pasar nanti. Lukas berniat membantu bapak setelah pulang sekolah.

“Mama, sa pi sekolah dulu” Lukas berteriak pamit pada mamanya

Di luar telah menunggu Ebit dan Anis, sahabat-sahabat Lukas.

“Ho, mbana si..mawe-mawe…” (*Iya, pergilah. Pelan-pelan)

Mama Ance membalas salam Lukas dari dalam rumah.

Pada saat rumah begitu senyap, seisi kampung sibuk barkelompok di kebun. Hanya keretak kayu bakar yang mengisi suara-suara siang dan mama ance pun tenggelam dalam kesibukan menyiapkan makan siang bagi suaminya di ladang. Siang nanti setelah Lukas pulang dari sekolah, mama ance akan mengajak putranya mengantarkan makan siang sekaligus membantu sang suami memanen hasil jeruk mereka.

***

“Mama….”

Jika suara Lukas terdengar membahana didepan rumah, itu tanda sekolah telah usai. Lukas tidak pernah membolos, Ia sangat senang bersekolah, bahkan saat kondisi tubuh melemah dan tak memungkinkan atau cuaca tak bagus dan jalanan berbahaya karena diaspal bagus. Lukas tetap akan berangkat ke sekolah dan menantikan jam-jam ketika Ia bersama kawan-kawan dapat duduk manis mendengarkan sang guru berkisah tentang dunia.

“He, kau su pulang?”

“Iya. Jadi ke kebun tidak kita?”

“Jadi le, kita makan di kebun saja e? Kau su lapar?”

“Belum. OKE BOS”

sambil berucap demikian, Lukas mengangkat ibujarinya tinggi-tinggi. Melihat tingkah anaknya, mama ance hanya bisa tertawa.

***

Hari beranjak siang dan kabut perlahan turun di antara ranting-ranting pinus yang bercabang liar. Sejauh mata memandang hanyalah warna putih yang menyelimuti dan rasa dingin yang menusuk. Mama Ance mengencangkan sarungnya sehingga lebih mudah berjalan. Di depannya, Lukas dengan lincah berloncatan melewati semak belukar. Cuaca di pegunungan memang selalu tidak menentu, di siang hari sekalipun yang semestinya panas terik, kabut justru melebat dengan pongahnya.

Lukas mempercepat langkahnya, Ia tak sabar ingin berjumpa bapak. Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di tujuan. Kebun tampak lengang. Dari pondok tempat bapak biasa beristirahat, tampak asap membumbung. Sepertinya beliau sedang membakar sesuatu, entah ubi, kentang atau sejenisnya. Lukas bergegas menuju pondok sambil berteriak memanggil.

“Bapa.. bapa.. kami ra’i do” (*Bapa, bapa, kami sudah datang)

Tidak ada sahutan dari dalam pondok maupun dari sekitaran kebun. Mama Ance masih berdiri, sesekali mengamati palawija yang ditanam di samping pondok. Mama Ance seperti merasakan diam yang aneh. Firasat buruk menghampirinya. Mama Ance menyusul Lukas ke pondok. Di dalam pondok tidak tampak seorang pun kecuali tungku api yang masih menyala terang dengan onggokan ubi jalar yang sepertinya hendak dibakar. Kain sarung bapak tergeletak begitu saja di bale-bale. Mama Ance keluar dan mulai berkeliling menyusuri kebun. Diikutinya jejak sepasang kaki yang diduga adalah kaki suaminya. Jejak kaki itu berakhir di semak-semak yang ditumbuhi rerumputan dan semak belukar. Tiba-tiba mama ance menyadari Ia telah sampai pada batas hutan. Hutan hujan yang gulita meskipun hari tengah siang, hutan yang banyak menyimpan cerita dan mitos. Hutan yang dipercaya oleh masyarakat setempat sungguh keramat. Ada dunia lain di sana yang tidak boleh disentuh, jika tak ingin membahayakan diri sendiri. Mama Ance pucat pasi sementara Lukas mulai menangis, takut kehilangan bapaknya. Mama Ance lalu memeluk Lukas dan berkata,

“Mai si, kita walo ro. Kita nosi ebe gheta nua” (*Ayo, kita pulang saja dulu. Kita beritahu orang-orang di kampung)

Tergesa mama ance dan lukas menyusuri jalan pulang. Tidak terasa lagi onak dan duri yang menggores kulit sepanjang perjalanan. Pikiran keduanya hanya terfokus pada satu pertanyaan, “Di mana bapak?”

***

Om Thomas sedang berkelakar ria dengan beberapa penduduk yang lain di bale-bale depan rumah, ketika Ia melihat dua sosok yang berjalan tergesa-gesa mendatanginya. Setelah dekat barulah disadari, mereka adalah saudari dan keponakannya. Lukas tampak menangis tersedu dan Ibunya begitu pucat pasi seperti ketakutan. Mama Ance menghampiri om thomas segera dan tanpa menunggu ditanya lagi beliau langsung memberitahu

“Petrus… Petrus ata polo sono” (Petrus, petrus disembunyikan suanggi)

Om thomas membelalak terkejut, sebagian yang juga ikut mendengarkan bergumam kaget. Setelah sedikit hilang keterkejutannya, om thomas pun bertanya 

“Leka emba? Kau mbe’o leka sai me?” (*Di mana? Dari siapa kamu tahu bahwa dia disembunyikan?)

“gheta uma” (*Di kebun)


Saat mengucapkan kalimat ini mama ance tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia menangis histeris. Om thomas pun langsung mengerti setelah mendengarkan kalimat penunjuk keterangan tempat tersebut. Semua orang kampung tahu jika kebun bapak petrus dan mama ance berbatasan langsung dengan hutan keramat. Beberapa kali mereka selalu diperingati agar memperhatikan hari di mana mereka berkebun karena saat-saat tertentu bisa sangat berbahaya. Hal itu lumrah terjadi karena maklhuk-makhluk tak kasat mata tersebut sangat sensitif terhadap perubahan alam maupun lingkungan di sekitar mereka. Untuk menandakan hal itu mereka akan melakukan hal-hal yang kadang tidak masuk akal bagi manusia.

Om Thomas kemudian menghimbau kepada warga yang ada di situ agar mengajak warga lainnya khususnya kaum laki-laki untuk bersama-sama mencari bapak petrus sebelum hari beranjak malam. Para pria berkumpul di rumah om thomas. Setelah mengadakan sedikit diskusi dan mengatur strategi, mereka pun berangkat menuju kebun bapak petrus. Lukas merengek-rengek pada pamannya agar dia ikut mencari. Om Thomas tidak dapat melihat kesedihan di mata bocah itu. Karena sangat menyayangi keponakannya, ia pun mengijinkan Lukas untuk turut serta mencari. Para warga menyisir seluruh kebun hingga jarak 200 meter setelahnya. Ketika mencapai batas hutan keramat, langkah mereka terhenti. Tidak sembarangan orang dapat masuk ke sana tanpa persiapan terlebih dahulu. Segala tumbuhan dan makhluk yang ada di dalamnya begitu purba dan terjaga sejak lama, seperti bahasa alam yang tidak bisa dijelaskan. Beberapa warga menanyakan pendapat om thomas.

“Bagaimana ni? Kita tidak mungkin masuk ke sana tanpa persiapan”

Om Thomas terdiam, beliau tampak berpikir keras dan akhirnya memutuskan.

“Baik, kita pulang saja dulu. Kita lapor Mosalaki. Semoga Beliau bisa kasih petunjuk”

Mosalaki adalah sebutan bagi pemimpin atau tetua adat di kampung itu.


Rombongan kembali ke kampung dan langsung menuju Sa’o Ria atau Rumah Besar, tempat Mosalaki berdiam. Terjadi perbincangan serius antara para lelaki dan Mosalaki. Pada akhirnya diputuskan akan diadakan upacara “Pati Ka Ata Mata” atau “dhera” atau Upacara memberi makan/sesajen bagi para leluhur. Dengan cara ini Mosalaki yakin para leluhur akan memberikan petunjuk atau jalan keluar atas peristiwa yang tengah menimpa warga desanya. Upacara akan diadakan keesokan hari.

***
Bulan tampak kesiangan diatas pucuk menara Sa’o Ria. Lukas telah terjaga sejak tadi. Ia memilih duduk terpaku di sudut rumah sambil menunggu pamannya terbangun untuk meminta Mosalaki melaksanakan upacara. Lukas mulai frustrasi karena tidak bertemu bapak lebih dari sehari.

“Hei Lukas, kau sudah bangun?”

Om Thomas tiba-tiba sudah duduk di sampingnya sembari memeluk Lukas erat-erat.

“Tenang, kita pasti menemukan bapa”

“Hari ini juga? Bisa?”

“Semoga saja”

Lukas tertunduk lesu mendengar jawaban pamannya yang tidak pasti. Ini akan menjadi hari yang panjang baginya. 

Pukul 10.00 pagi, mama ance telah bergabung bersama lukas, om thomas dan beberapa warga yang berdatangan. Mama Ance membawa dua ekor ayam kampung masing-masing berwarna hitam dan merah. Juga ada beras merah, telur ayam kampung, sirih pinang, kapur sirih dan sebotol Moke. Sementara itu, Mosalaki telah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk upacara tersebut. Setelah melewati sesi konsultasi yang panjang dan rumit antara Mama Ance, Om Thomas dan Mosalaki, upacara pun dilaksanakan. Mama Ance Terlebih dahulu memasak bahan makanan yang tadi telah dibawa. Berasnya harus ditanak di dalam bambu sesuai tradisi masyarakat Lio.

Pukul 12.00 siang semua kebutuhan upacara, termasuk makanan, telah lengkap. Mosalaki menghamparkan semua sesajen di atas sebidang batu datar di depan Sa’o Ria. Kemudian, sambil merapalkan mantra, beliau meminta semua warga yang ada disekitarnya turut serta berdoa agar diberikan petunjuk oleh leluhur dan semesta. Selesai upacara dilakukan, petunjuk tidak otomatis didapatkan. Mosalaki harus menunggu waktu semalam lagi untuk didatangi leluhur yang dipercaya akan memberitahukan langkah selanjutnya.

***

Pagi-pagi sekali, Om Thomas, Lukas dan Mama Ance serta beberapa keluarga dekat mereka telah mendatangi Sa’o Ria. Berharap Mosalaki telah mendapatkan petunjuk. Mosalaki dengan luka lesu kebesarannya duduk berhadapan dengan Mama Ance, Lukas dan Om Thomas. Beliau kemudian berbicara.

“Ada kesalahan kecil yang sudah keluarga ini lakukan sehingga leluhur menjadi marah dan memerintahkan makhluk-mahkluk itu menyembunyikan Petrus. Beberapa hari yang lalu, Lukas dan teman-temannya ada pigi bermain di sungai. Apakah benar?”

Mama Ance dan Om Thomas beralih melihat Lukas. Lukas mengangguk mengiyakan. Kemudian Mosalaki berbicara lagi.

“Nah, kalian tidak hati-hati. Kalian mengambil paksa beberapa tanaman yang seharusnya tidak boleh kalian ambil di hutan. Leluhur tidak memberitahukan tanaman apa itu namun karena kelakuan kalian, kehidupan makhluk di sana menjadi terganggu, karena itu mereka marah sekali. Mereka menyandera bapamu supaya kamu dan teman-temanmu menyadari kesalahan kalian dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.”

Lukas terdiam. Ia tiba-tiba teringat beberapa hari yang lalu saat menghabiskan waktu bermain di sungai bersama kawan-kawan. Mereka mematahkan beberapa ranting pepohonan yang mereka sendiri tidak ketahui namanya. Pohon itu memiliki daun yang lebar dan batang yang alot sehingga dapat dipakai sebagai perahu-perahuan di sungai. Mereka mematahkannya dengan paksa sampai terlepas ranting dari pohonnya. Tanpa mereka sadari, pohon itu adalah tempat tinggal beberapa makhluk penjaga hutan. Pohon itu sudah seperti rumah bagi para makhluk tersebut sehingga saat ada orang lain yang tiba-tiba mengusiknya, mereka menjadi sangat marah. Mosalaki kembali berbicara.

“Untuk menebus kesalahan kalian, dan agar bapamu bisa kembali lagi, kalian harus mengadakan upacara sekali lagi di perbatasan hutan. Sesajennya masih sama seperti kemarin. Kita akan melakukan itu sore ini pukul enam di kebun kalian. Semoga saja bapamu akan dikembalikan dan masih dalam kondisi baik-baik saja.”

Mama Ance menarik nafas panjang, Om Thomas menyampaikan terima kasih yang mendalam kemudian pamit untuk segera menyiapkan perlengkapan upacara.

***

Sore beranjak remang, dengan dibantu cahaya dari obor bambu rombongan, yang terdiri atas Mosalaki, Om Thomas, Mama Ance, Lukas dan keluarga terdekat, menuju ladang di kaki Danau Kelimutu. Dari kejauhan, Danau Kelimutu seperti tembok alam raksasa. Matahari sebentar lagi menghilang dan bintang mulai menyembul di langit. Bulan merangkak perlahan dengan cahayanya yang hangat. Tepat pukul enam sore, waktu yang dipercaya sebagai momen peralihan antara dunia siang dan dunia malam, upacara dimulai. Mosalaki kembali menghamparkan sesajen di atas batu datar di pinggiran ladang yang berbatasan dengan hutan. Beliau merapalkan mantra dan melihat ke sekeliling. Sesekali Mosalaki memejamkan matanya dan mengarahkan kepala ke langit seperti memohon. Selang beberapa saat kemudian, munculah sebuah bayangan diantara semak-semak dari arah hutan. Bapa petrus terlihat kuyu dan berjalan terhuyung-huyung menghampiri mereka. Seketika Lukas berteriak kencang sambil menangis

“Bapa…. Ampun bapa, Lukas yang salah…” 

Bapa Petrus tidak berkata apa-apa karena tidak memiliki tenaga lagi. Beliau hanya memeluk Lukas dan Mama Ance erat-erat.

***


Lukas menemukan keceriaannya kembali, keluarganya telah utuh seperti semula. Sejak hari itu, Lukas berjanji untuk memperingati kawan-kawannya agar tidak sembarangan memotong, mencabut atau merusak tumbuhan dan segala hal yang terdapat di hutan.